Perfect Princess – Secret

photo.php

 

 

 

Terkadang, cinta tidak hanya dapat dilihat dalam baikan. Karena dalam keburukanpun, pasti ada cinta.

 ____000____

“Keputusan yang tepat, untuk kali ini aku mendukungnya.”

“Yeah, aku berharap para Mix Blood juga mengambil keputusan yang sama.”

“Benar, sekolah akan sangat nyaman jika mereka semua tidak ada.”

            Cho Kyuhyun yang berdiri dibelakang tubuh dua orang gadis dan satu orang pria yang sedang mencibir seorang gadis yang saat ini tengah berjalan keluar menuju gerbang sekolah dengan keadaan kacau, hanya bisa memandang nanar sosok itu. Shin Seo Kyung memutuskan untuk keluar dari KHAS setelah pagi ini, dirinya benar-benar telah dipermalukan oleh Shin Je Wo dihadapan semua orang.

            Kyuhyun sedikit menyesal karena terlambat menolong gadis itu. Tapi, walau bagaimanapun, tindakan Seo Kyung memanglah salah. Meski begitu, Kyuhyun masih merasa belum cukup puas dengan alasan gadis itu untuk mencelakai Je Wo. Bahkan, Kyuhyun lagi-lagi dibuat tidak mengerti oleh kenyataan jika Je Wo dan Seo Kyung pernah berteman baik.

            Pria itu menarik napas panjangnya sebelum beranjak pergi. Berjalan menelusuri lorong terbuka yang menghubungkan gedung dua dan tiga. Lagi-lagi Kyuhyun merasa sangat tertarik untuk mencari tahu mengenai Shin Je Wo. Rasa penasarannya terhadap hubungan Donghae dan Je Wo saja belum terselesaikan, kini, ia kembali harus memusingkan dirinya sendiri untuk memikirkan bagaimana hubungan Je Wo dan Seo Kyung sebelumnya.

            Kyuhyun mengacak rambut belakangnya beberapa kali, wajahnya sedikit tampak kesal karena pikirannya sendiri, “Tidak bisakah aku berhenti memikirkan masalah gadis itu?!” rutuknya sendiri.

            Sejak ia berada disekolah itu, tidak sekalipun Kyuhyun merasa tertarik dengan hal-hal lain selain Shin Je Wo. Bahkan, sekolah itu dan Shin Je Wo bagaikan saudara kembar yang selalu siap menyiksa dan membuat banyak orang terkucilkan.

            Ketika Kyuhyun hampir mencapai anak tangga pertama, secara tidak sengaja, matanya menangkap sosok gadis yang sedang berdiri menyandar pada sebuah tembok persegi empat yang berukuran besar. Gadis itu memandang lurus kedepan dengan pandangan yang sulit diartikan. Kyuhyun mengikuti kemana arah pandang gadis itu yang ternyata tertuju pada gerbang sekolah.

            Kedua alis Kyuhyun saling bertaut memerhatikan Shin Je Wo kembali. Dan lagi-lagi, tanpa ia sadari, kakinya telah melangkah untuk menghampiri gadis itu. Berdiri disampingnya, dan turut menyandar pada tembol yang sama. Kyuhyun mulanya menunggu reaksi gadis itu dengan kehadirannya, tapi sayang, sepertinya Shin Je Wo sama sekali tidak menyadarinya.

            “Apa yang menarik dari gerbang sekolah itu?” gumam Kyuhyun seringan mungkin.

            Tentu saja, reaksi pertama yang Je Wo lakukan adalah terpekik kecil dan segera menggeser tubuhnya kesamping. Kedua mata gadis itu melotot begitu saja pada Kyuhyun, “Sejak kapan kau berada disini?” sungutnya. Terlihat jelas dikedua matanya, jika ia sedang tidak mengharapkan kehadiran Cho Kyuhyun.

            Kyuhyun masih menatap lurus kedepan, menahan dirinya untuk menatap wajah gadis itu karena ia mulai menyadari, setiap kali mereka berbicara, maka Kyuhyun sulit untuk tidak memandangi kedua mata Je Wo yang begitu familiar dimatanya, “Sejak tadi.” Jawabnya ringan.

            Meski pikiran dan hatinya hampir saja berperang hanya untuk memutuskan menatap wajah gadis itu atau tidak, Kyuhyun akhirnya memilih untuk segera menoleh pada Je Wo yang juga sedang menatapnya dengan pipi sedikit menggembung. Kyuhyun menarik sudut bibirnya samar, merasa tergelitik melihat wajah kesal Shin Je Wo yang kali ini tanpa emosi, dan hanya berupa kekesalan seperti manusia normal lainnya.

            Ketika Je Wo memutar bola matanya malas, dan berniat pergi meninggalkan Kyuhyun, pria itu kembali membuka suara, “Kau menyesali keputusan Seo Kyung untuk keluar dari sekolah ini?” Kyuhyun berhasil membuat langkah Je Wo terhenti.

            Gadis itu berbalik cepat dengan sebelah alis melengkung. “Apa?”

            Kyuhyun mendesah, kemudian kembali menyandarkan punggungnya. Kedua tangannya terbenam dalam saku seragam, sedangkan sebelah kakinya tertekuk karena ia menumpu telapak kakinya pada tembok itu. “Melihat bagaimana caramu memandangi gerbang sekolah itu, aku yakin, kau baru saja menyaksikan bagaimana Shin Seo Kyung pergi meninggalkan sekolah ini dengan keadaan yang sangat buruk.”

            “Aku senang dia memutuskan untuk pindah dari sekolah ini. Setidaknya, itu menandakan dia masih memiliki otak untuk berpikir lebih baik karena jika saja sekolah yang mengeluarkannya, maka dia akan semakin menjadi sampah yang tidak berguna dan tidak diterima oleh siapapun.”

            Kyuhyun kembali menoleh padanya, “Jadi, karena hal itu, mereka selalu merasa takut padamu? Karena setelah lepas dari permainan konyolmu disini, mereka tetap tidak akan bisa lepas dari permainan konyolmu yang lain diluar sana.” Wajah pria itu mulai tampak begitu dingin hingga membuat Je Wo membalasnya dengan cara yang sama.

            “Untuk permainan diluar sana, itu bukanlah permainanku, Cho Kyuhyun. Kau tahu bagaimana kuatnya pengaruh sekolah ini pada Korea, kan? Aku memang berkuasa disini, tapi untuk diluar sana, sekalipun aku mampu, aku tidak akan sudi untuk merepotkan diriku membuat semua orang harus tunduk dikedua kakiku.” Je Wo melipat kedua tangannya sembari mendengus kecil.

            “Kalau begitu, kenapa kau mau merepotkan dirimu disini? Bahkan, kau rela merepotkan dirimu untuk memusuhi Seo Kyung, yang kudengar dulunya adalah teman dekatmu.” Potong Kyuhyun cepat.

            Wajah Je Wo mulai mengeras awas, “Itu bukan urusanmu.” Sahutnya tenang dan tampak menakutkan. Terkadang, kecantikan gadis ini seperti turut membantunya untuk mengintimidasi lawannya hanya dengan menjadikan wajah cantik itu tampak begitu menakutkan.

            “Kau membuangnya, dan kupikir Seo Kyung tidak terlalu bersalah jika ingin membalas dendamnya padamu.”

            “Cih, kau tidak tahu apa-apa, Cho Kyuhyun.”

            “Benarkah? Tapi menurutku semua ini memang salahmu.” Sebuah seringaian penuh cibiran sengaja Kyuhyun tampakkan untuk memancing gadis itu berbicara. Kyuhyun muak jika harus menahan rasa pensarannya.

            “Diam kau, sialan!” maki Je Wo. Kedua tangannya terjatuh kesisi tubuhnya, mengepal dengan kuat. “Aku tidak menyangka ternyata kau sama saja, kupikir kau sedikit lebih cerdas, tapi ternyata aku salah. Kau dan yang lainnya, memang hanya dapat menilai semua orang melalui tampilan luar.”

            Kyuhyun mengerutkan dahinya, masih berusaha menjaga ketenangan dirinya dihadapan gadis ini.

            “Hitam tetap hitam, dan putih tetaplah putih. Begitu, kan, Cho Kyuhyun?” kini Je Wo melangkah beberapa langkah hingga ia benar-benar berdiri tepat dihadapan Kyuhyun. “Sama halnya, seperti seorang pencuri yang terpaksa mencuri untuk memberi makan anaknya yang hampir mati kelaparan, akan tetap dipandang hina oleh semua orang. Dan kau,” Je Wo menyeringai kecil padanya. “Adalah salah satunya.”

            Entah mengapa, kedua kaki Kyuhyun melangkah mundur seketika. Dan hal itu semakin membuat seringaian Je Wo melebar. Ia bahkan mengibaskan tangannya sekali keudara, seperti sedang menertawakan wajah terkejut Kyuhyun.

            “Lalu ketika kau melihat cinderella yang tersiksa oleh Ibu tirinya, maka kau akan menangis tersedu-sedu hingga memohon-mohon pada Ibu peri untuk segera datang menolongnya. Cinderella, hahaha, gadis malang yang hanya bisa menangis tersedu-sedu, mengharapkan pertolongan orang lain tanpa mau membantu dirinya sendiri untuk berhenti menangis. Semua orang akan lebih memilih berada disisinya dibandingkan berada disisi sang pencuri.”

            “Coba kau bandingkan, Cinderella dan si pencuri. Siapa yang terlihat baik dimatamu, Cho Kyuhyun?”

            Tarikan napas berat Kyuhyun tidak lagi mampu ia sembunyikan. Semua kalimat demi kalimat yang Je Wo lontarkan berdengung-dengung ditelinganya. Tapi kenapa kalimat-kalimat itu bagaikan menamparnya?

            “Aku tidak mengerti,” ujar Kyuhyun berusaha menyamarkan suara tercekatnya. “Aku sedang membahas kau dan Seo Kyung. Bukan Si pencuri dan Cinderella.”

            Je Wo tersenyum kecil, ia menggigit bibir bawahnya sekali, “Mungkin, jika kau merasa sangat ingin tahu, kau bisa menganggap aku adalah si pencuri, dan Shin Seo Kyung dalah Cinderella. Dan melihat bagaimana cara penilaianmu yang begitu… baik,” Je Wo sengaja mengeluarkan nada cibirannya. “Aku yakin, kau akan lebih memilih Cinderella adalah sosok penuh kebenaran.”

