[17/+] Love Story of Olivia

images

 

 

 

WARNING!!!!

Hanya untuk 17 tahun keatas.

Akan banyak menemukan kata-kata tak bersahabat di bawah.

Untuk yang tidak menyukai tulisan berunsur NC di harapkan menutup link ini.

Setiap readers bebas membayangkan siapa tokoh-tokoh di dalam cerita.

 

 

 

Dentuman musik yang mengalun kuat di sebuah Bar terkemuka New York seakan tak menyurutkan langkah kaki para pengunjung tempat itu untuk berdansa. Suasana gelap dan meremang sengaja diciptakan untuk semakin memanaskan tempat itu. Beberapa dari mereka tampak bercumbu mesra bersama pasangannya ataupun Pelacurnya. Ya, tidak diragukan lagi jika tempat itu memanglah tempat yang akan dicari semua pria New York untuk melepaskan kepenatan setelah seharian bekerja. Apa lagi kalau bukan bercinta dan memuaskan hasrat serta gairah yang mereka miliki.

John Simpson, seorang pria yang memiliki banyak gadis untuk diperjual belikan kepada para pelanggannya. Pria itu selalu dicari beragam pria yang datang kesana untuk memenuhi nafsu liar mereka. Pria berperawakan keras dan kejam, pemilik tempat itu tersenyum senang melihat perkembangan bisnisnya berjalan lancar.

“Ini sempurna.” desisnya menyeringai sembari memagut bibir gadis yang duduk disebelahnya.

“Sir, ada seorang tamu yang mencari anda.” intrupsi salah satu anak buahnya. John melirik kebelakang bahu anak buahnya. Terkesiap melihat seorang pria yang berdiri tegak di belakang punggung anak buahnya.

“Oh, Mr. William.” sapanya tersanjung. Ia segera melepaskan diri dari gadisnya dan bergerak menghampiri pria yang menatapnya tak berekspresi.

Pria itu berdiri santai dengan kedua tangan yang tenggelam dalam saku celana, melirik sekelilingnya dingin. Dibelakangnya tampak seorang pria yang sedari tadi setia menemani dirinya. Pria berperawakan tampan itu memiliki postur tubuh sempurna; tinggi, otot-otot yang sempurna di sekitar tubuhnya, kulit putih yang hampir mirip warna pucat namun tampak bersinar dalam kegelapan. Rambut pria itu tampak sedikit acak namun tak mengurangi kadar ketampanannya.

“Senang bertemu denganmu.” ujar John dengan tatapan berbinar. Pelanggan besar, batinnya bersorak. Richard Wiiliam, pria tampan dan kaya raya. Memiliki perusahaan maskapai penerbangan terbesar di Eropa. Perusahaannya tersebar luas dimana-mana, selalu maju dengan pesat setiap saat sehingga menambahkan keuntungan pundi-pundi sahamnya.

“Mr. Simpson, aku butuh seorang gadis.” ucapnya singkat tanpa ekspresi namun selalu menampakkan garis tegas disekitar rahangnya.

John menyeringai lebar dengan mata yang menunjukkan kegembiraan, “Oh, tentu saja. Aku memiliki banyak gadis disini.” John melirik kesudut ruangan, menyipitkan kedua matanya pada sekumpulan gadis-gadis yang tampak menunggu panggilannya. “Nah, kau bisa lihat kesana, ada begitu banyak gadis yang menunggumu.” tunjuknya pada sekumpulan gadis itu.

Richard melirik kesana, menatap sebentar kemudian kembali membuang wajahnya. “Yang lain, itu terlalu membosankan.” ucapnya tak berselera. Matanya mulai menyusuri setiap sudut Bar itu, menghela nafas gusarnya karena belum juga menemukan gadis yang tepat untuk temannya malam ini. Bercinta, itu sudah pasti. Ia membutuhkan seorang gadis untuk menemaninya bercinta malam ini dan gadis itu harus sesuai dengan apa yang ia inginkan. Semuanya persis seperti sampah, makinya kesal.

John tampak gugup melihat raut wajah kesal pria itu, otaknya berikir cepat. Tamu besar tak boleh lari, batinnya. Kemudian matanya menangkap seorang gadis yang tampak tertawa lebar bersama beberapa gadis lainnya. “Oh, tunggu sebentar Mr. William.” John menyuruh salah satu anak buahnya mendekat, membisikkan sesuatu padanya, kemudian anak buahnya terlihat mendekati wanita yang duduk di depan meja Bar dengan anggunnya.

“Mungkin kau akan menyukai gadis ini, dia produk unggul milikku yang selalu digilai para pria.” jelas John sumringah.

Richard tampak mendengus malas mendengarnya, namun matanya mengikuti kemana anak buah John berjalan, kepalanya sedikit miring untuk melihat wajah gadis itu. Namun sayang, tubuh tegap anak buah John menghalangi pengelihatannya.

Gadis itu tampak mengintip sedikit dari celah tubuh tegap pria dihadapannya. Sebelah mata yang yang bening tampak terlihat oleh Richard, membuat ia mulai merasa penasaran pada gadis itu. “Bisakah kau mempercepat waktu?” tegurnya pada John dengan wajah yang mulai tak sabar.

John ingin menjawab namun mulutnya kembali terkatup saat gadis itu tampak mendekati mereka. “Nah, dia datang” gumamnya penuh kemenangan.

Richard menoleh kesana, memperhatikan seorang gadis yang tampak berjalan anggun mendekati mereka. Gadis itu nmengenakan gaun berwarna putih selutut, dengan kerah baju bermodel V, menunjukkan sedikit belahan dadanya. Rambutnya tergerai indah kebawah, menutup punggung mulusnya. Sama sekali tak tampak seperti pelacur murahan, pikir Richard.

“Hai,” sapa gadis itu dengan senyuman kecil yang memukau. Ia menoleh pada John, “Ada yang bisa kubantu?” tanya gadis itu.

Richard tak melepas tatapannya dari sang gadis, merasa cukup tertarik dengan aura gadis bertubuh kecil itu. Tubuhnya tidak tinggi namun tampak profesional, berisi di bagian-bagian tertentu yang memang diperlukan setiap pria.

“Mr. William, perkenalkan. Ini Olivia Sinlcair dan Olivia, ini Mr. Richard William” ucap John memperkenalkan.

Olivia menatap Richard dengan seulas senyum, “Senang bertemu denganmu, Mr. William” sapanya sopan.

Richard hanya mengangguk kecil dan melirik John. “Berapa harganya?” tanya Richard tanpa berbasa-basi. Wajah Olivia tampak tersentak, ia menatap Richard tak percaya. Sementara John tersenyum senang bercampur gugup.

“Kau, ingin dia?” tanya John memastikan.

“Ya, dan aku tidak suka terlalu lama berbasa-basi” jawabnya cepat.

“Oke, kalau begitu kita akan mempercepat segalanya” ujar Richard senang. Ia melirik Olivia sejenak, gadis itu tampak memutar bola matanya kesal. Ya, malam ini John sudah berjanji padanya agar ia memilih pelanggannya sendiri, mengingat ini adalah malam terakhirnya untuk bekerja disana, sebagai pelacur.

“Ini terlalu mahal untuk dilewatkan, Oliv. Dia salah satu pria terkaya di negara ini” bisik John membujuk. Kemudian kembali tersenyum cerah pada Richard, “20 ribu Dollar” ujar John memberi harga.

“Sampai matahari terbit”

“Itu memang pelayanan kami”

“Dan tanpa kondom”

Wajah John seketika memucat, ia melirik Olivia yang terang-terangan menunjukkan wajah tak setujunya. “Oh-oh, Mr. William, tapi gadis ini tidak akan bisa disentuh tanpa benda itu” jelas John gugup.

