Life

cats

 

 

 

 

 

 

Terdengar helaan napas berat di dalam sebuah kamar bersinarkan lampu yag tidak begitu terang disana. Langit sudah berganti warna menjadi hitam pekat. Malam ini, entah kenapa Shin Je Wo tiba-tiba saja mendownload seluruh Video yang berhubungan dengan suaminya. Awalnya ia tampak begitu senang karena dapat menertawakan ulah konyol Kyuhyun di berbagai hasil Video yang ia Download. Namun saat ia menemukan sebuah Video yang menampakan sebuah kecelakaan yang menimpa suaminya, tiba-tiba saja suasana hatinya berubah. Ia memang sudah tahu jika Kyuhyun pernah mengalami kecelakaan tahun 2007 silam, namun belum pernah mencaritahu hal itu sedalam ini. Dan malam ini, ia mencari informasi mengenai kecelakaan itu. Sialnya, setelah mengetahui kronologi dan melihat dengan jelas bagaimana tubuh pria itu masuk kedalam mobil Ambulance, lalu koma selama beberapa hari, dan terpaksa harus merusak bagian tubuhnya demi membuatnya bertahan hidup.

Bibir Je Wo meringis begitu saja. Membayangkan hal semengerikan itu dialami oleh Kyuhyun, dan yang membuatnya sangat bersukur, pria itu masih hidup dan bernapas hingga detik ini. Aku berterima kasih padamu, Tuhan, batinnya. Ia menyandarkan diri pada dinding ranjang, masih memangku PC tabletnya meski benda itu telah ia matikan karena mulai tidak sanggup jika menyaksikan kecelakaan itu lebih banyak lagi.

“Mengerikan sekali.” Gumamnya pelan, wajahnya mendadak menjadi pucat.

Dan semenit setelah itu, pintu kamarnya terbuka, menampakkan sosok pria yang baru saja menjadi fokus pikirannya. Kyuhyun masuk dengan wajah lelah walaupun tidak lupa menyunggingkan senyum tipisnya, “Kau belum tidur?” tanya pria itu.

Je Wo tidak menyahut, masih memperhatikan dengan lekat segala gerak gerik Kyuhyun. Saat pria ini meletakkan tas bersarnya di sembarang tempat, lalu melemparkan ponsel dan kunci mobilnya diatas meja rias Je Wo. Semuanya tak luput dari pandangan Je Wo. Tapi yang lebih menjadi sorot pandangnya adalah dada pria itu yang masih terbalut oleh kemeja berwarna putih yang ia kenakan.

Merasa Je Wo tampak aneh sejak tadi, bahkan tidak menjawab pertanyaannya, Kyuhyun memutar tubuh menghadapnya, “Ada apa?” tanya Kyuhyun.

Je Wo menghela napasnya dan menggeleng pelan, beranjak dari tempatnya, mendekati Kyuhyun yang masih memandangnya. Gaun sutra berwarna pink muda dan hanya memiliki satu tali di setiap bahu yang ia kenakan sempat terangkat saat ia meloncat turun dari atas ranjang. Wajahnya menatap Kyuhyun tidak berekspresi setelah ia berdiri tepat di hadapan suaminya.

Kedua alis Kyuhyun bertaut tidak mengerti melihat ekspresi yang Je Wo lemparkan padanya, “Yah, kau kenapa? Aneh sekali…” ujarnya.

Je Wo menyipitkan kedua matanya, lalu mulai mengulurkan kedua tangannya dan menyentuh kancing kemeja Kyuhyun. Satu kancing pertama berhasil ia buka, namun saat kancing kedua baru saja ia sentuh, Kyuhyun menahan kedua tangannya. Matanya menatap Je Wo kikuk, “A-aku sedikit lengket, bagaimana setelah aku selesai mandi saja?” cengirnya polos. Berpikir jika Je Wo sedang menginginkan sesuatu yang sejak tadi memang ia inginkan.

Je Wo menghembuskan napas berat, “Jangan berpikir macam-macam, Tuan Cho.” Sungutnya. Setelah itu kembali melanjutkan apa yang sempat tertunda sebelumnya. Meski Kyuhyun selalu bergerak-gerak tak nyaman saat Je Wo melepas satu persatu kancing kemejanya, Je Wo terus melepaskannya hingga tuntas.