            Tanpa menunggu lebih lama, Je Wo meninggalkan Kyuhyun begitu saja. Pria itu masih berdiri mematung ditempatnya dengan wajah penuh tanya. Je Wo selalu berbicara dengan kepercayaan diri yang tinggi hingga sulit menemukan kebohongan dalam kalimatnya. Tapi, rasanya Kyuhyun sama sekali tidak ingin memercayainya. Karena setiap kalimat yang keluar dari bibir gadis itu terdengar asing namun selalu tepat dihatinya.

____000____

“Seo Kyung dan Je Wo?”

            Kyuhyun mengangguk pada Hyukjae yang menatapnya dengan dahi mengenyit. Kyuhyun memang memutuskan untuk menanyakan hal itu pada Hyukjae sebelum dirinya benar-benar gila karena merasa begitu ingin tahu.

            Hyukjae yang sedang duduk sitepi jendela kelas dengan sebuah teropong kecil dikedua tangannya untuk melihat kearah lapangan voli, memerhatikan para gadis yang sedang berlatih dengan pakaian yang begitu minim, terpaksa melepaskan pandangannya dari sana dan menoleh pada Kyuhyun yang menyandar pada sebuah meja. “Kenapa kau ingin tahu?”

            “Jelaskan saja padaku.” desah Kyuhyun frustasi.

            “Ck, kau menggangguku saja,” rutuk Hyukjae kecil dan kembali melanjutkan kegiatannya. “Memangnya apa saja yang ingin kau tahu?”

            “Kenapa Je Wo dan Seo Kyung bermusuhan sedangkan dulu, mereka berteman baik.”

            “Wah, yang ini hampir menyerupai cenala dalam.”

            Kyuhyun menggeram tertahan mendengar gumaman mesum pria itu. Bahkan Kyuhyun bisa melihat bagaimana jakun Hyukjae bergerak lambat seperti tercekat. Kyuhyun mengangkat kakinya dan melayangkannya pada punggung tubuh Hyukjae, “Turunkan teropong sialan itu sebelum aku menendangmu keluar.” Ancamnya.

            Hyukjae sontak melepaskan benda itu dan berpegangan kuat pada sisi jendela, “Yah, kau ingin membunuhku, Cho Kyuhyun?!” teriaknya.

            Kyuhyun menyeringai kecil, “Tidak, tapi kalau kau terlalu membuang waktuku, aku akan benar-benar melakukannya. Satu, dua, ti_”

            “Baiklah, baiklah. Aku akan menjelaskannya, cepat turunkan kakimu!”

            “Tidak, jelaskan dulu padaku.”

            “Heish, sialan!” Hyukjae manarik napas panjang dan semakin kuat berpegangan dengan tubuh kaku. “Dulu mereka memang sangat dekat. Dikelas sepuluh, Je Wo hanya mau berteman dengannya, bahkan dengan kami saja dia tidak mau. Kemana-mana selalu berasa Seo Kyung meski dulu aku dan Donghae adalah sahabat terdekatnya.”

            “Lalu?”

            “Sebenarnya, menurutku Seo Kyung terlalu manja padanya. Gadis itu juga selalu menjauhkannya dari orang lain agar Je Wo tidak berdekatan dengan siapapun. Dan saat ia memiliki masalah dengan orang lain, Seo Kyung selalu mengadu pada Je Wo agar Je Wo segera membantunya dan memberi pelajaran pada musuh-musuhnya. Padahal dia sendiri yang sangat suka mencari masalah dengan orang lain.”

            “Seo Kyung selalu menjadilan Je Wo sebagai pelindungnya. Apa lagi Je Wo sudah menjadi Princess KHAS sejak kelas sepuluh, dan itu berarti kekuasaan penuh ada ditangannya. Aku dan Donghae mulai mencemaskan kedekatan Je Wo dan Seo Kyung, kami merasa gadis yang tampak polos itu membuat Je Wo seperti…”

            Kyuhyun masih menunggu Hyukjae melanjutkan penjelasannya, tapi Hyukjae tampak berpikir dengan wajah aneh hinggga Kyuhyun terpaksa memberi tekanan pada kakinya dan berpura-pura ingin mendorong Hyukjae.

            “Aaaa, tunggu dulu, bodoh!”

            “Kalau begitu cepatlah.”

            “Ck, begini, Je Wo memiliki masa lalu yang tidak cukup baik, aku tidak bisa menceritakannya padamu. Tapi masa lalu itu bisa saja kembali padanya jika ia terus menerus menuruti keinginan Seo Kyung. Untuk itu, aku dan Donghae berusaha menjauhkan Je Wo darinya. Sejak kecil… Je Wo tidak pernah memiliki sahabat perempuan. Aku meminta Yoon So dan juga Guru Han mencoba mendekati Je Wo.”

            “Guru Han? Siapa itu?”

            “Guru teater disekolah kita.”

            “Aku belum pernah melihatnya.”

            “Dia sedang sibuk mengurus pertunjukan.”

            Kyuhyun mengangguk kecil meski tidak mengerti, “Yasudah, lanjutkan penjelasanmu.” Suruhnya.

            Hyukjae melirknya kesal, “Aku menyesal menjadi temanmu.” Rutuknya.

            Kyuhyun hanya tersenyum lebar menanggapi omelan Hyukjae padanya. Tapi pria ini cukup bersukur dapat berteman dengan Hyukjae.

            “Usahaku dan Donghae berhasil. Sampai akhirnya, Seo Kyung kembali terlibat masalah dengan beberapa orang dan ia membutuhkan Je Wo untuk membelanya. Saat itu, untuk pertama kalinya, Je Wo menolak membelanya. Seo Kyung merasa kecewa dan mulai bertingkah menyebalkan. Dia menangis dan mengadu pada beberapa orang, tentu saja para Mix Blood yang dengan senang hati menerima aduannya. Hanya saja, reaksi Je Wo yang terlalu tenang membuatnya samakin marah. Sejak saat itu, Seo Kyung merasa telah ditinggalkan dan selalu mengatakannya pada Je Wo.”

            “Mungkin Je Wo mulai merasa bosan dan akhirnya memutuskan untuk berhenti berteman dengannya. Tapi, yeah… manusia tidak akan pernah merasa puas, kan? Setelah itu, Seo Kyung beralih menjadi golongan orang-orang yang membenci Je Wo. Meski jika berhadapan langsung gadis itu masih tampak mau terlihat sopan dan baik, tapi dibelakang Je Wo, Seo Kyung selalu mencelanya. Bukannya ingin membela Je Wo, tapi Je Wo tidak pernah mencela gadis itu saat bersama kami. Aku yakin, bagaimanapun, Je Wo masih menganggap Seo Kyung adalah bagian dari hidupnya. Gadis itu saja yang tidak tahu diri, terlalu cengeng dan hanya butuh uluran tangan orang lain untuk membantunya tapi tidak mau berusaha membantu dirinya sendiri.”

            Pencuri dan Cinderella, pikir Kyuhyun. Rasanya… jawaban itu mulai bisa ia terima. Penjelasan Hyukjae membuatnya tahu hal apa yang pernah terjadi pada Je Wo dan Seo Kyung. Putih tetap putih dan hitam tetaplah hitam, pencuri dan Cinderalla. Kalimat itu semakin memenuhi isi kepala Kyuhyun sampai akhirnya, kakinya yang mulanya masih menempel pada punggung Hyukjae mulai terjatuh keatas lantai.

            “Oh, sukurlah…” desah Hyukjae yang sudah meloncat secepatnya untuk menjauhi jendela. “Kau sangat berbahaya, Kyu!” rutuknya.

            Kyuhyun hanya tersenyum simpul, tapi pikirannya masih terlalu sibuk berpikir. Jika hal itu yang membuat Je Wo memusuhi Seo Kyung, menurut Kyuhyun, gadis itu memang pantas diperlakukan seperti itu. Kyuhyun menghela napas gusarnya, “Aku pusing.” Gumamnya.

            “Salahmu sendiri. Lagi pula, aku heran kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu.” cibir Hyukjae.

            Kyuhyun meliriknya kesal, “Salahkan saja temanmu itu, Lee Hyukjae. Sejak aku masuk kesekolah ini, aku selalu merasa pusing melihat sifatnya yang membuatku gila. Sama sekali tidak bisa ditebak. Musuhnya ada dimana-mana, kelakuannya buruk, tapi anehnya, kau dan beberapa temanmu masih mau berdekatan dengannya.” Omelnya.

            “Hahaha, memang begitulah Shin Je Wo.” Hyukjae menghampirinya, lalu merangkul Kyuhyun dengan kekehan geli. “Jangan memusingkan diri memikirkan masalah Je Wo. Tidak akan ada habisnya. Lebih baik, sekarang kita kekantin saja.”

            Kyuhyun berjengit aneh, “Kantin? Bukankah sebentar lagi pelajaran akan dimulai?” Hyukjae mengerling sekali padanya dan membuat Kyuhyun tertawa pelan. “Kurasa itu ide yang bagus. Aku juga bosan kalau terus tertidur didalam kelas.”

            Kedua pria itu tertawa bersamaan saat meninggalkan kelas. Tangan mereka saling merangkul satu sama lain. Kyuhyun memang dapat berteman dekat dengan Hyukjae karena menurutnya, Hyukjae adalah satu-satunya pria yang memiliki sedikit kesamaan sifat dengannya. Hyukjae juga terlihat lebih ramah diantara yang lainnya.

            Ketika mereka berada diambang pintu kelas, mereka berselisih dengan Donghae yang ketika melihat Kyuhyun disana, segera memasang wajah tak sukanya.

            “Hai, Hae. Kau tidak ingin ikut? Aku dan Kyuhyun mau kekantin.” Sapa Hyukjae.

            Donghae menggeleng kecil, “Sebentar lagi kelas akan dimulai.” Jawabnya riangan dan berlalu pergi.

            Hyukjae hanya menggedikkan bahunya acuh, lalu kembali melangkah pergi. Kyuhyun juga segera menyusulnya. Hanya saja, kali ini pria itu kembali menyeringai kecil.

            “Menurutku, Donghae dan Je Wo juga memiliki masa lalu yang… mereka rahasiakan.” Gumamnya kecil dan berhasil membuat tubuh Hyukjae membeku. Melihat itu, Kyuhyun semakin tampak bersemangat. “Dan sepertinya kau juga tahu, Lee Hyukjae. Kau tidak keberatan, kan, kalau menjelaskannya padaku juga?”

