[Freelance[ You are Mine Chapter 2

you are mine

 

 

 

 

Author: Meidha Hapsari

You are Mine

Part 2

Hidup itu kadangkala tidak seindah yang kita rencanakan. Bukan seperti roman picisan yang biasanya akan berakhir dengan happy ending, hidup bahagia selamanya sampai mati. Aku tahu, pemikiran seperti itu adalah pemikiran naïf dan terlihat sangat polos. Tapi, tidak ada salahnya bukan, kita memiliki anagan seperti itu. menjalani hidup bahagia selamanya sampai mati, sepertinya itu menarik, Shin? Dan aku sekarang benar-benar tertarik dengan konsep itu. aku akan mewujudkannya, kau hanya perlu menunggu dan mengulukan tanganmu ketika waktu itu datang. Aku akan berjuang, bahkan ketika kau meneriakiku seklaipun. Aku tidak akan menyerah, karena, aku ingin hidup bahagia sampai mati bersamamu. Sesederhana itu, dan aku pasti akan mendapatkannya.

***

 

“Kenapa kau menyusulku ke mari?”  Je Wo menatap laki-laki yang sedang duduk di depannnya dengan kesal.

 

“Aku hanya ingin melihatmu. Wae? Kau tidak suka?”

 

“Tidak. Aku pulang ke Korea dengan sengaja ingin menghindar dari dirimu, Choi Minho. Tidakkah kau tahu itu?”

 

“Tidak, dan aku tidak ingin tahu, Je Wo-ya.”

 

“Choi Minho!!”  Je Wo mulai meninggikan suaranya, wanita itu sedari tadi berusaha mati-matian menahan rasa kesal yang sudah sangat memuncak dalam dirinya. Bayangkan saja, masalahnya dengan Kyuhyun yang sepertinya akan berlangsung dengan sangat pelik, sekarang di tambah dengan masalahnya dengan Minho yang sebisa mungkin ia hindari, dan sekarang laki-laki itu malah seperti mendekatkan dirinya pada masalahnya sendiri.

 

Je Wo mengambil cangkir teh yang berada di depannya. Wanita itu menenggak isi cangkir tersebut sampai habis. Je Wo menaruh cangkir yang sudah kosong itu kembali di atas meja, wanita itu menghembuskan nafasnya pelan, berusaha mengusai emosinya yang agak tersulut tadi.

 

Wanita itu kembali menatap Minho yang juga tengah menatapnya. Je Wo sedikit berdehem pelan  sebelum kemabali berbicara dengan laki-laki itu.

 

“Hm… Choi Minho, kau laki-laki tampan, mapan dan pintar. Keluargamu juga merupakan keluarga baik-baik. Benar kata ibumu, seharusnya kau tidak mengejarku. Aku ini wanita beranak satu dan tidak mungkin pernah bisa bersanding denganmu. Lagi pula…”

 

“Apa?” Minho menatap serius wajah Je Wo yang terlihat agak sedikit, tidak enak.

 

“Lagi pula, aku tidak menyukaimu, Choi Minho.”  Je Wo meringis kecil dan menatap Minho dengan perasaan bersalah. “Aku benar-benar tidak menyukaimu. Selama ini aku hanya menganggapmu sebagai seorang teman, tidak lebih. Jadi, sebaiknya kau berhenti mengejarku. Aku benar-benar tidak bisa membuka hati untukmu, Minho-ya.”

 

“Kau bisa belajar bukan? Dan untuk statusmu, bukankah sudah ku bilang, aku tidak peduli dengan itu. aku menyayangimu Je Wo-ya dan aku juga menyayangi Hyun Je. Dan untuk masalah eomma, aku bisa membujukya untuk menerimamu, tidak bisakah kau mempertimbangka itu?”  Minho menatap Je Wo dengan penuh harap. Laki-laki itu memang tidak akan menyerah untuk mendapatkan wanita di hadapannya itu.

 

Je Wo mendesah pelan wanita itu menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban dari pertanyaan Minho tadi. “Aku benar-benar tidak bisa.”

 

“Je Wo-ya!”

 

“Tidak bisa Choi Minho. Aku benar-benar tidak bisa, jika kau memaksa, nantinya kaulah yang mungkin akan terluka.”

 

“Aku tidak akan terluka.”

 

“Cho Minho, aku mohon jangan persulit posisiku lagi. Aku sudah terlalu mendapat banayak masalah di sini, tidak bisakah kau mengerti itu?”

 

“Shin Je Wo!”

 

“Pulanglah kembali ke Jerman!”

 

“Aku tidak bisa.”

 

Je Wo memandang Minho pasrah, wanita itu akhirnya memilih untuk berdiri dari duduknya. “Terserah padamu, asalkan kau tidak mengganggu hidupku, aku tidak peduli. Aku pergi.” Je Wo menigglkan Minho begitu saja yang sedang menatapnya dengan nanar.

 

‘Aku tidak akan meneyerah saapai di sini, Je Wo-ya. Bagaimanapun caranya nanti, aku akan tetap berusaha memilikimu.’

 

***

 

“Jadi, kau menyuruhku untuk mengawasi Hyun Je yang sebentar lagi akan masuk sekolah, begitu?” Eunhyuk memandang laki-laki di hadapannya tidak percaya.

 

“Hm..” Kyuhyun menganggukkan kepalanya pelan. “Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan anak itu.”

 

“Kau berlebihan sekali, Presdir.” Eunhyuk mencibir  kecil, walau pada akhirnya lelaki itu tersenyum kecil juga. “Benar-benar sisi yang menarik dari seorang Cho Kyuhyun.”

 

“Ck, aku hanya berusaha melindungi anakku, Eunhyuk hyung.”

 

“Wah.. Bahkan sekarang kau mulai memanggilku dengan sopan, benar-benar menarik.”

 

“Tutup mulutmu Lee Hyuk Jae, atau aku akan dengan sangat senang hati merobek mulut busukmu itu.” Kyuhyun mendelik ngeri kepada Eunhyuk.

 

“Haish, santai saja Cho Kyuhyun, aku akan melaksanakan perintahumu itu, asalkan bayarannya juga setimpal dengan waktuku yang terbuang percuma.”

 

“Aku tidak pelit jika memang hasil kerjamu memuaskan, hyung.”  Kyuhyun menatap Eunhyuk sinis. Kyuhyun menyandarkan badannya pada sandaran kursinya. Kemudian menatap Eunhyuk dengan tatapan serius.

 

“Apa yang kira-kira Hyun Je lakukan jika aku mengaku sebagai ayahnya nanti?”

 

“Molla, kita tidak pernah bisa menebak pikiran anak kecil, kan?”  Eunhyuk mengedikkan bahunya santai. Laki-laki itu memang tidak tahu jawaban dari pertanyaan Kyuhyun, karena pada dasarnya anak-anak itu memang makhluk yang sulit untuk di tebak.

 

“Aku benar-benar tidak suka saat anak itu memanggilku ahjussi, itu terdengar sangat konyol di telingaku, hyung.”

 

“Lalu kau mau melemparkan bom secara tiba-tiba pada anak itu dengan mengaku sebagai ayahnya? Aku rasa itu bukan keputusan yang tepat, Kyuhyun-ah.”

 

“Aku juga sedang memikirkan itu, tapi aku ingin sesegera mungkin mendengar Hyun Je memanggilku ayah, hyung.”  Kyuhyun sedikit mengeluarkan nada merajuknya yang jelas sekali tidak pernah ia keluarkan dan itu membuat Eunhyuk memandangnya dengan shock.

 

“Cho Kyuhyun! Kau merajuk padaku?”

 

“Kapan?” Kyuhyun menatap Eunhyuk dengan kening mengkerut.

 

“Barusan, barusan kau merajuk padaku, Presdir. Astaga.. ini langka sekali. Seorang Cho Kyuhyun yang dingin dan sadis merajuk pada orang lain. Wah.. seharusnya tadi aku merekamnya agar bisa ku tunjukkan pada teman-teman kita nanti.”  Eunhyuk memandang Kyuhyun dengan pandangan mengejek.

 

“Cih, aku tidak merajuk.”

 

“Kau merajuk.”

 

“Tidak hyung, aku tidak  merajuk.”

 

“Berhenti mendebatkan hal konyol seperti itu!” ke dua lelaki itu menoleh ketika sebuah suara menginterupsi kegiatan mereka. Terlihat Ahra yang sedang berdiri di depan pintu dengan berkacak pinggang sambil melihat ke arah mereka dengan kesal.

 

“Eo, nuna.”

 

“Ck, kalian benar-benar telihat seperti orang bodoh.” Ahra berdecak kesal. Wanita itu berjalan mendekati ke dua pria itu dengan langkah yang terlihat anggun.

 

“Kau terlihat semakin sexy saja, Ahra-ya.” Eunhyuk mengeluarkan gummy smilenya sambil menatap Ahra dengan pandangan menggoda.

 

“Diam kau Lee Hyuk Jae! Aku sama sekali tidak tertarik dengan rayuan busukmu itu.” Ahra memandang Eunhyuk sinis, wanita itu memang tidak akan pernah bisa terpengaruh dengan rayuan standar yang selalu Eunhyuk lemparkan padanya.

 

“Wah, kau memang tidak berubah, tetap menjadi iblis betina paling berbahaya untukku, Ahra-ya.” Eunhyuk masih memertahankan tatapan menggodanya pada Ahra. Wanita itu mendengus kesal, memilih untuk mengabaikan perkataan Eunhyuk yang terasa seperti angin lalu untuknya. Ahra mengalihkan pandangannya pada Kyuhyun yang tampak tidak memerdulikan perdebatan antara dirinya dan Eunhyuk.

 

“Adik, aku ingin memberikan ini padamu.” Ahra memberikan sebuah map berwarna biru pada Kyuhyun. Laki-laki itu mengerutkan keningnya ketika menerima map yang Ahra berikan kepadanya itu.

