War For Love part8

 

 

 

 

 

 

 

AUTHOR POV

12.00 pm

 

Je wo sesekali melirik Kyuhyun yang terlihat fokus menyetir. Namun wajah namja itu sedari tadi sudah tertekuk kesal. Yeoja itu tau alasannya. Apalagi kalau bukan karena kekalahannya saat perdebatan yang terjadi di rumah Siwon beberapa waktu yang lalu. Bahkan Je wo juga mati-matian membela Donghae dan Hyukjae. Dan itu semakin membuat namja itu merasa kesal.

BRAKKK

 

Kyuhyun menutup pintu mobilnya dengan kasar. Melangkah cepat memasuki rumahnya tanpa menoleh sedikitpun pada Je wo. Yeoja itu hanya dapat menghela nafas panjang melihat tingkah namja itu. Ia masuk kedalam dan mencari dimana keberadaan Cho kyuhyun. Namja itu sama sekali tidak terlihat disana. Je wo sekali lagi menghela nafas berat dan mulai mendekati kamar Kyuhyun. Mengetuknya pelan beberapa kali dan mengunggu pintu itu terbuka.

“Ada apa?”

Je wo menelan ludah gugup saat Kyuhyun membuka pintu kamarnya. Menatap dirinya dengan tatapan yang sama sekali tidak bersahabat. Yeoja itu berniat menyelesaikan masalah mereka saat ini juga. “Ayo bicara sebentar. Sepertinya ada kesalah pahaman antara kita”ucapnya pelan.

Kini keduanya duduk bersebelahan di ranjang milik Kyuhyun dengan kaku. Je wo menengadahkan kepalanya menatap langit-langit kamar Kyuhyun dengan canggung. Keberadaan namja itu disampingnya membuat dia lupa akan apa alasannya masuk kekamar namja itu. Dan hal yang sama juga terjadi pada Kyuhyun. Namja itu bahkan berali-kali menghela nafas panjang ke kasampingnya. Berharap Shin je wo tidak dapat mendengar detak jantungnya yang mulai menggila. “Apa yang ingin kau katakan?” tanya Kyuhyun membuka percakapan.

“Ne? Ahh. Itu.. aku minta maaf padamu”

Kyuhyun menolehkan kepalanya kesamping. Menatap bingung pada yeoja itu. “Minta maaf? Memangnya kau melakukan kesalahan padaku?” tanya Kyuhyun. Je wo berdehem pelan dan menggeser posisi duduknya menghadap Kyuhyun. Ia berusaha menatap Kyuhyun sebiasa mungkin. Agar namja itu tidak tau jika saat ini dia sangat merasakan kegugupan yang luar biasa. “Masalah tadi. Di rumah Jaksa Choi” ucapnya pelan. “Sudah tidak udah dibahas” jawab Kyuhyun yang mengetahui kemana arah pembicaraan yeoja itu. Kekesalannya akan bertambah jika mengingat perdebatannya tadi.

“Tapi aku rasa kau masih salah paham Jaksa Cho. Aku tau kau ingin melindungi ku” ucap Je wo dan berhasil membuat Kyuhyun menatap sempurna kedalam manik matanya. Membuat dirinya salah tingkah mendapat tatapan dari namja itu. “Yah.. tentu saja karena itu pekerjaan mu” sambung Je wo pelan dan sedikit menundukkan kepalanya. “Tapi. Tuduhan mu pada mereka itu sangat tidak beralasan menurutku” ujar Je wo dengan raut wajah serius. Dia tau Kyuhyun masih tetap dengan pendiriannya dan mungkin saja tidak akan suka mendengar itu darinya.

“Tau apa kau tentang kasus ini sampai kau mengatakan jika semua tuduhanku sama sekali tidak beralasan?” tanya Kyuhyun sengit. Je wo mulai mengeluarkan keringat dingin di wajahnya. Tatapan namja itu kembali tajam padanya. Menandakan jika dia tidak terima dengan ucapan Je wo. “K-karena. Aku.. aku yang merasakannya. Aku yang selalu menjadi incaran oleh mereka. Jadi.. aku akan menjadi orang pertama yang pasti merasa tidak nyaman jika berada di dekat orang yang ingin mencelakai ku” Kyuhyun tersenyum kecut mendengar jawaban Je wo. Ia menggelengkan kepalanya pelan dan menatap yeoja itu dengan tatapan remeh. “Kau tau? Bukan musuh mu yang paling berbahaya. Tapi orang terdekatmu lah yang akan dengan mudah mencelakai mu. Apa kau belum pernah mendengar kata-kata seperti itu? Shin je wo?” tanya Kyuhyun menatap lekat wajah Je wo. Ia sangat tidak suka diremehkan. Apalagi mengenai pekrjaannya. Namun kali ini bukan hanya masalah pekerjaan yang menuntutnya untuk berlaku seperti itu. Tapi yeoja itu, yeoja yang akan ia lindungi meskipun harus mempertaruhkan nyawa-nya sendiri.

“Tidak! Aku tidak pernah dengar hal seperti itu. Kalau pun ada maka aku tidak akan mempercayainya”

“Kau terlalu munafik Nona. Berhenti menyangkal semua kenyataan yang sudah aku berikan”

Mendengar itu entah kenapa emosi Shin je wo mulai tersulut. Ucapan Kyuhyun seakan menertawakan perasaannya. Ia mengepal kedua tangannya kuat. Memberanikan dirinya menatap Kyuhyun dengan tajam. “Kau benar! Mungkin aku terlalu munafik dengan semua kenyataan yang sudah ku terima. Tapi setidaknya aku hanya berniat untuk mencoba mempercayai apa yang ku rasakan” ucapnya tegas. Kyuhyun membulatkan kedua matanya mendengar ucapan Je wo. Baru kali ini ia melihat yeoja itu semarah ini. Deru nafas yeoja itu menderu. Dadanya mulai naik turun menahan emosi.

“Kau ingin aku mempercayai ucapan mu barusan kan? Baiklah! Aku akan percaya. Dan apa menurutmu aku harus menjauhi mu?” tantang Je wo. Kyuhyun mengeryit bingung mendengar ucapan Je wo. “Bukan musuh ku yang paling berbahaya. Tapi orang terdekatku lah yang akan dengan mudah mencelakai ku” ucap Je wo mengulangi perkataan Kyuhyun padanya tadi. “Kau. Saat ini kau lah orang terdekatku. Kau yang selalu tau dimana keberadaan ku. Kau lah yang tau segalanya tentang ku. Dan C. Cho kyuhyun” ucap Je wo tajam. Kedua tangannya semakin terkepal kuat. Ia tau jika hal ini pasti akan memicu pertengkaran antara dirinya dan Cho kyuhyun. Ia bahkan mulai membayang kan hal apa yang mungkin saja dilakukan namja itu padanya. Tapi dia sudah tidak memperdulikan hal itu lagi. Jika dia memang harus masuk kekandang singa maka tidak ada jalan lain selin menghadapi singa itu bukan?

Kyuhyun masih belum bergeming. Ia menatap Je wo tanpa ekspresi apapun. Membuat yeoja itu semakin meneguk ludah berat. “Itukah yang kau ingin kan? Jawab aku Jaksa Cho. Kenapa kau diam saja?!” teriak Je wo. Yeoja itu merasakan sebuah perasaan sesak di dadanya. “Cih.. jadi kau ingin menuduh ku? Begitu?” tanya Kyuhyun dingin. Namja itu melangkah pelan kehadapan Je wo. Ingin sekali rasanya yeoja itu segera berlari menghindari namja itu. Namun itu sama sekali tidak mungkin. “Kau pikir. Untuk apa selama ini aku mati-matian melindungi mu?” tanya Kyuhyun sinis. Namja itu mencengkram kuat kedua bahu Je wo. Bahkan ia tidak menghirau kan pekikan tertahan yang terlontar dari bibir yeoja itu.

“Jika memang aku pelakunya aku tidak akan mungkin mau bersusah payah menyelamatkan mu saat terjadi kebakaran itu! Aku akan lebih memilih kau mati terbakar disana bodoh! Dan kau pikir untuk apa selama ini aku mempertaruhkan nyawaku untuk yeoja yang bahkan sama sekali tidak ada artinya bagiku?! Kenapa kau tidak membusuk saja di tangan Kai saat itu?!”

Je wo memejamkan matanya dengan kuat saat Kyuhyun berteriak di depan wajahnya. Tubuhnya bergetar menahan rasa takut yang sudah menyesapi tubuhnya. Ia belum pernah mendapat perlakuan seperti ini dari Kyuhyun sebelumnya. Sementara namja itu? Ia sedang merasakan kekecewaan mendalam pada Je wo. Di saat ia sedang mati-matian bergulat pada pikiran dan hatinya mengenai perasaanya pada Je wo. Yeoja itu malah melontarkan perkataan yang semakin menyulut emosinya.

Kyuhyun melepaskan cengkramannya dengan kasar pada bahu Je wo. membuat tubuh yeoja itu terhuyung kuat kebelakang. Menatap Je wo dengan tatapan yang mulai menyendu namun sarat dengan kekecewaan yang dalam. “Keluar dari kamar ku” ucapnya dingin. Je wo masih diam di tempatnya. Jujur saja, yeoja itu merasa bersalah karena telah membuat namja itu marah. Namun semuanya telah terlambat, bukan menyelesaikan masalah tapi malah menambah masalah baru bagi keduanya.

“Tapi_”

“AKU BILANG KELUAR!!”

Je wo kembali tersentak saat Kyuhyun meneriakinya. Namun yeoja itu masih bersikeras menetap disana. Ia tidak peduli jika Kyuhyun akan memarahinya lagi atau pun memukulnya. Yang ia harapkan hanya satu. Kesalah pahaman di antara mereka harus selesai. “Keluar sekarang atau kau_”

“Kyuhyun-ah..”

Je wo dan Kyuhyun reflek menoleh kearah pintu kamar Kyuhyun saat mendengar sebuah suara lembut dari seorang yeoja. Park hyemi, kekasih ataupun calon tunangan Cho kyuhyun berdiri kaku disana. Ia menatap kedua manusia yang saling berhadapan satu sama lain itu dengan tatapan heran. “Aku tadi mendengar kau berteriak. Apa terjadi sesuatu?” tanya Hyemi pelan. Kyuhyun menghela nafas panjang, mencoba menahan kembali emosinya agar tidak meledak dihadapan Hyemi. Sementara itu Shin je wo terlihat sangat bingung harus berbuat apa. Dia hanya dapat menatap Kyuhyun dan Hyemi secara bergantian.

Kyuhyun meraih kunci mobilnya yang tergeletak di atas ranjangnya. Kemudian menarik tangan Hyemi dengan lembut. “Ayo pergi dari sini. Aku sedang tidak ingin dirumah” ucap Kyuhyun tanpa memperdulikan tatapan tidak percaya dari Je wo. Kalimat yang baru saja terlontar dari bibir Kyuhyun seakan mengatakan padanya jika namja itu sudah tidak ingin melihatnya disana lagi. Tidak mau melihat keberadaannya.

“Tapi.. mau kemana?”

