Perfect Princess – Black and White

pp

Pria itu berwarna Abu-abu, gabungan dua warna yang memiliki perbedaan nyata. Warna perpaduan antara Hitam dan Putih. Dua sisi yang bertolak belakang dan akan sulit menebak jati dirinya.

“Jadi, kau menemuiku hanya untuk bertanya mengenai sekolah barumu?” Cho Sang Ji berpura-pura berdecak kesal pada sepupunya. “Kau sangat mengesankan, Kyu.”

            Kyuhyun tertawa pelan, lalu meneguk minuman kalengnya beberapa kali. Meski saat ini mereka berada disebuah club malam, duduk nyaman dibalik meja Bar, Kyuhyun sama sekali tidak berminat pada minuman berbau aneh yang saat ini Sang Ji nikmati. Sang Ji sudah berumur dua puluh tiga tahun, jadi sudah sewajarnya gadis itu menyentuh Whiskey, Vodka ataupun Tequila. Sedangkan Kyuhyun, ia hanya beani menyentuh sebotol soju, itu juga jika tidak ketahuan Ayahnyam karena kalau Ayahnya mendapati Kyuhyun dalam keadaan mabuk, entah apa yang akan pria mengerikan itu lakukan padanya.

            Dan disini, di The Banker, sebuah club malam berkelas yang terletak di persimpangan Gangnam, saudara sepupu itu bertemu untuk saling mengobrol.

            “Kau mantan murid disana, Sang Ji-ya. Bahkan aku harus bersekolah disana juga karena Ayahmu yang cerewet itu.”

            Sang Ji memberikan tinjuan ringannya di bahu Kyuhyun, “Dia adalah Ayahku, idiot. Dan kalau kau tidak lupa, dia masih menjadi pamanmu.” Kekehnya.

            Mereka berdua memang sangat akrab. Kyuhyun memiliki delapan sepupu didalam keluarganya, tapi hanya Sang Ji yang bisa mendekatinya karena pria itu begitu sangat pendiam jika mulai berada ditengah-tengah keluarga besarnya.

            Dulu, jika saja Sang Ji tidak mengikutinya yang sedang bersembunyi dibawah kolong meja untuk bersembunyi ketika pesta pernikahan salah satu pamannya dilangsungkan, mungkin saja Kyuhyun tidak akan menyadari kalau pesta telah selesai karena pria itu terlalu larut dengan sebuah PSP yang berada dikedua tangannya. Saat itu Sang Ji tertawa terbahak-bahak melihat wajah bingung Kyuhyun ketika menatap seluruh tempat yang sudah sepi.

            Kyuhyun melonggarkan kedua tangannya keatas, ia menguap lebar.

            “Bahkan kau bisa menguap selebar itu saat kedua telingamu hampir tersumbat oleh suara berisik disini.”

            Kyuhyun hanya tersenyum kecil menanggapinya. Saat sepupunya itu meminta pada seorang bartender untuk kembali mengisi gelas kosongnya, mata Kyuhyun menangkap sosok gadis yang tidak asing lagi baginya. Dari tempatnya, yang terletak dilantai dua, Kyuhyun memang dapat melihat kearah Dance Floor dimana banyak pasangan yang saling bergerak, memacu tubuh masing-masing agar semakin tampak memanas.

            Kyuhyun menyipitkan matanya, memastikan jika gadis yang sedang ia perhatikan itu benar-benar orang yang tepat. Gadis itu bergerak liar dengan lekukan tubuh yang tercetak seksi dibalik blus biru mudanya yang ketat. Tubuhnya dalam rengkuhan seorang pria berambut pirang. Kyuhyun memiringkan wajahnya kekiri, mengamati siapa pria itu.

            “KAHS adalah surga,”

            Kepala Kyuhyun memaling cepat, kembali memandang Sang Ji yang juga tengah memandangnya. Sejak tadi memang ini yang Kyuhyun butuhkan, beberapa informasi mengenai sekolah anehnya dari Sang Ji yang dulu pernah bersekolah disana.

            “Tidak semua orang dapat menyecahkan kaki mereka disana. Dan ketika kau berhasil menyecahkan kakimu disana,” Sang Ji menyeringai kecil. “Permainanmu akan dimulai.”

            “Permainan apa?”

            “Diburu atau memburu. Mengerikan, tapi juga sangat menyenangkan. Pemaianan yang selalu memberikan kita dua pilihan. Ada atau tidak, atas atau bawah dan mati atau hidup.”

            “Kau sedang membicarakan apa sebenarnya, Pumpkin girl?

            “Kyu, don’t call me like that. I’m a prety woman, now.” Decaknya dengan sedikit rutukan kecil. Sang Ji sangat membenci panggilan Kyuhyun untuknya yang selalu ia dengar. Gadis labu. Dulu, Sang Ji memang bertubuh gemuk dan selalu disuguhi sup labu oleh Ibunya. Kyuhyun begitu membenci sup itu karena ia amat sangat mengutuk seluruh macam sayuran yang ada. Dan ketika Sang Ji memaksanya untuk memakan sup itu, Kyuhyun langsung mengeluarkan celotehan tajamnya.

            Aku tidak mau. memangnya kau, yang setiap hari mau memakan labu itu. Dasar Pumpkin girl.

            “Who knows?”

            Sang Ji harus menahan iblis betina yang selalu terbangun dalam dirinya setiap kali bertemu dengan Kyuhyun. Sekarang, imagenya sudah sangat sempurna, seorang gadis catik dan berkarakter yang selalu berhasil membuat seluruh pria memohon padanya untuk bercinta diatas ranjang.

            “Kupikir kau satu-satunya alien yang akan tersesat di KAHS.”

            “Nah, apakah itu juga golongan aneh yang ada disana?”

            “Golongan aneh?”

            “Yeah… seperti darah biru dan darah campuran, lalu… kaum tersesat yang malang,” Kyuhyun memutar bola matanya malas. Ketika ia mengingat sebuah nama, wajahnya berpaling kearah Dance Floor, mencari sipemilik nama yang sempat menyinggahi pikirannya, “Dan juga, Shin Je Wo.” Ucapnya dengan suara pelan.

            Wajah Kyuhyun benar-benar berjengit aneh ketika melihat Je Wo sedang berpagutan dengan gerakan tubuh panasnya bersama pria itu. Musik semakin berdentum keras, sekeras tubuh mereka yang saling bergesekan.

            “Oh, kau sedang memerhatikan dia ternyata.” Cibir Sang Ji yang mulai menyadari kemana mata Kyuhyun memandang.

            “Kau kenal dia?” telunjuk Kyuhyun mengarah pada sosok Je Wo sedangkan wajahnya sudah kembali menatap Sang Ji.

            Sang Ji mengerling geli, “Shin Je Wo, cucu konglomerat Korea itu? Bahkan seluruh orang saling berburu untuk mengetahui merk pakaian dalam yang ia kenakan.” Sang Ji menambahkan kesan lucu didalam kalimatnya.

            Tapi Kyuhyun tidak terpengaruh, ada yang lebih penting dari merk pakaian dalam gadis itu baginya.

            “Baiklah, sepupuku yang malang. Aku akan menceritakan apapun yang kuketahui tentang sekolah barumu itu. Kau ingin aku memulainya dari mana?”

            “Blue blood and Mix blood, maybe?

            “Oke,” Sang Ji tersenyum ringan, lalu meneguk minumannya sekali lagi sebelum bercerita. “Darah biru adalah kedudukan tertinggi di sekolahmu. Seluruh golongan darah biru akan hidup nyaman, tenang dan damai. Seperti yang kukatakan tadi, diburu atau memburu. Tapi bukan kau yang memutuskan apakah kau harus memburu atau diburu.”

            “Tapi golonganmu, Kyu.”

            “Golonganku adalah… Blue blood?”

            “Yup.”

            “Kenapa?”

            “Karena latar belakangmu. Ayahmu kaya raya, kedudukannya ada dikalangan atas, tidak untuk menengah keatas yang berada digolongan Mix Blood.”

            “Apa?” dengus Kyuhyun. Ia hampir saja terbahak mendengar penuturan Sang Ji. “Jadi, golongan-golongan itu berdasarkan kekayaan, begitu? Ya Tuhan… apa mereka idiot? Meributkan hal yang tidak perlu seperti itu?”

            “A-ha,” Sang Ji menggelengkan kepalanya pelan. “Kau belum juga mengerti apa yang tadi kukatakan. Permaiananmu, babe.”

            “Seperti?”

            Sang Ji menarik sebelah sudut bibirnya hingga membentuk senyuman kejam. Ia menyanggah dagunya dengan sebelah tangan, menampakan pose menawan, “Memburu atau diburu, sama halnya dengan hidup atau mati.” Jelasnya.

            “Saat kau bergabung, kau sudah memiliki golonganmu sendiri. Beruntung jika kau berada digolongan yang tepat, kau pasti tahulah maksudku. Tapi jika tidak, maka bersiaplah.”

            “Bersiap untuk menjadi… sesuatu yang diburu?”

            “Hei, jangan terlalu naif. Kuberitahu satu hal, tidak ada kesucian didalam KAHS, semua itu hanya omong kosong yang memuakan. Kau bahkan bisa menjadi sipemburu meski saat itu kau adalah sosok yang sedang diburu oleh orang lain.”

            “Demi Tuhan, Cho Sang Ji, semua ini terdengar seperti lelucon yang sering dibicarakan spon kuning dan bintang laut itu.” cibir Kyuhyun dengan tawa hambarnya. Apa yang sedang Sang Ji jelaskan? Permaianan? Golongan? Diburu dan memburu? Shit, omong kosong itu terlalu besar.

            “Spongebob dan patrick? Kau menyukai mereka?”

            “Tidak, dan coba jelaskan mengenai Mix Blood.”

            Sang Ji menyeringai. “Kau tidak sabaran sekali. The Banker masih belum ingin tutup, Kyu. Santai saja, kalau kau mau kita bisa berbincang hingga pagi hari disini.”

            Kyuhyun tersenyum renyah, “Bagaimana bisa paman melepasmu sendirian seperti ini? Kau semakin liar, Pumpkin girl.” Godanya.

            “Kembali ketopik,” Sang Ji berdecak kuat. “Mix Blood. Oh, ck! Aku sedikit malas menjelaskan tentang mereka.”

            “Kenapa?”

            “Mereka adalah pengganggu, bodoh. Setiap kehadiran mereka selalu membuat semua orang ingin mual. Mereka semua ingin diterima dimanapun, tapi tidak menyadari keadaan mereka sendiri. Berkali-kali diusir tapi selalu kembali. Intinya, Mix blood selalu menjadi pembawa masalah.”

            “Tunggu,” Kyuhyun mengangkat sebelah telapak tangannya untuk menyela. “Kurasa wajar saja mereka ingin diterima oleh blue blood. Disana, sepertinya blue blood adalah sang penguasa.”

            “Right.”

