Fake Wedding Chapter 1

new

1 Year Ago – Distrik Gangnam

Memandangi sebuah foto pernikahan yang terpajang gagah di sebuah dinding rumah besar milik suaminya, seorang wanita dengan tubuh tak terlalu tinggi, namun tampak begitu sempurna, menampakkan tatapan kosongnya pada foto pernikahan itu. Rambutnya terjuntai indah melewati batas punggung, sesekali beberapa helai rambutnya menyentuh wajah sayu nan pucat itu. Tubuh kecil itu telah berbalut sebuah piyama tidur sutra berwarna biru muda.

Dahi wanita itu berkerut saat tatapannya terfokus pada senyum mengembang yang terlihat dari bibirnya dan bibir pria yang berdiri disampingnya. Aneh, foto itu begitu tampak membahagiakan jika dipandang sekilas mata. Tapi kenapa dia sama sekali tidak menemukan kebahagiaan didalamnya. Kedua matanya mulai terpejam saat ia berusaha memerintahkan otaknya untuk mengingat segala yang telah terlupakan olehnya.

Peluh mulai membasahi dahinya saat hanya kegelapan yang ia temukan. Tidak ada cahaya atau secercah harapan dalam pejaman matanya. Kumohon… kedua tangannya terkepal kuat, benar-benar menguatkan dirinya sepenuh tenanga. Dan akhirnya cahaya itu mendatanginya, membawanya pada sebuah kepingan-kepingan ingatan. Ia ingat saat dimana rasa sakit itu menggerogoti seluruh tubuhnya, ia ingat bagaimana ia hampir menjerit meminta malaikat pencabut nyawa untuk segera mengambil nyawanya karena rasa sakit itu tak tertahankan lagi olehnya.

Kedua tangannya meremas sisi celana piyama yang ia kenakan seolah-olah rasa sakit itu benar-benar menyerangnya. Lalu cahaya itu mulai mengabur ketika rasa sakitnya menghilang. Bibirnya gemetar saat kini kepingan itu mulai berganti, membawanya dimana saat ia mulai membuka kedua matanya dan menemukan beberapa orang yang mengelilingi dirinya dengan tatapan cemas. Namun cahaya dan kepingan itu benar-benar menghilang seluruhnya saat terdengar suara miliknya yang melotarkan sebuah pertanyaan.

Siapa kalian?

“Shin Je Wo?”

Kedua matanya terbuka cepat seiring sentakan yang terasa disekujur tubuhnya ketika sebuah suara yang begitu lembut dan berat terdengar olehnya. Membawanya kembali kealam nyata. Dadanya naik turun dan nafasnya tersengal. Ia memutar kepalanya kebelakang dan menemukan sosok pria bertubuh tinggi dengan tatapan sendu namun memiliki ketajaman yang tegas dalam kesenduan itu berdiri diambang pintu. Suamiku.

“Sudah malam, kenapa masih berdiri disitu?” suara rendahnya kembali terdengar, mengirim gelombang ketenangan pada wanita yang masih berdiri terpaku ditempatnya.

Wanita itu tersenyum kecil meski bibirnya masih sedkit bergetar, lalu menoleh sekilas pada foto pernikahan mereka atau lebih tepatnya pada seyuman yang terukir dari bibir mereka. Menghela nafas panjang, kedua kakinya segera bergerak mendekati pria itu. Langkahnya begitu pelan dan lemah hingga pria itu harus mengulurkan sebelah tangannya, membuat ia tersenyum simpul dan semakin mempercepat langkahnya. Menautkan jemarinya pada jemari bersuhu dingin milik pria itu.

“Apa yang kau lakukan disini?” pria itu kembali bertanya dengan alis bertaut. Tatapannya terpaku pada dahi berpeluh milik istrinya.

“Hanya berusaha mengingat sesuatu melalui foto pernikahan kita.” Jawabnya pendek namun tetap menyunggingkan senyum sederhana miliknya.

Tatapan pria itu lebih menyendu dari sebelumnya. Ia melirik kebelakang punggung istrinya, memandang foto pernikahan mereka dengan tatapan yang sulit diartikan. Lama memandanginya hingga sentuhan lembut diatas lengannya kembali menyadarkannya. Ia menurunkan lagi tatapannya pada wajah wanita itu lalu menarik sudut bibirnya keatas, “Ada yang dapat kau ingat?” tanya pria itu pelan. Tangannya bergerak keatas menyeka peluh yang masih berada disekitar dahi istrinya.

Menggelengkan kepalanya pelan dengan bibir yang masih tersenyum, “Tidak ada, satu-satunya ingatanku hanya ketika membuka mata dan tidak mengenali satu orang pun diantara kalian.” Jawabnya.

Suaminya tersenyum mengerti, lalu semakin mengeratkan gengamannya, “Jangan terlalu dipaksakan, kau baru saja sadar dari masa komamu. Kita akan mencoba sedikit demi sedikit,” nasehatnya. Wanita itu mengangguk pelan, “Kita tidur, oke?” ajaknya.

Sekali lagi, ia hanya mengangguk dengan senyuman sederhana miliknya sebelum pria yang ia kenal sebagai suaminya itu membawanya keluar dari ruangan besar dan gelap yang sempat ia datangi. Sekilas ia kembali menoleh kebelakang memperhatikan lagi foto pernikahan mereka dengan pandangan muram.

Kenapa? Kenapa semuanya terasa asing selain Kyuhyun?

_____ooo_____

= A New Story in A New Life =

Incheon Airport – Pintu Kedatangan Internasional.

Dengan senyuman mengembang yang terukir di bibir wanita itu, ia mengitari bola matanya kesetiap penjuru bandara. Sebuah koper kecil masih berada dalam pegangannya. Shin Je Wo, nama wanita itu. Ia tampak menggunakan sebuah gaun berwarna hitam sebatas paha dengan ukuran yang begitu pas membaluti tubuh seksinya, belum lagi dengan bagian dadanya yang sedikit terekspose hingga hampir memperlihatkan sedikit bagian dada itu. Wanita ini terlalu jarang menutupi bagian yang menurutnya paling unggul dari seluruh organ tubuhnya. Kaki indahnya. Meski ia tidak terlalu tinggi, namun aset yang satu itu selalu menjadi perbincangan hangat oleh orang-orang yang mengangguminya.

Shin Je Wo adalah seorang perancang busana sebuah merk terkenal Korea, Mermaid. Ia berumur 23 tahun. Seperti saat ini, ia baru saja kembali dari New York setelah selama 4 hari terakhir menetap disana untuk menghadiri sebuah ajang Wedding Dress Fashion dan ia diberi satu kehormatan untuk memperlihatkan seluruh karya-karya terbaiknya disana. Meski ia baru saja menjajali pekerjaan ini selama 1 tahun terakhir, tapi dengan keahliannya yang begitu memukau dalam merancang gaun-gaun berharga bagi setiap wanita, ia dapat meraih keberhasilannya secepat mungkin. Sejujurnya ia juga tidah tahu dari mana bakat itu ia miliki. Hanya saja, pria yang selama ini berstatus sebagai suaminya mengatakan jika sejak dulu, dia memanglah sangat menyukai melukis dan membuat sketsa-sketsa gaun pengantin. Oleh karena itu, suaminya segera membuatkannya sebuah toko yang tidak dapat dikatakan sederhana untuk memulai karirnya disana.

