A Beautiful Life 2/2

cf1

Hiruk pikuk suasana di sebuah bar terkemuka disalah satu jalanan Seoul membuat Kyuhyun cukup mengernyitkan dahinya ketika memasuki tempat itu. Masker coklat miliknya sedari tadi tidak lepas melekat menutupi wajahnya. Ia harus berusaha ekstra menutupi penyamarannya karena akan sangat membahayakan jika ada yang tau magnae dari Super Junior itu berada di dalam sebuah bar.

Bau alkohol yang menyengat memang sudah tidak asing lagi baginya yang terkenal dengan peminum hebat. Tapi, kebisingan ditempat itu cukup membuatnya tidak nyaman.

“Dimana pria itu?” gumamnya pelan sembari memeriksa sekelilingnya.

“Hei!”

Sebuah tepukan pelan dirasakan oleh Kyuhyun seiring sapaan yang ia dengar dari belakang tubuhnya. Kyuhyun menemukan Seung Ho berdiri tegak disana dengan wajah yang masih terlihat membengkak akibat ulahnya.

“Ayo ikut aku.” Ajak Seung Ho dingin.

Kyuhyun menaikkan maskernya sebelum melanjutkan langkahnya lagi. Ia mengikuti Seung Ho yang membawanya kesebuah ruangan sepi yang mungkin sengaja disewa pria itu agar bisa berbincang secara leluasa dengan Kyuhyun.

Eh, apa dia berniat balas dendam dan memukuliku disini? Batin Kyuhyun waspada.

“Duduklah.” Tawar Seung Ho padanya.

Kyuhyun melirik ragu padanya, tapi hanya sesaat karena setelah itu ia mengambil tempat di sebrang Seung Ho sembari melepaskan penyamarannya, “Ada apa?” tanya Kyuhyun langsung.

Seung Ho tertawa renyah, “Ada apa? Bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu? Kau yang ingin bertemu denganku, Kyuhyun sshi.” Pria itu memberikan senyum remehnya pada Kyuhyun yang mendesis malas.

“Ya, anggap saja begitu.” Balasnya malas. Dasar Noona, kenapa mengatas namakan aku?

“Jadi,” gumam Seung Ho angkuh, ia melipat kedua kakinya sembari melipat kedua tangannya didepan dada. Tatapannya seakan-akan menertawakan Kyuhyun yang menemuinya. “Ada yang bisa aku bantu, Cho Kyuhyun?”

Kyuhyun membalas tatapan remeh Seung Ho, “Hanya ingin memperjelas sesuatu.” Jawabnya tajam. “Park Seung Ho, aku bukan pria yang suka bertele-tele. Jadi akan aku jelaskan padamu,” Ujaranya tanpa basa-basi. “Aku tidak suka kau masih menyimpan perasaan pada istriku, Park Seung Ho. Itu terlihat sangat menjijikkan.”

Seung Ho tertawa renyah meskipun ia merasa muak mendengar segala makian Kyuhyun padanya. Rasa kesal, marah dan sakit yang Kyuhyun berikan padanya kemarin saja belum sirna.

“Kau tidak berhak membatasi perasaan orang lain.”

“Benar, itu hakmu. Tapi tidak dengan menyukai istriku. Dia milikku dan akan selamanya seperti itu. Aku tidak mengerti kenapa kau beranggapan jika dia tidak bahagia hidup bersamaku, kau mengatakan itu seolah-olah dia tertekan tinggal bersamaku, suaminya. Dan semua ocehanmu itu sudah sangat berpengaruh bagi hubungan kami.” Jelasnya. Garis-garis tegas di sekitar wajahnya mulai terlihat. Wajahnya merah menahan emosi yang selalu tersulut setiap kali melihat wajah Seung Ho yang mengesalkan.

“Oh, jadi kalian bertengkar karena malam itu?” cibir Seung Ho. Ia tertawa puas mendengarnya.

“Kurasa luka-luka itu masih belum sembuh, jadi jangan buat aku berniat semakin memperburuk keadaan wajahmu.” Ancam Kyuhyun.

Seung Ho menghentikan tawanya seketika, cukup takut dengan ancaman yang Kyuhyun berikan. “Jadi kau datang menemuiku hanya untuk mengatakan hal ini?”

“Tidak, tentu saja. Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu.”

“Apa?”

“Selama apa kau pernah menjadi kekasih Je Wo?”

“Apa itu masih penting saat ini?”

“Sangat! Karena memikirkan hubunganmu dan istriku aku hampir gila.”

Wajah Seung mendingin seketika, tatapannya berubah tajam persis seperti Kyuhyun, “Inilah alasannya kenapa aku membencimu, Cho Kyuhyun.” Ujaranya tenang.

“Apa?” gumam Kyuhyun terkesiap.

Seung Ho mendengus kasar, “Kau egois. Seingatku sudah pernah aku katakan,” serunya. “Kau hanya menuruti pikiranmu tapi tidak mau mendengarkan suara orang lain.”

“Kau tidak tau apapun mengenai aku.”

“Aku sudah cukup tau sejak malam itu,” potong Seung Ho, “Saat istrimu berteriak memintamu berhenti memukuliku, apa yang kau lakukan? Tidak sedetikpun kau mendengarkan teriakannya. Saat Je Wo mencoba menahanmu agar memukuliku, apa yang kau lakukan? Kau malah menyalahkannya bahkan menuduh yang tidak-tidak padanya.” Tatapan Seung Ho kian menajam seperti belati yang siap menguliti Kyuhyun.

“Kau berteriak di depanku dengan sangat lantang jika dia istrimu, tapi dengan sangat hebatnya kau juga mempermalukannya di depan kami semua. Membentaknya dan menyalahkananya, apa menurutmu saat itu kau sangat mencintai istrimu, Kyuhyun sshi?”

Kyuhyun membeku, sekali lagi Seung Ho dapat menamparnya secara tidak langsung. Bahkan rasa sakitnya melebihi rasa sakit yang mungkin ia rasakan jika pria itu benar-benar melakukan itu.

“Aku dan dia hanya masa lalu, seharusnya kau bisa berpegangan dengan itu. Kau terpancing dengan aku yang selalu memperhatikan istrimu dan juga foto itu, kan? Disana sudah sangat jelas jika Je Wo tidak bersalah, tapi nyatanya kau menyalahkannya.”

“Jujur saja, aku memang masih belum bisa melupakan Je Wo. Kami cukup lama berhubungan dan hingga saat ini hanya dia wanita yang selalu membekas pada diriku. Aku sadar aku bersalah malam itu, tidak seharusnya aku berusaha menarik kembali perhatiannya.”

“Bagus kalau kau mengerti.” Balas Kyuhyun ketus.

Seung Ho kembali tertawa renyah, “Ya, aku mengerti. Tapi kau, bagaimana? Apa sekarang kau sudah mengerti?” sindir Seung Ho.

“Itu bukan urusanmu.” Jawab Kyuhyun tajam.

Seung Ho tertawa hambar, melipat kedua kakinya angkuh dengan tatapan lurus kedepan, “Tidak ada, tidak ada satu alasan apapun kenapa aku bertahan hidup bersama Kyuhyun. Karena aku hanya ingin dia yang berada di sisiku, hanya ingin dia yang menjadi suamiku. Hanya dia yang membuatku bertahan. Walaupun banyak pria yang dapat memberikan kehidupan padaku yang lebih baik dari kehidupanku saat ini, aku akan menolaknya. Bagiku, tidak ada satu pria mana pun di dunia ini yang dapat membahagiakan aku kecuali Kyuhyun. Tidak kau dan tidak siapapun. Hanya Kyuhyun, hanya dia yang aku inginkan.” Ucapnya.

Kyuhyun mengernyitkan dahinya bingung mendengar kalimat demi kalimat yang Seung Ho utarakan.

Park Seung Ho melirik Kyuhyun dengan tatapan tajamnya, “Itulah yang dikatakan Je Wo saat kau pergi meninggalkannya. Setelah apa yang kau lakukan padanya bahkan mempermalukannya di hadapan kami semua. Dia masih menjunjung tinggi namamu, Cho Kyuhyun sshi.”

****

Kyuhyun membenamkan wajahnya frustasi diatas kemudi mobil. Kepalanya terasa berputar tak berhenti dengan segala ucapan Seung Ho. Dadanya terasa sesak, ia ingin berteriak detik ini juga tapi tidak bisa bersuara.

Tangannya beregerak malas merogoh saku jasnya. Mengambil ponsel miliknya dan lagi-lagi ia melakukan hal yang sama. Memandangi wajah Je Wo dari sana. Lama ia melakukan kegiatan itu hingga ada sesuatu yang membuat ia tersentak, sesuatu yang membuat garis-garis rahangnya kembali mengeras.

Setelah itu ia segera menghubungi seseorang tanpan rasa sabar.

“Ya Noona, ini aku. Ada yang ingin kukatakan.”

****

Suara bel apartement membuat Je Wo berlari-lari kecil menuju pintu. Sebuah celemek masih melekat di pakaiannya. Seperti biasa, wanita itu harus selalu berkutat di dapur untuk memasak sesuatu yang akan menjadi sarapan pagi mereka. Pagi ini ia juga akan melewati sarapan paginya berdua bersama Hyunje. Kyuhyun sama sekali tidak memberi kabar setelah pertengkaran mereka.

“Eo, Eonnie?”

Cho Ahra tersenyum lembut padanya. Ia melirik sebuah celemek yang masih Je Wo kenakan, “Kau sedang memasak?” tanya gadis itu.

“Eum, masuklah.”

Ahra mengikuti Je Wo dari belakang. Kepalanya mengitari sekeliling seperti mencari sesuatu, “Hyunje dimana?” tanya Ahra pelan.

“Ada di kamar sedang bermain dengan PSP miliknya,” Je Wo menatap Ahra curiga. “Ada apa kau datang sepagi ini?”

Ahra tampak sedikit tersentak mendengar pertanyaan Je Wo. Sejak tadi wajah gadis itu memang sedikit berbeda. Seperti menyembunyikan sesuatu, “Aku_ ada yang ingin kukatakan padamu.” Ujarnya pelan.

Alis Je Wo sedikit terangkat, perasaannya perlahan mendadak buruk, “Tentang Kyuhyun?” tebaknya.

Ahra mengangguk lirih. Ia melangkah ragu mendekati sofa lalu merebahkan dirinya disana, “Duduklah. Masalah ini begitu penting.” Suruhnya.

Wanita itu ingin menolak. Entah kenapa ia seperti sudah mengetahui apa yang ingin di katakan Ahra padanya. Ia yakin jika masalah yang akan dikatakan kakak iparnya itu pasti akan membuatnya semakin kacau, “Katakan saja, Eonnie. Aku tidak apa-apa.” Jawabnya sebiasa mungkin. Meskipun kepalanya terasa berdenyut perih.

Ahra mendesah pasrah. Ia tau disaat seperti ini tidak mungkin bisa memaksa Je Wo seperti biasanya. Gadis itu memalingkan wajahnya dari Je Wo. “Tadi malam Kyuhyun meneleponku.” ujarnya pelan.

“Lalu?” potong Je Wo tak sabar.

“Dia sudah bicara pada Seung Ho tadi malam. Aku yang menyuruhnya dan dia menurutiku. Kupikir setelah itu semua akan selesai dan dia mengerti kalau semua ini hanya kesalah pahaman. Tapi sepertinya perkiraanku salah.”

Je Wo mengatup rapat kedua bibirnya yang bergetar. Kedua tangannya meremas kuat ujung baju yang ia kenakan. Hatinya menunggu dengan tidak sabar kalimat apa yang akan Ahra lontarkan selanjutnya.

Ahra menatap Je Wo sesal, “Maafkan aku. Tapi Kyuhyun memutuskan untuk bercerai darimu.” Ujarnya lirih.

Kedua mata Je Wo sontak terpejam erat. Air matanya mendesak keluar tapi ia berusaha menahannya sekuat tenaga. Ia tampak sulit bernafas dengan baik, terlihat dari mulutnya yang berusaha mengambil pasokan oksigen sebanyak mungkin.

“Je, kau tidak apa-apa?” suara Ahra terdengar begitu panik.

Je Wo membuka kedua matanya, “Tidak. Aku tidak apa-apa, Eonnie.” Jawabnya berusaha tampak tenang. Tapi suara bergetar itu tidak membuat Ahra yakin jika wanita itu baik-baik saja.

“Aku sudah berkali-kali menasehatinya dan berusaha mengubah pendiriannya tapi kau tau bagaimana kerasnya Kyuhyun, kan? Aku minta maaf, Shin Je Wo. Demi Tuhan, hanya kau yang aku inginkan menjadi istri dari adikku.” Jelas Ahra.

Je Wo tersenyum kecil dengan wajahnya yang tampak memucat, “Sudahlah, semuanya sudah terjadi, kan? Lagi pula memang aku yang mengusulkan perceraian itu pada Kyuhyun. Jadi dia juga tidak sepenuhnya bersalah.” Ucapnya.

Sesaat Ahra maupun Je Wo tidak saling berbicara. Terlalu larut dalam pikiran masing-masing. Je Wo bahkan masih berdiri tegak ditempatnya.

“Omma…”

Je Wo menoleh kebelakang, ada Hyunje yang sudah berdiri di belakangnya, “Ya?” gumam wanita itu lesu.

Hyunje melirik pada Ahra, “Ahjuma ada disini?” tanya bocah itu.

Ahra mencoba untuk tersenyum sambil mengangguk.

“Ahjuma, apa Appa juga datang bersamamu?” tanya Hyunje bersemangat. Akhir-akhir ini dia memang terlalu jarang bermain bersama Kyuhyun. Kalaupun pria itu pulang, ia pasti hanya menemukan perdebatan Kyuhyun dan Je Wo.

Ahra menggeleng dengan wajah bersalah dan membuat Hyunje mendesah kecewa.

“Hyunje-ya, pergi kedapur. Omma sudah menyiapkan sarapan pagimu.” Suruh Je Wo. Ia maish ingin berbicara pada Ahra dan tidak memungkinkan jika Hyunje berada disana.