“50 ribu Dollar” tawar Richard menatap tajam Olivia, matanya berkilat menujukkan ketertarikan besar pada gadis itu.

“Sebesar apapun kau menawar, aku tidak akan menerimanya jika kau tidak mengikuti peraturanku” jelas Olivia masih dengan senyum anggunnya.

Sial, maki Richard. “Kau ada disini untuk ditiduri, bukan untuk membuat peraturan” cela Richard, wajahnya mulai mengeluarkan raut tak ingin dibantah.

Senyuman anggun itu mulai menghilang dari wajah Olivia, ia menatap tegas pada pria itu. “Tidak denganku, Mr. William. Aku tidak akan membiarkan satu pria manapun memasukiku tanpa benda itu, tak terkecuali kau” ujarnya tajam.

Richard tersenyum, senyuman miring dan dingin. Ia melirik John yang tampak menegang, takut jika tamu besarnya lolos begitu saja. Pria itu juga sadar jika Olivia adalah tipe gadis yang tak menyukai pelanggaran aturan main, sama sepertinya. “20 ribu Dollar, aku ambil” Richard menoeh kebelakang, pria tegap yang sedari tadi menemaninya maju selangkah. “Dia yang akan melakukan pembayaran padamu” ucapnya pada John. Setelah itu menatap Olivia yang tampak mengerjap.

“Dan kau Nona, aku menunggumu di mobilku”

 

****

 

 

“Kau tidak menepati janjimu, John” desis Olivia kesal, ia menatap pria bertubuh tegap itu tampak berbinar menatap sebuah cek digenggamannya. Gadis itu mengerang kesal, namun mencoba bersabar mengingat setelah ini ia akan kembali bebas dari pekerjaan yang selama dua tahun sudah ia geluti.

“Maaf, Oliv. Tapi kau tau siapa pria itu, bukan? Lihat, dalam sekejap kita sudah untung besar” ujarnya girang. “Dan bukankah ini hari terakhirmu? Anggap saja ini penghormatan besar untukmu, pria kaya dengan wajah tampan” gumamnya.

Oh, yang benar saja, cibir Olivia. “Kalau begitu, aku minta bagianku. Tidak perlu mengirimnya ke rekening Bank karena aku butuh uang cash.” tuturnya.

Setelah mendapatkan bagiannya, Olivia segera keluar dari sana dengan langkah ringan. Senyuman tak henti-hentinya merekah dibibirnya. Hidup normal, sebentar lagi ia akan kembali merasakannya. Mata gadis itu menyipit ketika melihat seorang pria melambai padanya, pengawal si pria kaya, batinya.

“Silahkan masuk, Miss Sinclair” pria itu membuka pintu mobil dengan sopan, tubuhnya sedikit menunduk.

“Terima kasih” ucap Olivia, ia masuk kesana. Richard sudah duduk nyaman disampingnya, kakinya terlipat keatas, Olivia melirik penampilan pria itu sekilas. Richard mengenakan celana jeans hitam dengan atasan kemeja putih yang ujung bajunya ia biarkan diluar. Terkesan urakan namun tetap tidak mengurangi kadar ketampanannya. “Lalu, kemana kau akan membawaku?” tanya Olivia ringan.

“Dream Downtown.”

 

****

 

Sepertinya John benar, pria ini bukan pria sembarangan. Lihat saja kemana ia membawaku, Hotel Dream Downtown. Salah satu Hotel termewah di Chealsae, New York. Letaknya tidak jauh dari Broadway dan Grand Central Terminal. Oke, malam yang cukup indah, malam penutup pekerjaan sial ini dengan pria kaya yang tampan, Oh! Sepertinya aku tertular sikap serakah John.

“Terima kasih, Alex.” aku tersadar mendengar suara lembut pria ini. Richard William, ternyata memiliki suara lembut dan mendayu. Ku lirik dia yang tampak sibuk dengan ponselnya, sesaat dahinya sedikit berkerut kemudian gigi atasnya menggigit bibir bawahnya pelan. Ya Tuhan, dia tampak seksi.

“Ayo.” aku melirik telapak tangannya yang terjulur kearahku, mengajakku untuk keluar dari mobil Maybach Landaulet mewahnya. Aku mengulurkan tanganku padanya dan dia menggenggamnya. Hangat, telapak tangannya hangat.

“Aku akan menghubungimu besok pagi.” ucapnya singkat pada pria yang bernama Alex. Alex mengangguk patuh padanya, kemudian melirikku dan memberikan anggukan kecil. Segera kubalas dengan senyuman kecilku. Tanganku kembali ditarik oleh Richard, satu hal yang aku rasakan dari genggamannya. Protektif, genggaman ini terlalu protektif dan posesiv, seakan tidak membiarkan aku lari. Cih, aku rasa dia tidak perlu cemas, aku dibayar untuk ini dan pastinya akan aku selesaikan dengan baik.

Kami memasuki sebuah lift, kulihat ia menakan tombol 10 disana. Dahiku mengerut, tidakkah sebelumnya ia melakukan registrasi pada resepsionis dulu?

“Hotel ini milikku.” gumamnya pelan tanpa menatapku. Wah, sepertinya dia memiliki kelebihan membaca pikiran orang lain. Aku hanya mengangguk mengerti dan memalingkan wajah.

Pintu lift terbuka, dia kembali menarik tanganku keluar. Kakinya melangkah ringan memasuki lorong-lorong hotel ini. Kami berhenti disebuah pintu berwarna coklat tua, ia membuka pintu itu dan mempersilahkanku masuk. Kamar ini tidak seluas yang kuduga, bahkan seakan diatur memang hanya ditempati oleh dua orang. Mataku menyorot ranjang besar di dudut ruangan, besar namun tidak tinggi. Mungkin aku akan pas tidur disana, lalu bagaimana denganya? Tubuhnya tinggi dan aku yakin ia tidak akan tidur dengan nyaman disana.

“Kau ingin menggunakan kamar mandi lebih dulu?” tanya pria ini, seperti biasa, suarnya terdengar tenang dan lembut. Seperti lantunan lagu sendu pengantar tidur.

“Oh, tidak.” jawabku.

“Oke, kalau begitu aku yang pakai. Kau bisa langsung bersiap-siap.”

Aku mengangguk sekali sebelum ia masuk kedalam kamar mandi. Kulangkahkan kedua kakiku mengitari ruangan ini, kusentuh sprei ranjang empuk ini. Lembut, lebih lembut tiga kali lipat dari sprei ranjangku. Kakiku kembali melangkah mendekati jendela kamar, disini terpampang jelas pemandangan indah yang tersaji dari kota ini. Lampu malam yang berkelap-kerlip menerangi kota sibuk ini.

“Apa yang sedang kau lakukan?”

Suara lembut itu kembali terdengar olehku, kepalaku menoleh begitu saja kebelakang. Dia sudah berdiri bertelanjang dada disamping ranjang. Dan tubuhnya, oh Tuhan, benar-benar memukau. Aku sudah terlalu banyak menyentuh tubuh pria selama ini dan demi Tuhan, ini yang terhebat.

“Kau ingin aku yang kesana atau kau yang kemari.” ucapnya lagi, eksprisinya begitu dingin dan tak pernah menghangat.

Aku tersenyum kecil, mengedutkan sudut bibirku. “Tetap disana, Mr. William.” aku melangkah perlahan ketempatnya. Menatapnya sededuktif mungkin. Aneh, pria ini sama sekali tidak tersenyum kearahku. Dan ini untuk pertama kalinya dalam masa kerjaku menemukan pria seperti ini.

Tangannya bergerak cepat menarik pinggangku ketubuhnya, dadaku dan dadanya bersentuhan, menciptakan sensasi panas bagi tubuhku. Oh, tidak! Jangan katakan jika disini aku yang bergairah. Romaku bergedik naik saat tangannya membelai leher jenjangku, mengibaskan rambut yang masih menutupinya. “Lehermu indah.” kudengar dia menggumam.

