Perfect Princess – Trouble

photo.php

Sesuatu yang tampak indah oleh mata tidak selalu indah, dan apa yang tampak buruk tidak selamanya buruk.

Kedua mata Je Wo terbuka, lalu ia mengerjap. Pandangannya mengarah lurus kelangit-langit berwarna putih. Kepalanya terasa pusing, lalu sedikit demi sedikit ia mengingat kejadian yang menimpanya beberapa saat lalu.

            Tiba-tiba tubuhnya menggigil, seperti ketakutan. Je Wo menegakkan tubuhnya hingga menyandar pada dinding ranjang. Menyadari kalau saat ini dirinya sedang berada disebuah ruangan rawat kesehatan. Kepalanya tertunduk dalam, bayangan-bayangan itu kembali mengisi kepalanya. Tapi… yang membuatnya merasa aneh, bagaimana ia bisa selamat? Padahal, Je Wo ingat kalau disana hanya ada dirinya.

            Saat mendengar suara berisik dari luar ruangan, Je Wo mengangkat wajahnya. Memandangi pintu itu lama hingga akhirnya terbuka. Disana tampak Donghae, Yoon So, dan juga Hyukjae yang memandangnya. Tapi tatapan Je Wo terpaku pada Donghae, dan tubuhnya kembali menggigil.

            “Kau baik-baik saja?” tanya Yoon So pelan dengan suara lirihnya.

            Je Wo mengangguk sekali. Dan mereka mulai mendekatinya. Donghae lebih dulu menghampirinya dan berdiri tepat di depannya. Kedua mata pria itu tidak memiliki konsentrasi seperti biasanya. Ia terlihat sedang mencari-cari sesuatu dalam diri Je Wo, tapi entah apa itu.

            “Kau tahu siapa yang melakukan ini?” tanya Donghae padanya.

            Dahi Je Wo berkerut kecil, ia mencoba mengingat-ingat sesuatu. Tapi Donghaelah yang selalu mengisi semua isi kepalanya. Saat ini, entah kenapa ia sangat membutuhkan pria itu. Ia menggigit bibir bawahnya kuat, saat matanya terasa memanas.

            “Sudah memeriksa CCTV?” tanya Je Wo dengan suara bergetar.

            “Sudah,” sahut Hyukjae. Ia memandang Je Wo dengan ringisan kecil. “Ada sesuatu yang aneh, Princess. Rekaman CCTV pukul lima hingga tujuh pagi tidak ada, mereka bilang ada sesorang yang merusak sistemnya.”

            “Ada seseorang yang ingin mencelakaimu,” sambung Yoon So, suaranya terdengar marah. “Pesan itu, lalu foto-foto sialan itu, semuanya sengaja dilakukan untuk memancing emosimu. Dan kau, sudah terpancing olehnya.”

            Hyukjae menggeram, “Aku benar-benar akan mencekik orang itu kalau ketemu. Entah apa yang dia lakukan sampai kau hampir kehabisan napas di dalam sana. Tapi, Princess,” Hyukjae menatap Je Wo dengan raut wajah serius. “Apa kau sudah tidak sadarkan diri saat dia menceburkanmu kedalam kolam renang? Dia memukul kepalamu hingga pingsan? Karena kau pasti bisa berenang dan menyelamatkan dirimu saat dia mendorongmu kedalam sana.”

            Jantung Je Wo berdegup kuat. Dan matanya sontak memandang Donghae yang masih memandanginya. Si pelaku jelas sekali tahu tentangnya yang tidak bisa berenang. Dan, satu-satunya orang yang mengetahui hal itu disini adalah… Lee Donghae.

            Tapi mana mungkin, mana mungkin Donghae berniat menyakitinya. Karena jika ia melakukannya, itu sama saja seperti ia menyakiti dirinya sendiri. Lalu… pasti ada seseorang yang tahu mengenai rahasianya.

            “Aku bisa mengajarimu berenang kalau kau mau.”

            Tubuh Je Wo terhentak ketika sebuah kalimat menggema dalam kepalanya. Kedua tangannya sontak meremas kuat selimut yang sedang membaluti tubuhnya, “Aku tahu,” gumamnya serak. “Aku tahu siapa dia.”

            Donghae memandangnya awas, lalu membelalak lebar saat Je Wo menyingkap selimutnya dan segera beranjak dari sana dengan tubuh sedikit limbung hingga ia berhasil menangkapnya, “Katakan saja siapa orangnya, biar aku yang mengurusnya.” Desis Donghae.

            Je Wo menepis kedua tangan Donghae yang memeganginya. Lalu kembali melanjutkan niatnya. Hyukjae, Yoon So, dan Donghae tidak akan bisa melarang Je Wo saat gadis itu sedang ingin mengamuk. Untuk itu, mereka hanya dapat mengikuti kemana gadis itu melangkah.

            Je Wo berjalan dengan kedua kaki gemetar, tapi tidak sekalipun dapat dilihat oleh orang lain, kalau keadaannya sedang memprihatinkan. Kedua matanya menajam, dan tangannya semakin terkepal kuat. Semua orang yang ia lewati memandang ngeri padanya.

            Mata Je Wo menelisik keseluruh tempat, mencari seseorang yang sudah sangat ingin ia hadiahi sesuatu. Sungguh, tidak pernah sekalipun ia semurka ini. Je Wo seperti sudah sangat siap mencabik-cabik tubuh si pelaku apapun resikonya.

            Dan langkah Je Wo sempat terhenti saat ia menemukan Kyuhyun sedang mematung memandangnya dari bawah anak tangga. Tangannya kembali mengepal, kini bahkan sudah memucat seperti kapas. Dengan langkah besar, ia berjalan menghampiri Kyuhyun.

            PLAK.

            Sontak sekeliling mereka menyepi, tidak mengeluarkan suara apapun lagi. Tamparan itu, Je Wo baru saja menampar Kyuhyun dengan kekuatan yang entah dari mana ia dapatkan. Bahkan, saat Kyuhyun menoleh padanya, semua orang dapat melihat sudut bibir pria itu berdarah.

            Tangan Je Wo masih gemetar, bahkan lututnya semakin melemas. Tapi ini belum selesai, pikirnya. Cho Kyuhyun harus merasakan hal yang setimpal.

            “Apa yang kau lakukan?” desis Kyuhyun, punggung tangannya menyeka sudut bibirnya yang berdarah.

            “Beraninya kau,” geram Je Wo dengan bibir gemetar dan mata memerah, “Siapa kau sampai berani membuatku seperti ini?!” teriaknya.

            “Kau_”

            “Tutup mulutmu, berengsek! Kau pikir aku tidak tahu kalau kau yang melakukannya?! Kau menguping pembicaraanku dan Donghae hari itu, hanya kau yang tahu rahasiaku selain Donghae. Berani sekali kau mencelakaiku!”

            Tangan Je Wo kembali melayang di udara, tapi kali ini ia tidak dapat mendaratkan tamparannya lagi. Kyuhyun menahan pergelangan tangannya, menarik tubuh Je Wo kearahnya hingga mereka begitu dekat. Napas Kyuhyun memburu emosi, kedua matanya berkilat marah.

            “Dengar,” desisnya. “Aku tidak akan mau bersusah payah menyelamatkanmu disana, kalau yang kuingankan adalah mencelakaimu.”

            Kedua mata Je Wo melebar. Tidak mungkin, tidak mungkin pria ini… batinnya.

            Kyuhyun beralih mengcengkram kedua bahu Je Wo dengan kuat, bahkan gadis itu sempat meringis sakit, “Apa sebenarnya kau berharap aku membiarkanmu tenggelam disana, hem? Jangan membuatku merasa sia-sia saja karena telah menyelamatkanmu, Shin Je Wo.” Kyuhyun mendorong kuat tubuh Je Wo kebelakang hingga gadis itu terhuyung dan hampir jatuh keatas lantai kalau saja Donghae tidak datang menghampirinya.

            Gadis itu terdiam kaku. Bukan Kyuhyun pelakunya, dan dia baru saja menampar orang yang bahkan sudah menyelamatkan nyawanya.

            “Kau tidak apa-apa?”

            Ia mendengar Donghae berbisik cemas. Tapi belum lagi ia sempat menoleh padanya, Donghae sudah bergerak dan menerjang Kyuhyun kedepan. Lagi-lagi kedua mata Je Wo melebar melihat Donghae menendang perut Kyuhyun hingga pria itu terhempas keanak tangga.

            “Hae!” pekik Je Wo kuat.

            Donghae meraih kerah seragam Kyuhyun, tapi Kyuhyun sudah lebih dulu menendang perut Donghae, seperti yang ia lakukan sebelumnya. Kedua pria itu sudah siap untuk saling memukul satu sama lain kalau saja Hyukjae tidak datang dan melerai mereka berdua.

            Kris yang baru saja menginjakkan kakinya disana, segera berlari kearah Je Wo yang berlutut diatas lantai. Memeriksa keadaan gadis itu, “Apa yang terjadi?” tanya Kris bingung.

            “Katakan pada Sehun untuk membantu Hyukjae.” Perintah Je Wo.

            Kris mengangguk, lalu memberi kode pada Sehun untuk membantu Hyukjae yang kesulitan melerai Kyuhyun dan Donghae. Dalam rangkulan Hyukjae, Donghae masih bergerak-gerak liar, ingin kembali menerjang Kyuhyun. Sedangkan Kyuhyun lebih memilih tersenyum begis padanya.

____000____

“Benar, kau tidak ingin bantuanku? Aku bisa memanggil pengacara untuk mengurus semuanya, Princess.”

            Je Wo tersenyum kecil melihat bagaimana cemasnya Tae Wa padanya. Tae Wa membelai rambutnya penuh sayang, dan Je Wo kembali sangat mencintai Kakeknya.

            “Aku tidak apa-apa, Kakek. Tenang saja, aku akan secepatnya mencari siapa pelakunya, dan akan menghancurkannya dengan kedua tanganku sendiri.” Ujarnya yakin. Ia bergerak maju untuk memeluk Kakeknya. Memberikan ketenangan pada pria tua itu agar tidak lagi mencemaskannya. Sejak Tae Wa pulang kerumah, ia tidak membiarkan Je Wo turun dari ranjangnya karena takut gadis itu masih sakit.

            “Aku hanya punya kau di Duni ini. Jadi, siapapun yang berusaha mengambilmu dariku, akan kusingkirkan.”

            Je Wo tersenyum kecil, “Termasuk Tuhan?” godanya.

            “Kalau itu, aku sudah memiliki perjanjian dengannya.”

            Je Wo berjengit aneh, melepas pelukan mereka dan menatap Tae Wa dengan kening berkerut. “Perjanjian apa?”

            Tae Wa tertawa pelan. Ia mencium dahi Je Wo lama dan lembut. “Dia tidak akan mengambilmu dariku. Dan sebagai gantinya, aku yang akan pergi lebih dulu. Aku sudah mengatakan padanya, jangan lagi membuat aku ditinggalkan sendirian.”

            Wajah Je Wo sontak berubah. Ia memandang Tae Wa dengan pandangan kesal, “Kakek,” rajuknya. “Kau tidak akan menainggalkanku. Kau pikir, kau saja yang tidak mau ditinggalkan lagi?” Je Wo menunduk dalam. “Aku juga tidak mau ditinggalkan sendiri. Kalau kau pergi, aku juga akan ikut.”

            Tae Wa tersenyum lembut. “Kalau kau ikut, siapa yang nanti akan menghabiskan harta warisanku?”

            “Kakek…” rengek Je Wo kesal.