 

“Apa ini?”

 

“Laporan mengenai dana yang di dapatkan oleh Shin Compagnie selama satu tahun ini. Dan kau pasti akan tercengang dengan jumlah nominal yang tertera di dalamnya.”

 

“Tunggu, bukankah Shin Compagnie  adalah perusahan milik keluarga wanita itu?” Eunhyuk menatap Ahra dan Kyuhyun dengan penuh minat. Laki-laki itu selalu menyukai setiap rencana yang Kyuhyun buat, dan kali ini dia mencium sesuatu yang seru yang segera akan Kyuhyun mainkan.

 

“Hm..” Kyuhyun menanggapi pertanyaan Eunhyuk dengan acuh. Laki-laki itu sibuk memeriksa isi map yang tadi di berikan oleh Ahra. Kyuhyun nampak mengerutkan keningnya. Laki-laki itu kemudian mendesis perlahan ketika mendapati sebuah informasi yang begitu mengejutkan untuknya dari sana.

 

“Ini ganjil.” Kyuhyun menatap Ahra yang juga tengah menatapnya.

 

“Aku sudah memberitahumu tadi, angka itu memang terasa sangat ganjil untuk sebuah dana sumbangan.”

 

“Cari tahu dari mana dana itu berasal. Aku menginginkan hasilnya besok.”  Kyuhyun memandang Ahra dengan pandangan memerintah. Wanita itu mengangguk patuh. Ia memang tidak akan bisa membantah jika adiknya sudah mengeluarkan nada tegas dan dingin seperti itu.

 

“Baik, aku akan mencarinya sekarang.”

 

“Lee Hyuk Jae, kau ikut denganku.” Ahra beranjak pergi sambil menyeret lengan Eunhyuk keluar dari ruangan itu.

 

“Yak..yak.. Cho Ahra, apa yang ingin kau lakukan padaku?” Eunhyuk memandang Ahra ngeri, laki-laki itu sedikit menciut ketika mendapati tatapan mengerikan dari wanita itu.

 

“Astaga… Kalian semua benar-benar keturunan iblis penghuni neraka.” Eunhyuk mengumpat kesal sambil memandang Ahra denagan tampang yang cemberut.

 

“Benar, dan kau baru saja membuat iblis ini merasa marah.” Ahra memberikan senyum separonya pada Eunhyuk, membuat lelaki itu bungkam seketika.

 

Kyuhyun menyandarkan punggungnya pada sandaran kursinya. Laki-laki itu menatap langit-langit kantornya. Kyuhyun menghembuskan nafasnya pelan. Dia memang brengsek, dia mengakui itu. Dia di didik dengan sangat keras oleh ayahnya, dan itu sedikit mempengaruhi sikologinya. Bayangan ketika ia masih kecil dulu tiba-tiba melintas di pikiran Kyuhyun.

 

Dulu, dulu sekali, ketika ia masih duduk di sekolah dasar. Dia tidak pernah memiliki seorang temanpun kecuali Ahra, nunanya. Ayahnya terlalu protective padanya, Kyuhyun nyaris tidak boleh di biarkan pergi bermain tanpa kawalan dari para bodyguard yang sudah ayahnya siapkan. Dan dapat di pastikan, tidak ada satupun anak yang akan tahan bermain dengan Kyuhyun.

 

Saat itu Kyuhyun ingat, ada salah satunya temannya yang bernama Hyun Sang. Waktu itu Kyuhyun mengajak anak itu bermain di rumahnya, dan mereka bermain di halaman belakang rumah Kyuhyun yang luas.

 

Saat itu Hyun Sang tidak sengaja menendang bola dan mengenai wajah Kyuhyun. Dan  setelahnya, anak itu langsung di seret keluar dari rumah Kyuhyun oleh Tuan Cho. Kyuhyun ingat , anak itu menangis dan bilang bahwa dia tidak sengaja menendang bola itu dan mengenai wajah Kyuhyun, tapi Tuan Cho tidak mau mendengarnya dan lebih memilih untuk menyeret anak itu keluar dari rumahnya. Dan semenjak saat itu tidak ada satupun anak yang berani untuk mendekati Kyuhyun. Dan mulai saat itu juga Kyuhyun berubah menjadi pribadi yang pendiam, terkesan dingin dan arogan.

 

Ketika menginjak remaja, laki-laki itu menjadi suka mempermainkan perempuan dengan sesuka hatinya. Dia melakukan itu hanya untuk melampiaskan semua rasa kecewanya terhadap ayahnya.

 

Sampai pada suatu saat Kyuhyun bertemu dengan Je Wo. dia sama sekali tidak menyangka, gadis berseragam SMA dengan sifat yang sama sekali tidak lembut itu berhasil menyeretnya ke dalam sebuah hubungan yang memerlukan sebuah komitmen.

 

‘Seandainya dulu aku tidak meninggalkanmu, akankah aku hidup bahagia denganmu sekarang Shin Je Wo? Mungkin kau juga tidak perlu membenciku seperti sekarang ini. Dan mungkin aku juga sudah bisa menikmati moment-moment penting bersama kalian. Dan yang lebih penting lagi, Hyun Je pasti sudah memanggilku appa, Kyuhyun appa, bukan Kyuhyun ahjussi.’

 

***

“Cho Ahra, kita akan ke mana?” Laki-laki itu duduk dengan gusar di kursi samping kemudi sambil memandang Ahra dengan pandangan bertanya.

 

“Kita akan menyelidiki dana yang di peroleh oleh perusahaan Shin itu. Dan aku ingin kau membantuku untuk menyelidikinya.” Ahra sibuk memasang sabuk pengamannya, wanita itu sama sekali tidak memandang Eunhyuk yang sekarang sedang mengerutkan keningnya tidak mengerti.

 

“Apa maksudmu?”

 

Ahra berdecak kesal, wanita itu akhirnya menoleh ke arah Eunhyuk. Ahra memasang wajah datarnya dan memandang Eunhyuk dengan tatapan mengintimidasi miliknya.

 

“Bukankah aku sudah mengatakannya padamu Lee Hyuk Jae, otakmu itu memang sempit sekali ya? Pantas saja dari dulu kau itu bodoh.”

 

“Yakk.. Cho Ahra, kalau aku bodoh, mana mungkin aku menjadi seorang agen detektif eo?”  Eunhyuk memandang Ahra dengan mata melotot, yang di balas dengan dengusan malas oleh wanita itu.

 

“Itu sih karena keberuntungan saja.”

 

“Kau ini benar-benar menyebalkan.”

 

Ahra mengedikkan bahunya acuh, wanita itu memilih menjalankan mobilnya dan menatap focus pada jalan di depannya.

 

“Jadi, apa rencana yang sedang Kyuhyun mainkan kali ini?” Eunhyuk memilih menyandarkan tubuhnya pada jok mobil. Laki-laki itu melipat ke dua tangannya di belakang kepala, sebagai bantal untuk kepalanya.

 

“Aku tidak tahu pasti. Adikku itu sulit sekali untuk di tebak, dan aku rasa kali ini dia pasti akan melakukan sesuatu hal yang bisa di katakan sedikit berbahaya. Kau tahu, kan bagaimana otak iblisnya itu bekerja dengan sangat baik dalam keadaan seperti ini?” Ahra berbicara dengan masih menatap focus ke depan.

 

Eunhyuk menganggukkan kepalanya pelan. Dia memang sangat tahu bagaiman kinerja otak Kyuhyun jika dalam keadaan seperti ini. Dia mengenal laki-laki itu bukan hanya setahun, dua tahun saja, tapi sudah lebih dari sepuluh tahun. Dan dia cukup tahu bagaiman mengerikannya otak Cho Kyuhyun itu.

 

“Mungkinkah dia akan menggunakan cara yang mengerikan untuk mendapatkan wanita itu?”

 

“Aku tidak tahu standar mengerikan yang di gunakan oleh Kyuhyun, tapi jika melihat dari keadaannya, mungkin, tapi kurasa adikku itu tidak akan sembarang dalam menentukan langkahnya.”

 

“Ah.. Aku jadi penasaran dengan kelanjutan cerita ini.”

 

“Cerita?” Ahra memicingkan matanya tidak senang. Wanita itu menoleh sekilas ke arah Eunhyuk yang sedang memberikan senyuman bocah kepadanya. “Kau pikir ini film, Lee Hyuk Jae?”  Ahra mendengus kesal dan mengalihkan pandangannya kembali pada kemudinya.

 

“Ku pikir ini akan jadi sangat menarik sekali jika di buat menjadi film.”

 

“Ck, dasar bodoh.”

 

“Yakkk.. Sudah kubilang aku ini tidak bodoh, Ahra-ya.” Eunhyuk menegakkan tubuhnya dan melotot ke arah Ahra.

 

“Kau itu kenapa bersik sekali eo?”

 

“Karena kau menyebalkan.” Eunhyuk mengerucutkan bibirnya kesal dan  kembali menyandarkan tubuhnya pada jok mobil. Ahra tertawa kecil melihat kelakuan temannya itu.

 

“Tidak usah merajuk seperti itu. Kau tahu? Kau tidak ada manis-manisnya sama sekali melakukan hal itu.”  Ahra memandang Eunhyuk dengan pandangan mengejek, membuat laki-laki itu semakin mengerucutkan bibirnya kesal.

 

“Haish.. Bagaimana kau dan seluruh keluargamu itu mempunyai sifat iblis seperti itu, eo? Kau itu perempuan Ahra-ya, tidak bisakah kau sedikit bersikap lebih manis?” Eunhyuk mendengus kesal.

 

“Aku tidak suka berpura-pura, Lee Hyuk Jae.”

 

“Cih.”

 

Ahra menghentikan mobilnya di sebuah gedung notaries di sekitar pusat kotaSeoul. Wanita itu menatap dengan penuh minat suasana gedung tersebut.

