The Advanture of Hyunje and Dong Ha

Hyunje and Dong Ha

Keramaian tampak disebuah sekolah dasar, Seoul School. Murid-murid berlari-larian disekitar sekolah, ada juga yang sibuk dengan tas ransel mereka dan ada juga yang hanya diam dan berdiri disamping kedua orang tua masing-masing. Hari ini, sekolah itu akan mengadakan pelatihan pekan olah raga musim panas di sebuah tempat. Tepatnya disebuah Hutan yang dapat dipastikan aman bagi murid-murid sekolah dasar tersebut.

Tampak dua buah mobil berhenti bersamaan di depan sekolah itu.

“Haruskah dia pergi mengikuti kegiatan ini? Apa wali kelasnya bodoh? Mereka masih kecil dan harus pergi kesebuah Hutan?” cecar Kyuhyun menatap tidak setuju pada Je Wo. Sejak Je Wo mengatakan tentang kegiatan Hyunje yang mengikuti kagiatan ini, Kyuhyun memang tidak menyetujuinya, mengingat bagaimana mengerikannya bayangan Hutan dalam pikiran pria itu.

Je Wo memutar bola matanya malas, sudah amat sangat lelah membahas masalah yang sama bersama Kyuhyun sejak tadi malam. Pria itu selalu berusaha membujuknya agar tidak mengikut sertakan Hyunje dalam kegiatan itu, “Mereka tidak menginap disana, Tuan Cho. Sore nanti mereka akan pulang dan kita akan menjemput mereka. Jadi, bisakah kau tidak terlalu berlebihan seperti ini?” balasnya berusaha bersikap tenang, setidaknya dia tidak ingin moodnya hancur sepagi ini.

Kyuhyun membuang napas jengah, “Tetap saja Hutan itu berbahaya.” Sahutnya.

Je Wo menggeretakan giginya dengan wajah memerah, “Yah! Saat ini masih pagi, jangan memulai pertengkaran denganku, bodoh.” Teriaknya.

“Mwoya?! Siapa yang mengajakmu bertengkar? Aku hanya bilang sebaiknya batalkan kegiatan bocah itu.” balas Kyuhyun berteriak.

“Hoammmm.”

Je Wo yang sudah bersiap-siap membuka mulutnya terpaksa berhenti dan menoleh kebelakang saat mendengar suara Hyunje yang menguap. Bocah itu tampak mengucek kedua matanya, lalu melirik keluar dari balik jendela mobil, “Sudah ramai sekali.” Gumamnya. Ia duduk tegak, lalu tampak membenarkan pakaian.

“Hyunje-ya…” panggil Kyuhyun pelan penuh keinginan, Je Wo mendengus malas mendengarnya.

Hyunje melirik Kyuhyun meski kedua tangannya sibuk membenarkan letak jaketnya, “Tidak, Appa. Aku akan ikut kesana.” Ucapnya tanpa terlebih dulu mendengarkan apa yang Kyuhyun katakan. Sepertinya bocah ini tahu apa yang ingin dikatakan Kyuhyun.

Je Wo tertawa pelan, “Percuma saja, kan?” sindirnya, melirik spion dan membenarkan tatanan rambutnya.

Kyuhyun menggigit bibir bawahnya kesal, “Hutan itu berbahaya, nanti kalau kau dimakan Binatang buas bagaimana?” tanya Kyuhyun, masih berusaha meracuni pikiran Hyunje.

“Binatang buas apa? Lucu sekali.” Sahut Je Wo.

“Diam kau!” Kyuhyun melirik Je Wo ngeri.

Hyunje menggeleng pelan, “Sudahlah, Appa. Kau tidak lelah mengoceh sejak tadi? Sampai kedalam mimpiku pun suaramu masih terdengar,” sela Hyunje, saat pria itu ingin kembali membuka suara, Hyunje mengangkat sebelah tangannya dengan gaya teramat dewasa, “Aku tetap akan pergi. Ayo, Omma. Antarkan aku kedalam.” Hyunje memajukan tubuhnya kedepan, mengecup pipi Kyuhyun singkat, lalu memasang Hodie jaketnya dan segera meloncat keluar.

“Jinja…” rutuk Kyuhyun kesal menatap punggung Hyunje yang menjauh.

Je Wo tertawa, “Tunggu aku disini, aku harus menunggu mereka sampai berangkat baru kembali kesini,” wanita ini menyeringai lebar, lalu mengulurkan sebelah tangannya keatas kepala Kyuhyun dan menepuk-nepuknya pelan. “Jangan menangis, Tuan Cho… anakmu akan baik-baik saja.”

Sebelum Kyuhyun berhasil meneriakinya, Je Wo segera keluar dari Mobil dan menyusul Hyunje dengan kekehan geli. Kyuhyun memang tidak bisa ikut mengantar Hyunje hingga kedalam sekolah, mengingat statusnya saat ini.

Sementara di tempat lain…

“Ice Cream?”

“Tidak mau.”

“Mainan baru?”

“Tidak.”

“Liburan di Paris?”

“Kita bisa pergi saat aku libur sekolah, Appa.”

“Kalau begitu bagaimana kalau_”

“Heish! Omma, bisakah kau menghentikan Appa? Kenapa dia menyebalkan sekali?!” rutuk Dong Ha kesal. Ia melipat kedua tangan di depan dada dan mengerucutkan bibirnya kesal. Sejak tadi Donghae selalu membujuknya untuk tidak ikut serta dalam kegiatan musim panasnya.

Ha Won tertawa geli, “Oppa, sudahlah, kau membujuknya sekuat apa pun, dia tetap tidak ingin membatalkannya. Lagi pula dia pasti akan baik-baik saja, iya, kan?” Ha Won mengerling kecil pada Dong Ha yang mengangguk setuju dengan cengiran lebar.

Tapi Donghae tetap tidak setuju, ia menatap Ha Won serius. “Baby, disana tidak aada kau, disana juga tidak ada aku. Lalu, siapa yang bisa menjaganya?”

“Wali kelasnya pasti bisa menjaganya.”

“Ya, dan juga 16 murid lainnya?”

“Oppa_”

“Kalau dia sakit bagaimana?”

“Oppa_”

“Kalau dia dijahili temannya, bagaimana?”

“LEE DONGHAE!” teriak Ha Won yang mulai gerah mendengar kecemasan Donghae yang berlebihan dan seketika, pria itu mengatup mulutnya tertib. Wanita ini menarik napas panjang, barusaha menahan kekesalannya, “Lee Dong Ha.” Panggilnya penuh penekanan.

“Ya, Omma?”

“Cepat berikan ciuman selamat tinggal pada Appamu.” Suruh Ha Won masih dengan menatap Donghae ngeri. Ya, hanya dengan cara seperti ini yang mampu membuat Lee Donghae tunduk padanya.

Dong Ha tersenyum lebar, lalu memeluk Donghae sebentar dan mengecup pipi pria itu, “Aku pergi, Appa. Tenang saja, aku pasti akan baik-baik saja.” Dong Ha segera meloncat keluar tanpa menghiraukan wajah Donghae yang memelas.

“Ck,” decak Ha Won. “Dia hanya akan pergi mengikuti pelatihan pekan olah raga, Oppa. Bukan ingin pergi mengikuti kemiliteran.”

Lee Donghae mendelik ngeri pada Ha Won hingga wanita itu tertawa lucu lalu segera turun menyusul Dong Ha.

***

“Eo? Dong Ha juga ikut kegiatan ini, Eonnie?” tanya Je Wo saat Ha Won dan Dong Ha menghampirinya dan Hyunje. Kedua bocah itu memang berada di satu sekolah yang sama walaupun berbeda kelas. Ia membalas senyuman hangat menawan milik Lee Dong Ha. Terkadang, Je Wo sangat ingin bertukar anak pada Ha Won mengingat Dong Ha adalah tipe anak yang penurut, berbeda sekali dengan Hyunje yang setiap hari tidak akan puas jika tidak mendengarnya berteriak kesal karena kenakalannya.

Ha Won mengangguk, “Ya, meski hampir saja membuat Appanya menangis.” Jawab Ha Won dengan kedua bola mata memutar malas.

Je Wo tertawa, “Sama seperti Kyuhyun, aigo… pria-pria itu memang terlalu berlebihan.” Ujarnya.

