Our Family

1798695_447953815337655_500027298_n

 

 

 

 

Cho Kyuhyun Pov

 

Aku  melangkah terburu-buru memasuki rumah kedua orangtuaku. Baru saja memasuki pintu utama, sudah banyak sekali keluargaku yang menyapa dan memberiku pelukan hangat mereka. Setiap dua bulan sekali, seluruh keluarga besar Appa memang akan mengadakan pertemuan keluarga secara bergilir dan kali ini, rumah kami yang mendapatkan giliran.

            Kulihat seluruh penjuru rumah yang biasanya sepi tampak penuh sesak dengan sekumpulan orang-orang. Aku tidak bisa mengatakan mengenali mereka semua karena sejujurnya sejak aku mulai remaja, aku teramat jarang menghadiri pertemuan keluarga seperti ini hingga yang hanya kukenali saat ini hanyalah beberapa keluarga yang sering kutemui.

            Ada Sang Ji dan keluarganya, satu-satunya kerabat terdekat yang kukenal dengan sangat baik. Gadis itu masih terlihat sama, tidak berhenti berceloteh dihadapan orang yang sedang berbincang dengannya. Saat Sang Ji tersenyum lebar padaku aku hanya membalas senyumannya sekedar dan cepat-cepat menghindarinya sebelum gadis itu mulai berceloteh padaku.

            Mataku menelusuri setiap kerumunan disini. Sepertinya, Omma berhasil menyulap rumah ini menjadi sebuah tempat penampungan keluarga Appa dengan sangat memukau. Banyak lampu-lampu dipasang disekeliling tempat hingga semakin memperindah suasana.

            Tapi sungguh, aku sama sekali tidak tertarik dengan seluruh isi rumah ini karena yang kuinginkan saat ini hanyalah mengetahui dimana keberadaan istriku yang sejak siang ini sudah tidak dapat kuhubungi. Je Wo hanya meneleponku tadi pagi untuk mengingatkan kalau malam ini aku harus pulang kerumah Omma untuk menghadiri pertemuan keluarga. Dan dia juga mengatakan kalau dirinya, Hyunje, dan juga Eunje akan berada disini sepanjang hari bahkan mereka akan menginap disini.

            Pukul tiga sore tadi aku berusaha menguhubunginya, tapi ponselnya malah tidak aktif. Karena aku tahu dia berada disini, jadi aku menelepon Noona untuk menanyakannya. Noona hanya mengatakan kalau saat itu dia sedang sibuk di dapur, kuulangi, di-da-pur. Tempat dimana istriku teramat jarang menginjakkan kedua kakinya disana.

            Meski aku tahu dia berada disini, tapi kalau tidak bisa menghubunginya dalam waktu yang cukup lama tetap saja membuatku frustasi. Aku butuh medengar suaranya, helaan napas malasnya kalau kukatakan aku merindukannya. Dan juga omelan khas milik Je Wo setiap kali aku mengeluh lelah selama bekerja.

            Aku butuh melihat wajahnya saat ini.

            “Hei,” kurasakan sebuah tepukan pelan pada pundakku. Aku menoleh kebelakang, dan menemukan Bibiku, Ibunya Sang Ji tersenyum hangat padaku. “Kau sudah pulang?”

            Aku mengangguk padanya, tersenyum kecil dan memeluknya hangat, “Apa kabar, Ahjumma?” sapaku.

            “Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan pekerjaanmu?” ia melepaskan pelukannya dan mengelus wajahku penuh sayang.

            “Masih sangat menyibukkan, seperti biasa.” Jawabku dengan desahan malas.

            Aku dan dia tertawa, lalu ia mulai bercerita mengenai perjalanannya menuju Seoul yang tidak bisa kutanggapi dengan serius karena saat ini mataku kembali mengitari seluruh tempat untuk mencari wanita itu. Kenapa dia tidak berada dimanapun?

            “Appa!”

            Suara Hyunje.

            Dan memang benar, Hyunje berlari kearahku dengan membawa semangkuk es krim. Aku terbelalak melihat bajunya yang amat sangat kotor, terkena noda bekas es krim dan juga makanan lainnya.

            “Kenapa kau kotor sekali?” rutukku. Untuk menyamakan tubuh kami, aku terpaksa berlutut didepannya. Cih, bocah ini kotor sekali.

            Dia melengos malas, lalu memasukkan sesendok es krim itu kedalam mulutnya, “Kapan lagi aku bisa menikmati es krim sesukaku.” Jawabnya dan aku sudah mendelik tajam pada bocah ini.

            Hanya Tuhan saja yang tahu bagaimana tingkah bocah ini. Semakin hari sifat nakalnya semakin menjadi, bahkan hampir saja membuat Je Wo mati mudah karenanya. Je Wo pernah dipanggil kesekolah karena Hyunje berkelahi dengan salah seorang teman sekelasnya. Lalu wali kelasnya juga mengadu kalau akhir-akhir ini Hyunje sering tertidur dikelas, belum lagi Hyunje selalu terlambat masuk kelas karena sibuk bermain game dengan murid yang berada dikelas lainnya hingga sekarang, Je Wo sendiri yang mengantarnya kesekolah, dan memastikan bocah itu sudah duduk ditempatnya karena jika tidak, Hyunje pasti akan pergi menyinggahi kelas lainnya untuk bermain.

            “Omma bisa mengomelimu lagi, Cho Hyunje,” ibu jariku membersihkan wajahnya yang diselimuti oleh es krim itu. “Apa kau tidak lelah setiap hari mendengar omelan Omma, hm? Setiap pagi, setiap pulang sekolah, setiap mengerjakan PR, dan setiap kali mau tidur, kau selalu di omeli olehnya.”

            “Yang mengomel, kan, Omma, bukan aku, kenapa Appa malah menyalahkanku?”

            Aku menggeram tertahan. Entah bagaimana lagi caranya aku menghadapi segala sifat nakal Hyunje yang menyusahkan. Memang hanya Je Wo saja yang dapat mengatasi bocah ini.

Ahjumma yang sejak tadi mendengar pembicaraan kami tertawa pelan, “Sudah tahu rasanya, Kyu? Seperti inilah yang dirasakan Ayahmu dulu saat kau masih kecil. Bahkan Hyunje belum seberapa.” Ujarnya.

Aku berdiri tegak dengan wajah mengernyit. “Ahjumma, aku tidak senakal dia.”

“Kau lebih parah, Kyu. Setiap hari tidak pernah betah dirumah, yang kau lakukan adalah mengumpulkan seluruh anak-anak dibawah umurmu, lalu mengajak mereka bertanding PSP. Kau selalu lupa waktu kalau sudah seperti itu. Jika Appamu menyembunyikan PSP itu, maka kau akan beralih mendatangi game center hingga pulang saat larut malam.”

Aku membeku. Kenapa Ahjumma harus menjelaskan hal seperti itu didepan Hyunje? Bisa-bisa harga diriku sebagai Ayah hancur berkeping-keping dihadapannya. Dan benar saja, saat aku meliriknya, bocah itu sudah menyeringai lebar kearahku.

“Uh-ow, yang seharusnya di omeli oleh Omma ternyata bukan aku, tapi Appa.”

Bibirku mendesis kecil, saat aku hampir saja menangkap bocah itu, sebuah teriakan kuat yang memanggil Hyunje terdengar olehku.

“Yah, Cho Hyunje!!”

