[Freelance] Squel – When I Found You

cats

Jangan tanyakan Kenapa aku mencintaimu!

 

Tanyakan saja waktu yang telah menemukanmu denganku.

 

Salahkan saja waktu yang akhirnya membuatku menginginkanmu.

 

Salahkan saja waktu yang akhirnya membuatmu berada di pelukanku.

 

Dan tanyakan saja pada waktu, bagaimana akhirnya kita nanti.

 

Tapi, satu hal yang kutahu,

 

Sampai waktu itu memberi jawaban kepadamu, akan ku pastikan kau bahagia di pelukanku.

*

 

 

 

 

1 bulan kemudian

Kyuhyun mengamati tubuh Je wo yang sedari tadi bergerak kesana-kemari. Wanita itu sedang berkutat di dapur, tiba-tiba merasa perlu melakukan sesuatu yang benar di pagi hari untuk suaminya.

Membuat sarapan.

Kyuhyun sebenarnya sama sekali tidak mempersalahkan wanita itu mau masuk dapur atau tidak. Toh, selama ini dia merasa nyaman dengan semua kekurangan wanita itu. Jadi dia tidak akan merasa keberatan sama sekali jika wanita itu tidak bisa memasak atau apa pun yang berhubungan dengan dapur.

Je wo menuangkan kopi pada cangkir Kyuhyun, dan meletakkan dua buah roti lapis pada piring suaminya itu, kemudian membawanya ke hadapan Kyuhyun. Laki-laki itu tidak bereaksi apa pun, memutuskan untuk tidak mencela masakan yang di buat istrinya.

“Kau tidak makan?” kyuhyun memandang Je wo tajam, mengerti sekali dengan kebiasaan istrinya yang tidak pernah menelan apapun di pagi hari selain susu hamil yang harus ia konsumsi tentunya.

“Tidak, kau tahu kan aku tidak suka sarapan.” Kyuhyun memutar bola matanya jengah, dan meneguk kopi yang dibuat oleh Jewo, tersenyum senang saat mendapati kopi itu layak di minum oleh manusia. Je wo memandang Kyuhyun kesal, setidaknya ia tak akan sebodoh itu dalam membuat kopi.

“Kau belebihan Tuan Cho.”  Kyuhyun mengedikkan bahunya tidak peduli dan mengambil roti lapis yang tadi Je wo buat, menggigitnya besar-besar dan mengunyahnya dengan cepat. Kemudian kembali menyesap kopinya sebelum mengalihkan pandangannya lagi pada Je wo.

“Kau sepertinya lumayan membuat kopi dan roti lapis. Jadi, aku memutuskan kau harus membuatnya setiap hari untuk sarapanku.”

“Kau memangnya tidak akan bosan?” je wo memandang Kyuhyun ragu. Kalau hanya secangkir kopi dan sepiring roti lapis saja, dia memang sanggup untuk membuatnya. Tapi, jika setiap hari, apa pria itu masih sanggup memakannya?

“Kita tinggal memesan makanan saja kalau aku merasa bosan. Dan selagi aku belum protes, kau bisa membuatnya setiap hari.” Sisi yang begitu di sukai Je wo dari suaminya itu. dia laki-laki yang tidak terlalu rewel soal makanan, kecuali benda berwarna hijau yang sering ia sebut dengan makanan hama, kelinci atau hewan herbivore lainnya.

Kyuhyun beranjak dari duduknya dan menghampiri Je wo yang duduk di depannya, membuat wanita itu secara refleks berdiri dari kursinya. Kyuhyun merangkul pinggang Je wo,  tidak terlalu erat, mengingat perut istrinya yang semakin membesar.

“Baiklah, sekarang saatnya kau melaksanakan kewajibanmu sebagai istri di pagi hari.” Kyuhyun menyunggingkan senyum separonya dan menatap Je wo menggoda. Wanita itu memandang kyuhyun kesal, mencibir kelakuan suaminya yang semakin mesum saja.

“Cih.. bukankah tadi pagi aku sudah memberikannya. Kenapa sekarang harus lagi?”

“Tadi pagi itu adalah morning kiss ketika bangun dari tidur, kalau sekarang kau harus memberiku morning kiss untuk energiku dalam bekerja.”

“Astaga.. kata-kata macam apa itu? mana ada jenis morning kiss seperti itu. dasar bodoh!” kyuhyun tampak tak peduli, dan segeran mernggut tengkuk wanita itu, sebelum akhirnya melumatnya dalam ciuman pagi yang menyenangkan. Bibir Kyuhyun menekan bibir Je wo dan melesakkan lidahnya ke dalam mulut wanita itu. Kyuhyun semakin mempererat pelukannya, mengusap punggung wanita itu dan menekan tengkuknya semakin mendekat ke arahnya , membuat ciuman mereka semakin dalam.

Gila, kenapa dia bisa secandu ini dengan bibir wanita itu? padahal dia hampir setiap hari mengecapnya. Kyuhyun melepaskan ciumannya dan mengecup sekilas bibir Je wo.

“Tuan Cho, bibirmu bengkak.” Je wo melihat miris ke arah bibir suaminya. Pria itu selalu berangkat kerja dengan keadaan bibir seperti itu, dan sayangnya dia tidak pernah bisa mencegah pria itu untuk menciumnya.

Kyuhyun terkekeh pelan, dan melemparkan tatapan menggoda pada Je wo. “Bukankah kau yang membuatnya?”

Je wo menggeram kesal, laki-laki di hadapannya ini memang menguras banyak kesabarannya sampai titik terkering sekalipun.

“Sialan kau Cho Kyuhyun… Berangkat kerja saja sana!”

Kyuhyun mengecup sekilas bibir Je wo sekali lagi dan berlari ke arah pintu, membuat wanita itu semakin bertambah kesal. Terkadang mengerjai Shin Je wo bisa memberi hiburan tersendiri untuknya, dan ekspresi Je wo ketika marah itu terlihat er… menggairahkan. Kyuhyun membalikkan tubuhnya sebelum memutar gagang pintu, memperhatikan Je wo sekilas sebelum memberikan senyum yang menggoda untuk wanita itu.

“Nyonya Cho, kau tenang saja, nanti malam pasti aku akan memenuhi kewajibanku sebagai seorang suami, jadi kau harus bersabar ne? tunggu aku pulang!”

Je wo membulatkan matanya sebelum meneriaki suaminya yang mesum itu. “Yak.. dasar setan mesum….”

Kyuhyun segera keluar dari partemennya sambil terkekeh pelan,. Pagi yang menyenangkan selalu ia dapat dengan Shin Je wo, dan itu sedikit membantunya untuk menghadapi pekerjaan di kantor. Bukankah ia sudah pernah bilang, hidup dengan Shin Je wo adalah keputusan terbaik yang pernah ia ambil.

Je wo tersenyum kecut, hari ini dia sendirian di apartement, mengingat Kyuhyun sudah berangkat ke kantor dan jadwal kuliahnya yang memang sedikit melonggar akhir-akhir ini. Ah.. bukankah sebentar lagi ia memang harus mengambil cuti kuliah, mengingat perutnya yang semakin besar, itu pasti akan sedikit menyulitkannya untuk beraktifitas.

Je wo tanpa sadar sudah memegang perutnya, mengusapnya dengan rasa sayang. Bagaimana tidak? Seorang nyawa telah tumbu di dalam dirinya, makan dan bertahan hidup karenanya. Dan nyawa itu ada karena seorang pria yang kini mengisi hidupnya, dan akan selalu ada bersamanya.

“Aegi-ya, hiduplah dengan baik, lahirlah ke dunia ini dengan kebahagiaan dan jadilah anak yang dapat di banggakan oleh appamu.” Tanpa sadar Je wo tersenyum lembut, akan seperti apa wajah anaknya nanti? Akankah mirip dengannya atau mirip dengan Kyuhyun? Tidak akan menjadi masalah wajah anak itu kelak, ia pasti akan lahir menjadi seorang anak yang mengagumkan, yang pasti otak anak itu harus mirip dengan Kyuhyun, mengingat otak lelaki itu yang memang mengagumkan dan Je wo mengakui itu.

Dia mungkin tidak pernah memikirkan ini sebelumnya, tapi dia sekarang sudah terlanjur terjebak dengan kehidupan pria itu. dia tidak akan bisa keluar lagi, mengingat seprotective apa pria itu padanya, tapi bukankah dia menyukainya. Hidup bersama pria itu, berarti kau menyerahkan seluruh kebahagianmu untuk di genggam olehnya, dan Je wo tidak akan pernah menyesalinya.

Kyuhyun tampak serius menekuni berkas-berkas yang ada di depannya, sampai tidak memperhatikan ketika pintu ruang kerjanya terbuka. Terlihat seorang pria muda yang tersenyum cerah sambil melangkahkan kakinya ke dalam ruang kerja Kyuhyun, duduk tepat di depan pria itu.

Kyuhyun mendongak sekilas dan mencebikkan mulutnya, melihat siapa orang yang mendatanginya menjelang jam makan siang seperti ini.

“Ada apa Lee  Donghae-ssi?” pria yang bernama Lee Donghae itu terkekeh pelan sebelum mengedikkan bahunya.

“Apa seperti ini caramu menyambut seorang teman? Lagipula, aku ini lebih tua darimu Cho sajangnim, jadi seharusnya kau bisa lebih sopan berbicara denganku, kan?”

“Cih.. umurmu saja yang tua, tapi kelakuanmu masih seperi anak kecil.”

“Mulut tajammu itu ternyata masih berfungsi Kyuhyun-ah.” Kyuhyun tersenyum tidak peduli dan kembali menekuni berkas-berkas yang sedang ia kerjakan tadi, membuat Donghae menggerutu kesal.

“Haish.. Cho Kyuhyun, aku ini menyempatkan waktuku untu mengunjungimu, tidak bisakah kau meningalkan berkas-berkasmu itu?” Kyuhyun melirik Donghae sekilas, kemudia menutup berkasnya, mengalihkan pandangannya pada temannya itu.

“Apa yang kau inginkan? Bukankah kau sama sibuknya denganku? Jadi apa yang membuatmu harus susah-susah datang kemari dan mengganggu kerjaku?”

“Hanya ingin mengkonfirmasi sesuatu.” Kyuhyun memandang Donghae bingung.

“Cih.. lagakmu sudah seperti wartawan saja Lee Donghae.”

“Diam kau Cho Kyuhyun!”

“Ok, apa yang ingin kau konfirmasi dariku?”.

“Kapan kau menikah.” donghae tersenyum menggoda pada Kyuhyun, membuat lelaki itu memandangnya dengan alis berkerut.

“Ah.. aku lupa memberitahumu ya?”

“Kau bahkan lupa memberitahu semua teman-temanmu, hingga kami harus mencari kebenaran berita ini sendiri.” Kyuhyun memberikan cengiran tidak berdosanya, dia memang tidak sempat memberitahukan teman-temannya tentang pernikahannya, lagipula ia belum membuat sebuah resepsi atau semacamnya, jadi dia tidak terlalu perlu untuk mengumumkan pernikahannya pada teman-temannya.

“Aku memang belum sempat memberitahu kalian, tapi itu lebih dikarenakan pernikahan kami yang hanya di catat di catatan sipil saja.”

“Kau tidak sedang bercandakan? Mana mungkin orang sepertimu hanya mendaftarkan pernikahannya di catatan sipil. Sama sekali bukan seorang Cho Kyuhyun.” Donghae menggelengkan kepalanya tidak percaya. Cho Kyuhyun yang ia kenal selama ini, sebagai pria kaya dan dikelilingi oleh wanita-wanita cantik, hanya mendaftarkan pernikahannya di catatan sipil. Benar-benar sebuah kejutan.

“Aku tidak peduli, yang penting wanita itu menjadi milikku dan tidak akan pernah lari dariku. Soal pesta atau semacamnya, aku bisa mengaturnya nanti.”

“Astaga.. wanita seperti apa istrimu itu? aku jadi penasaran, bagaiman caranya ia mengubah sifat setanmu jadi lebih jinak seperti ini?” kyuhyun melotot menatap Donghae, laki-laki di hadapannya ini terkadang terasa sangat menjengkelkan.

“Lee Donghae, sebaiknya kau diam saja, dan jangan mengoceh hal yang tidak penting padaku. Aku sedang banyak pekerjaan, jadi cepat selesaikan urusanmu dan segera pergi dari sini!”

“Baik.. aku hanya ingin memberikan ini padamu.” Donghae mengeluarkan sebuah undangan dari saku jasnya, dan meletakkannya di hadapan Kyuhyun. Laki-laki itu agak sedikit memicingkan matanya ketika membaca nama yang tertera pada undangan itu. menemukan sebuah nama yang terasa sangat familiar dengannya.

“Kau akan menikah dengan Jung Ha Won?” donghae tersenyum sumringah dan mengedipkan sebelah matanya pada Kyuhyun.

“Aku sudah lama mengejarnya, dan akhirnya aku mendapatkannya. Bukankah ini sebuah keberuntungan Cho Kyuhyun?” kyuhyun memandang Donghae aneh, Lee Donghae, laki-laki itu bisa tersenyum sangat bahagia ketika menceitakan wanita itu padanya. Padahal, wanita itu adalah mantan kekasih Kyuhyun. Benar-benar menggelikan, mantan kekasihmu menjadi istri dari sahabatmu. Dunia itu ternyata memang sangat sempit.

