[Freelance] Nightmare

lp

 

 

 

 

 

 

Note:

~ Ekhm… Sebelum membaca story ini, harap singkirkan dulu barang pecah belah atau cobek emak yang lagi nangkir di atas meja. Seperti biasa, ciri khas gw, super duper pendek dan story yang klise dan pasaran….
~ Buat My beloved darl, sorry, kemarin waktu ngirim ff freelance itu kagak tahu aturannya, maka dari itu, asal comot pakek cast gw, dan anggaplah ini sebagai penebusan dosa…wkwkwkwk… Dan karakter Je Wo, sangat berbeda di sini, ikuti saja aturan mainnya ye…Oceyyy… Selamat membaca pemirsa…

 
Cast     :           Cho Kyuhyun

Shin Je Wo

Author:          Myflo IsKolor

 

 

***

Hujan…
Aku selalu menyukainya…
Hujan…
Aku selalu merindukannya
Dan hujan…
Di sanalah perasaan kita bertemu…

***

@Seoul University – Classroom

Aku mengeratkan kedua tangan yang memeluk erat tubuh. Hujan. Dan aku masih terjebak dalam dimensi waktu yang sulit untuk ditembus. Memandangi air yang turun dari langit, entah mengapa perasaan rindu itu diam-diam menyusup memasuki pikiran. Ini mustahil, untuk pertama kalinya semenjak mengenal pria itu, aku merasa membutuhkannya. Hanya saja, aku selalu menampik perasaan itu.
Dari dalam kelas, melalui sebuah kaca besar yang berembun, pandanganku masih terpusat pada lapangan kampus yang mulai sedikit digenangi air. Kalau biasanya ada segerombolan mahasiswa perempuan yang bersorak sorai karena permainan basket yang menakjubkan dari seorang bintang kampus, kali ini berbeda. Suara gemerisik itu, adalah perpaduan dari air hujan yang seperti kaki-kaki kecil berbaris di atas tanah yang basah.
“Hujan memang tidak mengenal waktu, bukan?”
Tiba-tiba saja dia sudah berada di sini, menyandarkan tubuh tingginya pada kaca jendela, tatapan pria itu, tepat menghunus pupil mataku yang masih enggan meliriknya.
“Apa yang menarik dari hujan?”
Kyuhyun mengikuti arah pandanganku, menyejajarkan tubuhnya dengan tinggiku. Seperti adegan drama yang sudah disusun dalam naskah, rambut coklat pria itu hampir menyentuh salah satu sisi wajah. Seketika, aroma maskulin yang begitu kuat, mengusik indra penciuman. Aku tahu, pria itu sengaja mempermainkan jiwa kedua dalam diriku yang terus-terusan mengabaikan segala bentuk perhatiannya. Dengan cepat, aku menjauhkan diri, memperbesar jarak diantara kami.

Aku tidak lantas menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh pria itu. Sudah berkali-kali ku katakan padanya, bahwa aku tidak terlalu suka diperhatikan dengan segala macam bentuk perhatian, sekecil apapun itu. Hanya saja, dia seperti seorang idiot yang tidak punya malu. Mengabaikan semuanya dan terus membuntutiku setiap hari.
“Pulang denganku.”
Cho Kyuhyun meraih pergelangan tangan, menyeret tubuhku yang memberikan reaksi penolakan. Dan sebelum tubuh kami mendekati pintu kelas, dengan keras aku menarik diri dari sentuhan fisiknya. Perasaan marah lebih mendominasi, hampir saja aku mengeluarkan sumpah serapah. Hanya saja, tindakan brutal seperti itu tidak pantas keluar dari mulut seorang terpelajar sepertiku. Seketika, suasana kelas yang riuh karena masih menyisakan beberapa pelajar yang bertahan karena hujan, berganti dengan senyap. Aku tidak ambil pusing, ini hal yang sudah biasa menjadi makananku sehari-hari ketika dia tidak pernah berhenti “menggangguku” di sekitar lingkungan kampus.
“Kau mau ke mana?” Teriak Kyuhyun saat aku berjalan cepat melewatinya.
“Pulang.”

“Hei! Bukankah sudah ku katakan, pulang bersamaku.” Kaki-kaki panjangnya membuntutiku dari belakang, lalu menyejajarkan langkah, kami berjalan beriringan di koridor kampus.