Kulihat Noona menatap murka kearahnya. Ada apa dengannya? Saat aku ingin mempertanyakan hal itu pada Hyunje, kulihat bocah itu sudah tersenyum kaku kearahnya.

“Kau!” telunjuk Noona mengarah tepat padanya. “Aku menyuruhmu menungguku sebentar didalam kamar selagi aku mengurus yang lain, tapi kau malah kabur dan mencuri es krim itu! Kau tidak lihat bagaimana kotornya pakaian yang kau kenakan itu, eo?! Shin Je Wo itu bisa mengomeliku lagi kalau saja masih melihatmu mengenakan pakaian sekotor itu!”

Ah, jadi Noona tahu dimana Je Wo?

“Noona, memangnya dimana_”

“Yah! Jangan kabur!!!”

Seperti sebuah hembusan angin, tubuh Noona melewatiku begitu saja. Aku sempat linglung dibuatnya dan baru saja menyadari sesuatu. Cho Hyunje dan Cho Ahra sedang berlarian diantara kerumunan orang-orang. Yang satu menghindar dan yang satu lagi ingin menangkap. Ck, lupakan saja kedua orang bodoh itu, aku harus segera menemukan Je Wo.

Tapi lagi-lagi kesialan menimpaku. Aku berjumpa dengan Appa, dan dia malah menyeretku untuk berbincang dengan keluarga yang lain. Mau tidak mau aku terpaksa harus menghampiri mereka, mengeluarkan sapaan basa-basi yang tidak penting dan juga terpaksa mendengar pembicaraan mereka mengenai bisnis, saham, untung, rugi dan errr uang.

Inikah yang selalu mereka bicarakan setiap kali bertemu? Hampir seluruh keluargaku memang berlatar belakang yang sama seperti Appa. Bekerja dibidang bisnis. Dan untung saja aku tidak menggeluti pekerjaan itu karena mendengar mereka berbicara saja sudah membuatku jenuh.

Kakiku menghentak-hentak dilantai karena masih belum menemukan istriku. Sebenarnya wanita itu ada dimana? Kenapa sulit sekali menemukannya?

Bahkan sampai akhirnya kami semua berada dimeja makan untuk menyantap hidangan yang sudah tersusun rapi disana, aku masih belum menemukannya. Aku menggerutu pelan, lalu meneguk segelas air putih hingga habis.

Kulihat dari arah pintu yang terhubung kearah dapur, banyak sekali wanita yang berlalu lalang disana. Beberapa dari mereka aku mengenalnya, karena sepertinya saat ini para wanita sengaja membantu untuk menghidangkan makan malam bagi para pria. Yeah, keluargaku memang seperti ini, selalu menjunjung tinggi pria diatas segalanya. Terkecuali keluarga kecilku, dimana pria adalah makhluk tertindas yang paling menyedihkan, dan si pelaku itu adalah istriku sendiri, satu-satunya wanita yang memegang penuh kendali. Ck, aku jadi semakin merindukannya.

“Appaaaaa.”

            Eunje memanggilku. Aku tersenyum lebar saat melihat Omma sudah berada disampingku dengan menggendong Eunje yang menggapai-gapaikan kedua tangannya kearahku. Segera kuambil bocah itu dan kubawa keatas pangkuanku. Seperti biasa, Eunje mulai mengusap-usapkan telapak tangannya diatas kedua pipiku.

            “Dia sudah meneriakimu sejak melihatmu dari ujung sana.” ujar Omma dengan kekehan kecilnya. Kulihat Omma tampak sedikit lelah, pasti karena harus menjamu para tamu.

            “Omma sepertinya kelelahan. Sudah, jangan berjalan kesana kemari lagi. Duduk disini saja,” kepalaku bergedik pada sebuah bangku kosong disebelahku. “Lagi pula untuk apa mengadakannya dirumah? Padahal kita bisa mengadakannya di Hotel agar tidak merepotkan seperti ini.”

            “Kau ini, seperti tidak tahu saja seperti apa Appamu itu.”

            Aku tertawa pelan saat Omma memelototiku. Namun tawaku terhenti ketika mataku menangkap sosok itu. Dia sedang menuangkan air kedalam beberapa gelas kosong di meja yang terletak diseberang meja yang kutempati. Saat ini, didalam ruang makan memang ditambah tiga meja makan lagi karena jumlah tamu yang datang begitu banyak.

            Bisa kulihat dia yang tadinya ingin beranjak pergi, namun membatalkan niatnya saat ada seseorang yang memanggilnya untuk menuangkan air kedalam gelasnya yang kosong. Sialan! Dia pikir istriku itu pembantunya? Aku saja tidak pernah memerintahnya sesuka hatiku.

            “Omma,” panggilku, tapi kedua mataku tetap tidak terlepas dari wajah Je Wo. “Apa saja yang dilakukan Je Wo seharian ini?”

            “Oh, hahaha, Omma yakin kau akan terkejut, Kyu. Je Wo menghabiskan hampir seluruh waktunya didalam dapur untuk membantu kami memasak. Hanya jika Eunje ingin bersamanya saja Je Wo akan meninggalkan dapur. Hari ini menantuku sempurna sekali.”

            Aku tidak bisa menahan wajahku untuk berpaling pada Omma. Bibirku berdecak pelan hingga Omma menghentikan tawanya, “Je Wo tidak suka memasak, tidak suka berkeringat, tidak suka diperintah, dan dia tidak suka berada didapur untuk waktu yang lama. Jadi, hari ini sama saja Omma memaksanya melakukan apa yang tidak dia sukai, dan itu berarti, istriku sudah tidak sempurna. Omma kan tahu, Je Wo hanya akan terlihat sempurna saat duduk diam dan bergelut dengan tumpukan Novelnya atau kesibukannya yang lain.”

            Kulihat bibir Omma sedikit tebuka saat menatapku. Sepertinya dia terkejut. Ck, tapi biar saja, aku tidak suka kalau harus melihat wanita bodoh itu melakukan hal yang tidak dia sukai. Seperti dirumah ini tidak memiliki pembantu saja sampai dia harus melakukannya.

            “Yah,” aku meringis kecil saat Omma memukul pelan kepalaku. Kekehan geli Eunje membuat kepalaku menunduk kearahnya, senang sekali bocah ini melihatku menderita. “Berani sekali kau memarahi Omma. Lagi pula, tidak ada satu orangpun yang menyuruh Je Wo mengerjakannya. Istrimu sendiri yang menawarkan dirinya, dan seharusnya kau bangga pada Je Wo yang hari ini diberi gelar sebagai menantu terbaik dari keluarga Cho.”

            “Woah…” sorakku pelan dan aku tidak dapat menahan senyumanku. “Menantu terbaik? Omma yakin?”

            Aku dan Omma sama-sama tertawa geli. Yeah… hanya orang yang tidak mengenal istriku saja yang pasti akan memberi gelar seperti itu padanya. Dan sekarang aku mengerti kenapa Je Wo tiba-tiba mau menyusahkan dirinya sepanjang hari ini. Dasar wanita licik! Hanya demi terlihat sempurna didepan semua keluargaku, dia mau berpura-pura serajin itu? Aku tahu Omma juga mengatahui niat busuknya karena yeah… semenjak menikahinya, Omma memang lebih cenderung menyayanginya dibandingkan dengan aku.

            Omma berpamitan denganku untuk menghampiri Appa yang memanggilnya. Melihat itu, aku jadi ingin melakukan hal yang serupa. Aku ingin memanggilnya kesini, ingin melihat reaksi seperti apa yang akan ia tunjukkan padaku didepan semua keluargaku. Bibirku menyeringai kecil saat memikirkannya.