“Ku harap kau bahagia dengan pilihanmu. Dia wanita yang baik, meski agak sedikit menjengkelkan.” Dongahe menatap Kyuhyun kesal.

“Yakk.. tentu saja, dia menjadi seperti itu gara-gara siapa memang?” kyuhyun tersenyum geli melihat ekspresi Donghae.

“Aku meninggalkannya, karena tidak mungkin menjalani hubungan serius dengannya. Dan mungkin karena dia memang berhak mendapatkan pria yang lebih baik dariku.”  Kyuhyun tersenyum tulus kepada Donghae. Jung Ha Won, memang berhak mendapatkan pria yang lebih baik darinya. Dia meninggalkan wanita itu setelah menjalin hubungan selama satu tahun. Karena alasan kesibukan mereka berdua yang sama-sama gila, maka ia tidak tahan untuk mempertahankan hubungan mereka. Kyuhyun saat itu sedang gencar-gencarnya mengejar kariernya dan Ha Won juga, jadi karena keadaan itulah akhirnya hubungan mereka berakhir.

“Tapi aku berterima kasih untuk itu, setidaknya karena dirimu aku berhasil mendapatkannya.”

“Sama-sama Lee Donghae, kau memang lebih pantas mendapatkannya daripada aku.”

Donghae memang lebih berhak mendapatkan wanita itu, karena sekarang takdirnya ada ditangan Shin Je wo,  istrinya. Keadaan memang harus berjalan seperti itu, karena waktu itu yang dapat mempertemukan seseorang dengan kebahagiaannya.

Je wo sedang duduk di depan televisi, saat mendengar suara pintu apartement terbuka. Kyuhyun muncul dengan menenteng sebuah bungkusan di tangannya.

“Aku mendapatkannya. bagaimana bisa kau mengidam makanan aneh seperti ini?” kyuhyun mnyerahkan bungkusan yang ia bawa tadi pada Je wo. Wanita itu, tiba-tiba saja menginginkan salad. Makanan berwarna hijau yang sangat ia benci.

“Terimakasih Tuan Cho. Dan.. ini bukan makanan aneh, melainkan makanan sehat, dan sangat baik untuk anakmu.”

“Terserah padamu saja, yang penting makanan itu memang terasa aneh untukku.” Kyuhyun menjatuhkan dirinya  di samping wanita itu,  menyandarkan kepalanya pada bahu Je wo. Membuat wanita itu mendecakkan lidahnya kesal.

“Ck.. Tuan Cho, ganti bajumu dan mandilah dulu! Jangan bersikap aneh seperti ini.”

“Jangan berisik! Aku sangat lelah bodoh.” Kyuhyun memeluk  pinggang wanita itu dan menenggelamkan kepalanya di leher Je wo, menghirup wangi wanita itu, membuat saraf-saraf di otaknya menjadi agak sedikit mengendur.

“Tuan Cho!”

“Hmm..”

“Kapan kau akan mengantarkanku ke kampus untuk mengambil cuti?” kyuhyun mengangkat kepalanya dan memandang Je wo. Ah.. ia bahkan sampai lupa untuk mengantarkan wanita itu ke kampus untuk mengambil cuti kuliahnya. Begitu banyak pekerjaan di kantor dan itu membuatnya memang menjadi super sibuk. Lihat saja, ia baru bisa pulang di atas pukul sembilan malam, dan harus berangkat kerja di bawah pukul delapan pagi.. terkadang ia merasa jenuh dan ingin membakar semua pekerjaannya itu, namun ia tidak bisa melakukannya, mengingat tanggung jawab yang ia pegang sekarang sebagai kepala keluarga.

“Aku akan mengantarkanmu besok. Kebetulan besok pekerjaanku agak sedikit berkurang.” Je wo tersenyum maklum dan menganggukkan kepalanya.

“Bagaimana keadaannya hari ini?” kyuhyun mengarahkan pandangannya pada perut Je wo yang sudah agak sedikit membesar. Mengusapkan telapak tangannya pada permukaan perut wanita itu.

“Baik. Dia tenang sekali hari ini.”

“Benarkah?” kyuhyun tampak tersenyum bahagia dan mendekatkan kepalanya pada perut Je wo, mengecupnya dan menempelkan telinganya, masih sambil mengusap perut itu dengan sebelah tangannya. “Kau mendengarku? Kuharap kau baik-baik saja disana. Aku akan menunggumu dengan sabar disini, sambil memikirkan hal apa saja yang akan aku lakukan bersamamu ketika kau lahir nanti. Jadi, sebelum itu terjadi, kumohon kau tetap tenang di dalam sana, dan jangan menyusahkan eommamu arra?”

“Dasar bodoh!” je wo tersenyum melihat tingkah bodoh suaminya itu. tidak menyangka Kyuhyun akan mengatakan hal yang manis kepada calon anak mereka.

“Ck.. kau diam saja Nyonya Cho!” kyuhyun mendecak kesal dan mengangkat kepalanya dari perut Je wo, memandang wanita itu datar, sebelum akhirnya membawa wanita itu dalam pelukannya. Je wo tidak ingin menolaknya, pengaruh hormon kehamilan mungkin?  Wanita itu memeluk ringan pinggang Kyuhyun, menyembunyikan wajahnya dari jangkauan pria itu.  Mereka berdua sama-sama terdiam, menikmati suasana hening yang terasa nyaman untuk mereka. Kyuhyun mengusap pelan punggung Je wo dan menenggelamkan kepalanya pada leher wanita itu.

“Cho Kyuhyun.”

“Wae?”

“Apa kau bahagia?”

Kyuhyun menegakkan tubuhnya, membuat pelukannya pada Je wo terlepas. Laki-laki itu memandang Je wo tajam, mengunci pandangan wanita itu pada matanya. Kyuhyun menangkup pipi Je wo dengan ke dua tangannya yang besar, mendekatkan wajah wanita itu padanya. “Kau tidak perlu mempertanyakan hal itu Nyonya. Aku menikahimu, berarti aku mempercayakan kebahagianku padamu, selama kau masih bersamaku, berarti aku akan bahagia. Pastikan saja bahwa kau baik-baik saja dan tetap berada di pelukanku, maka semuanya akan terasa mudah untukku.” Je wo memandang Kyuhyun dalam, menyadari kesungguhan lelaki itu. Dia akan baik-baik saja, dan lelaki itu juga harus baik-baik saja. Dan seperti kata Kyuhyun, maka semuanya akan terasa mudah untuknya.

“Terima kasih.” Kyuhyun tersenyum sekilas dan menempelkan bibirnya pada bibir Je wo. Mengecap rasa manis bibir wanita itu yang selalu menggodanya. Lelaki itu menggerakkan bibirnya dengan lembut, membuat Je wo terlena dengan ciumannya. Kadang ciuman yang pelan dan lembut seperti ini cukup menyenangkan untuk mereka. Kyuhyun menggit pelan bibir bawah Je wo, membuat wanita itu mengerah dan membuka mulutnya, membuka jalan untuk lidah Kyuhyun masuk ke dalamnya. Lidah mereka saling membelit dan saliva mereka saling bertukar. Tangan Kyuhyun menekan pelan tengkuk Je wo, membuat ciuman mereka semakin dalam.

Lelaki itu melepaskan ciumannya saat merasakan nafas Je wo yang agak sedikit kualahan. Mereka saling memandang dengan nafas yang sama-sama memburu. Kyuhyun mengankat tubuh Je wo kedalam pelukannya dan menggendong wanita itu menuju kamar mereka. Sedikit tersenyum jahil saat merasakan bobot wanita itu.

“Kau bertambah berat saja Nyonya Cho.” Je wo mendelik garang pada Kyuhyun, dia memang selalu sensitive terhadap masalah berat badan. Dan dia sudah sedikit merelakan tubuhnya menjadi agak sedikit berisi karena mengandung anak pria itu, dan Kyuhyun tanpa tahu terimakasih malah mengejek berat badannya. Astaga.. dia seperti igin melemparkan pria ini ke kerumunan Heyna yang kelaparan.

“Tutup mulutmu Tuan Cho! Atau kau tidak bisa menyentuhku malam ini.” Kyuhyun terkekeh pelan.

“Hamil membuatmu menjadi lebih sensitive ya?”

“Yak.. Kau menyebalkan sekali Cho Kyuhyun. Turunkan aku!” je wo berusaha melepaskan diri dari gendongan Kyuhyun, membuat pria itu terkekeh semakin kuat.

“Kau jangan bergerak seperti itu Nyonya Cho, atau aku akan menyerangmu sekarang juga.”  Je wo membulatkan matanya tidak percaya, pria di hadapannya ini memang mempunyai kadar menyebalkan yang melebihi ambang batas.

“Sialan kau Cho Kyuhyun.”

Kyuhyun tersenyum tidak peduli dan menempelakan bibirnya pada bibir Je wo, menurunkan wanita itu pada ranjang mereka, melepaskan tautan bibirnya dan memandang wanita itu sejenak. Wanita itu terlihat begitu cantik, dan wanita cantik itu miliknya.

Kyuhyun  menunudukkan kepalanya dan mencium wanita itu lagi, membawanya pada pusaran gairah yang mereka ciptakan. Malam yang dingin, terasa hangat dengan suhu tubuh mereka yang saling menyatu dalam sebuah kegiatan yang begitu amat sangat menyenangkan untuk mereka, menuntaskan gairah mereka dengan pelepasan yang begitu hebat.

Kyuhyun menggandeng tangan Je wo memasuki gedung kampus wanita itu. tidak memerdulikan tatapan orang-orang yang melihat mereka dengan terang-terangan. Je wo memandang Kyuhyun gusar, berusaha melepaskan genggaman tangan lelaki itu.

“Cho Kyuhyun, lepaskan tanganmu!”

“Wae?”  je wo mendecak kesal, merutuki sikap Kyuhyun yang mulai seenaknya lagi.

“Kau tidak melihat, banyak orang yang memerhatikan kita Tuan Cho. Dan aku tidak suka.” Kyuhyun meliri Je wo sekilas, wanita itu memang tidak suka mengumbar kemesraan di depan orang banyak, dan itu terasa sangat menyebalkan unutk Kyuhyun. Kyuhyun melepaskan tautan jari mereka dan mengalihkan tangannya pada pinggang wanita itu, membuat Je wo memekik marah dan memandang lelaki itu dengan tatapan membunuh milikinya.

“Yakk.. Cho Kyuhyun, aku menyuruhmu untuk melepaskan genggamanmu, bukan malah mengalihan tanganmu pada pinggangku.”   Kyuhyun tersenyum jahil pada Je wo, tidak mengindahkan protes dari wanita itu.

“Kau sebaiknya jangan berteriak-teriak seperti itu Nyonya Cho, atau aku akan melakukan lebih padamu.” Kyuhyun menyeringai geli saat melihat wajah Je wo. Wanita itu tidak akan mungkin berteriak atau memberontak lagi, mengingat ancaman pria itu seperti bisikan kematian untuknya.

“Sialan kau Tuan Cho.” Je wo mendesis kesal, membuat Kyuhyun terkekeh semakin kuat.

Je wo dan kyuhyun baru saja keluar dari ruang administrasi. Kedua orang itu berjalan beriringan ke arah parkiran. Kyuhyun membuka pintu mobilnya, sama sekali tidak berniat untuk membukakan pintu untuk Je wo. Je wo duduk di sebelah Kyuhyun, memasang sabuk pengaman mengitari tubuhnya. Wanita itu menatap lurus ke depan dan tersenyum sekilas ketika melihat teman-teman sejurusannya berlari-lari untuk berganti jam kuliah. Kyuhyun memperhatikan ekspresi istrinya, memahami perasaan wanita itu kini,  menggenggam tangan Je wo untuk menyemangati wanita itu.

“Kau akan menyambungnya lagi nanti, setelah anak kita siap untuk di tinggal.” Je wo memandang Kyuhyun, menganggukkan kepalanya, membenarkan ucapan lelaki itu.

“Ya.. dan aku harus bersabar untuk itu.”

“Terima kasih.”

“Untuk?” kyuhyun tesenyum dan meremas tangan Je wo.

“Mengorbankan dirimu untuk mengandung anakku?”

“Dia juga anakku, aku tidak mengorbankan apapun untuk itu. ini adalah tugas dan tanggagung jawabku sebagai ibunya. Lebih dari itu, aku menikmati waktu longgarku sekarang ini, jadi kau tidak perlu merasa terbebabani dengan hal ini.”  Je wo membalas genggaman lelaki itu dan tersenyum. Dia senang menjalani hal ini, mengandung anak lelaki itu dan berbagi kehidupan dengannya. Dan dia tidak akan pernah menyesal untuk itu.

Je wo mengumpat kesal saat kakak iparnya merecoki dirinya hari ini. Tadi, tiba-tiba saja Ahra datang ke apartemennya dan menyeretnya dengan paksa untuk keluar. Wanita itu membawa Je wo ke sebuah butik dan memaksa wanita itu untuk mencoba beberapa pakaian yang ada di butik itu.

Je wo merogoh saku bajunya saat merasakan sebuah getaran dari ponselnya. Wanita itu mendecak kesal, saat melihat nama orang yang menelfonnya.

