Happy Family

 

Untitled-1

 

 

 

Je Wo membuka sedikit kaca jendela mobil. Melirik sekitar super market dengan kedua mata menyipit. Dimulai dari samping hingga depan super market itu, matanya bergerak kesana kemari, “Tidak terlalu ramai.” Gumamnya.

“Kalau begitu ayo kita cepat masuk, Omma…” Rengek Hyunje.

Je Wo menghela malas lalu melirik pria disampingnya yang sedang memakai masker berwarna hitam dan hoodie jacket yang ia kenakan. Matanya sibuk menatap kaca spion untuk memperhatikan penampilannya, “Kaca mata.” Ujarnya mengingatkan.

Kyuhyun melirik Je Wo dari ekor matanya, “Tidak! Kau ingin semua orang mengira aku sudah gila? Hanya memasuki sebuah super market saja, aku harus menggunakan kaca mata dan masker?” sungutnya. Memakai segala alat penyamaran itu saja dia sudah enggan, apa lagi harus di tambah dengan kaca mata hitam.

“Heish, aku tidak ingin saat kita sedang berbelanja ada orang yang mengenalimu.” Rutuk Je Wo yang kembali mengomeli suaminya. Awalnya, wanita itu berniat berbelanja keperluan dapur mereka sendiri saja. Tapi saat Hyunje melihatnya bersiap-siap, bocah itu merengek ingin ikut. Dan sialnya, ketika ingin keluar dari rumah, Cho Kyuhyun telah sampai lebih dulu lalu memaksa mengantar mereka.

“Ini sudah pukul 8 malam. Pasti tidak terlalu ramai.”

“Dari mana kau tau?”

“Kau ini cerewet sekali, Nyonya Cho.”

“Kalau begitu lebih baik kau tidak usah ikut saja tadi.”

“Apa hubungannya?”

“Yak!! Tidak bisakah kalian bertengkar lebih cepat? Mau sampai kapan kita masih berada di dalam mobil?!” teriak Hyunje.

Je Wo maupun Kyuhyun menoleh kebelakang dengan kedua mata tajam, “Tutup mulut!” bentak keduanya. Ketiga manusia yang memiliki kadar emosi setara itu saling membungkam mulut masing-masing beberapa saat hingga Kyuhyun kembali bersuara.

“Sudahlah, jangan terlalu lama berpikir. Super market ini akan segera tutup,” Kyuhyun mengambil kaca matanya yang tadi di sediakan Je Wo sebelum berangkat. Ia memakai kaca mata hitamnya lalu menatap Je Wo. “Sudah kan, Nyonya Cho? Kau puas? Sekarang cepat turun. Kajja Hyunje-ya.” Kyuhyun turun lebih dulu dari mobilnya, meninggalkan Ibu dan anak itu yang saling berpandangan.

“Akhir-akhir ini Appa sangat mudah di jinakkan, Omma.” Hyunje terkikik kecil melirik Kyuhyun dari tempatnya.

Je Wo mengulum senyum dan mengangguk setuju lalu ikut keluar dari sana bersama Hyunje. Ia menghampiri Kyuhyun yang menyandar di depan mobil sembari berkutat dengan ponselnya, “Hei, kupikir kau benar. Lepaskan kaca mata itu. kau terlihat seperti teroris.” Kekehnya.

Kyuhyun menoleh. Mendelik kesal pada istrinya meskipun wanita itu tidak dapat melihatnya, “Kenapa kau tidak berpikir dari tadi, bodoh?! Otak kecilmu memang terlalu lambat untuk menilai sesuatu.” Rutuknya. Lalu melepas kaca matanya dan memasukkan benda itu kedalam saku jacketnya.

“Omma… ayo masuk….” Hyunje menarik-narik ujung sweater yang Je Wo kenakan. Bocah itu tampak tak sabar untuk masuk kesana dan melakukan apa saja yang sudah ia inginkan. Urutan-urutan itu sudah ia rangkai dalam otaknya dan akan segera ia lakukan ketika sudah masuk kesana.

Kyuhyun menggenggam jemari Je Wo dan mulai memasuki super market itu. Mereka membiarkan Hyunje berjalan kesana kemari sesukanya karena bocah itu tidak suka ada orang yang menuntunnya saat sedang berjalan. Tapi tetap saja kedua mata Kyuhyun dan Je Wo tak lepas dari bocah itu.

Begitu juga saat menaiki eskalator. Hyunje berniat berlari kesana tapi Kyuhyun segera menangkap lengan bocah itu dan menggendongnya hingga ia mendengar desisan protes Hyunje, “Aku bisa melakukannya sendiri, Appa. Kenapa harus menggendongku?” ia meronta-ronta dalam gendongan Kyuhyun ingin segera di turunkan.

“Tidak. Kau pikir tempat ini taman bermain? Bagaimana jika kau jatuh?” jawab Je Wo yang telah mensejajarkan langkah bersama Kyuhyun. Je Wo dan Hyunje mulai terlibat perdebatan kecil seperti biasa dan Hyunje masih sering meronta-ronta dalam gendongan Kyuhyun.

“Cho Hyunje.” Bisik Kyuhyun.

“Wae?!” jawab bocah itu ketus dan tampak tak bersahabat.

“Coba lihat kebawah.”

Hyunje memutar bola matanya malas, lalu melirik kebawah. Ia dapat melihat lantai dasar yang berada cukup jauh darinya hingga perutnya terasa ngilu dan bibirnya sedikit mengeluarkan bunyi ringisan, “Mengerikan.” Gumamnya.