“Tidak usah, Je.” Potong Ahra. Gadis itu kembali menatap Je Wo ragu. “Kyuhyun bilang, dia ingin bertemu dengan Hyunje pagi ini. Dia ingin menjelaskan sendiri pada Hyunje mengenai_”

“Tidak!” geram Je Wo, “Apa yang dipikirkannya? Menjelaskan masalah sebesar itu pada Hyunje yang bahkan tidak mengerti apa-apa. Aku tidak mempermasalahkan apa yang terjadi diantara kami karena saat ini aku kurasa kami memang sudah benar-benar selesai.” Ucapnya tegas dengan wajah memerah.

Ahra tampak menegang di tempatnya menatap wajah emosi Je Wo.

“Katakan padanya dia tidak usah cemas. Aku sendiri yang akan mengatakan pada Hyunje mengenai masalah ini dengan caraku. Dia hanya butuh menyelesaikan semua yang di perlukan setelah itu aku akan menandatangani surat itu dan keluar dari rumah ini.”

“Tapi setidaknya biarkan dia bertemu dengan Hyunje hari ini, Shin Je Wo. Pria itu juga merindukan anaknya. Sudah berhari-hari dia tidak memiliki waktu untuk bertemu dengan Hyunje.” Balas Ahra.

“Memangnya siapa yang membuat dia jarang bertemu Hyunje akhir-akhir ini, Eonnie? Apa aku? Dia sendiri yang menginginkan itu.”

“Tapi bagaimana pun juga, Kyu_”

“Katakan padanya! Jika dia ingin bertemu Hyunje maka dia harus datang kesini. Aku tidak akan pernah melarangnya untuk bertemu dengan Hyunje meskipun aku sudah terlalu muak melihat wajahnya.”

Wajah Ahra tampak terkejut mendengar teriakan Je Wo. Gadis itu menelan ludah berat melihat bagaimana emosinya Je Wo saat ini. Wajah gadis itu merah padam dengan rahangnya yang mengeras.

“Omma…” panggil Hyunje dengan suara bergetar menahan takut.

Ahra melirik bocah itu yang tampak memucat di tempatnya sembari memandang Je Wo. Gadis itu kembali melirik adik iparnya yang tidak menoleh sedikitpun pada Hyunje.

“Omma, ada apa?” tanya Hyunje lagi.

“Tidak ada, Hyunje-ya. Oh iya, kau belum makan, kan? Mau Ahjuma temani?” tawar Ahra manis.

Hyunje menggeleng kuat. Ia melangkah mendekati Je Wo, menarik ujung baju Ibunya. “Omma baik-baik saja?”

Je Wo menunduk, menemukan wajah cemas Hyunje yang memucat. Ia berusaha menyunggingkan senyumnya, “Ya, Omma baik-baik saja. Kami tidak bertengkar. Sebaiknya kau pergi makan, sebentar lagi Appa akan datang menjemputmu.” Jelas Je Wo.

“Appa?”

“Eum.”

“Omma akan ikut, kan?”

“Tidak, Omma memiliki sedikit urusan penting hari ini.”

Wajah Hyunje tampak murung mendengarnya. Bocah itu tau jika sesuatu telah terjadi. Ya, melihat bagaimana emosinya Je Wo saat berbicara dengan Ahra.

***

Shin Je Wo duduk termenung diatas ranjangnya dengan kepala tertunduk. Pikirannya berkecamuk. Seperti ada sebuah batu besar yang menimpa tubunya hingga ia sulit untuk sekedar bernafas. Kali ini ia merasa jika pernikahannya akan segera berakhir. Kyuhyun sudah memutuskan untuk bercerai darinya. Sekalipun ia tidak menginginkan perpisahan itu, tapi dirinya tetap tidak akan pernah menolak. Sekali lagi, keegoisan dalam dirinya tak kunjung sirna.

Berkali-kali wanita itu mendesah gusar. Kedua tangannya sesekali mengusap kasar permukaan wajahnya. Entah sudah berapa lama ia berdiam diri disana sejak Ahra meninggalkan Apartement mereka. Ia bahkan belum melepas celemek yang tadi ia gunakan ketika memasak.

“Omma…”

Je Wo tersentak ketika mendengar panggilan Hyunje. Bocah itu berdiri di ambang pintu dengan wajah cemas.

“Ya?”

“Ada Appa diluar.”

Jantungnya berdenyut perih ketika mendengar itu. Kyuhyun berada disana. Pria yang telah berhari-hari ini selalu memenuhi isi kepalanya ada di tempat yang sama dengannya. Entah kenapa ia merasa takut. Rasanya ia belum siap jika harus bertemu dengan Kyuhyun saat ini. Je Wo tampak ragu ditempatnya. Ia bahkan masih membiarkan Hyunje berdiri mematung disana dengan wajah menunggu.

“Omma?” panggil Hyunje lagi.

Je Wo mencoba berdiri, kepalanya terasa pusing. Wanita itu mengambil nafas panjang dan membuangnya perlahan. Kemudia tersenyum kecil pada Hyunje dan pergi menemui Kyuhyun.

Je Wo menemukan Kyuhyun berdiri sembari menyandar pada sebuah Sofa. Tangannya tenggalam dalam saku celana. Kepala pria itu tertunduk dalam hingga ia tidak menyadari keberadaan Je Wo disana.

“Appa!” panggil Hyunje menyadarkan Kyuhyun yang tampak termenung.

Pria itu menoleh. Kedua matanya sempat melebar ketika menemukan Je Wo berdiri di samping Hyunje. Rahang pria ini tampak mengeras seperti menahan sesuatu. Tangannya terkepal kuat di sisi-sisi tubuhnya namun ia tetap tidak bergeming ditempatnya. Kedua orang itu hanya saling pandang satu sama lain dengan perasaan tak menentu. Hanya Hyunje yang menatap kedua orang tuanya secara bergantian dengan tatapan tidak mengerti. Ia tau jika sesuatu sedang terjadi diantara mereka tapi tidak tau entah apa itu.

“Kenapa hanya berpandangan seperti itu?” gumam Hyunje menyadarkan kedua orang tuanya, “Omma, bukankah kau sangat merindukan Appa? Lihat, dia sudah datang. Apa lagi yang kau tunggu?” sindir bocah itu. Biasanya, ia akan mendengar teriakan Je Wo dan tawa kuat Kyuhyun. Tapi kali ini tidak. Kedua orang tuanya masih tidak bergeming dan hal itu membuat dahi Hyunje mengerut bingung, “Kalian masih bertengkar?” tanya Hyunje lirih.

Kyuhyun berdehem pelan untuk sekedar mencairkan suasana dan juga menetralkan dirinya. Ia tersenyum kecil pada Hyunje, “Tidak. Ah, kau sudah berkemas? Kita berangkat sekarang.” Ujarnya yang sesekali melirik Je Wo.

“Sebentar, aku belum menyiapkan perlengkapannya.” Kali ini Je Wo yang bersuara sembari berjalan memasuki kamar Hyunje.

Kyuhyun menatap punggung itu dengan wajah penuh rasa bersalah. Lalu kedua kakinya bergerak begitu saja mengikuti kemana Je Wo pergi. Kini ia bediri di ambang pintu kamar Hyunje sembari memperhatikan Je Wo yang berjalan kesana kemari untuk menyiapkan perlengkapan Hyunje. Wanita itu membuka lemari pakaian, mengambil beberapa potong baju ganti yang mungkin akan di perlukan bocah itu. Pada saat tangannya ingin menarik sebuah baju, Kyuhyun dapat melihat tangan itu gemetar hebat hingga Je Wo hanya menyentuhkan jemarinya pada Baju itu.

Cho Kyuhyun melangkah cepat menghampiri Je Wo, meraih jemari istrinya dan menggenggamnya lembut hingga Je Wo cukup terkejut ketika menyadarinya, “Kau gemetaran.” Gumam Kyuhyun pelan.

Saat itu juga bendungan bening terlihat di kedua mata Je Wo. Namun wanita itu memalingkan wajahnya segera dan kembali menarik tangannya, kemudian melanjutkan apa yang tadinya ingin ia kerjakan, “Aku tidak apa-apa. Tunggu saja diluar, sebentar lagi aku selesai.” Ujarnya ketus.

Kyuhyun mendesah panjang, “Mungkin ini yang terbaik bagi kita. Maaf jika aku menyakitimu.” Gumamnya lagi. Suaranya terdengar teramat pelan di telinga Je Wo.

Wanita itu berbalik, melayangkan tatapan dinginnya seperti biasa, “Kau kesini untuk membawa Hyunje, kan? Kupikir bukan saat yang tepat untuk membahas masalah perceraian saat kau ingin melepas rindu padanya. Lagi pula tidak perlu merasa bersalah padaku, Cho Kyuhyun. Hanya segera selesaikan apa saja yang butuh kau selesaikan, setelah itu kita kembali pada hidup masing-masing.” Ia mengambil tas kecil dan memasukkan beberapa perlengkapan Hyunje kesana. Berusaha tidak menghiraukan keberadaan Kyuhyun yang saat itu bagai membatu.

“Ini,” ia menyerahkan tas kecil itu pada Kyuhyun, “Pulangkan dia sebelum malam dan jangan mengatakan apa pun padanya tentang perceraian kita. Biar nanti aku yang mengatakan padanya.” Ujarnya lantang.

Wajah Kyuhyun tampak mengeras, “Sepertinya kau sangat siap bercerai dariku.” Desis Kyuhyun.

Sebelah alis Je Wo terangkat sinis, “Kenapa aku harus tidak siap? Kau tau aku sangat menyukai tantangan, bukan?” Cibirnya. Ia melipat kedua tangan di depan dada.

“Jadi kau beranggapan perceraian ini adalah sebuah tantangan?”

“Eum, benar,” kepalanya mengangguk yakin, “Tapi bercerai darimu bukan hanya tantangan bagiku. Melainkan sebuah takdir Tuhan yang membahagiakan karena aku akan segara terlepas dari pria berengsek sepertimu.” Tatapan matanya seakan sudah sangat siap untuk membunuh Kyuhyun detik itu juga. Jika saja ia tidak memikirkan Hyunje disana, mungkin saja ia akan memancing Kyuhyun agar kembali bertengkar dengannya.

“Oke, kupikir sebaiknya aku segera pergi. Maaf mengganggumu.” Kyuhyun segera angkat kaki setelah itu. Meninggalkan Je Wo yang berdiri mematung ditempatnya. Menurutnya, dia dan juga Kyuhyun memang sudah tidak dapat lagi bersama melihat apa yang selalu terjadi setiap kali mereka berdekatan.

Je Wo kembali kekamarnya. Mengambil ponsel miliknya dan berniat menelepon seseorang. Namun baru saja ia menyentuh ponsel itu deringan ponselnya terdengar dan menampakkan sebuah nomer tak di kenal.

“Yeoboseo?”

Apa ini kau?

            Dahi Je Wo mengernyit, “Siapa ini?” tanyanya.

Seung Ho.

Ia meneguk ludah beratnya seketika. Baru saja ia berniat menelepon Saera untuk meminta nomer ponsel Seung Ho karena saat ini ia butuh teman bicara dan yang terlintas di kepalanya hanya nama pria itu.

“K-kau, bagaimana tau nomer ponselku?”

Nanti saja aku katakan. Sekarang aku ingin bertemu denganmu, apa kau ada dirumah saat ini?

“Ne?”

Kalau kau dirumah, biar aku yang datang kerumahmu.

Je Wo terkesiap, “Jangan!” pekiknya tiba-tiba.

Wae? aku tidak boleh kerumahmu?

“Bu-bukan begitu, tapi_”

Ah, apa Kyuhyun ada disana?

“Kyuhyun?” ulangnya. “Tidak.”

Lalu kenapa melarangku datang.

Je Wo menggigit bibir bawahnya ragu, Benar, kenapa aku melarangnya datang? Bukankah Kyuhyun tidak ada dirumah saat ini dan lagi kami akan segera bercerai. Persetan dengan pria itu!

            “Baiklah, kau datang saja kerumahku. Aku juga butuh teman bicara saat ini.”

Oke, tunggu aku. 15 menit lagi aku akan segera sampai disana.

Alis Je Wo kembali terangkat, “Park Seung Ho. Ngomong-ngomong, kau tau dimana alamat rumahku?” tanyanya ragu.

Hahaha, aku tau.

“Dari mana kau tau.”

Sudah kubilang, nanti akan aku katakan. Sudah ya, aku tutup.

 

***

Hanya butuh 10 menit bagi Je Wo untuk bersiap-siap. Wanita ini berniat mengajak  Seung Ho pergi keluar saat pria itu tiba. Otaknya mungkin mulai gila karena masalahnya dan Kyuhyun hingga terbesit dalam pikirannya untuk kembali bertemu dengan Seung Ho yang teramat jelas masih menyimpan perasaan padanya. Sebut saja dia gila, tapi memang seperti itulah wanita ini jika sedang dalam keadaan frustasi.

TING TUNG.

Bunyi bel apartement membuat ia seakan bersorak girang. Ia segera menyambar tas tangannya dan berlari kecil menuju pintu untuk membukanya, “Hai!” sapanya girang saat wajah Seung Ho terlihat.

Park Seung Ho mengernyitkan dahinya mendapati wajah ceria wanita itu. Ia mengamati Je Wo yang sudah tampil rapi dengan pakaian yang terbilang cukup seksi siang ini, “Kau… ingin pergi?” tanya Seung Ho.

Kepala Je Wo mengangguk kuat.

“Dengan siapa?”

“Kau, memangnya siapa lagi?”

Seung Ho mengerjap berkali-kali, “Aku?” gumamnya, “Tapi aku baru saja tiba.”

“Tidak masalah. Kau membawa mobil, kan?”

“Ya.”

“Kalau begitu kita pergi sekarang. Aku butuh udara segar saat ini.” Je Wo menyambar lengan Seung Ho dan menggandengnya keluar apartement.

“Yah, tunggu dulu. Kenapa tiba-tiba kau jadi seperti ini?” tanya Seung Ho dengan keringat dingin yang mulai membanjirinya. Matanya tak henti melirik lengan Je Wo yang melingkar di lengannya. Belum lagi penampilan wanita itu yang begitu membuatnya semakin tak nyaman. Je Wo memakai dress mini berwarna coklat muda yang memiliki panjang sebatas lutut. Dress tanpa lengan dan memiliki belahan dada yang begitu pendek hingga jika saja Seung Ho berniat untuk melirik kebagian itu maka ia sudah dapat melihat sesuatu yang penting disana.

