Introduction: Perfect Princess Shin Je Wo

perfect

WARNING!

Membaca Fanfic ini akan menimbulkan mual mendadak, pusing berkepanjangan dan cacian panjang lebar pada karakter Shin Je Wo. Saya selaku Author sudah memberi peringatan, bagi kalian yang merasa tidak tertarik, segera palingkan wajah. Tapi jika tetap membacanya, segala umpatan yang keluar di tanggung oleh mulut masing-masing ngahahaha.

 

Saat kalian membaca, silahkan tempatkan diri pada golongan yang ada. Darah Biru atau Darah Campuran😀 apapun caritanya, kalian akan menemukan jawaban dari pemikirkan masing-masing di bagian ending #Smirk.

 

 

Di dunia ini, tidak ada yang dapat menyangkal kalimat; Sang penguasalah pemenangnya. Yeah… seperti sekarang, tidak ada seorang murid atau penghuni Korea Art High School yang menolak apa lagi membantah kalimat keramat yang sejak dulu telah tertanam dan membumi disana. Korea Art High School adalah sebuah Sekolah menengah atas yang tersohor sejak tahun 1991 di Seoul, Korea Selatan. Sekolah kejuruan khusus itu begitu memiliki banyak kepamoran dan penghargaan dari seluruh masyarakat, terutama orang-orang penting di Negara itu.

            Fasilitas lengkap, mewah dan berkelas KAHS yang tidak pernah berada di urutan kedua menjadikan sekolah itu sebagai sekolah bergengsi disepanjang karirnya. Hanya orang-orang menengah keatas atau lebih tepatnya, kalangan elit yang dapat menginjakkan kaki disana. Bukan hanya berniat mencari ilmu, tapi tidak sedikit yang mati-matian masuk kesekolah berkelas itu hanya demi sebuah kepopuleran semata. Jika pun ada kalangan menengah, hanya sebatas menengah karena kalangan bawah tidak akan pernah cukup untuk sekedar menyentuh gerbang sekolah itu, dan kaum menenga akan dianggap sebagai para kaum buangan yang tersisihkan. Dan tradisi itu selalu ada disepanjang tahun.

            Semakin tahun, KAHS semakin menuai pujian dan prestasi. Hampir seluruh mantan murid sekolah itu mendapatkan kesuksesan yang nyata; ada yang menjadi model, pengusaha musik, penyanyi, anggota kepemerintahan, penari ballet dan bahkan penyanyi Internasional. Hingga dengan hanya melihatnya, para bangsawan kaya raya tidak akan memikir dua kali untuk mendaftarkan anak-anak mereka kesana.

            KAHS terletak ditengah-tengah kota, memiliki ukuran besar yang mengangumkan, bahkan tidak ada satu manusia waras manapun yang mau menjelajahi tempat itu dengan berjalan kaki. Tentu saja, dengan ukuran sekolah itu yang melebihi 3 kali lipat lapangan sepak bola; ada 5 buah gedung besar yang memiliki empat lantai pada masing-masing gedungnya, gedung itu digunakan untuk proses belajar mengajar. Delapan Aula pertemuan, sebuah kantor khusus untuk para pengajar, sebuah kantor khusus untuk para petugas keamanan dan dua kantin dengan latar belakang berbeda. Kantin utama digunakan para Darah Biru, begitulah mereka menyebut murid-murid kalangan atas, sedangkan kantin yang satunya, digunakan para Darah Campuran, sebutan untuk murid kalangan menengah yang kerap kali menjadi olokan para Darah Biru.

            KAHS dilindungi oleh tembok beton menjulang tinggi disekeliling area sekolah itu hingga tidak akan ada satu penjahat pun yang mau menyusup kesana karena hanya akan mendapatkan kata lelah dan sia-sia. Jika dipandang dari luar sekolah, orang-orang akan berdecak kagum dan tidak dapat untuk sekedar menutup mulutnya karena sekolah itu tak ubahnya seperti sebuah istana kerajaan yang mewah dan elegan dengan desain interior campuran Eropa-Korea Modern. Dan jika mereka telah memasuki tempat itu, mereka akan berkata dalam hati, tempat ini adalah surga.

            Tidak ada satu pun sekolah di Korea yang memiliki Lift dan eskalator di dalamnya. Sebuah lapangan bola di dalam gedung sekolah, terletak di lantai satu karena para pria Darah Biru terlalu malas terkena sinar matahari yang merepotkan. Sekolah itu… benar-benar mengesankan.

            Kembali pada kalimat, sang penguasalah pemenangnya. Setiap tahunnya, KAHS akan memiliki sesosok murid yang telah berhasil menjadikan KAHS berada dalam genggamannya. Mereka-mereka yang pernah berada di posisi itu berasal dari Darah Biru, memiliki latar belakang keluarga yang disegani dan di puji, bahkan tidak luput dari para penjilat menjijikkan. Berperawakan sempurna tanpa cacat sedikit pun meski hanya seperti bibir tebal yang tidak sempurna. Beberapa mantan Raja atau Ratu KAHS telah menjadi selebritis papan atas Korea yang tentu saja terkenal kaena embel-embel KAHS.

            Biasanya, mereka yang pernah berada di posisi itu hanya akan mengecap kekuasaannya tidak lebih dari satu tahun karena setiap kali tahun ajaran baru, akan ada murid-murid yang lebih unggul dari pada dia yang sebelumnya. Tapi, hal itu tidak lagi terjadi sejak tahun 2012 hingga 2013 ini. Sejak seorang gadis dengan latar belakang yang tidak terkalahkan, arogan, sadis, bermulut tajam dan memiliki sebutan sebagai seorang Princess, bukan Ratu seperti mereka-mereka yang sebelumnya. Berperawakan seperti dewi Yunani yang memiliki ketajaman wajah memesona yang tak terkalahkan, lembut seperti seorang Princess yang berada di Dunia Barbie. Tidak ada satu pun murid baru yang dapat menyaingi dan mengambil kekuasaan dalam genggamannya.

            Shin Je Wo, gadis berumur 16 tahun, seorang cucu dari Shin Tae Wa, pengusaha sukses Korea yang memiliki Resort, Hotel, Departemen Store terkenal di Korea dan yang lebih penting, pria itu adalah jantung Korea Art High School. Shin Tae Wa telah menjadi penyumbang dana terbesar KAHS sejak sekolah itu berdiri. Pemilik KAHS dan seluruh orang-orang yang ada didalamnya, tunduk pada Tae Wa dan perintah-perintahnya. Untuk itu, bisa dibayangkan bagaimana besarnya kepopuleran seorang gadis bernama Shin Je Wo. Gadis cantik dengan wajah yang tidak sesuai akan sifat mengerikannya, yang tidak terkalahkan. Wajahnya lembut seperti malaikat, namun banyak yang mengatainya dengan sebutan Iblis betina yang tentu saja disambut Je Wo dengan tawa hambarnya.

            Princess adalah panggilan Tae Wa untuknya. Panggilan itu sangat tepat untuk gadis yang memang berperawakan bak seorang Princess di sebuah kerajaan. Gadis itu memiliki tubuh yang tidak telalu tinggi, bahkan tinggi tubuhnya sama sekali belum mencapai 155 cm. Wajahnya polos namun tampak tegas, terkadang terlihat sensual ketika wajahnya memerah menahan marah. Tubuh Shin Je Wo tidak dapat dikatakan biasa dengan ukuran penting dibagian-bagian tubuhnya yang membuat para pria terus melemparkan tatapan lapar padanya. Je Wo juga sangat senang dengan panggilan Princess yang tidak jarang membuat para Darah Campuran yang selalu menjadi bahan olokannya meradang setiap kali mendengar sebutan Princess yang menurut mereka sama sekali tidak cocok untuknya.

            Dan, selama hampir Dua tahun belakangan ini, Shin Je Wo adalah satu-satunya penguasa mutlak di KAHS. Sejarah kekuasannya bisa saja dijadikan sebuah buku untuk dipajang di Perpustakaan sekolah agar nanti, saat ia keluar dari sana, semua akan tahu siapa seorang Princess Shin Je Wo. Gadis itu adalah gadis yang sulit untuk ditebak sifat dan pemikirannya. Tidak mudah menyebut seseorang dengan kata teman selain Soon Yoon So, kakak kelasnya, gadis yang memiliki sedikit kemiripan dengan sifatnya namun Yoon So masih memiliki sisi manis dibandingkan dirinya. Lalu Han Cheonsa, seorang guru Theater yang tidak pernah disebut sebagai Sam oleh Je Wo, gadis itu lebih memilih memanggilnya dengan sebutan Omma karena Cheonsa selalu mengomeli tingkahnya setiap kali mereka bertemu.