            Lalu Tae Wa kembali tertawa dan memeluk cucunya. Hingga tiba-tiba, sebuah ketukan terdengar.

            “Masuk.” Teriak Je Wo. Lalu ketika pintu kamarnya terbuka, ia sedikit terperangah menemukan Donghae disana.

            “Oh, Donghae?” gumam Tae Wa.

            Donghae melangkah masuk dan membungkuk sopan, “Apa kabar, Kakek. Sudah lama tidak melihatmu.” Sapanya sopan.

            Tae Wa berdiri dari tempatnya, dan menghampiri Donghae. Ia memeluk pria itu, “Aku juga sudah lama tidak melihatmu sejak…” Tae Wa melepas pelukannya dan tampak berpikir. “Sepertinya sudah sejak lama, iya, kan?”

            Donghae tersenyum kaku. Dia memang sudah tidak pernah lagi menginjakkan kakinya disana sejak dua tahun yang lalu. Sejak peristiwa yang hampir membuat Je Wo kehilangan nyawanya. Donghae melirik Je Wo sesaat, gadis itu masih memandanginya tidak percaya.

            “Baiklah, kau pasti ingin menjenguk Je Wo. Kalau begitu aku pergi dulu, aku tahu anak muda sangat membutuhkan waktu yang lama untuk berbicara,” seloronya dengan suara berat yang sudah tua. “Hahaha, dulu aku juga sering begini.”

            Tae Wa sudah menyentuh knop pintu saat Je Wo bersuara.

            “Kau tidak pernah seramah ini pada Kris, bahkan melarangnya masuk kekamarku.”

            Tae Wa menoleh pada Je Wo dengan wajah garang. “Aku tahu pria seperti apa yang pantas untukmu, Princess.”

            Je Wo memutar matanya malas, dan Tae Wa sudah menutup pintu kamarnya, menyisakan dia dan Donghae disana. Je Wo menautkan kedua alisnya pada Donghae yang masih berdiri kaku ditempatnya. Ia tertawa pelan, lalu menggeser tubuhnya ketengah ranjang, kemudian menepuk-nepuk ranjang disampingnya untuk Donghae.

            Pria itu mendesah panjang, lalu menurut. Tapi ia tidak duduk disamping Je Wo, melainkan di pinggir ranjang, hanya saja wajahnya menghadap pada gadis itu.

            “Ada keajaiban apa sampai Tuan Lee Donghae yang terhormat ini mau mendatangi rumahku?” goda Je Wo. Ia memang sering dan suka menggoda Donghae, bahkan setiap kali Yoon So menggoda Donghae, ia orang yang paling senang dan turut membantu.

            “Kau baik-baik saja?” tanya Donghae dengan suara tenangnya. Wajahnya kembali mendingin, seperti biasanya.

            Je Wo merengut masam, “Entah sudah berapa orang yang menanyakan hal itu padaku. Aku baik-baik saja, oke. Bahkan, kupikir sepertinya aku memiliki banyak nyawa karena pernah selamat dari kematian sebanyak dua kali.” Kekehnya.

            Kedua mata Donghae menajam keras dan Je Wo segera melenyapkan tawanya, “Itu bukan lelucon.” Desisnya.

            “Aku tahu,” sela Je Wo dengan suara serius. Wajahnya pun sudah kembali angkuh seperti biasanya. “Tapi, memangnya aku harus bagaimana? Lagi pula aku memang sudah baik-baik saja, walaupun setiap kali mengingat kejadian itu, perutku seperti ingin mual.”

            Donghae menarik lengan Je Wo mendekat, memeluk gadis itu lembut dan membelai rambut lurusnya dengan telapak tangan, “Maaf, aku tidak datang menolongmu.” Bisiknya parau. Kedua matanya terpejam saat darahnya terasa berdesir-desir seperti beberapa tahunlah, saat ia memeluk Je Wo seperti ini.

            Je Wo terpaku sejenak, tidak menyangka akhirnya Donghae mau kembali memeluknya setelah sekian lama. Ia turut memejamkan mata, membalas pelukan Donghae, dan semakin mengeratkannya. Sejak siang tadi, Je Wo memang membutuhkan pelukan pria ini.

            “Kau tahu, Hae,” bisiknya, “Satu-satunya yang dapat kuingat saat aku hampir mati, adalah kau.” Je Wo tahu tubuh Donghae menegang, karena pria itu semakin mengeratkan pelukannya. “Aku ingin mejerit memanggil namamu, tapi tidak bisa.”

            Suara Je Wo terdengar serak, dan Donghae melepaskan pelukannya. Dipandanginya wajah gadis itu lama dengan wajah yang berbeda. Ia mengulurkan tangannya, membelai wajah Je Wo dengan jemarinya, “Inilah alasanku menjauh darimu. Kita tidak bisa terus terikat seperti ini.” Desahnya.

            Je Wo mengangguk mengerti, “Ya, karena saat kau sedang kesakitan, saat kau sedang terpuruk, hancur, kau juga hanya akan mengingatku. Bahkan Lee Hyukjae saja, sama sekali tidak kau ingat.” Seloro Je Wo.

            Donghae tidak merespon candaannya. Ia masih memandang Je Wo dengan ekspresi yang sama. “Aku menyayangimu, sungguh. Jangan membenciku karena selama ini aku terus menjauhimu. Dan perkataanku waktu itu, maafkan aku. Aku tidak bersungguh-sungguh mengatakannya. Aku tidak mungkin menjadi lebih baik melihatmu mati, ditangan orang lain.” Sesalnya.  “Aku ingin terus bersamamu seperti sebelumnya. Tapi aku terlalu takut, aku sangat takut.”

            Je Wo menyentuh jemari Donghae yang masih membelai wajahnya. Menggenggamnya hangat, “Begitu juga denganku, Hae. Kita tahu kalau tidak akan ada yang berhasil dari hubungan kita,” Je Wo mengecup punggung tangan Donghae lama, dan penuh kasih sayang. “Biarkan semuanya seperti ini, seperti biasanya. Karena semuanya akan menjadi lebih baik.”

            Donghae kembali menarik tubuh Je Wo kepelukannya. Kini ia mengecup dahi gadis itu lama, “Ya, kita akan terus seperti ini. Biarkan saja semuanya berjalan seperti biasa. Cukup hanya kau dan aku saja yang tahu, apa yang pernah terjadi pada kita.” Ia kembali merengkuh Je Wo dalam pelukannya.

            “Jangan lupakan kembaranmu itu.” Kekeh Je Wo.

            Kini Donghae turut tertawa bersamanya. Ia mengacak rambut Je Wo pelan, rasanya sudah lama sekali mereka tidak saling terbuka seperti ini.

            “Tapi, Hae, kenapa kau tadi memukul Kyuhyun?” tanya Je Wo pelan.

            Donghae melepas pelukannya dan matanya menajam menahan sesuatu, “Dia mendorongmu sekuat itu dan kau hampir saja terjatuh. Asal kau tahu, dari awal aku memang sudah tidak menyukainya.” Geramnya.

            Je Wo mengangguk sekedar, tapi matanya memandang Donghae penuh arti, “Bagaimana bisa Kyuhyun yang menyelamatkanku?” tanya gadis itu pelan.

            Donghae menarik napasnya panjang, sama sekali tidak berniat menceritakan aksi kepahlawanan Kyuhyun pada Je Wo. Tapi bagaimanapun, Je Wo harus tahu kalau memang pria itulah yang menyelamatkannya.

            Donghae menyipitkan kedua matanya lurus kedepan, saat melihat Kyuhyun berlarian menuruni anak tangga dengan menggendong seseorang dikedua tangannya. Tubuh Kyuhyun basah, dan pria itu menjerit-jerit memanggil nama Hyukjae. Donghae yang saat itu sedang berdiri dan mengobrol bersama Yoon So di sebuah tempat, mulanya hanya memandang Kyuhyun dengan tatapan menyelidik. Tapi, saat perlahan ia melihat siapa yang berada dalam gendongan Kyuhyun, kedua matanya membelalak lebar.

            “Je Wo!” pekiknya. Lalu ia segera berlari mengejar Kyuhyun.

            “Lee Hyukjae!!” Kyuhyun masih memanggil-manggil nama Hyukjae, lalu ia berhenti. Menurunkan Je Wo keatas lantai dan memompa dada gadis itu.

            Donghae berhasil menghampirinya, jantungnya berdegup keras melihat Je Wo dalam keadaan pingsan dan seluruh tubuhnya basah, “A-apa yang terjadi?” gumamnya terkejut.

            Kyuhyun menoleh kebelakang, Napasnya tersengal, “Oh, kau. Beritahu aku dimana ruang kesehatan, dia harus segera mendapatkan perawatan.” Jelas Kyuhyun.

            Donghae bergeming, matanya terfokus pada wajah pucat Je Wo yang tampak damai.

            “Apa yang terjadi pada Je Wo?” Tanya Yoon So, ia sudah berada disisi Je Wo yang lain. Menyentuh wajah temannya.

            Kyuhyun menggeleng sekali, “Saat aku menemukannya di dalam Kolam renang, dia sudah dalam keadaan pingsan.” Jawab Kyuhyun.

            Lutut Donghae melemas, matanya memerah dan hampir menangis. Lalu ia merasa seluruh pasokan udara disekitarnya menghilang. Suara berisik yang ditimbulkan oleh kerumunan di sekelilingnya turut menyelenyap, digantikan dengan dengungan teriakannya beberapa tahun lalu.

            Semuanya sama persis. Saat itu, ia juga berteriak-teriak seperti Kyuhyun memanggil-manggil Hyukjae. Saat itu, ia juga menggendong Je Wo yang dalam keadaan tak berdaya dan membawa tubuh gadis itu kemana-mana untuk menyelamatkannya. Dan sekarang, Donghae kembali merasa tersiksa, seperti saat itu.

____000____

Kyuhyun meringis kecil saat menyentuh sudut bibirnya yang masih memerah akibat tamparan Je Wo padanya siang itu. Ia menatap bibirnya melalui cermin, mengumpat pelan mengingat bagaimana kerasnya gadis itu menamparnya. Rasanya Kyuhyun benar-benar akan meledak siang itu karena Shin Je Wo.

            Dengan hebatnya, gadis itu menunduhnya telah mencelakainya sedangkan ia sudah bersusah payah menyelamatkanya dari sana. Belum lagi pertengkarannya dan Donghae, yang semakin membuat tanda tanya besar dalam benaknya.

            Kyuhyun memutar tubuhnya, lalu berjalan mendekati ranjang. Menghempaskan diri disana dan menerawang kelangit-langit kamarnya yang didominasi warna krem muda. Kamar pria itu tidak terlalu besar dan terkesan minimalis.

            Kyuhyun kembali teringat percakapan antara Donghae dan Je Wo di depan lift. Ia sangat yakin, ada sesuatu yang terjadi diantara mereka berdua sebelumnya. Cara mereka bertatapan saat itu, sangat berbeda ketika mereka di kelilingi oleh yang lain. Lalu saat ia berlaku kasar pada Je Wo siang tadi, Donghae seperti ingin membunuhnya. Caranya menatap Kyuhyun, lebih mengerikan beribu kali lipat dibandingkan saat Kyuhyun memergoki Donghae tengah bermesraan dengan kekasihnya.

            Kyuhyun mendudukkan dirinya cepat disisi ranjang, kepalanya memiring kecil dengan wajah berpikir, “Apa mungkin… mereka pernah berpacaran?” gumamnya. Tapi selama ini Je Wo tampak biasa-biasa saja berada disekeliling Donghae dan Yoon So. Bahkan, ia tidak pernah mempermasalahkan kemesraan Donghae dan kekasihnya.