 

“Apa yang akan kita lakukan di sini?” Eunhyuk bertanya dengan kening berkerut.

Ahra tersenyum smirk sebelum menjawab pertanyaan Eunhyuk. Laki-laki itu bergidik ngeri, sebelum meneguk ludahnya dengan berat melihat senyuman Ahra yang begitu mengerikan itu.

 

“Kau!” ahra mengacungkan jari telunjuknya di depan wajah Eunhyuk. “Gunakan insting detektifmu dan bantu aku.”  Sekali lagi Eunhyuk meneguk ludahnya berat. Sepertinya hari ini dia memang akan terperangkap dengan iblis betina keluarga Cho.

 

***

 

 

Seorang laki-laki menggunakan setelan jas berwarna hitam masuk ke sebuah ruangan. Laki-laki itu membungkuk hormat ke pada seorang lelaki yang sedang duduk dengan angkuh di depannya.

 

“Sajangnim., Tuan Choi Minho sudah berada di Korea sejak kemarin sore, dan siang ini kami menemukan ia sedang menemui seorag wanita di sebuah restorant di daerah sekitar Gangnam.”

 

“Dasar bodoh. Dia pasti menemui wanita itu.”  laki-laki yang di panggil sajangnim tadi mendecak kesal.

 

“Ne?”

 

“Tidak, terimakasih. Kau boleh pergi sekarang.”

 

“Baik, sajangnim.”  Laki-laki tadi berjalan meninggalkan ruangan itu, meninggalkan lelaki tadi seorang diri.

 

Choi Siwon, lelaki yan di panggil sajangnim itu beranjak dari duduknya. Siwon melangkah menuju jendela besar yang berada di samping kanan meja kerjanya. laki-laki itu menatap dengan tenang gedung-gedung pencakar langit yang tersuguh di depannaya. Terlihat seperti jajaran lego yang di pajang di toko maianan.

 

Laki-laki itu melipat ke dua tangannya di depan dada. Sambil memikirkan sesuatu yang begitu menganggu pikirannya akhir-akhir ini.

 

‘Apa yang sedang kau pikirkan Choi Minho? Bukankah aku sudah pernah bilang, kau hanya prlu mengikuti aturan mainku dan kau pasti akan mendapatkan apa yang kau inginkan. Lagipula, kenapa kau sangat menyukai wanita itu, bahkan wanita itu tidak terlihat seperti wanita yang mendekati tipemu. Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan, Minho-ya. Kalau begini caranya, kau bisa menggagalkan semua rencanaku.’

 

Siwon berjalan kembali ke mejanya. Laki-laki itu memencet tombol pada telephone yang terhubung langsung ke sekertarisnya.

 

“Han Cheonsa, aku ingin Minho di temukan hari ini juga, dan bawa dia kehadapanku.”

 

“Yakk, kau tidak bisa membiarkan adikmu itu bernapas sedikit saja, eo?’

 

Siwon mendecakkan lidahnya kesal saat mendengar jawaban dari sekertarisnya itu. “Aku tidak suka di bantah, Cheonsa-ya, jadi ikuti saja perintahku.”

 

Klik

 

Siwon mematikan sambungan telphonenya, laki-laki itu tidak terlalu suka berdebat dengan Cheonsa, yang notabenya adalah skertarisnya sekaligus teman terdekatnya. Siwon tersenyum kecil, pasti di luar sana Cheonsa sedang memberengut lucu sambil menyumpahinya. Wanita itu terlalu ‘lembut’ jika hanya memilih diam dan menggerutu saja.

 

***

Hyun Je memandang bosan pada semua kaset game di dalam kamarnya. Anak itu sedang berdiri di depan rak kasetnya yang tertata rapi sambil melipat ke dua tangannya di depan dada.

 

“Ck, membosankan.”  Hyun Je berdecak kesal, kemudian membalikkan badannya dan melangkah meninggalkan kamarnya itu. anak itu berjalan menuju ruang tv, dan duduk di atas sofa di depan televisi. Hyun Je meraih remote televisinya dan mulai menayalakan televisi tersebut. Anak itu berhenti ketika menemukan sebuah channel televisi swasta yang menayangkan acara katun favoritnya. Hyun Je tertawa kecil ketika melihat tokoh di acara kartun itu melakukan hal konyol.

 

“Eo, lapar sekali.”  Hyun Je memegang perutnya. Anak itu menatap sekitarnya dan menemukan keadaan rumah itu yang memang terlihat sepi. Je Wo sudah berangkat ke kantor sejak tadi pagi, dan itu menolak di titipkan kepada orang tua Je Wo, karena pasti akan merasa bosan jika tinggal di sana.

 

Hyun Je berdiri dan melangkah menuju dapur. Anak itu membuka kulkas dan mendecak kesal ketika hanya menemukan buah-buhan dan beberapa minuman di dalamnya. Anak itu akhirnya memilih mengambil sebuah kaleng minuman besoda dan menutup pintu kulkas itu kembali. Hyun Je memicingkan matanya saat menemukan note yang di templepada pintu kulkas itu.

 

“Kenapa aku tadi tidak melihatnya, eo?”  Hyun Je menggaruk belakang kepalanya.

 

‘Hyun Je-ya, jika kau merasa lapar, makanlah makanan yang telah eomma simpan di meja makan. Jangan terlalu banyak minum minuman bersoda dan jangan terlalu banyak mengemil makanan ringan. Kau bisa makan cake yang telah eomma simpan di lemari es. Jika ada apa-apa telphonelah eomma.’

 

“Wah, ada cake?” Hyun Je tersenyum senang ketika membaca kata ‘cake’, anak itu segera membuka kulkas. Ah.. Tentu saja dia tidak menemukannya, karena dia hanya membuka lemari es bagian bawah, dan anak itu pasti tidak bisa mencapai lemari es bagian atas.

 

Hyun Je berpikir sejenak, anak itu akhirnya memilih untuk menyeret kursi yang berada di meja makan dan membawanya ke depan kulkas. Hyun Je menaiki kursi  itu dan menarik handle pada pintu kulkas. Anak itu tersenyum senang ketika menemukan cake yang masih utuh di dalamnya.

 

Hyun Je segera mengambil cake itu dan turun dari kursinya. Anak itu meletakkan cake yang di pegangnya pada meja makan. Hyun Je mengambil pisau pemotong kue di tempat penyimpana alat makan,  kemudian mulai mengiris kue itu menjadi beberapa bagian. Hyun Je mengangkat kue itu kembali dan membawanya ke ruang tv.

 

Hyun Je duduk dengan manis di atas sofa dan memangku kuenya. Anak itu tanpa perlu merasa repot mengambil potongan kue dan memasukkan ke dalam mulutnya dengan tangan. Hyun Je tertawa cekikikan dengan mulut penuh berisi cake. Bahkan mulutnya sekarang sudah belepotan terkena krim kuenya.

 

Hyun Je menghentikan kegiatan menonton dan mengunyahnya ketika mendengar suara dering telephone dari ruang tengah. Anak itu mendecak kesal dan meletakkan piring cakenya di atas meja, kemudian beranjak dari sofa dan menuju ruang tengah.

 

“Yeoboseyo?”

 

“Hyun Je-ya!”

 

“Nuguseo?”  Hyun Je mengerutkan keningnya ketika mendengar suara orang di seberang sana.

 

“Kyuhyun ahjussi.”

 

“Eo, ahjussi, ada apa kau menelphone kemari?”

 

“Eommmu ada?”

 

“Tidak, dia sudah berangkat bekerja.”

 

“Mwo? Lalu dengan siapa kau sekarang?” Terdengar nada terkejut dari seberang sana.

 

“Aku sendiri di rumah.”

 

“Astaga, Hyun Je-ya, bagaimana bisa wanita itu meninggalkan kau sendiri di rumah? Aku ke sana sekarang. Kau jangan ke mana-mana, eo?”

 

“Ck, aku bukan anak kecil, ahjussi.” Hyun Je berdecak kesal.

 

“Aku tidak peduli, yang terpenting sekarang aku akan ke sana, dan kau jangan coba ke mana-mana.”

 

“Ahjussi.!” Terdengar nada protes dari suara Hyun Je.

 

“Aku tidak menerima penolakan, Hyun Je-ya.”

 

“Yakk..”

 

Klik

 

 

“Haish, dasar menyebalkan.” Hyun Je meletakkan telephone itu ke tempatnya. Anak itu menggerutu kesal, dan kembali berjalan ke arah ruang televisi. Hyun Je menjatuhkan tubuhnya kembali di atas sofa. Anak itu kembali larut dalamkegiatannya.

 

***

Kyuhyun menutup telphonenya dengan kesal. Laki-laki itu benar-benar tidak habis pikir, kenapa Je Wo tega meninggalkan Hyun Je seorang diri di rumahnya. Laki-laki itu menyambar jasnya dan berjalan ke luar ruangannya. Kyuhyun itu berhenti sebentar ketika melewati ruangan milik sekertarisnya.

 

“Aku akan keluar, tolong kau batalkan semua janji yang klienku buat denganku.”

 

“Ne.” Sekertaris Kyuhyun mengangguk patuh. Laki-laki itu kemudian melenggang pergi ke luar dari ruangan itu.

 

***

 

Kyuhyun menatap pintu apartement di depannya, sebelum memutuskan untuk memencet bel apartemen itu. laki-laki itu membulatkan matanya saat pintu terbuka dan melihat Hyun Je dengan wajah belepotan karena terkena krim.

 

“Aigoo!!! Apa yang terjadi padamu?” Kyuhyun mengangkat Hyun Je ke dalam gendongannya dan masuk ke dalam apartemen itu. hyun Je memandang Kyuhyun kesal dan berusaha melepaskan diri dari gendongan lelaki itu.

 

“Ahjussi, turunkan aku!”