“Hai!” kyuhyun sedikit menyembunyikan tawa gelinya saat mendengar suara ketus Je wo. Membayangkan betapa kesalnya wanita itu seharian karena kakak perempuannya itu.  Tadi dia yang menyuruh Ahra  memilihkan gaun untuk Je wo. Dan sudah pasti nunanya itu bersedia dengan senang hati. Mengingat selama ini dia hanya memiliki adik laki-laki yang sangat kaku seperti Kyuhyun.

“Kau di apakan saja oleh nuna?”

“Ck.. nunamu itu memang wanita gila. Dia menyuruhku mencoba banyak baju di butik ini dan belum merasa puas juga. Astaga.. aku bisa kaku berdiri Tuan Cho.” Je wo berbicara dengan nada sedikit frustasi, membuat Kyuhyun tidak bisa menyembunyikan lagi tawa gelinya.

“Separah itu? tapi setidaknya kau memang harus tampil cantik nanti.” Je wo mengerutkan keningnya. Ah.. dia bahkan belum bertanya pada lelaki itu, acara apa yang akan mereka hadiri, sampai lelaki itu melemparkannya ke pada nunanya.

“Memang kita akan pergi kemana Tuan Cho?”

“Pernikahan temanku, sekaligus aku ingin memperkenalkanmu sebagai istriku di hadapan teman-temanku nanti.”

“Begitu, tapi sepertinya kau tidak perlu menyiksaku begini Tuan Cho.”

“Hahahaha.. nikmati saja, dan…..” Je wo mendecakkan lidahmya kesal dan memutuskan sambungan telfon itu secara sepihak. Lelaki itu memang menyebalkan, dan seharusnya dia sudah tahu sejak awal.

“Je wo-ya coba baju yang ini!” je wo mendelik, ketika Ahra sudah datang dengan menenteng sebuah gaun ditangannya, lagi.

“Eonni-ya, kau mau membunuhku?” ahra tersenyum tidak peduli dan mendorong Je wo ke ruang pengepasan pakaian.

“Kita belum menemukan gaun yang cocok untukmu.” Je wo memutar bola matanya jengah. Tentu saja mereka belum menemukan gaun yang cocok, karena sedari tadi Ahra memang tidak pernah merasa puas dengan gaun yang ia coba.

“Kau sama menyebalkannya dengan Kyuhyun.”

“Memang.”

“Yakk…”

Kyuhyun memandang takjub saat Je wo berdiri di hadapannya. Wanita itu mengenakan gaun berwarna hitam selutut dengan aksen sederhana di sekitar pinggangnya. Tampak cantik dan mempesona. Perutnya yang sedikit membesar-pun sudah tertutupi sempurna oleh gaun itu. kyuhyun mndekati Je wo, dan menarik pinggang wanita itu mendekat ke arahnya. Menelusuri setiap inici wajah wanita itu, yang terlihat begitu mempesona. Tiba-tiba merasa sayang harus membiarkan wanita itu di lihat oleh orang lain. Kyuhyun mengecup pipi Je wo, membuat semburat merah muncul di pipi wanita itu.

“Sepertinya sayang sekali kalau kita harus pergi malam ini. Kau terlalu sayang untuk di lewatkan, sayang.” Je wo mendelik memandang Kyuhyun.

“Berhenti memanggilku dengan paggilan menjijikkan itu, dan singkirkan pikiran mesummu itu Tuan Cho!” kyuhyun terkekeh pelan dan mengecup bibir Je wo.

“Aku akan bersabar hingga  kita pulang nanti, jadi jangan buang energimu untuk hal yang tidak penting di sana.”

“Cih.. dasar maniak.”

“Salahkan saja dirimu yang terlalu menggodaku.”

“Ok.. sebaiknya kita pergi sekarang atau aku akan melemparmu dari jendela apartement ini.”

“Melemparkanku ke ranjang jauh lebih menyenangkan Nyonya Cho.” Kyuhyun menatap Je wo menggoda sambil menaik turunkan alisnya

“Kau memuakkan Tuan Cho.” Je wo menatap Kyuhyun sengit dan berjalan melewati lelaki itu begitu saja. Membuat Kyuhyun mengulum senyumnya geli. Wanita itu selalu saja tidak terbiasa jika ia goda seperti itu, bukankah mereka sudah melakukannya berkali-kali, tapi kenapa wanita itu semakin sensitive saja. Ah.. pengaruh hormon kehamilan mungkin.

“Hei Nyonya Cho, tunggu aku!” kyuhyun mengejar Je wo dan menggengam tangan wanita itu, menautkan jari mereka, kemudian berjalan beriringan menuju tempat parkir.

Kyuhyun menggandeng Je wo memasuki sebuah gedung mewah tempat pernikahan Donghae dilaksanakan. Je wo tampak mendesah tidak nyaman di samping Kyuhyun. Wanita itu selalu tidak meyukai keramaian, dan berada di tempat seperti ini sudah pasti membuatnya tidak nyaman.

“Kita akan segera pulang setelah aku mengenalkanmu kepada teman-temanku.” Je wo menolehkan kepalanya pada  Kyuhyun yang memandangnya. Kyuhyun tersenyum kepada Je wo dan merangkul pinggag wanita itu, berusaha membuat wanita itu merasa nyaman. Je wo menghembuskan nafasnya pelan, berusaha serileks mungkin, dia harus menghargai Kyuhyun, setidaknya sampai pria itu membawanya pulang.

“Baiklah.”

“Kyuhyun-ah..!” kyuhyun menolehkan kepalanya saat mendengar suara yang memanggilnya. Pria tu tersenyum saat mendapati seorang lelaki mendekatinya. Lelaki itu adalah Lee Sungmin, temannya.

“Sungmin hyung!”  Kyuhyun memeluk laki-laki itu sambil tersenyum senang. “Sudah lama sekai tidak melihatmu. Ah.. semenjak kau pindah ke Jepang, kau menjadi semakin sulit untuk di hubungi.”

“Aku cukup sibuk di sana, lagi pula kau dan yang lainnya juga sama sibuknya, jadi sulit sekali meluangkan waktu untuk menhubungi kalian.” Kyuhyun mengangguk mengerti kemudian melirik Je wo yang berada di sampingnya.

“Hyung.. kenalkan ini istriku. Shin Je wo.” Sungmin mengalihkan pandangannya pada Je wo sebelum membungkuk untuk memberi salam.

“Lee Sungmin imnida.” Je tersenyum sambil membungkuk membalas salam dari Sungmin.

“Shin Je wo imnida, senang bertemu denganmu Sungmin-ssi.”

“Wah.. aku tidak menyangka ternyata Kyuhyun sudah menikah terlebih dahulu. Padahal dulu dia terkenal suka sekali mempermainkan wanita, tidak ku sangka sekarang dia mau membuat sebuah hubungan berkomitmen seperti ini.” Sungmin melirik Kyuhyun dan tersenyum menggoda, menikmati ekspresi Kyuhyun yang agak sedikit panik.

“Yakk hyung, jangan bicara sembarangan.” Je wo terkekeh geli melihat ekpresi Kyuhyun, jarang-jarangkan ia bisa melihat ekspresi panik dari laki-laki itu. biasanya laki-laki itu akan bersikap dingin atau menyebalkan di hadapan dirinya.

“Aku tahu Sungmin-ssi. Dia memang laki-laki kurang ajar dan sangat menyebalkan.”

“Yak.. Nyonya Cho, kau sungguh menyebalkan.” Kyuhyun dan Sungmin tertawa kencang melihat wajah Kyuhyun yang kini mulai terlihat kesal.

Suara mikrofon menginterupsi prcakapan mereka. Kyuhyun, je wo, Sungmin serta tamu yang lain segera mengambil posisi duduk masing-masing, saat acara mulai di buka.

Tampak seorang wanita keluar dari sebuah pintu sambil mengapit lengan seorang lelaki paruh baya. Wanita itu tampak cantik dengan gaun putih gadingnya yang menyentuh lantai. Punggung wanita itu dibiarkan terbuka dan aksen sederhana di sekita dadanya. Kepala wanita itu di hiasi sebuah tiara kecil dengan rambut bergelombang yang di biarkan terurai.

Sangat cantik.

Beruntung sekali lelaki yang menikahinya hari ini. Je wo tersenyum kecil dan mengalihkan pandangannya pada seorang lelaki yang sedang menunggu wanita itu di altar sana. Menyodorkan tangannya saat menerima uluran wanita itu dan terseyum bahagia. Mereka mengucapkan janji sehidup semati di depan pendeta sebelum akhirnya berciuman manis di depan para tamu undanagan.

Ah.. bahkan meskipum dia sudah menikah, tapi dia belum merasakan hal-hal seperti itu. pernikahannya dan Kyuhyun terlalu mendadak dan amat sangat jauh dari bayangannya. Dia memang tidak menginginkan pernikahan yang mewah dan megah, itu terkesan terlalu rumit untuknya. Cukup pernikahan yang sederhana dan dihadiri oleh kerabat tersekatnya saja, itu sudah lebih dari cukup utuknya.

Je wo tidak sadar saat Kyuhyun memandangnya dalam. Membisikkan tekad di kepalanya untuk wanita itu.

Kau akan segera merasakannya nanti, setelah anak itu lahir dan aku akan membuat kenangan indah itu denganmu. Berdiri di altar sana sambil menunggu dirimu. Membuat janji seumur hidup dan mengikatmu dalam kehidupanku selamanya. Seperti sebenar-benarnya pernikahan yang akan kau jalani nanti.

Pasangan pengantin baru itu tampak sibuk menyalami para tamunya. Kyuhyun memeluk Donghae dan mengucapkan selamat pada lelaki itu.

”Selamat hyung atas pernikahanmu.” Donghae tersenyum senang dan membalas pelukan Kyuhyun.

“Sama-sama Kyuhyun-ah. Terimakasih sudah mau datang ke pernikahanku.” Kyuhyun mengangguk kemudian mengalihkan pandangannya pada wanita di samping Donghae. Kyuhyun memandang wanita itu dan tersenyum, kemudian mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan drengan wanita itu.

“Selamat Ha won-ah, semoga kau bahagia.” Ha won memandang tangan Kyuhyun, kemudian membalas uluran tangan laki-laki itu.

“Terima kasih.” Wanita itu membalas ucapan Kyuhyun canggung, membuat Je wo yang berada di belakang Kyuhyun mengerutkan keningnya tidak mengerti.

“Hey Kyuhyn-ah, apa ini istrimu?” donghae munujuk Je wo yang sedang memerhatikan Kyuhyun dan Ha won.

Kyuhyun tersenyum dan memeluk pinggang Je wo, membawa wanita itu mendekat ke tubuhnya.

“Ya Hyung, ini istriku. Shin Je wo.” Je wo terwenyum kikuk kepada Donghae dan Ha won.

“Shin Je wo imnida.”

“Ah, senang bertemu denganmu Nyonya Cho.” Donghae tersenyum, memamerkan wajah tampannya yang sangat mempesona, membuat Kyuhyun memandang laki-laki itu dengan pandangan membunuh.

“Hyung, jangan tersenyum seperti itu di depan istriku. Aku tidak suka.”

“Apa?” donghae memandang Kyuhyun tidak percaya, kemudian tertawa lebar.

“Hahahaha… lihatlah Tuan muda kita yang dingin ini, posesif sekali eo.” Kyuhyun tidak menanggapi ucapan Donghae dan memilih semakin mengeratkam pelukannya pada pinggang istrinya.

Sedangkan Ha won memandang pasangan di depannya itu dengan pandangan yang sulit di artikan, yang tidak dia sadari sedari tadi, suaminya, Lee Donghae memandanginya dengan intens, memerhatikan setiap gerak-gerik wanita itu.

Apa kau masih memikirkannya? Pandangan matamu itu terlalu jelas Ha won-ah

Je wo melepaskan sepatunya begitu saja dan melangkah ke dalam kamarnya. Wanita itu merebahkan badannya yang terasa berat di atas kasur. Memejamkan matanya dan berniat untuk segera tidur tanpa perlu merasa untuk repot-repot mengganti baju dan menghapus make-up-nya.

Wanita itu membuka matanya kesal, saat merasakan sebuat tubuh lain merangkak di atas tubuhnya. Pandangan matanya menangkap wajah Kyuhyun yang sedang memandanginya dengan mata hitam tajamnya. Laki-laki itu meletakkan tangannya pada samping kepala Je wo, membuat bantal yang di pakai wanita itu tertekan ke bawah.

“Apa yang kau lakukan?” kyuhyun menundukkan kepalanya dan mengecup bibir Je wo, kemudian memandang wanita itu lagi.

“Bukankah sudah ku katakan, kau membuat ku tergoda dengan pakaianmu itu.” kyuhyun melirik usil pakaian yang dikenakan Je wo, membuat wajah wanita itu merona merah.

“Dasar maniak!”

“Hey..hey.. memang kau fikir siapa yang membuatku menjadi seperti ini?”

“Itu sih, salahkan saja dirimu yang terlalu mesum.” Kyuhyun terkekeh pelan, mendekatkan bibirnya pada bibir Je wo dan melumatnya pelan. Menyesapi setiap pergerakan bibir mereka.