Dan saat dada bersih itu terlihat, kedua mata Je Wo menatap dada itu dengan tatapan lirih. Sebelah tangannya bergerak menyentuh lembut permukaan dada Kyuhyun, lalu telunjuknya mengitari tempat itu dengan perlahan dan teramat lembut. Mulanya Kyuhyun berjengit tersenyum geli, namun saat menemukan tatapan tak biasa Je Wo, ia seakan mengerti apa yang terjadi.

Kyuhyun menahan pergelangan Je Wo hingga wanita itu menatapnya. Tatapan pria ini mendadak mendingin padanya, “Kau kenapa?” tanya Kyuhyun lagi. Kali ini kedua matanya seakan mengancam Je Wo agar wanita itu membuka mulut.

Je Wo mengerjap beberapa kali sebelum menjawab. “Bagaimana caramu menghilangkan luka itu?”

Tepat, batin Kyuhyun. Ia menghela panjang, kenapa tiba-tiba wanita ini mengungkit masalah itu setelah bertahun-tahun mereka menikah, Je Wo sama sekali tidak pernah bertanya tentang hal itu. Sejujurnya Kyuhyun bersukur wanita itu tidak pernah bertanya karena sampai kapan pun, hal itu masih terlalu sensitif baginya. Kejadian itu, bagaikan sebuah pintu kematian yang hampir ia masuki jika saja keajaiban tidak menghampirinya.

Kyuhyun mengubah cengkramannya pada pergelangan tangan Je Wo menjadi genggaman lembut di jemari istrinya. Ia berusaha menatap Je Wo seperti biasa dan menyunggingkan senyum tipis. Wanita ini sedang cemas dan ia tidak ingin semakin memperparah, “Operasi, kau tidak pernah dengar? Luka apa pun bisa hilang hanya dengan melakukan sekali operasi. Apa lagi luka sekecil itu.” Jawabnya ringan.

Je Wo mengangguk mengerti, namun tatapannya tidak berubah. Ia bahkan memandang Kyuhyun ragu saat ingin mempertanyakan sesuatu, tapi terlalu takut jika membuat Kyuhyun tak nyaman. Akhirnya, ia memilih tersenyum kecil pada Kyuhyun, “Yasudah, sekarang pergi bersihkan dirimu. Kau bilang tubuhmu sedikit lengket, kan? Aku tidak mau tidur denganmu kalau kau bau keringat.” Suruhnya seperti biasa, menyebalkan dan penuh perintah. Namun sejujurnya, ia hanya berusaha  mengalihkan pikirannya.

Kyuhyun mengangguk kecil dan menyeret langkahnya keluar dari kamar, memasuki kamar mandi mereka.

Je Wo mulai membereskan seluruh barang-barang yang Kyuhyun letakan di sembarang tempat, seperti biasanya. Setelah semua selesai, ia kembali keatas ranjang, bergelung dibawah selimut tebalnya dan kembali larut dalam pikiran-pikrannya. Seharusnya aku tidak melihat video itu jika akhirnya seperti ini, batinnya kesal. Ya, dengan segala pertanyaan yang berputar dalam otaknya, bagaimana bisa ia tidur dengan nyanyak jika tidak melontarkan pertanyaan itu pada Kyuhyun.

Belum lagi ia tidak berani menanyakannya mengingat Kyuhyun pasti tidak suka mengungkit masalah itu. Ya Tuhan… aku harus menegak satu obat tidur untuk malam ini, dan kuharap, obat itu bisa mengilangkan ingatanku tentang apa yang baru saja kulihat malam ini. Baru saja ia berniat bangkit, tiba-tiba saja Kyuhyun sudah merangkak diatasnya, membuat ia tepaksa membatalkan niatnya.

“Kau sudah selesai?” tanya Je Wo.

“Eum.”

“Cepat sekali.”

