Cooking-Cooking – 2

cooking-cookig

 

 

Shin Je Wo menggigit ujung jari telunjuknya, menatap tidak yakin pada sepiring Kimbap yang tergeletak di atas meja makan. Sepiring Kimbab yang tersaji dengan kedua tangannya sendiri. Dua hari yang lalu ia merasa tertarik melihat Ibu mertuanya memasak makanan itu, akhirnya mencoba belajar bersama Ibu mertuanya dan memperaktekkannya dirumah.

Namun setelah berhasil membuatnya, ia merasa tidak yakin. “Apa ini tidak akan beracun seperti masakan sebelumnya?” gumamnya sendiri. Berkali-kali menatap Kimbap itu dari segala arah.

“Pasti” ucap seorang bocah yang entah sejak kapan telah berdiri di sampingnya. Cho Hyunje menaiki kursi makan dan menatap sepiring Kimbab itu dengan tatapan miris. “Lagi-lagi hasil percobaan yang menipu” gumamnya miris.

 “Yah!” teriak Je Wo tak terima. “Kau terlalu merendahkan masakan Omma, siapa tau saja ini lebih enak dari yang kemarin” belanya, meskipun tidak sepenuhnya yakin dengan apa yang baru saja ia ucapkan.

“Kalau begitu kenapa tidak Omma cicipi saja sendiri?” tantang Hyunje.

Je Wo menyipitkan kedua matanya pada Hyunje, “Kau menantangku? Tuan muda Cho?” balasnya.

“Menurut Omma?”

Kedua orang itu saling bertatapan sinis satu sama lain, Hyunje dengan tatapan yang meremehkan sedangkan Je Wo dengan tatapan tidak ingin diremehkan. Terkadang Je Wo merasa ingin segera menenggelamkan Hyunje kedalam sungai Han jika saja bocah itu bukan anaknya, Hyunje selalu tau bagaimana cara membuat dirinya kesal.

“Baiklah, akan aku cicipi” ucap Je Wo lantang.

Ia meraih sumpit dan mulai mendekati ujung sumpit itu pada sepotong Kimbab, diam-diam menelan ludah berat karena khawatir siapa yang akan memanggilkan ambulance jika ia benar-benar kercuanan.

“Nanti akan aku panggilkan ambulance jika Omma keracunan” celetuk Hyunje seakan mengerti dengan raut wajah Je Wo.

Yeoja itu mendelik ngeri pada bocah yang masih berumur 6 tahun itu, segera mengambil sepotong Kimbab dan memasukkannya kedalam mulut. Mengunyahnya perlahan dengan wajah yang cemas, sedangkan Hyunje semakin menajamkan matanya pada wajah Ommanya.

“Otte?” tanya Hyunje penasaran.

Je Wo menelan sisi kimbab terakhir dalam mulutnya, menatap tak percaya pada bocah yang sudah tidak sabar menunggu jawaban darinya. “Ini…” gumamnya. “Enak”

“MWO?!”

Je Wo kembali mengambil sepotong Kimbab buatannya dan memakannya lagi, kali ini dengan raut wajah yang tampak amat sangat bahagia. “Enak..” gumamnya girang, diseumur hidupnya, ini kali pertama dirinya dapat memasak sesuatu dengan baik.

“Gotjimal” desis Hyunje tak percaya namun cukup tergiur untuk mencobanya.

Je Wo menyipitkan kedua matanya dan menatap Hyunje, “Igo, kalau kau tidak percaya makan saja” Je wo menyodorkan sepotong Kimbap pada Hyunje.

“Shireo! Aku tidak mau keracunan lagi”

“Yah ini benar-benar enak, kau tidak akan keracunan” teriak Je Wo. “Lihat saja aku, apa aku terlihat sakit memakan Kimbap ini, eo? Ini benar-benar mukjizat” sambungnya lagi dengan senyum yang terkembang lebar, menatap remeh pada bocah kecil itu. “Kau cobalah dulu, ini sama sekali tidak beracun” ujarnya.

Je Wo menyodorkan satu potong kimbab pada Hyunje, bocah itu memakannya dengan ragu namun lama kelamaan kedua matanya membulat tak percaya, “Ige mwoya? Ini benar-benat dapat dimakan” gumamnya.

“Hahaha sepertinya aku benar-benat hebat dalam membuat kimbab” ujar Je wo percaya diri, Hyunje mengangguk setuju, mengambil satu potong kimbab lagi dan memakannya.

“Omma, bagaimana kalau kau berikan pada Appa, aku yakin dia akan terkejut mengetahuinya. Hahaha akhirnya kau dapat memasak dengan benar, Omma”

“Eo, shireo. Saat ini Appamu sedang bersama dengan semua manusia abnormal itu, mereka bisa menertawakanku nanti.”

“Anniya.. masakanmu enak Omma, sudah saatnya mereka memujimu”

Je Wo menatap Hyunje menyelidik, “Kau sedang tidak berusaha mengerjaiku, kan?”

“Ck, tidak. Omma tenang saja, setan dari tubuhku hari ini sedang tidak ada dan digantikan malaikatnya Eeteuk Ahjussi, hahahah”

 

****

 

 

 

“Bagaimana jika nanti saja?” tawar Je Wo saat berada di depan pintu ruang latihan suaminya, ia merasa tidak yakin sekaligus tidak percaya diri menunjukkan masakannya. Hyunje yang melihat itu menatap datar padanya.

“Kita sudah berada disini Omma, terlambat jika kau ingin mundur”

“Ta-tapi_”

“Sudah ayo masuk!”