Mencari celah hingga lidahnya dapat menerobos masuk ke dalam mulut wanitanya. Mencicipi setiap rongga mulut Je wo tanpa terkecuali. Lidah saling membelit dan saliva saling bertukar. Tangan Kyuhyun sibuk menggerayangi setiap inci tubuh Je wo yang dapat ia jangkau, membuat wanita itu melenguh di bawah sentuhannya.

Tangan Je wo sudah menggantung indah di leher jenjang Kyuhyun. Kemudian sebelah tangannya beralih ke tengkuk lelaki itu, memperdalam ciuman mereka. Wanita itu memekik kecil saat tangan kyuhyun berhasil membuka gaunnya dan mencampakkan begitu saja di atas lantai. Menyentuh kulit telanjang wanita tu, menyalurkan sensasi se-mematikan sengatan listrik pada tubuh Je wo.

Kyuhyun melepaskan ciumannya dengan nafas yang terengah, melihat keadaan Je wo yang terkurung di bawahnya dengan keadaan yang sama parah dengannya. Wajah Je wo memerah terangsang, dengan badan yang telanjang, membuatnya tampak sangat cantik dan menawan. Kyuhyun menyentuhkan tangannya pada dada wanita itu, menikmati bagaimana pasrahnya wanita itu di bawah kekuasaannya.

“Kyuhyun-ah, jangan menggodaku!”

“Aku suka melihat wajahmu yang memerah terangsang seperti ini Shin Je wo.” Kyuhyun masih memperkejakan tangannya dengan aktif di dada Je wo, membuat wanita itu harus mati-matian menahan suara menjijikkan yang kemungkinan besar sebentar lagi akan keluar dari bibirnya.

“Cho Kyuhyun….” Je wo akhirnya mengeluarkan suara menjijikkan yang sedari tadi ia tahan, membuat Kyuhyun menggertakkan giginya, sebelum akhirnya menyerah dan menyatukan tubuh mereka bedua. Membawa ke duanya dalam kenikmatan hebat dalam hidup mereka. Peluh membasahi tubuh mereka berdua saat puncak itu akhirnya datang.

Kyuhyun mengangkat tubuhnya dari tubuh Je wo, kemudian berbaring di samping wanita itu. mereka sama-sama terdiam, dengan nafas yang masih terengah. Kyuhyun mengalihkan pandangannya pada Je wo, dan memluk pinggang telanjang wanita itu, memberi kecupan kupu-kupu pada bahu wanita itu, kemudian naik menuju pipinya. Membuat Je wo mendengus kesal, dan berbalik memandang Kyuhyun tajam.

“Aku lelah Tuan Cho, sebaiknya kau tidur sekarang!” kyuhyun mengangkat wajahnya dan memandang Je wo dengan mata hitam tajamnya.

“Kau tahukan, aku tidak akan pernah puas jika hanya melakukannya sekali denganmu”

“Astaga Cho emph…” je wo belum sempat mengeluarkan argumennya saat Kyuhyun sudah memberondongnya dengan ciuman dalam dan menggebu. Membuat wanita itu tidak bisa berkutik lagi di bawah kekuasaan Cho Kyuhyun. Baiklah sepertinya ini tidak akan berhenti sampai pagi menjelang, mengingat bagaiamana bersemangantnya pria itu.

Je wo menggeliat pelan, wanita itu terbangun karena mendengar suara memekakan telinga nada sambung entah dari ponselnya atau ponsel Kyuhyun. Tangan wanita itu bergerak ke samping nakas tempat tidurnya dengan mata yang masih belum terbuka sempurna. Meraba-raba dan akhirnya menemukan benda yang berhasil mengganggu tidur nyenyaknya.

Wanita itu mendudukkan tubuhnya dan mengusap wajahnya kesal. Berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya matahari yang menembus celah korden. Je wo mengamati ponsel di tangannya yang masih berbunyi dengan keras, dan tersadar bahwa ponsel itu milik suaminya.

Wanita itu menoleh kepada Kyuhyun yang masih tertidur nyenyak dengan tangan yang melingkari pinggangnya erat. Wanita itu seperti menimbang-nimbang sesuatu, kemudian memutuskan untuk membangunkan suaminya yang sepertinya tidak terganggu sedikitpun dengan  dering ponselnya.

“Tuan Cho.. ireona!” je wo mengguncang bahu Kyuhyun, berusaha membuat lelaki itu terbangun dari tidurnya.

“Hm..” laki-laki itu hanya menggeliat pelan, seperti enggan beranjak dari tidur nyenyaknya.

“Haish.”  Je wo mendesah kesal, akhirnya menempelkan ponsel itu pada telinga Kyuhyun.

Awalnya Kyuyun sama sekali tidak bergeming, namun detik selanjutnya, laki-laki itu langsung terduduk dan memegangi ponselnya dengan mata yang membulat sempurna.

“Apa?.. ya..ya.. aku segera ke kantor sekarang. Tidak, aku yang akan memimpin rapat itu. ya… baiklah, terimakasih.” Kyuhyun mematikan ponselnya dan beranjak menuruni tempat tidur, membuat Je wo seketika menutup matanya.

Kyuhyun tesenyum geli melihat kelakuan istrinya itu, pria itu mendekat dan megecup sekilas bibir Je wo.

“Hey.. Nyonya, aku sudah memakai celanaku, jangan menutup matamu seperti seorang gadis yang baru saja ditiduri kekasihnya seperti itu.” je wo menurunkan tanganya pelan, meringis kecil dan melihat Kyuhyun, mengerutkan keningnya melihat lelaki itu terburu-buru masuk ke dalam kamar mandi.

“Hey.. Tuan Cho kau kenapa?” je wo setengah berteriak memanggil Kyuhyun.

“Aku ada rapat penting pagi ini. Kau siapkan baju dan sarapan yang cepat untukku makan!”

“Seperti aku bisa memasak yang lain saja selain roti lapis dan secangkir kopi.” Je wo mengguman pelan, kemudian turun dari ranjang, memunguti pakaiannya dan mengenakannya. Berjalan ke luar kamar menuju dapur, membuat sarapan termudah yang ia bisa sambil menunggu suaminya selesai mandi dan bersiap-siap.

Tak berapa lama kemudian Kyuhyun keluar dengan setelan jas lengkapnya dengan wajah yang terlihat segar. Laki-laki itu menyambar roti lapis yang Je wo buat dan menggigitnya dalam ukuran maksimal yang bisa mulutnya tampung. Je wo hanya melihat pemandangan itu dengan hikmat, menunggu sampai lelaki  itu menghabiskan sarapannya. Kyuhyun menggapai cangkir kopinya dan meminumnya dalam sekali tegukan, sepertinya lidah lelaki itu terlalu tebal untuk merasakan panas dari kopinya.

“Hey, kau tidak kasihan dengan kinerja ususmu itu Tuan Cho?”

“Aku sudah terlambat, dan tidak mungkin membuang waktu lebih lama lagi untuk sampai ke kantor.” Kyuhyun meletakkan cangkir kopinya, berjalan mendekati Je wo, meraih pinggang wanita itu dan memberikan kecupan sekilas pada bibir Je wo.

“Aku pergi.” Je menganggukkan kepalanya, mengantarkan Kyuhyun sampai di depan pintu. Menutup pintu apartement itu setelah memastikan Kyuhyun benar-benar pergi.

Kyuhyun berjalan tergesa menuju ruang meeting, berpapasan dengan sekertarisnya di depan ruang meeting.

“Sajangnim, saya kira anda akan terlambat lebih lama lagi.” Kyuhyun tersenyum kikuk dan mengambil berkas yang di berikan sekertarisnya.

“Aku agak kesiangan tadi.” Kim Min wo, sekertaris Kyuhyun, tersenyum penuh arti mendengar jawaban bosnya. kyuhyun menatap datar pada sekertarisnya itu, membuat Min wo seketika menghentikan senyumnya. Bos-nya ini memang akan sangat mengerikan jika sudah memberikan tatapan datar dan penuh intimidasi seperti itu, membuat siapa saja yang berhadapan dengannya akan menciutkan nyalinya seketika.

“Kyuhyun-ah.” Kyuhyun memalingkan wajahnya ketika mendengar suara yang memanggilnya, lelaki itu menatap heran seorang wanita yang menghampirinya.

“Ha won-ah, apa yang kau lakukan di sini?” ha won tersenyum dan mengedikkan bahunya ke ruangan meeting.

“Aku yang akan mewakili perusahaanku dalam meeting hari ini.”

“Mwo? Bukankah kau baru saja menikah? Tidakkah kau ingin libur dan menghabiskan waktumu dengan ikan buntal itu?” ha won terkekeh pean, kemudian melangkahkan kaiknya menuju ruang meeting, Kyuhyun mengikuti langkah wanita itu dari belakang, di susul Min wo kemudian.

“Aku tidak bisa menunda meeting hari ini, bukankah ini meeting yang begitu penting bagi perusahaan kita.”  Kyuhyun menganggukkan kepalanya, membenarkan argumentasi yang di berikan Ha won.

Mereka segera mengambil posisi masing-masing dan memulai meeting. Kyuhyun memberikan presentasinya di depan para klien dan koleganya termasuk Ha won.

Lelaki itu memberikan pandangannya tentang sebuah hotel dengan konsep elegan Korea. Memadukan antara unsur seni bangunan Korea dengan unsure klasik bangunan abad pertengahan eropa. Menghasilkan sebuah bangunan hotel yang spektakuler menurut pandangannya.

“Kyuhyun-ssi, kira-kira kau akan membangun hotel itu di mana?” kyuhyun memandang semua koleganya dengan tatapan setajam elang miliknya.

“Pulau Jeju. Aku akan membangun hotel ini di sana.”  Semua orang di ruangan itu bertepuk tangan saat Kyuhyun mengakhiri presentasinya. Laki-laki itu turun dari podium dan menyalami semua koleganya.

“Hey Tuan Cho.” Ha won  memanggil Kyuhyun saat ke duanya sudah keluar dari ruang meeting itu.

“Presentasi yang bagus, tidak ku sangka kau memiliki selera yang mengagumkan dalam membuat sebuah bangunan.” Kyuhyun tersenyum simpul.

“Tentu saja, seleraku ini dari dulu memang bagus, tidakkah kau tahu itu Nona Jung, ah ani,  sepertinya aku harus memanggilmu Nyonya Lee saja.” Kyuhyun tertawa kuat melihat ekspresi malu Ha won, wanita itu tampak merona merah ketika Kyuhyun goda.

“Berhenti tertawa setan seperti itu Cho Kyuhyun!”  kyuhyun memegangi perutnya berusaha meredam tawanya sebisa mungkin.

“Kau lucu sekali Nyonya Lee. Eh, ngomong-ngomong apa si ikan buntal itu tidak marah , kau bekerja setelah sehari hari pernikahan  kalian?”

“Dia sempat menahanku tadi, tapi apa boleh buat, meeting ini juga terlalu penting untuk perusahaan kita.”

“Ck.. malang sekali nasib ikan buntal itu.”

“Haish.. bicara apa kau Cho Kyuhyun?”  Ha won  memandang Kyuhyun kesal, yang hanya di balas cengiran bocah oleh laki-laki itu.

“Ah.. sepertinya aku harus kembali ke kantorku sekarang.” Ha Won melirik jam tangannya kemudian menjabat tangan Kyuhyun.

“Terimakasih atas kerja samanya.” Kyuhyun mengangguk singkat.

“Sampai jumpa Cho Kyuhyun.”

“Sampai jumpa juga.” Ha won  membalikkan badannya meninggalkan Kyuhyun. Wajah wanita itu berubah sendu seketika, dia berusaha menepis semuanya, tapi terlalu dekat dengan laki-laki itu serasa menguras tenaganya.

Wanita itu sudah berusaha kerasa untuk melupakan semuanya, namun semuanya tidak semudah yang ia bayangkan. Meskipun sekarang sudah ada Donghae di sisinya, tapi tetap saja, di hatinya masih tersisa ruang untuk Cho Kyuhyun, dan itu amat sangat menyiksanya. Ini tidak benar, dia tidak bisa terus-terusan seperti ini. Wanita itu mengadahkan kepalanya, mengingat ucapan Donghae tadi malam.

‘Aku tahu kau belum bisa melupakannya. Aku akan menunggu Jung Ha won, aku akan menunggu sampai kau benar-benar tidak menyisakan ruang di hatimu untuknya. Aku tidak akan memaksamu, karena aku tahu, suatu saat nanti kau pasti akan melihatku dan berlari ke pelukanku. Kau tidak perlu terburu-buru, asal kau menguatkan hatimu semuanya pasti akan terasa mudah.’

 

Ha won tersenyum. Ya.. dia hanya perlu menguatkan hatinya dan melihat ke depan, pasti semuanya akan terasa mudah.

Kyuhyun baru saja memasuki ruang kerjanya dan terkejut mendapati sang ayah sudah duduk manis di kursi tamu. Laki-laki paruh baya itu tersenyum hangat melihat sang putra.

“Kenapa kau di sini appa?” kyuhyun menghampiri sang appa dengan kening yang agak sedikit berkerut.

“Aku mendengar prenstasimu tadi. Dan seperti yang ku duga, kau memang bisa di harapkan Kyuhyun-ah.”

“Terimakasih appa.”

“ah, dan satu hal lagi.”

“Mwo?”

“Kau yang akan langsung meninjau  tempat pembuatan proyek ini.”  Kyuhyun membulatkan matanya tidak percaya, bukankah sudah ad divisi tersendiri untuk menangani maslah peninjauan lapangan an tetek bengeknya itu.

