[Freelance] Because My Step Are Slow

 

3065_418902678161367_1489458275_n

 

 

 

Because My Step Are Slow

Author : Fresh Pinneaple

Genre : ( Tebak aja sendiri )

Leght : Oneshot

Cast : Lee Donghae

The girl

 

***

Note : Baca story ini bersama suara Shin Yong Jae 4Men dengan judul lagu yang sama dengan judul FF. Pas bagian “Saranghaeyo” beneran gw nangis. Dalem banget itu pengucapannya. Argghhhhh… Cho Kyuhyun, pertama kali gw termehek-mehek gegara dy *abaikan orang sutrisna berkutbah*


“Jika kau tanyakan apa definisi cinta bagiku, jawabannya adalah, segalanya yang ada pada dirimu.” – Fresh Pinneaple-

Ku biarkan jari-jari panjangku bergerak lincah di atas permukaan kaca yang berembun. Entah siapa yang patut dijadikan tersangka di sini, saat otakku memerintahkan jari menulis namamu yang selalu terlihat indah. Lama bola mataku mengamati, hingga tubuh memberikan reaksi yang selalu sama. Degupan jantung tak terelakkan. Kau, berdampak begitu dahsyat dalam kehidupanku selama beberapa tahun ini.

 

Mendengar derap langkah segerombolan mahasiswa yang bersiap memasuki ruangan musik yang masih sepi, cepat tubuhku meringsek ke depan. Lebih mendekat ke arah jendela kaca dan bergegas menghapus namamu secepat kilat. Katakan saja aku seorang pengecut, karena memang seperti itulah pilihan yang sudah berada dalam lingkar hidupku. Terlalu sulit untuk menggapaimu. Terlalu lelah membuatmu sekali saja melihat ke arahku. Hingga akhirnya, menyerah adalah satu-satunya pilihan yang tersisa.

 

Tubuhku sudah ingin berbalik saat sepasang tangan besar dan kekar meremas kuat kedua bahuku dari belakang. Aku meringis, antara menahan sakit dan keterkejutan yang langsung menghempaskan keadaan hatiku pada titik terendah sebuah kejengahan. Tanpa menatap manik matanya yang begitu teduh, aku tahu betul, siapa yang tengah berdiri di belakangku dengan wajah tanpa dosa. Seorang pria sialan yang berhasil memporak-porandakan perasaanku, tapi justru aku begitu menikmatinya. Wanita bodoh, bukan? Satu sudut bibirku terangkat. Sebuah senyuman miris untuk diriku sendiri yang begitu menyedihkan.

 

“Hei, apa yang sedang kau lakukan?” Tangan kanan Donghae memutar tubuhku yang tidak bergeming, masih mengamati daun-daun yang berjatuhan di luar sana. Sekarang, kami sudah berdiri berhadapan. Persetan dengan tatapan beberapa pasang mata mahasiswa yang diam-diam memperlihatkan ketidaksukaannya atas perlakuan pria ini. Bagiku, mereka bukan siapa-siapa. Mereka hanyalah segerombolan parasit yang suka sekali menebar gosip murahan ke segala penjuru kampus.

 

“Apa kau tidak bisa memanfaatkan penglihatanmu itu dengan baik? Mempertanyakan hal yang sudah sangat jelas jawabannya.” Dengusku kesal. Aku menepis tangan Donghae yang masih berada di bahuku, lalu berjalan menuju salah satu bangku yang masih kosong. Menjatuhkan diri di atasnya dan mengeluarkan sesuatu dari tas punggungku yang sudah sedikit lusuh.

Aku memasang headseat, memutar lagu kesukaan yang berada dalam daftar playlist I-Pod putih kesayanganku. Masih ingat sekali, benda ini adalah hadiah istimewa saat hari jadiku dua tahun lalu dari seorang pria picisan yang terus saja mengekor di belakangku dari beberapa menit yang lalu. Entah sopan santunnya sudah meluntur, atau lagi-lagi hanya sengaja mencoba membangunkan jiwa keduaku yang sudah mengeluarkan tanduk setan. Donghae mengambil salah satu headseat yang masih terpasang pada cuping kananku, lalu memasangkan pada telinganya sendiri.
Senyum bocahnya mengembang. Membuat paru-paruku kehilangan sebagian oksigen untuk tetap bisa bernafas dengan teratur. Segera saja aku melengos, menghindari sorot matanya yang seperti sebilah pisau tajam, perlahan menghunus jantungku hingga rasa sakit itu tidak terhindarkan lagi. Lee Donghae, adalah malapetaka terindah dalam garis takdirku.

