Another Story

10178298_10200856749179860_940697308_n

Pintu ruangan kantor Kyuhyun terbuka begitu saja tanpa adanya suara ketukan terlebih dulu. Pria yang sejak tadi menunduk, memerhatikan kertas-kertas yang berserakan diatas meja kerja, menautkan kedua alisnya ketika melihat kakak dan anak laki-lakinya masuk sembari bergandengan tangan.

“Sedang apa kalian disini?” tanya Kyuhyun. Matanya memandang wanita itu dengan penuh tuntutan.

“Maaf, Kyu. Aku baru saja menerima kabar dari salah seorang temanku kalau calon relasi bisnisku sedang berada di Korea untuk menghadiri sebuah pesta saat ini. Kau tahu, kan? Dia adalah mangsa besarku, aku tidak mau kehilangan dia begitu saja.”

Kyuhyun masih menatapnya tidak mengerti, sesekali ia melirik pada anaknya yang memasang wajah datar selagi Cho Ahra sibuk menjelaskan sesuatu. “Dan hubungannya denganku?”

Ahra tersenyum lebar padanya, “Tadinya aku ingin bermain bersama anakmu seharian ini, aku sudah mendapat ijin dari istrimu dan tadi aku juga yang menjemputnya dari sekolah.” Jelasnya lagi.

“Lalu?”

“Karena aku harus segera pergi, jadi… aku kembalikan dia padamu.”

“Apa?” geram Kyuhyun. Ia mendelik tajam pada kakaknya. “Kau sudah gila?! Aku sedang berada di kantor dan masih harus bekerja dalam beberapa jam lagi. Kenapa tidak kau antarkan saja dia pulang?”

“Aku tidak punya banyak waktu, bodoh! Kantormu lebih dekat dari tempat kami bermain tadi.” rutuknya, Ahra melirik arlojinya sejenak. “Oh Tuhan… sudah hampir terlambat.”

“Noona, pekerjaanku masih sangat banyak. Hyunje tidak mungkin berada disini selagi aku bekerja. Aku juga sedang memiliki seorang tamu penting, kau pikir aku bisa menjaganya?”

“Tidak ada yang menyuruhmu untuk menjaganya. Dia hanya butuh menunggumu selesai bekerja, lalu kalian pulang bersama. Bukan begitu?” Ahra mengerling kecil pada Hyunje.

“Tidak tahu.” Jawab bocah itu ketus. Sejujurnya, ia sama kesalnya seperti Kyuhyun pada sosok wanita itu. Perjanjian mereka adalah bermain sepuasnya hingga malam hari, tapi Ahra sudah memulangkannya pada Kyuhyun pukul setengah empat sore.

“Ayolah… lain waktu aku akan bermain denganmu lagi.”

“Siapa yang bisa mempercayaimu? Kau, kan, pembohong besar.”

“Yah!”

“Apa?!”

Ahra menggeram tertahan. Emosinya selalu terpancing setiap kali berbicara dengan keponakannya, persis seperti saat ia bicara pada Ibu bocah itu, “Baiklah, kalau begitu… bagaimana jika aku memberitahu Ibumu kalau tadi kau_”

“Ya, ya, ya, heish! Kau sudah berjanji untuk menutup mulutmu!” sungut Hyunje.

Ahra tersenyum menang sembari menjulurkan lidahnya. Ia menatap Kyuhyun lagi, pria itu masih memerhatikan mereka dengan wajah kusut. “Aku pergi dulu, Cho Kyuhyun. Bye, Cho Hyunje!”

Wanita itu pergi begitu saja seakan tidak merasa bersalah sedikitpun. Kyuhyun menatap Hyunje dengan desahan gusarnya, sedangkan bocah itu hanya menggedikkan bahunya acuh. Mau bagaimana lagi, mereka terpaksa harus bersama sebelum jam kantor selesai. Tapi, yang membuat Kyuhyun frustasi adalah, saat ini dia sedang memiliki seorang tamu penting. Seorang investor terbesar di perusahaannya. Dan menemukan keberadaan Hyunje disekitarnya, Kyuhyun merasa sedikit awas.

Bocah kecil itu bisa menjadi mesin penghancur kapan saja. Apa lagi jika ia mulai berulah dengan otak cerdiknya. Kyuhyun tidak mau urusan bisnisnya hancur karena putranya sendiri.

“Kau duduk disana,” telunjuk Kyuhyun mengarah pada sebuah sofa panjang. Hyunje menurutinya, bocah itu duduk disudut sofa, ia melepas tas sekolahnya dan meletakkannya keatas lantai, “Kemarikan tasmu.” Decak Kyuhyun.

Hyunje meliriknya kesal, “Kenapa Appa selalu memerintahku? Aku lelah, ini, ambil saja sendiri.” sungutnya.

Kyuhyun menggeram tertahan, kalau saja saat ini ia sedang tidak harus menjaga moodnya agar nanti tidak mengacau, Kyuhyun pasti sudah meledakkan teriakan murkanya. Hyunje memang terlalu jarang bersahabat dengannya, setiap hari, bocah itu selalu memancing kekesalannya dan merasa begitu puas saat ia terkalahkan. Hyunje hanya akan bersikap manis pada Kyuhyun jika bocah itu memiliki sesuatu yang ia inginkan, namun tidak dapat ia peroleh dari Ibunya.

Dengan tarikan napas panjang, Kyuhyun mengutip tas itu dari atas lantai. Sebelum beranjak pergi, Kyuhyun memerhatikan seragam sekolah Hyunje yang masih melekat ditubuhnya. Beberapa kancing bajunya tampak sedikit terbuka dan seragam itu mulai berantakan, “Ck, kenapa pakaianmu berantakan seperti ini.” rutuknya. Ia berjongkok dihadapan Hyunje untuk membenarkan letak pakaian anaknya. “Hei, hari ini Appa sedang memiliki tamu penting, dan kau harus bersikap sopan selama tamu Appa nanti berada disini, mengerti?”

“Tamu apa?” tanya bocah itu cepat tanpa mau menjawab pertanyaan Kyuhyun lebih dulu.

“Tamu penting.”

“Sepenting apa? Kenapa dia datang kesini?”

“Heish! Sepenting apapun itu bukan urusanmu,” geram Kyuhyun dengan kedua tangan yang mencubit gemas pipi putranya. “Dia datang untuk berbisnis, kau tahu apa itu bisinis?” Hyunje mengangguk kuat. “Apa itu?”

Hyunje memutar bola matanya kebeberapa arah seperti sedang berpikir, “Bisnis adalah pekerjaan yang akan menghasilkan banyak uang agar kita semakin kaya dan tidak perlu hidup susah.” Ujarnya dengan lancar.

Mulut Kyuhyun sedikit menganga, “K-kau, mendengar kalimat itu dari mana?” sungguh, ia sama sekali tidak pernah mengajarkan kalimat itu pada putranya.

“Omma,” Hyunje menampakkan cengirannya. “Setiap kali Appa pulang terlambat dan tidak bisa makan malam bersama kami, Omma selalu menjelaskan padaku seperti itu.”

Jemari Kyuhyun memijat pelan dahinya, “Wanita itu…” gumamnya frustasi.

Tok tok tok.

Kyuhyun menoleh kearah pintu dan berteriak kecil. “Ya, masuk.”

Pintu terbuka, seorang wanita dengan senyuman manis melangkah masuk kesana. Wanita itu berjalan dengan pinggul yang bergerak penuh sensual. Wajah cantiknya dipadukan dengan kemeja putih berlengan panjang yang pada bagian dadanya tampak begitu sesak dan penuh, lalu rok hitam ketatnya sebatas lutut, dan rambut ekor kudanya, membuat penampilan wanita itu tampak terlalu seksi untuk melakukan pekerjaan bisnis.

Kyuhyun berjengit kecil melihat penampilan wanita itu. Haruskan dia berpenampilan seperti itu saat bekerja? Batinnya. Wanita itu sama sekali tidak menarik dimatanya, karena hanya ada seorang wanita yang sudah begitu menarik perhatiannya sampai pria itu tidak lagi memiliki selera pada wanita cantik diluar sana.

“Selamat sore, apa aku terlambat?” sapa wanita itu.

“Tidak,” jawab Kyuhyun. “Silahkan duduk.”

Wanita itu mengangguk, namun saat matanya menangkap sosok Hyunje yang berada di sofa yang ingin ia duduki, dahinya berjengit kecil memandang Kyuhyun. “Dia…”

“Putraku. Maaf, ada beberapa hal yang harus membuatnya ada disini. Tapi dia tidak akan mengganggu pekerjaaan kita. Iya, kan?” Kyuhyun menyipitkan kedua matanya kecil pada Hyunje. Bocah itu tersenyum begitu manis dengan anggukan patuhnya, dan membuat Kyuhyun semakin merasa awas. Kata patuh dan penurut terlalu jauh untuk sosok putranya.

Wanita itu duduk disudut sofa yang lain hingga memiliki jarak yang lumayan jauh dari Hyunje. Sedangkan Kyuhyun memilih duduk di sofa yang berada diseberang meja kecil. Selagi Kyuhyun menyiapkan beberapa dokumen-dukumen pentingnya, Hyunje semakin khusuk memandangi wanita yang duduk disofa yang sama dengannya.

Bahkan, wanita itu juga tampak sedikit mencuri pandang kearahnya dengan wajah aneh. Mungkin, ia tidak mengira akan melihat putra seorang Cho Kyuhyun. Pria kaya raya, tampan, dan memiliki pesona tinggi untuk para wanita. Kyuhyun bukan seorang selebriti, namun sosoknya adalah sosok yang begitu diminati di Korea. Semua tentang pria itu begitu sangat dinginkan oleh banyak orang.

Meski semua orang tahu Kyuhyun sudah menikah dan memiliki keluarga, namun, Kyuhyun teramat jarang menampilkan keluarga kecilnya didepan publik. Bahkan hingga detik ini, semua orang jarang sekali melihat putra pria itu. Mereka hanya pernah beberapa kali melihat Kyuhyun bersama istrinya di beberapa pesta yang dapat disorot oleh media.

Kyuhyun juga tidak pernah memperkenalkan keluarganya secara resmi didepan publik. Karena itu, banyak sekali orang yang mencela dan mengkritik sosok wanita yang disebut-sebut sebagai istrinya. Wanita itu dikenal sebagai wanita angkuh, karena setiap kali ada media yang berhasil mendapati sosoknya, bahkan bersusah payah mengejarnya untuk sedikit meminta keterangan, wanita itu selalu bungkam dengan ekspresi datar. Berbeda dari Kyuhyun yang masih mau mengeluarkan beberapa kalimat atau tersenyum kecil sebelum berlalu pergi.