Hyunje mendorong tubuh Je Wo dari belakang Hingga yeoja itu terdorong kedepan dengan kuat, “Huwaaa” teriaknya saat tiba-tiba saja pintu itu terbuka, untung saja ada seseorang yang menangkap tubuhnya hingga ia tidak terjatuh. Je wo membuka kedua matanya pelan dan mengerjap sesaat mendapati wajah pria yang tiba-tiba saja tampak bersinar dimatanya.

“Eunhyuk, Oppa?”

Eunhyuk tersenyum lebar padanya dan menambah keterpesonaan Je Wo.

“EUNHYUK HYUNG!!!”

Shin Je Wo tersadar dari lamunannya saat mendengar teriakan pria yang sudah teramat ia kenali itu, ia melirik kebelakang dengan kedua tangan yang masih bertumpu di kedua bahu Eunhyuk, menatap polos Kyuhyun yang tampak mengeluarkan asap tebal dari atas kepalanya.

“Sampai kapan kau mau berpelukan seperti itu dengannya hah?!”

Je Wo segera melepaskan pelukannya saat mendengar teriakan Kyuhyun, ia tertawa kaku pada semua orang yang terkekeh pelan melihat dirinya, “Maaf-maaf” ucapnya kikuk, dia melirik Eunhyuk yang tersenyum padanya.

“Gwencanha, aku juga menikmatinya tadi”

“Kau mau mati monyet mesum?!” pekik Kyuhyun lagi, ia segera mendekati mereka dan menatap Je wo tajam. “Mau apa kau kemari?” bentaknya kesal.

“Mwo?! Yah! Kau tidak suka aku menemuimu?” balas Je wo.

Hyunje menepuk dahinya frustasi melihat kedua orang tuanya, namun tersenyum lebar saat menemukan seorang yeoja yang duduk manis di sudut ruangan itu tengah melambaikan tangan kearahnya. “Qian Ahjuma!!!” teriaknya sembari menghampiri Song Victoria.

Je wo menghentikan perdebatannya dan menolehkan wajahnya pada sosok gadis yang sedang memeluk anaknya, “Eo, dia juga ada disini?” gumamnya pelan, ia menggeleng pelan melihat sifat Hyunje yang seakan sangat tergila-gila pada yeoja itu. “Aku harus menyiapkan mental, mendapati menantu yang seumuran denganku” gumamnya lagi.

PLETAKKK

“Yah!”

“Kau sudah gila!” pekik Kyuhyun, ia segera menarik tangan Je Wo dan membawanya mendekati Victoria, “Duduk disini” perintahnya.

Je Wo menatap Kyuhyun dengan tatapan membunuh, pria itu sudah tau dengan sangat jelas jika Je Wo tidak pernah merasa nyaman berada di dekat Victoria. Bukannya dia dendam atau tidak suka, hanya saja yeoja itu memang tidak suka berada dalam hubungan yang tampak tidak hangat meskipun sudah tidak ada lagi masalah diantara mereka.

“Annyeong” sapa Victoria padanya.

“Annyeong, lama tidak bertemu” ucap Je wo berbasa-basi, yeoja itu menatap garang pada sekumpulan pria yang tampak menahan tawanya. Pria-pria itu sangat tau jika Je Wo hanya berbasa-basi pada Victoria. “Sedang apa disini?” tanya Je Wo membuka percakapan, ‘Kenapa aku harus bertanya seperti itu? Memangnya tempat ini milikku sampai aku harus bertanya seperti ini, heish!’ batinnya.

“Sedang latihan bersama dengan Oppadeul, ada beberapa tarian yang akan kami bawa bersama”

“Oh..” Je Wo menganggukkan kepalanya mengerti, kemudian mengalihkan tatapannya pada member Super Junior lainnya. Memperhatikan pria-pria itu dengan segala tariannya.

“Ahjuma kau bertambah cantik”

Je Wo menahan wajahnya untuk tidak menoleh pada asal suara itu, walaupun sejujurnya dia sudah ingin membekap mulut manis Hyunje. “Sudah lama tidak bertemu, aku jadi merindukanmu” sambung Hyunje.

‘Demi Tuhan Cho Hyunje, kau benar-benar ingin membuat dia menjadi menantuku, eo?!’

“Hahaha kau juga semakin tampan, seperti Appamu. Aku sangat merindukanmu” jawab Victoria.

Je wo menggeleng pelan, ‘Jadi kau merindukannya karena dia mirip dengan  Kyuhyun? Aigo~ apa yeoja ini masih menyukai Cho Kyuhyun yang bodoh itu? Memangnya apa yang ia lihat dari pria berwajah tua seperti dia?’ batinnya lagi.

“Annio, aku lebih tampan dari Appa”

“Hahaha ne, kau saaaangat tampan”

‘Seperti Kyuhyun, eo?’

“KAMI DATANG!!!”

Je Wo menatap bingung beberapa yeoja yang baru saja turut bergabung, keempat yeoja itu masuk dengan beberapa bawaan di kedua tangan mereka. Ember, Suli, Krystal dan Luna tampak tersenyum lebar pada member Super Junior.

“Heish, kenapa lama sekali? Oppadeul sudah menunggu lama” ujar Victoria sembari mendekati keempat adiknya.

Je Wo dan Hyunje bertatapan satu sama lain, kemudian kembali menatap sekumpulan pria-pria yang tampak menyerbu bungkusan itu. “Itu apa, Omma?” tanya Hyunje.

“Molla”

“Woahh ini banyak sekali”

“Aku sudah sangat lapar”

“Sisakan untukkku”

Donghae yang telah mendapatkan bagiannya, menoleh pada Je wo dan Hyunje yang tampak tidak ikut bergabung, “Yah! Kalian tidak mau? Ini makanan dari drom F(x). Victoria yang membuatnya” ujar Donghae.

