IT’S MY FAMILY 10

its

Hyukjae melirik garang Cho Kyuhyun yang tampak tersenyum lebar, kejadiaan beberapa saat yang lalu terasa memalukan baginya. Terkecoh oleh ulah keluarganya sendiri hingga ia harus berbuat hal sekonyol itu. Sementara Eunmi sama sekali tidak dapat mengangkat wajahnya untuk sekedar membalas tatapan berbinar dari orang-orang di hadapannya.

            “Kyuhyun-ah, tanggal berapa ini? Kita harus menandai tanggal ini sebagai hari besar keluarga kita.” ujar Donghae memanas-manasi.

            “Ah.. kau benar, Hyung.” timpal Kyuhyun tertawa puas.

            “Puas sekali kau tertawa, Cho Kyuhyun.” desis Hyukjae.

            Seechul bahkan sama sekali tidak dapat berhenti tersenyum lebar, pikirannya mulai menjelajah entah kemana untuk mempersiapkan pernikahan Hyukjae dan Eunmi. “Jadi, aku rasa kita sudah bisa mempersiapkan pernikahannya.” gumamnya.

            “Mwo?” pekik Hyukjae dan Eunmi bersamaan.

            Seechul mengangguk mantap, melipat kedua tangannya di depan dada. “Putra pertama keluarga Lee akan segera menikah, ini pasti akan menjadi berita yang menghebohkan,” sambungnya dengan wajah berbinar, “Yeobo-ya, kau harus mengundang semua rekan bisnismu. Kita harus memperkenalkan menantu kita pada mereka.”

            “Itu pasti, chagi.” jawab Hangeng.

            “Omma..” geram Hyukjae, “Tidak bisakah kau bertanya dulu padaku? Kenapa kau memutuskannya sendirian, hah? Yang mau menikah itu kau atau aku?”

            “Apa lagi yang harus aku tanyakan? Bukankah semuanya sudah jelas? Kau bahkan baru saja menyatakan perasaanmu pada Eunmi, itu sudah sangat cukup. Karena dalam pernikahan itu hanya di butuhkan cinta.” papar Seechul panjang lebar yang sebenarnya hanya bertujuan satu hal. Putranya harus segera menikah.

            “Tapi, bukankah Eunmi Noona belum mengatakan kalau dia mencintai Hyukjae Hyung, Omma.” ujar Kyuhyun.

            Susana mendadak hening seketika, selalu dan selalu Cho Kyuhyun berhasil membuat keadaan tidak nyaman dengan mulut tajamnya. Namun pria itu benar, sedari tadi Eunmi sama sekali tidak bersuara. Hyukjae melirik gadis itu dari sudut matanya, Eunmi tampak tak nyaman dengan keadaan disekitarnya, bergerak-gerak gelisah dengan kedua tangan yang saling meremas.

            “A-aku..” gumam Eunmi gugup.

            “Heish,” desis Hyukjae, “Hari ini aku benar-benar hampir gila karena ulah kalian. Ini sudah malam, sebaiknya pembicaraan ini besok saja dilanjutkan. Aku juga ingin istirahat.” Pria itu berdiri dari duduknya dan segera melangkah pergi, membuat Eunmi menatap dirinya bingung.

            “Yah, ini belum selesai Lee Hyukjae!!” teriak Seechul.

            “Besok saja Omma, menikah itu bukan hal yang mudah. Kau harus mempertimbangkan perasaan kedua belah pihak.” ujarnya yang telah menaiki tangga tanpa menoleh kebelakang.

            Semua orang mengangakan mulut masing-masing mendengar jawaban Lee Hyukjae. Merasa aneh dengan ucapan pria itu. “Apa kepalanya terbentur sesuatu?” gumam Nara, “Kenapa tiba-tiba ucapannya begitu bijaksana?”

            Donghae dan Kyuhyun mengangguk setuju, “Aneh sekali…” gumam mereka bersamaan.

            “Bukan aneh,” seru Hangeng pada ketiga anaknya. Eunmi, Hyeri dan Seechul menoleh padanya. “Dia sedang menjalani proses pendewasaan dirinya,” Lelaki itu tersenyum bangga menatap punggung Hyukjae. “Lagi pula,” Hangeng menatap Eunmi dengan senyuman kecil. “Dia sedang menunggu jawabanmu. Pria itu tidak akan memaksakan kehendaknya begitu saja menikahimu kalau kau tidak mencintainya.”

Wajah Eunmi kembali memerah.

            “Ah.. jadi begitu,” gumam Donghae mengerti. “Aigo~ ternyata dia sudah dewasa.” sambungnya tersenyum senang.

            Kyuhyun memicingkan kedua matanya pada Donghae, kemudian melirik Hyeri yang terseyum kecil menatap Donghae. “Benar, lalu…” pancing Kyuhyun, ia mengambil posisi berada ditengah-tengah Donghae dan Hyeri. Merangkul pundak keduanya, “Kapan kalian akan segera menyusul? Bersikaplah dewasa seperti Lee Hyukjae itu, cepat nyatakan perasaan masing-masing.” ucap Kyuhyun seakan menasehati.

            Sontak tawa kuat terdengar disana, hanya Donghae dan Hyeri saja yang tampak kikuk.

***

“Dia sedang menunggu jawabanmu. Pria itu tidak akan memaksakan kehendaknya begitu saja menikahimu kalau kau tidak mencintainya.

            Eunmi menggigit kuku ibu jarinya gusar, ucapan Hangeng padanya sukses membuat gadis itu merasa bingung. Lee Hyukjae sedang menunggu jawabannya. Ya, dia memang belum menyatakan perasaannya pada pria itu, mengingat kejadian romantis itu segera terhenti dengan suara teriakan Kyuhyun sebelum ia sempat menjawab.

            “Bagaimana ini?” gumamnya cemas.

            Pikirannya kembali teringat wajah Hyukjae ketika menyatakan perasaan padanya. Begitu hangat dan penuh cinta. Namun ada aura berbeda ketika ia mendengar Hyukjae mengatakan Besok saja Omma, menikah itu bukan hal yang mudah. Kau harus mempertimbangkan perasaan kedua belah pihak.

            “Apa dia pikir aku tidak mencintainya?” gumam Eunmi lagi. Ia mengacak rambutnya gusar, benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Kedua kakinya bergerak kesana kemari mengelilingi kamar. “Kupikir aku harus bicara dengannya.”

Eunmi bergegas mendatangi kamar Hyukjae, mengetuk pintu kamar Hyukjae dengan ragu. InSaat ini sudah pukul dua sebelas malam dan ia tiba-tiba merasa jika saat ini bukan waktu yang tepat untuk datang kekamar pria itu. Eunmi menghembuskan napas gusar sebelum berbalik, berniat kembali kekamarnya.

            “Ada apa?”

            Tubuhnya menegang ketika suara lembut Hyukjae terdengar di belakangnya. Ia memutar tubuhnya agar menghadap pada pria itu. Hyukjae hanya mengenakan piama tidur, sama seperti dirinya. “Eo? I-itu..” Eunmi meneguk ludah beratnya, tidak mungkin aku mengelak lagi. Batinnya. “Apa kau ada waktu? Ada yang mau kukatakan.”

            Hyukjae mengangguk, lalu membuka lebar pintu kamarnya dan mempersilahkan Eunmi masuk. Eunmi dan Hyukjae duduk berdampingan di pinggir ranjang milik Hyukjae. Tidak saling bicara satu sama lain, bahkan keduanya duduk dengan kikuk. Hyukjae lebih memilih menatap langit-langit kamar meskipun disana sama sekali tidak ada yang menarik. Sedangkan Eunmi hanya menatap ujung-ujung jemarinya yang tampak memucat.

