If…

image

Tok tok tok

“Hyung,” Eunje menyandarkan sebelah bahunya pada dinding disebelah pintu kamar Hyunje. Tangannya mengetuk-ngetuk malas pintu kamar yang masih tertutup rapat itu, “Hyung,” panggilnya lagi, kali ini dengan sedikit nada kesal karena terlalu jenuh menunggu. Merasa tidak ada tanda-tanda kehidupan dari balik pintu itu, akhirnya ia memutuskan untuk berteriak. “Cho Hyunje, bangun!!! Semua orang sudah menunggumu di ruang makan, kenapa kau masih tidur seperti kerbau?!”

Brakkk.

Eunje menendang pintu kamar itu kuat sebelum melangkah pergi. Tapi kemudian ia mendengar pintu itu berderak hingga ia kembali berbalik, menemukan Hyunje yang telah berdiri di ambang pintu dengan wajah lusuh, tanpa pakaian, hanya memakai boxer hitamnya. Hyunje menyipitkan mata padanya.

“Siapa yang menendang pintu kamarku tadi?” Desisnya dengan suara serak.

Eunje memutar matanya, “Aku.” Jawabnya ringan.

“Kau mau mati, bocah tengil?” Geramnya. Hal yang tidak ia sukai di pagi hari adalah suara berisik dan Cho Eunje. Karena dua hal itu sungguh sangat berkaitan.

“Kau saja yang lebih dulu mati kalau kau mau. Kau bahkan tidur sudah seperti orang mati, Hyung.”

Keduanya saling memandang dengan cara yang berbeda. Hyunje sudah menipiskan bibirnya menahan geram atas sikap tidak hormatnya Eunje padanya, meski ia tahu kalau Eunje memang tidak akan pernah mau menghormatinya. Sedangkan Eunje, ia masih memasang wajah santai dan polosnya, ekspresi yang begitu di benci oleh Hyunje dan Eunje tahu akan hal itu.

Kedua laki-laki ini memang berbeda sifat meski memiliki kadar kerasa kepala yang sama tingginya. Tidak ada yang mau mengalah dan hanya akan akur dalam beberapa waktu. Belajar, merecoki Ibu dan Ayah mereka, menguras habis kekayaan Kakeknya, dan yang terakhir, mencintai Ibunya. Selain itu, jangan harap mereka mau untuk sekedar duduk berdampingan karena yang akan terjadi adalah percekcokan adu mulut yang tiada habisnya, dan bantal terbang yang membuat kedua orang tua mereka mengomel sepanjang hari.

“Sudah kubilang, jangan mendekati kamarku. Kau selalu membuat kebisingan disekitarku.” Umpat Hyunje, kakinya sudah melangkah kedepan, bersiap-siap menghampiri adiknya.

Eunje yang mengerti itu, segera melangkah mundur perlahan, namun masih menampakan wajah mengejeknya. “Kau kira aku mau mendekati kamarmu? Baunya saja sudah tidak enak tercium olehku. Kau kan pemalas dan… kotor. Ck, menjijikan!”

“Apa?” Geram Hyunje, kakinya telah berhenti melangkah dan hal itu turut dilakukan oleh adiknya. “Kau bilang apa tadi?”

Eunje menyeringai kecil, “Kau, menjijikan, Hyung.” Jawabnya santai.

“Diam disitu, kuhabisi kau!”

Saat Hyunje mulai berlari kearahnya, Eunje mendelik takut dan berlari menjauhinya.

“Omma!!! Hyung ingin memukulku!!!”

“Yah! Jangan lari kau. Cho Eunje! Aku tidak akan mengampunimu!”

“Appaaaaaaaa!”

Dan sebuah teriakan oleh suara lain pun terdengar.

“Beritahu saja padaku hasil akhirnya. Pemenangnya akan kubelikan mobil baru.”

***

“Hei, apa kau melihat Cho Hyunje?”