            “Tapi, yang lebih penting adalah, siapa yang membuat Je Wo berada di kolam renang itu?” gumamnya lagi. Sebelah tangannya menyapu wajahnya sebentar. “Selama ini tidak ada yang tahu kalau dia tidak bisa berenang kecuali aku dan Donghae. Kalau begitu_”

            “Ibumu bilang kau pulang dalam keadaan terluka.”

            Pintu kamar Kyuhyun terbuka begitu saja, dan Ayahnya masuk dengan wajah cemas bercampur marah. Kyuhyun menautkan kedua alisnya saat memandang Ayahnya. Sama sekali bukan waktu yang tepat kalau Yeung Hwan ingin mengintrogasinya, karena Kyuhyun sedang ingin memikirkan sesuatu.

            “Kau  berkelahi?” tatapan Yeung Hwan jatuh pada sudut bibirnya yang memerah.

            Kyuhyun mendengus kecil, “Kau pernah melihatku terluka sekecil ini setelah berkelahi, Ayah?” Kyuhyun sengaja memakai nada menyindirnya. Sejak Ibu kandungnya meninggal, Kyuhyun tidak pernah lagi memandang dan berbicara pada Ayahnya selayaknya seorang anak. “Dan katakan pada wanita itu untuk tidak selalu ikut campur dalam urusanku.”

            Yeung Hwan menatapnya tajam, “Ibumu mencemaskanmu, Kyu.” suaranya terdengar rendah dan mendingin.

            Ekspresi wajah Kyuhyun seperti sedang menertawakan pernyataan Ayahnya, “Ibuku sudah mati, Ayah.” Balasnya.

            Yeung Hwan meringsek maju, dan Kyuhyun mengubah ekspresi wajahnya menjadi serius. Seperti siap untung menantang Ayahnya, hingga ketika Yeung Hwan menangkap reaksi itu, ia menghentikan langkahnya.

            Yeung Hwan menggeleng lirih, “Apa kau tidak pernah merindukan kehidupan yang normal?” tanya pria itu, suaranya terdengar lebih lembut dari sebelumnya. “Apa yang kau butuhkan sudah ada tepat didepan matamu. Kenapa kau masih meneruskan perasaan kehilangan yang sama sekali tidak perlu.”

            Kyuhyun berdiri tegak didepan Ayahnya. Napasnya mulai memburu, “Aku kehilangan Ibu kandungku, sebelum aku sempat memanggilnya Ibu. Aku dilaharikan dari hubungan terlarang hanya demi uang! Lalu aku dibesarkan oleh wanita yang tidak seharusnya membesarkanku,” kedua tangan Kyuhyun terkepal kuat dan gemetar. “Sampai matipun, aku tidak akan lagi bisa hidup dengan normal, seperti yang kau katakan.”

            “Kau akan menyesal_”

            “Keluar dari kamarku!”

            Kyuhyun memandang bengis Ayahnya, tidak ada kasih sayang dan cinta yang pernah ia tunjukkan pada Ayahnya selama ini. Ia selalu dihantui rasa bersalah, marah, dan menyesal setiap kali memandang Ayah dan Ibu tirinya.

____000____

“Benar kau sudah baik-baik saja?”

            Je Wo memutar bola matanya malas, terlalu jengah mendengar pertanyaan itu sejak semalam hingga sekarang. Kris masih menatapnya menunggu, mereka sedang duduk bersebelahan disofa panjang yang berada di Basecamp mereka, sebuah tempat yang sering mereka pakai untuk mengobrol ataupun mendiskusikan apapun bersama teman-teman mereka yang lain.

            Kris masih menyapukan ibu jarinya diatas bibir penuh Je Wo yang kali ini dipoles dengan lip gloss merah muda. Matanya memandangi seluruh wajah Je Wo, seperti ia begitu mendambakan wajah itu. Kris memiliki tatapan mematikan untuk semua gadis disekelilingnya. Setiap kali ia sudah memandang gadis-gadis dengan caranya seperti sekarang, semua yang ia tatap akan merasa perutnya teraduk-aduk hingga terasa perih, tapi sangat nikmat.

            Begitu juga dengan Je Wo yang telah menarik sudut bibirnya keatas, “Aku baik-baik saja, Kris. Ayolah, kenapa semua orang masih saja mencemaskanku.” Rutuknya.

            “Karena kami semua menyanyangimu, sayang.”

            Je Wo tersenyum kecil sebelum mengalungkan lengannya disekitar leher Kris, lalu menarik pria itu mendekat padanya untuk sekedar menyapukan kecupan ringannya. “Terima kasih.”

            Kris meringis dengan wajah sensualnya dan membuat Je Wo tersenyum nakal, “Kau yakin benar-benar sudah tidak apa-apa?” suaranya terdengar menggoda dan menggelitik ditelinga Je Wo.

            “E-hem.” Dehem Je Wo lembut, sedangkan telunjuknya sudah bermain diatas dada Kris yang sedikit terkespos dihadapannya.

            Seringaian Kris mulai terlihat saat ia mencengkam pinggang Je Wo dan meraih gadis itu keatas pangkuannya. Je Wo terpekik dengan tawanya, hanya sebentar karena setelah itu mereka mulai mencumbu satu sama lain dengan bibir yang saling memagut. Kris begitu piawai memanjakan bibir Je Wo yang seperti memohon padanya untuk dipuaskan.

            Sedangkan Je Wo tidak berhenti memeras rambut pria itu dengan ritme menggoda dan membuat gairah Kris semakin membara. Keduanya bergerak intens diatas sofa, saling memuaskan satu sama lain seperti tidak memedulikan hal apapun lagi disekitar mereka.

            “Oh, yeah… bisakah kalian menunda kegiatan itu, setidaknya hingga matahari benar-benar sudah terlihat.”

            Kris melepas cumbuannya, melirik kebelakang bahu Je Wo yang naik turun karena napas terengahnya. Diambang pintu, sudah ada Hyukjae, Donghae, Min Ki dan Yoon So. Hyukjae menyipit malas memandangnya, Min Ki dan Yoon So tersenyum menggoda, sedangkan Donghae sama sekali tidak menampakkan ekspresi apapun.

            Kris berdecak kecil, lalu memandang Je Wo dengan seriangainnya, “Para pengganggu itu ada disana.” Bisiknya hingga Je Wo turut menyeringai.

            Je Wo meloncat turun dari pangkuan Kris. Saat memandang teman-temannya yang masih memerhatikan mereka berdua, Je Wo menyeka bibir ranumnya yang tersenyum kecil dengan Ibu jari, kemudian merapikan tatanan rambut dan pakaiannya, “Selamat pagi.” Sapanya ramah.

            Yoon So mendesah tak percaya, dan mereka mulai menghampiri mereka berdua. Ketika Je Wo dan Donghae bertemu pandang, Je Wo dapat melihat perubahan wajah pria itu. Lee Donghae tidak lagi sehangat tadi malam, dan dia bukanlah Lee Donghae miliknya.

            “Omong-omong, matahari memang sudah benar-benar terlihat, Lee Hyukjae.” Sindir Kris, sedangkan Hyukjae hanya memutar bola matanya malas. Kris memberi perintah pada Je Wo untuk kembali duduk disampingnya dengan kedipan matanya, dan gadis itu menurut. Saat Je Wo menghempaskan diri disampingnya, lengan Kris segera bergerak cepat melingkari pinggangnya.

            “Kris, berhentilah bermesraan dihadapan kami.” Cibir Min Ki.

            “Dan kau, cepatlah mencari kekasih agar tidak selalu merecokiku.” Balas Kris, lalu ia dan Je Wo tertawa bersamaan.

            “Stop,” potong Yoon So. Kedua matanya memelototi mereka bertiga. “Kita harus membicarakan sesuatu yang serius. Jadi, berhentilah berdebat, oke?”

            Kedua mata Je Wo mengerjap sekali, dan ia sudah memandang Yoon So dengan keseriusannya, “Membicarakan si pelaku?” tebaknya.

            “Yup,” kepala Hyukjae mengangguk pasti. “Kali ini kita harus benar-benar bekerja secara ekstra, Princess. Demi Tuhan, kepalaku ingin pecah mencari bukti atau sesuatu yang berkaitan dengan kejadian kemarin semalaman ini.”

            “Dia tidak tidur semalaman dengan tumpukan CCTV yang ia ambil dari sekolah. Bahkan, berusaha mengotak-atik sistem yang dirusak oleh si pelaku,” Sahut Yoon So. “Meskipun semua orang juga tahu dia tidak sepintar itu untuk memperbaiki sistemnya.”

            “Terima kasih, Soo Yoon So.” Cibir Hyukjae.

            Beberapa dari mereka tertawa, hanya Donghae, Je Wo dan Kris yang masih bertahan dengan wajah serius mereka. Kris dan Donghae memandangi Je Wo yang hanya menatap lurus kedepan. Kedua pria itu seperti memasang sebuah aura pelindung dengan tatapan mereka.

            “Bajingan itu tidak akan lepas dengan mudah,” gumam Je Wo. Suara dan ekspresi wajahnya berubah dingin. “Sepandai apapun dia bersembunyi, aku pasti dapat menemukannya dengan kedua tanganku.”

            Min Ki menyeringai kecil, “Ya, itu pasti, Princess. Dan aku akan menyiapkan pesta kejutan untuknya.” Timpalnya.

            “Dengan cara apa kau akan menemukannya?” sahut Donghae. Ia membuang napas kasar dan memalingkan wajah saat mereka semua memandangnya. “Tidak ada satu petunjukpun yang kita dapatkan. Mencarinya, bahkan lebih sulit dibandingkan mencari jarum dalam tumpukan jerami.”

            “Kau meragukanku, Lee Donghae?” desis Je Wo.

            Donghae menatapnya tajam, “Haruskah kukatakan tidak?” balasnya. Kedua matanya seperti menyampaikan sesuatu yang telah mengintimidasi Je Wo hingga gadis itu memalingkan wajah.

            “Waw, ada apa dengan kalian?” sambung Yoon So. Ia menyentuh lengan Donghae pelan. “Kau bertengkar dengannya, Hae?”

            Je Wo memejamkan matanya sejenak, “Aku akan memikirkan bagaimana caranya nanti. Lagi pula, hal seperti ini tidak harus kita pikirkan terlalu jauh. Aku bisa mengatasinya.” Ujarnya, lalu ia menoleh dengan senyuman manis pada Kris. “Ayo, aku ingin kembali kekelas.”

            Kris meraih jemari Je Wo dan mereka berdua mulai beranjak dari sana. Tapi langkah mereka harus terhenti saat Donghae kembali bersuara.

            “Keadaan sekarang sangat membahayakan bagimu, Je.”

            Je Wo membeku ditempatnya.

            “Semua orang sudah tahu kelemahanmu. Dan tidak menutup kemungkinan akan ada pelaku-pelaku lainnya yang sedang menunggumu diluar sana.”

            “Donghae benar,” sambung Yoon So. Ia memandang punggung Je Wo dengan sedikit cemas. “Kau tahu berapa banyak orang yang sangat membencimu, Je. Dan si pelaku itu bisa saja juga tahu kelemahan-kelemahanmu yang lainnya lalu kembali mencelakaimu. Kita harus cepat mencarinya.”

            Min Ki berdehem pelan dan tampak ragu, “Sejujurnya, aku sedikit terkejut saat tahu kau tidak bisa berenang.” Gumamnya pelan.

            Je Wo berbalik cepat dan menatap Min Ki tajam, “Kau terganggu dengan itu, Park Min Ki?” desisnya marah.