Kyuhyun juga melirik Hyunje dan Je Wo yang masih tidak bergeming, “Sudah makan? Kalau belum makan ini saja, ini sangat enak. Kemampuan memasak Qian itu diatasmu Nyonya Cho” sindir Kyuhyun, sejujurnya ia hanya berniat melakukan candaan pada Je Wo.

“Eo? Omma cepat keluarkan Kimbapmu” ujar Hyunje pada Je Wo.

“Ne? Ah.. tidak usah Hyunje-ya, kita makan dirumah saja, ne?” jawab Je Wo, ia menatap Hyunje dengan senyuman tipis sebelum beranjak dari tempatnya untuk mengambil makanan buatan Victoria. “Aku minta satu Victoria sshi” ijinnya.

Hyunje manatap sendu Je Wo yang tampak biasa-biasa saja, bocah itu cukup tau jika Ommanya hanya ingin menyembunyikan perasaannya.

“Kau mau?” tawar Je Wo pada Hyunje saat sudah kembali duduk disamping bocah itu.

Hyunje menggeleng, “Kenapa tidak memakan masakanmu saja, Omma? Kenapa memakan masakan orang lain?” tanya Hyunje pelan.

“Ini lebih enak dari masakan Omma” jawab Je wo tanpa menoleh.

“Kau tidak makan?” tanya Kyuhyun pada Hyunje, pria itu memposisikan dirinya duduk disamping Je wo. “Ini sangat enak Hyunje-ya, kau akan menyesal tidak memakannya” sambungnya lagi.

“Eum, Kyuhyun benar. Victoria, kau sangat hebat dalam memasak” ujar Ryeowook.

“Gomawo Ryeowook Oppa”

“Vic Eonnie membuatkan semua masakan ini pagi-pagi sekali, ia sengaja membuatkannya untuk kalian Oppadeul” potong Ember.

“Jinjayo? Woahh gomapta saengie” jawab Sungmin.

Hyunje memperhatikan raut wajah berseri Victoria, membandingkannya dengan tampang acuh Je Wo yang tampak menikmati makanannya. Ia merasa prihatin dengan Ommanya yang tampak terabaikan.

“Benar, berbeda sekali dengan masakan seseorang yang berpotensi meracuni orang lain” timpal Kyuhyun. Je Wo menghentikan sumpitnya diudara, merasa tertohok dengan sindiran Kyuhyun. Sejujurnya sindiran itu sudah terlalu biasa baginya. Namun berbeda rasanya jika Kyuhyun mengatakannya di tempat seramai ini.

‘Dasar Cho kyuhyun bodoh!’ maki Hyunje dalam hati.

“Omma berikan makananku” teriak Hyunje tiba-tiba.

Je Wo menatap bocah itu tidak mengerti, “makanan? Makanan apa?”

“Kimbab yang berada dalam tasmu” ucap Hyunje tegas, wajah Je wo memucat seketika, ia merutuki mulut tajam Hyunje yang tidak dapat disumbat oleh apapun. “Ayolah… aku sangat lapar” rengeknya.

“Makan yang ini saja” tawar Kyuhyun dengan makanannya.

“Shireo! Aku punya makanan sendiri” jawabnya kasar pada Kyuhyun.

Je wo manatap Hyunje dengan tatapan memelas, berharap bocah itu menghentikan aksinya. “Palliwa Omma!” rengeknya lagi. Dengan putus asa Je wo mengeluarkan sebuah kotak bekal dari tasnya, menyerahkannya pada Hyunje yang menyambut kotak bekal itu dengan girang.

Orang-orang yang berada disana memusatkan perhatiannya pada kotak bekal itu saat Hyunje membukanya, bau khas yang menarik indra penciuman mereka membuat mereka ingin tau apa yang ada didalam sana.

“Mashita” gumam Hyunje saat menikmati Kimbab buatan Je Wo, sementara yeoja itu hanya dapat meringis takut ditempatnya.

“Itu apa?” tanya Kangin.

“Kimbab”

“Siapa yang membuatnya?” tanya Eunhyuk.

“Rahasia” jawab Hyunje dengan seringaian khas.

Pria-pria itu menatap Je Wo bersamaan, seakan ingin meminta jawaban darinya. “Yah! Jangan menatap Ommaku seperti itu!” teriak Hyunje.

Para member F(X) tertawa melihat teriakan Hyunje, sedangkan Je wo hanya tersenyum kecil pada mereka.

“Hyunje-ya… berikan satu padaku” rengek Shindong.

“Ahjussi mau?” Shindong mengangguk semangat. “Ambillah” Hyunje menyodorkan Kimbab itu pada Shindong.

Bukan hanya tangan Shindong yang menyinggahi bekal makanan itu, namun tangan-tangan lain turut ikut serta disana. Hyunje menyunggingkan senyuman miring pada Je Wo, mengedipkan sebelah matanya nakal. “Otte? Enak, kan?” tanya Hyunje.

“Woah! Ne, ini sangat enak” gumam Kangin.

“Eum, enak sekali” timpal Donghae.

Kyuhyun yang menatapi para Hyungnya mengernyitkan dahi bingung, ia menatap Je Wo yang tampak memperhatikan Hyung-Hyungnya menghabiskan Kimbap itu. “Itu siapa yang membuatnya?” tanya Kyuhyun menyikut lengan Je Wo.

“Ne? Ah.. itu..” Je wo tersenyum kikuk pada Kyuhyun, tidak memiliki kepercayaan diri yang besar untuk mengakui masakannya.

“Appa kau cobalah juga” tawar Hyunje.

“Shireo, katakan dulu siapa yang membuat Kimbab itu padaku. Aku takut kalian mengerjai kami” jawab Kyuhyun.

“Mengerjai apa maksudmu?” tanya Je Wo sinis.