            “Kau masih lama berdiam diri? Aku sudah mengantuk.” Tanya Hyukjae mencoba mencairkan suasana dengan leluconnya.

            “Eo?” Eunmi tersentak, menatap wajah Hyukjae gugup. “K-kau sudah mengantuk? Ah.. kalau begitu aku.. kembali kekamar saja.” jawabnya gugup, ia berniat beranjak namun Hyukjae manahan pergelangan tangannya, membuat Eunmi kembali terduduk disampingnya.

            “Kau bilang ingin mengatakan sesuatu, apa itu?”

            “Tapi bukankah kau mengantuk? Lain kali saja aku katakan.”

            Hyukjae mendesis pelan padanya, “Yah, kau ingin membuat aku mati penasaran?” teriaknya. “Cepat katakan.”

            Eunmi mengerjap pelan, teriakan Hyukjae cukup ampuh menghilangkan sedikit kegugupannya. Aneh memang, bukankah selama ini mereka memang selalu berinteraksi dengan cara mencela satu sama lain? “Itu..apa kau. Eum.. apa kau serius dengan perkataanmu?” tanya Eunmi, ia menatap Hyukjae dengan serius.

            “Perkataan? Yang mana?” tanya Hyukjae dengan wajah polosnya.

            Eunmi berdecak kesal, “Tidak usah berpura-pura, aku yakin kau tahu maksudku.” seru Eunmi.

            “Tidak, aku tidak tahu. Memangnya apa yang kukatakan?” balas Hyukjae lagi, wajahnya benar-benar tampak polos meskipun Eunmi tahu jika ia sengaja melakukannya.

            Kim Eunmi mengerang tertahan, “Yasudah, lupakan saja kalau kau tidak tahu.” bentaknya kesal dan kembali berniat pergi. Namun lagi-lagi Hyukjae menarik pergelangan tangannya dengan kuat hingga tubuh gadis itu mendarat sempurna di atas pangkuannya. “Hmp!” pekiknya tertahan. Wajahnya merona merah, kedua matanya mengerjap aneh. Terlebih saat mendapati wajah Hyukjae yang begitu dekat dengan wajahnya. Sontak ia kembali mengingat ciuman panas Lee Hyukjae beberapa jam yang lalu padanya.

            “Aku tahu,” bisik Hyukjae di telinganya, deru nafas Hyukjae menyapu daun telinga gadis itu. Hyukjae menarik wajah Eunmi agar berhadapan dengannya. “Aku serius mencintaimu, Kim Eunmi. Belum pernah aku memiliki perasaan ingin memiliki terhadap seseorang sebesar ini sebelumnya. Aku bahkan tidak pernah semarah itu pada Dongsaengku sendiri karena melihatnya mendekati seorang gadis yang aku sukai.”

            Jantung Eunmi berdebar keras, bahkan perutnya terasa kram entah mengapa. Ucapan Hyukjae terdengar begitu lembut seperti alunan lagu. Wajah pria itu teramat dekat dengannya, memaksa kedua matanya berfokus pada bibir tipis pria itu dan entah kenapa, saat ini, bibir itu terlihat begitu memesona.

            Tangan pria itu telah melingkari tubuhnya, melingkar dengan sikap posesif. “Tapi jika kau tidak_”

            “Aku juga.” Potong Eunmi.

            Hyukjae mengerutkan dahinya, alisnya melengkung keatas. “Juga apa?” tanya pria itu bingung.

            “Eung?” gumam Eunmi semakin gugup. Wajah Hyukjae jelas menunjukkan ketidak tahuan, kali ini sepertinya kebodohan pria itu kembali. “Ju-juga…” Eunmi memutar kedua bola matanya, mencari-cari kalimat apa yang tepat ia ucapkan.

            “Yah, juga apa?” desak Hyukjae tak sabar.

            “Begini, Lee Hyukjae. Aku, belum siap jika harus menikah secepat ini. Maksudku, kau tahu bukan, jika aku masih harus menyelesaikan tahun terakhirku. Jadi aku masih ingin menyelesaikannya terlebih dulu sebelum kita menikah.”

            “Memangnya aku sudah mengajakmu menikah?” tanya Hyukjae.

            “Mwo?”

            “Heish, kau bodoh. Yang terlalu sibuk mengucapkan kata pernikahan itu Omma, bukan aku. Lagi pula aku tahu kau belum siap untuk menikah, sama seperti aku.”

            Eunmi menghembuskan napas lega, menyeka keringat dingin pada dahinya menggunakan punggung tangannya. Seulas senyum lega terukir pada bibirnya. Hyukjae tersenyum simpul melihatnya, “Jadi, kau datang malam-malam ke kamarku hanya untuk mengatakan itu? Tidak ada yang lain?” Hyukjae menarik tubuh Eunmi lebih erat agar merapat pada tubuhnya.

            “Yang lain?” gumam Eunmi, Hyukjae mengangguk.

            Ah, benar! Aku kesini untuk mengatakan kalau aku…

            “Misalnya..” Hyukjae mendekatkan wajahnya pada telinga Eunmi yang semakin memerah menahan malu. “Nado saranghae, Lee Hyukjae.” Bisiknya pelan dan berhasil membuat roma gadis itu bergedik.

            Eunmi menggigit bibir bawahnya, tenggorokannya seakan tercekat. Untuk pertama kali dalam hidupnya ada seorang pria yang menyatakan cinta padanya dan jika ia menjawab ya, maka pria itu akan menjadi satu-satunya pria yang menerima cintanya.

            “Eunmi-ya…” panggil Hyukjae.

            Eunmi memutar wajahnya kesamping, menemukan raut wajah menunggu dari seorang Lee Hyukjae. Ia mencoba tersenyum kecil meskipun bibirnya terasa kaku, kepalanya mengangguk pelan sebagai jawaban.

            Lee Hyukjae tersenyum cerah, namun dirinya masih merasa kurang dengan anggukan itu. “Apa?” desaknya lagi.

            “Ya, aku juga mencintaimu.”

            Le Hyukjae tertawa senang, kedua lengannya menarik Eunmi masuk kedalam pelukanya. Bibir gadis itu yang menyentuh lekukan lehernya terasa bergerak, ia yakin Eunmi juga tengah tersenyum. Hyukjae mengecup puncak kepala Eunmi dengan sayang, tak henti-hentinya tersenyum senang. Malam ini begitu banyak kejutan yang ia alami setelah beberapa hari belakangan ini, ia harus dibuat frustasi oleh keluargnya sendiri.

            “Kim Eunmi.”

            “Hm?”

            “Malama ini kau tidur disini saja.”

            Eunmi mendorong tubuh Hyukjae kaget, “Mwo?” kedua matanya melebar cemas.

            “Hanya tidur, oke?” jelas Hyukjae yang mengerti tatapan Eunmi.

            “Aku tidak yakin kalau kita hanya akan tidur.” ucapnya penuh penekanan.

            “Tidak, kita memang hanya tidur.”

            “Aku bisa tidur dikamarku.”

            “Tapi aku sedang ingin memelukmu sepanjang malam.”

            Eunmi yakin jika wajahnya sudah tak lagi berwarna seperti biasanya. Ia hanya dapat memalingkan wajahnya malu. Monyet mesum sialan makinya.

***

TINNNNNN

TINNNNNN

TINNNNNN

Aku berlari mendekati jendela kamarku dan mengintip dari celah gorden, ada sebuah mobil sport berwarna hitam yang terparkir sempurna dihalaman rumahku. “Mobil siapa itu? Kenapa menekan klakson seperti orang gila?” telingaku benar-benar sakit mendengarnya.