“Nah, kalau kau masih terus mengoceh dan bergerak-gerak dalam gendongan Appa. Appa akan membuangmu kebawah sana.” Bisik Kyuhyun ringan.

“Appa!”

“Cho Kyuhyun!”

Bahu Kyuhyun bergoyang menahan tawa melihat reaksi Je Wo dan Hyunje atas ucapannya. Ia memang tau bagaimana cara menghentikan perdebatan kedua orang itu.

“Kau juga akan aku tendang kebawah sana jika berani melakukannya.” Ancam Je Wo. Hyunje mengangguk kuat dan kembali bersekutu pada Je Wo.

“Coba saja. Semua orang akan menyalahkanmu karena telah mendorong seorang selebriti sepertiku.” Jawab Kyuhyun ringan.

Je Wo memukul lengan Kyuhyun. “Dan kau lebih dulu melakukannya pada anakku, bodoh.”

“Kalian lebih bodoh karena tidak ada yang jatuh disini.” Ujar Hyunje datar.

Kyuhyun dan Je Wo saling berpandangan lalu tertawa bersama. Hyunje benar, memangnya siapa yang benar-benar akan terjatuh dari sana? Terkadang kedua orang itu memang sedikit tidak waras karena teramat suka membayangkan sesuatu yang bahkan sama sekali tidak pernah terjadi. Dan hal itu akan berakhir dengan perdebatan ringan hingga pertengkaran kecil. Maka itu Hyunje tidak pernah segan menyebut kedua orang tuanya Bodoh karena faktanya, mereka memang seperti itu.

Kini mereka telah sampai di lantai 5 dan langsung menuju pusat perbelanjaan. Kyuhyun kembali menurunkan Hyunje dan bocah itu segera berlari menuju sebuah keranjang belanja. Ia memanggil Je Wo dan menunjuk-nunjuk keranjang itu. Je Wo menggeleng lalu menggedikkan kepalanya kearah troli. Hyunje tersenyum lebar saat melihat Kyuhyun berjalan kearahnya. Ia melebarkan kedua tangannya dan menunggu pria itu kembali menggendongnya.

Bocah itu masuk kedalam troli yang Kyuhyun dorong. Tidak peduli sudah sebesar apa ia sekarang tapi Hyunje selalu melakukan itu setiap kali mereka belanja menggunakan benda itu. Dan dapat dipastikan apa yang terjadi jika tidak menuruti keinginannya. Ya, bocah itu akan marah lalu berdiam diri sepanjang hari dan itu lebih merepotkan bagi Je Wo.

“Dimulai dari yang mana?” tanya Kyuhyun. Tangannya bergerak membenarkan letak maskernya.

Je Wo mengitari pandangannya kesekitar, “Aku akan membeli bahan pokok. Dan kalian beli saja kebutuhan yang di perlukan.” Jawabnya tanpa menoleh pada Kyuhyun. Lalu setelah itu segera mendorong troli miliknya dan mulai mengambil apa-apa saja yang ia butuhkan untuk mengisi dapur. Sebenarnya setelah mereka pindah kerumah baru, Je Wo tidak pernah memasak lagi. Sudah ada banyak pelayan dirumahnya yang Kyuhyun pekerjakan. Masalah dapur juga begitu, tapi wanita ini sudah terlalu biasa mengerjakan segalanya sendiri dan menurutnya tidak ada salahnya jika ia yang membeli keperluan isi dapurnya meskipun pelayan mereka bisa mengerjakannya. Ada lebih dari 5 pelayan yang bekerja dirumah mereka. Bahkan, ada pelayan khusus yang melayani Hyunje dan sayangnya, bocah itu tidak pernah suka jika wanita itu mendekatinya. Hyunje selalu berkata ia hanya membutuhkan Je Wo, bukan orang lain.

“Daging, ikan, telur, sayur…” gumamnya mengingat-ingat. Tangannya mengambil bahan-bahan makanan itu lalu memeriksa harganya dengan teliti seperti biasa. “Eo? Mahal sekali…” rutuknya. Menatap daging itu lama, ia mulai tersenyum. “Aku lupa jika suamiku  sangat kaya. Membeli rumah sebesar itu saja ia bisa, apa lagi hanya membeli daging ini. Hahaha. Kupikir tidak apa-apa jika aku membeli semua bahan-bahan ini tanpa mencemaskan harganya.” Tangannya bergerak bebas mengambil apa saja yang ia butuhkan. Karena ia tidak butuh berpikir lama untuk mendapatkan semuanya, ia selesai lebih cepat.

Je Wo segera memutar trolinya dan mencari dimana keberadaan Kyuhyun dan Hyunje. Tidak butuh waktu lama baginya untuk mencari dua pria itu karena tampilan Kyuhyun yang begitu mencolok dan lagi, orang gila mana yang membiarkan anaknya menaiki troli meskipun tubuh anak itu sudah tidak pantas menaikinya. Ya, orang gila itu adalah dia dan Kyuhyun.

“Aku sudah selesai, bagaimana dengan kalian?” Ujar Je Wo sembari menepuk bahu Kyuhyun dari belakang. Kyuhyun berbalik, lalu pandangan Je Wo turun pada troli yang dibawa suaminya, “Ige mwoya?!” pekiknya tertahan.