            “Ti-tidak, bukan seperti itu. Kau jangan salah paham.”

            Kris menarik lengan Je Wo kearahnya, “Tenang, sayang. Mereka hanya mencemaskanmu.” Bisiknya. Kris menatap mereka semua dengan mata tegasnya. “Aku akan membawa orang-orangku untuk bergabung bersama kita dan membantu kita mencari siapa pelakunya. Kalian tidak perlu mencemaskan Je Wo, karena aku akan menjaganya dengan hati-hati mulai sekarang.”

            Je Wo berjengit, dan menepis lengannya kasar. Ia menatap Kris dengan wajah marah. “Apa maksudmu? Aku bisa menjaga diriku sendiri, Kris Wu. Jangan memperlakukanku seperti bocah!”

            Kedua mata Kris membulat seketika. “Bukan seperti, Princess. Aku hanya_”

            “Cukup, aku akan kembali kekelas.” Je Wo beranjak meninggalkan Kris.

            “Aku akan mengantarmu.”

            Gadis itu berbalik dan melemparkan tatapan murkanya pada Kris yang sontak menghentikan langkahnya, “Jangan-mengikutiku-Kris.” Perintahnya penuh ancaman.

***

Jinla tertawa girang setiap kali tangannya bergerak lincah diatas layar ponselnya. Senyuman penuh kemenangannya selalu terlihat sejak kemarin, atau lebih tepatnya sejak semua orang mengerumuni tubuh Shin Je Wo yang terbaring lemah diatas lantai dengan keadaan tak berdaya. Gadis ini memang sangat membencinya setelah Je Wo benar-benar mempermalukan dirinya di depan umum dan menjadikannya santapan beberapa orang yang senang mengolok-olok para golongan darah campuran.

            Eunjin yang sedang berkutat dengan Laptopnya, melirik pada Jinla dengan dahi mengerut. Seperti biasa, saat jam istirahat, mereka berlima akan berkumpul di sebuah ruangan yang tidak terlalu besar, yang dulu dijadikan beberapa murid sebagai ruangan untuk membuang pakaian kotor namun telah mereka ubah menjadi sebuah basecamp untuk mereka menghabiskan waktu. Dan siang ini, ia selalu melihat Jinla tersenyum senang entah karena apa.

            “Eonnie, kenapa sejak tadi kau selalu tertawa dan tersenyum seperti itu?” tanya Eunjin. Eunra dan Daena yang tadinya sedang mengobrol ringan juga turut menoleh pada Jinla.

            Jinla membalas tatapan mereka satu persatu, lalu kembali tersenyum penuh arti. “Tidak apa-apa, aku hanya sedang membahas kejadian memalukan yang baru saja dialami Tuan Putri kita bersama teman-temanku yang juga sangat membencinya.” Bibir Eunra membentuk bulatan kecil, lalu Daena turut tersenyum senang.

            “Akhirnya, Tuan Putri yang malang tertimpa nasib sial karena ulahnya sendiri, ya?” gumam Eunra sinis.

            “Memang sudah sepantasnya, kan? Lagi pula, orang yang mencelakainya pasti juga pernah ia sakiti.” Sambung Daena.

            Jinla tertawa puas, “Kalian tahu, beberapa teman-temanku menjadikan tanggal kemarin sebagai hari spesial mereka. Aku masih tidak bisa melupakan wajah menyedihkan gadis sialan itu saat terbaring diatas lantai. Kemana wajah bengis dan menjijikkannya itu? Bahkan ia terlihat sepadan dengan lantai kotor yang ia tiduri.” Tawa bahagia ketiga gadis itu terdengar disana.

            Eunjin tersenyum kecil. Apa yang dikatakan sahabatnya itu terdengar benar ditelinganya. Shin Je Wo memang terkadang harus mendapatkan balasan yang setimpal setelah apa yang telah ia lakukan pada ia dan Darah Campuran selama mereka bersekolah disana. Tidak sekalipun mereka dapat bernapas lega karena ada saja orang-orang yang memandang rendah pada mereka.

            Kedua mata Eunjin bergerak memandang sosok gadis yang sejak tadi terduduk dengan kedua kaki meringkuk di sudut ruangan. Kedua matanya menatap lurus kedepan, penuh kekosongan. Seperti memikirkan sesuatu yang begitu berat.

            “Kyungie,” panggil Eunjin. Seo Kyung bergeming ditempatnya. “Kyungie, Kyungie, Shin Seo Kyung!”

            Seo Kyung tersentak dan menoleh cepat pada Eunjin, “Ya?” gumamnya pelan.

            Eunjin menggeleng pelan, “Kau sedang apa? Kenapa melamun saja sejak tadi, aku bahkan sudah berkali-kali memanggilmu.” Rutuknya.

            Seo Kyung tersenyum kaku, “Maaf, aku sedang memikirkan sesuatu tadi.” Kilahnya.

            “Memangnya apa yang kau pikirkan, hem?” sahut Eunra.

            “Siapa lagi kalau bukan Ryeowook Oppa…” sela Jinla, menirukan bagaimana Seo Kyung jika menyebut nama kekasihnya.

            Mereka semua tertawa, sedangkan Seo Kyung hanya merespon dengan senyuman kecil. Lalu matanya mengarah pada sebuah kotak kecil yang berada diatas lemari tinggi yang sedang Jinla sandari sejak tadi.

***

Shin Je Wo hampir saja ingin berlari saat melihat Kyuhyun sedang menuruni anak tangga yang sama dengannya. Mereka sama-sama berhenti ditempat masing-masing dengan saling bertatapan. Kyuhyun memandang Je Wo seakan ia sangat membenci gadis itu, sedangkan Je Wo memandang Kyuhyun dengan perasaan sedikit menyesal.

            Keduanya sama-sama kembali melanjutkan langkah masing-masing. Hingga saat bahu mereka saling berselisih, Je Wo mengatakan sesuatu pada Kyuhyun.

            “Maaf atas kesalah pahaman kemarin.”

            Langkah Kyuhyun terhenti, ia sempat berdiam diri disana sebelum berbalik dan menatap punggung Je Wo yang mulai melenyap dimatanya. Kyuhyun ingin memanggil Je Wo, tapi menyusul gadis itu adalah pilihan terakhirnya.

            Dengan langkah lebarnya, Kyuhyun berhasil mengikuti kemana Je Wo pergi. Saat ia melihat gadis itu berjalan menuju kolam renang, Kyuhyun mulai melangkah penuh hati-hati karena tidak ingin Shin Je Wo menyadari keberadaannya.

            Kyuhyun melihat Je Wo berhenti cukup lama di ambang pintu yang menghadap langsung pada sisi kolam renang. Bahu Je Wo terlihat terangkat tinggi, seperti sedang menarik napas sedalam mungkin. Entah mengapa, Kyuhyun merasa sedikit prihatin padanya dan ingin menarik gadis itu keluar dari sana. Melihat tempat dimana ia hampir saja mati, pasti sangat sulit baginya, pikir Kyuhyun.

            Kedua mata Kyuhyun tampak serius memerhatikan gerak-gerik Je Wo. Je Wo masih memandangi kolam renang itu cukup lama. Lalu mulai memerhatikan sekelilingnya. Tatapannya jatuh pada sebuah kayu panjang di sudut dinding, dan ia beranjak menghampiri benda itu.

            Je Wo berjongkok untuk menyentuhnya, Kyuhyun dapat melihat wajah berpikir Je Wo dari tempatnya. Kepala gadis itu menggeleng pelan saat ia kembali melemparkan pandangannya pada kolam renang dan Je Wo kembali berjalan, seperti ingin mengelilingi tempat itu.

            Kyuhyun masih memerhatikannya meski mulai sedikit bosan karena ia sudah terlalu lama menjadi penguntit seperti itu. Pria ini hampir saja pergi meninggalkan tempat itu jika saja sebuah suara tidak terdengar olehnya, hingga membuat ia memfokuskan diri untuk memandangi Je Wo kembali.

            “Maaf, Nona. Bisakah anda berpindah dari sana? Saya harus mengambil tempat sampah itu untuk mengeluarkan isinya.” Ujar seorang pria yang berseragam sebagai petugas kebersihan sekolah.

            Je Wo mengangguk sekedar dan bergeser kesamping untuk membiarkan pria itu melakukan pekerjaannya. Saat pria itu mengeluarkan segenggam sampah dengan tangannya yang telah dilapisi sarung tangan, Je Wo mendesah jijik dan memalingkan wajahnya.

            Ia merasa ingin mual jika harus menyaksikan pria itu bergumul dengan sampah-sampah yang kotor. Je Wo berbalik dan mulai beranjak pergi. Hanya saja, langkahnya kembali terhenti saat kedua matanya tiba-tiba melebar, seperti baru saja melihat sesuatu.

            Je Wo kembali berbalik, menatap sampah-sampah yang telah dikeluarkan petugas kebersihan itu dan telah berada disebuah kantong pelastik hitam yang ia bawa. Kedua alisnya bertaut tegang, “Tunggu,” potongnya. Pria itu menengadah padanya. “Bisakah kau mengeluarkan kembali sampah-sampah itu keatas lantai?”

            Pria itu mengernyit bingung, “Ta-tapi… sampah-sampah ini_”

            “Sekarang.” Cetus Je Wo tegas.

            Tahu bagaimana resiko yang akan ia hadapi jika tidak menuruti keinginan Shin Je Wo. Pria itu segera mengeluarkan kembali sampah-sampah yang sudah berada didalam kantong pelastiknya.

            Je Wo memerhatikan dengan serius setiap sampah-sampah itu mulai berserakan diatas lantai. Hingga tiba-tiba saja, seringaian mengerikannya terlihat ketika pria itu mengeluarkan sesuatu dari sana.

            “Cukup, sekarang asingkan itu dari sana,” tunjuknya pada sesuatu yang berada dalam genggaman pria itu. “Berikan padaku setelah kau membersihkannya. Aku menunggumu, dan kau tahu harus mencariku kemana, kan?” Meski tidak mengerti, pria itu mengangguk kuat pada Je Wo yang setelah itu segera beranjak pergi meninggalkannya.

            Kyuhyun menyipitkan kedua matanya saat Je Wo berjalan menuju kearahnya. Pria itu cepat-cepat bersembunyi dibalik sebuah dinding agar tidak terlihat oleh Je Wo. Setelah Je Wo benar-benar pergi, Kyuhyun bergegas masuk kedalam dan mengejar pria yang hampir saja pergi bersama sekantung pelastik sampah.

            “Paman, tunggu sebentar.” Teriaknya.

            “Ya?”

            “Bisakah kau tunjukkan padaku, apa yang dicari oleh gadis itu?”

            Pria itu mengerutkan dahinya bingung. Lalu mendesah panjang saat merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah sabun mandi. “Ini.”

            Kedua alis Kyuhyun bertaut memandang sabun itu dengan tatapan tidak mengerti, “Sabun?” gumamnya pelan. Kenapa Je Wo tertarik pada sabun itu? Lalu Kyuhyun memandangi sabun itu lagi, ada dua buah hurup yang terbentuk cantik diatas sabun itu.

            SK

            “Maaf, saya harus segera pergi.” Ujar pria itu.

            Kyuhyun mengangguk sekali dan membiarkan pria itu melanjutkan kegiatannya lagi. Ia masih tidak mengerti dengan sabun itu. Apakah mungkin sabun itu berhubungan dengan insiden kemarin? Kyuhyun masih belum dapat menguraikannya.