 

“Tidak, sebelum kau mengatakan padaku, apa yang kau lakukan hingga wajahmu menjadi tidak karuan seperti ini.”  Kyuhyun menunjuk wajah Hyun Je dan menatap anak itu dengan tajam. Laki-laki itu membawa Hyun Je ke arah dapur dan berjalan mendekati wastafel.

 

Hyun Je menggerutu pelan, sambil melipat ke dua tangannya di depan dada. Anak itu memandang Kyuhyun dengan pandangan yang tidak kalah tajam.

 

“Aku tidak melakukan apa-apa, aku hanya memakan cake saja tadi, dan kenapa ahjussi secerewet itu, huh?”

 

“Ck, kau ini__” Kyuhyun berdecak kesal, kemudian laki-laki itu menyalakan keran pada wastafel itu, kemudian menangkupkan sebelah tangannya yang tidak ia gunakan untuk menyangga Hyun Je pada keran tersebut. Laki-laki itu kemudian mengusapkan air yang ia tangkup tadi pada bibir Hyun Je, membersihkan dengan teliti bibir anak itu hingga ke bagian-bagian lain yang terkena kotoran krim cake yang tadi bocah itu makan.

 

“Di mana handukmu?” Kyuhyun bertanya pada Hyun Je, masih dengan membersihkan wajah anak laki-laki itu. Hyun Je masih memberengut kesal, kemudian anak itu mengarahkan telunjuknya pada kamarnya. Kyuhyun mematikan keran airnya setelah memastikan wajah Hyun Je sudah bersih dari kotoran, kemudian lelaki itu berjalan ke arah kamar Hyun Je masih dengan menggendong anak itu.

 

“Ahjussi, turunkan aku!” Hyun Je masih merengek untuk di turunkan oleh Kyuhyun, namun laki-laki itu seperti mengabaikan rengekan Hyun Je dan memilih tetap berjalan menuju kamar Hyun Je. Kyuhyun membuka pintu kamar anak itu, kemudian laki-laki itu berjalan ke arah kamar mandi yang ada di kamar Hyun Je.

 

Kyuhyun menurunkan Hyun Je setelah berada di dalam kamar mandi anak itu, kemudian laki-laki itu mengambil handuk yang tersampir pada tempat penyimpanan handuk. Kyuhyun berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan tinggi badan Hyun Je.

 

“Lain kali, makanlah dengan benar, jangan mengotori wajahmu seperti tadi.” Kyuhyun berbicara sambil mengelap wajah Hyun Je dengan handuk yang berada di tangannya.

 

“Aku kan tidak tahu, lagipula, aku tidak begitu menyadari cara makanku ketika memakan cake tadi.” Hyun Je masih bersungut kesal, anak itu kembali melipat tangannya di depan dada dan menatap Kyuhyun dengan pandangan tajam, yang sama persis seperti milik pria itu.

 

Kyuhyun menghembuskan nafasnya pelan, laki-laki itu lalu mengembalikan handuk yang ia gunakan untuk mengeringkan wajah Hyun Je tadi ke tempatnya. Kyuhyun kembali memandang Hyun Je yang kini sedang menatap tajam ke arahnya. Laki-laki itu melakukan hal yang sama seperti yang Hyun Je lakukan, menatap anak itu dengan tajam sambil melipat ke dua tangannya di depan dada.

 

“Kenapa kau berada di rumah sendirian?”

 

Hyun Je mendecakkan lidahnya, anak itu berjalan meninggalkan Kyuhyun, ke luar dari kamar mandi itu.

 

“Yakkk!!!” Kyuhyun berteriak dengan kesal, sambil berkacak pinggang. Laki-laki itu akhirnya mengikuti Hyun Je keluar dari kamar mandi itu.

 

Kyuhyun mendecak kesal ketika menemukan Hyun Je yang sudah berbaring dengan nyaman di atas tempat tidurnya dengan posisi tertelungkup sambil memainkan psp-nya. Anak itu tampak sama sekali tidak peduli dengan kemarahan Kyuhyun.

 

“Hyun Je-ya, kau mendengarkanku atau tidak?” Kyuhyun bertanya pada Hyun Je dengan suara dingin yang terdengar mengancam.

 

Hyun Je mendengus kesal. Anak itu mematikan psp yang baru saja ia nyalakan, kemudian membalikkan badannya dan duduk bersila pada ranjangnya.  Hyun Je menatap Kyuhyun dengan datar.

 

“Eomma sudah berangkat bekerja sejak pagi tadi, dan aku tidak mau di titipkan di rumah harabae, jadi aku memilih untuk di rumah sendirian.” Anak itu berbicara dengan nada menggurui yang terdengar sangat menyebalkan di telinga Kyuhyun.

 

“Ck, aku tidak suka jika kau melakukan hal ini lagi.”

 

“Wae?” Hyun Je memandang Kyuhyun tidak mengerti.

 

Kyuhyun membuang nafasnya gusar, laki-laki itu mengacak rambutnya yang terlihat agak beranatakan, kemudian memandang Hyun Je dengan serius. “Kau itu masih kecil, dan dibiarkan tinggal di rumah sendirian, bagaimana jika ada penyusup yang masuk ke dalam sini. Ck, kalian berdua benar-benar membuatku gila.”

 

“Kau berlebihan, ahjussi. Apartemen ini bukan apartemen murahan, jadi mana mungkin ada penyusup masuk ke dalam apartemen ini.”  Hyun Je memandang Kyuhyun datar.

 

“Tapi__”

 

“Sudahlah, ahjussi.” Hyun Je memotong omongan Kyuhyun, anak itu lalu turun dari ranjangnya dan berjalan ke arah pintu keluar.

 

“Kau mau kemana, eo?”

 

“Makan, aku lapar.”  Hyun Je menjawab tanpa memandang Kyuhyun. Hyun Je memutar kenop pintu dan melangkah keluar dari kamarnya. Kyuhyun mendengus pelan, kemudian memilih mengikuti ke mana anak itu akan pergi.

 

Hyun Je membuka tudung saji, dan setelahnya anak itu mendengus pelan. Eommanya meninggalkan satu piring salad yang terlihat sangat menjijikkan di matanya dan satu piring bulgogi. Hyun Je mungkin masih bisa memakan bulgoginya, tapi jika salad, anak itu benar-benar akan menentang keras jenis makanan yang berbahan dasar sayuran itu.

 

“Kau ingin makan yang lain?” Kyuhyun berkata sambil berdiri di belakang Hyun Je. Hyun Je membalikkan badannya, kemudian anakitu mendongak menatap Kyuhyun.

 

“Ne__” Hyun Je menganggukkan kepalanya pelan. Kyuhyun tersenyum kemudian mengacak rambut Hyun Je pelan.

 

“Kau ingin makan apa, biar aku pesankan.”

 

“Aku ingin jajangmyeon, ahjussi.”

 

“Kau suka makanan itu?” Kyuhyun memandang Hyun Je dengan antusias. Astaga.. bahkan selera makanan merekapun sama.

 

Hyun Je menganggukkan kepalanya pelan. “Ne, aku sangat menyukai makanan itu, setidaknya makanan itu lebih terlihat enak dari pada benda hijau yang selalu eomma jejalkan padaku.”

 

“Benda hijau?” Kyuhyun mengerutkan keningnya bingung.

 

“Benda hijau itu sayuran, ahjussi. Kau pikir makanan berwarna hijau mana yang terlihat begitu mengerikan selain benda itu?” Hyun Je memandang Kyuhyun datar.

 

“Ah.. kau benar, sayuran itu memang sangat mengerikan. Makanan itu sebaiknya tidak di sebut sebagai makanan sehat, tapi lebih mirip sebagai racun.”

 

“Eo, kau juga tidak menyukai makanan itu.?”

 

“Tentu saja.” Kyuhyun menganggukan kepalanya mantap.

 

“Hahaha.. benarkan kataku? Sayuran itu memang makanan beracun. Kenapa eomma suka sekali menjejaliku dengan makanan beracun seperti itu sih?” Hyun Je tertawa lebar. Anak itu ingat betapa ibunya sangat suka sekali menyuruhnya untuk memakan satyran sampai anak itu menjadi kesal karenanya. Je Wo, walaupun wanita itu tidak bisa memasak, namun wanita itu selalu berusaha memberikan makanan yang sehat untuk anaknya, seperti sayuran misalnya. Dan Hyun Je dengan sangat mati-matian akan menghindar dari makanan itu, anak itu tidak suka dengan sayuran, yang selalu ia sebut sebagai benda hijau mengerikan.

 

“Nah, sekarang kau duduk saja di ruang televisi, biar aku pesankan makanan itu untuk kita berdua.” Kyuhyun mengeluarkan ponsel dari saku celananya, dan mulai menelphone restoran yang menyediakan jajangmyeon. Hyun Je tersenyum senang, anak itu kemudian berjalan ke arah ruang televisi, seperti yang di perintahkan oleh Kyuhyun.

 

***

 

“Kenapa kau tidak langsung menemuiku, ketika sampai di Korea?” Siwon menatap Minho yang sedang duduk di depannya dengan tatapan mengintimidasi.

 

“Aku tidak sempat, hyung.”

 

“Cih, tidak sempat menemuiku, tapi sempat untuk menemui wanita itu?” Siwon mencebikkan lidahnya kesal.

 

“Karena dia adalah alasanku untuk pulang ke Korea lagi.” Minho menggeram kesal. Laki-laki itu selalu tidak suka jika ada salah satu anggota keluarganya yang menghina Je Wo. baginya wanita itu adalah segalanya, alasannya untuk kembali ke begaranya. Dan wanita itu adalah alasannya juga untuk tetap bertahan di dalam keluarganya yang sangat mengerikan itu.