            “Dan mereka selalu menjadi yang terbuang. Wajar saja bukan, kalau mereka ingin masuk dan berada ditengah-tengah kalian?”

            “Kita.” Ralat Sang Ji melotot.

            Kyuhyun memutar bola matanya malas.

“Hah… begini saja, Kyu. Aku sudah memberitahu garis besar KAHS padamu, selebihnya kau cari tahu sendiri saja. Kau bersekolah disana, pasti semakin hari semakin mengerti maksudku.”

            “Penjalasanmu terdengar tidak masuk akal.”

            “Terserah kau saja,” acuh Sang Ji lalu memanggil bartender itu lagi. “Segalas lagi, please.”

            Kyuhyun hanya menggeleng ringan melihat bagaimana akutnya candu Sang Ji terhadap alkohol. Ia kembali melirik kearah Dance Floor, mencari keberadaan gadis itu. Tapi nihil, Shin Je Wo dan pria pirang itu tidak ada lagi disana. Kemudian mata Kyuhyun menyisiri tempat itu dengan seksama. Mungkin saja gadis itu ada disebuah tempat.

            Dapat!

            Ia menemukan lagi keberadaan Shin Je Wo yang kali ini tampak telah bergabung bersama beberapa temannya. Masing-masing dari mereka memeliki pasangan yang duduk melingkari meja persegi empat berwarna hitam. Sepertinya meja itu meja khusus, karena terlihat dari sekitar mereka yang tidak begitu banyak orang berlalulalang.

            Shin Je Wo masih berada dalam rangkulan pria berambut pirang itu, bahkan ketika gadis itu sedang berbincang dengan beberapa temannya, pria itu tak kunjung berhenti menyentuh setiap inci permukaan leher Je Wo dengan bibir dan hidungnya.

            “Pria idiot.” Umpat Kyuhyun dengan gumaman pelan.

            “Dia akan lebih idiot lagi jika hanya duduk diam disamping gadis seperti Je Wo.”

            Mendengar Sang Ji menyahutinya, Kyuhyun mengernyitkan dahi.

            “Shin Je Wo adalah aset penting, Cho Kyuhyun. Seluruh pria dari golongan manapun selalu mengejarnya. Shin Tae Wa memiliki ratusan gudang emas yang pastinya hanya akan jatuh ketangan gadis itu, cucunya. Menurutmu, apa Kriss akan menyia-nyiakan kesempatan itu sedangkan Shin Je Wo jelas sekali tergila-gila padanya?”

            “Shin Je Wo tergila-gila padanya?”

            “Kabarnya, Ya. Seluruh member The Banker selalu mengeluarkan cicitan seperti itu. Dan yeah… hampir setengah dari member The Banker adalah murid KAHS, tentu saja mereka tahu banyak mengenai kedekatan Princess dan Prince KAHS.”

____000____

Tidak sampai pukul delapan malam, Kyuhyun sudah keluar dari The Banker, club ternama nomer satu di Korea. Gangnam memang mengesankan. Ada saja tempat-tempat favorit banyak orang untuk dikunjungi disana. Dan tidak sedikit juga banyak wanita yang dapat dikunjungi disana dengan bayaran mahal, pastinya.

            Berbeda seperti saat ia datang kesekolahnya hanya dengan sepeda sportnya, kali ini Kyuhyun membelah jalanan Gangnam dengan Lamborghini hitam miliknya. Pergi kesebuah Club malam seperti itu tidak memungkinkan bagi Kyuhyun untuk membawa sepedanya.

            Kyuhyun hanya menyetir dengan tangan kanannya, sementara siku tangan kirinya bertumpu pada jendela mobil yang terbuka. Entah apa saja yang ia pikirkan selama diperjalanan. Semua penjelasan Sang Ji membuatnya tiba-tiba pusing. Dari cerita gadis itu saja ia sudah terlalu yakin jika sekolahnya itu terlalu mengerikan. Kyuhyun akan lebih suka bersekolah dilingkungan para pembunuh bayaran dari pada harus bersekolah ditempat seperti itu. Dimana harta adalah penguasa.

            Ketika berada didalam kepenatan pikirannya. Secara tidak sengaja, Kyuhyun mendapati sosok gadis lain yang sedang berjalan ringan dipinggir jalan. Perlahan, Kyuhyun mengurangi kecepatan mobilnya, mengikuti langkah gadis itu dari belakang.

            Gadis itu tampak sederhana dengan celana jeans usang dan sweeter lengan panjang abu-abunya. Sebuah tas terselempang dibahunya. Dan dengan langkah ringan, gadis itu mulai berbelok kekiri.

            Kyuhyun menghentikan laju mobilnya. Mencari sebuah tempat untuk memarkirkan mobil itu sebelum bergerak mengejar gadis yang ia ikuti sejak tadi. Matanya bergerak liar sepenjuru jalanan hingga punggung gadis itu kembali terlihat olehnya.

            Kyuhyun tersenyum kecil, lalu mengerjar gadis itu dengan sedikit berlari, “Han Eunjin.” Panggilnya saat hampir saja, Han Eunjin memasuki sebuah tempat kecil yang memiliki lampu berkedap-kedip disekeliling bangunan itu.

            Han Eunjin melotot terkesiap menemukan keberadaan Kyuhyun.

            “Kyuhyun, ini… kau?” ujarnya terpaku. Matanya menyusuri tubuh Kyuhyun dari ujung kaki hingga ujung rambut.

            Pria itu tampak berbeda malam ini. Jika tadi pagi, ia menemukan Kyuhyun dengan seragam sekolah dan jaket merah bocahnya, maka malam ini ia pasti sangat terkejut melihat cara Kyuhyun berpakaian. Jeans yang terlihat mahal, kaus hitam yang ditutupi oleh jaket kulit berwarna sama. Pria itu… benar-benar memesona.

            Kyuhyun mengangguk ringan, “Aku tidak sengaja melihatmu dipinggir jalan, kau ingin pergi kemana? Ketempat ini?” tunjuknya pada bangunan yang diatasnya terdapat kata Out of The World ia memerhatikan bangunan itu dengan seksama, khas cara pandang seorang Cho Kyuhyun. bangunan itu tidak sebesar bangunan yang ia datangi sebelumnya. Tapi samar-samar Kyuhyun mendengar ada dentuman musik dari dalam sana dan tentu saja membuat ia penasaran apa yang ada didalam bangunan itu.

            “Aku boleh ikut masuk?” tanya Kyuhyun lagi pada Eunjin yang hingga detik ini masih terpaku memandang Kyuhyun.

            “Oh, eum.. itu…” gugupnya. Eunjin menggaruk belakang kepalanya kikuk. “Kalau kau tidak merasa keberatan, kau boleh ikut.”

            “Kenapa aku harus merasa keberatan,” cengirnya. “Ayo masuk.”

            Kyuhyun berjalan beriringan bersama Eunjin memasuki tempat itu. Pria itu cukup terperangah setelah mengetahui tempat apa itu sebenarnya. Sebuah club malam, tapi benar-benar berbeda dari The Banker. Club malam ini terasa lebih… nyaman. Disana juga ada dentuman musik seperti yang ada di The Banker, tapi nuansanya begitu bersahabat.

            Dan orang-orang yang ada didalamnya tidak begitu banyak mengumbar sesuatu yang menjijikan seperti bercumbu ataupun berjoget dengan gerakan erotis. Disana tergambar jelas jika seluruh orang hanya ingin bersenang-senang.

            “Disana.”

            Suara Eunjin menyadarkan lamunan Kyuhyun. Pria itu mengikuti kemana arah telunjuk Eunjin yang mengarah. Ada empat orang gadis yang sedang duduk mengelilingi meja bulat dengan kursi tinggi. Dan tatapan keempat gadis itu penuh dengan keterkejutan.

            “Teman-temanmu?” tanya Kyuhyun.

            Eunjin menggeleng kecil, “Teman-teman kita.” Jawabnya, lalu membawa Kyuhyun menemui mereka.

            “Hei, dimana kau menemukan pria ini?” celetuk Choi Eunra.

            Kyuhyun mengulum senyumnya atas kalimat terus terang yang gadis itu tanyakan pada Eunjin.

            “Kami bertemu dijalan, lalu dia bilang ingin ikut kesini. Jadi, kubawa saja,” jelas Eunjin. Lalu ia mengambil tempat untuk duduk disebelah Lee Daena. Melihat Kyuhyun masih setia berdiri disana, Eunjin menepuk kursi kosong yang ada disebelahnya. “Duduklah.”

            “Terima kasih,” jawab Kyuhyun. Ia turut duduk disana, lalu matanya mengarah pada sosok gadis yang tampak terlihat lebih tua diantara mereka. Gadis itu tidak melepas pandangannya dari wajah Kyuhyun hingga membuat pria itu tersenyum renyah. “Ada sesuatu yang aneh diwajahku, Nona?”

            “Hahaha, Eonnie. Lihat, kau menakutinya.” Tawa lucu gadis yang ada disebelahnya terdengar.

            “Ck, Park Jinla sshi, kau ini tidak bisa melihat pria tampan sebentar saja, ya?”

            “Yeah… mau bagaimana lagi.”

            Kyuhyun turut tertawa, sebuah tawa hambar yang ia paksaan. Menurutnya tidak ada yang lucu disana.

            “Kyu,” panggil Eunjin. “Perkenalkan, dia adalah Shin Seo Kyung, lalu dia adalah Park Jinla, Lee Daena dan Choi Eunra. Mereka semua adalah teman-temanku. Dan kami… berasal dari Mix Blood.”

            Oh, hal itu lagi, batin Kyuhyun.

            “Oh, ya?” jawaban pertama itu terdengar sangat kaku. Kyuhyun merasa sedikit… kikuk, mungkin, setelah menyadari jika dia berasal dari Blue Blood. Dan sialan, sejak kapan dia mulai memikirkan tentang hal itu.

            “Hei, aku tidak menyangka jika kau yang berasal dari blue blood mau bergabung bersama kami. Akhirnya, ada juga manusia waras diantara mereka.” Cibir Seo Kyung.

            “Ck, sudahlah. Jangan membahas tentang itu,” desak Eunjin pelan, tampak berusaha mengalihkan pembicaraan teman-temannya yang selalu terpancing setiap kali mengungkit mengenai Darah Biru. Lalu Eunjin memandang Kyuhyun lembut dan sendu. “Karena aku yakin, Kyuhyun berbeda dari yang lain.”

____000____

Koridor yang berada di gedung dua KAHS itu memang cukup panjang. Jika seluruh murid berada dikelas masing-masing, maka koridor itu akan teramat sunyi dan sedikit gelap. Bahkan seperti saat ini, derap langkah Shin Je Wo yang berjalan ringan disepanjang koridor itu menggema. Bibir gadis itu tidak henti-hentinya membentuk sebuah buble dari permen karetnya. Ketika buble itu itu meletup, maka ia akan terkikik geli seorang diri. Meski sudah memasuki jam pelajaran, tapi Je Wo yang baru saja datang tetap berjalan santai tanpa beban disana.