Ha Won turut terawa bersama Je Wo, tertawa dengan gaya anggun dan kasualnya. Wanita ini memang berbeda jauh dari Je Wo. Dilihat dari bagian mana pun Ha Won memang tampak lebih memukau dibandingkan Je Wo. Dari segi Fashion mau pun karakternya, wanita itu hampir mencapai kesempurnaan. Sedang Je Wo? Tak lebih dari wanita keras kepala yang memiliki sifat sama persis seperti suami dan anaknya meski ia tidak mau mengakuinya.

“Kupikir kau tidak ikut.” Ujar Hyunje pada Dong Ha.

“Kenapa?” Dong Ha mengerjap polos dan Hyunje terpaksa menahan kesal. Setiap kali bocah itu melakukan sesuatu yang tampakpolos, ia seketika mengingat ucapan Je Wo yang begitu mengagumi Dong Ha dan membuatnya iri.

Dong Ha itu sangat manis dan menawan, dia polos, tidak seperti kau.

“Yeah, aku takut kau akan menangis saat dibawa masuk kedalam Hutan.” Cibirnya, melirik puas kearah Dong Ha yang mengerucutkan bibirnya.

“Cih, Hutan tidak seburuk yang kau kira, Hyunje-ya…” balas Dong Ha, lalu ia melirik tubuh Hyunje dari atas hingga keujung kakinya dan menampakan tatapan mencemo’oh. “Atau jangan-jangan, kau yang takut? Ya, mengingat kau adalah laki-laki manja yang hanya mengenal sebuah benda persegi empat tidak bermutu.”

Hyunje menggeretakan giginya kesal, kakinya sudah bersiap-siap melangkah mendekati Dong Ha yang tersenyum puas. Sayangnya, teriakan dari pemimpin kegiatan mereka membuat ia terpaksa menahan niatnya.

“Semuanya segera masuk kedalam Bus masing-masing…”

Dong Ha mau pun Hyunje segera mendekati Ibu masing-masing, memberikan pelukan singkat pada mereka lalu berlari-lari kecil kearah kerumunan disana. Tapi keduanya tetap tidak lupa melemparkan senyuman sinis satu sama lain. Hyunje dan Dong Ha memang tidak akan pernah akur saat mereka bersama.

Perbedaan sifat kedua bocah itu begitu besar. Hyunje yang memiliki sifat nakal dan jahil sama sekali tidak bisa bertemu dengan sifat penurut dan baik hati Dong Ha meski sejujurnya, Dong Ha memang lebih keras kepala dibandingkan Hyunje. Tak jarang Je Wo, Kyuhyun, Ha Won dan Donghae merasa heran dengan keduanya.

***

“Ck, merepotkan.” Rutuk Hyunje saat wali kelasnya memberi intruksi untuk membuat tenda peristirahatan bersama-sama dengan seluruh murid dikelasnya. Ia mengambil benda kesayangannya di dalam tas ranselnya, lalu melirik sekeliling, mencari sebuah tempat persembunyian selama ia menghindari perintah wali kelasnya. Bocah ini memang tidak terlalu menyukai keramaian, ia akan lebih memilih menyendiri bersama benda persegi empat itu.

Dengan langkah ringannya, ia memasuki Hutan yang memang tidak tampak begitu menyeramkan seperti yang Kyuhyun pikirkan. Pepohonan disana tertata rapi hingga mengingatkan Hyunje pada sebuah tempat yang pernah ia kunjungi bersama Kyuhyun dan Je Wo. Sebuah pegunungan, tempat tingga Cho Sangji, sepupu Appanya. Kecerdikan bocah ini mampu membuat kepergiannya tidak diketahui siapa pun disana.

“Disini cukup bagus.” Gumamnya menatap sebuah pohon besar menjulang tinggi dihadapannya. Ia segera duduk dibawahnya, lalu tanpa menunggu lama segera menenggelamkan diri dengan benda kesayangannya, psp. Wajah Hyunje tampak begitu serius menatap layar psp-nya. Terkadang dahinya berkerut lucu, lalu bibirnya mendesis kesal. Tapi tak jarang ia menyeringai ngeri saat mencapai level tertinggi.

“Menang sama sekali tidak sulit.” Gumamnya dengan senyum puas.

“Tidak mau!”

Sebuah teriakan dari arah lain terdengar ditelinga Hyunje. Ia sontak memutar kepalanya kesegala arah saat merasa kenal dengan suara itu, “Seperti suara Dong Ha.” Ujarnya pelan. Penasaran, bocah ini meletakkan psp-nya diatas tanah, segera berdiri tegak dan menyusuri tempat itu dengan langkah pelan. Samar-samar, suara milik Dong Ha semakin terdengar jelas ditelinganya.

“Kau berani melawanku, ya?”

Hyunje mengernyitkan dahi saat ia mengintip dari celah pepohonan. Tampak tiga orang bocah laki-laki yang seumuran dengannya sedang mengelilingi Dong Ha disana. Ketiganya memasang wajah kejam dan seakan-akan menakuti Dong Ha yang saat itu tampak begitu pucat.

“Jinja… apa yang mereka lakukan pada Dong Ha?” desisnya pelan. Masih mengawasi mereka dari tempatnya.

“Cepat berikan benda itu padaku, Lee Dong Ha!” bentak seorang bocah yang lebih tinggi dibanding dua bocah lainnya.

Sedangkan Dong Ha tampak menyembunyikan sesuatu dibelakang tubuhnya, wajahnya menatap tak suka ketiga bocah itu walaupun Hyunje tahu jika Dong Ha pasti sangat ketakutan sekarang.

“Kau mau kupukul?!” bentak seorang bocah lainnya yang sudah bersiap melayangkan sebelah tangannya kearah Dong Ha.

“Yah!” teriak Hyunje dari tempatnya. Ia menggeretakan giginya tajam dan keluar dari tempat persembunyiannya. Mendekat kesana hingga membuat ketiga bocah itu tampak terkejut mendapati kehadirannya. Hyunje berdiri dihadapan Dong Ha, menatap bocah itu seksama, “Ada apa?” tanya Hyunje. Matanya seakan memeriksa sekujur tubuh Dong Ha, memastikan jika bocah itu masih baik-baik saja. Walau mereka tidak pernah akur, tapi ia tahu jika Dong Ha adalah saudaranya. Je Wo dan Kyuhyun selalu mengatakan itu padanya setiap kali ia mengeluh mengenai Dong Ha.

“Mereka mau mengambil Earphoneku, Hyunje-ya. Earphone ini pemberian Appa, aku tidak mau memberikannya pada mereka.” Jelas Dong Ha dengan wajah sedikit lega setelah mendapati keberadaan Hyunje disana. Ia mengintip ketiga bocah itu dari balik punggung Hyunje dan menatap mereka dengan senyum puas. Begitu yakin jika ketiganya tidak akan bisa mengganggunya karena Hyunje pasti akan membela dirinya.

“Cih, kau kira kami takut dengan temanmu ini?” ujar bocah bertubuh pendek disana.

Hyunje membalikkan tubuhnya dan menatap ketiganya dengan wajah datar, “Kalian teman sekelasnya, kan?” tanya Hyunje ringan.

“Benar.”

“Lalu kenapa malah mengganggunya?”

“Itu bukan urusanmu. Lagi pula Dong Ha memang selalu kami ganggu setiap hari.”

Ketiganya tertawa bersama, menertawakan Dong Ha yang merengut kesal.

Hyunje melirik Dong Ha, “Benar kau diganggu mereka setiap hari?” tanya Hyunje.

“Tidak juga, kalau sedang ujian, mereka sangat baik padaku.” Jawabnya.

Hyunje menghela nafas berat, ingin sekali meneriaki Dong Ha yang memang sangat payah dalam menilai orang lain. Dong Ha memang memiliki hati tulus dalam berteman, persis seperti Donghae. Hanya saja, hal itu membuat Hyunje kesal padanya karena siapa pun bisa saja memanfaatkan ketulusannya.

“Hahaha, lihat bagaimana bodohnya Dong Ha.”