 
“Cinta bukan seperti itu. Saat dia semakin membuat hatimu seperti retakan gelas kaca, yang sedetik kemudian berubah menjadi serpihan kecil yang mustahil untuk disatukan kembali.” – Fresh Pinneaple –
Aku kembali melihatnya di tengah koridor kampus yang sudah sepi bersama seorang mahasiswa tercantik tahun ini. Tangannya begitu lincah, memilin rambut ikal seorang gadis yang hanya berjarak beberapa senti dari tubuhnya yang selalu menguarkan bau maskulin. Aku masih memilih diam, memperhatikan mereka dari tempatku berpijak tanpa punya keinginan menjadi orang ketiga yang mengacaukan kebiasaan buruknya itu. Terlalu sakit mendapati Donghae yang tidak pernah berhenti bermain bersama gadis-gadis cantik yang berada di sekelilingnya.

Pria itu bahkan tidak peduli, bahasa tubuh yang selalu aku jadikan isyarat untuk kesakitan yang luar biasa hebat. Mata bulatnya memang selalu terbuka. Mampu membingkai pemandangan pagi yang berkabut. Tapi, dia buta. Buta mengartikan tatapan kekecewaanku. Buta memahami diamku. Dan buta melihat perasaanku yang luruh bersama gradasi senja yang berubah warna menjadi suram pada garis horisontal di ufuk barat, saat semburat keemasan matahari hampir menghilang digantikan malam.

 
Tubuhku tidak bereaksi. Aku sudah terbiasa melihat bibirnya yang berwarna sedikit merah, bermain-main di atas bibir wanita lain. Angin musim gugur kembali bertiup liar, membelai daun-daun coklat dengan tangan besarnya yang dingin dan begitu berhasrat. Berhasil menghasilkan suara gemerisik ranting-ranting kering yang saling bergesekan. Seperti sebuah irama romantis sebagai musik pengiring pada dua orang di depan sana yang tengah berpagutan mesra. Gerakan bibir Donghae begitu liar, bermain sangat intim, bahkan, lidah pria itu sudah tenggelam di dalam mulut “wanitanya”. Saling membelit dan beradu saliva yang begitu menjijikkan, tapi, entah mengapa mereka justru sangat menikmati. Menimbulkan bunyi kecapan yang terdengar seperti lagu kematian untukku.

 
Aku mendesah pelan. Tidak ada pilihan lain, hanya koridor itulah satu-satunya akses untukku mencapai gerbang utama kampus. Mustahil kalau harus kembali mengalah dan menunggu dua manusia brengsek itu bercinta sampai larut. Aku akan terlambat sampai rumah, dan akibatnya, ibuku tersayang akan mengomel sepanjang malam seperti suara radio rusak yang memekak menyucuk gendang telinga.
Langkahku mulai terayun, dan separuh musim gugur yang masih tersisa, membuat tubuhku banyak menggigil. Saat-saat seperti ini, biasanya Donghae sedikit lebih peka. Dia dengan segala kemurahan hati, akan segera melepas jaket kulit yang belakangan ini menjadi style favoritnya. Menyampirkan benda itu pada bahuku dengan pelan. Dan ajaibnya, tubuhku akan bersorak girang, sebuah kehangatan terus menjalar menyentuh seluruh tulang-tulang dan melaju bersama aliran darah yang memberikan kehidupan baru untukku pada hari berikutnya.

Hanya beberapa jengkal saat mataku berpapasan dengan pupilnya yang seperti kristal bening. Dia terdiam, mempertahankan kontak mata diantara kami. Wajahnya begitu datar, ada gurat ekspresi yang tidak sanggup aku raba dari sana. Dan entah setan apa yang sudah menyusup ke dalam isi tempurung kepalanya yang ku rasa mulai menyusut, jari-jari besar Donghae mencekal pergelangan tanganku dengan gesit. Menggenggamnya dengan kuat dan, sedikit menuntut. Aku terperanjat. Percampuran antara terkejut dan juga sedikit heran. Tidak seperti biasanya, yang hanya membiarkanku berlalu pergi bersama lubang baru yang menembus ulu hati. Pria ini menahan langkahku sesaat, menjadikanku seperti narapidana yang sudah mencabut nyawa salah seorang anggota keluarganya. Kepala Donghae berputar, menatap penuh cinta “wanitanya” yang sudah memasang wajah masam.
“Maaf. Aku harap kau tidak keberatan kalau dia berada dalam satu mobil dengan kita.” Donghae sedang berbicara pada wanita lain yang melipat kedua tangannya di depan dada. Mengabaikan perasaanku yang sudah hampir meledak seperti molotov yang jatuh dari ketinggian tebing yang curam. Apa yang pria gila ini pikirkan? Membawaku serta bersama “wanitanya”, dan hanya mengalih fungsikan keberadaanku seperti seorang tolol yang menjadi saksi kemesraan mereka, begitu? Benar-benar brengsek.
Kau. Lee Donghae, harus sejauh mana terus membiarkanku bergelung dengan kesedihan ini? Apa, memang sengaja ingin melihatku meregang nyawa secara berlahan di hadapanmu. Aku menarik diri, berjalan menjauh dalam kebisuan yang membuat kerongkonganku seperti ditumbuhi duri-duri tajam yang memberikan rasa perih tak tertahankan. Aku yakin, pria itu tengah menatap aneh punggungku yang semakin menjauh. Hari ini, satu luka baru dia hujamkan ke dalam segumpal daging dalam tubuhku yang disebut hati.