Mungkin hal itu yang membuat wanita seksi ini sedikit terkejut mendapati keberadaan Hyunje disana, “Aku tidak menyangka akan bertemu dengan putramu, Kyuhyun ssi.” Ujar wanita itu.

Kyuhyun mengangkat wajahnya sejenak, menyunggingkan senyuman kecil sebelum kembali memerhatikan kertas-kertas itu lagi.

“Aku juga tidak menyangka akan bertemu dengan anda, Ahjumma.” Sahut Hyunje.

Wajah wanita itu tampak terkejut, seperti tidak suka dengan panggilan Ahjumma oleh Hyunje. Kyuhyun melirik Hyunje dengan pandangan penuh peringatan, sayangnya, bocah itu malah tampak tersenyum senang dan masih memandangi wanita itu.

“Panggil dia Nona Park, Hyunje-ya.” Desah Kyuhyun.

“Ah… maaf, Nona Park.”

Alicia Park, tersenyum kecil menanggapi panggilan Hyunje padanya. “Satu kehormatan besar bagiku dapat bertemu denganmu. Banyak orang yang ingin bertemu dan melihat siapa putra seorang Cho Kyuhyun sebenarnya.”

Hyunje terawa pelan, “Benarkah? Apa aku sangat terkenal diluar sana? Kenapa mereka tidak mencariku dirumah? Aku selalu berada disana.” Timpalnya.

“Hm, mungkin… karena Ayahmu tidak pernah mengijinkan mereka untuk bertemu denganmu?” Alicia sengaja memandang Kyuhyun dengan pandangan menggoda. “Karena menurutku, dia adalah pria yang sangat protektif. Dan hal itu membuatnya tampak menarik.”

Kyuhyun dan Hyunje sama-sama menautkan kedua alis mereka. Kyuhyun tahu jelas jika wanita ini memiliki ketertarikan khusus padanya karena wanita itu bukanlah wanita pertama yang bersikap seperti itu.

“Bukan Appa, tapi Ommaku.” Sahut Hyunje.

Alicia menoleh cepat padanya. “Ibumu?”

Kepala Hyunje mengangguk kecil, “Omma selalu melarangku bertemu dengan orang asing.” Jawabnya.

“Ah, sepertinya rumor itu bukan isapan jempol belaka.” Kekeh Alicia.

“Rumor?” suara Kyuhyun menyahut begitu saja.

“Hm, rumor yang mengatakan kalau istrimu sedikit… angkuh?”

Wajah Kyuhyun kini tampak mengeras, “Maaf, Nona Park. Kita berada disini bukan untuk membicarakan mengenai keluargaku.” Ujarnya, masih berusaha bersikap sopan. Kyuhyun tidak pernah suka jika ada yang mencela istrinya. Untung saja wanita itu adalah tamu penting, kalau tidak, mungkin saja wanita itu sudah ia tendang keluar dari ruangannya.

Alicia sendiri malah terlihat semakin senang karena dapat memancing Kyuhyun. Ia bahkan dengan sengaja membuka satu kancing baju atasnya dan bergumam pelan. “Kenapa disini terasa sedikit panas.”

Hyunje menyipitkan kedua matanya. Dapat melihat gelagat aneh wanita itu. Dan seperti biasa, saat otaknya mulai bekerja, ia mulai menyeringai ngeri, “Appa.” panggilnya pelan dan terdengar manis.

“Ya?”

“Aku bosan. Boleh tidak aku pergi berkeliling sebentar? Tenang saja, aku tidak akan pergi meninggalkan tempat ini.”

Kyuhyun tampak berpikir sejenak, tapi kemudian mengangguk pelan. “Jangan pergi terlalu jauh.”

Dengan senyuman penuh, Hyunje segera meloncat turun. Namun ia tidak lupa tersenyum sopan pada Alicia, “Permisi, Nona.” Pamitnya.

____000____

“BOO!”

Jung Rae Na terperanjat terkejut saat tiba-tiba saja seorang bocah muncul dari balik meja kerjanya. Ia mendelik garang padang bocah itu, sebelah tangannya sibuk mengusap dadanya yang berdegup kuat, “Yah! Kau membuatku terkejut!” teriaknya pada anak dari atasannya itu.

Rae Na adalah sekretaris Cho Kyuhyun. Umurnya dua puluh dua tahun dan masih sangat muda. Gadis polos ini adalah satu-satunya gadis yang diperbolehkan berada disekitar Kyuhyun oleh istrinya. Rae Na sudah sangat dekat dengan keluarga Kyuhyun, bahkan istri pria itu selalu menjadikan Rae Na sebagai mata-mata pribadinya.

“Hahaha, maaf, Ahjumma.” Ujar Hyunje dengan kekehannya. Tapi Rae Na segera memelototi Hyunje dengan tajam. “Baiklah, Noona. Kau puas?”

“Nah, begitu.” Gumam Rae Na. “Kenapa kau kemari? Pasti karena diusir Ayahmu, iya, kan?” ia memajukan wajahnya kedepan sembari melepas kacamatanya.

“Tidak. Aku sendiri yang ingin keluar. Di dalam sana membosankan. Apa lagi… tamu Appa terlihat sangat aneh.”

“Nona Alicia Park?”

“Hm. Sepertinya dia menyukai Appa.”

Rae Na mengibaskan sebelah tangannya keudara, “Sudah kuduga. Penampilannya saja sudah mecurigakan. Dia pasti berniat menggoda Ayahmu.” Rutuknya.

Hyunje menatapnya datar, “Kau sedang tidak cemburu padanya, kan, Noona?” cetusnya.

“Cemburu untuk apa? Kau pikir aku menyukai Ayahmu?”

“Bukan.”

“Lalu?”

“Karena kau tidak seseksi wanita itu.”

“APA?!”

Beberapa orang yang sedang berjalan melewati meja kerjanya serentak menoleh padanya hingga Rae Na tersenyum canggung, “Bocah sialan,” rutuknya pada Hyunje yang tertawa terbahak-bahak. “Masih kecil sudah berani berkata seperti itu. Akan kuadukan kau pada Ayahmu.”

“Adukan saja. Aku bahkan lebih sering mendengar Appa menyebut Ommaku seksi.”

Rae Na terdiam seketika, wajahnya sedikit memerah. Bagaimana bisa suami istri itu mengucapkan kalimat yang tidak seharusnya terdengar oleh anak dibawah umur, batinnya, “Ayah dan Ibumu memang tidak normal.” Cibirnya dengan bibir mengerucut. “Tapi, apa wanita yang berada didalam itu berusaha menggoda Ayahmu?”

Hyunje mengernyitkan dahinya, “Menggoda? Membuat Appa kesal?” tanyanya dengan wajah tidak mengerti. Kali ini wajah itu jujur. Hyunje hanya mengerti kalau arti menggoda itu membuat Kyuhyun kesal, seperti yang sering ia lakukan.

“Bukan. Maksudku… begini,” Rae Na menyuruh Hyunje menghampirinya hingga bocah itu telah berdiri disampingnya. Gadis itu melirik sekelilingnya sebelum membisikkan sesuatu pada Hyunje. “Mengerti?”

Hyunje mengerjap beberapa kali dengan wajah aneh, kemudian memandang Rae Na polos. “Memamerkan tubuhnya pada Appa?”

Rae Na menutup bibir Hyunje cepat, “Yah, jangan disebutkan. Kalau orang lain mendengarnya, mereka akan mengira aku mengajarkanmu yang tidak-tidak.” Bisiknya tertahan.

Hyunje menepis bungkaman Rae Na. “Ck, memang kau yang mengajariku. Lagi pula, Nona itu masih memakai pakaiannya, dia tidak memperlihatkan tubuhnya pada Appa. Kata Omma, tuduhan itu sama seperti fitnah.” Jelasnya dengan wajah menggurui.

“Heish! Susah sekali bicara dengan bocah yang memiliki IQ diatas rata-rata sepertimu. Andai saja Einstein masih hidup, aku yakin kau berbakat menjadi anaknya.”

“Einstein itu siapa? Saudaramu?”

“Tidak tahu.” Jawab Rae Na kesal. Ia kembali memakai kacamatanya dan berniat melanjutkan pekerjaannya.

“Noona…” panggilnya dengan nada manis.

Rae Na mendelik tajam padanya, “Jangan memintaku untuk membelikanmu makanan, aku tidak punya uang.” Ancamnya. Hyunje memang sering kali membuat uangnya habis setiap kali mereka bersama dan bocah itu meminta Rae Na untuk meneraktirnya.

“Tidak, aku sudah kenyang.”

“Lalu?”

“Kau tidak lelah bekerja terus?” kali ini, Hyunje sengaja memasang wajah prihatinnya yang sudah sangat ia yakini akan mempengaruhi Rae Na yang mudah sekali terbujuk oleh mimik wajahnya.

“Mau bagaimana lagi…” desah Rae Na. “Ayahmu itu menyeramkan sekali. Kalau aku terlambat menyelesaikan tugasku, dia akan mengomeliku sampai aku ingin menangis.”

“Wajar saja, kau bekerja seperti kura-kura.”

“Apa?!”

Hyunje menyengir lebar, “Bukan apa-apa. Ah, ya, mau bersenang-senang, tidak?” tawar Hyunje dengan senyuman misteriusnya.

“Bersenang-senang?”

“Hm, pinjamkan ponselmu.”

Rae Na menatap telapak tangan Hyunje yang terulur didepannya dengan tatapan curiga, “Untuk apa?” tanyanya.

“Ck, berikan saja. Aku yakin kau akan merasa terhibur. Biasanya, kalau sedang bosan aku juga melakukan hal ini.” Gumamnya. Ia menggoyang-goyangkan telapak tangannya lagi agar Rae Na segera memberikan ponselnya. Meski masih belum terlalu yakin, Rae Na akhirnya menyerahkan ponselnya.

Hyunje tampak menekan beberapa deret angka yang terlihat sudah begitu ia hapal, dan bocah itu menghubungi seseorang.

“Hei, kau menelepon siapa?”

“Halo, Omma? Eo, ini aku…”

Rae Na menatap Hyunje tidak mengerti. Kenapa bocah itu menghubungi Ibunya?

“Tidak, Ahjumma bilang dia memiliki urusan penting dengan mangsa besarnya. Mana aku tahu siapa mangsa besarnya. Hm, dia meninggalkanku dikantor Appa. Appa? Dia ada diruangannya.”