“Appa. Bukankah tugasku hanya memenangkan tender ini, kenapa aku juga harus ikut meninjau lapangan?”

“Wae, bukankah memang sebaiknya kau ikut meninjau ke lapangan secara langsung. Ini idemu Cho Kyuhyun, jadi akan lebih baik jika kau yang menganinya.”

“Bukan begitu appa, aku hanya tidak bisa meninggalkan istriku sendirian di rumah. Peninjauan lapangan ini pasti membutuhkan waktu yang lama, apalagi proyek ini diadakan di Pulau Jeju, dan kau juga pasti tahu keadaan Je wo saat ini, dia sedang hamil appa.”  Kyuhyun menatap Tuan Cho dengan penuh harap.

“Ini hanya akan berlangsung selama tiga hari, tidak lebih Cho Kyuhyun. Aku yakin istrimu tidak akan keberatan, dia pasti akan mengerti dengan posisimu.” Tuan Cho memandang Kyuhyun dengan tatapan meyakinkan.

“Aku tidak bisa appa.”

“Tidak, kau harus tetap berangkat ke sana.” Tuan Cho berbicara dengan nada final, membuat Kyuhyun tidak bisa menolaknya lagi. Laki-laki itu bersungut kesal.

“Kau menyebalkan appa.”

Ha won berjalan memasuki ruang kerjanya. Presentasi tadi cukup membuat emosinya tertekan samapai ke titik yang lumayan rendah, tentu saja itu karena lelaki itu.

Wanita itu membulatkan matanya saat melihat seorang lelaki yang duduk di kursi kerjanya sambil membaca sebuah majalah. Laki-laki itu tersenyum saat menyadari wanitanya yangberdiri di ambang pintu.

“Kau sudah datang. Bagaimana meetingmu tadi?” donghae beranjak dari duduknya dan menghampiri Ha won, memeluk pinggangwanita itu, membawanya ke dalam dekapannya yang hangat.

“Sukses, Kyuhyun memberikan sebuah ide yang sangat bagus sehingga perusahaanku langsung menerimanya.”

“Jadi dia yang memimpin meeting tadi.”

“Kau cemburu?” ha won memandang wajah Donghae yang hanya berjarak beberapa senti saja dari wajahnya, tinggi badan mereka yang hampir sama, memang selalu memudahkan Ha won untuk mengamati ekspresi wajah lelaki itu lebih jelas.

“Aku tidak akan cemburu sayang. Bukankah sudah ku katakan, aku akan menunggumu.” Donghae menatap Ha won teduh, lelaki itu memang selalu pandai menutupi perasaannya.

Oh, ayolah, lelaki mana yang tidak akan cemburu jika melihat wanitanya berhadapan dengan lelaki masa lalunya, dan ternyata wanita itu masih memiliki perasaan untuk lelaki itu. donghae tidak akan sebaik itu untuk tidak akan cemburu.

“Ku harap kau tidak berbohong Lee Donghae.”

“Yah, aku tidak munafik, tapi bagaimanapun juga, aku berusaha untuk mengerti posisimu hmm.” Donghae mendekatkan wajahnya pada wajah Ha won, mengecup sekilas pipi wanita itu.

“Hais.. kau ini.” Ha Won melepaskan tubuhnya dari pelukan Donghae dan melangkahkan kakinya menuju meja kerjanya. Donghae mengekorinya dari belakang dan duduk di depan meja Ha won. Laki-laki itu tampak senang mengamati wajah istrinya.

“Kenapa kau bisa ada disini?”

“Aku mendapatkan libur kerja dari appa, jadi ya begitulah..”

“Apa kau berencana untuk menemaniku di sini sampai pekerjaanku selesai?” Ha won menatap Donghae yang tengah tersenyum kepadanya.

“ Sepertinya tidak, aku berencana untuk menculikmu hari ini.”

“Ck.. aku sedang sibuk Lee Donghae, aku tidak punya waktu untuk bermain-main.”

“Oh,, ayolah sayang, kita ini masih pengantin barukan?” Donghae mulai menggunakan nada merajuknya untuk membujuk wanita itu.

Ha won menatap Donghae, kemudian menghembuskan nafasnya pelan. Dia memang seharusnya menemani lelaki itu saat ini, dia kan terlihat begitu egois jika menuruti keinginannya saat ini.

“Baiklah.”  Donghae tersenyum senang, kemudian segera menarik tangan wanita itu keluar.

“Kita akan kemana?”

“Makan siang, bukankah ini sudah masuk jam makan siang?”

“Aku ingin makan steak.” Ha won memandang suaminya dengan tersenyum. Donghae tersenyum senang.

“Apapun untukmu Nyonya Lee.”

Je wo menengus kesal, sambil mengekori Ahra yang tengah sibuk memilih beberapa kue di etalase sebuah toko. Dua jam yang lalu Ahra meneleponnya dan menjemputnya di apartement untuk makan siang. Je wo menerima tawaran kakak iparnya itu tanpa merasa curiga sediktpun, dan akibatnya dia harus menanggung penderitaan dengan menemani Ahra berbelanja seharian sampai kemudian terdampar di salah satu restoran yang berada di dalam mall.

“Eoni-ya.. sampai kapan kau akan meperhatikan kue-kue itu? haish.. kau tahu kakiku ini hampir mati kaku berdiri.”

“Ck.. tunggu sebentar, aku sudah menemukan kue kesukaanku.” Ahra menunjuk sebuah kue dan menyuruh seorang pelayan untuk membungkusnya.

“Ini kuenya.”

“Terima kasih.” Ahra menerima bungkusan kuenya dengan wajah yang tersenyum lebar, kemudian menggandeng tangan Je wo keluar dari toko kue itu.

“Kajja!”

“Yak..”

“Hey, kau sudah mengetahui jenis kelamin Kyuhyun junior ini belum?” ahra menunjuk perut Je wo yang sudah membesar.

“Aku belum tahu. Kyuhyun menolak untuk mencari tahu jenis kelaminnya. Laki-laki itu sedikit aneh memang.”  Je wo tersenyum geli mengingat betapa kekehnya Kyuhyun yang tidak mau melakukan pengecekkan terhadap jenis kelamin anaknya.

“Dia memang seperti itu, tapi aku baru melihatnya sebahagia ini setelah sekian lama.” Je wo mengerutkan keningnya memandang Ahra.

“Wae?”

“Karena..”

“Ahra-ya!”  Ahra belum sempat melanjutkan perkataannya saat seseorang memanggilnya dari arah belakang. Ke dua wanita itu membalikkan badannya dan menemukan seorang lelaki yang sedang berjalan mendekat ke arahnya sambil menggandeng tangan seorang perempuan.

“Lee Donghae, apa yang kau lakukan di sini?”

“Berjalan-jalan dengan istriku.” Donghae melirik ke arah Ha won yang berada di sampingnya.

Ahra membulatkan matanya saat menyadari bahwa wanita yang berada di samping Lee Donghae itu adalah Jung Ha won.

“Eo, kau! Astaga, apa kalian sudah menikah?”  ahra menunjuk bergantian Donghae dan Ha won, sementara Je wo hanya menyaksikan adegan itu dengan pandangan tidak mengerti.

Donghae hanya tersenyum cekikikan sedangkan Ha won menatap Ahra dengan pandangan memelas.

“Mianhe eonni-ya, kami lupa mengundangmu saat acara pernikahan kami.”

“Tapi bukannya kalian mengundangku dan Kyuhyun?”

Donghae mennjukkan senyum bocahnya kepada Ahra, yang tentu saja di balas dengan senyum iblis oleh Ahra.

“Ck.. beraninya kalian tidak mengundangku, tapi kalian mengundang dosaengku yang notabenya adalah mantan pacar Ha won.”

“Mantan pacar Ha won? Siapa? Kyuhyun?” Badan Ahra menengang seketika, omo, apa dia salah bicara kali ini?

“Kyuhyun sama sekali tidak menceritakan tentang hubungannya dengan Ha won dulu?” Donghae menatap polos Je wo yang langsung mendapatkan sikutan lengan di perutnya oleh Ha won.

“Jangan dengarkan mereka Je wo-ya. Kami pergi dulu eonni.” Ha won menarik tangan Je wo dan segera pergi meninggalkan ke dua wanita itu.

“Eonni-ya kau bisa menjelaskan sesuatu padaku?” Je wo memandang  Ahra dengan pandangan menyelidik.

“Tidak. Sebaiknya kita pulang sekarang!” Ahra enggan untuk menjelaskannya pada Je wo dan memilih untuk mengajak wanita itu pulang.

“Eonni, tapi aku sangat penasaran. Tidak bisakah kau menceritakannya padaku?”  Je wo masih terus mendesak Ahra yang tentu saja di abaikan oleh Ahra.

“Tidak Je wo-ya, ini bukan koridorku untuk menjelaskannya padamu. Lagipula, kau mau melihatku mati di tangan iblis keluarga Cho itu?”

“Menggelikan, bukankah kau juga jelmaan iblis eonni?”

“Yakkk dasar dosaeng kurangajar.”

“Hahahaha…”

..

“Hais.. bagaimana bisa kau mengatakan itu di depan Je wo?” Ha won memandang Donghae kesal.

“Memangnya kenapa?”

“Astaga.. Leee Donghae, kau tidak lihat tadi raut kebingungan dari wajah Je wo? Wanita itu tidak tahu apa-apa tentang hubunganku dulu dengan Kyuhyun.”

“Lalu?” donghae masih memandang Ha won dengan pandangan tidak mengerti.

“Kau bodoh atau apa sih? Itu artinya kita tidak boleh menyinggung apapun tadi tentang hubunganku dengan Kyuhyun dulu, kita tidak berhak memberitahunya, Kyuhyun lah yang berhak untuk memberitahunya.”

“Begitu?”

“Tentu saja.” Ha won mendengus kesal dan melipat tangannya di depan dada, yang di tanggapi Donghae dengan senyum bocah yang sangat menyebalkan.

“Maafkan kau ne?” Donghae menarik tangan Ha won dan menggenggamnya. Wanita itu tampak menghembuskan nafasnya pelan dan menganggukkan kepalanya. Donghae tersenyum senang dan menarik tangan Ha won untuk pergi.

Kyuhyun memicingkan matanya saat melihat Je Wo sedang tidur-tiduran di depan televisi. Wanita itu merebahkan badannya pada karpet tebal dan menyangga kepalanya dengan tangan sambil tertawa cekikikan menonton acara tv.

Laki-laki itu berjalan mendekat dan duduk bersila di samping Je wo, membuat wanita itu menegok ke arah Kyuhyun.

“Eo. Kau sudah pulang? Kenapa aku tidak mendengarnya?”

“Tentu saja, kau sibuk tertawa cekikikan seperti orang gila sambil memandangi layar televisimu itu.”

“Ck.. menurutmu siapa yang sedang kau katakan gila tuan Cho?”

“Kau. Memang siapa lagi?” Kyuhyun menujuk Je wo dengan jari telunjuknya yang segera di tepis oleh wanita itu.

“Bagaiman bisa kau mengatakan istrimu sendiri gila? Benar-benar..” Je wo mendengus kesal dan kembali mengalihkan pemandangannya pada acara tv.

Kyuhyun terkekeh kecil dan ikut merebahkan badannya di samping Je wo. Laki-laki itu melingkarkan lengannya pada pinggang Je wo dan menyusupkan kepalanya pada leher wanita itu.

“Aku lelah.”

“Jika kau bekerja kau pasti akan lelah Tuan Cho. Mana ada orang bekerja tidak merasa lelah. Kau ini ada-ada saja.”

“Hais.. apa kau tidak bisa bersikap sedikit lembut bodoh?”

“Tidak.” Je wo menjawab pertanyaan Kyuhyujn dengan acuh membuat lelaki itu hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kesal.

“Nyonya Cho!”

“Hm..?”

“Kau mau pindah ke kamar tidak?”

“Tidak. Kau jangan berbuat macam-macam Tuan Cho. Hari ini aku sudah cukup lelah karena di seret oleh nunamu ke sana-kemari di mall tadi.”

Kyuhyun medongakkan wajahnya melihat Je wo, pria itu agak sedikit mengerutkan keninganya.

“Kenapa kau tidak bilang kalau kau tadi pergi?” Kyuhyun menanyai Je wo dengan nada tidak suka.

“Aku tidak sempat, nunamu tadi langsung menyeretku begitu saja.” Je wo masih acuh menjawab pertanyaan Kyuhyun.

“Ck.. yang benar saja. Bukankah sudah ku beritahu padamu bahwa kau harus memberitahuku ketika akan keluar dari rumah.” Kyuhyun masih memandang Je wo tidak suka.

“Demi Tuhan Tuan Cho.. Aku hanya pergi dengan nunamu dan aku juga pulang dengan keadaaan yang masih baik-baik sajakan? Kau tidak perlu semarah itu!”

Kyuhyun manghembuskan nafasnya pelan. Dia memang agak sedikit berlebihan, namun itu juga karena dia memang harus melindungi wanita itu.  pria itu akhirnya menyerah dan memilih untuk tidak meladeni argument Je wo.

“Tuan Cho!”