“Hey Nyonya Cho, aku tau bagaimana sifat evil kau dan anakmu. Bisa saja kalian menaruh sesuatu disana untuk mengerjai kami” balas Kyuhyun, menyipitkan kedua matanya pada Je Wo. Dan ucapan Kyuhyun berhasil menghentikan kegiatan makan para member.

“Eo? Apa makanan ini ada apa-apanya?” gumam Ryeowook.

“Yah kau tidak sedang mengerjai kami, kan?” tanya Kangin.

“Tidak! Makanan itu baik-baik saja, Appa kau berlebihan sekali” ucap Hyunje, ia melirik Je wo yang sudah mengepalkan kedua tangannya. Merasa geram dengan segala tuduhan Kyuhyun atas segala kerja kerasnya.

“Lalu kenapa kau tidak mau memberitaukan pada kami siapa yang memasak makanan ini?”

“Bukannya tidak mau memberi tau, Kimbap itu_”

“Aku yang membuatnya” potong Je Wo, ia menatap Kyuhyun tajam, “Aku yang membuat Kimbap itu”

Kyuhyun mengerjap pelan, menatap Je wo dengan tatapan tidak percaya, “Jinjayo?”

Je Wo manrik nafas panjang dan menatap para member yang juga tampak shock. “Maaf Oppadeul jika kalian merasa khawatir dengan masakanku, tapi sumpah demi apapun aku sama sekali tidak berniat meracuni kalian” ucapnya tanpa ekspresi apapun. Semua orang disana cukup tau jika Shin Je Wo pasti sedang marah pada mereka.

“E-eo, mianhae Nyonya Cho” ujar Kangin tidak enak.

Je wo tersenyum kecil dan mengangguk, mengambil bekal makanan miliknya yang masih terisi dengan beberapa Kimbap. Ia mengemasi barang-barangnya tanpa memperdulikan tatapan bersalh dari semua orang disana. Bahkan para member F(x) merasa tidak enak pada dirinya. “Kita pulang, ne?” tanya Je wo pada Hyunje. bocah itu mengangguk pasrah dan melirik Kyuhyun sejenak, menggelengkan kepalanya kecewa pada Appanya.

“Gomawo, Victoria sshi” ucap Je Wo saat berselisih dengan Victoria, “Seperti biasa, masakanmu sangat enak dan tidak dapat dibandingkan sedikitpun dengan masakanku” ucapnya. Victoria mengangguk kikuk mendengarnya, ia melirik Kyuhyun yang menatap lirih punggung Je Wo.

Pria itu mengacak rambutnya gusar sebelum berlari mengejar istrinya, “Shin Je Wo, Shin Je Wo Chakkaman!” panggilnya, namun sama sekali tidak dihiraukan oleh Je Wo. Yeoja itu terus berjalan dan segera memasuki lift, ia sempat melihat Kyuhyun berusaha mengejarnya sebelum pintu lift itu tertup.

Cho kyuhyun berdiri kaku di depan lift, menatap kosong pintu lift yang tertutup rapat itu dengan perasaan bersalah. Baru saja ia melakukan sesuatu yang bodoh pada istrinya, ia bahkan tidak menyadari sedari tadi segala ucapannya telah menyakiti Je wo.

“Aku kembali menyakitimu” gumamnya.

 

****

 

Kyuhyun menatap tubuh kecil itu berbaring miring di atas ranjang, ia menghela nafas panjang sebelum naik kesana, mendekap tubuh itu dari belakang. Menghembuskan deru nafas sesalnya pada lekukan leher istrinya, Kyuhyun dapat merasakan Je Wo setengah menggeliat. Yeoja itu memiringkan kepalanya sebentar menatap Kyuhyun. “Apa aku membangunkanmu?” bisik Kyuhyun.

Je wo hanya menatapnya biasa dan kembali membuang wajahnya, mencoba kembali untuk tidur.

“Mianhae..” bisik Kyuhyun.

Yeoja itu mencengkram ujung selimutnya saat suara berat itu kembali terdengar. Perasaan sesaknya entah kenapa kembali menyeruak saat Kyuhyun meminta maaf padanya.

“Hari ini aku terlalu banyak menyakitimu” sambungnya lagi.

“Maafkan aku, ne?”

Tidak ada jawaban, Kyuhyun semakin tau jika istrinya benar-benar marah padanya. Shin Je Wo memang bukanlag tipe wanita yang mudah marah pada orang lain, hanya saja, jika ia benar-benar sudah marah maka akan sulit berbicara dengannya. “Demi Tuhan aku sama sekali tidak berniat merendahkanmu, aku hanya bercanda siang tadi. Aku juga tidak tau jika kau membawakan masakan pertamamu untukku. Aku minta maaf Nyonya Cho” Kyuhyun semakin mendekap erat tubuh Je Wo, bersungguh-sungguh memohon maaf padanya. Ia tau bagaimana sakit hatinya yeoja itu tadi siang.

“Gwencanha” jawab Je wo serak. “Masakanku sama sekali tidak layak untukmu, bukan? Kau bahkan bisa mengalami keracunan jika memakannya”

“Anni” jawab Kyuhyun cepat, ia menggelengkan kepalanya. “Buktinya Hyungdeul sama sekali tidak seperti itu, aku mohon maafkan aku, aku bersalah”

“Lupakan” jawab Je wo.

“Tidak, selama kau belum memaafkanku” Kyuhyun mencoba membalikkan posisi Je Wo agar berhadapan dengannya, namun yeoja itu menahan tubuhnya. Ia tidak ingin menatap Kyuhyun saat ini, rasa sakit hati itu masih sangat jelas terasa olehnya.

“Kau sama sekali tidak ingin menatapku, eo?”

