[Freelance] You are Mine Chapter 1

you are mine

 

 

 Author of  Meidha Hapsari

 

 

Aku tahu, waktu memang tidak bisa di putar ulang. Tapi, setidaknya aku berusaha memperbaikinya sekarang. Anggap saja ini sebuah janji dariku, Shin Je Wo. Aku akan memilikimu dan membuatmu bahagia di sisiku, bukan hanya kau saja, tapi juga anak kita. Cho Hyunje. Jadi, aku mohon jangan salahkan aku jika aku bertindak egois dan kejam sekalipun. Karena kalian berdua adalah hidupku, alasanku sekarang untuk menjadi lebih baik. Aku, kau dan Hyunje,, memang seperti itulah formasi yang paling benar…

 

***

 

Je Wo menyesap tehnya sambil memandang ke arah luar kafe yang sedang ia kunjungi sekarang. Yeoja itu memandang datar pada sekumpulan orang-orang yang berlalu lalang dan melakukan aktivitas mereka di sana. Dia sangat tidak berniat mengamati itu sebenarnya, tapi karena seorang lelaki yang sedang duduk di hadapannya ini, dia jadi terpaksa melakukannya.

 

Kyuhyun, laki-laki itu menatap Je Wo tajam tanpa berkedip sedikitpun. Memandangi wajah datar milik wanita yang sedang memandang ke arah luar. Wanita itu tampak begitu cantik dengan baju sederhana dan rambut hitam yang tergerai bebas. Tampak sempurna di matanya.

 

Shin Je Wo mendengus sebal, saat Kyuhyun tidak kunjung bicara. Wanita itu menolehkan kepalanya dan mendapati Kyuhyun yang sedang menatapnya dengan tajam. Tiba-tiba saja perasaannya menjadi sedikit tidak terkendali. Je Wo memejamkan matanya sesaat dan mencoba mengusir semua pikiran gilanya tentang laki-laki dihadapannya.

 

Tidak. Dia sudah pernah berjanji untuk tidak memikirkan laki-laki itu lagi,. Dan dia harus konsisten dengan keputusannya itu.

 

Kyuhyun berdehem pelan dan menyesap kopinya, lalu mengalihkan pandangannya pada Je Wo.

 

“Kau! Bagaimana kabarmu sekarang?”

 

Je Wo memandangKyuhyun datar tanpa ekspresi. “Sejauh ini baik-baik saja.”

 

“Senang melihatmu sekarang, Shin Je Wo.” Kyuhyun memandang Je Wo dalam, menelisik setiap gambaran ekspresi dari wanita itu.

 

“Tapi aku tidak senang melihatmu, Cho.” Je Wo memandang Kyuhyun tidak peduli. Laki-laki itu terlalu menyimpan banyak kenangan menyakitkan untuknya dan dia tidak berniat untuk berhubungan dengan lelaki itu lagi.

 

“Aku tahu, dan aku sama sekali tidak berniat untuk memaksamu melihatku lagi.” Kyuhyun menghela nafasnya yang berat dan kembali memandang Je Wo. “Bagaimana keadaannya?”

 

Je Wo tampak mengerutkan keningnya tidak mengerti, namun akhirnya dia menyadari tatapan Kyuhyun yang memandangnya dalam. “Dia baik-baik saja. Sebentar lagi dia akan memasuki bangku sekolah.”

 

“Aku boleh melihatnya?”

 

Je Wo memandang Kyuhyun tajam, dia sama sekali tidak berniat mempertemukan laki-laki itu dengannya. “Tidak, Cho Kyuhyun! Aku tidak akan pernah membiarkan kau menemuinya. Biarkan semuanya berjalan seperti ini. Kau sudah memiliki kehidupanmu sendiri dan aku juga sudah hidup bahagia kini. Jadi, sebaiknya kau tidak merusak apa yang telah aku dapatkan kini.”

 

“Tapi aku ingin melihatnya. Setidaknya biarkan sekali saja aku melihatnya. Aku sudah begitu banyak menykitimu dengannya. Aku tahu itu, Shin, tapi aku hanya ingin melihatnya sekali saja. Tidak bisakah kau mengenyampingkan egomu dan membiarkan aku melihatnya?”

 

Je Wo memandang Kyuhyun kesal. Egois kata pria itu, sebenarnya siapa yang lebih egois di sini. “Egois kau bilang?” kyuhyun tampak tidak bergeming dan tetap pada argumennya tadi. “Kau menghamiliku di saat usiaku 16 tahun, Cho. Kau tidak mau bertanggungjawab dan membuatku harus menanggung beban itu sendirian.” Wanita itu berubah menjadi dingin dan menampakkan tatapan kebencian pada Kyuhyun. “Aku sampai harus pergi ke luar Korea, karena tidak ingin mendengar cemooh orang tentang diriku dan keluargaku. Kau tidak tahu bagaimana hancurnya aku saat itu. Kalau bukan karena kedua orang tuaku yang menyemangatiku, mungkin sekarang aku sudah merasa frustasi, Cho. Kini setelah enam tahun berlalu, kau meintaku untuk mempertemukanmu dengannya. Di mana kau letakkan otakmu itu, huh?”

 

kyuhyun tercengang, semua yang di katakana oleh Je Wo memang benar, dia memang laki-laki brengsek. Waktu itu dia hanya seorang pria labil berusia 20 tahun, yang sedang mencoba bereksplorasi dengan dunianya. Hingga dia melakukan sebuah kesalahan yang bahkan dia belum berani untuk mempertanggujawabkannya, dia lebih memilih pergi dan melarikan diri saat itu.

 

Dia bahkan tidak sempat memikirkan keadaan Je Wo, dan segala sesuatu yang terjadi pada wanita itu. Sampai akhirnya enam tahun setelah kejadian itu, dia melihat wanita itu sedang berada di sebuah kafe sambil menggandeng seorang anak laki-laki yang begitu mirip dengannya.

 

Dan pada pandangan pertama, dia langsung bisa mengenali anak laki-laki itu. Dan setelah mencari informasi dengan menyewa seorang detektif swasta, akhirnya di menemukan kenyataan itu. Kenyataan yang begitu menohok hatinya. Wanita itu dulu ternyata hamil karena perbuatannya dan melahirkan seorang anak laki-laki. Membesarkannya seorang diri dan hidup di Jerman.

 

Wanita itu tidak pernah berusaha mencarinya. Dia menanggung beban itu sendirian, membesarkan anaknya sendiri. Bekerja dan berusaha mandiri untuk hidupnya dan anaknya. Menyedihkan. Bahkan Kyuhyun sebagai laki-laki saja melarikan diri. Astaga… brengsek sekali dia.

 

“Aku pergi.” Je Wo berdiri dan menatap Kyuhyun datar.

 

Wanita itu berjalan ke arah pintu keluar tanpa bisa Kyuhyun cegah. Kakinya terlalu berat untuk mengejar wanita itu. Kyuhyun memerhatikan pundak Je Wo yang hampir menghilang. Pundak yang terlihat kokoh itu, bagaiman keadaannya dulu?  Laki-laki itu memejamkan matanya dan mengepalkan tangannya. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Dia tidak mungkin menutup mata dengan kehidupan wanita itu. Tidak, setelah dia tahu bahwa dia sekarang memiliki seorang anak. Dia tidak akan melepaskan wanita itu. Dia akan memiliknya, bahkan jika harus memaksanya sekalipun dia tidak akan peduli.

 

Kyuhyun mengambil telphone genggamnya dan menghubungi sebuah nomor, tampak serius dengan wajah dinginnya.

 

“Hallo, Hyung. Aku perlu bantuanmu.” Kyuhyun tampak mengangguk dan kemudian menaruh telphone genggamnya di saku celananya lagi. Dia bangkit dan keluar dari kafe itu, mengendarai mobil audinya yang berwarna silver dengan kecepatan penuh menuju ke suatu tempat.

 

***

 

Je Wo memandang anaknya  yang sedang memainkan psp dengan sangat serius. Wanita itu teringat pertemuannya dengan Kyuhyun tadi siang. Kenapa laki-laki itu bisa menemukannya? Bukan, tapi kenapa laki-laki itu ingat dengannya? Je Wo mendesah gusar. Laki-laki itu tahu tentang anaknya. Apa yang harus ia lakukan sekarang. Dia tidak mungkin mempertemukan anaknya dengan laki-laki brengsek itu. Dia terlalu takut, dan dia tidak mungkin bisa bertahan pada akhirnya.

