Basketball and Sweet Kissing

1902930_241338709387608_1896944671_n

“Kaki bodoh, tangan bodoh, menyebalkan. Dasar payah, tidak berguna!”

            Kyuhyun bergerak dari tempatnya berbaring diatas sofa, diatas perutnya ada Eunje yang tampak sibuk menggigit ponsel milik Je Wo selagi Kyuhyun berkonsentrasi menonton televisi. Suara rutukan Eunje terdengar olehnya, dan membuat pria itu memerhatikan pada bocah yang tampak berjalan lesu menuju anak tangga.

            “Yah!” panggil Kyuhyun.

            Hyunje menoleh padanya, dahi Kyuhyun berjengit aneh menemukan wajah masam bocah itu. Bibirnya melengkung kebawah, kedua pipinya menggembung, dan pancaran matanya benar-benar menunjukkan bagaimana perasaan bocah itu saat ini.

            “Wae?!” sahutnya ketus.

            Kyuhyun menggeram tertahan, “Kenapa dengan wajahmu?” Kyuhyun bertanya padanya dengan kedua mata yang tampak sedang menyelidiki keadaan bocah itu. Ujung Kemeja sekolahnya keluar dari dalam celana, tas ranselnya menyeret disepanjang jalan.

            “Memangnya kenapa dengan wajahku?” bibirnya mengerucut kesal, sepertinya bocah itu sedang tidak ingin diganggu karena setelah mengatakan hal itu, ia kembali berbalik untuk melanjutkan langkahnya.

            “Dia tidak bisa memasukkan bola kedalam ring karena kakinya terlalu pendek.”

            Tubuh Hyunje berbalik cepat kebelakang dengan wajah marah, “Kakiku tidak pendek, Omma!” bentaknya. Melihat Je Wo hanya tertawa ringan sembari menghampiri Kyuhyun yang tampak tidak mengerti, kekesalan bocah itu semakin menjadi-jadi hingga ia menghentak-hentakkan kedua kakinya disana.

            “Kenapa dengan anakmu?” tanya Kyuhyun berbisik pelan saat Je Wo mengambil Hyunje dari atas perutnya.

            Je Wo menyipitkan kedua matanya. “Anakku? Memangnya dia bukan anakmu, eo?”

            “Appaaaaaaaaa.”

            Je Wo berjengit dengan kedua mata terpejam saat teriakan Eunje menggema disana. Bocah itu sepertinya tidak mau diambil olehnya dan lebih memilih bermanja-manja diatas perut Ayahnya.

            “Jinja, Cho Eunje! Bisa tidak kau menghentikan kebiasaanmu berteriak sekuat itu?” Je Wo mengomel dengan kedua mata melebar padanya. Tapi Eunje malah membalasnya dengan celetukan aneh khas seorang balita, tangannya berusaha membebaskan diri dari gendongan Je Wo.

            “Sudahlah, dia tahu siapa yang lebih menyayanginya, Nyonya Cho. Berikan dia padaku.” ujar Kyuhyun, saat Eunje kembali keatas perutnya, bocah itu tersenyum manis pada Kyuhyun.

            “Dasar genit.” Cibir Je Wo.

            “Mwoya? Kau cemburu pada putramu sendiri, dan hei, dia ini adalah laki-laki.”

            “Tetap saja, senyuman Eunje memang selalu terlihat genit, sama sepertimu.”

            “Semua pria memang harus memiliki senyuman seperti itu. Wanita mana tahu.”

            “Oh, yeah…”

            “Hello….” Teriakan kuat Hyunje membuat sepasang suami istri yang saling berdebat itu menoleh serentak padanya. Hyunje menatap mereka satu persatu dengan tajam. “Masih adakah yang menyadari kalau aku ada disini, eo?!”

            Je Wo dan Kyuhyun saling berpandangan bingung.

            “Yuuuu.” Teriak Eunje, jemarinya yang kembali menggenggam ponsel milik Je Wo melambai-lambai diudara, seperti sedang menyuruh Hyunje untuk mendekat padanya.

            Hyunje menghela napas malasnya, “Nanti saja, Eunje-ya. Aku sedang tidak berselara bermain bersama bocah sepertimu.” Sahutnya.