“Eum, aku sedang ingin menjauhimu. Jangan paksa aku atau kau ingin melihatku menangis di tengah malam seperti ini”

Kyuhyun segera duduk dan mengacak gusar rambutnya, setiap kali istriya seperti itu ia pasti sama sekali tidak tau harus berbuat apa. Mereka memang jarang berada dalam masalah seperti ini sebelumnya, selama ini pria itu memang selalu berusaha menjauhi segala kemungkinan yang menyebabkan istrinya akan bersikap seperti ini.

“Aku lebih suka jika kau memarahiku, aku lebih suka jika kau meneriakiku. Tapi jangan seperti ini” lirih Kyuhyun. Ia menatap punggung Je wo yang masih tetap tak bergeming.

“Kau tau?” ujar Je wo. “Siang tadi, aku benar-benar merasa sangat rendah dimata semua orang yang ada disana, termasuk dimata anakku sendiri. Padahal, Hyunje yang sudah bersusah payah menyuportku untuk memberikan masakan pertamaku padamu. Tapi nyatanya, kau..” Shin Je Wo menggigit bibir bawahnya kuat. “Aku tidak akan pernah mau memasak lagi untukmu, Cho Kyuhyun” suara itu mulai terdengar lebih berbeda, seperti menahan isak tangis.

“Maaf” gumam Kyuhyun lagi.

Je Wo tetap tak bergeming dan hal itu semakin membuat Kyuhyun merasa tak nyaman. Pria itu menghela nafas panjang sebelum turun dari ranjangnya dan keluar dari sana. Ia memijat dahinya pelan ketika memasuki dapur. Mengambil sebotol air dingin untuk membasahi tenggorokannya yang terasa tercekat. Otaknya mulai mencari cara apa yang bisa ia gunakan untuk mendapatkan kata maaf dari istrinya.

“Kali ini kau benar-benar sudah keterlaluan, Appa”

Kyuhyun terperanjat kaget dan memutar tubuhnya kebelakang. Ia mendapati Hyunje yang berdiri di belakangnya sembari menyilangkan kedua tangan diatas dada. “Yah kau mengagetkanku” pekik Kyuhyun, ia mengusap dadanya. “Lagi pula kenapa kau belum tidur? Ini sudah pukul..” Kyuhyun melirik jam dinding. “Dua belas malam, Cho Hyunje” desisnya.

Hyunje berdcak pelan dan mendekati Kyuhyun, “Tidak usah memusingkan waktu, Appa. Lebih baik kau pikirkan saja istrimu yang sedang marah besar” bocah itu menatap Kyuhyun dengan kedua mata yang menyipit. “Appa tau? Tadi ketika diperjalanan pulang, Omma sama sekali tidak berbicara. Bayangkan saja sudah semarah apa ia sekarang?”

Kyuhyun kembali melemas mendengar kalimat yang terlontar dari bibir anaknya. “Appa tau” gumamnya lirih. “Dia bahkan tidak mau berbicara padaku. Ck, ini benar-benar menyulitkan”

Hyunje menangguk mengerti dan memperhatikan wajah gusar Kyuhyun.

“Hei” panggil Kyuhyun. “Bagaimana rasanya kimbap pertama Omma?”

Hyunje menyengir lebar, “Kau pasti penasaran, kan? Hahaha”

“Heish, tentu saja aku penasaran. Aku bahkan tidak sempat menyentuh kimbap itu sedikitpun.”

“Salahkan saja kebodohanmu, Appa” cibir Hyunje.

Kyuhyun merengut kesal, namun dahinya berkerut ketika melihat Hyunje menaiki kursi makan. Membuka tutup saji diatas meja makan itu dan mengeluarkan sebuah piring kecil dari sana. “Apa itu?” tanya Kyuhyun yang mulai mendekati Hyunje.

“Kimbap, buatan Omma” Hyunje menyodorkan sepiring kecil kimbap itu pada Kyuhyun. “Ini, Appa makan saja”

Kedua sudut bibir Kyuhyun terangkat. Ia segera mengambil piring itu dan mulai memasukkan sepotong kimbap kedalam mulutnya. “Woah.. benar. Ini enak” gumamnya girang. Merasa senang mendapati kenyataan jika Shin Je Wo, yang selalu terlihat buruk dalam memasak dapat membuat kimbap dengan rasa sempurna seperti itu. “Dia pasti sudah bekerja keras” gumamnya yang kembali memasukkan potongan kedua dalam mulutnya.

“Dan kerja kerasnya terbuang sia-sia karena mulut tajam Appa. Ya Tuhan, sekarang aku tau jawaban dari semua pertanyaan orang padaku. Mulut tajamku itu pasti karena mewarisi mulut tajam Appa”

“Enak saja kau” tandas Kyuhyun tak perduli. Ia masih terlalu ingin menikmati masakan buatan istrinya.

“Sekarang pikirkanlah apa yang besok Appa lakukan untuk membujuk Omma” perintah Hyunje menasehati.

Kyuhyun terdiam, menatap Hyunje dengan wajah gusar. “Menurutmu, apa yang harus Appa lakukan?”

“Suaminya itu kau, bukan aku. Pikirkan saja sendiri” jawab Hyunje acuh.

“Heish, kali ini bantulah Appamu ini” bujuk Kyuhyun.

Hyunje mendesah malas dan mulai berpikir. Kyuhyun memperhatikan wajah Hyunje yang tampak serius. Ia tersenyum kecil, bersukur dengan sifat dan kecerdasan Hyunje yang selalu dapat diandalkan.

“Begini saja, karena masalah kali ini adalah masakan. Maka penyelesaiannya juga adalah masakan” ucapnya ringan.

“Eung? Maksudnya apa? Aku tidak mengerti”

“Pabo” desis Hyunje, Kyuhyun sudah ingin melayangkan jitakan kecil untuknya. “Yah jika Appa memukulku, maka aku tidak mau membantu” teriak Hyunje yang melindungi kepalanya.

“Kau benar-benar licik” geram Kyuhyun.