Kusambar ponsel dan tas ranselku, kemudian berlari tergesa-gesa menuruni anak tangga. Siapapun pemilik mobil mewah itu, akan kupastikan dia segera pergi dari rumahku. Aku menuruni tangga dengan cepat. Saat melewati ruang makan, aku sama sekali tidak dapat menemukan Omma dan Appa. Suara berisik itu masih saja tidak mau berhenti, kupercepat langkahku menuju pintu rumah. Dan diluar, aku menemukan Omma dan Appa yang menatap kesal pada mobil itu.

“Appa, mobil siapa itu?” tanyaku setelah menghampiri mereka.

“Tidak tahu, sialan sekali orang itu. Sejak tadi aku sudah meneriakinya tapi dia tidak mau berhenti, aku rasa sebaiknya aku menghajarnya langsung.” Appa sudah siap-siap ingin melangkah namun segera kutahan, bisa-bisa mobil mewah itu akan tak berbentuk lagi jika Appa mendekatinya.

“Biar aku saja, Appa.” selaku.

Aku melangkah cepat mendekati mobil itu, ingin sekali aku mengeluarkan penggaris besi dari dalam tasku dan menggoreskannya pada mobil mulus ini. Kuketuk beberapa kali jendela kaca mobil itu setelah aku menghampirinya, “Cheogio! Yah, berhenti menekan klaksonmu seperti orang gila!” teriakku. Setelah beberapa kali ketukan, suara berisik itu tak terdengar lagi. Aku memfokuskan pengelihatanku pada jendela kaca berwarna hitam gelap ini, berusaha mencari tahu siapa yang ada didalamnya. Kaca jendela itu mulai menurun, perlahan tapi pasti pemilik mobil ini mulai terlihat olehku.

“Hai, senang bertemu lagi denganmu.”

Apa ada yang bisa menamparku detik ini juga? Aku pasti masih bermimpi. Tidak, ini tidak mungkin.

“Ada apa dengan wajahmu, Shin Je Wo?”

Tubuhku sontak terhuyung kebelakang saat senyuman separo miliknya terlihat. Ya Tuhan, bagaimana bisa Cho Kyuhyun sialan ini datang menggunakan mobil? Aku masih bertanya-tanya tak mengerti. Berengsek, aku ingat kalau kami sedang bertaruh dan itu berarti..

“Aku menang, Shin Je Wo.” ucapnya dengan seringai mengerikan.

“Tidak mungkin, kau pasti kesini membawa seseorangkan? Pasti Donghae atau Hyukjae Oppa ikut bersamamu.” Aku mendorong kepalaku kedepan, melewati jendela mobilnya untuk memeriksa kebelakang bangkunya. Bodoh, ini mobil sport yang hanya muat untuk ditumpangi dua orang. Huwaaaa!

“Yah!” pria sialan ini mendorong kepalaku keluar tanpa rasa sungkan. “Aku tidak berbohong.”

“Je Wo-ya! Siapa orang itu?”

Kulirik Appa dan Omma yang tampak cemas menunggu, baru saja aku ingin menjawab, pria sialan ini tiba-tiba saja keluar dan tersenyum lebar pada kedua orang tuaku. Pagi ini benar-benar buruk!

“Hallo!”

Lihatlah, sama sekali tidak sopan!

“Woahhh ternyata calon menantu kita?” aku segera melirik Omma yang berteriak dengan kedua mata berbinar. Appa bahkan bertepuk tangan dengan bangga, memangnya siapa tadi yang berniat menghajar pemilik mobil ini? Jika tahu itu adalah dia, kubiarkan saja Appa menghajar pria sialan ini.

Kyuhyun kembali menatapku dengan raut wajah penuh kemenangan dan wajah itu sudah jelas-jelas membuat dompetku bergetar. “Bagaimana bisa kau mampu mengemudi dalam waktu seminggu? Mustahil.” Cibirku.

            Kyuhyun menggoyang-goyangkan telunjuknya padaku, “Tidak ada yang mustahil bagi seorang Cho Kyuhyun.” sialan!

            “Oh, begitukah? Yang benar saja.”

            Lari, Shin Je Wo. Kau harus segera lari sebelum isi dompetmu benar-benar terkikis.

            “Benar, tentu saja. Dan hari ini, aku ingin menagih janjimu.” seringaian itu kenapa masih saja betah berlama-lama di bibirnya? Dia sudah memulainya, pria sialan, menyebalkan, arrghhh.

            “Janji apa?” kilahku, Ya Tuhan, biarkanlah kali ini pria itu terkena amnesia mendadak.

            Dia memajukan wajahnya mendekatiku, mengedipkan sebelah matanya sebelum tiba-tiba memegang kedua bahuku. Memaksa aku mengitari mobilnya dan membawaku kedepan pintu mobilnya. Mau apa lagi pria ini?!

            “Ahujssi, Ahjumma! Aku bawa gadis ini pergi, kalian tidak keberatan, kan?” teriaknya.

            “Oh, sama sekali tidak. Bawa saja, Cho Kyuhyun! Hahaha.”

            “Kau juga tidak perlu membawanya kembali pulang jika kau mau!”

            “Omma! Appa!” teriakku, orang tua seperti apa mereka?

            “Tidak usah berteriak, Shin Je Wo,” bisiknya sebelum menghempaskan tubuhku kedalam mobilnya, “Siapkan saja uangmu untuk membelikanku 10 macam kaset game yang aku inginkan.”

***

Hahaha, tidak ada yang lebih menggembirakan lagi selain melihat raut wajah menderita gadis itu. Wajahnya memucat, memerah menahan kesal disaat yang bersamaan ketika aku memilih beberapa kaset dengan bandrol harga termahal di toko ini. Yeah.. kerja kerasku tidak sia-sia, merecoki gadis ini memang sangat menyenangkan.

            “Yah, sudah. Itu sudah terlalu banyak!” teriaknya padaku.

            “Belum, ini masih kaset ketujuh dan itu berarti masih ada tiga kaset lagi yang harus aku beli.” Jawabku ringan. Hahaha, lihatlah, wajahnya kembali memucat. Ia berkali-kali melirik dompetnya dengan pandangan menderita. Hidup memang sangat indah…

            “Cho Kyuhyun…”

            Aku berbalik mendengar rengekannya, jari-jarinya menarik lengan bajuku. “Apa?” tanyaku garang.

            “Jangan beli lagi, ya?”

            Dia sedang merayuku? Hahaha tidak akan berpengaruh, Shin Je Wo. Kau itu bukan perayu yang handal. “Enak saja, ini sesuai dengan perjanjian.”

            Kulihat ia kembali mendesah, “Tapi uangku akan habis jika kau masih ingin membeli tiga kaset lagi. Aku juga memiliki keperluan untuk mengatur hidupku, Omma dan Appa tidak akan mau memberikan uang jajan tambahan padaku sedikitpun. Lalu, kalau aku tidak punya uang lagi, bagaimana?”

            “Itu urusanmu.”

            “Huwaaa.”

            Aku melebarkan kedua mataku melihat tangisannya, “Yah yah yah. Apa-apaan kau? Jangan menangis,” kulirik sekitarku, ya Tuhan! Semua orang memperhatikan kami. Gadis menyebalkan. “Yah Shin Je Wo, kita sedang diperhatikan orang-orang,” geramku, “Berhenti menangis.”

            “Shireo, kalau kau masih akan membeli kaset bodoh itu lagi. Aku akan menangis semakin kencang.”

            “Ah… gadis merepotkan! Yasudah, aku tidak akan membelinya lagi. Sekarang kau diam!”