            Namun langkah gadis itu sedikit tersendat ketika ia menemukan sosok gadis lain diujung koridor disana. Gadis itu berjalan berlawanan arah dengannya. Mulanya Je Wo hanya memandang gadis itu tanpa eskpresi, namun setelah itu, senyum dengan seringaiannya tampak menghiasi bibir kecilnya.

            Je Wo melanjutkan langkahnya sembari memiringkan sedikit kepalanya kesamping, matanya tak lepas dari kedua mata takut milik gadis itu. Ia seperti sedang mengunci mata itu, mengintimidasinya dengan seringaian kecil. Gadis berambut panjang tergerai itu tidak lagi menatap matanya, ia hanya menatap lurus kedepan hingga mereka berpapasan.

            “Lee Daena, sayang.” Panggil Je Wo dengan suara manisnya setelah ia menghentikan langkahnya, masih dengan tubuh yang saling memungungi.

            Langkah kaki gadis itu tidak lagi terdengar, menandakan ia turut berhenti seperti Je Wo.

            Je Wo berbalik, memandang punggung tegak wanita bertubuh tinggi itu dengan wajah tanpa ekspresinya, “ Jangan pernah memasang wajah rendah seperti itu saat kau berpapasan denganku. Kau menjijikan!” Cetusnya.

            Mulanya punggung itu tidak bergeming, namun beberapa saat kemudian, Daena memutar tubuhnya hingga mereka saling berhadapan dengan jarak tubuh yang tidak terlalu jauh. Daena memandang Je Wo penuh emosi yang tertahan, “Bukankah kau memang rendah? Cara bicaramu sudah menggambarkan dengan jelas seperti apa kau sebenarnya.” Umpatnya, suaranya terdengar sedikit meninggi dan gemetar.

            Je Wo tertawa hambar, “Jika aku rendah lalu kau apa, sayang?” lalu senyuman itupun kering, digantikan lagi dengan wajah tanpa ekspresi yang tentu saja pasti membuat Daena ingin segera berlari menjauhi Je Wo.

            Perlahan, kedua kaki Je Wo kembali melangkah mendekati Daena, mengeluarkan derap langkah pelan hingga Daena hanya dapat mendengarkan derap langkah itu dengan roma yang meremang, “Setap kata manismu, sanjungan sialanmu, kalimat penjilatmu,” kedua kaki Je Wo berhenti tepat dihadapan Daena. “Bahkan lebih rendah dibandingkan dirimu sendiri.”

            “Kau_”

            “Rendahan?” potong Je Wo. Ia melirik seluruh tubuh Daena dengan cebikan penuh hina. “Ck, ck, ck, lihatlah betapa mengagumkannya seorang Lee Daena, gadis bemulut manis yang sangat berbisa.”

            “Shin Je Wo, kau tahu Tuhan tidak pernah tidur, kan? Setiap perbuatanmu akan mendapatkan balasan darinya! Teruskan saja hinaanmu itu, sialan!”

            “Benarkah?” ulang Je Wo, ia melakukannya dengan sedikit senandung yang mengerikan. Je Wo kembali melangkah, dan kini langkahnya bergerak mengelilingi tubuh Daena. “Tuhan, selama ini kau selalu bersembunyi dibalik kata-kata Tuhan. Memaki, mengumpat, menghujat, kau selalu membawa nama Tuhan di dalamnya.”

            Kini Je Wo berhenti dibelakang tubuh Daena yang mematung, ia mencondongkan dirinya dan berbisik, “Kau adalah gadis munafik yang selalu menjadikan Tuhanmu sebagai tameng atas kebusukan hatimu, sayang.”

            “Diam!” teriak Daena yang secara cepat berbalik dan memelototi Je Wo dengan kedua mata besarnya.

            “Ups… sorry, madam.”

            “Aku tidak serendah kau, Shin Je Wo. Aku tidak pernah menjadikan Tuhanku sebagai tameng. Jadi tutup mulutmu!”

            Je Wo tergelak dengan punggung tangan yang menutupi mulutnya, “Daena… ayolah, kapan kau akan menyadari serendah apa dirimu, hem? Kau butuh sebuah tempat untuk mendapatkan ketenaranmu, bukan? Kau kira aku tidak tahu, saat kau berusaha mendekatiku dengan mulut berbisamu, merayuku dengan kisah menjijikanmu agar aku dapat menjadikanmu sama seperti beberapa orang yang berada disekitarku.”

            “Haruskah kuberitahu padamu kalau kau tidak memiliki kemampuan yang sama dengan mereka, hem? Kau adalah pecundang, sayangku… mereka tidak. Kau ingin berada diatas puncak dengan cara kotor meski kemampuanmu begitu menyedihkan? Menyedihkan sekali kau!”

            “Kau pikir sudah sehebat apa dirimu? Apa kau tidak mengerti juga jika sangat banyak orang yang membencimu?” desis Daena.

            “Aku tidak pernah mengatakan diriku hebat, hahaha apa jangan-jangan kau merasa begitu, sayangku? Ah… benar, aku lupa jika dulu kau sangat ingin sepertiku. Sayangnya, lagi-lagi kau tidak beruntung, pecundang!”

            “Dan tentang orang-orang yang membenciku, apa peduliku? Lalu kenapa kau sangat peduli pada orang-orang yang membenciku? Kau tidak sedang mengalami gangguan jiwa, kan? Karena hanya seorang Freak yang dapat melakukan itu.”

            “Ya Tuhan… kupikir kau yang sakit.”

            Je Wo tersenyum manis, lalu melangkah sekali hingga ia dan Daena berdiri bersampingan, “Kalau aku sakit lalu kau dan keempat temanmu apa? Para pecundang yang memberontak ingin diakui, begitu? Ah… kasihan sekali.” desahnya dengan suara keji. Lalu Je Wo segera berlalu pergi dengan seringaian puasnya. Kembali mengunyah permet karet yang sejak tadi tertanam didalam mulutnya.

            Dapat menepuk seekor lalat dipagi hari begitu menyenangkan baginya. Ia yakin moodnya akan seratus persen terjaga jika setiap hari dapat membantai gadis-gadis yang sering mengganggu dirinya itu. Dia memang kejam dan suka membuat keonaran, apa lagi dengan latar belakangnya yang selalu dapat menghapus jejak keonarannya dengan sangat mudah, tentu saja Shin Je Wo lebih berani berbuat sesukanya.

            Je Wo berjalan dengan sedikit meloncat-loncat kecil. Ketika ia berbelok, langkahnya memundur selangkah dan terhenti. Dibalik tembok itu, ada seorang pria. Pria itu menyandarkan punggungnya disana, menunduk kebawah, tepatnya memfokuskan kedua matanya pada sebuah PSP yang berada dalam genggamannya. Cho Kyuhyun.

            “Apa yang kau lakukan disini?” hardik Je Wo dengan sebelah alis mengernyit. Kyuhyun tidak menyahut, tapi sebelah bibirnya tertarik keatas membentuk senyuman kecil. “Kau menguping?”

            “Yup.” Cho Kyuhyun menengadah, memandang Je Wo dengan sedikit dalam dari tempatnya. Ia memang sengaja mengulur waktu berdiam diri agar dapat memerhatikan wajah gadis itu untuk mencari tahu, kapan ia pernah bertemu dengan gadis itu. Kyuhyun sangat yakin, ia dan Shin Je Wo pasti pernah bertemu sebelumnya.

            Je Wo melipat kedua tangannya di depan dada, memelototi Kyuhyun dengan tajam, “Hei, kuberitahu padamu. Aku tidak suka ada orang lain yang ikut campur dalam urusanku. Kau,” telunjuknya mengarah tepat didepan wajah Kyuhyun. “Menjauh dariku, atau aku yang akan menendangmu dengan caraku.”

            Sebuah senyuman sinis Je Wo layangkan pada Kyuhyun sebelum kakinya kembali melangkah menjauhi pria itu. Tapi, langlahnya kembali terhenti saat Kyuhyun mulai bersuara.

            “Hanya karena kau merasa telah menjadi sang penguasa, apa itu berarti kau bebas menindas orang-orang yang menurutmu lebih kecil darimu?”

            Tubuh Je Wo kembali berbalik, ia melihat Kyuhyun masih menyandar pada dinding itu. Dan yang sangat menyulut emosinya adalah, senyuman pria itu yang sederhana, tapi juga menawan, dan ia benci harus mengakuinya.

            “Apa maksudmu?”

            “Shin Je Wo,” untuk pertama kali, Cho Kyuhyun menyebut nama gadis itu di depan orangnya. Dan ada efek yang sama terjadi pada keduanya. Mereka sama-sama tertegun dan saling berpandangan aneh, “Itu namamu, kan?” Kyuhyun sengaja bertanya untuk menutupi kecanggungannya. Merasa Je Wo sama sekali tidak akan menjawab, Kyuhyun melanjutkan kalimatnya. “Bisakah kau hentikan permainan konyolmu di sekolah ini? Jujur saja, aku merasa terganggu.”

            Rahang Je Wo mengeras. Cho Kyuhyun adalah orang pertama yang memintanya berhenti dengan seenaknya, “Tidak,” jawabnya, suaranya rendah dan berat. “Kau masih baru berada di sekolah ini, Cho Kyuhyun. Kau tidak tahu apapun, jadi, tutup suara sumbangmu. Kau pikir kau siapa dapat memerintahku?”

            Kyuhyun bergerak, melangkah mendekati Je Wo hingga mereka berada dalam jarak yang begitu dekat. Je Wo tahu saat ini napasnya sedang tercekat entah karena apa. Namun ia masih terus melayangkan tatapan intimidasinya pada Kyuhyun yang menatapnya penuh penilaian.

            “Apa yang baru saja kudengar tadi, cukup membuatku tahu orang seperti apa kau sebenarnya.” Desis Kyuhyun padanya.

            Je Wo membuang napas keras, tertawa pelan dan melangkah mundur sekali. Ia meludahkan permen karetnya yang sudah kehilangan rasanya, memandang Kyuhyun dengan tatapan mengejek, “Apa? Memangnya orang seperti apa aku ini?” tantangnya. Ia sangat ingin tahu, sejauh apa Kyuhyun menilai dirinya.

            Kyuhyun tersenyum renyah, lalu membenamkan kedua tangannya di dalam saku celana, “Kau arogan, sombong, merasa berkuasa, dan… kejam.” Di akhir kalimat, Kyuhyun menyipitkan kedua matanya.