____000____

Kris tidak henti-hentinya mencoba membujuk Je Wo untuk segera meresmikan hubungan mereka sebagai sepasang kekasih. Hingga detik ini, Je Wo belum pernah mau menjalin hubungan yang memiliki status jelas pada pria itu. Meski semua orang sudah menganggap mereka dalah sepasang kekasih, tapi sepertinya Kris masih belum puas dengan keadaan itu.

            Tapi, selain meminta status yang jelas, Kris juga memiliki niat lain dalam permintaannya. Tidak perlu dipungkiri jika sudah banyak gadis yang merelakan keperawanan mereka pada kekasih yang mereka anggap tepat. Kris menginginkan hal itu juga, ia ingin Je Wo menganggap dirinya tepat seperti Yoon So yang menaggap Donghae adalah yang terbaik untuknya.

            Tapi meski ia hampir setiap hari bemesraan dengan gadis itu, Je Wo masih terlalu enggan untuk menyerahkan miliknya yang teramat berharga. Seperti saat ini, ketika mereka tengah bercumbu didalam UKS yang sepi, dan Kris mulai mempertanyakan masalah itu lagi, Je Wo segera melepas diri dan tersenyum kecil.

            “Kau tahu jawabanku, apa, kan?” kilahnya. Je Wo segera mendorong pelan tubuh Kris yang sejak tadi tengah menindihnya. Ia segera meloncat turun dari atas ranjang dan menghampiri sebuah cermin besar untuk memperbaiki pakaian dan rambutnya.

            “Ayolah, sayang… tidak ada salahnya, kan? Sudah lebih dari setahun kita seperti ini.”

            “Memangnya kenapa?” gumam Je Wo ringan, masih sibuk menatap pantulan tubuhnya dicermin.

            Kris duduk ditepi ranjang dan memandangi Je Wo dengan pandangan tegasnya. “Aku merasa buruk jika kita belum berada ditahap itu. Bahkan, semua orang yang berhubungan dalam hitungan bulan sudah melakukannya. Sedangkan kita?”

            “Bersabarlah, sayang… nanti, kalau aku sudak menginginkannya, aku sendiri yang akan memintanya padamu.”

            “Oh, ya? Kapan? Sampai kau mulai merasa bosan padaku dan beralih dengan pria lainnya, begitu?”

            Je Wo berbalik dengan wajah tenangnya, menatap Kris tanpa ekspresi apapun hingga membuat pria itu mulai meneguk ludahnya berat. “Kalau begitu, sebaiknya jangan membuatku merasa bosan padamu detik ini juga, Kris.”

            Kris tahu nada suara itu menunjukkan kekesalan Je Wo padanya. secepat mungkin Kris segera memasang wajah bersalahnya, “Maaf, sayang. Aku hanya sedang kacau saat ini. Lupakan apa yang tadi kukatakan.” Desahnya lirih.

            Je Wo mengangguk kecil dan menghampirinya. Gadis ini membelai lembut dahi Kris yang memang begitu ia kagumi dengan jemarinya yang begitu lihat bergerak disana, “Aku masih merasa nyaman dengan hubungan kita saat ini, Kris. Jadi, kita hanya butuh menikmatinya saja, hm?” bisiknya pelan, Kris mengangguk patuh dengan mata yang mengerjap lambat. Je Wo berjinjit kecil untuk menyamai tinggi tubuh Kris, menyapukan bibirnya diatas bibir pria itu. Ia memberikan lumatan pelan dan lembutnya, begitu lambat dan hangat hingga Kris memejamkan matanya ketika merasa terhanyut. Je Wo bekerja seorang diri, karena memang itulah yang ia inginkan.

            Jadi, ketika Kris berusaha membalasnya, secepat mungkin ia kembali menarik bibirnya dan menyelesaikan ciuman lembutnya. Je Wo menyeringai kecil, “Tetaplah menjadi Kris milikku.” Ujarnya dengan senyuman kecil sebelum pergi meninggalkan Kris yang duduk mematung seorang diri disana dengan wajah bodoh.

            Hingga sampai deringan ponselnya terdengar, barulah ia tersadar dan mengambil ponselnya. Ada nama Ayahnya ketika ia memeriksa ponselnya. Kris menarik napas panjangnya sebelum menjawab panggilan itu, “Ya, Ayah?” jawabnya.

            Wajahnya tampak menyendu dan nanar ketika mendengar apa saja yang Ayahnya bicarakan. Sesekali ia mengangguk kecil, lalu menunduk dalam, “Aku mengerti, Ayah. Aku juga sedang berusaha semampuku. Bisakah Ayah bersabar lebih lama? Aku berjanji tidak akan mengecewakanmu.” Ujarnya dengan suara pelan.

            Setelah percakapan itu selesai. Kris menggenggam dan bahkan mengepal ponselnya dengan teramat kuat. Kedua matanya menajam lurus kedepan. Bibirnya terkatup rapat seperti sedang menahan kekesalan besar.

____000____

“Kapan kau kembali?”

            Han Cheonsa mendesis kecil ketika menemukan Je Wo duduk nyaman dikursi kerjanya sembari melipat kedua kakinya angkuh, seakan kursi itu adalah miliknya. Belum lagi senyuman polos tanpa dosanya yang membuat Cheonsa hampir saja meneriakinya kuat jika saja ia tidak sedang berada diruang guru bersama guru-guru yang lain.

            “Tadi malam dan kau, menyingkir dari sana.” Jawabnya ketus.

            Tapi Je Wo sama sekali tidak terusik dan malah tertawa girang. Belum lagi kekesalannya pada gadis itu selesai, kini satu sosok gadis lagi turut menghampirinya dengan senyuman mengembang.

            “Woah… sudah disini ternyata. Baguslah, aku membawa banyak makanan untuk kita.” Tanpa rasa sungkan, Soo Yoon So yang datang dengan sebuah bungkusan yang berisi cemilan, segera menarik sebuah kursi dari meja lain dan menyecahkan dirinya disamping Je Wo.

            Kedua gadis itu mulai sibuk mengeluarkan makanan-makanan itu seakan mereka ingin berpesta disana. Diruangan guru, dan dibawah tatapan semua guru yang memandangi Cheonsa dengan pandangan aneh. Tentu saja, Je Wo dan Yoon So dapat berada disana sesuka hati mereka. Menganggap semua orang tidak ada dan hal itu membuat semua orang berbisik-bisik kecil.

            Cheonsa menggeram tertahan. Haruskah ia mendapat sambutan seperti ini setelah beberapa hari ini ia sibuk menyiapkan pertunjukan teaternya hingga mengambil cuti beberapa hari, “Kalian berdua,” gigi-giginya seperti sedang bergemeratuk ketika mengatakannya. “Apa yang kalian lakukan?”

            Yoon So dan Je Wo memandangnya serentak dengan wajah polos. “Mengadakan pesta untuk menyambutmu, Omma.” jawab mereka bersamaan.

            “KALIAN SUDAH GILA?! RUANGAN INI BUKAN TEMPAT UTUK MENGADAKAN PESTA!” teriaknya murka, dan selang beberapa detik setelahnya, ketika Cheonsa menyadari kini ia telah jadi sorotan para guru yang lainnya, wanita itu tersenyum kaku. “Ma-maaf.”

            “Hahahaha.”

            Han Cheonsa tidak lagi dapat melakukan apapun selain mendesah pasrah dan menarik sebuah kursi untuknya. Ia duduk tepat dihadapan kedua gadis itu dengan pandangan frustasi, “Seharusnya, sejak dulu aku tahu akan bernasib sial jika mengenal kalian.” Gumamnya.

            Je Wo terkekeh kecil, “Ayolah, kami sudah bersusah payah mengadakan pesta kejutan untukmu.” Godanya.

            “Ya, dan aku sungguh terkejut.” Cibir Cheonsa.

            “Tapi, Omma. Bagaimana pekerjaanmu? Apa persiapan pertunjukan teatermu berjalan lancar?” sambung Yoon So.

            Cheonsa menggeleng kecil, “Hampir saja lancar, jika saja aku tidak kehilangan kedua tokoh utama.” Wajah wanita itu mendadak sedih ketika mengatakannya.

            “Memangnya ada apa?” tanya Yoon So lagi.

            “Kemarin, Go Haera dan Park Min Seok mengalami kecelakaan ketika aku menyuruh mereka untuk datang kerumahku. Keadaan mereka cukup parah, dan membutuhkan waktu selama dua bulan untuk kembali pulih. Kalian tahu, kan? selain mereka berdua, aku tidak memiliki pemain lainnya yang dapat menggantikan mereka berdua. Sedangkan pertunjukan sudah didepan mata. Satu bulan, dimana aku mendapatkan pengganti mereka.” Desahnya gusar.

            Yoon So dan Je Wo dapat melihat bagaimana keresahan Cheonsa. Wanita itu sangat mencintai pekerjaannya dan selama ini sudah bekerja dengan sungguh-sungguh untuk menyiapkan pertunjukan teater pertamanya selama bekerja di KAHS. Sejak beberapa bulan yang lalu, ia sudah bekerja sangat keras mempersiapkan semuanya, dimulai skenario, pemain, hingga mencari inspirasi untuk latar panggung yang nanti akan ia gunakan. Semuanya, ia lakukan seorang diri.

            “Cari pemain baru saja, bagaimana?” usul Je Wo.

            “Tidak mudah mencarinya, menemukan Haera dan Min Seok saja butuh waktu tiga bulan.” Jawab Cheonsa.

            Yoon So menghela prihatin. “Memangnya, apa judul pertunjukan Teatermu?”

            “Black and White.”

            “Hah?” gumam Yoon So dan Je Wo bersamaan.

            Tiba-tiba saja Cheonsa menatap mereka dengan penuh semangat, “Aku tahu, pasti terdengar aneh ditelinga kalian. Karena bisanya, orang-orang lebih memilih memakai judul Romeo dan Julliet, atau Cinderella, Putri salju dan tujuh kurcaci, atau berbagai judul dongeng lainnya. Ck, menurutku hal itu terlalu membosankan. Jadi… aku membuat cerita yang belum pernah ditonton oleh siapapun.” Wanita itu tersenyum lebar pada mereka.