 

Je Wo memejamkan matanya dan kembali teringat bayang-bayangannya di masa lalu. Masa lalu yang begitu memalukan dan memilukan. Dia tidak pernah menyebut anaknya sebagai aib atau apapun itu. Anaknya adalah segalanya untuknya dan dia bersyukur untuk itu. Dia akan bertahan. Membesarkan anaknya dan mempertahankan kebahagiaannya kini.

 

Hyunje membanting kasar psp-nya di atas sofa dan mengerucutkan bibirnya kesal. Je Wo tergelak memandangi putranya itu. Hyunje terlihat uring-uringan dan memandang Je Wo datar.

 

“Kau kenapa, eo?”

 

“Aku kalah dengan game menyebalkan itu, eomma. Ahhh aku kesal.” Hyunje menegakkan tubuhnya dan memandangi psp-nya sengit.

 

Je Wo menggelengkan kepalnya dan berdecak kesal. “Siapa suruh kau memainkan permainan menyebalkan seperti itu? bukankah sudah kuingatkan untuk tidak memainkan benda mengerikan itu. lihatlah sekarang!”

 

Hyunje hanya mengeucutkan bibirnya dan duduk di samping Je Wo. Menyandarkan badannya yang kecil itu pada sandaran sofa, dan melipat kedua tangannya di depan dada. “Aku bosan eomma. Bisakah kita bejalan-jalan?” Hyunje menatap Je Wo dengan pandangan memohonnya yang khas.

 

Wanita itu ikut menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa, sambil menatap putranya. “Aku begitu sibuk akhir-akhir ini. Mungkin akhir pekan aku baru bisa memiliki waktu luang.”

 

“ck.. menyebalkan.” Hyunje berdiri dan menuju ke kamarnya.

 

Je wo memperhatikan punggung anak itu dan tersenyum kecil, sebelum memutuskan untuk menyusul anak itu ke kamranya. “Hyun Je-ya, malam ini eomma tidur denganmu eo?”

 

“Shireo. Aku sudah besar, eomma. Aku tidak ingin tidur denganmu lagi.”

 

Je Wo menggendong Hyun Je dengan sengaja, dan menidurkannya di kasur anak itu.

 

“Yakkk… eomma menyebalkan.”

 

“Sudah, tidurlah!” Je Wo memeluk erat tubuh anaknya itu sambil mengusap kepala putranya. Membiarkan pikirannya sejenak berhenti.

 

“Ck.. jaljayo, eomma!”

 

“Jaljjayo, Hyunje-ya.” Je Wo menutup matanya dan nafasnya mulai teratur. Dia hanya butuh Hyun Je dan semuanya akan baik-baik saja.

 

***

 

Je Wo mengikat rambutnya tingi-tinggi sambil memandangi layar monitornya. Tangan wanita itu bergerak lincah di atas toombol keyboard. Matnya bergerak jeli mengoreksi setiap kata yang ia baca.

 

“Hey, Shin Je Wo, kau tidak mau ikut makan siang?” Kim Hye Ra, mendekati Je Wo sambil menepuk pundaknya.

 

Je Wo menoleh dan meringis sambil menunjukkan layar monitornya. “Aku masih banyak pekerjaan, sepertinya aku makan di sini saja.”

 

“Kau ingin pesan sesuatu?”

 

Je Wo tersenyum cerah dan menganggukkan kepalnya. “Aku ingin secangkir teh, kalau kau tidak keberatan.”

 

Hye Ra menganggukkan kepalanya dan berjalan pergi meninggalkan Je wo. “Aku pergi dulu.”

 

“Terimakasih Hye Ra-ya.’

“Sama-sama.”

 

Je Wo menyandarkan punggungnya pada kursi dan memejamkan matanya. Wanita itu membuka matanya lagi lalu mengambil poselnya yang ia taruh di samping monitor komputernya. Wanita itu menempelkan ponselnya pada telinganya dan menungu sampai terdengar nada sambung dari ponsel tu.

 

“Eomma..”

 

wanita itu tersenyum kecil sambil mengetuk-ngetukkan jarinya pada meja kerjanya. “Kau sedang apa?”

 

“Aku sedang jalan-jalan di mall bersama harabae. Wae?” Je Wo mendecak kesal, anaknya ini memang tidak ada manis-manisnya, ya? Ah tidak, Hyunje lebih dari sekedar manis untuknya.

 

“Kau tidak merindukanku? Padahal aku bersusah payah untuk menelponmu.”

 

“Ck.. aku sedang sibuk, eomma.”

 

“Memang kau sedang melakukan apa?”

 

“Aku sedang main game di game center.”

 

“Yakk.. Hyun Je-ya.. koleksi gamemu saja sudah terlalu banyak di rumah dan kau masih menyempatkan dirimu di tempat mengerikan seperti itu. aigooo… “

 

“Haishh eomma kau menyebalkan . sudahlah, annyeong.”

 

Klikk

 

“Astaga, anak ini. Tsskk.” Je Wo meletakkan ponsel genggamnya dan memandangi layar monitornya lagi. Wanita itu kembali tenggelam ke dalam dunia kerjanya.

 

***

 

Hyunje memandang senang ke arah sebuah game center. Langkah kakinya seperti terhipnotis ke tempat itu. setelah membujuk kakeknya  dengan segala akal liciknya, akhirnya ia mendapatkan ijin dari ayah Je wo itu, dengan syarat sang kakek tidak ingin menemani bocah kecil itu dan memilih untuk menikmati makanan kafe di samping game center itu.

 

“Woahh.. tempat sebagus ini, kenapa eomma sering menyebutnya sebagai tempat yang mengerikan? Ck.. dasar eomma payah.” Hyunje mengedarkan matanya ke penjuru ruangan game center itu, dan menemukan tempat game favoritnya. Bocah itu segera menghampiri tempat itu dengan mata yang berbinar-binar dan bibir melengkung, menampakkan senyum menawannya.

 

Hyunje duduk di salah saru bangku dan mulai memainkan jarinya pada toots keyboard. Berkonsentrasi penuh membunuh semua musuhnya dalam permainan itu dengan raut wajah yang sangat serius. Sesekali bibir kecilnya mengeluarkan desisan kecil saat nyawa tokoh yang ia mainkan terancam.

 

“Yakk… aishh..” hyunje masih saja serius dengan permainannya dan tidak menyadari seseorang memrhatikannya dengan intens.  “Mati kau… ah.. yak…” mulut bocah itu tidak berhenti terbuka mengikuti alur permainan gamenya, membuat lelaki yang memerhatikannya tertawa geli.

 

Benar-benar mirip.

 

“Yeah.. kau memang hebat Hyunje-ya..” hyun je tersenyum senang saat memnangkan permainannya. Bocah itu beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju pintu keluar game center itu, menghampiri kakeknya yang sedang menimati secangkir kopi di samping tempatnya bermain game tadi.

 

“Harabae, aku sudah selesai. Ayo kita pulang!”

 

“Oh.. kau tidak ingin makan dulu?”

 

Hyunje menggeleng kuat dan memilih untuk menyeret tangan kakeknya ke luar dari kafe itu. “Aku makan di rumah saja. Ini sudah sore,mungkin eomma sebentar lagi pulang.” Tuan shin mengangguk dan menuruti permintaan cucu lelakinya itu.

 

“Baiklah.” Tuan Shin berniat menggandeng tangan Hyunje , yang tentu saja di tolak mentah-mentah oleh bocah itu.

 

Setelah kakek dan cucuc itu pergi, tampak laki-laki yang mengamati Hyunje tadi menelfon seseorang, seperti hendak melaporkan sesuatu.

 

“Yobboseyo.”

 

“Bagaimana?”

 

“Dia benar-benar mirip denganmu. Ck.. bagaiman kau memiliki anak yang sama maniak game-nya denganmu.” Lelaki di seberang sana tampak terkekeh kuat.

 

“Hahahaha… tentu saja karena dia putraku.”

 

“Haish.. baiklah, pekerjaanku hari ini selesai dan aku tidak ingin di ganggu lagi Kyuhyun-ah.”

 

“Gomawo hyung, aku akan mentraktirmu nanti.”

 

“Ya, kau memang harus mentraktirku.”

 

Klikk..

 

Sambungan telfon terputus, dan laki-laki itu tersenyum kecil.