            Tangisan pura-puranya berhenti seketika dan digantikan dengan cengiran lebar. Dia pikir aku tidak tahu dia hanya berpura-pura? Tidak semudah itu, Shin Je Wo. “Sekarang bayar ini, aku tunggu dimobil.” Kuserahkan kaset-kaset game itu padanya. Aku harus memutar otak untuk kembali mengerjainya. Seharian ini kau harus menjadi mainanku, hahaha.

***

Je Wo menatap rumah besar milik keluarga Lee dengan tatapan tak mengerti. Ia melirik pria yang baru saja keluar dari bangku kemudinya, memberikan tatapan menuntutnya. “Untuk apa kau bawaku ke rumahmu?” tanya Je Wo.

            Kyuhyun tersenyum miring, “Untuk melanjutkan penyiksaanmu.” Jawabnya sadis.

            “Apa? Enak saja kau!” sungut Je Wo.

            “Wae? Bukankah kau tidak menepati janjimu? Lihat,” Kyuhyun menyodorkan bungkusan kecil yang ada di sebelah tangannya. “Ini masih tujuh kaset dan kalau tidak salah, perjanjiannya adalah sepuluh kaset.” cibirnya.

            Je Wo meneguk ludahnya berat, apa lagi yang diinginkan pria sialan ini.

            “Karena aku baik hati dan tidak akan membiarkan kau jatuh miskin dalam hitungan detik, jadi aku putuskan sebagai ganti tiga kaset lainnya,” Kyuhyun menarik napas panjangnya, “Kau harus menjadi asisten pribadiku hingga matahari terbenam, oke?”

            “Shireo!” tolak Je Wo langsung, ia menatap Kyuhyun penuh amarah. “Kau pikir aku pembantumu. Dan Tuan muda Cho Kyuhyun, itu sama sekali tidak ada dalam perjanjian” teriaknya.

            Kyuhyun menggeleng pelan dengan senyuman manisnya, “Yasudah kalau tidak mau, ayo masuk lagi ke mobil.” perintahnya.

            “Untuk apa?”

            “Kita kembali ketoko kaset tadi untuk membeli tiga kaset lagi dan setelah itu, semuanya selesai.” Jawabnya ringan namun penuh dengan makna kemenangan.

            Je Wo mengerang tertahan, Kyuhyun benar-benar ahli dalam mencari kesempatan diatas penderitaan orang lain. Tapi disini memang dialah korbannya, kalau tidak menerima perintah pria itu, maka dompetnya akan berpotensi terkena penyakit mengerikan.

            “Bagaimana?” tanya Kyuhyun dengan nada manis yang menipu.

            “Kau benar-benar sialan, Cho Kyuhyun!” umpat Je Wo sebelum berjalan memasuki rumah besar itu dengan kedua kaki yang menghentak-hentak diatas tanah.

            “Yeah! Aku berhasil, mati kau!” gumam Kyuhyun dengan wajah puas.

            Je Wo memasuki rumah besar itu tanpa rasa canggung meskipun ia hanya pernah pergi kesana beberapa kali. Gadis itu langsung merebahkan dirinya diatas sofa berbentuk L, melipat kedua kakinya, sementara tangannya sibuk meraih remot televisi.

            “Apa yang kau lakukan disini?” desis Kyuhyun tajam, pria itu berdiri di samping Je Wo dengan kedua tangan yang bersedekap diatas dada.

            Je Wo meliriknya sekilas dan kembali melemparkan tatapannya pada layar televisi. “Menonton, memangnya apa lagi? Dasar bodoh.” Cibirnya.

            Belum sempat Kyuhyun kembali membuka mulut, suara yang tidak diundang telah menyela terlebih dahulu.

            “Wah… ada tamu ternyata.”

            Je Wo memenjangkan lehernya kebelakang, melihat si pemilik suara itu. Kim Seechul, dengan cengiran lebarnya tengah berjalan kearah mereka. “Eo, annyeong, Ahjumma..” sapa Je Wo singkat sebelum memutar kepalanya lagi.

            Kyuhyun menggigit bibir bawahnya geram melihat sikap tak hormat gadis itu.

            “Jadi, ada angin apa kau datang kerumah kami, menantu?” tanya Seechul sembari menepuk pelan paha Je Wo ketika ia sudah duduk di samping gadis itu.

            Je Wo dan Kyuhyun serempak bergedik ngeri mendengar kata menantu yang Seechul ucapkan. “Jangan tanyakan padaku, Ahjumma. Tanyakan saja pada pria sialan itu, disini aku yang menjadi korban.” jelasnya.

            “Mwo?!” pekik Kyuhyun, “Pria sialan? Yah! Enak saja kau, siapa kau sebut korban, eo? Sudah untung aku mau berbaik hati.”

            “Jinja? Woah.. gomawo, Cho Kyuhyun yang mau berbaik hati.” cibir Je Wo dengan wajah yang merendahkan. Kedua orang itu kembali bertatapan sengit layaknya musuh yang telah bermusuhan berabad-abad lamanya. Seechul bahkan hanya mendengus malas, sangat mirip, Batinnya.

            “Baiklah, aku rasa sebaiknya kau segera ikut ke kamarku.” Kyuhyun menarik pergelangan tangan Je Wo namun tangan itu segera ditahan oleh Seechul.

            Wanita itu menatap Kyuhyun dengan tatapan tak percaya, “Kau.. ingin membawanya ke kamar?” tanya Seechul, kedua matanya membulat takjub.

            “Ne, Omma. Jadi jangan ikut campur.” Ucap Kyuhyun tajam.

***

Kim Seechul tersenyum puas setelah sekian lama berkutat dengan ponselnya. Wanita itu telah mengirimi semua pesan pada keluarganya. Ia memandang lagi deretan kalimat yang tadi sempat ia kirim pada semua anak-anaknya.

            Kemajuan pesat! Kyuhyun baru saja membawa Je Wo masuk kedalam kamarnya. Hahaha sepertinya sebentar lagi aku akan segera mendapatkan seorang cucu….

            Wanita itu bersenandung riang memasuki dapurnya. Tangannya mulai bergerak lincah mengeluarkan satu persatu bahan makanan dari dalam kulkas. Moodnya sangat baik melihat Kyuhyun membawa Je Wo masuk kedalam kamar. Yeoja setan itu mulai membayangkan saat-saat Je Wo mulai mengaku telah di hamili Kyuhyun. Dan itu berarti pernikahan akan segera terjadi.

            “Hahaha, tidak apa-apa jika dia menikah lebih dulu. Lee Hyukjae masih bisa menyusul. Assa! Saatnya membuat banyak makanan untuk perayaan hari ini.” Seechul tak henti-hentinya tersenyum menyeringai sembari memotong-motong sebuah timun.

            “Omma!!!”

            Wanita itu terperanjat kaget dan hampir saja tangannya teriris oleh pisau yang ia kenakan. Ia melirik kebelakang, melemparkan tatapan mematikan pada Nara dan Kibum yang telah berdiri di ambang pintu dapur, “Yah! Suaramu itu hampir saja melenyapkan jari telunjukku, Lee Nara!” teriaknya.

            Nara melebarkan kedua matanya, melirik jari telunjuk Seechul yang memang masih dalam keadaan baik-baik saja, “Tidak ada goresan apa pun.” Cibir Nara.

            Seechul mendengus, “Untuk apa kau berteriak seperti orang gila, hah?!” omelnya sembari berkacak pinggang.

            Nara kembali tersadar. Sesaat ia memang sempat lupa dengan tujuannya mencari Seechul, padahal saat ini sebenarnya ia ada janji berkencan bersama Kibum dan terpaksa memaksa pria itu untuk kembali membawanya pulang setelah membaca pesan singkat Seechul padanya. Nara segera mendekati Ommanya, Kibum hanya menghela napas malas dan mengikuti kemana kekasihnya pergi.