“Tidak banyak permintaanku. Hanya sekali saja menjadi seorang wanita dalam pemikiranmu.” – Fresh Pineapple –

Aku membetulkan letak syal yang sedikit berantakan setelah tadi terkena cengkeraman angin musim gugur yang menggila. Melihat benda berwarna coklat tua yang menggantung manis pada leher putihku, senyuman tipis itu kembali terukir. Benda ini, pria itu juga memilikinya. Kami sengaja membelinya sepasang pada musim dingin tahun lalu di jalanan Myeongdong. Semua terasa indah, saat tanganku bergelayut manja pada lengan kekar Donghae. Kami menghabiskan malam yang panjang dalam gelak tawa yang renyah. Aku melupakan sebuah fakta, bahwa kencan gila itu ada karena si bodoh kalah taruhan denganku.
Demi Tuhan. Itulah kebahagiaan yang sanggup aku tukar dengan satu roh yang sewaktu-waktu bisa tercabut dari tubuhku yang semakin menyusut. Sudut mataku tiba-tiba berair, bibirku bergetar, dan dengan cepat aku menggigitnya kuat. Ku tepis air mata yang sudah mengalir pada pipi-pipi pasiku. Biarkan aku menangis tersedu untuk sebuah alasan yang sama, malam ini saja. Dan besok, meski keyakinan hanya tinggal beberapa persen, aku ingin sekali melupakan pria itu.

Kepalaku menengadah. Menatap langit malam yang tidak bercahaya. Kerlip bintang-bintang menghilang, digantikan dengan gumpalan awan yang begitu pekat. Aku membiarkan kelopak mata terpejam. Angin dingin itu, langsung menerpa wajahku yang hampir membeku. Tepian sungai Han begitu sepi, hanya segelintir orang yang tetap memaksakan diri berada di sini saat udara mencapai derajat rendah. Senyumku pudar, dunia berhenti berputar detik ini juga. Aku merindukan tangan hangat yang membingkai kedua pipiku. Aku tidak berani membuka mata. Melihatnya, sama saja neraka berada di hadapanku. Lee Donghae, nafasnya menguar bersama udara yang ku hirup.
“Hei. Buka matamu, bodoh!” Perintahnya. Pria ini semakin menjadi-jadi. Menggerakkan kepalaku ke kanan dan ke kiri dengan cepat, menciptakan denyutan kecil pada keningku yang tertutup poni. Seperti tersihir dengan ucapannya, aku menurut. Pelan, ku buka mata yang masih menengadah ke arah langit. Wajahnya selalu tampan dengan seulas senyum yang kali ini terlihat tulus. Lama kami bertatapan dengan posisi kepala yang berlawanan arah. Wajah Donghae semakin mendekat, mengecup hidungku dengan bibirnya yang sedikit pecah karena musim gugur belum menemui ujung pangkal. Dadaku berdegup cepat. Meski kontak fisik diantara kami sudah tidak bisa dihitung lagi dengan jari-jari tangan, maupun kaki. Tidak ada yang berubah di sini, hatiku.

Dia berjalan memutari bangku panjang yang terbuat dari besi. Menjatuhkan diri tepat di sebelahku dan langsung menyandarkan kepalanya pada bahu. Sedikit berjengit, itulah reaksi pertama yang ditunjukkan oleh tubuhku.
“Berhenti menolakku dan tetap berada di sana.” Ucapannya yang sudah memejamkan mata. Bola mataku bergerak, menelisik setiap lekuk wajahnya yang seperti pahatan patung pualam terindah. Dahinya yang lebar, ingin sekali aku menempelkan bibirku di sana. Hidungnya yang runcing, dan bibir itu, kenapa harus wanita lain yang mencumbuinya. Jantungku kembali diremas. Sangat hafal, sudah berapa banyak gadis-gadis cantik yang didekatinya. Pandanganku kembali lurus. Memusatkan penglihatan pada air sungai yang bergerak-gerak terkena sapuan angin.

“Apa kau pernah berpikir untuk mencintaiku?” Suara Donghae memecah kebisuan diantara kami. Aku tersenyum mendengar pertanyaannya. Bukan pernah Lee Donghae-ssi, tapi selalu mencintaimu, ralatku dalam hati.
“Mungkin.”