 

Lihatlah, namdosaeng kecilnya kini sudah mempunyai seorng anak. Dan menyebalkannya lagi, anak itu terlihat begitu mirip dengannya. Benar-benar.

 

‘Ku harap dia tidak seperti bocah setan itu’ .

 

***

 

“Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau tersenyum mengerikan seperi itu?”

 

“Astaga nuna.. kau mengagetkanku saja.” Kyuhyun memandang Ahra tajam, sambil mengelus dadanya yang di balas kedikan tidak peduli dari wanita itu.

 

“Salahmu sendiri bertingkah seperti orang gila begitu.” Ahra memicingkan matanya ke arah Kyuhyun dan mendekati adik laki-lainya itu, “Kau sedang tidak terkena gangguan jiwa atau sebaliknya, kan?”

 

“Cih.. kau pikir aku afalah kau. Dasar wanita gila.” Kyuhyun menatap Ahra kesal, memundurkan kursinya ke belakang untuk menajuhi Ahra.

 

“Hei, adik.. sepertinya yang gila itu kau. Kuperhatikan akhir-kahir ini kau sering banyak tesenyum. Sungguh berbeda dengan keadaanmu yang biasanya.”

 

“Memang biasanya aku seperti apa?” kyuhyun memandang Ahra datar dan melangkahkan kakinya menuju pantry yang ada di sudut ruang kerjanya. Menuangkan wine ke dalam gelasnya, sebelum menyesapnya pelan.

 

“Kau laki-laki kaku dan dingin. Jarang tersenyum, lebih sering mengeluarkan seringaian setanmu itu, dan tiba-tiba akhir-akhir ini menjadi lebih banyak tertawa. Wah.. aku benar-benar penasaran dengan apa yang sedang terjadi padamu.” Ahra menekati Kyuhyun dan merebut gelas wine yang sedang di pegang lai-laki itu, kemudian menyesapnya tanpa rasa sungkan, membuat adik laki-lakinya menatapnya kesal.

 

“Dasar menyebalkan.”

 

“Memang.”

 

“Hei nuna, aku ingin mengatkan sesuatu padamau?”

 

“Wae?” ahra memandang Kyuhyun yang sedang memainkan jarinya pada botol wine di hadapannya. Laki-laki itu seperti menimbang-nimbang sesuatu. Dia ingin sekali menceritakan tentang Hyun Je dan Je Wo pada Ahra, mengingat wanita itu satu-satunya orang yang begitu ia percayai dengan penuh.

 

“Bagaiman jika aku memiliki seorang anak?”

 

Ahra menatap adiknya itu dengan bingung. “Apa maksudmu adik?”

 

“Bagaimana jika ternyata aku memiliki seorang anak, nuna?” Kyuhyun mendongakkan kepalanya, laki-laki itu menatap Ahra dengan pandangan matanya yang tajam.

 

“Aku benar-benar tidak mengerti maksudmu.” Ahra mengernyit  bingung.

 

“Bagaimana jika aki menghamili seorang wanita dan sekarang wanita itu melahirkan anakku, nuna?”

 

“Tunggu sebentar, adik, apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan padaku?” Ahra memandang Kyuhyun serius. Laki-laki itu menghela nafasnya pelan sebelum akhirnya menatap tajam kak perempuannya itu. dia memang tidak bisa menyembunyikan apapu dari kakaknya itu, dan untuk hal yang sangat penting seperti ini, sebaiknya dia juga harus menceritakannya pada Ahra.

 

“Aku mempunyai anak.” Kyuhyun berkata dengan nada tegas dan tidak ada keraguan sedikitpun di sana.

 

“Kau bercanda.” Ahra tadinya hanya tertawa menanggapi ucapan Kyuhyun yang menurutnya gila itu. namun raut wajahnya seketika berubah ketika mendapati  wajah Kyuhyun yang serius dan tatapan matanya yang seolah menyiratkan suatu kebenaran. Kyuhyun tidak pernah memberikan tatapan seperti itu, kecuali jika… Ahra memandang Kyuhyun shock “Apa katamu? Astaga.. jangan bercanda, adik, ini tidak lucu.”

 

“Aku tidak membohongimu, aku juga sama terkejutnya, nuna. Tapi mau bagaimana lagi, aku sudah teralanjur membuatnya ada.”

 

“Dengan siapa kau membuatnya?” ahra memandang Kyuhyun serius, sambil melipat ke dua tangannya di depan dada.

 

“Shin Je wo, wanita itu ku hamil saat usianya baru 16 tahun” kyuhyun mengambil gelas wine nya yang sempat Ahra letakkan tadi dan meneguk isinya sampai habis.

 

“Dasar laki-laki brengsek.”

 

“Memang, dan sialnya aku sekarang menginginkan wanita itu dan anakku lagi.”

 

“Kenapa kau dulu mencampakan mereka, jika akhirnya sekarang kau menginginkan mereka Kyuhyun-ah?” kyuhyun menatap nanar gelas wine-nya yang sudah kosong sambil tersenyum kecut.

 

“Aku terlalu pengecut waktu itu. aku meninggalkannya begitu saja, setelah aku mengambil barang yang begitu berharga dari tubuhnya. Aku buntu, mana bisa aku berpikir saat itu. aku masih terlalu muda, dan kau masih ingatkan, betapa terkekangnya aku karena appa.” Kyuhyun menuangkan wine-nya lagi ke dalam gelas, menggoyang-goyangkan gelas itu pelan. Ahra menatap adiknya nanar. Ok.. dia tahu betapa frustasinya Kyuhyun saat itu karena tekanan ayahnya. Tapi dia juga tidak bisa membenarkan kelakuan adiknya yang bejat itu.

 

“Berapa usia keponakanku itu sekarang?”

 

“Usianya enam tahun, dia seorang laki-laki dan begitu mirip denganku.” Kyuhyun tersenyum sayang ketika membicarakan Hyun je.

 

“Jadi anak itu yang membuatmu akhir-akhir ini banyak tersenyum?” kyuhyun mengangguk, tidak berusaha menyangkal pertanyaan kakanya itu. “Aku jadi ingin melihatnya.”

 

“Aku bahkan baru berencana menemuinya hari ini.”

 

“Dasar payah.”

 

Kyuhyun memandang Ahra datar dan memilih untuk tidak menanggapi ucapan wanita itu

 

“Jadi, apa yang akan kau lakukan setelah ini?”

 

“Aku kan membuat Je wo menjadi mlikku dan tentunya anakku juga. Mungkin ini agak sedikit kejam, tapi aku akan berindak egois kali ini.”

 

“Terserah padamu, asal kau tidak melukai mereka saja.”

 

“Untuk itu aku memerlukan bantuanmu nuna.” Kyuhyun memandang kakanya dalam, membuat Ahra mengerti betapa seriusnya adik lelakinya ini.

 

“Apa? Aku akan membantumu,  tapi itu tidak gratis.” Ahra menatap Kyuhyun jahil, membuat adiknya itu mendengus tidak percaya.

 

“Dasar gila. Kau masih meminta imbalan dariku, di saat situasi seperti ini? Benar-benar tidak bisa di percaya.” Kyuhyun menggelengkan kepalanya dan tertawa geli.

 

“Tiket perjalanan ke LA, akomodasi hotel dan satu kartu kredit penuh. Bagaimana?”

 

“Setuju.” Ahra mengedipkan sebelah matanya pada Kyuhyun.

 

“Jadi, apa yang harus aku lakukan?”

 

“Kau hanya perlu menghandle appa dan membantuku mendekati Je wo, selebihnya kita pikirkan nati.”

 

“Baikalah.”

 

Kyuhyun menyambar jasnya yang tersampir di kursi kerjanya dan melangkah ke luar.

 

“Kau mau kemana?”

 

“Menemui Hyunje.”

 

Ahra tersenyum riang dan mendekati Kyuhyun.

 

“Aku boleh ikut?” ahra mengeluarkan tatapan memohonnya yang tentu saja tidak mempan untuk Kyuhyun.

 

“Tidak, lain kali saja, sekarang aku hanya ingin menemuinya sendiri.”

 

Ahra berdecak kesal sebelum akhirnya mengalah pada namdosaengnya itu. “Ck.. ya sudah. Pergi sana!”

 

Kyuhyun melangkah ke luar ruang kerjanya. Dia harus menemui anaknya sekarang, atau dia akan segra mati sekarat karena menginginkan ke dua orang itu. dia akan mendapatkan mereka, bagaimanapun caranya, bahkan ketika ia harus bertindak egois sekalipun, dia tidak peduli. Mereka akan bahagia jika berada dalam pelukannya, dan itu sudah pasti.