“Aku tidak butuh itu.” Suaraku mendesis tajam.
“Kenapa kau begitu keras kepala, Je Wo-ya?”
Dan sialnya, pria itu menyudutkanku pada dinding bercat putih. Tidak ada satu orang pun yang berlalu-lalang di sana, kami sama-sama menatap tajam dan gelegak emosi sudah bergumul menjadi satu, memberikan perlawanan.
“Menyingkir dari hadapanku Cho Kyuhyun!” Suaraku mendesis tajam. Aku benci mendapati keadaan seperti ini. Bukan karena tindakan semena-mena pria itu atas diriku, tapi karena ketakutan yang luar biasa menjalari seluruh saraf tubuh saat kami berdekatan seperti ini.

“Beritahu aku. Apa yang harus aku lakukan untuk meyakinkanmu?” Suara Kyuhyun melembut. Mengelus rambut panjangku dengan pelan sekali. Oh Tuhan. Jantungku, kenapa harus memberikan reaksi yang begitu menjijikkan seperti ini. Semoga saja pendengaran pria itu tidak mampu menangkap bunyi bertalu irama yang dihasilkan oleh salah satu organ tubuhku.

“Aku tidak pernah menyuruhmu melakukan apapun. Jadi, berhenti mengangguku.” Entah apa yang lucu di sini, Kyuhyun justru terkekeh ringan. Menarik diri, dia membuat jarak diantara kami.

“Kenapa kau terus mengelak Shin Je Wo-ssi? Bukankah, diam-diam kau juga mulai menyukaiku?” Kyuhyun terlalu percaya diri dalam menafsirkan segala sesuatunya secara sepihak. Meski yang dikatakan pria itu tidak sepenuhnya salah, tentu saja aku tidak bisa menerima ocehannya dengan tangan terbuka. Terlalu bodoh jika harus mengakui semuanya.

“Menyukaimu? Yang benar saja. Kau terlalu banyak berharap sepertinya.” Tubuh Kyuhyun kembali mendekat. Bibirnya tidak mengeluarkan sebuah penyanggahan berupa pernyataan yang terdengar, sarkatis. Dia kembali memapas jarak diantara kami. Aku melengos, menghindari tatapan matanya yang begitu intens dan menuntut. Entah apa yang ada di dalam otak pria itu, tiba-tiba saja dia menarik daguku dan menyatukan bibir kami. Saat itu juga, tubuhku menegang. Aku benci diperlakukan seperti wanita murahan yang bisa disentuh kapan saja saat dia berhasrat. Aku, benci fakta itu.
“PLAK!!!”

“Kau, menjijikkan.”

@Seoul University – Library

Aku dengan seorang teman tengah berdiskusi mengenai tugas akhir semester. Kali ini, kami mengambil tema tentang inseminasi yang sedang menjadi trend di kalangan para wanita masa kini. Terkadang aku hanya bisa menggeleng jengah, bagaimana tidak, tanpa sadar, mereka sedang berusaha menyalahi kodrat. Lebih memilih mengosongkan rahim dan membiarkan bayi mereka berkembang di dalam tabung ajaib yang diciptakan oleh tangan-tangan manusia, bukan Tuhan. Klise sekali alasan mereka, hanya untuk mempertahankan bentuk tubuh yang menjadi harga mati bagi sebagian wanita. Benar-benar omong kosong yang tidak berotak.

“Aku dengar, di fakultas musik ada murid baru.” Temanku memulai pembicaraan di luar topik utama. Aku membiarkannya berbicara lebih, mendengarkan dengan seksama meski jari-jari tanganku sibuk membolak-balik buku.
“Dari info yang tersebar di kalangan mahasiswa, dia berdarah campuran Korea-China, namanya, Song Jia.” Dia menatapku dengan pandangan yang berbinar. Seolah mendapat mangsa baru untuk dijadikan bahan cerita yang mengasyikkan.
“Hobi menggosipmu itu, semakin hari semakin berkembang pesat rupanya.” Aku tertawa mengejek, membuat temanku sedikit mehrong dan sebal. Tapi, sedetik kemudian raut wajahnya sudah kembali ceria lagi. Benar-benar seseorang dengan kepribadian yang aneh, menurutku.

“Aku hanya menyampaikan apa yang menjadi “top news” di kampus kita Je Wo-ya. Kau ini, jadi orang terlalu acuh dengan keadaan di sekelilingmu.” Dia sudah kembali focus pada layar Macbook, tangannya dengan lincah menggeser kursor. Bola matanya yang bulat, bergerak ke sana kemari. Aku tersenyum tipis, sudah berkali-kali temanku ini mengulang perkataan yang sama. Hanya saja, dalam tenggang waktu yang berbeda.
“Dan yang ku dengar lagi, banyak gadis yang dibuat iri karena Song Jia bisa dekat dengan Kyuhyun.” Ada perasaan aneh saat nama pria itu kembali disebut. Tapi yang mengusik naluriku, saat teman mengatakan tentang kedekatan mahasiswa baru itu dengan Kyuhyun? Kenapa, harus ada perasaan sedikit tidak rela saat mengetahui faktanya.