            Pria ini mendesah putus asa sebelum memutuskan untuk pergi dari sana. Tapi lagi-lagi ia kembali mengernyit saat melihat seorang gadis yang perawakan lugu sedang berdiri dengan wajah cemas diambang pintu. Kyuhyun memusatkan pandangannya pada gadis itu.

            “Shin Seo Kyung.” Panggilnya.

            Seo Kyung tampak terkejut dan menatap Kyuhyun dengan wajah memucat. Ia mulai bergerak-gerak gelisah ditempatnya meski Kyuhyun hanya memandanginya saja. Kyuhyun mulai menghampirinya, berdiri dihadapan Seo Kyung dengan wajah bertanya.

            “Sedang apa kau disini?” tanya Kyuhyun.

            “I-itu, aku…” kedua mata Seo Kyung seperti sedang mencari-cari sesuatu disekitarnya.

            “Kau mencari sesuatu?”

            “Tidak!”

            “Lalu?” Kyuhyun tahu ia tidak dapat menyembunyikan nada penarasan dalam suaranya.

            “Aku hanya sedang berjalan-jalan saja.”

            Kyuhyun mengangguk mengerti, “Disini tidak ada sesuatu yang bisa dilihat selain air. Membosankan sekali. Lebih baik kau pergi berjalan-jalan ketempat lain saja. Lagi pula tempat ini masih belum aman karena pelaku kecelakaan yang dialami Shin Je Wo masih belum ditemukan.” Jelasnya.

            Seo Kyung mengangguk kuat dan beranjak pergi meninggalkan Kyuhyun yang terus memerhatikan gerak-geriknya, “Aneh sekali gadis itu.” Gumamnya kecil sembari menggedikkan bahunya.

            Merasa cukup lelah dan tersadar kalau ia terlalu ingin tahu segalanya yang berhubungan dengan Shin Je Wo, Kyuhyun menggigit bibirnya gusar, “Hei, kenapa aku harus merepotkan diri untuk memikirkan masalah gadis itu?” gumamnya.

            Ia menggeleng kuat dan akhirnya benar-benar pergi dari sana. Memikirkan suasana perpustakaan yang tenang dan dapat membuatnya tertidur, Kyuhyun memutuskan untuk mendatangi tempat itu. Sepanjang jalan, ia selalu berusaha mengalihkan pikirkannya dari masalah Je Wo meski gagal.

            Sama halnya seperti saat ia menemukan tubuh gadis itu mengapung diatas air, Kyuhyun tidak dapat mencegah dirinya untuk tidak menolong Je Wo dan memastikan keadaan gadis itu baik-baik saja. Meski tidak terima, tapi Kyuhyun menyadari ada sebagian dari dalam dirinya yang selalu ingin melindungi gadis itu.

            “Tidur. Aku harus tidur agar setengah dari ingataanku tentang gadis itu hilang,” gumamnya sembari melangkah memasuki perpustakaan. Saat ia melewati Hwang Hye Ra, ia melihat senyuman ramah dan manis milik wanita itu tertuju padanya, membuat ia membalas senyuman itu dengan canggung, “Untung saja aku tidak tertarik pada wanita yang berumur.” Gumamnya pelan.

            Kyuhyun mengitari pandangannya pada sekeliling perpustakaan, mencari-cari tempat yang strategis baginya untuk terlelap. Matanya menangkap sosok perempuan yang pernah ia temui disana sebelumnya. Perempuan yang masih duduk ditempat itu, dengan penampilan yang sama.

            Perlahan, Kyuhyun mendekatinya dan hampir saja mencoba menyapa jika saja gadis itu tidak tiba-tiba menengadah dan berbicara dengannya.

            “Maaf, kalau kau datang hanya untuk tidur, lebih baik cari meja lain saja karena aku ingin belajar dengan tenang.”

            Jantung Kyuhyun berdegup kuat karena terkejut melihat wajah gadis itu dengan tiba-tiba. Rambutnya tergerai dengan sedikit berantakan, bola matanya yang tersembunyi dibalik kacamata beningnya berbinar, kulit pucatnya membuat penampilannya sedikit menyeramkan meski Kyuhyun mengakui kecantikan gadis itu.

            “Ti-tidak,” jawab Kyuhyun gugup. “Aku tidak ingin duduk disini.”

            “Cho Kyuhyun.”

            Kyuhyun menoleh kebelakang saat merasakan seseorang menepuk pelan pundaknya, “Eo, Han Eunjin?” gumamnya.

            “Aku tidak tahu ternyata kau suka mengunjungi perpustakaan.” Ujar Eunjin dengan senyuman manisnya. Ia tampak begitu senang mendapati keberadaan Kyuhyun disana.

            “Dia akan melakukannya setiap kali ingin tidur di siang hari.” Sahut gadis itu dengan suara mendayu.

            Kyuhyun dan Eunjin menatapnya, dan gadis itu sudah kembali menunduk, menenggelamkan diri pada sebuah buku tebal.

            “Aku akan membawa Kyuhyun bersamaku, Park Jin Ju-sshi.” Ujar Eunjin, lalu ia segera menarik lengan Kyuhyun untuk mengikutinya. Eunjin memilih salah satu meja yang terletak di sudut ruangan yang cukup jauh dari Jin Ju.

            “Jadi namanya Park Jin Ju.” Gumam Kyuhyun sembari menghempaskan dirinya diatas sebuah kursi, namun matanya masih memerhatikan Jin Ju yang masih menunduk dalam.

            “Dia selalu berada disini setiap hari.” Ujar Eunjin.

            Kyuhyun menatapnya, lalu tersenyum kecil. “Kau juga selalu berada disini.”

            “Hm, begitu juga denganmu, eum… sleeping handsome?”

            Mereka berdua sama-sama tertawa pelan. Eunjin mulai membuka lembaran buku dan alat-alat menulisnya, “Sedang belajar?” tanya Kyuhyun.

            “Mengerjakan tugas.”

            “Oh, kau rajin sekali.” Puji Kyuhyun.

            Eunjin meliriknya dengan mata menyipit, “Mengerjakan tugas sekolah bukanlah kerajinan, tapi keharusan, Kyu.” Omelnya.

            “Kalau begitu, kau tidak keberatan jika aku memintamu untuk mengerjakan tugasku, kan?” Kyuhyun tersenyum menggoda padanya.

            Eunjin mengambil sebuah buku tipis dan memukulkannya pada wajah Kyuhyun pelan, “Tidak.” Jawabnya tegas.

            “Hei, aku hanya bercanda.” Kekeh Kyuhyun. Lalu ia mulai melipat kedua tangannya diatas meja, sebagai alas kepalanya untuk mulai terlelap.

            “Kudengar ada seseorang yang mencelakai gadis itu.”

            Kedua mata Kyuhyun yang sempat terpejam kembali terbuka saat mendengar gumaman Eunjin. Ia kembali menegakkan tubuhnya dan memandang gadis itu yang tampak sibuk menulis sesuatu diatas bukunya. “Shin Je Wo?”

            “Hm.”

            “Belum ada yang bisa mencari tahu siapa pelakunya.”

            “Pasti akan sulit.” Jawab Eunjin cepat, meski ia semakin tampak asyik dengan pekerjaannya.

            Kedua alis Kyuhyun saling bertaut. “Kenapa?”

            “Mengingat hampir semua orang yang berada disekolah ini membencinya, pasti akan sulit menemukan siapa pelakunya sedangkan semua orang memiliki kesempatan yang sama.”

            Kyuhyun sedikit menyeringai, “Kau juga merasa memiliki kesempatan itu?” ia berusaha sedikit memancing mengingat Eunjin cukup tidak suka pada Je Wo.

            Tangan Eunjin yang sejak tadi bergerak diatas bukunya mulai berhenti. Ia tersenyum kecil dengan dengusan pelan, lalu menatap Kyuhyun dalam. “Jika kau menjadi aku, atau kami, kau pasti akan sangat tertarik melakukannya, Kyu. Melihat seseorang yang selalu menjadikan kami seperti sampah menderita, mencela kami sesuka hatinya meski ia tidak mengenal kami dengan baik, itu adalah sesuatu yang sangat menggiurkan.”

            Wajah Kyuhyun sedikit menegang, pandangannya berubah awas.

            Eunjin menghela napas panjang dan memandang keluar pintu, “Kami tidak dapat belajar dengan cara yang sama seperti mereka. Tidak bisa berbaur dengan semua orang dan bahkan harus merasa terkucilkan hanya karena kami… berbeda.” Eunjin tertawa hambar.

            “Aku mengerti,” gumam Kyuhyun pelan. “Kalian tidak pantas diperlakukan seperti itu.”

            Eunjin kembali memandangnya dan kali ini menambahkan sebuah senyuman tulus. “Itulah mengapa aku mau berteman denganmu. Karena kau tidak sama seperti mereka, Kyu.”

***

“Aku tidak bertengkar dengannya, Baby…” desah Donghae lelah, karena sejak tadi Yoon So selalu menuduhnya dan Je Wo bertengkar. Donghae melirik Hyukjae yang memang saat ini berada bersama mereka berdua, pria itu berpura-pura memejamkan mata dengan kedua telinga yang tersumbat oleh sebuah earphone.

            “Lalu kenapa tadi kau bersikap seperti itu dengannya, eo? Apa karena kemarin Je Wo lebih membela Kyuhyun setelah pria itu menemukan kita?” tanya Yoon So lagi. Kedua matanya masih terus menyipit menatap Donghae.

            “Untuk apa aku marah hanya karena dia lebih membelanya,” jawab Donghae datar. “Baby, ayolah… aku tidak bertengkar dengan Je Wo dan kau tidak lelah menanyai hal itu terus menerus padaku?”

            Yoon So menghela napas mengalah dan mengerucutkan bibirnya. “Aku hanya tidak mau melihatmu dan Je Wo bertengkar. Kalian berdua adalah bagian terpenting dalam hidupku, Hae.”

            Donghae tersenyum sendu, “Aku tahu,” gumamnya dan ia mulai mengusap lembut rambuat Yoon So. “Tapi aku dan Je Wo memang benar-benar tidak bertengkar. Tadi itu, aku hanya… mencemaskannya saja.”

            “Benar?”

            “Hm.”

            Yoon So tersenyum lebar, “Kalau begitu baguslah. Aku senang kalau kalian tampak akur.” Kekehnya.

            “Memangnya selama ini kau melihat kami selalu bertengkar?” rutuk Donghae.

            Tawa kecil Hyukjae membuat sepasang kekasih itu menoleh bersamaan padanya, “Jangan berpura-pura lagi, Lee Hyukjae!” ujar mereka bersamaan.

            Hyukjae membuka kedua matanya dan memandang mereka dengan senyuman geli, “Kalian berdua benar-benar menggelikan.” Kekehnya.

            “Dan aku tidak mengerti kenapa kau selalu saja mengekoriku kemanapun.” Umpat Donghae.

            “Hei, aku hanya tidak mau kau terus menerus bercinta dengannya, Hae.”

            “Diam kau,” bentak Yoon So. Ia memang selalu merasa kesal pada Hyukjae yang sering kali mengikuti mereka kemana-mana hanya karena merasa curiga karena setiap kali mereka berduaan, maka mereka pasti akan bercinta. “Tapi, Hae, sebenarnya aku sempat merasa kalau kau dan Je Wo sangat mirip.”

            Donghae menautkan alisnya memandang Yoon So. Sedangkan Hyukjae kembali memerhatikan mereka berdua.