 

***

 

Je Wo sedang menyiapkan air hangat untuk Hyunje mandi, saat suara bel aprtement-nya berbunyi memekakan telinga.

 

“Eomma, ada tamu.”

 

Je Wo bergegas keluar dan menghampiri putranya. Matanya membelalak lebar saat mendapati tamu yang berkunjung dirumahnya tidak lain dan tidak bukan adalah laki-laki itu. Cho Kyuhyun. Berdiri angkuh dengan memakai setelan jasnya yang terlihat berkelas serta tatapan matanya yang tajam dan ekspresi mukanya yang masih dingin.

 

“Untuk apa kau kemari?”

 

“Bertamu, memang kau pikir apa lagi?” Kyuhyun memandang Je Wo datar, membuat yeoja itu mengepalkan ke dua tangannya.

 

“Pergi kau dari sini, Cho Kyuhyun!”

 

“Ck.. kau berisik sekali.” Kyuhyun tidak memerdulikan Je wo dan mengalihkan pandangannya pada Hyunje.

 

“Hei, kau mau main ini tidak?” Lyuhyun mengelurakan dua buah psp limited edition dari saku jasnya dan memerlihatkannya pada Hyunje.

 

Mata bocah itu langsung berbinar bahagia, ketika mendapati benda yang selama ini ia incar. “Woah… ajjusi, bagaimana kau mendapatkan benda cantik itu? Berbulan-bulan aku menginginkannya dan berusaha mati-matian merayu eomma tapi tidak berhasil juga.”

 

Kyuhyun mengacak rambut Hyunje dan memberikan satu psp yang ia pegang. “Ige, ini milikmu sekarang.”

 

Hyunje menerimanya dengan senyum lebar dan memerhatikan psp itu dengan takjub. “Ini gratiskan?” Kyuhyun mengangguk dan tersenyum kecil. Lihatlah betapa miripnya ia dengan putranya itu, mereka terlihat seperti duplikat bukan, dia seperti bercermin dengan masa kecilnya dulu.

 

“Kau mau bermaindenganku tidak ahjjusi?”

 

“Tentu saja. Kajja!”

 

“Yak.. Hyunje-ya, kau harus mandi, kembalikkan benda terkutuk itu pada Cho Kyuhyun!” Je Wo  memandang Hyunje garang yang di sambut cengiran tidak berdosa  oleh bocah itu.

 

“Ini terlalu sayang untuk di lewatkan eomma, lagipula ahjjusi ini mau menemaniku bermain.”

 

Je Wo masih memandang anaknya itu tidak suka. “Tidak, Hyunje-ya. Kau mandi sekarang, atau aku akan membanting benda terkutuk itu.”

 

Hyunje mendesah gusar, akhirnya menyerah karena Je Wo mulai berkacak pinggang. Wanita itu agak sedikit menyeramkan ketika marah, dan dia tidak akan segan-segan membanting psp-nya. “Ahjjusi, kita bisa memainkan benda ini nanti. Aku mandi dulu, sebelum wanita itu menghancurkan benda cantik ini.” Hyun je mengancungkan psp-nya ke hadapan Kyuhyun dan berjalan ke arah kamar mandi di kamarnya.

 

Je Wo menatap Kyuhyun geram. Astaga.. pria itu baru saja masuk lagi ke dalam hidupnya dan mengacak-acaknya dengan sembarangan. Seharusnya dia cekik saja leher laki-laki itu.

 

“Pergi dari rumahku!”

 

“Aku sudah berjanji pada Hyunje untuk menemaninya bermain. Berhenti menyuruhku keluar dan tenanglah!” Kyuhyun memandang Je Wo dan mendudukkan tubuhnya di sofa.

 

“Aku tidak suka melihatmu dan aku tidak ingin anakku mengenalmu. Lebih baik kau pergi sekarang atau aku akan menyeretmu pergi dari sini.” Je Wo masih memandang Kyuhyun tajam, membuat laki-laki itu menghembuskan nafasnya berat.

 

Kyuhyun menatap Je Wo sesaat sebelum tangannya menarik pergelangan tangan wanita itu. Membuat Je Wo jatuh di atas tubuhnya. Je Wo memberontak, tapi percuma saja, kakinya sudah di kunci oleh kaki Kyuhyun dan ke dua tangannya di pegang erat oleh laki-laki itu.

 

Kyuhyun memandang Je Wo intens, menelusuri wajah wanita itu yang begitu sempurna. Wanita itu tidak berubah, tetap terlihat cantik seperti enam tahun yang lalu. Wajah dinginnya akan terlihat sangat bersinar ketika bola matanya itu berbicara. Adakah yang memberitahunya bahwa wanita di hadapannya ini begitu memesona.

 

“Lepaskan aku!”

 

Kyuhyun tidak menanggapi permintaan Je Wo dan memilih memandangi wanita itu. “Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkanmu. Walaupun aku harus bertindak egois dan kejam sekalipun, aku tidak peduli. Kau terlalu berharga untukku dan aku tidak akan melepaskanmu.”

 

“Apa yang baru saja kau katakan, Cho? Tidak melepaskanku? Memang kau pikir selama ini siapa yang melepaskanku? Kau seharusnya tidak pernah datang lagi ke dalam kehidupanku. Kehidupanku sudah mulai membaik sekarang dan kau tidak perlu merusaknya lagi.”

 

Kyuhyun terdiam, laki-laki itu tidak menunjukkan ekspresi apapun. Matanya tetap intens memandang Je wo.

 

Mereka berdua terdiam, membiarkan suasana hening beredar di sekitar mereka. Mata mereka hanya saling menatap. Membiarkan pikiran mereka bekerja sendir-sendiri. Waktu memang tidak bisa di kembalikan. Kyuhyun tahu itu. Tapi, bukankah waktu dapat di perbaiki. Yang terpenting bukan kenangan masa lalu, tapi kenangan yang kita buat di masa depan.

 

Kyuhyun melepaskan ke dua pergelangan tangan Je Wo dan beralih memeluk pinggang wanita itu. Menenggelamkan kepalanya pada leher jenjang Je Wo, menghirup aroma tubuh wanita itu yang terasa seperti kafein menyegarkan di pagi hari.

“Lepaskan aku, Cho!”

 

“Sebentar saja, setidaknya biarkan sebentar saja.” Kyuhyun menenggelamkan suaranya dalam-dalam pada leher wanita itu. Dia hanya butuh seperti ini untuk memantapkan hatinya.

 

“Eomma…” Hyunje menatap Kyuhyun dan Je Wo dengan alis yang terangkat, membuat kedua orang itu segera melepaskan diri. Je Wo berdiri menghampiri Hyunje dengan wajah yang masih agak sedikit gugup.

 

“Kau sudah selesai mandi, eo?”

 

“Ck.. tentu saja sudah eomma, memangnya kau tidak bisa melihatnya?” Hyunje melangkah melewati Je Wo menuju Kyuhyun, mengeluarkan psp-nya, bermaksud mengajak Kyuhyun untuk segera bertanding game yang tentu saja di tanggapi senang hati oleh laki-laki itu. Mereka berdua segera duduk berdampingan dan menyalakan psp-nya masing-masing, mengabaikan tatapan tajam Je Wo yang jelas-jelas di tujukan untuk dua laki-laki berbeda generasi itu.

 

“Ahjjusi, kita bertanding game ini saja bagaimana?”

 

“Baiklah.”

 

Hyunje dan Kyuhyun mulai larut dalam permainan game mereka. Je Wo mendesah pasrah, ke dua lelaki itu memang memiliki kebiasaan yang sama jika sudah menyangkut tentang game. Dan mereka pasti akan berubah menjadi orang yang sangat menyebalkan jika permainan game mereka di ganggu.

 

Je Wo memilih untuk memasuki kamarnya. Tidak memerdulikan suara memekakan telinga yang di timbulkan oleh kedua lelaki itu. Dia merebahkan dirinya di atas kasur, menyandarkan kepalanya pada dasbor ranjang.

 

Wanita itu memejamkan matanya, memijit keningnya, berharap bisa membantu menenangkan saraf otaknya yang ia rasa bekerja dua kalilipat lebih keras sejak pria itu datang kembali ke kehidupannya.