Hyunje tersenyum lebar. “Itu keahlianku” gumamnya.

“Yasudah cepat jelaskan maksudmu” teriak Kyuhyun.

Hyunje mulai menjelaskan apa yang ia maksud, Kyuhyun mengangguk-angguk mengerti dengan jari telunjuk dan ibu jarinya yang mengusap-usap ujung dagunya.

“Mengerti?” tanya Hyunje.

“Eum, tapi bagaiamana jika gagal?”

“Kurasa Appa tau rencana B-nya” Hyunje mengeluarkan smirk andalannya. “Dan menurutku, jika rencana A berhasil maka kau akan tetap melalukan rencana B, iya kan?”

“Eiy.. kau bocah tengil yang mesum” cengir Kyuhyun mengibas-ngibaskan tangannya.

Hyunje menatap datar Kyuhyun, “Kau yang mesum. Sudah, lebih baik kita tidur, bukannya besok Appa harus bangun lebih cepat”

“Eum kau benar” gumam Kyuhyun. “Tapi sepertinya malam ini Appa akan tidur dikamarmu”

“Terserah saja” jawab Hyunje, ia meloncat dari kursinya dan berjalan menuju kamar.

Kyuhyun kembali menatap piring kecil tang telah kosong itu. Tersenyum kecil karena akhirnya ia dapat mencicipi masakan pertama istrinya. “Ngomong-ngomong” ucap Kyuhyun dan membuat Hyunje berbalik menatapnya. “Terima kasih karena kau telah menyisakan kimbap ini untuk Appa” Kyuhyun tersenyum tulus.

“Tidak apa-apa. Aku sengaja mengutipnya dari tempat sampah. Omma membuang sisa kimbap itu disana dan menurutku, Appa pasti akan sangat menginginkannya, iya kan?”

Kedua mata Kyuhyun membulat lebar, wajahnya memucat. “Te-tempat sampah?” ulangnya tidak percaya.

Hyunje tersenyum kecil dan mengangguk.

“Cho Hyunje!!!”

 

****

 

Je Wo menatap sisi ranjang yang bisanya digunakan Kyuhyun untuk tidur. Tidak ada Kyuhyun disana, sepertinya tadi malam pria itu tidak tidur disini, batinnya. “Ck, biarkan saja. Memangnya apa peduliku?” gumamnya. Ia beranjak turun, berjalan gontai mendekati cermin untuk sekedar memeriksa penampilannya. Rambutnya sedikit berantakan dan wajahnya terlihat sembab. Ia memutuskan untuk mencuci wajah di kamar mandi, menyikat gigi dengan pikiran yang mulai menerawang.

            Apa tadi malam aku terlalu berlebihan padanya? Bukankah dia bilang dia hanya bercanda? Lagi pula saat itu dia mengejarku sebelum aku memasuki lift. Itu berarti dia memang tidak bersalah bukan?

            Je Wo menggelengkan kepalanya ketika merasa terlalu memusingkan untuk memikirkan masalahnya dan Kyuhyun. Ia menyeka sudut-sudut bibirnya dengan handuk kecil dan segera melangkah keluar dari kamarnya. Seperti biasa, ia harus menyiapkan sarapan pagi untuk kedua pria itu. “Eo?” gumamnya terkejut saat berdiri diambang dapur.

            Ia menatap tidak percaya; Kyuhyun yang sedang mempersiapkan sarapan pagi, Hyunje yang telah duduk manis dan kedua pria itu tampak sudah berpakaian rapi. Ada tiga piring dengan masing-masing omelet diatasnya.

            “Pagi” sapa Kyuhyun dan Hyunje bersamaan dengan senyuman lebar.

            Je Wo mengerutkan dahinya bingung, terlebih ketika Kyuhyun mendekatinya dan mengulurkan sebelah tangannya untuk merapikan rambut istrinya.

            “Tidurmu nyenyak?” tanya Kyuhyun lembut. Je Wo mengangguk bingung. “Aku sudah menyiapkan sarapan pagi, ayo” pria itu menarik tangan Je Wo, membawa wanita itu duduk diatas kursi makannya. “Taraaaaa. Ini adalah omelet spesial buatan Chef Cho Kyuhyun” jelas Kyuhyun bersemangat.

            Je Wo menatap sepiring omelet di hadapannya. Diatasnya terdapat ukiran saus yang membentuk wajah tersenyum. Kemudia  melirik Hyunje sejenak, bocah itu hanya mengangkat bahunya acuh sambil terkekeh pelan.

            Je Wo menengadahkan wajahnya keatas, menatap Kyuhyun yang juga menatapnya. “Apa kepalamu terbentur sesuatu?” tanya Je Wo datar.

            “Eung?”

            “Buahahaha” tawa Hyunje.

            Kyuhyun melirik kebelakang punggungnya. Mendelik garang pada Hyunje yang tampak tertawa puas.

            “Ada angin apa kau membuatkan sarapan pagi untukku?” tanya Je Wo lagi, “Apa ini sebagai permintaan maafmu padaku?”

            Wajah Kyuhyun memucat, ia menelan ludah gugup dan menatap Je Wo tak fokus. “I-ini.. aku hanya ingin_”

            “Lupakan saja, aku sedang tidak ingin makan omelet” ucap Je Wo ketus dan berniat beranjak dari duduknya. Namun Kyuhyun segera menahan bahu Je Wo hingga ia kembali duduk ditempatnya.

            “Kau tidak ingin makan omelet? Eum.. apa kau ingin makan sesuatu yang lain? Katakan saja, aku akan mencoba membuatnya” ucap Kyuhyun bersungguh-sungguh.