            “Sayang.”

            Aku memanggilnya pelan, dengan nada lembut yang demi Tuhan, dia sering sekali memukul kepalaku jika aku teramat sering memanggilnya seperti itu. Dia menoleh padaku, bahkan beberapa orang juga turut melakukannya karena mendengar panggilan mesraku padanya. Melihat kedua matanya yang sedikit melebar, entah mengapa aku ingin tertawa saat ini juga. Tapi tidak, aku harus tetap berpura-pura santai demi melihat reaksinya selanjutnya.

            Dia menautkan kedua alisnya menatapku, seperti bertanya apa yang kuinginkan. Sialan, bukan reaksi seperti ini yang kuharapkan, tidak bisakah dia membalas panggilanku dengan kalimat ‘Ada apa, sayang?’ atau ‘Kau membutuhkan sesuatu, suamiku?’ oke, sejujurnya kalimat seperti itu memang terlalu menjijikkan, tapi kalau dia yang mengucapkannya, pasti rasanya akan berbeda.

            Aku melirik Eunje yang tampak aman diatas pangkuanku, ck, berati aku tidak bisa membuat bocah ini sebagai alasan untuk menyuruhnya mendekat. Jadi, kualihkan pandanganku kesekitar untuk mencari sesuatu. Ah, gelasku sudah kosong. Aku meraih gelas itu, lalu mengangkatnya sedikit katas dan menggoyang-goyangkan benda itu kehadapannya.

            Dia masih menatapku tanpa ekspresi, hal itu ia lakukan cukup lama sampai akhirnya kedua kakinya melangkah kearahku. Tuhan, apa-apaan ini? Kenapa hanya karena dia sedang menghampiriku saja, jantungku harus berdebar sekeras ini?

            Tapi debaran jantungku terhenti begitu saja saat tiba-tiba gelasku sudah terisi penuh kembali. Aku mengernyit kesampingku, dan Noona sedang tersenyum lebar padaku.

            “Nikmati makan malammu, Cho Kyuhyun.” ujarnya manis, lalu mengedip sekali pada Eunje sebelum beranjak pergi.

            Mataku kembali mencari keberadaan istriku yang ternyata masih berdiri ditempatnya. Aku merengut kesal menatapnya, sedangkan dia malas tersenyum kecil, mengangkat kedua bahunya acuh lalu berbalik pergi memasuki dapur.

            Arghhh Noona sangat menyebalkan! Apa dia tidak tahu aku sedang merindukan Je Wo? Kenapa dia selalu tahu kapan waktunya untuk merecokiku?

            Tapi, tunggu, dia baru saja kembali memasuki dapur, bukan? Ah… kalau begitu, kenapa tidak kuhampiri saja dia?

 

____000____

 

 

 

Bibirku melengkung sempurna, membentuk senyuman yang tidak dapat kutahan lagi ketika mataku menatap punggung kecilnya. Dia sedang berada dibalik pantry dapur, entah melakukan apa karena yang bia kulihat hanyalah kedua tangannya yang bergerak sibuk disana.

            Setelah menitipkan Eunje pada Omma, aku segera bergegas menemuinya. Bahkan aku sudah mengatakan pada salah seorang pembantu dirumah ini untuk tidak memasuki dapur selagi aku berada disana.

            Perlahan, aku menghampirinya dengan langkah yang tidak mengeluarkan suara sekecil apapun. Setelah benar-benar berada dibelakang punggungnya, aku melirik kedepan, melihat apa yang sedang ia kerjakan. Ternyata dia sedang memeriksa kedua telapak tangannya yang memerah. Dahiku mengernyit cepat, kenapa telapak tangannya semerah itu? Biasanya telapak tangannya cenderung berwarna putih pucat.

            “Aku bersumpah, hari ini adalah kali terakhir aku menginjakkan kedua kakiku di dapur.”

            Aku menahan tawa geliku mendengar rutukannya. Ah, pastas saja tangannya semerah itu. Kutarik napasku panjang sebelum berbisik pelan ketelinganya. “Apa kabar, Nyonya super sibuk?”

            “OH!” tubuhnya berbalik cepat kearahku, bisa kulihat kedua matanya melebar terkejut. “Ck, kau ini!”

            Oh, betapa rindunya aku mendengar suaranya seperti ini. Aku menertawai ekspresi terkejutnya, dan dia mulai mengerucutkan bibirnya kesal.

            “Sedang apa kau disini?” tanyaku.

            “Menurutmu aku sedang apa?” kedua matanya masih saja memelototiku, sepertinya kekesalannya belum berkurang.

            Aku berpura-pura berpikir keras, “Menurutku… kau sedang bersembunyi disini karena mulai merasa lelah setelah menjadi menantu idaman keluarga Cho. Aku benar, kan?” kedua alisku bermain nakal kearahnya.

            Dia melengos malas, meski bibirnya mengulum senyuman kecil. Akh… membuatku gemas saja wanita ini.

            “Menantu idaman apa.” Kilahnya, tapi tidak menutupi binar wajah jahilnya. Aku harus merasa sial atau beruntung sudah memiliki istri sepertinya.

            Kuputar bola mataku malas, namun sebelah tanganku sudah melingkari pinggangnya agar dia lebih mendekat padaku, “Kenapa ponselmu mati seharian ini?” tanyaku pelan saat jemariku bermain diatas poninya yang sedikit berkeringat. Tentu saja, seharian ini dia pasti sudah bekerja dengan keras untuk memasang image sempurnanya.

            Seperti jemariku yang tidak bisa diam, jemarinya juga melakukan hal yang serupa. Bedanya hanyalah, dia memainkan kancing-kancing kemejaku dengan jemarinya, menjadikan benda itu sebagai titik pandangnya.

            “Aku sibuk, tidak sempat menjawab semua panggilanmu atau sederet pesan yang sama sekali tak penting.”

            “Apa?”

            “Aku tahu, kau pasti uring-uringan seharian ini karena tidak bisa menghubungiku. Lalu menelepon Ahra Eonnie, memintanya memberikan ponsel itu padaku. Ck, kau itu berlebihan sekali. Padahal kau sudah tahu aku berada dimana, tapi tetap saja seperti itu.”

            Lihatlah, setelah sefrutasi apa aku seharian ini, jawabannya malah seringan itu. Bahkan dia sengaja mematikan ponselnya agar aku tidak mengganggunya.

            “Kau kan tahu aku memang selalu menghubungimu setiap saat. Kau pikir bekerja diluar sana tidak membosankan?”

            “Memangnya mendengar suaraku setiap hari tidak membosankan?”

            “Sangat!”

            Kepalanya terangkat keatas untuk menatapku. Nah, akhirnya, aku dapat memandangi wajahnya dengan puas. Tapi kedua matanya menyipit tajam dan segera mendorong tubuhku menjauh.

            “Kalau begitu, kembali ketempatmu.” Desisnya. Kedua tangannya terlipat angkuh didepan dada.

            Aku tertawa pelan, “Lihat, kau yang memancingku, tapi kau yang malah terpancing olehku,” aku tidak peduli dengan penolakannya, karena saat ini aku sudah memeluknya dan kurasakan dia membalas pelukanku meski gumaman kekesalannya masih terdengar. “Tanganmu kenapa memerah seperti itu?”