Pria itu terkekeh. Suara tawanya begitu renyah dan tanpa beban. Kepalanya semakin mendekat pada leherku yang dibalut syal. Syal? Aku baru sadar. Ternyata, malam ini kami memakai benda yang sama untuk menghalau rasa dingin.
“Jangan terlalu jauh. Hentikan perasaanmu itu sebelum semuanya terlambat.” Donghae sudah menarik diri, mengikuti arah pandanganku yang lurus menatap lampu jembatan di tengah-tengah sungai yang begitu indah.
“Aku tahu.” Jawabku singkat. Kepalaku menoleh, menghadiahinya sebuah senyuman palsu untuk menenangkan pikiran liarnya yang entah sudah sampai sejauh mana.
“Aku tidak terlalu baik untuk kau cintai. Tidak ada yang bisa ku berikan selain kesedihan.” Pria di sampingku ini mengambil nafas berat. Ada beberapa teka-teki dalam hidupnya yang tidak sanggup untuk ku pecahkan.
“Kau, baru menyadarinya?” Ku buat nada suara yang sedikit sebal. Bermaksud memulai gurauan di antara kami. Tapi, senyumku memudar saat melihat pias wajah tampannya melayu. Sorot mata itu memancarkan kesedihan. Tapi, lagi-lagi aku tidak mampu meraba, alasan mendasar apa untuk tatapannya kali ini.
“Katakan aku kejam. Itu pantas untukku saat mengetahui kau mencintaiku dengan segala perasaanmu yang tidak tersisa. Tapi, tidak mampu berbuat apa-apa untuk membalas semuanya.”

Nafasku tercekat. Aku menelan gugup ludahku yang terasa keras seperti sebongkah batu. Donghae, jadi, dia tahu perasaanku selama ini? Lalu, kenapa semakin menenggelamkanku ke dalam pusara kesakitan yang semakin dalam. Atau, hanya aku saja di sini yang terlalu menuntut padanya untuk membalas perasaan ini. Bukankah perlu digaris bawahi, kata-kata terakhir yang mampu menjelaskan semuanya.
“Kau sahabatku. Tidak mungkin aku merusakmu dengan “kebiasaan” burukku itu. Jadi, meski semua sudah terlambat. Hentikan semuanya dan menjauh dari tempatku berdiri untuk seterusnya.

“Dalam sisa usiaku yang tidak terlalu panjang. Berikan satu detikmu saja untuk menjadi kenangan terindah dalam kehidupanku. Dan aku, berterima kasih untuk itu”. – Fresh Pineapple –

Ada yang aneh di sini. Sudah berapa kali hidungku mengeluarkan darah segar yang mengucur hampir menyentuh bibir. Tanganku meraih tisu yang tergeletak di atas meja, membersihkan cairan berwarna merah dengan bau yang teramat anyir, membuat perutku seperti diaduk-aduk dengan kuat. Aku bangkit, berjalan ke arah kaca besar yang menggantung di samping almari baju. Dari sini, tempatku berdiri, aku memperhatikan perubahan drastis pada tubuhku sendiri. Aku ingat, beberapa bulan yang lalu, celana jeansku yang berwarna biru tua yang menggantung bebas di dalam almari itu masih terasa sesak. Tapi, kini berbeda cerita. Tidak mungkin kalau pakaian-pakaian itu yang menyusut, bukan. Ku raba wajahku yang pucat. Keringat dingin sudah membanjiri keningku.

Semenjak pertemuan kami di tepian sungai Han, Donghae benar-benar mengabaikanku. Menghindari pertemuan di setiap sudut kampus maupun perpustakaan, tempat yang biasa kami jadikan untuk pertemuan rutin di awal minggu. Dan ini, sudah bulan ke empat kami tidak saling bertatap muka. Susah sekali menemukan siluetnya. Apa, dia tidak tahu, kerinduanku sudah mencapai sekarat yang menyakitkan. Tubuhku luruh menyentuh lantai. Aku menepuk dada berulang kali untuk menghalau rasa sakit yang semakin menjadi-jadi. Isakan hebat, membuat hidungku sulit untuk mengambil udara. Aku tergugu dalam seperempat malam yang sepi dan mencekam. Tiba-tiba saja semuanya terasa “abu-abu”. Aku tidak bisa melihat langit-langit kamar yang berwarna cerah. Kesadaranku, meminta waktu sejenak untuk menenangkan diri.

__

Kanker darah stadium akhir, itulah vonis kematian yang benar-benar dikabulkan oleh Tuhan. Tidak ada yang bisa aku lakukan untuk melawan takdir ini. Hanya saja, satu permintaanku. Berharap, Penciptaku mengabulkannya. Membiarkan aku menjalani sisa hari bersama seorang pria dungu yang tak kunjung menyadari perasaannya sendiri. Aku duduk di depan cermin. Ibu sudah berada dibelakang, menyisir rambut panjangku yang semakin hari semakin menipis.