Melihat senyuman Hyunje mulai merekah, Rae Na segera menghirup napasnya kuat. Perasaan tidak enak segera menghinggapinya.

“Iya, aku sedang bersama Jung Rae Na.”

Rae Na memukul pelan kepala bocah itu hingga Hyunje mendelik padanya.

“Tapi, Omma. Aku ingin mengatakan sesuatu. Begini, tadi, Appa menyuruhku keluar dari ruangannya saat ada sebuah tamu penting Appa yang datang. Hm, tamu penting,” Hyunje terdiam sejenak sebelum decakannya kembali terdengar. “Aku mengerti, tapi… tamunya adalah seorang wanita. Dan kau tahu, Omma? Wanita itu seksi… sekali.”

Hyunje menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Wajahnya tampak senang dan ia menahan tawanya, “Rencanaku berjalan mulus, Noona.” Bisiknya pada Rae Na yang mulai mengerti maksud bocah itu.

“Yah, Ibumu bisa datang kesini dan mengamuk.” Bisik Rae Na.

“Memang itu yang kuharapkan,” jawab Hyunje. Ia kembali menempelkan ponsel itu ketelinga. “Bahkan, Omma, Rae Na Noona saja mengatakan, kalau wanita seksi itu menyukai Appa.”

“Apa-apaan kau, hah?!” rutuk Rae Na.

“Apa? Omma akan datang kesini? Ah… baiklah-baiklah.”

Hyunje tertawa puas sembari mengembalikan ponsel milik Rae Na. Wajahnya berbinar bahagia ketika mulai membayangkan kejadian seperti apa yang sebentar lagi terjadi disana, “Menurutmu apa yang akan terjadi, Noona?” tanya Hyunje bersemangat pada Rae Na.

Rae Na meremas rambutnya frustasi dengan wajah nanar, “Jika Ibumu mendapati Alicia Park sedang menggoda Ayahmu, maka wajah wanita itu tidak akan lagi berbentuk. Dan besok, berita mengenai pembunuhan di Cho Corp, yang dilakukan oleh istri dari Presiden Direktur, akan tersebar kemana-mana.” Gumamnya dengan wajah shock.

“Eiy… Ommaku tidak seperti itu.”

“Dan…” Rae Na memutar tubuhnya menghadap Hyunje. Memberikan tatapan penuh ancaman pada bocah itu. “Jika setelah ini aku akan dipecat oleh Ayahmu. Kupastikan kau akan hidup menderita bersamaku, Cho Hyunje!”

“Siapa yang akan kau ajak hidup menderita bersamamu, Jung Rae Na?”

Hyunje dan Rae Na terkesiap terkejut hingga menoleh serentak kedepan. Kedua mata mereka membulat bersamaan saat menemukan sosok wanita dengan senyuman angkuhnya berdiri tepat dihadapan mereka.

“Omma?”

“Shin Je Wo?”

“Shin Je Wo?” ulang wanita itu dengan kedua mata menyipit.

Rae Na menggigit bibir bawahnya cepat, “Ah… aku lupa kalau masih berada di kantor, Nyonya Cho.” Ralatnya.

“Omma,” potong Hyunje. “Kenapa kau cepat sekali berada disini? Padahal aku baru saja meneleponmu.” Rae Na turut menimpali kalimat Hyunje dengan anggukan kuat.

Shin Je Wo menyeringai kecil, “Sebenarnya saat kau meneleponku tadi, aku sudah berada di lobi.” Jawabnya. Wanita ini datang hanya dengan mengenakan celana jeans hitam dan kemeja putihnya yang berlengan panjang. Rambutnya tergerai, hanya saja, kali ini rambut bagian bawahnya sengaja ia buat menjadi sedikit bergelombang. Bibir wanita itu hanya dilapisi oleh lipstik tipis berwarna merah muda. Bulu mata lentiknya semakin membuat ketajaman kedua mata sinisnya terlihat mengagumkan.

“Ah…” desah mereka bersamaan.

“Jadi, apa wanita seksi itu masih bersama suamiku?” kini kedua mata dengan binar mengerikan itu mengarah pada pintu ruangan Kyuhyun.

“Namanya Alicia Park. Dia adalah investor terbesar perusahaan dan bagi Presdir, Alicia Park adalah tamu terpentingnya hari ini.”

Je Wo kembali menatap pada Rae Na, “Aku tidak peduli siapapun dia. Tapi, menurutmu, apa dia memang benar-benar memiliki ketertarikan khusus pada suamiku?” tanyanya memastikan.

Rae Na melirik Hyunje, dan bocah itu tersenyum lebar padanya. “Eum… menurutku, begitu. Beberapa karyawan juga sudah mulai bergosip mengenai Nona Alicia yang akhir-akhir ini selalu berusaha melibatkan Presdir diberbagai pertemuan.” Jelasnya.

“Ah…” desah Je Wo dengan seringaiannya lagi. “Aku jadi ingin tahu, wanita seperti apa Alicia itu.”

Tanpa menunggu lama, Je Wo segera melangkah mendekati ruangan Kyuhyun hingga Rae Na menarik napas panjangnya yang tercekat. Berbeda dengan Hyunje, ketika ia melihat Ibunya masuk kedalam ruangan itu tanpa terlebih dulu mengetuk pintunya, bocah itu malah tersenyum puas.

____000____

Shin Je Wo membuka pintu ruangan itu dengan senyuman yang sempurna. Wanita itu mendapati suaminya duduk bersebelahan dengan wanita yang sedang menatapnya dengan wajah terkejut. Je Wo memerhatikan penampilan wanita itu sejenak, dan menggeleng samar, dasar wanita bodoh, makinya dalam hati.

“Selamat sore…” sapanya ramah dengan senyuman palsu. Je Wo bahkan harus menahan senyuman gelinya saat tubuh Kyuhyun berdiri secepat kilat dari tempatnya. Bisa Je Wo lihat bagaimana terkejutnya Kyuhyun mendapati keberadaannya. “Apa aku mengganggu?”

“Tidak,” jawab Kyuhyun, pria itu menghampirinya meski masih dengan wajah bingung. “Tapi saat ini aku sedang memiliki seorang tamu.”

Je Wo melengkungkan sebelah alisnya ketika Kyuhyun sudah berdiri tepat didepannya. Wanita itu seakan melemparkan tatapan tak sukanya pada suaminya, “Dan?” gumamnya.

Kyuhyun melirik kebelakang punggungnya sejenak, Alicia tampak berpura-pura memerhatikan pekerjaannya, meski Kyuhyun tahu kalau wanita itu sedang menguping pembicaraan mereka, “Sayang,” bisik Kyuhyun meredam suaranya. “Hyunje ada disini, dia sedang bermain diluar. Mungkin kau bisa mencarinya dan menemaninya selagi aku bekerja.”

Je Wo menyipitkan kedua matanya, lalu kepalanya menggeser kesamping untuk melirik Alicia yang saat itu tertangkap basah sedang mencuri pandang kearah mereka. Je Wo menarik sebelah sudut bibirnya, “Hyunje sedang bersama Rae Na, sayang,” jawabnya dengan suara yang begitu manis hingga Kyuhyun berjengit curiga menatapnya. “Kau tidak keberatan, kan, kalau aku menunggu disini? Lagi pula, aku tidak suka berada diluar sana.”

Ketika Kyuhyun ingin membuka mulutnya untuk mengeluarkan kalimat protesnya, Je Wo segera memelototi tajam pria itu hingga Kyuhyun mengurung niatnya dan lebih memilih mendesah gusar. Anak dan Ibu sama merepotkannya, batin Kyuhyun.

“Ah, Nona, maaf, kau juga tidak keberatan dengan keberadaanku, kan? Tenang saja, selagi kau dan suamiku bekerja, aku akan duduk diam ditempatku.” Jelasnya.

Alicia menoleh padanya dengan senyuman ringan yang terlihat terpaksa karena jelas sekali terlihat diwajah wanita itu kalau ia amat sangat tidak nyaman akan kehadiran Je Wo, “Tentu.” Jawabnya singkat.

Kyuhyun memijat dahinya frustasi saat melihat seringaian lebar Je Wo. Ia menggedikkan dagunya kearah kursi kerjanya, menyuruh Je Wo untuk duduk disana. Dengan patuh, wanita itu menuruti perintah suaminya. Kyuhyun masih mengamati Je Wo yang tampak biasa-biasa saja, namun, hal itu semakin membuatnya merasa awas.

Je Wo tidak mungkin datang dan bertingkah seperti ini jika saja ia tidak mempunyai tujuan tertentu. Kyuhyun sudah terlalu paham dengan segala tingkah laku istrinya yang terbilang mengerikan untuk ukuran seorang wanita.

“Baiklah, kita lanjutkan lagi.”

Mendengar itu, Je Wo mulai memerhatikan Kyuhyun dan Alicia. Kedua matanya tampak sibuk mencari gelagat aneh diantara mereka berdua. Sebelah alis Je Wo terangkat keatas saat ia melihat letak duduk Kyuhyun dan Alicia. Jemarinya mulai sibuk mengetikkan sebaris pesan melalu ponselnya untuk Rae Na.

Apa sejak tadi wanita itu memang duduk bersebalahan dengan Kyuhyun?

Beberapa detik setelah itu, Raena membalas pesannya.

Hyunje bilang tidak, mereka duduk di sofa yang berbeda.

Desisan tertahan Je Wo yang tidak bisa dikatakan pelan, terdengar oleh Kyuhyun dan Alicia hingga keduanya menoleh serentak pada Je Wo.

“Ah, maaf. Silahkan lanjutkan pekerjaan kalian.”

Kyuhyun dan Alicia mulai berbincang mengenai pekerjaan mereka. Selama hal itu terjadi, Je Wo tampak menguap bosan ditempatnya. Gelagat Alicia juga sudah tidak lagi mencurigakan dimatanya, meski Je Wo sesekali mendapati wanita itu tampak senang memandangi wajah suaminya.

Je Wo sama sekali tidak cemburu, sungguh. Wanita itu memercayai suaminya. Lagi pula, cemburu bukanlah gaya seorang wanita sepertinya. Hanya saja, Je Wo terlalu sensitif terhadap kata pengganggu. Shin Je Wo amat sangat tidak menyukai apa yang telah menjadi miliknya, disentuh oleh orang lain.

Dan melihat bentuk luar Alicia saat ini, Je Wo sudah dapat membaca apa yang sedang dipikirkan olehnya.