            Kedua gadis itu saling berpandangan bingung, “Ceritanya seperti apa?” tanya Je Wo.

            “Tidak jauh-jauh dari prilaku murid KAHS. Aku sering mencermati semua hal yang terjadi disini dan menurutku, sudah saatnya kalian melihat seperti apa kalian sesungguhnya.” Jawabnya dengan penuh keyakinan.

            Tidak dapat dipungkiri oleh Je Wo dan Yoon So jika mereka merasa sedikit tertarik dengan celotehan Cheonsa. Menyaksikan bagaimana mereka sesungguhnya melalui pertunjukan teater sepertinya akan menyenangkan dan mendebarkan.

            “Baiklah…” desah Je Wo pelan. Ia mengerling kecil pada Yoon So. “Aku akan membantumu, Omma.”

            Cheonsa berjengit kecil. “Caranya?”

            Yoon So dan Je Wo berdiri serentak dengan senyuman misterius. “Serahkan saja pada kami, sam.”

____000____

“Hawaii?”

“Tidak.”

“LA?”

“Kau ingin berjudi?”

“Eum… New York?”

“Jangan berusaha melanjutkan rencanamu yang gagal ketika liburan kemarin, Soo Yoon So.”

            Yoon So mencebik kuat, “Lalu kau ingin mengadakannya dimana?!” teriaknya frustasi. Sejak tadi, tidak sekalipun Je Wo menyetujui semua tempat yang ia rekomendasikan untuk membuat sebuah pelatihan dimana nanti, mereka akan menemukan dua orang yang tepat untuk menggantikan Haera dan Min Seok.

            Je Wo memutar bola matanya seperti tampak berpikir keras, “Tempat yang tenang, yang bisa mengeluarkan semua perasaan siapapun tanpa ada tekanan. Agar nanti, kita bisa menangkapnya dengan mudah.” Gumamnya. “Hem… KAHS jelas sekali tidak bisa.”

            “Tentu saja, sekolah itu sudah menjadi penampungan para kriminal berkelas seperti kau.” umpat Yoon So.

            Je Wo meliriknya kesal, “Terima kasih.” Lalu ia kembali memikirkan sesuatu sembari memejamkan matanya diatas ranjang Yoon So. Kepala Je Wo berada diatas sebuah bantal yang entah mengapa mengeluarkan aroma yang membuatnya mengingat seseorang. Aroma yang menenangkan sekaligus membuatnya kembali menggilai aroma itu. “Donghae.” gumamnya pelan tanpa sadar.

            “Apa?” tanya Yoon So yang ternyata mendengar gumaman itu.

            Je Wo membuka matanya cepat, “Apanya yang apa?” tanya gadis itu tidak mengerti.

            “Ck,” Yoon So yang berada diatas kursi belajarnya berdecak kecal. “ Kau baru saja menyebut nama Donghae. Jangan bilang kau ingin mengadakan pelatihan itu dirumah kekasihku. Tidak boleh!”

            Kedua alis Je Wo melengkung, “Apa aku baru saja menyebut namanya?” gumamnya pelan. Saat melihat kedua mata Yoon So menyipit ngeri padanya, Je Wo cepat-cepat menampakkan cengiran polosnya. “Tadi… aku seperti mencium parfum yang sering Donghae pakai disini.”

            Dia berbohong, tentu saja. Karena Je Wo bukan hanya mencium bau parfurm pria itu, melainkan bau tubuh Donghae. Di dunia ini, Je Wo hanya dapat mengenali bau tubuh dua pria, yang pertama Kakeknya, dan yang kedua adalah Lee Donghae. Bau tubuh kedua pria itu adalah bau tubuh favoritnya. Sama-sama menenangkan baginya.

            “Ah… itu karena kau memakai bantal milik Donghae.” Ujar Yoon So.

            “Milik Donghae?” ulang Je Wo.

            Yoon So mengangguk kecil dengan wajah tersipu malu. “Aku belum bercerita, ya? Sudah dua bulan belakangan ini, Donghae teramat sering tidur disini. Atau lebih tepatnya, kami mulai mencoba untuk hidup bersama. Yeah… itu juga jika kedua orangtuaku sedang tidak berada di Korea.”

            Je Wo tidak tahu mengapa, tapi tubuhnya mendadak membeku. Membayangkan Donghae tidur ditempat yang sedang ia tiduri saat ini, bersama Yoon So, membuat perasaannya diselimuti perasaan aneh. Ia masih menatap Yoon So yang mengeluarkan binar kebahagian saat berceloteh, sedangkan dirinya seperti baru saja terbakar entah karena apa.

            “Ah, kau juga harus melihat ini,” Yoon So berjalan menuju lemari pakaiannya, ia membukanya hingga tampaklah jejeran pakaian yang tersusun rapi disana. “Tara… pakaian Donghae sudah berada didalam lemariku. Bagaimana? Apa kami sudah tampak seperti sepasang suami istri?”

            Je Wo merasa tenggorokannya tercekat. Namun, meski begitu ia berusaha tersenyum sinis pada Yoon So, “Suami istri apa? Kau bahkan masih belum lulus sekolah, bodoh.” Celanya.

            “Tidak masalah. Lagi pula, tidak ada salahnya belajar, kan?”

            “Belajar apa?”

            “Menjadi sepasang suami istri yang baik, hahaha.”

            Je Wo meraih sebuah guling yang berada disampingnya, lalu melemparkannya tepat mengenai wajah Yoon So yang tertawa senang, “Dasar mesum!” rutuknya.

            “Ck, jangan iri padaku,” Yoon So melompat keatas ranjangnya dan berbaring disamping Je Wo. “Lagi pula, kau juga bisa melakukannya dengan Kris.”

            Kris, mendengar nama pria itu, Je Wo sontak memutar bola matanya malas. “Yeah…”

            “Hei, kenapa kau selalu seperti ini setiap kali membahas masalah ini?”

            “Seperti apa?”

            “Seperti… kau memang tidak pernah menginginkannya. Maka itu selalu menolak ajakan Kris. Menurutku, kau boleh saja menolak ajakannya untuk bercinta, tapi… menolak menjalin hubungan berstatus itu, menurutku sedikit berlebihan.”

            Je Wo mengerjap beberapa kali, “Kenapa berlebihan? Aku hanya tidak ingin terikat dengan siapapun.” Kilahnya.

            “Dan apa alasanmu tidak ingin terikat dengan siapapun?”

            Karena aku tidak ingin hancur untuk ketiga kalinya, batin Je Wo. Namun ia tidak akan pernah mau mengatakan kalimat itu. Je Wo selalu menyimpan semua perasannya seorang diri, tidak ingin berbagi meskipun pada Kakeknya maupun teman-teman terdekatnya. Seumur hidupnya, hanya satu orang yang dapat mengerti dan membaca semua isi hatinya tanpa harus bertanya padanya. Seseorang yang pernah membuatnya hancur untuk kedua kalinya dan membuatnya semakin membentengi dirinya dengan cara yang salah dimata semua orang, namun menjadi benar untuk dirinya sendiri.

            Je Wo mendesah pelan, “Karena aku belum menemukan orang yang tepat, itu saja.” Jawabnya.

            Yoon So mencebik kuat. Jawaban Je Wo selalu seperti itu. “Ayolah, Je. Kris adalah pria yang tepat. Dia selalu ada untukmu, bahkan, meski Kakekmu tidak menyukainya dan kau selalu menggantungnya, Kris masih tetap bertahan disisimu. Dan menurut pengamatanku, hanya dia satu-satunya pria yang pernah ada dalam hidupmu. Maksudku… pria yang memiliki hubungan serius denganmu.”

            Tidak, bukan Kris pria itu, batinnya lagi. Dan untuk hari ini, entah kenapa kepalanya terisi penuh dengan satu nama. Nama seorang pria yang akhir-akhir kembali mengusiknya lagi. Je Wo berdehem pelan, lalu beranjak dari sana untuk mengalihkan pikiran dan pembicaraan mereka.

            “Kau mau kemana?” tanya Yoon So.

            “Menyiapkan keperluan untuk pelatihan nanti.”

            “Eo, memangnya kita sudah menemukan tempatnya?”

            Sebelum Je Wo mencapai knop pintu, ia berbalik dan tersenyum simpul pada Yoon So, “Sudah.” Jawabnya penuh misterius.

            “Dimana?”

            “Vila Kakekku.”

____000____

Cheonsa tersenyum senang melihat antrian yang memanjang ditempat pendaftaran yang sengaja ia, Je Wo, dan Yoon So buka. Nama besar Je Wo memang sangat luar biasa berpengaruh pada semua orang di sekolah. Mendengar pelatihan akan diadakan di salah satu Vila milik Kakek Je Wo, semua orang berbondong-bondong mendaftarkan diri mereka.

            “Aku hanya membutuhkan dua puluh orang diantara kalian semua,” ujar Cheonsa kuat hingga membuat sorakan kecewa terdengar disana. “Dan diantara dua puluh orang tersebut, aku hanya akan memilih dua orang untuk menjadi tokoh utama di pertunjukan Teater nanti.”

            Sebenarnya, tidak ada satu orangpun diantara mereka yang tertarik dengan pertunjukan itu. Tapi demi menginjakkan kedua kaki mereka di Vila itu, mereka akan melakukan apa saja. Sesuai dengan perkiraan Je Wo yang sangat tepat.

            Cheonsa duduk ditengah-tengah antara Je Wo dan Yoon So, ia meminta kedua gadis itu untuk membantunya menyeleksi mengingat penilaian kedua gadis itu dan dirinya tidak jauh berbeda, Cheonsa merasa akan lebih mudah jika meminta bantuan dari mereka.

            Satu persatu antrian mulai mendatangi mereka. Tidak ada penilaian atau pertanyaan khusus yang diajukan disana, semuanya murni mereka nilai melalui wajah dan karakter mereka sehari-hari.

            “Tidak.”

            “Ah, kau apa lagi.”

            “Jangan mengajukan dirimu kemanapun, kau terlihat berantakan.”

            “Oke, kau diterima.”

            “Nah, aku sangat ingin kau ikut serta.”

            “Ya Tuhan… lebih baik aku menjual Vila Kakekku dari pada harus melihatmu berada disana. Tidak!”

            Berbagai komentar mereka layangkan disana. Ada yang memekik girang saat diterima, ada yang hampir menangis saat mulut tajam Je Wo berkomentar sinis, setiap orang masing-maisng mengeluarkan reaksi yang berbeda.