Je Wo tidak mengindahkan ocehan Seung Ho yang berusaha menghentikan langkahnya. Namun pada akhirnya, langkahnya terhenti begitu saja saat ia berjalan menuju lift yang mulai terbuka dan menampakkan sosok pria yang menjadi alasannya berbuat gila saat ini. Kedua mata pria itu membulat sesaat ketika baru saja melangkah keluar lift dan menemukan Je Wo tengah menggandeng mesra Seung Ho. Lalu beberapa detik setelahnya raut wajahnya berubah begitu mengerikan seiring ia melangkah lebar mendekati keduanya.

Seung Ho yang melihat itu membatu di tempatnya dan ia dapat merasa cengkraman Je Wo menguat. Ia juga mendengar nafas Je Wo yang tercekat ketika pria itu semakin mendekat kearah mereka.

“Apa yang kau lakukan disini?”

Geraman itu membuat Seung Ho berkali-kali meneguk ludahnya untuk sekedar membasahi tenggorokannya yang mengering, “A-aku…” Seung Ho berusaha melepaskan lengan Je Wo darinya.

“Apa pun itu bukan urusanmu, Cho Kyuhyun.” Sela Je Wo. Ia semakin merapatkan dirinya pada Seung Ho meskipun saat itu kedua kakinya sudah hampir tidak dapat berdiri karena lemas. Tidak bisa di pungkiri, ia sangat takut jika nanti Kyuhyun kembali mengamuk melihatnya yang bergandengan mesra bersama Seung Ho. Namun bukan Shin Je Wo namanya jika tidak berniat semakin memperkeruh suasana dengan membuat pria itu semakin kesal.

Je Wo melemparkan senyum angkuhnya, “Maaf, kami harus segera pergi.” Ujar Je Wo tanpa menghiraukan tatapan membunuh pria itu. Ia menarik lengan Seung Ho cepat agar mereka segera menghindar dari Kyuhyun. Sayangnya, sebelah lengan bebasnya kini ditarik paksa kebelakang hingga rangkulan lengannya pada Seung Ho terlepas dan tubuhnya terhempas pada tubuh Kyuhyun.

“Yah!” teriaknya marah, menepis cengkraman Kyuhyun dan melayangkan tatapan murkanya pada Kyuhyun. Belum lagi ia sempat mengeluarkan umpatan kesalnya, Kyuhyun lebih dulu menarik lengannya dan menggeretnya paksa memasuki lift. Tatapan pria itu begitu dingin meski tidak ada secercah emosi disana.

“Apa yang kau lakukan?! Aku harus kembali pada Seung Ho!!” teriak Je Wo kuat didalam lift.

Kyuhyun yang tadinya hanya menatap lurus kedepan, kini menoleh tajam padanya, “Kembali? Langkahi dulu mayatku.” Cemo’ohnya.

Je Wo membuang nafas kasar. “Jangan bersikap seolah-olah aku masih milikmu, Cho Kyuhyun. Kita telah selesai.”

Kyuhyun menggeram, “Kau masih milikku dan kita sama sekali belum selesai.” Matanya mengkilat dan kali ini kemarahan itu jelas terlihat.

“Kau kira aku_”

“Tutup mulutmu!!” bentaknya hingga Je Wo tersentak dan tak mampu kembali berbicara.

Kilatan mata Kyuhyun benar-benar menggambarkan bagaimana emosinya saat ini. Dan Je Wo yakin jika ia tidak menurut maka entah apa yang akan terjadi padanya sebelum lift itu terbuka.

***

“Masuk!”

Je Wo membuang muka tak peduli. Kyuhyun telah membukakan pintu mobil untuknya tapi dia bersikeras tidak ingin menurut, “Aku tidak ingin pergi denganmu.” Jawabnya angkuh.

“Jangan membuatku harus memaksamu, Shin Je Wo.”

Je Wo memiringkan wajahnya agar berhadapan pada Kyuhyun, “Kau tidak berhak memaksaku. Kukatakan sekali lagi, hari ini aku dan Seung Ho memiliki janji pergi bersama. Aku tidak berminat pergi bersamamu karena aku sangat amat ingin pergi dengannya. Hanya dengannya, kau paham?” geramnya.

Kyuhyun menghela nafas berat. Lalu tiba-tiba saja tangannya bergerak cepat mendorong tubuh Je Wo hingga wanita itu terjatuh pada bangku di sebelah kemudi. Setelah itu Kyuhyun segera berlari masuk ketempatnya sebelum Je Wo kembali berulah. Ia menekan kunci otomatis dan mejalankan mobilnya.

“Yah turunkan aku, bodoh!! Aku tidak mau pergi denganmu!!” teriak Je Wo kuat. Ia mencoba membuka pintu mobil itu namun sia-sia. Otaknya tak ingin menyerah begitu saja, ia mencari ponsel dalam tasnya dan menghubungi seseorang.

Kyuhyun melirik Je Wo yang tampak menunggu dengan tak sabar.

“Ah, Ho-ya! Kau masih disana? Benarkah? Kalau begitu_”

Dalam sekejap ponsel itu telah berpindah tangan. Kini Kyuhyun mematikan ponsel Je Wo dan mencampakkannya pada bangku penumpang.

“Cho Kyuhyun, kau_ KYAAAAAA”

Shin Je Wo berteriak nyaring. Tangannya sibuk mencari sabuk pengaman. Pria yang tengah menyetir itu berhasil membuatnya bungkam dengan menambahkan kecepatan mobil 2 kali lipat hingga gadis itu menjerit histeris. “Pelankan mobilnya! Kau ingin membunuhku?!” bentak Je Wo setelah memasang sabuk pengannya.

“Jika kau masih mengoceh maka kita akan mati bersama.” Jawab Kyuhyun dingin dan datar.

Je Wo ingin membalas ucapan itu namun ia segera mengatupkan bibirnya. Wanita itu belum berniat mati saat ini. Jadi ia lebih memilih menurut dan segera keluar dari mobil suaminya.

Tidak ada satu percakapan pun yang terjadi pada mereka. Kyuhyun mulai menormalkan kecepatan mobilnya hingga Je Wo dapat bernafas lega. Wanita memilih menatap keluar jendela agar tidak bertemu pandang dengan suaminya. Beberapa menit terlewati dan kini mobil Kyuhyun memasuki sebuah hotel di daerah Incheon. Mobilnya berhenti dan pria itu segera menyambar ponselnya dan terlihat menguhubungi seseorang.

“Ya, aku sudah sampai. Bagaimana dengan kalian?”

Je Wo yang mendengarnya hanya mendesah malas. Dia tidak tau apa tujuan pria itu membawanya kesana dan hal itu sama sekali tidak membuatnya tertarik. Baginya ia hanya ingin segera terbebas dari pria itu dan segera pergi. Wanita itu tersadar dalam lamunannya ketika pintu mobilnya terbuka dan Kyuhyun mengulurkan sebelah tangannya.

“Ayo turun.” Perintah pria itu. Kali ini suaranya terdengar rendah.

Je Wo melirik uluran tangan itu dan segera menepisnya. Ia tidak ingin keluar dari sana atas bantuan Kyuhyun, “Mau apa kau membawaku kemari?” tanyanya ketus.

Kyuhyun mendesah panjang, “Ikuti saja aku, nanti kau juga tau.” Jawabnya malas.

Je Wo menyipitkan kedua matanya. “Apa didalam sana kita akan melakukan proses perceraian?”

“Kalau pun aku berminat, maka aku tidak akan melakukannya ditempat sebagus ini.” Kyuhyun meraih jemari Je Wo dan segera menarik paksa wanita itu mengikutinya. Ia sama sekali tidak terpengaruh oleh Je Wo yang berusaha melepas genggaman tangannya. Pria itu kini membawa Je Wo kelantai 10 dan keduanya berjalan mendekati sebuah pintu besar di ujung lorong. Ada dua orang petugas yang memakai jas formal berdiri disana.

“Selamat datang, Tuan dan Nyonya.” Sapa mereka sopan.

Kyuhyun mengangguk kecil dengan seulas senyum. Lalu melirik Je Wo yang tampak menguap lebar. Ia menggelengkan kepalanya pelan dan kembali menarik wanita itu memasuki ruangan. Ruangan itu ternyata sangat gelap hingga saat pintu kembali tertutup, Je Wo mengeratkan genggaman tangannya pada Kyuhyun.

“Kau takut?”

Ia dapat mendengar Kyuhyun berbisik pelan.

“Tidak!” jawabnya ketus meski ia berbohong.

Lalu tiba-tiba saja lampu hidup dan….

“Surprise!!!!”

Shin Je Wo terperangah menemukan kelima temannya berhamburan kearahnya. Ia tidak mengerti bagaimana bisa kelima orang yang beberapa hari lalu bertemu dengannya dalam acara reuni muncul disana. Wajahnya menatap satu persatu teman-temannya dengan raut bingung, “Ke-kenapa kalian ada disini?” tanya Je Wo seperti orang bodoh.

“Selamat ulang tahun!!!”

Kedua matanya melebar seketika. Ia sama sekali tidak mengira jika hari ini adalah hari ulang tahunnya. Mengingat segala masalah yang terjadi dalam rumah tangganya akhir-akhir ini. Mana mungkin ia bisa mengingat hal yang tidak begitu penting menurutnya.

“Hahaha, kau terkejut, eo? Kami semua kembali berkumpul berkat suamimu. Dia mengatakan akan mempertemukan kita kembali untuk menebus kesalahannya waktu itu sekaligus merayakan hari ulang tahunmu” Jawab Saera.

“Aku bahkan sangat terkejut ketika ia datang kerumahku.” Timpal Tae Sun dan setelah itu mereka mulai bercerita bagaimana Kyuhyun kembali mengumpulkan mereka disana dalam hitungan jam. Mereka semua saling memeluk Je Wo dan mengucapkan selamat padanya meski wanita itu masih dalam keadaan shock.

Je Wo masih tidak mengerti dengan penjelasan teman-temannya. Menurut penjelasan teman-temannya, Kyuhyun yang melakukan hal ini. Tapi alasannya apa? Bukankah mereka sedang bertengkar dan telah memutuskan bercerai? Mengapa pria itu mau bersusah payah melakukan ini semua? Dia sama sekali tidak mengerti dan bahkan sudah tidak lagi mendengarkan ocehan teman-temannya.

“Kalian berlebihan.”

Je Wo melirik kebelakang bahunya. Kyuhyun telah berdiri tepat di belakangnya.

“Aku hanya ingin membayar perlakukanku beberapa waktu yang lalu. Sepertinya pertemuan kalian berantakan karena ulahku. Maka itu, sekarang bersenang-senanglah.”

Shin Je Wo tau Kyuhyun mengatakan hal itu untuknya meski pria itu tidak menatapnya saat mengatakan kalimat itu. Ia semakin tidak mengerti apa maksud Kyuhyun sebanarnya.

“Lagi pula…” Je Wo seakan melemas ketika lengan Kyuhyun melingkari pingganggnya, “Hari ini adalah hari besar untuk istriku. Jadi tidak ada salahnya jika aku melakukan ini.” Je Wo berkeringat dingin merasakan ujung dagu Kyuhyun menyentuh bahu telanjangnya dan deru nafas pria itu menyapu disekitar sana. Membuat semua orang disana memekik iri dengan sikap manis Kyuhyun. Tapi tidak dengan Je Wo, wanita ini tampak semakin tidak mengerti dengan keadaan yang Kyuhyun ciptakan.

“Apa pestanya telah dimulai? Kuharap aku tidak terlambat untuk itu.”

Sebuah suara berhasil membuat mereka semua menoleh pada pintu dan menukan Seung Ho berdiri disana dengan senyuman kecil.

“Ho-ya?” gumam Je Wo dengan kedua mata yang kembali melebar. Kali ini otaknya seakan tidak dapat berfungsi dengan benar. Ia tidak dapat meikirkan apapun selain; apa, kenapa, bagaimana bisa? Park Seung Ho berada disana sembari tersenyum. Padahal sebelumnya ia mereka tinggalkan di apartement.

“Tidak. Pestanya bahkan belum di mulai.” Jawab Kyuhyun.

Wajah Je Wo menoleh pada Kyuhyun. Cukup terkejut dengan senyuman hangat Kyuhyun yang ia berikan pada Seung Ho. Ia menatap Seung Ho dan Kyuhyun bergantian dengan tatapan bingung. Bukankah kedua pria itu masih saling beristegang? Bukankah Kyuhyun baru saja memergokinya sedang bersama Seung Ho beberapa menit yang lalu? Tapi kenapa saat ini kedua pria itu saling tersenyum hangat layaknya sebagai sahabat.

“Bi-bisakah ada yang dapat menjelaskan apa yang terjadi disini?” akhirnya Je Wo berhasil melontarkan pertanyaannya. Ia menatap Seung Ho penuh harap agar pria itu mau memberitaunya.

“Tanyakan pada pria itu, Shin Je Wo.” Jawab Seung Ho masih tetap tersenyum.

Je Wo menatap Kyuhyun, menunggu pria itu memberi jawaban padanya yang merasa bingung saat ini. Belum lagi tawa kecil dari teman-temannya semakin membuatnya hampir gila karena tidak mengerti.

Kyuhyun tersenyum kecil, “Nikmati dulu pestamu, sayang.” Jawabnya pelan.

Sebelah alis Je Wo terangkat dan bibirnya sedikit terbuka. Ia kembali ingin bertanya tapi sialnya semua teman-temannya telah menariknya agar memulai pesta kejutan yang telah mereka buat dalam waktu singat bersama-sama.

“Kami sudah bekerja keras untuk ini, Je. Jangan lewatkan hasil kerja keras kami hanya karena kau ingin bicara dengan suamimu.” ujar Hyera menarik lengan Je Wo lembut.

“Kau akan segera mengetahui apa yang kau inginkan, tapi tidak sekarang karena kita akan bersenang-senang.” Timpal temannya yang lain.

***

Dua jam lamanya telah berlalu dengan tawa riang yang menggema di dalam ruang privat yang Kyuhyun sewa untuk merayakan hari ulang tahun istrinya. Namun selama itu pula Je Wo dan Kyuhyun tidak dapat sekedar berdekatan meski Je Wo selalu berusaha mendekati pria itu untuk kembali bertanya. Tapi semua teman-temannya seakan tau dan segera menyeretnya kembali. Ia hanya bisa menatap Kyuhyun dari tempatnya. Pria itu tengah berbincang ringan dengan teman-teman lelakinya.