Aku kembali tersenyum kecil, pujian yang selalu diberikan oleh setiap pelangganku. Tanganku merambat naik, menyururi rambut coklatnya, meremasnya pelan ketika bibirnya menyentuh permukaan kulitku. Oh, bibirnya teramat lembut. Tangannya tak diam, merambat kebelakang punggungku, meraba kulit mulusku dengan ibu jarinya. Desahan kecil keluar dari bibirku yang masih berada dalam bibirnya. Aku merasakan ibu jarinya semakin turun, mencari resleting gaun untuk segera melepaskannya dari tubuhku.

Amat perlahan bibir dan ibu jarinya bergerak hingga aku cukup tak fokus dengan keduanya. kurasakan gaun itu telah merosot di kakiku dan bibirnya terlepas dari bibirku, erangan terengah terdengar dari bibir kami. Mataku masih terpejam, menikmati gelombang gairah yang menyuluti tubuhku. Dan hal pertama yang aku temukan saat membuka mata adalah mata coklatnya yang tajam. Ia menatapku penuh kilatan gairah dan demi Tuhan, aku benar-benar terhanyut didalamnya. Mulutnya tak terkatup sempurna ketika mata coklatnya menjelajahi tubuhku, menelanjanginya dengan tatapan deduktif.

Aku seperti terbakar di perlakukan seperti ini, pria ini tak menyentuhku, hanya menelisik tubuh indahku dengan kedua matanya, namun aku benar-benar sudah tak sabar untuk menariknya ketubuhku. “Bisa kita mulai?” bisiknya pelan. Kepalaku mengangguk begitu saja seiring tangannya mendorong tubuhku hingga terhempas diatas ranjang.

Ia menindihku, melumat bibirku dengan rakus, menjelajahi isinya. Lidahnya begitu lihai bermain disana hingga aku tak menyadari tangannya yang sedang mencoba melepas pengait Braku. Kulengkungkan tubuhku kedepan agar ia mudah menelusupkan tangannya kepunggungku, tanganku tak henti mengitari punggung kokohnya. Dia hangat dan aku suka itu. Braku terlepas dan ia melemparkannya kebawah, bibirnya beranjak turun kebawah, menyapa dadaku yang baru saja hadir dihadapannya. Sekali lagi, bibirnya benar-benar menghanyutkan tubuhku hingga aku tidak dapat melakukan apapun. Aku terlalu terlena dalam sentuhan intimnya. Sentuhannya tidak lembut namun tidak juga kasar, aku belum pernah menemukan pria yang menyentuhku seperti ini, benar-benar pintar mengobarkan gairahku.

“Jangan hanya diam.” bisiknya tegas ditelingaku, daun telingaku menjadi sasaran gigitan kecil giginya.

Aku yang mengerti jika ia menungguku, segera memepekerjakan kedua tanganku. Merambat kebawah tubuhnya, melepaskan ikat pinggang Gucinya dan segera menurunkan resleting celana jeansnya. Sentuhan pertama yang aku lakukan menimbulkan desisan tak terhankan darinya, aku tersenyum kecil melihat erangannya. Kulakukan hal itu sekali lagi hingga ia tersadar jik aku tengah mempermainkannya.

“Kau ingin bermain?” desisinya tanpa ekspresi, Ya Tuhan! Kapan dia akan mengeluarkan senyumannya? Aku kembali tersenyum geli melihatnya, kakiku menurunkan celana jeansnya hingga celana itu terlepas dari dirinya. Dia sudah sangat… besar.

“Tergantung, permainan apa yang ingin kau lakukan,” balasku, jari telunjukku mengitari dada bidangnya, menyelusuri garis tengah dada itu hingga kepusat tubuhnya. “Kau sangat siap ternyata.” cemo’ohku.

“Ya, begitu juga dengan kau.” balasnya, aku merasakan tangan hangatnya membelai dadaku lembut, meremasnya perlahan dan membuat aku mendesah tak sadar. Dimulai dari sini, segalanya terasa indah, panas dan menyenangkan. Aku terlalu terbawa oleh suasana panas yang ia ciptakan. Richard William, pria terakhir yang menjadi pelangganku.

 

****

 

 

Olivia menggeliat pelan dalam tidurnya, merasa tubuhnya terasa lebih berat dari biasanya. Ya, wanita itu baru saja tertidur dua jam yang lalu, mengingat permainan yang diminta oleh Richard seakan tak ada habisnya. Ia merasakan ada lengan hangat yang menggelayut pada pinggangnya. Kedua matanya mulai terbuka, masih tampak sayu. Ia menoleh kesamping dan menemukan wajah damai pria yang tertidur disampingnya.

Sudut bibir Olivia tertarik sempurna, kembali teringat dengan malam panas yang baru saja mereka lalui. Entah berapa kali pria itu mengganti kondomnya yang terasa penuh dan anehnya, Olivia tidak merasa jenuh melayaninya.

“Wajahnya tampak damai.” gumamnya serak.

Wanita itu merapatkan bibirnya saat merasa gerakan pelan dari pria itu. Richard menggeliat dalam tidurnya, menarik tubuh Olivia semakin merapat padanya. Wanita itu tersenyum kecil merasakan pelukan hangat pria itu. Masih sama, terlalu protektif. Dan lagi-lagi, wanita itu sama sekali tidak keberatan. Olivia selalu merasa jenuh dan bosan pada setiap pelanggannya jika meminta percintaan lebih dari tiga kali. Namun malam ini, Richard William sama sekali tidak meminta dan hanya melakukan apa yang ia inginkan pada tubuhnya. Dan itu ia lakukan lebih dari enam kali.

“Ya Tuhan,” gumam Olivia setengah memekik ketika melirik jam dinding, “Sudah pukul sembilan pagi?”

Olivia berusaha menyingkirkan lengan Richard yang masih memeluknya erat. Dengan hati-hati tanpa ingin membangunkan pria itu, ia merangkak turun dari ranjang. Mengutupi pakaiannya yang berserakan di lantai. Setelah berpakaian lengkap dan memperhatikan penampilannya, ia meraih tas tangannya dan melirik Richard yang masih tertidur pulas. “”Semoga harimu indah.” Ucapnya pelan sebelum pergi meninggalkan kamar itu.

Senyuman Olivia tak berhenti terkembang, ia melenggang dengan santai seakan tak memiliki beban apapun lagi diatas punggungnya. Wanita itu mulai membayangkan kehidupan normalnya setelah ini di rumah sederhana miliknya dan adik perempuannya, Angela Sinclair. Selama ini, ia memang selalu bekerja demi Angela yang sedang melangsungkan sekolahnya. Bahkan gadis itu sedang mengurus pendidikannya di salah satu Universitas terkemuka dinegara itu. Angela tinggal bersama seorang wanita bernama Jane. Jane adalah bibi dari keduanya. Wanita bertubuh gempal itu tinggal dirumah Olivia untuk menjaga Angela selama ia bekerja. Sayangnya, suami dari wanita baik itu membuat masalah beberapa bulan yang lalu. Surat tanah rumah Olivia ia gadaikan demi kesenangan hidupnya dan setelah itu ia pergi melarikan diri.

Jane merasa sangat malu atas kelakuan suaminya, namun Olivia sama sekali tak ingin menyalahkannya. Jane sudah terlalu baik padanya dan juga Angela. Oleh karena itu ia lebih memilih menebus surat tanah itu pada seorang rentenir. Angkanya tidaklah kecil, 70.000 Dollar. Hingga Olivia harus mempekerjakan tubuhnya sedemikian rupa demi mengumpulkan uang sebanyak itu. Belum lagi ia harus mencukupi kebutuhan hidup dan pendidikan adik perempuannya.