            “Omma, benar Kyuhyun membawa Je Wo masuk kedalam kamarnya?” selidik Nara.

            Mendengar pertanyaan itu, senyum manis Seechul merekah begitu saja. Ia mengangguk semangat dan mengacungkan pisau dalam genggamannya hingga Kibum dan Nara memekik tertahan, “Benar sekali, Nara-ya. Hahaha.” Ia kembali tertawa senang dengan kilatan mata penuh bahagia. Namun tidak dengan kedua orang dihadapannya yang menatap seram ujung pisau itu.

            “Noona…” panggil Kibum pelan.

            Seechul menoleh dengan menyunggingkan senyuman manisnya pada Kibum. Seperti biasa, ia sangat senang ketika Kibum memanggilnya dengan sebutan itu. “Ne?”

            “Sebaiknya turunkan dulu pisaumu.” Ujar Kibum. Jari telunjuknya mengarah pada pisau yang masih mengacung indah di hadapan mereka. Seechul yang tersadar hanya tertawa ringan, lalu meletakkan kembali pisuanya.

            “Tapi Omma, kau tidak boleh membiarkan Kyuhyun melakukan hal seperti itu. Mereka masih kecil. Bagaimana jika Je Wo hamil?” sambung Nara kembali. Ia yang telah berpikir terlalu jauh mencoba menasehati Seechul yang masih terlihat begitu senang.

            “Tidak masalah. Mereka bisa segera menikah.” Jawa Seechul. Ia kembali melanjutkan kegiatan memasaknya.

            Nara menepuk dahinya frustasi. Entah dosa apa yang ia lakukan sehingga memiliki Ibu yang mengerikan seperti ini. Disaat semua orang tua menasehati anaknya agar tidak melakukan hal seperti itu, Seechul malah sangat mengharapkannya. Oke, tapi bukankah karena itu mereka semua memanggilnya dengan panggilan Yeoja Setan?

            “Kyuhyun tidak mungkin melakukannya.” Gumam Kibum ringan. Sontak Ibu dan anak itu menoleh bersamaan padanya. Kibum mengangkat bahunya acuh, lalu menyandarkan diri di depan pintu kulkas dengan kedua tangan berdekap di depan dada.

            “Kenapa tidak mungkin?” protes Seechul.

            Kibum tersenyum geli, “Berkencan saja dia tidak pernah, bagaimana mungkin dia mengerti bagaimana menyentuh seorang gadis.” Jawabnya.

***

Aku menguap lebar, mataku menatap layar televisi dengan kedua mata yang hampir meredup. Si bodoh ini masih saja larut dalam game yang ia mainkan. Kami berdua sama-sama bersandar dibawah ranjangnya yang menghubungkan kelayar televisi. Aku saja tidak mengerti permainan seperti apa itu. Aku memang tidak terlalu menyukai game, jika pun aku suka, aku akan memainkannya dalam waktu berjam-jam dan setelah itu aku akan segera bosan lalu meninggalkannya. Bahkan, dalam Laptopku hanya ada satu permaninan yang menurutku cukup ampuh menghilangkan kejenuhanku. Angry Bird, yup! Aku hanya suka memainkan permainan itu. Melempar burung-burung aneh itu pada babi gendut yang menyenbalkan agar mereka segera mati.

            “Yes!! Ternyata ini mudah.”

            Kudengar dia menggumam senang. Aku melirik kembali layar televisi dan melihat kalimat WINNER terpampang jelas disana. Yeah.. sepertinya pikachu ini berhasil memenangkan permaiannanya. Kalau di pikir-pikir, sebenarnya untuk apa dia membawaku kedalam kamarnya jika aku hanya di jadikan patung yang menemaninya bermain game. Ya Tuhan… jangan bilang dia sengaja melakukannya untuk membuatku kesal.

            “Yah!” Panggilku.

            “Hem?”

            “Aku bosan.”

            “Lalu?”

            “Aku ingin pulang.”

            “Perjanjian kita masih berlaku. Kau lupa batas waktunya?”

            Aku menggeram tertahan, “Tapi kau hanya menyuruhku duduk diam seperti patung disini tanpa melakukan apa-apa. Itu hanya membuang waktuku, Cho Kyuhyun. Dan aku BOSAN!!!” teriakku pada telinganya. Kulihat dia meringis sakit dan melototiku. Apa? Kau kira aku takut?

            “Kau ingin membuatku tuli?!” teriaknya.

            “Bagaimana bisa kau tahu keinginanku?” tanyaku dengan wajah polos. Hahaha, mati kau pikachu.

            Matanya menggelap menahan kesal. Lalu meletakkan sticknya keatas lantai, “Kalau begitu, bagaimana jika kita bertanding game?” senyum separo itu terlihat lagi. Cih, bisakah dia tidak tersenyum seperti itu? Aku benar-benar ingin menghajar wajah tengilnya.

            “Tidak mau!” jawabku ketus.

            “Wae? Takut, hah? Cih, dasar payah.”

            Apa-apaan pria sialan ini? Ingin meremehkanku? Sekalipun aku tidak terlalu suka bermain game, tapi akan kubuktikan kalau aku tidak payah, “Siapa yang takut? Ayo, kita bertanding. Tapi, yang kalah harus diberi hukuman.” Aku tersenyum miring padanya. Dahinya tampak berkerut sesaat, seperti sedang mempertimbangkan ucapanku.

            “Oke, tidak masalah. Hukuman apa?”

            Aku tersenyum lebar. “Siapa yang kalah, maka dia akan menuruti permintaan pemenang selama 24 jam penuh. Bagaimana?”

            “Hahahaha.”

            Kenapa dia tertawa? Tidak ada yang lucu disini. Heish, pria idiot!!!

            “Kau tidak belajar dengan pengalaman sebelumnya, ya? Baru saja kau kalah bertaruh denganku.” Kekehnya.

            “Itu sebabnya aku ingin membalasmu.”

            “Dengan bertanding game? Kau yakin? Hahaha, balum ada yang pernah bisa menandingiku, Shin Je Wo.”

            Sombong sekali! “Baguslah, itu berarti aku yang pertama kali meruntuhkan kesombonganmu, Cho Kyuhyun.”

***

“Yah! Kim Kibum, kau kira Kyuhyun sebodoh itu?” pekik Seechul.

            Kibum tertawa pelan, “Bukan begitu, Noona. Tapi kau tahu kan bagaimana bocah itu? dalam hidupnya, dia hanya tahu kalian, makan, tidur, aku dan game. Dan seharusnya kita bersukur pada Tuhan karena bocah itu memiliki otak yang cerdas sekalipun dia tidak pernah suka belajar.” Jelas Kibum. Tentu saja pria ini tahu bagaimana Kyuhyun. Karena hanya Kibumlah yang menemani Kyuhyun disetiap harinya.

            “Eo, kau benar juga, Oppa. Kyuhyun tidak pernah tampak tertarik pada wanita manapun.” Gumam Nara. Tiba-tiba saja gadis ini memekik kaget. “Omo?! Bagaimana jika dia memang tidak tertarik pada wanita?!”

            PLETAK.

            “Appo~” rengek Nara yang baru saja menerima pekulan ringan oleh Seechul. Kibum cepat-cepat menghampiri kekasihnya dan mengelus pelan kepala Nara yang cukup terasa sakit.

            “Sembarangan saja. Yah, adikmu itu masih normal, bodoh.” Umpat Seechul.

            “Belum ada bukti yang menguatkan, Noona.”