Kyuhyun hanya membalasnya dengan senyuman ringan, lalu ia menunduk, menyapukan kecupan singkat diatas bibir Je Wo sebelum menenggelamkan wajahnya dalam lekukan leher istinya. Je Wo tersenyum kecil, lalu tangannya bergerak keatas, membelai rambut Kyuhyun pelan. Sepertinya sudah lama ia tidak menyentuh rambut tebal itu.

“Style rambutmu bagus, aku suka.” Gumamnya pelan.

Kyuhyun menggumam kecil, “Tanyakan apa yang ingin kau tanyakan, Nyonya Cho.” Bisiknya.

Alis Je Wo berjengit. “Maksudmu?”

“Aku tahu kau memikirkannya sejak tadi. Kecelakaanku. Tanyakan apa yang ingin kau ketahui.” Suaranya teredam dalam lekukan leher itu, namun Je Wo masih dapat mendengar dengan jelas.

Kenapa ia harus membenamkan wajahnya disana? Pikir Je Wo aneh. Ia masih diam selama beberapa menit hingga akhirnya mengerti. Pria ini sedang tidak ingin menatapnya. Ya, Cho Kyuhyun sekali…

Je Wo menarik napas panjangnya, tangannya masih membelai rambut Kyuhyun, “Rasanya bagaimana? Maksudku… saat kau mengalami kecelakaan itu, apa yang kau rasakan?” suaranya terdengar teramat pelan dan hampir menghilang di kalimat terakhir.

“Sakit,” Je Wo merasa jika tubuh Kyuhyun menegang sesaat hingga tanpa sadar ia telah memeluk Kyuhyun erat. “Tapi aku tidak bisa berteriak dan bergerak. Aku hanya dapat mendengar suara orang-orang di sekitarku, lalu berdoa jika Tuhan masih mau menolongku.”

Je Wo menahan napasnya, seakan ia dapat merasakan apa yang Kyuhyun rasakan saat itu. Perlahan, ia memegang kepala Kyuhyun dengan kedua tangannya, mengangkat wajah Kyuhyun dari tubuhnya agar menatapnya. Kyuhyun mengerucut tidak terima.

“Jika ingin bertanya, biarkan aku berada disana.” Sungutnya.

Je Wo terkekeh kecil, “Panas, dan itu tidak nyaman.” Jawabnya.

Kyuhyun memutar bola matanya malas, lalu bergerak kesamping Je Wo, berbaring disana. Sebelah tangannya terlipat di bawah kepala. Lalu ia menatap datar Je Wo yang merangkak keatas tubuhnya, menyanggah dagu diatas dadanya, “Bilang saja kau ingin melihat wajahku.” Cibirnya.

“Itu kau tahu.” Sahut Je Wo puas sambil terkekeh. Ia tidak ingin membuat suasana terlalu larut atau hal konyol akan menimpa dirinya. Menangis, ia benci menangis di hadapan Kyuhyun karena sangat memalukan.

Kyuhyun mendengus malas, “Pertanyaan selanjutnya?” sambungnya. Ia yakin jika Je Wo masih menyimpan banyak pertanyaan untuknya.

“Aku sudah lupa ingin bertanya apa lagi padamu.”

Kyuhyun menyeringai, “Kalau begitu, kita tidur saja, bagaimana?” tawarnya.

Je Wo menggeleng polos. “Aku memang lupa, tapi kurasa kau bisa menceritakan semuanya padaku, Tuan Cho.”

Seharusnya Kyuhyun tahu jika Je Wo tidak akan melepaskan dirinya begitu mudah. Ini memang cukup sulit baginya, mengingat bagaimana wanita ini nanti setelah mendengarnya bercerita. Kyuhyun menyentuh wajah Je Wo dengan jemarinya yang bebas, “Sebenarnya aku malas menceritakannya padamu, itu sedikit… menyedihkan. Dan yang kutahu, kau benci cerita Sad Ending.” Tuturnya.

“Aku bisa dengan mudah mengubah alur cerita, Cho Kyuhyun. Kau lupa siapa aku?” tersenyum kecil padanya.