 

Wanita itu mulai rileks, hingga tanpa sadar matanya telah benar-benar terpejam erat, masuk ke dalam alam bawah sadarnya.

 

 

“Ayo kita berpacaran.”

 

Je Wo membulatkan matanya tidak percaya mendengar ucapan laki-laki di sampingnya. Mereka bahkan baru bertemu beberapa jam yang lalu dan laki-laki itu seenaknya mengajaknya untuk berpacaran.

 

“Kau gila.” Je Wo mendesis kesal dan mengalihkan pandangannya pada sunngai di depannya.

 

Kyuhyun tersenyum kecil kemudian menjatuhkan tubuhnya pada rerumputan yang terasa agak sedikit basah. Laki-laki itu tidak memerdulikan bajunya yang kemungkinan akan menjadi kotor karena tanah yang lembab.

 

“Aku memang gila, mungkin.” Kyuhyun nampak berguman sambil menerawang menatap langit yang terlihat sedikit mendung.

 

“Nah kan, kenapa kau tidak mencoba untuk masuk ke rumah sakit jiwa saja?”

 

“Akan kupertimbangkan. Dan selagi aku belum mengambil keputusan, bisakah kau menerima tawaranku?” Kyuhyun mengalihkan pandangannya pada Je Wo yang masih tampak memandang ke arah sungai.

 

Je Wo tiba-tiba saja mengalihkan pandangannya ke arah Kyuhyun. Wanita itu tampak mengamati wajah Kyuhyun yang sedang memandangnya tanpa ekspresi. Laki-laki itu memang tampan. Berapa kira-kira usianya, yang pasti laki-laki itu terlihat sudah dewasa tidak seperti dirinya yang masih berlabel anak SMA. Tiba-tiba saja Je wo merasa perlu untuk menanyakan umur pria itu.

 

“Berapa umurmu?”

 

“Kenapa?” Kyuhyun masih memasang raut wajahnya yang datar, membuat Je Wo agak sidikit menjadi kesal.

 

“Berapa umurmu Tuan?”

 

“Ck.. aku tidak setua itu.” Kyuhyun mendecakkan lidahnya tidak suka.

 

“Kau tidak memberitahukan namamu padaku. Jadi aku harus memanggilmu apa? Lagipula, kau tidak terlihat seperti seumuran denganku.”

 

“Tentu saja, kau fikir aku masih bocah sepertimu?”

 

“Yakkk.. siapa yang kau katakan bocah, bodoh?”

 

“Kau, memang siapa lagi?” Kyuhyun tersenyum geli ketika melihat raut wajah Je Wo yang cemberut. Wanita itu mengerucutkan bibirnya ke depan dan melipat tangannya di depan dada. Terlihat sangat luar biasa dalam balutan busana SMA nya.

 

Kyuhyun memang gila. Bagaimana bisa ia terpesona dengan bocah SMA seperti Shin Je Wo ini? Dia benar-benar tidak habis pikir, begitu banyak wanita dewasa yang mencoba merayunya, namun tidak ada satupun yang tinggal dihatinya. Baginya wanita adalah sebuah mainan, tidak lebih dari itu. Tempat ia bersenang-senang dan melepaskan hasratnya sebagai seorang lelaki dewasa. Dan tiba-tiba saja sekarang ia harus terjerat pesona seorang remaja labil yang entah sudah memasuki umur 17 tahun atau belum. Benar-benar tidak masuk akal.

 

“Shin Je wo!”

 

“Apa?”

 

Kyuhyun tersenyum miris menatap Je Wo. Laki-laki itu menarik pergelangan tangan Je Wo, membuat wanita itu terjatuh diatasnya.

 

“Yakkk…” Je Wo menatap Kyuhyun tajam, namun wanita itu tiba-tiba terdiam ketika bertemu dengan pandangan mata Kyuhyun yang tampak lelah. Laki-laki itu memasang wajah sedingin esnya, namun mata laki-laki itu tidak bisa membohongi Je Wo.

 

“Kau kenapa?”

 

“Tidak apa-apa.” Kyuhyun mengarahkan jemarinya merapikan rambut Je Wo. Kemudian menatap wanita itu  lagi dengan pandangan matanya yang tajam.  “Bagaimana aku bisa segila ini karenamu? Katakan padaku, bagian mana dari dirimu yang bisa menyeretku sampai seperti ini? Katakan padaku, Shin Je wo!”

 

Je Wo memandang Kyuhyun tidak mengerti. Kyuhyun menghembuskan nafasnya pelan sebelum akhirnya mendekap tubuh mungil Je Wo. Merasakan kehangatan tubuh wanita itu yang mulai menular ke tubuhnya.

 

“Shin Je wo, aku mohon menetaplah disisku!”

 

***

 

Je Wo membuka matanya ketika dia akhirnya berhasil bangun dari tidurnya. Mata wanita itu menatap nyalang lagit-lagit kamarnya. Kenangan itu entah kenapa dengan kurang ajarnya muncul dalam mimpinya. Membuatnya harus mengingat waktu itu lagi.

 

Je wo memijit pelipisnya pelan. Apa yang akan terjadi waktu itu jika ia tidak terjebak dalam pesona iblis laki-laki itu. Apakah hidupnya akan berjalan sebagaimana mestinya. Normal, dan tidak terduga seperti sekarang ini? Wanita itu mendesah pelan dan memutuskan untuk menghentikan pikirannya itu. Je Wo memilih untuk turun dari ranjangnya dan berjalan ke arah pintu. Memutar kenop pintu kamarnya dan melangkah keluar.

 

Je Wo terpaku di ambang pintu. Wanita itu membulatkan matanya yang besar sampai mencapai titik maksimal. Wanita itu terlalu terkejut dengan apa yang dilihatnya. Cho Kyuhyun, laki-laki itu tidur di sofa sambil memeluk Hyunje yang tertidur di atas tubuh laki-laki itu. Tangannya yang besar mendekap dengan erat tubuh mungil Hyunje, yang entah  kenapa tampak nyaman meringkuk diatas tubuh ayahnya.

 

Wanita itu menggeleng pelan dan memejamkan matanya yang tiba-tiba saja merasa panas. Dia tidak memperkirakan ini sebelumnya. Dia tidak bisa membentengi dirinya ketika melihat kedua orang itu.  Pertahanannya terasa lemah dan semua keyakinan yang ia pegang selama ini terasa runtuh dengan mudahnya. Apa dia harus menyerah? Kepala wanita itu terasa pening luar biasa.

 

Dia harus bagaimana sekarang? Dia benar-benar bingung. Haruskan dia membiarkan laki-laki itu meng-invasi hidupnya lagi? Haruskah dia membiarkan laki-laki itu merombak konsep hidup yang ia yakini selama ini?

 

Tapi, siapkah ia? Siapkah ia menerima laki-laki itu kembali setelah apa yang ia alami selama ini? Semuanya terasa rumit. Seandainya pria itu tidak datang kembali ke kehidupannya seperti sekarang ini, mungkin dia tidak akan sepusing ini.

 

Bagaiman sekarang ia harus bersikap?

 

Astaga, Cho Kyuhyun, seharusnya kau bisa membuat ini menjadi mudah untukku jika kau tidak muncul lagi dalam kehidupanku. Cukup membiarkanku hidup dengan Hyunje, maka semuanya akan berjalan dengan sedikit normal. Tanpa kenangan pahit yang bisa menghantuiku setiap saat dan menjadi ketakutan terbesar dalam hidupku. Seharusnya tidak seperti ini jadinya.’

 

***

 

Kyuhyun mengerjapkan matanya pelan, mengucek matanya sebentar sebelum akhirnya mendapatkan kesadarannya kembali. Laki-laki itu berniat bangun dari tidurnya, namun ia urungkan saat merasakan sesuatu menimpa  tubuhnya. Kyuhyun tersenyum kecil saat melihat Hyunje yang tertidur pulas di atas dadanya. Tangan laki-laki itu terulur untuk mengusap kepala Hyunje. Merasakan rambut anaknya yang halus dan tebal, seperti rambutnya.

 

“Bangunlah, dan segera pergi dari rumahku!”

 

Kyuhyun menghentikan usapan tangannya di kepala Hyun Je saat mendengar suara Je Wo yang terkesan datar. Laki-laki itu menoleh ke samping dan menemukan Je Wo yang sedang menatap ke arahnya.

 

“Tidak bisakah kau berbicara sedikit sopan?” Kyuhyun memandang Je Wo tajam.