            Je Wo terbahak kuat, sebelah tangannya sesekali mengibas beberapa helai rambut yang menyelimuti lehernya. Saat ia melakukan hal itu, Kyuhyun tidak mampu membuang pandangan dari leher Je Wo. sebenarnya, ia sendiri tidak tahu kenapa ia harus seperti itu. Yang ia tahu, ia sangat membenci Shin Je Wo dan segala sikap buruknya. Tapi, setiap kali memandang gadis itu, setiap kali memerhatikannya lebih lama, sesuatu dalam diri Kyuhyun seperti berteriak padanya kalau Je Wo adalah sesuatu yang penting dalam hidupnya. Dan sungguh, Kyuhyun ingin mengutuk sesuatu yang berteriak itu

“Ah…,” desah Je Wo pelan, terdengar begitu sensual ditelinga Kyuhyun. “Pasti karena terlalu sering bermain dengan para Mix Blood, kau sudah mulai terkontaminasi, ya?” Je Wo menyeringai kecil, lalu sebelah jemarinya meraih kasar kerah seragam yang Kyuhyun kenakan hingga pria itu terhuyung kehadapannya. Wajah mereka teramat dekat hingga Je Wo yakin Kyuhyun melihat kemarahan dalam wajahnya. “Kau masih terlalu cepat mengambil kesimpulanmu, Cho Kyuhyun. Kenali dulu siapa orang-orang yang berada di sekelilingmu, sebelum kau memutuskan, siapa musuhmu yang sebenarnya.” Je Wo melepas cengkramannya dengan kasar, mendengus sekali sebelum berbalik dan benar-benar meningggalkan Kyuhyun yang hanya dapat memandangnya tertegun.

____000____

Pada jam istirahat, Kyuhyun berjalan mendekati lapangan Basket yang berada di dalam ruangan, di lantai satu. Disana ia melihat ada lima orang siswa yang sedang bermain basket. Kyuhyun memerhatikan mereka dengan senyum mengembang, sudah lama ia idak bermain basket, pikirnya. Merasa tertarik, Kyuhyun mendatangi mereka, lalu menawarkan dirinya untuk bergabung.

            “Apa aku boleh bergabung?”

            Kelima laki-laki itu menoleh serentak padanya. Satu diantaranya dapat Kyuhyun kenali. Dia adalah pria pirang yang pernah ia lihat sedang bermesraan dengan Je Wo.

            “Yeah, tentu saja.” Jawab seorang pria bertubuh kurus dan juga berambut pirang.

            “Aku tidak ikut, kalian lanjutkan saja.” Sela seorang lainnya.

            Kyuhyun mengernyit kecil saat pria yang mengundurkan diri itu melayangkan pandangan tak suka padanya. Pria bertubuh sedikit pendek itu tampak pergi kepinggir lapangan, menghampiri tiga orang gadis yang sedang menatap kearahnya. Ada Shin Je Wo dan mungkin dua orang gadis lainya itu adalah temannya. Pria pendek itu menghampiri seorang gadis yang duduk diatas meja dengan menyilangkan kakinya. Ia merangkul pinggang gadis itu dan mengecup singkat dahinya.

            “Cih, menjijikkan!” umpat Kyuhyun tanpa sadar.

            “Hei, dia adalah kembaranku.”

            Kyuhyun menoleh pada pria kurus itu, mengerjap beberapa kali dengan mata yang sedikit melebar, “Kau, dan dia? Kalian kembar?” Kyuhyun seperti tidak percaya mendengarnya.

            Pria kurus itu tertawa kecil, “Benar, dan kau entah sudah menjadi orang keberapa yang terkejut mendengarnya.” Kyuhyun tidak menyahut, ia sibuk memandangi kedua pria kembar itu. Sepertinya Kyuhyun sama sekali tidak percaya. Melihat itu, pria kurus itu kembali bersuara. “Aku Lee Hyukjae, dan kembaranku itu bernama Lee Donghae.”

            Kyuhyun mengangguk kaku, masih terlalu terkejut dengan pernyataan itu.

            “Aku kris.”

            Mata Kyuhyun bertemu pandang dengan laki-laki bernama Kriss. Ia memandangi pria yang sedang tersenyum hangat padanya itu dengan pandangan menilai. Lama sekali ia melakukan itu hingga Kris berjengit aneh dan Kyuhyun tersadar, “Cho Kyuhyun.” Ujarnya.

            “Yup, kami sudah tahu,” potong Hyukjae. Kyuhyun berjengit kecil padanya. “Apa kita bisa memulai permainanya sekarang?”

            Kyuhyun mengangguk. Kris menyuruh salah satu dari kedua temannya untuk pergi agar mereka bisa berbagi kelompok. Kyuhyun bersama Hyukjae dan Kris bersama temannya. Ketika diawal permainan, Kyuhyun melihat Kris yang mengerling sekali kearah pinggir lapangan. Kyuhyun memutar wajahnya kesana, melihat Je Wo tampak tersenyum manis pada Kris. Kyuhyun ingin sekali tertawa, tapi permainan ini lebih berarti baginya.

            Harus Kyuhyun akui, Kris bukanlah lawan yang dapat diremehkan dalam permainan basket. Hyukjae juga begitu. Tapi tetap saja yang sering mencetak skor adalah dirinya. Kyuhyun sangat menyukai permainan basket sejak kecil, dan ia sering mengikuti pertandingan ilegal permainan seperti ini. Seperti bertaruh dengan uang, mobil, bahkan ia pernah mempertaruhkan rumah Ayahnya saat bertanding melawan salah satu pemain Basket terkenal di Jepang. Untung saja hal itu dapat di selesaikan Ayahnya dengan mudah, dan karena kekalahannya itu, Kyuhyun kembali dibawa Ayahnya ke Korea untuk di hukum.

            “Kau hebat.” Puji Hyukjae setelah mereka selesai bemain.

            Kyuhyun hanya tersenyum simpul padanya. Mereka semua duduk membentuk sebuah lingkaran dengan napas tersengal. Beberapa kancing baju mereka sudah terbuka, seragam mereka tidak lagi berbentuk, sedangkan sekujur tubuh mereka di penuhi oleh keringat.

            Kris mulai beranjak dan hal itu tidak luput dari perhatian Kyuhyun. Ia melihat Kris menghampiri Je Wo, mengacak rambut gadis itu namun tangannya segera di tepis oleh Je Wo. Gadis itu tampak ingin menjauh darinya, entah karena apa. Tapi kedua teman gadis itu dan juga Lee Donghae sedang tertawa melihat mereka berdua.

            “Je Wo tidak suka dengan keringat,” Kyuhyun memalingkan wajahnya pada Hyukjae. Laki-laki itu tersenyum lebar memandang kearah teman-temannya. “Baik itu keringatnya maupun keringat orang lain,” Hyukjae menatap Kyuhyun dengan kekehan gelinya. “Sebaiknya kita mandi dulu sebelum menghampirinya, ayo.”

            “Mandi?”

            “Ya, mandi.”

            “Dimana?”

            “Tentu saja di kamar mandi, kau pikir dimana lagi? Ah, iya. Kau belum tahu ya, kalau kami memiliki ruangan khusus?”

            Kyuhyun menggeleng tidak mengerti. Lalu akhirnya mengikuti kemana Hyukjae membawanya.

            Sepanjang jalan Kyuhyun mendesah jengah dengan pandangan para gadis yang seakan ingin menerkamnya. Bahkan ketika ia menyeka keringat di dahinya, ia mendengar teriakan histeris di sekelilingnya. Ia menggumam kesal pada Hyukjae dan dibalas kekehan geli laki-laki itu.

            Hyukjae membawa Kyuhyun kelantai tiga. Mereka keluar dari llift dan berbelok kekanan hingga mencapai pintu bertuliskan Room Privat: One. Hyukjae membuka pintu ruangan itu dan melangkah masuk. Kyuhyun masih mengikutinya, dan ketika ia berada di dalamnya, bibirnya tidak dapat terkatup.

            “Wow.” Gumamnya tanpa sadar.

            Hyukjae yang sedang mengambil handuk kecil dari sebuah lemari yang tidak terlalu besar dan hanya memiliki dua pintu, tersenyum kecil mendengarnya. Ia menyandarkan dirinya, mengelapi wajah berkeringatnya dengan handuk kecil itu, “Kau bisa memakai lemari yang disana,” tunjuknya pada sebuah lemari yang terletak di sudut ruangan. “Lemari itu belum digunakan siapapun, dan itu lemari yang terakhir.”

            Kyuhyun masih bergeming. Ia memerhatikan ruangan itu dengan pandangan takjub. Ruangan itu benar-benar mengaggumkan. Ada enam buah lemari yang berjejer rapi di sudut-sudut ruangan, lalu tiga buah sofa mewah, sebuah bar dan lengkap dengan peralatannya. Lampu ruangan itu berwarna orange, membuat nuansa yang begitu berkelas teramat mencolok. Kyuhyun belum pernah menemukan ruangan semengagumkan ini di sekolah manapun.

            “Ruangan apa ini?” tanya Kyuhyun pada Hyukjae.

            “Ruangan ganti. Kami selalu memakai ruangan ini untuk mengganti baju setiap kali hal seperti ini terjadi.” Hyukjae memperlihatkan bagaimana berantakannya seragam sekolahnya.

            Kyuhyun terkekeh pelan. “Tidakkah ini terlalu… berlebihan? Bukankah biasanya hanya ada loker dan kamar mandi?”

            “Loker? Kau yakin benda sekecil itu cukup? Kalau kamar mandi, disana tempatnya,” Hyukjae menunjuk sebuah pintu yang terhubung di dalam ruangan itu. “Dan Cho Kyuhyun, kau tahu, kan, dimana kau berada saat ini?”

            Kyuhyun menghela pendek dan memutar matanya, “Ya, ya, ya, aku sedang berada di KHAS, sekolah ajaib yang mengesankan,” gumamnya kecil dan melangkah mendekati lemari miliknya. Ia membuka pintu lemari itu, kembali berjengit ketika belasan seragam berjejer rapi disana. Lalu Kyuhyun membuka pintu yang satunya dan kembali mendelik melihat lipatan handuk yang tersusun rapi di bagian atas, lalu puluhan kaus kaki di bagian tengah dan rentetan sepatu bersih dan baru di bagian bawah. “Waw.”

            Saat Kyuhyun memutar tubuhnya menghadap Hyukjae, pria itu hanya terkekeh dan mengedikan bahunya acuh. Lalu pergi memasuki kamar mandi yang ia katakan tadi.

____000____

“Lebih keras, baby…”

“Hem…”

“Sshh… kau bisa membuka kancing lainnya lagi.”

“Tidak perlu, aku ingin kau tampak penuh.”

            Cho Kyuhyun jelas sekali mendengar suara desahan, rintihan dan suara-suara aneh lainnya ketika ia melewati sebuah koridor sunyi. Kyuhyun mengarahkan pandangannya kesekitar, semakin lama ia melangkah, semakin kuat desahan-desahan itu terdengar. Seperti seorang penceru yang berjalan mengendap-endap, Kyuhyun mendekati belokan pertama diujung koridor itu.