            “Cih, seperti kau tidak se_ PONSELKU?!” Je Wo merampas cepat ponsel miliknya yang telah dilumuri oleh air liur Eunje hingga bocah itu memekik terkejut dan menangis. Ia baru saja menyadari keberadaan ponselnya dan saat menemukannya ditangan Eunje, yang dijuluki sang penghancur, wanita ini memang layak untuk histeris.

            “Yaiks! Kau ini, lihat, Eunje terkejut mendengar suaramu.” Omel Kyuhyun. Eunje sudah bersembunyi didalam dadanya, mencuri pandang pada Je Wo yang sedang meratapi ponselnya.

            Je Wo memelototi Kyuhyun, “Kenapa ponselku ada padanya?!”

            “Dia menemukannya disana.” Telunjuk Kyuhyun mengarah pada meja kecil didepannya.

            “Dan kau membiarkan ponselku begitu saja, eo?!”

            Kyuhyun menyeringai kecil, lalu melepaskan Eunje dari pelukannya untuk menghapus air mata bocah itu. “Anggap saja aku sedang membalaskan dendamku karena dulu kau juga pernah membiarkan PSP kesayanganku padanya, Nyonya Cho.”

            Je Wo menggeram tertahan, Kyuhyun memang licik, batinnya.

            “Aku tahu!” tiba-tiba saja Hyunje memekik girang, lalu ia terburu-buru menghampiri mereka. “Omma, Omma, Ommaaaaaaaa.”

            “Yah, kau tidak perlu memanggilku berulang-ulang seperti itu, aku bisa mendengarmu.” Rutuk Je Wo, ia masih memandangi ponselnya yang entah sudah bernasib seperti apa.

            Hyunje tersenyum lebar padanya, “Bisakah kita memanggil Siwon Ahjussi kemari? Aku ingin memintanya mengajariku bermain basket. Aku pernah melihat Siwon Ahjussi memasukkan bola kedalam ring dengan satu kali tembakan,” Hyunje memasang gaya seakan-akan ingin melempar bola kedalam ring. “Shoot, masuk!”

            Kyuhyun dan Je Wo mengerjapkan kedua mata mereka melihat bagaimana semangatnya Hyunje menirukan gerakan seperti itu.

            “Hei, kau tidak bisa bermain basket, ya?” tanya Kyuhyun.

            Hyunje melirik tajam padanya, “Tentu saja aku bisa.” Bocah itu menyahut dengan suara kesal yang membuat Kyuhyun mencibir pelan.

            “Bisa?” ulang Je Wo, kini wanita itu menyeringai kecil, lalu menyamakan tubuhnya pada Hyunje. “Kalau kau memang bisa bermain basket, lalu kenapa tadi kau sangat kesal karena saat bermain basket bersama teman-temanmu disekolah, kau terlihat sangat payah, hm?”

            “Anniya! Siapa yang memberi tahu Omma seperti itu? Dia pasti berbohong.”

            “Sam tidak mungkin berbohong pada Omma, Hyunje-ya…”

            “Sam?” kedua mata Hyunje melebar ngeri. Dasar orang dewasa, selalu tidak bisa menjaga rahasia, batinnya.

            “A-ha,” gumam Je Wo. Ia kembali berdiri meski masih melemparkan tatapan remehnya pada bocah itu. “Dan Siwon Ahjussi sedang sibuk, dia sedang syuting di Cina, jadi Omma tidak bisa memintanya datang kesini.”

            “Arghhhh!” Hyunje berteriak dan meloncat-loncat kesal ditempatnya. “Dong Ha saja yang lebih pendek dariku bisa memasukkan bolanya, tapi kenapa aku tidak bisa?!”

            “Ya, ya, ya, kenapa kau harus bersusah payah meminta Siwon Ahjussi mengajarimu bermain basket kalau disini ada Appa?” seru Kyuhyun dengan suara tinggi.

            Je Wo, Hyunje, bahkan Eunje sontak menoleh serentak padanya. Kedua mata mereka mengerjap beberapa kali, memandangi Kyuhyun dengan tatapan tak percaya.

            “Memangnya… Appa bisa bermain basket?” tanya Hyunje pelan.

            Kyuhyun tersenyum miring dengan angkuhnya. “Tentu saja.”