            “Kim Kibum….” Seechul memanggil Kibum dengan suara lembutnya hingga pria itu memucat. “Kau tidak ingin kucoret dari daftar menantuku, kan?”

            “Andwe!! Omma, aku tidak akan menikah selain dengannya.” Teriak Nara.

            “Kalau begitu berhenti berpikir yang tidak-tidak tentang adikmu. Dan kau! Kibum-ah… ayo kita buktikan jika Kyuhyun masih tertarik dengan seorang gadis.”

***

“Akh, yah kau curang!”

“Curang kepalamu. Aku bahkan tidak melakukan apa pun.”

“Tapi kenapa mobilku tidak mau bergerak?!”

“Hahaha bodoh, kau lihat tombol mana yang kau tekan.”

“Eo? Yah yah yah tunggu dulu. Jangan jalankan mobilmu dulu, Cho Kyuhyun.”

            Je Wo sibuk menekan semua tombol stick. Gadis itu benar-benar tidak tahu bagaimana caranya memainkan permainan yang menurut Kyuhyun begitu mudah baginya. Bahkan, mobil miliknya selalu menabrak kesana kemari dan setelah itu ia bingung bagaimana lagi menjalankan mobilnya.

            “Huwaaaa Ottokaeh?!!” teriaknya frustasi.

            “Hahaha mati kau! Bersiap-siaplah menuruti semua keinginanku, Shin Je Wo. Sebentar lagi aku akan menang.”

            Je Wo meneguk ludahnya berat. Kyuhyun benar, sebentar lagi dia akan mencapai garis finis dan jika itu terjadi, maka  dia akan kembali menjadi kelinci percobaan Kyuhyun seperti hari ini. Tidak boleh, aku tidak mau dikalahkan pria sialan ini. Je Wo melirik Kyuhyun yang begitu fokus menatap lurus kedepan. Gadis itu tersenyum smirk sebelum…

            “Wahhh sepertinya stick kita tertukar.” Je Wo merampas stick milik Kyuhyun dan segera mengacaukan permainan Kyuhyun.

            “Yah! Kembalikan!”

            “Shireo! Ini milikku.”

            “Apa-apaan kau? Kembalikan, bodoh!!”

            Mereka tidak lagi melihat kedua mobil milik masing-masing yang telah berhenti bermain karena tulisan Game Over itu telah terpampang indah disana. Keduanya sibuk saling merebut stick milik Kyuhyun sembari saling mengumpat satu sama lain. Je Wo memanjangkan sebelah kakinya hingga mengenai dada Kyuhyun, lalu menahan tubuh pria itu agar tidak bisa merebut stick miliknya. Tapi tangan panjang Kyuhyun masih bisa menyentuh sebagian stick itu.

            Keduanya masih saling merebut satu sama lain. Kyuhyun melirik sekilas pada layar televisi dan membelalak terkejut karena permainan mereka sama-sama telah selesai. Dia yang memang tidak menyukai kekalahan dalam hal apapun merasa begitu kesal hingga dama sekali hentakan ia dapat mengambil kembali sticknya. Tapi sialnya, hal itu membuat Je Wo terkejut hingga kakinya melemas dan jatuh begitu saja. Dan otomatis, tubuh Kyuhyun yang tadinya ia tahan di sebelah kakinya terhuyung kedepan dan menimpa tubuhnya.

            Je Wo dan Kyuhyun mengerjap bersamaan dengan wajah yang saling berdekatan. Bahkan, ujung hidung Kyuhyun telah menyentuh ujung hidung Je Wo. Napas keduanya terasa tercekat, belum pernah sebelumnya mereka berdekatan dalam jarak seminim ini.

            Bergerak, Shin Je Wo. Kenapa kau diam saja, hah?!

            Ya Tuhan, apa yang kau lakukan?! Kenapa jantungmu berdetak secepat ini, Cho Kyuhyun? Yah! Cepat menyingkir dari tubuh gadis sialan ini!!!

            Masing-masing otak mereka memerintah untuk segera menyingkir dari sana. Tapi sialnya, tidak ada satu organ tubuh merekapun yang memprosesnya. Semuanya terasa kaku hingga sebuah teriakan terdengar dari ambang pintu kamar Kyuhyun.

            “Huwaaaaaaaaa”

***

Hyeri menautkan alisnya ketika melihat Donghae mendesah panjang memandangi ponselnya. Hyeri yang baru saja selesai menata meja makannya untuk makan siang bersama pria itu memandang curiga padanya.

            “Ada apa, Oppa?” tanya Hyeri.

            Donghae menengadah, lalu tertawa kecil. “Dirumah sedang ada keributan. Seperti biasa, kalau bukan Omma yang memulainya, itu berarti Cho Kyuhyun.” Jelasnya.

            Hyeri ikut tertawa, lalu mereka mulai menikmati makan siang mereka. Hari ini, Hyeri mengundang Donghae untuk melewatkan makan siang dirumahnya. Gadis ini sedang berusaha mendekatkan dirinya pada Donghae, seperti permintaan Donghae saat itu untuk berusaha membuatnya mencintai Hyeri.

            Donghae terlihat sangat menikmati makan siangnya, dan Hyeri suka memandangi pria itu yang sedang makan. Wajah Donghae, senyuman Donghae, segala ekspresi pria itu, semuanya sangat disukai Hyeri.

            “Apa Eunmi dan Hyukjae Oppa akan segera menikah?” tanya Hyeri, ketika ia mulai menikmati makan siangnya.

            Donghae menggelengkan kepalanya, “Hyukjae bilang, Eunmi harus menyelesaikan kuliahnya dulu sebelum mereka menikah. Tadi pagi dia bercerita padaku seperti orang gila,” Donghae tersenyum lebar. “Eunmi sudah mengaku mencintainya, lalu tadi malam mereka tidur bersama.”

            “Apa? Ti-tidur bersama?” Hyeri mengerjap beberapa kali dengan wajah terkejut.

            “Hei, mereka hanya tidur, oke? Tidak melakukan apa-apa.”

            “Ah…” desah Hyeri mengerti.

            “Lagi pula, Hyukjae tidak akan seberani itu.” kekeh Donghae yang setelah itu meneguk minumannya.

            “Apa kau sudah pernah tidur dengan kekasihmu, Oppa?”

            “Uhuk!”

            Donghae tersedak kuat hingga sedikit mengeluarkan minumannya. Hyeri cepat-cepat memberikan tissue padanya. Selagi membersihkan mulutnya, Donghae beberapa kali mencuri pandang pada Hyeri yang menantapnya menunggu. Wajah Donghae memerah dan ia merasa bingung ingin menjawab apa.

            “Jadi… kau sudah pernah tidur dengan kekasihmu, ya?”

             Suara rendah Hyeri membuat Donghae gugup. Entah sejak kapan dan karena apa, Lee Donghae mulai merasa Hyeri sangat berpengaruh untuknya. Padahal, mereka baru saja bertemu, dan awalnya ia sama sekali tidak tertarik dengan gadis ini. Tapi sejak ia meminta Hyeri untuk berusaha membuatnya menatap gadis itu, perasaan Donghae mulai memiliki perubahan.

             Ia sering menelepon Hyeri sebelum tidur, memeriksa pesan masuk dari gadis itu, dan jika dalam sehari Hyeri tidak mengiriminya pesan, maka ia akan merasa sedikit kesal dan bertanya-tanya.

             “Ti-tidak.” Kilahnya.

             “Tapi malam itu kau menginap dirumahya, kan?” kini Hyeri mengeluarkan suara rajukannya.