 

“Aku tidak suka berbasa-basi, Cho.”

 

“Ck.. tunggu sampai Hyunje bangun dari tidurnya, baru aku akan pergi dari sini.”

 

“Tidak bisa, sebaiknya kau segera pergi dari sini.” Je Wo menatap Kyuhyun dengan pandangan memerintah yang hanya di balas laki-laki itu dengan pandangan meremehkan.

 

“Kau takut padaku?”

 

Je Wo kaku seketika, laki-laki itu berkata dengan tepat sasaran. Je Wo memang takut, bukan takut kepada Kyuhyun, tapi wanita itu lebih takut  kepada perasaannya sendiri.

 

“Kau tidak usah mengalihkan pembicaraan, Cho. Cepat, keluarlah dari rumahku!” Je Wo mencoba untuk tenang dan masih berusaha membujuk Kyuhyun untuk keluar dari rumahnya.

 

“Kau tidak lihat?” Kyuhyun mengarahakan pandangannya kepada Hyunje yang masih meringkuk nyaman di dekapannya, anak itu sepertinya tidak terganggu sama sekali dengan perdebatan ke dua orang tuanya.

 

“Kau tinggalkan saja anak itu di situ!” Je Wo masih tetap kekeh menyuruh Kyuhyun untuk  pergi.

 

“Tidak bisa, setidaknya aku harus menunggu Hyunje sampai bangun dari tidurnya, baru aku akan pergi dari sini. Aku sudah berjanji padanya, Je Wo-ya.” Kyuhyun mengusap kembali kepala Hyunje dengan sayang. Laki-laki itu tidak memerhatikan Je Wo yang tengah mati-matian menahan emosinya antara menyuruh Kyuhyun pergi atau membiarkan laki-laki itu tetap tinggal. Je Wo mendesah frustasi. Hyunje menyuruh laki-laki itu tetap tinggal sebelum matanya terbuka dan anak itu pasti akan marah jika Kyuhyun pergi sebelum berpamitan dengannya.

 

Je Wo memilih meninggalkan laki-laki itu dan berjalan ke arah dapur, membuat Kyuhyun seketika melihat wanita itu dengan pandangan tidak mengerti.

 

“Apa  yang sebenarnya di pikirkan wanita itu?” Kyuhyun berguman, kemudian mengalihkan pandangananya kembali pada Hyunje. Laki-laki itu kembali tersenyum kecil melihat wajah anaknya. Kyuhyun meraba kening Hyun Je, mata, hidung, sampai ke bibir Hyunje, semuanya terlihat mirip dengan Kyuhyun, kecuali mata anak itu yang terlihat sama seperti mata milik Je Wo.

 

Hyunje tampak menggeliatkan tubuhnya pelan. Anak itu kemudian membuka matanya dan menemukan Kyuhyun yang tengah menatapnya.

 

“Kau sudah bangun, eo?”

 

Hyunje mngerjapkan matanya pelan sebelum menjawab pertanyaan Kyuhyun. “Tentu saja aku sudah bangun, orang bodoh mana yang tertidur dengan membuka matanya?”

 

“Ck.. kau ini.”  Kyuhyun mendecakkan lidahnya kesal saat mendapati jawaban Hyunje yang terkesan sinis dan datar. Ah.. satu lagi kemiripan yang ia temui dalam diri anak itu. Sifat. Ya, sifatnnya hampir sebelas, dua belas dengan Kyuhyun.

 

Hyunje menatap Kyuhyun sebentar, kemudian anak itu beranjak turun dari tubuh Kyuhyun.

 

“Kau mau kemana?” Kyuhyun menatap Hyunje yang berjalan terseok-seok menuju kamarnya.

 

“Aku mau ke kamar. Setidaknya aku harus segera mandi, sebelum eomma memberikan ceramah gratisnya padaku.”

 

“Aku ikut, eo?” Kyuhyun berjalan ke arah Hyunje.

 

“Aku tidak mau mandi bersama.” Hyunje memandang Kyuhyun datar.

 

“Aku tidak akan mandi bersamamu, aku bisa mandi di rumahku, nanti.” Kyuhyun memandang Hyunje dengan senyum kecil. Laki-laki itu tanpa permisi membuka pintu kamar anaknya itu. Matanya menelusuri setiap sudut kamar Hyunje. Dinding kamar itu berwarna putih dan perabotannya seperti tempat tidur, kursi dan meja belajar di dominasi warna coklat muda dengan bahan kayu yang terlihat elegan. Kyuhyun berjalan masuk ke dalam kamar Hyunje. Laki-laki itu kemudian merebahkan dirinya di atas tempat tidur milik anaknya itu.

 

Hyun Je berdiri di depan intu sambil menyandarkan tubuhnya pada kusen pintu itu. Taangan anak itu terlipat di depan dada dengan matanya yang menatap ke arah Kyuhyun.

 

“Kau tidak bermaksud untuk tidur lagi, kan, ahjussi?”

 

Kyuhyun menegakkan tubuhnya. Laki-laki itu duduk bersila di atas ranjang Hyunje, kemudian menopang kepalanya dengan ke dua tangannya. Tampak seperti bayi besar di atas ranjang yang tidak seberapa itu.

 

“Tidak. Aku hanya ingin menunggumu mandi.”

 

“Cih, kenapa kau tidak membasuh wajahmu dan menyikat gigimu itu? Bukankah itu yang seharusnya dilakukan oleh semuaorang ketika bangun dari tidur?” Hyunje menatap Kyuhyun sinis, anak itu kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamarnya itu. Tidak memerdulikan Kyuhyun yang sedang menanatapnya dengan mulut menganga.

 

***

 

Kyuhyun menarik kursi meja makan. Laki-laki itu duduk dengan nyaman tanpa memerdulikan tatapan Je Wo yang menatapnya dengan tidak suka.

 

“Apa?”

 

“Kenapa kau duduk di situ?” Je Wo berkacak pinggang sambil memandang Kyuhyun sinis.

 

“Memangnya aku harus duduk di mana?” Kyuhyun memandang Je Wo dengan alis terangkat.

 

“Bukankah kau akan pergi jika Hyunje sudah bangun? Jadi, kenapa sekarang kau tidak pergi saja dari rumahku?”

 

“Aku akan menunggu hingga selesai sarapan pagi. Kebetulan sekali perutku ini juga sedang lapar.”

 

“Cih, aku tidak bermaksud untuk membuatkanmu sarapan pagi, Cho.”

 

“Tentu saja, eommakan tidak bisa memasak.”

 

Je Wo mendelik garang pada Hyunje yang tiba-tiba menyela ucapannya. Anak itu dengan santainya menarik kursi di samping Kyuhyun dan duduk dengan nyaman di sana. Hyunje menoleh ke arah Je Wo. Anak itu sedikit mengernyit heran ketika melihat ekspresi  wajah ibunya yang terlihat sedikit menyeramkan. “Kenapa eomma melihatku seperti itu?”

 

“Haish, kau memang menyebalkan.” Je Wo membuang nafasnya kasar. Wanita itu lalu membalikkan badannya ke arah dapur. Mengerjakan pekerjaannya kembali, membuat sarapan. Hyunke mengedikkan bahunya acuh, anak itu lalu menatap Kyuhyun yang juga tengah menatap ke arahnya.

 

“Kenapa ahjussi juga menatapku seperti itu?”

 

“Tidak.”  Kyuhyun menggelengkan kepalanya pelan.

 

“Hyunje-ya! Tolong bantu eomma membawa ini.”  Je Wo menunjuk sebuah piring yang berisi roti lapis.

 

“Ne.” Hyunje turun dari kursinya. Anak itu berjalan mendekati ibunya, dan mengambil piring yang di maksud oleh Je Wo tadi. Sedangkan Je Wo, wanita itu membawa sebuah nampan yang terdapat tiga buah gelas yang berisi susu putih dan sebuah teko yang nampaknya adalah teko yang berisi teh.

 

Je Wo meletakkan nampan tadi di atas meja, kemudian wanita itu mengambil piring yang sedang di bawa oleh Hyunje yang sudah berdiri dengan manis di sampingnya.

 

Hyun Je kembali duduk di  kursinya. Anak itu menopang kepalanya dengan ke dua tangananya dan memerhatikan punggung eommanya yang sedang berjalan kembali ke dalam dapur. Kyuhyun, laki-laki itu juga melakukan hal yang sama, menopang kepalanya dengan ke dua tangannya dan memfokuskan matanya untuk memerhatikan gerak-gerik Je Wo.