            “Sifat kalian berdua sama persis. Keras kepala, dingin, dan selalu sulit mengendalikan emosi. Sama sekali tidak berbeda. Mungkin, kalau saja kau jatuh cinta padanya, sekolah ini benar-benar dalam masalah besar. Dan aku membayangkan, jika kau adalah kekasihnya dan menemukan siapa yang mencelakai Je Wo, entah apa jadinya orang itu ditanganmu. ”

            Yoon So terus menerus berceloteh memaparkan kemiripan sifat Donghae dan Je Wo, tidak menyadari perubahan wajah Donghae maupun Hyukjae. Donghae mengalihkan pandangannya pada Hyukjae, memandangi saudaranya dengan napas yang sedikit memburu. Entah mengapa semua yang diutarakan Yoon So membuat pikirannya kembali pada masa lalunya.

            Hyukjae meneguk ludah beratnya, ia menggeleng pelan, seperti berusaha menenangkan Donghae. Mengeluarkan Donghae dari bayangan masa lalunya yang mengerikan.

***

Je Wo memandangi sebuah sabun yang dilapisi oleh pelastik putih, yang berada diatas meja belajarnya. Dengan mengenakan piyama tidurnya, ia masih setia duduk dengan kedua kaki terlipat diatas kursi belajarnya dan mengamati sebuah sabun, yang ia temukan di kolam renang sekolah, dan entah mengapa membuat ia merasa begitu yakin kalau sabun itu pasti terkait dengan kecelakaannya.

            Je Wo berusaha mengingat kejadian sebelum ia tercebur dalam kolam renang itu. Saat itu, ia yang dalam keadaan marah besar segera bergegas menuju sebuah kayu panjang yang berada di tepi kolam renang itu untuk menarik keluar sebuah papan besar yang terapung diatas kolam renang, sebuah papan yang berisikan segala macam hinaan tentangnya.

            Alis Je Wo terangkat keatas, “Kenapa kayu itu ada ditepi kolam renang? Dan tadi… kayu itu berada di sudut dinding. Itu berarti, kayu itu termasuk rencana untuk menjebakku, kan?” gumamnya.

            Je Wo terperanjat kecil, dan kembali menatap sabun itu dengan wajah menegang, “Benar, dia harus meletakkan kayu itu ditepi kolam renang agar aku mendekati kolam renang itu tanpa menyadari kalau sabun ini, akan membuatku terpeleset dan jatuh kedalamnya.” Kedua tangan Je Wo mengepal kuat.

            Ia terus menerus memandangi sabun itu hingga menyadari sesuatu. Disentuhnya sabun itu dengan tangannya, dan meraba tulisan diatasnya, “SK?” gumamnya lagi.

            Setelah berpikir cukup lama, Je Wo membuka Laptopnya dan mengetikkan tulisan itu di kolom pencarian. Tangan dan matanya bergerak lincah kesana kemari untuk mencari sesuatu yang mungkin dapat membantunya mengetahui siapa yang menjebak dirinya.

            Dan usahanya berbuah manis saat sesuatu yang mengejutkan tertangkap oleh kedua matanya. Je Wo menyeringai kecil, “Jadi kau orangnya.” Gumamnya puas.

***

Pagi ini, senyuman Je Wo seperti tidak ingin lepas dari bibirnya setiap kali ia melangkah melewati orang-orang yang menyapanya. Senyuman itu bukan untuk mereka, melainkan untuk sesuatu yang sebentar lagi akan terjadi disekolah itu.

            Je Wo hampir saja mengeluarkan senandung riangnya setiap kali memikirkan pembalasan seperti apa yang nanti akan ia lakukan. Seseorang yang sudah berani menyiram minyak tanah pada tubuhnya, berarti sudah siap untuk terbakar dengan kobaran api miliknya.

            Saat ia berada diambang pintu kelasnya, ia menyeringai penuh pada Min Ki yang saat ini ditemani oleh Yoon So untuk mengobrol. Kakinya melangkah cepat menghampiri kedua gadis itu, “Hei, ayo ikut aku.” Perintahnya.

            Yoon So dan Min Ki mengernyit bingung menatapnya.

            “It’s show time, girl.” Ujarnya dengan senyuman penuh arti, lalu segera beranjak pergi diikuti oleh Min Ki dan Yoon So yang hanya dapat turut tersenyum girang.

            Tidak perlu bertanya pada gadis itu apa maksud dari perkataannya karena mereka berdua sudah terlalu mengerti bagaimana Je Wo. Yoon So dan Min Ki saling melemparkan pandangan penuh kemenangan dan mulai membayangkan seperti apa keasyikan yang akan mereka peroleh setelah ini. Dan ketika Je Wo membawa mereka pada sebuah lorong yang sedikit sepi, keduanya saling berpandangan tak percaya akan apa yang mereka duga.

            “Kau yakin, Je?” tanya Yoon So memastikan.

            Je Wo hanya tersenyum penuh arti dibalik punggungnya, sedangkan kedua matanya menatap lega sebuah pintu kumuh yang berada disudut lorong yang mereka lalui. Saat mereka semakin mendekati pintu itu, semakin jelas pula terdengar tawa riang beberapa gadis yang berada di dalamnya.

            BRAK.

            Pintu itu terhempas kuat saat Je Wo membukanya. Kelima gadis yang berada disana, sontak menatap terkejut kearah Je Wo.

            “Selamat pagi, Mix Blood.” Sapa Je Wo ramah. Lalu matanya menjelajahi seisi ruangan itu, “Tolong jangan biarakan salah satu dari mereka keluar dari sini.” Ujar Je Wo. Yoon So dan Min Ki mengangguk siap.

            Je Wo mulai menggeledah seisi ruangan itu. Menghempaskan beberapa barang-barang yang mengisi sebuah lemari besar di sudut ruangan. Dan dalam sekejap, ruangan yang tadinya tertata rapi itu menjadi porak-poranda oleh ulahnya.

            “Apa yang kau lakukan?!” bentak Eunjin marah. Ia menghampiri Je Wo dan menarik bahu gadis itu hingga mereka saling bertatap sengit. “Hentikan!”

            Kedua mata Je Wo berubah dingin, dan rahangnya mulai mengeras. Kedua bola mata coklatnya seakan siap menusuk Eunjin hingga cengkraman gadis itu pada bahunya terjatuh begitu saja. Je Wo melirik kebelakang bahu gadis itu dan menemukan keempat gadis lainnya tampak menegang ditempat mereka.

            “Diam dan jangan menggangguku, Han Eunjin. Aku hanya butuh sedikit waktu untuk mencari sesuatu yang telah disembunyikan oleh salah satu dari kalian.”

            “Maksudmu?”

            Shin Je Wo menyeringai penuh saat melirik seseorang dari keempat gadis itu. Lalu kembali berbalik untuk memeriksa isi lemari. Namun, kedua matanya tiba-tiba saja menangkap sebuah kotak kecil yang berada diatas lemari itu. Je Wo mengerutkan dahinya memandang kotak kecil itu, lalu ia menarik sebuah kursi kayu untuk membantunya mengambil kotak kecil itu.

            Kini sebuah kotak kecil berwarna coklat mudah telah berada ditangannya. Je Wo melirik kedua temannya yang tampak menunggu dengan rasa tak sabar, kemudian membuka kotak kecil itu dan menemukan beberapa benda-benda yang memang sedang ia cari.

            “Mengesankan sekali,” gumamnya dengan suara rendah yang menyeramkan. Lalu Je Wo mengangkat wajahnya, seiring mengangkat sebuah kotak sabun keudara, “Dapat.” Desisnya.

            Han Eunjin masih memandangnya tidak mengerti hingga saat tiba-tiba saja Je Wo melangkah cepat menghampiri salah satu temannya, atau lebih tepatnya Shin Seo Kyung, kedua matanya terbelalak.

            “AKH!” pekik Seo Kyung saat Je Wo dengan tanpa rasa sungkan menarik rambut belakangnya. Kedua matanya menatap takut wajah Je Wo yang memandanginya tajam.

            “Kyungie…” desis beberapa gadis lainnya, memandang Seo Kyung dengan pandangan Iba.

            “Apa-apaan kau! Lepaskan tanganmu, Shin Je Wo.” Bentak Choi Eunra.

            “Tentu, setelah aku membawanya kesana.” Desis Je Wo bengis, dan kemudian ia menyeret Seo Kyung keluar dari sana, tanpa mau melepaskan cengkraman rambutnya.

            “Kyungie!” teriak mereka berempat. Mereka segera mengejar Je Wo yang telah keluar dari sana. Tapi sayang, Min Ki dan Yoon So memasang tubuh mereka didepan pintu untuk menghalangi mereka semua.

            “Ouh, kalian terlihat tidak sabaran sekali.” Desah Min Ki dengan wajah berbinar.

            “Tenang, girl. Kalian pasti tidak akan melewatkan pertunjukan pentingnya.” Sambung Yoon So dengan suara genitnya.

            “Minggir!” desis Daena.

            “Dan jika aku tidak mau?” tantang Yoon So.

            Jinla mencibir pelan, “Kalian semua benar-benar gadis jalang!” hardiknya.

            Yoon So tertawa hambar, “Gadis jalang? Ya Tuhan Park Jinla, jika dibandingkan denganmu, siapa disini yang sebanarnya adalah gadis jalang, hem?” sindirnya.

            Wajah Jinla tiba-tiba memucat menatap Yoon So yang menyeringai penuh.

            “Atau aku harus mengatakannya pada teman-temanmu ini, bagaimana kau diluar sana, baby bear?”

            “Hahaha.”

            Tawa Min Ki dan Yoon So meledak disana, dihadapan keempat gadis yang hanya dapat meradang menahan kekesalan dan amarah mereka.

***

Kyuhyun ingin segera menghabiskan sarapan paginya secepat mungkin sebelum apa yang baru saja ia makan kembali keluar karena terlalu lama berdekatan dengan Hye In, Ibu tirinya. Jika saja Ayahnya tidak pergi lebih lama keperusahaan seperti biasanya, ia pasti tidak akan mau menghabiskan sarapan paginya bersama wanita itu. Sejak tadi, ia selalu berusaha berpura-pura tidak menganggap keberadaan Hye In yang sibuk melayani keperluan Kyuhyun dan Ayahnya.

            “Kenapa kau hari ini pergi keperusahaan lebih lama?” tanya Hye In pada suaminya.

            Yeung Hwan melipat koran yang sejak tadi berada dalam genggamannya, “Aku terlalu malas menanggapi Shin Min Hyuk yang selalu datang menemuiku untuk merengek agar aku membantu perusahaannya yang hampir bangkrut.” Desahnya.

            “Shin Min Hyuk?”

            “Hm, pemilik perusahaan produk sabun SK.”

            Kepala Kyuhyun menengadah cepat menatap Ayahnya. Apa yang baru saja dikatakan Yeung Hwan membuatnya tertarik.

            “Bantuan apa yang ia inginkan darimu?”

            Yeung Hwan tertawa kecil sembari menyesap susu hangatnya, “Agar menaikkan kepopuleran perusahannya yang semakin terlupakan, ia ingin aku memakai produknya disemua penerbangan yang kumiliki agar ia dapat memarekannya dalam situs perusahaannya dan membuat orang-orang kembali menyadari perusahaan itu.” Jelas Yeung Hwan.

            “Hei, kau keterlaluan sekali, sayang. Tidak ada salahnya membantu, kan?”

            “Membantunya sama saja dengan mendukungnya yang terlalu malas menggunakan otaknya. Seharusnya, pebisnis sepertinya dapat mencari solusi yang lebih tepat dari pada harus memilih mengemis pada orang lain.”

            “Apa itu SK?”

            Hye In dan Yeung Hwan menoleh serentak pada Kyuhyun yang kini menatap Ayahnya penuh tuntutan.

