[Freelance] Can I Love Again?

 

 

 

1043995_391429967643845_355123087_n
Author: Myflo IsKolor

 

Dalam satu tahun, sebatang pohon akan mengalami beberapa kali fase…

Bertunas, dipenuhi daun berwarna hijau yang lebat, lalu, lembar demi lembar dari mereka mulai jatuh berguguran, menyatu bersama tanah basah yang mengeluarkan bau khas. Dan pada pergantian akhir, hanya ada ranting-ranting yang meranggas…

Sama halnya dengan perasaan, meski pada awalnya hanya sedikit, kemudian bertambah pada bilangan yang tak terhingga. Namun, ketika terpuruk dalam lelah yang tak berkesudahan, semuanya akan luruh dalam satu kali putaran waktu. Dan jangan menyalahkanku, kalau menyerah adalah pilihan terakhir….

***

Seoul, 1 Sept, 07.30 am ( Dinning Room )

Ruangan makan ini hanya didominasi suara dentingan piring yang beradu dengan sendok. Tidak ada perbincangan basa basi diantara kami. Baik aku maupun Kyuhyun, tidak punya niatan untuk saling berbicara. Kami sudah lengkap dengan pakaian kerja masing-masing. Kalau aku menjatuhkan pilihan pada blouse tipis berwarna putih dan rok selutut berwarna coklat, berbeda dengan pria itu. Tubuh tingginya dibalut kemeja biru tua dengan dua kancing yang terbuka. Tas kulit yang terlihat masih baru, tergeletak manis di atas kursi samping tempatnya duduk.

Kyuhyun mengelap pelan mulutnya yang sudah berhenti mengunyah makanan, menyudahi acara sarapan pagi kami. Pria itu mendorong kursi kayu yang terletak di seberang meja tempatku duduk, kemudian menyambar cepat jas mahal yang disampirkan di atas kursi. Mataku meliriknya sekilas, lalu kembali fokus pada sarapan yang masih tersisa hampir setengah porsi di atas piring. Mendapati sikap Kyuhyun yang masih sama dari setahun lalu semenjak pernikahan kami, tiba-tiba saja membuat nafsu makanku menguar entah ke mana.

“Aku menunggumu di luar.”

Ucapan Kyuhyun tanpa sedikit pun menatapku. Makanan yang hampir masuk kerongkongan, entah mengapa terasa seperti paku-paku tajam yang menancap pada saluran percernaan. Aku terdiam sebentar untuk mengambil nafas. Mengabaikan perut yang belum sepenuhnya kenyang, aku mengambil keputusan untuk meninggalkan meja makan dan mengayunkan langkah menuju teras rumah untuk segera menyusulnya.

Pria itu duduk pada kursi kemudi dengan sabuk pengaman yang sudah terpasang. Aku membuka pintu, kemudian menutupnya dengan pelan dan menjatuhkan tubuh di kursi sebelah kanan, tepat di samping Kyuhyun. Tidak ada yang berbeda dengan keadaan sewaktu di meja makan, begitu pun saat kami berada di dalam mobil, hanya lagu milik Lady Antebellum yang masuk dalam pendengaran. Pupil mataku memandang bangunan pencakar langit yang berjejer rapi di sepanjang jalan menuju gedung perkantoran yang terletak di tengah kota Seoul. Suasana kaku dan tidak nyaman diantara kami, membuatku berharap agar audi hitam milik Kyuhyun bisa segera menembus jalanan yang dipenuhi kendaraan beroda empat. Macet memang menjadi momok yang mengerikan ketika memasuki jam kerja seperti ini.