Troli itu penuh. Amat sangat penuh dan bahkan Hyunje juga memegang sebuah keranjang belanjaan dengan isi yang juga sama penuhnya. Je Wo menggeram dan mendelik tajam pada Kyuhyun, “Apa yang kau lakukan, Cho Kyuhyun?” geramnya.

Sudut mata Kyuhyun tertarik, menandakan jika pria itu tengah tersenyum. Dan hal yang sama juga turut Hyunje lakukan, “Berbelanja, memangnya apa lagi?” jawab Kyuhyun ringan.

“Benar, Omma. Semua ini sangat kita butuhkan.” Timpal Hyunje mengangguk semangat.

Gigi-gigi Je Wo bergemeretak, tatapannya kembali jatuh pada setumpuk belajaan yang Kyuhyun ambil. Beberapa kotak Ice krim, puluhan makanan ringan, minuman bersoda, 4 lusin susu strawberry, roti, coklat dan… Je Wo menatap Kyuhyun tajam, “Wine?” geramnya.

Kali ini wajah Kyuhyun terlihat gugup, “Hanya sebotol wine.” Jawabnya pelan.

“Eo, lalu yang ini apa, Appa?” Hyunje mengeluarkan tiga botol wine dari keranjangan yang ia pangku. Kyuhyun meneguk ludahnya berat, lalu mendelik tajam pada Hyunje yang menatapnya tidak mengerti. Bocah itu mana tahu jika wine ini minuman yang menyesatkan.

“Kau menyuruh Hyunje memegang minuman itu, Cho Kyuhyun? Benar-benar…”

“Yah, dia juga tidak tahu minuman seperti apa itu.”

“Memangnya seperti apa?” celetuk Hyunje.

“Heish!” Kyuhyun mendesis pada Hyunje sebelum menatap Je Wo, “Aku berjanji akan meminum dan menyimpannya ditempat yang aman.” Ujarnya.

“Tapi kenapa kau mengambil sebanyak ini? Setengah dari ini semua saja sudah cukup, Cho Kyuhyun.” Jelas Je Wo. Ia melirik isi troli Kyuhyun ngeri. Sebelumnya ia dan Hyunje tidak pernah belanja sebanyak itu.

Kyuhyun melipat kedua tangannya, “Aku tanya padamu. Yang membayar ini semua siapa?”

“Kau.”

“Lalu apa masalahnya? Aku yang membeli dan aku yang membayar. Aku juga yang nantinya akan membawa barang-barang ini pulang. Jadi, jangan mempermasalahkannya.” Je Wo kembali ingin membuka mulut, sayangnya Kyuhyun segera berjalan melewatinya menuju kasir. Sepertinya kali ini Je Wo harus menerima kekalahannya.

 

***

 

 

“Tapi aku tidak suka, Omma…”

Hyunje menekuk wajahnya hingga menimbulkan guratan kekesalan. Baru saja Je Wo menasehatinya untuk tidak bersikap kasar pada pelayan pribadinya. Tadi, sepulang dari super market, wanita paruh baya sekaligus kepala pelayan itu menyambut Hyunje dan berniat membantu bocah itu membersihkan diri. Tapi Hyunje menolak dan bahkan membentak wanita itu hingga Kyuhyun memarahinya. Dan saat ini, tentu saja bocah itu merajuk pada Appanya. Awalnya Kyuhyun ingin ikut menasehati anaknya. Tapi Je Wo melarang, mengingat Hyunje saat ini sedang kesal pada pria itu.

“Dia hanya ingin membantumu untuk membersihkan diri setelah itu menemanimu hingga kau tertidur.” Bujuk Je Wo. Ia tau bagaimana caranya berbicara pada Hyunje ketika sikap berontak bocah itu muncul.

“Aku bisa tidur sendiri. Omma juga tau, kan? Dan aku tidak mau orang lain yang membantuku. Aku hanya mau Omma saja. Jebal Omma, jangan memaksaku lagi. Ahjumma itu boleh melakukan apa pun asalkan tidak mencoba menjadi seperti Omma didekatku. Dan katakan itu pada Appa!” ujarnya tegas. Wajah marahnya terlihat ketika menyebut Kyuhyun.

Je Wo menghela nafas panjang dan mengangguk. “Oke. Omma akan mengatakannya pada Appamu. Tapi, besok kau harus tetap meminta maaf pada Kim Ahjumma.” Hyunje mengangguk patuh lalu mulai membaringkan dirinya diatas ranjang. Je Wo membenarkan letak selimutnya dan mengecup dahi bocah itu, “Jalja…” bisiknya sebelum meninggalkan kamar Hyunje.

Setelah itu ia kembali kekamarnya. Melirik sekitar dan menemukan Kyuhyun tengah duduk di luar kamar. Di sebuah sofa panjang yang menghadap lurus kehamparan pantai. Je Wo menghampiri Kyuhyun, ia melirik segelas wine yang berada ditangan suaminya.

“Hyunje sudah tidur?” tanya Kyuhyun. Masih menatap pantai yang menggelap sembari menyesap minumannya.

“Eum, dia berjanji akan meminta maaf pada Kim Ahjumma besok pagi.”

Kyuhyun mendesah, “Baguslah. Kupikir dia akan tetap bersikap kekanakan seperti tadi.” Gumamnya.

Je Wo melirik kesal pada Kyuhyun. “Kau lupa dia memang masih anak-anak? Dan bisakah kau tidak memarahinya seperti tadi?”