Ingin menggoda suamiku, hm? Kau perlu mendatangi puluhan dokter untuk mengubah wajahmu sama persis sepertiku. Kau pikir Cho Kyuhyun akan tergoda begitu saja padamu, hah?

Kemudian, ketika Je Wo mencermati bagian hidung Alicia dengan teliti, tawa kecilnya mulai terdengar disana, dan lagi-lagi membuat kedua orang itu menoleh padanya.

“Ada apa?” tanya Alicia dengan raut wajah terganggu. Mungkin, wanita itu tahu kalau sejak tadi, Je Wo terus mengamatinya.

“Tidak,” Je Wo menggeleng kecil sembari tersenyum. “Aku hanya… eum, kuharap kau tidak marah. Tapi, hidungmu sama persis seperti hidung salah satu temanku.”

Wajah Alicia sontak memucat seketika, dan hal itu semakin membuat Je Wo menyeringai puas.

“A-apa maksudmu?”

“Temanku pernah melakukan operasi pelastik disalah satu rumah sakit Seoul. Dan sungguh, hidungnya sangat mirip denganmu. Apa kau… juga melakukannya disana?”

Meski saat mengatakannya, Je Wo memasang wajah yang begitu polos, tapi Alicia sudah merasa terlalu malu. Je Wo benar, satu bulan yang lalu, Alicia memang baru saja melakukan operasi dibagian hidungnya, setelah dia berhasil mengubah beberapa bentuk tubuhnya yang lain.

Kyuhyun yang mengerti maksud Je Wo segera memelototi wanita itu. Tapi Je Wo sama sekali tidak peduli, dan bahkan semakin gencar memainkan perannya.

“Aku hanya menebak saja. Jangan terlalu dipikirkan.” Sambungnya dengan senyuman manis.

Alicia berdehem pelan seraya mencoba untuk tersenyum wajah meski gagal, “Kau benar, aku memang baru saja melakukannya disana. Nona Shin, apa kau_”

“Ups, bukan Nona Shin, aku sudah menjadi Nyonya Cho sejak enam tahun yang lalu. Iya, kan, Tuan Cho?” kedua mata Je Wo melirik kearah Kyuhyun yang memberenggut masam. Tapi ketika Alicia menoleh padanya, Kyuhyun cepat-cepat tersenyum kecil hingga membuat Je Wo menahan tawa.

“Oh, ya, Nyonya Cho. Apa menurutmu, melakukan Operasi pelastik terlalu memalukan?”

“Tidak juga.”

“Nah, karena itulah. Aku hanya ingin semakin mempercantik diriku, itu saja. Jadi, tidak ada salahnya, bukan, kalau aku melakukannya?” Alicia menyunggingkan senyuman angkuhnya.

Je Wo mengangguk yakin, kemudian melirik Kyuhyun yang sejak tadi tampak acuh pada percakapan kedua wanita itu. “Sayang, apa aku boleh melakukannya?”

“Melakukan apa?”

“Operasi pelastik, mempercantik diriku.”

“Tidak.” Jawab Kyuhyun tegas, seakan lupa pada sosok wanita disampingnya.

“Kenapa?”

Bibir Kyuhyun menipis jengah, “Untuk apa kau melakukannya kalau kau sudah secantik sekarang? Lagi pula, hanya orang yang terlihat tidak menarik saja yang akan melakukan hal itu. Dan kau, sudah terlalu dan sangat menarik dimataku. Lupakan niat bodohmu itu.” cecarnya.

Senyuman penuh kemenangan Je Wo mengembang saat melihat Alicia ternganga menatap Kyuhyun yang masih belum menyadari perkataannya.

“Kyuhyun sshi, maksudmu…”

“Oh, tidak-tidak,” sela Kyuhyun kaku. “Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya…” Kyuhyun melirik Je Wo kesal sembari memijat dahinya. Wanita itu memang selalu berhasil mendapatkan seluruh keinginannya. “Hanya mengutarakan pendapatku saja.”

Alicia bungkam. Wajahnya benar-benar terlihat kesal. Apa lagi saat melihat Je Wo yang terus menerus menahan tawa.

“Maafkan suamiku, Nona Alicia. Dia memang selalu lost control pada semua hal yang berkaitan denganku.”

“Apa karena hal itu juga, Kyuhyun selalu menyembunyikanmu dari public.” Alicia sengaja menyeringai culas pada Je Wo.

“Menyembunyikanku?” Je Wo membeo.

“Kau tidak tahu? Semua orang selalu bertanya-tanya tentang dirimu.”

“Benarkah? Wah, aku tidak tahu kalau aku sepopuler itu.”

Tawa tertahan Alicia menggema disana. “Bukan, Nyonya Cho. Bukan karena kepopuleranmu, tapi… lebih karena sikap angkuhmu.”

Senyuman Je Wo sedikit menyurut kala itu.

“Nona Alicia, sebaiknya kita melanjutkan pekerjaan kita.” Tegur Kyuhyun. Pria ini mulai kesal pada kedua wanita itu. Dia sudah seperti orang bodoh yang harus mendengarkan percakapan konyol diantara mereka.

“Kita bisa melanjutkannya lain kali, Kyuhyun sshi. Lagi pula, aku tidak mau membuang kesempatan emas karena telah bertemu dengan istrimu.”

“Haruskah aku tersanjung?” cetus Je Wo.

“Silahkan.”

Kedua wanita itu saling bertatap sengit.

“Apa kau terkejut dengan pernyataanku, Nyonya Cho?”

Je Wo melipat kedua tangannya didepan dada, memasang pose angkuh diatas kursi kerja Kyuhyun. “Tentang?”

“Keangkuhanmu.”

“Oh, sama sekali tidak.”

Alicia mendengus pelan, sulit sekali baginya untuk mengintimidasi wanita itu.

“Kalau kau ingin tahu, kau bisa mebuka beberapa artikel mengenai dirimu. Aku yakin, kau bisa mengetahui semuanya disana.”

Je Wo memainkan ujung rambutnya dengan jari telunjuk, “Sayang sekali, aku tidak memiliki banyak waktu untuk memeriksanya. Tapi, sepertinya, anda sering memeriksa artikel tentangku, ya? Wah, lagi-lagi aku tersanjung.” Imbuhnya.

“Apa kau juga selalu tersanjung, pada sikap suamimu yang selalu menyembunyikanmu bagaikan seorang… wanita simpanan?”

Untuk pertanyaan ini, Je Wo membisu sesaat. Dia memandangi Alicia dengan wajah tanpa ekspresi yang tentu saja, dibalik itu tersimpan sebuah kemarahan.

“Maksudmu apa?” suara rendah Kyuhyun membuat Alicia memutar wajahnya kesamping, dan cukup tersentak dengan raut wajah berbahaya yang Kyuhyun berikan. “Wanita simpanan?”

“Ya,” jawab Alicia dengan suara bergetar. “Itu menurut beberapa orang yang selalu membicarakan istrimu.”

“Termasuk kau?” sambung Je Wo.

Alicia tampak pucat pasi menemukan wajah Je Wo dan Kyuhyun yang seakan siap menerkamnya.

Kyuhyun beranjak dari tempatnya dan menghampiri Je Wo, sedikit memunggungi Alicia yang memerhatikan mereka. Pria itu tersenyum kecil pada Je Wo, kemudian mengelus wajah wanita itu dengan jemarinya.

“Dia milikku. Secara pribadi, dan tidak akan kuperlihatkan pada siapapun diluar sana,” Je Wo membalas perkataan Kyuhyun dengan senyuman kecil. Kemudian Kyuhyun berbalik untuk menatap Alicia. “Kau pernah memiliki sesuatu yang mahal, indah, dan tidak akan mau kau bagi, bahkan kau perlihatkan pada orang lain karena tidak ingin ada yang merebutnya darimu, Nona Alicia?”

Alicia membeku ditempatnya.

“Seperti itulah Shin Je Wo bagiku. Bukan seperti apa yang kau dan beberapa orang itu tuduhkan padanya.”

“Nah, kau bisa mengatakan itu pada yang lain atau membuat artikel tentang apa yang baru saja suamiku katakan padamu.” sambung Je Wo yang berada diatas angin.

Rasanya, wajah Alicia sudah tidak berbentuk lagi saat ini. Hingga setelah ia memaksakan senyuman kakunya, Alicia segera berdiri dan beranjak pergi.

“Kurasa, pertemuan kita untuk hari ini sudah cukup, Kyuhyun sshi. Permisi.”

Langkah Alicia terlihat sangat terburu-buru ketika keluar dari ruangan Kyuhyun. Dan setelah wanita itu benar-benar tidak terlihat, tawa lepas Je Wo menggema disana.

“Sudah puas, Nyonya Cho?” desis Kyuhyun yang sudah memandang Je Wo dengan tatapan kesalnya. Je Wo mengangguk kuat padanya dan semakin membuat Kyuhyun mengerang. “Kalau saja wanita itu membawa masalah ini kedalam pekerjaannya, aku akan membuat perhitungan padamu.”

Je Wo mencibir pelan, menegakkan tubuhnya untuk menghampiri Kyuhyun, “Memangnya apa salahku? Yang baru mempermalukannya adalah kau. Kau menganggapnya tidak menarik karena melakukan operasi pelastik. Kau juga yang membuatnya hampir mati ketakutan dengan wajah penuh intimidasi itu.” telunjuk Je Wo melayang tepat didepan wajah Kyuhyun yang segera menepisnya kasar.

“Kau pikir, karena siapa aku mengatakan semua itu?”

Je Wo mengangkat bahunya acuh. Lalu menduduki meja kerja Kyuhyun dengan santai. Kedua matanya menatap Kyuhyun dengan binaran menggoda. “Tapi… apa yang tadi kau katakan itu benar? Kau menganggap aku begitu berharga, ya?”

Kyuhyun tersenyum miring, menghampiri Je Wo dengan meletakkan kedua tangannya hingga bertumpu diatas meja, dikedua sisi tubuh wanita itu. “Menurutmu?”

“Manisnya…” gumamnya Je Wo sembari mencubit gemas kedua pipi Kyuhyun hingga pria itu menatap datar padanya.

“Kau tidak perlu terpengaruh dengan tuduhan Alicia.”

Suara Kyuhyun tiba-tiba berubah rendah saat mengatakan kalimat itu. Je Wo menarik kedua tangannya. “Tuduhan apa?”

“Wanita simpananku.” Jawab Kyuhyun pelan dan sedikit ragu, seperti takut membuat Je Wo tersinggung.

Je Wo membisu sejenak sebelum mendesah pelan. “Kau memiliki istri lain diluar sana?”