“Hm..” Je wo membalikkan badannya menghadap Kyuhyun dan memainkan ujung kemeja pria itu. Kyuhyun balik menghadap Je wo dan memandang wanita itu dengan tatapan matanya yang tajam.

“Ada apa?”

“Jung Ha won itu mantan pacarmu ya?” Kyuhyun tidak menjawab pertanyaan Je wo dan malah mengarahkan tangannya untuk membelai rambut wanita itu.

“Tuan Cho!” Je wo mulai mengeluarkan nada rengekannya yang biasanya akan sangat mempan untuk membujuk Kyuhyun.

“Dari mana kau tahu?” Kyuhyun mulai menghentikan  gerakan tangannya di kepala Je wo, memusatkan perhatiannya pada wajah wanita itu.

“Jadi benar ya?”

“Ya.. dia memang mantan pacarku.”

“Ceritakan!” Je wo memandang Kyuhyun dengan pandangan menuntut.

“Kau akan memberikaanku apa jika aku menceritakannya padamu?”

“Cih.. kau perhitungan sekali tuan Cho.” Je wo mendengus kesal.

“Hahahaha… kau ini memang pemarah sekali ya?”

“Aku tidak peduli, cepat ceritakan!”

“Baiklah.” Kyuhyun akhirnya mengalah dan menuruti keingingan Je wo.

“Dulu aku sempat berpacaran dengan Ha won selama satu tahun. Wanita itu adalah satu-satunya wanita yang aku pacari cukup lama. Dulu aku sangat serius berpacaran dengannya, tapi waktu itu aku dan dia juga masih sangat sibuk untuk mengejar karir. Kami menjadi tidak sejalan lagi dan akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengannya.”

“Jadi, bisa dikatakan jika waktu itu kalian tidak sama-sama sibuk mungkin sekarang kau akan menikah dengannya?”

“Wae? Kau cemburu?”

“Ani.”

“Nyonya Cho!” Kyuhyun mengelus pipi Je wo dan mengunci pandangan wanita itu dengan tatapan matanya yang tajam. “Mungkin benar yang kau katakan. Jika saat itu kami tidak sama-sama sibuk mungkin waktu itu aku tidak akan putus dengannya. Tapi, mungkin juga aku tetap tidak akan bersamanya sekarang.” Je wo memandang Kyuhyun bingung, tidak mengerti dengan ucapan lelaki itu.  “Dasar bodoh. Otakmu itu ternyata memang kecil sekali ya?”

“Yakkk…”

Kyuhyun tersenyum kecil. “Apa kau percaya takdir? Tidak masalah kau mau percaya atau tidak. Aku juga tidak begitu percaya dengan takdir. Namun, satu yang kuyakini. Walaupun aku tidak berpisah dengan Ha won saat itu, tapi aku juga tidak akan bersamanya saat ini. Karena, takdirku ada padamu Nyonya Cho. Wanitaku dan ibu dari anakku. Bagaimanapun nanti aku mengelak, aku tetap akan berjalan kearahmu. Mendekapmu dan memilikimu.”

“Astaga.. sialan kau Cho Kyuhyun.” Wajah Je wo memerah, wanita itu menyembunyikan wajahnya di dada Kyuhyun. Dia tidak akan pernah bisa menerima pujian dari lelaki itu, reaksinya pasti akan sama. Wanita itu memang benar-benar tidak imun dengan pujian dari Kyuhyun.

“Kapan kau akan terbiasa dengan pujianku” Kyuhyun mendekap erat tubuh mungil Je wo, mengusap perlahan punggung wanita itu.

“Diam kau!”

“Ck.. dasar wanita aneh.”

“Aku tidak aneh Tuan Cho.”

“Terserah padamu.” Kyuhyun nampak tidak peduli dan mulai memejamkan matanya. Membuat nafasnya agak sedikit teratur. Lelaki itu tidak tahu bahwa Je wo tengah tersnyum di dalam dekapannya. Wanita itu ikut memejamkan matanya dan melingkarkan lengannya pada pinggang Kyuhyun. Ke dua orang itu sama-sama terlelap di depan televisi dengan layar yang masih menyala dengan tubuh yang sama-sama menempel erat.

‘Walaupun aku tidak berpisah dengannya saat itu, namun tetap saja, waktu yang akan membuatku bertemu denganmu dan membiarkanku melepaskan wanita itu. Jadi, mulai sekarang jangan tanyakan apapun padaku, karena jawabannya pasti akan tetap sama. Kau memang di takdirkan untukku Nyonya Cho, dan aku tidak akan pernah melepaskanmu saat ini, nanti dan selamanya.’

 

Kyuhyun sedang berkutat dengan berkasnya ketika Ha won memasuki ruangan kerjanya.

“Sedang sibuk Cho sajangnim?”

“Ha won-ah.” Kyuhyun mendongakkan kepalanya, lelaki itu berdiri dan mempersilahkan Ha won untuk duduk.

“Aku ingin membicarakan tentang pembangunan hotel di pulau Jeju itu. perusahaanku menginginkan secepatnya untuk di mulai pembangunannya.”

“Aku juga sedang berfikir begitu. Appa menyuruhku untuk meninjau langsung lokasi proyeknya. Mungkin aku akan berangkat ke sana besok.”

“Yah.. kurasa aku juga akan ikut kesana, perusahaan juga berencana untuk membuatku menjadi penanggujawab utama proyek ini.”

“Bukankah kau bekerja di bidang keuangan. Aku rasa kau akan sedikit ke sulitan nanti?”

“Kau benar, tapi Donghae membantuku banyak dalam hal ini.”

“Wah.. sepertinya kalian tidak bisa menikmati waktu luang senagai pengantin baru ya?” Kyuhyun tersenyum penuh arti ke arah Ha won.

“Tutup mulut busukmu itu Cho Kyuhyun!”  Ha won menatap Kyuhyun kesal.

“Ayolah Nyonya Lee, aku juga merasakannya, jadi aku sedikit tahu perasaaanmu.”

“Diamlah! Aku ke sini juga ingin menyerahkan berkas ini dan meminta salinan presentasimu kemarin.”  Ha won menyerahkan sebuah map berwarna biru kepada Kyuhyun.

“Ini berkas apa?” Kyuhyun menerima map itu dengan keningberkerut.

“Itu hasil survey yang di lakukan anak buahku tentang pasaran hotel di pulau Jeju, kau bisa sedikit mempelajarinya dan menentukkan langkah apa yang akan kita lakukan untuk memasarkan hotel kita nanti.dan.. mana salinan presentasimu kemarin, aku tidak punya banyak waktu untuk mengobrol denganmu.”

“Ah.. ya, sebentar akan ku ambilkan.” Kyuhyun beranjak dari duduknya menuju meja kerjanya. laki-laki itu mengambil sebuah map berisi presentasinya kemarin.

“Ige” Kyuhyun berjalan ke arah Ha won, tetapi sebelum sampai di depan wanita itu kakinya tebentur pinggir meja yang menyebabkan tubuhnya kehilangan kesembangan. Ha won yang berada di depannya berusaha untuk meraih tangan Kyuhyun, bermaksud untuk menolong laki-laki itu. tapi, tenaga Ha won tidak cukup untuk menopang tubuh Kyuhyun yang malah menyebabkan wanita itu jatuh di atas tubuh Kyuhyun.

“Yakkk.. aishh Cho Kyuhyun.” Ha won memegangi dagunya yang tebentur dada Kyuhyun.

“Mianhe..”

“Haissh.. Kau ini.” Ha won berusaha berdiri dari tubuh Kyuhyun saat bertepatan dengan pintu ruang kerja Kyuhyun yang terbuka.

Shin Je wo tampak berada di ambang pintu dengan wajah yang terlihat dingin dengan pandangan mata yang tajam. Wanita itu menenteng sebuah bungkusan di tangannya.

“Cho Kyuhyun.”

Kyuhyun menegang seketika mendengar nada suara Je wo. Wanita itu tampak berbicara dengan nada dingin yang demi Tuhan sangat Kyuhyun tidak suka.

“Aku bisa menjelaskannya padamu sayang.”

Ha won segera berdiri dari tubuh Kyuhyun. Wanita itu tampak tersenyum kikuk menatap Je wo.

“Aku juga bisa menjelaskannya Je wo-ya.”

“Tidak perlu. Ige, aku hanya ingin membawakanmu ini.” Je wo menunjuk bungkusan yang ia pegang tadi dan meletakkannya begitu saja di meja. Wanita itu membalikkan badannya dan melangkah ke luar ruang kerja Kyuhyun.

“Shin Je wo, aku bisa menjelaskannya.” Kyuhyun berlari mengejar Je wo. Laki-laki itu tampak panik. Je wo berlari menjauhi Kyuhyun. Wanita itu sudah sampai di depan lift ketika Kyuhyun berusaha mengejarnya.

“Nyonya Cho.”  Je wo melangkah ke dalam lift tanpa memerdulikan suara Kyuhyun yang memekakan telinga. Wanita itu menangis. Pertama kali dalam hidupnya ia menagisi pria itu.

Je wo menangis tanpa suara. Wanita itu masih terkejut melihat kejadian tadi. Padahal rencananya ia ingin menghabiskan makan siang di kantor Kyuhyun sambil melihat tempat di mana suaminya bekerja. Wanita itu tidak pernah membayangkan akan melihat pemandanagan yang di suguhkan oleh Kyuhyun dan Ha won tadi.

Je wo memgangi dadanya yang terasa sesak. Wanita itu luluh. Dia memang mencintai Cho Kyuhyun. Dia mencintainya. Dan dia harus melakukan apa sekarang? Perasaannya begitu sesak dan itu semua karena Kyuhyun. Laki-laki itu ternyata sanggup membuatnya sakit sampai ke dalam taraf yang sangat memusingkan.

Kyuhyun berjalan gontai memasuli ruang kerjanya. laki-laki itu menatap Ha won yang menatapnya dengan pandangan khawatir.

“Bagaimana?”

Kyuhyun menggeleng pelan dan menjatuhkan dirinya di atas sofa. “Dia tidak mau mendengarkanku. Dia salah paham Ha won-ah.”

“Aku tahu. Aku akan coba bicaradengan Je wo untuk menjelaskan semuanya.”

“Tidak usah. Dia tidak mungkin akan mendengarkanmu. Wanita itu terlalu menakutkan jika sedang marah.biarkan aku saja yang bicara dengannya nanti.”

“Tapi Kyuhyun-ah..”

“Tidak usah Ha won-ah..!”

Ha won menghembuskan nafasnya pelan. “Baiklah, aku tidak akan memaksa. Aku harus pergi sekarang Cho Kyuhyun. Ku harap Je wo akan mendengarkan penjelasanmu.”

“Ku harap begitu.” Ha won melangkah ke luar ruangan kerja Kyuhyun.

Kyuhyun menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Kepala pria itu mengadah menatap lagit-lagit atap ruangan kerjanya. matanya berubah sendu saat membayangkan wajah dingin istrinya.

Wanita itu tidak pernah bersikap seperti itu semarah apapun ia dengan Kyuhyun. Dan itu sangat membuat Kyuhyun merasa cemas.

“Aku menyakitimu. Bagaimana aku harus membuatmu normal kembali Je wo-ah? Aku benar-benar tidak bisa melihat wajah dinginmu itu.” Kyuhyun mendesah frustasi dan mengacak-acak rambutnya. Sebelum akhirnya memilih menyerah dengan memejamkan matanya, memikirkan cara terbaik untuk menyelesaikan masalahnya.

Kyuhyun membuka pintu kamarnya perlahan dan menemukan Je wo yang sedang tidur memunggunginya. Pria itu berjalan perlahan ke arah Je wo. menatap tubuh kecil itu dengan tatapan sendu sekaligus cemas.

Kyuhyun merebahkan dirinya di samping je wo dan melingkarkan lengannya pada pinggang wanita itu.

“Aku tahu kau tidak tidur. Bisakah kau berbalik menatapku  dan dengarkan aku?” kyuhyun berbicara dengan nada memohon.

Laki-laki itu benar, sebenarnya Je wo sama sekali tidak tidur. Wanita itu hanya menutup matanya karena lelah, namun nyawanya masih terjaga untuk tetap sadar. Je wo sama sekali tidak bergeming dan memilih untuk mengabaikan permintaan Kyuhyun.

“Shin Je wo.” Kyuhyun kembali memohon agar Je wo mau membalikkan badannya.

Akhirnya kesabaran Kyuhyun yang mulai menipis itu membuatnya dengan paksa membalikkan badan Je wo menghadapnya. Wanita itu memandang Kyuhyun dengan tatapannya yang dingin dan datar, membuat Kyuhyun seketika itu mengerang frustasi.

“Demi Tuhan Shin Je wo, aku benar-benar tidak melakukan apapun dengan Ha won tadi. Tadi itu aku hanya tersandung dan Ha won berusaha untuk menolongku yang malah membuat kami berdua sama-sama terjatuh.” Kyuhyun menatap Je wo dengan penuh harap, memohon supaya hati wanita itu agak sedikit mencair.

“Aku tidak peduli Cho Kyuhyun.” Je wo masih memandang Kyuhyun dengan pandangan dataranya.

“Aku harus melakukan apa supaya kau bisa percaya padaku?” Kyuhyun berbicara dengan nada lirih.