 

Ia tidak pernah menemukan semangat hidup seperti sekarang ini, sebelum bertemu dengan wanita itu. masa bodoh dengan setatus wanita itu yang sudah memiliki satu orang anak. Dia tidak pernah peduli. Dia mencintai wanita itu, maka dia akan menerima wanita itu apa adanya. Lagipula, anak wanita itu, Hyun Je, adalah anak yang menyenangkan, dan dia sama sekali tidak keberatan untuk menjadi ayah dari anak itu.

 

“Kau sangat naïf, Choi Minho.” Siwon memandang Minho dengan dingin. “Kau rela pulang kemari, untuk mengejar wanita yang bahkan tidak ada apa-apanya itu. Tidak bisakah kau membuka matamu. Wanita itu sudah memiliki anak dan bahkan dia belum pernah menikah. Tidak bisakah, kau mencari wanita yang lebih baik dari dia?”

 

“Tidak bisa, hyung.” Minho menggeram tertahan. “Aku tidak pernah menginginkan wanita lain selain dia. Tidak bisakah kau mengerti itu? aku mencintainya, dan aku tidak pernah peduli dengan statusnya itu. bagiku dia wanita yang paling sempurna, dan aku hanya menginginkan wanita itu.”  Minho menyelesaikan kalimatnya dalam satu tarikan nafas. Laki-laki itu memandang tidak suka pada Siwon yang sedang menatapnya dengan sinis.

 

“Bodoh.”  Siwon tersenyum mengejek pada Minho. “Kau benar-benar bodoh, Minho-ya. Aku tidak pernah menemukan orang senaif dirimu.”

 

“Diam, hyung!” Minho memandang kakak laki-lakinya itu tajam. Pria itu berusaha matian-matian menahan emosinya yang seperti akan meledak sebentar lagi. Gigi laki-laki itu terkatup rapat dan jemarinya terkepal dengan sangat keras. Kalau saja yang di hadapannya itu bukan saudara sekandungnya, mungkin saat ini, ia memilih untuk maju ke depan dan melemparkan bogem mentahnya. Bukankah ia sudah pernah bilang, ia paling benci jika ada keluarganya yang menghina wanita itu.

 

“Dengarkan aku, Choi Minho!” Siwon menekan nada bicaranya. Laki-laki itu menatap serius wajah adiknya yang terlihat menahan kesal. “Aku menginginkan perusahaan milik keluarga wanita itu, jadi, bisakah kau menjauh darinya saat ini. Akan sangat mengganggu untukku jika kau terlalu dekat dengannya. Aku hanya memerlukan waktu sedikit lagi untuk menguasai perusahaan itu. Apa kau mengerti, adik?”

 

Minho menatap marah pada kakaknya. Apa yang barusan kakaknya itu bilang? Menguasai perusahaan keluarga Shin? Dia gila? Apa perusahaan ini tidak cukup untuknya? Apa semua yang ia peroleh selama ini tidak bisa memuaskan hatinya?

 

“Kau gila, hah?” Minho membentak Siwon marah. “Kau bilang ingin menguasai perusahaan itu? apa yang sebenarnya ada di otakmu itu? Tidak bisakah kau puas dengan semua yang kau peroeh sekarang? Bahakan perusahaan keluarga Shin itu  tidak sebesar perusahaan kita. Kenapa kau menjadi begitu gila, hyung?”  Wajah laki-laki itu memerah dan matanya sudah menatap kakanya dengan pandangan menakutkan.

 

Siwon terkekh pelan, laki-laki itu berdiri dari duduknya dan berjalan menyeberangi mejanya dan mendekati Minho. Siwon berdiri tepat di hadapan Minho. Laki-laki itu menatap sinis kepada adiknya.

 

“Aku akan berkompromi denganmu kali ini.” Siwon tersenyum misterius dan memberi jeda dalam kalimatnya. “Aku akan memberimu sebuah penawaran yang menguntungkan. Bagaimana?”

 

“Apa maksudmu?”  Minho menatap Siwon tidak mengerti. Siwon tersenyum kecil, sebelum akhirnya mendekatkan tubuhnya pada Minho. Laki-laki itu menatap adiknya penuh intimidasi.

 

“Kau! Bantu aku mendapatkan perusahaan itu, maka aku akan membantumu untuk mendapatkan wanitamu. Bagaimana?”

 

Minho mendesisi tertahan. Laki-laki itu berdiri dari tempatnya, dan menatap hyung-nya dengan pandangan yang benar-benar mengerikan. Siwon tersenyum mengejek melihat ekspresi Miho, dasar anak bodoh, gumannya.

 

“Aku__ tidak akan pernah melakukan hal itu, hyung. Aku akan mendapatkan wanita itu dengan cara yang benar, dan aku, tidak akan membiarakan renacana gilamu itu berjalan dengan lancar.” Minho berjalan meningalkan Siwon, laki-laki itu tidak memerdulikan tatapan kakaknya yang mengeras karena ucapannya.

 

‘Setelah nanti kau melihat kenyataan yang terpapar di hadapanmu, kau pasti akan berlari padaku dan memohon bantuanku. Dan saat itu tiba, akan kupastikan kau mengucapkan terimakasih padaku. Choi Minho.’

 

***

 

Je Wo membuka pintu apartemennya. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, dan wanita itu baru saja bisa pulang dari kantornya. Je Wo mendesah pelan, wanita itu mengganti sepatu kerjannya dengan sandal rumah dan berjalan lesu ke arah dapur.

Je Wo menuangkan air pada gelas dan meneguk isinya hingga  habis.

 

“Kemana bocah itu?” Je Wo mengedarkan pandangannya dan berguman pelan. Biasanya ketika ia pulang kerja, ia pasti akan menemukan suara berisik anak itu saat bermain game di ruang televisi. Anak itu akan menunggunya, walaupun dia tidak pernah mau mengakuinya.

 

Je wo meletakkan gelasnya, kemudian berjalan ke arah ruang televisi. Wanita itu berdecak pelan saat menemukan bungkus makanan yang berserakan di sofa, meja dan lantai. Je Wo berjalan dan memunguti bungkusan makanan itu.

“Apa yang sebenarnya di lakukan anak itu, eo?”  Je Wo menggerutu pelan. Wanita itu membuang semua sampah di tangannya ke tempat sampah, setelah itu ia berjalan dengan kesal ke kamar Hyun Je.

 

“Yakk,, Hyun__” Je Wo tidak bisa menyelesaikan kalimatnya saat melihat pemandangan di depannya. Wanita itu mengatupkan mulutnya rapat. Kyuhyun dan Hyun Je tidur saling berplukan. Tangan Hyun Je masih memgang psp, sedangkan tangan Kyuhyun mendekap tubuh anak itu hingga menempel pada tubuhnya. Mereka tampak terlihat damai dan pulas.

 

Wanita itu akhirnya memilih untuk menutup pintu itu kembali. Je Wo berjalan ke arah ruang televisi dengan ekspresi yang terlihat dingin dan tegang. Wanita itu kemudian menjatuhkan tubuhnya pada sofa empuk berwarna pastel itu.  Je Wo membaringkan tubuhnya pada sofa itu. Wanita itu akhiirnya memilih untuk memejamkan matanya yang tiba-tiba terasa berat.

 

“Aku hamil.” Je Wo menatap kosong laki-laki di depannya. Wanita itu berusaha menenangkan hatinya yang sedari tadi terus bergejolak. Ingin rasanya ia menelan perkataan yang baru saja ia lontarkan. Sedangkan, laki-laki di depannya itu menatap Je Wo dengan terkejut.

 

“Apa yang baru saja kau katakan, Shin?”  Kyuhyun merasakan suaranya bergetar. Laki-laki itu menggelengkan kepalanya pelan, berusaha menepis semua kenyataan yang terpapar di depannya.

 

“Aku harus bagaimana?”  Je Wo mengigit bibir bawahnya, menahan cairan bening di matanya yang terasa seperti akan keluar dari tempatnya.

 

Kyuhyun  masih terpaku pada wajah wanita itu. Kemudian pandangannya jatuh pada perut Je Wo yang tertutupi oleh kain seragam sekolahnya. Laki-laki itu berdehem pelan, kemudian meneguk jus jeruk yang ada di hadapannya. Kyuhyun menegus jus itu dalam satu tegukan, kemudian laki-laki itu meletakkan gelas yang sudah kosong itu kembali ke atas meja.

 

“Apa__” Kyuhyun terdengar ragu sejenak, sebelum akhirnya meneruskan kalimatnya. “Apa kau yakin dengan kehamilan itu?”

 

“Aku sudah memeriksanya, Kyuhyun-ah. Aku sudah telat datang bulan lebih dari dua bulan setelah kita melakukan itu. dan aku juga sudah memeriksanya menggunkan alat tes kehamilan. Aku harus bagaimana sekarang?”  Je Wo benar-benar takut. Ia tidak lebih seperti anak umur enam belas tahunan yang sedang terperangkap dalam sebuah situasi pelik yang seharusnya ia tidak hadapi sekarang. Namun, astaga, bagaimana bisa ia menjadi wanita sebodoh ini?

 

Kyuhyun menghela napasnya perlahan. Laki-laki itu benar-benar bingung sekarang. Je Wo bukanlah wanita yang ia tiduri pertama kalinya, tapi kenapa ia bisa selengah ini. Seharusnya ia memakai pengaman atau menyuruh wanita itu menelan pil kontrasepsi, bukan membiarkan dirinya lepas kendali malam itu. Dan akibatnya sekarang, ia benar-benar seperti di hadapkan pada eksekusi kematian di tiang gantung. Ia tidak pernah memikirkan ini sebelumnya. Menghamili seorang gadis, dan akan segera menjadi ayah. Argh.. dia benar-benar merasa frustasi.

 

“Cho Kyuhyun!”

 

Kyuhyun tersentak dari pemikirannya saat mendengar suara Je Wo yang memanggilnya. Laki-lai itu kemudian meatap wajah Je Wo yang terlihat pucat sekaligus cemas. Kyuhyun memandang wajah itu sejenak, mengamati bagaimana cantiknya wajah wanita di hadapannya itu. Laki-laki itu lagi-lagi menghela napasnya pelan. Ia benar-benar belum siap. Astaga.. apa yang sebaiknya aku lakukan, Tuhan? Guman Kyuhyun dalam hati.