@Seoul University – Rooftop

Entah setan apa yang merasuki, aku menurut saja saat pria itu memintaku untuk menemuinya disalah satu atap bangunan kampus yang paling menjulang tinggi. Begitu pintu berukuran besar itu terbuka, aku disambut oleh angin yang berhembus nyaman. Otomatis, rambut yang ku biarkan tergerai begitu saja, meliuk-liuk sedikit menutupi pemandangan yang mampu ditangkap oleh pupil mata.
Kyuhyun sudah berdiri di depanku dengan jarak yang tidak terlalu dekat. Punggungnya yang lebar, hanya di lapisi kaos santai berwarna hitam. Meski penampilannya yang biasa, tetap saja menjadi tidak biasa kalau sudah berhubungan dengan pesona pria itu. Aku menelan ludah, mengingat kecupan kecil yang dilakukannya beberapa hari lalu di koridor kampus.

Selangkah, dua langkah dan langkah-langkah berikutnya tidak menghasilkan suara apapun. Gesekan yang dihasilkan alas kakiku dan lantai atap, masih belum bisa mengalahkan suara angin yang masih enggan untuk mengambil jeda sejenak dari tugasnya. Dari sini, tempatku, bisa ku lihat dua tangan Kyuhyun yang semula terjuntai bebas, sudah tenggelam di balik saku celananya yang berwarna biru tua.
“Hal penting apa yang ingin kau sampaikan?” Pertanyaanku. Tubuh Kyuhyun tidak merespon cepat, masih bertahan dengan posisinya. Aku masih menunggu mulut pria itu terbuka. Diam-diam, aku mengamati rambutnya yang berantakan, digasak habis oleh angin yang semakin berhembus kencang.
“Hanya ingin memastikan.” Jawaban pria itu penuh teka-teki. Kyuhyun berbalik dan mengayunkan langkah mendekatiku. Meski jarak kami tidak seintim tempo hari, tetap saja ada yang aneh di sini, jantungku.
“Memastikan?” Aku memicingkan sebelah mata. Pernyataan ambigu dari pria itu, aku tidak bisa mencerna maksudnya.
“Apa kau benar-benar, menolakku?” Penekanan pada kata menolak, aku tahu ke mana arah pembicaraan kami.
“Jadi kau memanggilku hanya untuk ini, Kyuhyun-sii?” Aku memasang senyum sinis untuk mengulur waktu. Aku, tidak bisa menjawab pertanyaan pria itu.
“Hanya?” Lagi-lagi dia memberikan penekanan pada kata “hanya”, dengan artian, sebegitu tidak berartikah usahanya selama ini untuk mendapatkanku. Hatiku mencelos, aku paham dimana letak kesalahannya. Tapi, aku benar-benar bebal dan tetap keukeuh dengan ego yang secara perlahan menggerus sisi malaikatku.
“Tidak ada yang bisa kau harapkan. Menyerah saja mulai sekarang.” Dan aku berharap, Kyuhyun tidak menuruti ucapan busukku. Aku menggigil takut hanya dengan membayangkannya saja.

“Kenapa? Kenapa menyamakan kaum kami dengan vonis sepihakmu itu.” Aku masih belum bergerak. Justru Kyuhyun yang sekarang berjalan memutari tubuhku.
“Kaummu? Vonis sepihak?” Semakin terlihat seperti seekor keledai dungu aku di sini. Sudah ku katakan bukan, pernyataan maupun pertanyaan Kyuhyun semakin ambigu, membuatku bingung.

“Hanya karena mendapati Hyukjae dengan sepupumu tengah bermain api di belakangmu, kau berubah menjadi manusia menyedihkan seperti ini.” Bibirnya tersenyum sinis, menertawakanku. Dan persetan dengan semuanya, aku benar-benar marah tidak terkendali saat nama “bajingan” itu kembali disebut.

“Kau! Apa yang kau korek dari kehidupanku.” Desisku dengan suara yang begitu tajam. Mataku sudah berkilat-kilat, seperti ada bola api merah menyala bermain di sana.
“Apa kau tidak sadar? Kau sendiri yang memaksaku untuk melakukannya.” Jawab Kyuhyun. Emosi masih bergelung dengan perasaan, melenyapkan rasa suka yang diam-diam menjamah hati.