Kyuhyun terkesiap dan menoleh pada Je Wo, “Memangnya apa yang aku lakukan? Wajar aku memarahinya jika dia bersikap seperti itu pada orang lain. Apa menurutmu seharusnya aku memujinya?”

“Tidak. Tapi kau tidak tahu bagaimana Hyunje, Cho Kyuhyun. Dia tidak suka ada yang semakin membuatnya kesal saat dia juga sedang kesal. Seharusnya kau menasehatinya baik-baik tanpa memarahinya dan aku selalu berhasil melakukannya.” Jelas Je Wo cukup terbawa emosi saat itu. Sebenarnya, ia hanya tidak suka melihat Kyuhyun memarahi Hyunje. Bukankah naluri seorang Ibu selalu seperti itu?

Kyuhyun yang mengerti hanya bisa mendesah pasrah. Tidak berniat kembali menyahut dan berakibat malam ini ia akan tidur diluar sana karena Je Wo akan mengunci pintu kamarnya. Biasanya, dia bisa menggunakan kamar Hyunje seperti biasa. Tapi saat ini Hyunje juga sedang kesal padanya dan bisa saja bocah itu menendangnya dari sana.

Untuk sekedar menghilangkah perasaan gundahnya. Kyuhyun berniat meneguk kembali wine yang masih cukup banyak mengisi gelasnya. Namun tiba-tiba saja gelas itu berpindah tangan, ia memekik terkejut saat Je Wo meneguk wine itu hingga habis dalam satu kali tegukan.

“Yah! Kenapa kau meminumnya?” tegur Kyuhyun. Lalu mengambil kembali gelasnya dan memperhatikan wajah Je Wo yang mulai memerah, “Ck, lihat. Wajahmu sudah memerah. Aigo… kau lupa tidak dapat minum?”

Je Wo mendesis, menyandarkan dirinya pada bantal-bantal berwarna merah yang menyanggah dinding sofa, “Aku haus. Wajahku memerah karena disini dingin, bodoh. Lagi pula aku hanya minum satu gelas saja.” Ujarnya.

Kyuhyun menggeleng pasrah. Isi gelasnya sudah habis dan dia tidak mungkin mengambilnya lagi karena jika Je Wo tau dimana tempat penyimpanan minuman itu. Maka ia yakin wanita itu akan segera membuangnya tanpa sisa.

“Ahhh,”Je Wo merenggangkan kedua tangannya keatas. Berusaha melemaskan otot-otot kakunya, “Sepertinya tubuhku sudah sangat lengket. Mandi mungkin akan menyegarkanku kembali.” Gumamnya. Lalu berdiri dan berniat meninggalkan Kyuhyun.

“Hei, kau mau kemana?” tanya Kyuhyun saat Je Wo melintasinya.

“Mandi.” Jawabnya sambil lalu.

Kyuhyun menatap punggung Je Wo yang mulai menghilang dari kamar mereka. Kamar mandi untuk suami istri itu memang tidak berada dalam kamar mereka. Kamar mandinya terletak di samping kamar. Lama pria itu berdiam diri disana sebelum seringaian khasnya terlihat. Ia segera meloncat dari tempatnya dan mengejar Je Wo sebelum wanita itu mengunci pintu kamar mandi.

Tuhan memberkati pria itu. Bertepatan saat Je Wo ingin menutup pintu kamar mandi, ia segera melesat masuk dan membuat Je Wo menatap bingung padanya.

“Sedang apa kau?”

Kyuhyun tersenyum kecil, “Tubuhku juga sangat lengket.” Jawabnya.

Je Wo mulai menyipitkan kedua matanya. Sudah dapat menebak apa yang dimaksud pria itu. “Lalu?”

“Kita bisa mandi bersama.”

“Tidak!” jawab Je Wo cepat. Ia berkacak pinggang pada Kyuhyun, “Memangnya siapa yang mau mandi bersamamu, hah? Ya Tuhan, Cho Kyuhyun… otakmu semakin mesum. Cepat keluar!” Je Wo membuka pintu kamar mandinya lebar.

Kyuhyun mendesah malas lalu kembali menyeret langkahnya. Dia memang melewati Je Wo hingga ambang pintu tapi bukan untuk keluar dari sana, melainkan menutup rapat pintu itu lalu menguncinya dan kunci itu ia simpan dalam saku celananya.

“Yah!!” teriak Je Wo.

“Wae? Aku juga ingin mandi. Kalau tidak suka keluar saja dari sini.” Ia tersenyum penuh kemenangan pada Je Wo yang merengut masam.

“Baik, berikan kuncinya padaku.” Je Wo menengadahkan tangannya.

Kyuhyun menggeleng pelan, “Kalau mau ambil sendiri. Ada dalam saku celanaku.” Kyuhyun menunjuk saku celananya. Pria pintar. Ia tau jika Je Wo tidak akan mau melakukannya dan wanita itu pasti akan menolaknya mentah-mentah. Kyuhyun tersenyum smirk saat Je Wo hanya mengerucutkan bibirnya kesal.

“Cho Kyuhyun… kita bisa mandi secara bergantian.” Rengeknya dan mulai mengeluarkan rayuan yang biasa ia lakukan pada Kyuhyun.

“Terlalu membuang waktu,” Kyuhyun mendekatinya. Berdiri di hadapan Je Wo, ia menarik dagu wanita itu. “Lagi pula kita hanya mandi, Shin Je Wo. Kau pikir apa yang ingin aku lakukan padamu?”