Tidak membutuhkan banyak waktu bagi pria itu dalam mewujudkan segala keinginan dan harapan istrinya. Pria tampan pemilik segudang hotel ternama di Korea Selatan itu hanya butuh membubuhkan tanda tangannya diatas kertas-kertas yang membutuhkan, lalu semuanya akan terjadi begitu saja.

“Akh.” ringis Je Wo saat merasa ada seseorang yang menyenggol tubuhnya dari belakang. Ia memutar kepala kebelakang untuk melihat siapa pelakunya.

“Maafkan aku, Nona. Aku terburu-buru berjalan hingga tidak sengaja menyenggolmu.” Ucap seorang wanita tua yang menunjukkan wajah menyesalnya.

Je Wo tersenyum hangat, “Tidak apa-apa, Bibi.” Jawabnya sopan. Lalu tiba-tiba saja kedua matanya menemukan sosok pria yang begitu ia kenali tengah berdiri didepan sebuah tembok tinggi. Wanita ini menyipitkan kedua matanya untuk benar-benar memastikan, lalu setelah yakin dengan pemikirannya, ia tersenyum manis. Je Wo kembali menggeret koper kecil miliknya yang tadi sempat terlepas, berjalan perlahan mendekati pria yang masih belum menyadari kedatangannya.

Pria yang berumur 25 tahun itu berdiri gagah dengan pakaian rapi hingga semakin menunjukkan pesonanya; kemeja putih dibalik jas hitam formalnya dan sebuah kaca mata hitam yang menutupi kedua mata teduhnya, sangat serasi dengan pakaian yang digunakan Je Wo hari ini. Kepalanya tampak memutar kekiri seperti sedang mencari-cari, lalu pria ini sedikit mengeluarkan lidahnya pendek untuk menghilangkan rasa bosan atau pun membasahi bibirnya yang mulai mengering.

tumblr_m9fyuuYaEB1ry6ds1o1_400

Dalam jarak pandangnya, Je Wo terkikik kecil melihat pria itu, tampan dan mempesona, pikirnya. Saat telah berada tidak jauh dari tempat pria itu berdiri, ia menghentikan langkahnya. Mengamati pria yang masih belum menyadari keberadaannya dari tempatnya berdiri. Kembali mengagumi pemilik wajah tampan dan teduh itu, kembali jatuh cinta dengan caranya berdiri; kedua tangan terbelenggu dalam saku celana, sebelah kaki yang sedikit tertekuk. Tapi hal itu tidak berlangsung lama saat Je Wo sadar, kini pria itu telah menatapnya dari balik kaca mata hitam itu.

Sebelah tangannya melepas kaca mata hitamnya dan sejurus kemudian, tatapan lembut itu kembali ia perlihatkan pada Je Wo yang masih berdiri diseberang sana. Ia tersenyum simpul sembari memasukkan kaca mata itu dalam saku jasnya. Lalu sebelah kakinya mulai melangkah untuk mendekati Je Wo. Sayangnya, langkah itu harus terhenti saat Je Wo malah beralari cepat meninggalkan koper kecilnya disana dan segera melemparkan tubuhnya dalam pelukan pria itu.

“Aku merindukanmu, Cho Kyuhyun.” Bisiknya senang. Kedua lengannya melingkar erat disekeliling leher Kyuhyun. Membenamkan wajahnya pada lekukan leher jenjang suaminya, ia berusaha menghirup puas aroma tubuh khas miliknya Manis, seperti madu, tersenyum kecil karena saat ini ia benar-benar telah kembali pulang dalam dekapan Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum kecil, lalu membalas pelukan erat Je Wo. Tapi saat sebelah tangannya menyentuh punggung wanita itu, dahinya mengerut aneh. Ia merasa dapat menyentuh bagian itu tanpa penghalang. Penasaran, ia merunduk untuk memastikan. Kedua matanya sedikit melebar saat melihat sebagian punggung itu terekspos jelas. Ia mendesah pelan, “Dari mana kau mendapatkan gaun ini, sayang?” tanya Kyuhyun pelan.

944382_10151388860187131_47087059_n

Je Wo sedikit melonggarkan pelukannya agar dapat mengangkat wajahnya menatap Kyuhyun, “Eum?” alisnya mengernyit tak mengerti.

Kyuhyun memiringkan sedikit kepalanya kekiri, mengerjap pelan dengan tatapan teduhnya, “Kau memperlihatkan punggungmu pada semua orang.” Ucapnya pelan.

Je Wo terkesiap, lalu melirik sekilas pada punggungnya sebelum menyengir kecil. “Aku suka gaunnya.”

“Tapi ini terlalu terbuka.” Sahut Kyuhyun masih dengan suara rendahnya.

“Ini hadiah dari seorang kenalanku disana.”

“Siapa pun dia, kuharap dia tidak mamberikan hadiah padamu lebih dari satu kali,” Kyuhyun melepas jas miliknya, lalu memakaikannya pada Je Wo hingga membuat wanita itu tersenyum lebar, “Begini lebih baik.” Gumamnya setelah itu.

Je Wo terkikik lalu kembali meloncat memeluk pria itu dengan sebelah kaki yang terangkat keatas, “Ya, begini lebih baik. Karena kau ada disampingku.” Sambungnya.

_____ooo_____

“Disana aku bertemu dengan Vera Wang, kalian kenal, kan? Perancang gaun terkenal yang pernah merancang gaun pernikahan Avril Lavigne dan Kim Kardashian.” Celoteh Je Wo setelah ia sempat menyeruput Coffee Late miliknya. Masih dengan memakai Jas milik Kyuhyun, ia duduk dibangku yang berada disamping jendela besar sebuah Cafe miliki teman suaminya, Lee Donghae. Kyuhyun memang membawa wanita ini kesana setelah menjemputnya karena kedua kekasih sahabatnya yang juga telah menjadi sahabat istrinya memohon agar segera mempertemukan Je Wo dengan mereka.

“Eo, bukankah wanita itu adalah perancang gaun kutukan?” sela Jung Jae Rim, kekasih Choi Siwon. Ia menoleh pada Han Ga In, kekasih Lee Donghae yang mengangguk setuju.

“Tidak, tidak. Bukan seperti itu. Semua itu hanya mitos. Mana ada gaun pengantin kutukan di dunia ini.” Ralat Je Wo.

Lee Donghae, Choi Siwon dan Cho Kyuhyun hanya mendesah panjang mendengar percakapan ketiga gadis itu. Ketiga pria itu mengambil tempat duduk diseberang para gadis. Jika ketiga gadis itu telah berkumpul, maka hal yang selalu diperbincangkan hanyalah sebuah gaun pengantin idaman bagi mereka.