“Semuanya akan segera selesai setelah ini.” Desahnya gembira.

Olivia merogoh tasnya saat merasa ada getaran dari sana, ia menatap layar ponselnya yang menampakkan nama si penelepon. Angela, “Hallo?”

“Oliv, cepatlah pulang. Disini benar-benar kacau!” teriakan Angela membuat dahi Olivia berkerut. Belum lagi ia sempat mendengar teriakan-teriakan dari sana.

“An, apa yang terjadi?” tanya Olivia bingung.

“Sam, paman Sam datang dan mengacau.”

 

****

 

“Ya Tuhan apa yang terjadi?” pekik Olive melihat keadaan rumahnya yang teramat kacau. Semua isi rumahnya tampak hancur dan berserakan. Ia menatap sekeliling rumahnya yang tampak tak berbentuk lagi. Tatapan lirihnya berakhir pada Jane yang tampak tersungkur disudut ruangan.

Jane berhambur memeluk kaki Olivia dengan buercucuran air mata, “Maafkan aku, Oliv. Demi Tuhan maafkan aku. Pria berengsek itu kembali dan mengahnacurkan segalanya, dia menghancurkan rumahmu.” isak Jane histeris.

Olive merasa linglung, pemandangan itu cukup membuat ia merasa shock. Ia melemparkan pandangannya pada Angela yang duduk mematung diatas kursi kayu. Gadis itu tampak begitu pucat disana.

“Ti-tidak apa-apa, Bi. Sudahlah, jangan berlutut seperti ini.” Olivia menarim lengan Jane dan membantunya beridiri. Meski begitu tatapan matanya tidak beralih dari Angela yang masih diam mematung.

“An, kau baik-baik saja?” tegurnya setelah seperkian detik keadaan mulai menyepi.

“Tidak, dia pasti sangat hancur karena ini,” Jane yang kembali meneteskan air mata. Ia menyentuh kedua telapak tangan Oliv dan kembali meraung. “Oliv, pria berengsek itu telah membawa semuanya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa.”

“Mem-membawa apa? Bibi kumohon tenanglah, aku tidak mengerti dengan ucapanmu.”

“Sam membawa uang yang kita siapkan untuk menebus surat tanah rumah ini beserta biaya pendidikanku.”

Oliv membelalakkan kedua matanya pada Angela ketika gadis itu berujar. Kakinya terasa lemas seketika. Kepalanya kosong dan ia tidak dapat memikirkan apapun lagi saat ini. Yang ia tau hanya satu, sebentar lagi mereka pasti akan tinggal di jalanan.

 

***

 

 

Richard mencampakkan sebuah file pada wajah sekertarisnya dengan kasar. Wajahnya menatap penuh amarah pada gadis yang sudah gemetar karena ketakutan olehnya, “Apa kau kubayar untuk ini?” desisnya dengan gigi yang saling bermeretak, “Bagaimana bisa kau salah dalam mengatur jadwalku?! Hal semudah ini saja kau tidak bisa melakukannya, Miss. Carly?” suaranya terdengar berat dan penuh penekanan.

Richard mengangkat gagang teleponnya, menekan satu tombol dan kini ia telah tersambung dengan seseorang, “Alex, keruanganku sekarang.” Perintahnya.

Tidak butuh menunggu lama, Alex telah tiba di ruangannya. Melirik sekitar dan lebih menjadikan Diana Carly, sekertaris atasannya sebagai object pandang utama. Ia berjalan beberapa langkah hingga berada di samping Richard yang duduk di pinggingan kursinya. “Ada masalah, Tuan?”

“Ya, cepat singkirkan dia dari perusahaanku dan carikan aku segera sekertaris baru.” Jawabnya tenang.

Pekikan tertahan terdengar dari Diana Carly. Ia menatap Richard memohon namun pria itu sama sekali tidak memandangnya. Hanya Alex yang tampak meliriknya sekilas sebelum mengangguk singkat pada Richard.

“Nona, sebaiknya kau ikut denganku.”

“Tidak!” jawab Diana cepat, “Mr. William, kumohon maafkan aku. Beri aku satu kesempatan lagi. Aku berjanji akan bekerja dengan baik.” Mohonnya.

Tapi Richard tidak bereaksi. Lalu Alex dengan cepat menyeret Diana dari sana agar Richard tidak lagi menemukan gadis itu di hadapannya.

“Sial!” umpatnya kasar ketika ia kembali menghempaskan diri pada kursi kerjanya. Ia memijit dahinya pelan saat lagi-lagi bayangan Olivia melintasi ingatannya. Ia kembali teringat pada percintaan panas mereka tadi malam tapi pagi ini gadis itu berhasil membuat moodnya memburuk beratus kali lipat. Pasalnya, Richard tidak dapat menemukan Olivia dimanapun ketika ia membuka mata. Ia bertanya pada Alex dan pria itu menjawab jika Olivia memang pergi meninggalkan hotel pukul 9 pagi saat ia masih tertidur.

 

***

 

 

“Kita laporkan saja dia pada polisi. Pria berengsek itu harus menerima akibatnya!” geram Angela dengan kedua tangan yang terkepal menahan emosi. Ia duduk di atas lantai yang kini telah tampak bersih setelah Jane membersihkan semua pecahan barang-barang.

Olivia belum bersuara. Ia masih duduk diam menyandar pada sudut dinding dengan kedua kaki saling bertekuk. Bibirnya seakan kelu untuk sekedar bicara. Hanya melemparkan pandangan kearah luar jendela.

“Aku yakin dia masih berada di sekitar sini untuk kembali berjudi dan memamerkan uang curiannya pada semua teman-temannya. Dan kupikir kita bisa pergi kesana untuk mencari keberadaannya. Aku tau dimana ia sering_”

“Tidak, An.” Sela Olivia meski ia masih menatap keluar jendela.

“Tidak?” erangan Olivia terdengar, “Lalu saat ini apa yang akan kita lakukan?!” teriaknya.

Melihat itu, Jane segera menghampiri Olivia. Ia duduk menghadap gadis itu hingga akhirnya Olivia menoleh padanya, “Jangan cemaskan aku. Dia sudah tidak berarti lagi bagiku, Olivia. Lebih baik pikirkan masalah rumah ini dan An. Kupikir dia benar, satu-satunya cara untuk menghentikannya hanyalah melaporkannya pada polisi.” Ujar wanita itu lirih.

Olivia menggeleng pelan dan berusaha tersenyum, “Tapi dia masih suamimu, Jane. Aku tidak ingin melakukan itu. Lagi pula, kita tidak tau bagaimana nasib uang itu saat ini. Mungkin saja dia telah menghabiskannya dan usaha kita melaporkannya hanya sia-sia.” Olivia menggenggam kedua tangan Jane.

“Tapi_”

“Masalah rumah ini biar aku yang tangani.”

“Caranya?” sela Angela.

Olivia menarik nafas panjang, “Aku akan kembali pada John.” Desahnya.

“Tidak!” pekik Angela histeris. Ia segera berdiri dan berjalan mendekati Olivia. Berdiri penuh amarah di hadapan kakaknya, “Kau ingin menjual dirimu lagi?! Sudah cukup, Oliv. Sudah cukup selama bertahun-tahun ini kau menjual dirimu layaknya seekor binatang. Aku tidak ingin melihatmu seperti itu lagi!” teriaknya dengan air mata yang mulai mengotori wajahnya.

“Tidak ada jalan lain, An. Kita harus menyelamatkan rumah ini dan pendidikanmu.”

“Persetan dengan semua itu! Rumah dan pendidikanku tidak begitu penting dari pada kau! Aku hanya butuh kau kembali hidup normal seperti dulu! Bukan kau yang menjadi seorang wanita panggilan!”