“Drtt…Drtt…”

Telepon genggam pria itu bergetar, menandakan sebuah panggilan masuk. Tangan kiri Kyuhyun yang tidak memegang kendali stir merogoh saku dan mengeluarkan benda persegi panjang itu dari balik kemeja . Mata hitam legam yang diam-diam begitu membuatku terpesona, menatap kosong layar ponsel canggihnya. Pagi-pagi seperti ini, siapa lagi yang selalu meluangkan waktu untuk mengganggu suami orang kalau bukan wanita itu. Mengingatnya saja sudah membuat dadaku terasa panas, seperti ada kobaran api besar yang siap melahap tubuhku hidup-hidup. Dan untuk pertama kalinya dalam satu tahun pernikahan kami, pria itu menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan sebelum menerima panggilan telepon, seolah-olah meminta ijin dan meyakinkan, bahwa semuanya tidak seperti yang aku pikirkan. Yeah, meski itu hanya asumsi terindah yang memenuhi otak bebalku.

“Yeoboseyo…,” jawab Kyuhyun ragu-ragu. Saat kepala pria itu menoleh, aku melengos, memilih kembali menekuri jalanan beraspal atau pun pohon-pohon dengan daun menyerupai replika bintang di pinggiran jalan.

Dalam beberapa menit, mereka sudah terlibat dalam perbincangan yang mengalir begitu saja, tanpa pria itu peduli dengan keadaan hatiku yang “tidak baik-baik” saja. Keberadaanku hanya dialih fungsikan seperti batu pualam yang diukir menyerupai manusia. Aku marah, benci, dan kecewa. Tapi, pada siapa? Bukankah dari awal pria itu tidak pernah menjanjikan apa-apa padaku? Ikatan yang di atas namakan Tuhan di depan altar katedral tua itu, hanyalah kehendak sepihak dari Keluarganya, juga keluargaku.

Seoul, 8 Sept, 01.30 pm ( Kyuhyun’s Office Room )

Setelah menyelesaikan lembaran terakhir pada tumpukan file yang harus diperiksa, aku memutuskan untuk segera bergegas ke kantin. Perutku sungguh tidak bisa diajak berkompromi lagi, berkali-kali mengeluarkan bunyi seperti seekor ayam yang berkokok di pagi buta. Berdiri seorang diri di depan lift, entah kenapa tiba-tiba saja pikiranku tertuju pada pria itu. Bertanya-tanya, apakah dia sudah makan atau belum. Setahuku, Kyuhyun akan mengesampingkan jam makan siang jika sudah dihadapkan pada pekerjaan yang menggunung.

Otak yang benar-benar tidak sinkron dengan perasaan, justru jari telunjuk menekan angka delapan, tempat dimana pria itu berjibaku dengan kesibukannya, bukan angka dua yang menjadi tujuan utamaku sebelum kerja impulsif menghasilkan nama pria itu dalam isi tempurung kepala. Langkahku terayun begitu mantap. Sesekali, aku bersenandung kecil untuk menetralisis degupan jantung yang bertalu. Oke. Ini hanya makan siang biasa, bukan “dinner” spesial yang begitu istimewa. Jadi, jangan memikirkan kemungkinan terburuk kalau tawaranku akan ditolak mentah-mentah.

Melewati ruangan sekretaris pribadi Kyuhyun yang nampak kosong, aku melenggang begitu saja. Kalau biasanya wanita berkacamata dengan senyum ramah itu akan menyapaku dengan suara yang begitu ceria, kali ini pendengaranku tidak mendapatinya. Mungkin, Sujin Eonni masih berada di kantin bersama beberapa rekan kerjanya untuk makan siang.

Ada yang aneh di sini. Pintu ruangan Kyuhyun sedikit terbuka. Tidak biasanya pria itu memberikan celah pada udara luar untuk masuk ke dalam ruangan kerjanya. Apa, AC di dalam sana rusak? Entahlah. Meski hanya seperempatnya saja, mataku masih bisa melihat rak buku yang terpajang dengan cantik. Berbagai buku bisnis yang menggunakan huruf hangeul maupun inggris, tertata rapi di sana. Bahkan, satu bingkai berukuran raksasa yang merupakan foto keluarga besar Kyuhyun, tertangkap bola mataku.

Tanganku terulur, hendak menyerobot masuk ke dalam saat suara seorang wanita meremas sakit bagian dada. Itu, suara Song Qian. Apa yang sedang wanita itu kerjakan di dalam sana saat jam istirahat seperti ini.