 

“Apa yang akan kita lakukan, Cho Kyuhyun?”

 

“Aku__” tenggorokan Kyuhyun terasa seperti tercekat. Laki-laki itu menggelengkan kepalanya perlahan, dan menatap Je Wo dengan nanar. Ia tidak ingin memberikan bualan pada wanita itu.Ia tidak ingin memberikan janji pada Je Wo, karena pada kenyataannya ia memang belum siap dan belum bisa menerima ini semua. “Aku tidak bisa, Shin. Aku tidak bisa. Sebaiknya kau hilangkan saja dia. Aku belum siap jika harus menjadi ayah sekarang.”

 

Mulut Je Wo menaganga dengan sempurna. Ia pikir, Kyuhyun akan bersikap seperti lelaki gentleman dalam drama-drama yang kebanyakan ia tonton. Mempertahankannya dan anaknya dan mengatakan ‘Aku akan bertanggungjawab, lagipula itu anakku dan aku akan mempertahankan kalian. Aku berjanji aka menikahimu dan kita akan melalui ini bersama-sama.’ Tapi, nyatanya pria itu sekarang mengatakan sesuatu yang jauh dari harapannya. Je Wo seperti terasa terlempar dari lantai duapuluh tiga gedug apartemen dan tewas seketika. Ia seperti berada di ambang hidup dan mati seorang prajurit yang terkena peluru panas dari lawannya. Ia benar-benar shock, shock akan pernyataan laki-laki di hadapannya.

 

“Cho Kyuhyun!” Je Wo menggeram tertahan, sambil menatap Kyuhyun dengan tatapan kecewa yang sangat kentara. “Kau! Terlihat seperti bajingan.”

 

Je Wo membuka matanya pelan. Keringat dingin mengucur deras dari dahinya. Sepotong penggalan masa lalunya itu muncul lagi, seperti role film yang di putar di bioskop. Dan yang paling ia benci, kenapa scene itu yang harus diputar? Ia paling benci adegan itu. adegan yang meluluh lantakan hati serta harapannya pada lelaki bernama Cho Kyuhyun.

 

Je Wo mendesah kasar, dan memilih untuk bangkit dari tidur berbaringnya. Wanita itu mendudukkan dirinya dengan nyaman, dan beranjak meninggalkan sofa itu. Je Wo berjalan ke arah dapur, mengambil gelas dan menuangkan air di dalamnya. Wanita itu meneguk air tersebut sampai habis, merasakan tenggorokannya yang basah dan terasa sedikit lega.  Je Wo meletakkan gelas kosong itu di atas meja, kemudian wanita itu berjalan ke arah kamarnya. Kaki wanita itu berhenti sejenak ketika melewati pintu kamar Hyun Je. ‘Apa laki-laki itu masih di dalam sana?’  Je Wo berguman dalam hati. Wanita itu hendak menarik handle pintu kamar Hyun Je, namun akhirnya ia memilih untuk tidak melakukannya. Dia, tidak akan mungkin sanggup jika harus di hadapkan pada pemandangan seperti tadi ketika ia pulang dari kantornya.

 

Itu terlalu menyiksanya, dan dia tidak suka, dia tidak suka ketika mendapati kenyataan bahwa hatinya masih saja memiliki respon terhadap ke hadiran laki-laki itu. Itu mengganggu. Mengganggu seluruh kinerja otaknya. Wanita itu akhirnya memilih untuk melangkahkan kakinya masuk kedalam kamarnya sendiri. Melupakan segala sesuatu yang ia lihat hari ini, ia rasa itu lebih baik, daripada ia harus terus-menerus menahan rasa sakit di dadanya yang semakin hari, semakin bertambah sesak.

 

***

 

Kyuhyun membuka matanya perlahan. Laki-laki itu mengernyit bingung ketika melihat ruangan di sekelilingnya. Kemudian, sebuah pemahaman melintas di kepalanya. Bukanakah ia terakhir kali menghabiskan waktu dengan Hyun Je di kamar anak itu? Berarti___

 

Kyuhyun memiringkan wajahnya ke samping dan menemukan Hyun Je yang sedang tidur sambil memeluk tubuhnya. Laki-laki itu tersenyum senang, kemudian mengarahkan tangannya untuk membelai rambut anak itu.

 

Ini persisi seperti beberapa hari yang lalu ketika ia menginap di apartemen ini. Kyuhyun menurunkan kepalanya dan mengecup dahi Hyun Je yang terasa agak sedikit basah karena keringat. Laki-laki itu kemudian mendekap tubuh anaknya semakin erat. Ia sangat menyukai momen seperti ini. Berada di dekat Hyun Je, merasakan suhu tubuh anak itu yang terasa sangat hangat, dan mencium bau tubuh anak itu yang terasa amat sangat menenangkan untuknya.

 

Kyuhyun tidak pernah menyukai anak-anak. Menurutnya anak-anak hanyalah makhluk yang merepotkan dan mudah menangis. Ia bahkan sama sekali tidak pernah mau jika harus berdekatan dengan anak kecil. Tapi, Hyun Je mengubah semuanya. Mengubah semua persepsi Kyuhyun tentang anak kecil. Kyuhyun memang belum terbiasa dengan anak kecil, namun dengan Hyun Je seolah-olah ia bisa memposisikan dirinya sebagai seorang yang dewasa di hadapan anak itu. Memposisikan dirinya sebagai ayah yang penuh kehangatan di depan anak itu. Walaupun cara yang mereka gunakan agak sedikit aneh untuk orang kebanyakan, namun, Kyuhyun tahu bahwa Hyun Je menyukai cara yang ia gunakan, terlihat dari bagaimana anak itu menerima sikap Kyuhyun dengan senang hati, walaupun terkadang komentar yang anak itu lontarkan terasa sangat tajam, tapi apa pedulinya? Toh, anak itu memang mewarisi semua sifatnya, termasuk melontarkan kata-kata tajam.

 

Kyuhyun memejamkan matanya dan menaruh dagunya di atas kepala Hyu Je, sambil mendekap tubuh anak itu erat. Laki-laki itu baru saja akan menerima sebuah ketenangan ketika suara deringan telephone mengusik matanaya yang baru saja tertutup. Kyuhyun berdecak pelan. Laki-laki itu tampak kesal, kemudian melepaskan pelukannya pada tubuh Hyun Je.

 

Kyuhyun mendudukkan tubuhnya, dan memalingkan wajahnya pada meja di dekat ranjang Hyun Je, tempat di mana ia menaruh ponsel genggamnya. Kyuhyun mengambil ponsel itu, mendelik seketika, ketika melihat nama yang tertera pada layar ponsel itu. Cho Ahra, tidak bisakah wanita itu berhenti mengganggunya di saat seperti ini?

 

“Nuna!!!” Kyuhyun menjawab telephone itu dengan suara penuh penekanan.

 

“Tunggu! Kau jangan marah dulu, ini sanagt penting dan kau tidak boleh menutup telphonemu!” Ahra terburu-buru menyela, sebelum Kyuhyun menutup telphonenya. Wanita itu sudah sangat tahu dengan nada bicara Kyuhyun yang terlihat penuh penekanan. Namun, ia tidak peduli, ini menyangkut hal penting dan ia harus segera menyampaikan ini kepada adiknya itu.

 

“Apa? Aku tidak akan mengampunimu jika kau hanya mengatakan hal bodoh.”

 

“Ini tentang dana itu, adik. aku sudah tahu siapa yang memberikan dana itu pada perusahaan Shin, dan aku ingin membicarakan hal ini sekarang.”

 

“Kau tidak bisa memberitahuku lewat telephone?”

 

“Tidak bisa. Kau akan pulang sekarang? Atau aku perlu menyusulmu?”

 

Kyuhyun mendecakkan lidahnya kesal. Ia tidak mungkin gila, menyuruh wanita itu menyusulnya kemari dan membuat kehebohan di tempat ini. Jadi, lebih baik ia mnyetujui ancaman wanita itu untuk pulang. “Aku pulang sekarang. Kau benar-benar menyusahkan.”

 

“Yakk.. Aku ini sedang membantumu, adik. Seharusnya kau berterimakasih padaku.” Terdengar dengusan marah dari suara Ahra.

 

“Ck, baiklah kakakku sayang, aku pulang sekarang, ok?” Kyuhyun mematikan sambungan telephone itu sebelum kupingnya panas karena mendengar ocehan Ahra. Kyuhyun menyimpan ponselnya pada saku celananya. Kemudian laki-laki itu beranjak menuruni ranjang. Kyuhyun menatap Hyun Je yang sepertinya sama sekali tidak terusik dengan gerakannya. Laki-laki itu menundukkan badannya dan mengecup dahi anak itu lama.

 

“Aku pulang, padahal aku ingin sekali menghabiskan waktu denganmu lebih lama.”  Kyuhyun memandang Hyun Je dalam, sebelum akhirnaya melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu. laki-laki itu menutup pintu kamar Hyun Je dengan pelan. Kyuhyun mendesah tertahan dan menayandarkan tubuhnya pada pintu itu. laki-laki itu diam sejenak, kemudian memalingkan wajahnya pada kamar di sebelah Hyun Je. Kamar Shin Je Wo.

 

Laki-laki itu mendekati pintu kamar Je Wo. Melihat dengan sendu pintu kamar itu. kyuhyun mengulurkan tangannya dan mengusap pintu kamar itu. lembut, khas sekali kayu yang di pelitur dengan sangat baik.