“Tapi rumah ini adalah peninggalan Ibu dan Ayah! Tidakkah kau mengerti?” dada Olivia tampak bergemuruh menahan emosi yang membuncah. “Disini semua kenangan kita tentang mereka ada. Disini kita di lahirkan. Menurutmu apa kita harus kehilangan satu-satunya peninggalan Ayah dan Ibu?! Lalu pendidikanmu! Kau tau aku tidak lagi bisa menjalankan hidupku layaknya wanita normal. Lalu apa aku harus melihat adikku melakukan hal yang sama sepertiku?!”

“Aku bisa mencari pekerjaan selain itu, Oliv. Pendidikan itu tidaklah begitu penting.”

“Tapi Ayah dan Ibu menginginkan kau menjadi seperti itu!” Olivia berdiri dari tempatnya dan menatap Angela penuh amarah, “Mereka ingin melihat kedua anaknya hidup dengan baik dan terhormat. Aku tidak bisa lagi mewujudkannya. Hanya kau yang tersisa, An. Hanya kau!”

“Jangan kau pikir setelah_”

“CUKUP!” Olivia mengangkat kedua tangannya agar Angela berhenti bersuara, “Aku lelah dan tidak ingin berdebat. Aku akan keluar dan mungkin tidak akan kembali malam ini.” Ia mengambil tas tangannya dan segera beranjak dari sana.

 

***

 

“Dia tidak bekerja lagi?” Richard melemparkan tatapan menuntutnya pada Alex yang mengangguk kecil. Setelah itu rahangnya tampak mengeras seiring sebelah tangannya melonggarkan ikatan dasinya. “Kenapa?”

“Aku menerima laporan jika kemarin malam adalah malam terakhir kalinya ia bekerja. Dan malam itu ia habiskan denganmu, Tuan.” Jelas Alex dengan suara rendah penuh kontrol.

“Kau sudah mencaritau siapa gadis itu?” kini Richard meraih segelas wine yang berada di atas meja bar yang terdapat dalam rumahnya. Menuangkannya kedapan gelas dan meneguknya hingga habis.

“Ya, tapi tidak begitu banyak.”

“Apa itu?”

Alex berdem pelan, “Olivia Sinclair, 23 tahun. Tinggal di sebuah apartement kumuh di pinggiran kota. Namun memiliki sebuah rumah sederhana di Manhattan. Disana ada seorang wanita bernama Jane, Bibinya dan juga Angela Sinclair, adiknya. Ayah dan Ibunya sudah meninggal beberapa tahan yang lalu” Jelas Alex singkat.

Dahi Richard mengernyit, “Itu saja?”

“Ya, Tuan. Seperti yang kukatakan, tidak banyak informasi mengenai gadis itu karena latar belakang sosialnya yang tidak begitu baik. Beberapa kalangan hanya mengenalnya sebagai partner seks yang mengagumkan dan mereka tidak mau bersusah payah mencari tau latar belakang Olivia. Jika mereka ingin maka hanya tinggal menghubungi John.”

“Lalu dimana dia saat ini?” sambungnya.

“Ada yang mengatakan jika ia kembali ke Manhattan, namun setelah aku periksa dia tidak ada lagi disana. Beberapa orang mengatakan jika ia telah kembali meninggalkan rumah siang ini.”

Richard kembali memijat pelan dahinya. Pria itu kembali menginginkan Olivia sebagai partner seksnya. Belum pernah selama ini ia menggunakan seorang wanita untuk beberapa kali bercinta. Biasanya ia akan membuang wanita itu begitu saja dan tidak lagi mau memakainya. Tapi kali ini berbeda. Ia sangat menginginkan Oliv dalam dekapannya.

“Alex.” Panggilnya.

“Ya?”

“Cari lebih banyak lagi informasi mengenai Olivia. Lakukan apapun untuk mencari wanita itu dan segera bawa kehadapanku.”

“Baik, Tuan.”

Richard mengangguk sekali, “Kau boleh pergi.” Suruhnya.

Alex tampak memandang Richard ragu. Namun tatapan itu dapat di lihat oleh Richard.

“Kenapa?”

“Maaf, sebelumnya Tuan. Tapi, apa malam ini kau tidak ingin pergi mencari wanita seperti biasanya? Kupikir biasanya tugasku akan selesai setelah itu.” Jawan Alex penuh sopan.

Richard mendengus dan kembali meneguk wine miliknya, “Tidak! Olivia Sinclair telah membuatku tidak berselera untuk menatap wanita manapun lagi. Aku hanya menginginkan dia, Alex. Maka itu kuharap kau bekerja dengan cepat.”

 

***

 

 

Olivia berjalan cepat memasuki sebuah Bar dimana tempat ia bekerja seperti biasa. Tapi kali ini, tempat itu bukan lagi tempatnya untuk mengumpulkan pundi-pundi uang. Ya. Kemarin ia telah resmi keluar dari sana atas persetujuan John. Namun, karena ulah Sam ia harus kembali memohon pada John untuk mempekerjakannya kembali dan sedikit melakukan negosiasi pada pria itu.

Batas waktu membayar uang pinjaman yang di lakukan Sam hanya tinggal beberapa jam lagi. Malam ini ia harus segera membayarnya dan jika itu tidak ia lakukan maka ia dan adiknya akan kehilangan rumah itu begitu saja. Uang yang Sam pinjam bukanlah sedikit dan dia harus segera mendapatkannya siang ini. Tadi malam ia sudah pergi kesana untuk mencari John, sayangnya pria itu memiliki kesibukan lain hingga Oliv terpaksa menundanya pagi ini.

“Jack!” Olivia melambaikan tangannya pada seorang pria bertubuh tegap. Pria itu adalah kaki tangan John selama ini.

Jack membalas lambaiannya dan menyuruh Olivia mendekat. Suasana Bar saat ini cukup sepi meski masih ada beberapa pengunjung disana dengan pasangan masing-masing. Ada yang dalam keadaan mabuk dan ada juga yang dalam keadaan habis bercinta. Tapi Olivia tidak memperdulikan hal itu karena urusannya lebih penting saat ini.

“Dimana John?” tanya Olivia langsung.

Jack membulatkan bibirnya, “John? Yatuhan, aku lupa mengatakan padanya jika kau ingin bertemu. Maafkan aku, Oliv. Tapi John sudah pergi meninggalkan New York beberapa jam yang lalu.” Jawabnya penuh sesal.

.           “A-apa? Yatuhan…” Olivia meremas rambutnya frustasi. Wajahnya semakin tampak pucat saat ini, “J-Jack, apa kau tau kemana dia pergi?”

“Ya. John pergi ke Paris.”

Paris? Aku tidak mungkin dapat mengejarnya….

“Oliv, ada yang bisa kubantu? Wajahmu begitu pucat.” Tegur Jack.

Olivia menggeleng pelan. Ia menggigit bibir bawahnya kuat saat merasa sebentar lagi akan segera menangis. Tanpa menunggu lama ia segera meninggalkan Bar itu. Bagaimanapun ia tidak mau ada yang melihatnya menangis.

Olivia berjalan gontai menyusuri jalanan ramai penuh sesak. Semua orang berjalan cepat, saling berlomba satu sama lain mengejar waktu. Ya, Times is money. Begitulah anggapan mereka. Tapi saat ini, bagi olivia waktu adalah neraka. Semakin berjalannya waktu maka semakin cepat ia menghantarkan diri pada nerakanya. Waktunya masih tersisa tapi ia tidak dapat melakukan apapun. John satu-satunya orang yang mungkin dapat membantunya kini tidak bisa di harapkan. Pria itu saat ini tengah melakukan perjalanan jauh.