“Sejak berteman dengan Je Wo, Jae Rim selalu merengek ingin segera aku nikahi secepatnya.” Celetuk Siwon memandang Jae Rim yang tampak mendengar penuturan Je Wo dengan antusias.

Donghae tertawa mengejek, “Kalau begitu kenapa tidak kau nikahi saja dia secepatnya?” sindirnya.

“Hal itu sudah pasti akan aku lakukan sejak kemarin jika saja setiap kali membicarakan hal itu, Jae Rim tidak tampak ragu,” Pria ini mendengus kecil dan tertawa renyah, “Aneh, setiap kali melihat gaun pengantin dia pasti selalu merengek ingin cepat menikah. Tapi setiap kali aku ingin membicarakannya, dia malah tampak ragu dan tidak yakin.” Gumamnya.

“Itulah namanya wanita,” sambung Donghae tertawa geli. Ia melengos malas melihat kedua mata Siwon yang mendelik padanya. Lalu melirik Kyuhyun yang sejak tadi tak bersuara. Pria itu bahkan hanya menatap kesamping, memperhatikan wajah Je Wo yang terlihat bercerita dengan semangat. “Apa sudah ada perkembangan?”

Kyuhyun tersentak, menatap Donghae dan Siwon bergantian sebelum mengangkat bahu acuh. Ia meraih cangkir tehnya dan menyesap minuman itu untuk sekedar membasahi tenggorokannya, “Tidak ada perkembangan.” Jawabnya pendek.

Siwon mengangguk kecil. “Sudah mencoba mengajaknya bicara mengenai terapi Kognitif?”

Kyuhyun meneguk ludahnya berat sejenak, lalu menyandar lelah pada bangkunya. Kedua kakinya terlipat seperti kedua tangannya yang saling menyilang di depan dada, “Kupikir itu tidak perlu.” Jawabnya,

“Oh, ayolah…” desah Donghae. “Kau tidak mungkin meneruskan semua ini lebih lama lagi, Kyu.” Nasehatnya. Masih mengenai pembicaraan yang sama seperti satu bulan yang lalu. Siwon memberinya usulan untuk mulai melakukan terapi pada Je Wo yang hingga saat ini masih belum sembuh dari amnesia yang menimpanya satu tahun yang lalu. Choi Siwon memiliki seorang sepupu yang ahli dalam bidang penyakit itu.

“Aku masih bisa, Hae.” Sahutnya dengan rahang yang mengeras.

“Sampai kapan?” sela Siwon ringan. Pria ini masih berbicara dengan senyum ringannya. Ya, Choi Siwon memang pria yang hangat. “Dua tahun? Tiga Tahun? Atau selamanya?”

“Kau juga harus memikirkan hidupmu sendiri.” Timpal Donghae tak mau kalah.

Kyuhyun memejamkan mata erat. Merasa lagi-lagi beban itu semakin menumpuk diatas punggungnya. Ia memang sudah terbelenggu jauh, namun masih tetap bertahan dan bertahan meski belenggu itu semakin menyulitkannya untuk bergerak, “Ada banyak hal yang harus kupertimbangkan.” Gumamnya serak.

“Seperti?” sahut Donghae cepat.

Kedua matanya terbuka perlahan, lalu mengarah kembali pada Je Wo yang masih asik bercerita. Memandang dalam wajah itu dengan guratan sendu, “Hidupnya.” Ucapnya dengan suara kecil. Lalu entah itu kebetulan atau pun tidak, Je Wo menoleh padanya, lalu tersenyum kecil. Membuat pria ini turut tersenyum hangat padanya.

_____ooo_____

Indah, bukan? Ini akan aku gunakan dihari pernikahan kita.

Memangnya siapa yang akan menikah denganmu?

Tentu saja kau.

Jangan terlalu banyak bermimpi, bodoh.

 

Aku mencintaimu!

Pulanglah.

Tidak, tidak!! Aku mencintaimu!!

Enyah dari hadapanku, Shin Je Wo!!

 

“Hah!!”

Je Wo terduduk begitu saja dari tidur nyenyaknya, tubuhnya gemetaran, wajahnya serta sekujur tubuhnya berkeringat. Jantungnya berdegup cepat hingga dadanya membusung bergemuruh.  Tangannya mencengkram selimut yang masih menutupi sebagian tubuhnya. Rasanya sesak, ia tidak dapat berbafas meski mencoba sekuat tenaga. Disingkapnya selimut itu cepat, lalu berjalan terhuyung-huyung memasuki kamar mandi. Tangannya menggapai pinggiran wastafel dan mencengkramnya kuat, lalu memutar kran air cepat. Membasuh air itu diseluruh wajahnya dengan tangan gemetar.

Kalimat-kalimat itu masih memenuhi kepalanya, membayanginya hingga ia merasa ketakutan. Tetesan-tetesan air itu mengaliri wajahnya lalu menetes kembali kedalam wastafel saat kepalanya menunduk dalam. Kedua tangan itu kembali meremas kuat pinggiran wastafel saat ia mencoba mendongak, melihat seperti apa wajah ketakutannya. Ia terhenyak, wajahnya tampak pucat dan muram hingga ia terpaksa memejam erat untuk menutupi rasa takutnya.

“Siapa pemilik suara itu? Siapa? Kenapa aku tidak bisa mengingatnya?” gumamnya lirih. Lalu tubuh itu merosot kebawah, bahunya bergetar menahan tangis. Lagi-lagi mimpi itu kembali menghantuinya, merenggut rasa bahagia yang sebelumnya ia rasakan. Ia menangis tertahan, tidak ingin tangisannya terdengar oleh Kyuhyun yang masih berbaring diatas ranjang. “Kenapa sulit sekali untuk mengingatnya…”

Ia menutup bibirnya yang semakin mengeluarkan isakan kecil dengan punggung tangan. Sebelah tangan satunya masih terkulai lemah menyentuh lantai kayu yang terasa dingin menyentuh kulitnya. Gelapnya kamar mandi itu seakan menggambarkan kegelapan dalam hatinya selama ini. Ia memang merasa bahagia pada kahidupannya saat ini. Seorang suami yang selalu memperhatikannya, kehidupan berkecukupan bahkan lebih, lingkungan hidup yang hangat. Semuanya sempurna, selain ingatannya. Meski ia berusaha meraba, merangkak dalam kegelapan yang selama ini rasakan seorang diri, namun tak satu pun cahaya yang mau meneranginya. Ia tersesat. Tersesat dalam kebahagian yang diinginkan semua orang. Ia ingin kembali pulang namun selalu saja tidak menemukan jalan. Ada yang menghambatnya, sesuatu yang teramat ia sukuri hingga detik ini. Kebahagiaan hidup.