            Hyunje masih memandanginya tidak percaya, lalu bocah itu melirik pada Je Wo yang juga mengeluarkan tatapan serupa. Kepala Je Wo menggeleng pelan pada Hyunje.

            “Omma bahkan tidak pernah melihatnya berolah raga. Jadi… sepertinya dia hanya sedang membual saja.”

            Saat Hyunje mengangguk setuju, kedua mata Kyuhyun melotot lebar.

            “Yah, Nyonya Cho. Kau tidak bisa melihat kedua kakiku yang panjang ini? Kau pikir karena apa kakiku bisa seperti ini kalau bukan karena dulu aku sering bermain basket? Kau lihat Appa, Omma, dan Noona? Apa mereka bertubuh tinggi sepertiku?”

            “Tapi…”

            “Cho Hyunje,” panggil Kyuhyun dengan suara tegas. “Cepat ganti pakaianmu, Appa akan segera mengajarimu bermain basket.”

            Je Wo mengerutkan dahinya jengah, Kyuhyun terlihat sangat meyakinkan, tapi tetap saja, wanita ini sulit untuk memercayainya. Tapi saat ia melirik pada Hyunje yang tiba-tiba saja mengangguk patuh dengan wajah sungguh-sungguh, bibir wanita itu ternganga begitu saja.

            “Aku akan segera mengganti bajuku,” sahut Hyunje. “Omma, bisakah menyiapkan susu Stroberi untukku?”

            “Dan ini,” tiba-tiba saja Kyuhyun menyerahkan Eunje keatas pangkuannya. Tidak lagi memedulikan teriakan Eunje yang marah karena harus berpindah tempat. “Aku juga mau bersiap-siap. Ayo, Hyunje-ya.”

            Je Wo hanya bisa termangu memandangi Ayah dan anak yang sedang berjalan beriringan menaiki satu persatu anak tangga. Je Wo menunduk, menatap Eunje yang mengerucutkan bibir padanya.

            “Kau ingin melihat Appa dan Hyung bermain basket?” tanya Je Wo.

            Eunje membuang wajahnya kesamping, dan membuat Je Wo mendesis kesal.

 

 

____000____

 

 

 

Mereka sudah berada dihalaman belakang rumah. Hyunje tampak bersemangat melihat Kyuhyun yang memasang ring bola khusus untuk Hyunje. Ayah dan anak itu berdiri diatas rerumputan halus, sedangkan Je Wo dan Eunje berada sedikit jauh dari mereka. Je Wo duduk diatas kursi santai dengan Eunje yang berada diatas pangkuannya. Disamping wanita itu ada sebuah meja kecil yang diatasnya telah penuh oleh berbagai cemilan seperti snack milik Hyunje, susu Stroberi, jus, buah-buahan dan masih banyak lagi.

            Je Wo sendiri tampak lebih berminat menghabiskan potongan apel yang berada diatas piring kecil dari pada harus melihat Kyuhyun dan Hyunje.

            “Hyu….” Eunje berteriak keras, tubuhnya sejak tadi sudah meronta-ronta diatas pangkuan Je Wo, ingin ikut bergabung bersama Kyuhyun dan Hyunje.

            “Kau masih kecil, sayang. Nanti kalau kau sudah besar, jangankan ikut bermain basket, kau ingin segera mengikuti kegiatan wajib militer saja akan Omma biarkan.” gumam Je Wo ringan sambil terus menyuapi mulutnya sendiri dengan potongan-potongan apel itu.

            “Dasar wanita gila!” sahut Kyuhyun ditempatnya setelah mendengar perkataan Je Wo.

            Je Wo tampak acuh, dan tidak memedulikan ocehan Kyuhyun.

            “Eunje-ya, basket bukanlah permainan bocah kecil sepertimu.” Timpal Hyunje penuh kebanggan.

            Je Wo melirik sinis padanya, “Ne… Hyunje Ahjussi.” Cibirnya.

            “Mwoya?!” pekik bocah itu tak terima. Sedangkan Kyuhyun tertawa kuat.

            Setelah Kyuhyun menyiapkan perlengakapannya, pria itu mulai memberitahu Hyunje mengenai apa saja yang harus di lakukan bocah itu.

            “Untuk pemula sepertimu, kau harus belajar berlatih Dribble menggunakan tangan kanan. Ambil bolamu dan ikuti Appa.” suruhnya.