“Lalu kapan kau akan menceraikannya? Bukankah hanya setahun yang kau janjikan padaku sesaat sebelum pernikahan itu.”

Keputusan terburuknya adalah, saat aku memutuskan untuk tetap berdiri di balik pintu dan memaksa mendengarkan obrolan serius mereka. Jantungku melonjak cepat, selama beberapa menit aku menahan nafas. Tengkukku yang tidak terhalangi rambut panjang, sudah mengeluarkan keringat dingin yang banyak. Aku sedang berjaga-jaga dengan kemungkinan yang paling buruk, sekali pun.

“Ini masalah dua keluarga Qianie. Tidak bisa seenaknya menyeret wanita itu ke meja hijau untuk memutus pernikahan kami.”

Kyuhyun sedang menjelaskan dengan suara yang hampir mengerang frustasi. Apa, menikahiku seperti sebuah kutukan buruk seumur hidup Kyuhyun-ah? Aku meringis, ingatanku tak ubahnya seperti roll film, memutar ulang saat-saat pertemuan pertama kami di dalam rumah besar bergaya tradisional yang didiami oleh Kakek dan kedua orang tua Kyuhyun. Saat itu, sebenarnya aku sudah menangkap sorot tidak suka dari mata kelamnya. Hanya saja, aku berpura-pura menjadi manusia paling tolol dan mengesampingkan harga diri demi memenuhi rasa baktiku pada ayah.

“Alasanmu selalu sama. Apa ini hanya akal-akalan yang kau gunakan untuk mempertahankan wanita itu, hah?”

Aku melihat siluet Kyuhyun berjalan mendekati kaca besar yang menghadap keluar, memaparkan pemandangan Seoul yang begitu indah, diikuti Song Qiang yang berdiri di belakangnya dengan proporsi tubuh yang pas, tinggi semampai bak model papan atas yang sering berjalan di atas catwalk. Kalau boleh jujur, sebenarnya wanita itu lebih pantas disandingkan dengan Kyuhyun jika dibandingkan denganku. Penampilannya yang eksklusif, benar-benar selera seorang Cho Kyuhyun.

“Apa yang sedang kau bicarakan Song Qian. Otakmu, sepertinya perlu dicuci.”

Tidak Kyuhyun. Bukan jawaban seperti itu yang aku inginkan. Setidaknya, beri aku 1 persen saja dari seratus yang ada untuk sebuah keyakinan. Yakin, bahwa kau juga menaruh perasaan yang sama sepertiku.

“Wajar kalau aku berpikiran seperti itu. Apa kau tidak sadar, justru sikapmu sendiri yang menggiring persepsiku bahwa kau tidak ingin melepaskan wanita itu.”

Song Qian bukan wanita sembarangan. Otaknya terlalu cerdas untuk mengolah kata, memojokkan Kyuhyun sampai ke titik terendah hingga dia bisa mendapatkan jawaban yang diinginkan. Aku memejamkan mata, tiba-tiba saja baru bisa memproses kata “setahun” yang sedetik tadi disinggung oleh wanita berdarah China itu. Dan artinya, masih tersisa dua bulan waktu yang akan menjadi eksekusiku. Oh Tuhan! Cabut saja nyawa ini sebelum masa itu tiba. Hampir setahun menjalani pernikahan dengan Kyuhyun, perasaanku sudah naik beberapa tingkat. Dari tidak ada, menjadi ada.

“Omong kosong apalagi Song Qian? Apa bukti yang selalu aku jabarkan padamu belum juga cukup? Bahkan, sekali pun aku belum pernah berhubungan fisik dengannya.”

Deg. Sakit sekali Tuhan. Pria ini, sedang menabur garam pada sayatan yang masih baru ke atas perasaanku. Perih. Hanya itu satu perumpamaan yang tepat untuk menggambarkannya.

“Hari ini kau bisa menjamin untuk tidak meniduri wanita itu. Tapi, bagaimana dengan besok, lusa dan seterusnya?” Cecar Song Qian bertubi-tubi. Kyuhyun terdiam. Suara lantangnya yang beberapa saat tadi memenuhi ruangan, entah menghilang ke mana.