              Donghae menarik napas panjang, “Aku sudah menjelaskannya padamu, kan, kalau aku tidak melakukannya.” Cetus Donghae.

             “Lalu, apa saja yang kau lakukan dengannya? Kau bilang kau hanya melakukan permainan kecil. Permainan apa itu?”

              Wajah Donghae memerah, dan ia ingin sekali pergi dari rumah Hyeri detik ini juga. Haruskah ia menjelaskannya pada Hyeri? Bagaimana ia yang sedang asik bermesraan dengan Jessica, “Bukan apa-apa.” Kilahnya.

             “Ck, kalau bukan apa-apa kenapa wajahmu memerah seperti itu?” sungut Hyeri.

             “Heish!” rutuk Donghae kuat, menyerupai bentakan.

             Hyeri tersentak mendengarnya. Wajahnya tiba-tiba memucat dan ia mengerjap beberapa kali. Setelah itu, sebuah senyuman yang dipaksakan terlihat diwajahnya, “Maaf, sepertinya aku sudah terlalu banyak menanyaimu, Oppa.” Ujarnya pelan.

            Donghae terkejut melihat perubahan wajah Hyeri. Ia tahu, Hyeri sangat sensitif dan terlalu mudah sakit hati. “Bu-bukan seperti itu. Aku tidak_

           “Lanjukan makan siangmu, Oppa. Aku ingin mencuci piring kotor.”

           “Kau belum menghabiskan makananmu, Hyeri-ya.”

            Hyeri tidak menyahut dan lebih memilih beranjak meninggalkan meja makan. Donghae mengikuti Hyeri dengan       pandangannya. Kini gadis itu sudah mulai menyabuni satu persatu piring kotor dengan wajah tertekuk.

           Donghae mendesah panjang. Sungguh, Hyeri lebih memusingkannya saat sedang merajuk, lebih memusingkan dibandingkan Jessica. Dan sialnya, Donghae tidak pernah tahan melihat Hyeri marah padanya.

            Donghae beranjak dari tempatnya dan menghampiri gadis itu, berdiri dibelakang tubuhnya dengan canggung, “Kau marah padaku?” tanyanya pelan.

            “Tidak.” Sahut Hyeri singkat.

“Lalu kenapa tiba-tiba meninggalkanku?”

“Aku tidak meninggalkanmu, Oppa. Lagi pula kau bisa melihatku dari tempatmu.”

“Aku tidak bermaksud membentakmu.”

“Aku tahu.”

Donghae menggigit bibirnya kuat, “Arraseo-arraseo, kau ingin aku menceritakan apa saja yang kulakukan dengannya, begitu?” tanyanya gusar.

“Tidak, jangan bercerita kalau kau tidak ingin.”

“Aku hanya tidak mau kau marah padaku setelah aku bercerita. Lagi pula, tidak aku ceritakan saja kau sudah marah seperti ini.”

“Siapa yang marah padamu.”

Demi Tuhan, Donghae sudah tidak tahan lagi. Ia menggeram tertahan lalu mulai memandang punggung Hyeri dengan pandangan intens, “Kau ingin tahu, apa saja yang kulakukan dengannya?” suaranya terdengar serius dan juga tertahan. Saat Hyeri tidak juga menyahut, Donghae menyentuh kedua bagu gadis itu dan membuat tubuh mereka berhadapan.

Hyeri memandangnya terkejut, apa lagi dengan tatapan tak biasa yang Donghae layangkan padanya.

“Aku akan memberitahumu,” bisik Donghae, ia mulai mendekat hingga deru napasnya dapat dirasakan oleh Hyeri. “Pejamkan matamu.”

Hyeri menurut, matanya memejam begitu saja. Tapi kedua tangannya yang masih diselimuti busa terkepal kuat dan gemetar. Dan ia hampir saja terjatuh ketika bibir hangat Donghae menyentuh permukaan bibirnya. Ia gemetar dan semakin kuat mengepalkan kedua tangannya.

Donghae menekan bibirnya semakin dalam, dan kembali melakukannya lagi saat ia merasa Hyeri mengunci bibirnya rapat-rapat. Bibir gadis itu gemetar dan ia ingin membuat Hyeri jera setelah ini. Tapi niat itu terusik ketika aroma tubuh gadis itu terlalu kuat menyeruak kedalam indra penciumnya. Tubuhnya harum, dan Donghae menyukai harumnya. Dan saat bibir hyeri sedikit bergerak, Donghae tidak lagi bisa menahan diri untuk tidak melumat bibir yang menggoda itu.

Ditahannya tengkuk Hyeri dengan sebelah tangannya, lalu ia juga menahan pinggang Hyeri dengan tangannya yang bebas. Bibir Donghae bergerak sesukanya disana, tidak lagi memedulikan bagaimana menegangnya tubuh Hyeri dalam dekapannya. Ia seperti kehausan, dan tidak ingin berhenti.

Donghae tahu, setelah ini, bukan Hyeri yang akan jera. Tapi dirinyalah, yang tidak akan lagi bisa bereaksi seperti biasanya, setiap kali berdekatan dengan gadis ini.

***

“Semua ini karena kau!” sungut Je Wo setelah mobil Kyuhyun berhenti di depan rumahnya. Ia memelototi Kyuhyun yang hanya mencibir malas padanya. Karena kejadian siang tadi, Seechul mengatakan akan segera mempercepat pertunangan mereka berdua, dan hal itu membuat Je Wo marah pada Kyuhyun.

            “Jangan salahkan aku, kalau kau tidak bermain curang, semua ini tidak akan terjadi.” Jawab Kyuhyun ringan.

            Je Wo menggeram tertahan, lalu membuang muka. Ia menatap lurus kedepan dengan wajah gusar, “Aku tidak mau bertunangan denganmu, Cho Kyuhyun. Sungguh, aku tidak suka ada yang memaksaku untuk melakukan apapun.” Cetusnya.

            Kyuhyun menoleh padanya, memandangi wajah gadis itu lebih dalam. Shin Je Wo sepertinya benar-benar marah saat ini, ekspresinya menunjukkan kekecewaan yang besar

            “Aku yang akan melakukannya, tapi kenapa harus orang lain yang mengaturnya,” Je Wo tertawa hambar. “Aku ingin menikah dengan pria pilihanku, pria yang kucintai. Bukan dengan pria pilihan orang lain.”

            Kedua mata Kyuhyun menajam, dan tiba-tiba saja ada perasaan aneh yang membelenggu Kyuhyun saat Je Wo mengatakan kalimat-kalimat itu.

            “Kau dan aku tidak bisa bersama. Tida bisakah mereka mengerti?” rutuk Je Wo, tangannya menghempas keatas paha. “Kita hanya bisa saling membenci dan mencela satu sama lain. Lagi pula aku sangat membencimu, lalu mereka pikir keajaiban seperti apa yang bisa menghampiriku sampai aku akan jatuh cinta padamu?” Je Wo menoleh pada Kyuhyun, memandang pria itu tajam dan serius. “Lakukan sesuatu, gagalkan pertunangan ini. Sampai matipun, aku tidak akan bisa menjadi tunanganmu.”

            Je Wo keluar dari mobil Kyuhyun, lalu menghempaskan pintu itu dengan suara keras. Ia berjalan dengan wajah yang tertekuk, sudah sangat siap ingin memohon pada kedua orang tuanya untuk tidak melanjutkan pertunangan konyol itu.

            “Berhenti disana.”

            Langkah Je Wo terhenti ketika suara Kyuhyun terdengar olehnya. Ia berbalik, melihat Kyuhyun yang sudah berada dibalik mobilnya, memandanginya dengan pandangan yang sangat aneh, dan tidak pernah ia lihat sebelumnya. Wajah pria itu mengeras, dan kedua matanya menajam.