Je Wo menepis ibu jari dan telunjuk Kyuhyun dari dagunya, “Cih, kau pikir aku tidak tau pikiran mesummu, eo?” cibirnya.

Kyuhyun memiringkan wajahnya, “Ya sudah, kau berdiri saja disini sampai aku selesai mandi. Dan kita lihat, siapa yang sebenarnya berpikiran mesum,” ia berjalan mendekati bathtub, lalu melepas T-shirt abu-abu yang ia kenakan hingga kini bagian atasnya telah terekspos jelas. Kyuhyun memutar kran air dan mulai mengisi bathtub. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan kuncinya, lalu melirik Je Wo sekilas dengan senyuman kecil dan…

PLUNG!

Kunci itu resmi tenggelam dalam bathtub yang mulai di penuhi oleh air. Je Wo sempat memekik tertahan dan menatap bathtub itu miris. Hilang sudah harapannya untuk keluar dari sana. Ia melirik sinis pada Kyuhyun yang tersenyum miring. Tapi tatapan itu menghilang ketika Kyuhyun menurunkan resleting celananya dan setelah itu, celana jeans yang ia kenakan telah merosot keatas lantai.

“Yah!! Jangan buka semuanya!!” teriak Je Wo.

“Hahaha, kalau tidak dibuka itu bukan mandi namanya, bodoh.” Jawabnya diselingi kekehan ringan.

Je Wo memutar tubuhnya ketika Kyuhyun bersiap-siap membuka pakaian dalamnya. Ia masih cukup waras untuk tidak melihat adegan menjijikkan itu, “Huwaaa aku mau keluar!!!” rengeknya, kedua kakinya menghentak-hentak diatas lantai. Ledakan tawa Kyuhyun terdengar dari balik punggungnya diiringi suara gemercik air. Sepertinya wanita ini tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain… ya, mandi bersama.

 

***

 

 

Cho Kyuhyun menguap lebar. Masih mempertahankan kedua matanya agar tetap terbuka. Ada sebotol wine yang sedari tadi terus menemaninya. Jika rasa kantuk itu semakin menguat, maka ia akan meneguk winenya untuk sekedar mengusir kantuk. Pria itu sengaja terjaga untuk menyaksikan pertandingan klub bola favoritnya. Barcelona. Malam ini, klub itu akan bertemu dengan klub lain yang selama ini menjadi saingan terberatnya. Real Madrid. Pertandingan malam ini telah diagung-agungkan akan menjadi pertandingan yang mengagumkan. Dua klub besar spayol bertemu dalam aura penuh peperangan dan Cho Kyuhyun sama sekali tidak ingin melewatkannya.

“Sudah mulai, belum?”

Pria itu terperanjat kaget, tubuhnya bahkan tersentak kesamping dengan sebelah kaki yang terangkat keatas sofa. Ia mendelik dengan wajah ngeri ketika menemukan Je Wo telah duduk disampingnya dengan kedua mata yang hampir tertutup menghadap kelayar televisi. Ia membawa sebuah guling dan mendekapnya di dada.

“Heish! Kau mengagetkanku, bodoh.” Rutuk Kyuhyun. Mengelus pelan dadanya yang berdegup kencang. Siapa yang tidak akan terkejut jika tiba-tiba menemukan orang lain duduk disebelahnya dengan keadaan seperti itu? Ia bahkan tidak mendengar suara derap kaki yang mendekatinya. “Untuk apa kau bangun malam-malam seperti ini?” tegur Kyuhyun.

Je Wo menghela nafas, menggosok kedua matanya dengan tangan. Lalu menguap lebar, “Aku juga ingin menonton.” Jawabnya serak.

Kyuhyun mengerutkan dahi, “Menonton apa?” alisnya melengkung keatas.

Je Wo melirik malas dengannya. “Kau ingin menonton apa?”

“Pertandingan sepak bola.”

“Lalu kenapa masih bertanya?”

Kyuhyun menggigit bibir bawahnya kesal, “Tentu saja aku bertanya. Memangnya kau juga ingin menonton pertandingan itu?!” sungutnya. Terkadang ia memang harus mengeluarkan kesabaran ekstra jika menghadapi wanita berwajah polos namun memiliki sifat iblis yang luar biasa itu.

“Tuan Cho. Jangan mempertanyakan sesuatu yang sudah jelas dimatamu. Kau hanya membuang-buang waktu dan suaramu. Lebih baik buatkan aku sesuatu yang bisa membuat kedua mataku terbuka dengan sempurna. Lihat,” Je Wo menunjuk kedua matanya yang memang masih setengah terbuka. “Dia sulit untuk terbuka dengan benar.”

Kyuhyun mendengus dengan kekehan kecil. Lalu melirik gelas winenya, ia menyeringai lebar saat sebuah pikiran usil memenuhi otaknya, “Tunggu sebentar.” Ujarnya. Tangannya segera menuang wine kedalam gelas, “Buka mulutmu.” Suruhnya.

Je Wo yang memang masih dalam keadaan mengantuk menuruti perintah Kyuhyun  begitu saja. Ia membuka sedikit mulutnya, lalu mulai merasa pinggiran gelas menyentuh permukaan bibirnya. Ia tau Kyuhyun sedang membantunya minum. Tapi ketika minuman itu menyentuh lidahnya, kedua matanya terbelalak lebar. Hal pertama yang ia temukan adalah seringaian lebar suaminya.

Je Wo mendorong gelas itu dan memekik. “Cho Kyuhyun!!”