“Tidak! Kenapa kau berpikiran begitu?” saking terkesiapnya, tubuh Kyuhyun terlempar kebelakang dan matanya melebar memandangi Je Wo.

“Kalau begitu, kenapa kau pikir aku akan terganggu dengan tuduhan wanita sialan itu? Wanita simpanan? Yang benar saja! Sejak kapan aku menjadi wanita simpananmu? Hanya karena aku tidak pernah kau perlihatkan sesukamu didepan semua orang, maka mereka menuduhku seperti itu. Cih, picik sekali. Lagi pula, aku memang tidak suka jika harus terlalu sering menamanimu menghadiri semua acara yang kau sebut penting untuk_”

Chup

“Kau bicara terlalu banyak.”

Je Wo mengerjapkan matanya berkali-kali.

“Kau_”

Chup

“Jangan bicara lagi.” Desis Kyuhyun. Pria itu menyipitkan kedua matanya penuh ancaman.

Je Wo memutar bola matanya malas. “Bilang saja kau ingin menciumku.”

“Nah, itu kau tahu.”

Dan sedetik setelahnya, bibir Kyuhyun telah menyapu permukaan bibir Je Wo. tubuhnya condong kedepan, lengannya mendekap pinggang wanita itu, dan Kyuhyun memegangi rahang Je Wo. Bibir mereka berpagutan, lidah mereka saling menyapa penuh sensual.

Kedua kaki Je Wo telah melingkar sempurna pada tubuh Kyuhyun, sedangkan kedua lengannya mendekap kepala pria itu seerat mungkin.

“Kau cemburu padanya?” bisik Kyuhyun, selagi bibirnya bekerja dibalik telinga Je Wo.

“Alicia?” sahut Je Wo dengan desahan tertahan kaena setelah itu, Je Wo menarik kepala Kyuhyun menjauhi wajahnya, dan beralih mengecupi setiap jengal leher jenjang pria itu.

“Hm…” kedua mata Kyuhyun mulai terpejam, menikmati setiap sentuhan liar Je Wo yang mulai mendominasi dirinya.

“Haruskah?” kali ini, Je Wo telah berhasil melonggarkan ikatan dasi Kyuhyun. Pertanyaan yang baru saja dilontarkannya membuat Kyuhyun sedikit berjengit.

“Haruskah… membuka pakaianku? Disini?” timpalnya terengah-engah.

Dengan perasaan geli, Je Wo menggigit permukaan leher Kyuhyun yang nyaris memekik nikmat, “Dasar mesum.” Umpat Je Wo dan segera menyudahi permainanya. Dia menarik wajahnya kebelakang, menyeringai penuh kepuasan pada Kyuhyun yang tampak sangat menginginkannya, lalu menyapukan kecupan ringannya diatas bibir pria itu.

“Kenapa berhenti?” rajuk Kyuhyun tak terima.

“Karena kita masih berada di kantormu.”

“Dan kalau kita berada dirumah?”

“Aku pasti sudah melucuti seluruh pakaianmu tanpa sisa.”

“Kalau begitu kita akan segera pulang.”

Je Wo terbahak kuat mendengar geraman Kyuhyun. Terlalu mudah baginya untuk membangkitkan gairah pria itu hanya dengan sebuah ciuman.

“Kau terlihat berantakan.” gumamnya. Lalu menyisiri rambut Kyuhyun dengan jemarinya yang memang sudah berantakan akibat kedua tangannya.

“Kuharap kau tidak lupa siapa yang menyebabkannya.” Rutuk pria itu.

Je Wo menangkup wajah Kyuhyun dengan kedua tangannya, memiringkan wajah pria itu kesana kemari bagaikan sebuah maninan, “Kau sangat menginginkannya?” bisiknya menggoda. Kyuhyun memberenggut malas. “Satu ciuman lagi, bagaimana?”

“Dua.”

“Terlalu memakan waktu.”

“Kalau begitu tiga.”

“Kenapa menjadi semakin banyak.”

“Baiklah, empat ciuman lagi.”

Saat Kyuhyun mengecupi bibirnya berkali-kali, bibir Je Wo tersenyum lebar.

“Omo?”

Kyuhyun segera melepas bibirnya yang tadi masih menempel diatas bibir Je Wo, ketika sebuah suara terdengar dari belakang tubuhnya.

Saat Kyuhyun dan Je Wo serentak menoleh keambang pintu, mereka mengernyit bersamaan melihat Rae Na dan Hyunje berdiri disana dengan tubuh kaku, dan dengan sebelah telapak tangan Rae Na yang menutupi kedua mata Hyunje.

“Kau menutup mata putraku, sementara kau membiarkan kedua matamu menatap puas kearah kami.” cibir Je Wo datar.

“Ups.” Sontak Rae Na menutupi kedua matanya juga dengan sebelah telapak tangannya yang lain.

Je Wo memutar bola matanya malas, sedangkan Kyuhyun menahan senyuman gelinya. Pria itu membantu Je Wo turun dari mejanya, merapikan penampilan wanita itu sejenak, sebelum kembali menatap kedua manusia yang masih berdiri mematung ditempatnya.

“Sudah, buka mata kalian berdua.”

Rae Na menatap malu-malu kearah Je Wo dan Kyuhyun, sementara Hyunje terlihat merengut masam pada mereka.

“Kenapa dengan wajahmu?” tanya Je Wo.

“Kenapa kalian tidak bertengkar seperti biasanya?” balasnya dengan sungutan. Tentu saja, dia mengharapkan sebuah tontonan yang menghibur baginya, tapi yang didapat malah pertunjukan romantis yang membuatnya mual.

“Heish!” desis Rae Na pada Hyunje. “Kau ini!”

“Ommaaaaa,” Hyunje merajuk dan menghampiri Je Wo. “Aku bosan disini. Kupikir, dengan menyuruh Omma datang dan mendapati Nona Alicia yang sedang merayu Appa, Omma akan mengomeli Appa seperti biasanya. Ternyata dugaanku salah, kalian malah bermesaraan. Menyebalkan!”

Kyuhyun sedikit merunduk untuk mencubit gemas kedua pipi Hyunje. “Dasar bocah tengil. Kau yang menyebalkan.”

“Appa!!” pekiknya.

“Dan kau, Jung Rae Na,” Rae Na yang mendengar namanya disebutkan oleh Kyuhyun sontak membeku. Kyuhyun menyipitkan kedua matanya. “Kau juga ikut andil membawa Je Wo kemari?”

“Tidak-tidak, Hyunje yang melakukannya.” Belanya.

“Tapi kau yang meminjamkan ponsemu padaku, Noona.”

“Kau yang memaksaku.”

“Seharusnya kau bisa menolak permintaan anak kecil yang polos seperti itu.”

“Polos kepalamu?!”

“Oh, Appa, lihat, dia berbicara tidak sopan padaku.”

Kedua mata Rae Na melebar, dia menggigit lidahnya kuat saat melihat Kyuhyun semakin tajam menatap padanya.

“Presdir, aku… itu, kan…”

“Hahahaha,” Hyunje memegangi perutnya saat tertawa puas melihat wajah pucat Rae Na. “Pecat saja dia, Appa.”

“Yah, Cho Hyunje!”

“Lihat, dia membentakku lagi, Appa.” imbuh Hyunje, semakin membuat Rea Na memucat. Hyunje memang sangat senang menggoda dan menjahili Rae Na yang memang sangat mudah untuk dijahili.

“Jung Rae Na.” panggil Kyuhyun dengan suara dinginnya.

“Y-ya?”

“Kau boleh pulang lebih cepat.”

“Benarkah?!” pekiknya girang.

Kyuhyun mengangguk sekedar, “Aku juga akan pulang sebentar lagi. Lagi pula, tidak ada pekerjaan yang terlalu penting yang harus kau selesaikan hari ini. Jadi, kau boleh pulang lebih cepat.” Suruh Kyuhyun.

“Huwaaa terima kasih, Presdir.” Teriaknya senang, lalu menjulurkan lidahnya pada Hyunje yang memberenggut kesal padanya sebelum berbalik pergi meninggalkan keluarga kecil itu.

“Omma,” bocah itu menarik-narik jemari Je Wo. “Aku juga mau pulang. Disini membosankan.”

“Yasudah, ambil tasmu.”

“Appa,” panggil Hyunje. “Bawa tasku.”

Kyuhyun yang sedang membereskan meja kerjanya, mendelik murka pada Hyunje. “Enak saja kau. Bawa tasmu sendiri.”

“Tanganku sakit sekali.” keluhnya dan berpura-pura melemaskan kedua tangannya hingga punggungnya membungkuk melankolis.

“Lima menit yang lalu tanganmu masih baik-baik saja.” Cibir Kyuhyun.

Bocah itu memberenggut, “Appa, kau tidak sayang padaku lagi, ya?” rajuknya.

Je Wo dan Kyuhyun sama-sama menjulurkan lidah mereka jengah. Setiap kali bocah itu berusaha bersikap manis untuk menarik simpati orang lain, kedua orang itu pasti akan merasa mual.

“Sudahlah, Cho Kyuhyun, bawa saja. Telingaku sakit mendengar suaranya.” Cetus Je Wo dan membuat Kyuhyun mendesis kesal.

Bocah itu tersenyum senang, lalu merentangkan kedua tangannya. “Omma, gendong aku.”

“Tidak mau.”

“Ommaaaaa.” Rengeknya.

“Sudahlah, Shin Je Wo, gendong saja. Telingaku sakit mendengar suaranya.” Balas Kyuhyun, meniru kalimat yang baru saja Je Wo katakan padanya. Dia tersenyum puas ketika Je Wo memelototinya.

Saat Je Wo menuruti keinginan Hyunje, bocah itu tersenyum manis padanya, dan mengecup singkat dahi Je Wo.

“Menjijikkan.” Gumam Kyuhyun.

Je Wo dan Hyunje melirik kesal padanya.

“Ayo, kita keluar lebih dulu, tinggalkan saja pria ini.”

Hyunje mengangguk setuju dengan wajah polos. Gemas melihat ekspresi wajah putranya, Je Wo menghadiahi kecupan-kecupan ringannya diatas bibir Hyunje.

“Ah… Omma, jangan menciumku disana.” Tolak Hyunje.

“Kenapa?” tanya Je Wo tidak mengerti.

Hyunje menyapu bibirnya dengan punggung tangan, “Omma baru saja berciuman dengan Appa. Itu berarti, ada bekas bibir Appa yang menempel diatas bibir Omma,” kemudian, dengan wajah menjengkelkan, Cho Hyunje melirik kearah Kyuhyun dan menarik sedikit bibirnya keatas. “Menjijikkan.” Gumamnya, persis seperti apa yang Kyuhyun katakan sebelumnya.