            Shin Je Wo selalu dikelilingi banyak gadis dan pria, yang menurut pemikirannya dapat berjalan sejajar dengan dirinya yang berkuasa. Mereka haruslah Darah Biru, bukan Darah Campuran karena Je Wo sangat membenci para Darah campuran. Ia bahkan memiliki lima orang musuh dari Darah Campuran yang selalu mengusik kesenangannya. Kelima orang itu adalah Shin Seo Kyung, Han Eunjin, Choi Eunra, Park Jinla dan Lee Daena. Kelima gadis yang dulu selalu berjuang mati-matian mendekatinya, memuji dirinya hingga lelah namun hanya dua orang diantara mereka yang benar-benar pernah berada di meja kantin yang sama bersama Je Wo, bahkan cukup lama, hingga suatu hari, karena sifat penghianat dan menjijikkan yang pernah mereka lakukan pada Je Wo, keduanya harus menerima tendangan selamat tinggal oleh Je Wo.

            Je Wo tidak suka ditusuk dari belakang ketika tangannya mulai dapat menerima, Je Wo tidak suka pada sifat memelas dan cengeng untuk orang-orang disekitarnya, bahkan, begitu banyak sifat lemah yang tidak ia sukai, hingga jika saja salah satu mereka yang berada disekitarnya memiliki salah satu sifat seperti itu, dengan senang hati ia akan membuangnya. Kembali kepada lima gadis itu, atau yang sering disebut Je Wo sebagai Kaum Tersesat yang Malang. Kenapa Je Wo harus menyebutnya sebagai Kaum Tersesat yang Malang? Karena menurut gadis itu, mereka semua tidak memiliki jati diri. Seperti benalu yang hanya dapat menempel pada inangnya tanpa mau berbuat apa-apa. Mereka adalah orang-orang yang ingin disebut si Putih, padahal selalu menjadi si Hitam setiap kali memikirkan bagaimana cara membalas perbuatan Je Wo. Shin Je Wo sendiri, meski sangat congkak namun tidak pernah mau menjadi si Munafik yang menyedihkan. Ia tahu dia adalah si Hitam dan tidak pernah menklaim diri sebagai si Putih. Maka itu, dia begitu membenci para Kaum Tersesat yang malang, kaum yang selalu mencari cara untuk menjatuhkan dirinya, kaum yang terkadang menjadi santapan mulut tajam dan sikap angkuhnya.

            Dan sekarang, sebuah cerita baru akan kembali mengukir sejarah seorang Shin Je Wo, si Princess KAHS.

____000____

 

Kedua mata lentiknya mengerjap setelah kuas Maskara yang berada di tangan kanannya selesai memperindah mata tajamnya. Selanjutnya, tangan lembutnya meraih sebuah Liphgloss Orange muda yang soft, memberikan sentuhan ringan diatas bibir penuh dan sensualnya. Bibir atas dan bawahnya saling membentur lembut beberapa saat demi menyempurnakan tatanan warna Liphgloss-nya. Itu adalah sentuhan terakhirnya pagi ini. Ketika ia mundur beberapa langkah kebelakang, memerhatikan penampilannya yang seperti biasa, tampak memukau dan memesona dengan seragam KAHS; rok biku-biku berwarna Abu-abu bercampur Hijau dan Merah yang bermotif kotak-kotak, yang memiliki ukuran teramat pendek. Lalu menutupi kemeja putihnya dengan Blazer hitamnya yang memiliki dua kancing didepan lalu menyisakan bagian dadanya yang sedikit menyembul kedepan.

            “Sempurna.” Gumamnya bangga dengan seringaian penuh.

            Je Wo memutar tubuhnya kebelakang, mendekati rak koleksi tasnya dan menyambar sebuah tas ransel berwarna merah. Kemudian langkahnya lurus kedepan, kearah meja belajarnya yang rapi tanpa debu. Sekali lagi tangannya menyambar Iphone 5 miliknya yang berwarna putih, sebelum keluar dari kamarnya.

            Kaki mulusnya yang hanya tertutup kaus kaki putih sebatas mata kaki melangkah santai ketika ia menuruni tangga menuju ruang makan. Rumahnya besar dan luas, serta kemewahan yang semakin menyempurnakannya. Anak tangganya berlapis karpet lembut tanpa bulu berwarna hijau, lalu pegangan tangganya yang berlapis emas murni semakin menambah kecantikan dan kepantasan Shin Je Wo untuk berjalan disana.

            Mata gadis ini menyipit ketika ia melemparkan senyuman tipis menawannya pada seorang Kakek Tua yang sedang menunggunya di meja makan. Shin Tae Wa adalah satu-satunya keluarga yang Je Wo miliki saat ini. Ayahnya, Shin Yo Jin meninggal akibat sebuah kecelakaan ketika ia masih berada didalam kandungan Ibunya. Sedangkan Ibunya, Lily Han, wanita keturunan Italia-Korea, meninggal ketika Je Wo memasuki usia kelima tahun. Kecantikan Je Wo memang mewarisi kecantikan Ibunya yang berhati lembut dan memiliki senyuman teduh yang menyejukkan setiap mata ketika melihatnya.

            “Selamat pagi, Princess.” Sapa Tae Wa riang ketika langkah Je Wo semakin dekat.

            Je Wo menunduk sekedar, memberikan kecupan singkat diatas pipi kiri Kakeknya, “Selmat pagi, Kakek.” Jawabnya dengan suara cerianya di pagi hari. Je Wo memutari meja, duduk dibangku yang terletak di samping kanan sisi meja.

            “Sore ini aku akan berangkat ke New York, aku akan menetap selama dua hari disana,” ujar Tae Wa, Je Wo melirik pria itu dari ekor matanya, “Kau bisa pulang sebelum aku berangkat, Princess?” pintanya.

            Kepala Je Wo mengangguk kecil, “Hanya jika Kakek membawakan sebuah poster serta tanda tangan Justin Bieber untukku saat pulang nanti.” Jawabnya ringan dengan senyuman jahil.

            Sebelah alis Tae Wa terangkat ketika kekehan gelinya terdengar. “Lagi?”

            Shin Je Wo memang fans sejati untuk seorang Justin Bieber. Ketampanan bocah laki-laki dan suara serta lagu-lagu indah milik pria itu membuat ia selalu ingin mendapatkan apa saja yang berhubungan dari seorang Justin Bieber. Entah sudah berapa tumpuk Album Original Justin Bieber yang ia miliki. Belum lagi koleksi poster yang diatasnya terdapat tanda tangan bocah itu namun ia tidak pernah mau memajangnya karena tidak mau mengambil risiko seperti poster nya yang akan sobek atau berdebu.

            “Tidak ada poster, maka Kakek jangan mencoba untuk pulang kerumah.”

            “Oh, seingatku rumah ini masih menjadi milikku.”

            “Apa peduliku.”

            Bahu letih pria tua itu bergoyang saat tawa besarnya terdengar. Je Wo memang keras kepala dan selalu membuat peraturan sesuka hatinya. Tapi Tae Wa selalu menyukai segala sifat Cucu satu-satunya itu. Je Wo sudah menjadi nyawanya sejak anak dan menantunya pergi meninggalkannya untuk selamanya. Kecerewatan Je Wo, rengekan manja Je Wo dan segala kelakuan gadis itu selalu menjadi hiburan tersendiri untuknya. Apa pun yang Je Wo inginkan, akan ia penuhi meski ia harus bertarung nyawa sekalipun.

            Tidak jarang ia mendengar desas desus mengenai sifat mengerikan cucunya dari orang lain, tapi apa pedulinya? Hanya Shin Je Wo satu-satunya yang ia miliki saat ini dan sudah menjadi tanggung jawabnya untuk membuat gadis itu bahagia dengan melakukan apa saja yang cucunya minta.

            Je Wo melirik sepiring Sandwich yang telah tersaji di depannya. Decakan protesnya mulai terdengar hingga seorang pelayan muda yang sejak tadi berdiri disamping dirinya menegakkan tubuh terkejut. Je Wo melirik pelayan itu dari ekor matanya keatas, mengernyitkan dahinya sesaat sebelum berkata dengan ketus. “Singkirkan Selada dan tomatnya.”

            Pelayan itu bergerak secepatnya setelah sedetik perintah yang Je Wo berikan. Pelayan itu baru saja bekerja hari ini setelah dua pelayan lainnya berhenti dibulan yang sama karena tidak tahan mendengar perintah dan omelan Shin Je Wo selama bekerja.

            Je Wo memang membenci Selada dan tomat. Meski ia tidak membenci sayuran, tapi untuk kedua nama itu ia begitu anti melihatnya.