            Lalu ketika tiba-tiba saja, Han Eunjin berdiri dengan wajah kaku dihadapan Cheonsa, ketiga gadis itu seketika menatap gadis itu dengan raut wajah aneh.

            “Apa yang kau lakukan disini?” tanya Je Wo ketus.

            “A-aku,” Eunjin melirik kebelakangnya dengan ringisan pelan. “Teman-temanku menyuruhku untuk_”

            “Diterima.” Sahut Cheonsa cepat.

            “OMMA!” Pekik kedua gadis itu bersamaan.

            Je Wo melotot tajam padanya, sedangkan Yoon So mendesis murka.

            Cheonsa sama sekali tidak menghiraukan kedua gadis itu dan malah tersenyum manis pada Eunjin, “Teman-temanmu juga ingin ikut serta?” dengan gerakan kaku Eunjin mengangguk. “Baiklah, kalian semua aku terima.”

            Saat Eunjin tersenyum senang dan menyalami Cheonsa, Je Wo membuang wajahnya malas dan Yoon So memijat dahinya frustasi. Bagaimana mungkin Cheonsa membawa para Mix Blood ikut serta dengan mereka.

            “Omma, kau sudah gila?” ketus Je Wo.

            “Ck,” Cheonsa berdecak ringan. “Jangan cerewet. Nah, semuanya sudah terkumpul, kita bisa_”

            “Maaf, Guru Han. Apa tadi kau memanggilku?”

            Ketiga gadis itu sama-sama menoleh pada pria yang baru saja menghampiri meja itu, berdiri disana untuk memandangi Cheonsa.

            “Kau… Cho Kyuhyun?” gumam Cheonsa.

            Kyuhyun mengangguk singkat, tapi sontak berjengit terkejut saat tiba-tiba saja Cheonsa berdiri tegak dan memandanginya dengan tatapan berbinar.

            “Apa kau keberatan kalau aku memintamu untuk ikut serta dalam pelatihan?”

            “Apa?” suara itu berasal dari Kyuhyun dan Je Wo.

            Masih dengan wajah berbinar, Cheonsa meraih sebelah tangan Kyuhyun dan menggenggamnya erat, “Ayolah, aku yakin kau akan menyukai pelatihannya, murid Cho.” Ujarnya bersemangat.

            Yoon So menutup mulutnya dengan sebelah tangan saat tawanya nyaris meledak. Murid Cho? Gumamnya tanpa suara, yang benar saja.

            “Omma, dia bahkan tidak ikut mendaftarkan diri.” Sela Je Wo penuh protes.

            “Karena aku memang tidak berniat untuk ikut.” Jawab Kyuhyun cepat, dan kedua matanya telah memandang Je Wo sinis.

            Kedua orang itu saling melemparkan tatapan tak suka satu sama lain. Yoon So hanya mendesah malas, sedangkan Cheonsa malah tampak amat sangat menyukai apa yang sedang ia lihat saat ini.

____000____

Cho Kyuhyun menarik napasnya kuat saat berjalan ringan menuju sabuah pemakaman. Kedua matanya tertuju pada sebuah nisan yang tak asing lagi dimatanya. Sudah sejak dua tahun belakangan ini ia tidak pernah mendatangi tempat itu, lebih tepatnya sejak ia bersekolah di Jepang dulu.

            Ketika kedua kakinya berhenti disana, ia tersenyum lembut memandang sebuah batu nisan yang bertuliskan nama Kim Ha Na.

            “Apa kabar, Ibu? Lama sudah tidak bertemu.”

            Saat menyebut kata Ibu, hati Kyuhyun bergetar kuat dan memang selalu seperti itu. Sejujurnya Kyuhyun sangat menyesali dirinya sendiri yang tidak pernah sempat memanggil wanita itu dengan sebutan Ibu selama ia masih hidup. Penyesalan yang selalu membuatnya menjadi sosok anak pembangkang untuk kedua orangtuanya saat ini.

            Kyuhyun memandangi nisan itu dengan tatapan yang mengandung banyak makna. Ada kerinduan, ada kebencian, kemarahan, penyesalan, bahagia dan kesedihan. Bibirnya memang membisu, tapi hatinya seperti sedang menangis saat ia seolah-olah sedang bercerita pada Ibunya melalui tatapan itu.

            Hari ini adalah hari kematian Ibu kandungnya. Setiap tahunnya, Kyuhyun memang selalu mendatangi makam itu seorang diri, sama persis seperti saat Ibunya di kubur disana. Ayah dan Ibu tirinya tidak pernah menemainya, membuat ia semakin merasa kesepian dalam kesendiriannya. Rasanya sangat miris dan menyedihkan. Ingin Kyuhyun tidak dilahirkan di dunia jika mengetahui kehidupan seperti apa yang sedang ia jalani saat ini.

            Kyuhyun tidak pernah merasa benar-benar bahagia. Dia merindukan suatu sosok yang tidak bisa ia ungkapkan karena sebenarnya ia juga tidak tahu sosok seperti apa yang ia rindukan itu. Setiap hari, yang ia lakukan hanyalah menjalani kehidupannya sesuai arus air yag mengalir, tanpa tahu kemana tujuannya.

            Ia menarik napasnya kuat saat memejamkan kedua matanya. Seperti sedang mengulangi ritual yang selalu ia lakukan setiap kali mendatangi tempat itu. lalu perlahan, bibirnya menyunggingkan senyuman kecil yang tulus, senyuman yang ia peruntukkan pada Ibunya.

            “Aku mencintaimu, Ibu.” Gumamnya pelan seraya membuka kedua matanya.

            Dan seiring itu, sebuah suara tangisan pilu tertangkap oleh kedua telinganya. Tangisan itu bukan tangisannya. Dahi Kyuhyun berjengit kecil, kemudian ia mulai mengitari pandangannya kearah lain hingga tiba-tiba saja menangkap sosok gadis bertubuh kecil yang berdiri didepan dua buah nisan, sedang menangis pilu memandangi kedua nisan itu.

            Bahu gadis itu bergetar kuat, dan gadis itu terlihat sangat tidak ingin menahan tangisannya, seperti benar-benar ingin menangis sekuat itu. Kedua mata Kyuhyun sedikit melebar saat mengetahui siapa gadis itu.

            Gadis itu, gadis yang selama ini ia kenal sebagai gadis yang kejam, sedang menangis pilu disana, menangis bagaikan seorang anak kecil.

            Anak kecil…

             Kyuhyun merasa sangat tidak asing dengan keadaan seperti ini. Seakan ia pernah mengalami hal ini sebelumnya.

            Omma… Appa… jangan tinggalkan aku.

            Lalu entah kebetulan atau tidak, wajah gadis itu terangkat perlahan dan berpaling kearahnya hingga kedua mata mereka bertemu. Sesaat mereka sama-sama tertegun, menciptakan keheningan sejenak disana hingga akkhirnya gadis itu kembali menangis pilu dengan saling beratatap mata pada Kyuhyun.

            Kyuhyun memandangi wajah itu begitu dalam, semakin lama, maka ia dapat merasakan kesedihan seperti apa yang dirasakan oleh gadis itu. Hingga akhirnya timbul perasaan dalam dirinya untuk menghibur dan berusaha meghentikan tangisan itu, perasaan yang persis ia rasakan beberapa tahun silam, saat ia juga berdiri disana dengan sebuah tangisan tertahan karena kepergian Ibunya.

            Kini Kyuhyun mengerti mengapa saat ia memandang kedua mata gadis itu, ia merasa tidak asing.

            Perlahan, Kyuhyun menarik sudut-sudut bibirnya keatas, membentuk sebuah senyuman kecil yang menenangkan untuk gadis itu yang sama persis ia lakukan seperti dulu. Kedua mata mereka masih saling bertatapan, membuat Kyuhyun merasa jika mereka saling berbicara melalui tatapan itu.

            Berhenti menangis, aku juga sepertimu. Kita bisa menghadapi ini bersama-sama.

            Kalimat itu terus berulang-ulang didalam kepalanya bagaikan sebuah mantra, hingga akhirnya, tangisan gadis itu sedikit mereda, lalu ketika sebuah senyuman samar terukir pada bibir gadis itu, Kyuhyun menghela lega.

____000____

Donghae tersentak saat merasakan seseorang menepuk bahunya dari belakang. Saat ia menoleh kesana, Hyukjae tersenyum kecil padanya. Dengan gerakan cepat, Donghae segera menutup Laptopnya yang sejak tadi terbuka, gerak-gerik pria itu terlihat salah tingkah dimata Hyukjae.

            “Sejak kapan kau berada dibelakangku?” tanya Donghae dingin.

            Hyukjae menghela napasnya berat. Mulai merasa terganggu dengan sikap Donghae yang cenderung tertutup dan berbeda akhir-akhir ini, “Kau tidak tidur dirumah Yoon So tadi malam?” bukannya menjawab pertanyaan Donghae, Hyukjae malah balik bertanya.

            Donghae hanya menggeleng kecil dan meraih sebuah buku untuk ia baca.

            “Hae.” Panggil Hyukjae pelan.

            “Hm?”

            “Kau masih tidak ingin bercerita?” Hyukjae tahu ada yang tidak benar dalam sikap Donghae saat ini.

            “Tidak ada yang ingin kuceritakan.”

            “Bohong, aku tahu sesuatu sedang terjadi padamu.”

            Donghae menutup matanya erat sejenak, lalu saat ia membukanya lagi, tatapan dinginya tertuju pada Hyukjae, “Kalau kutakan tidak ada, ya tidak ada. Tolong jangan menggangguku, aku ingin sendiri.” kalimat itu jelas sekali ia katakan untuk mengusir Hyukjae dari kamarnya.

            Tapi, bukan Hyukjae namanya jika akan mengalah begitu saja. Ia malah menyipitkan kedua matanya untuk menatap saudara kembarnya itu. “Sejak dulu, kau tidak pernah berhasil membohongiku, Hae. Shin Je Wo, kan?”

            Donghae tidak bereaksi, hanya saja rahangnya terlihat lebih mengeras dan pegangannya pada buku itu terlihat lebih erat.

            Degupan jantung Hyukjae meningkat saat melihat reaksi Donghae yang telah membenarkan tebakannya. Ini bencana, pikir Hyukjae. Jika Donghae kembali terpengaruh dengan keberadaan Je Wo, maka bencana sudah menunggu mereka semua saat ini.