Shin Hye Sun yang sedang mengobrol dengan beberapa temannya menoleh kesamping, ketika ada seseorang yang menegurnya. “Cho Hyunje?” Ulangnya.

Laki-laki yang tadi menegurnya itu mengangguk sekedar. Hye Sun memerhatikan pria itu dari ujung kaki hingga ujung rambut. Sama sekali tidak menandakan kalau laki-laki yang sedang mencari kekasihnya itu adalah murid di sekolahnya.

Apa Hyunje bertengkar lagi? Tapi kenapa harus dengan murid smp? Batinnya. Ia menggeleng kecil, sama sekali tidak mengerti harus bagaimana lagi melarang kekasihnya itu agar tidak lagi terlibat dalam perkelahian.

“Ck, kalau tidak tahu cepat katakan! Kau hanya membuang-buang waktuku saja.”

Mendengar rutukan bocah itu, Hye Sun dan teman-temannya terkesiap. Bagaimana bisa bocah itu begitu kasar dan ketus pada orang yang sedang ia tanyai.

Saat bocah itu ingin beranjak pergi, Hye Sun segera memanggilnya.

“Hei, tunggu!”

Bocah itu berbalik, memandang datar pada Hye Sun, “Apa?” Tanyanya.

“Untuk apa kau mencari Hyunje?” Selidiknya. Matanya menyipit kecil, mencoba mengintimidasi bocah itu.

Tapi sayangnya, bocah itu sama sekali tidak terpengaruh. “Untuk apa kau mau tahu?” Balasnya ketus.

“Yah! Tadi kau menanyakannya padaku, kan?!” Geram Hye Sun yang Pada akhirnya terpancing oleh sikap ketus bocah itu.

“Tapi kau belum menjawab pertanyaanku, dan malah memerhatikanku seperti buronan. Itu tidak sopan.”

“Hei, jaga bicaramu bocah kecil!”
“Kau mau kuhajar?”
“Tidak sopan sekali!”

Bocah itu mengernyit kecil melihat teman-teman gadis itu mulai bersuara, lalu ia mengangkat sebelah sudut bibirnya, menyeringai. Ia melangkah maju, seperti ingin menantang orang-orang yang menghardiknya.

“Apa yang kau lakukan disini, Cho Eunje?”

Eunje berhenti melangkah, dan berbalik kebelakang, “Eo, Hyung.” Gumamnya,

“HYUNG?!” Pekik semua orang yang sedang mengelilingi mereka.

Hye Sun membelalak lebar. Menatap Hyunje dan bocah itu dengan bergantian. Sama sekali tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

Hyunje menggeram kesal. Lalu menyeret adiknya pergi dari sana. Ia membiarkan pandangan menuntut dari teman-temannya dan lebih memilih menjauhkan Eunje dari sana.

Hye Sun tidak tinggal diam. Ia segera mengikuti langkah kedua laki-laki itu dari belakang.

“Sedang apa kau disekolahku, hah?!” Pekik Hyunje setelah melemparkan adiknya pada sebuah dinding di koridor yang sepi. Hye Sun yang memerhatikan mereka terperanjat.

Eunje mendengus kesal dan memelototi Hyunje, “Kenapa kau membawaku kesini? Aku belum selesai dengan teman-temanmu itu.” Sungutnya.

“Kau ingin menjadi kambing guling dan dikuliti oleh mereka?” Hardik Hyunje, dan sebelum adiknya itu menyahut, ia sudah lebih dulu bersuara. “Untuk apa kau kemari? Kenapa tidak sekolah? Sekarang sudah pukul sepuluh, kau membolos? Ingin kuadukan pada Omma?”

Eunje mengerucut kesal, “Pertanyaanmu banyak sekali Hyung.” Keluhnya,

“Jawab saja!” Bentaknya.

“Cih,” Eunje merogoh saku celananya dan memberikan sebuah ponsel pada Hyunje. “Ponselmu tertinggal, dan Omma menyuruhku mengantarkan ponsel ini padamu. Dia takut kau nanti akan pulang malam dan menjadikan benda itu sebagai alasan.”