Fin.

Kemana Eunje?

Anggap ajah Eunje lagi bobok dirumah😀

Cerita ini bukan bagian Cho’s family seperti biasanya.

Dan sebenarnya, FF ini udah ada sejak berbulan-bulan lamanya, Cuma karena aku males nyelesain endingnya, jadilah dia Cuma menetap didalam laptop.

Oke, sampai jumpa di FF selanjutnya…

Ami

229 thoughts on “Another Story

  1. Ya ampun hyunje, bocah kecil kek gitu kalo ngomong bikin orang laen emosiii mulu. Ckckck! Mulut keluarga cho emang ga ada yg bener.
    Merinding eiy waktu kyuhyun belain je wo didepan nona alicia park. Aaahh! Senengnya kalo punya suami kek kyuhyun, meskipun nyebelin tp sayangnya kebangetan

  2. Bener-bener ya cho hyunje ini… sepertinya jiwa evilnya kyuhyun benar-benar mengalir di jiwa hyunje….. bikin orang lain emosi aja nih bocah sekaligus ngegemesin hahaha

  3. Ping-balik: Library | Shin Je Wo

  4. Hahaha,hyunje cerdas bgt ya??
    Sampe nganga aq bacanya..
    Good thor ceritanya..
    Pengen juga punya suami kyk kyu oppa,syng bgt ma istrinya..:D

  5. ahahaha shin je wo aksinya keren..
    selalu hyunje datang untung menghancurkan keromantisan ortunya..
    haha bnr2 anak durhaka malah pgn liat ortunya ribut buat kesenangan pribadi..

  6. Yaampun. Kyuhyun so sweet banget waktu belain je wo di depan alicia. Keluarga gila bener bener deh. Kesian sekretarisnya kyuhyun itumah. Masa diakalin terus sama anak kecil macem hyunje.

  7. Cerita yang menarik !!
    Tadinya aku pikir kyuhyun itu gak cinta sama istrinya,tapi gak nyangka kalo sikap Je wo itu sama sekali bukan masalah buat kyuhyun.
    Hyunjae beneran keterlaluan !!
    Jail banget jadi bocah.

  8. Aigo biasa’a aq paling males bca ff yg oneshot aq lbh suka ff yg chapter, tp x ini wah bngt, gla cho hyunje kau benar2 mewarisi sifat appa mu, Daebak2 Daebak di lanjut terus berkarya’a, Semangat ,,,,,

  9. hhhmm bener2 kluarga aneh-_-
    astga tuh umur hyunje brpa sih omongannya itu lho slalu gk mau kalah mlah bikin ktawa tawa
    favoritku deh cho family ini

  10. Wahahah cute bangett xD
    Ga bosen bosennya aku ngubek library di blog ini .. ada hyunje yang keras kepala , kyuhyun sama jewo yang ga mau ngalah :’v eunje yang gatau apa apa tapi ikut terkontaminasi xD

  11. Hahahaha Hyun Jae tajem persis sama Eomma dan Appa nya ya. Siapa dulu dong.
    Aku suka dengan sikap Kyuhyun mau dideketin wanita secantik dan seseksi apapun nggak ngaruh ya.❤
    Suka juga dengan sikap Je Wo, tiw
    Shin Je Wo
    Welcome To My Blog
    Menu
    Skip to content

    Cho’s Family
    My Collection
    Need Password?

    Another Story
    April 23, 2014Shin Je Wo comedy, family, married life, oneshoot 226 Komentar

    10178298_10200856749179860_940697308_n

    Pintu ruangan kantor Kyuhyun terbuka begitu saja tanpa adanya suara ketukan terlebih dulu. Pria yang sejak tadi menunduk, memerhatikan kertas-kertas yang berserakan diatas meja kerja, menautkan kedua alisnya ketika melihat kakak dan anak laki-lakinya masuk sembari bergandengan tangan.

    “Sedang apa kalian disini?” tanya Kyuhyun. Matanya memandang wanita itu dengan penuh tuntutan.

    “Maaf, Kyu. Aku baru saja menerima kabar dari salah seorang temanku kalau calon relasi bisnisku sedang berada di Korea untuk menghadiri sebuah pesta saat ini. Kau tahu, kan? Dia adalah mangsa besarku, aku tidak mau kehilangan dia begitu saja.”

    Kyuhyun masih menatapnya tidak mengerti, sesekali ia melirik pada anaknya yang memasang wajah datar selagi Cho Ahra sibuk menjelaskan sesuatu. “Dan hubungannya denganku?”

    Ahra tersenyum lebar padanya, “Tadinya aku ingin bermain bersama anakmu seharian ini, aku sudah mendapat ijin dari istrimu dan tadi aku juga yang menjemputnya dari sekolah.” Jelasnya lagi.

    “Lalu?”

    “Karena aku harus segera pergi, jadi… aku kembalikan dia padamu.”

    “Apa?” geram Kyuhyun. Ia mendelik tajam pada kakaknya. “Kau sudah gila?! Aku sedang berada di kantor dan masih harus bekerja dalam beberapa jam lagi. Kenapa tidak kau antarkan saja dia pulang?”

    “Aku tidak punya banyak waktu, bodoh! Kantormu lebih dekat dari tempat kami bermain tadi.” rutuknya, Ahra melirik arlojinya sejenak. “Oh Tuhan… sudah hampir terlambat.”

    “Noona, pekerjaanku masih sangat banyak. Hyunje tidak mungkin berada disini selagi aku bekerja. Aku juga sedang memiliki seorang tamu penting, kau pikir aku bisa menjaganya?”

    “Tidak ada yang menyuruhmu untuk menjaganya. Dia hanya butuh menunggumu selesai bekerja, lalu kalian pulang bersama. Bukan begitu?” Ahra mengerling kecil pada Hyunje.

    “Tidak tahu.” Jawab bocah itu ketus. Sejujurnya, ia sama kesalnya seperti Kyuhyun pada sosok wanita itu. Perjanjian mereka adalah bermain sepuasnya hingga malam hari, tapi Ahra sudah memulangkannya pada Kyuhyun pukul setengah empat sore.

    “Ayolah… lain waktu aku akan bermain denganmu lagi.”

    “Siapa yang bisa mempercayaimu? Kau, kan, pembohong besar.”

    “Yah!”

    “Apa?!”

    Ahra menggeram tertahan. Emosinya selalu terpancing setiap kali berbicara dengan keponakannya, persis seperti saat ia bicara pada Ibu bocah itu, “Baiklah, kalau begitu… bagaimana jika aku memberitahu Ibumu kalau tadi kau_”

    “Ya, ya, ya, heish! Kau sudah berjanji untuk menutup mulutmu!” sungut Hyunje.

    Ahra tersenyum menang sembari menjulurkan lidahnya. Ia menatap Kyuhyun lagi, pria itu masih memerhatikan mereka dengan wajah kusut. “Aku pergi dulu, Cho Kyuhyun. Bye, Cho Hyunje!”

    Wanita itu pergi begitu saja seakan tidak merasa bersalah sedikitpun. Kyuhyun menatap Hyunje dengan desahan gusarnya, sedangkan bocah itu hanya menggedikkan bahunya acuh. Mau bagaimana lagi, mereka terpaksa harus bersama sebelum jam kantor selesai. Tapi, yang membuat Kyuhyun frustasi adalah, saat ini dia sedang memiliki seorang tamu penting. Seorang investor terbesar di perusahaannya. Dan menemukan keberadaan Hyunje disekitarnya, Kyuhyun merasa sedikit awas.

    Bocah kecil itu bisa menjadi mesin penghancur kapan saja. Apa lagi jika ia mulai berulah dengan otak cerdiknya. Kyuhyun tidak mau urusan bisnisnya hancur karena putranya sendiri.

    “Kau duduk disana,” telunjuk Kyuhyun mengarah pada sebuah sofa panjang. Hyunje menurutinya, bocah itu duduk disudut sofa, ia melepas tas sekolahnya dan meletakkannya keatas lantai, “Kemarikan tasmu.” Decak Kyuhyun.

    Hyunje meliriknya kesal, “Kenapa Appa selalu memerintahku? Aku lelah, ini, ambil saja sendiri.” sungutnya.

    Kyuhyun menggeram tertahan, kalau saja saat ini ia sedang tidak harus menjaga moodnya agar nanti tidak mengacau, Kyuhyun pasti sudah meledakkan teriakan murkanya. Hyunje memang terlalu jarang bersahabat dengannya, setiap hari, bocah itu selalu memancing kekesalannya dan merasa begitu puas saat ia terkalahkan. Hyunje hanya akan bersikap manis pada Kyuhyun jika bocah itu memiliki sesuatu yang ia inginkan, namun tidak dapat ia peroleh dari Ibunya.

    Dengan tarikan napas panjang, Kyuhyun mengutip tas itu dari atas lantai. Sebelum beranjak pergi, Kyuhyun memerhatikan seragam sekolah Hyunje yang masih melekat ditubuhnya. Beberapa kancing bajunya tampak sedikit terbuka dan seragam itu mulai berantakan, “Ck, kenapa pakaianmu berantakan seperti ini.” rutuknya. Ia berjongkok dihadapan Hyunje untuk membenarkan letak pakaian anaknya. “Hei, hari ini Appa sedang memiliki tamu penting, dan kau harus bersikap sopan selama tamu Appa nanti berada disini, mengerti?”

    “Tamu apa?” tanya bocah itu cepat tanpa mau menjawab pertanyaan Kyuhyun lebih dulu.

    “Tamu penting.”

    “Sepenting apa? Kenapa dia datang kesini?”

    “Heish! Sepenting apapun itu bukan urusanmu,” geram Kyuhyun dengan kedua tangan yang mencubit gemas pipi putranya. “Dia datang untuk berbisnis, kau tahu apa itu bisinis?” Hyunje mengangguk kuat. “Apa itu?”

    Hyunje memutar bola matanya kebeberapa arah seperti sedang berpikir, “Bisnis adalah pekerjaan yang akan menghasilkan banyak uang agar kita semakin kaya dan tidak perlu hidup susah.” Ujarnya dengan lancar.

    Mulut Kyuhyun sedikit menganga, “K-kau, mendengar kalimat itu dari mana?” sungguh, ia sama sekali tidak pernah mengajarkan kalimat itu pada putranya.

    “Omma,” Hyunje menampakkan cengirannya. “Setiap kali Appa pulang terlambat dan tidak bisa makan malam bersama kami, Omma selalu menjelaskan padaku seperti itu.”