“Jawab aku Cho Kyuhyun!!!” Song Qian meraih lengan pria itu, menariknya hingga membuat tubuh Kyuhyun berbalik. Aku sendiri masih betah mengamati adegan demi adegan dramatis di depan sana.

“Tidak bisakah memberiku waktu? Setidaknya, sampai kesehatan kakek membaik.” Dan demi Tuhan! Aku membenci pria itu saat meraih jari-jari Song Qian, mengelus punggung tangan wanita itu dengan lembut untuk menenangkannya. Hal yang tidak pernah sekali pun dia lakukan padaku.

“Dan ini kesempatan terakhir yang aku berikan padamu, Kyuhyun-ssi.” Setelahnya, Song Qian sukses membuat organ jantungku hampir keluar menembus dada. Wanita itu mendekap erat Kyuhyun, merasakan kehangatan tubuh pria itu yang merupakan harga mati untukku bisa mengecapinya meski hanya untuk sepersekian detik saja.

“Aku tahu.” Jawab Kyuhyun dibarengi sebuah senyuman tipis. Apa yang dilakukan pria itu, tidak jauh berbeda dengan Song Qian. Dia, Cho Kyuhyun, yang masih terikat pernikahan denganku, membalas pelukan wanita lain tepat di hadapanku yang berdiri dengan jarak hanya beberapa meter saja darinya.

“Terima kasih…,”

Aku bisa menebak, apa yang akan dilakukan wanita itu pada detik berikutnya setelah wajah mereka berdekatan. Gemuruh hebat seperti gulungan ombak yang besar menghantam pertahananku. Awalnya hanya sebuah kecupan ringan. Tapi, kemudian bibir mereka mulai bermain dengan intim dan saling menuntut. Seperti ada ribuan lebah yang menyerang ulu hati, perih dan ngilu yang tak tertahankan bercumbu menjadi satu. Aku menyandarkan tubuh pada dinding, menepuk dada berkali-kali untuk mendapatkan sebuah keajaiban. Berharap, ini hanyalah sebuah mimpi dan ketika aku terbangun, semuanya akan baik-baik saja.

Seoul, 13 Sept, 05.30 am ( Kyuhyun’s Home )

Sudah hampir seminggu aku menghindari Kyuhyun. Kalau biasanya kami akan berada dalam satu mobil saat berangkat maupun kembali dari kantor, aku mengambil keputusan sepihak untuk mengubah aktifitas itu. Aku akan bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan sarapan agar bisa segera menuju halte, menikmati perjalanan ke kantor yang membutuhkan waktu sekitar satu jam, rasanya lebih menyenangkan berada di dalam bis dari pada harus duduk satu mobil dengan Kyuhyun.

Seperti halnya dengan pagi ini, aku belum mengambil satu bahan makanan pun untuk diolah menjadi sarapan pagi yang sesuai dengan selera Kyuhyun. Bola mataku masih menatap gamang isi kulkas, menimbang-nimbang, antara membuat pancake atau menjadikan nasi sebagai menu utama. Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya pilihanku jatuh pada menu yang lebih simple dan tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membuatnya. Tanganku mulai mengambil alih kendali, mengambil semua bahan-bahan yang aku butuhkan dan menaruhnya di atas meja. Saat tubuhku berputar dan ingin menutup pintu kulkas, hampir saja aku menjerit kaget. Kyuhyun sudah menyandarkan tubuhnya yang dibalut dengan baju tidur berbahan satin dengan warna gelap tepat di samping kulkas. Pria itu melipat kedua tangannya di depan dada dan memasang ekspresi wajah seperti layaknya malaikat pencabut nyawa. Aku menelan ludah gugup, merasakan suasana tidak kondusif di sekitarku.

“Mengapa menghindariku?” Tanyanya dengan nada suara yang datar. Tapi, justru itu membuat bulu kudukku meremang. Aku mengusap tengkuk yang tidak gatal untuk menghilangkan perasaan gugup, hal yang lumrah dan selalu aku lakukan ketika berada di zona tidak nyaman.