            Dan yang pertama kali ia lihat adalah, Lee Donghae tengah asik bermesraan bersama seorang gadis. Kedua mata Kyuhyun sedikit melebar melihat bagaimana liarnya kepala Donghae bergerak menyusuri dada gadis itu, lalu wajah gadis itu yang begitu… memerah dengan keringat di wajahnya. Tangan gadis itu merangkul kepala Donghae dan meremas rambutnya dengan ritme yang menggoda.

            Kyuhyun meneguk ludahnya, ia mulai melangkah mundur untuk menjauh dari pemandangan itu. tapi  sayang, kedua mata gadis yang tengah merintih itu lebih dulu menangkapnya.

            “Hae, ada yang melihat!!” pekiknya.

            Wajah Lee Donghae terangkat cepat memandang Kyuhyun, saat ia berusaha menutupi kekasihnya, geraman Donghae terdengar mengerikan, “Apa yang kau lakukan disana, sialan?!” umpatnya.

            Kyuhyun menarik napas panjangnya, “Aku tidak sengaja melewati tempat ini dan…” ia melirik kedua mata gadis itu yang menyipit di balik bahu Donghae.

            “Jangan menatap kekasihku seperti itu. Kau sudah bosan hidup?” ancam Donghae, sudah mengembalikan suara tenangnya. Sepertinya emosi pria ini memang sudah sangat memuncak. Pertama, karena kekasihnya, Soo Yoon So yang sering kali memuja Cho Kyuhyun di depannya. Lalu sekarang, saat ia belum memuaskan dirinya yang sedang mencumbui kekasihnya, laki-laki yang memang tidak dusukainya itu malah mengganggu.

            “Oh, jangan salah paham. Aku tidak tertarik dengan kekasihmu.”

            “Apa?!” Soo Yoon So memekik dari tempatnya. Ia terlihat sibuk memasang kembali kancing bajunya yang sudah berantakan dibalik tubuh tegap Donghae. Lalu setelah selesai, Yoon So menampakan dirinya. “Hei, apa katamu? Kau tidak tertarik padaku? Yang benar saja, dimana kau letakan matamu itu, huh?”

            Kyuhyun berjengit bingung.

            “Baby,” geram Donghae. Ia menatap Yoon So tajam dan mengintimidasinya. Lalu kembali memandang tak suka pada Kyuhyun. Entah kenapa, kali ini Lee Donghae benar-benar ingin membunuh pia itu, “Kau akan habis ditanganku.” Umpatnya saat kedua kakinya mulai mendekati Kyuhyun.

            “Hae, sudahlah! Tidak perlu seperti ini.” Yoon So berusaha membujuk kekasihnya. Ia tahu, saat ada yang memancing emosi kekasihnya, Lee Donghae pasti akan menjadi sangat mengerikan. Bahkan dia sendiri saja tidak bisa mengendalikannya.

            Donghae tidak menyahut. Ia semakin mendekati Kyuhyun yang sama sekali tidak bergerak ditempatnya. Dalam hitungan detik, Donghae sudah berhasil mencengkram kerah kemeja Kyuhyun, “Jangan pernah memandang kekasihku lagi.” Desisnya.

            Kyuhyun tertawa renyah, seperti sedang menertawakan Lee Donghae, “Apa kau tuli? Sudah kukatakan, aku tidak tertarik pada kekasihmu.” Kyuhyun membiarkan Donghae berbuat sesukanya. Sama sekali tidak melawan untuk sekarang, karena kalau saja laki-laki itu benar-benar berani menyentuhnya, Kyuhyun pasti akan sangat senang sekali. Berbuat onar adalah kegemarannya, membuat Ayahnya mengomel juga salah satu kesenangannya.

            Saat kepalan tangan Donghae sudah mengudara, sebuah suara terdengar dari belakang tubuh Kyuhyun.

            “Jangan konyol, Lee Donghae!”

            Donghae dan Kyuhyun menoleh bersamaan. Je Wo sedang berdiri santai dibelakang mereka dengan senyuman gelinya.

            “Je?” gumam Yoon So.

            Je Wo melangkah kedepan, menarik lengan Kyuhyun menjauh dari cengkraman Lee Donghae hingga Kyuhyun berdiri disampingnya. Ia melirik Kyuhyun sesaat dengan tatapan kesal sebelum kembali menatap Donghae, “Kau bisa menggunakan Laboratorium, kamar mandi, Room Privat, atau Kantor kepala sekolah kalau kau mau. Tidak harus disini, Hae.” Sungutnya.

            “Ck, kau seperti tidak tahu bagaimana Donghae saja.” cebik Yoon So. Berpura-pura mengalihkan perhatian Donghae. Ia tahu pasti, kalau sebentar lagi dirinya dan Donghae akan terlibat dalam masalah. Lee Donghae amat sangat tidak suka, jika ada yang menunjukan ketertarikan pada kekasihnya, begitu juga sebaliknya.

            “Kau tahu aku tidak suka dengan gangguan, kan?” desis Donghae.

            Je Wo mengangguk sekali, “Aku tahu, karena aku juga begitu. Tapi…” Je Wo memandangi Kyuhyun yang masih tampak tenang disampingnya. “Dia tidak tahu, dan sejujurnya dia sangat membutuhkan banyak informasi mengenai kita.”

            “Aku tidak peduli.” Umpat Donghae, suaranya masih terdengar penuh geraman. Lalu tanpa menunggu lama, tangannya segera menarik Yoon So untuk pergi bersamanya.

            Setelah kepergian Yoon So dan Donghae, Je Wo kembali memasang wajah dinginnya, “Kau memang harus banyak belajar mengenai sekelilingmu sepertinya. Jangan sekali-kali mengganggu Lee Donghae dan segala aktivitasnya, kau mengerti?”

            “Tidak,” jawab Kyuhyun santai. “Aku tidak mengganggunya. Aku hanya tidak sengaja menemukan mereka yang sedang bermesraan. Lagi pula tempat ini adalah tempat umum, jadi kau tahu, kan, siapa yang harus kau salahkan? Dan laki-laki itu, Lee Donghae, kesal padaku karena dia mengira aku menyukai kekasihnya. Cih, menggelikan.” Jelasnya. Kyuhyun menaikan sebelah alisnya memandang Je Wo. Sama sekali tidak mau disalahkan oleh gadis itu.

            “Kau sudah mengenal Lee Hyukjae, kan? Tadi aku melihat kalian bersama. Gunakan dia untuk mencari tahu apapun mengenai tempat ini beserta isinya. Jujur saja, kau seperti alien idiot yang tersesat.”

            “Aku tidak mau tahu mengenai sekolah ini beserta semua orang-orang konyol yang ada di dalamnya. Kau dan sekolahmu ini sama saja, sama-sama konyol dan menyedihkan.”

            “Apa?”

            “Kenapa? Tidak menyukai kalimatku?” Kyuhyun menyeringai. “Dengar, Shin Je Wo. Aku, bukanlah bagian dari kalian atau golonganmu. Jadi jangan mencoba menarikku kedalam golongan menjijikkan seperti itu.”

            Je Wo membuang napas kasar, “Lalu, kau ingin berada di mana? Darah campuran? Silahkan saja, aku tidak peduli. Tapi jika kau melakukannya, kau sudah sangat memperlihatkan kebodohanmu.” umpatnya.

            Kyuhyun diam sejenak, memandangi wajah Je Wo begitu intens. “Setidaknya, mereka terlihat lebih normal dibandingkan denganmu.”

____000____

“Shit, saham perusahaan Ayahku sedikit menurun. Ouh… aku tidak akan bisa menghadiri pesta malam ini.” Keluh Min Ki, disaat yang lain menikmati makan siang mereka, Min Ki malah tampak sibuk mengecat kuku-kukunya dengan warna merah muda.

            “Lalu, akan kau apakan gaun yang kau beli tadi malam?” sindir Yoon So.

            “Aku akan membuangnya! Sialan, gaun itu akan menjadi sangat tidak populer setelah malam ini terlewati.”

            Hyukjae dan Donghae tertawa geli melihat bagaimana rutukan Min Ki atas rencana mengagumkannya yang hancur karena saham ayahnya sedikit menurun. Hampir semua kalangan atas, memang akan melakukannya, bersembunyi dan mencoba menghilangkan diri sejenak saat perusahaan mereka sedang menurun. Semua itu dilakukan karena harga diri.

            Sejak tadi, Je Wo yang hanya menyandar di kursinya dengan kedua tangan terlipat didada, sama sekali tidak mau bergabung dalam percakapan mereka. Bahkan, saat Kris mengajaknya bicarapun, ia enggan untuk menyahut. Semua itu karena seseorang yang baru saja menghancurkan moodnya.

            Cho Kyuhyun benar-benar berbeda, pikirnya. Tapi perbedaan itu membuatnya terusik. Belum ada satu orangpun yang berani menghinanya seperti Kyuhyun. Ia masih ingat bagaimana binar ketajaman mata pria itu saat mengatakannya kejam. Cho Kyuhyun benar-benar serius dengan ucapannya, Je Wo dapat menangkapnya.

            Tapi, sialnya, Je Wo sungguh tidak terima. Sebagian dirinya ingin sekali menendang Kyuhyun dari sini, seperti biasanya yang sering ia lakukan pada pemberontak. Tapi, sebagian yang lain malah melarangnya. Seperti ada suara yang mengatakan jangan, kau pasti akan membutuhkannya nanti. Tapi bagaimana mungkin ia membutuhkan Kyuhyun yang jelas-jelas membencinya.

            Bibir penuh Je Wo mengatup rapat, membentuk garis tipis yang tidak mengenakkan. Ia memejamkan matanya sesaat, berusaha menahan amarahnya yang telah berkobar-kobar sejak tadi. Sungguh, ia ingin sekali menyumpal mulut Kyuhyun dengan apa saja.

            “Lee Hyukjae,” panggilnya dengan suara rendah. Kini semua orang menatapnya serentak. Masih dengan menatap lurus kedepan, Je Wo kembali bersuara. “Bantu murid baru itu mengenali tempat ini.”

            Mereka semua berpandangan tidak mengerti. Mengapa tiba-tiba Je Wo meminta Hyukjae melakukan itu? Padahal, selama ini ia tidak pernah mau merepotkan dirinya untuk mencemaskan orang lain.

            “Princess, kenapa kau ingin aku melakukannya?” tanya Hyukjae memastikan.

            Je Wo menoleh padanya, bola matanya tampak lebih menghitam, menandakan ia tidak ingin dibantah. “Lakukan saja, aku tidak mau dia kembali membuat masalah seperti tadi. Apa kau tahu dia hampir saja berkelahi dengan saudaramu?”

            “Kupikir kau tidak perlu mengungkitnya lagi, Je!” sela Yoon So dengan nada kesal. Ia sudah cukup sulit membujuk Donghae yang merajuk, dan sekarang, Je Wo malah mengungkitnya lagi.