Sesekali pria itu menoleh padanya. Melemparkan senyuman hangat dan hampir saja membuat Je Wo meleleh di tempat. Tapi ia juga masih begitu bingung mengapa Kyuhyun dan Seung Ho tampak begitu akur satu sama lain dan tak jarang ia melihat kedua pria itu saling bercanda.

“Hah….” Ia mendesah frustasi. Sekeras apa pun ia mencoba mencari tau, tetap saja hasilnya sama. Tanda tanya besar masih menetap di kepalanya.

“Yah, sepertinya kau sudah sangat ingin menghampiri suamimu.” Sindir Saera.

Je Wo menoleh masam, “Diam kau!” umpatnya.

Sontak teman-teman wanitanya yang memang sedari tadi saling mengobrol bersama tertawa puas.

“Sudahlah, kupikir sudah saatnya kita pulang dan membiarkan Je Wo berdekatan sepuasnya dengan Kyuhyun. Yah… aku takut di kepalanya tumbuh dua tanduk mengerikan kalau kita masih melarangnya berdekatan dengan suaminya.” Cibir Hyera.

Wajah Je Wo memerah menahan malu.

“Hei!” teriak Hyera pada Taesun dan yang lainnya. “Ayo pulang!”

Mereka semua kembali memeluk Je Wo dan mengucapkan salam perpisahan. Mungkin setelah ini akan cukup sulit untuk mereka saling bertemu lagi mengingat mereka semua memiliki kesibukan masing-masing.

“Selamat ulang tahun, Shin Je Wo. Kuharap kau selalu hidup bahagia.” Ucap Seung Ho sembari memberikan pelukan hangatnya pada Je Wo.

Je Wo mengangguk pelan, “Terima kasih, Ho-ya. Dan… maaf, mungkin beberapa waktu belakangan ini hubungan kita tampak kurang baik.” ucapnya pelan.

Seung Ho tertawa pelan dan melepas pelukannya. Ia melirik Kyuhyun sesaat setelah deheman kuat terdengar dari bibir pria itu. “Akulah yang seharusnya meminta maaf padamu, Je Wo-ya. Kesalahanku terlalu besar hingga mempersulitmu dan_”

“Mereka semua menunggumu, Park Seung Ho. Kapan kau selesai mengucapkan kalimat perpisahan?” sindir Kyuhyun.

Seung Ho kembali tertawa dan kali ini kelima temannya turut ikut. Ia mengangkat sebelah tangannya dan mengelus kepala Je Wo penuh sayang, “Yakinlah, kehidupanmu saat ini adalah kehidupan yang paling membahagiakan. Tidak semua orang dapat memilikinya dan bahkan, aku yakin banyak orang yang menginginkan kehidupanmu saat ini.” Nasehatnya tulus.

Je Wo menggigit bibir bawahnya. Bagaimana bisa di merasa begitu terharu mendengar ucapan Seung Ho. Ia melirik Kyuhyun sekilas, wajah pria itu tampak sendu. Sekelebat keresahannya kembali merasuki dirinya. Apa lagi mengingat jika mereka sudah memutuskan akan bercerai. Lalu, apakah yang di katakan Seung Ho akan benar-benar terkadi padanya? “Terima kasih, Ho-ya.” Ucapnya sekali lagi.

Setelah saling mengucapkan salam perpisahan satu sama lain. Mereka semua mulai meninggalkan Je Wo dan Kyuhyun disana. Pintu kembali tertutup dan keheningan menyelimuti keduanya. Je Wo sama sekali tidak bergerak dan tetap berdiri tegak memandang pintu yang telah tertutup rapat. Rasanya ia begitu takut jika harus menatap Kyuhyun. Tapi setelah beberapa detik, ia merasa jemarinya mulai menghangat oleh genggaman Kyuhyun. Pria itu menarik lembut dirinya dan membawanya untuk duduk di sofa berbentuk L. Je Wo hanya bisa mendesah pasrah dan menuruti apa saja yang di lakukan Kyuhyun padanya.

Ia masih diam dan kaku. Duduk tegak tanpa menyandarkan dirinya pada dinding sofa. Lagi-lagi ia hanya menatap lurus kedepan. Dan tetap tak berniat menoleh pada Kyuhyun yang saat itu, ia juga tau jika pria itu memandangi dirinya.

“Ada yang ingin kau tanyakan padaku?” suara Kyuhyun mulai terdengar olehnya. Lembut dan mendayu tanpa ada tersirat nada emosi seperti sebelumnya.

Je Wo mengelap sebelah telapak tangannya yang basah pada sisi pakaiannya. Sementara sebelah lagi masih dalam genggaman Kyuhyun dan ia yakin jika pria itu tau bagaimana berdebarnya ia saat ini, “Banyak.” Ucapnya singkat dengan suara serak menahan gugup.

“Kau bisa memulainya satu persatu.”

“Sayangnya tidak satu pun dapat aku ingat.”

Kyuhyun tekekeh kecil. “Kenapa?”

Kali ini kepala Je Wo menoleh begitu saja padanya, “Bisakah kau melepaskan genggamanmu? Kau membuatku kacau.” Sungutnya dan ada nada rengekan dalam kalimat itu.

Kyuhyun tersenyum jahil dan menggelengkan kepala, “Kau tidak merindukan saat dimana aku menggenggam tanganmu, Nyonya Cho?” tanya Kyuhyun lembut.

Je Wo memalingkan wajahnya, “Bukankah kita akan segera bercerai? Kau membuatku bingung.” Ucapnya pelan penuh keputus asaan. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang telah terjadi hingga Kyuhyun berubah semanis ini. Bahkan panggilan itu, Nyonya Cho. Kembali terlontar dari bibir pria itu.

Tubuhnya bagaikan tersengat ketika telapak tangan Kyuhyun menyentuh wajahnya. Menarik wajahnya mendekat lalu berbisik pelan di telinganya, “Happy Brithday, sayang. Aku mencintaimu.” Ada jeda beberapa detik sebelum Kyuhyun menarik wajahnya dan menatap Je Wo dengan senyum tulus penuh kerinduan.

Kedua mata Je Wo mengabur, “Ige moya? Ige mwoya?” gumamnya setengah terisak. Hatinya begitu senang mendengar Kyuhyun mengatakan kalimat itu padanya. Tapi lagi-lagi kebingungan itu masih melandanya hingga rasanya saat ini yang ia butuhkan hanya menangis.

Kyuhyun menarik tubuh Je Wo dalam pelukannya. Membenamkan wajah Je Wo kedalam dada. Tangannya mengelus lembut punggung wanita itu yang bergetar. Sedangkan sebelah lagi memeluk pinggangnya erat, “Maafkan aku. Aku bersalah padamu.” Bisiknya.

Je Wo mencengkram sisi-sisi jas yang Kyuhyun kenakan seiring isakannya semakin menguat. Rasanya sebuah batu besar yang beberapa hari terakhir ini menetap diatas pundaknya telah siran begitu saja dengan kalimat sependek itu. Ia memang tidak butuh kalimat manis pria itu atau rayuan dan sebagainya. Baginya, asalkan Kyuhyun kembali padanya, itu sudah lebih dari cukup.

“Aku memang selalu bodoh dan mengacau setiap kali merasa cemburu.” Kekehnya hambar. Je Wo menengadah hingga ia dapat melihat wajah bersalah Kyuhyun. Pria itu tersenyum tipis padanya. Melonggarkan sedikit pelukannya lalu membersihkan air mata yang membasahi wajah Je Wo, “Aku tidak suka melihatmu menangis.” Gumamnya.

“Tapi kau selalu membuatku menangis.” Sungut Je Wo. Ia menegakkan dirinya dan menyeka sendiri kedua pipinya.

“Aku tidak berniat seperti itu, sungguh.” Ucap Kyuhyun bersungguh-sungguh.

Je Wo mengangguk kecil menepuk pelan pipinya yang terasa menegang akibat menangis. Lalu ia menatap Kyuhyun dengan wajah polosnya, “Apa kita tidak jadi bercerai?” tanya Je Wo dengan wajah lucu.

Kyuhyun tertawa dan sedikit menundukkan wajahnya untuk sekedar menyembunyikan tawa lucunya, “Kenapa kau mempercayai semua itu begitu mudah? Kupikir ini akan sedikit sulit jika insting detektifmu bekerja.” Cibirnya yang masih di selingi tawa.

Je Wo mengernyitkan dahi. Memiringkan wajahnya dan menatap Kyuhyun tidak mengerti, “Ahra Eonnie sendiri yang mengatakannya padaku. Kau memutusakan untuk bercerai dariku setelah bertemu dengan Seung Ho. Ah, dan lagi kenapa kau begitu dekat pada Seung Ho tadi? Kupikir kau sangat membencinya.” Kini otak Je Wo mulai bekerja. Satu persatu kebingungan yang menimpa dirinya mulai ia pertanyakan pada Kyuhyun.

Kyuhyun mengangguk pelan lalu menyandarkan dirinya paada dinding sofa. Kedua matanya menerawang keatas seperti berusaha mengumpulkan ingatannya, “Aku memang bertemu dengan Seung Ho malam itu,” gumamnya pelan lalu melirik Je Wo yang masih menunggu, “Noona yang mengatur pertemuan itu setelah ia hampir saja mematahkan tanganku,” kali ini suaranya terdengar jengkel, “Saat bertemu dengannya, aku kembali ingin menghajar wajah pria itu. Sebenarnya aku memang berniat akan menghajarnya lagi setelah aku menanyakan beberapa pertanyaan tentang kalian padanya. Sayangnya…”

Je Wo menahan nafasnya ketika Kyuhyun memberikan jeda dalam kalimatnya.

“Pria itu terlalu bersikap bijaksana hingga aku tidak tega.”

“Eung? Bijaksana?”

Kyuhyun mengangguk lagi, tangannya bergerak menyentuh jemari Je Wo dan kembali menggenggamnya, “Dia membuka kedua mataku. Menyadarkan aku yang telah bersikap berlebihan malam itu. Aku bersalah telah membentakmu di depan mereka semua. Dan yang paling membuatku semakin hancur, kenapa kau tetap membelaku ketika malam itu aku justru menyalahkan dan meninggalkanmu.” Kyuhyun menarik jemari Je Wo mendekati bibirnya, lalu mengecup lama jemari itu.

“Selama ini aku tidak sadar telah memperlakukan dirimu semauku. Saat menikah, kau masih terlalu muda. Kau baru saja menjalani karirmu dan aku malah menghambatnya dengan melarangmu. Aku menyuruhmu diam dirumah sementara aku sendiri sibuk dengan dunia pekerjaanku. Tapi kau selalu menurut dan tidak mengeluh. Selama kita menikah, aku selalu menuntutmu dengan segala keinginanku tapi aku tidak pernah bertanya apa yang kau inginkan. Aku tidak tau selama ini aku sangat egois.”

Mata Je Wo kembali memanas, ia membalas genggaman tangan Kyuhyun lebih erat. Seperti ada yang menusuk-nusuk hatinya ketika pria itu berujar dengan mimik wajah pilu.

“Selama ini kau tidak mengeluh dengan sikapku yang selalu memenjarakanmu. Kupikir kau bahagia dengan apa yang aku lakukan tapi nyatanya aku selalu menyakitimu. Dan sialnya, semua itu aku dengar dari Park Seung Ho. Aku merasa terpuruk saat dia yang bahkan hanya berstatus sebagai mantan kekasihmu, mengetahui begitu banyak apa yang terjadi padamu hanya karena berbincang beberapa menit malam itu. Aku benar-benar merasa bodoh, sayang.”

Je Wo mengedipkan pelan kedua matanya hingga air mata itu kembali meleleh di wajahnya. Ia memajukan wajahnya hingga tubuhnya bersentuhan diatas tubuh Kyuhyun, “Aku tidak pernah mengeluh, karena aku sangat mencintaimu, Cho Kyuhyun. Kau memang memenjarakan aku, tapi aku tidak keberatan karena memang hanya kau yang aku ijinkan untuk melakukan itu,” ucapnya pelan dan berbisik, “Aku bahagia, Cho Kyuhyun. Sangat bahagia,” Je Wo mendaratkan telapak tangannya diatas dada Kyuhyun, dimana degupan jantung pria itu dapat ia rasakan, “Disini, aku menemukan kebahagian. Hanya detak jantungmu yang aku butuhkan untuk bahagia. Karena jika ini sudah tidak berdetak,” Je Wo menggigit bibir bawahnya. “Kebahagianku pasti telah lenyap.”

Kyuhyun membungkus tubuh Je Wo dengan lengannya. Menyandarkan kembali wajah itu diatas dadanya. Bibirnya bergerak menyentuh dan mengecup lama dahi Je Wo. Rasanya hangat dapat kembali memeluk tubuh istrinya, “Mulai sekarang, aku ingin kau selalu mengatakan apa pun yang kau inginkan. Aku ingin lebih membahagiakanmu dari sebelumnya. Dan kumohon…” Kyuhyun mengambil nafas panjang. “Tolong berikan aku daftar mantan kekasihmu sebelum aku kembali bertemu dengan mereka satu persatu.”

Sontak Je Wo melepas pelukannya dan menatap Kyuhyun terkesiap. Awalnya ia ingin melayangkan protesnya seperti biasa, tapi senyuman bocah milik Kyuhyun membuat ia ikut tertawa ringan, “Bodoh! Kau pikir sebanyak apa aku pernah menjalin hubungan?” rutuknya.

Mereka berdua saling tatap satu sama lain. Mulanya hanya berbalas senyuman hangat. Tapi ketika Kyuhyun memajukan wajahnya ragu, Je Wo mengerti apa yang diinginkan pria itu. Sebuah keinginan yang sama dengannya. Tangannya merambat naik memasuki helaian rambut belakang Kyuhyun. Meremasnya perlahan sebelum menekan kedepan kepala Kyuhyun hingga kedua bibir mereka bertemu. Saling memagut dan melumat satu sama lain. Ciuman itu begitu panas dan penuh gairah. Ya, jika dipikir-pikir, pasangan suami istri mana yang tidak akan seperti ini jika sudah sangat lama tidak saling bersentuhan.