“Apa maumu, hah?”
“Kau!” Suaranya menggelegar. Baru kali ini aku mendapati Kyuhyun begitu marah. Dia, agaknya sudah menemui batas kesabaran yang begitu dipujanya ketika menghadapiku.

“Dan sudah berapa kali aku katakan. Aku tidak menyukaimu. Jadi, berhenti merecokiku. Berhenti masuk dalam kehidupanku. Berhenti mengorek masa laluku. Kau, tidak punya kapasitas apa-apa untuk melakukan semuanya.” Ucapanku dalam satu kali tarikan nafas.

“Apa ini yang benar-benar kau inginkan?” Suara pria itu berubah datar. Dan aku seperti menyadari sesuatu. Tidak Kyuhyun! Ku mohon, jangan melakukannya, maafkan aku, bisikku dalam diam.
“Dan berhenti, muncul di hadapanku.”

 

 
@Seoul University – Kantin

Dan inilah ketakutan mencekam yang menjadi mimpi buruk dalam hidupku, tentunya setelah kejadian 3 tahun silam saat si “brengsek” itu kedapatan tengah bercinta dengan sepupuku sendiri. Aku mengadu-aduk tanpa minat jajangmyun yang ada di hadapan. Siluetnya, tidak pernah aku temui lagi di kampus. Kyuhyun menuruti permintaanku, dia benar-benar seperti hilang ditelan bumi.

Aku mendesah pelan. Meletakkan alat makan kembali ke tempatnya dan mendorong seporsi mie hitam lebih jauh dari jangkauan. Sebagai gantinya, dua tanganku sudah terlipat di atas meja dan memilih menatap pelataran kantin yang ramai. Ada harapan kecil dalam hati, meski hanya sepersekian detik saja, pria itu berjalan di depan sana dengan ekspresi wajah serius yang begitu ku rindukan.
Hanya satu kali kami berpapasan sekilas, saat dia baru keluar dari ruang dekan. Yang lebih membuat ulu hatiku seperti di remas, dia tidak memandang sedikit pun ke arahku. Berjalan begitu saja dan bercengkerama riang dengan mahasiswa baru itu. Tubuhku mematung kaku saat melihat tubuhnya yang semakin berjalan menjauh. Sudut mata hampir basah, tapi aku berhasil “menenangkan” perasaan yang memberontak, bersekutu dengan kesakitan untuk melawanku.

“Kau kenapa? Sakit?” Teman baikku itu mengecek suhu tubuhku dengan menempelkan punggung tangan ke dahi. Aku menepisnya pelan dan menggeleng sebagai jawaban untuk meyakinkan.

“Apa yang membuat pikiranmu tidak tenang Je Wo-ya? Belakangan ini, kau seperti orang linglung saja.” Mulut temanku yang semula penuh dengan makanan, kini berangsur kosong. Kerongongan sudah mengambil alih tugas untuk mencernanya.
“Tidak ada.” Jawabku pelan. Kepalaku luruh, mengamati lantai kantin yang sedikit kotor.

“Tapi, wajahmu semakin pucat saja. Benar kau tidak apa-apa?” Aku mendongak, lalu menangkup wajah dengan tangan.
“Apa benar?” Aku bertanya sedikit, ragu.
Dia mengeluarkan sesuatu dari balik tas punggungnya yang berwarna hitam. Menyodorkan cermin yang ukurannya tidak terlalu besar. Dengan menggunakan kode mata, dia seperti memerintahkan padaku untuk melihat wajah sendiri dari balik cermin. Aku menuruti. Dan benar saja, aku melihat wajah seorang gadis yang pucat pasi, mirip seperti mayat yang hidup di perkotaan.

“Kyuhyun.” Gumam temanku lirih. Tapi pendengaranku masih bisa menangkapnya. Kepalaku bergerak, mencari keberadaan pria itu. Dan tidak salah lagi, dia tengah berjalan ke arah salah satu meja kosong. Tidak sendiri, sejajar dengan tubuhnya, mahasiswa baru itu tersenyum manis saat Kyuhyun menarikkan kursi untuknya. Shit! Kenapa pemandangan seperti itu harus diumbar? Aku mengepalkan dua tangan dari bawah meja, denyutan nyeri itu, kembali ku cumbui.