            Je Wo memperhatikan wajah takut Kyuhyun, sejujurnya ia sudah ingin tersenyum geli melihat bagaimana tegangnya wajah Kyuhyun saat ini. Pria itu tampak begitu menyedihkan pagi ini, tapi Je Wo masih ingin membuat pria itu lebih kacau lagi.

            “Bagaimana jika aku katakan, aku sedang ingin makan pasta?”

            “Pasta? Kau ingin makan pasta?”

            “Eum” angguk Je Wo.

            Kyuhyun tampak berpikir sejenak, tetu saja. Mengingat ia juga sama sekali tidak dapat memasak. “Apa kau tau cara membuatnya? Mungkin kau bisa memberitauku dulu, lalu aku akan mencoba membuatnya”

            Mati kau, batin Je Wo.

            “Kau tidak bisa membuatnya? Yasudah lupakan saja” Je Wo kembali berniat beranjak.

            “Omma!” desis Hyunje. “Dia sudah menyiapkan ini sejak pukul lima pagi, menghabiskan sepuluh telur dan berulang-ulang kali membuang omelet yang gagal” Hyunje melengkungkan sebelah alisnya. “Jadi berhentilah membalas dendam”

            Bagaimana dia tau? Tunggu, menyiapkannya dari pukul lima pagi?

            “Memangnya siapa yang menyuruhmu menyiapkan sarapan pagi?” tanya Je Wo masih dengan nada ketusnya.

            Kyuhyun menghela nafas panjang, “Setidaknya hargailah masakanku pagi ini. Membuat ini benar-benar tidak mudah, meskipun ini hanya masakan yang dapat dibuat semua orang” desahnya yang masih berdiri disamping Je Wo.

            “Oh, kau sudah tau bagaimana rasanya? Merasa tidak dihargai atas kerja kerasmu?”

            Hyunje dapat melihat wajah tegang Kyuhyun, lalu melihat wajah tajam Je Wo. Sepertinya ini urusan orang dewasa, sebaiknya aku menunggu di ruang telivisi saja. Perlahan ia turun dari kursinya dan meninggalkan kedua orang tuanya disana.

            “Ya, aku sudah tau” jawab Kyuhyun lirih. “Jadi seperti ini rasanya?” pria itu mendesah gusar, menyandarkan tubuhnya dipinggir meja makan. Kedua tangannya bertumpu disana. “Aku tau, aku sudah sangat keterlaluan. Tapi bukankah sudah kukatakan jika aku tidak tau itu masakanmu? Sekarang terserah saja, kau mau memaafkanku atau tidak” ucapnya putus asa.

            Kalau sudah begini aku bisa apa? Kenapa mudah sekali bagiku untuk memaafkannya? Ini tidak adil!

            Je Wo mengambil garpu yang terletak di samping piringnya. Memasukkan potongan omeletnya kedalam mulut, bagaimanapun Kyuhyun sudah bersusah payah memasak untuknya. Kyuhyun sendiri tampak gugup ketika melihat Je Wo memakan masakannya.

            “Bagaimana?” tanya Kyuhyun cemas.

            Je Wo mengehentikan kunyahannya, cepat-cepat meneguk air minumnya. “Ya Tuhan” gumamnya. Ia menatap tajam Cho Kyuhyun, “Apa ini kau sebut omelet? Rasanya asin dan astaga, ini tidak dapat lewat di tenggorokanku” rutuk Je Wo.

            Kyuhyun memicingkan kedua matanya tak percaya, ia mulai mencicipi omelet buatannya dan baru saja omelet itu menyentuh lidahnya, ia segera berlari ketempat cucuian piring. Memuntahkannya disana, “Ini tidak enak..” rengeknya frustasi. Ia menatap Je Wo salah tingkah, rencananya memang tidak berhasil.

            Je Wo mendekatinya, melirik tempat sampah yang berada disana. Ia mendesah frustasi melihat sampah-sampah telur yang berserakan. “Sepuluh telur?” tanya Je Wo putus asa pada Kyuhyun.

            “Ya, sepuluh” jawabnya frustasi.

            Mereka bertatapan satu sama lain, meratapi omelet-omelet gagal yang Kyuhyun ciptakan. Namun lama kelamaan keduanya tersenyum geli satu sama lain. “Kau benar-benar bodoh, Cho Kyuhyun. Memasak omelet saja tidak bisa” cibir Je Wo terkekeh kecil.

            Kyuhyun mengangguk pelan dan mendekati Je Wo, melingkarkan lengannya pada pinggang istrinya. “Aku pemasak yang buruk” bisiknya.

            “Aku juga” jawab Je Wo yang melingkarkan kedua tangannya pada leher Kyuhyun.

            “Tidak, masakanmu enak” sela Kyuhyun. “Tadi malam aku sudah memakan sisa kimbap buatanmu. Itu enak, sangat enak, Nyonya Cho”

            Je Wo mengerutkan dahinya, “Sisa kimbap? Bukannya sudah aku buang ketempat sampah?”

            Wajah Kyuhyun kembali memucat, perutnya seakan ingin memuntahkan sesuatu ketika mengingat hal itu lagi. “Ya. Dan dengan segala kebaikan hati anakmu, ia mengutip makanan itu dari sana, menyimpannya dan memberikannya padaku”

            “Mwo?” pekik Je Wo, “Dan kau memakannya?”

            Kyuhyun mengangguk lemah, “Aku bahkan sangat menikmatinya”

            “Hahaha, kau lebih bodoh dari yang aku bayangkan”

            Je Wo tertawa geli sembari memukul sebelah bahu Kyuhyun. Memikirkan pria itu menikmati makanan yang telah ia buang benar-benar menggelitik dirinya.