            Ruang makan terdengar sunyi sesaat ketika Je Wo dan Tae Wa memulai sarapan pagi bersama mereka. Hanya sesaat karena setelah memotong tiga bagian Sandwich lalu memakannya dan meneguk susunya, kemudian membersihakn pinggiran bibirnya dengan serbet putih, Je Wo segera beranjak dari tempatnya. Berdiri dengan kedua tangan yang mulai membenarkan tatanan rambut dan pakaiannya.

            “Sudah selesai?”

            Hanya anggukan kecil yang ia berikan. Setelah itu mendekati Tae Wa dan kembali menunduk kecil untuk mencium dahi pria itu yang turut dibalas oleh ciuman yang sama. Tanpa berkata apa-apa lagi, Je Wo pergi meninggalkan Tae Wa yang tersenyum bahagia menatap punggung Cucu kesayangannya.

            “Ingat, pulang lebih awal, Princess!”

            Dibalik punggung kecilnya, Je Wo tersenyum lebar meski tidak memberikan jawaban pada Kakeknya.

            Kini langkah ringannya telah membawanya memasuki mobil Audi A7 hitam miliknya. Kedua tangannya menarik kaca Spion agar mengarah padanya, lalu kepalanya memiring kekanan dan kekiri, memastikan tampilannya tidak ada yang berubah. Rambutnya mulai tampak panjang dengan poni yang berbelah kesamping, “Sepertinya aku harus membentuk poniku lagi.” Gumamnya kecil.

            Kemudian mobil itu mulai meninggalkan kediamannya, melaju dengan kecepatan full ketika membelah jalanan Distrik, Gangnam. Tangannya menekan tombol merah yang ada pada Stereo Mobilnya hingga suara merdu Justin Bieber mulai memenuhi ruangan Mobil itu. Jemari lentiknya menyentuh tombol Volume, menaikkan Volumenya hingga lantunan lagu Power terdengar memekakan disana.

            Kepalanya mengangguk kuat mengikuti irama lagu itu, telunjuknya mengetuk-ngetuk santai diatas Stir kemudia hitamnya. Bibirnya bergerak-gerak menyanyikan lirik dari lagu tersebut.

            “And I’m loving, every, second, minute, hour, bigger, better, stronger, power.”

            Lagu itu bagaikan sebuah lagu pengantar untuknya yang terus melaju cepat menuju KAHS, tempat dimana ia menghabiskan setengah dari harinya. KAHS sudah menjadi rumah kedua baginya. Setiap kali memikirkan akan kembali menginjakkan kaki disana saat ia menutup mata, ada sebuah perasaan senang yang ia rasakan.

            Selain kesenangannya yang dapat membully beberapa orang temannya, ia juga dapat bertemu orang-orang yang ia anggap penting dalam hidupnya. Bercanda dan tertawa bersama seperti gadis normal pada umumnya. Hal itu tidak akan pernah ia rasakan ketika kembali pulang kerumah, dimana ia tidak dapat mendapatkan keceriaan seperti ketika ia bertemu dengan teman-temannya.

            Yang ia temukan hanyalah para pelayan rumah, perabotan mahal, menu makan siang yang berselera tinggi, dan semua itu membuatnya merasa bosan. Satu-satunya yang dapat membuatnya merasa hangat adalah kehadiran Kakenya, itu pun jika Pria Tua itu sedang tidak berada dalam masa kerjanya yang menguras habis waktu untuk bersenang-senang bersama Je Wo. Seperti itulah kisah keseharian sang Princess.

            Kini Mobilnya berhenti di sebuah Parkiran Khusus untuknya. Sebuah tempat parkir yang lengkap dengan penjagaan ketat serta fasilitas lainnya untuk melindungi Mobilnya dari curah Hujan. Shin Je Wo keluar dari Mobilnya dengan kedua mata menyipit ketika sengat Matahari menusuk pupil matanya. Ia membanting keras pintu mobilnya, lalu menyisir sebagian rambutnya dengan jemari sebelum melangkah pergi. Tidak lupa melemparkan kunci mobilnya pada si Penjaga Mobilnya yang telah berdiri siaga disana.

20120420_1334925176_67273600_1

            Setiap langkah yang ia lakukan selalu mengundang tatapan beragam arti. Ada yang menatapnya iri, kagum, lapar, bahkan kesal setengah mati karena gaya angkuhnya. Je Wo selalu berjalan dengan dagu terangkat kedepan, mata tajam yang fokus kedepan, serta bibir tanpa senyuman yang membuat banyak orang sedikit takut untuk menegurnya.

            Lagi pula, untuk menegurnya saja orang-orang akan berpikir dua kali.

            “Hai, Princess.” Sapa seorang gadis berkaca mata yang berselisih jalan dengannya. Sebuah senyuman hangat tersungging di bibir gadis itu.

            Kutu buku, batinnya. Dan tentu saja, tidak ada balasan senyuman untuk gadis malang itu. Je Wo kembali melanjutkan langkahnya yang tidak akan berhenti meski terdengar sapaan ramah berkali-kali di sepanjang jalan. Jika Mereka salah satu orang-orangnya, ia akan membalas sapaan mereka dengan senyuman tipis yang sederhana. Tapi jangan harapkan hal itu jika mereka, si Darah Campuran yang melakukannya. Jangankan tersenyum, melirik saja ia tidak mau.

            “Pincess…”

            Sebuah suara yang terdengar familiar di telinganya, suara yang berasal dari belakang tubuhnya membuat ia berbalik enggan. Namun senyumannya mengembang ketika menemukan sosok pria bertubuh tinggi, kurus, berkulit putih pucat dengan rambut pirangnya yang contras sekali berdampingan dengan kulit pucat itu.

            Kriss Wu.

b6064a8d0a9cf35bdd0c4d265dafef1b

            Pria tampan dan memesona ini, adalah pasangan dirinya. Raja KAHS yang selalu mendampingi Je Wo selama ini. Kris bernasib sama seperti Je Wo. Tak terkalahkan hingga hampir dua Tahun belakangan. Pria ini keturunan Kanada-China, namun telah tinggal di Korea sejak umurnya mencapai tujuh tahun, Kriss selama ini selalu ada disamping Je Wo kemanapun mereka pergi. Namun, tidak ada status apapun dalam hubungan mereka. Mereka bukanlah sepasang kekasih seperti arti tatapan semua orang untuk mereka. Je Wo tidak pernah mau menyebut Kriss adalah kekasihnya.

            Kriss mendekatinya, lalu melingkarkan sebelah lengannya disepanjang pinggang Je Wo. Je Wo menyambutnya dengan senang hati, ia bahkan telah bergelanyut manja dipelukan Pria itu. Memajukan wajahnya kedepan saat tatapan mengundang Kriss terbaca olehnya. Tidak perlu menunggu lama bagi orang-orang di sekeliling mereka untuk menonton pertunjukan mesra yang menggairahkan di pagi hari. Cara Kriss melumat bibir ranum Je Wo membuat setiap pria harus mendesah iri dibuatnya. Bahkan, tidak peduli dengan tatapan banyak orang, keduanya saling bergelut penuh tuntutan dalam ciuman selamat pagi mereka.

            Hal ini kerap saja terjadi disana setiap kali mereka bertemu ataupun bersama. Pesona Kriss memang begitu mematikan bagi Je Wo. Ia juga merasa hanya Kriss yang dapat mendampingi dirinya. Tentu saja, dengan kepopuleran Kriss Wu dan latar keluarganya yang juga berasal dari kaum bangsawan membuat Je Wo semakin merasa sempurna saat berada di sampingnya.

            Tapi ciuman penuh gairah itu terhenti ketika sebuah suara yang terdengar datar mengintrupsi kegiatan mereka. Dengan wajah memerah dan bibirnya yang basah membengkak, Je Wo menoleh kesamping. Han Cheonsa memasang wajah geramnya menatap Je Wo.

            “Eo, Omma?” ujar Je Wo tanpa rasa bersalah. Ia menatap Kriss sekilas, menyunggingkan senyum menggoda yang membuat geraman Kriss terdengar sebelum melepaskan diri dari pelukan Pria itu, “Kau mencariku?” tanya Je Wo yang sudah kembali menatap Cheonsa, sang Guru Theater.

            Han Cheonsa, ia berumur 25 Tahun. Wanita berambut gelap dengan wajah penuh ketegasan dan jika dipandang sekilas, wajahnya berbeda dari wajah para wanita Korea. Wajahnya sedikit menyentuh wajah bangsa Arab yang elok. Kini ia menyipitkan kedua matanya, “Saat ini masih pagi, Je.” Tegurnya. Cheonsa tidak akan sudi memanggil Je Wo dengan sebutan Princess karena menurutnya sama sekali image yang tidak cocok untuk Je Wo. Namun Je Wo tidak pernah marah dengan kata-katanya, ia malah tertawa setiap kali mendengar rutukan Cheonsa mengenai panggilannya.

goara

            “Aku tahu.” Jawab Je Wo ringan, kedua tangannya mulai menyentuh tatanan rambutnya.