Olivia menyeka sebelah pipinya saat air matanya menetes membasahi. Bayang-bayang wajah kedua orang tuanya melintas tak terkendali. Wajah pucat Angela kemarin dan Jane turut membuat kepalanya terasa nyeri hingga akhirnya, ia merasa bumi berputar begitu cepat dan semuanya menjadi gelap.

 

***

 

Bau apa ini? Bau ini sangat mengganggu indra penciumanku. Tunggu, aku kenal bau ini. Ini seperti bau rumah sakit. Ya Tuhan, apa yang terjadi? Kenapa kedua mataku sulit untuk terbuka dan kepalaku begitu sakit. apa yang terjadi padaku?

Aku terus berusaha membuka kedua mataku yang begitu berat. Melawan rasa nyeri yang melanda pada kepalaku. Perlahan ada secercah sinar menelisik pupil mataku hingga aku kembali menutup kedua mataku. Sinarnya begitu tajam. Tapi aku masih tidak bisa begini terus. Kucoba lagi membuka kedua mataku dan sinar itu tidak ada lagi. Perlahan aku dapat membuka kedua mataku dengan sempurna.

Dan hal pertama yang aku daparkan adalah wajah seorang pria. Dia…

“Kau sudah sadar?”

Mataku terus mengerjap beberapa kali. Apa ini bukan mimpi? Mengapa pria ini ada disini? Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Baru saja aku membuka kedua mataku, kini yang aku temukan adalah Richard William yang berdiri tegak dihadapanku. Menatapku dengan mata tajamnya dan sepertinya, ia menggunakan kepalanya untuk menutupi sinar lampu yang berada di langit-langit ruangan ini.

Dan tempat ini….

“Rumah sakit?!”

Tubuhku terlonjak begitu saja saat melihat selang infus beserta jarumnya yang menancap pada tubuhku. Jika saja dia tidak menahan kedua bahuku, mungkin saja jarum itu akan melukaiku.

“Jangan terlalu banyak bergerak. Kau belum pulih dan itu hanya sebuah jarum.”

Suara lembut mendayunya mengembalikanku dari rasa takut yang sempat menggerogotiku. Kutatap wajahnya penuh cemas. “Kenapa aku disini?”

“Kau pingsan di jalanan dengan perut kosong.” Jawabnya tenang dan kembali menarik kedua tangannya. Melipatnya di depan dada.

“Pingsan?”

“Ya.”

“Apa kau yang membawaku kesini?”

“Bukan.”

Sebelah alisku terangkat. “Lalu?”

“Alex, anak buahku yang menemukanmu.”

Aku mengangguk mengerti. Alex, aku mengenal pria itu. Pria yang selalu menemani pria ini kemanapun selain ranjang tempat kami bercinta. Tunggu, kenapa wajahku terasa panas seperti ini?

“Kau baik-baik saja?”

Aku kembali tersentak dari lamunanku dan menoleh padanya. Ada semburat kecemasan dalam wajahnya. Apa itu untukku?

“Sebaiknya aku memanggil dokter untuk memeriksamu. Dan ini sudah terlalu malam tapi kau belum memakan apapun juga. Kupikir_”

“Apa?!” mataku sontak mencari sebuah jam di sekitar sini. Dan jantungku berdetak begitu cepat saat jam dinding menunjukkan pukul 9 malam. Angela, apa yang akan terjadi padanya? Kusingkap selimut rumah sakit ini dan kucabut paksa selang infusnya hingga ada sebercak darah segera mengotori pergelangan tanganku.

“Olivia, apa yang kau lakukan?”

Geraman pria ini tidak kuhiraukan lagi. Satu-satunya yang ada dalam otakku hanya pergi menemui Angela dan memastikan dia baik-baik saja. Para rentenir itu pasti sudah datang kesana dan membuang barang-barang kami. Ya Tuhan, kumohon lindungi Angela dan Bibi Jane. Kuseret langkahku secepatnya agar segera keluar dari rumah sakit ini. setelah berhasil, aku memanggil-manggil taxi dengan kedua tanganku yang melambai-lambai di pinggir jalan. Aku tidak lagi peduli jika nanti akan ada mobil yang menerjangku. Aku harus segera sampai dirumah sebelum terjadi sesuatu pada Angela.

Tapi mengapa malam ini semua taxi seakan memiliki penumpang hingga tidak ada satupun yang mau berhenti untuk mengangkutku. Demi Tuhan kepalaku kembali terasa nyeri dan ini sangat menyakitkan. Sebelah tanganku berusaha meremas bagian samping kepalaku untuk sekedar meredam rasa nyerinya. Sial! Itu tidak membantu.

“Taxi!!” teriakku lagi ketika ada sebuah taxi yang melaju kearahku. Terima kasih Tuhan! Kali ini ia berhenti. Aku menggapai pintu taxi ini dan saat hampir sedikit lagi jemariku menyentuhnya, tubuhku tertarik kebelakang. Ada seseorang yang menarik ujung sikuku hingga aku menghadap padanya, “Apa yang kau lakukan?!” teriakku murka pada Richard.

“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu.” Rahangnya mengeras dan tatapannya menggelap kearahku. Suaranya terdengar berat dan tidak selembut subelumnya. “Kau sedang sakit dan saat ini kau malah melarikan diri?”

“Aku harus pulang, Richard.” Jelasku tanpa bersikap formal. Persetan! Kali ini aku tidak sedang bekerja padanya.

“Tapi_”

“Adikku membutuhkanku!!” jeritku, “Akan ada banyak lintah darat yang mendatangi rumahku dan akan mengusir keluargaku dari sana. Aku harus melakukan sesuatu!”

Dia menatapku lama dan tidak berekspresi. Tatapan itu lagi. Tapi tangannya tidak mengendur sedikitpun mencengkram sikuku. Aku melirik kebelakang dan menemukan taxi yang kupanggil telah pergi meninggalkanku. Seketika tubuhku melemas dan jika saja ia tidak menahan tubuhku mungkin aku akan jatuh di atas aspla yang berdebu.

“Olivia, kau tidak apa-apa?”

Kudengar dia memanggil namaku namun tenagaku tidak cukup kuat untuk menyahut. Aku hanya bisa menatap lurus kedepan tanpa suara. Rasanya aku telah di hempaskan kedasar bumi hingga tubuh da tulang belulangku remuk tak berbentuk.

 

***

 

 

“Semua sudah kau selesaikan?” tanya Richard ketika ia baru saja turun dari lantai dua dimana kamarnya berada. Apartement pria itu memang memiliki dua lantai. Dan lantai dua adalah lantai privacy miliknya. Semua kepunyaan pribadinya ada disana. Karena lantai satu hanya ia gunakan untuk menikmati masakan Philip, koki wanita kepercayaannya.

“Sudah, tapi aku terlambat beberapa menit hingga ada terjadi sedikit kerusakan.” Jelas Alex seperti biasa.

Richard menyecahkan tubuhnya pada sofa berukuran L disana, “Kau sudah memperbaikinya?” tanyanya lagi.

“Aku sudah memesan semua peralatan untuk rumah itu dan sedikit mengisinya dengan beberapa hal yang menurutku penting.” Alex menyerahkan PC tablet yang sedari tadi ia bawa pada Richard.

Pria itu tampak mencermati hasil yang terlah Alex dapatkan. Kepalanya tampak mengangguk puas dengan gumaman kecil. Wajahnya masih begitu tenang tanpa ekspresi, “Ya, kurasa ini sudah cukup. Tapi mungkin setelah ini akan ada permintaan lain.” Ujar Richard dan kembali mengembalikan benda itu.

“Tuan, apa tidak apa-apa kita melakukan hal ini?” tanya Alex hati-hati. Pria ini memang selalu memiliki pemikiran jauh kedepan atas keuntungan dan kerugian Richard di kemudian hari. Hal itu selalu menguntungkan richard dalam masalah bisnis ataupun kehidupannya.