Tawa ketiganya seakan membuat Hyunje meradang, ia mengedarkan pandangan kesegala arah hingga menemukan tiga buah ranting kayu disekitar kakinya. tanpa berpikir lama, bocah itu mengambilnya dan melemparkan satu persatu ranting kayu itu pada mereka. Semuanya tepat sasaran hingga Hyunje tersenyum puas.

“Woah…” gumam Dong Ha takjub.

“Yah!” teriak ketiganya marah.

Hyunje menyeringai ngeri, “Itu balasannya kalau kalian berani mengganggu Dong Ha. Dasar bodoh. Untuk apa kalian datang kesekolah kalau hanya ingin mencontek? Dan setelah itu malah mengganggu orang yang dengan baik hatinya memberikan contekan pada kalian? Benar-benar tidak berguna.” cecarnya tajam.

“Hahaha,” kali ini Dong Ha yang tertawa puas. “Rasakan, siapa suruh menggangguku.”

Hyunje menoleh dengan lirikan tajam pada Dong Ha yang tertawa puas, melemparkan tatapan berhenti-tertawa-Lee Dong Ha hingga bocah itu segera tersenyum lebar dan menahan tawanya.

“Aku akan mengadu pada sam kalau kau telah melukai kami.” Ancam salah satu bocah itu.

Hyunje mendengus malas, “Adukan saja, aku tidak takut.” Jawab Hyunje ringan.

Salah satu dari ketiganya tampak begitu marah, lalu mengambil sebuah batu dan segera melemparkan batu itu kearah Hyunje. Untungnya, Dong Ha segera bergerak dan membawa Hyunje merunduk bersamanya hingga batu itu melesat diatas mereka.

Mata Hyunje membelalak lebar saat jantungnya berdetak kencang. Untung saja batu itu tidak mengenainya. Ia berdiri tegak dan menatap penuh amarah bocah yang melempar batu itu padanya. Kakinya bergerak mendekati ketiganya, tapi baru tiga kali melangkah, ia kembali berhenti. Bahkan genggaman Dong Ha pada lengannya terasa megencang saat melihat seorang dari mereka memegang kayu besar dan bersiap-siap memukul Hyunje dengan kayu itu.

Heish, dasar bocah. Batin Hyunje kesal.

Tapi otaknya segera bekerja mencari cara agar dapat pergi meninggalkan ketiga bocah itu yang memang terlihat sangat marah padanya.

“Hyunje-ya, kita harus kabur.” Bisik Dong Ha pelan.

“Aku tahu, bodoh.” Umpat Hyunje.

Ia melirik lagi kesekitarnya, tapi sama sekali tidak membantu. Tidak ada apa pun disana yang dapat menyelamatkan mereka. Bahkan ketiga bocah itu semakin mendekat. Hingga akhirnya, ia menarik napas panjang dan menjerit.

“Eo, ularnya besar sekali.” Teriak Hyunje dengan telunjuk mengarah kesebuah tempat.

Ketiga bocah itu serentak menoleh kemana telujuk Hyunje mengarah, dan kesempatan itu digunakan Hyunje untuk menarik pergelangan tangan Dong Ha, membawa Dong Ha berlari menjauhi ketiganya.

“Lihat, mereka kabur!”

“Ayo kejar!”

Dong Ha melirik kebelakang dan mendelik ngeri saat ketiga temannya mengejar mereka, “Hyunje-ya, mereka mengejar kita!” teriaknya.

“Kalau begitu percepat larimu!”

“Huwaaaaaa.” Teriak mereka bersamaan saat mempercepat larinya.

***

Hosh.. Hosh..

Deru napas Dong Ha dan Hyunje terdengar disana. Keduanya berdiri sedikit membungkuk dengan kedua tangan bertumpu pada lutut. Napas keduanya saling memburu satu sama lain. Cukup lama mereka berlari menjauhi ketiga teman Dong Ha yang nakal hingga hampir saja membuat mereka kehilangan udara untuk bernapas. Keringat membasahi wajah keduanya, sesekali mereka menyeka keringat itu dengan tepalak tangan.

Dan saat napas itu mulai terdengar normal, Hyunje menatap tajam Dong Ha yang telah berdiri menyandar pada sebuah pohon besar, “Kau itu bodoh, ya? Bagaimana bisa kau berteman dengan ketiga bocah menyebalkan itu?!” omelnya.

Dong Ha sempat terkejut, lalu menatap tak suka pada Hyunje, “Mereka teman sekelasku, tentu saja aku berteman dengan mereka.” Belanya.

“Tapi mereka mengganggumu setiap hari, Ha-ya. Kau tidak merasa terganggu?”

“Biasa saja, kau juga sering menggangguku, kan?”

Hyunje menggigit bibirnya kesal saat tuduhan Dong Ha tepat sasaran mengenainya. Bukankah ia juga sering mengganggu Dong Ha? “Itu berbeda, bodoh! Mereka itu mengerikan. Lihat saja saat mereka ingin melemparku dengan batu.”

Dong Ha memutar bola matanya acuh, “Kau yang lebih dulu melempar mereka dengan ranting pohon, jadi jangan salahkan mereka.” Sahutnya.

“Mwoya?!” teriak Hyunje. Tangannya terkepal kuat, bersiap-siap memulai pertengkarannya berasa Dong Ha.

Namun Dong Ha yang menyadari itu berusaha melarikan diri dengan alasannya, “Sudahlah, aku ingin kembali ketenda.” Ia membalikkan tubuh, lalu segera menyeret langkahnya menjauhi Hyunje. Namun baru saja beberapa langkah berjalan, ia kembali berhenti. Kedua mata Dong Ha mengerjap cepat ketika menyadari sesuatu. Ia menatap sekelilingnya, hanya ada pepohonan dan daun-daun yang berserakan diatas tanah. Bocah ini meneguk ludahnya berat saat membalikkan tubuh dan menatap Hyunje dengan wajah pucat.

“Apa?!” bentak Hyunje yang masih menatap geram dirinya.

“Hyunje-ya…” panggil Dong Ha pelan dengan suara gemetar, “Kau tahu tidak, sekarang kita berada dimana?” tanya Dong Ha.

Hyunje mengerutkan dahi, menatap Dong Ha tidak mengerti. Dan setelah itu, ia turut mengedarkan pandangan kesekitarnya. Manatap lama pemandangan yang tidak ia kenali disana. Hingga pada akhirnya, ia saling bertatap takut pada Dong Ha.

“Sepertinya kita tersesat.” Ujar Dong Ha.

“Bukan sepertinya,” sahut Hyunje datar. “Tapi… kita memang tersesat.”

Sekali lagi, Dong Ha meneguk ludah beratnya sebelum berteriak.

“Huwaaaaaa.”

Dong Ha melangkah cepat mendekati Hyunje, “Ottokaeh? Aku tidak tahu jalan kembali ketenda.” Rengeknya sembari mengguncang-guncang lengan Hyunje yang hanya berdiam diri.

Hyunje melirik sekali lagi kesekitarnya, “Aku juga tidak tahu.” Gumamnya lirih. Rasa takut mulai menghampirinya saat membayangkan mereka hanya akan berdua disana, tersesat hingga tidak dapat bertemu kedua orang tua mereka lagi.

***

Setelah berpikir cukup lama, Dong Ha dan Hyunje memutuskan menyusuri Hutan itu dengan mencoba mengingat-ingat jalanan apa saja yang mereka lalui saat berlari tadi. Untungnya kedua bocah ini memang memiliki otak cerdas untuk berpikir hingga dapat menekan rasa takut mereka. Mungkin, jika hal ini terjadi pada anak berusia enam tahun lainnya, mereka pasti hanya akan menangis ditempat menunggu seseorang datang menjemput. Tapi Dong Ha dan Hyunje tidak, mereka tidak suka berdiam diri dan memilih berusaha mencari jalan keluar agar secepatnya bertemu dengan yang lainnya.

Cukup lama mereka berjalan namun belum juga mendapatkan hasil yang diinginkan. Bahkan Dong Ha lebih dulu meminta beristirahat karena kakinya lelah berjalan. Ia duduk dibawah sebuah pohon dengan kedua kaki terjulur kedepan, tangannya memukul-mukul pelan kedua kakinya yang terasa pegal, “Lelah sekali.” Gumamnya. Ia menyeka keringat diwajahnya meski wajahnya mulai tampak begitu lelah bercampur takut.