            Hyunje menuruti perintah Kyuhyun, lalu ketika Kyuhyun mulai memainkan bolanya, dengan wajah serius, Hyunje turut melakukannya.

            “Seperti ini?” tanya Hyunje.

            “Ne. Kalau sudah bisa dengan tangan kanan, kau harus menggantinya dengan tangan kirimu. Kalau sudah mahir, kau bisa menggabungkannya menjadi satu.”

            Diam-diam Je Wo tersenyum kecil memandangi Kyuhyun dan Hyunje. Tangannya segera menggapai ponselnya yang sudah kembali seperti semula setelah Eunje berhasil melumurinya dengan air liur. Lalu Je Wo mengarahkan kamera ponsel itu kearah Kyuhyun dan Hyunje agar dia dapat memotretnya.

            “Momen seperti ini langka sekali untuk diabadikan.” Gumamnya pelan.

            “Appa,” panggil Hyunje. “Aku sudah bisa melakukannya. Bisakah kita langsung memasukkan bola ini kedalam ring? Aku ingin sekali berhasil melakukannya… di sekolah tadi hanya aku yang tidak bisa.”

            Kyuhyun memutar bola matanya malas, “Mana mungkin kau sudah bisa melakukannya dalam hitungan menit,” desisnya. “Nyonya Cho! Putramu ini kenapa malas sekali?” teriaknya pada Je Wo.

            “Bukankah sifat malasnya berasal darimu, Kyuhyun Appa?” balas Je Wo berteriak.

            “Haish… palli! Aku ingin belajar memasukkan bola kedalam ring.”

            Kalau sudah mendengar rengekan Hyunje yang seperti ini, Kyuhyun bisa apa lagi. Dia hanya bisa mendesah pelan dan mengangguk setuju, “Kau perhatikan Appa.” suruhnya.

            Hyunje mengangguk patuh. Lagi-lagi Ia memerhatikan Kyuhyun yang bersiap-siap melemparkan bolanya kedalam ring dengan wajah serius.

            Kyuhyun memegang bola dengan jemarinya, lalu menekuk lututnya, kemudin dengan gerakan lambat, ia segera melempar bola itu hingga memasuki ring.

            “Heol, daebak!” pekik Hyunje terkagum-kagum.

            Mendengar kekaguman Hyunje padanya yang begitu langka, Kyuhyun langsung meliri Je Wo yang memang sedang memandangnya. Kyuhyun mengedipkan sebelah matanya dengan gaya menggoda.

            Tapi sayang, bukannya terpesona, Je Wo malah menjulurkan lidahnya mual hingga senyuman Kyuhyun yang mengmbang lenyap begitu saja.

            “Yah,” teriak Kyuhyun. “Kau tidak bisa mengakui kehebatanku, ya? Selalu saja meremehkanku.”

            “Omma, Appa hebat sekali. Omma melihatnya, kan? Appa memasukkan bola kedalam ring.” Timpal Hyunje dengan wajah berbinar. Mendengar teriakan Hyunje, Eunje turut bersorak senang.

            Je Wo memutar bola matanya malas dengan cibiran pelan di bibirnya, “Aku pasti akan bersorak kagum padamu, Cho Kyuhyun, kalau saja ring yang kau gunakan bukanlah ring untuk anak kecil seperti Hyunje.” balasnya. Lalu dia berdiri untuk menghampiri mereka, menyerahkan Eunje kedalam gendongan Kyuhyun, dan menyambar bola basket yang masih dipegang oleh Hyunje. Dengan gerakan santai, Je Wo melemparkan bola itu kedalam ring.

            Sambil mengibaskan kedua tangannya, Je Wo melirik Kyuhyun yang berdiri kaku disampingnya, bibirnya membentuk senyuman kecil yang manis.

            “Mudah sekali, kan, Tuan Cho?” godanya.

            Saat Kyuhyun melihat Hyunje yang sedang menatap Je Wo dengan tatapan yang lebih berbinar dari sebelumnya, pria itu cepat-cepat berdehem pelan untuk menutupi perasaan kikuknya.

            “Woah… Omma lebih hebat. Tidak perlu melakukan Drileb seperti Appa, Omma sudah berhasil melakukannya.”