“Rumah mu saja. Aku sedang ingin bersama mu seharian ini”

****

 

 

SHIN JE WO POV

12.35 pm

 

Aku mengusap pelan kedua pipiku yang sudah basah. Ucapan namja itu benar-benar terasa sangat menyakitkan bagiku. Dan parahnya lagi, semua itu ia katakan dihadapan kekasihnya. Adakah hal yang lebih menyakitkan dari ini? Kenapa di saat seperti ini, rasanya aku ingin sekali ikut bersama Omma dan Appa. Mungkin akan lebih baik jika aku bersama mereka. Aku tidak perlu hidup dalam cengkraman orang lain. “Omma.. cepatlah pertemukan aku dengannya. Aku ingin segera menyelesaikan tanggung jawab yang kalian berikan pada ku. Aku sudah sangat lelah Omma, Appa. Kenapa kalian tidak membawaku ikut bersama kalian saja?” aku tidak peduli meskipun orang akan menganggap ku gila karena bebicara pada sesuatu yang tidak ada. Mungkin gila lebih baik bagiku. Atau… kematian akan menjadi satu-satunya solusi agar aku terbebas dari semua masalah yang hampir memecahkan kepala ku ini.

TING TUNG

Kenapa disaat seperti ini harus ada tamu yang datang? Ya Tuhan, aku benar-benar sudah hampir gila. Dengan langkah malas aku keluar dari kamar ku menuju pintu rumah dan membukanya. “Eo? Kau?” Hye kyung tersenyum tipis padaku sesaat. Tapi entah kenapa senyumannya lenyap seketika. “Yah! Kau.. habis menangis?” ku gelengkan kepala ku pelan dan meraba wajahku. Apa ada sisa-sia air mata di wajahku. “Mata mu sangat bengkak Je wo-ya” ucapnya lagi. Baiklah! Aku memang sedang butuh teman untuk berbagi.

****

“Bertengkar? Kau? Dan Jaksa Cho?”

Aku mengangguk lemah padanya. Dia terlihat sangat shock mendengar ceritaku mengenai pertengkaran antara aku dan Jaksa Cho. “Lalu.. kenapa kau menangis? Apa Jaksa Cho menyakitimu?” tanya-nya cemas. Aku tersenyum kecil melihat raut khawatirnya. Lama menganalnya membuat aku mulai menyukai kepribadiannya. Apa aku boleh menganggapnya sebagai teman ku?

“Tidak.. dia hanya beberapa kali membentakku”

“Lalu kenapa kau sampai menangis?”

“Molla.. mungkin karena, Park hyemi”

Aku menggigit ujung lidahku cepat. Kenapa aku malah mengatakannya? Bagaimana jika dia curiga? Shin je wo paboya!! Kau akan mempermsluksn dirimu sendiri nanti!

“Je wo-ya.. eum, begini” kenapa wajahnya terlihat sangat serius? Ya Tuhan, kesalahan apa lagi yang telah ku perbuat hari ini? “Kau harus menjawab ku dengan jujur. Arraseo?” aku mengangguk patuh padanya. Dia membenar kan posisi duduknya hingga menatap sempurna kearahku. “Apa kau pernah menjalin hubungan denga Jaksa Cho?” kedua mataku melebar mendengar pertanyaannya. Menjalin hubungan dengan Jaksa Cho? Itu sama sekali tidak mungkin. “K-kenapa kau bertanya seperti itu?” tanya ku gugup.

“Sudah kubilang jawab dengan jujur” ucapnya tajam.

“Tidak. Tidak pernah”

“Jinjayo? Kau tidak berbohong padaku kan?”

“Annio! Aku memang tidak pernah menjalin hubungan dengannya”

Dia menatap ku dengan tatapan tidak percaya. Apa tampang ku ini seperti seorang pembohong? Aku memang tidak pernah berhubungan dengan Jaksa Cho bukan? Yah.. lain halnnya jika dia menanyakan bagaimana perasaan ku pada namja itu. “Tapi..” aku memusatkan tatapan ku padanya yang terlihat sedang memikirkan sesuatu. “Aku pernah tidak sengaja melihat kau dan dia.. berciuman”

“MWO?!”

“Yah! Kenapa kau sehisteris itu?”

Berciuman dengan Jaksa Cho? Itu.. tunggu! Kenapa Hye kyung bisa tau? Ya Tuhan, apa yang harus aku jawab padanya? “Je wo-ya.. kau masih hidup kan?” tanya-nya menggoyang-goyangkan tubuhku pelan. Aku hanya bisa tersenyum kaku padanya. “Cish.. aku benar-benar bingung. Kau dan Jaksa Cho tidak pernah memiliki hubungan tapi sudah pernah berciuman. Tidakkah ini terdengar gila?” ujarnya panjang lebar. Benar! Ini memang terdengar gila. Aku dan Jaksa Cho pernah berciuman tapi tidak memiliki hubungan apapun. Dan bodohnya aku, aku sama sekali tidak mempermasalahkan semua itu padanya.

“Aku.. juga tidak tau” ucapku pelan.

“Tidak tau apa? Tidak tau dia mencium mu?”

“Annio”

“Lalu?”

Ku hembuskan nafas ku berat di hadapan Hye kyung yang sudah tidak sabar menunggu jawabanku. Sepertinya aku memang harus menceritakan semua ini padanya. Semoga saja dengan begini dia dapat membantu ku untuk menyelesaikan masalahku.

CHO KYUHYUN POV

PARK HYEMI HOUSE

12.35 KST

 

Aku memejamkan mataku erat. Berusaha menghilangkan seluruh rasa penat di kepalaku. Rasanya kepalaku benar-benar akan pecah. Usapan lembut telapak tangan Hyemi pada kepala ku sangat menenagkan. Dari dulu hingga saat ini hanya dialah yang mampu membuat ku tenang jika sedang menghadapi masalah yang sangat memusingkan ku. Itulah sebabnya kenapa aku lebih memilih pergi kerumahnya dan menempatkan kepalaku pada pangkuannya agar seluruh kepenatan dan emosiku mulai mereda.

“Kyuhyun-ah…”

“Hem?”

“Sebenarnya apa yang terjadi antara kau dan Je wo? Sepertinya tadi kau sedang marah-marah padanya. Apa dia melakukan sesuatu yang membuatmu kesal?”

Aku membuka pelan kedua mataku ketika mendengar Hyemi menyebut nama Je wo. Kejadian beberapa waktu yang lalu kembali memenuhi pikiranku. Aku memang telah berbuat kasar padanya, menyakiti dan membentak dirinya. Ck! Kenapa aku jadi merasa bersalah seperti ini? Apa dia melakukan kesalahan padaku? Benar! Kesalahannya adalah tidak mempercayaiku. Setelah apa yang telah aku pertaruhkan untuknya, dengan mudahnya dia mencurigaiku. Ya Tuhan! Mengingatnya saja sudah membuat emosi ku kembali memuncak.

“Bisakah tidak usah membahas masalah itu? Aku sedang tidak ingin memikirkannya” ucapku pelan dan kembali memejamkan mataku.

“Arra. Tapi.. tidakkah kau sedikit keterlaluan? Eum.. saat mengatakan kalau kau sedang tidak ingin dirumah. Itu terdengar seperti kau tidak menyukai keberadaannya dirumah mu”

Kembali ku buka kedua mataku. Menatap wajah Hyemi dari tempatku. “Aku tidak bermaksud seperti itu” jawabku. Yah.. memang aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu tadi. Aku mengatakannya karena aku sedang emosi saja. “Tapi dia pasti merasa seperti itu. Bahkan wajahnya sangat terkejut saat kau mengatakan itu” Hyemi menatapku dengan tatapan menunggu. Lebih tepatnya menunggu reakasiku. Tapi aku sedang tidak ingin memikirkan Shin je wo saat ini. Ku pejamkan lagi mataku, sementara tangaku menarik tangan Hyemi yang sempat terhenti mengusap kepalaku. “Lakukan saja pekerjaan mu sayang, aku sedang ingin tidur” ucap ku.

Mataku memang terpejam, tapi pikiran ku tidak. Setelah mendengar perkataan Hyemi barusan entah kenapa wajah Je wo selalu melintas di pikiran ku. Wajah itu tampak lelah di mataku. Membuat aku merasakan sakit luar biasa melihatnya. Rasanya saat ini aku ingin sekali segera menemuinya. Meminta maaf atas perlakuan ku padanya. Tapi sebagian hati ku mengatakan jika itu salah. Dan sisi itulah yang saat ini sedang aku pertahan kan.

Dan jika sisi itu tidak aku pertahan kan. Maka aku pasti akan segera melepaskan genggaman tangan ku dari Hyemi. Aku tidak mau itu terjadi, aku tidak mau menjadi lelaki brengsek yang dengan mudahnya mencampakkan wanita setulus dia. Wanita yang jauh lebih dulu ku kenal di bandingkan Je wo. Tidak! Aku tidak mau.

AUTHOR POV

 

 

“Kau bodoh!”

“Aku tau”

Hye kyung mengerang pelan menatap yeoja yang ada dihadapannya. Ia berpikir bagaimana bisa ada yeoja sebodoh itu? “Kau_ haish! Kenapa kau membiarkan namja itu memperlakukan mu sesuka hatinya?!” bentaknya. Bahkan ia sudah tidak menyebutkan namja yang ia makasud dengan sebutan Jaksa Cho lagi, seperti biasanya. “Kau membiarkannya memasuki perasaan mu. Lalu kembali pada kekasihnya. Mencium mu dengan tiba-tiba dan setelah itu sama sekali tidak menganggap apa-apa di balik ciuman itu? Dan kau! Kau hanya diam saja?!” tanya Hye kyung tidak percaya.

Je wo hanya mendesah berat pada Hye kyung. Yang di katakan yeoja itu memang benar. Dia memang terlalu bodoh. Tapi dia juga tidak tau apa yang harus ia lakukan untuk memperbaiki kebodohannya. “Tapi.. kau juga menyukainya kan? Shin je wo?” kedua matanya melebar mendengar pertanyaan tak terduga dari Hye kyung. Ia yang merasa tidak dapat membohongi yeoja itu hanya dapat mengangguk pasrah. “Aku tidak tau sejak kapan ini terjadi. Tapi.. setiap kali melihatnya bersama Park hyemi, aku merasa.. tersakiti” Je wo tersenyum kecut menatap Hye kyung. “Menurut mu apa yang harus aku lakukan?”

“Apa lagi? Cepat perbaiki perasaan mu sebelum terlambat”

Hye kyung menyentuh kedua tangan Je wo lembut. Bagaimana pun dia sangat mengerti perasaan yeoja itu. “Tidak ada yang bisa mencegah datangnya perasaan mu. Tapi sangat salah jika kau tujukan untuknya. Dia sudah memiliki kekasih” ucap Hye kyung lembut. Je wo mengangguk lemah padanya, namun jauh di dalam lubuk hatinya ia merasakan rasa yang teramat perih. “Park hyemi, sudah menjadi bagian dari hidupnya sebelum kau datang. Dan saat ini, hanya beberapa hari lagi. Yeoja itu akan menjadi miliknya. Utuh! Meskipun hanya karena sebuah pertunangan” Hye kyung semakin mengeratkan genggamannya. Berusaha menyalurkan kekuatan untuk Je wo.

“Salah. Jika kau masih mengharapkan namja itu. Je wo-ya.. cepatlah buang perasaan mu”

*******

Tidak seperti biasanya. Di pagi hari seperti ini, biasanya Je wo sudah duduk manis di meja dapur. Menunggu Kyuhyun keluar dari kamar untuk menyiapkan sarapan pagi. Namun pagi ini, Kyuhyun tidak menemukan kebaradaan Je wo disana. Ia berusaha tidak memperdulikannya dan membuat sarapan pagi untuk mereka berdua. Dan hingga dia selesai pun, yeoja itu belum juga terlihat. “Apa dia belum bangun?” gumam Kyuhyun. Namja itu terlihat ragu, ia bergulat dengan pikirannya. Antara tetap tidak peduli atau segera memeriksa yeoja itu. Bagaimana pun dia juga mencemaskan yeoja yang sejak kemarin sore tidak bertatap muka dengannya akibat pertengkaran mereka.