Krekkk

Suara decitan pintu memaksa Je Wo menoleh kesana. Isakannya terhenti sesaat ketika melihat Kyuhyun berdiri diambang pintu dan menatapnya dalam kegelapan. Berdiri terpaku tanpa melakukan apa pun hingga isakannya kembali terdengar. Lalu sebelah tangan pria itu meraba dinding yang berada disebelah pintu. Menekan sakelar lampu hingga kamar mandi itu kini terlihat jelas, sejelas ia melihat wanita itu terduduk dengan isakan pilunya. Kakinya melangkah perlahan, mendekat tegas dengan tatapan nanar. Setiap langkahnya mengartikan ketenangan serta ketakutan yang mengerikan bagi Je Wo. Entah mengapa, bagai wanita itu, Kyuhyun adalah sebuah kebahagian serta ketakutan terbesarnya.

Kyuhyun berjongkok dihadapannya, menatapnya tanpa berbuat apa pun sejenak selain mengamati wajah kacau Je Wo.

“Maaf.” Isak Je Wo menunduk dalam.

“Untuk?” bisiknya lemah.

Kepala itu menggeleng lemah meski air matanya masih mengalir deras, “Aku tidak bisa mengingat apa pun.” Raungnya.

Kyuhyun menghela lirih, lalu mulai membingkai wajah Je Wo dengan telapak tangannya. Ibu jarinya menghapus lembut air mata itu, “Kau bermimpi lagi?” tanya Kyuhyun pelan. Tak ada tersirat makna apa pun dalam pertanyaan itu. Ia turut tersesat, jika memikirkan keadaan wanita itu.

Je Wo mengangguk kuat, “Suara itu terdengar lagi. Semakin mengerikan, Kyu. Aku tidak tahu siapa pemilik suara itu. Tapi sangat menyakitkan mendengarnya…” semakin terisak, kala Kyuhyun menyandarkan wajahnya diatas dada pria itu. Membiarkan Je Wo mendengar detak jantungnya yang selama ini menenangkannya setiap kali merasa gusar.

“Itu hanya mimpi, sayang. Jangan cemas…” bisiknya lagi. Mengusap punggung bergetar itu lembut, menyalurkan ketenangan yang memang sedang dibutuhkan Je Wo. “Kau hanya sedang lelah, jadi jangan dipikirkan.”

“Tapi_”

“Sshh, sebaiknya kita kembali tidur, ne?”

Kepala Je Wo mengangguk lemah, lalu ia mulai merasa Kyuhyun melepaskan pelukannya. Menggendongnya dengan kedua tangan kekarnya dan kembali membawa Je Wo keatas ranjang.

_____ooo_____

Cho Kyuhyun tak menghiraukan Sekertaris Kang menjelaskan mengenai laporan tentang keadaan seluruh Hotel yang berada dalam jaringan Cho Corporation. Tak satu pun kalimat yang mampu memasuki otaknya meski Sekertaris Kang hampir menghabiskan 30 menit untuk menjelaskan apa saja yang harus ia beritahukan. Kyuhyun terlalu banyak mencemaskan kejadian tengah malam tadi, ketika ia kembali menemukan Shin Je Wo menangis setelah mimpi buruknya.

“Apa masih ada yang ingin anda ketahui, Presdir?” tanya Sekertaris Kang.

Kyuhyun terhenyak, lalu melirik Sekertaris Kang sejenak, “Letakkan saja laporan itu dimejaku, nanti aku periksa sendiri.” Sahutnya acuh.

Sekertaris Kang sedikit menganga, sudah susah payah menjelaskan, namun ternyata pria itu malah akan memeriksanya sendiri. Tahu seperti itu lebih baik aku tidak usah repot-repot menjelaskannya, batin pria yang berumur 23 tahun itu, “Ne, Presdir.” Jawabnya. Ia meletakkan sebuah map kuning diatas meja kerja Kyuhyun dan melangkah keluar dengan bibir mengerucut.

Kyuhyun mendesah panjang seiring kepalanya menyandar lelah pada kursi kebersannya. Matanya terpejam sesaat ketika jemarinya memijat pelan dahi yang tampak berkerut karena sejak tadi ia selalu memikirkan Je Wo, “Sudah lebih dari setahun…” gumamnya berat.

Lama ia berdiam diri, sampai pada akhirnya ia menarik laci kecil dibawah meja kerjanya. Mengeluarkan sebuah bingkai foto berukuran kecil dari sana, lalu meletakkannya diatas meja. Matanya menatap dalam foto itu, sebuah foto yang selalu membuat jantungnya berdetak lebih kencang saat menatapnya. Karena saat itu juga, kejadian 1 tahun yang lalu kembali memenuhi otaknya. Membuat rasa sesak, bingung, hancur dan bersalah itu semakin menyulitkannya menentukan jawaban.

_____ooo_____

Musim semi…

Shin Je Wo menatap sekelilingnya dengan senyuman mengembang. Ia baru saja turun dari mobil sport berwarna putih miliknya dan sudah terkesiap melihat cuaca di awal musim semi. Bahkan ia masih membiarkan pintu mobil itu terbuka dan lebih memilih menghirup nafas dalam, mengisi udara segar musim semi dalam paru-parunya dan membuangnya perlahan dengan penuh rasa semangat.

Musim semi, musim yang baru dan telah hadir dalam kehidupannya. Dengan langkah ringan ia berjalan memasuki Mermaid Fashion, sebuah toko gaun pengantin terbesar di Korea dan itu miliknya. Mermaid, nama yang aneh jika digunakan untuk sebuah toko gaun pengantin seperti miliknya. Tapi sejujurnya wanita itu memiliki pemikiran tersendiri mengenai Mermaid. Jika ada yang bertanya, mengapa dia memakai nama Mermaid untuk tokonya, maka ia akan menjawab.

Putri duyung adalah makhluk yang sedang tersesat, sama sepertinya. Mereka sama-sama sedang mencari dunianya, meski saat ini masih terus melanjutkan hidup dalam dunia yang ada.

“Nyonya Cho!”

Merasa ada yang memanggilnya, Je Wo menolehkan kepala kearah kanan dan menemukan Shim Hae Ra tersenyum sumringah padanya sembari melambaikan tangan penuh semangat. Je Wo membalas senyuman itu tak kalah sumringah, ia bergegas mendatangi asisten pribadinya itu dengan langkah seribu.

“Hae Ra-ya!” teriaknya senang. Ia dan Hae Ra hanya tidak berjumpa selama 4 hari, tapi seakan mereka telah berpisah selama bertahun-tahun lamanya.

Keduanya saling berpelukan dan sesekali meloncat kecil, “Yah, bagaimana dengan Fashion Show disana? Apakah kau berhasil membuat seluruh warga New York terpukau dengan gaun rancanganmu?” tanya Hae Ra bersemangat.

Je Wo tersenyum malu, “Ada puluhan perancang hebat disana, kau pikir sehebat apa gaun rancanganku.” Jawabnya.