            “Oh, terlalu lama memasak dan berada disekitar wajan membuat tanganku memerah seperti ini. Ck, merepotkan sekali.”

            Aku mengeratkan pelukanku saat tertawa pelan. “Sudah tahu merepotkan kenapa masih mau melakukannya, hm?”

            Dia melepaskan pelukanku, menatapku dengan senyuman lebar bagaikan seorang bocah. “Kau tahu, tidak? Seluruh keluargamu memujiku seharian ini. Bahkan beberapa menantu wanita lainnya menatapku iri karena mertua mereka lebih memilih memujiku. Mereka bilang, ‘Wah… beruntung sekali Cho Kyuhyun memiliki istri sepertimu’ ‘Andai saja putraku seberuntung Kyuhyun’ ‘Apa kau tidak berniat bercerai darinya? Aku akan segera menjodohkanmu dengan putraku.’”

            “Tunggu,” selaku cepat. “Pujian terakhir itu siapa yang mengatakannya?” apa-apaan orang itu?

            Dia menyengir lebar padaku, “Tenang saja, Ibumu sudah lebih dulu mengomelinya. Mana mungkin Omeonim melepaskan menantu sepertiku.” Haruskah kukatakan halau kadar kepecayaan dirinya melebihi aku?

            “Cih,” cibirku. “Aktingmu sangat luar biasa, Nyonya Cho. Tidak kusangka mereka semua tertipu dengan mudah.”

            Dia menyeringai lebar padaku hingga membuatku nyaris merinding. “Itu adalah keahlianku, Tuan Cho. Lagi pula, aku sudah pernah mendengar beberapa dari mereka sering bergosip dibelakangku karena jarang sekali melihatku mau menghadiri pertemuan keluarga seperti ini, mereka mengataiku sombong dan bla bla bla. Yeah, kau tahu, kan, kalau aku tidak suka menghadiri pertemuan seperti ini. Maka itu, aku harus membungkam omong kosong mereka dengan sikap manisku seharian ini.”

            “Pintar.” Sahutku cepat. Kemudian aku mengangkat sebelah telapak tanganku untuk ber-high five ria bersamanya.

Kami tertawa bersama. Lalu dia mengambil beberapa buah jeruk dari dalam kulkas, menyuapiku saat kami mengobrol ringan. Wajahnya tampak berbinar senang saat dia bercerita mengenai apa saja yang ia lakukan seharian ini. Tapi ketika membicarakan mengenai kenakalan Hyunje yang hampir membuat seluruh anak seusianya yang datang kerumah itu menangis karena bocah itu melarang satu orangpun dari mereka untuk menyentuh seluruh mainannya yang tentu saja didukung penuh oleh Noona, wajah Je Wo berubah frustasi.

Aku selalu menjadi pendengar yang baik setiap kali dia bercerita, tentu saja dengan mulut yang tidak berhenti mengunyah karena dia yang tidak berhenti menyuapiku hingga rasa laparku sirna saat ini juga.

“Ah, ya, aku sudah membawa keperluanmu untuk besok. Kau menginap disini, kan?”

Aku mengangguk sekali, “Tapi pagi-pagi sekali aku sudah harus pergi.” Jelasku.

Dia mengangguk singkat, kulirik jeruk yang ia ambil telah habis olehku, “Nyonya Cho,” bisikku pelan ketika aku kembali mendekapnya. Wajahnya hanya berjengit sekedar menatapku karena aku yakin dia mengerti apa maksudku. “Seharian ini aku merindukanmu.”

“Tuan Cho, berhentilah besikap mesum didapur orang lain.” Balasnya ringan dengan wajah datar.

Aku tersenyum kecil, tapi tidak menghentikan aksiku, “Dapur ini juga milikku.” Dahiku menyentuh dahinya yang sedikit bekeringat, dia sudah menutup matanya hingga membuatku hampir tertawa. Ternyata mudah sekali menaklukannya saat ini. Saat bibirku nyaris menyentuh bibirnya, tiba-tiba saja seseorang menepuk punggungku dari belakang.

“Oh, Omma?” gumamku setelah menemukan keberadaan Omma.

Omma menyipitkan kedua matanya memandangi kami, saat ini Omma menggendong Eunje yang tampak baru saja menangis.

“Bagus sekali. Melarang orang lain memasuki dapur agar kalian dapat bermesraan, lalu melupakan Eunje yang sejak tadi mencari-cari kalian berdua.”

Aku dan Je Wo tersenyum kaku. Je Wo segera mengambil Eunje dari gendongan Omma.

“Kyuhyun yang melarang orang lain masuk kesini, Omeonim. Salahkan saja dia, dia selalu merecokiku.”

“Apa?”

“Hei, sudah,” lerai Omma saat aku dan Je Wo hampir saja memulai perdebatan. “Kalian kembali ke meja makan, semua orang hampir selesai makan malam tapi kalian bahkan belum memulainya.”

Kami mengangguk patuh. Tapi, tunggu, aku belum selesai dengan pekerjaanku yang terunda karena keberadaan Omma.

“Omma, apa itu?” tunjukku keatas lemari yang berada dibalik punggungnya. Saat Omma memutar wajahnya kesana, aku segera mencuri sebuah ciuman singkat di bibir istriku. Hanya sebuah ciuman singkat karena saat Omma kembali menatap kami, aku sudah memasang wajah Innocentku.

“Tidak ada apa-apa.” Ujarnya bingung.

“Oh, ya? Ah… mungkin aku salah lihat.” Kilahku menahan senyuman geli. Aigo… membohongi Omma memang sangat mudah. Aku melirik pada Je Wo, dia turut menahan senyuman gelinya.

Dan saat kami mengikuti langkah Omma dibelakang tubuhnya, Je Wo mencubit pinggangku kecil dan berbisik pelan. “Kau cari mati, bodoh!”

 

____000____

 

 

 

Je Wo menatap kesal kearah Noona yang tersenyum penuh kemenangan setelah dia berhasil menyeret Je Wo untuk duduk berbincang bersama beberapa keluarga lainnya. Awalnya, Je Wo sudah mengajakku untuk beristirahat dikamar kami karena dia merasa kelelahan seharian ini. Tapi sialnya Noona malah memanggilnya didepan semua orang hingga Je Wo tidak bisa menolak. Jadi, disinilah kami berada sekarang.

            Kami duduk berdampingan, aku memangku Hyunje, sedangkan Je Wo memangku Eunje. Jika Je Wo sejak tadi selalu mengeluh kesal pada Noonaku, maka aku selalu mengeluh kesal pada Hyunje yang sejak tadi tidak berhenti mengunyah apapun dimulutnya. Saat ini, hampir sepiring Donat ia habiskan. Setiap kali aku berbisik pelan dan menyuruhnya berhenti makan, maka dia akan sengaja mengeluarkan rengekan cukup kuat hingga Appa memelototiku. Oh Tuhan!!! Jika saja saat ini kami berada dirumah, sudah kuceburkan bocah ini kedalam kolam renang.

            “Hei, hentikan putramu sekarang juga atau sebentar lagi dia akan mengeluh karena sakit perut.” Bisikku pada Je Wo.

            Dia tidak menoleh padaku, masih memainkan aksinya berbalas tatapan sengit pada Noona, “Kalau begitu hentikan lebih dulu Noonamu yang menyebalkan itu.” balasnya dengan rutukan kecil.

            “Kyuhyun-ah, Je Wo-ya.”

            “Ya?” kami berdua serentak menjawab cepat saat adik dari Appa memanggil kami.