Setelah berpikir cukup lama akhirnya Kyuhyun memutuskan untuk mengetuk pintu kamar Je wo. “Masuk” suara yang terdengar dari dalam sana memaksa Kyuhyun membuka pintu itu sendiri. Namja itu menaikkan sebelah alisnya saat melihat yeoja itu tengah duduk menyender pada ranjangnya. Dengan sebuah laptop yang berada di pangkuannya. “Waeo?” tanya Je wo dengan ekspresi seperti biasa. Seakan pertengkaran mereka kemarin sama sekali tidak terjadi. Kyuhyun berdehem pelan sebelum menjawab. “Kau tidak makan?”

“Nanti saja. Aku belum lapar”

“Lalu kenapa belum bersiap-siap? Kau tidak pergi kekampus?”

“Annio! Hari ini tidak ada jadwal kuliah. Oh iya, aku juga tidak ikut kekantor mu. Aku ingin dirumah saja. Tidak apa-apa kan?”

Kyuhyun kembali menatap aneh pada Je wo. Yeoja itu terlihat sedikit berbeda dari sebelumnya. Bahkan senyuman yang menghiasi bibirnya terlihat sangat asing di mata Kyuhyun. Senyuman itu terkesan memaksa dan lelah. “Tidak apa-apa kan? Jaksa Cho?” tanya Je wo dan menyadarkan Kyuhyun dari lamunannya. “Eo, ne. Kalau begitu aku pergi dulu” ucap Kyuhyun sebelum ia kembali menutup pintu kamar Je wo.

“Aku pasti bisa” gumam Je wo lirih setelah Kyuhyun menutup pintu kamarnya.

Kyuhyun mulai menjalankan mobilnya. Tapi ia berhenti pada pos penjaga yang ada dirumahnya. Sampai saat ini, rumah namja itu masih terus dijaga oleh beberapa anak buahnya. Kyuhyun membuka kaca jendela mobilnya. Memanggil beberapa anak buahnya. “Hari ini Je wo tinggal sendirian di rumah. Pastikan tidak ada seorang pun yang boleh masuk tanpa atas izin ku. Mengerti?” ujarnya tegas.

“Ne Sajangnim” jawab mereka serentak.

Kyuhyun mengangguk pelan sebelum menutup kembali kaca mobilnya. Melanjalankan mobilnya. Melaju menyusuri tiap jalanan Seoul.

Je wo yang melihat mobil Kyuhyun mulai meninggalkan rumah hanya bisa mendesah pasrah. Dia memang sedang ingin menjauhi namja itu. Tidak ingin lagi hanyut dalam perasaannya. Semua yang dikatakan Hye kyung padanya memang benar. Perasaan-nya pada Kyuhyun adalah sumber dari semua masalah.

Je wo melangkah ringan menuju meja makan. Ia sedikit terperanjat melihat sepiring Sandwich dan segelas susu tergeletak indah disana. Ada sebuah kertas kecil di samping piring itu dan segera diambil olehnya.

‘Jangan lupa sarapan pagi mu’

 

Bibir Je wo terangkat sempurna membaca tulisan singkat itu. Perasaanya kembali melayang. Namun cepat-cepat ia menggeleng kuat. “Andwe! Aku tidak boleh seperti ini lagi” gumamnya. Ia merogoh saku celananya. Mengambil ponselnya dari sana dan menelpon seseorang. “Yeoboseo?”

******

CHOI SIWON POV

08.00 KST

 

 

Aku tak henti-hentinya tersenyum di sepanjang perjalanan ku kerumah Kyuhyun. Sebelum aku pergi kekantor, tiba-tiba saja Je wo menelpon ku dan meminta aku menemaninya seharian ini. Dia bilang kalau saat ini dia sangat bosan dan sedang ingin berjalan-jalan. Woah.. rasanya perasaan ku seperti ingin meledak. Hanya karena dia meminta aku menemaninya saja perasaan ku sudah sesenang ini.

Mobil ku mulai memasuki kawasan rumah Kyuhyun. Tapi saat baru memasuki pagar rumahnya. Para petugas rumah ini segera menghentikan mobilku. Ku buka segera jecdela mobilku dan menatap mereka bingung. “Waeo?” tanyaku.

“Eo? Choi Sajangnim. Selamat pagi”

“Eum. Pagi”

“Maaf sebelumnya Sajangnim, Cho Sajangnim memerintahkan kami untuk tidak memperbolehkan siapapun menemui Nona Shin je wo tanpa izin darinya”

Aku mengangkat sebelah alisku dan tersenyum kecil. “Tenang saja. Aku akan meminta izin dari Kyuhyun sendiri. Lagi pula apa yang harus kalian cemaskan jika aku yang menemuinya?” ujarku. Mereka semua terlihat gugup dihadapanku.

Setelah cukup lama meyakin kan mereka akhirnya aku di perbolehkan masuk juga. Apa yang mereka takutkan? Aku akan mencelakai Je wo? Yang benar saja! “Jaksa Choi!” aku yang baru saja menginjakkan kaki ku kedalam rumah Kyuhyun, terperanjat kaget saat melihat Je wo berlari kearahku. Dia tersenyum lebar dan meraih sebelah tangan ku. “Gomawo sudah mau datang” ucapnya girang. Aku menurunkan pandangan pada lengan ku. Sentuhannya terasa hangat dan berhasil membuat ku berdebar. “Jaksa Choi..”

“N-ne?”

“Kenapa melamun?”

“A-annio.. tapi, kau ingin kemana seharian ini?”

“Kemana saja. Aku sedang ingin jalan-jalan sepuasnya”

Aku tersenyum dan mengangguk kecil. “Tapi, tidak apa-apa kan? Apa kau ada pekerjaan hari ini?” tanya Je wo sedikit cemas. Aku kembali tersenyum kecil padanya. Walau hari ini aku banyak pekerjaan pun. Aku tetap akan menemani mu Je wo-ya. Menemani mu kemana pun yang kau mau.

“Gwencanha. Aku sedang tidak ada pekerjaan hari ini”

“Jongmal? Woahh.. joha!!”

*****

“Kau belum sarapan?”

Je wo hanya menggeeng polos dengan senyuman lebar walaupun mulutnya masih penuh dengan makanan. Aku terkekeh gei melihatnya. Aigo~ kekanakan sekali yeoja ini. “Ini enak. Kau mau?” tunjuknya pada makanan miliknya. “Buka mulut mu” aku mengangkat sebelah alisku mendengarnya.

“AA….”

Ku buka mulutku sambil tersenyum kecil padanya. Dia menyuapkan sesendok sup pada ku. “Enak kan?” tanya-nya. “Eum. Gomawo” ucapku. Entah kenapa hari ini aku merasa sangat lepas berhadapan dengannya. Rasanya seperti.. sedang melakukan kencan dengan kekasih ku. Omo? Apa yang ku pikirkan? Kencan? Hahaha rasanya sedikit aneh.

“Jaksa Choi. Setelah ini sebaiknya kita pergi kemana?” tanya Je wo sambil membersihkan kedua sudut bibirnya. Aku menopang daguku dan memandanganya. “Kau ingin kemana?” tanya ku. Dia mengikuti ku melakukan hal yang sama. Menopang dagu dengan sebelah tangannya dan menatap ku. “Bagaimana jika ke bioskop? Aku sudah lama tidak kesana” ujarnya memberi usul.

“Bioskop?”

*****

“Film apa yang ingin kau tonton?”

“Apa saja. Asalkan jangan Film kartun”

“Waeo?”

“Aku tidak suka film anak-anak Jaksa Choi..”

“Omo? Jadi kau lebih suka film orang dewasa? Aigo~”

“Mwo? Yah!”

Aku tertawa kuat dan segera menghindarinya yang sedang mengejarku. Menggodanya sangat menyenangkan. Apa lagi jika melihat wajahnya yang merengut kesal. Hahaha dia seperti bocah saja. “Arraseo-arraseo. Aku minta maaf” ucap ku mengalah. Dia masih menekuk wajahnya padaku sambil mendekap kedua tangannya di depan dada. Aku mendekatinya dan tersenyum kecil. Tapi dia masih saja tidak bergeming. “Hei. Nona Shin.. ayo tersenyum” goda ku sambil memainkan ujung dagunya dengan jari telunjukku.

“Senyum mu itu sangat manis. Ayolah…”

“Haish! Berhenti menggodaku”

Teriaknya namun bibirnya sudah tertarik keatas membentuk sebuah senyuman. “Nah! Begini lebih baik. Ayo kita beli tiketnya” ujarku dan segera menarik tangannya. Percaya ataupun tidak, tapi yang jelas jantung ku seperti habis di pakai untuk berlari bermil-mil jauhnya. Padahal hanya sentuhan sekecil ini, tapi kenapa efeknya harus sekuat ini?!

Tidak ada yang aku perhatikan dari putaran film ini. Kerena apa? Karena aku sedari tadi sibuk dengan menatap wajah yang tengah duduk disampingku. Dia memilih menonton film Action dari pada film romantis yang katanya akan membuatnya mengantuk. Wajah seriusnya saat menonton membuat aku memfokuskan pandangan ku hanya pada wajahnya. Ia mengerutkan dahi saat suasana mencekam tercipta di film itu. Tersenyum kecil saat ada yang lucu disana. Tak jarang ia berdecak kagum ketika pemeran utama disana mempertontonkan keahliannya dalam berkelahi. Ini yang aku suka darinya. Perubahan wajah yang ia timbulkan tiap saat benar-benar terlihat sangat menggemaskan.

“Woahh keren sekali” gumamnya dan menoleh padaku.

“Film yang hebatkan? Apa kau juga bisa berkelahi seperti dia. Jaksa Choi?” tanya Je wo. Aku tersenyum kecil padanya.

“Tentu saja. Bahkan lebih hebat dari itu aku juga bisa” ucapku bangga. Dia tertawa hambar padaku. Hahaha lucu sekali wajahnya.

“Yasudah. Ayo keluar”

Eh? Keluar?

“Kenapa masih diam saja?” tanya-nya yang melihat aku masih duduk dengan setia. “Film-nya sudah selesai. Kau ingin menginap disini?”

“Selesai?”

Dia mengangguk ringan. Aigo~ kenapa aku tidak sadar? Aku bahkan tidak menonton sedikit pun. Sejauh itukah perhatian ku padanya? Hingga menyita seluruh perhatian di sekitarku?

CHO KYUHYUN POV

18.00 KST

 

Mobilku melaju dengan kecepatan normal, memasuki pekarangan rumah ku. Namun seorang dari anak buahku mencegah ku untuk masuk. Ku buka jendela mobil ku. “Wae?”

“Sajangnim. Nona Shin je wo masih belum pulang”

Kening ku berkerut mendengarnya. Belum pulang?

“Apa maksudmu dengan belum pulang? Memangnya kemana dia?” tanya ku penasaran padanya.