Hyunje mengernyit kecil saat mengambil ponselnya. Ia bahkan tidak ingat kalau benda itu tidak ia bawa sejak tadi. Memang benar, Ibunya selalu meneleponnya di jam kepulangan sekolah untuk menyuruh bocah itu segera pulang atau Cho Hyunje akan membuat onar lagi dan menyusahkannya dengan berkelahi bersama teman-temannya.

“Tunggu,” gumam Hyunje. “Kenapa kau baru mengantarnya sekarang?”

Eunje menyengir lebar dan Hyunje sudah mengerti maksudnya.

“Kau benar-benar cari masalah, bodoh!” Umpat Hyunje. “Lihat saja, akan aku aduka pada Omma kalau kau sengaja bolos dari sekolah.

“Tidak masalah, aku juga bisa mengadu pada Omma kalau kau menyimpan majalah dewasa di bawah kasurmu. Lalu beberapa video di dalam kotak yang kau simpan diatas lemari,” Eunje semakin menyeringai saat Hyunje mendelik terkejut. Dia memang selalu memegang kartu as saudaranya. Ketika Eunje menyadari keberadaan Hye Sun yang masih setia memerhatikan mereka. Ia kembali bergumam. “Dan tentu saja, Omma akan mengulitimu hidup-hidup kalau saja ia tahu, Shin Hye Sun adalah kekasihmu.”

Napas Hyunje tercekat dan ia cepat-cepat memandang Hye Sun yang membelalak lebar. Hyunje memang masih dilarang keras berpacaran oleh Ibunya. Dan bocah nakal itu memang dijaga super protektif oleh kedua orangtuanya.

Hyunje dan Eunje memang berbeda. Hyunje cenderung nakal dan keras kepala hingga sulit sekali melarangnya jika ia melakukan kesalahan. Sedangkan Eunje, ia lebih manis dibandingkan Hyunje. Meski ia juga sama keras kepalanya, setidaknya bocah itu tidak suka membangkang seperti saudaranya, dan lebih sering berada dirumah dari pada keluyuran tak tentu arah. Dan hal itu sering membuat Hyunje merasa kesal padanya, karena menurutnya, sikap Eunje yang seperti itu membuat kedua orangtuanya berpikir kalau Hyunje harusnya seperti Eunje.

“Yah, dia adikmu?” Tanya Hye Sun, kakinya sudah melangkah mendekati mereka. Ia tidak melepas pandangannya dari Eunje yang memandangnya dengan senyuman. “Kenapa kalian tidak mirip?”

“Ck, kenapa kau ada disini! Cepat pergi, biar aku yang mengurus bocah tengil ini.” Umpat Hyunje.

“Benar kau adiknya?” Seperti tidak memedulikan  ocehan kekasihnya,  Hye Sun mulai menanyai Eunje.

“Benar. Kau kekasihnya, kan? Kau bisa dibunuh Ommaku kalau dia tahu kalian berpacaran.”

“Cho Eunje!” Bentak Hyunje padanya. “Heish, menyebalkan sekali.”

Eunje tersenyum lebar padanya, “Hyung,” panggilnya dengan sedikit manja. “Uang sakuku habis.”

“Lalu?” Sungut Hyunje.

“Berikan aku uang.”

Hyunje tertawa hambar, “Enak saja kau. Lagi pula, kenapa uangmu sampai habis hah? Kau gunakan untuk apa?” Hardiknya.

“Ada seorang Ahjumma yang tadi mengalami kerampokan. Dia tidak punya uang untuk kembali pulang. Jadi, kuberikan saja uangku padanya.”

Hyunje mendesah panjang. Sudah terlalu mengerti dengan sikap pahlawan dan dermawannya Eunje. Bocah itu memang tidak bisa melihat orang lain kesulitan. Hyunje melirik Hye Sun sesaat, gadis itu sedang tersenyum haru pada adiknya.

“Arraseo, kuberi kau uang. Tapi kau segera pulang, mengerti?”