            “Kuharap kau tidak mengulanginya lagi.” Gumam Hyukjae pelan.

            BRAK!

            Mata Hyukjae melebar saat tiba-tiba saja Donghae menghempaskan bukunya dengan kasar keatas meja, dan berdiri tegak mensejajarkan tubuhnya didepan Hyukjae. Kedua mata pria itu menyala bagaikan berapi-api memandangi Hyukjae, “Jangan menceramahiku, sialan! Kau pikir aku sedang tidak berusaha, hah?! Aku bahkan nyaris gila karena terus menerus berusaha melupakannya, melupakan namanya. Tapi kau malah menyebutnya dihadapaku! Kau pikir mudah melakukan semua ini, Lee Hyukjae?!” napas pria itu memburu kuat.

            “Kau masih,” Hyukjae seperti sedang mencari-cari oksigen disekelilingnya. “Masih merasakannya? Perasaan yang seperti dulu, Hae? Karena itu, kau tadi memandangi fotonya?”

            “Arrghhh!” lengan Donghae menyapu seluruh benda yang berada diatas meja belajarnya hingga semua benda-benda itu berserakan diatas lantai.

            “Hae!”

            Pria itu meremas rambutnya frustasi, tubuhnya kembali terhempas diatas kursinya. Hyukjae yang melihat itu hanya dapat menatap lirih padanya. Ia tidak akan terkejut lagi melihat keadaan Donghae yang seperti ini, karena bahkan ia pernah melihat yang lebih parah dari sekarang. Seperti Donghae yang ingin mencoba bunuh diri dengan melukai dirinya sendiri, atau Donghae yang menjadi sangat kasar dan memukuli orang lain. Dan yang lebih parah dari itu semua adalah, Donghae hampir saja membunuh orang lain. Itu semua disebabkan oleh satu orang. Shin Je Wo.

            “Bagaimana ini? Aku kembali menginginkannya.”

            “Tidak,” Hyukjae memegang kedua bahu Donghae agar pria itu mau menatapnya. “Kau tidak boleh lagi menginginkannya. Kau sudah memiliki Yoon So, Hae. Pikirkan Yoon So, dia adalah gadis yang tepat untukmu.”

            Donghae menepis cekalan Hyukjae, dan menatap pria itu dengan kedua mata yang memerah dan sedikit basah. Donghae terlihat sangat kacau saat ini.

            “Aku tidak tahu, Hyukjae-ya. Aku tidak tahu! Akhir-akhir ini Je Wo selalu menggangu pikiranku. Aku tidak bisa berhenti memikirkannya, apa pun yang kulakukan aku selalu memikirkannya.”

            “Mungkin kau masih terlalu shock karena Je Wo baru saja dicelakai oleh orang lain, Hae. Kau hanya harus berada disisi Yoon So selama mungkin. Dia selalu dapat mengalihkan pikiranmu, bukan? Ayo, aku bersedia mengantarkanmu kerumah Yoon So.”

            “Kau tidak mengerti!” seiring bentakan itu, Donghae mendorong kuat tubuh Hyukjae dari hadapannya. “Aku sengaja menjauh dari Yoon So karena tidak ingin merasa bersalah padanya! Kau tahu, kau tahu apa yang sudah kulakukan padanya, hah? Aku menghianatinya!”

            “Menghianatinya?”

            Donghae tertawa hambar. “Kemarin, untuk pertama kalinya, aku bercinta bersama Yoon So tapi yang ada didalam kepalaku adalah, aku yang sedang bercinta bersama Je Wo.”

            Tubuh Hyukjae menegang, sementara wajahnya memucat.

            “Aku tidak bisa lagi melihat Kris selalu menyentuh Je Wo, aku ingin membunuh Kris saat itu juga. Aku juga sudah mencoba mengalihkan kemarahanku pada Yoon So dengan menghabiskan waktuku bersamanya, tapi aku tidak bisa…”

            “Hae…”

            “Apa yang harus kulakukan lagi, Hyukjae-ya?”

____000____

Mereka berdua duduk disebuah bangku panjang dibawah pepohonan rindang yang terletak tak jauh dari pemakaman. Masing-masing mengambil tempat disudut bangku agar tidak terlalu berdekatan satu sama lain.

            Shin Je Wo masih terlihat sesekali mengelap kedua pipinya yang basah meski mereka sudah duduk disana selama delapan menit yang lalu. Melihat itu, Kyuhyun  mencari-cari sesuatu dari dalam saku jas yang ia kenakan, lalu mengeluarkan sebuah sapu tangan berwarna coklat dari sana.

            “Ini.” tangannya terulur kaku kearah Je Wo.

            Gadis itu melirik sapu tangan Kyuhyun sejenak, lalu akhirnya memilih untuk mengambilnya dan menyapukan kedua matanya dengan sapu tangan itu.

            Entah mengapa, bibir Kyuhyun tersenyum kecil memandangnya, “Aku tidak tahu kalau ternyata kau tipe gadis yang bisa menangis selama ini,” candanya. Namun ketika Je Wo meliriknya tajam, Kyuhyun cepat-cepat tersenyum lebar. “Aku hanya bercanda.”

            Gadis ini masih saja pemarah, batinnya.

            Setelah membersihkan air matanya, Je Wo mulai menengadahkan wajahnya keatas untuk memandangi langit. Lagi-lagi tatapan gadis itu terlihat sangat menyendu dari sebelumnya. “Ketika menangis, aku memang akan melakukannya sangat lama,” ujarnya pelan dan Kyuhyun hanya memandangi wajahnya dari samping. “Tapi, aku hanya akan menangis sekali setiap tahunnya.”

            “Sekali?” gumam Kyuhyun.

            “Hm,” Je Wo mengangguk pelan, lalu berpaling pada Kyuhyun. “Dihari peringatan kematian kedua orangtuaku.”

            Kyuhyun menemukan beribu kesedihan dalam tatapan Je Wo padanya. Jika Kyuhyun sering merasa kesepian, maka tatapan Je Wo saat ini lebih dari perasaan kesepian itu.

            “Mereka meninggal dihari yang sama karena sebuah kecelakaan.”

            Kyuhyun mengangguk pelan, “Aku turut prihatin.” Ujarnya sungguh-sungguh.

            “Kau sendiri? Kau… juga ditinggalkan oleh seseorang, kan? Siapa?”

            Kyuhyun mengerjap beberapa kali saat Je Wo melontarkan pertanyaan itu. Pertanyaan itu tidak bisa ia jawab karena jika orang lain tahu mengenai rahasia terbesar keluarganya, maka sesuatu akan terjadi pada keluarga dan perusahaan Ayahnya. Meski Kyuhyun tidak peduli, tapi ia tetap tidak mau mengambil resiko seperti itu demi dirinya sendiri.

            “Seorang kerabat.” Jawabnya sekedar.

            “Oh, begitu.” Ia kembali menatap langit. “Bagaimana rasanya memiliki Ibu, Cho Kyuhyun? Menyenangkan, ya? Setiap kali pulang sekolah, pasti akan ada senyuman ramah yang menyambutmu. Menanyakan bagaimana kau melewati harimu, atau apa kau sudah makan siang atau belum.”

            Je Wo tersenyum, tapi terlihat begitu memilukan.

            “Aku… juga ingin merasakan hal seperti itu. Bercerita pada Ibu, bermanja pada Ayah. Di omeli oleh Ibu kalau aku berbuat salah, tapi selalu dibela oleh Ayah. Ya… aku selalu mendengar teman-temanku ketika mereka bercerita mengenai keluarga mereka. Sepertinya sangat menyenangkan.”

            “Kenapa kedua orangtuaku pergi secepat itu, ya?”

            Kyuhyun menemukan bendungan air mata dipelupuk mata Je Wo, membuat hatinya sedikit terenyuh. Benarkah gadis yang berada disampingnya ini adalah Shin Je Wo yang selalu terlibat pertengkaran dengannya setiap hari? Mengapa hari ini ia terlihat rapuh dan lemah hingga Kyuhyun sangat ingin menjaganya.

            “Meski aku masih memiliki Kakek, tapi rasanya tetap berbeda. Aku… iri pada semua orang yang memiliki Ayah dan Ibu.”

            Kyuhyun menyentuhkan telapak tangannya diatas kepala Je Wo, lalu wajah gadis itu menoleh padanya, “Menangislah, kau bilang hari ini adalah satu-satunya hari dimana kau akan menangis, kan? Kalau begitu, jangan menahannya. Kau boleh menangis sepuasmu hari ini, tapi besok, kau harus kembali menjadi seorang Shin Je Wo.” ujarnya lembut.

            Je Wo menatapnya dengan kedua mata yang basah dan memerah.

            “Aku ada disini, untukmu.” Sambung Kyuhyun, lalu seiring dengan kalimat itu, Je Wo mendekati Kyuhyun, dan merebahkan dahinya diatas bahu pria itu, kembali menangis pilu disana, melepaskan semua kesedihan sesuai dengan perintah Kyuhyun padanya.

            Mulanya, tubuh Kyuhyun memang menegang sesaat. Tapi saat suara tangisan itu kembali mengiris-iris hatinya, sebelah telapak tangannya mulai bergerak, menyentuh punggung bergetar Je Wo, lalu mengusapnya perlahan disana. Meski Kyuhyun masih memiliki orangtua yang lengkap namun tidak utuh, tapi Kyuhyun mengerti bagaimana perasaan gadis itu. Karena dia juga tidak memiliki Ibu yang akan menyambutnya saat ia pulang, tidak memiliki Ibu yang akan mendengarkan ceritanya, atau mengomelinya saat ia salah.

            Mereka berdua sama-sama terlihat menyedihkan.

____000____

Hyukjae berjalan tergesa-gesa menyusuri setiap koridor sekolah, kedua matanya tampak begerak liar seperti sedang mencari-cari seseorang. Raut wajah pria itu menunjukkan kecemasan yang tidak terbendung lagi olehnya.

            Namun, ketika melihat sosok Soo Yoon So yang berjalan menghampirinya, Hyukjae segera mengubah ekspresi wajahnya sewajar mungkin.

            “Donghae tidak bersamamu?” tanya Yoon So padanya.