Hanya dalam waktu singkat, suara tawa keduanya sudah memenuhi kantin. Sesekali, wanita itu meraih tangan Kyuhyun yang sukses membuat tulang-tulang tubuhku seperti dilolosi. Entah mengapa emosiku terbangun dari tidur panjangnya. Tidak salah yang menjadi alasanku, semua pria sama saja. Hari ini mengatakan cinta, lalu beberapa hari kemudian mencampakkannya.

Persetan dengan beberapa pasang mata yang terhunus tepat di manik mata saat aku mendorong kuat kursi kayu berwarna coklat hingga menghasilkan suara nyaring. Aku berjalan cepat, meninggalkan pemandangan laknat itu dan lebih memilih meringkuk di bawah selimut. Menikmati sisa-sisa pesakitan ini seorang diri tanpa siapa pun, adalah pilihan yang tepat.

 

@Seoul University – Pesta Kampus
Banyak sekali mahasiswa yang sudah memasuki aula kampus yang begitu luas. Menggunakan dresscode yang sudah ditentukan, ruangan berubah menjadi hitam gelap. Kalau teman baikku memilih menggunakan high hels dengan tumitnya yang mencapai 10 senti, berbeda denganku. Hanya flat shoes polos dengan manik-manik batu kristal dibeberapa sisi, membuatku jauh lebih nyaman.

Saat semua membaur dan bersenang-senang, aku memisahkan diri dari mereka. Memilih salah satu sudut ruangan yang sepi dan duduk pada satu-satunya kursi yang tertinggal di sana. Teman baikku entah pergi ke mana, si penyuka pesta itu, pasti sudah tenggelam dalam hingar bingar suara musik yang memekak. Ruangan ini tak ubahnya seperti diskotik besar yang berpindah tempat.

Diantara ratusan mahasiswa yang berjubel, pria itu ada di sana, dia baru datang. Tubuh tegapnya dibalut jas semi formal yang semakin memaparkan ketampanannya. Dia berjalan santai, sesekali menyapa beberapa mahasiswa pria yang merupakan teman sekelas. Aku meneguk kasar minuman nol alkohol yang sengaja ku ambil sesaat setelah datang. Bagaimana tidak, Song Jia, wanita yang paling membuatku muak dan ingin muntah, tiba-tiba saja bergelayut manja pada lengan kanan Kyuhyun. Membuat pria itu sedikit kaget, tapi hanya sebentar. Setelahnya, dua sudut bibirnya melengkung, memamerkan senyuman brengsek yang membuat darahku mendidih panas. Tahu seperti ini, salah saat aku memutuskan untuk datang.
Sudah berjam-jam semua larut dalam pesta. Dan dia, entah tidak menyadari atau berpura-pura tidak sadar, sekali pun tidak mencari keberadaanku, seperti yang biasa dia lakukan sebelum penolakan dramatis itu terjadi. Suara pemandu acara yang merupakan mahasiswa jurusan sastra membuat suara-suara berisik itu berubah senyap. Aku mengikuti pandangan semua orang, fokus kami tertuju pada mc yang akan menyampaikan kejutan. Ada seorang mahasiswa populer yang sebentar lagi akan mengutarakan perasaannya pada gadis yang dia inginkan. Cuih! Omong kosong apalagi itu? Terdengar menjijikkan sekali, tidak berbeda dengan drama murahan yang aku tonton di televisi.
Setelah aba-aba dari mc, ku lihat banyak wajah mengharap cemas dari sebagian perempuan yang masih single. Entah apa yang mereka harapkan. Terlalu naif kalau menganggap hal seperti ini seperti sebuah dongeng yang terwujud. Pangeran tampan dengan tuxedo putih yang berlutut disaksikan banyak orang saat menyatakan perasaannya pada salah satu dari mereka. Aku bangkit dan hendak keluar ruangan untuk mencari udara yang lebih sehat di sekitar taman saat hanya pria itu yang meringsek ke depan. Oh Tuhan! Jangan katakan kalau ini pertanda buruk. Aku tidak berharap perempuan yang dimaksud adalah aku. Kyuhyun sudah menyerah saat harga dirinya aku injak-injak tak bersisa.
Nafasku tercekat, dunia yang baru aku bangun dengan meletakkan kehidupanku dalam genggaman pria itu, lenyap dihancurkan badai berkepanjangan. Langkah-langkah panjangnya menuju pada satu titik fokus semua orang. Wanita berdarah China itu, bukanlah seorang yang bodoh. Dengan wajah yang sudah memerah seperti tomat busuk, dia menunduk malu. Dan aku, hanya sedang menantikan detik-detik eksekusi yang memilukan atas takdirku. Shin Je Wo, sudah habis di dalam otak pria itu. Tidak tersisa sedikit pun setelah ini.
Kyuhyun berlutut, mencium sayang tangan Song Jia. Dadaku sakit, menepuknya berkali-kali pun tidak menghasilkan apapun saat pernyataan cinta itu disambut dengan anggukan suka cita dari wanitanya. Aku berbalik, membekap mulut sekuat mungkin agar suara pekikan tangisku tersamarkan. Dan beruntung, bersamaan dengan tangisku yang pecah, riuh tepuk tangan itu menyelamatkan kehidupanku. Aku berlari, menjauh dari keramaian dan berjongkok di bawah sebuah pohon besar yang tampak menyeramkan. Menangis sejadi-jadinya hingga isakanku terdengar begitu memilukan. Kasihan sekali bukan, hidupku?
“Kenapa menangis? Bukankah, ini yang kau inginkan?” Di saat seperti ini pun, otakku masih bisa berhalusinasi tentang keberadaan pria itu di sekitarku. “Bodoh!” Umpatku lebih pada diri sendiri berkali-kali.
“Bangun!” Kenapa suaranya begitu nyata Tuhan? Apa, aku sudah gila karena terlalu menginginkannya.