            Merasa sama sekali tidak ada gunanya menegur gadis keras kepala itu, Cheonsa beralih memandang Kriss dengan pandangan penuh peringatan, “Disini bukanlah Negara barat, Kriss Wu. Jangan seenaknya saja kau mendaratkan bibir Pervertmu pada sembarang gadis.” Desisnya.

            Kriss menyunggingkan senyum manisnya yang tentu saja tidak berpengaruh terhadap Cheonsa. Jika semua orang memuja ketampanan Kriss yang tidak terkalahkan, maka Cheonsa mengatakan jika wajah Kriss terlalu membosankan baginya.

            “Cih, bilang saja kau menginginkan ciuman seperti tadi, Omma,” cibir Je Wo mengejek dengan sebelah sudut bibirnya yang membentuk seringaian culas. “Sudah kukatakan, menikahlah. Umurmu hampir saja melewati batas untuk_”

            “Tutup mulutmu, Je!” bentaknya.

            Tawa besar Je Wo terdengar, ia menyeringai puas dapat menggoda Han Cheonsa yang memang selalu memiliki sebuah masalah dengan pernikahan. Wanita cantik ini terlalu pemilih hingga sulit melabuhkan hatinya pada satu pria manapun.

            “Aku pergi lebih dulu, kau tahu kemana harus mencariku, kan?” bisik Kriss tiba-tiba ditelinga Je Wo.

            Tanpa menoleh, Je Wo mengangguk dan membiarkan Kriss pergi begitu saja.

            “Ck, pria idiot.” Rutuk Cheonsa.

            Bibir Je Wo terbuka ingin membalas, tapi suara nyaring milik Soo Yoon So terdengar ditengah-tengah mereka dan membuatnya kembali mengatupkan bibir.

            “Olla…” sapa gadis itu dengan senyuman lebar. Ia berdiri tegak dengan gaya genit di depan kedua orang itu. Rambut panjangnya tergerai sepanjang punggung, poni jarangnya menutupi dahi. Wajah Gadis ini hampir menyerupai Model terkenal China yang juga dikenal dengan sangat baik di Korea, Song Qian. Tapi jangan pernah mengatakan hal itu padanya karena kalian akan mendapat jawaban yang tidak mengenakkan. “Apa? Lucu sekali. Tentu saja aku lebih cantik dibandingkan wanita itu.”

8237_224127981076000_1428651090_n

            “Bahasa apa yang kau gunakan?” tanya Cheonsa dengan senyuman penuh arti.

            “Itali.” Jawab Yoon So penuh keyakinan.

            Cibiran kecil Je Wo terdengar, “Brazil, bodoh.” Ucapnya membenarkan.

            “Oh,” kedua mata Yoon So membulat tak percaya, “Donghae bilang bahasa itu adalah bahasa Itali.” Rutuknya. Lee Donghae adalah kekasih Yoon So, pria itu berada di kelas dua, sedangkan Yoon So berada di kelas tiga. Umur kedunya hanya berbeda satu tahun.

            Cheonsa menggeleng frustasi, “Apa aku perlu mengingatkannya lagi? Lee Donghae dan kau bukankah sama bodohnya?” jelasnya diakhiri senyuman penuh.

            Yoon So memberenggut kesal. Sedangkan Je Wo hanya mendengus lucu.

            Berpura-pura tidak menyadari kekesalan Yoon So, kini Cheonsa mulai merubah mimik wajahnya dengan senyuman ramah, “Dan apakah kalian sudah memikirkan tawaranku?” lima hari yang lalu, wanita ini menawarkan pada Je Wo dan Yoon So untuk turut menjadi pemain dalam sebuah Theater pertunjukan penting KAHS untuk dua bulan kedepan.. KAHS akan menyambut tamu besar dari Inggris yang selalu datang empat tahun sekali untuk menyaksikan pertunjukan Theater KAHS yang selalu membuahkan decak kagum oleh mereka.

            Cheonsa memang cukup cemas untuk saat ini karena dirinya memang baru saja diangkat menjadi Guru Theater sejak dua tahun yang lalu, mengagantikan seorang Guru Tua yang telah Pensiun dari perkerjaannya. Menyadari beban itu, Cheonsa selalu berpikir keras untuk menghadirkan pertunjukan yang memuaskan. Untuk itu, ia berpikir akan sedikit menarik jika membawa kedua gadis itu keatas panggung Theater.

            Yoon So dan Je Wo saling pandang, lalu kembali menatap Cheonsa dengan senyuman manis, “TIDAK.” Jawab mereka serempak.

            “Bukannya ingin merendahkan, Omma. Tapi Theater bukanlah levelku untuk beraksi.” Jelas Je Wo dengan sekali kibasan rambut.

            Yoon So turut mengangguk setuju, “Lagi pula… Theater adalah pertunjukan yang membosankan.” Timpalnya.

            “Sialan,” umpat Cheonsa geram. Je Wo dan Yoon So terkikik dibuatnya. “Katakan itu pada bokong yang tidak menggairahkan milik Lee Donghae-mu!” makinya kesal kemudian berlalu pergi.

            Kedua gadis itu berhigh-Five ria sebelum kembali melanjutkan langkahnya.

            “Aku tidak pernah membayangkan akan seperti apa jika aku mengikuti Theater itu.” Gumam Je Wo masih dengan tawa gelinya.

            “Memakai kostum aneh seperti badut? Oh my…” sambung Yoon So.

            Soo Yoon So dan Shin Je Wo, kedua gadis berbeda tingkatan kelas yang sudah terlalu dekat satu sama lain. Selalu dapat memiliki dunia mereka sendiri ketika mulai bersama-sama. Segal hal akan mereka perbincangakan, dimulai dari wajah culun sang penjaga gerbang hingga si tukang masak yang bekerja di kantin. Apa pun itu, asalkan mengundang kelucuan akan mereka perbincangkan hingga tertawa terbahak-bahak.

            Ketika berjalan beriringan sambil tertawa ringan, kedua gadis itu tidak sengaja melewati sekumpulan gadis-gadis yang sedang menatap mereka dengan wajah seperti ingin menerkam mangsa. Yoon So hanya melengos malas menemukan keberadaan mereka, tapi tidak dengan Je Wo yang mulai tersenyum smirk.

            Gadis itu berdehem pelan dengan memasang mimik wajah menyebalkannya; tersenyum mengejek dengan pandangan mata yang merendahkan, “Kemarin, aku mendengar ada seseorang yang baru saja mengoceh mengenai perawatan kulitnya yang WAW,” ujar Je Wo yang memainkan kedua telapak tangannya berlebihan. Matanya lagi-lagi memandang sosok gadis berwajah garang dengan kulit sedikit kecoklatan. Gadis yang memiliki kulit sedikit berbeda dengan teman-temannya. “Tapi… sepertinya usahanya tidak berjalan lancar.”

            Yoon So memekik geli ditempatnya, turut menatap Park Jinla, gadis seangkatan dengannya, memiliki bibir manis yang menusuk. Selalu mengatakan sesuatu diluar fakta yang ada. Satu-satunya gadis aneh yang kadar rasa malunya telah tertutupi dengan sifat pembohongnya yang luar biasa parah. Suka membesarkan sesuatu yang tidak berguna. Setiap kali melakukan hal-hal yang dianggapnya hebat, ia akan mengatakannya pada semua orang yang tentu saja akan tertawa lucu saat tidak menemukan faktanya.

            Je Wo sendiri telah menjadi Korban kebohongan besarnya. Park Jinla, adalah gadis bermulut manis yang menghanyutkan. Pernah mencoba mendekati Je Wo dengan kemanisannya yang tiada tara. Je Wo yang memiliki bakat dalam mengarang arasemen Biola cukup tertarik akan tawaran Jinla yang mengatakan akan mempertemukan dirinya dengan seorang teman yang sering mengorbitkan para pemula. Jinla juga mengatakan dulu ia pernah debut beberapa saat menjadi pemain Bilola. Mendengar itu, Je Wo cukup merasa tertarik, ia mengikuti apa saja yang dikatakan oleh Jinla. Menghabiskan waktu menunggu seseorang yang pernah meneleponnya sebagai teman dari Jinla, namun semakin hari ia semakin menyadari suatu hal. Jinla berbohong. Teman yang ia katakan itu tidak benar. Apa lagi ceritanya mengenai dirinya yang sempat menjadi seorang pemain Biola yang diorbitkan. Oh, yeah… jika itu benar, mengapa ia masih menjadi si Darah Campuran? Dan ketika Je Wo mendengar irama gesekan Biola Jinla, ia langsung tersenyum culas. Gadis pembual yang mengerikan, batinnya. Bahkan suara yang hadir dari gesekan biolanya sangat tidak enak di dengar.