Eunje menggeleng tegas, “Entah apa jadinya aku kalau pulang secepat ini.” Protesnya.

Eunje benar, batinnya. Satu-satunya wanita yang tinggal dirumah mereka terlalu mengerikan.

“Apa Ibu kalian semenyeramkan itu?” Tanya Hye Sun dengan ringisannya.

Eunje mengangguk kuat. “Shin Je Wo sangat mengerikan. Apa lagi kalau dia tahu kau berpacaran dengan pria ini. Ommaku bisa membunuhmu hidup-hidup.”

“Yah, jangan menakut-nakutiku!” Bentak Hye Sun.

Hyunje cepat-cepat memberikan beberapa lembar uang pada adiknya agar bocah itu segera menghilang dari hadapannya, “Ini, kau pergi kerumah Halmeoni saja, atau Ahjumma. Mereka bisa diandalkan.” Suruhnya.

“Shireo!”

“Lalu kau mau pergi kemana?” Geram Hyunje.

Eunje tersenyum simpul, “Eunhyuk Appa-ku. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya.”

“Monyet yadong itu? Kalau dia memberitahu Appa, maka matilah kau.”

“Tidak mungkin,” Eunje mengambil uang itu dari tangan  Hyunje. “Karena yang menyuruhku membolos adalah dia. Kami berencana pergi memancing bersama hari ini.”

Hyunje menggelengkan kepalanya, Eunje memang terlalu menyayangi pamannya yang satu itu. Lalu Eunje mulai pergi meninggalkan mereka.

“Hei, jangan pergi kemana-mana lagi! Telepon aku kalau kau sudah sampai ditempatnya!” Teriak Hyunje. Eunje hanya mengangguk sekedar tanpa menoleh. “Hati-hati dijalan!”

Hyunje terus memandangi punggung Eunje hingga tidak lagi terlihat olehnya. Membiarkan bocah itu berada diluar sana sendirian membuatnya merasa sedikit tidak enak.

“Apa sebaiknya aku saja yang mengantarkannya?” Gumamnya sendiri. Lalu saat Hyunje menunduk kesamping, ia melihat Hye Sun tersenyum geli memandangnya. “Apa?”

“Kau manis sekali kalau sedang mencemaskan adikmu seperti ini.”

“Siapa yang mencemaskannya?”

Hye Sun semakin gencar menggodanya. Hyunje memang selalu bersikap dingin pada semua orang, bahkan padanya juga seperti itu. Satu-satunya keramahannya yang pernah ia perlihatkan hanya pada psp miliknya. Tapi Hye Sun tahu, Hyunje selalu menyayangi orang-orang terdekatnya. Ia hanya tidak tahu saja bagaimana cara menunjukannya.

“Kenapa tidak pernah memberitahuku kalau kau punya adik?”

“Kau tidak pernah bertanya.”

“Adikmu lucu, tampan dan sangat menggemaskan.”

Hyunje menyipitkan kedua matanya, “Lalu? Kau tiba-tiba menyukainya, begitu?” Sindirnya.

Hye Sun terkikik geli, “Ah… Cho Hyunje sedang cemburu pada adiknya sendiri.” Gumamnya. Ia sengaja mengerling jahil pada Hyunje.

Mereka berdua tertawa bersama, lalu Hyunje merangkul Hye Sun dan mendekati wajah gadis itu, “Aku tidak cemburu,” bisiknya. “Karena kedua matamu hanya akan berbinar ketika menatapku. Jadi hentikan omong kosong itu.” Hyunje sengaja tersenyum menawan pada Hye Sun yang seketika termenung memandang senyuman kekasihnya.

Hyunje tahu, senyumannya memang kelemahan gadis itu. Ia mengecup dahi gadis itu sedikit lama hingga Hye Sun tersenyum kecil.

“Nanti malam aku kerumahmu. Sudah lama aku tidak pergi kesana dan bermain catur dengan Ayahmu.”