“Eiy…” Hae Ra mengibaskan sebelah tangannya. “Jangan terlalu merendah, Nyonya Cho.”

“Panggil aku Shin Je Wo, Hae Ra-ya. Jebal!” rengeknya.

“Wae? Apa salahnya dengan panggilan Nyonya Cho? Kau kan memang istri seorang President Direktur Cho Corporation yang bernama Cho Kyuhyun.” Celoteh Hae Ra dengan suara nyaringnya hingga beberapa pelanggan tampak menoleh pada mereka.

“Heish, kau ini.” Umpat Je Wo malu ketika menemukan tatapan tak percaya dari beberapa orang.

Bahkan, ada seorang wanita yang segera mendatangi mereka setelah mendengarnya, “Nona, benar kau adalah istri pria kaya itu?” tanya wanita bertubuh tinggi yang sedang menggendong seorang balita laki-laki.

“N-ne?” gugup Je Wo.

“Haish, beruntungnya kau ini,” puji wanita itu dengan senyuman iri. “Akhirnya, aku dapat bertemu dengan pemilik toko ini dan sekaligus berkenalan langsung dengan istri pria kaya itu.”

Je Wo menggaruk belakang kepalanya kikuk, ia melirik Hae Ra yang tersenyum lebar sembari mengedipkan mata. Lalu pandangannya terhenti pada seorang balita yang berada dalam gendongan wanita yang menyapanya tadi, “Ini anakmu, Nyonya?” tanya Je Wo sopan.

“Oh, ya. Ini anakku.” Jawab wanita itu.

Je Wo tersenyum kecil memandangi mata hitam nan tajam milik balita itu, “Em.. boleh tidak aku menggendongnya?” pintanya penuh harap. Wanita itu tersenyum hangat dan mengangguk hingga Je Wo tersenyum senang dan segera mengambil anak itu dalam gendongan Ibunya, “Omona… kau lucu sekali…” ia mencium gemas pipi penuh milik anak laki-laki itu.

“Umurnya baru 1 tahun, tapi tubuhnya sudah sebesar itu. Aku tidak mengerti kenapa anakku bisa tumbuh lebih cepat.” Gumam wanita itu diselingi senyum bahagianya ketika ia menatap anaknya.

Je Wo yang menemukan senyuman itu tertegun. Senyuman itu terlihat begitu hidup, bahagia dan sempurna hingga tanpa sadar ia menggumam kecil. “Sepertinya bahagia sekali.”

Wanita itu dan Hae Ra menoleh padanya bersamaan, “Tentu saja,” jawab wanita itu cepat. “Jika nanti kau telah memiliki seorang malaikat kecil dalam hidupmu, kau akan menemukan kebahagian hidup yang sesungguhnya.”

Mendengar kalimat kebahagiaan hidup yang sesungguhnya, Je Wo semakin tampak tertegun. Ya, itulah yang ia cari dalam kegelapannya selama ini. Meski kebahagiaan itu selalu mengelilingnya, tapi ia masih merasa harus mencari kebahagiaan yang sesungguhnya.

“Maka itu, cepatlah kau mengandung, Nyonya Cho..” sindir Hae Ra.

Je Wo terkesiap, memandang Hae Ra dengan wajah terkejut. Lalu pandangannya kembali turun pada wajah seorang anak yang masih berada dalam gendongannya. Anak? Bagaimana bisa aku memilikinya, jika hingga detik ini… Kyuhyun sama sekali tidak mau menyentuhku.

_____ooo_____

“Lelah?”

Je Wo mengangguk singkat, bibirnya membentuk senyuman tipis dan sederhana namun mampu membuat Kyuhyun betah berlama-lama menatapnya. Ia hanya menatap lurus kedepan, menatap jalanan panjang yang tak berujung. Siang ini Kyuhyun menjemputnya untuk makan siang bersama Siwon dan lainnya. Masih di Cafe kebanggaan milik Lee Donghae.

“Kau baru saja pulang dari New York, tapi sudah kembali bekerja di Mermaid. Harusnya kau beristirahat satu atau dua hari dulu dirumah,” nasehat Kyuhyun padanya. Sesekali pria itu melirik Je Wo yang tak menyahut. Timbul rasa cemas seketika dalam dirinya. “Kau baik-baik saja?”

“Em,” angguk Je Wo, masih belum menoleh pada Kyuhyun. Mendesah panjang ketika otaknya kembali berputar, memikirkan percakapannya dan Hae Ra pagi ini. Anak. Ya, meski tidak banyak orang yang mempertanyakan kehadiran sosok itu dalam rumah tangganya, namun setiap kali memirkannya Je Wo selalu merasa resah. Ia gamang dan tidak memiliki pegangan. Sudah setahun lamanya ia berada disisi Kyuhyun. Namun pria itu belum juga mau menyentuhnya layaknya seorang suami. Pria itu bilang jika Je Wo harus sembuh lebih dulu sebelum mereka melakukannya, “Kyu…” panggilnya pelan.

“Ya?”

Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Hembusan nafas itu terdengar begitu berat dan sulit, “Apa yang menyebabkan kecelakaan setahun yang lalu itu hingga aku kehilangan ingatan?” akhirnya pertanyaan itu terlontar dari bibirnya. Selama ini ia hanya tahu jika ingatannya hilang akibat sebuah kecelakaan. Namun Kyuhyun tidak pernah menceritakan seluruh kronologinya

Wajah Kyuhyun sempat menegang namun ia kembali menguasai dirinya saat Je Wo menatapnya penuh harap, “Kenapa bertanya seperti itu?” alihnya.

“Hanya ingin cepat mengingat kehidupanku dimasa lalu.”

Kyuhyun tersenyum simpul, “Dan kenapa kau ingin cepat mengingatnya?” tanyanya lagi. Berharap jika ia dapat memutar pembicaraan hingga wanita itu tidak lagi bertanya.

Je Wo terkekeh pelan, menatap Kyuhyun dengan senyum malunya, “Pagi ini, ada seorang pelanggan yang datang ketoko, dia memiliki seorang anak kecil.” Jelasnya.

Kyuhyun mengangguk ringan, kini ia kembali menjadi pendengar yang baik untuk Je Wo. Namun dalam hati ia bersukur jika wanita itu telah lupa pada pertanyaan sebelumnya.

“Kau tahu? Anak itu lucu sekali. Ibunya bercerita mengenai pertumbuhannya yang sehat. Lalu…” ia menggantung kalimatnya sejenak. Mencuri lirik pada Kyuhyun yang menatap lurus kedepan dengan fokusnya untuk menyetir. “Wanita itu tersenyum bahagia.”

Kyuhyun mengernyitkan dahi hingga kedua alisnya bertaut, “Dan?” sahutnya yang masih tidak mengerti kemana arah pembicaraan Je Wo.