            “Waw, apakah ada sesuatu yang terlewatkan olehku?” Kris merapatkan dirinya pada Je Wo, berbisik mesra pada gadis itu. “Bisa ceritakan padaku, Princess?”

            Yoon So merengut kesal, sementara Donghae telah meletakan garpu dan sendoknya keatas meja, lalu memandang Je Wo tajam, seperti sedang memberi peringatan. Sebenarnya, Je Wo dan Donghae sama. Sikap, ketertarikan dan emosi, mereka memiliki semua itu dengan tingkat yang sama. Tapi, bedanya, Donghae lebih dapat menahan dirinya dibandingkan Je Wo.

            Saat mereka berada di kelas satu smp. Donghae dan Je Wo sudah cukup dekat. Dan bahkan, mereka cenderung memiliki sikap penyendiri, tidak ingin bergabung bersama yang lain. Berbeda dengan Hyukjae, yang dapat mengakrabkan dirinya dengan siapapun.

            Donghae mengenal Je Wo, sebaik Je Wo mengenalnya. Tapi, tidak ada yang mengetahui hal itu selain Lee Hyukjae yang dapat menjaga rahasia. Terlebih, mereka tidak ingin Yoon So, gadis pencemburu itu menyangka hal yang aneh pada mereka. Dan lagi pula, sejak Donghae menyadari kelemahannya ada pada Je Wo, dan kelemahan Je Wo ada padanya, mereka mulai menjaga jarak.

            Mereka sepakat, untuk tidak membiarkan orang-orang tahu, hal apa yang dapat menghancurkan mereka. Karena Donghae tidak akan bisa melihat Je Wo hancur karenanya.

            Je Wo tertawa pelan, lalu tersenyum kecil pada Donghae yang masih memandangnya tajam, “Tenanglah, Hae. Kau bisa mengelupas kulitku dengan tatapanmu.” Godanya.

            Lalu mereka semua turut tertawa bersama Je Wo. Sedangkan Yoon So hampir saja melempar gelasnya pada Je Wo yang mengerling nakal padanya. Donghae membuang napas kasar, sebelum kembali melanjutkan kegiatan makannya.

            Mereka masih berada dimeja kantin khusus, yang selalu tersedia untuk mereka.

____000____

Kyuhyun menuruni satu persatu anak tangga dengan kedua mata tertutup. Ia masih mengantuk, amat sangat mengantuk, karena baru saja tertidur pukul lima pagi untuk menyelesaikan gamenya. Tapi pria ini terpaksa turun kebawah, menuju dapur untuk mengisi kerongkongannya yang kering. Meski dengan kedua mata yang bahkan tidak lagi dapat memandang apapun, ia tetap berjalan tanpa menabrak ataupun menyandung sesuatu. Karena berjalan dengan keadaan tidur, sudah biasa ia lakukan.

            Ia melangkah lima kali kedepan setelah berada diambang pintu dapur, lalu menemukan kulkas. Kyuhyun membuka kulkas itu, mengeluarkan sebotol minuman dingin, lalu menutup pintu kulkas itu dan berbalik, saat ia hampir melangkah kedepan, tubuhnya tersentak, seperti merasakan sesuatu. Cepat-cepat ia membuka matanya dan hampir terkesiap menemukan seorang wanita paruh baya, namun masih begitu cantik, tersenyum padanya dengan menyodorkan sebuah gelas.

            Kedua alis Kyuhyun mengernyit tak suka memandang wanita itu. Ia mendengus malas dan melewati wanita itu begitu saja, mengambil gelasnya sendiri.

            “Kau ingin aku menyiapkan sarapan pagi?” nada ramah itu mulai terdengar.

            Kyuhyun tidak menyahut. Yang ia lakukan hanyalah cepat-cepat meneguk minumannya, lalu pergi dari sana, meninggalkan Ibu tirinya yang hanya dapat mendesah lirih.

            Hal yang dibenci Kyuhyun dari rumah itu adalah Ibu tirinya, Choi Hye In. Sejak umurnya lima tahun, ia sudah sangat membenci wanita itu. selalu menjadi anak yang kasar setiap kali berada di dekatnya. Ketika Kyuhyun di ijinkan bersekolah di Jepang, Kyuhyun amat bersukur. Baginya, tidak berdekatan dengan wanita itu adalah surga.

            Kyuhyun sangat membenci Hye In. Tidak pernah sekalipun ia memanggil Hye In dengan sebutan Ibu. Baginya, Hye In adalah wanita jalang yang menjijikkan, hingga ia tidak mau berhubungan dengan wanita itu, bahkan dengan keluarga besarnya sekalipun. Hal itu membuat Kyuhyun kerap kali bertengkar dengan Ayahnya.

            Semua itu berawal saat Kyuhyun mengetahui, kalau ia bukanlah anak kandung Hye In. ketika umurnya hampir mencapai lima tahun, Ayah Kyuhyun membawanya menemui seorang wanita bernama Kim Ha Na, dan menyebut wanita itu sebagai Ibu kandungnya. Kyuhyun terkejut, dan sama sekali tidak mengerti.

            Hingga ia hanya dapat memandangi wanita yang sedang terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit itu dengan pandangan nanar. Semakin hari, Kyuhyun semakin ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Lalu, dari seorang pembantu rumah tangga keluarganyalah, ia mendengar kejadian yang sebenarnya.

            Kyuhyun adalah anak dari hasil hubungan singkat Ayahnya dan Hana. Hye In di diagnosa tidak bisa memiliki keturunan, sementara Ayah Hye In tidak akan mau memberikan warisannya pada siapapun selain cucunya. Hal itu membuat Hye In meminta Ayah Kyuhyun mencari seorang wanita yang mau dibayar untuk memberikan seorang anak pada mereka, anak itu haruslah memiliki darah yang sama seperti Ayah Kyuhyun.

            Keluarga Hye In sangat kaya, memiliki perusahaan penerbangan yang sedang berkembang. Dan Cho Yeung Hwan sendiri, saat bertemu dengan Hye In, ia adalah karyawan biasa di perusahaan milik mertuanya itu. Untuk menikah saja, mereka harus berjuang mati-matian. Lalu, kalau Ayah Hye In tahu ia tidak dapat memberi cucu padanya, maka entah apa yang akan terjadi pada pernikahan mereka.

            Kaena itu, Yeung Hwan mencari seorang gadis untuk ia sewa. Gadis itu adalah Ha Na, seorang gadis miskin yang sedang bekerja paruh waktu di sebuah Club Malam. Ia sangat membutuhkan uang untuk menghidupi keluarganya. Ayahnya sudah meninggal dan Ibunya sakit keras.

            Saat Yeung Hwan menawarkan rencananya, Ha Na segera menerimanya. Ia mengandung Kyuhyun selama sembilan bulan, lalu setelah melahirkan anak itu, tidak sekalipun ia dapat melihat wajah Kyuhyun. Hidup Ha Na memang mulai berubah, ia tidak lagi menjadi miskin seperti sebelumnya, karena Yeung Hwan selalu memberinya uang setiap bulan. Tapi diam-diam, Ha Na selalu menemui Kyuhyun ketika bocah itu sering bermain di taman seorang diri.

            Kyuhyun mengenalnya dengan sebutan Ibu peri, karena Ha Na selalu membawakannya begitu banyak hadian saat bertemu. Ha Na juga meminta Kyuhyun untuk tidak menceritakan mengenai pertemuan mereka pada siapapun. Dimata Kyuhyun, Ha Na dalah wanita lembut dan penuh perhatian. Ia begitu sabar menghadapi sikap Kyuhyun yang keras kepala. Berbeda dengan Hye In, yang saat itu Kyuhyun kira sebagai Ibu kandungnya. Hye In memang menyayanginya, tapi, wanita itu terlalu sibuk mengurus kehidupan sosialnya diluar sana hingga sering melupakannya.

            Hingga suatu hari, Ha Na terbaring dirumah sakit karena Kanker hatinya yang semakin memarah. Tidak ada satu orangpun yang mengetahui penyakitnya. Lalu, Ha Na memohon pada Yeung Hwan agar ia mau mengatakan pada Kyuhyun siapa dirinya. Ia ingin sekali mendengar Kyuhyun memanggilnya Ibu sebelum ia meninggal.

            Tapi, Kyuhyun yang masih terlalu terkejut dengan pernyataan Ayahnya sama sekali tidak mau mengeluarkan sepatah katapun. Ia hanya memandangi Ha Na dengan pandangan sendu saat wanita itu menangis memeluknya, menyebutnya dengan kata anakku. Pertemuan itu adalah pertemuan terakhirnya bersama Ha Na, karena seminggu setelah itu, setelah ia tahu semuanya, Ha Na telah merenggang nyawa.

            Dan yang paling menyedihkan, Yeung Hwan hanya menyuruh seorang supir untuk mengantarnya menghadiri pemakaman, membiarkannya menangis seorang diri. Kyuhyun sangat menyesal karena belum sempat memanggil Ha Na dengan sebutan Ibu. Dan semenjak itu, ia berubah. Kyuhyun menjadi pendiam, tidak ingin bicara dengan siapapun, terutama pada Hye In. penyesalannya itu ia lampiaskan pada Hye In. Sejak Ha Na meninggal, Kyuhyun bersumpah tidak akan mau menyebut Hye In sebagai Ibunya.

____000____

Seisi kolam renang sontak terdengar ricuh saat siswa laki-laki bersorak senang melihat bentuk tubuh siswi perempuan dalam balutan pakaian renang mereka. Mereka tidak memakai bikini, tapi jangan bayangkan mereka akan memakai pakaian renang biasa.

            Pada jam pelajaran berenang seperti ini adalah saatnya bagi para siswi untuk memperlihatkan lekuk tubuh mereka. Pelajaran renang akan dilakukan bersama semua siswa kelas dua, yang berasal dari golongan Darah Biru, karena untuk golongan Darah Campuran, disediakan kolam renang yang berbeda. Pakaian renang mereka tentu saja akan dirancang oleh perancang pribadi mereka masing-masing. Hampir semua siswi yang berdiri di pinggir kolam renang yang berada disebrang para siswa membusungkan dada dan bokong masing-masing. Akan sangat bangga bagi mereka mendengar pujian para siswa mengenai keseksian yang mereka miliki.

            Hyukjae mendesis sensual ketika memandang Park Chan Yeong yang juga memandangnya sembari membenarkan letak pakaiannya dibagian dada, seperti berusaha mengundang Hyukjae untuk menggantikannya melakukan itu. Donghae lebih memilih tersenyum renyah memandangi teman-temannya, karena pria itu bukanlah pria yang mudah tergoda. Baginya, hanya Soo Yoon So yang dapat menggodanya meski tanpa pakaian seksi sekalipun. Yoon So memang berada di dikelas tiga, sedangkan dia berada di kelas dua. Mereka memang pasangan yang berbeda usia, tapi apa peduli Donghae? Ia sangat mencintai gadis itu.