            “Dribble, Cho Hyunje.” ujar Kyuhyun membenarkan.

            “Omma…” panggil Hyunje manja, tanpa memedulikan Kyuhyun lagi. “Ajari aku, ne?”

            “Ya, ya, ya, bukankah Appa yang akan mengajarimu?” protes Kyuhyun.

            “Shireo! Appa tidak sehabat Omma.”

            Je Wo tersenyum senang mendengar penuturan Hyunje. Wanita ini memang selalu merasa bahagia setiap kali dia terlihat lebih unggul dibandingkan suaminya.

            “Wah, asik sekali.”

            Kim Ahjumma menghampiri mereka dengan senyuman mengembang di bibirnya.

            “Ahjumma tadi melihatku juga?” seru Je Wo dengan mata berbinar. Saat wanita paruh baya itu mengangguk kecil, Je Wo kembali tertawa senang. “Aku hebat, kan?”

            “Eiy…” desis Kyuhyun jengah.

            Tiba-tiba saja, beberapa tetes air membasahi mereka disana. Je Wo menengadahkan wajahnya keatas, “Oh, Hujan.” Gumamnya pelan.

            “Hyunje-ya, cepat masuk kedalam rumah.” suruh Kim Ahjumma, kemudian ia segera menyambar Eunje dari gendongan Kyuhyun.

            Hyunje, dan Kim Ahjumma beserta Eunje sudah berlari-lari masuk kedalam rumah. Melihat itu, Je Wo juga berniat berlari menyusul mereka. Tapi langkahnya terhenti saat tiba-tiba saja Kyuhyun menahan pergelangan tangannya.

            “Wae?” tanya Je Wo bingung, sebelah telapak tangannya berusaha menutupi kepalanya dari rintik hujan yang semakin menderas. “Hujannya semakin lebat, Cho Kyuhyun. Cpat masuk!”

            Kepala Kyuhyun menggeleng pelan hingga dahi Je Wo mengernyit aneh. Dia menengadahkan wajahnya lagi keatas, dan kali ini tubuhnya sudah setengah basah.

            “Sepertinya kita tidak pernah mandi hujan bersama.” Gumam Kyuhyun.

            “Ne?”

            Rintikan itu telah berubah menjadi guyuran hujan yang lebat. Kini kedua manusia itu telah benar-benar basah disana.

            Kyuhyun menyeringai kecil sebelum menarik tubuh Je Wo merapat padanya, “Mau bermain basket bersamaku, sayang? Aku ingin melihat kehebatan yang tadi kau agung-agung kan itu.” ujarnya dengan suara yang cukup keras agar dapat terdengar oleh Je Wo.

            Kedua alis wanita itu saling bertaut ketika ia menatap Kyuhyun. Je Wo melirik sekelilingnya beberapa saat sebelum akhirnya turut menyeringai pada Kyuhyun. “Sejujurnya aku tidak bisa bermain basket, Cho Kyuhyun. Tapi mungkin, aku bisa melakukan sesuatu yang lain saat ini.”

            “Oh, ya?”

            “Hm. Tutup matamu.”

            Sesuai perintah, Kyuhyun segera menutup kedua matanya sambil mengulum senyum. Ia juga membiarkan Je Wo melepas cekalannya pada pergelangan tangan wanita itu. Saat Kyuhyun menghitung mundur didalam hati untuk menunggu hal apa yang dilakukan Je Wo padanya, tiba-tiba saja tubuh pria itu terdorong kebelakang hingga ia terhempas diatas rerumputan.

            Kyuhyun membuka matanya cepat, dan hal pertama yang ia temukan adalah senyuman penuh kemenangan Je Wo yang begitu tampak manis, dibawah guyuran hujan.

            “Apa yang kau pikirkan, Tuan Cho? Sebuah ciuman dariku, hm?”

            Saat Je Wo menjulurkan lidahnya, lalu menertawakan Kyuhyun, bibir pria itu entah mengapa malah turut tersenyum. Dimatanya, Je Wo tampak begitu menawan saat ini. Sangat manis, polos, dan cantik.

            Tapi saat tiba-tiba saja Je Wo berbalik dan berniat berlari meninggalkannya, tubuh Kyuhyun segera berdiri, lalu tangannya menyambar lengan Je Wo hingga tubuh wanita itu menabrak tepat diatas dadanya.