            Setelah mendapati kebenarannya, Je Wo tetap berpura-pura tidak tahu dan menutupi semuanya. Tapi si malang Jinla akhirnya menyadari jika Je Wo telah mengetahui kebusukannya. Dan dengan hebatnya ia berbalik, lalu memusuhi Je Wo, mencari orang-orang yang ingin melakukan hal yang sama. Tentu saja, hal itu disambut Je Wo dengan senang hati.

            “Kau hanya iri padaku, kan?” sembur Jinla saat Je Wo dan Yoon So telah lebih dulu melewatinya.

            Langkah Je Wo terhenti, ia berdiam diri beberapa saat. Yoon So yang masih setia disampingnya hanya menghela malas dan melemparkan tatapan dasar-bodoh miliknya pada Park Jinla yang saat itu ditemani oleh para Kaum tersesat yang malang lainnya.

            Kepala Je Wo menoleh sekedar hingga hanya separuh wajahnya yang dapat dilihat oleh mereka. Ia tersenyum kecil, senyuman yang hampir menyerupai seringaian khasnya, “Coba temukan bagian mana dalam diriku yang harus merasa iri pada dirimu, Park Jinla ssi,” ujarnya dengan suara datar. Kemudian kepalanya kembali menghadap lurus kedepan. “Sebelum melepaskan umpatanmu, silahkan bercermin untuk dirimu sendiri. Saranku, jangan bercermin di air selokan yang kotor, karena hal itu akan menyakiti dirimu sendiri yang akan mengetahui siapa kau sebenarnya.”

            Yoon So turut menyeringai, ketika Je Wo kembali melanjutkan langkahnya. Ia tersenyum lebar pada Jinla dan mengedip mengejak, kemudian mulai berjalan menghampiri Je Wo hingga beberapa saat kemudian, tawa ceria mereka menggema di koridor sekolah.

            “Oh, ya Tuhan!”

            “Siapa pria itu?”

            “Yang benar saja!”

            “Apakah dia murid disini?”

            Ada banyak suara berisik yang mulai menggema disekitar mereka. Yoon So memutar wajahnya kebelakang dan menemukan kerumunan orang yang menatap pada halaman sekolah, “Sepertinya terjadi sesuatu.” Gumamnya.

            “Apa?” tanya Je Wo tidak peduli.

            “Entahlah, tapi…” kedua mata Yoon So seketika membelalak lebar saat mendapatkan celah melihat kearena halaman. “Oh my god!”

            Je Wo menoleh pada Yoon So yang berdiri terpaku dengan kedua telapak tangan yang menutupi bibirnya. Ada apa dengan Yoon So? Pikirnya. Kemudia ia mengikuti kemana arah pandang Yoon So. Pertama-tama, yang ia temukan adalah kerumunan orang-orang yang berbisik-bisik, lalu ia mengarahkan lagi pandangannya kearah halaman sekolah.

            Kini dahinya berjengit, bibirnya menipis rapat. Wajahnya menampakkan ekspresi bingung. Tentu saja, siapapun akan melakukan hal yang serupa ketika menemukan sosok murid laki-laki yang datang dan memakai seragam KAHS dengan mengendarai sepeda Sport merahnya. Apakah pria ini sudah gila? Pikir Je Wo. Disaat semua murid berlomba-lomba membawa kendaraan mewah mereka kesekolah, murid laki-laki itu malah membawa sepeda Sport? Dengan geraman penuh, Je Wo kembali berjalan keluar gedung. Membelah kerumunan yang ada dengan langkah pelan dan pastinya.

1185593_295778700562880_1424485191_n

            Setelah berada di barisan paling depan, Je Wo berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Kedua mata yang menyipit menilai pada pria yang kini tampak memarkirkan sepedanya di bawah pohon rindang. Jemari Je Wo menyisir sisi rambutnya ketika memerhatikan gerak-gerik si pria.

            Setelah memarkirkan sepedanya, murid laki-laki itu meraih jaket berwarna merah yang terselip di stang sepedanya. Memakainya dengan tubuh memunggungi kerumunan hingga Je Wo tidak dapat melihat wajahnya. Bahkan, kini kepala murid laki-laki itu telah tertutupi dengan hodie yang menempel pada jaketnya.

            Murid laki-laki itu berbalik dan berjalan dengan santai. Kedua telinganya tersumbat oleh Airphone berwarna putih. Kepalanya sedikit tertunduk hingga lagi-lagi Je Wo tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas. Hanya warna dari rambutnya yang sedikit menyembul keluar saja yang dapat Je Wo lihat. Hitam kecoklatan. Murid laki-laki itu bertubuh tinggi dengan textur tubuh yang menurut Je Wo cukup lumayan untuk dipandang.

            Siapa laki-laki ini…

            Laki-laki itu semakin mendekati mereka. Kepalanya mulai terangkat ketika mulai banyak gadis yang menyongsong ingin menghampirinya dengan ragu. Ia memandang sekilas pada mereka, namun kembali membuang muka. Dan dahi Je Wo semakin berkerut ketika pandangan mereka bertemu. Jika sebelumnya ia memalingkan wajah, kini laki-laki itu malah menatap terpaku kedalam mata Je Wo yang turut melakukan hal serupa.

            Tatapan mata keduanya mengandung arti yang sama. Seperti telah bertemu lagi dengan sesuatu yang dulu pernah mereka lihat. Bahkan, hingga laki-laki itu pergi melwatinya, Shin Je Wo masih terus memandang punggungnya dengan tatapan bingung.

            “Kau mengenalnya?” bisik Yoon So disampingnya.

            Kepala Je Wo menggeleng, “Tapi aku tahu siapa namanya.” Gumamnya.

            “Siapa?”

            “Cho Kyuhyun.”

            “Apa? Bagaimana kau tahu?”

            Je Wo menghela pendek, menatap datar pada Ha Won yang memasang wajah penasaran. “Aku melihat nama itu di seragamnya.”

____000____

“Dia berada di kelas dua, sama sepertimu.”

            Je Wo menautkan kedua alisnya saat Lee Hyukjae, sikembaran Lee Donghae mulai menjelaskan informasi mengenai kedatangan murid baru di sekolah mereka.

           Hyukjae dan Donghae adalah pria Darah Biru yang sedikit unik. Mereka kembar, hanya saja wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kemiripan. Keduanya sering mengatakan, Kami kembaran yang tidak diinginkan, maka itu wajah kami berbeda. Hyukjae lebih memiliki sifat Cassanova yang mematikan. Wajah lucunya kerap kali membuat para gadis memerah hanya karena lelucon ringannya yang Pervert dan kerlingan matanya yang memabukkan. Sedangkan Lee Donghae, pria itu lebih cenderung berdiam diri pada orang-orang sekitarnya. Tapi jangan pernah mencoba melihat senyum menawan miliknya yang membuat para gadis seakan meleleh ditempatnya. Bahkan, Ha Won kerap kali merasa kesal setiap ada gadis yang menyapa Donghae dengan suara mesra dan genit.

images (1)

            “Pria itu pasti berasal dari Darah Campuran. Sepeda bututnya merusak pemandanganku.” Umpat Je Wo dengan tawa mengejek yang diikuti oleh Park Minki, gadis yang duduk disebelahnya. Yoon So dan Donghae hanya menyunggingkan senyuman kecil.

            “Tapi dia tampan.” Imbuh Yoon So.

            “Oh, yang benar saja,” cibir Je Wo. Ia menarik sedotan jusnya mendekati bibir, lalu menyedotnya beberapa saat. “Dia bukan berasal dari kelas yang sama dengan kita, Soo Yoon So ssi.”

            “Dia berasal dari Darah Biru, Princess,” sela Hyukjae hingga wajah Je Wo memaling cepat kearahnya. Hyukjae memberikan anggukan pastinya. “Kau tahu tentang keluarga Cho? Pemilik seluruh perusahaan penerbangan terbesar di Korea Selatan. Kekayaan keluarganya bahkan dapat mengalahkan kekayaan keluarga Kriss.”

            Bibir Je Wo menipis ketat. Wajahnya menunjukkan keseriusan. Pria itu berada di kelas sosial yang sama dengan mereka. Tapi kenapa dia berpenampilan seperti itu disini? Tidakkah dia tahu bagaimana KAHS? Tidakkah dia peduli pada penampilannya yang harus sempurna?

            “Tapi… penampilannya terlalu…” ringis Minki dengan wajah sungkannya.

            “Dia tampan, Minki-ya…” sambung Yoon So.

            “Sudah berapa kali kau menyebut pria itu tampan sepanjang hari, baby?” suara lembut Donghae terdengar mengalun disekeliling mereka.

            Yoon So menoleh cepat padanya, melemparkan senyuman lebarnya dan kerlingan nakal,”Tenang saja, Baby. Kau yang terbaik.” Rayunya.