            “Ahjussi senang melihat hubungan kalian berdua.”

            Aku mengernyitkan dahiku sejenak sebelum berpura-pura tersenyum sopan. Memangnya kenapa dengan hubunganku dan Je Wo? Aneh sekali dia ini. Dan saat aku melirik Je Wo, dia malah masih betah mempertahankan wajah bingungnya.

            “Memangnya ada apa dengan hubungan kami, Ahjussi?”

            Oh, bagus! Bagus sekali, Shin Je Wo. Kulirik sekali lagi Appa, bibirnya tampak mengeluarkan desisan penuh peringatan pada kami. Ya, Appa selalu menyuruh kami untuk berlaku hormat pada keluarga yang lebih tua. Jangan menyela ucapan ataupun nasihat mereka, kalau mereka bertanya, maka kami hanya boleh menjawab, tidak dengan kembali bertanya. Oleh karena itu, kami benci menghadiri pertemuan seperti ini karena aku dan Je Wo sungguh amat sangat sulit menahan mulut masing-masing.

            Ahjussi tertawa pelan dan membuatku sedikit bernapas lega, setidaknya dia tidak tersinggung dengan pertanyaan istriku.

            “Kalian menikah karena sebuah perjodohan. Dulu, aku pernah mendengar kalau kalian hampir saja bercerai karena tidak saling mencintai diawal pernikahan.”

            Astaga… haruskah hal ini diperbincangkan didepan semua orang?

            “Ya, awalnya kami juga mengira kalau usia pernikahan kalian tidak akan lama.” sambung Bibiku yang lain.

            Aku melirik Je Wo yang tampak tertegun. Hari ini kali pertamanya ia berbincang langsung dengan keluarga besarku, tapi sudah menerima pertanyaan sialan seperti ini. Belum lagi disini ada Hyunje dan Eunje. Eunje pasti tidak mengerti dengan pembicaraan ini, tapi Hyunje? Bahkan dia sudah berhenti mengunyah dan telah menjadi pendengar yang baik disini. Great!

            “Siapa yang bisa menebak masa depan, bukan?” aku masih mempertahankan senyuman sopanku meski saat ini juga aku sudah siap jika harus memaki mereka satu persatu. “Lagi pula, itu hanyalah masa lalu. Sekarang kalian semua bisa melihat seperti apa keluarga kami.”

            “Untuk itu aku memuji istrimu, Kyu.” sambung Bibiku, Ibunya Sang Ji.

            Aku tersenyum kecil padanya.

            “Kalian benar,” Je Wo tiba-tiba saja menyahut dengan wajah serius. “Dulu, aku benar-benar tidak suka padanya. Dia sangat.. eum… berantakan. Setiap hari selalu saja membuatku repot dengan tumpukan barang-barang bawaannya. Dan sungguh, saat aku pertama kali bertemu dengannya, kupikir nasibku sungguh sial karena dijodohkan dengan seorang Ahjussi.”

            “Ahjussi?!” pekikku tanpa sadar.

            Dia mengangguk sekedar padaku lalu kembali bercerita dengan wajah serius, “Coba kalian lihat wajahnya baik-baik, dia sekarang lebih tampak muda dibadingkan yang dulu, kan?” kulihat semua orang menatapku dengan seksama dan mulai mengangguk setuju. “Nah, itu karena aku selalu merawatnya.”

            Semua orang mulai tertawa mendengar celotehannya. Beberapa orang memujinya dan beberapa lagi malah memperolok-olokku. Omma dan Appa juga sama saja, mereka malah ikut menertawakanku. Istriku benar-bena hebat! Aku menyesal mencemaskannya atas rentetan pertanyaan keluargaku tadi. Kenapa tidak kubiarkan saja dia menjawab pertanyaan itu sendiri.

            “Kau benar, dulu wajah Kyuhyun memang terlihat lebih tua dari umurnya.”

            “Hahaha, putraku juga sering mengatakan hal itu padaku.”

            “Tapi sekarang dia berubah menjadi sangat tampan dan lebih dewasa. Itu pasti karena pengaruh dirimu, Je Wo-ya.”

            Si-a-lan! Arrghhhh hanya aku satu-satunya suami bodoh didunia ini karena mau diperolok oleh istrinya sendiri. Dan apa kalian tahu seperti apa wajahnya saat ini? Dia sungguh amat sangat bahagia dengan senyuman polosnya.

            “Dia hanya bercanda.” ujarku pada mereka.

            “Ck, Tuan Cho, jangan malu untuk mengakuinya.”

            “Nyonya Cho, aku tidak mengerti apa yang kau katakan.”

            “Perlu kuulangi sekali lagi, Ahjussi?”

            “MWOYA?!”

            Kedua matanya memelototiku tajam saat aku mengeluarkan suara keras. Kulirik sekelilingku yang tiba-tiba berubah sepi karena mereka semua menatapku terkejut. Ah… lagi-lagi aku tertimpa sial.

            “Hahaha, aku hanya bercanda. Sebenarnya aku jarang sekali mengeluarkan suara sekeras tadi.” kilahku.

            “Cih, Appa. Bukankah setiap hari kau memang selalu berteriak?” bagus, kali ini Hyunje yang semakin memperburuk imageku. “Setiap pagi, kau pasti akan berteriak saat Omma memasang lima buah alaram dikamar karena kau sulit untuk dibangunkan. Lalu kau juga akan berteriak saat tidak menemukan benda yang ingin kau bawa bekerja.”

            Aku mengangakan mulutku lebar mendengar celotehannya.

            “Belum lagi kalau kau bertengkar dengan Omma atau Omma tidak mau berbicara dengan Appa. Appa pasti akan berteriak seperti orang gila didepan pintu kamar setelah Omma menguncinya dan menyuruh Appa tidur dikamar yang lain.”

            Aku yakin wajahku memucat saat ini. Dia, bocah sialan ini yang sebenarnya adalah putraku tampak senang bercerita didepan semua orang.

            “Dan yang paling menyebalkan itu adalah teriakan kalian berdua dimalam hari karena suara teriakan kalian sangat, mmphhh.”

            Bukan aku yang tiba-tiba saja menutupu mulutnya dengan telapak tangan, sungguh. Karena aku masih terdiam ditempatku memandang semua raut wajah keluargaku yang tercengang mendengar celotehan Hyunje.

            “Hahaha, jangan memercayainya.” Je Wo mengeluarkan suara hambarnya. Kulihat dia memasang senyum palsunya saat menatap Hyunje, sebuah senyuman yang membuat Hyunje memegang lenganku kuat. Terserah padamu, Cho Hyunje. Kau sendiri yang menggali liang kuburmu.

            “Apa kalian ini…”

            “Je Wo-ya,” Omma tiba-tiba saja menyela. Aku bisa melihat Omma yang menyeka keringat didahinya dengan wajah frustasi. “Sudah terlalu malam, Eunje pasti sudah mengantuk. Bawa dia kekamar dan istrirahatlah.”

            Aku mencintaimu, Omma. Dengan gerakan cepat, kami segera membawa kedua bocah itu kedalam kamar tanpa berpamitan pada yang lain. Saat melewati Noona, aku mendengar dia bergumam pelan dengan suara mengejek.

            “Teriakan dimalam hari itu pasti akan terdengar juga malam ini.”

 

____000____

 

 

 

“Kau!”