Hyunje yang melihat itu merasa kasihan pada Dong Ha. Sejak tadi mereka memang tidak saling bicara. Keduanya terlalu sibuk memikirkan jalan keluar dari Hutan ini. Hyunje tersentak saat mengingat sesuatu. Ia menurunkan ransel yang masih ia bawa, mengeluarkan satu kota bekal makanan dan sebuah botol minuman dari dalam ranselnya. Ia kembali melirik Dong Ha, menghela pelan lalu mendekati bocah itu. Duduk berdampingan bersama Dong Ha, menyodorkan botol minumnya, “Ini, minumlah.” Ujarnya

Dong Ha menatap botol minum dan Hyunje bergantian, lalu mulai tersenyum kecil dan menerima botol minuman itu, “Terima kasih.” Ucapnya riang sebelum meneguk minuman itu dengan penuh kehausan.

Hyunje mengangguk kecil, “Sisakan untukku.” Gumamnya sembari membuka kotak bekalnya. Ada dua buah sandwich berukuran sedang didalamnya. Ia tersenyum kecil, “Untung saja Omma membawakanku bekal, setidaknya ini bisa membantu perut kita.” Ujarnya.

Dong Ha yang masih meneguk minumannya melirik Hyunje, lalu tatapannya jatuh pada dua sandwich itu, “Eo, kebetulan sekali. Aku sangat lapar…” ujarnya. Ia memberikan botol minuman itu pada Hyunje dan segera menyambar sepotong sandwich itu.

Hyunje memasang wajah datarnya, “Sepertinya aku belum memberikannya padamu.” Ujarnya sinis.

Dong Ha tersenyum acuh, lalu mulai menggigit sandwich itu. ia mengunyah sampai lima kali kunyahan hingga lama kelamaan, kunyahannya memelan. Dong Ha menatap Hyunje dengan tatapan aneh, “Kenapa rasanya sedikit aneh, Hyunje-ya?” tanya bocah ini polos. Lidahnya benar-benar mengacapi sebuah rasa asin didalamnya.

Hyunje melirik Sandwich miliknya, lalu tersenyum simpul, “Jangan terlalu berharap lebih pada masakan Omma-ku. Dia masih ingat membawakan makanan ini saja sudah sebuah keajaiban.” Kekehnya.

Dong Ha menganguk mengerti, “Ah… kau benar. Aku lupa jika Ahjumma tidak bisa memasak. Hahaha, Omma-ku saja sangat pintar memasak, bahkan masakannya sangat enak.” Ujar Dong Ha bangga.

Hyunje tertawa pelan, lalu turut menyandarkan diri pada pohon itu dan menatap lurus kedepan dengan tatapan lirih. Bibir kecilnya bergerak seperti menyebutkan sesuatu. Omma. Dan ternyata, Dong Ha sedang memperhatikannya saat itu. Bocah ini tersenyum kecil, ia menyentuh bahu Hyunje dengan bahunya dan tersenyum lebar.

“Kau rindu pada Ahjumma, ya?” godanya.

Wajah Hyunje memerah, “Rindu apa?” kilahnya. Merengut masam lalu mulai memakan sandwichnya.

Dong Ha tertawa pelan lalu merangkul punggung Hyunje mendekat kearahnya, “Tenang saja, sebentar lagi kita pasti akan bertemu mereka.” Hiburnya.

Hyunje tidak bisa menahan senyum lebarnya, namun ia cepat-cepat meneguk minumannya demi menyembunyikan senyuman itu. Setelah itu, ia melirik lengan Dong Ha yang masih melingkar di punggungnya, “Hei, kau sudah bisa melepaskan rangkulanmu. Kita terlihat menjijikkan seperti ini.” Ujarnya datar pada Dong Ha.

Dong Ha merengut dan segera melepas rangkulannya, kembali menikmati sepotong sandwich yang mulai terasa cukup enak di lidahnya, “Sepertinya sudah mulai siang.” Gumam Dong Ha pelan.

Hyunje melirik sekitarnya. “Dari mana kau tahu? Memangnya kau membawa jam?”

Dong Ha menggeleng kecil, “Lihat,” ia menunjuk kesuatu tempat. “Mataharinya terlihat sangat terang dan menyilaukan. Biasanya, kalau matahari sudah seperti itu, saat ini pasti sudah memasuki pukul 12 siang.” Jelasnya.

Hyunje mengerutkan dahinya, menatap lama Dong Ha yang tampak asik dengan sandwichnya, “Kau mengetahui itu dari mana?” tanya Hyunje.

“Omma, dia pernah menjelaskan hal seperti itu padaku. Dan setelah itu, aku jadi sering memperhatikan sinar matahari,” jelasnya rigan. Dong Ha tersenyum kecil. “Memangnya kau tidak tahu?”

Hyunje menggeleng pelan. Dalam hati bergumam kagum melihat kepintaran Dong Ha. Ia saja tidak pernah mau merepotkan diri dengan memperhatikan matahari atau sejenisnya. Baginya hal itu terlalu membuang waktu. Ia lebih suka menghabiskan waktu dengan game, film cartoon, atau coklat dan cake. Selebihnya, waktunya akan sangat berharga jika sedang merecoki Je Wo dan Kyuhyun.

“Tentu saja, kau hanya tahu game, kan?” cibir Dong Ha dengan senyum puas.

Bocah itu merengut masam. “Jangan memulai pertengkaran denganku, Ha-ya…”

Dong Ha tersenyum lebar, “Ah… aku sudah kenyang, sekarang bagaimana?” tanya bocah itu dengan tatapan polosnya.

Hyunje mendengus malas, ia melirik sandwichnya yang masih tersisa. Mengela panjang dan kembali memasukkan sandwich itu kedalam kotak bekalnya, “Kita lanjutkan perjalanan.” Jawabnya.

Dong Ha mengerjap pelan. “Makananmu belum habis.”

“Aku tidak lapar.”

“Tidak boleh begitu, kau harus makan.”

“Nanti saja.”

“Kapan?”

Hyunje meringis geram pada Dong Ha, “Kapan pun itu bukan urusanmu! Yang penting sekarang kita kembali berjalan agar dapat kembali ketenda. Memangnya kau mau berada disini sampai malam dan kita berdua akan dimakan binatang buas?!” semburnya.

Dong Ha bergidik ngeri lalu menggeleng kuat.

“Kalau begitu ayo cepat pergi.”

***

“HILANG?!”

Ha Won dan Je Wo mengangguk serentak pada Donghae dan Kyuhyun. Kedua wanita itu baru saja menerima informasi jika anak mereka hilang dari kelompok masing-masing. Seketika keduanya pergi menemui Kyuhyun dan Donghae yang saat ini tengah berada di sebuah stasiun televisi untuk melakukan syuting sebuah acara.

“Hilang bagaimana?!” bentak Kyuhyun pada Je Wo.

Je Wo meneguk ludah beratnya, “Pihak sekolah bilang, Hyunje dan Dong Ha sempat berkelahi dengan beberapa temannya lalu mereka berlari memasuki Hutan dan sampai saat ini belum ditemukan.” Jawabnya dengan suara parau dan cemas.

“Ya Tuhan…” geram Donghae, meremas rambutnya gusar.

Ha Won melangkah mendekati Donghae dan menyentuh punggung suaminya, “Oppa…” panggilnya lirih.

Donghae menatapnya, tatapan yang sama sekali sulit untuk diartikan, “Lihat, kan. Sudah kukatakan sejak awal jika lebih baik dia tidak usah mengikuti kegiatan ini. Dan sekarang kau lihat apa yang terjadi? Anakmu hilang, di Hutan, dan hanya Tuhan yang tahu bagaimana keadaannya saat ini.” Ujarnya pelan namun penuh kengerian.

Ha Won menunduk takut, bagaimana pun Donghae benar dan saat ini ia sama sekali tidak tahu harus melakukan apa. Otaknya penuh dengan kecemasan terhadap Dong Ha dan penyesalan terhadap Donghae.

Je Wo melirik Kyuhyun melalui ekor matanya, pria itu melemparkan tatapan mengerikan pada wanita itu hingga Je Wo terpaksa mengalihkan tatapannya pada Eunhyuk dan Sungmin yang memang berada disana.