            “Dan dia yang tertampan?”

            “A-ha,” kepala Yoon So menggeleng pelan, lalu menggeser letak duduknya agar lebih merapat pada Donghae. Sebelah tangannya segera menyelip di sela-sela kedua paha kekasihnya, mengelus pelan disana dengan kedua mata menggoda yang menatap Donghae. “Kau yang tertampan, dan yang terseksi…” bisiknya dengan desahan sensual.

            Donghae tersenyum simpul, lalu menangkap jemari Yoon So yang bergerilya di sela-sela pahanya, “Tidak disini, Baby.” Balasnya berbisik dan memberikan kecupan singkat diatas bibir Yoon So yang merekah.

            Hyukjae mendengus jengah melihatnya, terlalu menjijikkan baginya melihat kemesaraan saudara kembarnya jika sudah mulai terlihat intim bersama Yoon So. Sedangkan Minki sudah tertawa cekikikan melihat sepasang kekasih itu. Dan Je Wo, biasanya dia adalah satu-stunya orang yang akan segera mengeluarkan kata-kata sindiran kotornya pada pasangan yang kerap kali mengumbar keintiman didepan semua orang. Meski ia dan Kriss juga sering melakukannya, namun Je Wo belum terlalu berada di tahap yang sama seperti Yoon So. Meski sedikit malu mengakuinya, tapi Je Wo masih memiliki keperawanannya hingga detik ini. Keperawanan memang bukanlah sesuatu yang terlalu besar lagi bagi gadis-gadis Korea. Hanya saja, setiap kali Kriss membujuknya untuk melakukan hal itu, ia selalu menolak.

            Tapi kali ini, pikiran gadis itu sedikit terusik oleh sosok laki-laki bernama Cho Kyuhyun. Laki-laki itu jelas sekali dapat masuk dan bergabung di kelasnya, Darah Biru; wajah tampan, latar belakang yang sempurna, bahkan dapat berdiri setara dengannya yang berkuasa. Tapi nyatanya, pemampilan biasanya pagi ini membuat Je Wo tak habis pikir.

            Apakah dia hanya belum menyadari dimana tempatnya berada? Batinnya.

            Merasa semakin bingung, Je Wo mulai beranjak dan meninggalkan teman-temannya. Berjalan ringan disepanjang Koridor tanpa tahu kemana tujuannya. Di kepalanya hanya ada wajah dan nama Cho Kyuhyun. Laki-laki itu entah kenapa mengusik pikirannya. Mungkin karena ia baru pertama kalinya menemukan laki-laki seperti itu, yang tidak menyadari dimana tempatnya. Atau mungkin, karena tatapan mata laki-laki itu yang mengingatkannya akan sesuatu. Jelas sekali ia pernah melihatnya, tapi dimana? Dia sama sekali tidak tahu.

            Je Wo terus berjalan dengan kedua tangan yang bergelung di dalam saku Blezer hitamnya. Sesekali ia menggigit bibir bawahnya ketika merasa kesal karena tidak juga menemukan jawaban. Tapi saat kakinya melangkah melewati pintu perpustakaan yang sepi, langkah itu terhenti. Kepalanya menoleh pada ruangan besar yang terasa dingin dan senyap itu.

            Ya, Perpustakaan adalah satu-satunya tempat tersunyi diantara ruangan yang ada di seluruh gedung KAHS. Tidak lebih dari depalan manusia yang akan mau menginjakkan kaki disana selain para kutu buku. Lagi pula, di zaman modern seperti ini, Perpustakaan memang mulai tidak terlalu berguna lagi ketika banyak sekali teknolgi canggih seperti Internet yang dapat memberitahumu informasi apa pun hanya dengan duduk diam di depan Komputer. Bahkan, semua orang yang baru bangun dari tidurnya, dapat mengetahui bagaimana kabar seorang Barack Obama, meski saat itu orang-orang masih bergelung dalam selimutnya. Dunia memang semakin canggih, bukan?

            Je Wo memundurkan langkah, lalu sedikit mencondongkan punggung kebelakang, mengintip dari pintu kaca Perpustakaan. Matanya menjelajah keisi ruangan yang dapat terjangkau olehnya. Yang ia temukan pertama kali adalah Hwang Hee Ra, si penjaga Perpustakaan yang sudah sedikit berumur. Wajah tanpa ekspresinya, kaca mata berkaca putihnya, lalu PC Tablet yang tidak pernah lepas dari genggamannya membuat Je Wo selalu mengenyit aneh melihatnya. Hee Ra adalah si penjaga Perpustakaan, tapi tidak pernah sekalipun terlihat membaca buku.

Saat Je Wo mengarahkan pandangan kearah lain, ia mendapati seorang gadis bertubuh tinggi dengan wajah teduh dan lembut. Kulit putihnya tampak bersinar dibawah lampu terang yang berada tak jauh dari atas kepalanya. Kacamata bening yang ia kenakan semakin mempercantik wajahnya yang terkesan lembut. Gadis itu tampak serius membaca sebuah buku tebal yang terletak diatas meja.

            Je Wo menghela pendek, lalu memutuskan untuk memasuki ruangan itu. Tidak peduli pada tatapan beberapa orang yang cukup terkejut melihatnya disana. Gadis itu memang terlalu jarang memasuki Perpustakaan, jika tidak sedang mencari seseorang yang ia butuhkan, maka kakinya tidak akan sudi memasuki tempat itu.

            Saat tubuhnya telah berdiri dibalik meja panjang yang memisahkannya dengan sosok gadis berwajah lembut itu, bokongnya segera menyecah dengan suara hempasan keras pada kursi lembut disana. Meski keberadaannya sangat mencolok, namun gadis berwajah lembut itu sama sekali tidak menoleh padanya. Bahkan melirikpun tidak.

            “Park Jin Ju.” Panggil Je Wo ketus.

            Kali ini, Jin Ju mengangkat wajahnya keatas, sebelah tangannya bergerak membenarkan letak kacamata beningnya. Menatap tanpa ekspresi apapun pada Je Wo. Park Jinju termasuk dalam golongan Darah Biru. Keluarganya cukup terpandang di Korea Selatan. Ayahnya adalah pengawas abadi Perpustakaan Negara yang begitu terhormat. Bahkan, Jin Ju selalu ingin menjadi pengganti Ayahnya suatu hari nanti.

1174676_212454438919012_2110926420_n

            Jin Ju yang masih menatap Je Wo akhirnya kembali menunduk ketika gadis itu belum juga berbicara, menikmati kata demi kata yang berputar-putar dalam jarak pandangnya, “Kau akan segera tahu nanti.” Ucapnya pendek.

            Je Wo memutar bola matanya malas, punggungnya penyandar nyaman pada sanggahan kursi, kedua tangannya terlipat didepan dada sedangkan kedua kakinya saling terlipat dibawah meja. Park Jin Ju memang gadis aneh yang memiliki semacam sebuah kekuatan unik. Dia selalu tahu masalah orang lain tanpa mencari tahunya terlebih dulu. Bahkan, setiap kali Je Wo membutuhkan teman bicara, Jin Ju adalah satu-satunya gadis yang ia butuhkan.

            “Bahkan kau bisa mengetahuinya sekarang jika mau memutar wajahmu kearah jarum jam pada angka sembilan.” Sambungnya.

            Je Wo mengernyitkan dahinya sesaat, namun setelah itu segera melakukan usulan Jin Ju. Kedua matanya sedikit melebar saat melihat seorang murid laki-laki, Cho Kyuhyun, tengah bercakap-cakap ringan dengan salah seorang murid perempuan, Darah Campuran, dan sialnya, gadis itu adalah kaum tersesat yang malang, Han Eunjin.

            Tapi Je Wo dapat melihat kedua mata Kyuhyun yang sesekali melirik kearahnya. Je Wo menggigit bibir bawahnya geram, semakin merasa tidak masuk akal dengan tingkah Kyuhyun yang menyalahi aturan. Seharusnya dia tidak duduk di meja yang sama dengan Darah Campuran, seharusnya dia tidak bercakap-cakap dengan senyum ramah pada para Kaum tersesat yang malang. Apakah laki-laki itu harus ia peringati sebelum rasa marahnya memuncak?!

            “Kau tidak dapat membatasi hak siapapun.”

            Suara rendah dan mendayu Jin Ju menyentakkan Je Wo dari kekesalannya. Gadis itu kembali menoleh pada Jinju yang masih menunduk dan larut dalam buku tebalnya. Rambutnya yang terurai mebuat sisi-sisi wajahnya tertutupi. “Tapi dia berada digolongan yang sama dengan kita, Jin Ju-ya.”

            “Lalu?” Jinju kembali mengangkat wajahnya.

            “Kau tahu apa maksudku, kan?”