    Jemari Kyuhyun memijat pelan dahinya, “Wanita itu…” gumamnya frustasi.

    Tok tok tok.

    Kyuhyun menoleh kearah pintu dan berteriak kecil. “Ya, masuk.”

    Pintu terbuka, seorang wanita dengan senyuman manis melangkah masuk kesana. Wanita itu berjalan dengan pinggul yang bergerak penuh sensual. Wajah cantiknya dipadukan dengan kemeja putih berlengan panjang yang pada bagian dadanya tampak begitu sesak dan penuh, lalu rok hitam ketatnya sebatas lutut, dan rambut ekor kudanya, membuat penampilan wanita itu tampak terlalu seksi untuk melakukan pekerjaan bisnis.

    Kyuhyun berjengit kecil melihat penampilan wanita itu. Haruskan dia berpenampilan seperti itu saat bekerja? Batinnya. Wanita itu sama sekali tidak menarik dimatanya, karena hanya ada seorang wanita yang sudah begitu menarik perhatiannya sampai pria itu tidak lagi memiliki selera pada wanita cantik diluar sana.

    “Selamat sore, apa aku terlambat?” sapa wanita itu.

    “Tidak,” jawab Kyuhyun. “Silahkan duduk.”

    Wanita itu mengangguk, namun saat matanya menangkap sosok Hyunje yang berada di sofa yang ingin ia duduki, dahinya berjengit kecil memandang Kyuhyun. “Dia…”

    “Putraku. Maaf, ada beberapa hal yang harus membuatnya ada disini. Tapi dia tidak akan mengganggu pekerjaaan kita. Iya, kan?” Kyuhyun menyipitkan kedua matanya kecil pada Hyunje. Bocah itu tersenyum begitu manis dengan anggukan patuhnya, dan membuat Kyuhyun semakin merasa awas. Kata patuh dan penurut terlalu jauh untuk sosok putranya.

    Wanita itu duduk disudut sofa yang lain hingga memiliki jarak yang lumayan jauh dari Hyunje. Sedangkan Kyuhyun memilih duduk di sofa yang berada diseberang meja kecil. Selagi Kyuhyun menyiapkan beberapa dokumen-dukumen pentingnya, Hyunje semakin khusuk memandangi wanita yang duduk disofa yang sama dengannya.

    Bahkan, wanita itu juga tampak sedikit mencuri pandang kearahnya dengan wajah aneh. Mungkin, ia tidak mengira akan melihat putra seorang Cho Kyuhyun. Pria kaya raya, tampan, dan memiliki pesona tinggi untuk para wanita. Kyuhyun bukan seorang selebriti, namun sosoknya adalah sosok yang begitu diminati di Korea. Semua tentang pria itu begitu sangat dinginkan oleh banyak orang.

    Meski semua orang tahu Kyuhyun sudah menikah dan memiliki keluarga, namun, Kyuhyun teramat jarang menampilkan keluarga kecilnya didepan publik. Bahkan hingga detik ini, semua orang jarang sekali melihat putra pria itu. Mereka hanya pernah beberapa kali melihat Kyuhyun bersama istrinya di beberapa pesta yang dapat disorot oleh media.

    Kyuhyun juga tidak pernah memperkenalkan keluarganya secara resmi didepan publik. Karena itu, banyak sekali orang yang mencela dan mengkritik sosok wanita yang disebut-sebut sebagai istrinya. Wanita itu dikenal sebagai wanita angkuh, karena setiap kali ada media yang berhasil mendapati sosoknya, bahkan bersusah payah mengejarnya untuk sedikit meminta keterangan, wanita itu selalu bungkam dengan ekspresi datar. Berbeda dari Kyuhyun yang masih mau mengeluarkan beberapa kalimat atau tersenyum kecil sebelum berlalu pergi.

    Mungkin hal itu yang membuat wanita seksi ini sedikit terkejut mendapati keberadaan Hyunje disana, “Aku tidak menyangka akan bertemu dengan putramu, Kyuhyun ssi.” Ujar wanita itu.

    Kyuhyun mengangkat wajahnya sejenak, menyunggingkan senyuman kecil sebelum kembali memerhatikan kertas-kertas itu lagi.

    “Aku juga tidak menyangka akan bertemu dengan anda, Ahjumma.” Sahut Hyunje.

    Wajah wanita itu tampak terkejut, seperti tidak suka dengan panggilan Ahjumma oleh Hyunje. Kyuhyun melirik Hyunje dengan pandangan penuh peringatan, sayangnya, bocah itu malah tampak tersenyum senang dan masih memandangi wanita itu.

    “Panggil dia Nona Park, Hyunje-ya.” Desah Kyuhyun.

    “Ah… maaf, Nona Park.”

    Alicia Park, tersenyum kecil menanggapi panggilan Hyunje padanya. “Satu kehormatan besar bagiku dapat bertemu denganmu. Banyak orang yang ingin bertemu dan melihat siapa putra seorang Cho Kyuhyun sebenarnya.”

    Hyunje terawa pelan, “Benarkah? Apa aku sangat terkenal diluar sana? Kenapa mereka tidak mencariku dirumah? Aku selalu berada disana.” Timpalnya.

    “Hm, mungkin… karena Ayahmu tidak pernah mengijinkan mereka untuk bertemu denganmu?” Alicia sengaja memandang Kyuhyun dengan pandangan menggoda. “Karena menurutku, dia adalah pria yang sangat protektif. Dan hal itu membuatnya tampak menarik.”

    Kyuhyun dan Hyunje sama-sama menautkan kedua alis mereka. Kyuhyun tahu jelas jika wanita ini memiliki ketertarikan khusus padanya karena wanita itu bukanlah wanita pertama yang bersikap seperti itu.

    “Bukan Appa, tapi Ommaku.” Sahut Hyunje.

    Alicia menoleh cepat padanya. “Ibumu?”

    Kepala Hyunje mengangguk kecil, “Omma selalu melarangku bertemu dengan orang asing.” Jawabnya.

    “Ah, sepertinya rumor itu bukan isapan jempol belaka.” Kekeh Alicia.

    “Rumor?” suara Kyuhyun menyahut begitu saja.

    “Hm, rumor yang mengatakan kalau istrimu sedikit… angkuh?”

    Wajah Kyuhyun kini tampak mengeras, “Maaf, Nona Park. Kita berada disini bukan untuk membicarakan mengenai keluargaku.” Ujarnya, masih berusaha bersikap sopan. Kyuhyun tidak pernah suka jika ada yang mencela istrinya. Untung saja wanita itu adalah tamu penting, kalau tidak, mungkin saja wanita itu sudah ia tendang keluar dari ruangannya.

    Alicia sendiri malah terlihat semakin senang karena dapat memancing Kyuhyun. Ia bahkan dengan sengaja membuka satu kancing baju atasnya dan bergumam pelan. “Kenapa disini terasa sedikit panas.”

    Hyunje menyipitkan kedua matanya. Dapat melihat gelagat aneh wanita itu. Dan seperti biasa, saat otaknya mulai bekerja, ia mulai menyeringai ngeri, “Appa.” panggilnya pelan dan terdengar manis.

    “Ya?”

    “Aku bosan. Boleh tidak aku pergi berkeliling sebentar? Tenang saja, aku tidak akan pergi meninggalkan tempat ini.”

    Kyuhyun tampak berpikir sejenak, tapi kemudian mengangguk pelan. “Jangan pergi terlalu jauh.”

    Dengan senyuman penuh, Hyunje segera meloncat turun. Namun ia tidak lupa tersenyum sopan pada Alicia, “Permisi, Nona.” Pamitnya.

    ____000____

    “BOO!”

    Jung Rae Na terperanjat terkejut saat tiba-tiba saja seorang bocah muncul dari balik meja kerjanya. Ia mendelik garang padang bocah itu, sebelah tangannya sibuk mengusap dadanya yang berdegup kuat, “Yah! Kau membuatku terkejut!” teriaknya pada anak dari atasannya itu.

    Rae Na adalah sekretaris Cho Kyuhyun. Umurnya dua puluh dua tahun dan masih sangat muda. Gadis polos ini adalah satu-satunya gadis yang diperbolehkan berada disekitar Kyuhyun oleh istrinya. Rae Na sudah sangat dekat dengan keluarga Kyuhyun, bahkan istri pria itu selalu menjadikan Rae Na sebagai mata-mata pribadinya.

    “Hahaha, maaf, Ahjumma.” Ujar Hyunje dengan kekehannya. Tapi Rae Na segera memelototi Hyunje dengan tajam. “Baiklah, Noona. Kau puas?”

    “Nah, begitu.” Gumam Rae Na. “Kenapa kau kemari? Pasti karena diusir Ayahmu, iya, kan?” ia memajukan wajahnya kedepan sembari melepas kacamatanya.

    “Tidak. Aku sendiri yang ingin keluar. Di dalam sana membosankan. Apa lagi… tamu Appa terlihat sangat aneh.”

    “Nona Alicia Park?”

    “Hm. Sepertinya dia menyukai Appa.”

    Rae Na mengibaskan sebelah tangannya keudara, “Sudah kuduga. Penampilannya saja sudah mecurigakan. Dia pasti berniat menggoda Ayahmu.” Rutuknya.

    Hyunje menatapnya datar, “Kau sedang tidak cemburu padanya, kan, Noona?” cetusnya.

    “Cemburu untuk apa? Kau pikir aku menyukai Ayahmu?”

    “Bukan.”

    “Lalu?”

    “Karena kau tidak seseksi wanita itu.”

    “APA?!”

    Beberapa orang yang sedang berjalan melewati meja kerjanya serentak menoleh padanya hingga Rae Na tersenyum canggung, “Bocah sialan,” rutuknya pada Hyunje yang tertawa terbahak-bahak. “Masih kecil sudah berani berkata seperti itu. Akan kuadukan kau pada Ayahmu.”

    “Adukan saja. Aku bahkan lebih sering mendengar Appa menyebut Ommaku seksi.”

    Rae Na terdiam seketika, wajahnya sedikit memerah. Bagaimana bisa suami istri itu mengucapkan kalimat yang tidak seharusnya terdengar oleh anak dibawah umur, batinnya, “Ayah dan Ibumu memang tidak normal.” Cibirnya dengan bibir mengerucut. “Tapi, apa wanita yang berada didalam itu berusaha menggoda Ayahmu?”