            “Ah, itu… adalah sebuah perusahaan yang memproduksi produk sabun mandi,” jelas Yeung Hwan. “Kudengar, SK adalah nama singkatan dari nama putri pertamanya. Aku tidak tahu siapa nama gadis itu, tapi sepertinya dia juga berada di sekolah yang sama denganmu.”

            Genggaman Kyuhyun pada sendok makannya mengeras. Sebuah nama yang terngiang-ngiang dalam kepalanya membuat ia tiba-tiba saja berdiri tegak dari kursinya, dan segera berlari keluar tanpa mau berpamitan pada kedua orangtuanya.

            Kyuhyun mengayuh sepedanya dengan kecepatan terbesar yang ia bisa. Entah mengapa, rasanya saat ini ia ingin sekali berbicara pada seseorang agar orang itu mau mengakui kesalahannya sebelum sesuatu yang ia bayangkan akan terjadi.

            Jakunnya bergerak lambat saat ia meneguk ludah beratnya. Ada sesuatu yang sedang ia cemaskan dan saat ini ia merasa waktu untuk menuju sekolahnya begitu lamban hingga ia merasa semakin tidak sabar. Bahkan, Kyuhyun kerap kali menembus rambu lalulintas hanya demi mengejar waktu agar ia dapat menyelamatkan seseorang.

            Je Wo tidak boleh mendapatkannya lebih dulu, atau gadis itu benar-benar hancur ditangannya.

            Setelah ia sampai disekolah, Kyuhyun segera mencampakkan sepedanya kesembarang tempat, lalu berlari menyusuri halaman sekolah dengan tergesa-gesa. Napasnya sudah tersengal-sengal, namun niatnya masih begitu besar untuk menyelamatkan seseorang.

            Namun ketika ia sampai diambang pintu lantai satu, langkah kakinya menyurut melihat kerumunan orang-orang yang membentuk sebuah lingkaran. Perasaan Kyuhyun memburuk seketika, dan ia merasa kecemasannya kini berubah menjadi kenyataan.

***

Shin Seo Kyung berdiri dengan tubuh gemetar, menunduk dalam dibawah tatapan sinis, jijik dan pandangan buruk dari semua orang-orang yang mengelilinginya. Tidak jauh darinya, Shin Je Wo berdiri sembari melipat kedua tangannya angkuh, mengitimidasi dengan tatapan tajamnya.

            “Tidak tahu malu.”

            “Dasar Mix Blood.”

            “Dia pasti akan habis ditangan Princess.”

            Umpatan puluhan orang berdengung-dengung dikedua telinganya. Kedua tangan Seo Kyung saling meremas kuat ketakutan dan air matanya sudah siap untuk tumpah.

            “Well, aku tidak menyangka kalau gadis polos sepertimu amat sangat kriminal, Shin Seo Kyung.” Desis Je Wo, suaranya terdengar mengerikan hingga semua gumaman di sekelilingnya hilang dan keadaan senyap seketika.

            Je Wo melirik kesamping, memberikan sebuah kode pada Sehun dan Baekhyun. Kedua pria itu tersenyum mengerti, lalu masing-masing mengambil sebuah ember berisikan air, kemudian meenyiramkannya pada tubuh Seo Kyung yang terkejut.

            “WOOOO”

            Sorak penuh kegembiraan menggema disana. Persis seperti sebelum-sebelumnya, saat Je Wo atau para pendahulunya melakukan hal yang serupa pada pemberontak. Umpatan-umpatan itu kembali terdengar hingga Seo Kyung benar-benar menangis tersedu-sedu.

            Je Wo tertawa pelan, lalu melangkah perlahan mendekati gadis itu. Telunjuknya menyentuh kasar dagu Seo Kyung hingga ia bisa melihat tangisan pilu penuh ketakutannya, “Ouh… shhtt, jangan menangis, Kyungie…” bujuknya sadis. “Bukankah kau adalah seorang pemberani, hem? Caramu mencelakaiku sungguh sangat hebat, sayang.”

            “Bukan dia yang mencelakaimu!”

            Je Wo menggeram pelan saat sebuah suara mengganggunya. Ia menatap Eunjin dengan pandangan tak suka, “Jangan ikut campur, Mix Blood.” Umpatnya.

            “Kau tidak memiliki bukti untuk menuduhnya, Shin Je Wo.” Semburnya lagi.

            Je Wo tertawa hambar, kemudian menyuruh Hyukjae mendekat untuk memberinya beberapa benda, “Han Eunjin, apa kau tahu perusahaan siapa yang memproduksi sabun ini?” Je Wo menunjukkan sebuah sabun dihadapan semua orang. “Merk sabun ini adalah SK.”

            “SK?” desis beberapa orang.

            “Bukankah SK adalah perusahaan milik keluarga Seo Kyung?” celetuk salah satu murid.

            “Tepat.” sahut Je Wo.

            Eunjin meneguk ludah beratnya, “Ta-tapi, semua orang bisa saja memiliki sabun itu.” ujarnya.

            “Bahkan aku juga menggunakan sabun itu dirumahku.” Sahut Eunra.

            Yoon So terkikik geli, “Bagaimana mungkin dia menggunakan sabun murahan seperti itu.” Cibirnya dan membuat Eunra menatap tajam padanya.

            “Ya, kau benar. Kalau begitu, apa aku boleh bertanya padamu tentang kotak sabun dan beberapa spidol yang kutemukan diruangan kalian itu? Apa kau tahu siapa pemiliknya, Han Eunjin?”

            Eunjin menegang ditempatnya, wajahnya mendadak memucat dan ia menatap Seo Kyung yang semakin menangis terisak ditempatnya. Seo Kyung tidak sekalipun membuka mulutnya, membuat Eunjin semakin merasa yakin akan tuduhan Je Wo. Belum lagi, beberapa waktu yang lalu sikap Seo Kyung memang terlihat sedikit aneh.

            “Ah, kalau kau masih tidak percaya. Aku bisa memberi bukti lainnya.”

            Je Wo menatap sekelilingnya, lalu kerumunan itu terbelah menjadi dua saat Kris tampak datang dengan menyeret seorang pria culun yang memakai kacamata tebal, “Kau berhasil menemukannya?” tanya Je Wo.

            “Seperti perintahmu, Princess.” Gumam Kris, kemudian ia mencengkram rahang pria itu kuat hingga pria itu memekik. “Cepat katakan yang sebenarnya.”

            Suasana kembali hening ketika mereka semua menunggu jawaban pria itu.

            “A-aku, aku, AKH!”

            Kris semakin kuat mencengkram rahang pria itu, “Cepatlah, jangan membuang waktuku.” Umpatnya.

            “Ba-baiklah. Aku mengaku. Seo Kyung membayarku agar aku membantu rencananya untuk mencelakai  Shin Je Wo. Dia menyuruhku merusak sistem beberapa CCTV agar ia dapat menyelinap masuk kesekolah dipagi hari tanpa ada yang dapat melihatnya.”

            Je Wo menatap Seo Kyung dengan tajam, lalu kembali memandang Eunjin dengan seringaiannya, “See, temanmu yang lugu ini, benar-benar picik.” Ujarnya.

            “Usir saja dia.”

            “Dasar kriminal!”

            “Bitch!”

            “Tidak tahu malu.”

            “Wajahnya saja yang lugu, tapi hatinya benar-benar busuk.”

            Kedua tangan Seo Kyung mengepal kuat. Semua orang mengeluarkan umpatan dan caci maki padanya dengan sesuka hati. Ia memejamkan kedua matanya sejenak sebelum teriakannya menggema.

            “SEMUA INI SALAHMU!”

            Kedua alis Je Wo bertaut memandangnya. Dengan wajah pucat dan bibir gemetar, akhirnya Seo Kyung berani memandangnya.

            “Kau_ kau adalah seseorang yang dulu teramat penting bagiku, Eonnie. Aku sangat menyayangimu setulus hatiku. Tapi kau, kau mencampakkanku seperti sampah setelah kau mengenal mereka.” Telunjuknya mengarah pada Min Ki dan Yoon So.

            “Apa-apaan gadis ini.” Desis Yoon So kesal.

            Seo Kyung menghapus air matanya dengan kasar, “Sebelum mengenal mereka, kau hanya ada untukku. Kita selalu bersama. Hanya dan aku! Tapi setelah mereka ada, setelah mereka mendekatimu, kau mencampakkanku begitu saja. Aku sangat membencimu!!” ia semakin terisak saat mendapati Je Wo menatapnya tajam.

            “Aku pernah bertanya padamu, apa salahku hingga kau membuangku. Tapi kau tidak memedulikanku, bahkan kau menindasku tanpa belas kasih. Kau selalu memandangku jijik. Kenapa, kenapa kau melakukan itu?!”

            “Karena kau terlalu lemah,” jawab Je Wo dengan suara tenang. “Kau terlalu banyak menuntut, kau egois dan kau… semakin hari semakin sangat memuakkan.”

            Kedua mata Seo Kyung melebar setelah mendengar jawaban Je Wo.

            “Kau pikir, aku bisa selalu melindungi kelemahanmu setelah kau bersikap kekanakan dan mencari ulah dengan orang lain? Kau pikir, aku adalah sebuah barang yang dapat kau sembunyikan dari banyak orang? Kau pikir, kau adalah satu-satunya manusia terpenting dalam hidupku, Shin Seo Kyung?”

            Napas Seo Kyung tercekat. Dan ia hampir saja berlari saat Je Wo mendekatinya.

            “Kau, adalah satu-satunya penyesalan diseumur hidupku.”

            “Eonnie…”

            “Jangan memanggilku seperti itu, sialan. Karena akan terdengar menjijikkan jika kau yang melakukannya.” Je Wo menarik sebelah sudut bibirnya. “Jika saja aku bisa memutar waktu, aku pasti tidak akan sudi berteman denganmu. Bukan mereka yang membuat aku harus mencamakkanmu, tapi dirimu sendiri.”

            “Tidak.”

            “Jangan menyangkalnya lagi. Aku tahu siapa dan bagaimana kau dibandingkan keempat temanmu itu. Kau mungkin bisa mengelabui mereka dengan sikap polosmu, tapi tidak denganku. Kau tahu, Shin Seo Kyung? Kau adalah gadis kecil yang mengerikan.”

            “TIDAK, TIDAK, TIDAK!”

            “Woooo”

            Sorakan itu kembali terdengar. Seo Kyung menangis terisak sembari menutup kedua telinganya. Rasanya benar-benar hancur dipermalukan seperti itu dihadapan semua orang.

            Je Wo masih bertahan ditempatnya, hingga Donghae berdiri disampingnya, menatap tajam pada Seo Kyung yang semakin menangis terisak.

            “Nona, ini adalah peringatan terakhir untukmu. Sekali lagi saja kau berani menyentuhnya, nyawamu akan habis ditanganku.” Ancamnya penuh ketenangan.

            Je Wo mengerjap gelisah, tapi Donghae segera meninggalkannya sembari meraih lengan Yoon So untuk pergi meninggalkan kerumunan itu. Melihat punggung Donghae mulai menjauh, Je Wo dapat mendesah lega.

            Tanpa memedulikan Seo Kyung lagi, ia turut beranjak pergi untuk menghampiri Kris yang menunggunya. Pria itu mengulurkan sebelah tangan pada Je Wo, dan saat Je Wo hampir meraihnya, tanpa ia sengaja, matanya bertemu pandang dengan kedua mata elang milik Cho Kyuhyun, yang entah sejak kapan berada diantara kerumunan orang-orang.