            Senyuman kecil Jin Ju terlihat saat ia mulai menutup buku tebalnya, “Kali ini, sepertinya kau akan menemukan permainan yang berbeda. Jika selama ini kau bermain dengan Putih dan Hitam, maka sekarang, kau menemukan warna baru,”Jin Ju menyanggah dagu dengan telapak tangannya. “Abu-abu, seperti itulah warna untuk Cho Kyuhyun.”

            “Oh Tuhan… kau bahkan sudah mengetahui namanya?”

            “Itulah gunanya aku membaca.”

            “Dan nama murid baru itu sama sekali tidak ada disalah satu buku apa pun di Perpustakaan ini.” Umpatnya.

            “Kau sedang membicarakanku, Nona?”

            Bagaikan mendapat sengatan tajam, tubuh Je Wo tersentak hebat ketika mendengar suara seseorang yang entah sejak kapan telah berada di sampingnya. Je Wo menoleh cepat, bibirnya sedikit terbuka saat menemukan Cho Kyuhyun telah menyandar pada sisi meja dengan kedua kaki yang sedikit tertekuk, lalu kedua tangan yang terbenam dalam saku celana hitamnya. Mata coklat yang tersirat abu-abu itu membuat Je Wo seperti tersedot dalam tatapannya.

            Bagaimana bisa pria itu dapat membuatnya menjadi seperti ini? Je Wo bahkan yakin ada yang salah dalam dirinya yang terlalu terusik akan keberadaan Cho Kyuhyun.

            Kepala Kyuhyun memiring, serentak dengan sebelah alisnya yang terangkat, “Aku mendengar kau menyebut kata Darah Biru dan Darah Campuran, dan sebelumnya, aku juga sempat mendengar hal yang sama.” Ujarnya.

            Kepala Je Wo menggeser kekanan, melirik melalui tubuh Kyuhyun yang menutupi pandangannya pada seorang gadis yang saat itu memang tengah menatap kearah mereka. Je Wo menyipitkan kedua matanya, “Kecepatan bibirmu boleh juga, Han Eunjin,” umpatnya dengan serigaian culas diakhir kalimat.Kemudian Je Wo berdiri tegak hingga berhadapan pada Kyuhyun yang menatapnya tanpa ekspresi yang terbaca. Je Wo memasang gaya arogannya, berdiri dengan kedua tangan bersedekap diatas dada, lalu menatap lawan bicaranya dengan tatapan merendahkan, “Bukan kapasitasku untuk menjelaskan padamu apa itu Darah Biru dan apa itu Darah Campuran,” hembusan napas berat Jin Ju yang terdengar membuat gadis itu berdecak kesal kearahnya sebelum kembali menoleh pada Kyuhyun yang menunggu. “Tapi statusmu disini adalah seorang Darah Biru, dan gadis yang baru saja berbicara denganmu itu adalah Darah Campuran dengan sedikit bumbu tambahan dariku, dia adalah kaum tersesat yang malang.”

            “Kaum tersesat yang malang? Apa maksudmu?”

            Dengusan kasar Je Wo menandakan kemalasannya untuk melanjutkan percakapan, ia hanya melemparkan pandangan mengejeknya pada Eunjin yang menatapnya penuh geraman, “Kau bisa bertanya langsung padanya, sepertinya dia tidak akan sungkan untuk menjawab, bahkan akan menambahkan bumbu menyedihkan lainnya agar terlihat seperti Cinderella butuh ibu peri.” Tubuhnya berbalik cepat seiring sebelah tangannya yang mengibas rambutnya penuh sindiran.

            Setelah itu, Je Wo melangkah pergi meninggalkan Perpustakaan dengan senyuman puas karena setidaknya, sedikit keganjalan dalam hatinya untuk mengatakan dimana tempat Kyuhyun seharusnya berada telah terlaksana. Tapi ketika Je Wo melewati meja Hye Ra, tiba-tiba saja wanita itu bergumam pelan.

            “Abu-abu akan membawamu secara perlahan pada si Putih yang sebenarnya.”

            Je Wo membalik tubuhnya cepat, “Hah?” gumamnya. Namun percuma, Hwang Hye Ra hanya diam dengan senyuman tipis dan fokusnya pada PC Tablet yang berada dalam genggamannya.

____000____

Cho Kyuhyun, seorang murid laki-laki pindahan yang baru saja menginjakkan kedua kakinya di KAHS cukup merasa asing dengan keadaan sekitarnya. Dimulai saat ia memasuki halaman sekolahnya yang luas, dan tidak menemukan tempat parkir untuk sepeda kesayangannya hingga akhirnya ia mencari tempat parkirnya sendiri. Lalu, belum lagi tatapan lapar seluruh murid padanya. Jika hanya para gadis, ia merasa biasa karena saat di Osaka dulu, Kyuhyun memang sudah di gilai banyak gadis di sekolahnya. Tapi bagaimana dengan para murid laki-laki lainnya yang menatapnya awas seakan-akan dia adalah seorang singa yang berbahaya. Kyuhyun memang menetap di Osaka dan sekolah disana selama satu tahun lebih. Namun, pria itu membuat banyak ulah disana hingga dilekuarkan dari sekolah dan akhirnya, berada di KAHS seperti saat ini.

            Belum lagi tidak ada satu laki-laki manapun di kelasnya yang mau menunjukkan kesan ramah. Semuanya terlalu sibuk dengan diri sendiri, membicarakan kekayaan dan kepopuleran masing-masing hingga akhirnya, Kyuhyun melarikan diri ketempat dimana ia dapat mencari ketenangan, Perpustakaan. Saat pertama kali menginjakkan kaki disana, ia juga turut bingung. Tempat itu seperti sebuah pemakaman yang sepi. Hanya ada dua atau tiga orang yang ada didalamnya. Suara seokor cicik yang merayap di dinding pun dapat terdengar olehnya.

            Tapi Kyuhyun tidak peduli, ia mulai menjelajahi pandangannya pada sekeliling, hingga akhirnya, Kyuhyun bertemu pandang dengan dengan seorang gadis berambut ekor kuda yang duduk di sudut ruangan dan melemparkan senyuman ramahnya. Manusia dan gadis pertama yang ia temui dengan keadaan normal di tempat itu, batinnya. Tanpa menunggu lama, Kyuhyun berjalan mendekati gadis itu berada, “Boleh tidak aku duduk disini?” tanya Kyuhyun.

            Gadis itu mengangguk, lalu menggedikkan kepala pada kursi kosong disampingnya.

            Kyuhyun membalasnya dengan senyuman ringan, dan segera duduk disana. Ia melirik sebuah buku tulis dan buku Matematika, serta sebuah pena da penggaris yang berserakan diatas meja, “Kau sedang belajar?” pertanyaan itu terlontar begitu saja.

            Gadis itu mengangguk pelan dengan senyuman malu. “Aneh, ya?”

            “Tidak, kenapa kau bilang begitu?”

            “Karena disini, belajar adalah kegiatan teraneh dan tidak populer.”

            Bahu Kyuhyun bergerak menahan tawa, “Suduah kuduga.” Gumamnya.

            Gadis itu turut tertawa, lalu dengan gerakan ragu ia mengulurkan sebelah tangannya pada Kyuhyun, “Han Eunjin.” Ucapnya dengan senyuman ramah dan bersahabat.

            Kyuhyun melirik telapak tangan Eunjin, lalu tersenyum simpul dan membalasnya. “Cho Kyuhyun.”

            “Kau murid baru, kan?”

            Kyuhyun mengangguk, lalu menyandarkan tubuhnya kebelakang dengan kedua tangan yang terangkat keatas saat ia mencoba melonggarkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku. Laki-laki ini terkesan cuek dan ramah disaat yang bersamaan.

            “Kau berasal dari mana?” tanya Eunjin lagi.

            “Osaka, sebelumnya aku bersekolah disana.”

            “Bukan, maksudku… kau Darah Biru atau Darah Campuran?”

            “Hah?” tanya Kyuhyun tidak mengerti. Wajahnya menoleh cepat kearah Eunjin, gadis itu baru saja membicarakan mengenai Darah biru dan Campuran? Ia melirik telapak tangannya yang memiliki bercak-bercak merah, “Setahuku, semua darah manusia di Dunia ini berwarna merah,” ujarnya polos. “Kau sedang membicarakan Vampir?”

            Eunjin tertawa geli, menutup mulutnya dengan sebelah tangan agar suara tawanya tidak terdengar, “Kau benar-benar tidak tahu, ya?” tanya gadis itu setelah tawanya mulai mereda. “Di sekolah ini, kau harus tahu dimana tempatmu. Golangan Darah Biru, atau Darah Campuran.”