Kyuhyun memandang wajah itu lama, teramat lama hingga keheningan hampir membuat Je Wo frustasi, “Kau tahu bagaimana rasanya ingin mati tapi tidak ada yang mau menyabut nyawamu?” pertanyaan itu terlontar dan seketika membuat Je Wo menegang. Kedua mata Kyuhyun menyendu dan bahkan menampakkan kesedihan yang jarang Je Wo lihat selama ini. “Seperti itulah rasanya. Saat rasa sakit itu menggerogoti tubuhku, saat kupikir aku tidak akan mungkin bisa terselamatkan, aku menjerit meminta Tuhan segera mencabut nyawaku. Tapi jeritanku tidak terjamah olehnya. Dia membiarkan aku merasakan bagaimana rasanya berada diambang kematian, sementara seluruh potongan gambar kehidupanku terus bermunculan dalam otakku.”

Kyuhyun menarik napas panjang seakan seluruh oksigen yang ia miliki habis hanya dengan bercerita dan mengingat kembali kejadian-kejadian itu, “Kupiki sebentar lagi aku akan mati, hingga aku memutuskan untuk menunggu, menunggu kapan waktu itu tiba dengan segala rasa sakit yang kurasakan. Tapi ternyata tidak,” Kyuhyun menyunggingkan senyum kecilnya saat merasa kedua mata Je Wo memerah. Ia mencondongkan tubuh kedepan, mengecup lama dahi Je Wo, berusaha menenangkan istrinya. “Tuhan masih menyayangiku, dengan seluruh doa keluarga dan Hyungdeul, aku masih dapat hidup hingga detik ini.”

Je Wo mengangguk kecil, “Dan bertemu denganku?” tanya Je Wo, berusaha membuat sedikit canda disana. Ia benar-benar ingin menangis saat ini. Sebegitu menyakitkannya kah rasa sakit yang Kyuhyun rasakan saat itu?

“Itu salah satu kesialanku.”

“Yah!”

Kyuhyun terkekeh pelan saat Je Wo mendelik tajam padanya. Ia mengubah posisi mereka. Saat ini, ia kembali menindih tubuh Je Wo. Menatap wajah istrinya lama dan menjelajahi wajah itu dengan kedua matanya, “Kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal ini padaku?” bisik Kyuhyun pelan.

“Tadi aku tidak sengaja menemukan salah satu Video kecelakaanmu dan ternyata…. Itu sedikit menyeramkan bagiku.” Ringisnya.

Kyuhyun tertawa pelan.

“Tuan Cho,” panggil Je Wo pelan. Wajahnya menatap serius pada Kyuhyun. “Aku bersukur kau masih hidup dan berada disisiku saat ini. Tadinya aku sempat berpikir, bagaimana jika Cho Kyuhyun saat itu tidak terselamatkan? Apa yang terjadi padaku saat ini? Siapa pria yang nantinya akan mendampingiku? Apakah Hyunje akan hadir meski pria yang akan mendampingiku bukanlah kau?” Je Wo tersenyum renyah.

Melihat kedua mata yang semakin tampak memerah itu, Kyuhyun segera memeluk Je Wo, menyandarkan pipi wanita itu diatas dadanya, “Dasar bodoh.” Sindirnya.

“Tapi apa yang aku pikirkan ada benarnya, kan?” sungut Je Wo. Ia tampak menyeka sudut matanya yang mulai berair.

“Tidak ada gunanya memikirkan apa yang tidak terjadi. Nyatanya, aku masih hidup, masih berada disisimu sebagai suami tampan dan kaya raya, dan yang lebih penting, ada Hyunje yang merepotkan kehidupan kita.” Jelasnya. Ia tertawa ringan saat Je Wo mencubit perut buntalnya.

“Kau yang merepotkan.”

“Eiy, tapi kau selalu merindukanku, kan?”

“Percaya diri sekali kau.”

Keduanya tertawa ringan bersama. Lalu saling mengeratkan pelukan masing-masing. Sejenak, keduanya larut dalam pikiran yang melayang jauh entah kemana. Hingga akhirnya, Kyuhyun kembali bersuara dan kembali membawa Je Wo pada kesadarannya setelah ia hampir saja memejamkan mata karena mengantuk.