“Kau, tetap cantik. Anak Eomma.” Aku tahu, wanita tua itu sedang berusaha mati-matian menyembunyikan matanya yang berkabut. Ku belai lembut tangan Eomma yang berada pada kedua bahuku.
“Kau anak Eomma yang kuat. Kita, sama-sama berjuang untuk itu.” Wajah Eomma menempel pada sisi kanan wajahku. Kami memandang wajah masing-masing dari pantulan cermin di depan sana. Dan demi Tuhan, aku hanyalah seorang anak yang tidak berguna saat berhasil membuat mata sayu wanita tuaku berkaca-kaca.
“Maafkan aku.” Suara Eomma bergetar. Kalau sudah begini, apa salah kalau menangis adalah satu-satunya pilihan yang ada untukku.
“Eomma…,”

“Aku tidak bisa menjagamu dengan baik. Bagaimana bisa Tuhan membiarkan putriku pergi terlebih dahulu. Aku, lebih tua darinya, kenapa tidak mengambil nyawaku saja untuk ditukar dengannya.” Ibuku terisak. Inilah batas kesedihan yang dia miliki. Aku meraih tubuhnya yang bergetar hebat. Berharap, meski tidak sehangat sinar mentari, aku bisa menggantikan fungsinya untuk wanita tercintaku ini.
“Kau Ibu terhebat yang aku miliki.” Ucapanku dengan suara yang pelan pada indra pendengarannya.
“Dan terima kasih sudah melahirkanku ke dunia ini.”

***

Ku buang rasa malu dan memutuskan untuk menghubungi Donghae beberapa saat yang lalu. Secara terang-terangan, mengajak pria itu untuk melakukan kencan sore ini. Meski awalnya dia menolak dengan alasan yang menyakitkan, aku menutup telinga. Mengabaikan kalimatnya yang berhasil mengoyak ulu hatiku. Aku memperhatikan Eomma dari atas ranjang yang masih sibuk memilih baju. Meski rambut sudah tidak berbekas, berharap wig berwarna coklat yang tergeletak di atas meja rias dapat menjadi penyelamat untuk penampilanku.
Dengan sisa tenaga yang sudah semakin menurun karena kemoterapi yang begitu menyakitkan, aku berjalan tertatih mendekati Eomma. Membiarkan tangan lembut wanita itu mengambil alih kendali atas tubuhku. Sebuah dress putih gading bermotif bunga-bunga, dipadankan dengan cardigan berwarna senada untuk membalut tubuh keringku. Rambut palsu ternyata tidak terlalu jelek, mampu mengecoh banyak pasang mata untuk mengembalikan kecantikanku yang sedikit memudar.

“Kau sangat cantik. Hanya pria bodoh yang sanggup menolakmu.” Kalau biasanya mulutku akan terkekeh geli mendengar ocehan Eomma, berbeda dengan sekarang. Penyakit itu, merampas segala kebahagiaan yang aku miliki.
“Dia memang bodoh.” Jawabku menimpali pernyataan Eomma. Ibuku tersenyum, lalu berjalan menuntunku ke arah pintu. Aku sudah siap mengambil satu detik seorang Lee Donghae, menjadikannya sebagai sebuah memori yang tak akan terlupakan meski jasadku sebentar lagi membusuk.
Aku berdiri gugup di depan teras rumah. Berkali-kali melirik jam yang melingkar pada pergelangan tangan kiri. Lima belas menit, adalah catatan keterlambatan pria bodoh itu. Ku buang pikiran jauh-jauh tentang segala kemungkinan terburuk yang menjadi pilihan Donghae. Pria itu berpesan, jangan menghubungi sampai mobil hitamnya berhenti tepat di depan rumahku. Seperti seorang anak TK, aku mengangguk entah pada siapa, menyanggupi permintaannya yang tidak seberapa jika dibandingkan dengan kebahagiaan yang membuat jantungku kembang kempis.

Dudukku semakin tidak tenang. Dari hitungan menit, sekarang arah jarum jam sudah berputar beberapa kali dari waktu yang disepakati. Jangan katakan kalau Donghae berniat mempermainkanku untuk masa-masa terakhir dalam sisa hidupku yang tidak banyak ini. Sudah cukup aku merasakan lelah yang teramat sangat. Bertahan dalam titik kesabaran yang tidak dimiliki oleh siapapun. Dan kalau kesempatan yang aku berikan kembali dia ludahi, maka sudah habis segalanya. Aku akan membawa kekecewaan ini bersama nafasku yang terhenti saat masa itu tiba.
“Berhentilah berharap. Eomma pastikan, pria itu akan menyesali semuanya setelah hari ini.” Ibuku kembali membujuk. Tapi aku menolak, menggeleng dengan cepat dan mengumbar wajah yang begitu menyedihkan. Aku menangis seperti bocah berumur lima tahun untuk pertama kalinya karena seorang Lee Donghae.
“Sudah cukup kau mengorbankan perasaanmu untuk seorang pria bodoh yang bahkan tidak tahu bagaimana memperlakukan seseorang yang tengah sekarat!!!” Tangan-tangan keriput Eomma mengguncang tubuhku yang lemah. Aku meringis, dalam hati, membenarkan ucapan ibuku. Orang tua mana yang rela melihat putrinya tersakiti seperti ini.
“Eomma…,”