Aku tersontak kaget saat jari-jari besar itu mencengkeram erat kedua lenganku. Menarik tubuhku paksa hingga mau tidak mau, aku mengikuti interupsinya untuk berdiri. Mataku membulat dengan ukuran diameter yang lebih besar dari ukuran normal saat pria itu “nyata” berdiri di hadapanku dengan ekspresi wajah yang datar.
“Inikan yang kau inginkan?”
Aku tidak menjawab dan mengunci rapat mulut. Menikmati suara pria yang sudah terlanjur aku sia-siakan keberadaannya selama ini.
“Jawab aku!” Teriaknya tepat di depan wajahku. Dia murka, marah besar dengan dadanya yang naik turun menahan emosi.
“A-aku…,” sialan! Kenapa suaraku jadi menyedihkan seperti ini. Bercampur tangis yang masih menyisakan isakan. Kyuhyun tidak mencecarku dengan pertanyaannya yang retoris seperti biasanya. Tangan pria itu menghapus sisa-sisa airmata dan merengkuh tubuhku ke dalam dekapannya yang begitu hangat.
“Aku tidak bisa menjanjikan apapun. Tapi, percayalah. Bahwa kemarin, hari ini dan seterusnya, aku selalu mencintaimu dengan caraku sendiri Je Wo-ya.” Bisiknya tepat di cuping kanan telingaku. Entah mendapat keberanian dari mana, aku membalas pelukan Kyuhyun. Kembali meletakkan takdirku dalam genggaman pria itu. Tapi itu hanya sebentar, sekarang ada pembatas diantara kami, Song Jia.
“Song Jia.” Gumamku dengan suara tipis.
“Tidak ada apa-apa diantara kami. Aku berterima kasih padanya, dia begitu apik memerankan karakternya dalam drama yang sudah kami rencanakan ini.” Kyuhyun tersenyum tulus. Jadi, selama ini, dia hanya sedang menyadarkanku dari kebodohanku tentang perasaanku sendiri. Aku tidak menimpali, justru berjinjit untuk menyejajarkan tubuh kami dan menempelkan bibir ranumku di atas bibirnya.
“Terima kasih.”
“Aku mencintaimu.”

 

 

@Seoul Hospital

Aku gila. Berlari serampangan di sepanjang koridor rumah sakit yang begitu mencekam dengan gaun putih yang menyapu lantai. “Ini hanya mimpi.” Sanggahku berkali-kali. Aku mengangkat ekor gaun yang membuat ruang gerakku banyak terbatasi, sulit untuk segera mencapai keberadaan “priaku”
Aku melihat ayah, ibu, dan kakak perempuan Kyuhyun tertunduk lemas di kursi tunggu ruang ICU. Langkah kakiku yang telanjang, berderap. Benar-benar kenyataan yang aku pikir hanya ada dalam sebuah adegan drama percintaan.
“Kyuhyun?” Suaraku bergetar. Aku tidak peduli dengan make up yang mungkin saja sudah luntur dan mengubah wajahku seperti badut. Kyuhyun di dalam sana sedang meregang nyawa, dan itu, jauh lebih penting dari apapun. Mobil yang ditumpanginya untuk sampai ke katedral pemberkatan pernikahan kami, menabrak pembatas jalan dan membuatnya berada di ujung maut.