 

“Kau pasti sudah berbaring dengan nyaman di ranjangmu sekarang. Aku tahu, kau pasti lelah, bekerja dari pagi hingga malam,dan banyak kehilangan waktumu yang berharga bersama Hyun Je. Aku kan menebusnya, kau tinggal menunggu waktunya tiba, dan akan ku pastikan kau bahagia bersamaku. Shin Je Wo!” kyuhyun menarik nafasnya dalam, dan menghembuskannya denagan pelan. “Jaljjao.”

 

***

 

“Apa yang kau dapatkan, nuna?”  Kyuhyun memandang dengan dingin wanita di depannya itu.

 

“Penyunting dana di Perusahaan Shin itu, ternyata adalah perusahaan milik laki-laki brengsek itu.”  Ahra bersungut kesal ketika mnegingat informasi yang ia peroleh tadi. Kyuhyun mengerutkan keningnya bingung.

 

“Aigoo.. Cho Ahra, hanya berurusan denagan mantan kekasihmu saja, kau terlihat kesal sekali. Memang apa yang ia lakukan kepadamu, eo?”  eunhyuk menatap Ahra dengan pandangan menggoda.

 

“Tutup mulutmu!” ahra mendesisi kesal kepada Eunhyuk.

 

“Tunggu, sebenarnya apa yang kalian bicarakan?”  Kyuhyun memandang Ahra dan Eunhyuk tidak mengerti.

 

“Begini, Presdir. Jadi, ternyata perusahaan yang mnyunting dana untuk perusahaan Shin itu adalah perusahaan Choi, milik Choi Siwon dan keluarganya. Dan nunamu ini sanagt kesal sekali ketika mengetahui hal ini. Kau tahu,kan bagaiman hubungan Ahra dengan Siwon?”  Eunhyuk menerangkan kepada Kyuhyun sambil memandang Ahra dengan pandangan mencemooh.

 

“Ck, hanya laki-laki bodoh itu saja, kau menjadi seperti ini, nuna? Benar-benar kekanakan.”

 

“Yakkk, Kau tidak tahu bagaimana perasaanku? Aku ini wanita, tidak seperti kalian yang suka sekali bergonta-ganti pasangan. Dasar menyebalkan?”  Ahra mempoutkan bibirnya lucu, sambil memandang Eunhyuk dan Kyuhyun kesal.

 

“Kau bisa ikut menghancurkan laki-laki brengsek itu jika kau mau, nuna. Aku tidak akan keberatan.”  Kyuhyun memandang kakanya dengan evil smirk andalannya.

 

“Eo, kau benar sekali. Aku akan membalas pria bodoh itu, karena sudah membuat sakit hati seorang Cho Ahra. Kita lihat saja nanti.” Ahra menatap Kyuhyun dengan bersemangat. Membuat adik laki-lakinya itu tertawa geli.

 

“Hahaha.. Kau benar-benar kakakku, Cho Ahra.”

 

“Astaga.. Kesialan apa yang Tuhan berikan padaku, sehingga aku memiliki teman iblis bersaudara seperti kalaian? Ya Tuhan.. Aku benar-benar akan terseret ke dalam dosa sebentar lagi.” Kyuhyun manatap Cho bersaudara dengan perihatin dan ngeri. Dua iblis yang sama-sama memiliki otak licik bersatu untuk menghancurkan, bisakah kalian bayangkan itu?

 

“Jadi, apa rencanamu, adik?”

 

“Kita lihat nanti, yang pasti aku benar-benar akan menghancurkannya jika dia mengusik rencanaku.”

 

***

 

Je Wo membulatkan matanaya ketika melihat Minho yang berdiri di depan pintu apartemennya. Laki-laki itu memakai setelan jas lengkap yang tampak membalut denagan sempurna tubuh tegapnya.

 

“Eo, Minho ahjussi?” Hyun Je memkik denagan terkejut saat melihat kedatangan Minho. Anak itu baru saja keluar dari rumahnya setelah membereskan beberapa barang bawaannya yang akan ia bawa ke rumah orang tua Je Wo.

 

“Anyeong, Hyun Je-ya!” Minho tersenyum manis menatap Hyun Je.

 

“Ck, untuk apa kau datang kemari?” Je Wo menatap Minho denaagn sinis. Wanita itu bukannya membenci laki-laki di hadapannya, tapi, dia lebih suka untuk menghindari masalah daripada menambah masalahnya dengan laki-laki itu.

 

“Hyun Je-ya, kau mau kemana?” Minho memilih menagabaikan decakan sinis dari Je Wo, dan bertanya pada Hyun Je.

 

“Aku akan ke rumah harabae.”

 

“Kau mau kuantar?”

 

“Tidak usah, Choi Minho. Aku bisa  mengantar anakku sendiri ke sana.”

 

“Shin Je Wo, tidak bisakah kau menerima itikad baikku sekali saja?” Minho mendesah pelan dan menatap Je Wo dengan pandangan memelas. Laki-laki itu memang meluangkan waktu untuk datang ke apartemen Je Wo dan berniat mengantarekan wanita itu ke kantornya. Dia hanya ingin mengambil hati wanita itu dengan cara yang benar.

 

“Tidak Choi Minho.”

 

“Shin__”

 

“Hyun Je-ya, ayo kita pergi.” Je Wo memeilih menggandeng tangan Hyun Je dan mengacuhkan Minho yang terlihat sangat tidak puas dengan reaksi wanita itu.

 

“Tunggu, Shin Je Wo!!!” Minho mengejar langkah Je Wo dan menarik pergelangan tangan wanita itu. “Aku belum selesai bicara denganmu.”

 

“Lepaskan tanganku, Choi Minho!” Je Wo memandang Minho dengan dingin.

 

“Aku akan mengantarmu.”

 

“Tidak.”

 

“Je Wo-ya ,aku mohon sekali ini saja!”  Minho menatap Je Wo dengan penuh harap. Wanita itu mendengus pelan,, dan melepaskan genggaman Minho denagn sebelah tangannya. Je Wo menatap Minho serius.

 

“Choi Minho, sekali saja dalam hidupmu, tidak bisakah kau memalingkan pandanganmu dariku? Tidak bisakah kau mencari wanita lain. Kemunkinan besar kau akan menemukan wanita yang tepat untukmu di antara milyaran wanita di dunia ini. Tidak bisakah kau melakukannya? Dan berhentilah untuk mengusik hidupku! Kau laki-laki baik, dan aku percaya kau akan menemukan wanita yang baik pula.” Minho menatap Je Wo dengan pandangan sendu.

 

“Aku tidak bisa.” Laki-laki itu berkata denagan nada lirih yang terdengar sangat menyiksa. Je Wo memejamkan matanyad an memilih untuk membalikkan badannya. Wanita itu menggandeng tangan Hyun Je yang terlihat tidak mengerti dengan pembicaraan ke dua orang dewasa di hadapannya.

 

“Aku pergi, dan tolong kau renungkan ucapanku tadi.” Je Wo melangkah pergi bersama Hyun Je, meninggalkan Minho dengan perasaan yang kacau balau.

 

Je Wo dan Hyun Je masuk kedalam lift, dengan tangan wanita itu yang masih menggenggam erta tangan Hyun Je. Menggenggam tangan nak itu, sedikit besar dapat mengurangi perasaan tidak enak di hatinya, dan itu sangat membantu Je Wo untuk saat ini.

 

“Eomma, kau kenapa? Apa yang terjadi padamu dan Minho ahjussi tadi?” Hyun Je menatap ibunya dengan heran.

 

“Tidak apa-apa, kau tidak perlu memikirkan perkataanku tadi.”

 

“Ck, kalian orang dewasa memang sangat membingungkan.”  Hyun Je memandang wajah ibunya datar dan menggelengkan kepalanya pelan. Terlihat sangat dewasa dengan ekspresi seperti itu. Je Wo mendecakkan lidahnya kesal, dan memandang Hyun Je dengan datar. Wanita itu selalu merasa kesal jika melihat gaya anaknya yang terlihat seakan-akan ia telah dewasa.

 

Sementara itu di sisi lain, Minho sedang berdiri dengan terpaku, sambil  melihat ke depan dengan kosong. Laki-laki itu seperti kehilangan pijkannya di bumi setelah mendengar perkataan Je Wo tadi. Dia di suruh untuk mencari seorang wanita yang baik? Apa wanita itu tidak mengerti, bagi Minho Je Wo-lah wanita terbaik untuknya. Bagi Minho  Je Wo-laj yang patutu untuk mendampinginya. Bukankah dia sudah pernah bilang, dia tidak pernah menginginkan wanita yang lain di dunia ini selain, Shin Je Wo. hanya wanita itu, dan dia tidak akan menyerah semudah ini untuk mendapatkan wanita itu.

 

‘Aku tidak akan menyerah secepat ini. Bagiku, hanya kau satu-satunya wanita yang aku inginkan dan tidak ada yang lain lagi, Je Wo-ya.’

 

Minho berjalan pelan dan meninggalkan tempat itu, tidak menyadari seseorang yang tengah mengawasinya sejak ia berada di tempat itu.

 

“Cho Kyuhyun!”

 

“Wae, hyung?”

 

“Kau harus berhati-hati, sepertinya kau memiliki saingan baru untuk mendapatkan hati wanita itu.”

 

“Mwo!!!”  Eunhyuk tertawa geli mendengar jeritan dari seberang sana. Jarang-jarang, kan ia mendengar kepanikan dari seorang Cho Kyuhyun.

 

***

 

“Apa yang dikatakan Eunhyuk hyung tadi?” Kyuhyun mendecak pelan, dan menatap ponselnya dengan bingung.

 

“Ada apa?”  Kyuhyun tersentak kaget dan membulatkan matanya saat melihat laki-laki paruh baya yang berdiri di ambang pintu ruang kerjanya.

 

“Appa? Kenapa kau ada di sini?”