“Dan ternyata senyuman itu karena anaknya. Seorang wanita akan menemukan kebahagiaan sesungguhnya saat telah memiliki anak.” Ia memberanikan diri menatap Kyuhyun yang kini tampak menegang ditempatnya dengan tatapan kaku. Kau seperti ini lagi… Je Wo tersenyum sayu, lalu kembali menatap lurus kedepan.

Kyuhyun berusaha bersuara, namun tidak bisa. Satu-satunya yang dapat ia lakukan hanya menyetir dengan wajah menatap lurus kedepan. Tidak berani untuk sekedar melirik wanita itu karena takut jika ia akan melemah. Cho Kyuhyun memang akan selalu melemah setiap kali gadis itu membahas mengenai hal yang berhubungan dengan Bercinta. Meski Je Wo tengah membicarakan mengenai seorang anak, tapi ia mengerti kemana arah pembicaraan wanita itu.

Suasana tak berubah hingga mereka sampai didepan toko milik Lee Donghae. Kyuhyun membukakan pintu mobil untuk Je Wo, mengulurkan tangannya seperti biasa. Pria ini, selalu memperlakukan Je Wo penuh tanggung jawab hingga tak jarang Je Wo merasa sesak membayangkan, apa mungkin Kyuhyun hanya memiliki rasa tanggung jawab padanya? Tidak adakah yang lain?

“Hei, kau tidak ingin turun?” tegurnya pada Je Wo yang menatapnya termenung.

Je Wo mengerjap beberapa kali, menyadarkan diri sepenuhnya sebelum tersenyum kecil. Senyuman sederhana miliknya. Ia menerima uluran tangan Kyuhyun dan melompat turun. Memandang sekitar dengan tarikan nafas panjang dan berat seakan berusaha meninggalkan kesakitan yang ia rasakan, lalu Je Wo berniat melangkah lebih dulu. Namun sebuah cengkraman lembut terasa di sekitar lengannya. Ia menoleh kebelakang, menatap Kyuhyun yang tengah memandangnya intens, “Ada apa?” tanya Je Wo bingung.

“Kau menarik nafas seperti itu lagi.” Jawabnya.

Je Wo mengerjap lagi, lalu mulai tersadar. Akh, dia lupa jika Kyuhyun tidak menyukai tarikan nafas beratnya seperti itu. Kyuhyun pernah bilang padanya, setiap kali dia menarik nafas berat seperti itu, maka Kyuhyun merasa Je Wo tidak bahagia hidup bersamanya. Je Wo tersenyum kecil dan mendekat pada Kyuhyun. Menyapu wajah Kyuhyun dengan sebelah tangannya, “Aku tidak apa-apa, sungguh.” Ujarnya.

Kyuhyun masih tak bergeming hingga beberapa detik kemudian. Ia menyentuh telapak tangan Je Wo yang masih berada diwajahnya, menggenggamnya lembut seiring melembutnya tatapan itu pada Je Wo, “Bisakah kau berjanji padaku?” bisiknya parau dan tidak berniat menunggu sebuah jawaban karena kalimat itu lebih menyerupai sebuah perintah. “Jangan pernah merasa lelah saat kau bersamaku. Aku sudah pernah berjanji padamu, suatu hari nanti, disaat ingatanmu kembali. Aku akan menjelaskan segala keraguanmu.”

“Lalu bagaimana jika aku tidak dapat mengingatnya lagi? Apakah kau masih akan merahasiakan segalanya dariku, Kyu?” pertanyaan itu meluncur begitu saja dan tak dapat dihentikan bahkan oleh hati kecilnya sekali pun, “Jujur saja, setiap hari, setiap jam, setiap menit hingga setiap detik. Segala kebahagiaan yang kau berikan selalu membuatku takut. Aku… takut jika semua itu ternyata bukan milikku.” Sambungnya muram, seperti ekspresi wajahnya saat ini.

Kyuhyun mengerang tertahan sebelum menarik Je Wo dalam pelukannya. Memeluknya erat seperti biasanya, “Semua ini milikmu, sayang. Jangan pernah meragukannya.” Bisiknya meski ia harus merutuki ucapannya sendiri. Seharusnya ia tidak boleh mengatakannya, seharusnya ia dapat menahan diri lebih jauh lagi. Dan seharusnya, ia tidak semakin membiarkan belenggu itu semakin kuat mengikatnya.

Atau lebih tepatnya, seharusnya Kyuhyun tidak membiarkan dirinya benar-benar masuk dalam sebuah cerita hidup yang ia ciptakan dengan tujuan yang begitu jelas. Mengakhirinya secepat mungkin. Tapi kali ini, cerita itu memiliki cerita berbeda dari skenario yang sebelumnya ia rangkai dengan sedemikian rupa. Skenario itu mulai berkembang menjadi sebuah cerita nyata. Dimana dalam cerita itu, ia benar-benar melibatkan perasaannya.

_____ooo_____

Sambil bergandengan tangan, Je Wo dan Kyuhyun memasuki Cafe. Berjalan mendekati sudut Cafe, tempat biasa mereka berkumpul setiap kali bertemu. Kyuhyun melambaikan sebelah tangannya dari kejauhan pada Donghae dan Siwon yang telah berada disana.

“Tidak ada Ga In Dan Jae Rim?” tanya Je Wo pada Kyuhyun saat tidak menemukan kedua gadis itu disana.

“Sepertinya tidak.” Jawab Kyuhyun pendek.

Je Wo mengerutkan dahinya, “Kupikir kita akan makan bersama dengan mereka semua siang ini.” Gumamnya.

Masih dengan saling bergandengan tangan, keduanya mendekati meja persegi empat itu. Kyuhyun sedikit mengernyit ketika menemukan seorang wanita yang turut duduk disana dan bahkan, ia mengambil tempat yang biasanya Je Wo tempati.

“Member baru?” tanya Kyuhyun dengan sedikit sindiran pada Donghae.

Donghae mendengus kasar, “Aku sudah berhenti, bodoh. Ga In akan mencincangku jika aku kembali mencari member baru.” Jawabnya. Ya, sebelum bertemu Han Ga In, Donghae memanglah seorang Cassanova yang sudah menancapkan taringnya pada setiap gadis bening yang mampir pada Caffenya.

Kyuhyun dan Je Wo mengulum senyum. Lalu pria itu melirik wanita yang tampak turut tersenyum mendengar percakapan mereka, “Maukah kau menukar tempat dudukmu, Nona? Istriku selalu duduk disana selama ini.” Pintanya sopan.

“Hei, tidak apa-apa. Aku bisa duduk ditempat lain.” Bisik Je Wo tak enak, ia tersenyum kikuk pada wanita itu.

“Tidak apa-apa, Nona. Silahkan.” Ujar wanita itu dengan senyuman hangat. Ia berdiri dari tempatnya dan pindah kedepan sisi meja bersama Siwon. Lalu Je Wo duduk ditempat miliknya dengan Kyuhyun yang berada disampingnya sedangkan Donghae masih berdiri karena disana memang hanya ada 4 kursi.