“Maksudmu?”

“Kita belum mencapai kesepakatan dengannya. Dan jika dia menolak, bukankah itu sedikit mempersulitmu.”

Sudut bibir Richard berkedut meski ia tetap tidak menunjukkan senyumnya, “Kita sudah menanam keuntungan dimuka, Alex. Dia tidak akan menolak. Dan jika dia melakukannya maka dialah yang akan mendapatkan kerugian besar.” Jelasnya.

Bibir Alex kembali terkatup sebelum mengutarakan pendapatnya saat suara Philip menginterupsi.

“Mr. William, dia sudah bangun.”

Mata tajam Richard bergerak keatas menatap ujung tangga, “Apa dia sudah cukup kuat untuk berjalan?” tanya Richard yang telah kembali melemparkan pandangannya pada Philip.

“Menurutku sudah. Ia bahkan sudah tidak sabar untuk turun dan mencari tau siapa pemilik rumah ini.”

“Bawa dia kemari.”

Philip mengangguk dan segera beranjak kembali keatas.

Richard masih duduk tenang di tempatnya meski kali ini, jemarinya saling bertemu dan seperti merangkai sebuah piramid. Kedua kakinya saling terbuka lebar hingga siku-sikunya bertumpu diatas paha, menjatuhkan pandangannya kebawah.  Ia memang akan melakukan hal itu ketika gugup akan sesuatu.

“Apa yang membuatmu membawaku kesini?”

Suara pelan dan mendayu itu membuat Richard sontak mengangkat wajahnya. Menemukan Olivia dengan dress tidur yang telah Philip gantikan dikamar tidurnya. Rambut wanita itu tampak sedikit berantaka meski wajah sendunya masih begitu memukau.

Richard bangkit dari tempatnya lalu menenggelamkan kedua tangannya dalam saku celana namun kedua matanya tak lepas dari Olivia, “Philip, terima kasih atas bantuanmu. Kau boleh pergi sekarang.” Perintahnya pada Philip dengan tatapan yang masih melekat pada wajah Olivia.

Diam-diam Olivia meneguk ludah beratnya. Tatapan mata Ricahard benar-benar mengatakan jika pria itu haus akan dirinya. Tapi jika hal itu benar, maka Olivia siap untuk menolak sekaligus menghajarnya. Karena hanya karena itu, ia tidak tau entah apa yang terjadi pada keluarganya.

“Ya, Mr. Willam. Saya mohon pamit.”

Suasana masih terasa sepi setelah Philip pergi meninggalkan mereka bertiga. Ketika suara deheman Alex terdengar, barulah Richard mengubah fokus pandangnya dan beralih pada Alex.

“Kau bisa mulai, Alex.” Suruhnya.

Alex mengangguk dan Richard kembali duduk di tempatnya.

“Miss. Sinclaire, bisakah anda duduk terlebih dahulu?” pinta Alex sopan pada Olivia.

Wanita itu tampak berpikir sejenak sebelum memutuskan duduk si sofa tunggal di samping depan dimana Richard duduk. Ia melirik pria itu sejenak lalu kembali menatap Alex, “Apa yang ingin kau katakan?” tanya Olivia.

“Begini, Mr. will_”

“Richard,” sela Richard. “Panggil saja aku Richard dihadapannya.”

Olivia kembali melirik Richard dari ekor matanya. Pria itu masih menatapnaya dengan segala sikap tenang dan wajah tak berekspresinya.

“Tuan Richard telah membayar uang pinjaman yang dilakukan Sam Diego pada seorang rentenir.”

“Apa?!” pekik Olivia. Ia memandang Richard tak percaya, bagaimana bisa pria itu melakukannya?

“1 juta Dollar. Benar, kan?” tanya Alex.

“Y-ya.”

“Aku di perintahkan Tuan Richard untuk menyelesaikan masalahmu dengannya. Sebelumnya aku minta maaf karena datang sedikit terlambat. Mereka sudah masuk kedalam rumahmu dan mengacau.”

“Yatuhan…” gumam Olivia cemas.

“Tapi aku sudah membereskannya. Rumah dan keluargamu aman saat ini.” kali ini Ales memberikan jawaban yang begitu di butuhkan oleh Olivia.

Olivia yang sedari tadi menahan nafasnya kini dapat mendesah lega. Keluarga dan rumahnya baik-baik saja. Ia tak henti-hentinya bersukur dalam hati. Tapi ketika kedua matanya kembali bertemu pandang pada Richard, pertanyaan besar muncul dalam benaknya.

“Mr. william, a-aku sungguh berterima kasih atas bantuanmu. Tapi… bisa kau memberiku sebuah alasan atas ini semua?”

Richard menarik nafas panjang dan menoleh pada Alex, “Tugasmu selesai, Alex. Kau bisa pergi.” Suruhnya lagi. Alex mengangguk dan segera engkat kaki dari sana. Meninggalkan kedua insan itu berdua. Richard masih membungkam suara untuk beberapa menit hingga keheningan menyelimuti mereka.

“Mr. william…” panggil Olivia pelan ketika rasa dingin menyeruak dalam dirinya.

“Kau bisa mengatakan aku licik untuk ini, Olivia. Tapi apa yang aku lakukan bukan hanya membutuhkan kata terima kasih.” Jelasnya dengan penuh ketenangan dan seperti biasa, suaranya terdengar mendayu.

“Maksudmu?” tanya Olivia tidak mengerti.

“Aku ingin kau,” gores ketegasan tampak pada wajahnya, “Kudengar kau tidak bekerja lagi pada John dan berniat berhenti menjual dirimu. Tapi setelah beberapa jam, kau malah kembali mencari pria itu untuk mengembalikan pekerjaanmu yang kutau kau melakukannya karena uang. Uang untuk membayar uang pinjaman paman berengsekmu itu.”

“Jadi, kuputuskan untuk membantumu melunasinya dan mengembalikan rumah itu padamu. Ah, aku juga sudah mendaftarkan adikmu di sebuah Universitas terkemuka. Kau tidak perlu mengcemaskan malasah pendidikannya lagi.”

“Tapi_”

“Dan semua itu aku lakukan karena aku ingin kau menjual dirimu padaku.”

“Apa?!”

Richard melipat kedua tangannya, “Jika biasanya kau bekerja setiap malam dengan pria yang berbeda, Untuk kali ini aku ingin kau bekerja padaku, hanya padaku. Aku akan membayarmu sebanyak yang kau inginkan, Olivia.” Tawaran yang begitu menarik telah ia berikan. Namun hal yang paling mendebarkan baginya adalah keputusan wanita itu.

“Tu-tunggu dulu, Mr. will_”

“Richard, panggil saja aku seperti itu.” Potongnya.

Olivia menyeka peluh di dahinya, “Aku tidak mengerti. kau-maksudku, bagaimana bisa kau mengetahui segala tentanku begitu banyak? Hutang, keluargaku dan bahkan_”

“Aku memiliki koneksi untuk itu.”

“Dan kau melakukannya untuk mejadikanku pelacurmu?” tandas Olivia.

Rahang Richard kembali mengeras, ia memiringkan kepalanya dan menatap Olivia seksama. “Olivia Sinclair, aku bukanlah pria yang mau meniduri satu wanita lebih dari satu kali. Tapi setelah malam itu, setelah aku bercinta denganmu dan kau mampu membuatku selalu merasa tidak puas dan kembali ingin menyentuhmu. Aku berpikir jika kau harus menjadi milikku.”

“Tapi kau hanya butuh memintaku untuk kembali bercinta dan melewatkan satu malam lagi denganku.”

“Kau bisa menjamin aku akan merasa cukup setelah itu?”