“Kupikir, kecelakaan itu sengaja Tuhan ciptakan untukmu.” Gumamnya.

“Eung?”

Kyuhyun mendesah panjang, “Saat aku mengalami kecelakaan, Omma selalu menangis untukku. Karena itu, aku benjanji pada diriku sendiri untuk tidak akan pernah membuat Omma menangis lagi karena aku.” Jelasnya.

Je Wo mengerutkan dahinya, mendongak keatas menatap Kyuhyun, “Lalu apa hubungannya denganku?” tanya wanita ini tak mengerti.

Kyuhyun sedikit menunduk hingga kedua ujung hidung mereka bersentuhan, “Jika saja bukan karena janjiku itu, mungkin aku akan menolak tegas perjodohan yang Omma lakukan pada kita.” Ujarnya.

Alis Je Wo semakin mengernyit. Apa hubungannya? Pikirnya tidak mengerti.

“Aku tidak mau melihat Omma menangis karena aku kembali membangkang. Oleh karena itu aku menyetujuinya meski_”

“Kau tidak rela karena ada seorang gadis yang sangat kau cintai.” Sambung Je Wo sedikit menambahkan nada kesalnya dalam kalimat itu. Kini ia mengerti maksud Kyuhyun.

Kyuhyun tidak dapat menahan tawa gelinya mendengar perkataan Je Wo. Jika di pikir-pikir lagi, hal itu telah menjadi kisah yang lucu dan manis bagi mereka, “Itu kan masa lalu.” Ujarnya.

“Yeah…” Je Wo memutar bola matanya malas.

“Eiy… Nyonya Cho, jangan bilang kau masih cemburu padaku sampai sekarang.” Goda Kyuhyun. Tangannya bergerak menyentuh pinggang Je Wo, menusuk-nusuknya hingga wanita itu menggelinjang geli. Ia selalu suka melakukannya, menggoda beberapa bagian sensitif pada tubuh wanita itu menjadi kegemarannya saat ini.

“Cemburu kepalamu!” rutuk Je Wo. Ia mulai mendorong tubuh Kyuhyun menjauh. Sepertinya malam ini sudah cukup baginya untuk berlama-lama menjadi istri yang normal bagi Kyuhyun. Karena sifat menyebalkannya mulai kambuh. “Mungkin dulu memang aku cemburu, tapi sekarang, kalau kau mau, kau bisa kembali lagi padanya. Aku sama sekali tidak peduli.”

“Jinja?” goda Kyuhyun. Ia menyanggah kepala dengan tangan dan siku yang bertumpu diatas ranjang, menatap Je Wo dengan kedua mata berbinar jahil. “Kalau begitu, kau tidak akan keberatan kan, jika aku mulai… mencari gadis-gadis baru.”

Je Wo menyipitkan kedua matanya pada Kyuhyun, “Silahkan, Tuan Cho… aku tidak keberatan. Kau itu sudah tua dan tidak setampan dulu lagi. Lagi pula, aku sudah puas menguras seluruh kekayaanmu. Aku punya rumah mewah, mobil, dan tabungan yang jumlahnya sanggup menghidupiku dan Hyunje selama beberapa tahun kedepan meski tanpa seorang suami.” Ujarnya dengan seringaian lebar. Tidak akan mau mengalah begitu saja pada Kyuhyun.

Kyuhyun mendengus jengah, “Dan setelah kekayaanmu habis, kau akan mengemis kembali padaku, begitu?” sindirnya.

Je Wo menggeleng dengan wajah serius yang terlalu dibuat-buat olehnya, “Aku pantang mengemis, Cho Kyuhyun. Akan lebih baik jika aku mencari pria kaya lainnya yang tampan dan lebih sempurna dibandingkan dirimu.” Ucapnya. Seringaian itu semakin melebar saat raut wajah Kyuhyun berubah masam.

“Begitu?”

“Eum,” angguknya. Kekehan gelinya tidak dapat disembunyikan saat Kyuhyun merangkak kembali keatas tubuhnya dengan wajah tajam dan mengancam. Ia yakin telah berhasil membuat pria itu menyesal dengan godaannya. “Lihat, sekarang siapa yang cemburu, eo?”