            Kyuhyun mengerutkan dahinya. Pembicaraan itu membuatnya pusing, hal konyol apa yang sedang dibicarakan gadis itu. Dan ketika ia memalingkan wajah, matanya kembali menangkap sosok gadis yang pagi ini, memang sempat membuatnya merasa tidak asing ketika mereka bertatap mata. Gadis itu tampak berjalan menuju sebuah meja yang ditempati oleh seorang gadis lainnya.

            Kedua mata Kyuhyun terlalu awas memerhatikan gerak gerik gadis berwajah sempurna yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Dimulai dari cara gadis itu berjalan, lalu duduk dengan pose berkelas yang sensual dan arogan. Caranya berbicara dengan gerakan bibir cepat namun terlihat lembut. Semuanya, tidak luput dari perhatian Kyuhyun yang sama sekali tidak sadar jika Eunjin telah memanggilnya berkali-kali.

            “Kyu.”

            “Ya?” Kyuhyun kembali menoleh pada Eunjin.

            “Apa yang kau perhatikan?”

            Kyuhyun menggeleng pelan dan tersenyum kecil, namun matanya masih sesekali mencuri pandang kearah gadis yang tadi sedang ia perhatikan. Bahkan, kini gadis itu telah menatapnya sempurna. Dan ketika gadis itu kembali memalingkan wajah, Kyuhyun tidak dapat mencegah tubuhnya yang bergerak, berjalan menghampiri dimana gadis itu berada.

            Saat ia telah berdiri sempurna di samping gadis itu, ia segera menyandarkan tubuhnya pada sebuah meja. Dan ketidak sadaran gadis itu mengenai kebaradannya membuat Kyuhyun dapat mencuri dengar pembicaraannya bersama gadis yang ada didepannya.

            “Tapi dia berada digolongan yang sama dengan kita, Jin Ju-ya.”

            “Lalu?”

“Kau tahu apa maksudku, kan?”

            “Kali ini, sepertinya kau akan menemukan permainan yang berbeda. Jika selama ini kau bermain dengan Putih dan Hitam, maka sekarang, kau menemukan warna baru,”

            Kyuhyun mengerutkan dahi, sama sekali tidak mengerti dengan pembicaraan mereka berdua. Kenapa banyak sekali kalimat-kalimat aneh yang ia dengar hari ini.

“Abu-abu, seperti itulah warna untuk Cho Kyuhyun.”

            “Oh Tuhan… kau bahkan sudah mengetahui namanya?”

            “Itulah gunanya aku membaca.”

            “Dan nama murid baru itu sama sekali tidak ada disalah satu buku apa pun di Perpustakaan ini.” Umpatnya.

            “Kau sedang membicarakanku, Nona?” pertanyaan itu terlontar begitu saja saat rasa tak sabar menggeluti Kyuhyun. Darah Biru, darah Campuran, apa itu? Kenapa sepertinya dua kata itu terlalu menjadi masalah?!

____000____

“Hama pengganggu itu berulah lagi?” tanya Choi Eunra ketika Eunjin baru saja menceritakan mengenai kejadian di Perpustakaan tadi. Eunra mendengus jengah, lalu memajukan bibirnya dengan cibiran. “Selalu suka mengusik kehidupan orang lain!”

            Shin Seo Kyung tertawa kecil dan menambahkan, “Dia dan teman-temannya kan seperti sampah. Tapi… sampah yang tidak tahu dimana tempatnya.” Seringaian puas yang ia tutupi dengan kepolosannya terlihat.

            “Sayang… jangan mengotori bibir kalian dengan hujatan gadis Iblis seperti itu,” Lee Daena menghampiri Eunra Dan Seo Kyung, lalu merangkul bahu kedua gadis itu. “Kita semua tahu, kan, gadis seperti apa dia? Dia sama sekali tidak pantas untuk kita.”

            “Lagi pula,” Jinla menyambung percakapan dengan kedua tangan yang bergerak menata rambutnya di depan kaca. “Biarkan para Anjing menggonggong. Dia kan gadis yang merasa tenar dengan pemikirannya. Padahal… dia dan sampah tidak ada bedanya.”

            Kelima gadis yang sedang menghabiskan waktu di sebuah ruangan kecil yang mereka sebut sebagai Basecamp, tertawa bersamaan dengan kalimat-kalimat tajam yang merendahkan untuk Shin Je Wo. Yeah… satu-satunya tempat yang dapat mereka gunakan untuk bergunjing memanglah tempat itu karena saat Je Wo sendiri yang datang menghampiri mereka, kelimanya hanya akan diam atau pun memberi beribu alasan untuk pergi dengan kata mengalah.

            Kebencian mereka pada seorang Shin Je Wo si Princess KAHS begitu besar sampai selalu saja memiliki alasan untuk memperbincangkan gadis itu dan teman-temannya yang lain. Terkadang, dengan lucunya, mereka akan menyebut Je Wo lah yang teramat suka mengusik kehidupan mereka, dengan memperbicarakan mengenai apa pun yang pernah mereka katakan untuknya, tapi sama sekali tidak berkaca akan apa yang telah mereka lakukan.

            Memangnya, apa sebutan untuk seseorang yang menyebut orang lain sebagai sampah karena kerap kali didapati sedang membicarakan mereka, sedangkan mereka sendiri sama sekali tidak lepas dari perbuatan itu? Bahkan kerap kali berdalih dengan kata, jangan mengusikku jika tidak ingin di usik yang hingga saat ini, kata-kata itu selalu tidak terbukti karena setiap kesalahan mereka yang dapat Je Wo buktikan selalu dibalas dengan penyangkalan tanpa bukti. Jadi… hal itu cukup membuat mereka menjadi bahan tertawaan banyak orang dan semakin membuat kelima gadis itu membusuk dengan perasaan bencinya.

            TBC

225 thoughts on “Introduction: Perfect Princess Shin Je Wo

  1. ohoho bakal jungkir balik pasti kehidupan Je Wo stelag nengenal sosok Kyu Hyun yg bgno…
    kesenjangan sosialnya kelihatan bnget yak dstu…,..
    mungkin Je Wo sma Kyu Hyun udah prnah ktmu sebelumnya.,,mungkin waktu mereka msh kecil.,,,
    hiish kelakuanya mengerikax bnget..umur sgtu udah ciuman smpe kyak gtu mna dtmpat umum juga
    haduh2 terkontaminasi gua

  2. huweeeee ff nya daebakk banget dah (y) disini jaewo nya bener” angkuhh sekali :3 tapi gw suka gaya lu vroh :v dan kyuu ahh lu bikin gw penasaran aja :v tetep semangat yak nulisnya min😀

  3. Menarik ceritanya😀 . Dan yeeaah Je Wo mantabs sadisnya tp gw suka sm karakternya>terlalu bayak penjilat disekitarnya jd gtu kale ya. Tuh kyu kok kalem? Waktu di jepang brandal? Menanti kyu jd berandal di korea😀

  4. Eonni izin baca FF nya bangak bangeeeet🙂 tadinya mau fokus sama You are Mine tapi gak sengaja baca Princess begitu yaudah buka dan bah keren banget yaampun biasanya Cho yang angkuh dan kejam tapi sekarang Je Wo yang angkuh dan kejam , semoga Kyu gak tergoda sama kaum tersesat yang malang ah tapi agak curiga jangan jangan nanti Cho sama Eunji lagi pacaran T.T

  5. annyeong I’m new reader.. ps buka library lngsung trtarik sma ff ini, ceritanya keren, pngenalan tokohnya singkat tpi jelas, bahasanya simple gk ribet.. suka sma tulisanmu author-nim😉

  6. Hai kak,
    Baru baca ff kakak yang ini, dan seriusan penjabaran kakak tentang KAHS bneran berasa nyata…

    Dan kehadiran kyuhyun dengan sepeda sportnya yg menarik perhatian sukses bkin ngakak liat gambar dia, wkwk dalam fikiran aku tadinya adl motor sport, ehh ternyta…kkk

    Ijin baca next partnya kak,

  7. Spertinya ceritanya akn sngat menarik,,,khadiran cho kyu apa akan mampu merubah sikap je wo…yg bs dblang agak kterlaluan apalgi yg bagian bercumbu d dpan umum,,,,,pi kekacauan apa yg di buat kyu di osaka?????? Dn apa mrka pernh bertmu sblumnya?????

  8. Nagacak-ngacak google dapet blog ni.. Dan pas baca ini.. Wah ni ff keren lah, bener-bener kyak cerita anak skolah ala korea..
    Oh ya lupa mau ngenalin diri.. Hehehe.. Salam kenal kak.. sy reader baru, izin baca ff kakak ya

  9. aku suka banget sama karakternya shin je wo karena terlalu sering baca ff yang cast yeojanya punya karakter baiklah…. inilah… itulah… jadi sekalinya ada ff kaya gini aku langsung jatuh cinta dech….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s