Pupil Olivia membesar seketika mendengarnya. Mengapa pria itu begitu menginginkannya?

“Kuakui, kau berbeda diantara semua pelcur yang pernah bercinta denganku. Untuk itu aku menghargaimu dengan sangat mahal. Jadi,” Richard meluruskan tubuhnya, “Apa jawabanmu?”

Pria itu menatap lekat wajah Olivia, tatapan matanya menunjukkan ketidak sabaran. Dia butuh kepastian dan ada terbesit perasaab cemas jika wanita itu menolaknya.

“Berapa lama?” tanya Olivia dengan suara pelan.

Richard memejamkan kedua matanya sesaat dengan nafas mulai memburu, “Selama aku menginginkanmu. Maka kau akan selalu dan harus menjadi milikku.” Jawabnya.

“Milikmu?” ulang Olivia.

“Jika kau memberikanku jawaban pasti, akan aku jelaskan lebih lanjut.”

Mata Olivia kembali tak fokus. Ia belum menemukan jawaban apapun tapi janji yang disuguhkan Richard begitu menyilaukan. Dengan perasaan tak menuntu kepalanya mengangguk berat.

“Jawabanmu, Olivia.” Bisik Richard penuh penekanan.

Olivia menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, “Ya, aku setuju.”

 

***

 

 

 

“Ini credit card, ATM dan kunci mobil. Lalu ada 4 buku tabungan yang masing-masing atas namamu. Semuanya memiliki nilai yang sama, mulai detik ini itu semua menjadi milikmu.”

Aku menatapnya dengan pandangan tak berkedip. Saat ini kami berada dalam kamar dimana aku mendapati diriku ketika membuka mata. Dia meletakkan semua benda-benda itu diatas meja yang terdapat deretan parfum disana, “I-ini semua… untukku?” tanyaku gugup.

Kepalanya mengangguk kecil, “Kau bebas menggunakannya. Itu semua juga belum termasuk hargamu. Dan kau sebutkan saja berapa maka setiap bulan aku akan mengirimnya dalam tabunganmu.” Jelasnya seakan apa yang ia ucapkan itu begitu tidak berharga.

Apa yang telah kulakukan dimasa lalu hingga Tuhan berbelas kasih sebanyak ini padaku? tapi, bukankah ini semua pasti ada imbalannya? Ya, tubuhku sudah pasti. Dan kuyakin selain itu juga pasti ada, “Lalu syaratmu?” tanyaku langsung.

Ia menggedikkan bahu ringan. “Tidak banyak. Kau harus menuruti semua keinginanku saat aku memintamu melakukan apapun.”

“Seks?” cibirku.

“Untuk saat ini ya.”

“Itu berarti akan ada keinginan selanjutnya?”

“Tentu,” dia menyandarkan tubuhnya pada pinggir meja dengan kedua tangan bertumpu disana. Posenya begitu seksi dan menawan, “Aku tidak suka memakai kondom.”

“Kau tau peraturannya, bukan?” ujarku terkesiap. Aku benci melakukannya tanpa kondom.

“Disini aku yang memiliki peraturan, Olivia. Aku sama sekali tidak suka menggunakan benda itu.”

“Tapi aku tidak ingin_”

“Hamil? Kau tenang saja, kita akan mengurus masalah ini secepatnya. Besok kita akan menemui dokter pribadiku.”

“Bukan hanya itu, tapi aku belum pernah_” Oliva tampak gugup mengatakannya, “Belum pernah ada satu priapun yang memasuki cairannya di dalamku” Desahnya menunduk. Entah mengapa dia merasa sangat malu dan gugup dibwah tatapab tenang milik Richard.

Untuk sesaat Richard tak menjawab tapi setelah itu ia kembali bersuara, “Itu bagus, berarti aku akan menjadi orang pertama.”

Olivia menatapnya kesal, “Itu bukan lelucon!”

“Aku tidak suka kau ditiduri oleh pria manapun saat kau masih menjadi milikku,” sambungnya tanpa mempermasalahkan ketidak setujuan Olivia tentang masalah kondom, “Tidak ada status dalam hubungan kita selain kau hanya sebatas pekerja bagiku, mengerti?”

Olivia memutar kedua matanya malas dan mengangguk.

“Apa kau membutuhkan yang lainnya?” suara Richard kali ini terdengar lebih berat seperti menahan sesuatu.

“Untuk saat ini tidak. Tapi_”

“Baguslah!”

Olivia terkesiap begitu ia merasakan tubuhnya terangkat dari atas lantai. Pinggangnya telah terjamah oleh pria itu hingga ia refleks mengalungkan kedua tangannya pada leher Richrad. Sementara itu otaknya tidak dapat bekerja karena pria itu telah melumat bibirnya rakus namun begitu memabukkan. Ia melumat bibir Olivia seperti orang yang kehausan.

“Rich…” desah Olivia dalam pagutannya.

“Aku menginginkanmu, sekarang!”

 

 

***

 

248 thoughts on “[17/+] Love Story of Olivia

  1. aslinya aslinyaaaaa berasa baca novel terjemahannnnn keren bangetttt cerita nya bagusss!!! ada la jutannya gak sih eonn?? ppengen dongggg keren ihhhh

  2. Aq pndtang bru d sni , bru bca dan yg aku bca itu langsng crita ini , critaa nya kren bnget cpet2 yg d lnjtin nhe baklan jdi novel kh ? Pensaran bnget ma crita slanjut nya , mw bca yg lain tapi bnyak yg d pw , smngat ya thor buat crita love story of olivia mga cpat slesai🙂

  3. Wowww…kereeennn….berasa baca novel luar, pemilihan kata nya jg bagus, jd tdk terkesan terlalu vulgar…ini ada kelanjutannya ato mau di terbitkan jd sebuah buku…pliss info nya

  4. wooww keren bgt ceritanya. dan masih pengin berlanjut lagi. dan aku suka karakter richard. salam kenal dariku reader baru, izin baca-baca yah author.

  5. Wawww, waaww, eonni ini bagus banget epepnya, joha, new reader imnidhae, lagi ngubek2 epep, eh ketemu epep ini, njiirrr eonn, complicated eoh? Ini ada squellnya ora? Apa emang ngegantung, yah kga seru gantung mah–” eonni sekuel juseyo :O hehhehehe😀

  6. Wow ga sengaja terdampar diblog ini😀
    Wkwkwk
    Wowowo aku suka banget!! Wah ada sekuelnya kah? Inu bagus banget kalo dijadiin chapter! Sumpah apalagi karakter Richard suka banget yaaa ampuuuun🙂
    Bdw newbie disini! Salam kenal kak😀

  7. Ini dibuat chapter juga pasti keren eon…
    Berharap aja dah^^
    Kisah olivia buat penasaran gimana nanti hubungan mereka beeakhir..Semoga kamu mau buat sequel ya eonni…^^
    Ditunggu🙂

  8. Yaampun kereenn banget FF nya. Berasa kaya baca novel erotis terjemahan wkwkwk #plak. Btw, ini cuma oneshoot apa chapter?? Ini masih ngegantung bgt. Seharus’y dibikin chapter….. Oke kuharap ini ada kelanjutan’y dan harus dilanjutkan hingga tuntas. Hehe ditunggu next chapternya!

  9. aduh….moga aq ga telat nemu blog ini, sumpah nieh ff bikin merinding..bayanganku Richard tuh si gembul alias kyuhyun….abis gambaran karakternya paaasss bgt sieeh…btw ada next nya??

  10. Huaaaaa kerennn😱…aku kangen banget ama ni ff..udah bolak balik baca tetep nggak bosen2 😃 keren dah pokoknya
    Ada sequelnya nggak kak…aku selalu menunggu karya ff mu kakk 😊

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s