“Eo, aku memang cemburu. Bahkan pada pria yang sama sekali tidak ada.” Desisnya.

Je Wo tertawa puas, sementara sebelah tangannya menepuk-nepuk pipi Kyuhyun seakan pria itu adalah seorang bocah. Tampaknya ia begitu senang dapat mendapatkan poin lebih unggul dibandingkan Kyuhyun dalam hal menggoda.

“Sekarang, kau sudah selesai?” tanya Kyuhyun. Nada suaranya berubah sensual dan seketika menghentikan tawa Je Wo. “Tadi aku sudah membiarkanmu menanyai ini itu padaku, menuruti semua keinginanmu untuk bercerita. Lalu kau sudah berhasil membuatku merasa kesal dengan impian yang sama sekali tidak akan pernah terjadi. Nyonya Cho…” panggilnya dengan suara yang terdengar semakin berat. Ia menyeringai ngeri, seringaian yang membuat Je Wo segera memutar otak untuk menghentikan aksi mesum Kyuhyun yang sebentar lagi akan ia lihat. “Aku menginginkanmu, sekarang.”

“Chakkaman!” teriak Je Wo saat Kyuhyun mulai mendekatinya. Kedua tangannya mendorong pelan dada Kyuhyun agar menjauh darinya meski pria itu sama sekali tidak bergerak dari tempatnya.

“Wae? Mau mengatakan jika saat ini tamu sialan itu datang? Jangan harap aku percaya, minggu lalu kau sudah mendapatkannya.” Cecar Kyuhyun. Wajahnya semakin menunjukkan rasa ingin yang menggebu.

“Bu-bukan, aku ingin bilang kalau…” kedua bola matanya bergerak kesana kemari mencari alasan.

“Lupakan.” Kyuhyun mendekati kedua bibir Je Wo. Namun sayang, saat sebentar lagi bibir itu bersentuhan. Pintu kamar mereka terbuka begitu saja dan terdengarlah teriakan yang memekakan.

“Omma! AC dikamarku mati dan disana sangat pan_” Hyunje mengerjap berkali-kali saat melihat bagaimana pose kedua orang tuanya yang sangat mencengangkan, “Nas.” Sambungnya pelan.

Kyuhyun sontak berpindah kesamping setelah menyadari keberadaan Hyunje yang sedang memperhatikan mereka, “Yah!” teriaknya murka. “Apa yang kau lakukan disini?!”

Je Wo berdehem berkali-kali, wajahnya memerah saat Hyunje melemparkan tatapan aneh padanya. Ia segera duduk tegak menatap Hyunje.

“Apa yang kalian lakukan tadi?” tanya bocah itu tanpa menghiraukan tatapan murka Kyuhyun. Matanya mengerjap polos memandang Je Wo. “Kenapa Appa berada diatas tubuhmu, Omma? Kalian bertengkar?”

Je Wo menggigit bibir bawahnya malu. Kenapa Hyunje harus melihat mereka saat sedang seperti itu? Dan apa katanya? Bertengkar?

“Ne, kami hampir saja bertengkar jika kau tidak datang dan mengganggu.” Umpat Kyuhyun dan setelah itu seketika mendapatkan pelototan tajam oleh Je Wo.

“Kenapa kau kemari?” tanya Je Wo pada Hyunje, berusaha mengalihkan pikiran bocah itu.

Hyunje tersentak dan kembali teringat apa tujuannya kesana. Ia mendekati ranjang dan memanjat disana hingga kini telah duduk bersila menghadap kedua orang tuanya, “AC dikamarku mati, Omma. Aku tidak bisa tidur, disana panas sekali.” Rutuknya. Kedua pipinya menggembung. Bocah ini tampak semakin tinggi akhir-akhir ini. Je Wo kira ia akan menuruni bentuk tubuhnya yang pendek, ternyata tidak.

“Mati?” ulang Kyuhyun.

“Eum.” Sahut Hyunje.

Kyuhyun dan Je Wo saling pandang.

“Aku tidak mau tidur dikamar, aku tidur disini saja.” Ujarnya.

Kyuhyun mendelik ngeri, “Tidak bisa!” bantahnya.