            Je Wo mengerjap beberapa kali pada Kyuhyun yang sedang menatapnya sendu. Pria itu masih terus menatapnya dengan cara seperti itu untuk beberasa saat hingga akhirnya, ia menarik sudut bibirnya keatas.

            “Kau tahu, kan, aku selalu mendapatkan apa yang kuinginkan?” bisiknya.

            Je Wo meneguk ludahnya berat. Mulai merasa keadaannya dan Kyuhyun saat itu terasa sangat… romantis? Oke, mungkin dia sudah gila karena memikirkan kata laknat itu.

            “Tutup matamu.” Kali ini Kyuhyun yang menyerukan perintahnya.

            Kepala Je Wo menggeleng pelan meski sudut-sudut bibirnya mulai terangkat.

            “Haruskah aku yang melakukannya?”

            “Jika kau bisa, lakukan saja.”

            “Kau menantangku, sayang?”

            Je Wo mengangkat bahunya acuh sebagai jawaban. Dan sedetik setelahnya, bibir Kyuhyun sudah mendarat diatas bibi basahnya.

            Kyuhyun benar, pikir Je Wo. Dia bisa melakukannya, karena saat ini Je Wo sudah menutup kedua matanya.

            Lengan Kyuhyun memeluk pinggangnya, sementara tangannya yang bebas memegangi belakang kepala Je Wo yang bergerak sesuai irama yang mereka ciptakan. Mulanya, Je Wo hanya membiarkan kedua tangannya berada di sisi-sisi tubuhnya. Tapi lama kelamaan, kedua lengannya malah membalas pelukan Kyuhyun yang terasa lembut merengkuhnya.

            Curah hujan yang saling berlomba-lomba mengguyur tubuh kedua insan itu sama sekali tidak menjadi penghalang bagi mereka berdua. Bahkan rasa dingin yang menjalar ditubuh mereka telah tergantikan dengan kehangatan yang nikmat.

            “Ommaaaaaaa!”

            Kyuhyun melepas pagutan mereka, lalu wajah mereka sama-sama menoleh kearah pintu rumah yang menghubungkan taman itu kesana. Disana, Hyunje dan Kim Ahjumma berdiri berdampingan menatap kearah mereka.

            Hyunje terlihat menghentakkan sebelah kakinya kesal menatap mereka berdua, sementara Kim Ahjumma yang sedang menggendong Eunje tersenyum geli disana.

            “Wae?” teriak Kyuhyun.

            “Cepat masuk! Diluar hujan! Kenapa kalian malah bermesraan disana?!” balas bocah itu.

            Je Wo dan Kyuhyun tertawa bersama, lalu saling berpandangan dengan tatapan yang sedikit berbeda. Bisa Kyuhyun lihat rona merah dikedua pipi Je Wo yang semakin membuatnya merasa gemas. Jemari Kyuhyun mendarat diatas dahi Je Wo untuk sekedar merapikan poninya yang berantakan karena basah.

            “Kita masuk kedalam?” tanya Je Wo.

            “Kau ingin kita masuk?” balas Kyuhyun.

            Seperti mengerti maksud pertanyaan Kyuhyun padanya, dan karena ia juga menginginkan hal yang sama, Je Wo menggelengkan kepalanya malu-malu hingga Kyuhyun nyaris menggeram gemas.

            Lalu, mereka berdua kembali melanjutkan kegiatan mereka tanpa memedulikan apapun dan siapapun lagi.

            “Heish, Omma, Appa! Jangan berciuman lagi!”

 

FIN

 

 

 

Aih….

India sekali gak sih?

Wkwkwkwk ini gegara kemaren pas pulang kuliah nungguin angkot sambil hujan-hujanan, terus menghayal deh😄

 

Tapi dari pada Blog kosong, gak papa lah ya, kita isi dengan adegan lebay india mode on huahahahaha.

 

Ami

266 thoughts on “Basketball and Sweet Kissing

  1. WOah daebakk, di deoan anak aja menampakan(?) Kemesraannya, apalagi kalo ga anak anak ㅋㅋ
    Itu si cho hyunjae jadi dewasa sebelum waktunya 😁😁

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s