“Ga In dan Jae Rim tidak ada, Oppa?” tanya Je Wo pada Siwon.

Siwon tersenyum lembut, “Mereka memiliki kesibukan lain, jadi tidak bisa ikut makan siang bersama.” Jawabnya.

“Lalu kenapa kalian mengajakku ikut serta? Kalau tidak ada mereka untuk apa aku menemani kalian?”

Donghae melirik Siwon sejenak, ada sebuah makna tersirat dalam lirikannya. Dan ketika Kyuhyun melihatnya, pria itu mulai merasa ada yang aneh dari kedua sahabatnya.

“Kalau boleh aku tahu… siapa wanita yang ada bersama kalian ini?” tanya pria itu langsung. Ia memperhatikan lagi wanita itu penuh curiga.

Siwon menghela nafas panjang, “Kenalkan, ini adalah Choi Yong Ra, sepupuku.” Ucap Siwon memperkenalkan.

Wanita bernama Choi Yong Ra itu tersenyum ramah, “Salam kenal, Shin Je Wo-ssi.” Sapanya pada Je Wo hingga wanita itu cukup terkejut mendengar Yong Ra mengetahui namanya.

Je Wo menoleh pada Kyuhyun, melemparkan tatapan tak mengertinya. Ia sama sekali tidak mengenal Yong Ra, tapi kenapa wanita berparas cantik dan tampak lebih muda darinya itu seakan kenal dengannya?

“Kau mengenalnya?” tanya Kyuhyun langsung pada Yong Ra. Tatapannya menajam, menyelidik Yong Ra yang masih tersenyum ramah. Ya, senyuman khas milik keluarga Choi.

“Yong Ra adalah seorang dokter jiwa, Kyu.” Sela Donghae.

Sontak wajah Kyuhyun menoleh cepat pada Donghae. Menatap pria itu dengan rahang wajahnya yang mengeras. Wajahnya tiba-tiba saja memerah menahan kesal, “Apa-apaan ini?” geramnya.

Je Wo membatu, menatap tidak mengerti pada semua orang disana. Namun yang lebih membuatnya bingung, mengapa Yong Ra yang berstatus sebagai Dokter jiwa mengenal dirinya? Dan Kyuhyun, mengapa pria itu tampak begitu marah saat ini.

“Kyu…” bisiknya takut seraya meremas lengan pria itu.

Kyuhyun berdehem pelan, lalu menatap Siwon tajam namun pria itu hanya membalasnya tenang.

“Kupikir sudah saatnya Je Wo mulai melakukan proses penyembuhan, Kyu. Dia harus segera mengingat masa lalunya.” Jelas Siwon dengan menekan kata harus dalam kalimatnya.

“Yong Ra sudah menangani ratusan kasus yang sama selama ia bekerja dan hampir 70 persen orang yang berada dalam perawatannya dapat kembali sembuh.” Lanjut Donghae.

Kyuhyun ingin membalas perkataan kedua temannya, namun sialnya Je Wo lebih dulu menyela.

“Benarkah? Kau bisa menyembuhkanku, Choi Yong Ra-ssi? Aku benar-benar dapat mengingat masa laluku lagi?” tanya wanita itu antusias. Ia tampak begitu semangat menatap Yong Ra.

“Tidak ada yang tidak mungkin didunia ini asal kita mau berusaha, Je Wo-ssi. Jika kau berkenan, aku akan dan berusaha menolongmu semampuku.” Jawab Yong Ra dengan gaya santai dan ringannya.

Kyuhyun mengerang, ini bukan ide yang baik, batinnya. Ia menatap Donghae dan Siwon tajam seakan ingin mencekik kedua pria itu detik ini juga. Kyuhyun berdiri begitu saja dari tempatnya, “Aku ingin bicara dengan kalian berdua,” ujarnya dingin. Ia menoleh pada Je Wo sekilas, gadis itu masih mengembangkan senyum semangatnya. “Tunggu aku disini, aku tidak akan lama.”

Setelah menerima anggukan kecil Je Wo, Kyuhyun segera beranjak dari sana diikuti Donghae Dan Siwon. Kedua pria itu membiarkan Kyuhyun membawa mereka berdua semaunya dan akhirnya, mereka berhenti diambang pintu yang mengarah pada dapur Cafe. Kyuhyun masih memunggungi keduanya selama beberapa puluh detik, lalu setelah itu berbalik dengan dada bergemuruh.

“Apa yang kalian rencanakan, sialan?!” umpatnya kasar.

Donghae dan Siwon terkejut melihatnya, meneguk ludah mereka bersamaan saat rasa takut itu tak terelakkan. Mereka tahu, Cho Kyuhyun yang tampak tenang dan dingin akan begitu mengerikan jika emosinya terpancing.

“Apa aku sudah memberi ijin untuk membawa Dokter itu kehadapan Je Wo? Bagaimana bisa kalian melakukanya tanpa persetujuanku?!”

“Ini demi kabaikannya, Kyu.” Sela Donghae.

“Kebaikan yang mana?!” teriaknya. Untungnya tempat itu jauh dari para pelanggan hingga suara kuatnya tak terdengar. “Kalian tidak mengerti keadaannya. Saat ini bukan waktu yang tepat.”

“Lalu kapan? Kapan waktu yang kau sebut tepat itu, hah?” sahut Siwon.

“Kapan pun itu aku minta kalian untuk tidak ikut campur!” umpatnya dengan dengusan kasar.

“Kau tidak memiliki banyak waktu lagi, Kyu.” ujar Donghe pelan, kini suaranya lebih merendah dari sebelumnya. Ia sadar, tak ada gunanya ikut terbawa emosi saat menghadapi Kyuhyun.

“Apa maksudmu?” tanya Kyuhyun tak mengerti.

“Kau masih ingat perjanjiannya, kan?” sambung Siwon.

Kyuhyun tak bergeming, ia masih berusaha membaca raut wajah kedua sahabatnya hingga akhirnya Donghae memperjelas semuanya.

“Dia akan segera datang dan meminta kau menepati janjimu. Cepat atau pun lambat, semua ini akan segera selesai, Kyu. Baik itu dengan cara yang seharusnya atau pun tidak, Je Wo pasti akan segera mengetahui semunya.”

Tersadar, Kyuhyun memejamkan matanya erat. Ya, waktu itu sebentar lagi akan tiba dan hingga detik ini, ia tidak pernah melakukan apa pun. Ia bahkan semakin memainkan peranannya dengan setulus hati dan melupakan niat awalnya.

“Aku dan Donghae menyayangi Je Wo. Kami tidak ingin ia mengetahui segalanya dengan cara yang salah. Itu akan terlalu menyakitkan baginya, Kyu. Jadi kupikir sebaiknya mendatangkan Yong Ra kesini untuk membantu. Mengertilah, kami  juga ingin yang terbaik untuk Je Wo.”