“Apa Jaksa Choi belum mengatakannya pada anda? Tadi pagi dia menjemput Nona Shin je wo dan membawanya pergi. Ia bilang nanti akan mengatakannya pada anda” rahangku mengeras mendengarnya. Apa-apaan dia? Membawa Je wo seenaknya tanpa permisi dengan ku? Tanpa mengatakan apapun, segera ku laju mobilku masuk ke rumah. Seharian ini aku sudah hampir gila karena yeoja itu sama sekali tidak memberi kabar apapun padaku. Dan sekarang dia sedang menikmati waktunya bersama Siwon Hyung?

Ku rogoh saku celana ku, mengambil ponsel untuk menghubungi Siwon Hyung. Dia harus memulangkan Je wo malam ini juga.

“Sial! Kenapa tidak di angkat?!” maki ku.

Berkali-kali aku mencoba menghubunginya, tapi tidak ada satu panggilan pun yang terjawab. Apa dia sengaja melakukannya? Tidak menjawab panggilan ku agar bisa bermesraan dengan Je wo? Licik sekali!

***

AUTHOR POV

19.00 KST

 

“Eo? Dua puluh panggilan tak terjawab?” gumam Siwon saat memasuki mobilnya. Ia memang lupa membawa ponselnya yang tergeletak sempura di dalam mobil. “Dan semuanya dari Kyuhyun?” sambungnya.

Mendengar nama Kyuhyun. Je wo segera menoleh padanya. Ia menatap wajah Siwon yang sangat serius memeriksa ponselnya. Perasaan sesak itu datang lagi hanya karena mendengar nama Kyuhyun. Padahal seharian ini dia sudah berhasil melupakan sejenak nama itu. Sosok itu. Dan kali ini, lagi-lagi ia tidak dapat menepis perasaan rindunya.

“Ku rasa dia mencemaskan mu” gumam Siwon padanya. Je wo hanya tersenyum kecil meresponnya. Mencemaskan ku? Entahlah… aku tidak terlalu yakin akan hal itu. Batin yeoja itu

“Jaksa Choi..” panggil Je wo ragu.

“Aku.. ingin… eum.. menginap dirumah mu. Boleh tidak?” Je wo menatap Siwon ragu. Ia tau mungkin Siwon akan menganggap aneh dirinya. Seharian ini dia sudah cukup merepotkan namja itu dengan menemaninya berjalan-jalan. Sekarang? Ia juga ingin menginap dirumah Siwon.

“Begini. Aku.. bukannya tidak mengijinkan. Tapi.. malam ini Eunjin dan keluarga ku tidak ada di rumah. Mereka sedang berada di rumah salah satu keluarga ku di Busan. Apa kau tidak keberatan?” tanya Siwon hati-hati. Dia tidak bermaksud menolak. Karena sangat bodohlah dirinya menolak Je wo untuk menginap dirumahnya. Bukankah itu adalah kesempatan untuknya berdekatan dengan Je wo? Tapi mengingat ia takut jika yeoja itu berprasangka buruk dengannya. Maka ia merasa harus memberitau ini lebih dulu.

“Oh.. begitu” gumam Je wo yang di selingi desahan kecewa. Malam ini dia memang tidak berniat pulang kerumah Kyuhyun. Masih belum bisa ia menerima semua keadaan yang menimpanya. Belum lagi ucapan Hye kyung masih terus terngiang di telinganya.

Siwon menatap sendu wajah Je wo yang terlihat sangat kecewa. Ia tidak suka jika yeoja itu terlihat murung. Kini baginya kebahagian yeoja itu berada di atas segalanya. “Baiklah! Malam ini kau akan menginap dirumah ku. Kita akan mengadakan sedikit pesta disana” ujarnya bersemangat.

“T-tapi.. bukankah keluarga mu sed_”

“Gwencanha. Selama kau tidak keberatan tentunya. Kau bisa memakai kamar Eunjin atau.. kita tidak perlu memakai kamar apapun dan bercerita semalaman”

Je wo tersenyum girang dan mengangguk semangat. “Membeli beberapa Snack untuk malam panjang ini ku rasa bukan ide yang buruk” pancingnya. Siwon tertawa ringan mendengar ucapan Je wo. “Ja! Kita beli” ucapnya sembari mengacak rambut yeoja itu. Keduanya saling tersenyum ringan saat Siwon mulai menjalankan mobilnya. Bahkan  namja itu lupa jika harus memberitaukan Cho kyuhyun kalau saat ini Je wo masih bersamanya.

Setelah membeli cukup banyak makanan ringan dan beberapa minuman. Keduanya kembali pulang ke rumah Siwon. Je wo dengan semangatnya mengeluarkan semua makanan yang mereka beli tadi. Kini makanan dan minuman itu sudah terserak di atas meja tamu. Siwon yang melihat sikap kekanakan Je wo hanya dapat menggelangkan kepalanya sembari tersenyum tipis. Kemudian ia ingat jika sampai saat ini dia belum memberi kabar pada Kyuhyun. Siwon naik ke kamarnya, meninggalkan Je wo yang masih sibuk membuka satu persatu bungkusan yang bertebaran disana.

Namja itu merogoh ponselnya dan mencoba menghubungi Kyuhyun.

“Yeoboseo?”

“Yeoboseo! Yah Hyung! Kau bawa kemana dia? Kenapa kau seenaknya saja membawanya pergi tanpa seijin ku?”

Siwon menautkan kedua alisnya saat mendengar ucapan Kyuhyun padanya. Namja itu terlihat tidak tenang saat ini. “Maaf. Aku lupa memberitau mu kalau hari ini aku membawa Je wo pergi. Tadi pagi ia menelpon ku dan memintaku untuk menemaninya seharian ini. Ponselku tertinggal di mobil. Jadi aku tidak tau kalau kau menghubungi ku” jelas Siwon. Ia juga tidak mau membuat Kyuhyun memikirkan hal yang tidak-tidak tentangnya.

Siwon dapat mendengar dengusan kesal Kyuhyun. Sangat jelas baginya jika namja itu sama sekali tidak menerima penjelasan darinya. Dan itu semakin membuat Siwon merasa aneh. Ia mulai berpikir. Apakah yang dikatakan Eunjin beberapa hari yang lalu itu benar? Cho kyuhyun… juga menyukai Shin je wo?

“Kalau begitu cepat antar dia kerumah ku. Sekarang! Atau aku yang akan menjemputnya dari sana”

Siwon tersentak dari lamunannya mendengar suara tajam Kyuhyun. Ia sedikit merasa kesal saat namja itu berbicara tidak sesopan biasanya. “Sekali lagi aku minta maaf. Tapi malam ini dia akan tidur dirumah ku”

“Mwo? Yah Hyung, apa maksud mu?!” teriak Kyuhyun.

Siwon menggelengkan kepalanya pelan. Sifat Kyuhyun yang seakan menjadi pemilik yeoja yang bernama Shin je wo itu membuat namja itu merasa kesal.

“Bukan aku menginginkannya. Tapi Je wo. Dia yang ingin menginap di rumah ku. Sudahlah, kau tidak perlu cemas. Aku yang akan menjaganya. Jadi bisa ku pastikan dia akan pulang dengan selamat kerumah mu besok” Siwon menekan tombol merah pada ponselnya. Mengakhiri percakapannya dengan Kyuhyun.

“Ada apa dengannya? Seharusnya hal ini bukanlah sesuatu yang patut untuk ia cemaskan. Kenapa reaksinya separah itu?”

***

Kyuhyun melempar ponselnya kuat ke atas sofa setelah Siwon mengakhiri percakapan mereka. Dada namja itu naik turun menahan emosi. Ia mengepal kuat kedua tangannya. “Apa tujuanmu sebenarnya melakukan ini Hyung?” geramnya. Rahang namja itu kembali mengeras. Ia menghembuskan nafas panjang sebelum beranjak dari tempatnya. Melangkahkan kakinya kearah dapur berniat mengambil minum. Namun langkah kaki panjang itu terhenti saat melihat apa yang ada di atas meja makan.

Dengan langkah pelan ia mendekati meja makan itu. Menatap miris sebuah piring dan sebuah gelas yang masih terisi utuh. Manakan yang ia buatkan untuk Je wo tadi pagi masih ada dan belum tersentuh. Susu yang ia tinggalkan dalam keadaan hangat kini sudah menjadi dingin. Hanya kertas kecil yang ia tinggal itu saja yang berpindah tempat. Dan itu artinya yeoja itu sudah membacanya.

“Kau bahkan sudah membaca pesanku. Tapi kenapa tetap tidak mau memakannya? Sebenci itu kah kau padaku?” gumamnya lirih.

****

Je wo menyenderkan punggungnya pada jendela kaca ruang keluarga Choi siwon. Kedua tangannya menggenggam minuman kaleng yang mereka beli tadi. Sementara namja yang ada disampaing tubuhnya sedari tadi tidak melepaskan fokus pandangnya pada wajah sayu yeoja itu. Malam ini dia benar-benar berniat menghabiskan tiap menit yang ia punya hanya untuk memandangi wajah itu. Tidak akan ada kata puas baginya melakukan aktivitas itu.

“Aku senang sekali hari ini. Sudah lama aku tidak bisa menikmati hari-hari penuh kebebasan seperti ini. Kau tau? Semenjak nyawaku menjadi incaran orang itu. Aku benar-benar merasa terkurung. Aku tidak bisa bergerak dengan semauku” ujarnya. Senyuman tipis terukir di bibir tipisnya. Siwon yang mendengar itu turut merasakan bagaimana perasaan yeoja itu.

“Terkadang, jika aku mulai merasa lelah. Merasa bosan, merasa muak dengan semua yang ku alami dalam hidupku. Aku teringat dengan kedua orang tua ku. Aku berpikir, jika mereka masih hidup. Mereka pasti tidak akan membiarkan hidup ku serumit ini” suara yang awalnya terdengar biasa kini mulai mengeluarkan isakan kecil. Je wo membiarkan begitu saja air matanya yang meloloskan diri dari bendungan pelupuk matanya.

“Mereka pasti akan menjauhkan segala kesulitan dalam hidupku. Memelukku dan menlindungi ku”

“Tapi apa yang bisa aku lakukan lagi? Mereka sudah tidak ada. Mereka tidak akan mungkin memelukku. Melindungi ku. Lalu… harus kah aku berlari kearah mereka? Aku ingin bersama dengan mereka lagi. Aku tidak ingin hidup seperti ini lagi Jaksa Choi… apa yang harus ku lakukan?” tanyanya pada Siwon. Ia menolehkan wajahnya pada namja itu. Hingga wajah putih yang terkotori oleh lelahan air matanya terlihat. Membuat denyutan perih pada jantung namja yang melihatnya.

“Kau tidak sendiri. Ada aku disini” ucap Siwon lembut. Ia menangkupkan kedua telapak tangannya di kedua sisi wajah Je wo. Menatap dalam wajah yang terlihat sendu itu. “Jika kau ingin di lindungi. Aku akan selalu siap melindungimu. Menjaga mu dari semua hal yang akan menyakiti mu. Dan jika kau merindukan pelukan orang tua mu. Aku selalu siap untuk mu” ucapnya lembut sebelum menarik Je wo kepelukannya. Membenamkan wajah yeoja itu ke dalam dadanya. Memberikan rasa nyaman untuk Je wo. Je wo menumpahkan segala kesedihannya di sana. Menangis terisak di dada namja yang menghangatkan perasaannya yang sedang sakit saat ini.