            Saat suara semakin ricuh dan pelatih masih sibuk memeriksa agendanya. Kyuhyun yang mulanya tertawa senang memerhatikan sekelilingnya, kini beralih memandang Je Wo yang baru saja memasuki arena kolam renang. Ia tidak memakai pakaian renang seperti yang lain, melainkan membaluti tubuhnya dengan kimono handuk sebatas paha berwarna merah muda. Rambutnya masih tergerai, dan saat ia berjalan, helaian rambutnya berserak kebelakang.

            Je Wo tidak menghampiri para siswi yang lain, ia berjalan menuju sisi kolam renang yang kosong. Disana, sudah tersedia sebuah kursi santai yang nyaman berserta meja kecil disampingnya. Je Wo merebahkan dirinya disana, menyandarkan tubuhnya dan melipat kedua kakinya hingga bagian pahanya sedikit terekspos.

            Kini, sorakan itu bukan lagi untuk para siswi yang sibuk memamerkan tubuh mereka, melainkan pada Je Wo yang duduk dengan angkuh dan seksi. Gadis itu tidak berekspresi, tapi sungguh, dengan wajah acuhnya itu saja, dia sudah terlalu memesona.

            “Ck, seandainya Je Wo mau memakai pakaian renang seperti yang lain. Aku pasti akan membawa kameraku.”

            “Bukankah lebih baik dia memakai bikini saja?”

            “Benar, dia pasti akan terlihat lebih seksi.”

            “Aku sering membayangkannya memakai bikini.”

            Telinga Kyuhyun seperti berdengung keras saat beberapa pria disampingnya sibuk membicarakan mengenai gadis itu. Ia menyipitkan kedua matanya memandang Je Wo, seperti ingin meneriaki gadis itu untuk segera menutup paha mulusnya sebelum semua pria-pria itu mulai berpikir semakin jauh.

            Belum lagi Kyuhyun selesai dengan kekesalannya, ia sudah melihat Kris menghampiri gadis itu. Kedua mata Kyuhyun memandang awas, ia bisa melihat Je Wo tersenyum menggoda pada pria itu, lalu menggerakkan telunjuknya agar Kris mendekat. Kris menunduk kecil mendekati wajahnya, lalu saat itu juga lengan Je Wo mengalungi lehernya, dan suara riuh kembali terdengar saat mereka mulai berciuman.

            Kyuhyun mendesis jengah, lalu melirik Hyukjae yang tersenyum lebar padanya. Hyukjae menghampirinya dan berbisik, “Hal seperti itu akan selalu kau lihat setiap jam pelajaran renang.” Ia menambahkan tawa gelinya.

            “Tapi, kenapa Je Wo memakai pakaian seperti itu dan tidak bergabung bersama yang lain?”

            “Je Wo memang selalu seperti itu. Dia tidak mau menyentuh air yang sama dengan orang lain.”

            Kyuhyun berjengit aneh, “Dan sekolah ini membiarkannya?” tanyanya tak percaya.

            Hyukjae kembali tertawa. “Sekolah ini, beserta isinya, selalu tunduk dengan perintahnya, Kyu. Je Wo adalah segalnya.”

            “Shit, sama sekali tidak masuk akal.”

            Suara peluit pelatih mulai terdengar, menandakan semua murid harus bersiap-siap. Sepanjang pelajaran, Kyuhyun cukup kagum pada semua orang. Bahkan, menurutnya, pelajaran ini tidak perlu ada karena melihat semua murid yang begitu menguasai materi yang diberikan. Bahkan, pelajaran itu terkesan bermain-main dan hanya untuk bersantai.

            Dan Kyuhyun tidak sekalipun melepas pandangannya dari Je Wo yang masih duduk ditempatnya. Terkadang ia tertawa kecil melihat tingkah lucu beberapa temannya, lalu menguap bosan, melamun dan memandang sekitarnya dengan wajah datar. Kalau seperti itu, dia terlihat seperti gadis biasa, batin Kyuhyun.

            Tapi, Kyuhyun masih merasa aneh dengan keengganan Je Wo untuk mengikuti pelajaran ini. Dan Kyuhyun yakin sekali kalau ada sesuatu yang pasti membuat Je Wo tidak mau menyentuh kolam renang itu.

            Selesai pelajaran, mereka semua mulai meninggalkan tempat itu. Begitu juga dengan Kyuhyun, leher pria itu dilingkari oleh handuk kecil berwarna putih. Ia berjalan menuju lift seorang diri karena beberapa siswa yang lain entah sudah pergi kemana. Tapi, langkahnya terhenti di ujung belokan koridor saat melihat Je Wo dan Donghae mengobrol dengan wajah serius di depan lift.

            “Ayolah, Hae. Hanya kau yang bisa membantuku.”

            Donghae menggeleng tegas dengan wajah marah, “Kau tidak perlu melakukannya. Apa lagi hanya karena ingin bersenang-senang.” Ujarnya.

            “Tapi aku tidak suka hanya duduk diam seperti itu.”

            “Dan hal itu lebih baik dari pada kau mengalami kejadian yang sama seperti waktu itu!” bentak Donghae.

            Kejadian yang sama? Batin Kyuhyun. Ia masih bersembunyi dibalik dinding, tapi telinganya tidak berhenti mendengarkan pembicaraan mereka berdua.

            “Aku akan baik-baik saja! Saat itu kita masih kecil dan semua itu salahku. Aku yang tidak mendengar perintahmu untuk tidak belajar berenang sendirian.”

            “Kenapa kau tidak mengerti juga, Shin Je Wo?!”

            “Karena kau tidak pernah menjelaskannya padaku!”

            Donghae dan Je Wo saling bertatap sengit. Napas mereka memburu dan seperti ingin saling menerkam saat itu juga. Tapi alih-alih melakukannya, Donghae malah meremas rambutnya frustasi.

            “Demi Tuhan, aku akan membunuh diriku sendiri kalau hal itu terulang lagi,” racaunya. “Kau tahu bagaimana rasanya melihatmu terbaring lemah seperti saat itu, sedangkan aku tidak dapat melakukan apapun?! Sialan kau!”

            Pandangan Je Wo menyendu padanya. “Sudah kukatakan itu bukan salahmu. Aku yang bersalah, aku yang_

            “Tapi aku yang membuatmu tertarik untuk bisa berenang. Lalu membiarkanmu melakukannya sendirian, sampai aku tidak tahu kau hampir merenggang nyawa di dalam kolam renang itu selama dua jam. Kau hampir mati, Je! Dan semua itu salahku!”

            “Itu bukan salahmu, Hae,” desak Je Wo dengan suara parau, “Sudah kukatakan itu bukan salahmu,” Je Wo menatap kedalam manik mata Donghae. “Kau sudah menghukumku, kan? Kita sudah saling menjauh. Tapi kenapa kau masih marah padaku?”

            Donghae memalingkan wajahnya, “Aku tidak marah padamu.” Gumamnya dengan suara rendahnya.

            “Kalau begitu sanggupi permintaanku.”

            “Lebih baik kau mencari orang lain yang dapat membantumu. Akan lebih baik  bagiku melihatmu mati karena orang lain.” Lalu pintu lift itu terbuka, dan Donghae melangkah masuk, sama sekali tidak memandang Je Wo hingga pintu lift itu kembali tertutup.

            Kyuhyun memandangi punggung Je Wo yang terbungkuk lesu. Kini ia mengerti, mengapa Je Wo tidak mau ikut mengikuti pelaran berenang seperti yang lain. Itu karena dia tidak bisa berenang. Dan sekarang, Kyuhyun juga mulai mengetahui, ada sesuatu yang terjadi diantara Donghae dan Je Wo. Sesuatu yang tidak diketahui semua orang, karena Kyuhyun hanya dapat melihatnya, saat mereka berdua bertatapan seperti tadi.

            Pintu lift kembali terbuka, Je Wo melangkah masuk kedalam, membuat Kyuhyun terburu-buru mengejarnya. Dan saat pintu itu hampir tertutup, Kyuhyun cepat-cepat menekan tombol lift itu hingga kembali terbuka. Kedua matanya bertemu pandang dengan kedua mata Je Wo yang sedikit melebar.

            Kyuhyun segera masuk, berdiri disamping Je Wo dan pintu lift itu kembali tertutup.

            Untuk sesaat, tidak ada pembicaraan apapun yang terjadi. Je Wo membungkam bibirnya rapat, sedangkan Kyuhyun memandangi angka demi angka yang berganti diatas pintu lift. Dan saat angka itu mencapai lantai kelima, pintu lift kembali terbuka. Je Wo bergerak keluar, dan Kyuhyun memandang punggungnya lagi.

            “Aku bisa mengajarimu berenang kalau kau mau.” Ujar Kyuhyun.

            Dan tubuh Je Wo sontak berbalik memandangnya. Kedua matanya membelalak lebar, wajahnya memucat. Tapi Kyuhyun malah menyunggingkan senyum simpulnya, lalu pintu lift kembali tertutup.

____000____

Je Wo berjalan ringan menuju kelasnya. Tangannya terbelenggu dalam saku seragamnya. Seperti biasa, pinggul gadis ini berkelok-kelok seksi setiap kali berjalan. Shin Je Wo selalu berjalan tanpa menghiraukan orang-orang di sekelilingnya, menganggap mereka semua tidak ada.

            Seperti saat ini, ia sama sekali tidak menganggap keberadaan Shin Seo Kyung yang sedang berpapasan dengannya, bahkan ketika gadis itu menyapanya, bibirnya menipis ketat.

            “A-annyeong, Eonni.” Suara gadis itu bergetar meski berusaha keras terdengar manis dan ramah.

            Je Wo menghentikan langkahnya, mereka berdiri sejajar. Seo Kyung berdiri menghadapnya, sementara ia hanya membiarkan bahunya yang bertemu pandang dengan gadis itu. Sudut bibir Je Wo terangkat ngeri ketika ia mendengus kasar.

            “Jangan menyapaku, Mix Blood. Karena aku tahu apa yang kau lakukan di belakangku. Dan jangan lagi muncul dihadapanku, wajahmu membuatku mual, sialan.”

            Tanpa mau bersusah payah memandang Seo Kyung yang tercengang dan bercampur marah, Je Wo melanjutkan lagi langkahnya. Meninggalkan Shin Seo Kyung yang mengepalkan kedua tangannya erat dan gemetar.

____000____

Yoon So mendesis pelan saat kedua tangannya semakin kuat memijat dahi Donghae. Kepala pria itu berada diatas pangkuannya, dan ia meminta Yoon So untuk memijat dahinya. Donghae memilih menghabiskan malam ini dirumah Yoon So, ia sudah membawa perlengkapan sekolanya agar besok, mereka bisa pergi bersama.