“Sekarang apa yang akan kau lakukan?” tanya Kyuhyun dingin pada Je Wo.

Wanita itu menghela pelan, sejujurnya ia bisa memaklumi kemarahan Kyuhyun dan Donghae, tapi bagaimana pun, masalah ini bukan sengaja mereka ciptakan. Dan Je Wo bukanlah wanita yang mau dengan mudahnya di salahkan orang lain termasuk Kyuhyun sendiri.

Ia membalas tatapan Kyuhyun tanpa ekspresi, “Apa lagi? Tentu saja aku akan mencari dimana anakku. Aku dan Ha Won Eonnie akan pergi kesana, berdua,” ucapnya penuh penekanan. “Kau dan Donghae Oppa bisa meneruskan kecemasan kalian disini, aku dan Ha Won Eonnie hanya memberikabar pada kalian.”

Ha Won mengangguk setuju, “Dan kau, Oppa. Jika anakmu belum ditemukan hingga nanti malam, maka aku juga tidak akan pulang kerumah.” Ancamnya sadis.

Donghae dan Kyuhyun serentak meneguk ludah gugup. Memang sampai kapan pun pria akan selalu kalah dengan ancaman wanita, bukan?

***

Dong Ha mengangkat wajahnya keatas, memeriksa warna langit yang mulai menggelap. Kali ini bukan lagi lelah yang ia rasakan, melainkan keputus asaan, rasa lapar dan haus. Ia mendesah saat melirik botol minum ditangannya yang telah tak berisi. Air minum itu telah habis sejak siang tadi dan bahkan, ia yang hampir menghabiskan 80 persen minuman itu. Dong Ha melirik Hyunje yang tampak menghela lelah, keadaan mereka tak jauh beda. Pakaian yang lusuh dan penuh keringat.

“Sudah hampir malam.” Gumam Dong Ha lirih.

“Ya.” Jawab Hyunje pelan.

Keduanya masih terus berjalan tak tahu arah, mulanya keyakinan itu begitu besar tertanam dalam diri mereka, namun semakin lama, keduanya semakin merasa ingin menyerah. Dah hal itu terjadi saat tiba-tiba saja Dong Ha menghentikan langkahnya hingga membuat Hyunje menatapnya tidak mengerti.

“Kenapa berhenti? Kita harus cepat kembali, Ha-ya…” tegur Hyunje.

Dong Ha menunduk dalam, “Tidak usah berjalan lagi. Percuma saja, kita tidak akan pernah bisa kembali.” Jawabnya pelan dengan nada murung.

Hyunje menarik napas panjang, “Jangan begitu, sebentar lagi kita pasti sampai.” Ujarnya dengan suara bergetar. Bahkan ia saja sama sekali tidak yakin mereka akan sampai dimana. Karena sejauh ini, mereka hanya bertemu dengan pepohonan dan jalan tak berujung. Belum lagi saat ini sudah mulai gelap dan demi Tuhan, Hyunje adalah bocah laki-laki yang tidak kebal dengan kegelapan.

“Kita tidak akan penah sampai, Cho Hyunje.”

“Ck, kalau kau terus mengoceh lebih baik kau kutinggalkan saja disini.” Bentaknya.

“Ya sudah, kau lanjutkan saja sendirian. Aku lelah,” ia mengangkat wajahnya yang sejak tadi tertunduk. Menatap Hyunje dengan linangan air mata dan wajah pucatnya, “Aku takut… disini mulai gelap. Aku ingin Omma, aku ingin Appa. Aku mau pulang…” isaknya.

Hyunje tidak bergeming. Bagai mana ini? Pikirnya, ia juga sama takutnya. Ia juga ingin menangis dan berteriak memanggil Omma-nya. Tapi jika ia melakukannya, lalu siapa yang membujuk Dong Ha agar berhenti menangis? Perlahan, Hyunje mendekati Dong Ha, sebelah tangannya menyentuh bahu Dong Ha yang bergetar, sebelahnya lagi ia gunakan untuk menyeka air mata Dong Ha yang sudah mengalir deras, “Aku juga takut gelap, Ha-ya… aku juga ingin menangis. Tapi, kita tidak boleh menyerah.” Ujarnya. Meski ia sendiri sudah ingin sekali menyerah saat ini.

“Tapi aku tidak mau berjalan lagi, Hyunje-ya…” rengeknya. “Kakiku sakit sekali.”

Hyunje mengangguk mengerti, “Kita istirahat disini saja, bagaimana?” ia menengadah keatas, mengerjap pelan lalu berujar. “Lihat, diatas kita ada bulan. Setidaknya kita tidak akan kegelapan disini.”

Dong Ha turut menengadah keatas. Hyunje benar, tepat diatas kepala mereka terdapat bulan yang bersinar terang. Sudut bibir Dong Ha mulai tertarik membentuk senyuman sederhana, “Bulan purnama.” Gumamnya.

“Eung? Bulan apa?” tanya Hyunje tidak mengerti.

Dong Ha mengarahkan telunjuknya pada Bulan, “Bulannya utuh dan bersinar terang. Itu berarti bulan purnama.” Jelasnya.

Dahi Hyunje mengernyit tak mengerti, “Kau mengetahui itu dari Ha Won Ahjumma?” tebaknya.

Dong Ha menatapnya dengan senyum lebar lalu menggeleng polos, “Aku mengetahuinya dari televisi.” Jawbanya. Kini tangisannya digantikan senyuman bocah miliknya.

“Ck, banyak sekali yang kau tahu.” Rutuk Hyunje.

Kedua bocah itu memutuskan menatap bulan purnama sembari duduk diatas dedaunan yang berserakan ditanah. Memeluk lutut masing-masing dengan pandangan terfokus pada bulan yang seakan sengaja menerangi kedua bocah yang tersesat itu disana. Suasana disana benar-benar sepi, hanya terdengar suara jangkrik dan kicau burung yang terkadang membuat keduanya saling berdekatan karena takut.

“Hyunje-ya…” panggil Dong Ha pelan.

“Hem?”

“Kalau kita tidak pernah bisa pulang bagaimana?”

Hyunje menghela napas lagi, kenapa Dong Ha selalu bertanya seperti itu? Aku juga tidak tahu bagaimana, rutuknya dalam hati. Hyunje mengangkat bahu acuh, “Kau ingat si manusia aneh itu, tidak?” tanya bocah ini dengan wajah masih menengadah keatas.

Dong Ha meliriknya, “Abby, maksudmu?” ujarnya.

Hyunje tertawa pelan dan memandang Dong Ha, “Memangnya siapa lagi manusia aneh di dunia ini selain dia? Dia itu wanita, tapi tidak ada satu pun teman wanita yang ia miliki. Dan aku benar-benar pusing jika dia selalu merengek ingin mengikuti kemana kita pergi. Tapi aku bersukur, setidaknya, Siwon Ahjussi belum mengabulkan permintaan Abby untuk sekolah di sekolah yang sama dengan kita.” Tuturnya dengan senyum geli.

“Hahaha, kau benar. Abby memang selalu menyusahkan.” Timpalnya.

Tapi Hyunje segera melayangkan tatapan datarnya, “Seperti kau tidak saja.” Umpatnya.

Dong Ha menggoyang-goyangkan telunjuknya pada Hyunje, “Aku berbeda dengannya. Kau tidak tahu kenapa Abby terlihat aneh dan menyeramkan seperti itu?” bisik Dong Ha.

Alis Hyunje terangkat keatas saat ia menggeleng ringan.

“Kata Appa, itu karena Cheonsa Ahjumma. Ommaku juga bilang jika Abby Omma itu sangat mengerikan jika mengamuk.” Tuturnya dengan wajah serius, matanya tampak mengkilat saat memaparkan apa yang ia ketahui.

Hyunje menghela panjang, “Jangan suka bergosip, kau seperti para Ahjumma. Lagi pula yang mengerikan itu bukan hanya Cheonsa Ahjumma, Ha Won Ahjumma dan Ommaku juga tidak kalah mengerikan. Kau ingat, tidak, saat kita berlibur bersama musim panas tahun lalu?” tanya Hyunje yang memasang wajah serius.