 

“Ck, tentu saja untuk mengontrol kerjamu, bodoh.” Tuan Cho menatap Kyuhyun datar. Laki-laki paruh baya itu kemudian masuk ke dalam ruang kerja Kyuhyun dan duduk di hadapan meja kerja putranya itu. “Kenapa wajahmu terlihat tidak enak begitu?” Tuan Cho menatap Kyuhyun penuh selidik.

 

“Tidak apa-apa. Kau itu sangat ingin tahu sekali kehidupanku, appa, lagpula aku ini bukan anak kecil yang perlu kau control setiap saat. Kau pikir aku robot, hah?” kyuhyun menatap ayahnya dengan sengit.

 

“Dasar anak kurang ajar. Tidak bisakah kau merubah sikap tidak sopanmu itu? bagaimana bisa aku memiliki anak sepertimu?” Tuan Cho menatap Kyuhyun dengan ngeri, yang hanya di balas decakan sebal dari bibir pria itu.

 

“Aku ini menuruni semua sifatmu hampir sembilan puluh persen, appa. Jadi, jangan heran jika aku berkelakuan seperti ini, karena kaulah yang telah mencontohkanku sejak dulu.”

 

“Yakk, dasar anak nakal. Tidak bisakah kau berbicara sedikit sopan padaku?”

 

“Kenapa kau berisik sekali, appa?”  Kyuhyun mendengus kesal.

 

“Cho Kyuhyun! Kau benar-benar.. Haish..” Tuan Cho membuang napasnya kasar. Laki-laki paruh baya itu kemudian menatap Kyuhyun dengan serius.

 

“Wae? Kenapa kau menatapku seperti itu?”  Kyuhyun mengerutkan keningnya bingung.

 

“Aku baru saja menerima laporan, bahwa kau menyelidiki salah satu perusahaan relasi bisnis kita? Kau tidak sedang merencankaan sesuatukan, putraku?” Tuan Cho mentap curiga wajah putranya.

 

“Apa yang kau bicarakan, appa?”  Kyuhyun berusaha setenang mungkin, mencoba menghindari tatapan penuh curiga yang Tuan Cho tujukan padanya.

 

“Perusahaan Shin, kau sedang menyelidiki perusahaan itu bukan?”  Taun Vho menatap tajam putranya. Laki-laki paruh baaya itu memang memiliki tatapan mata yang mengerikan seperti Kyuhyun. Kyuhyun meneguk ludahnya berat, tidak. Ayahnya tidak boleh tahu tentang masalah ini, atau lelaki tua mnyebalkan itu akan ikut campur dalam urusan Kyuhyun.

 

“Aku tidak mengerti maksudmu, appa.”

 

“Ck, anak nakal, aku tidak peduli dengan apa yang kau rencanakan. Yang kutahu, kau tidak boleh membahayaksn perusahaan ini dengan rencanamu. Dan satu asal kau tahu, Tuan Shin, pemilik dari Shin Compagnie itu adalah sahabatku, dan kau tidak boleh macam-macam padanya, atau kau akan tahu akibatnya.” Tuan Cho menyunggingkan senyum miringnya, yang mirip denagn milik Kyuhyun.

 

“Cih, aku pikir kau akan mengaatakan apa. Ternyata hanya hal seperti ini? Kau tahu appa, aku tidak akan bermain-main dengan perusahaan itu karena suatu hal. Dan kau pasti akan terkena serangan jantung jika mengetahuinya.” Kyuhyun ikut menyunggingkan senyum miringnya dan menatap Tuan Cho penuh dengan rahasia.

 

“Apa yang kau sembunyikan, putraku?” Tuan Cho menatap Kyuhyun penuh minat. Kyuhyun berjalan memutari mejanya dan berdiri tepat di samping Tuan Cho. Laki-lkai itu menundukkan tubuhnya dan mensejajarkan bibirnya pada telinga ayahnya itu. mengguman sesuatu yang terdengar seperti__

 

“Rahasia” laki-laki itu terkikik kecil ketika mendapati wajah ayahnya yang terlihat kesal. Kyuhyun kemudian melangkah meninggalkan ruangan itu. berjalan dengan santai tanpa memerdulikan teriakan ayahnya yang seperti ledakan bom nuklir. Terkadang, mengerjai ayahnya yang pengekang itu terasa sangat mengasikkan untuknya.

 

“Yakk, dasar bocah kurangajar!!!”

 

“Hahaha… kau lucu sekali, appa.” Kyuhyun memegang perutnya yang terasa keram, karena terlalu lama tertawa. Kyuhyun duduk di dekat konter kopi yang etrasa sepi siang itu. tentu saja, ini bukan jam istirahat, dan semua karyawan pasti sedang sibuk, dan tidak sempat memikirkan untuk meminum kopi.

 

Tiba-tiba saja saku celana Kyuhyun bergetar, membuat lelaki tu menghentikan kasi tawanya. Kyuhyun merogoh sakunya dan mengambil ponselnya.

 

“Yeoboseo?”

 

“Adik.”

 

“Wae, nuna?”

 

“Gawat.” Terdengar suara panik dari seberang sana. Kyuhyun mengerutkan keningnya ketika mendengar nada suara Ahra itu.

 

“Gawat kenapa, nuna?”

 

“Saham perusahaan Shin, anjlok di bursa saham. Dan ini semua karena si brengsek Choi Siwon itu.”

 

“Mwo?”  Rahang laki-laki itu mengeras. Sialan, dia telah kecurian starat oleh lelaki brengsek itu.

 

“Dan sialnya, kita tidak bisa berbuat apa-apa karena sebagian saham telah di miliki oleh perusahaan Choi itu, dan saham kita masih kurang 10% lagi, adik.”

 

“Brengsek, kau temui aku sekarang nuna! Kita harus membicarakan masalah ini.” Kyuhyun menutup pnselnya denagn kasar. Tangan l;aki-laki itu mencengkram denagan kuat ponsel yang ia pegang. Matanya berkilat-kilat mengerikan. Ia tidak suka di dahului, dan ia tidak suka ada orang yang mengusik semua rencananya. Dia tidak akan pernah tinggal diam.

 

‘Lihat saja siapa yang akan menang nanti, Choi Siwon? Kau sudah menabuh gendering perang padaku, dan aku akan menerimanya dengna senang hati. Aku tidak akan pernah melepaskanmu sebelum aku berhasil menghancurkanmu. Bedebah sialan, kita lihat saja nanti.”

 

TBC

 

 

Apa ini? *abaikan..

Awas typo berserakn di mana2 ye..wkwkwk..

3:)

 

90 thoughts on “[Freelance[ You are Mine Chapter 2

  1. Je wo eonni ya ~ boleh minta link ff freelance (you are mine) dari chapter 1 sampe akhir gak ? Karna aku suka banget ff ini tapi aku belum tamat ㅠㅠ !! Susah banget nyarinya , sebelumnya gomawoyo eonni🙂 balessssssss yah

  2. Wow cowok2 keren pd bersaing nih
    Kyu siwon buat dapetin perusahaan shin sm kyu minho buat dapetin je woo
    Siwon jd karakter antagonis ya, tumben bgt biasanya kan jd malaikat penolong…hehehe
    Lanjutin trs, eon, daebak

  3. woahhh..

    perang dah di mulai nhh… lanjut ahh
    :-p

    emm.. sial je wo yg ninggal anak kecil ko aq kurang setuju ya ? setidaknya ada pembantu yg mengawasi gtu.

    sama ahra yg manggil kyu dengan sebutan ‘adik’, sedikit aneh denger.nya. hee

    itu menurut aq aja ci.. ga tw kl yg lain.. maf ya..

    semangat !!🙂

  4. Ping-balik: Library | Shin Je Wo

  5. Sebuah persaingan yg sangat sengit antara kyuhyun dan siwon, tapi dengan motif yg berbeda. ayo cho kyuhyun kalahkan choi siwon

  6. Waahh..np choi jg ingn mnguasai prshaan shin y??
    kirany ap yg bkal kyu lkuin y??
    hyunje tngkhny bnr“ kdng gmesin pi kdng nybelin..ckck

  7. Huwaa . Ya ampun hyunje keren banget yah . Lucu and cool . Hhe
    Konfliknya juga menarik eonni .
    Apa je wo akan kembali pada kyuhyun ? Hhe
    Just can wish it come true . Trus semangat buat lanjutin yah . Hwaiting .

  8. Wahh kyu pny saingan nih #LirikMinho. Kira2 cp yg bkal menangkn hati je wo y..
    Aigo bpak sm ank sm aj, kgak sng sayur kekeke.
    Ahra am eunhyuk ribut mulu dr td,, kawinin aj ni 2 org hahaha.

  9. bingung… kenapa shi won mau mengambil alih perusahaan kel shin? hanya karena bisnis atau ada sesuatu di belakang ini?

    shi won itu mantan ahra??? hihihi… ceritanya makin ngejelimet tetapi seruuu…..

  10. Ohohohoo siwon bener2 licik.ck
    kirain siwon org baik, n dukung hubunganya si minho ma je.. Ternyataa,,ckck

    jadi cho appa bakal restui kyu ama je kan? Kan katanya cho appa shabtan sma shin appa. :-*😀

  11. Minho psti mnyetujui rncna siwon,tinggal mnunggu mreka smua yg mnyesal.mreka zdh mngibrkn bndra perang,kyu siap mnghancurkn mreka2 …
    Lcu bnget liat tingkh je,kwatir bnget msak ank umr 6 thun di tinggal rumh sndrian,ckckck.klo jtuh gmna kn bsa bhyaaa

  12. Cho Kyuhyun , Cho Ahra , Cho Hyunjae , Shin Je Wo , Tuan Cho mereka bener-bener perkataannya gila pedes banget apalagi ayah dan anak kaya sesama teman :v , Yaampun Eunhyuk Oppa kaya Ustadz aja dia yang paling alim dan Choi Siwon berubah jadi setan :v , semoga Min Ho gak sekongkol sama Siwon , Ayo Kyu semangat buat ngancurin Choi Siwon😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s