Sebelah kaki Je Wo mendarat di atas lutut Kyuhyun ketika pria itu semakin menariknya mendekat. Tidak ada lagi jarak diantara mereka. Merasa sedikit tidak nyaman, Kyuhyun meraih kedua pinggang Je Wo dan mengangkatnya hingga wanita itu berada di atas pangkuannya. Lalu Kyuhyun menggeser tubuhnya kedepan agar Je Wo dapat melingkarkan kakinya di sekitar pinggang. Sesaat ciuman itu terlepas karena keterkejutan Je Wo. Tapi Kyuhyun segera menarik ujung dagu istrinya dan menyambar bibir itu rakus. Tangannya menuntun kembali lengan Je Wo melingkari leharnya. Lalu mengelus lembut di sepanjang lengan mulus itu.

Suara decak berirama menggema disana. Belum lagi suasana ruangan yang tidak terlalu terang dan hanya memasang lampu redup berwarna orange yang semakin menambah gairah keduanya. Je Wo melonggarkan ikatan dasi Kyuhyun, lalu membuka dua kancing kemeja pria itu. Ia mulai merasakan pria itu berkeringat dan cara itu mungkin bisa sedikit membantu.

“Buka jasku.” Bisik Kyuhyun di telinga Je Wo sebelum mengecupi bagian itu.

Je Wo mengerang, ada sesuatu dibawah sana yang mulai mendesaknya. Tapi konsentrasinya masih belum terpecahkan oleh itu. Ia bergerak cepat membuka jas Kyuhyun dan membuangnya kebelakang sofa. Lalu tubuhnya seperti memanjat keatas tubuh Kyuhyun untuk semakin memperdalam ciumannya. Tangannya tak ingin kembali diam. Ia mulai melepaskan dasi yang masih melingkar pada kerah kemeja suaminya. Lalu meneruskan kancing-kancing yang tersisa. Rasa malu atau gengsi yang selama ini ia tunjukkan sama sekali tidak terlihat. Ia begitu menginginkan dan mendambakan pria itu dalam dirinya.

Semua kancing telah terlepas. Tangannya menyelinap masuk kedalam kemeja Kyuhyun dan merambat kebelakang punggang pria itu. Tubuhnya dan Kyuhyun bergetar bersamaan. Titik itu begitu sensitif dan sepertinya semakin membangkitkan gairah keduanya. Tiba-tiba saja Kyuhyun mengangkat tubuhnya, lalu membaringkannya perlahan diatas sofa, kepalanya Kyuhyun rebahkan diatas lengan sofa. Lalu Kyuhyun menindih tubuh Je Wo yang mulai basah oleh keringat. Wanita itu menggeliat kedepan saat Kyuhyun memberikan kecupan kupu-kupu di sekujur wajah hingga leher jenjangnya. Kakinya membungkus erat pinggang Kyuhyun hingga keduanya menyatu meski masih memiliki lapisan pakaian bawah yang utuh.

Je Wo menggigit bibir bawahnya agar desahannya yang mulai menggila tidak terdengar. Kyuhyun menarik kepala Je Wo kedepan, menyingkap rambut panjang tergerai milik Je Wo yang sedikit lengket di lekukan lehernya. Bibirnya mendarat disana, tempat itu begitu basah namun sangat harum. Bau tubuh Je Wo yang begitu ia rindukan ada disana dan ia tidak ingin cepat meninggalkan tempat itu. Ia menghirup lekukan leher itu sangat malam sebelum mulai mengecupinya. Ya, hanya sebuah kecupan karena ia tau jika ia melumatnya maka saat itu juga mood Je Wo untuk bercinta akan berantakan. Wanita itu memiliki banyak tempat terlarang yang tidak bisa di singgahi Kyuhyun tanpa aturan.

Cengkaraman Je Wo pada bahu Kyuhyun di balik kemeja putih itu menguat, kedua matanya terpejam erat. Apa yang di lakukan Kyuhyun sangat nikmat baginya. Ia mulai membayangkan hal apa yang sebentar lagi mungkin akan mereka lakukan di tempat itu. Tapi baru saja pikiran liarnya itu melintas, kini kedua matanya terbuka. Ia merasa ada sesuatu yang hilang. Benar, Kyuhyun telah berhenti dan kini ia tidak merasakan lagi sentuhan intim pria itu. Hanya deru nafas yang masih terengah terhembus di sekitar leher yang ia rasakan.

“Wae?” tanya Je Wo serak.

“Hmm..” gumam Kyuhyun berat.

Dada telanjang Kyuhyun yang menyentuh tubuh Je Wo mulai terasa naik dan menurun dengan normal. Kedua kaki Je Wo yang tadinya melingkari pinggangnya mulai terjatuh lemas diatas sofa, diikuti jatuhnya tubuh Kyuhyun. Perlahan ia mengangkat kepalanya yang terbenam dalam lekukan leher Je Wo. Kedua mata tajamnya tang tadinya berkilat, kini mulai menyendu. Ia tersenyum lembut, lalu mengecup dahi Je Wo lama.

“Kupikir kita akan bercinta disini.” Gumam Je Wo dengan nada kecewa.

Kyuhyun terkekeh kecil, “Di sofa ini? Kita dapat melakukannya di rumah dan diatas sofa yang lebih mahal dan nyaman dari sofa ini, sayang.” Ia menyeka keringat di wajah Je Wo.

“Sofa yang mana? Sofa di apartement adalah sofa lama yang bahkan sama sekali tidak dapat menyaingi sofa ini.” Rutuknya. Sebelah kakinya ia lingkarkan diatas betis Kyuhyun.

“Kau sangat ingin bercinta denganku, ya?” goda Kyuhyun dengan senyum jahilnya. “Merindukan sentuhanku, Nyonya Cho?”  Je Wo tidak menyahut, namun kedua matanya tiba-tiba saja menyendu dan menatap Kyuhyun ragu. Kyuhyun yang menyadari itu mengelus wajah istrinya lembut. “Ada apa?”

Je Wo mendesah panjang, “Kita benar-benar tidak akan bercerai?” tanyanya pelan.

Sontak kekehan geli meluncur dari bibir Kyuhyun, “Kenapa masih memikirkan itu? Setelah apa yang terjadi beberapa menit lalu. Kita hampir saja bercinta diatas sofa ini dengan penuh gairah dan kau masih bertanya apa kita akan bercerai? Hahaha, kau bodoh sekali.” Kyuhyun mencubit ujung hidup Je Wo.

“Ck,” Je Wo menepis tangan Kyuhyun. “Tidak lucu. Lagi pula aku masih tidak mengerti denganmu. Kau menyuruh Ahra Eonnie untuk menyampaikan padaku jika kau ingin kita bercerai. Lalu pergi membawa Hyunje dan membuatku kesal. Setelah itu, tiba-tiba kau kembali dan membuat aku yang tadinya berniat pergi bersenang-senang bersama Seung Ho, terkejut melihat kau keluar dari lift. Saat itu kau marah besar padaku tapi tiba-tiba  kau membuat pesta kejutan untukku dengan mengumpulkan kembali teman-temanku. Dan Seung Ho, kalian_”

Kedua mata Je Wo melebar ketika Kyuhyun membungkam mulutnya dengan kecupan singkat, “Kau terlalu banyak bicara, bodoh.” Serunya.

Je Wo mengerjap berkali-kali.

“Sebenarnya, setelah aku bertemu secara pribadi bersama Seung Ho. Aku berniat ingin meminta maaf padamu dan segera berdamai. Tapi aku sangat takut kau tidak memaafkanku karena kesalahanku begitu besar. Tapi, saat teringat hari ulang tahunmu. Aku mendapatkan ide untuk membuat satu kejutan untukmu dan setelah itu mengajakmu berdamai.”

Je Wo mengangkat sebelah alisnya. “Jadi?”

Kyuhyun tersenyum lebar, “Jadi… aku menelepon Noona dan bertanya padanya, sebaiknya apa yang aku lakukan untuk memberimu kejutan. Dan dia memberiku sebuah ide untuk mengerjaimu.” Tuturnya ringan.

“Dengan cara mengatakan padaku kalau kau ingin kita bercerai?” tanya Je Wo tak percaya. Kyuhyun mengangguk, “Itu berarti semua yang dikatakannya padaku pagi ini adalah bohong?!” kali ini geramannya mulai terdengar.

“Ya, begitulah. Tapi, apa dia bisa berakting dengan baik?” tanya Kyuhyun bersemangat.

“Haish!! Menyebalkan sekali!!! Argghhh Ahra Eonnie tega sekali melakukan ini padaku,” Je Wo menendang-nendang kedua kaki Kyuhyun di bawah. “Dia pasti sangat senang saat melihatku seperti orang bodoh pagi ini. Sialan, seharusnya aku tau wajah menipunya.”

Kyuhyun tidak dapat mencegah tawa lucunya melihat ekspresi Je Wo. Persis seperti yang ia dan Ahra bayangkan sebelumnya, “Dia sangat bersemangat saat datang keapartement. Katanya, dia sangat ingin meruntuhkan sikap gengsimu da menertawkanmu sepuasnya. Bahkan, saat aku menitipkan Hyunje padanya, dia begitu bersemangat menceritakan apa yang telah kami rencanakan pada Hyunje.” Jelas Kyuhyun.

“Dan reaksi Hyunje?” kedua mata Je Wo menyipit geram. Seakan tau jawaban apa yang akan ia terima.

“Dia meminta aku untuk memotretmu saat kau menangis agar bisa menertawakanmu sepanjang waktu.” Jawab Kyuhyun dengan senyuman lebar.

“Sudah kuduga!” umpat Je Wo. Ia merengut kesal menatap Kyuhyun, merasa jengkel karena pria itu berhasil membuatnya hampir gila karena ulahnya. Pria itu tidak tau saja bagaimana shock dirinya saat Ahra mengatakan jika ia menginginkan mereka bercerai.

“Jangan marah, kau terlihat jelek.” Bisik Kyuhyun. Ia kembali membenamkan wajahnya pada leher jenjang Je Wo. Menyusuri garis lekukan istinya dengan kecupan-kecupan memabukkan.

“Aku bersukur ini hanya sebuah kepura-puraan.” Je Wo menggumam dan mulai menutup kedua matanya.

“Hem?” balas Kyuhyun menggumam dan masih melancarkan aksinya.

“Bercerai. Kupikir hal itu akan terjadi. Aku takut ketika membayangkan kau tidak lagi bersamaku.”

Bibir Kyuhyun berhenti bereaksi. Begitu juga dengan tubuhnya yang membeku. Ia mengangkat wajahnya pelan hingga dapat melihat wajah sayu bercampur lelah milik Je Wo yang masih memejamkan kedua matanya, “Shin Je Wo, sekarang aku sangat yakin jika kau sangat mencintaiku.” Ucapnya.

Je Wo membuka kedua matanya dan melayangkan tatapan kesal, “Senang mengetahuinya, Tuan Cho?” sindirnya.

Kyuhyun mengangguk, “Sangat,” jawabnya penuh kepuasan. “Tapi, sepertinya rencanaku hampir saja gagal jika aku terlambat saja beberapa menit kembali keapartement.”

“Eung? Kenapa?”

Kyuhyun menatap Je Wo dengan tatapan sengit, “Karena kau hampir saja pergi berkencan bersama Seung Ho. Bergelanyut mesra di lengannya dan…” ia melirik pada belahan pakaian Je Wo, “Seingatku, aku sudah melarangmu memakai gaun ini. Tubuhmu tidak untuk di pertontonkan pada orang lain. Hanya aku yang boleh melihat dan menikmatinya. Jadi, kenapa kau malah menggunakannya saat berniat pergi bersamanya?” tanda Kyuhyun.

Kali ini Je Wo tertawa senang, setidaknya ia dapat menyamakan skor dengan keahliannya yang satu ini. Ia melingkarkan lengannya pada leher Kyuhyun, “Kau tau bagaimana aku, kan? Aku bisa melakukan hal apa pun saat sedang frustasi. Tidak terkecuali dengan sedikit bermain bersama pria yang jelas-jelas sangat menyukaiku, Tuan Cho.” Ujarnya penuh kemenangan.

“Lihat, kau mulai lagi.” Rutuk Kyuhyun.

“Kau yang memancingku.”

“Tapi kau memang berniat berkencan dengannya, kan?”

“Molla~”

“Shin Je Wo, kau ingin kembali mengajakku bertengkar?”

Je Wo menggelengkan kepalanya layaknya seorang bocah, “Kita baru saja berdamai. Setidaknya aku akan menunggu hingga 1 atau dua minggu lagi untuk kembali bertengkar denganmu.” Jawabnya manis.

“Cih, kau menyebalkan. Seharusnya aku tidak mengikut sertakan Seung Ho dalam rencana jika akhirnya aku kembali terpancing dengan rasa cemburu.” Rutuk Kyuhyun.

“Apa? Rencana apa?” Je Wo mengerutkan dahinya berpikir, “Yah! Jangan katakan kalau Seung Ho juga bagian dalam rencanamu mengerjaiku.” Jari telunjuknya mengarah pada wajah Kyuhyun.

“Sayangnya itu benar,” Kyuhyun menepis telunjuk Je Wo. “Aku sengaja memintanya berpura-pura datang keapartement untuk mengobrol denganmu, lalu setelah itu aku akan kembali dan berpura-pura terkejut karena berhasil memergoki kalian berdua. Setelah itu baru akan menggeretmu paksa kesini karena kupikir kau tidak akan memberontak setelah aku memergokimu berduaan dengannya.”

“Tapi sialnya, aku malah menemukan pemandangan yang berbeda. Untung saja saat itu aku tidak menghajarnya lagi. Melihat kau semesra itu dengannya membuat emosiku benar-benar kembali.”

“Jadi…” Je Wo menggantungkan kalimatnya beberapa saat untuk memikirkan sesuatu. “Akh, pantas saja Seung Ho tau dimana alamat Apartement kita. Dan kedekatan kalian berdua itu…”

“Kami telah berdamai sejak aku pertama kali menemuinya. Setelah itu aku menghubunginya untuk meminta bantuan. Aku butuh semua alamat atau nomer kontak teman-temanmu itu agar bisa menyeret mereka disini untuk merayakan hari ulang tahunmu. Jujur saja, dia sangat membantu.”

Kepala Je Wo mengangguk pelan meski wajahnya masih terlihat bodoh. Sekarang semua pertanyaan dalam otaknya mulai terjawab. Ya, saat ini semuanya telah jelas dan selesai. Perlahan senyuman kecil muncul di bibir, “Sukurlah.” Desahnya lega.