Kyuhyun tertawa puas. Bahkan ia memegangi perutnya yang terasa menegang menahan tawa. Mengerjai Je Wo memang kegiatan yang ia sukai. Terlebih jika ia berhasil membuat wanita itu kesal.

Je Wo menjulurkan lidahnya keluar. Membersihkannya dengan tissue yang ia ambil dari atas meja kecil yang terletak di depan sofa, “Sialan!” makinya. “Ini pahit sekali…”

“Hahaha, lihat. Kau sudah bangun sepenuhnya, Nyonya Cho. Aigo… betapa baiknya suamimu ini.” cemo’oh Kyuhyun dengan wajah penuh kepuasan.

Je Wo berdecak kesal. Lalu meraih guling yang ia bawa dan segera memukuli Kyuhyun dengan itu, “Kau menyebalkan! Aku tidak suka wine, bodoh. Ini tidak enak!” rutuknya. Kedua tangannya tak ingin berhenti memukuli Kyuhyun dengan sadis.

“Akh, akh. Appo. Yah! Sudah hentikan.” Teriak Kyuhyun.

Tidak peduli saat ini sudah pukul 2 pagi. Keduanya tetap saja berkelahi seperti anjing dan kucing. Ya, jika Je Wo dan Kyuhyun sudah beradu mulut, maka siapa yang dapat menghentikannya?

 

***

 

“Ini.”

Je Wo mengambil segelas susu hangat yang Kyuhyun berikan. Wajahnya masih menunjukkan kekesalan pada suaminya. Setelah puas membuat Kyuhyun mengaduh kesakitan dan meminta ampun. Ia memaksa pria itu membuatkannya susu hangat untuk membuang rasa pahit di tenggorokannya akibat wine yang Kyuhyun berikan.

“Jangan menekuk wajahmu terus. Kau bisa menua lebih cepat.” Sindir Kyuhyun.

Je Wo melirik tajam padanya, “Jika aku menua lebih cepat maka bagaimana denganmu, hem? Berkacalah dulu sebelum berbicara, Cho Kyuhyun bodoh!” cibirnya. Ia membungkuk kedepan untuk meletakkan gelasnya diatas meja.

Kyuhyun terkekeh ringan. Lalu ibu jari dan telunjuknya menyapu dagu runcing miliknya, “Aku?” gumamnya dengan wajah yang dibuat-buat, “Akhir-akhir ini banyak orang yang sedang membicarakan ketampananku. Bahkan, semua orang mengatakan jika semakin hari, wajahku semakin tampak dewasa.” Ujarnya bangga.

Je Wo menjulurkan lidahnya keluar mendengar jawaban penuh percaya diri suaminya, “Kupikir kau sulit membedakan mana yang dimaksud tampak dewasa dan mana yang dimaksud tampak tua.” Balasnya. Meski sebenarnya ia tau apa yang dikatakan Kyuhyun memang benar, tapi tetap saja ia tidak akan pernah mau mengakuinya.

“Eiy… jangan menampik, Shin Je Wo. Kau juga salah satu wanita yang mengagumi ketampananku, kan?” goda Kyuhyun. Ia menusuk-nusuk pinggang istrinya dengan telunjuk hingga Je Wo menggelinjang geli. Wanita itu memang memiliki banyak titik sensitif dalam tubuhnya.

“Yah, hentikan. Geli, bodoh!” Je Wo berusaha menepis tangan Kyuhyun yang semakin gencar membuatnya tertawa menahan geli. Kakinya menendang-nendang kedua kaki Kyuhyun dibawah sana, tapi sialnya Kyuhyun malah menjepit kedua kakinya di sela-sela kaki panjangnya. “Akh, yah! Hahaha, Cho Kyuhyuh… sudah.” Sudut matanya mulai mengeluarkan air mata karena terlalu banyak tertawa. Sedangkan Kyuhyun sama sekali tidak berniat menghentikan aksinya.

PRITTTTT.

Kyuhyun tersentak dan menoleh kelayar televisi. Ternyata pertandingan telah dimulai, “Eo? Sudah mulai ternyata.” Ujarnya pada Je Wo yang tampak tersengal akibat ulahnya. Ia tersenyum senang sesaat, lalu kembali menarik tubuhnya untuk mulai memfokuskan diri menyaksikan pertandingan.

“Perutku terasa kram.” Gumam Je Wo setelah Kyuhyun menyingkir dari tubuhnya.

Kyuhyun meliriknya, “Itu karena terlalu banyak tertawa.” Jelasnya.

“Diam kau!” umpat Je Wo hingga Kyuhyun kembali terkekeh.

Lalu keduanya mulai larut menyaksikan pertandingan itu. Mereka tidak saling berbicara untuk beberapa saat. Hanya desisan atau pekikan tertahan Je Wo saja yang sesekali terdengar saat bola berwarna putih itu berada dalam kuasa Messi. Kyuhyun yang merasa risih mendengar suara Je Wo segera melirik kesal padanya, “Bisakah kau diam? Kenapa menonton saja kau bisa seberisik ini?” rutuknya.

“Tentu saja. Aku tidak ingin si pendek itu mendekati gawang milik Oppa-ku.” Jawab Je Wo ringan. Ia masih sibuk memperhatikan permainan.

Kyuhyun mengerutkan dahinya, “Oppa? Nugu?” tanya Kyuhyun bingung.

Je Wo tersenyum kecil padanya, “CR 7.” Jawabnya.