Hingga ia merasa matanya tak lagi mampu terbuka. Rasa kantuk telah menguasai dirinya. Membuat tubuhnya menyandar sempurna pada tubuh Siwon. Namun Siwon sama sekali tidak menolaknya. Bahkan jika Je wo bersandar pada tubuhnya di seumur hidup yeoja itu pun ia sama sekali tidak keberatan. Karena mulai detik ini, ia sudah bersumpah akan menjadi sandaran hidup untuknya. Tidak peduli ia harus mengorbankan semua yang ia miliki untuk Je wo. Asalkan yeoja itu selalu tersenyum di hadapannya. Bukan hanya uang, nyawa pun ia korban kan.

“Kau harus tetap hidup. Aku akan memastikannya” bisiknya lirih sebelum menggendong yeoja itu dan membawanya masuk kekamar Eunjin.

***

“Sudah. Turunlah..”

Je wo tersenyum canggung pada Siwon. Saat ia terbangun dari tidurnya, ia cukup terperanjat dengan keberadaan dirinya di kamar Eunjin. Karena seingatnya, tadi malam ia sama sekali belum masuk ke kamar itu. Dan itu berarti seseorang telah membawanya kesan. Siapa lagi kalau bukan Choi siwon.

“Hahaha. Tidak usah merasa canggung seperti itu. Cih.. seharusnya kau mengucapkan terima kasih pada ku kan?” goda Siwon. Je wo menggembungkan kedua pipinya kesal. Membuat tawa Siwon terdengar disana.

“Ck! Arraseo.. gomawoyo Jaksa Choi. Aku telah merepotkan mu tadi malam”

“Gwencanha. Tapi… ada yang ingin aku minta dari mu”

Je wo menatap Siwon dengan tatapan polos miliknya. Membuat namja manapun akan mengumpat di dalam hati dengan melihat wajah polos yang menggoda itu.

“Panggil aku Oppa mulai sekarang”

“Ne?!”

“Eum! Mulai sekarang kau harus memanggil ku Oppa. Panggilan Jaksa Choi itu terlalu formal kedengarannya. Mengerti?”

Je wo mengerjapkan matanya polos. Masih terlalu bingung dengan permintaan Siwon padanya. Itu memang bukanlah hal yang sulit. Tapi merubah cara panggil pada seseorang itu terlalu rancu bukan?

“Memangnya tidak apa-apa jika aku memanggil mu seperti itu? Aku rasa itu tidak sopan”

“Aku yang meminta mu. Jadi itu sama sekali tidak masalah. Ayo! Coba panggil aku Oppa”

Je wo tersenyum kaku padanya. Ia menggerakkan mulutnya hingga membentuk sebuah lingkarang. “O-Oppa” ucapnya pelan. Siwon tersenyum kecil dan mengulurkan tangannya. Mengacak gemas rambut Je wo.

“Joha! Sekarang kau cepat masuk”

Je wo mengangguk ringan dan tersenyum kecil sebelum membuka pintu mobil namja yang mulai saat ini akan ia panggil dengan sebutan Oppa. Ia melambaikan tangannya pada Siwon saat mobil namja itu mulai meninggalkan arena rumah Cho kyuhyun.

Je wo melangkah masuk kedalam rumah dengan langkah lesu. Mulai merangkai kata apa yang akan ia katakan pada Kyuhyun nanti. Sedari tadi ini yang selalu ia pikirkan. “Hahhh apapun itu aku harus bisa mengadapinya” ucapnya menyemangati diri sendiri.

Namun langkahnya seketika terhenti saat sepasang kekasih yang besok malam akan bertungan itu melangkah keluar rumah. Kedua tangan mereka saling bertautan erat. Je wo memaki dirinya sendiri yang pulang di saat waktu yang tidak tepat. “A-anyeong” sapanya kaku.

Ia meneguk ludah berat saat Kyuhyun menatapnya dengan tatapan dingin namun menusuk. “Kau baru pulang?” tanya Hyemi. Je wo mengangguk sekali. Ia mencoba memberanikan diri menatap Kyuhyun. Memang ini yang harus ia lakukan. Menganggap tidak ada yang terjadi sebelumnya antara dia dan namja itu, agar semua keresahan hatinya segera menguap.

“Jaksa Cho..” panggilnya pelan.

“Mianhae. Aku tidak meminta ijin dari mu saat menginap di rumah Siwon Oppa” ucapnya pelan. Tanpa ia sadari, ada perubahan raut wajah Kyuhyun disana. Matanya melebar saat mendengar Je wo menyebut kata Oppa.

“Gwencanha. Aku tidak mempermasalahkan hal itu. Kaja Hyemi-yah. Kita harus mempersiapkan kepentingan perunangan kita besok malam” ucap Kyuhyun tanpa menoleh pada Je wo. Ia kembali menggenggam lembut tangan Hyemi dan membawa yeoja itu pergi.

“Cham!” panggil Je wo.

Yeoja itu menggingit bibir bawahnya ragu. Sedangkan kedua orang yang berdiri di hadapannya tengah menunggunya untuk bicara. Ia mengambil nafas dalam sebelum membentuk sebuah senyuman manis di bibirnya. “Bisakah malam ini kalian berdua pulang kerumah lebih cepat?” tanya-nya.

Kyuhyun menatap aneh Je wo. Merasa ada yang salah dengan yeoja itu. Lagi-lagi yeoja itu memasang senyuman palsu di bibirnya. “Ada sesuatu yang ingin aku berikan pada kalian. Jadi.. bisakah?” tanya Je wo memastikan.

“Tentu saja! Aku dan Kyuhyun akan pulang lebih cepat malam ini. Tidak terlalu banyak yang akan kami urus. Jadi kau tenang saja. Tapi..memangnya apa yang ingin kau berikan?”

Je wo mengerlingkan matanya nakal kearah Hyemi sambil tersenyum. “Rahasia! Kau dan Jaksa Cho akan segera tau nanti. Yah! Sudah sana cepat pergi. Nanti kalian akan terlambat”  ujarnya.

Kedua yeoja itu saling melempar senyuman hangat. Hyemi mulai merasa nyaman dengan keberadaan Je wo. Terlebih saat ia sama sekali tidak menemukan keganjilan pada keduanya. Sementara Kyuhyun? Ia sudah sangat ingin meneriaki Je wo. Menghentikan senyuman palsu Je wo.

Hyemi melambai kecil di balik kaca mobil Kyuhyun sebelum mobil itu melaju meninggalkan rumah. Senyuman itu kini musnah digantikan oleh wajah suram dari Je wo. “Aku bisa.. aku harus bisa. Dia sudah bahagia dengan pilihan hatinya” gumamnya lirih.

****

“Pesta kejutan?!” pekik Hye kyung pada Je wo.

Shin je wo mengangguk pasti pada Hye kyung. “Maka dari itu aku membutuhkanbantuan mu. Bantu aku mendekorasi rumah ini menjadi tempat makan malam romantis untuk mereka. Disini!” tunjuk Je wo pada meja makan yang berada di dapur. “Aku ingin ada beberapa lilin dan juga bunga untuk menambah kesan romantis. Lalu disana!” tunjuknya lagi pada ruang televisi. “Disana juga harus ada banyak bunga yang bertebaran di sepanjang lantai. Aku akan memutar lagu romantis agar mereka berdansa. Lalu_”

“Stop!” potong Hye kyung.

Je wo menggantungkan ucapannya dan menatap Hye kyung. “Wae”

“Kau terlalu memaksakan diri mu” ucap Hye kyung pelan. Ia tau apa maksud yeoja itu ingin membuat makan malam romantis untuk Kyuhyun dan Hyemi. “Ini akan menyakiti dirimu sendiri” sambung Hye kyung lagi. Namun di balas senyuman tipis oleh Je wo.

“Gwencanha. Aku sudah terlalu sering merasakan itu. Sedikit menambahkan rasa sakit itu lagi tidak akan berpengaruh banyak ku rasa” Hye kyung menggelengkan kepalanya miris pada Je wo yang tetap tersenyum. “Aku ingin membuat keadaan membaik. Aku ingin membuang semua perasaan ku padanya. Hanya ini yang dapat aku lakukan”

“Tidak! Kau bisa melakukan cara lain”

“Tapi aku ingin melakukan ini. Aku ingin merasa lebih sakit dari sebelumnya. Sangat amat sakit hingga aku lupa bagaimana rasa dari sakit itu sendiri”

Kedua tangannya terkepal kuat. Menahan beribu hujaman perih pada jantungnya. Ia sudah memutuskan akan mengambil langkah ini. Langkah yang mungkin saja akan membuatnya hancur. Siapa yang tidak akan hancur melihat pria yang di cintainya akan mengikat hidup bersama wanita lain? Jika ia mampu, mungkin saja ia akan menggunakan beribu cara untuk menghentikannya. Menyembunyikan pria itu kemanapun. Tidak peduli seluruh dunia nantinya akan membencinya. Asalkan pria itu tetap berada di sisinya, itu tidak akan menjadi masalah baginya.

Namun sayangnya, semua itu tidak akan mungkin terjadi. Dia terlalu pengecut untuk menjadi sosok yang akan di benci semua orang. Dia terlalu takut menerima kenyataan jika pria itu mungkin saja akan membencinya juga. Baginya, asalkan pria itu bahagia. Maka tidak ada lagi yang ia ingin kan. Biarlah ia yang menikmati sendiri perasaannya. Rasa cinta yang begitu mendalam pada sosok yang tidak seharusnya ia cintai. Rasa cinta itu begitu salah dimatanya. Karena bagaimana pun, pria itu telah memiliki seseorang yang selalu menggenggam tangannya.

“Kau harus membantu ku Kyungie…” ucapnya lirih.

Hye kyung melangkah perlahan kehadapan yeoja itu. Meraih kedua bahu yang terlihat bergetar kemudian membawanya kedalam sebuah pelukan hangat. “Gwencanha.. aku mengerti perasaan mu. Aku akan membantu mu Je wo-ya” bisiknya menenangkan.

Hye kyung melepas pelukannya. Menatap yeoja yang tersenyum kecil padanya. “Jadi.. kita mulai dari mana?” tanya Hye kyung.

***

Siwon menunggu dengan cemas deringan telepon di ruang kerjanya. Hembusan nafas penuh ketidak sabaran berderu di sekitar bibirnya. Ia sedang menunggu sesuatu yang sangat penting baginya. Sesuatu yang ingin ia kembalikan pada seseorang.

Deringan telepon itu akhirnya terdengar juga. Membuat sebelah tangannya tidak perlu menunggu lama untuk mengangkat gagang telepon itu. “Yeoboseo?”

“Sajangnim, kami sudah mendapatkan semua informasinya dengan lengkap. Tapi maaf, aku tidak dapat mengatakannya melalui telepon. Terlalu beresiko tinggi. Karena ini.. sepertinya menyangkut seseorang yang penting di kejaksaan”

Choi siwon menautkan kedua alisnya. Sesutu yang baru saja ia dengar dari mulut orang kepercayaannya telah berhasil membuatnya bertanya-tanya. Seseorang yang penting di kejaksaan? Ia mulai mempercepat kerja otaknya untuk berpikir. “Lalu kapan kau akan mengatakannya padaku?” tanya Siwon tidak sabar.