“Kau tidak takut Ibumu marah?”

“Tenang saja, aku sudah bilang kalau nanti malam aku akan menemani Han Yeol merawat ibunya dirumah sakit.”

“Apa? Bukankah kemarin Ibunya Han Yeol sudah keluar dari rumah sakit?” Hye Sun memandang Hyunje tidak mengerti.

Hyunje tersenyum lagi, “Bodoh, itu kan hanya alasanku saja. Nanti malam berdandan yang seksi.” Godanya.

Hye Sun segera melayangkan pukulannya pada lengan Hyunje, “Dasar setan mesum.” Umpatnya.

“Eo, sepertinya aku sering mendengar kalimat seperti itu.” Gumamnya.

Fin

180 thoughts on “If…

  1. mereka dah pada dewasa ya..kelakuan hyunjae sama kayak kyuhyun tapi masih peasaran ma kelanjutan cho family apa kyu masih ma superjunior klo anak2nya dah pada gede gimana kehidupan mereka diusia tuanya

  2. Haha… If!! Jatuh cinta sama cerita ini. Buah jatuh gak jauh dari pohonx…
    Wkwk, gak kebayang gimana frustasix je wo ngurusin 3 setan d rumahx…😀

  3. Astaga mereka udh besar yaa… aigooo gantengnyaaa… wkwkwkkwkwkwk
    Tp inii cm 1 doank cerita yang tentang mereka udh dewasa?
    Ak mauu lagii thoorr… seruuu

  4. akuuuut, cho kyuhyun bgt anaknya wakakAkakakaka daebak!
    pdhl dua2nya OC tp dapet bgt feelnya, btw yg di poster ada seunghonya, itu hyunje apa eunje?

  5. Hahahahhaa setan mesum??? Itu pnggilan syang dri eomma u k appa u hyunje,, msa kau lupaa.. heedeuhhhh gmnaaa sulitnya itu kdua ank laki2nya sma keras kplanya. Gaa da yg mwu ngalah,, tpi mrip k dua org tuanya sihh. Hahhhaaaa

  6. aigo Cho Hyunjae setan mesum it pnggilan syang King nd Quis titisan iblis
    Wakakka
    Kaka” bradik abnormal dah, tp sweet bnget lucu critanya
    buat lg thor yg hyunjae sma Eunjae udh bsar psti seru.bnget

  7. aku baca ini😀 penasaran sama hyunje sama eunje kalo udah gede .. aigoo ternyata .. mereka bener2 menjelma menjadi setan kkk~
    sama2 keras kepala, apalagi itu sifatnya mereka bener2 bikin shock ckckck meskipun sering bertengkar tapi mereka manis^^ apalagi saat hyunje khawatirin eunje😀
    tapi agak bingung juga.. udah lama ga ikutin cerita kyuje’s family #nyengir

  8. Mereka udah pada gede2 dan kelakuannya mirip kyuhyun semua :v
    Tergila2 sama Hyunje-Eunje🙂
    Untung sifat je wo ga beda jauh dr para setan itu *nyeremin* kalo ga bisa gila dia ngurusin ketiga orang itu.

  9. Eon ngusull dong tiba-tiba pgn baca ff ini lg daan pas baca tiba-tiba pengen eoni buat kayak gini ff yang menceritakan kehidupan dewasa cho brother😀 mereka tampan dan mempesona dong yaa . ;;)

  10. Sifat Hyunjae gg jauh beda sma appa nya,,,aga mesumm,,hhahha,,,tpii lucuu waktuu hyunjae khawatir sma eunjae,,,sbenernyaa hyunjae tu syang bgtt sma adeknya,,,tpi dia ngungkapinnya dgn cara teriakk n memaki,,,hhahha,,,dsar pasangan adek kk yg aneh,,,sma kyk omma n appa nya,,,

  11. saudara ttp saudara, walaupun mereka sering bertengkar tapi saling menyayangi.. hihihihi lucu hyunje khawatir sma adeknya coba bisa liat muka lucunya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s