“Apa maksudmu?” Aku berpura-pura tidak bisa mencerna arti ucapan pria itu.

“Kau. Kenapa menghindariku?” Pertanyaan yang sama dia ulang sekali lagi. Mengabaikan Kyuhyun, langkahku terayun hendak berjalan ke arah bak pencucian piring untuk mencuci tanganku yang ku rasa, sedikit kotor. Tapi, justru tindakan brutal pria itu membuat tekanan darahku memuncak. Kyuhyun menarik tangan dan memojokkan tubuhku ke dinding dengan kasar. Membuat punggungku terantuk tembok dan mengeluarkan bunyi yang tidak bisa dikatakan tidak keras.

“Apa-apaan kau ini, Cho Kyuhyun?” Intonasi suaraku tidak selembut biasanya. Kontak fisik pertama kami setelah hampir setahun pernikahan. Tapi, justru terjadi karena kemarahan pria itu dengan alasan yang menurutku, tidak mendasar.

“Kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa selama beberapa hari ini kau menghindariku?” Wajah kami hanya berjarak beberapa senti. Kalau dalam keadaan normal dadaku akan berdegup secara tidak teratur karena perasaan gugup yang membuncah, lain halnya dengan sekarang. Mataku terpusat bukan pada wajah mempesona pria itu, tapi pada bibir yang kembali mengingatkanku pada adegan ciumannya bersama Song Qian, dan itu hanya kembali menyulut kemarahanku.

“Dan aku punya hak untuk tidak menjawabnya bukan, Cho Kyuhyun-ssi?” Jawabku sarkatis.

“Apa, ini ada hubungannya dengan kejadian siang itu?” Aku melihat pria itu menyeringai licik, seolah menertawakan diriku yang begitu naif dan tidak bisa menempatkan diri, sebagai apa aku dalam perkara ini mengingat kata kunci “siang itu”.

Sialan! Jadi Kyuhyun tahu kalau siang itu aku berada di sana. Berarti, pria ini sengaja ingin mempermainkan perasaanku yang sudah terlanjur berubah menjadi serpihan-serpihan kecil, tak ada bedanya dengan gelas kristal yang jatuh menyentuh lantai.

“Apa, kau sedang cemburu?” Kyuhyun menarik daguku, membuat mata kami saling berinteraksi. Aku enggan menjawab. Toh, seperti apapun aku mengelak, pria itu masih bisa menangkap kebohongan yang sengaja aku surukkan begitu melihat mata coklatku yang tidak bersahabat. Tapi, aku berpikir ulang. Diam tanpa penyanggahan, berarti kemenangan berada dalam genggaman pria itu.

“Tidak!” Jawabku lugas. Dan aku bersyukur, pita suaraku yang serasa terjepit, masih bisa berfungsi dengan baik.

“Kau berbohong.” Semakin merapat wajahnya. Aku sudah mencengkeram kuat ujung piyama. Meski mustahil pria itu menciumku, tetap saja, aku hanya seorang wanita yang terkadang memiliki imajinasi liar dan tidak terkendali. Tapi justru yang terjadi setelahnya di luar perkiraan. Bibir pria itu menekan lembut bibir ranumku. Tidak ada penolakan dan Kyuhyun juga tidak berusaha bermain, pria itu hanya memberikan kecupan beberapa kali.

Gwangju, 18 Oct ( Rumah Keluarga Kyuhyun )

Begitu memasuki rumah tradisional keluarga Kyuhyun, sambutan hambar dari saudara perempuannya langsung tertuju padaku. Krystal tidak pernah berubah, gadis yang usianya belum genap menginjak 20 tahun itu, memberikan tatapan sinis. Dan seperti biasa, aku tidak akan menggubris dan lebih memilih mengekor langkah Kyuhyun untuk berjalan ke arah ruang tamu.

Aku melihat ornamen asia yang begitu kental di sina. Di sebelah kanan dinding yang berdekatan dengan pintu kamar kakek, menggantung tulisan hangeul yang merupakan filosofi terkenal pada masanya. Ada juga patung budha yang di letakkan pada sebuah meja kecil dengan beberapa barang pelengkap untuk acara sembahyang di pojok ruangan. Meski kedua orang tua Kyuhyun merupakan penganut katolik yang taat, tapi kakek masih memegang teguh kepercayaan yang sudah diturunkan leluhurnya dari dulu.