            Hyunje meraih sebuah bantal untuk menutupi wajahnya dari amukan Je Wo. Aku sengaja membiarkannya dan memilih berbaring diatas sofa dengan Eunje yang berada diatas perutku. Biar saja bocah itu menerima amukan Je Wo setelah apa yang ia lakukan pada kami.

            “Semua orang pasti sudah berpikir yang tidak-tidak tentang kami! Padahal Omma sudah bersusah payah membuat mereka semua mengagumiku seharian ini, tapi karena kau, semua ornag pasti berhenti mengagumiku.”

            Untuk yang satu ini, aku hanya mendesis tidak percaya. Dia memang berhasil membuat semua orang mengaguminya, tapi dia juga berhasil membuat semua orang mencelaku tanpa ampun.

            Hyunje menyembulkan sedikit wajahnya dari balik bantal itu, “Omma, aku hanya mengatakan apa yang sering kudengar. Memangnya apa salahku?” saat Je Wo menghentakkan sebelah kakinya, Hyunje cepat-cepat menutup wajahnya lagi dan membuatku nyaris tertawa.

            “Hahaha, Hyuuuuu.”

            “Eh, kau bilang apa tadi?” aku menangkup wajah Eunje agar dia menatapku. Sepertinya tadi aku baru saja mendengarnya mengatakan_

            “Hyung, Eunje hampir bisa memanggilku dengan sebutan seperti itu, Appa.”

            “Benarkah?”

            Hyunje membuang bantal itu kesembarang tempat dan meloncat kearahku, “Benar. Sudah sejak tiga hari yang lalu dia memanggilku seperti itu.” jelasnya, lalu kedua tangannya mengacak rambut Eunje hingga bocah ini memekik kesal.

            “AAAKKKKK.”

            “Cih, baru saja aku memujimu, kau sudah berubah menyebalkan. Dasar pendek!” omelnya.

            “Yah! Siapa yang menyuruhmu bergerak dari sini, hah?! Dan siapa yang kau sebut pendek?”

            “Tentu saja Eunje.”

            “Lalu kau pikir setinggi apa tubuhmu?”

            “Eiy… Omma bisa melihat bagaimana tubuhku saat ini, kan? semakin hari aku semakin bertambah tinggi seperti Appa. Hanya Omma dan Eunje saja yang pendek, cih, mamalukan!”

            Dia menggeram kesal dan menghempaskan tubuhnya dipinggir ranjang. Aku dan Hyunje terawa bersama. Kata pendek memang terlalu sensitif baginya. Memang benar, semakin hari Hyunje semakin bertambah tinggi. Awalnya kupikir dia akan bertubuh pendek seperti Je Wo, tapi ternyata tidak, dia tinggi sepertiku.

            “Semua orang pasti sedang menertawakanku, menyebalkan sekali bocah ini.” rutuknya lagi.

            Hyunje berpura-pura tidak mendengarnya dengan bermain bersama Eunje meski bisa kulihat senyuman tertahannya mengembang.

            “Sudahlah, setidaknya mereka tidak menertawakanmu seperti mereka menertawakanku tadi setelah kau habis-habisan menjadikanku bahan lelucon konyolmu.”

            Dia mengangkat wajahnya untuk menatapku, kemudian tertawa kecil. “Tapi itu memang bukan lelucon, Kyu. dulu aku memang merasa wajahmu lebih tua dibandingkan umurmu. Bahkan kau setara dengan wajah Eeteuk Oppa.”

            “Kyu?” ulangku.

            Tawanya mereda setelah ia menyadari sesuatu. Ia mengerjapkan kedua matanya dan cepat-cepat mengubah mimik wajahnya. “Aku akan menggantikan baju Eunje.”

            Saat dia menghampiriku untuk mengambil Eunje, aku menahan lengannya, dan menariknya mendekat kearahku, “Kyu?” ulangku lagi dengan suara berbisik, kedua alisku bertaut memandangnya.

            Wajahnya merona. Dia tidak pernah mau memanggilku dengan panggilan seperti itu kecuali jika kami sedang errr yeah… berada dibawah selimut dengan tubuh polos dan dia berada dibawah kendaliku. Aku tidak harus mengatakannya, kan? Oh, baiklah jika kalian memaksa. Dia hanya akan memanggilku seperti itu setiap kali kami bercinta.

            “Aku salah memanggilmu.” Balasnya. Lihatlah, dia masih bisa mempertahankan wajah angkuhnya.

            “Kau tidak pernah salah memanggilku, sayang. Dan setahuku, jika kau memanggilku seperti itu, itu berarti kau sedang…”

            “Sedang apa? Jangan berpikir yang tidak-tidak!”

            “Kau sedang memikirkan hal itu, hm? Ingin melakukannya malam ini?”

            Dia menepis cekalanku. Mendelik tajam padaku dan cepat-cepat mengambil Eunje, “Kau ingin Noona-mu tersenyum senang karena ucapannya benar-benar terjadi?” rutuknya saat membawa Eunje keatas ranjang.

            Noona? Ah, jangan-jangan dia terpengaruh dengan perkataan Noona. Bodoh sekali.

            “Akh,” aku meringis kuat saat tiba-tiba saja Hyunje menyecahkan bokongnya diatas perutku seperti apa yang dilakukan Eunje sebelumnya. “Yah, menyingkir!”

            “Tidak mau,” dia menggeleng kuat. “Eunje boleh duduk disini, kenapa aku tidak.”

            “Karena dia tidak seberat kau, bodoh” aku mencubit gemas pipinya.

            “Appaaaaaaa” rengeknya. “Ayolah, aku ingin bermain kuda-kudaan bersama Appa.”

            “Kuda-kudaan?” ulangku. Entah mengapa, kepalaku menoleh cepat kearah Je Wo yang ternyata sedang memandangi kami. Aku menyeringai kecil padanya dan dia cepat-cepat membuang wajah.

            “Eum, Appa belum pernah bermain kuda-kudaan sebelumnya?”

            “Tentu saja penah.” jawabku cepat dan bisa kulihat Je Wo kembali menatap kami dengan kedua mata menyipit tajam.

            “Oh, ya? Appa bermain dengan siapa?”

            “Omma.”

            “Omma?”

            “Eum.” Aku menganggu yakin padanya. Kudengar Je Wo menahan napasnya yang tercekat hingga aku nyaris tertawa kuat.

            Hyunje melirik Je Wo, “Saat itu siapa yang berada diatas?” tanyanya polos.

            “Cho Kyuhyun!”

            Aku tidak dapat menahan tawaku lagi.  Melihat wajah polos Hyunje dan wajah tegang Je Wo sungguh membuat perutku sakit.

            “Ck, jadi siapa yang berada diatas?” desak Hyunje padaku.

            Aku menghentikan tawaku dan kembali menatapnya, “Tergantung situasi, Hyunje-ya… terkadang Appa dan terkadang juga Omma. Tapi lebih sering Appa yang berada diatas.” Jelasku padanya dengan seriangaian lebar. Tidak apa-apa, Hyunje juga tidak mengerti apa yang sedang kubicarakan.

            “Kau benar-benar sudah gila!” kudengar dia merutuk pelan selagi mengganti pakaian Eunje.

            “Woah… kalau begitu Omma kuat sekali bisa menahan tubuh Appa. Apa tidak berat, Omma?”

            Aku menutup mulutku dengan telapak tangan saat melihat Je Wo memijat dahinya frustasi. Hyunje benar-benar polos.

            “Hanya orang bodoh yang memercayai ucapan Appamu. Kau mau memercayainya?”