            “Apa?” tanya Je Wo ketus.

            Kyuhyun menyeringai kecil, sebuah seringaian yang berbeda dari biasanya. “Kau ingin tahu, keajaiban seperti apa yang bisa membuatmu jatuh cinta padaku?”

            Je Wo mengernyit tidak mengerti.

            “Biar aku tunjukkan padamu, Shin Je Wo.”

            Kyuhyun berjalan memutari mobilnya, melangkah mendekati Je Wo yang semakin mengernyit tidak mengerti. Ketika ia sudah berdiri tepat didepannya, Kyuhyun memandangnya lembut. “Kau, harus jatuh cinta padaku, Shin Je Wo.”

            Lalu Kyuhyun membingkai wajah Je Wo dengan kedua tangannya, mendaratkan bibirnya tepat diatas bibir gadis itu. Hal yang pertama kali dirasakan oleh Kyuhyun adalah, jantungnya berdebar keras, dan tubuhnya sedikit gemetar. Bibir mereka hanya bersentuhan, tapi reaksi tubuhnya sangat mengerikan.

            Saat Je Wo tadi mengatakan ia tidak akan bisa mencintainya, Kyuhyun merasa sangat marah dan tiba-tiba saja keinginan untuk membuat gadis itu menarik ucapannya begitu besar. Dan seperti inilah mereka sekarang. Saling memejamkan kedua mata dengan perasaan tak menentu.

***

Entah kebetulan seperti apa yang membuat ketiga pria-pria itu bertemu dipekarangan rumah mereka. Lee Hyukjae, Lee Donghae, dan Cho Kyuhyun saling berpandangan dengan bibir yang sama-sama tersenyum senang.

            “Kenapa kau tersenyum seperti orang gila?” tanya Hyukjae pada Donghae, meskipun bibirnya sendiri tidak berhenti tersenyum.

            “Kau sendiri, kenapa tersenyum seperti itu?” balas Donghae.

            Kyuhyun sama sekali tidak menyahut seperti biasanya, ia masih terlihat sibuk tertawa sendiri sembari memegangi bibirnya. Lalu terkadang memukul kepalanya sendiri. Melihat itu, Donghae dan Hyukjae saling berpandangan tidak mengerti, jarang sekali mereka melihat Kyuhyun seperti itu.

            “Hei,” panggil Hyukjae dan Kyuhyun menoleh. “Omma membelikanmu kaset game baru?”

            Kyuhyun menggelengkan kepalanya.

            “Appa memberimu uang saku lebih banyak?” sambung Donghae.

            Kyuhyun kembali menggeleng.

            “Kibum kalah bermain game?”

            Lagi-lagi Kyuhyun menggeleng.

            “Lalu kenapa kau tersenyum seperti itu?!” rutuk Donghae dan Hyukjae kesal.

            “Aku baru saja berciuman, Hyung.”

            “MWO?!”

TBC

Setelah sekian lama, akhirnya saya mempublish part 10 ini hohoho.

 

😄 jangan tanya gimana anehnya aku ngetik FF ini lagi. Sumpah, rancu dan canggung sendiri kekeke. Mungkin feelnya amat sangat kurang, karena FF ini udah berhenti sejak… 1 tahun, atau lebih? Hahaha.

 

Dan disini, sepertinya aku menemukan sesuatu.

Kenapa si Kyuhyun mirip sama Hyunje kelakuaanya? -_- siapa sih ini yang nulis? #PLAKKK

 

 

Okeh… happy reading ajah ya….

 

Ami.

124 thoughts on “IT’S MY FAMILY 10

  1. Ping-balik: Library | Shin Je Wo

  2. woah. .
    habis d,part iny. .lanjtanx mana??mana??

    min, kapan kelanjtanx keluar??
    cepatlah. .
    PLAKKK
    Hehehe. .mian ya min, gimana penasaran banget?

    bgmana crax d0nghae opPa puts dari sica eoN biar sicax gak dendam??
    terus. .shin je wo. . Cepatlah jath cinta dgn cho kyuhyun. . Aku tidak terima bantahan. .*ngutip katax hyunje untk oMmAX. .

    Thor, semangatlah lanjtkan cerita iny??
    fiGhting. . .fighting. .

  3. aduh kelakuan kyuhyun
    polos banget tuh orang
    hahaha
    suka banget sama FF ini
    sayang udah end
    tp gpp
    tetep semangat thor🙂

  4. Whooaaa.. akhirnya satu persatu mereka menunjukkan ketertarikan terhadap pasangan msng2… 3 bersaudara yg aneh smua.. hehehehe
    Maaf bru comment d part terakhir….
    Sya suka adegan seechul yg jd raja setan mengatur keluarga’a… menjaga anak’a.. memikirkan msa dpan mereka… terharu dan lucu saat kyu kabur dri rmah dan kngen sma ibunya.. bgtupun sebalik’a… bgtu manis dan menyentuh….
    Kyu walau bkan anak kandung. Tetapi benr2 d jga n d syang oleh smua anghita keluarga… menunjukkan bhwa keluarga bkan hanya terikat hub drah…

    Seneng bgt sma crita d sni.. bhasa’a ringan dan lucu… penataan alur critanya jg okeh… hanya pada beberapa bag sya hrus bca ulang krn lmpat dri pasangan yg satu kpasangan yg lain.. trims bnyak…

  5. Wahhhh gokillll keluarga miring…gk emak gk anak smuanya gila ….senyum” sndiri byangin kelakuan kyuhyun yang ketawa” sndiri gegara abis ciuman….
    Ooo ya boleh minta pw bwat part 9 gk…q bacanya mundur hehehe…

  6. Aku cuma baca part ini tapi uda senyum2 semacam orang gila gara2 kelakuan keluarga aneh bin ajaib ini

    bagaimana bisa ibu kyuhyun berharap kyu ngehamilin je wo
    astagaaaa puhahahaha
    ibu yg keren

    dan dan dan waaaaaaaah kalian ditunangkan dan je wo mati2an gak mau karena alasan semacam itu ???
    dan semoga cara Kyuhyun manjur

    ahahahaha
    kenapa lah 3 org aneh inii
    KyuEunHae astagaa kalian bisa bikin aku stress mendadak hahaha

  7. ffnya keren ,pengen bca lanjtan ini ff eonnn :(knpa ga publis2 eon saya penasaran bnget eon sumpah dh. Oke ditnggu ya eon kelanjtan ff kece badainya .

  8. Dipart ini sumpah bacanya sambil senyum senyum gak jelas gitu, keluarga mereka itu emang unik bin ajaib, mulai dari tingkah orng tua mereka, couple hyukjae dan eunmi yg makin sweet, dan juga donghae dan hyeri, kemajuan banget buat mereka, krn udh ketahap kissing scene, padahal donghae masih jadi kekasih sicca. Sadar atau egak donghae itu selalu berusaha egak bkin hyeri sedih, mungkin hae udh mulai ada rasa sama hyeri…wkwk
    Dan yang bkin woww… kyuhyun yg tiba” aja cium je wo, disaat mereka masih tergolong baru aja ketemu dibNding couple lain, dan jawaban kyuhyun wktu ditnya hyukjae dan donghae soal dia yg senyum” sendiri “aku baru saja nerciuman hyung” sumpah ini kyuhyun terlalu polos atau gimna???wkwk

  9. “Hi Eonni, Nae reader baru
    “Izin obrak abrik rumah eooni ne

    Nae suka sama semua karakter yg ada di ff nya
    Apalagi Kyu, ampun dah dia polos bgt
    Nae tunggu next nya Eonni
    Fighting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s