“Je Wo-ya.” Ahra Eonni berhambur ke dalam pelukakanku dan menangis sejadi-jadinya begitu melihatku. Dari balik punggung wanita cantik ini, wajah ayah dan ibu Kyuhyun sangat kontras. Kalau aku masih bisa menangkap wajah memerah wanita baya itu, sisa-sisa kesedihannya yang tertuang melalui air mata, maka lain dengan calon ayah mertuaku. Aku tahu, dia sedang berusaha menjadi seorang penopang yang kuat dengan menyembunyikan kepedihan di depan keluarganya.

“Eonni. K-kyuhyun…,”
“Dia pasti selamat.” Masih terisak dalam pelukanku.
Pintu ruangan terbuka. Seorang dokter pria dengan usia yang tidak jauh berbeda dengan ayah Kyuhyun berjalan lunglai. Oh tidak! Jangan katakan apapun kalau itu hanya sebuah neraka bagi kami.

“Dokter…,” orang tua “priaku” berdiri. Menghampiri dokter yang sedetik tadi membuka masker untuk menyampaikan keadaan Kyuhyun.
“Maaf. Kami sudah berusaha. Tapi…,”
Oh Tuhan! Apalagi atas takdirmu ini. Salahkan? Tidak benarkan apa yang disampaikan oleh orang tua sialan itu. Aku menutup kedua telinga dan menggeleng cepat. Tidak membenarkan pernyataan yang baru sedetik tadi keluar dari mulut busuk pria itu.
“Kau bercandakan, dokter?” Aku menarik jas putih dokter Kim, begitulah marga yang aku baca dari tag namanya yang terpasang di sebelah kanan dada.
“Maaf…Tapi…,”

“Kau berbohong tua bangka!” Jeritku kalap. Hampir saja tubuhku menerjang pria itu dan memukul wajahnya hingga babak belur. Beruntung, ayah Kyuhyun menghentikan tindakan brutal dan mendekapku kuat. Aku meronta. Memukul kuat punggungnya lalu menangis sejadi-jadinya. Priaku, tidak mungkin aku kehilangannya secepat ini.

 

 

 
@Memorial Park.

Semua orang sudah berlalu. Hanya menyisakan diriku bersama irama ranting pohon yang saling bergesekan, menjadi lullaby tidur panjang “priaku”. Tanah itu sudah mengering, tapi gundukan yang masih tinggi, semakin meyakinkan siapapun, kalau yang terbujur kaku di sana baru saja berjalan beriringan bersama malaikat maut.
“Kyu…,”

Seberapa banyak pun aku memanggilnya, Kyuhyun tidak akan menggubrisku lagi. Tidak ada lagi yang mengganggu hidupku. Tidak ada lagi yang terseok mengejarku, dan, tidak ada lagi senyuman mengagumkan itu. Tubuhku luruh, bercumbu dengan tanah. Aku mendekap kesakitan ini erat-erat. Dadaku nyeri, bahkan udara susah sekali memasuki indra pembauku yang penuh dengan cairan menjijikkan karena tidak berhenti menangis.
“Kenapa harus secepat ini?” Kepalaku tergeletak di atas tanah yang menimbun tubuh Kyuhyun. Menjadikannya sebagai bantal favorite dan mengendusnya berkali-kali. Seolah ada veromon memabukkan di sana, yang dihasilkan dari lekukan leher pria itu ketika masih hidup.

Aku menekuri kesedihanku sampai senja memudar. Saat gradisi warna jingga itu menghilang, hanya kesepian yang memporak-porandakan malam-malam panjangku di hari berikutnya. Dan di sinilah semua kisah kami harus berakhir. Tapi, jangan harap dengan masa lalu dan perasaanku pada pria itu. Seperti yang pernah diucapkannya, begitu pun denganku, akan mencintai pria ini dengan caraku sendiri.

***

“YAK!!! SHIN JE WO, BANGUN!!!” Entah objek apa yang dijadikan alat untuk memukul kepalaku tanpa ampun. Wanita bengis itu sudah berdiri di samping ranjang dengan wajahnya yang mengerikan.
“Apa yang kau lakukan di sini, Eonni?” Tanyaku untuk memastikan. Nyawaku belum sepenuhnya kembali setelah mimpi mengerikan itu.
“Yang kau lakukan katamu? Hei! Sadar pemalas. Ini rumah siapa?” Tanyanya retoris.