“Aku akan mengirim semua bukti yang aku temukan melalui email pribadi mu. Tapi.. berjanjilah padaku. Apapun yang kau ketahui nanti, tolong simpan rahasia ini dulu. Aku sudah memutuskan akan membantu mu menyelesaikan kasus yang kau tangani”

Siwon menggeretakkan giginya tidak sabar. Orang yang berada di seberang sana terlalu berbelit-belit padanya. Ia bahkan sudah ingin mencampakkan gagang telepon itu dan segera membuka akun emailnya untuk memastikan sesuatu.

“Siwon-ah..”

Kali ini mata Choi siwon sedikit berkilat mendengar panggilan orang itu yang kini berubah, tidak seformal tadi. Panggilan ini sudah sangat ia rindukan, setelah cukup lama keduanya tidak saling bertemu.

“Kau boleh percaya atau tidak. Walaupun kasus ini selesai, nantinya pasti akan tetap ada yang tersakiti”

“A-apa maksudmu? Kasus?” tanya Siwon bingung. Seingatnya ia hanya menyuruh namja itu mencari tau informasi mengenai kepemilikan sebuah rumah. Ia sama sekali tidak mengatakan apapun tentang kasus yang ia tangani. “Kibum-ah! Aku sama sekali belum mengatakan apapun padamu mengenai kasus yang kutangani. Bagaimana kau bisa mengetahuinya?” tanya Siwon tajam.

“Tidak sulit, karena si pemilik rumah itu. Adalah orang yang ikut andil dalam kasusmu”

TOK TOK TOK

Siwon melirik kearah pintu dan mendapati Ill wo tengah berdiri disana. Ia merutuki keberadaan namja itu yang sangat tidak tepat saat ini. Masih ada beribu pertanyaan yang membani pikirannya pada Kim kibum. Namja yang menjadi orang kepercayaannya selama ini.

Siwon mengangguk kecil pada Ill wo dan berdehem pelan. “Nanti aku akan mengubungi mu. Ada yang harus aku kerjakan saat ini. Dan kau jangan lupa, aku menunggu email darimu” ucapnya sebelum memutuskan panggilannya.

***

Hyemi menarik lengan Kyuhyun agar lebih cepat masuk kedalm rumah. Sedari tadi yeoja itu sudah sangat tidak sabar menanti kejutan apa yang akan Shin je wo berikan padanya. Sementara Kyuhyun, ia bahkan tidak dapat memikirkan apapun hari ini karena mencemaskan kejutan apa yang di berikan yeoja itu pada mereka nanti. Kerja otaknya seakan lumpuh tiap kali nama itu berputar di kepalanya. Memakasanya untuk tidak dapat melakukan apapun selain memikirkannya.

“Eo?” pekik Hyemi terkejut.

Kedua mata Hyemi terlihat berbinar saat menemukan rumah Kyuhyun seakan telah di sihir oleh seseorang. Baru saja mereka melangkahkan kaki memasuki ruangan pertama. Kelopak bunga yang berserakan di lantai seakan menyambut kedatangan mereka. Hyemi berkali-kali berdecak kagum melihat dekorasi yang terlihat sangat romantis di sana. Namun tidak dengan Kyuhyun, namja itu kini tau kejutan apa yang dimaksud oleh Je wo. Ia sama sekali tidak mengerti kenapa Je wo melakukan semua ini. Dia bukanlah namja buta yang tidak mengetahui bagaimana perasaan yeoja itu padanya. Karena ia juga memiliki perasaan itu. Perasaan yang tidak pernah mereka katakan pada siapapun termasuk diri sendiri. Namun cukup hanya dengan menikmatinya tanpa ada seseorang pun yang tau.

“Kalian sudah pulang?” nada suara yang terdengar sangat girang itu seakan mampu menyayat setiap inchi hati namja yang sedang mengepalkan kedua tangannya. Lagi-lagi ia mengutuki senyuman palsu dari bibir yeoja itu. Ia tau bagaimana sulitnya Je wo harus tersenyum segirang itu pada mereka.

“Je wo-ya. I-ini… kau?” tanya Hyemi tidak percaya.

Je wo mengangguk semangat sembari memperhatikan dekorasi yang ia buat bersama Hye kyung. “Ayo ikut aku” ajaknya.

Hyemi tersenyum lebar dan mengangguk setuju. Menarik lengan namja yang terlihat sama sekali tidak tertarik dengan ajakan Je wo. “woah… yeopeoda!” pekik Hyemi.

Meja makan yang awalnya terlihat biasa-biasa saja kini terlihat sangat istimewa. Dua buah lilin yang menyala seakan memberikan kesan yang sangat romantis disana. Di tambah lagi dengan lampu yang sengaja di redupkan oleh Je wo. Ada semangkuk buah Strawberry di tengah-tengah meja itu. Dan tidak lupa Je wo menambahkan sebotol wine di sampingnya.

“Dan disana!” tunjuk Je wo pada ruang televisi. “Aku sudah menyiapkan tempat untuk kalian… eum.. bermesraan mungkin?” ucapnya canggung. Dia memang sudah menghiasi tempat itu dengan beberapa lilin yang ia ukir hingga membentuk sebuak lambang hati. Dan juga setangkai mawar merah di sebelahnya.

“Untuk apa kau melakukan semua ini?!” tanya Kyuhyun datar. Walaupun sebenarnya ia sudah hampir meneriaki yeoja itu.

“Aku..”Je wo meneguk ludah gugup saat kedua matanya bertemu pandang dengan mata tajam yang seakan ingin menyayat setiap inchi kulitnya. Sedari tadi ia memang sudah berusaha tidak menatap mata itu agar semua akting yang ia pelajari bisa ia lakukan dengan baik.

“Selama ini aku sudah terlalu banyak merepotkan kalian berdua” ucap Je wo pelan. “Kau selalu berusaha menyelamatkan ku hingga aku selalu menyita waktumu. Aku.. tidak dapat membalas semua budi baik mu kurasa. Jadi, aku sengaja membuat kejutan seperti ini sebagai ucapan terima kasih ku padamu Jaksa Cho”

“Aku pasti sudah terlalu lama merepotkan mu dengan semua tingkah laku ku. Belum lagi kau harus bersusah payah menolongku di saat malaikat maut mulai mendekati dan mengincar nyawaku. Hahaha aku sungguh terlalu banyak merepotkan mu”

Kyuhyun semakin mengepalkan kedua tangannya. Merepotkan? Kenapa satu kata itu terdengar sangat menjijikkan di telinganya. Ia bahkan akan merelakan nyawanya asalkan yeoja itu tetap bernafas, lalu kenapa harus ada kata merepotkan disana?

“Dan Hyemi-sshi. Mungkin aku juga sudah banyak membuat mu tidak nyaman. Keberadaan ku disini, di rumah kekasih mu. Sedikit banyak pasti membuat kau merasa tidak nyaman. Aku mohon maaf bila keberadaan ku disini menyusahkan mu. Sebenarnya aku juga tidak ingin berlama-lama menyusahkan orang lain. Hanya saja.. hahaha mungkin darah ku ini terlalu manis hingga banyak sekali orang yang menginginkannya”

Kini mata itu mulai berkaca-kaca. Ia bahkan sesekali menaikkan bola matanya keatas. Menghadang kristal bening yang sudah bersiap-siap di pelupuk matanya. Hyemi menatap sendu wajah yeoja yang selama ini sempat ia curigai. Betapa merasa bersalahnya ia saat ini.

“Aku harap kalian menikmati hasil kerja ku. Eum…  tenang saja. Aku akan mengunci diriku di kamar. Jadi, tidak usah khawatir. Nikmati malam ini sebaik-baiknya” ucap Je wo sembari tersenyum kecil. Ia membalikkan tubuhnya dan berniat masuk kekamar tanpa menoleh sedikit pun pada Kyuhyun. Namun ia merasakan sebuah tangan  yang menahan pergelangan tangannya. Memaksanya untuk berbalik lagi.

“Sejujurnya, aku memang sempat merasa tidak nyaman dengan keberadaan mu. Aku bahkan sempat merasa benci padamu. Tapi setelah melihat apa yang kau lakukan hari ini. Aku menyadari jika aku sudah melakukan kesalahan besar” ucap Hyemi tulus. Ia meraih kedua tangan Je wo dan menggenggamnya.

“Mianhae.. aku baru menyadari kalau kau adalah gadis yang baik Shin je wo”

Je wo tersenyum kecil. “Jangan berpikiran seperti itu. Aku tidak sebaik yang kau bayangkan” ucap Je wo lirih. Dia merasa apa yang dikatakan Hyemi terlalu tinggi untuknya. Hyemi memang harus membencinya karena sejujurnya ia memang pantas di benci. Jika saja ia tau bagaimana besarnya perasaan yeoja itu pada kekasihnya.

Hyemi menggeleng lembut sebelum memeluk Je wo hangat. “Gomawo… ini semua sudah lebih dari cukup. Terima kasih Shin je wo” bisiknya pelan, tangannya mengusap lembut punggung Je wo.

Je wo tidak menjawab apapun. Tatapannya terpaku pada sorot mata lirih yang berada di belakang tubuh Hyemi. Begitu membuncahnya perasaan rindu di dada keduanya. Melalui beberapa hari ini tanpa berinteraksi cukup membuat keduanya merasa kehilangan satu sama lain. Sekali lagi! Tidak perlu ada yang tau bagaimana besarnya perasaan itu. Cukup mereka saja yang merasakannya.

 Je wo merasakan sebuah kenyamanan dalam pelukan Hyemi. Namun ia tetap merindukan pelukan hangat yang selalu membuatnya tenang. Membuatnya mampu melupakan segala keresahannya. Ia memerlukan pelukan itu, pelukan seorang Cho Kyuhyun.

***

Eunjin menguap berkali-kali di tempatnya. Menyandarkan kepalanya pada kaca jendela mobil yang sedang ia naiki. “Masih lama?” tanyanya serak. Rasa kantuk yang begitu besar tetap tidak mampu membuat matanya terpejam. Yeoja itu tidak pernah bisa tidur jika bukan di atas ranjang.

 “Hem. Cobalah untuk tidur” gumam namja yang sedang menyetir di sebelahnya. Namja itu harus menyetir dari seoul ke busan untuk menjemput kekasihnya yang terus merengek ingin segera pulang. Kedua orang tuanya masih memiliki kesibukan lain disana, hingga tidak bisa pulang secepatnya. Lee donghae harus menahan rasa pegal pada pinggangnya. Bagaimana tidak? Dia harus berangkat dari seoul menuju Busan kemudian kembali lagi ke seoul tanpa beristirahat sedetik pun.

“Kau tidak lelah Hae?” tanya Eunjin yang melemparkan pandangannya pada Donghae. Namja itu tersenyum kecil dan melirik kesamping sekilas.

“Aku bahkan tidak tau lagi apa yang di rasakan pinggangku saking pegalnya” ucapnya ringan.

Eunjin tersenyum kaku padanya. Dengan bodohnya ia bertanya sesuatu yang sudah sangat jelas jawabannya. Ia mengingit bibirnya sambari meringis. Kemudian berusaha memikirkan sesuatu yang mungkin saja terdengar sedikit gila. “Bagaimana jika kita menginap di sebuah penginapan malam ini?” usulnya.

Donghae menoleh padanya. Menautkan kedua alisnya. “Menginap?” tanya-nya memastikan dan di jawab anggukan ringan kekasihnya.

“Aku tidak ingin melihat pinggang kekasihku lepas dari tempatnya hanya karena harus mengantarkan ku pulang kerumah” ujar Eunjin di selingi senyum tipisnya. Donghae mengulurkan tangannya, mengacak pelan rambut Eunjin. Setelah itu mulai mencari sebuah penginapan terdekat disana.