            Je Wo merasa harus melakukan sesuatu, hingga kakinya malah beralih menghampiri Kyuhyun, “Kau melihat semuanya?” tanya Je Wo. Kepala Kyuhyun mengangguk sekali. “Aku, hanya akan mengatakannya sekali. Cho Kyuhyun,” Je Wo menarik napasnya panjang. “Terima kasih.”

***

“Luar biasa, Princess.”

            Je Wo tersenyum bangga mendengar pujian Hyukjae dan yang lainnya. Mereka tidak menyangka jika Je Wo dapat menyelesaikan semuanya seorang diri, “Ini semua juga karena bantuan Kris. Aku memintanya untuk mencari siapa murid yang kemungkinan bisa merusak sistem CCTV dan ternyata dia bisa melakukannya.” Puji Je Wo sembari mengelus dahi Kris yang berdiri disisinya.

            “Aku akan melakukan apa saja untukmu, sayang.”

            “Shit, mereka mulai lagi.” Umpat Min Ki.

            “Dan aku tidak mau menjadi penonton mereka,” sahut Yoon So. “Hae, ayo kita pergi. Sudah dua hari ini waktu kita terganggu karena masalahnya, aku sangat merindukanmu.”

            Donghae tersenyum kecil menanggapi ajakan Yoon So. Ia menurut begitu saja saat gadis itu menarik lengannya pergi, meninggalkan mereka semua. Tapi sebelum mereka benar-benar pergi, Donghae sempat melempar tatapan dinginnya pada Je Wo yang sudah kembali bermesraan bersama Kris.

            “Hei, jangan membuatku cemburu.” Protes Hyukjae.

            Kris yang sedang mencumbu leher jenjang Je Wo melirik Hyukjae dari tempatnya, “Kau bisa melakukannya dengan Min Ki kalau kau mau.” ujarnya.

            “Apa?!” pekik mereka bersama. Keduanya saling melemparkan pandangan terkejut. “TIDAK!”

            Kris tertawa, Je Wo memutar bola matanya malas dan melirik keduanya. “Aku keberatan. Lee Hyukjae tidak bisa dimiliki oleh siapapun selain aku. Atau aku, akan membunuh orang itu dengan tanganku.”

            “Hei, hei, hei, sampai kapan kau terus mengancamku seperti itu, Princess? Sampai sekarang, banyak gadis yang takut untuk mendekatiku.”

            “Apa peduliku.” Jawabnya acuh, lalu kembali tersenyum manis pada Kris.

            “Kau membuatku cemburu.” Sungut Kris dengan wajah merengut.

TBC.

Yuhu…

Saya kembali😄

Ah, mungkin banyak yang merasa aneh dengan nama Soo Yoon So. Nama Jung Ha Won yang sebelumnya aku pakai di Perfect Princess aku ganti menjadi Soo Yoon So karena yeah… yang empunya nama bisa BT akut gegara ngeliat beberapa scene yang mengandung sesuatu antara Je Wo dan Donghae mwehehehe. Aku tau, gegara masalah itu banyak yang ngira aku sama yang empunya nama terlibat something. Tapi gak kog, kita masih baik-baik ajah dan keputusanku buat ngeganti nama Jung Ha Won Cuma sebatas kebijakan seorang author #EAAAA

 

Terus, terus, terus😄 untuk beberapa orang yang rada jengah dengan sifat Shin Je Wo di FF ini, aku harap udah baca WARNING yang aku tulis di part pertama Perfect Princess yang fenomenal dan selalu jadi kontorversi wkwkwk.

 

Dan maaf ya, karena sekarang aku udah jarang ngepost ff. Soalnya banyak kesibukan lainnya yang sedang menungguku😄 Tapi tetap aku usahain kog.

 

Oke, sampai jumpa di FF selanjutnya *wink*

 

Ami.

195 thoughts on “Perfect Princess – Trouble

  1. Ping-balik: Library | Shin Je Wo

  2. Ishh eonni…
    Ini ff keren bgit😄 je wo sifatnya kek setan banget — suka bget sama sfat kyuhyun
    next ff nya di tggu ya eon.. Bykin moment kyuje😀
    fighting eon!

  3. wow akhirnya kebenaran terungkap juga…
    Keliatanya diantara kyu dan je wo ada tanda2 saling tertarik…
    Tpi, aku tdak suka klo kyu sama je wo melihat je wo sering bercumbu sama kris nah sedangkan kyu, dy tdk pernah terlihat seperti it, rasanya bener2 rugi klo kyu sama je wo…

  4. Ok fine . Kasian juga sih sama seo kyung .
    Ceritanya tambah seru eonni .
    Yah meskipun sifat je wo yang terbilang kejam .
    Tapi ceritanya seru .
    Lanjutin eonni . Hwaiting .

  5. Benar benar trouble sekali di part ini,saya agak takut ama sifat je wo,benar benar kasar ya ama mix blood,tp kyuhyunnya tindakan bad boy nya kurang,ngakak ya ama bagian kyuhyun kalah main judi terus taruhan pake rumah ayahnya,bagus kyu saya slut ama kamu

  6. Aduh jewo keren bisa nyelesein sendiri.tegang q.
    Nd kapan scane kyuje nya? Kangen.

    disini yg mesum d0nghae biasanya d semua ff yg q baca pasti enhyuk.
    nd gak bisa byangin mereka kembar.

    nd hue apa si haeje dulu?

  7. Q ko jd pnsaran am hubngny je wo n hae? Kyk ad ssuatu yg dsmbunyiin. Ap bnr mrk pnh pny hubngn khusus sblmny… Jd curiga.
    Waduhhh je wo kalo emosi nyeremin y. Ksian kyu, pdhl dy nolong je wo eh malah dtabok :p .
    Nah loh, seo kyung kthuan.

  8. kayaknya hae emang punya hubungan special ya ma je wo lebih dari teman

    kasian juga seo kyung jahat juga sich jadi orang bagus gk dilaporin kepolisi

  9. Bener kata eonni. Sifat je wo emang bikin orang jengah, tp bagusnya dari sifat je wo adalah sifat mengitimidasi hanya pada orang2 yg mencari masalah sma dia.

  10. makin keren aja ffnya..
    tetep penasaran ma masa lalunya je wo ma si kembar lee..
    knp donghae sepertinya pny kepribadian ganda..
    je wo selain cantik ternyata dia pintar juga..
    pny insting detektif jg malah..
    tapi meski arogan ma angkuh sebenernya si je wo baik juga kok orangnya..
    dia mau ngucapin terima kasih kan ke kyuhyun bahkan minta maaf atas kesalapahaman yang terjadi diantara mereka berdua..
    masing2 pemeran disini sepertinya punya masa lalu..
    kyu, je wo, ma si kembar lee..
    bener2 penasaran ma lanjutannya..

  11. Penasaran, sebenarnya hubungan Donghae sama Je Wo apa ya? Apa mereka dulu pernah lebih dari sahabat? Dilihat dari tingkah Donghae yang selalu tidak suka lihat Je Wo sama Kris dan juga yang sangat perhatian lebih sama Je Wo..
    Apa mereka sebenarnya saling menyukai? Kalau iya kenapa mereka tidak bisa bersama?..

    Ternyata yang mencelakai Je Wo salah satu musuhnya dari 4 perempuan itu. Kasihan juga sih sama dia, sudah perusahaannya yang akan terancam bangkrut dan juga dia pasti akan dikeluarkan dari sekolah..
    Kyuhyun baik juga, meskipun di Jepang dia sering berbuat onar, tapi dia tidak pernah membeda-bedakan teman dan memilih-milih teman..

    Orang yang mencelakai Je Wo selalu nggak jauh-jauh dari orang yg pernah menjadi temannya dulu. Je Wo pintar sekali dalam memilih teman hhehe.. Mana orang yg benar-benar tulus mau berteman dengan.nya dan juga mana orang yg mau berteman dengannya karena ingin memanfaatkan.nya..

  12. Lap kringet. Huh hah banget! Sebeneranya apa hubungan donghae sama je wo? Mereka terlihat membingungkan sekali.
    .
    .
    Dan kenapa scene kyu-je jarang banget moment romantis mereka. Sedih akut nih. Kris sebenernya tulus sama je wo apa enggak? Bingung nahlo.
    .
    .
    Daebakk lah pokoknya

  13. Aduhhh perasaanku campur aduk baca ff ini marah,kesel, sweet (donghae), gak terima,dan apalah semua jadi satu ff ini bener2 komplit!!

  14. Dg buru2 kyuhyun mengayuh sepadanya sampe ngos-ngosan tak kirain mw mbatalin ke onaran je wo trnyata cuma jadi penonton ya, tadinya aku ikut tegang tapi syukurlah ndak kayak gitu, aku cuma ndak mau kyuhyun musuhan sama je wo…

  15. belum bisa berkomentarr … jiaaa bca selanjut’y lgi ajh dahh..
    sorry yah thor klo sya nyebelin, sya mah gtu orang’y😀

  16. Wooo, ff ini keren ceritanya, penggambaran karakter tokoh,plot dan suasana dalam ceritabpas banget, jdi menghayati banget, terutama pas scene seo kyung kena labrak Jewo, kasian banget seokyungnya, tpi adil juga sih, doalnya dia yang nyari gara2, dan jewo salah paham mah sama kyuhyun hahahaha

  17. Itu tdk setimpal dngn ap yg d lkukan seo kyung,nyawa bisa melayang,klo sja je tdk ada yg mnolong.Makin mesra aj hnbgn je n kris.
    Rada gila dngn tnpa hbngn status kris dan je bsa bercmbu gitu.kpn ya ji ska kyu,n sblikny kyu suka je.

  18. itu udah kejam bnget yg dilakuin sma Seo Kyung,,nyawa Je Wo bisa aja melayang..itu blow seberapa sma cra yg dilakuin Je Wo…slut sma Je Wo bisa nemuin pelakunya seorang diri,,,
    rda aneh liat Je Wo sma Kris mesraan tiap hari pdhal mrka ngak ada hubungan sma sekali
    kapan Je Wo sma Kyu Hyun bkal jtuh cnta,,ngk sbar pngen liat mrel pcrax

  19. Wow, ternyata Seo-Kyung pelakunya, ckckck.Untung dia masih selamat, kalau enggak, habislah dia di tangannya Je-Wo.
    Tapi, si Kyuhyun bukannya nggak mau ya kalau Seo-Kyung ketangkep duluan sama Je-Wo? Kenapa dia diem aja pas liat Seo-Kyung diperlakuin gitu sama Darah Biru? Ceritanya semakin seru (y)

  20. Ikutan tegang bacanya, kadang bingung sebenarnya je wo itu orng yg seperti apa? Kalau dulunya dia berteman dekat dngan seo kyung, lalu knpa sekarang mereka musuhan? Bahkan seo kyung berniat mencelakakan je wo?
    Pastinya ada alasan kuat kenapa je wo bisa jadi benci banget sama se kyung, atau mungkin dulunya seo kyung pernh berkhianat dari je wo…

    Seriusan cerita mereka makin menarik,

  21. Aq pling suka saat je wo nampar kyu lalu kyuhyun dorong je wo hingga mau jatuh. Je wo songong banget udh ditolong malah nampar diapa jg gak emosi. Aq gak setuju klau kyu ma je wo klau kelakuan je ma kris masih kyk gitu. Mendingan kyu ma jujin aja heheheeheheh

  22. Udh aku duga Kalo itu seo kyung.. soalnya dia tiba2 me kolam renang.. ngapain kesana kalo bukan untuk ngambil barang bukti.. padahal semua tau itu tempat perkara kejadian..
    Masih ambigu nih tentang perasaan kyu tuh gimana…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s