 

Je Wo mengambil tiga buah piring dari rak penyimpanan piring. Wanita itu kemudian berbalik dan  merasa agak sedikit terkejut, melihat pose yang sedang ditunjukkan oleh Hyun Je dan Kyuhyun.

 

Je Wo termangu sebentar, sebelum akhirnya memilih untuk mengabaikan pemandangan di depannya itu. Wanita itu meletakkan piring yang di bawanya tadi masing-masing di hadapan Hyunje, Kyuhyun dan terakhir untuk dirinya sendiri. Je Wo memilih untuk duduk di hadapan Hyun Je.

 

“Ige!” Je Wo memindahkan setangkup roti isi itu ke piring Hyunje. Kemudian wanita itu mengambil roti isi untuk bagiannya sendiri dan memindahkannya ke atas piringnya.

 

Kyuhyun menatap Je Wo sesaat sebelum akhirnya mengangsurkan piringnya ke hadapan Je Wo. “Punyaku mana?”

 

Je Wo mengernyit saat melihat piring yang Kyuhyun angsurkan. Wanita itu akhirnya berdecak pelan dan menatap Kyuhyun dengan sinis. “Kau tidak punya tangan untuk mengambilnya sendiri?”

 

“Aku tamu disini, kan? Bukankah seharusnya tuan rumah harus melayani tamunya dengan baik?”

 

“Ck, siapa yang kau bilang sebagai tamu, Cho? Aku tidak pernah merasa menyambutmu sebagai tamu di sini.”

 

“Tapi, tetap saja, kau harus memerlakukanku dengan baik di sini.” Kyuhyun masih mempertahankan argumentnya. Laki-laki itu tersenyum senang saat akhirnya melihat Je Wo yang menyerah dan memindahkan satu tangkup roti ke piringnya.

 

“Itu baru tuan rumah yang baik.”

 

Je Wo bersungut kesal, wanita itu memilih menjejalkan roti ke dalam mulutnya untuk mengamankan mulutnya dari kata-kata kasar yang mungkin sebentar lagi akan keluar.

 

“Dasar bodoh.” Hyunje mengguman pelan melihat kelakuan dua orang dewasa di dekatnya itu. “Aku selesai.” Hyunje menyingkirkan piringnya ke depan setelah melhap isi piringnya, anak itu kemudian meneguk susu yang berada di gelasnya. Hyunje menoleh ke arah Kyuhyun yang sedang melahap potongan terakhir dari rotinya.

 

“Ahjussi, ayo bertanding game lagi.” Hyunje memandang Kyuhyun dengan mata berbinar.

 

“Cho Hyunje! Siapa yang mengijinkanmu bermain game setelah ini?” Je Wo menatap Hyunje tajam.

 

Hyunje berdecak kesal dan memilih mengabaikan tatapan ibunya itu. “Ahjussi!” Hyunje masih menatap Kyuhyun penuh harap.

 

Kyuhyun menatap jam yang melingkar indah di pergelangan tangannya, kemudian laki-laki itu menggeleng pelan. “Aku tidak bisa, Hyunje-ya. Aku harus berangkat ke kantor sebentar lagi.” Kyuhyun menatap Hyunje menyesal. Laki-laki itu akhirnya memilih bangkit dari kursinya.

 

“Aku pergi.”

 

“Eo, pergi saja sana.” Kyuhyun mendelik ke arah Je Wo yang sedang menatapnya sinis.

 

“Diam kau, Shin Je Wo!”

 

“Cih..”  Je Wo mendengus sebal, wanita itu lebih memilih melipat ke dua tangannya di depan dada dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.

 

Kyuhyun menolehkan pandangannya pada Hyunje yang sedang menatap datar padanya. Kyuhyun mendesah pelan sebelum akhirnya memilih untuk berbicara dengan Hyunje.  “Hyunje-ya, kita bisa bermain lain kali, eo? Aku benar-benar harus ke kantor sekarang.”

 

“Terserah saja, aku tidak peduli.” Hyunje menjawab dengan datar. Anak itu lalu beranjak dari kursinya dan pergi meninggalkan Kyuhyun dan Je Wo. Kyuhyun menatap Hyunje dengan sendu. Laki-laki itu mengacak rambutnya dengan gusar, namun tidak berusaha untuk mengejar Hyunje.

 

“Pergilah! Anak itu akan membaik dengan sendirinya nanti.”

 

“Kuharap begitu. Pamitkan aku padanya. Aku pergi.” Kyuhyun melangkah meninggalkan ruangan itu. Laki-laki itu menolehkan kepalanya saat melintasi ruang tengah, ia menatap Hyunje yang sedang duduk menonoton acara paginya. Kyuhyun hendak mendekati bocah itu, namun lagi-lagi ia urungkan saat menyadari jam yang tergantung dengan indah di dinding. Dia memang harus masuk kerja sekarang, karena memang ada urusan penting yang harus ia selesaikan di kantor.

 

Aku akan menemuimu nanti, setelah urusanku di kantor selesai, maafkan appa, Hyunje-ya… Appa pasti akan mengganti waktu kita yang hilang karena kebodohan Appa.

 

 

***

 

 

 

Je Wo memijit pelipisnya pelan. Wanita itu bingung dengan apa yang harus dilakukannya sekarang. Hyunje tidak pernah seperti ini dengan orang lain. Anak itu tidak pernah suka merajuk selain dengan dirinya, dan kali ini dia merajuk dengan Kyuhyun. Apakah ikatan darah itu memang begitu kuat? Tidak, seharusnya tidak boleh seperti ini. Mereka tidak boleh dekat, atau pada akhirnya nanti Hyunje lah yang akan sangat terluka di sini.

 

Hyunje-ya, eomma hanya tidak ingin melihatmu terluka. Tidak bisakah kau tidak menyayangi Cho Kyuhyun? Eomma takut, eomma benar-benar takut, Hyunje-ya.

 

***

 

“Ya, nuna. Bawa saja ke apartementku. Tidak, aku bahkan belum membersihkan diri sekarang.” Kyuhyun mngerutkan keningnya dan mengacak rambutnya gusar. “Demi Tuhan, nuna, bahkan aku terlihat sangat tidak segar pagi ini.”

 

“Tapi, bagaimana dengan berkas-berkas ini.”

 

“Sudah kubilang, bawa saja ke apartementku.”

“Baiklah, aku akan ke sana sekarang.”

 

Klik

 

Kyuhyun menjatuhkan badannya pada sofa. Laki-laki itu tidak jadi menginjakkan kakinya di kantor dengan sisa kewarasan yang masih tersisa di otaknya pagi ini. Ayolah, orang waras mana yang akan datang ke kantornya untuk bekerja dengan keadaan dirinya yang sama sekali tidak layak untuk di katakan sebagai seorang pegawai.

 

Kyuhyun memejamkan matanya pelan, memikirkan keadaan Hyunje yang terlihat tidak suka ketika ia pergi dari rumah wanita itu tadi pagi.

 

“Anak itu apakah marah padaku? Kenapa dia begitu mirip denganku dalam segala hal seperti itu?”  Kyuhyun tersenyum kecil.

 

Ting-tung

 

Kyuhyun membuka matanya yang tadi sempat terpejam. Laki-laki itu mendecak kesal, kemudian mengambil ponselnya di saku celana.

 

“Tidak usah memencet bel seperti itu! Kau bisa langsung masuk tanpa mengganggukukan, nuna?”

 

“Aigoo, aku, kan hanya ingin di perlakukan seperti tamu saja.”

 

“Cih, dasar merepotkan.” Kyuhyun mematikan sambungan telephonenya. Laki-laki itu kemudian berdiri dan berjalan ke arah pintu apartementnya, membukakan pintu untuk kakak perempuan tersayangnya itu.

 

“Adik.” Ahra berseru senang saat pintu apartement Kyuhyun terbuka, dan menampakkan wajah kusut milik adiknya itu. “Aigoo, ada apa denganmu, hm?”

 

“Ck, tidak usah bersikap manis seperti itu, tidak akan mempan terhadapku, nuna.” Kyuhyun membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan Ahra begitu saja.

 

“Jadi, tadi malam kau menginap di sana?” Ahra mengekori Kyuhyun dari belakang. Mereka berada di pantry milik Kyuhyun sekarang.