“Lupakan Lee Donghae. Lupakan pria itu!!!”
“Eomma…,”
Aku terbatuk. Kerongkonganku terasa sakit dan panas. Darah segar sudah mengotori baju putih gadingku. Apakah waktuku sudah dekat. Lalu bagaimana? Aku bahkan belum melihat wajahnya lagi setelah waktu yang terasa begitu panjang. Ku cengkeram erat ujung dress, menahan rasa sakit yang menyebar ke seluruh tubuh. Rasa ini, melebihi sakit akibat kemoterapi. Tubuhku tersungkur. Sayup-sayup, suara teriakan Eomma menjadi satu-satunya suara yang mengisi pendegaran sebelum semuanya berubah menjadi gelap.
“Aku melihat satu bintang yang terang di atas langit. Itu, kembali mengingatkanku pada senyumanmu yang begitu menawan” – Fresh Pineapple –

Persetan dengan harga diri yang semakin menggerus manusiawiku. Mengandalkan sisa-sisa tenaga yang masih sanggup membawa langkah panjang kedua kaki menapaki koridor rumah sakit yang terasa mencekam, aku berlari kesetanan untuk wanita itu. Wanita yang sudah menelan beribu airmata karena keegoisanku. Wanita yang tetap tersenyum dalam tangisan. Dan wanita yang begitu ingin ku jaga, tapi justru akulah satu-satunya manusia brengsek yang menikam jantungnya dengan kuku-kuku tajam secara berlahan.
Satu jam yang lalu, ponselku berdering. Nama wanita itu terpampang dengan jelas pada layar telepon yang ku biarkan tergeletak di atas nakas ranjang. Tiba-tiba saja tubuhku menggigil karena suhu badan yang meningkat. Aku tergolek di atas ranjang dan tertidur bersamaan dengan waktu yang ku janjikan pada wanita itu. Setelah mendapati kesadaran dalam kamar yang temaram, ponselku memekak. Semula, aku mengabaikan. Ku pikir, dia sudah tidak sabar menungguku. Tapi, ada yang janggal. Getaran telepon genggamku bukan hanya sekali, melainkan puluhan kali hingga memaksa tangan terjulur untuk meraihnya dan memulai pembicaraan dengan seseorang di ujung sana.
Bukan wanita itu. Tapi isakan seseorang yang selalu menyebutnya dengan panggilan “Mom”, ibu dari wanita yang diam-diam ku cintai. Tubuhku menegang. Dengan terbata, sebuah kenyataan itu terungkap. Memukul telak harapan yang baru saja ingin ku bangunkan dari tidur panjangnya. Mengabaikan denyutan hebat pada kepala yang membuatnya serasa ingin pecah, aku menyambar kunci mobil dan membelah jalanan Seoul dengan cemas. Aku memang bukan lelaki yang kuat, nyatanya, air asin itu berhasil menghancurkan kantong airmataku. Aku menangis, hanya untuk wanitaku.
Derap langkahku begitu keras. Tapi, tidak berhasil mengalihkan pandangan seorang ibu yang menatap kosong ruang darurat. Dia sama sepertiku, merasakan ketakutan yang teramat sangat kalau-kalau terjadi sebuah keputusan Tuhan yang paling buruk. Dengan nafas yang masih terengah, aku memapas jarak dengan ibu wanitaku. Dalam hati berdoa, memberikan satu kali saja kesempatan untuk kebahagiaan yang selama ini tidak pernah tercipta untuknya.

“Dia menunggumu sampai larut.” Kepalaku menunduk. Dengan cara seperti ini, berharap bisa menyembunyikan airmata yang sudah keluar dari persembunyiannya.
“Berkali-kali aku mengatakan, bahwa pria bodoh yang dia harapkan, tidak akan pernah datang.” Suara wanita di sebelahku mengalun datar, tapi aku masih mampu menangkap getaran yang terdengar begitu menyakitkan.
“Maaf…,”

“Sekali pun kau berlutut, takdir tidak akan pernah menunggumu untuk berubah.” Aku menelan ludah. Benar yang dikatakan bibi, takdir bukanlah sebuah komedi putar yang bisa berhenti kapan saja untuk menurunkan seorang penumpang. Aku tahu, di mana letak kekecewaan wanita ini.