“Mwoya?!” pekik Kyuhyun. “Yah! Jadi kau membela Real Madrid?”

“Tentu saja.”

“Dan yang kau sebut si pendek tadi itu…”

“Eo? Ah… itu sebutanku untuk Lionel Messi.”

Kyuhyun menggeram tertahan pada Je Wo, “Nyonya Cho,” panggilnya dengan suara berat, “Dia-tidak-pendek. Dan aku-sangat-mengidolakannya.” Geramnya.

Je Wo tertawa renyah dengan nada mencibir. Melipat kedua tangan di depan dada dan menatap Kyuhyun, “Kau pernah tidak melihat kakinya yang kecil itu? Lalu, jika kau membandingkannya dengan Oppa-ku, kau pasti menemukan kebenarannya, Tuan Cho. Dan satu lagi, aku tidak peduli dia itu idolamu. Bagiku hanya Ronaldo Oppa yang terbaik.” Jawabnya tegas.

Kyuhyun membuang nafas kasar, “Dilihat dari kwalitas saja semua orang tau jika Ronaldo tidak sebanding dengan Messi. Apa hebatnya pria berkulit hitam itu,” Cibirnya, “Dan lagi,” Kyuhyun menatap kedua kaki Je Wo dengan pandangan mengejek. “Jangan membicarakan mengenai kaki orang lain, sayang. Perhatikan saja kakimu sendiri.”

Kali ini Je Wo yang mengerang kesal. Dalam hati ia mengutuk kesal mulutnya yang membawa-bawa ukuran kaki Messi. Padahal, kedua kakinya tak kalah pendek dari pemain sepak bola itu, “Apa pedulimu? Aku bukan pemain sepak bola dan aku tidak pendek!” sungutnya.

“Jinja?” Kyuhyun menyunggingkan senyum simpulnya yang mengejek.

Kedua mata Je Wo menyipit, mulutnya mulai terbuka dan bersiap-siap mengeluarkan sumpah serapahnya pada pria itu. Namun, suara berisik dari televisi menghentikannya.

GOOL!!!!

“Eo?!” pekik sepasang suami istri itu. Keduanya memalingkan wajah secepatnya pada layar televisi dan…

“Kyaaaaaaa Oppa-ku hebat!!!” sorak Je Wo. Ia bahkan meloncat-loncat girang diatas sofa hingga Kyuhyun menatap kesal padanya.

“Yah! Jangan melompat, nanti kau terjatuh.” Kyuhyun menarik pergelangan tangan Je Wo dan kembali mendudukkan wanita itu.

“Hahaha, kau lihat, kan? CR 7 itu memang hebat.” ujarnya riang.

Kyuhyun menghela nafas malas, “Pertandingannya belum selesai, kau sudah sesenang ini. Belum tentu pria berleher besar seperti jerapa itu yang menang.” Ujarnya.

Je Wo membelalakkan kedua matanya, “Kau bilang apa tadi? P-pria berleher besar? Se-seperti Jerapa?” wanita itu tampak tak terima mendengar ucapan Kyuhyun.

Kyuhyun mengangguk pasti, lalu mengedikkan dagunya kedepan. Tepat saat wajah Cristian Ronaldo terpampang jelas disana, “Coba perhatikan lehernya. Aigo… besar sekali. Pria seperti apa dia itu.” Cibirnya.

“Dia tampan, bodoh.”

“Tapi lehernya sangat besar. Seperti jerapa.”

“Jerapa itu berleher panjang, bukan besar. Kau itu bodoh, ya?”

“Sama saja.”

“Tapi dia bukan jerapa.”

“Benarkah?”

Je Wo memejamkan kedua matanya menahan kesal. Ia menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan. Lalu kembali menatap Kyuhyun dengan senyuman manis, “Terserah kau saja, Cho Kyuhyun. Bagiku dia adalah pria pemilik leher terbaik di dunia ini, kau mengerti.” Ujarnya. Lalu kembali menghadap kedepan untuk melanjutkan menonton pertandingan.

Kali ini Kyuhyun mendesah kecewa karena tidak berhasil membuat wanita itu kesal, “Pintar sekali kau berbohong.” Sambungnya setelah menemukan ide baru untuk meruntuhkan pertahanan istrinya.

“Ck, jangan mengganggu. Aku sedang menonton.” Je Wo berusaha menghiraukan Kyuhyun disampingnya.

Kyuhyun tersenyum Smirk, “Tuan Cho….” Gumamnya tiba-tiba dan berhasil membuat Je Wo kembali menoleh padanya. Ia menaikkan sebelah alisnya dan menatap Je Wo. “Lehermu, aku suka.”

Je Wo masih menatapnya tak mengerti. lalu sejurus setelahnya, wajahnya memerah seperti tomat. Dahinya sedikit berkeringat dan tubuhnya mendadak kaku. Sial, kenapa dia masih mengingatnya?

Kyuhyun mendekati wajah Je Wo yang semakin memerah. Menatap istrinya dengan tatapan menggoda, “Jadi, kau lebih menyukai yang mana? Leherku, atau leher Jerapa itu?” bisiknya. Kyuhyun mengulum senyum saat menyadari bagaimana wanita itu meneguk ludah beratnya, “Dan seingatku. Kau selalu menjadikan leherku sebagai rumahmu untuk mengontrol nafas yang terengah saat kita sedang bercinta.” Sambungnya. Je Wo menunduk malu dan Kyuhyun harus mengumpat mulutnya sendiri setelah itu. Bagaimana bisa dia yang awalnya berniat menggoda Je Wo justru malah merasa tergoda ketika melihat raut wajah malu wanita itu.