“Oppa, bagaimana kabarmu?” Suara Krystal dari balik punggungku yang membelakanginya.

“Baik. Dimana kakek?” Tanya Kyuhyun.

“Semua sudah menunggu kalian di ruang makan. Apa, istrimu itu memerlukan waktu berjam-jam hanya untuk berdandan sehingga semua orang harus menunggu kelaparan?” Mata Krystal melotot ke arahku. Gadis itu memang cantik. Tapi jujur, sopan santun yang selalu ditunjukkan oleh kedua orang tuanya di hadapanku, benar-benar tidak diwarisinya.

“Sudahlah Krys. Jangan mulai lagi!” Kyuhyun memperingatkan adiknya. Aku mengunci rapat mulut, meladeni gadis itu, hanya menjadikanku tidak ada bedanya dengan wanita tidak berpendidikan.

Kyuhyun menautkan jemari kami. Kalau biasanya akting hanya sejauh pada jalan berdampingan, malam ini sungguh sangat diluar prediksi. Entah apa yang ada di otak pria itu, seharusnya tidak perlu melakukan “sesuatu” yang berlebihan seperti ini. Toh, kakek dan kedua mertuaku tidak pernah mempermasalahkannya.

“Maaf, kami terlambat.” Aku mengikuti Kyuhyun, membungkuk tulus sebagai simbol permintaan maaf karena keterlambatan kami bergabung di meja makan.

“Tidak apa-apa. Duduklah.” Kakek tersenyum ramah pada kami. Semua keluarga Kyuhyun begitu baik padaku, kecuali Krystal. Gadis itu pernah berujar, bahwa wanita biasa sepertiku, tidak pantas menikah dengan oppanya. Lalu dengan begitu sumringah dia menyebut, hanya Song Qian lah yang seharusnya berada pada posisiku sekarang ini.

Dan yang membuatku lebih tercengang lagi adalah, saat pria itu menarikkan kursi dan menyuruhku untuk duduk. Begitu manis bukan akting pria itu? Benar-benar terlihat seperti pasangan suami istri yang terlihat begitu harmonis.

“Terima kasih…,” aku tersenyum pada Kyuhyun. Meski terlihat kaku, aku berharap tidak ada seorang pun yang menyadarinya di sini, sekali pun itu Krystal. Dalam sekejap, suasana berubah menjadi begitu menyenangkan. Dimulai dari obrolan ringan kakek, sampai ayah mertuaku yang tertawa terbahak-bahak karena bercerita tentang rekan bisnisnya yang dianggap konyol.

Aku bahagia. Sungguh. Tidak aku dapatkan kebersamaan seperti ini setelah ibu meninggal. Ayah yang hanya bekerja sebagai petugas pemadam kebakaran, lebih banyak menghabiskan waktu untuk menolong ratusan nyawa di luar sana yang lebih membutuhkannya. Biasanya, hanya ada aku dan Han Jung Won, adik laki-lakiku yang berisik berebut makanan pada meja makan kecil yang kami letakkan di depan televisi.

“Kakek, ada yang ingin aku sampaikan.” Suasana yang awalnya begitu riuh, tiba-tiba berubah sepi saat suara Kyuhyun berujar.

“Apa?”

Entah apa artinya, tapi Kyuhyun mendesah pelan. Suaranya terasa begitu berat, dan…kepala pria itu berputar, menoleh ke arahku yang berada di sampingnya.

“Maaf…Tapi, kami sudah memutuskan…,” gelegak hebat menjalari seluruh tubuh. Seperti ditampar hingga wajahku memar dan mengeluarkan darah anyir. Sepertinya, aku tahu ke mana arah pembicaraan ini. “Tuhan! Aku…takut.” Ucapan yang aku telan dalam diam.