“Eo! Saat kita berlibur di Pulau Jeju?” Hyunje mengangguk kuat. “Bagaimana  bisa aku lupa jika mereka bertiga menitipkan kita di café sedangkan mereka sibuk berlibur dan sama sekali tidak memikirkan kita. Aigo… aku masih ingat bagaimana bosannya berada di café Ahjumma genit itu.” Dong Ha bergidik ngeri mengingat kejadian tahun lalu ketika ketiga wanita gila itu menitipkan anak mereka pada seorang kenalan yang memiliki sebuah café di sekitar Resort yang mereka tempati.

Hyunje mengangguk setuju.

Kreeekkkk

Dan saat itu, tiba-tiba saja mereka mendengar sebuah suara seperti ranting kayu yang terinjak oleh seseorang. Hyunje dan Dong Ha menengang bersamaan. Kedua mata bulat bocah itu melotot bersamaan, sedangkan kedua tangan mereka saling memegangi lengan satu sama lain.

“Su-suara apa itu?” tanya Hyunje takut, wajahnya seketika pucat bagaikan kapas.

“A-aku tidak tahu, tapi… seperti suara ranting kayu.” Jawab Dong Ha terbata.

Hyunje menarik napas dalam, “Suaranya dari belakang tubuh kita, Ha-ya…” bisiknya. Keringat dingin mulai mengusai wajahnya.

“Lalu bagaimana?” balas Dong Ha berbisik.

“Kita lihat kebelakang.”

“Shireo!”

“Wae?”

“Kalau ternyata ada hantu bagaimana?”

“Tidak ada hantu di dunia ini.”

“Dari mana kau tahu?”

“Appaku.”

“Aku tidak percaya pada Kyuhyun Ahjussi, dia suka membual.”

“Lee Dong Ha, Kumohon, saat ini jangan berusaha berdebat denganku meski Appaku memang sering membual.”

Dong Ha meneguk ludah beratnya, lalu menarik napas panjang bersama Hyunje serentak, “Tiga,” hitungnya mundur. “Dua, satu.”

Kepala kedua bocah ini menoleh kebelakang serentak dan…

“HUWAAAAAAAA.”

Teriak mereka bersamaan saat wajah seekor monyet begitu jelas terpampang di hadapan mereka. Wajahnya hitam dan lebar, hidungnya menghembuskan nafas kasar sedangkan mulutnya sedikit terbuka hingga menampakkan gigi-gigi seramnya.

“Lariiiiiiii.” Teriak Dong Ha kuat dan entah bagaimana, bocah itu sudah berlari lebih dulu meninggalkan Hyunje yang gemetaran di tempatnya.

“Tu-tunggu aku, Ha-ya…” wajah pucatnya masih menatap monyet yang berukuran sama dengan mereka itu dari tempatnya, perlahan ia bangkit dan kembali gemetar saat monyet itu melangkah mendekatinya. “Maaf, monyet yang lucu, sepertinya aku harus… huwaaaaa.”

Hyunje menyusul Dong Ha yang sudah lebih dulu meninggalkannya, “Lee Dong Ha, jangan tinggalkan aku!!” teriaknya kuat.

Dong Ha menyempatkan diri menoleh kebelakang, “Huwaaa Cho Hyunje, dia dibelakangmu!!” teriaknya dan semakin mempercepat larinya.

“Mwo?!” Hyunje melirik kebalakang dan benar saja, monyet itu semakin berusaha mengejarnya hingga entah bagaimana Hyunje bisa mendapatkan kekuatan untuk berlari kencang, bahkan dapat mendahului Dong Ha yang tadi meninggalkannya.

***

Hyunje memegangi dadanya saat berdiri setengah membungkuk mengatur napas. Mereka baru saja berhenti berlari setelah monyet menyeramkan tadi tidak tampak mengerjar mereka lagi. Ia dan Dong Ha sudah benar-benar kehilangan energi untuk kembali berlari.

“Mengerikan sekali monyet itu.” Rutuk Dong Ha kesal. “Kau benar, disini sangat berbahaya dan banyak binatang buas, huwaaa Omma!!” teriaknya.

Hyunje sudah tidak ingin lagi membujuknya berhenti histeris seperti itu. Yang ia lakukan hanya mengatur napasnya yang masih tersengal, sedangkan matanya memanas menahan tangis. Hatinya benar-benar merasa kesal hingga ia mencari-cari sesuatu untuk ia tendang demi melampiaskan kekesalannya. Ada sebuah batu di sekitar kakinya, lalu batu itu segera ia tendang, lalu ia mencari lagi dan mendapati sebuah benda persegi empat disana, ia berniat ingin menendangnya juga. Tapi saat ia memperhatikan lebih lama benda itu, ia terpekik kaget, “Eo, psp-ku!” pekiknya dan segera memungut benda persegi empat berwarna hitam itu.

Dong Ha yang mendengarnya segera mendekati Hyunje, “Kenapa psp ini ada disini?” tanya bocah itu di sela isakannya.

“Saat mendengar kau di ganggu oleh ketiga temanmu, aku sedang duduk disini bermain psp.” Jelas Hyunje dengan wajah berseri.

“Benarkah? Kalau begitu_”

“Eum,” Hyunje mengangguk kuat. “Aku tahu jalan kembali ketenda.”

Dong Ha tersenyum lebar dan berhambur memeluk Hyunje, “Huwaaa.” Teriaknya senang.

Hyunje membalas pelukan Dong Ha erat, lalu menggoyang-goyangkan tubuh mereka layaknya bocah pada umumnya.

“Kita pulang, kita pulang.” Teriak mereka bersenandung ringan.

“Cho Hyunje!! Lee Dong Ha!!”

Kedua bocah itu terperanjat serentak saat mendengar suara-suara yang meneriaki mereka. Melepaskan pelukan, keduanya bertatap satu sama lain.

“Mereka mencari kita.” Ujar Dong Ha.

“Eum, ayo cepat!”

Hyunje dan Dong Ha berlari lurus kedepan dengan langkah kaki cepat penuh ketidak sabaran. Lalu keduanya dapat melihat sinar beberapa senter yang mengarah kehutan dan mengenai wajah mereka hingga kedua kaki mereka semakin kencang untuk berlari.

“Lihat, ada dua orang anak kecil berlari kemari.” Teriak salah seorang pria yang mengarahkan senternya kearah Hyunje dan Dong Ha.

Ha Won dan Je Wo yang saat itu tengah berjalan kesana kemari dengan wajah Cemas sontak menatap kemana senter itu mengarah.

“Cho Hyunje?”

“Lee Dong Ha?”

Pekik mereka serentak.

“Omma!!!!” teriak kedua bocah itu bersamaan saat menghambur kedalam pelukan Ibu masing-masing.

Ha Won mau pun Je Wo segera memeluk erat anak mereka masing-masing. Sebening air mata menetes saat senyuman lega mereka merekah disana. Je Wo mengelus punggung Hyunje lembut, begitu merindukan pelukan hangat bocah nakal itu. Sedangkan Ha Won mengecupi wajah Dong Ha sembari menanyai ini-itu pada anaknya.

“Kau baik-baik saja, apa ada yang terluka?”

“Bagaimana bisa kalian berada terlalu lama di dalam sana?”

“Ya Tuhan… wajahmu sekacau ini, sayang.”

“Sukurlah kau tidak apa-apa.”

Berbagai pertanyaan dan kalimat gusar terucap dari bibir kedua wanita itu. Mereka tidak hentinya memeluk, mencium dan memeriksa sekujur tubuh anak mereka untuk memastikan jika Hyunje dan Dong Ha baik-baik saja.

Sedangkan kedua bocah itu saling tatap dan melemparkan senyum tulus satu sama lain. Rasanya hari ini adalah hari terpanjang bagi mereka, sekaligus hari terlama bagi mereka menghabiskan waktu bersama. Hyunje dan Dong Ha tidak pernah akur satu sama lain, jika pun akur, mereka pasti akan bertengkar sebelumnya. Tapi hari ini, sepertinya Tuhan sengaja mengatur waktu untuk mereka habiskan bersama-sama.

“Nyonya, sebaiknya bawa mereka ketempat yang lebih aman dan hangat terlebih dulu, sepertinya mereka sangat lelah.” Ujar seorang wanita tua berkaca mata. Kepala sekolah.