Dan bocah itu turut membalas tatapan tak suka yang di lemparkan Kyuhyun padanya, “Aku-tidur-disini.” Ucapnya penuh penekanan.

“Kau sudah memiliki kamar sendri, Tuan muda Cho. Jadi jangan bertingkah.”

“Kalau Appa mau, Appa saja yang tidur dikamar itu dan aku yakin, besok Appa akan menjadi Ubi rebus setelah keluar dari sana.” Sungutnya, kedua tanganya berkacak dipinggang.

Je Wo tersenyum suka saat melihat Hyunje dan Kyuhyun saling berargumen. Keduanya tampak mirip. Dan Je Wo lebih menyukai ketika Hyunje mengadu padanya dengan rengekan kecil dan menyebut Omma… Dan lagi pula, kali ini Hyunje benar-benar bisa menyelamatkannya dari kemesuman Kyuhyun malam ini.

“Baiklah, kau tidur disini saja malam ini.” Sela Je Wo ditengah-tengah perdebatan Ayah dan Anak itu.

“Mwoya?!” teriak Kyuhyun.

Hyunje tersenyum lebar dan memekik girang, lalu kakinya berusaha menggeser jarak Kyuhyun dan Je Wo agar ia dapat berada ditengah-tengah keduanya. Cukup sulit ia melakukannya karena Kyuhyun tidak mau bergerak hingga akhirnya ia menyambar salah satu bulu kaki Kyuhyun dan mencabutnya tanpa sungkan.

“Akh!!”

“Hahaha, rasakan.”

Hyunje menarik lengan Je Wo agar berbaring dan mendekap wanita itu seperti guling, “Malam ini Omma milikku, Appa.” Ujarnya dengan mata terpejam dan senyuman lebar.

Je Wo menahan senyum, melirik Kyuhyun yang mengerang kesal. Pria itu tidak mau mengalah dan mengangkat Hyunje dari sana, melepaskan pelukannya pada Je Wo.

“Yah!” teriak Hyunje tak terima.

Kyuhyun meletakkan bocah itu disampingnya sementara ia mengambil posisi ditengah dan memeluk Je Wo seperti yang di lakukan Hyunje sebelumnya. Ia membelakangi Hyunje yang merengut kesal, “Malam ini Omma milik Appa, Hyunje-ya…” balasnya tak mau kalah.

Kekehan Je Wo terdengar disana, selalu seperti ini jika Hyunje dan Kyuhyun bertemu. Tapi ini lebih baik dari pada mereka berdua bersekutu untuk menjahilinya karena itu amat sangat menyebalkan.

“Omma…” rengek Hyunje. Kakinya menendang-nendang punggung Kyuhyun.

Je Wo menghela malas, “Cho Kyuhyun.” Panggilnya.

“Tidur, nyonya Cho. Ini sudah malam.” Gumam Kyuhyun, kedua matanya mulai terpejam dan tetap tak berniat melepaskan Je Wo.

Hyunje mengerucutkan bibirnya lucu pada Je Wo. Dan wanita itu hanya mengangkat bahunya acuh, “Aku juga sudah mengantuk, Hyunje-ya. Selamat malam…” ucapnya dan segera menutup mata meski bibirnya menahan tawa.

Bocah itu mendelik tak percaya kepada mereka berdua. Mereka membiarkan ia disana begitu saja dan lebih memilih tidur?

“Huweeeeeee.” Isaknya.

Kyuhyun dan Je Wo tertawa bersama saat tangisan Hyunje terdengar. Kali ini merasa senang dapat mengerjai bocah tengil yang selama ini selalu mengerjai mereka.

 

 

FIN.

263 thoughts on “Life

  1. hahaahahha lucu walaupun awalnya sedikit menyedihkan..
    mereka punya duet sekongkolan, kyuhyun&hyunje – je wo&hyunje – choshin
    hahhaha hebat

  2. jd buka flashback.nya kyu accident yg dulu… tp lama” jd sweet jg ceritanya…gx tau kenapa kalo baca cho family jd ketagihan apalagi kalo udah ada hyunje.nya…:-D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s