“Putriku tidak meminta banyak. Dia, hanya ingin satu detik dari hidupmu untuk dijadikannya sebuah cerita yang indah.” Mata sipit bibi menatapku sendu. Ledakan dalam dadaku sudah tidak terelakkan. Sesederhana itu keinginannya. Kenapa baru menyadari setelah garis takdir hampir mencapai penghujung.
“Ku mohon Lee Donghae. Bahagiakan dia dalam sisa hidupnya yang tidak banyak.” Aku bersumpah. Kalau ada kehidupan setelah kematianku, aku ingin menjadi putra dari wanita yang bahkan rela berlutut di hadapanku untuk kebahagiaan putrinya ini.
“Apa yang kau lakukan, Bi?” Aku meraih tubuh ringkih wanita itu. Membiarkan airmatanya membasahi kaos rumahan yang ku kenakan saat ini.
“Dia. Kenapa harus putriku yang menanggung semuanya ini?” Kalau aku terisak, siapa yang akan menenangkan wanita baya ini. Aku bertahan meski dengan kekuatan yang tidak terlalu banyak.

“Kita tidak bisa melawan takdir. Yang bisa kita lakukan, hanya membuatnya tersenyum dalam kesakitan yang tersisa.” Ucapanku pada bibi yang sudah mampu meredam tangisnya.

 

___

Meski seribu orang mengolok penampilannya yang dibalut gaun putih sederhana dengan ekor menjuntai sepanjang satu meter, dia tetap pengantinku yang menawan. Dia tersenyum cantik meski tubuhnya berada dalam kursi roda yang didorong seorang kerabat dekat dari pihak ayahnya yang sudah meninggal. Hari ini, adalah pemberkatan atas penyatuan kami yang sakral. Sudah aku katakan bukan, meski hanya satu detik saja, setidaknya, akulah satu-satunya pria yang berhasil menawan hatinya sampai akhir kehidupan itu.
Aku berdiri di depan altar dengan balutan tuxedo berwarna hitam. Tidak sekali pun mengalihkan pusat pandangan pada objek lain selain manik matanya yang begitu jernih. Dia sampai, seorang paman menyerahkan tangannya yang dibalut kain putih sepanjang siku ke atas telapak tanganku yang sedikit basah. Kami bertatapan sejenak. Mengabaikan ketakutan yang sudah mencapai ubun-ubunku melihat sorot matanya yang lelah, aku tahu dia menahan rasa sakit yang begitu dahsyat. Tuhan, hanya untuk beberapa waktu lagi, doaku dalam hati.

 

Hanya disaksikan beberapa keluarga dan sahabat dekat kami, penyatuan itu berjalan lancar. Satu detikku, sudah aku serahkan dalam genggaman tangan wanita itu. Dan entah kenapa, saat bibirku diharuskan menciumnya, sekelebat kenangan buruk yang sengaja aku ciptakan untuknya kembali berputar. Dadaku sesak, aku mengutuk diriku sendiri yang terlalu kejam. Bibirku menempel di atas bibir pucatnya, setelah itu, membisikkan sesuatu yang selama ini ingin aku sampaikan.
“Saranghae…,”

Kepalanya mengangguk pelan. Dan Tuhan, jangan sekarang. Kelopak mata itu hampir bersatu dan membuat hidupku semakin hancur.
“Nado…,”

Aku tidak bisa mendengar lagi suaranya yang ceria. Hanya gerakan bibir yang bisa dia lakukan untuk pernyataan cintaku setelah penantian panjang itu. Aku meraih tubuhnya, merasakan kehangatan yang sudah menghilang bersama dengan tangannya yang sudah tidak mampu lagi bergelayut pada bahu lebarku. Wanitaku, aku sudah menepati janji. Satu detik yang bisa dijadikan kenangan terindah dalam hidup kita. Yang perlu kau lakukan, hanya menungguku di sana bersama bintang-bintang yang menjadikan malam semakin berwarna.

 

___

Aku masih berdiri dengan baju yang sama saat menikahinya. Jari-jari panjangku dibalut dengan sarung tangan berwarna putih. Membiarkan angin pantai menerbangkan rambutku yang sudah tidak berbentuk. Pada langit keemasan seperti sekarang ini, adalah waktu terindah dalam hidupku saat mendapatinya berdiri di depan katedral tua di pinggiran kota Seoul. Waktu itu tangannya terjulur, membiarkan air hujan membasahi telapak tangannya yang terlihat memutih.
Aku membuka sebuah guji berukuran kecil. Sebelum menabur abu wanitaku, berkali-kali aku menciumi benda mati itu. Aku sudah tidak sanggup lagi untuk menangis. Semuanya, sudah mati rasa saat nafasnya terhenti. Berlahan, kakiku melangkah maju mendekati bibir pantai. Sensasi dingin langsung mencumbui telapak kakiku yang telanjang. Tidak! Biarkan aku membawa jasad wanitaku bersama tubuhku yang menghilang bersama air laut yang begitu tenang. Pada semburat senja yang masih berlaku, perasaan kita bertemu. Begitu pun, dengan perpisahan itu. Semuanya, diawali dengan warna jingga, dan berakhir juga dengan satu palet warna yang sama. Aku kembali menepati janjiku, pertemuan romantis kita di atas sana tanpa sekat dimensi waktu yang berbeda.