Tatapan Kyuhyun menyendu. Kini rasa sesak itu semakin menggerogotinya. Hari itu akan segera datang. Kenapa rasanya begitu berat? Kenapa ia masih ingin mengulur waktu? Dia belum siap meski sudah mempersiapkan diri sejak 1 tahun yang lalu. Perlahan ia mengintip dari celah dinding yang memberikannya ruang untuk menatap Je Wo dari tempatnya. Gadis itu tampak bersemangat mengobrol ringan dengan Yong Ra.

Ya Tuhan… apa ini sudah saatnya?

 

TBC

 

 

Annyeong…. *Lambai-lambai ala Putri Indonesia*

Adakah yang merindukanku? *Tebar ciuman jarak jauh*

 

Okeh, I’am Back….

Setelah cukup lama mendekam gak karuan dengan segala masalah hidup yang menimpaku *ALAY MODE ON* Ami yang kece badai cetar membahana halilintar sejagat raya kembali dengan sebuah cerita yang… errrr kali ini jauhhhhh dari kata komedi *Nyengir cantik* Bisa dibilang FF kali ini sejenis dengan Our Destiny, karena karakter Shin Je Wo agak berbeda dari karakter yang ada di Cho’s family and… gilaku sedang kumat jadi… siap-siapin ajah tissue. Aku gak mau bahas masalah konflik karena aku yakin ada yang udah tau dan ada juga yang masih rada gak ngerti heheheh. Ini em… keknya Cuma 3 part. Lama gak nyentuh FF bikin aku sedikit kikuk pas ngetik jadi maaf kalau FF ini kurang g’feel *ngelessss* ini juga buatnya hari ini lohhhh

 

Dan masalah PO, buat yang menanti Wedding Romance harap bersabar… aku juga lagi nunggu konfirmasi percetakannya loh… jadi mari kita sama-sama menunggu *Digetok Readers*

 

Okelah…

Selamat menikmati…

 

Ami aka Shin Je Wo aka Nyonya Cho aka Nyonya Lee aka Hyunje Omma.

#Plakkkk *Gila*

CRINGGGG

*Ngilang*

361 thoughts on “Fake Wedding Chapter 1

  1. eonni… aku gak ingat udah baca cerita ini atau belum. tadi pas liat yg part 5 udah di post, aku ngeblank, gak ingat cerita awalnya atau malah gak tau sama sekali, jadilah aku langsung ngulang baca ke part 1 dan kayaknya bakal ngebut part selanjutnya juga😀
    dan jeng… jeng… apa yang terjadi sama je wo sampe dia lupa ingatan. apa ada yang disembunyiin sama kyuhyun dan teman-temannya. kyuhyun mencurigakan banget disini eon.

  2. hallo hallo. salam kenal ami. aku gk tau deh ini pertma aku komen apa bukan. tp rasanya aku udh prnh komen dibbrpa ff kamu yg prnh aku baca dlu yg Ny. Cho apaaa gtu (atau aku mimpi kali ya gk sadar msh jd sider) ><.
    ooh iya aku prnh baca yg affair love ya klo gk salah. apa udh tamat ya ff yg itu? nnti aku cek lg deh😄. mau lanjutin baca yg ini dlu kkk

  3. hallooooooow,udah lma bnget gk baca di blog ini,…!!!!
    awalnya gk bgitu trtarik sma judulnya…!!!
    tpi pas baca chapter 5 jdi trtarik tuk mulai dari awal,…!! makin pnsaran knpa je wo kcalakaan,dan kyu yang seakan mrasa bersalah ampe rela jadi suami bohongannya je wo,..???

  4. Kerennnn ^^
    Sptny konflikny bakalan berat.
    Aku tdk suka ff yg sad, tp kadang aku msh baca ff yg sad kalau ceritany menarik dan unik spt ff ny eonni yg 1 ini^^
    Bnyk sekali rahasia yg bikin aku penasaran. Hee…
    Aku bukan orang yg pandai berkata”, jd maaf kalau komen aku absurd atau gak nyambung😀

  5. jujur aku baru baca ff ini walaupun udah lama publish
    tapi karena belum end
    n nunggu endnya lama
    udah g bisa nunggu jadi langsung baca deh
    walaupun nanti bakalan galau menunggu lanjutannya #lebay🙂
    langsung lanjut next part deh yaa
    g banyak komen
    pokoknya semua ffmu itu keren2 BGT

  6. Masih bingung sama konfilk yg terjadi di FF ini. Konfliknya masih blm jelas.
    Tapi udah dibikin penasaran sm kelanjutan ceritanya.

    Bingung juga sm sikap Kyuhyun ke Je wo. Sebenernya gimana hubungan Kyuhyun sm Je Wo. Sebelum Je Wo lupa ingatan,…???
    Trus apa penyebab Je Wo kecelakaan dan lupa ingatan,…???
    Dan apa maksud dari, waktu Kyuhyun sm Je Wo udah gk lama lagi, karena dia udah datang. Siapa yg disebut “Dia” itu,….?

    Penasaran mau lanjut baca FF Fake Wedding chapter 2.
    Ijin baca FF Fake Wedding chapter 2 eonni,…..
    Semangat terus eonni, aku tunggu kelanjutan FF Fake Wedding sm kelanjutan karya-karya kamu yg lainnya.
    FIGHTING n’ KEEP WRITING.
    Semoga FF Fake Wedding kelanjutannya cepet di post.
    See you next chapter. ^^

  7. Oh hai thor aku reader baru disini🙂 wah ada dengan pernikahan kyu dan jewo ? Ada apa dengan masa lalu jewo hehehe sih jewo ilang ingatan gara2 apah? Ok fixpenasarann

  8. Oh hai thor aku reader baru disini🙂 wah ada dengan pernikahan kyu dan jewo ? Ada apa dengan masa lalu jewo hehehe sih jewo ilang ingatan gara2 apah? Ok fixpenasarann semangat thor

  9. bener2 ff yg penuh misteri (?). sebenarnya kyuhyun itu siapanya jewo? jewo juga siapanya kyuhyun?? kok aq merasa kayaknya mereka gk nikah beneran deh (?). Trs, aq juga rada ragu kalo emang bener jewo amnesia gara2 kecelakaan (?). n kayaknya kebenaran yg sebenar- benarnya itu ada hubungannya sama perjanjian itu deh *sok tauk*. Asli, bikin kepo.

  10. Waaaaw, siapa sebenernya yg akan datang? Apa kekasihnya kyuhyun?? Selain jewo??
    Aku nangkepnya kyuhyun cuma pura2 jadi suami jewo saat dia amnesia aja, tapi apa mungkin dulunya kyuhyun benci sama jewo?
    Entahlah, tapi aku ijin baca next partnya yaa eon hehe

  11. Jeng, jeng, jeng, kayaknya ada yg disembunyikan.. Apakah itu? Ya tentunya cari di lanjutannya…

    Next ke part 2…

    Oh ya, salam kenal eonni, reader baru, sebenarnya udah lama… Cma baru bisa komentar sekarang karena udah tahu caranya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s