Sesampainya mereka di sebuah penginapan, keduanya melenggang masuk kesana dengan tangan yang saling bertautan. Penginapan yang tidak dapat di katakan mewah namun cukup nyaman bila di pakai untuk tidur semalaman ini.

“Kami ingin menyewa 2 kamar” ujar Donghae pada pemilik penginapan itu.

“Yah! Kenapa dua?” sungut Eunjin. Donghae mengerutkan dahinya bingung.

“Wae?”

“Aku tidak mau tidur sendirian Hae, tempat ini masih sangat asing bagi ku. Aku tidur dengan mu saja”

Donghae melebarkan kedua matanya tidak percaya mendengar ucapan Eunjin yang terlalu gamblang baginya. Ia melirik pemilik penginapan itu dengan canggung. “Jin-ah.. kau yakin ingin tidur berdua dengan ku?” bisiknya pelan.

Eunjin mengangguk ringan padanya. Sama sekali tidak merasa canggung sedikit pun. Dengan terpaksa Donghae menyewa sebuah kamar untuk mereka.

“Ahhhh nyaman sekali” gumam Eunjin setelah menghempaskan tubuhnya keatas ranjang. Yeoja itu merasa sangat lelah seakan dialah yang menyetir sedari tadi. Ia bahkan mulai melepaskan sweater hangat yang melekat di tubuhnya. Hingga kini hanya sebuah kain bertali satu saja yang menutupi tubuhnya. Eunjin tidak menyadari tatapan shock namja yang masih berdiri di ambang pintu kamar.

“Jin-ah..” panggil Donghae pelan.

“Hem?” gumam Eunjin tanpa menoleh. Ia bahkan sudah menutup rapat kedua matanya. Donghae menghembuskan nafas berat dan mulai mendekati Eunjin. Ia duduk di pinggir tempat tidur dan menatap sosok kecil yang tampak sangat menikmati ranjang empuk itu.

“Pakai baju mu”

Eunjin membuka kembali kedua matanya. Memiringkan sedikit kepalanya kesamping hingga bertemu pandang dengan kekasihnya. “Wae? Memangnya kau tidak melihat aku sudah memakai baju?” tanya Eunjin polos.

Donghae kembali mendesah, ia menarik tali baju yang di gunakan Eunjin dengan ujung-ujung ibu jari dan telunjuknya. “Ini kau sebut baju?” tanya-nya geram. Bagaimana pun ia tidak ingin kehilangan kontrolnya malam ini hanya karena mendapat suguhan gratis dari kekasihnya.

Eunjin melirik tubuhnya sebentar. Dan setelah itu tertawa ringan. “Yah! Jangan katakan kalau kau takut tergoda oleh ku. Eo?” goda Eunjin. Donghae mendengus kesal dan berdiri dari tempatnya. Mencoba menyembunyikan raut wajah merahnya.

“Annio! Tergoda mwoya?”

Eunjin terkekeh puas dan mendudukkan dirinya. Menatap Donghae dengan kerlingan nakalnya. “Lee donghae pabo! Kita hanya akan tidur disini. Memangnya kau pikir aku ingin melakukan apa padamu hah?” Eunjin menggelengkan kepalanya pelan.

“Cih.. aku juga ingin tidur!” sungut Donghae. Ia segera naik keatas ranjang. Menggeser paksa tubuh Eunjin kesamping dan segera menarik selimut hingga sebatas dada. Ia memiringkan tubuhnya membelakangi Eunjin yang masih tertawa ringan.

“Yah! Kenapa kau jadi marah? Ayolah.. aku hanya bercanda” kekeh Eunjin.

Donghae belum bergeming dan masih tetap diam. Melihat itu Eunjin segera melingkarkan lengannya pada pinggang namja itu. Mendekatkan tubuhnya hingga membunuh jarak diantara mereka. “Hae.. kau tau kenapa aku meminta kita menginap di satu kamar yang sama?” bisiknya.

“Itu karena aku percaya padamu. Aku tau kau akan selalu melindungiku. Dan aku_”

Ucapan Eunjin terpotong karena tiba-tiba saja Donghae membalikkan tubuhnya menghadap Eunjin. Menatap yeoja itu dengan tatapan yang sulit di artikan. Tangannya terulur ke wajah polos di hadapannya. Mengelus lembut wajah itu. “Berjanjilah satu hal pada ku Jin-ah..” bisiknya pelan. Hembusan nafasnya yang beraroma mint seakan menghanyutkan Eunjin hingga ia hanya bisa menatap mata yang ada di hadapannya.

“Kau akan selalu mencintai ku meskipun sesuatu yang paling tidak kau inginkan terjadi pada kita. Apapun itu, aku tetap ingin mendengar kata cinta dari mu. Aku sudah terlalu jauh mencintaimu dan aku tidak ingin kehilangan mu”

Eunjin mengerjapkan matanya pelan. Wajah serius yang di perlihatkan oleh kekasihnya itu membuat selera humornya mendadak hilang. Entah mengapa perasaan takut kehilangan menyelimutinya. Ia melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Donghae. Meringsek masuk kedalam dekapan hangat kekasihnya. Menghirup aroma tubuh namja itu dalam.

“Jangan membuatku cemas. Kau mengatakan hal seperti itu, seperti akan pergi jauh saja dari ku” bisiknya. Donghae tersenyum kecil dan membalas pelukan Eunjin. Sebelah tangannya mengusap punggung kecil Eunjin dan sebelah lagi mengeratkan pelukannya pada pinggang yeoja itu.

“Tidak! Aku tidak akan meninggalkan mu. Meskipun nantinya seluruh dunia meminta aku untuk melepaskan mu. Aku tidak akan melakukannya, aku akan selalu menggenggam erat kedua tangan mu hingga tidak terlepas. Kecuali.. kau sendiri yang akan melepaskannya”

****

“Dia pasti sudah bekerja keras untuk ini semua” gumam Hyemi yang masih terkagum-kagum dengan kejutan yang diberi Je wo pada mereka. Bahkan ia masih terus membahasnya di saat Kyuhyun mengantarkannya pulang. Yeoja itu menoleh kesamping saat Kyuhyun sama sekali tidak meresponnya. Sedari tadi namja itu memang lebih banyak diam. Bahkan sama sekali tidak mau membuka mulutnya jika bukan Hyemi yang bertanya.

“Waeo? Kenapa kau dari tadi hanya diam? Ada masalah?” tanya Hyemi lembut.

Kyuhyun berdehem pelan sebelum menggelengkan kepalanya. Dia memang sama sekali tidak berniat untuk berbicara saat ini. Satu-satunya yang ingin ia lakukan hanyalah menjumpai Shin je wo dan menyelesaikan semua keganjalan pada hatinya. “Eobseo. Masuklah, ini sudah malam. Dan kau harus banyak beristirahat, karena besok…” Kyuhyun menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya.

“Karena besok adalah hari penting untuk mu”

“Untuk kita” Hyemi membenarkan. Kyuhyun tersenyum kecil dan mengangguk.

“Ne. Untuk kita”

***

Dengan langkah lebarnya, Cho kyuhyun memasuki rumahnya. Menyeret langkah lebar itu pada sebuah kamar seorang yeoja. Ia membuka kamar itu tanpa mengetuk ataupun meminta ijin untuk masuk pada si pemilik kamar itu. Dan mata tajam itu bergerak liar mencari sosok yeoja yang sedari tadi memenuhi pikirannya.

“Eo? Jaksa Cho?” gumam Je wo terkejut. Ia segera mengibasakan kedua tangannya cepat pada kedua pipinya. Berusaha menutupi sesuatu yang sempat mengotori wajahnya. Je wo kembali memainkan perannya. Tersenyum kecil pada Kyuhyun yang sedang menatapnya dengan dada yang bergemuruh.

“Apa kalian sudah selesai? Eum.. Hyemi sudah pulang?” tanya-nya berbasa-basi dengan sebuah senyum palsu yang menemani bibir kecilnya. Namun senyuman itu sirna saat Kyuhyun sama sekali tidak bergeming. Namja itu masih menatap tajam wajahnya. Membuat atmosfir aneh melingkupi kamar itu.

“Waeo?” tanya Je wo pelan.

“Bukannya seharusnya aku yang bertanya seperti itu?” desis Kyuhyun.

“Kenapa? Kenapa kau harus melakukan ini?!” Je wo menahan nafasnya saat suara berat itu seakan menusuk indra pendengarannya. “Apa yang ada di kepala mu hah?! Untuk apa kau melakukan hal bodoh seperti ini?!”bentak Kyuhyun. Sudah cukup ia menahan kekesalannya beberapa hari ini. Kali ini dia sungguh-sungguh bertekad untuk menyelesaikannya. Walaupun nanti rasa sakit itu tetap tak akan hilang. Namja itu berjalan mendekati Je wo yang masih duduk menyadar pada sisi ranjang. Ia menempatkan dirinya di pinggiran ranjang itu dan duduk menghadap Je wo.

“Sampai kapan kau ingin menunjukkan senyum palsu mu itu dihadapan ku?! Berhentilah berpura-pura!!”

Je wo memejamkan matanya sebentar saat lagi-lagi namja itu membentak dirinya. Sudah entah keberapa kalinya Kyuhyun melakukan itu padanya. Hanya padanya, dan itulah yang sering membuatnya merasakan perih di hatinya. Ketika melihat namja itu selalu bisa bersikap manis pada kekasihnya. Namun tidak padanya.

 “Aku tidak mengerti maksudmu” jawabnya lirih.

Erangan tertahan meluncur sempurna dari bibir Kyuhyun. Merutuki sikap bodoh yeoja itu. “Kau pikir aku bodoh?! Kau pikir aku tidak tau bagaimana tersiksanya kau saat melihat aku bersama Hyemi?! Bahkan kau harus selalu berpura-pura menikmati kemesraan kami?!” bentaknya.

Kedua mata Je wo melebar. Ia baru saja mengetahui sesuatu. Mengetahui jika namja yang selama ini selalu memporakporandakan hatinya, tau bagaimana perasaannya. Tau bagaimana tersiksanya dia, tapi tetap menikmati siksaan yang teramat perih itu. Je wo mengepalkan kedua tangannya kuat. Menahan segala emosi yang mulai menguasainya.

“Lalu kenapa? Apa itu masalah bagimu? Bukannya kau sangat menikmatinya?!” tanya Je wo sinis.

“Kau senangkan? Dengan mudahnya membawaku masuk dalam kehidupan mu. Memberikan ku tempat tertinggi disana. Setelah itu dengan mudahnya juga kau kembali merampasnya. Membuangku, menghempaskan ku hingga kedasar yang paling dalam”

“Mwo?” desis Kyuhyun.

“Kau sudah sangat jelas tau bagaimana perasaan ku padamu. Kau tau itu! Tapi kenapa kau tetap diam saja?! Kenapa kau harus memberikan harapan palsu pada ku jika kau tidak bisa menepatinya?! Kenapa?!”  teriak Je wo kuat. Ia tidak peduli lagi jika Kyuhyun akan membencinya karena melihat sikap ketidak tauan diri darinya. Ia sudah terlalu muak dengan segala jalan cerita yang di tuliskan oleh namja itu untuknya. Kali ini ia ingin menulisnya sendiri, menjalani seluruh kisah hidupnya dengan caranya sendiri.