END

95 thoughts on “[Freelance] Because My Step Are Slow

  1. Aigoo
    aku bener” nangis bca FF ini TT really sad ;( bgyin aja kaloo aku jdi yeoja itu..mgkin aku jga lbih mmlih untk mati dri pda hdup dan t’skti TT
    daebak dehh FF nya😉

  2. Nyesek banget eon, dapet banget feelnya, sampe2 lelehan es kutub selatan meleleh lewat pipi aku T.T
    kenapa donghae kaya gitu kalo dianya juga cinta??!
    Great ff, i like it🙂

  3. binggung mau comen apa,
    perasaan d remes2 iya nanggs udah bnjir bandang
    nyawa berasa hilang nie crt bener2 bqn something wat aku.

  4. kayak udah pernah baca.. pernah di publish di blog lain kah?
    nyesel kan si donge jadinya,makanya jgn nyianyiin waktu kan kasian tuh jadinya :p
    aku nangis baca ini,pahit bgt dah kayak jamu sambiloto yang pahitnya ga stngah2
    keep writing!

  5. Syedihnya daku T__T
    Hae emang terlalu cinta sama saya (?)
    tapi juga ga baik mainin cewe yang sekarat hae .-. *di damprat*

    Dohh sebenarnya saya agak kesel sama cewenya. terlalu mencintai donghae sampe berharap yang tak pasti begitu .-.
    kalau saya digituin rasanya harga diri saya tercoreng !! /ini apah/

    hahaha maap eon, kalau saya cerewet .-. hanya ingin mengeluarkan unek2 ajah kok
    tapi sejujurnya ini epep bikin saya menangis tersedu sedu di atas ranjang di balik selimut (?) /mulai ngawur/

  6. prtama blog ni dbuka…yang dserbu yg cho fmily.. bis tu bka2 lg blm ad update cho fams yg trbaru.. jd y iseng2 bca ja deh drpd nganggur eh gtwny kterusan.. wah gile ni ff walau isix ga komplex dlm arti kata pnjelasan yg rinci soal alasan donghae ngejauhin atw alasan tu ce ga brani ngungkapin prasaan tu ga d jelasin sblm dy sakit tp overall ok bgt deh… trsentuh bgt lah…

    je eonni prbanyak koleksi ff freelance y eon…

  7. Dpet feel buangettttt :’) sad end yg sangat romantis :’D wlopun cuma satu detik setidaknya ada satu memori yg manis untuk dibawa saat menemui kehidupan yg abadi :’3 ijin share nde thor di fb

  8. Ping-balik: Library | Shin Je Wo

  9. Sedih bgt ya ampun. Knpa donghae begitu kalo sebenernya dia jg cinta. Dasar namja pabo ! Di bagian akhir itu apa donghae bunuh diri? ?

  10. Sedih banget ceritanya, gadis itu ingin sekali sj merasakan bahagia bersama laki2 yg ia cintai sahabatnya sendiri yaitu Donghae oppa meskipun ia sering di tolak, akhirnya donghae oppa menyesal krn sahabatnya itu benar2 pergi u selama2nya

  11. Astaga,,, ak smp nangis author,,, keren bangett sumpah………….. ak g tau harus komen apalagi….
    Inii ff sad ending yang paling baguss yang pernah ak baca

  12. Daebbak. .
    Terima ksh atas saranny author sebelum baca ff in ak dwnlod laguny 4men in. Dan baca ff ini sambil diiringi lg in bener” membuat hatiku porak poranda. Sangat mengagumkan ng ada ff yg bsa buat ak jd segalau ff ini. Semangat nulis terus author ^^

  13. Demi apa ya thor! Total bnget sad.a!! Sumpah nangis bnget aku!! Gak bsa gmbarin deh kren.a nih ff!! Bkin yg sdih kya gni lg dong thor!! Hehe,, udah lama gak nangis gra” ff!!

  14. aaaa.. kesel ma dongee.. knapa hrus gini critanya, prasaan kya diaduk2. si cew itu bodoh, & dongek bner2 idiot, msih blom jlas & ga ngerti knapa donge bgtu kejam sma diaaa. knapa ga ju2r!! sumpah ga ngerti T.T

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s