            Hyunje menggeleng tegas dan menatapku kesal. “Appa membohongiku?!”

            “Tidak,” selaku cepat. “Sungguh, kami memang_”

            “Hyunje-yaaaaaaaaaaaa.”

            Pintu kamar kami terbuka, Noona, Omma, dan Appa masuk bersamaan. Untuk apa mereka kekamarku?

            “Yah, kamarmu akan dibajak oleh orang lain.” Ujar Noona menggebu.

            “Ahra-ya!” kulihat Noona melengos malas setelah Appa membentaknya.

            “Siapa yang akan membajak kamarku?”

            “Bukan membajaknya.” Omma menghampiri Hyunje lalu menggendong bocah itu. Kulirik Je Wo yang sudah memutar bola matanya malas.

            “Omeonim, jangan biasakan menggendongnya seperti itu. Dia sudah besar dan akan semakin sering merepotkanmu kalau kalau terus memanjakannya.”

            “Hyunje tidak pernah merepotkanku.”

            Yeah… inilah salah satu penyebab bocah itu semakin nakal, karena setiap kali ada yang menyalahkannya jika ia berbuat nakal, maka akan ada juga yang membelanya.

            “Lalu, kenapa Ahjumma bilang ada yang membajak kamarku?”

            “Bukannya membajak, hanya meminjamkannya pada saudaramu yang lain, sayang.” Sahut Appa.

            “Saudaraku? Eunje?”

            “Bukan.”

            “Lalu? Saudaraku, kan, hanya Eunje.”

            “Nah, kau benar.”

            “Heish, kau tidak bisa diam sebentar saja?”

            Noona kembali mengatup mulutnya saat Appa membentaknya lagi. Dasar gadis menyebalkan.

            “Begini, terlalu banyak yang datang kerumah kita hari ini, dan kamar yang ada dirumah kita tidak cukup untuk menampung semua orang. Jadi, kau tidak keberatan, kan, kalau Halmeoni meminjamkan kamarmu untuk satu malam ini pada mereka?”

            “Shireo!!”

            Aku mendesis pelan mendengar bentakannya. Tubuhnya meronta-ronta meminta untuk diturunkan dan Omma menurutinya. Hyunje melipat kedua tangannya didepan dada, menatap Omma dan Appa dengan tatapan kesal.

            “Aku tidak mau! Enak saja, itu, kan, kamarku! Nanti kalau mainanku disentuh sembarangan bagaimana? Kalau mainanku rusak bagaimana? Mereka bisa menggantinya? Pasti tidak bisa karena seluruh mainan itu dibeli Harabe di…” dia menautkan kedua alisnya, lalu menengadah kearah Appa. “Dimana itu, Harabe? Negara yang memiliki menara tinggi berlampu itu… aku lupa.”

            “Paris.” Sahut Je Wo.

            “Nah, itu, Paris.” Dia mengangguk kuat dan kembali merengut masam.

            Omma menatapku sembari menghela napas berat, aku membalasnya dengan mengangkat bahuku acuh, lalu menghampiri Je Wo yang telah selesai mengganti pakaian Eunje.

            “Nanti akan Harabe belikan lagi untukmu.”

            “Tidak mau!”

            “Kasian mereka, sayang…”

            “Ck, Halameoni tidak menyayangiku lagi, ya? Kenapa memakasku seperti itu? Kalau aku mengijinkan mereka tidur dikamarku, lalu aku tidur dimana?”

            “Disini saja, bersama kami.”

            Aku menoleh cepat pada Je Wo, “Disini? Kau pikir sebesar apa ranjang ini? Eunje saja sudah membuatnya semakin sempit.” Sungguh, aku tidak suka tidur berhimpitan seperti itu. Pernah sekali kami berempat tidur diatas ranjang yang sama, dan hasilnya, aku tidak bisa tidur semalaman hingga akhirnya aku membangunkan Je Wo dan mengajaknya pindah dari sana. Bagaimanapun, aku tidak suka jika tidur tanpa wanita itu.

            “Lalu dia harus tidur dimana lagi?” decak Je Wo.

            “Tidur bersama Noona saja.”

            “Eh, enak saja kau! Sang Ji akan tidur bersamaku, kamarku tidak menerima tumpangan lagi.”

Noona memelototiku, dan aku balas memelototinya. Kalau begini, bisa-bisa aku tidak tidur semalaman.

“Bersama kami saja, bagaimana?”

“APA?!”

Aku, Je Wo, dan Noona memekik serentak. Bagaimana bisa mereka mengajak Hyunje tidur bersama mereka.

“Omma yakin? Mengajak Hyunje tidur bersama kalian? Tidak akan menyesal?”

Aku dan Je Wo mengangguk setuju pada ucapan Noona.

“Memangnya kenapa? Kalian ini berisik sekali sejak tadi.”

“Bukan begitu, Abeonim. Hyunje itu kalau tidur seperti gasing, dia akan berputar kesana kemari. Bayangkan saja kalau dia sampai harus tidur bersama kalian. Lebih baik Hyunje tidur bersama kami saja.”

Ck, mau tidak mau aku harus menyetujui ide istriku ini. Aku tidak mungkin membiarkannya tidur bersama Omma dan Appa, kan?

“Tidak, tidak! Aku tidur bersama Harabe dan Halmeoni saja. Wah, aku memang tidak pernah tidur bersama kalian, kan? Harabe, nanti kita bermain kuda-kudaan sebelum tidur, ya?”

Aku meneguk ludahku berat, jangan sampai apa yang kupikirkan terjadi setelah ini. kudengar Je Wo juga menarik napasnya kuat. Aku sangat tahu bagaimana putraku yang satu ini.

“Yah, Harabe sudah tua, mana mungkin bisa bermain kuda-kudaan bersamamu.”

“Ahjumma sok tahu! Appa baru saja bilang kalau dia dan Omma sering bermain kuda-kudaan bersama, bahkan Omma sering kali berada dibawahnya.”

Tuhan, buhuh saja aku!!!

Mereka semua menoleh serentak pada kami. Aku membeku ditempatku, menyesali apa yang baru saja kukatakan padanya beberapa saat yang lalu.

“Kalian…”

“Anni, anni, bukan seperti itu.” kilah Je Wo, sikunya menyikut perutku meminta bantuan.

“Benar-benar kalian ini! Kenapa berbicara seperti itu pada Hyunje?”

Argghhh kenapa jadi aku yang diomeli oleh Appa. Bocah itu menyebalkan sekali.

Setelah puas mengomeli kami, mereka semua akhirnya beranjak pergi dari sini. Sebelumnya, Noona mengerling nakal pada Je Wo yang membalasnya dengan desisan kesal.

“Lihat, kan? Makanya jangan sembarangan bicara dengan bocah itu!”

Aku mendengus kesal padanya, “Mereka baru saja selesai mengomel pada kita, jangan disambung lagi dengan omelanmu, sayang.” Desahku. Kulihat Eunje sudah merangkak menuju sisi ranjang yang lain, aku cepat-cepat menyambarnya sebelum ia terjatuh keatas lantai. “Aigo… kau jangan sampai senakal Hyung, eo!”

“Aku mandi dulu, tidak apa-apa, kan, kalau kau menjaganya sebentar? Tubuhku lengket sekali, Cho Kyuhyun.”