            Tapi Kyuhyun terlihat sangat menikmati wajah merah Je Wo yang tertawa, merasa bahunya terasa ringan bisa melihat tawa khas istrinya. “Jangan menangis lagi, oke?” gumamnya dan berhasil menghentikan tawa Je Wo. “Kalau kau marah, kau bisa meneriakiku ataupun memukulku seperti biasa. Aku lebih suka itu dari pada kau harus berdiam diri dan menangis di belakangku”

            “Aku tidak menangis, hanya hampir menangis” bela Je Wo dengan suara kecil. Ia memainkan kancing-kancing kemeja Kyuhyun namun tidak berani menatap wajah pria itu.

            “Maafkan aku” bisik Kyuhyun.

            “Kau sudah mengatakannya berulang-ulang sampai aku bosan.”

            “Dan kau sudah memaafkannya?”

            Je Wo menengadah keatas, menadapat wajah menunggu Cho Kyuhyun. “Eum, aku hanya kesal tadi malam. Tidak benar-benar marah padamu”

            “Itu artinya kau akan kembali memasak untukku?”

            Je Wo tersenyum kecil, mengeratkan rangkulannya pada Kyuhyun hingga tubuh pria itu sedikit membungkuk kedepan, wajah Kyuhyun tak memiliki jarak lagi dari wajahnya, menyebabkan kedua hidung mereka saling bersentuhan. “Eum, aku tidak mungkin membiarkanmu mati kelaparan” kekehnya.

            Kyuhyun meringis tertahan dengan gigi yang merapat di bibir bawahnya sebelum menyentuh bibir Je Wo. Memberikan kecupan-kecupan kecil tanpan tuntutan, hanya kecupan kasih sayang dan cinta di pagi hari.

            “Tadi malam kau tidur dimana?” tanya Je Wo yang masih membiarkan Kyuhyun menjelajahi wajah hingga lehernya. Keduanya masih berada di depan tempat cucian piring.

            “Kamar Hyunje” jawab Kyuhyun, “Kau tau? Dia tidur seperti gasing, aku benar-benar tidak dapat tidur dengan nyenyak”

            “Kenapa tidak kembali kekamar?”

            “Aku pikir kau masih menangis”

            “Sudah kukatakan aku tidak menangis”

            “Bisakah adegan mesum itu dihentikan?! Aku benar-benar sudah lapar!!”

            Je Wo dan Kyuhyun menoleh kesamping ketika mendengar teriakan Hyunje dari arah ruang televisi.

            “Aku rasa sebaiknya kau cepat mandi dan bersiap sebelum dia akan menghancurkan apartement dengan suara berisiknya” bisik Kyuhyun.

            “Bersiap? Memangnya kita mau pergi kemana?”

            “Tentu saja sarapan pagi, kau tidak mau memakan omelet menyedihkan itu, kan?”

            “Aku bisa menyiapkan sarapan pagi untuk kalian”

            “Tidak untuk pagi ini, aku ingin kita makan bersama diluar”

            Je Wo tersenyum kecil dan mengangguk, melepaskan kedua lengannya dari lehar suaminya dan beranjak masuk kedalam kamar.

            “Nyonya Cho!” panggil Kyuhyun.

            Je Wo kembali berbalik, “Ya?”

            “Aku ingin kembali menikmati kimbap buatanmu” ucapnya tersenyum lebar.

            Je Wo tersenyum smirk, “Tunggu saja sampai aku kembali mood memasak, kau tau, bukan? Aku bukan wanita yang mau terlalu sering berlama-lama di dalam dapur. Jadi tahan dulu keinginanmu, Tuan Cho”

            “Kalau keinginanku yang lain, bagaimana?” Kyuhyun melengkungkan alisnya menggoda.

            “Kurasa kau harus menahannya hingga nanti malam” balas Je Wo tak kalah menggoda sebelum meninggalkan Kyuhyun yang tersenyum senang.

            “Tentu saja, nanti malam aku akan mendapatkannya” gumam pria itu mengulum senyum.

FIN

 

 

Oke, FF ini adalah FF tiga bulan lalu yang ngendok dalam lapy gegara ending yang kagak kelar-kelar. Dan ternyata ada lebih 10 FF yang masih menunggu penyelesaian Ending dariku, yassalam~

 

Dan kali ini, Vic Eonnie kebawa-bawa lagi, hahaiiiii.

 

Yaudah, selamat menikmati ajah. Dan maaf kalau komen-komen kalian jarang aku bales, selain malas aku juga bingung mau balas apa, wkwkkw. Kalau bisa nih ya, aku butuh komen yang membangun, kritikan kalau perlu. Menurut aku, tulisan aku semakin lama semakin menurun kadar ceritanya hehehe. Aku ajah yang nulis ngerasa makin kagak sreg sama tulisan aku, jadi kalau bisa, kalian! Yang selalu baca tulisan aku dari awal sampek kesini, kasih masukan gitu.. yang menurut kalian masih kurang dalam semua tulisanku, kecuali TYPO wkwkwk.

 

Okeh, Happy Reading!

 

Shin Je Wo.

210 thoughts on “Cooking-Cooking – 2

  1. ahhaahaa selain perhatian dan cerdas hyunjae bnr2 mengerikan dlm waktu yg bersamaan.
    tempat sampah? oh ya ampun bnr2 hebat hyunjae ayahnya diksh mknn dari tmpt smpah..
    hahahahahh mereka keluarga yg lucu..
    engga ayahnya dulu, skrg anaknya yg suka sma vict hahha knp yah!

  2. Ya ampun masa sempet nangis gara” kyuhyun ngehina masakan je wo padahal dia gak tau hahaha baper banget dah gue thor buakakakak

  3. bener2 deh lagi sedih2nya hyunje nasehatin appanya eh akhirnya gak bisa nahan untuk tidak tertawa hyunje baik dan nakal ya baik karena ngasih kimbab buatan je wo tp itu hasil*dari tempat sampah* hahaha…..wkwk….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s