“Kau tahu?” je wo menghembuskan nafasnya pelan sebelum melanjutkan perkataannya. “Aku berusaha untuk tidak berprasangka buruk mengenai kejadian tadi, tapi begitu mengingat bahwa wanita itu adalah mantan kekasihmu, itu membuat dadaku terasa sesak Tuan Cho. Aku berusaha untuk memercayaimu, tapi semakin aku mencoba, semakin hatiku merasa perih. Wanita itu lebih lama mengisi hatimu, sedangka aku? Aku baru beberapa bulan mengenalmu dan itu tidak akan cukup di bandingkan dengan lamanya wanita itu bersamamu.” Je wo memandang Kyuhyun dengan pandangan terluka dan kecewa yang tidak ia tutup-tutupi.

“Maafkan aku! Aku sungguh meminta maaf.” Kyuhyun memandang Je wo dengan tatapan penyesalan.

“Aku tidak tahu jika kau seterluka ini. Maafkan aku, aku benar-benar meminta maaf. Aku mencintaimu, hanya kau satu-satunya wanita yang aku ijinkan untuk mengisi hatiku, bukan Ha won atau wanita lain, hanya kau Nyonya Cho. Saranghae.” Kyuhyun memandang mata Je wo dalam. Laki-laki itu sebelumnya belum pernah mengatakan kalimat itu dengan begitu gamblang, dan ini pertama kalinya Kyuhyun mengatakannya pada Je wo.

“Aku benar-benar mencintaimu. Aku begitu sangat takut saat melihatmu marah padaku dengan wajah dinginmu yang sangat mengerikan itu Shin Je wo. aku mencintaimu. Aku mencintaimu sayang.” Laki-laki itu memandang Je wo dengan penuh harap.

Je wo masih diam terpaku, tidak bergeming dengan ucapan Kyuhyun. Otak wanita itu sedang mencerna setiap kata-kata yang Kyuhyun ucapkan. Otak dan hatinya masih berusaha untuk berkompromi. Laki-laki itu baru saja mengatakan cinta padanya setelah sekian lama, dan itu benar-benar membuat perasaan Je wo seperti bertalu-talu.

“Shin Je wo!” je wo segera tersadar dari lamunannya ketika Kyuhyun memanggilnya.

“Apa?”

“Aku mencintaimu sayang.”  Kyuhyun menggenggam tangannya kemudian menciumi punggung tangan istrinya itu.

“Kau bisa memaafkanku, kan?”

Je wo mendesah frustasi. Dia benar-benar tidak bisa marah kepada Kyuhyun. Laki-laki itu terlalu berbahaya untuknya, dan seharusnya ia menyadarinya dari sejak awal.

“Aku benar-benar tidak bisa marah terlalu lama padamu. Sialan kau…”

Kyuhyun tersenyum senang, kemudian menarik tubuh mungil Je wo ke dalam dekapannya.

“Kau jangan marah seperti itu tadi. Kau terlihat sangat mengerikan Nyonya Cho.”

“Salahkan aja dirimu yang membuatku kesal.”

“Maafkan aku!”

“Jangan meminta maaf seperti itu!”

“Baiklah. Aku tidak akan meminta maaf lagi. Tidurlah! Jaljjayo.”

“Hm…” je wo memejamkan matanya, hari ini terlalu melelahkan untuknya, dan wanita itu memang benar-benar membutuhkan tidur untuk saat ini.

Je wo membuka matanya saat menyadari sinar matahari yang menerpa wajahnya. Wanita itu mengerang pelan, kemudian mendudukkan dirinya yang setengah sadar.

Kyuhyun memandangi Je wo dengan senyum senang. Laki-laki itu tampak sibuk mengepaki bajunya ke dalam koper. Je wo membulatkan matanya sempurna saat menyadari Kyuhyun yang tidak ada di sampingnya.

“Aku disini.”

Je wo mengarhakan pandangannya kepada Kyuhyun yang tampak bersandar di lemari pakaian.

“Kau sedang apa di situ?”

Kyuhyun tidak menanggapi pertanyaan Je wo dan memilih untuk mendekati wanita itu. laki-laki itu duduk di pinggar ranjang. Tangannya bergerak untuk mengusap pipi wanita itu yang terlihat memerah.

“Aku akan pergi ke pulau Jeju hari ini.”

Je wo membulatkan matanya tidak percaya dan memberikan tatapan bertanya pada Kyuhyun.

“Aku memang berencana bercerita kepadamu kemarin, tapi melihat situasinya yang sangat tidak mendukung, aku memutuskan untuk memberitahumu hari ini.”

“Tapi, baru tadi malam kita berbaikan Tuan Cho. Apa kau tidak bisa menunda kepergianmu?” je wo mengerucutkan bibirnya kesal.

“Maafkan aku, aku benar-benar tidak bisa menundanya. Appa sudah menghubungiku dari tadi, aku tidak mungkin menolaknya Nyonya Cho.” Kyuhyun memandang Je wo dengan penuh harap.

“Dengan siapa saja kau akan pergi kesana? Seingatku proyek ini juga melibatkan Jung Ha won itu bukan? Jangan bilang dia juga akan ikut ke sana?”

Kyuhyun hanya diam dan memandang istrinya, membuat Je wo seketika mengerti dengan arti diam Kyuhyun itu. “Ah.. aku benar-benar bisa gila.”

“Maafkan aku, tapi perusahaannya yang menyuruhnya untuk  ikut.” Kyuhyun menatap Je wo dengan wajah memelas yang di tanggapi wanita itu dengan sebuah cibiran.

“Kita baru saja terkena masalah karena wanita itu dan sekarang kau akan bergi berdua dengannya? Benar-benar Tuan Cho..”

“Nyonya Cho aku bukan hanya pergi berdua dengannya, tapi masih ada banyak staf lainnya yang ikut dalam perjalanan ini.” Kyuhyun masih berusaha membujuk Je wo.

“Aku tidak peduli, meskipun masih ada staf lain, tapi wanita itu tetap disana buka?” je wo memandang Kyuhyun tajam.

“Nyonya Cho!” kyuhyun masih menatap Je wo penuh harap.

“Kau tidak boleh pergi Cho Kyuhyun!”

“Tidak bisa Nyonya Cho, aku harus tetap berangkat. Aku penanggung jawab proyek ini, lagi pula setelah proyek ini berakhir aku bisa memiliki banyak waktu luang bersamamu.”

“Aku bilang jangan pergi Cho Kyuhyun.” Je wo  masih menatap Kyuhyun dengan pandangan tajamnya. Laki-laki itu  mendecak frustasi dan mengacak-acak rambutnya yang sudah agak sedikit berantakan.

Kyuhyun baru akan memberikan argumentnya kembali saat tiba-tiba ponselnya bergetar. Laki-laki itu mengambil ponselnya yang berada di saku celananya dan memandang Je wo sebentar sebelum menagngkat panggilan itu.

“Yoboseyo…”

“Cho sajangnim, kami sudah sampai di Bandara. Satu jam lagi pesawat  akan segera berangkat.”

“Ok.. aku akan segera ke sana Min wo-ya. Terimakasih.”

Klikk

Kyuhyun menatap Je wo setelah memutus sambungan telfonnya. Wanita itu tampak tidak peduli, mengalihkan pandangannya pada lantai kamar mereka. Kyuhyun berjalan perlahan mendekati Je wo, menundukkan badannya kemudian mengecup kepala wanita itu. je wo masih tetap diam tidak bergeming dengan perlakuan Kyuhyun.

“Aku pergi. Jaga dirimu baik-baik” kyuhyun mengusap kepala Je wo pelan dan berjalan mengambil kopernya sebelum kemudia pergi meninggalakan Je wo seorang diri.

Je wo mendongakkan kepalanya, dan tersenyum miris. Laki-laki itu bahkan tidak mendengarkannya dan itu amat sangat membuatnya merasa kesal. Dia bukan tidak ingin laki-laki itu pergi, tapi mengingat wanita itu berada di sana, cukup membuatnya menjadi cemas.

Je wo turun dari ranjang, mengabaikan sandal rumah yang biasa ia pakai, wanita itu itu berjalan ke kamar mandi. Je wo berhenti di depan cermin yang berada di dalam kamar mandi itu. wanita itu melihat pantulan dirinya di cermin. Wajah memerah khas bangun tidur, mata yang agak sedikit bengkak menjadi pemandangannya pagi ini.

“Menyebalakan. Semua ini karena kau Cho Kyuhyun. Dasar namja bodoh. Hwuaaa….” Je wo menjerit kesal. Pagi ini laki-laki itu kembali menguras emosinya.

“Aku akan membunuhmu ketika nanti kau pulang ke rumah. Lihat saja Cho Kyuhyun apa yang bisa ku lakukan padamu nanti.” Je wo menepuk dua pipinya pelan kemudian berjalan ke arah bethup.

“Kyaaaaaa…” je wo tersungkur di lantai, wanita itu terjatuh. Kakinya yang telanjang tadi dan keadaan lantai kamar mandi yang memang agak sedikit licin setelah Kyuhyun mandi membuat keseimbangan wanita itu goyah.

“Aigooo..” je wo berseru panik saat melihat darah yang mengucur dari pahanya. Wajah wanita itu tampak pucat pasi.“Tidak…” je wo sempat menggeleng pelan sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.

Ahra membuka pintu apartement Kyuhyun. Wanita itu tadi di hubungi oleh adiknya untuk menjaga Je wo, mengingat pertengkaran mereka tadi pagi dan ini merupakan pertama kalinya Kyuhyun meninggalkan Je wo seorang diri selama lebih dari satu hari membuat Kyuhyun merasa tidak tenang dan memutuskan untuk meminta bantuan Ahra.

Ahra berjlan ke ruang tamu dan tidak menemukan satu orangpun di sana. “Ck.. kemana wanita itu?” kemudian wanita itu berjalan ke arah dapur dan juga tidak menemukan Je wo di sana. Ahra berdecak kesal sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk kedalam kamar Kyuhyun dan Je wo. “Apa wanita itu masih tidur? Aigoo..” ahra membuka pintu kamar Kyuhyun dan Je wo namun matanya tidak menemukan sosok adik iparnya itu.

“Kemana wanita itu? kenapa kamar ini sepi sekali. Tidak mungkin dia pergikan?” ahra melngkah memasuki kamar itu, berdecak pelan sat mendengar suara air mengalir dari dalam kamar mandi.

“Adik ipar! Apa kau sedang di dalam kamar mandi?” ahra berteriak memanggil Je wo namun tidak ada sahutan dari arah kamar mandi itu. “Kenapa tidak ada jawaban?” ahra mengerutkan keningnya bingung dan memutuskan untuk berjalan mendekati kamar mandi. Mata Ahra membulat sempurna saat menemukan Je wo yang terduduk di lantai tidak sadarkan diri dengan darah yang mengalir di kakinya.

“Omooo.. adik ipar.”

“Ya Tuhan.”  Ahra berseru panik dan segera mendekati Je wo.

“Shin Je wo, ireona!” ahra menepuk pipi Je wo pelan, namun wanita itu sama sekali tidak merespon.

“Amubulance.” Ahra segera mengambil ponsel genggamnya dan menghubungi ambulance..

“Ya.. segera datang kemari.. keadaaan darurat.. si ibu mengalmi pendarahan.. tidak.. c-cepatlah, aku takut mereka tidak dapat bertahan.” Ahra memutuskan sambungan telfonnya dan memandang Je wo. “Kau harus bertahan adik! Kau harus bertahan!” Ahra menggenggam kuat jemari Je wo, menyalurkan kekuatan pada tubuh wanita yang terbaring tidak sadarkan diri itu.

“Sajangnim! Ku kira kau akan terlambat.” Min wo mendekati Kyuhyun yang telah sampai di ruang tunggu keberangkatan.

“Aku ada sedikit masalah tadi di rumah.” Kyuhyun tersenyum kcut dan mendudukkan dirinya di kursi. Min wo memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut ketika melihat ekspresi Kyuhyun yang agak sedikit menyeramkan .

“Kau kenapa?” ha won mendekati Kyuhyun dan memberikan sebotol cola dingin pada laki-laki itu. kyuhyun mendongak dan tersenyum kecil, mengambil cdola yang di sodorkan oleh Ha won.

“Gomawo.” Kyuhyun membuka botol cola tadi dan meneguknya sampai habis, merasakan dinginnya minuman itu di tenggorokannya.

“Je wo melarangku pergi tadi pagi.” Kyuhyun membuka suaranya.

“Apa ini gara-gara masalah kemarin?” ha won memandang Kyuhyun dengan perasaan bersalah.

“Mungkin, wanita itu terkadang memang sangat sulit di tebak. Tapi aku tidak suka melihatnya begitu. Dia agak sedikit… mengerikan mungkin.”

“Mungkin dia hanya kawatir saja Kyu.”

“Ku rasa begitu.” Kyuhyun menggoyangkan keleng colanya, termenung ketika membayangkan Je wo.

Drt…drt…drt…

Kyuhyun tergelak ketika mendengar suara ponselnya.  Laki-laki itu buru-buru mengangkat panggilan itu.

“Yeoboseyo.”

“Mwo? Bagaimana bisa? Dia masih baik-baik saja ketika tadi kutinggalkan.”

“Ya Tuhan…” Kyuhyun berseru panik ketika mendapatkan telfon itu. laki-laki itu tampak pucat pasi dengan tubuh yang mulai terlihat agak bergetar.