Aku hanya mengangguk sekedar karena asik bermain bersama Eunje. Sepertinya tubuh bocah itu semakin gempal. Aku suka sekali mencuimi bagian perutnya dan mengeluarkan suara aneh hingga ia tertawa geli. Bocah ini seperti menjadi pelepas kepenatanku setelah lelah bekerja. Kalau bersama Hyunje, yang ada kepalaku semakin ingin pecah mendengar ocehannya.

Belum lagi kalau Eunje ingin bermanja denganku didepannya, Hyunje pasti tidak akan mau kalah dan mulai merecoki adiknya. Kalau sudah seperti itu, hanya Je Wo satu-satunya orang yang dapat menghentikan aksi Hyunje.

Entah sudah berapa lama aku bermain bersama Hyunje karena saat ini aku sudah mendengar pintu kamar mandi yang terbuka, menandakan jika Je Wo sudah selesai mandi.

“Kau tidak ingin mandi?”

“Kau sudah sele_” alisku saling bertautan saat menoleh padanya.Uh-ow, ada apa dengan penampilannya malam ini? Kimono putih transparan sebatas paha, rambut basah dan errr dia terlihat sangat menggiurkan. “Aku belum pernah melihatmu memakai pakaian itu.”

Dia yang sedang mengeringkan rambut basahnya didepan cermin melirik kearahku melalui cermin itu. Bibirnya mencibir pelan, sama sekali tidak berniat menjawabku karena ia hanya melanjutkan kegiatannya lagi.

“Kalau ingin mandi sebaiknya sekarang saja, karena aku ingin menitipkan Eunje lagi padamu. Aku harus keluar untuk membuat susunya.”

“Kau akan keluar?” tanyaku tajam. Dia mengangguk ringan. “Ingin memperlihatkan tubuhmu pada semua orang, hm?”

Tubuhnya berbalik kearahku, “Maksudmu?” tanyanya.

“Lihat pakaian seperti apa yang kau kenakan, sayang.”

Dia menunduk, memerhatikan sekujur tubuhnya. Saat kembali menatapku, dia menyering lebar. “Aku lupa. Biasanya dirumah tidak apa-apa.”

“Karena dirumah tidak seramai disini, bodoh.”

“Lalu bagaimana? Siapa yang akan membuat susu Eunje?”

Wajah memelas itu sungguh menipu. Tapi tetap saja aku yang bodoh karena mau menurutinya.

“Aku saja, kau tetap didalam dan perhatikan Eunje. Jangan sampai bocah ini terjatuh keatas lantai.”

“Oke!” setelah meletakkan handuknya keatas meja rias, dia menghampiriku dengan senyuman manis. Membungkuk sekedar untuk menyamakan wajah kami. “Aku berjanji akan menuruti semua keinginanmu setelah Eunje tidur, Tuan Cho.”

Aroma segar yang tercium dari tubuhnya membuatku hampir terlena. Tapi apa yang baru saja ia katakan lebih menggiurkan lagi. Saat melihat seriangain kecilnya, aku segera menarik tubuhnya hingga terjatuh keatas pangkuanku.

“Awas saja kalau kau beralasan lagi.” Ancamku.

Dia mengangguk patuh, lalu memberiku ciuman singkat diatas dahi. Cih, manis sekali dia saat ini.

“Hanya didahi?” godaku.

Dia mengulum senyumannya. “Maka itu cepatlah pergi untuk membuat susunya agar aku lebih cepat menidurkan Eunje. Aku bukan hanya akan menciummu disini,” telunjuknya bergerak menyusuri dahiku, “Bukan juga hanya disini,” kini merambat melalui hidung hingga bibirku. Dia mendekati bibirnya kearah telingaku dan berbisik sensual. “Tapi disekujur tubuhmu.”

Aku menggigit bibirku kuat. Dia memang selalu berhasil membuatku seperti ini. Dan aku tidak mau membuang-buang waktuku lagi. Cho Eunje, malam ini kau harus tidur dengan amat sangat lelap karena Appa dan Omma ingin bekerja keras hingga pagi.

 

 

FIN

Yeah… akhirnya Cho’s Family update lagi…

Kangen KyuJe momen akunyaaaa T.T

Jadilah bikin FF seabsurd ini😄

 

 

279 thoughts on “Our Family

  1. oh tidakkkk!!! demi apa hyunje ngegemessin bangetttttt!!! eonni author keren abissss masaaa aku ga bohooong. suka banget dehhh sama kapel iniiii akhirnyaaa :3

  2. Kyakkk… lucu banget… maen kuda-kuda an??? WahahHH kyuhyun udh tau kalau hyunje itu super duper pinter tpi polos , jdi kan crita sma nenek ama kakek nya??? Kelurga ini ada cerita dari awal nya ga sih??? Pas mereka belum menikah dan dijodohin, aku pengen baca pas yg itu kyak nya seru tuhhh… pasti mereka brantem terus tpi akhir nya mereka jdi keluarga yg unik..

  3. wkwkwk….. bacanya bisa sampe ngakak2 dengan tingkah hyunje yang evil itu….
    aigiooo… kyu juga kacau, masa ngomong sembarangan gitu sama hyunjae… hyunje kan masih polooosss… hahaha….

    kira2 eunje kalo sudah gedean, bakalan seperti hyunje apa tidak yaaa… wkwkwk… jewo bisa stress kalo kudu ngurusin 3 evil…. hahaha…

  4. Aq sering baca ff kyu yg mirip kayak gnie , keluarga evil , tp gg ada yg bikin aq ngakak kayak ff nie .hahhaha
    sumpah demi apa deh suka banget am nie klurga ,perfect bangettt (y)
    waaahhh cho family aq fans kalian , kkkkkkk

  5. Ooooo jd je wo terlihat sempurna saat membaca setumpuk novel ??? Bkn saat memasak di dapur ?????

    Salut buat Pengorbanan je wo deh seharian berada di dapur sampai telapak tangan merah….. istri kyuhyun ….

    Kuda kuda an ????? Aigoo jgn dibahas di depan hyunje donkkk

  6. ya ampun bnr2 mengerikn mulut hyunje..
    smoga eunje tdk sperti hyunje, mati saja kedua org itu (choshin) karena harus memiliki anak2 yg bermulut mengerikan hahahahaha

  7. gx mau bayangin se.frustasi apa kalo punya anak kyk hyunjae,…kelewat jenius sihj tuh anak… gregetan bgt kalo dia udah nongol… pingin mlester bibir tuh bocah…haha ..:-!

  8. Ya ampun td’a ga ada niatan buat bca nie ff karna menrt w cover gambr’a biasa aja tp pas udh w buka udh w bca w ngakak plus deg2an cuy ma perkataan’a appa dan anak’a hyunje, satu hal yg bkal w sesalin kalo w td cma ngelewatn ff yg 1 ini w bkal nyesel, kren jrit kyu bngt owh ,,,,,
    daebak2
    “Dan yang paling menyebalkan itu adalah teriakan
    kalian berdua dimalam hari karena suara teriakan kalian
    sangat, mmphhh.”
    ini adalah kata2 dri anak kecil yg minta digatak ,,,,

  9. sumpah eon aku gga berenti ketawa gegara kellakuan cho family ini, terutama hyunjae yg polos ples ngeselin ini ><
    akkkh gila aku jadi kepengen jdi jewo, punya anak kek hyunje dan suami kek kuyun kkkkk

  10. kok, aku tertawa di atas penderitaan kyuhyun (?) kyuhyun ngapain coba bicara gitu sm hyunje, haduh itu hyunje makin hari makin gemesin ples ngeselin jd pengen bawa pulang wkwk…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s