            Hal seperti itu memang sering mereka lakukan. Kedua orang tua Yoon So teramat jarang berada di Korea, memudahkan pria itu untuk sering-sering menemani kekasihnya. Dan lagi pula, Yoon So memang sudah menjadi miliknya sejak gadis itu menyerahkan keperawanannya pada Donghae. Mereka bukan hanya melibatkan kesenangan dalam hubungan mereka, tapi juga melibatkan hati dan perasaan.

            Donghae sangat mencintai Yoon So, begitu pula sebaliknya. Sejak ia memiliki gadis itu, ia kembali menjadi pria posesif setelah berhenti melakukannya sejak menjaga jarak dengan Je Wo. Yoon So dapat mengisi kekosongan hatinya dengan segala tingkah genit dan centilnya.

            “Hae…” rengek Yoon So manja. “Aku lelah memijati dahimu terus.”

            Donghae yang tadinya memejamkan mata, mulai membuka matanya. Ia tersenyum simpul melihat wajah Yoon So yang merengut, “Lalu kau ingin kita melakukan apa?” godanya.

            Yoon So memandangnya nakal, kedua matanya berbinar setiap kali pria itu mulai menggodanya, “Aku baru saja membeli lingeri dengan model terbaru. Kau mau melihatku memakainya?” Yoon So sudah bersiap-siap untuk meloncat dari atas ranjang dan mengenakan lingerinya. Tapi sayangnya, Donghae menarik lengannya, menghempaskan tubuh Yoon So keatas ranjang, lalu merangkak menaiki tubuhnya.

            Yoon So mengerjap beberapa kali.

            “Tidak perlu sekarang,” bisik Donghae. Ia membelai wajah Yoon So lembut, memandnag kekasihnya dengan pandangan memuja. “Hari ini… aku merasa lelah sekali.”

            “Kenapa?” bisik Yoon So. Lengannya sudah mengalung di leher Donghae, menyisiri rambut tebal pria itu dengan jemarinya.

            “Tidak apa-apa, hanya merasa lelah saja.” Donghae menyecahkan wajahnya tepat diatas dada Yoon So. Kembali memejamkan matanya untuk menenangkan kepalanya yang terasa ingin pecah karena percakapannya dan Je Wo tadi siang.

            Sungguh, Donghae menyesal telah mengatakan kalimat terakhir itu pada Je Wo. Dan benar-benar cemas kalau gadis itu benar-benar melakukan apa yang diperintahkannya. Mencari orang lain untuk mengajarinya berenang, sementara ia masih memiliki rasa takut yang begitu besar terhadap kolam renang.

            Je Wo memang pintar menutupi perasaannya sehingga tidak ada satu orangpun yang tahu mengenai hal itu. Dia bukan hanya tidak bisa berenang, tapi juga masih sangat takut. Bisa Donghae bayangkan bagaimana jadinya Je Wo kalau ia kembali menyentuh kolam renang, tanpa ada Donghae yang memantaunya.

            “Lalu… kau ingin aku melakukan apa?”

            Donghae menarik napas panjangnya, “Tidak ada, cukup tetap berada disisiku dan memelukku.” Gumamnya.

            Yoon So terkikik pelan, “Kalau itu memang sudah menjadi tugasku.” Desahnya.

____000____

Je Wo memandangi pesan masuk di ponselnya dengan wajah marah. Baru saja ia duduk di kursinya dan pesan masuk itu sudah menyulut amarahnya.

            Hei, gadis sialan.

            Kau begitu sangat memalukan.

            Aku memiliki sesuatu untukmu.

            Kau pasti senang mengetahuinya.

            Pergi kekolam renang dan temukan.

            Looser!

            Shin Je Wo sangat tidak menyukai ada orang yang meremehkannya. Ia meremas ponselnya kuat, lalu berdiri tegak dan pergi meninggalkan kelasnya diiringi tatapan aneh beberapa temannya. Gadis ini berjalan dengan wajah memerah menahan emosi. Sudah sangat siap meluapkannya pada si pengirim pesan itu.

            Langkahnya sangat terburu-buru. Ia juga mengusir murid-murid yang ingin menaiki lift saat ia masuk kesana. Dadanya bergemuruh kencang, dan kedua tangannya terkepal kuat.

            Je Wo seperti sangat tidak sabar untuk segera sampai kekolam renang. Dan napasnya memburu semakin cepat setelah kedua kakinya memasuki tempat itu. Bibirnya yang tadi terkatup rapat, kini sedikit ternganga setelah melihat sesuatu yang berada di tengah-tengah kolam renang.

            Ada sebuah papan persegi panjang yang berdiri tegak ditengah-tengah kolam. Papan itu berisikan foto-foto yang mengerikan. Je Wo tahu itu semua adalah hasil editan, tapi melihat semua foto itu adalah dirinya, membuat darahnya mendidih.

            Foto-foto itu terlalu vulgar dan rendah. Itu bukan dirinya, dia sama sekali tidak pernah melakukannya. Tangannya semakin mengepal kuat, ia melirik sekelilingnya untuk mencari sesuatu yang dapat membawa papan itu mendekat padanya. Je Wo tidak bisa masuk kedalam kolam renang itu untuk mengambilnya, apa lagi meminta bantuan orang lain dan membiarkannya melihat ia di permalukan.

            Saat kedua mata Je Wo menangkap sebuah kayu panjang di sisi kolam renang yang berada lurus didepannya. Tanpa berpikir panjang, ia berjalan cepat mendekatinya. Hingga tanpa ia sadari, ketika ia hampir mencapai kayu panjang itu, sebelah kakinya menginjak sebuah sabun. Membuat tubuhnya terhuyung kedepan dan menceburkan dirinya sendiri kedalam kolam renang itu.

            Je Wo tidak bisa bernapas, tangannya menggapai-gapai keudara. Tubuhnya sudah siap untuk tenggelam, tapi ia berusaha untuk kembali kepermukaan. Dan saat itu juga, ingatan Je Wo beberapa tahun yang lalu kembali berpendar dalam kepalanya. Semuanya persis seperti ini. Ketika ia ingin berteriak tetapi tidak bisa, ketika tidak satupun ada yang dapat menyelamatkannya.

            Jangan, jangan lagi. Lee Donghae… tolong aku, tolong aku.

TBC

226 thoughts on “Perfect Princess – Black and White

  1. pesannya dari anggota mix blood ya..
    jadi inget the heirs waktu baca nih ff..
    sama2 keren..
    kasihan je wo, siapa yang nolongin dia?..
    kyu ato donghae?..
    sebenernya pa yang terjadi pada masa lalu je wo ma donghae?..
    bener2 bikin penasaran..
    salut ma authornya..

  2. Kelihatannya Kyuhyun tertarik sama Je Wo, dilihat dari tingkah lakunya yang selalu mengamati Je Wo setiap saat..
    Jadi itu alasannya Kyuhyun pindah sekolah di Korea. Ternyata dia siswa yang nakal. Tapi itu semua dilakukannya untuk menarik perhatian appa.nya.. Kasihan juga sih, kehidupannya tidak sempurna dengan pikiran orang lain. Dia tidak bahagia hidup di dalam keluarganya..

    Jadi Je Wo bukan nggak mau berenang ditempat yg sma dengan orang lain. Tapi karena dia memiliki trauma dengan kolam renang. Dan Kyuhyun pintar membaca situasi, kalau Je Wo pasti memiliki alasan lain tidak mau berenang..
    Siapa yg mencelakai Je Wo? Kyuhyun kah? Kan tidak ada yg tau kalau Je Wo tidak bisa berenang kecuali Donghae dn Kyuhyun. Tapi nggak mungkin juga mereka berdua yg mencelakai.nya kan.. Dari mix blood kah? Soal.nya banyak juga yg nggak suka sama Je Wo..

  3. Woahhhhh gatau mesti komen apaan yg jelas daebakk banget kak👍👍
    Ternyata je wo punya trauma sama kolam renang dan hubungannya sama donghae dulu kira2 apaan? Penasaran banget.

  4. Waa, karakternya Je wo kasar banget ya, frontal juga. Tpi itu sih yg bikin ceritaya menarik, dan Kyuhyun hebat ya bisa ngelawan Je wo. Dn kayaknya juga ada rahasia2 kecil yg belum terungkap

  5. Siapa yg mnjebak je,ayoo tlong donghae / kyu kahhh,smga aja kyu
    apa ad yg tau msa llu je selain kyu kah.huftt siap ya
    kshn jga msa llu kyu,Bru mngetahui ibu kndunya,dn stlhnya di tinggal untuk slma lmanya.
    Kyu prnh brtmu je wktu msih kcil kahh,

  6. wah ada satu rahasia ternyata antara Dong Hae sma Je Wo.,
    siapa yang berani ngjebak Je Wo…aq kra yg ngrim psan itu Kyu Hyun yg mao ngjrin Je Wo berenang….

  7. huweee ternyata itu sebabnya kyu bersifat kayak gitu :3 aigooo kasian banget uri kyunnie :v aishh apa donghae pernah suka sama je wo.? terus itu siapa lagi yg ngejebak dia -_- ayolahhh kyu tolongin dia sekarang :v

  8. Huaaaaaa….
    Kenapa ff ini bisa keren begini?? Berasa liat drama korea deh,..kkk
    Kyuhyun itu emang dari darah biru tapi dia juga berbaur dengan darah campuran, mungkin karena itu dia punya warna abu”,
    Kyuhyun dan je wo, mereka berdua saling merasa kalau pernah ketemu, dan mau gak mau mereka sbenernya saling tertarik kyak ada magnet gitu,
    Apakah dimasa lalu hubungan antara jewo dan donghae lebih dari sekedar teman?
    Satu fakta lagi bahwa ternyta ada kelemahan dari sang princess, dugaan aku yg kirim sms itu udah pasti golongan mix blood kan?
    Firasat aku juga bilang kalau kyuhyun bkalan datang nyelametin jewo, karena kyuhyun itu selalu muter” disekitar jewo, sengaja atau egak sengaja….wkwk

    Baca next part dulu kak,

  9. wih itu bener sekolah? buset waw banget
    dibeberapa ff biasanya kyuhyun yg punya sifat dingin trs bad tp di ff ini si cwe yg punya sifat dingin trs bad
    jewo si dingin dan penindas

  10. Knp ya hae gamau ngajarin jewo renang… ada yang mau celakain jewo.. kyuhyun cepat datang… biasanya di ff ff lainnya kyuhyun yang dingin cuek ini kebalikannya… bedaaaa bagussss pokoknya

  11. ya ampun… aku muak banget sama “kaum tersesat yang malang” mereka bener bener munafik. trus itu siapa yang ngirim pesan ke je wo apa mereka salah satu dari “kaum tersesat yang malang”? tapi kayaknya bukan sih… mereka gx bakal sebrani itu sma je wo. mereka kan.. braninya cuma ngomongin di belakang je wo. Ada hubungan apa kyuhyun sama je wo di masa lalu? kenapa kyuhyun merasa je wo penting baginya??? okeh cukup sekian dulu. kayaknya aku banyak nanya dech…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s