“Tapi aku masih kesal padamu. Cih, aku tidak suka kau bergelanyut di lengan pria lain.” Sungut Kyuhyun.

Je Wo tertawa senang, “Siapa suruh kau mengerjaiku.” Balasnya. Kyuhyun merengut kesal dengan bibir mengerucut lucu, “Aigo… ekspresi seperti apa itu, hah? Kau tidak pantas melakukannya.” Cibir Je Wo. Sepertinya sifat aslinya yang teramat menyukai mencela suaminya kembali.

“Terus saja mengejekku.” Sindir Kyuhyun.

CHUP.

Je Wo mengecup cepat bibir Kyuhyun lalu tersenyum manis. “Sudah tidak marah lagi, kan?” Kyuhyun mendengus malas dengan wajah datarnya. Lalu menunjuk sudut bibirnya. Je Wo tertawa geli sebelum mengecup bagian itu, setelah itu keduanya tertawa bersama.

“Kau memang pintar merayu.” Timpal Kyuhyun lalu beranjak duduk sembari menarik Je Wo untuk ikut serta. Ia melirik kesekitar lantai seperti mencari-cari sesuatu lalu menatap Je Wo dengan alis melengkung, “Dimana jas dan dasiku?” tanya Kyuhyun.

Je Wo menggaruk belakang kepalanya malu. “Ada di belakang sofa.”

Kyuhyun tersenyum geli dan mulai memunguti jas dan dasinya yang telah terdampar di lantai, “Rapikan pakaianmu. Kita akan pergi makan siang.” Ujarnya sembari mengancingi kembali kemejanya yang telah tampak kusut.

“Makan siang?” ulang Je Wo. “Kenapa tidak disini saja?”

“Aku sudah memesan tempat.”

“Dimana?”

Kyuhyun tersenyum penuh arti pada Je Wo. “Rahasia.”

***

“Cih, hanya membawaku kerestourant yang berada di hotel ini saja kenapa kau harus tersenyum misterius seperti ini?” sungut Je Wo yang berjalan beriringan bersama Kyuhyun sembari bergelanyut mesar pada lengan suaminya. Ia berpikir jika pria itu akan membawnaya kesebuah restourant yang ada dalam angannya. Ternyata tidak, Kyuhyun hanya membawanya turun dua lantai dari tempat mereka sebelumnya.

“Kau akan tau jika sudah berada di dalam sana, sayang.”

Je Wo melirik Kyuhyun kesal, “Telingaku sakit setiap kali kau menyebutku seperti itu.” Rutuknya.

“Benarkah? Tapi aku suka memanggilmu seperti ini, sayang.” Kyuhyun semakin berusaha menggoda Je Wo.

Keduanya kembali terlibat dalam percekcokan ringan seperti biasa. Tidak ada yang mau mengalah dan selalu berusaha memenangkan perdebatan dengan tawa penuh kemenangan. Hingga kini mereka sampai di depan pintu utama restourant itu dan di sambut hangat oleh seorang pria.

“Silahkan masuk, Tuan dan Nyonya.”

Je Wo mengangguk pelan, “Terima kasih.” Ucapnya dengan suara manis. Lalu melenggang masuk bersama Kyuhyun kedalam. Mulanya ia terlihat biasa-biasa saja, tapi semakin banyak ia melangkah maka kerutan pada dahinya semakin terlihat, “Cho Kyuhyun…” bisiknya pelan.

“Ya?”

“Tidakkah menurutmu disini sangat aneh?”

“Kenapa?”

Je Wo melirik kesekitarnya, “Disini tidak ada satu pengunjung pun. Sepi sekali, kupikir Restourant ini hampir bangkrut.” Ia merapatkan diri pada Kyuhyun agar bisa berbisik pelan.

Ya. Restourant itu memang amat sangat sepi. Ruangan luas, megah dan sebesar itu tidak memiliki satu pengunjung pun saat itu kecuali mereka. Hanya ada puluhan meja dan bangku makan, lalu beberapa orcestra musik yang berada di sudut ruangan sembari mengalunkan nada-nada indah. Dan ada dua pelayan berpakaian terlalu formal di depan sebuah pintu yang Je Wo yakini adalah pintu yang menghubungkan mereka pada sebuah dapur.

“Ekhm-ekhm.”

Suara deheman seseorang dari belakang tubuh mereka, membuat Je Wo dan Kyuhyun berbalik.

“Eo?!” pekik Je Wo dengan wajah tegangnya. “Ka-kalian…”

Dua orang pria memakai kostum layaknya seorang pelayan berdiri tegak disana dengan senyuman lebarnya, “Akhirnya kalian datang juga.” Ujar seorang pria bertubuh tinggi.

“Hei, selamat ulang tahun.” Ucap seorangnya lagi dengan senyuman lebar yang menurut Je Wo sangat manis di matanya hingga ia tak berkedip melihatnya.

“Lee Jonghyun,” Kyuhyun menggeram penuh peringatan. “Singkirkan senyum menjijikkan itu dari wajahmu.”

“Hahaha, kau berlebihan sekali, Kyu.” Tawa lebar pria tinggi itu terdengar.

“Dan suara tawamu hampir memekakan telingaku, Changmin Oppa.” Rutuknya. Ia memelototi Changmin garang sembari mengusap telinganya.

“Heish, ini hari ulang tahunmu. Setidaknya bersikap manislah sebentar saja.” Sungut Changmin.

“Kalau pun harus, aku tidak akan melakukannya di depanmu,” Je Wo mengeluarkan lidahnya mengejek sesaat pada Changmin. Kemudian kembali menatap Jonghyun dengan tatapan berbinar, “Terima kasih atas ucapanmu, Jonghyun ssi.” Je Wo tampak tersenyum malu pada Jonghyun.

“Woah, sepertinya perang dunia ketiga akan segera dimulai.” Celetuk Changmin berpura-pura menatap sekitarnya.

Je Wo kembali meliriknya sinis. Setelah itu ia tersenyum manis lagi pada Jonghyun, sepertinya wanita itu tidak akan melewatkan waktu yang teramat penting baginya saat ini, “Apa kau diundang oleh Kyuhyun disini?” tanya Je Wo ramah.

Jonghyun turut tersenyum malu menerima sikap hangat Je Wo yang menurutnya sangat manis hingga ia menjadi gugup.

“Ck, apa saat ini kalian sedang melakukan sebuah syuting drama?” sindir Kyuhyun, lalu ia menarik pinggang Je Wo kedepan tubuhnya. Memeluk tubuh istrinya posesif, “Lee Jonghyun! Dia milikku, mengerti? Aku akan membunuhmu kalau kau berani tersenyum seperti itu lagi padanya. Aku menyuruhmu dan Changmin datang kesini bukan untuk merecoki istriku, tapi kalian harus menjadi pelayan pribadiku selama makan siang ini berlangsung.”

“Mwo?!” Je Wo memekik tak percaya.

Sedangkan Changmin dan Jonghyun mendesah malas.

“Iya, aku tau. Lagi pula aku tidak mengerti denganmu, Kyu. Restourant sebesar ini tidak akan mungkin kekurangan pelayan. Tapi kenapa kau memaksa kami menjadi pelayanmu?” sungut Changmin yang merasa paling teraniaya.

“Eum, aku juga sedikit merasa terhina. Seharusnya kami datang untuk ikut serta merayakan pesta istrimu.” Sambung Jonghyun.

Kyuhyun tertawa hambar, “Sayangnya aku tidak membutuhkan tamu lain. Jadi, silahkan kembali ketempat kalian berdua.” Ujarnya datar dan segera menyeret Je Wo menjauhi kedua pria itu. Ia membawa Je Wo ketengah ruangan, menghampiri sebuah meja makan kecil khusus dua orang, “Duduklah.” Kyuhyun mempersilahkan Je Wo untuk duduk setelah menggeser kursinya.

Je Wo menatapnya aneh, “Kau menjadikan mereka berdua sebagai pelayan kita?” tanya Je Wo.

Kyuhyun mengangguk bangga, “Khusus untuk hari ini. Aku telah menyewa restourant ini untukmu agar kau bebas memandangi wajah si bodoh Jonghyun.” Jawabnya dengan senyuman lebar.

“Sebagai seorang pelayan?” sindir Je Wo.

Kyuhyun tersenyum smirk dan menekan bahu Je Wo agar ia segera duduk ditempatnya, “Taraf kebaikan seseorang mempunyai batas tertentu, sayang. Jangan berpikir terlalu jauh.” Ia memutari meja dan duduk ditempatnya. Menggosok kedua telapak tangannya riang sembari melirik sekeliling, “Hei!” ia menggerakkan telunjuknya pada kedua orang pria yang duduk tak jauh dari mereka dengan wajah kesal.

Kini Changmin tampak berjalan malas mendekati mereka. “Ada apa?”

“Aku butuh wine.” Ujar Kyuhyun dengan nada bossy miliknya.

“Wine?” ulang Je Wo.

“Eum.”

“Tidak, Cho Kyuhyun. Aku tidak mau mabuk disiang hari seperti ini.”

Changmin tertawa mendengarnya, “Meminum segelas wine belum tentu kau akan mabuk, Je Wo-ya.” Cibirnya.

“Oppa! Tapi aku tidak bisa menyentuh minuman seperti itu.” Rutuknya.

“Ck, diamlah.” Kyuhyun mendelik garang pada Je Wo dan Changmin yang berdebat, “Kau, Shim Changmin. Antarkan saja pesananku. Dan untukmu, Nyonya Cho. Aku hanya akan memaksamu meneguk minuman itu satu kali. Sisanya aku yang akan menghabisinya.”

Je Wo mendesis panjang. Sudah tidak dapat memprotes keputusan Kyuhyun.

“Aku bisa membantu untuk bagian itu.” Teriak Jonghyun yang sedari tadi menguping di tempatnya.

“Tutup mulutmu! Aku tidak butuh bantuanmu,” Balas Kyuhyun berteriak. Lalu melirik Je Wo yang tertawa ringan pada Jonghyun, “Seharusnya aku tidak membawa mereka kesini.” Umpatnya kesal.

***

“Cobalah.”

Je Wo memasang wajah memelasnya pada Kyuhyun. Berharap ia akan terbebas dari paksaan suaminya, “Aku tidak mau…” rengeknya mendorong gelas wine miliknya.

“Hei, ini tidak seburuk yang kau bayangkan. Percayalah, kau akan menyukainya.” Bujuk Kyuhyun.

“Cho Kyuhyun suamiku yang tampan. Apa kau ingat pertama kali aku menyentuh minuman ini beberapa tahun yang lalu? Aku mabuk dan mempermalukan diriku sendiri di hadapan para tamu keluargamu. Apa sekarang kau ingin melihatku seperti itu lagi?”

Kyuhyun membuang nafas panjang, “Shin Je Wo istriku yang bodoh, saat itu kau meneguk 4 gelas wine. Tentu saja kau yang terlalu sensitif terhadap alkohol segera mabuk. Tapi kali ini, aku hanya memintamu untuk sekali saja meneguk minuman ini. Dan aku menjamin kau tidak akan mabuk.” Jelasnya.

“Tapi_”

“Minumlah, jangan membuang waktu.”

Bibir Je Wo mengerucut lucu kedepan. Lalu ia mengulurkan tangannya enggan menyentuh gelas di hadapannya. Wajahnya menatap ngeri minuman  berwarna merah pekat di dalam gelas. Mendekatkan gelas itu pada mulutnya dan memejamkan mata sebelum meneguk minuman itu sekali.

“Hoeks, pahit….” Rengeknya dan segera menyambar air meneral.

Kyuhyun tersenyum puas melihatnya, “Kau belum terbiasa saja.” Ujarnya.

“Ya, hanya kau yang paling terbiasa dengan minuman itu.” Umpat Je Wo.

“Kami juga sangat terbiasa!”

Suara tak diundang itu kembali terdengar hingga Je Wo dan Kyuhyun menoleh kesana.

“Aku tidak bertanya pada kalian!” balas Kyuhyun.

Kedua pria itu duduk dengan cengiran lebar di tempatnya. Membuat Je Wo tertawa kecil melihat ekspresi wajah kedua pria itu. Entah apa yang dipikirkan Kyuhyun hingga menyiksa mereka berdua disana, “Kupikir sebaiknya kita bergabung bersama mereka.” Gumamnya. Ia memutar wajahnya dan seketika menemukan Kyuhyun yang amat sangat menikmati wine di hadapannya

Pria itu tersenyum senang setika menghirup aroma wine dalam gelasnya, “Sudah lama aku tidak menyentuh minuman ini.” Gumamnya.

“Kau sudah seperti seorang pecandu saja.” Umpat Je Wo, namun masih tetap memperhatikan Kyuhyun yang begitu menikmati wine-nya. Sesaat ia tersenyum melihat wajah gembira pria itu. Ia kembali melirik wine miliknya, menimang-nimang sesuatu. Saat ini kepalanya terasa ringan entah mengapa. Diam-diam ia menyentuh kembali gelasnya, mendekatkan pinggiran gelas itu kebibirnya.

“Turunkan.”

Je Wo tersentak kaget saat suara Kyuhyun mengintrupsi. Kali ini ia tertangkap basah ingin kembali meneguk minuman yang awalnya ia tolak dengan sangat tegas.

Kyuhyun tersenyum miring padanya. “Kau mulai menyukainya, kan?”

“Ti-tidak,” Je Wo kembali menurunkan gelasnya. “Tubuhku merasa sedikit ringan setelah meneguk wine ini. Kupikir tidak ada salahnya jika aku meneguknya sekali lagi. Bukan berarti aku menikmati minuman ini.”

“Itulah kenapa aku memaksamu meminumnya. Wine tidak selamanya bereaksi negatif. Aku sering menggunakannya untuk menyegarkan pikiranku saat sedang lelah,” Jelas Kyuhyun. Je Wo mengangguk mengerti, namun kedua matanya kembali melirik gelas miliknya. “Dan bukan berarti aku membiarkanmu kembali menyentuhnya.”

“Kenapa?” sungutnya.

“Aku tidak mau kau merepotkanku karena mabuk.”

“Sekali saja… aku tidak akan mabuk.”

“Tidak! Tadi kau yang menolaknya.”