“Memang rumah siapa?” Aku bangun dan terduduk di atas ranjang yang begitu WOW. Eh ranjang. Inikan… Tempat tidur bebek betina itu. Aku menggaruk kepala asal setelah sadar. Pantas saja dia murka, aku yang menjadi tersangka rupanya.
“Cepat bangun dan bereskan kamarku. Kau tidur layaknya babi saja. Berkali-kali menyebut nama suamimu itu dengan kalut. Kyuhyun, Kyuhyun, dan Kyuhyun.” Khutbahnya tanpa jeda. Astaga, membuat kepalaku berdenyut nyeri kalau penyakit cerewet si tua ini sudah kambuh.

“Eonni!!!”

“Oh Cho Kyuhyun, aku cinta padamu…,” godanya tanpa henti. Tawa renyah Han Cheonsa benar-benar tidak punya manner. Bagaimana bisa seorang Jung Il Woo tergila-gila dan rela menghabiskan sisa umurnya dengan wanita ini.
“Diam Eonni !!!” Skak mate! Bantal yang aku lempar, melayang tepat mengenai wajahnya yang sudah merah padam menahan emosi.
“Dan kau Shin Je Wo, CEPAT KELUAR DARI RUMAHKU!!!!”

The End

 

 

 

Shin Je Wo: Saya tau sodara-sodara, kalian pasti bingung sama endingnya wkwkwk ini ending ceritanya Shin Je Wo Cuma mimpi doankkkk biasalahhhhh si Omma kan kalau nulis suka-suka dia wkwkwk #Plakkk ini tuh dia buatin gegara ngerasa gak enak sama aku karena ngirim FF freelance gak berdasarkan ketentuan -_- pelissss udah kubilang khusus dirimu dan wowon itu BEBASSSSSS. Dan sejujurnya, aku lebih suka dibuatin dengan Hyukjae dari pada Kyuhyun *Dilempar sendal sama Kyuhyun* soalnya pemirsahhhh kalau ada salah satu diantara dua orang itu *Read Omma and Wowon, yang masuk jadi cast, rasanya rancu kalau aku dijadiin couple sama Kyuhyun wkwkwk.

 

Okelah… dinikmatin ajah ya….

 

 

Shin Je Wo

125 thoughts on “[Freelance] Nightmare

  1. Awal baca emang rada ndk ngerti..
    Alurnya juga kecepetan..
    Pas uda ngerti, eh malah ndk ngerti lagi #gwngomongapasih
    Tapi nih ff nipu banget yya..
    Ternyata cuma mimpi toh..
    Gokil abis eonni😀

  2. Haha sialan, dikerjain sama eonni. Ternyata cuma mimpi Je Wo >_<
    Tapi ngomong2 aku suka banget karakter Je Wo diatas, kren banget lah begitu juga dengan karakter Kyuhyun. Pokoknya ini daebak banget😀

  3. Ping-balik: Library | Shin Je Wo

  4. Jengkel baca awal2nya. Je wo jual mahal bgt. Bkin gregetan , pgen teriak ” je wo km bodoh !” bener2 menguras emosi baca ni ff. Kalo aq jd kyu udah aq tinggal cewk kyk gt hehe. Kirain kyu bneran meninggal, seru d0nk. E gak taunya mimpi buruk si je wo.

  5. jadi je wo udah nikah sma kyu, trus mimpi,. gtu di tempat tidurnya cheonsa??? :O
    Aiigoooo -_-” udah pngen nangis tpi stelah bca lnjutannya,. Brrrrrrrrrr >.<

  6. huaa. dari tadi obrak abrik library nemunya ko yang nyesek terus yak? wkwkwkwks~ a plus buat yang bikin ‘gue nangis, gue seneng, gue greget, gue gedek!’ ah dia mimpi😦 :v keren!

  7. etttttt dah bujukkk ane udah nangis bombay berderai derai lahh dalahhh ternyata hanya MIMPIIIIIIII ?! Hell
    oh iya ya judulnya aja nightmare kan pasti berhubungan sama malam yak >_< but gw gk peka terlalu trhanyut dg cerita

    BTW visualnya Je Wo itu maknae nya DAVICHI ya?? namanya kalau gk salah kang mingkyung? bener kaga? *Kepo😄

  8. etttttt dah bujukkk ane udah nangis bombay berderai derai lahh dalahhh ternyata hanya MIMPIIIIIIII ?! Hell
    oh iya ya judulnya aja nightmare kan pasti berhubungan sama malam yak >_< but gw gk peka terlalu trhanyut dg cerita

    BTW visualnya Je Wo itu maknae nya DAVICHI ya?? namanya kalau gk salah kang mingkyung? bener kaga? *Kepo😄😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s