            Hyukjae menggeleng sekali dan tersenyum kecil, “Ayah tiba-tiba saja pulang dan mengajak kami pergi ke Tokyo bersamanya. Aku tidak mau pergi dan melarikan diri dari rumah, tapi Donghae yang bodoh telah masuk kedalam perangkap Ayah kami dan wuzzzz Jet pribadi Ayah sudah membawa Donghae ke Tokyo tadi malam.” Ia semakin melebarkan senyumannya saat wajah Yoon So merengut masam.

            “Ck, kenapa dia tidak bilang padaku? Dan kau! seharusnya kau mengajaknya ikut melarikan diri bersamamu.”

            “Hei, kalau aku melakukannya, tentu saja akhirnya aku juga harus ikut kesana.”

            “Ah… Donghae bodoh!” Yoon So menghentakkan sebealh kakinya kesal, lalu berlalu pergi dari hadapan Hyukjae.

            Wajah Hyukjae kembali berubah seperti sebelumnya setelah Yoon So menghilang dari hadapannya. Ia berbohong, Donghae tidak pergi kemanapun. Hyukjae sengaja menyuruh Donghae untuk tidak masuk kesekolah hari ini. Lagi pula, pria ini sedang merencanakan sesuatu untuk saudaranya itu.

            Hyukjae semakin mempercepat langkahnya hingga mencapai pintu kelasnya. Saat ini masih terlalu pagi hingga belum banyak murid yang datang kesekolah. Tapi memang itu yang diharapkan Hyukjae, dan harapannya semakin tercapai saat melihat Cho Kyuhyun sudah duduk dibangkunya dan tersenyum ramah pada Hyukjae.

            “Cepat sekali kau datang.” Sapa Kyuhyun ringan.

            Hyukjae tidak membalas sapaan itu dengan sebuah senyuman yang biasa ia lakukan, melainkan menatap serius pada Kyuhyun sebelum menghampiri pria itu disana.

            “Cho Kyuhyun,” panggilnya dengan suara rendah. Kyuhyun yang melihat raut wajah Hyukjae sedikit berbeda dari biasanya, segera melepas ear phone yang sejak tadi terpasang dikedua telinganya. “Aku ingin menceritakan sesuatu padamu.”

            Kedua alis Kyuhyun saling bertaut. “Tentang apa?”

            “Apa pun itu, kuharap, setelah aku menceritakannya, kau mau membantuku.”

            Kyuhyun sama sekali tidak mengerti kenapa Hyukjae mendadak aneh pagi ini. Tapi ia tetap tidak dapat menahan kepalanya yang mengangguk pelan, menyetujui permintaan Hyukjae padanya.

            Hyukjae membawa Kyuhyun keatas gedung sekolah, dimana tidak ada siapapun disana kecuali mereka. Disana, Hyukjae menceritakan semua hal yang pernah terjadi antara Je Wo dan Donghae pada Kyuhyun. Semua yang ia ketahui, ia ceritakan pada pria itu.

            Hyukjae terlihat sangat menyedihkan ketika bercerita mengenai sikap Donghae saat masih bersama Je Wo. Sedangkan Kyuhyun tidak dapat menyembunyikan wajah terkejutnya selama Hyukjae bercerita.

            Donghae dan Je Wo pernah berpacaran. Sifat posesif Donghae yang mengerikan pada Je Wo bahkan hampir mencelakai orang lain. Lalu Je Wo yang selalu bergantung pada Donghae dan mereka tidak bisa melapaskan diri satu sama lain. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk benar-benar berpisah entah karena alasan apa, karena sampai saat ini Hyukjae masih belum mengetahuinya. Semuanya terdengar begitu mengejutkan dan mengerikan.

            Kyuhyun akhirnya mengerti mengapa ada yang aneh diantara Je Wo dan Donghae.

            “Kupikir aku sudah bisa bernapas lega setelah melihat Donghae dan Yoon So saat itu. Tapi… Donghae baru saja mengatakan padaku, kalau dia kembali menginginkan Je Wo.”

            Hyukjae melanjutkan lagi ceritanya, kali ini mengenai perubahan sikap Donghae akhir-akhir ini, lalu bagaimana Donghae yang merasa cemburu terhadap Kris. Semua itu sungguh membuat Hyukjae takut. Ia takut kalau Donghae kembali seperti dulu setelah apa yang dialami pria itu dalam proses penyembuhannya.

            Berpisah dari Je Wo bukanlah hal mudah yang dilakukan Donghae. Donghae seperti seorang pecandu yang sudah ketergantungan pada candunya. Ia sangat mudah marah dan sering melampiaskan kemarahannya pada orang lain. Entah sudah berapa sekolah yang mengeluarkannya karena ulah nakalnya, dan Hyukjae yang tidak bersalahpun terpaksa ikut keluar dari sana demi menemani saudaranya itu.

            Hyukjae tidak mau lagi melihat Donghae mengharapkan Je Wo. Baginya, Yoon So adalah satu-satunya gadis yang paling tepat untuk Donghae karena saat pria itu mengakui perasaannya terhadap Yoon So, Hyukjae menemukan binaran berbeda dari kedua mata Donghae. Sebuah binaran bahagia yang berbeda saat dulu Donghae bersama Je Wo. Binaran itu terlihat sangat normal.

            Setelah mendengar semua cerita Hyukjae, yang bisa Kyuhyun lakukan adalah menarik napasnya sedalam mungkin. Perutnya terasa mual hingga ia nyaris muntah. Apa lagi setelah mendengar bagaimana Donghae yang dulu hampir saja membunuh seorang pria yang menunjukkan ketertarikannya pada Je Wo.

            “Saudaramu gila, Lee Hyukjae.” Desis Kyuhyun yang sulit mengontrol emosinya.

            Hyukjae tertunduk kaku. “Aku tahu. Tapi dia masih bisa diselamatkan, Kyu. Aku pernah melakukannya dan aku berhasil.”

            Kyuhyun tersenyum miris. “Dengan memperalat Soo Yoon So? Menjadikan gadis itu sebagai pelarian saudaramu agar setiap kali dia merindukan Shin Je Wo, dia dapat bercinta sepuasnya dengan Yoon So yang sama sekali tidak tahu apa-apa.”

            “Kau salah!” wajah Hyukjae kembali terangkat, memandang Kyuhyun dengan bola mata tajamnya. “Aku tahu dan aku sangat yakin kalau Donghae memang benar-benar mencintai Yoon So.”

            “Kalau dia memang mencintai Yoon So seperti yang kau katakan, lalu bagaimana mungkin dia dapat kembali tertarik pada Je Wo, bahkan memikirkan gadis itu saat dia bercinta bersama Yoon So?!” wajah Kyuhyun memerah, menahan emosinya yang sudah berada diujung tanduk. Saat Hyukjae menceritakan mengenai bagian yang satu itu, Kyuhyun memang terlihat lebih murka dari sebelumnya. Entah karena prihatin pada Yoon So yang seakan-akan diperalat, atau merasa tidak terima karena Donghae yang memikirkan Je Wo saat ia bercinta dengan gadis lain.

            Greb!

            Hyukjae mencengkram kerah kemaja Kyuhyun dengan kedua tangannya, “Kau tidak pernah berada ditengah-tengah kedua manusia itu saat mereka bersama, Cho Kyuhyun. Apa yang dilakukan Donghae saat ini, hanya karena sebuah bayangan dimasa lalunya. Dia bahkan rela menyayati kulitnya sendiri jika Je Wo menangis karena dirinya, lalu saat melihat Je Wo nyaris mati beberapa hari yang lalu, wajar saja kalau bayangan masa lalunya kembali muncul.”

            Tubuh Kyuhyun terhuyung kebelakang saat Hyukjae melepas cengkaramannya.

            “Perasaan ingin melindungi dan memiliki Je Wo kembali ia rasakan setelah melihat Je Wo hampir saja mati. Aku yakin semua itu karena masalah ini.” Racau Hyukjae.

            Kyuhyun berusaha mendengar semua penjelasan Hyukjae padanya. Ia juga dapat merasakan kecemasan pria itu terhadap saudaranya begitu besar, hingga Kyuhyun merasa iba.

            “Dan apa yang kau takutkan saat ini, Lee Hyukjae? Je Wo sudah memiliki Kris, bukan?”

            Hyukjae mendengus keras, “Justru itu yang membuatku takut, Kyu,” ia memandangi Kyuhyun dengan sorot yang berbeda. “Saat ini, kecemburuannya tertuju pada Kris. Dan sepertinya, keberadaan Yoon So tidak berpengaruh besar lagi kalau kecemburuan Donghae semakin meningkat. Aku takut dia akan menyakiti Kris, lalu hal terburuknya adalah… Yoon So mengetahui semuanya.”

            “Bukankah lebih baik kalau Yoon So mengetahui semua ini, mungkin saja dia dapat membantumu untuk mengalihkan perhatian Donghae dari Je Wo.”

            Hyukjae menggeleng lemah. “Kau tidak mengerti bagaimana jalan pikiran para perempuan, Cho Kyuhyun? Setelah Yoon So tahu, hal pertama yang akan ia lakukan adalah memusuhi Je Wo, menyalahkan Je Wo atas semuanya, dan merasa telah dibohongi oleh sahabatnya sendiri. Seingatku, aku sudah pernah bercerita mengenai usahaku yang mendekatkan Yoon So pada Je Wo, kan? Sebelum berteman dengan Seo Kyung, Je Wo adalah sosok penyendiri yang dingin. Sahabat sesungguhnya yang pertama ia temukan, adalah Yoon So. Dan jika Yoon So menyalahkannya seperti itu, maka Je Wo akan kembali pada sosoknya yang dulu.”

            “Coba kau bayangkan, masalah seperti apa yang akan timbul jika kita membiarkannya? Donghae akan benar-benar gila, dan Je Wo tidak akan terselamatkan lagi.”

            Kyuhyun memejamkan kedua matanya erat, “Lalu kenapa tidak kau biarkan saja mereka kembali bersama, Lee Hyukjae?” desahnya frustasi. Mengapa masalah serumit ini harus dialami remaja seperti mereka?

            “Dan membiarkan mereka berdua sama-sama hancur, Kyu? Tidak, aku sangat menyayangi mereka berdua. Aku akan berusaha semampuku untuk menyelamatkan kehidupan mereka, Kyu. Mereka dapat bahagia, jika berada disisi orang-orang yang tepat.”

            Kyuhyun memijat dahinya putus asa. “Lalu kau ingin aku bagaimana?”