Je Wo ingin kembali membuka mulut untuk memulai perdebatan. Tapi tiba-tiba saja suara alunan merdu menggema di ruangan itu. Membuat ia terkesima mendengarnya, lalu mengitari wajahnya untuk melihat kearah para orcestra yang memainkan sebuah alunan musik lembut dan indah. Alunan musik itu begitu familiar di telinganya. Membuat ia seperti melayang kembali pada momen disaat alunan itu pernah ia nikmati beberapa waktu yang lalu bersama Kyuhyun.

Je Wo kembali memutar kepalanya untuk menemukan Kyuhyun. Pria itu telah tersenyum lembut padanya, “Lagu ini… kau masih ingat?” tanyanya pelan.

Kyuhyun mengangguk, “Tentu. Aku menyukai lagu ini sejak saat itu. Lagu ini selalu menggambarkan perasaanku padamu.” Ujarnya.

“A Thousand Years, bis, pegunuangan dan danau indah.” Sambung Je Wo dengan senyuman lebar.

Kyuhyun ikut tersenyum, lalu beranjak dari tempatnya dan menghampiri Je Wo disana. Mengulurkan sebelah tangannya, “Mau berdansa denganku?” tawarnya.

Je Wo tertawa dan menutup bibirnya dengan punggung tangan, menatap Kyuhyun geli. “Aku tidak pintar berdansa.”

“Aku akan mengajarimu.” Kyuhyun menggoyangkan telapak tangannya yang terbuka dan siap menerima sambutan Je Wo.

Wanita itu mengangguk pelan lalu menerima uluran tangan Kyuhyun. Jemari mereka saling menggenggam hangat satu sama lain saat Kyuhyun membawanya kelantai dansa. Menarik pinggang Je Wo mendekat, lalu kedua tangannya menetap di pinggang Je Wo, “Lingkarlan tanganmu dileherku.” Perintahnya. Je Wo melakukan apa yang Kyuhyun perintahkan, lalu saat kedua kaki pria itu bergerak ia sempat terkejut dan melirik pada kedua kakinya. “Jangan menunduk, gerakkan saja kedua kakimu mengikuti alunan musik. Jangan takut salah, selama kau tidak menginjak kedua kakiku maka kau akan berhasil.”

Je Wo merengut pada Kyuhyun, “Memang itu yang aku takutkan, bodoh. Bagaimana jika aku menginjak kedua kakimu?” sungutnya. Kyuhyun tertawa pelan lalu memeluk tubuh Je Wo, menyandarkan ujung dagunya diatas bahu telanjang Je Wo. Wanita itu tersenyum lembut, kedua kakinya telah bergerak berirama dengan alunan musik dan juga gerakan kaki Kyuhyun. Ternyata berdansa tidak begitu sulit. Ia melirik kedepan, melihat Changmin dan Jonghyun tersenyum melihatnya dan Kyuhyun, “Hei, kasihan sekali kedua temanmu itu, Tuan Cho. Lakukanlah sesuatu agar mereka tidak hanya duduk diam disana.” Bisiknya.

Kyuhyun melepas pelukannya, melirik pada kedua temannya, “Yah! Pesanlah makanan sesuka hati kalian.” Teriaknya dan sontak Changmin maupun Jonghyun bersorak girang. Memanggil pelayan yang lain untuk menyiapkan makanan meskipun saat itu mereka berdua adalah pelayan pribadi Kyuhyun dan Je Wo.

“Entah apa gunanya kau membawa mereka kesini.” Je Wo terkekeh kecil.

“Sebenarnya aku mau mempertemukan kau dan Jonghyun sebagai hadiah ulang tahun. Tapi, kupikir-pikir itu pasti akan membuatku kesal. Jadi, menurutku aku harus melakukan sesuatu untuk tetap mempertemukan kalian berdua tanpa nantinya harus membuatku repot.” Jelas Kyuhyun.

“Wah, apa sekarang aku harus berterima kasih?” cibir Je Wo.

“Nanti saja, setelah kau melihat hadiah ulang tahunmu.”

Shin Je Wo melengkungkan alisnya, “Hadiah ulang tahun?” ulangnya.

Kyuhyun mengangguk, lalu melepas kembali pelukannya. Tangannya merogoh sesuatu di kantong jas yang ia kenakan, “Kuharap dia masih baik-baik saja setelah tadi kau membuang jasku.” Gumamnya. Je Wo memperhatikan Kyuhyun dengan kedua mata menunggu. Ia tidak sabar melihat hadiah apa yang akan Kyuhyun berikan nanti. “Tutup matamu.”

“Eum?”

“Cepatlah.”

Je Wo mengambil nafas panjang dan membuangnya teratur. Lalu mulai memejamkan kedua matanya. Jantungnya berdebar kuat, ia sama sekali tidak merasakan apa pun untuk beberapa saat. Tapi setelah itu, rambutnya seperti ditarik keatas sebentar lalu kembali tergerai kebawah. Ada sebuah benda dingin yang menyentuh lehernya.

“Buka matamu.”

Kedua matanya terbuka perlahan. Menatap Kyuhyun yang berada di hadapannya.

“Kau suka?” bisik Kyuhyun, lalu mengarahkan tatapannya pada sesuatu yang mengalung indah pada leher Je Wo.

Shin Je Wo mengikuti kemaa arah tatapan Kyuhyun, lalu sedikit terkejut menemukan sebuah kalung melingkari lehernya, “Kalung?” gumamnya. Tangannya bergerak begitu saja menyentuh sebuah gembok kecil berbentuk love yang menghiasi kalung itu. Ada berlian kecil berjumlah banyak yang menyelimuti gembok kecil itu hingga semakin membuat kalung itu tampak begitu indah. Je Wo kembali menatap Kyuhyun, “Gembok?” wajahnya menuntut Kyuhyun untuk menjawab.

“Ya, gembok. Aku ingin mengunci hatimu dengan gembok itu agar kau tidak akan pernah bisa lari dariku.” Jawabnya menahan senyum. Sejujurnya ia sangat malu mengatakan hal yang begitu menjijikkan baginya. Tapi memang itulah alasannya menghadiahkan kalung itu untuk Je Wo.

Je Wo ikut tersenyum. “Lalu kuncinya?”

“Ada padaku. Hanya aku yang bisa membukanya kembali karena hatimu memang hanya milikku.”

Mereka tertawa bersama. Merasa lucu sekaligus bahagia. Meski sikap Kyuhyun terlalu tidak biasa bagi keduanya, tapi Je Wo merasa senang pria itu memberikan hadiah yang sangat mengejutkannya.

“Aku tau kau tidak menyukai perhiasan, tapi untuk yang satu ini. jangan pernah menghilangkannya. Kau harus memakainya setiap hari, mengerti?”

“Arraseo… terima kasih, tuan yang baik hati.”

“Hanya ucapan terima kasih?”

Je Wo menyipitkan kedua matanya, “Kau ingin sesuatu yang lebih?” godanya.

Kyuhyun menggerakkan telunjuknya, menyuruh Je Wo mendekat. Setelah wanita itu mendekat padanya, ia kembali menarik pinggang Je Wo dan menyambar bibir istrinya. Ciuman itu diselingi tawa kecil oleh mereka. Tapi setelah beberapa saat mulai berubah menjadi intens. Kyuhyun melumat bibir atas dan Je Wo bergantian. Lumatan itu sangat lembut dan memabukkan hingga Je Wo cemas jika ia akan kembali terpancing seperti sebelumnya.

Je Wo melirik kebelakang tubuh Kyuhyun, menemukan Changmin dan Jonghyun bersorak girang sembari mengarahkan ponsel masing-masing kearah mereka, “Mereka mengambil foto kita, Cho Kyuhyun.” Bisik Je Wo dalam lumatan Kyuhyun.

“Biar saja.” Kyuhyun semakin memperdalam senyumannya. Menekan belakang kepala Je Wo lebih merapat padanya. Membiarkan pekikan girang yang terdengar di belakang tubuhnya. Wajah Je Wo memerah. Berciuman sepanas itu disaat ada dua orang pria yang sangat mengenal mereka sedang menonton dengan bahagia.

***

“Kau yakin ingin kembali pulang?” tanya Kyuhyun sembari menghidupkan mesin mobilnya.

Je Wo mengangguk yakin, “Aku merindukan Hyunje. Lagi pula dia pasti bertanya-tanya mengapa kita belum juga pulang. Ini sudah sore dan sejak pukul 11 pagi kita sudah menghambiskan waktu di hotel ini.” Jawabnya.

“Dia pasti mengerti. Tapi jika kau memang ingin pulang, yasudah.”

Mobil mulai melaju meninggalkan hotel itu, termasuk segala kenangan indah yang hari ini mereka ciptakan disana. Je Wo menatap jalanan dengan wajah sendu, terkadang menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan. Rasanya hari ini seperti mimpi baginya. Berhari-hari ia dan Kyuhyun bertengkar, tapi sekarang mereka bagaikan pasangan pengantin baru yang selalu bermesraan setiap saat.

Wajah Je Wo kembali memerah ketika teringat pada cumbuan panas Kyuhyun diatas sofa. Saat itu mereka hampir saja benar-benar bercinta disana. Belum lagi ketika sedang berdansa, berciuman tanpa mempedulikan orang-orang di sekitar mereka dan itu tidak berlangsung cepat hingga Changmin terpaksa meneriaki mereka. Je Wo tersenyum geli mengingat hal itu.

“Kenapa tersenyum?”

Ia menoleh pada Kyuhyun dan menggeleng kecil, “Hanya teringat sesuatu,” Jawabnya. Lalu kembali menatap lurus kedepan. Ia memperhatikan jalanan dan tiba-tiba saja merasa ada yang aneh disana, “Ini bukan jalan menuju Apartement, kan?” gumamnya.

“Eum.” Jawab Kyuhyun sekedar.

Je Wo kembali menoleh padanya. “Lalu?”

“Kau bilang merindukan anakmu. Sekarang aku sedang membawamu untuk menemuinya.”

“Memangnya Hyunje ada dimana?”

“Nanti kau juga tau.”

Je Wo merengut masam. “Seharian ini kau selalu bersikap misterius padaku, Tuan Cho. Anakku baik-baik saja, kan?”

Kyuhyun hanya terkekeh pelan dan tetap fokus menyetir. Lagi-lagi pria ini bersikap seperti itu.

***

“Dimana ini?”

Je Wo memperhatikan sebuah rumah besar dan mewah di hadapannya. Mobil Kyuhyun baru saja memasuki arena rumah itu yang begitu besar, melewati sebuah kolam renang yang sangat besar dan luas. Terkadang Je Wo berdecak kagum melihat betapa mewah dan indahnya rumah itu. Terlebih rumah itu berada di kawasan sekitar pantai yang cukup tenang karena pantai itu bukan pantai umum yang bisa di datangi oleh banyak orang.

“Sampai.” Kyuhyun mematikan mesin mobilnya. Lalu melirik pada rumah itu.

“Ini rumah siapa, Cho Kyuhyun? Benar Hyunje ada disini? Kenapa kau menitipkannya dirumah ini? Apa rumah ini milik temanmu? Sejak kapan kau memiliki teman sekaya ini?” rentetan pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir Je Wo. Sejujurnya wanita itu begitu mengagumi rumah mewah itu. Semuanya persis dengan seleranya.

“Semua pertanyaanmu akan terjawab setelah kau masuk kesana. Ayo.”

Kyuhyun dan Je Wo berjalan beriringan menuju pintu besar rumah itu yang terbuka lebar. Sepanjang jalan, Je Wo selalu mengutarakan rasa kagumnya. Tersenyum senang dapat menginjak rumah sebagus itu. Ia bahkan tidak sadar ketika Kyuhyun menarik tangannya dan menuntunnya memasuki rumah itu hingga ia kini bertemu dengan beberapa orang yang sudah terlalu ia kenali.

“Selamat datang!!”

Teriakan itu mengejutkan Je Wo hingga ia hanya dapat berdiri kaku dengan kedua mata melebar. Ada kedua mertuanya, Ahra, Hyunje, member Super Junior dan beberapa wanita lainnya yang ia kenal sebagai kekasih para pria-pria itu.

“Ka-kalian?” gumamnya.

“Selamat ulang tahun!!” teriak mereka lagi.

Ahra lebih dulu melangkah mendekati Je Wo, menarik wanita itu untuk mendekati yang lainnya, “Ja! Adik ipar, bagaimana? Kau suka dengan kejutan dari kami?” tanya Ahra bersemangat.

Je Wo menatapnya bingung, lalu menatap satu persatu orang-orang yang tersenyum lebar padanya. “Kenapa kalian ada disini? Dan lagi… rumah ini milik siapa? Kenapa harus membuat kejutan dirumah orang lain?”

Suara kekehan pelan terdengar dari belakang tubuh Je Wo. Belum sempat ia berbalik, sebuah pelukan hangat sudah ia rasakan dari belakang tubuhnya. “Noona, berikan padanya.” Suruh Kyuhyun pada Ahra.

Ahra mengangguk mengerti, lalu berjalan mengambil sesuatu dari atas meja. Ia kembali pada Je Wo dengan sebuah Map berwarna coklat ditangannya, “Igo, tanda tangani surat ini.” Ujarnya.

Je Wo mengernyit tak mengerti, “Surat apa ini?” tanyanya waspada. Kata cerai kembali melintasi otaknya. Ia mengira jika surat itu adalah surat cerai Kyuhyun.

“Yang pasti itu bukan surat cerai, Nyonya Cho…” timpal Donghae.

Je Wo melirik tajam pada Donghae. Merasa kesal kenapa pria itu mengetahui isi otaknya, “Lalu ini surat apa? Aku tidak mau sembarangan menandatangani surat.” Sungutnya menatap garang Ahra.

“Heish! Ini bukan sembarang surat. Surat ini adalah surat kepemilikan rumah ini dan kau harus menandatanganinya agar rumah ini resmi menjadi milikmu, bodoh.” Umpat Ahra.

“MWOYA?!” pekik Je Wo terkejut.

“Palli, Omma. Aku sangat ingin rumah ini menjadi milik kita. Cepat tanda tangani itu, nanti saja jika kau ingin terkejut.”

Je Wo segera membalikkan tubuhnya, menatap Kyuhyun penuh tanya. Kedua matanya masih melebar menandakan ia masih sangat tidak percaya dengan apa yang ia dengar.