“Aku segera ke sana. Pastikan saja dia mendapatkan perawatan yang terbaik Nuna.” Kyuhyun memejamkan matanya sebelum melanjutkan perkataannya.

“Tidak, dia harus baik-baik saja.Aku tidak akan memafkan diriku jika terjadi sesuatu padanya dan anak kami. Akan ku pastikan dia tetap akan hidup Nuna.”

Ha won memandang Kyuhyun takjub. Laki-laki itu sangat mencintai istrinya dan Ha won sadar akan itu.

‘Kau sudah menemukan wanita yang tepat Kyu. Kau tidak terlihat seperti itu ketika bersamaku. Benar kata Donghae, aku hanya perlu menguatkan hatiku dan sekarang aku benar-benar bisa melepaskanmu. Semoga kau bahagia dengan pilihanmu itu.’

 

“Bagaimana keadaannya?” kyuhyun bertanya ke pada Ahra ketika sampai di depan ruang perawatan Je wo. laki-laki itu langsung berlari ke rumah sakit dan membatalakan perjalanannya.

“Dokter sedang memeriksanya. Aku sudah menghubungi appa dan eomma, mungkin sebentar lagi mereka akan kemari.”

“Dia harus baik-baik saja Nuna! Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri jika sesuatu terjadi kepadanya.” Kyuhyun mengatakannya dengan suara serak, membuat Ahra tidak bisa membendung lagi air matanya. Wanita itu tidak pernah melihat Kyuhyun se-panik dan se-cemas itu. ahra bergerak memeluk Kyuhyun dan laki-laki itu membiarkan Nuna-nya untuk memeluknya. Dia memang membutuhkan seseorang untuk menenangkannya kini.

“Dia akan baik-baik saja Kyu. Je wo wanita yang kuat dan dia pasti akan bertahan untuk dirimu dan bayi kalian.”

“Aku hanya takut Nuna. Aku membuatnya kecewa tadi dan aku takut akan kehilangan mereka. Aku tidak akan sanggup membayangkan hal itu terjadi padaku.”  Tangis laki-laki itu pecah seketika. Dia tidak akan bisa dan tidak akan sanggup membayangkan hidup tanpa wanita itu. wanita itu adalah dunianya dan ketika wanita itu menghilang, dunianya juga akan ikut menghilang bersama wanita itu. dan tidak ada alasan lagi untuk Kyuhyun tetap hidup jika dunianya menghilang.

Pintu ruangan tempat je wo di rawat terbuka, tampak seorang dokter perempuan keluar ari ruangan itu. Kyuhyun segera melepaskan pelukannya dari Ahra, dan berjalan mendekati dokter itu dengan rayt wajah panik yang sangat kentara, sedangkan Ahra mengikutinya dari belakang.

“Bagaimana keadaannya?”

“Dia sudah melewati masa kritisnya. Untung saja janin dalam kandungannya itu kuat, membuat mereka berdua dapat bertahan.”

Kyuhyun menghembuskan nafasnya lega. “Kapan saya bisa menemui istri saya?”

“Nanti setelah pasien di pindahkan ke kamar perawatan.” Dokter itu tersenyum ramah kepada Kyuhyun.

“Terimakasih.”

“Satu lagi.” Dokter itu mengubah mimik wajahnya menjadi sedikit serius. “Jangan biarkan si ibu menjadi stress karena akan berpengaruh kepada kesehatan dirinya dan janin yang ada di dalam kandungannya. Pastikan emosi si ibu tetap stabil dan buat dirinya merasa nyaman.”

Kyuhyun mengangguk patuh dan menjambat tangan dokter itu. “Terimakasih Dok.”

“Sama-sama Tuan.”

Dokter itu melangkah meninggalakan Kyuhyun yang sedang di selimuti kelegaan luar biasa. Ahra yang sedari tadi diam ikut mengembangkan senyumnya ketika melihat Kyuhyun yang tersenyum bahagia. Tidak ada yang lebih baik selain melihat adiknya itu senang. Bukankah itu sisi menariknya menjadi seorang kakak?

Kyuhyun menggenggam tangan Je wo erat. Laki-laki itu memandangi istrinya yang tampak tertidur pulas.

Ahra berdiri di pojok ruangan dengan ke dua orangtuanya dan ayah Je wo, mereka baru saja sampai beberapa menit yang lalu. Mereka semua terdiam, berusaha tidak mengeluarkan suara apapu melihat raut wajah Kyuhyun yang dingin dan agak sedikit mneyeramkan.

“Lihatlah wajah adik laki-lakimu itu!” Hana berbisik kepada Ahra sambil menunjuk Kyuhyun.

“Ck.. aku bahkan sudah melihat yang lebih mengerikan dari itu eomma.”

“Apa?”

“Wajah Kyuhyun yang menangis, kau pasti tidak akan bisa membayangkannya.”

“Astaga.. benarkah? Kenapa tadi tidak kau foto saja wajah Kyuhyun, itu kejadian langka Ahra-ya..”

“Kau gila eomma? Tadi itu dituasinya sangat menegangkan.” Ahra berdecak kesal menatap Nyonya Cho.

“Ah.. aku juga hampir pingsan saat mendengar kabar Je wo tadi. Aku tidak akan membayangkan reaksi Kyuhyun. Adikmu itu pasti sangat mengerikan tadi.”

“Sangat. Aku baru pertama kali melihatnya seperti itu.”

“Dia pasti sangat mencintai istrinya.”

“Dan aku senang bahwa wanita itu adalah Je wo.” nyonya Cho dan Ahra sama-sama tersenyum senang. Ke dua wanita itu paling tahu bagaimana kehidupan Kyuhyun saat belum bertemu dengan Je wo. dan wanita itu benar-benar telah mengubah hidup Kyuhyun.

Je wo menggeliat pelan dan mulai membuka matanya. Wanita itu tampak mengerjap kebingungan ketika melihat ruangan yang begitu asing baginya.

“Kau sudah sadar?” je wo memutar wajahnya ke samping ketika mendengar suara berat milik Kyuhyun. Tunggu, bukankah tadi pagi pria itu pergi ke Pulau Jeju, kenapa sekarag dia berada disini?

“Aku ada di mana?”

“Kau berada di rumah sakit.”

Je wo tampak membulatkan matanya kemudian dengan refleks wanita itu memegangi perutnya. Kyuhyun memandang perut Je wo dan kembali menatap wajah wanita itu.

“Dia baik-baik saja.”

Je wo tampak menghembuskan nafasnya lega, kemudian beralih untuk memandang Kyuhyun.

“Kenapa kau ada di sini?”

“Kau fikir memang kenapa aku ada di sini?” kyuhyun menanggapi pertanyaan Je wo dengan sinis.

“Cih.. kau tidak perlu berada di sini jika kau tidak mau Tuan Cho.” Je wo menanggapi pertanyaan Kyuhyun dengan tidak kalah sinisnya.

Kyuhyun tampak meghembuskan nafasnya berat, berusaha menetralkan emosinya. Dia memang tidak boleh membawa emosi dalam keadaan seperti ini.

“Aku mengkhawatirkanmu Nyonya Cho.”

“Benarkah?” je wo menanggapi ucapan Kyuhyun dengan pertanyaan retoris.

“Kau fikir apa lagi? Aku hampir gila mendengarmu terjatuh dan pendarahan. Aku kehilangan akal sehatku begitu saja, kau tidak tahu betapa takutnya aku tadi Nyonya Cho?”

Je wo masih tidak bergeming menatap Kyuhyun. Tubuh wanita itu tiba-tiba terasa kaku saat mendengar nada bicara Kyuhyun yang begitu tersiksa.

“Aku tidak bisa kehilanganmu Je wo-ya. Kau adalah duniaku, sejak aku bertemu denganmu kaulah pusat duniaku. Tempat di mana aku menggantungkan hidupku. Dan aku tidak akan bisa hidup jika kau tidak berada di sisiku. Kau membuatku takut.”

“Kau baru saja mengatakan apa?”

“Takut kehilanganmu.”

“Sialan kau..”  je wo mengumpat kesal dan mengalihkan wajahnya ke samping. Wajahnya sekarang pasti sudah seperti kepiting rebus.

“Memang kau fikir hal apa yang lebih menakutkan untukku selain kehilanganmu Nyonya Cho?”

“Diam kau Cho Kyuhyun!”

Kyuhyun tersenyum senang ketika mendengar teriakan Je wo. “Aku merindukan teriakanmu.”

“Berhenti merayuku!”

“Oh.. ayolah Nyonya Cho, aku hanya merindukanmu.”  Kyuhyun memgang dagu Je wo dan mengarahkan wajah wanita itu agar menghadap kearahnya. Laki-laki itu tersenyum lembut sebelum akhirnya bergerak mencium bibir wanita itu.

Je wo masih diam terpaku, tidak menyadari apa yang sedang Kyuhyun lakukan. Wanita itu membulatkan matanya saat mulai tersadar, namun akhirnya tetap membiarkan Kyuhyun melakukan apa yang ingin laki-laki itu lakukan. Je wo mulai menutup matanya dan menyesuaikan gerakan bibir Kyuhyun di bibirnya.

Tangan laki-laki itu mulai bergerak melingkari pinggang Je wo dan tangan Je wo melingkari leher Kyuhyun. Ciuman mereka begitu dalam dan intens. Melalui ciuman itu juga mereka menyalurkan perasaan masing-masing.

Kyuhyun melepaskan ciumannya dengan nafas yang terengah-engah, memandang wajah Je wo yang sudah merona merah. Laki-laki itu menggerakkan tangannya untuk membelai pipi Je wo.

“Aku bahkan sudah lupa bagaiman rasanya menciummu. Kau membuatku gila Nyonya Cho.” Je wo diam dan menundukkan kepalanya, wanita itu terlalu malu untuk menanganggapi ucapan Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum senang melihat raut wajah Je wo, laki-laki itu bergerak untuk membaringkan tubuh Je wo kemudian menyusul wanita itu berbaring di dampingnya. Tangan laki-laki itu melingkar sempurna di pinggang Je wo dan salah satunya menjadi bantal untuk Je wo.

“Nyonya Cho!”

“Hmm..”

“Jangan pernah lakukan ini lagi!”

“Apa?” je wo memandang Kyuhyun tidak mengerti.

“Mayakiti dirimu. Kau membuatku seperti kehilangan udara untuk bernafas. Ku mohon jangan lakukan itu lagi, kau bisa memuatku sekarat seketika Nyonya Cho.”

Je wo meneggelamkan kepalanya pada Kyuhyun, menyembunyikan senyumannya pada dada bidang laki-laki itu. bibir Kyuhyun tergerak untuk mencium kepala wanita itu. menyalurkan rasa sayangnya pada Je wo.

“Shin Je wo, tetaplah hidup dengan baik disisiku, maka semuanya akan baik-baik saja. Kau tidak perlu merasa khawatir dengan apapun. Sejak kau masuk ke dalam duniaku, maka secara otomatis kau telah menjadi pusat duniaku. Satu-satunya wanita yang akan ku tatap dan ku biarkan untuk menatapku.” Kyuhyun menunduk melihat wajah Je wo, mengunci pandangan wanita itu dengan tatapannya yang tajam.

“Bernafaslah dengan benar dan berjanjilah kepadaku untuk membuat dirimu hidup dengan baik!”

“Shin Je wo.” kyuhyun memberikan jeda sebelum melanjutkan perkataannya.

“Saranghae.” Laki-laki itu tersenyum manis dan menempelkan bibirnya pada bibir Je wo. melumat bibir wanita itu dengan lembut. Menyalurkan rasa cintanya yang tidak ia tahan-tahan lagi.

Memastikan wanita itu baik-baik saja di sisinya, dan membiarkan semuanya berjalan seperti sekarang ini, mungkin itu hal terbaik yang bisa Kyuhyun lakukan sekarang. Seperti katanya tadi, cukup melihat wanita itu bahagia di sisinya, maka semuanya akan terlihat baik-baik saja. Sesederhana itu saja yanga ada di pikirannya untuk bertahan hidup lebih lama. Memastikan semuanya berjalan sesuai mestinya dan melihat wanita itu tetap hidup dengan baik di sisinya. Maka dia akan dapat bernafas dengan normal. Shin Je wo, wanita itu adalah alasan dari semua kebahagiannya dan dia akan mempertahankan wanita itu dengan cara apapun agar dia dapat hidup dengan baik.

Nb : part ini terlihat panjang, saya sudah sangat bingung membuat konfliknya  dan jadilah seperti ini hasilnya. Dan untuk  ending.. itu terlihat agak sedikit.. err… memaksa, entahlah saya baru bisa menulis ending itu sekitar jam satu pagi dengan ide yang benar-benar sudah mentok.

 

Dan yang menanyakan Minho kemana, laki-laki tampan satu itu sedang saya kantongin, saya benar-benar bingung mau masukin kemana dia. Jadi saya akan simpan untuk part selanjutnya, mungkin.. kkkeee

 

Dan untuk Ami eomma… *peluk eomma*.. Saya tunggu novelnya oke.. hhaa

 

Gomawo eomma..

 

Mohon kritik dan sarannya…^_^

 

Terimaksih…^_^

 

 

 

 

 

 

 

157 thoughts on “[Freelance] Squel – When I Found You

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s