“Memutuskan? Apa maksudmu?” Kakek memicingkan sebelah matanya. Dahi yang sudah keriput itu juga ikut tertarik, membuat kerutan yang terlihat begitu jelas.

“Kami…Ingin…Mengakhiri pernikahan ini.” Yang bisa aku lakukan hanyalah menunduk. Aku takut, ketika mendongak, mereka bisa lebih jelas melihat sudut mataku yang sudah berair. Cho Kyuhyun, bagaimana bisa dia memperlakukanku seperti ini. Kesalahan apa yang aku buat di masa lalu hingga mendapat kutukan yang menyeramkan seperti ini, Tuhan.

“Apa kau bilang? Mengakhiri pernikahan?” Suara kakek terdengar begitu kaget. Wajar kalau itu menjadi respon sebagai timbal balik dari keputusan sepihak Kyuhyun.

“I – iya…,”

“Tapi, kenapa?” Pertanyaan dari kakek lagi. Aku masih bertahan dengan posisi favoritku agar kelihatan tidak begitu menyedihkan. Belum sanggup melihat mata sipit pria tua itu.

“Karena, kami tidak saling mencintai.” Jawab Kyuhyun. Kami? Yang benar saja. Bagaimana bisa pria itu dengan seenak hatinya membawa nama “kami” sebagai alasan untuk keberhasilan usahanya memutuskan ikatan pernikahan ini. Kau benar-benar brengsek Cho Kyuhyun. Demi, wanita itu bukan?

“Apa itu benar, Han Cheonsa-ssi?” Giliran kakek yang mencecarku dengan pertanyaannya. Aku masih diam, sulit dihadapkan pada pilihan seperti ini. Bagai disuguhi buah simalakama. Menelannya, aku akan mati. Tapi, tidak menelannya, nyawa orang yang aku cintai yang menjadi taruhan.

“Jawab aku Han Cheonsa!” Suara kakek meninggi. Mau tidak mau, kepalaku mendongak. Pada akhirnya, mataku bisa dengan jelas melihat satu persatu wajah orang-orang yang berada dalam meja makan ini. Dan demi Tuhan Cho Kyuhyun, sorot matamu, bagaimana bisa aku mengartikannya. Kalau memang ini yang menjadi satu-satunya permintaan untuk kebahagianmu, aku harus mengesampingkan egoku bukan?

“I-iya…,”

Tidak! Aku tidak boleh menangis, hanya akan membuat pria itu menang telak di hadapanku. Setidaknya, aku sudah menempuh cara terakhir untuk mempertahankannya ketika rasa lelah berulang kali memperbudakku. Diamku, bukan berarti menyerah. Tapi, kalau hanya itu satu-satunya opsi yang tersisa yang diajukan olehnya, aku harus menyambutnya dengan tangan terbuka, bukan?

Note:
Mau tulisan ini dijadikan trilogy dengan menggunakan 3 sudut pandang yang berbeda? Bukankah endingnya nggantung dan masih abu-abu pemirsa??? Wkwkwkkwkwkwk…
Oceyyyy….Selamat membaca story yang udah pasaran ini ye *ngilang dulu bareng Jung ll Woo*

214 thoughts on “[Freelance] Can I Love Again?

  1. parah loe kyu,,,
    ada kelanjutannya kan cerita ini thor??

    eh kenal kan aku pembaca baru yg ikut numpang baca2 disini,baru nemu blog ini sekitar 2 minggu yg lalu,dan baru 70% aku membaca dr semuanya,dan baru kali ini aku berani komen hehe,hmmm….salam kenal!!!🙂

  2. waaahh.. ni freelance dari tahun 2013 sampe sekarang belum ada klanjutannya. ditunggu banget loo thor. aku udh baca ini 4 ato 5 kali berharap udah ada lanjutannya😦 suka banget sma ceritanya

    #waitfortrilogy

  3. sialll kyuhyun egoisss jadi perhatian yg dia kasih ke cheonsa itu ya hanya untuk ini??????? aishhhhhhh brengsek syekaliiiiiiiiiiiiii

    ayo eon buat triloginya penasaran ngegantung!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s