Ha Won dan Je Wo mengangguk, lalu membawa Hyunje dan Dong Ha pergi dari sana. Keduanya berjalan menuju sebuah mobil Van yang sama. Je Wo melempar senyum pada Ha Won sebelum membuka pintu mobilnya.

Hyunje dan Dong Ha begitu bersemangat saat melihat pintu mobil terbuka. Dong Ha adalah orang pertama yang masuk kesana dan memekik girang saat menemukan Donghae tengah duduk dengan resah di bangku belakang mobil.

“Appa!” teriaknya saat Donghae menyambar tubuh kecil Dong Ha dan membawa bocah itu kedalam pelukannya.

“Ya Tuhan, sukurlah…” gumamnya lega.

Hyunje masih terpaku menatap pemandangan yang mengharukan itu. Lalu pandangan bocah itu mengarah pada pria yang duduk di bangku tengah sembari menatapnya lekat tanpa berkedip. Sesaat, Hyunje turut membalas tatapan itu tak kalah lekat, lalu perlahan ia memanjat naik kedalam mobil dan menghampiri Kyuhyun.

“Appa,” panggilnya pelan. “Tadi aku bertemu monyet yang menyeramkan. Lalu aku dan Dong Ha berlari kencang menjauhinya hingga_”

Ocehan Hyunje terpotong saat Kyuhyun menggendong bocah itu naik keatas pangkuannya. Kyuhyun memeluk Hyunje erat dan berbisik, “Jika kau ikut kegiatan bodoh seperti ini lagi, aku akan benar-benar meninggalkanmu di dalam Hutan sana, Hyunje-ya,” ancamnya hingga Hyunje menyeringai didalam pelukannya. “Ini perintah, kau mengerti?”

Kepala Hyunje mengangguk setuju.

***

“Kami berjalan hingga lelah, lalu aku memakan bekal makan Hyunje dan kau tahu, Omma? Masakan Je Wo Ahjumma tidak enak. Sandwichnya terasa aneh sekali.” Oceh Dong Ha bersemangat. Ia tengah berada diatas pangkuan Donghae dan kedua kakinya berada diatas pangkuan Ha Won. Sepasang suami istri itu memutuskan jika malam ini Dong Ha akan tidur bersama mereka.

“Lalu tentang monyetnya? Dia tidak melukaimu?” tanya Donghae masih dengan wajah cemasnya.

“Annio… monyet itu hanya mengejar kami. Tapi, wajah monyet itu sangat menyeramkan, seperti…”

Drrrttt Drrttt

Getaran ponsel Ha Won membuat Dong Ha menggantung ucapannya, “Omma, ponselmu bergetar.” Ujarnya.

Ha Won melirik ponselnya yang tergeletak diatas meja lalu tersenyum lembut pada Dong Ha, “Tidak apa-apa, teruskan ceritamu, sayang. Omma masih sangat penasaran.” Tuturnya.

“Ck, angkat dulu. Siapa tahu penting.”

Ha Won mendesah pasrah, kalau sudah begini mana mungkin membantah Dong Ha. Ia meraih ponselnya dengan malas lalu melirik layarnya, “Kyuhyun?” gumamnya pelan. Ia melirik Donghae dan Dong Ha sebentar sebelum menjawab panggilan itu, “Ya?” ada jeda disana, lalu Ha Won menatap Dong Ha. “Hyunje ingin bicara.”

***

“Yeoboseo?”

“Eo, Ha-ya. Kau sudah sampai dirumah?”

“Hem, aku sudah sampai. Sekarang aku, Omma dan Appa sedang mengobrol. Waeo?”

“Ah.. tidak apa-apa, aku hanya ingin bilang selamat malam saja.”

“Hahaha, kau menjijikkan jika seperti ini.”

“Mwoya?!”

“Cho Hyunje, kau membuat Appa dan Omma-ku tertawa, hahaha.”

“Heish, Lee Dong Ha kau menyebalkan! Lain kali aku tidak akan membantumu lagi. Dasar bocah cengeng!”

“Yah! Aku tidak cengeng!”

“Jinja… Lalu siapa yag selalu menangis saat berada di Hutan sana, eo? Aku ingin Omma… aku ingin Appa, aku ingin pulang huwaaaa. Cih, kau CENGENG!”

“Cho Hyunje!”

“Annyeong…. Hahaha.”

Shin Je Wo dan Cho Kyuhyun hanya dapat menatap datar Hyunje yang tertawa girang setelah mengakhiri percakapannya dan Dong Ha, lalu ia melemparkan ponsel Kyuhyun keatas ranjangnya. Bocah ini meminta Kyuhyun agar menelepon Dong Ha, mulanya Kyuhyun kira jika mereka akan terlihat manis saat menelepon nanti. Tapi sepertinya ia salah.

“Kau tidak bisa berhenti merecokinya, ya?” tanya Je Wo putus asa. Wanita ini selalu tidak suka jika melihat Dong Ha menangis karena ulah Hyunje.

Hyunje menggeleng kuat, “Merecokinya sangat menyenangkan, Omma.” Jawabnya sembari menyeka air mata di wajahnya.

“Heish, sudahlah. Sebaiknya kau cepat tidur dan beristirahat. Kau bilang kedua kakimu sakit karena berjalan dan berlari seharian. Besok, sekutumu, Cho Ahra akan kesini dan membawakan banyak mainan.” Ujar Kyuhyun.

“Jinja? Hahaha baguslah.” Tawanya lebar.

Je Wo menggelengkan kepalanya pelan dan mengambil tempat, duduk ditepi ranjang Hyunje. Ia mendorong dahi bocah itu hingga terbaring diatas ranjang, “Tidur.” Perintahnya tajam. Lalu Je Wo sedikit membungkuk dan memberikan kecupan lama diatas dahi Hyunje. “Kuharap ini terakhir kalinya kau membuaku hampir mati cemas.”

Hyunje tersenyum lebar dan mengangguk. Ia melirik Kyuhyun yang melangkah mendekatinya, “Ah, stop! Appa jangan menciumku. Tadi sudah memelukku berkali-kali, kan? Aku ini anak laki-laki, tidak boleh terlalu sering di cium oleh orang lain.” Sungutnya.

Kyuhyun mendesis geram, “Memangnya kenapa? Tadi Omma menciummu!” rutuknya.

“Itu berbeda, Appa. Sudahlah, aku ingin tidur.” Hyunje menarik selimutnya keatas dan menutupi seluruh tubuhnya. Tersenyum geli saat mendengar racauan Kyuhyun yang tidak terima atas penolakannya.

***

“Jadi mereka sudah tidak apa-apa, Oppa?” tanya Cheonsa pada Siwon. Ia menyodorkan segelas teh hangat pada suaminya yang sedang duduk nyaman diatas sofa ruang televisi.

“Ya, Donghae bilang, Dong Ha dan Hyunje baik-baik saja dan sudah kembali saling bertengkar saat Hyunje menelepon Dong Ha.” Siwon tertawa pelan saat menceritakannya, begitu juga dengan Cheonsa yang mendengarnya.

Sedangkan seorang bocah perempuan yang tengah mencuri dengar di balik dinding kokoh rumahnya, tersenyum lega. Ia menghela napas panjang dan mulai melangkah memasuki kamarnya dengan kedua kaki berjinjit pelan agar tidak menimbulkan suara hingga membuat Han Cheonsa meneriakinya di tengah malam seperti ini.

Abbigail, atau yang lebih sering di panggil Abby oleh orang-orang terdekatnya. Anak perempuan pasangan Choi Siwon dan Han Cheonsa, segera melemparkan dirinya diatas ranjang empuk yang menyerupai ranjang seorang putri raja. Bocah penuntut ini masih tersenyum lebar saat menarik salah satu laci meja yang berada di samping tempat tidurnya, mengeluarkan selembar foto yang memampang wajah dua bocah laki-laki seumurannya.

“Baguslah kalian baik-baik saja, kupikir kalian akan mati di makan srigala disana,” ia tersenyum manis. Senyuman manis yang begitu mengerikan menurut Dong Ha dan Hyunje. “Setidaknya, aku masih bisa bermain bersama kalian dan…” ia menyeringai ngeri. “Aku akan secepatnya berada di sekolah yang sama dengan kalian. Besok, aku akan berpura-pura sakit agar Appa menuruti keinginanku. Lee Dong Ha, Cho Hyunje, kalian milikku.”