            “Bantu aku menjauhkan Je Wo dari Kris dan Donghae.”

            “Apa?!”

            Kedua mata Kyuhyun melebar cepat. Hyukjae baru saja menyuruhnya menjauhkan Je Wo dari Kris, yang ia tahu adalah kekasih gadis itu, lalu Donghae yang mungkin saja akan dengan senang hati membunuhnya kalau saja pria itu tahu Kyuhyun sedang berusaha menjauhkan Je Wo darinya.

            “Lee Hyukjae, kau sudah gila? Kau pikir sedekat apa hubunganku dan Je Wo, hah? Kau bahkan sangat tahu kalau gadis itu selalu membuat kepalaku pusing dengan semua omong kosongnya.”

            “Tapi hanya itu satu-satunya cara, Kyu. Kau harus menjauhkan Je Wo dari Kris, agar kecemburuan Donghae mereda. Lalu menjauhkan Je Wo dari Donghae, agar aku dapat terfokus pada pekerjaanku untuk membuat Donghae kembali hanya menatap pada Yoon So. Jika kita berhasil, maka bencana besar itu tidak akan terjadi.”

            “Oh Tuhan!” erang Kyuhyun kuat. “Kenapa kau berpikir aku bisa melakukannya?!”

            “Karena kau adalah sahabatku, Cho Kyuhyun. Saat pertama kali melihatmu, aku merasa kau dapat menjadi bagian dalam kehidupanku. Kumohon… hanya kau yang dapat membantuku, Cho Kyuhyun.”

TBC

233 thoughts on “Perfect Princess – Secret

  1. gak gau mau komen apa kkkk …keliatanya masalah Hyukjae rumit ye harus nglindungin Jaewo sama Donghae…tapi ak masih pnasaran kyaknya kris cuma manfaatin Jaewo ya? ah molla

  2. huaaaaa mkin pnsaran.maaf ya aku mau koreksi kslahan pnulisnnya.pnggunaan kata ke klo di ikuti tmpt itu dipisah jdi kyak ke sekolah itu hrs dipisah bknnya digabung. ke dalam jg hrs d pisah.itu aja slbihnya udh ok mnrutku.
    critanya mkin menarik aj nih.bner kan prkiraanku wktu prtma kali klo jae wo pny skap kyk gtu jlas ada sesuatu dibaliknya bkn skdar smbong arogan atau apa gtu. critain masa lalunya donghae sama jae wo dong.penasaran tingkat akut!!!
    tetap semngat nukisnya ya Fighting!!!^^

  3. Hwwwaaaaaaa harus lanjut ff ini chingu, kereeeen, Daebak pokonya spechless deh…. Kyuhyun donghae selalu di pertemukan oleh alur yg harus memilih dua pria kece ini, huaaaa kenapa???
    Pokonya lanjut terus chingu semangat !!!!

  4. Wahhhh daebak bgt ceritanya. Makin seru, dan makin buat penasaran. Di lanjutin dong ff yg ini thor. Keren bgt ceritanya. Yakin banget deh kyu bisa ngbantu hyukjae, semoga aja je wo gak makin percaya sama kris yahh. Di tunggu kelanjutannya thor

  5. Jd curiga kykny kriss cm mau manfaatin je woo aj deh kyakny…
    Aigo msalahny mkin rumit, jd ikut pusing. Tp q pnsaran am lanjtny, kira2 kyu mau bntuin hyukje g y…
    Next dunk thor

  6. Ўªãª ampun masalahnya jd semakin rumit..si donghae karakternya mengerikan..bnr2 dr kata2nya sama jalan cerita nya bikin aku kayak lg nonton drama korea beneran..daebakkk..d tunggu part selanjutnya yaa eonnie..

  7. Kerrren bangetttt,,, baru nemu ff yang ceritanya rumit kayak gini tapi mudah di mengerti,, salut buat lee hyukjae yang seperti super hero, keceh banget lee hyukjae😀

  8. akhirnya terbuka satu persatu akar masa lalu mereka..
    meski belum jelas juga semuanya..
    setidaknya ada titik pencerahan..
    ffnya makin seru..
    konfliknya q suka, bikin gregetan..
    kyu ma je wo pny hubungan di masa lalu ya?..
    q jg blm mengerti knp klu hae ma je wo bersama bs saling menghancurkan?..
    ditunggu ff selanjutnya..
    terima kasih sdh publish ff keren ini..

  9. Yaampun, Cho Kyuhyun sadis banget hhehe sampai* maksa Eunhyuk untuk bercerita tentang Je Wo. Mereka ini benar-benar lucu hhehe..

    Wah wah wah, semoga saja yg jadi pemeran utama dalam teater sekolah mereka Je Wo dn Kyuhyun. Mereka pasti akan sering bertemu kalau kayak gini hhehe..

    Mereka memiliki cerita kehidupan yg sama. Sama* kehilangan orang yang mereka cintai. Nggak nyangka kalau makam orangtua Je Wo dan ibunya Kyuhyun sama.. Mereka bahkan bertemu, jadi Kyuhyun sama Je Wo pernah bertemu dulunya mereka di pemakaman orangtuanya. Mankanya nggak asing saat mereka pertama kali bertemu di sekolah..
    Baru kalai ini mereka ber2 akur, bahkan sampai* Je Wo menangis di bahu Kyuhyun dan mereka saling bercerita bersama..

    Jadi benar, Je Wo sama Donghae pernah menjalin kasih. Tapi kenapa mereka berpisah ya? Padahal kan merekanya saling mencintai dan saling membutuhkan. Dan juga kalau kayak gini kan jadi kasihan Yoon So.
    Eunhyuk jadi repot sendiri ini hhehe dia sahabat yg baik. Disini dia yg selalu memperjuangkan supaya persahabatan mereka tetap utuh. Sekarang jadi repot dn bingung sendiri mengurusi masalah sahabat dn saudaranya itu..

  10. Hyuk jae alau banget pake bilang ada bencana besar ngakak deh. Kalo donghae sama je wo bersatu malah bisa rusak? Sejujurnya masalahnya terlalu rumit untuk anak ingusan seperti saya wqwq.

  11. omonaa Donghae oppaaaa!!
    oww Eunhyuk dia jadi saudara yang soo sweeet bangett disini (y)
    gak nyangka banget cerita masa lalu mereka *shocklebay

  12. anyyeong aku new reader disni

    bleh bca ff di sini kan
    slam knal buat author ny…

    ff ini kea ny complicated bnget ya,,cinta sgitiga gtu ya

    emng mslah nya ap klo msalkan jewo am hae pcran….apkah kslan mrka di msa lalu gtu..lgian dri yg aku bca di sini kea mrka saling mlindungi gtu kan…lgian cinta kan ngak bsa di pksa jga …hae di sini mainstream bnget kea ny….trus kea nya kris jga ada sesuatu yg dia sembunyiiin…apa alasan kris dketin jewo..apa krna blas dendam kahhhh

    brhrap si kyu bsa nyelesain mslah ini…ngebwa jewo lpas dri kris maupun hae…

  13. Ohh jadi ternyata donghae sama je wo pernah pacaran di masa lalu? Hmm kisah cinta yang rumit mulai muncul dan membayangkan betapa frustasinya kyuhyun mendapat permintaan tolong dari hyukjae bikin ngakak haha😀
    Duhh semoga rencananya hyukjae berhasil, kasian juga sama yoon so klo tau donghae masih suka sama je wo. Dan kayaknya kris ga tulus deh sama je wo, kayaknya dia punya rencana, rahasia dan misi dalam mendekati je wo

  14. Aigo aigo aigoooo,rumit bnget mslah dong n je, apa gra2 krna dlu je prnh tenggelam mka mreka jdi putus,ahh pusing sndri sangking rumitnya.
    Kris mau mnfaatin je ya,kursa dia hnya mngincar hrta nya..
    Kyu ayo kyu jauhin je dri kris n dong…

  15. kenapa malag tambah rumit ke gni sih mslah percintaan mereka,,,
    kyaknya Kriss ngdketin Je Wo krna sruhan bpaknya deh,,,bpaknya Kriss punya dendam sma keluarganya Je Wo,,,,
    wah apa’Eomma’ bkal jadiin Kyu Hyun sma Je Wo jdi tokoh utama dalam Teaternya,,,wuih pasti bkal seru pertunjukan mereka,,,,
    mungkin dri usaha ‘Eomma’ Je Wo sma Kyu Hyun bkal jdian bneran dah

  16. Ternyata pertemuan pertamanya Kyu sama Je-Wo itu di makam dan mereka sama2 kehilangan anggota keluarga yang dicintai u,u
    Detik2 kedekatan Je-Wo sama Kyuhyun nih kayaknya. Tapi nggak mau juga sih kalau Donghae salah paham ke Kyu dan malah makin tambah nggak suka sama pria itu. Ckckck, masalah remaja kenapa harus serumit ini?._.

  17. Huhhhh…
    Kebongkar juga tentang hubungan je wo dan juga donghae,
    Bergidik deh bayangin donghae yg begitu possesive terhadap jewo, sampek melukai cwok yg dekwt sama je wo, lebih parahnya lagi donghae melukai tubuh dia sendiri tiap kali donghae bkin je wo nangis, udak kyak psycho donghae…hiii
    Paling kasian sama yesoo yg gak tahu menahu masalah ini, dia terkesan cuma jadi pelarian donghae,.hikks
    Gak kalah kasian juga adalah hyukjae, dia harus lindungi donghae,jewo dan juga yesoo, hyukjae hrus bekerja ekstra dan kali ini hyukjae punya partner,…kyuhyun..wkwk

  18. Aku malah bingung, donghae ma je wo adaalh mantan pacar. Berarti saling cinta kan? Tp kok klau mereka bersama malah saling menghancurkan ? Apa gara2 sifat donghae yg posessive, iku bukan posessive tp psiko. Hyuk ingin kyuhyun jauhin je dr kris lah itu sama aja nyuruh kyu masuk kandang macan.
    Ternyata ada alasanya je punya sifat arogan tp dy jg gk bisa pndang semua orng kayak gitu, n merendahkan mereka.

  19. Oh,,jdiin itu toh alasan’x..
    Kyk’x Tingkat Ke posesifan Donghae bnr2 udah dlm trp Mengkhawatirkan deh..
    Smoga Mereka berhasil dh ama rncana Hyukjae..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s