Kyuhyun mengangguk kecil, “Rumah ini akan menjadi milikmu, atas namamu dan bukan atas namaku. Ini hadiah ulang tahun dariku untukmu.” Jawab Kyuhyun dari ekspresi wajah Je Wo.

“Kau tidak tau bagimana repotnya aku mencari rumah seperti ini dalam waktu semalam? Pria idiot itu menyuruhku mencarikan rumah dengan beberapa rentetan syarat yang menurutnya semua itu adalah seleramu. Rumah itu harus berada didekat pantai, besar dan bla bla bla. Awas saja jika kau tidak menyukainya.” Jelas Ahra panjang lebar.

Je Wo masih tidak bergeming. Menatap Kyuhyun penuh arti. Semuanya masih seperti mimpi dan ia sama sekali tidak ingin segera terbangun. Lama ia berdiam diri sebelum senyuman manis terulir di bibirnya. Ia segera memeluk Kyuhyun erat dan tidak lagi peduli dengan keberadaan orang-orang disana, “Terima kasih banyak, Cho Kyuhyun. Aku tidak tau lagi harus mengatakan apa padamu. Kau begitu manis hari ini, aku mencintaimu.” Bisiknya.

“Woah!!!” teriakan dari belakang tubuhnya sontak terdengar. Ini memang merupakan pemandangan langka bagi mereka. Melihat Je Wo lebih dulu memeluk pria itu.

Setelah melepaskan pelukannya, Je Wo segera menyambar pena yang di sediakan Ahra, lalu menandatangani surat itu dengan penuh semangat. Ia segera memeluk kedua mertuanya senang, bahkan mengutarakan segala kebahagiaa yang ia rasakan pada Kim Hana yang mendengarnya sembari mengelus rambut Je Wo.

“Omma,” panggil Hyunje. Je Wo menoleh padanya, “Selamat ulang tahun.” Sambungnya dengan senyuman manis.

Je Wo mendekati Hyunje, lalu berjongkok dihadapan bocah itu. “Tidak ada ciuman untukku?” godanya.

“Apakah Appa tidak memberikannya padamu sepanjang hari ini? Changmin Ahjussi bilang, ia melakukannya dengan sangat baik.” Jawab Hyunje dengan wajah menggoda.

Sontak wajah Je Wo kembali memanas, terlebih semua orang disana telah menertawakannya, ia juga mendengar umpatan Kyuhyun pada Changmin yang telah menceritakan apa yang ia lakukan bersama Je Wo.

“Tapi baiklah, sepertinya ciumanku memang lebih berarti.” Desah Hyunje, ia mengecup dahi, kedua pipi Je Wo, hidung dan yang terakhir adalah bibir Je Wo hingga wanita itu tersenyum. Setelah itu Hyunje memeluk Je Wo erat. Sejujurnya bocah itu juga merindukan ibunya setelah seharian ini tidak dapat melihat Je Wo.

Je Wo menggendongnya dan berjalan mendekati Kyuhyun, “Hei, lihat. Appa mmberikan sebuah kalung padaku.” Je Wo mengarahkan tatapannya pada kalung yang ia pakai.

“Cih, aku bahkan lebih dulu melihatnya.” Cibir Hyunje.

Je Wo melirik Kyuhyun yang tertawa geli, “Kenapa dia yang lebih dulu melihatnya?” sungutnya.

“Sudahlah, kau kekanakan sekali. Aku butuh pendapat bocah ini sebelum memberikannya padamu.”

“Je Wo-ya.” Tiba-tiba saja ayah Kyuhyun memanggil.

“Ya, Abeonim?”

“Aku telah mendaftarkan Hyunje di sebuah taman kanak-kanak. Sekolah itu milik temanku. Aku yakin kau akan kesulitan mendaftarkannya sendiri mengingat kita masih harus merahasiakan nama Kyuhyun sebagai Ayah Hyunje. Tapi karena sekolah itu milik temanku, semuanya bisa terlesaikan dengan baik. Minggu depan Hyunje sudah bisa bersekolah.”

“Eo? Aku akan segera sekolah, Harabe?” tanya Hyunje senang.

“Tentu saja. Aku sudah muak melihatmu berada dirumah sepanjang hari.” Jawab Kyuhyun.

“Terima kasih, Abeonim. Sepertinya aku sudah terlalu banyak merepotkan kalian semua.” Ucap Je Wo sungkan.

“Baguslah kalau kau sadar.” Celetuk Ahra.

Je Wo segera melayangkan tatapan garangnya pada gadis itu. Ia kembali teringat atas ulah Cho Ahra yang telah mengerjainya pagi ini, “Eonnie.” Panggilnya menggeram.

“Wae?”

“Kupikir sebaiknya kau mulai mengikuti casting untuk sebuah drama. Bukankah kau sangat pintar dalam berakting?” sindirnya.

Awalnya Ahra tampak mengerutkan dahi tidak mengerti. Tapi setelah mendengar ledakan tawa Kyuhyun, ia mulai tersenyum lebar. “Hahaha, bagaimana? Aktingku hebat, bukan?” tawanya tanpa rsa bersalah.

“Kau menyebalkan! Tega sekali kau bersekutu dengan pria ini untuk mengerjaiku. Kupikir kau satu-satunya orang yang sangat peduli padaku.” Sungut Je Wo kesal.

“Eiy, aku hanya sedikit membantunya. Lagi pula aku senang bisa membuatmu menderita.”

“Eonnie!!” teriak Je Wo.

Entah harus berapa kali wanita itu ditertawakan disana. Ya, memang jika Cho Ahra sudah beraksi maka tidak ada yang dapat mengelak dari ulah jahilnya.

“Tapi sebenarnya, saat melihatmu benar-benar marah, aku sangat takut. Wajahmu benar-benar terlihat mengerikan. Aku jadi berpikir, jika kau dan Kyuhyun sedang bertengkar, kira-kira siapa yang akan menjadi pemenangnya. Setauku, adikku yang bodoh ini juga amat mengerikan jika sudah mengamuk.” Sambung Ahra.

“Terngantung pertengkaran seperti apa yang terjadi.” Timpal Kyuhyun dengan senyuman penuh arti. Hanya Je Wo yang tau makna senyuman itu. Dan wanita itu hanya memutar bola matanya malas

***

Diam-diam Kyuhyun berbisik di telinga Je Wo saat mereka saling berbincang ringan sembari menikmati beberapa masakan yang Hana siapkan. “Hei, kau tidak ingin melihat-lihat rumah ini?”

“Sangat, tapi bagaimana dengan mereka?” balas Je Wo berbisik.

Kyuhyun menggenggam jemari Je Wo. Memperhatikan sekitarnya, memastikan tidak ada yang sedang memperhatikan mereka disana. Setelah itu ia mulai membawa Je Wo menjauh dari keremaian. Membawa wanita itu berkeliling dan menunjukkan segala penjuru rumah.

tyger_woods_house_01-tile

tyger_woods_house_11-tile

 

 

lp

 

 

Ia selalu mendengar decak kagum Je Wo setiap kali menunjukkan ruangan yang ada. Semuanya memang ia siapkan sesuai selera istrinya, “Aku yakin rumah ini sangat mahal.” Gumam Je Wo. Lalu ia menatap Kyuhyun, “Berapa banyak uang yang sudah kau keluarkan dalam sehari ini, Tuan Cho? Pertama, pesta kejutan yang dihadiri teman-temanku, lalu menyewa restourant sebesar itu, kalung indah ini dan yang terakhir, rumah sebesar ini.”

Kyuhyun mengangkat kedua bahunya acuh, “Aku masih tetap kaya meskipun telah mengeluarkan uang sebanyak itu.” Jawabnya malas. Lalu menarik kembali tangan Je Wo, “Ada tempat yang harus kau lihat karena tempat itu begitu penting.”

Je Wo memutar bola matanya malas, namun tetap mengukuti langkah Kyuhyun menaiki sebuah tangga. Setelah itu Kyuhyun membawanya memasuki sebuah ruangan yang ia yakini adalah kamar mereka. Je Wo terenyum. “Ini kamar kita?”

“Ya dan ada kejutan untukmu.” Kyuhyun berjalan mendekati gorden dan segera menarik gorden itu hingga terbuka, menampakkan sebuah pemandangan indah disana.

tyger_woods_house_05-tile

“Oh my god!” gumam Je Wo tanpa sadar.

Pantai, disana ia dapat melihat pantai secara jelas. Hanya butuh berdiri tegak di depan jendela kamarnya, ia dapat menikmati pemandangan yang begitu ia sukai. Kyuhyun memeluk istrinya dari belakang, “Kau sangat menyukai pantai, itu sebabnya aku segera membeli rumah ini saat Noona merekomendasikannya padaku.” Bisiknya pelan.

Je Wo menoleh kebelakang, menatap wajah Kyuhyun haru. “Aku boleh menciummu, tidak?”

Kyuhyun tertawa, “Kau tidak perlu bertanya untuk itu.” Jawabnya mantap.

Je Wo menarik wajah Kyuhyun mendekat, mengecup lama bibir pria itu, “Kau memang Cho Kyuhyunku yang hebat. Selain menyukai pantai, aku juga menyukaimu.” Ucapnya.

“Jangan samakan aku dengan pantai.” Sungut Kyuhyun.

“Tentu saja tidak. Pantai tidak bisa bercinta denganku tapi kau bisa.” Goda Je Wo.

Kyuhyun menyipitkan kedua matanya, membalikkan tubuh Je Wo lalu memeluk pinggangnya, “Aku sangat menyukai kamar ini, kau tau kenapa?” tanyanya deduktif. Je Wo menggeleng pelan, “Karena kau begitu liar saat kita bercinta dipantai. Ingat?”

Je Wo menggigit bibir bawahnya malu. “Kenapa kau masih mengingatnya?”

“Karena aku tidak dapat melupakannya. Dan sekarang aku ingin mengulangnya lagi.” Je Wo terkekeh geli sebelum Kyuhyun melumat bibirnya. Mereka kembali masuk dalam ciuman panas dan menggairahkan. Tapi baru saja beberapa menit berlalu, sebuah suara membuat mereka melepaskan pagutan masing-masing dan menoleh keambang pintu kamar dan menemukan Ahra, Donghae dan Eunhyuk berdiri disana.

“Sudah kuduga kalian akan menghilang dan pergi kekamar.” Sindir Donghae dengan wajah mencibir.

“Sebegitu tak sabarnyakah kalian berdua? Kami bahkan belum pulang dari sini.” Sambung Eunhyuk.

“Aigo… aku yakin kamar ini akan menjadi panas setiap kali kalian berbuat mesum disini.” Cibir Ahra.

Kyuhyun menggeram kesal, “Keluar-dari-kamarku-sekarang!” ucapnya penuh penakanan. Sedangkan Je Wo menyembunyikan wajahnya malu dalam dada suaminya.

THE END.

Holla!!!

Kelamaan ya nunggu lanjutan FF yang ini hahaha. Maaf, saya buntu di bagian ending. Ini udah 3 kali perombakan ending loh *Nyengir cantik*

Berhubung aku ini memang Author odong, jadi harap maklum ajah ya…

Uhuyyyy rumah baruuuu hahaha. Sebenarnya FF ini buat spesial My Brithday bulan lalu, Cuma endingnya kelamaan selesai jadi beginilah #PLAKKK. Jika ada bagian yang tidak mengerti diatas, cari di penggalan novel. Yang belum baca, boleh tanya-tanya aku dari pada bingung.

Kayaknya FF kali ini mengandung unsur mual mendadak. Terlalu banyak skinsip bertebaran dan apa itu di sofa??? Siapa itu yang nulis? Aku? Kayaknya bukan. #Plakkk. Mwehehehe otak saya makin lama makin odong kayaknya.

And just info, jangan marah kalau semua inbox, DM, mantion kalian buat nanya lanjutan FF kapan di publish gk pernah aku balas atau respon. Aku itu paling malas terlalu banyak mengulang kalimat yang sama. Udah sering aku bilang, aku nulis berdasarkan arah otak. Kalau dia maunya nerusin FF yang ini ya aku lanjut kesana. Kalau gak, ya sampai kapanpun FF yang lain gk kesentuh. Maaf kalau rada egois, Cuma ya… memang begitulah aku.

Udah ye, kebanyakan ngomong akunya. Happy Reading ajah lah… sampai ketemu di FF selanjutnya. Dan TYPO? Jangan ditanya, aku memang gk pernah ngedit kalau udah selesai nulis mwehehehe. Ngetiknya ajah udah mules apa lagi ngeditnya. Gempor nih tangan…

Oke, Pai Pai.

Shin Je Wo.

256 thoughts on “A Beautiful Life 2/2

  1. gatau harus bilang apa sumpah keren banget aku udah curiga pas ahra eonni dateng ke apartemen kyuhyun terus bilang kalo kyuhyun milih bercerai sama je wo dan ternyata bener kan akhirnya kek gini haha tapi keren banget lah apa lagi rumahnya oh my god aku gabisa bayangin kalo aku jadi jewo ahaha

  2. series cho family, ff ini lah yg bikin menegangkan, emosi, sedih dan bahagia..
    pokonya campur aduk baca ff ini ntu hihihi
    kyuhuunnn kau memang lelaki super kaya, semoga setelah ini nani aku bakal mendapatkan lelaki sepertimu juga ya wkwkw

  3. aku kira mereka beneran cerai tahunya engga syukur deh #lega, itu ngomong2 hyunje tambah gemesin masa dia bilang sm je wo *terkejutnya bs di tunda dulu*
    keterkejutan itukan replek #ApaIni

  4. Huwaa >_< kirain beneran pisah. Salut sama ff ini kak apa lagi sama kalimat ini “Aku tidak pernah mengeluh, karena aku sangat mencintaimu, Cho Kyuhyun. Kau memang
    memenjarakan aku, tapi aku tidak keberatan karena memang hanya kau yang aku ijinkan untuk melakukan itu,” ucapnya pelan dan berbisik, “Aku bahagia, Cho Kyuhyun. Sangat bahagia,” Je Wo mendaratkan telapak tangannya diatas dada Kyuhyun, dimana degupan jantung pria itu dapat ia rasakan, “Disini, aku menemukan kebahagian. Hanya detak jantungmu yang aku butuhkan untuk bahagia. Karena jika ini sudah tidak berdetak,” Je Wo menggigit bibir bawahnya. “Kebahagianku pasti telah lenyap.” Deg-deg serrr baca nya. Keren (y)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s