 

“Begitulah.” Kyuhyun menuangkan wine merah ke dalam gelasnya dan memberikannya pada Ahra.

 

“Adik, ini masih pagi, dan aku masih waras untuk tidak mengontaminasi pagiku dengan wine.” Ahra memandang Kyuhyun datar, Kyuhyun mengedikkan bahunya tidak peduli dan meneguk wine yang tidak jadi ia berikan kepada Ahra radi.

 

“Sekarang, ceritakan padaku!” Ahra duduk, kemudian menopang kepalanya dengan ke dua tangannya, wanita itu menatap lekat wajah adiknya. Kyuhyun meletakkan gelas winenya, laki-laki itu duduk di samping Ahra dengan mata yang fokus menatap ke depan.

 

“Je Wo masih belum mau menerimaku.”

 

“Tentu saja, jka aku jadi dia, pasti aku akan memilih untuk menghajarmu sampai habis.”

 

“Ck, kau memang wanita gila.” Kyuhyun mendecak kesal.

 

“Aku memang gila, tapi setidaknya aku tidak brengsek seperti dirimu, adik.”

 

“Benar, setidaknya kau memang bukan orang brengsek seperti diriku.” Kyuhyun tersenyum kecut. Ahra yang menyadari perubahan raut wajah adiknya itu, segera mengalihkan topik pembicaraan mereka.

 

“Aku sudah mendapatkan data perusahaan milik keluarga Shin itu.” Ahra menyerahkan map coklat bersegel pada Kyuhyun. Kyuhyun membuka segel map tersebut, kemudian mengeluarkan isinya.

 

Mata laki-laki itu menatap jeli pada berkas yang sedang ia pegang. Sesekali keningnya berkerut dan mulutnya mengguman kecil.

 

“Jadi, kita memiliki saham yang cukup besar di perusahaan mereka?”  Kyuhyun menatap Ahra serius.

 

“Ya, menurut dokumen itu begitu. Dan sepertinya saham kita memang berperan sangat penting untuk perusahaan mereka.”

 

“Kalau begitu, perusahaan ini cukup menguntungkan jika aku akusisi?”

 

“Ya, tapi, perusahaan ini sedang dalam puncak penjualan barang yang cukup bagus, akan sangat sulit jika kita ingin mengakusisi perusahaan ini sekarang.”

 

“Aku akan menunggu, Nuna. Aku juga perlu menyusun bebrapa strategi. Mungkin aku harus membuat mereka bangkrut dulu, bagaimana menurutmu?”

 

“Terserah padamu saja, aku tidak peduli.” Ahra mengedikkan bahunya tidak peduli. “Lakukan saja apa yang kau mau adik, asalkan itu tidak merugikan untuk perusahaan kita.”

 

“Tentu saja, aku tidak akan pernah merugikan perusahaan, Nuna. Kau tahukan siapa aku?” Kyuhyun mengeluarkan smirknya.

 

Laki-laki itu memang teramaat suka bermain-main. Tapi, permainan laki-laki itu akan terasa sedikit menakutkan. Kyuhyun akan bermain dengan lawannya dengan cara menghancurkan dan membuat lawannya itu sekarat seketika, apa lagi jika lawannya itu memiliki sesuatu yang di inginkan oleh laki-laki itu.

 

“Kyuhyun-ah!”

 

“Wae?”

 

Ahra menatap Kyhyun serius, wanita itu mengehembuskan nafasnya pelan. “Apa kau akan menggunakan cara ini untuk mendapatkan Je Wo?”

 

Kyuhyun diam, laki-laki itu enggan menjawab pertanyaan kakaknya karena kakaknya itu sudah tentu tahu apa jawabannya.

 

“Ya, jika memang tidak ada pilihan lain, aku terpaksa menggunakan cara kotor seperti ini, Nuna.”

 

“Aku harap kau tidak akan bertindak terlalu jauh, setidaknya kau juga harus mempertimbangkan kredibilitasmu sebagai Presdir Cho Corp. Aku tidak ingin kau berselisih dengan appa, adik.”

 

“Tidak akan, Nuna. Kau tahu, aku tidak akan segegabah itu dalam mengambil tindakan. Aku telah menyiapkan amunisi untuk melawan appa, jika naanti laki-laki menyebalkan itu mengusikku. Aku sudah siap, dan aku benar-benar tidak akan menggunkan hatiku dalam hal ini, Nuna.”

 

“Ya, kuharap kau berhati-hati. Appa itu bukanlah orang yang mudah untuk di intimidasi.”

 

“Kita masih punya eomma, Nuna. Appa tidak akan pernah bisa menang dari wanita itu.” Kyuhyun menunjukkan senyum gelinya. Ahra bahkan sudah terawa terbahak-bahak mendengar perkataan adiknya. Benar, mereka masih mempunyai Nyonya Cho. Ibu dari ke duan anak iblis itu pasti mempunyai 1001 cara untuk menaklukan Tuan Cho.

 

“Kau benar-benar iblis.”

 

“Itu tidak di ragukan lagi.”

 

“Hahaha…” Ahra memukul bahu Kyuhyun sambil masih tertawa terbahak-bahak. Wanita itu terkadang merasa lucu dengan kelakuan keluarganya. Mereka semua, seperti orang gila, tidak normal atau apalah itu. “Aku benar-benar hidup di antara orang gila. Astaga..” Ahra menggelengkan kepalanya prihatin.

 

“Cih, seperti kau tidak gila saja.”  Kyuhyun mecibir perkataan kakaknya itu.

 

“Hahaha…”

 

 

 

Je Wo sedang duduk memandang layar monitornya dengan serius. Wanita itu tampak memegang berkas di sebelah tanganya dan tangan yang satunya lagi sibuk mengarahkan mouse pada monitor, terlihat sangat sibuk dengan kegiatan yang sedang ia lakukan, mengedit naskah.

 

Je Wo memang memilih untuk bekerja di luar perusahaan ayahnya. Alasannya, tentu saja karena wanita itu sangat menggemari bidang tulis menulis, dan menjadi seorang editor adalah impiannya sejak dulu.

 

Sedangkan perusahaan milik keluarganya adalah perusahaan yang bergerak di bidang properti, dan itu sama sekali tidak menarik perhatian Je Wo, kecuali, uang yang di hasilkan dari perusahaan itu.

 

Je Wo meletakkan berkas yang sedag ia pegang saat suara telphone genggamnya berbunyi.

 

“Yeoboseyo!”

 

“Je Wo-ya…” terdengar suara seseorang yang terlihat sangat antusias dari seberang sana. Je Wo mengernyitkan keningnya bingung saat mendengar suara orang itu.

 

“Nuguseo?”

 

“Ini aku, Choi Minho.”

 

“Choi Minho?” Je Wo membelalakkan matanya kaget saat orang itu menyebut namanya.

 

“Iya, dan sekarang ini aku sedang berada di Korea. Menyusulmu.”

 

“Menyusulku? Kau gila?” Je Wo memijit pelipisnya. Laki-laki itu gila, dia pulang ke Korea untuk menghindari masalah dari laki-laki itu, dan sekarang laki-laki itu dengan bodohnya malah menyusulnya kemari. Benar-benar.

 

“Aku sudah mengatakannya, bukan? Aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkanmu, dan aku benar-benar akan merealisasikan keinginanku itu.”

 

“Kau benar-benar.. Hais, sudahlah.”

 

Klik

 

Je Wo memutuskan sambungan telphone itu secara sepihak. Wanita itu benar-benar bingung. Apa yang di pikirkan oleh Choi Minho itu? Kenapa laki-laki itu seperti mencari masalahnya sendiri.

 

Je Wo menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Wanita itu mentap langit-langit atap ruangannya dengan bingung.

 

“Apa yang di pikirkan laki-laki bodoh itu, huh?”

 

‘Astaga, apa yang akan terjadi sebentar lagi? Kenapa sepertinya hidupku akhir-akhir ini menjadi semakin kacau? Apa yang sebenarnya kau rencanakan pada hidupku ini, Tuhan?’

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

203 thoughts on “[Freelance] You are Mine Chapter 1

  1. Pantesan aj je wo marah n g mw lg na kyu.
    D hamilin d usia msh muda n sekolah trus d tinggalin gt aj y pasti marah n kecewa lha.
    Haduh carax c licik bgt utk bersama.lg ma je wo.
    Kira2 bakalan mw g y dy ma kyu lg.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s