Ia tersenyum manis dan mendekap foto itu di dadanya, lalu mulai memejamkan mata. Menunggu hari esok, dimana ia akan kembali bertemu dengan kedua bocah yang begitu menganggap dirinya menyebalkan. Tapi, Abby begitu menyukai saat-saat dimana mereka akan berteriak.

“Abby! Jangan mengikuti kami!”

THE END

Abby::

1059281_399832446803597_1571250203_n

Hohohoho.

Akhirnya selesai juga ini FF gaje kekeke.

Keknya aku memang lagi demen2nya bikin kisah 3 musketer Junior ini hahahaha.

Ini masih 2, yang satu lagi, si Abby segera meluncurrrrr.

Okeh, udah malam…

Princess mau bobok dulu ya…

*Dekap MG hangat*

Shin Je Wo

181 thoughts on “The Advanture of Hyunje and Dong Ha

  1. wahh DAEBAK!!! Cho hyunjae? akhh aku membayangkan bocah itu layaknya recipon Leo,sangat menggemaskan, tampan juga evil seperti kyu,benar-benar tuan cho kecil yg manis :*

  2. Waduh sepertinya makin seru aja nih cerita hyunjae-eunjae….
    Mereka bakal stres tuh di. Sekolah kalo ada abby…hahahhaha
    Sabar aja yah hyunjae-eunjae
    HeheHhehehe
    Eonni,fighting!!!

  3. astaga aigooo…..
    wkwkwkwkwk sumpah baca ff ini buat aku gregetan dan senyum2 gaje.
    tingkah hyunje dan dong ha lucu bgt dan polos. salut buat hyunje yg berani lawan 3cowo yg lebih besar walopun sempet kabur wkwkwkakakak
    ekspresi kyuhyun dan donghae sumpah bikin tertawa ngakak😀
    daebak eonni ‘-‘)9

  4. Haha, gokil bgt critanya. Gw ketawa kak pas adegan hyunje lari trus bs mendahului dong ha. Dan apa itu “sekutumu, cho ahra” haha, , ya ampun gokil bgt ni ff nya

  5. aduh ngebayangin hae n kyu pas lg panik gmn ya ekspresi.a ??
    emng dasar dah anak” oppa deul pada aneh” tp… luuuccuuuu😀 #triak ga jelas

    daebak bgt dah chingu ff.a🙂

  6. Beberapa adegan yg sumpah udah dibaca berulang-ulang tetep ajah bkin ketawa guling-guling gaje:1)”Dia hanya akan pergi mengikuti pelatihan pekan olah raga, Oppa. Bukan ingin pergi mengikuti kemiliteran.” kata Ha Won
    2)Dong Ha tersenyum acuh, lalu mulai menggigit sandwich itu. ia mengunyah sampai lima kali kunyahan hingga lama kelamaan, kunyahannya memelan. Dong Ha menatap Hyunje dengan tatapan aneh, “Kenapa rasanya sedikit aneh, Hyunje-ya?” tanya bocah ini polos. Lidahnya benar-benar mengacapi sebuah rasa asin didalamnya. Hyunje melirik Sandwich miliknya, lalu tersenyum simpul, “Jangan terlalu berharap lebih pada masakan Omma-ku. Dia masih ingat membawakan makanan ini saja sudah sebuah keajaiban.” Kekehnya.

    3)Lee Dong Ha, Kumohon, saat ini jangan berusaha berdebat denganku meski Appaku memang sering membual.” sumpah deh ampe sakit perut😆 gegara kebanyakan ketawa si Abby jeongmal kyeopta gitu knapa si bocah Hyunje sma Dong Ha gak suka Eon?? Penasaran bnget nih ma kelanjutannya 😊
    Gomawo
    Annyeong 😄

  7. walaupun hyunje dan dong ha udah melewati hari yang panjang tetap aja akhirnya berantem juga, abby cantik dan lucu kenapa hyunje dan dong ha bilang menyebalkan? Lucu sama sikap kyuhyun dan dong hae yang sama-sama gak mau anaknya ikt kegiatan di hutan

  8. Waahh..critany bgus..
    sorg kyu n hae..trllu..bkin ngkak ajj..
    biasany yg kgwtir mah cwe..bkn cwony..
    hyunje iri klo jae wo muji“ dong ha??!!

  9. hahahaha lucu bnget si hyunje,. . >.< wkwkwkwkwk q salut, walau nakal tapi masih ada sisi baiknya.,😀
    dong ha bener" polos dan manja eoh,. ??🙂 sma kayakk donghae,.😀
    bner" pengalaman yg lucu,. ^_^ g bsa byangin ekspresi kyu, khawatir dengan hyunje,.

  10. aigo seru bgt, ga kebayang deh kalau Abby juga ikutan hilang…uww pasti para appa tampan ini akan menangis😀
    Dong Ha persis seperti Hae terlalu polos dan Hyunje memang sedikit lebih pemberani..

  11. Aduh ak kayak org gila, malem” ketawa tp habis itu nangis, terus ketawa lagi,, wkwkkwkwwkkwk, mereka lucu, tp nyebelin, pengen ak tendang.. Ahahahahahhaha
    Aigoo,,, abby,, ak tunggu kehadiranmu

  12. haha. . kluarga lucu, anak.a jg lucu. .dong ha klewat polos. .hyunje hrus nahan emosi klo dket2 dong ha kkk~
    yg dpikiran q kok malah klo hyunje-dong ha-abby dewasa bakal cinta segitiga hahah😀 #abaikann thor, pikiran gaje >_<

  13. Like father like son’s / daughter
    Huahahaha seru bgt liat kelakuan hyunje – dongha tar berantem tar akur ckkckcck anka kecil tp pikirannya dewasa

    Lucu liat appa mereka yg ngotot anaknya ga ikut acara kemping di hutan .. sdari ancaman hingga rayuan keluar … tp mereka panic luar biasa saat anak mereka tersesat loh … heheheh good appa :
    “Hutan itu berbahaya, nanti kalau kau dimakan Binatang buas bagaimana?”
    “Jika kau ikut kegiatan bodoh seperti ini lagi, aku akan benar-benar meninggalkanmu di dalam Hutan sana, Hyunje-ya,”

    And abby menutup dengan ending yang muaniiiiiiiiisssssssssssss deh ….
    “Baguslah kalian baik-baik saja, kupikir kalian akan mati di makan srigala disanaan Hyunje. Setidaknya, aku masih bisa bermain bersama kalian dan Aku akan secepatnya berada di sekolah yang sama dengan kalian. Besok, aku akan berpura-pura sakit agar Appa menuruti keinginanku. Lee Dong Ha, Cho Hyunje, kalian milikku.”
    Huahahaha oh iya author … bikin donk kisah abby hyunje – dong ha … pasti seru deh ……..

  14. “Jangan terlalu berharap lebih pada
    masakan Omma-ku. Dia masih ingat membawakan makanan ini saja sudah sebuah keajaiban.” bwahaha Hyunje mah kalo ngomong seenak jidatnya sendiri😀

  15. Ceritanya bikin senyum2 gaje. Ada2 aja tingkah konyol hyunje-dongha, dua anak ini ngegemesin kalo lagi bareng2. Anak bapak ga beda jauh ternyata. Hyunje yg suka godain dongha, sama kayak kyuhyun yg suka godain donghae. Itu sikap dongha yg polos mirip donghae. Jadi, kayaknya kalo je wo pengen anak hyunje polos kayak dongha ga pernah bisa. Kyuhyun aja begitu kelakuannya.
    Bahkan disaat anak mereka hilang, si bapak ga bisa bantu nyari garagara status.
    Seru tuh kalo petualangan mereka ditambah abby :v

  16. Wah kalo di buat sequel’a bgus nie buat Hyunje, Dong ha, sama abby ,,,,,,
    hyuk kapan pya baby,
    kalo anak’a Kyu kn Bengal
    Anak’a Hae kn Manis
    Anak’a Won kn Mempesona
    nah kalo Anak’a Hyuk Yadong ,,,
    hehehehe

  17. bisa bayangin kalau punya anak kayak cho hyunje. pemberani, pinter. ya walau kelakuannya minta ampun. good lee dongha. keduanya sama2 lucu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s