“Ck, itu mana bisa dihubungkan.” Gumam Je Wo pelan. Kepalanya masih menunduk, namun ia tetap berusaha membalas ucapan Kyuhyun.

“Kenapa tidak bisa?” tangan Kyuhyun bergerak dengan sendirinya. Menarik ujung dagu istrinya agar ia dapat kembali menaikmati rona wajah malu Je Wo. Dan benar saja, wajah itu masih tampak memerah menahan malu. Nafasnya mulai tercekat saat ada dorongan yang sudah terlalu ia hafal mulai menyeruak dalam dirinya. Tubuhnya mendadak menjadi panas dan membutuhkan sesuatu. Wine sialan! Kenapa kau harus bekerja disaat seperti ini?

“Cho Kyuhyun…”

Kyuhyun tersadar dari lamunanya saat mendengar suara pelan Je Wo yang memanggilnya, “Ya?” jawabnya. Suaranya terdengar lebih berat sekarang.

“A-ada apa dengan wajahmu? K-kau berkeringat.” Ucap Je Wo. Kalimat bodoh, pikirnya. Bertahun-tahun menikah, ia pasti sudah tau apa yang sedang terjadi pada suaminya saat ini. Yeah.. memangnya apa lagi yang sedang terjadi pada Kyuhyun selain ingin segera menariknya keatas ranjang.

“Sepertinya aku_”

“Kita sedang menonton pertandingan sekarang.” Sela Je Wo. Berharap dapat mengalihkan perhatian Kyuhyun.

“Tapi aku sedang ingin melakukan pertandingan yang lain.” Jawab Kyuhyun. Kali ini tangannya sudah mulai menarik Je Wo lebih mendekat padanya.

Je Wo tersenyum kaku, tangannya bertumpu diatas dada Kyuhyun. Menahan tubuhnya agar masih memiliki jarak dari tubuhnya, “Tapi aku penasaran dengan hasil pertandingannya. Maksudku, pertandingan sepak bolanya.”

Kyuhyun memutar kedua bola matanya malas, “Kau bisa mengetahuinya besok pagi. Bahkan kau dapat mengetahui hasil kedua pertandingannya.” Ia menyeringai, tangannya telah terselip dibawah paha Je Wo, bersiap-siap mengangkat tubuh itu.

“Tapi aku_”

“Lupakan! Atau kau tidak aku ijinkan tidur semalaman ini.”

Je Wo memekik tertahan saat kedua tangan Kyuhyun berhasil mengangkat tubuhnya dari atas sofa hingga ia segera mengalungkan kedua tangan pada leher Kyuhyun. Menggendongnya dan berjalan menaiki tangga, Kyuhyun tersenyum puas.

“Kita belum mematikan televisi.”

“Biar saja, besok pagi pelayan pasti akan mematikannya.”

“Semakin lama kau semakin mesum, Cho Kyuhyun.”

“Jangan salahkan aku, salahkan saja dirimu yang selalu terlihat menggoda.”

“Kau pikir aku wanita penggoda.”

“Tidak, tapi kau istri penggoda.”

 

 

 

 

FIN

 

 

Holla…..

Sebelumnya aku minta maaf karena udah jarang ngepost FF. Dan sebenarnya untuk kedepannya aku juga bakalan jarang ngepost FF kayak biasanya. Kalau dibilang hitus gak juga sih… Cuma aku memang bakalan jarang banget bikin FF. Sebulan sekali juga kayaknya gak bakal, hehehe.

 

Aku juga punya segudang pekerjaan diluar sana, jadi harap di mengerti ya….

 

 

141 thoughts on “Happy Family

  1. waaaaaah kyu kau sangat mezum!!!! tapi aku suka waktu si hyunje gak bisa bohong karena dia ngumpetin sisa wine yang dibeli sama kyuhyun wkwk bener-bener konyol dah thor!! fighting buat ff lain nya thor;)

  2. annyeong! reader bru nih kkk… hyunje asli gak sopan ya mirip bgt mmg sama kyu.. eh sama je wo jugan ding mirip.. ahha.. dasar keluarga gilaaaa dehh

  3. Ping-balik: Library | Shin Je Wo

  4. ke supermarket dengan penyamaran spt itu kyuhyun apt teroris-___-v
    dan astagaaaa mentang2 orang jaya belanja sebanyak itu :O
    hyunje lebih nurut sm je wo ketimbang kyuhyun._.
    pasangan aneh mereka, ada aja hal yg bikin mereka berdebat-___-

  5. Kedua pasangan ini selalu berakhir mesum. Ckckck. Eh tp aq setuju ama kakak soal lehernya cr7 yg besar, kekeke, aq gk mengidolakannya. Untuk apa bgun mlm2 kalo akhirnya nonton reviewnya aja, dasar pasangan aneh. .

  6. kalian memang keluarga bodoh evil yg bahagia , kkkkkkkkk
    eyy yakin nieh cuman mandi bareng aja gg ngapa”in lgy nieh !!!!????
    ckck dr nonton. bola trus main bola berdua deh #apasehgw

  7. ahhahahah mereka keluarga yg lucu..
    aku suka karakter mereka, kedua org itu (choshin) selalu menggunakan kata bodoh saat bicara gimna hyunje ga bisa ngomong kaya gtu org tuanya aja ngomong gtu mulu haha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s