Dengan kasar ia menyeka pipinya yang sudah kembali basah. “Aku sudah berusaha semampuku. Menekan perasaan ku padamu. Melakukan apapun untuk membunuh perasaan ini. Aku selalu merasa bersalah pada kekasihmu. Merasa jijik dengan diriku sendiri. Kenapa aku harus mencintai mu?! Kenapa aku harus mencintai kekasih orang lain?! Kenapa saat itu kau menolongku? Seharusnya kau membiarkan aku mati disana. Atau seperti yang kau katakan. Sebaiknya aku membusuk saja ditangan Kai. Agar tidak menyusahkan mu lagi. Agar aku segera bertemu dengan kedua orang tua ku. Dan yang paling penting agar aku bisa melupakan mu!!”

Tangan kyuhyun yang sudah sedari tadi terkepal kini mengalihkannya pada kedua bahu Je wo. Menarik paksa tubuh itu kehadapannya. Menyatukan kedua bibir mereka. Ia melumat bibir yang telah basah itu dengan kasar. Tidak peduli dengan pukulan-pukulan kuat pada dadanya. Bahkan ia semakin menekan belakang kepala Je wo agar semakin merapat padanya. Memaksa Je wo membuka kedua mulutnya agar ia bisa masuk dan menjelajahi isinya.

Pukulan-pukulan itu mulai melemah dan bahkan kini sudah tidak dirasakan lagi olehnya. Begitu juga dengan ciuman kasar itu. Kini yang ia lakukan hanya mengecup-ngecup pelan permukaan bibir itu. Sedangkan tangannya mulai naik keatas. Mengelus lembut permukaan kulit Je wo yang memberikan efek luar biasa pada gadis itu. Tangan itu berakhir sempurnya di kedua sisi pipi Je wo sembari lepasnya tautan bibirnya.

Recomendasi Song’s : Only you can hear me (ost. Can you hear my heart)

Look into my eyes and speak, don’t turn around and cry.

You were suffering alone in pain, but you have me by your side now.

When tears continue to flow, don’t turn away.

Hug me, cry as much as you want in my arms.

Deru nafasnya yang masih terengah menerpa wajah yeoja yang menutup matanya erat. Membiarkan namja itu memuaskan dirinya untuk memandangi wajah putihnya. Kyuhyun membelai lembut kedua sisi pipinya. Memaksanya membuka pelan kelopak mata indahnya. Hal yang pertama kali ia lihat ketika itu adalah tatapan lembut Cho kyuhyun. Tatapan yang belum pernah diberikan namja itu padanya.

“Aku tau aku memang berengsek. Aku sudah terlalu jauh menyakitimu” bisik Kyuhyun lembut.

“Tapi aku tidak dapat mencegah perasaan ku. Tuhan terlalu membenciku hingga ia membawaku pada kehidupan serumit ini. Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan? Bukan hanya kau yang ingin membunuh perasaan itu. Bukan hanya kau yang merasa tersakiti. Aku jauh lebih hancur dari pada kau. Kau dekat dengan ku, sangat dekat. Tapi kenapa aku tidak bisa memiliki mu?”

Je wo membulatkan kedua matanya. Menatap Kyuhyun dengan tatapan tidak percaya. Namja itu seakan sedang mengungkapkan perasaan di hapadannya.

“Kau..” gumamnya kecil.

“Ne! Aku mencintai mu. Sangat”

Mata itu kembali berair. Menggantung kristal bening yang siap untuk kembali mengotori wajahnya. Bukankah seharusnya ia bahagia? Namja itu ternyata juga mencintainya. Memiliki perasaan yang sama denganya. Lalu kenapa rasa perih itu seakan semakin menganga. Membentuk sebuah lubang yang lebih besar di hatinya.

“Katakan apa yang harus aku lakukan?” bisik Kyuhyun frustasi. Ia menyatukan dahinya pada dahi Je wo.

Even though I say I love you, even though I say I miss you.

I can’t hear your heart.

Come a little closer, look into my eyes and speak.

So I can hear all of your love.

Je wo semakin terisak kuat. Kisah cintanya sangatlah tragis. Bahkan walaupun kisah itu ia ciptakan dengan kedua tangannya pun, tidaklah akan merubah apapun. Terlalu banyak kesalahan disana. Dan mereka tidak menemukan satu pembenaran pun untuk sekedar mempertahankan sebuah kata cinta.

“Aku mecintaimu” bisik Kyuhyun lagi.

“Bagaimana caranya agar ini benar Je wo-ya? Bagaimana caranya agar kita bisa bersama?”

Je wo memberanikan diri mendorong pelan tubuh Kyuhyun. Kembali memberi jarak antara dirinya dan namja itu. Kali ini akal sehatnya lah yang lebih mendominasi dirinya. Ia mengelus lembut wajah Kyuhyun, menikmati setiap inchi wajah yang mungkin saja kali ini akan menjadi kali terakhirnya.

“Dari awal, semua ini memang bukanlah takdir kita. Kau, sudah memiliki takdirmu sendiri. Dan aku.. meskipun aku tidak tau kemana takdir akan membawa ku. Tapi aku cukup bahagia dengan semua ini. Perasaan ku tidak lagi hanya sepihak semata. Kau juga mencintai ku, itu sudah lebih dari cukup”

“Begitukah? Haruskah kita menyerah?”

Je wo tersenyum kecil dan mengangguk. Tangannya masih setia bermain di wajah Kyuhyun. “Bukan menyerah. Hanya kembali pada takdir masing-masing. Aku.. juga nantinya pasti akan meninggalkan mu. Meninggalkan mu dengan cara yang benar ataupun tidak. Tapi hari itu pasti akan terjadi. Karena tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat merubah takdir hidupnya”

Kyuhyun menatap lirih wajah Je wo. Yeoja itu tersenyum kecil padanya. Membuat dirinya semakin ingin melawan takdir yang telah tercipta di antara keduanya. Ia sangat menginginkan yeoja itu di sisinya. Namun lagi-lagi takdirlah yang beribicara. Besok malam, ia akan mengikat sorang yeoja di kehidupannya. Yeoja yang nantinya akan menemani di sepanjang hidupnya.

“Jika memang takdir itu ada. Aku mohon ijinkan aku untuk merusaknya malam ini. Hanya untuk malam ini, aku ingin kau adalah takdirku”

I close my eyes and see you smiling

Though tears were falling, it’s clearly a happy smile

Not even once did I forget, our last moment

The heart feels like it would burst, a hurtful end to our destiny

Kyuhyun kembali mendekatkan wajahnya. Deru nafas yang menerpa permukaan wajah Je wo memaksa yeoja itu kembali menutup kedua matanya. Menikmati sensasi menggelitik pada perutnya. Terlebih saat bibir Kyuhyun menyentuh permukaan bibirnya. Kali ini dengan sangat lembut, hingga ia bisa merasakan setiap lekukan bibir namja itu. Jantungnya berdenyut perih saat Kyuhyun mengecup lembut  dan perlahan ujung bibirnya. Entah kenapa ciuman kali ini seakan menjadi ciuman perpisahannya dengan namja itu. Lagi-lagi ia mengeplakn kedua tangannya yang berada di atas paha Cho kyuhyun. Berusaha menahan rasa sesak yang menyeruak masuk.

Kyuhyun tau akan hal itu. Diraihnya sebelah tangan Je wo, mengantarkan tangan itu untuk melingkari lehernya. Semakin membunuh jarak diantara keduanya. Kini tangan Kyuhyun mulai beralih pada tengkuk Je wo. Menekannya pelan hingga membuat benturan lembut dan menuntut pada bibir yang sedang ia nikmati. Bibir itu masih diam, tidak membalas namun juga tidak menolaknya.

Hingga di saat sebelah tanga Kyuhyun yang masih bebas melingkari pinggang Je wo. Yeoja itu seakan tersedot kedalam arus yang kuat. Tubuhnya bergerak tanpa menerima perintah papun dari otaknya. Bahkan sebelah tangannya yang masih berada di atas paha Kyuhyun mulai merambat memeluk pinggang Kyuhyun. Tidak ada lagi jarak yang tersisa diantara keduanya. Membuat keduanya hanya terfokus pada lumatan-lumatan yang semakin menuntut.

 

 

 

TBC

 

 

GALAU!!

 

Hadehhh ada apa dengan part ini?! kagak ada actionnya sama sekali. Malah di penuhi dengan romansa-romansa yang sumpah demi apapun memaksa otak aku bekerja dua kali lipat dari biasanya. Nyari kata-kata romantis itu susahnya minta ampun. Dan akhirnya…. Menghasilkan sesuatu yang sangat menjijikkan!!

 

Maaf ya!! Ini pasti jauh dari harapan kalian semua. Aku juga udah capek nyari-nyari bagian mana yang bisa aku masukin dengan adegan action. Tapi kagak adaaaa berhubung aku masih mau lurusin masalah percintaanya Si kyuhyun sama Si Je wo *nunjuk diri sendiri* ya jadinya part ini penuh dengan adegan menjijikkan!!

 

Okeh! Setelah berpikir cukup lama *kayak punya pikiran ajah* akhirnya aku mutusin klo WAR FOR LOVE akan berakhir di 3 part lagi. Hohoho.

 

Dan kemungkinan part depan atau part depannya lagi. *maaf saya author labil* bakalan ada bagian NC-nya. Jadi.. part itu bakalan aku protect, PW-nya sama dengan part sebelumnya.

 

Saya mau ngasih pilihan sama readers. Ini endingnya bakalan ada yang mati. Jadiii di pilih yahhh

 Cho kyuhyun atau Shin je wo

 

Hahaha kenapa jadi kayak orang lagi ujian???

 

Jawaban apapun diterima!!!

 

Satu lagi! Maaf kalau Typo masih aku pelihara. Hehehe malas ngedit. Part ini terlalu panjang.

 

Wassalam!

 

Shin je wo

203 thoughts on “War For Love part8

  1. Satuin aja si kyu sama je wo…kasian mereka karena masing – masing tersiksa dengan keadaan yang ada…mencintai tapi tak bisa memiliki itu benar – benar menyakitkan rasanya…

  2. omg kisah cinta jaksa cho sm je wo bener2 bikin nyesek sm2 cinta tp enggak bisa disatuin gara2 takdir yg dibuat author #hloh :-O *reader: hehe cengir lagi
    .owy eonni di ending nya cho kyuhyun sm shin je wo nya jgn dimatiin dong klo bs sih mereka bs bersatu gitu biar je wo seneng gitu kan dr awal uda dibuat menderita terus kasian hlo nangis trus ntar air matanya habis #hloh :-O *readernya ngaco😀

  3. oho kenapa di part ini kebanyakan nyeseknya????knpa kisah cinta mereka rumit amat…sma2 mencitai tpi ngak bisa memiliki karna takdir yg usah dibiat sma authornya….udahlah thor buat mereka bersatu aja kasihan kan mereka

  4. nyesekkk….
    part kyuhyun sama jewo itu seriusan berasa ada diposisi mereka. saling cinta tapj bukan takdirnya..huhu
    lalu gimna akhir dari kisah mereka? bingung…doengg

    kasus ini kyaknya juga udh mulai kebongkar, dan siwon bentar lagi bkalan tahu tentang fakta yg sebenarnya…hoho gak sabar
    donghae sbenernya jahat ato egk sih? soalnya dia kyaknya bneran cinta sama eunji…huffftt

    bneran diakhir nanti salah satu diantara je wo atau kyuhyun bkalan mati???hiksss

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s