    Hyunje mengernyitkan dahinya, “Menggoda? Membuat Appa kesal?” tanyanya dengan wajah tidak mengerti. Kali ini wajah itu jujur. Hyunje hanya mengerti kalau arti menggoda itu membuat Kyuhyun kesal, seperti yang sering ia lakukan.

    “Bukan. Maksudku… begini,” Rae Na menyuruh Hyunje menghampirinya hingga bocah itu telah berdiri disampingnya. Gadis itu melirik sekelilingnya sebelum membisikkan sesuatu pada Hyunje. “Mengerti?”

    Hyunje mengerjap beberapa kali dengan wajah aneh, kemudian memandang Rae Na polos. “Memamerkan tubuhnya pada Appa?”

    Rae Na menutup bibir Hyunje cepat, “Yah, jangan disebutkan. Kalau orang lain mendengarnya, mereka akan mengira aku mengajarkanmu yang tidak-tidak.” Bisiknya tertahan.

    Hyunje menepis bungkaman Rae Na. “Ck, memang kau yang mengajariku. Lagi pula, Nona itu masih memakai pakaiannya, dia tidak memperlihatkan tubuhnya pada Appa. Kata Omma, tuduhan itu sama seperti fitnah.” Jelasnya dengan wajah menggurui.

    “Heish! Susah sekali bicara dengan bocah yang memiliki IQ diatas rata-rata sepertimu. Andai saja Einstein masih hidup, aku yakin kau berbakat menjadi anaknya.”

    “Einstein itu siapa? Saudaramu?”

    “Tidak tahu.” Jawab Rae Na kesal. Ia kembali memakai kacamatanya dan berniat melanjutkan pekerjaannya.

    “Noona…” panggilnya dengan nada manis.

    Rae Na mendelik tajam padanya, “Jangan memintaku untuk membelikanmu makanan, aku tidak punya uang.” Ancamnya. Hyunje memang sering kali membuat uangnya habis setiap kali mereka bersama dan bocah itu meminta Rae Na untuk meneraktirnya.

    “Tidak, aku sudah kenyang.”

    “Lalu?”

    “Kau tidak lelah bekerja terus?” kali ini, Hyunje sengaja memasang wajah prihatinnya yang sudah sangat ia yakini akan mempengaruhi Rae Na yang mudah sekali terbujuk oleh mimik wajahnya.

    “Mau bagaimana lagi…” desah Rae Na. “Ayahmu itu menyeramkan sekali. Kalau aku terlambat menyelesaikan tugasku, dia akan mengomeliku sampai aku ingin menangis.”

    “Wajar saja, kau bekerja seperti kura-kura.”

    “Apa?!”

    Hyunje menyengir lebar, “Bukan apa-apa. Ah, ya, mau bersenang-senang, tidak?” tawar Hyunje dengan senyuman misteriusnya.

    “Bersenang-senang?”

    “Hm, pinjamkan ponselmu.”

    Rae Na menatap telapak tangan Hyunje yang terulur didepannya dengan tatapan curiga, “Untuk apa?” tanyanya.

    “Ck, berikan saja. Aku yakin kau akan merasa terhibur. Biasanya, kalau sedang bosan aku juga melakukan hal ini.” Gumamnya. Ia menggoyang-goyangkan telapak tangannya lagi agar Rae Na segera memberikan ponselnya. Meski masih belum terlalu yakin, Rae Na akhirnya menyerahkan ponselnya.

    Hyunje tampak menekan beberapa deret angka yang terlihat sudah begitu ia hapal, dan bocah itu menghubungi seseorang.

    “Hei, kau menelepon siapa?”

    “Halo, Omma? Eo, ini aku…”

    Rae Na menatap Hyunje tidak mengerti. Kenapa bocah itu menghubungi Ibunya?

    “Tidak, Ahjumma bilang dia memiliki urusan penting dengan mangsa besarnya. Mana aku tahu siapa mangsa besarnya. Hm, dia meninggalkanku dikantor Appa. Appa? Dia ada diruangannya.”

    Melihat senyuman Hyunje mulai merekah, Rae Na segera menghirup napasnya kuat. Perasaan tidak enak segera menghinggapinya.

    “Iya, aku sedang bersama Jung Rae Na.”

    Rae Na memukul pelan kepala bocah itu hingga Hyunje mendelik padanya.

    “Tapi, Omma. Aku ingin mengatakan sesuatu. Begini, tadi, Appa menyuruhku keluar dari ruangannya saat ada sebuah tamu penting Appa yang datang. Hm, tamu penting,” Hyunje terdiam sejenak sebelum decakannya kembali terdengar. “Aku mengerti, tapi… tamunya adalah seorang wanita. Dan kau tahu, Omma? Wanita itu seksi… sekali.”

    Hyunje menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Wajahnya tampak senang dan ia menahan tawanya, “Rencanaku berjalan mulus, Noona.” Bisiknya pada Rae Na yang mulai mengerti maksud bocah itu.

    “Yah, Ibumu bisa datang kesini dan mengamuk.” Bisik Rae Na.

    “Memang itu yang kuharapkan,” jawab Hyunje. Ia kembali menempelkan ponsel itu ketelinga. “Bahkan, Omma, Rae Na Noona saja mengatakan, kalau wanita seksi itu menyukai Appa.”

    “Apa-apaan kau, hah?!” rutuk Rae Na.

    “Apa? Omma akan datang kesini? Ah… baiklah-baiklah.”

    Hyunje tertawa puas sembari mengembalikan ponsel milik Rae Na. Wajahnya berbinar bahagia ketika mulai membayangkan kejadian seperti apa yang sebentar lagi terjadi disana, “Menurutmu apa yang akan terjadi, Noona?” tanya Hyunje bersemangat pada Rae Na.

    Rae Na meremas rambutnya frustasi dengan wajah nanar, “Jika Ibumu mendapati Alicia Park sedang menggoda Ayahmu, maka wajah wanita itu tidak akan lagi berbentuk. Dan besok, berita mengenai pembunuhan di Cho Corp, yang dilakukan oleh istri dari Presiden Direktur, akan tersebar kemana-mana.” Gumamnya dengan wajah shock.

    “Eiy… Ommaku tidak seperti itu.”

    “Dan…” Rae Na memutar tubuhnya menghadap Hyunje. Memberikan tatapan penuh ancaman pada bocah itu. “Jika setelah ini aku akan dipecat oleh Ayahmu. Kupastikan kau akan hidup menderita bersamaku, Cho Hyunje!”

    “Siapa yang akan kau ajak hidup menderita bersamamu, Jung Rae Na?”

    Hyunje dan Rae Na terkesiap terkejut hingga menoleh serentak kedepan. Kedua mata mereka membulat bersamaan saat menemukan sosok wanita dengan senyuman angkuhnya berdiri tepat dihadapan mereka.

    “Omma?”

    “Shin Je Wo?”

    “Shin Je Wo?” ulang wanita itu dengan kedua mata menyipit.

    Rae Na menggigit bibir bawahnya cepat, “Ah… aku lupa kalau masih berada di kantor, Nyonya Cho.” Ralatnya.

    “Omma,” potong Hyunje. “Kenapa kau cepat sekali berada disini? Padahal aku baru saja meneleponmu.” Rae Na turut menimpali kalimat Hyunje dengan anggukan kuat.

    Shin Je Wo menyeringai kecil, “Sebenarnya saat kau meneleponku tadi, aku sudah berada di lobi.” Jawabnya. Wanita ini datang hanya dengan mengenakan celana jeans hitam dan kemeja putihnya yang berlengan panjang. Rambutnya tergerai, hanya saja, kali ini rambut bagian bawahnya sengaja ia buat menjadi sedikit bergelombang. Bibir wanita itu hanya dilapisi oleh lipstik tipis berwarna merah muda. Bulu mata lentiknya semakin membuat ketajaman kedua mata sinisnya terlihat mengagumkan.

    “Ah…” desah mereka bersamaan.

    “Jadi, apa wanita seksi itu masih bersama suamiku?” kini kedua mata dengan binar mengerikan itu mengarah pada pintu ruangan Kyuhyun.

    “Namanya Alicia Park. Dia adalah investor terbesar perusahaan dan bagi Presdir, Alicia Park adalah tamu terpentingnya hari ini.”

    Je Wo kembali menatap pada Rae Na, “Aku tidak peduli siapapun dia. Tapi, menurutmu, apa dia memang benar-benar memiliki ketertarikan khusus pada suamiku?” tanyanya memastikan.

    Rae Na melirik Hyunje, dan bocah itu tersenyum lebar padanya. “Eum… menurutku, begitu. Beberapa karyawan juga sudah mulai bergosip mengenai Nona Alicia yang akhir-akhir ini selalu berusaha melibatkan Presdir diberbagai pertemuan.” Jelasnya.

    “Ah…” desah Je Wo dengan seringaiannya lagi. “Aku jadi ingin tahu, wanita seperti apa Alicia itu.”

    Tanpa menunggu lama, Je Wo segera melangkah mendekati ruangan Kyuhyun hingga Rae Na menarik napas panjangnya yang tercekat. Berbeda dengan Hyunje, ketika ia melihat Ibunya masuk kedalam ruangan itu tanpa terlebih dulu mengetuk pintunya, bocah itu malah tersenyum puas.

    ____000____

    Shin Je Wo membuka pintu ruangan itu dengan senyuman yang sempurna. Wanita itu mendapati suaminya duduk bersebelahan dengan wanita yang sedang menatapnya dengan wajah terkejut. Je Wo memerhatikan penampilan wanita itu sejenak, dan menggeleng samar, dasar wanita bodoh, makinya dalam hati.

    “Selamat sore…” sapanya ramah dengan senyuman palsu. Je Wo bahkan harus menahan senyuman gelinya saat tubuh Kyuhyun berdiri secepat kilat dari tempatnya. Bisa Je Wo lihat bagaimana terkejutnya Kyuhyun mendapati keberadaannya. “Apa aku mengganggu?”

    “Tidak,” jawab Kyuhyun, pria itu menghampirinya meski masih dengan wajah bingung. “Tapi saat ini aku sedang memiliki seorang tamu.”

    Je Wo melengkungkan sebelah alisnya ketika Kyuhyun sudah berdiri tepat didepannya. Wanita itu seakan melemparkan tatapan tak sukanya pada suaminya, “Dan?” gumamnya.

    Kyuhyun melirik kebelakang punggungnya sejenak, Alicia tampak berpura-pura memerhatikan pekerjaannya, meski Kyuhyun tahu kalau wanita itu sedang menguping pembicaraan mereka, “Sayang,” bisik Kyuhyun meredam suaranya. “Hyunje ada disini, dia sedang bermain diluar. Mungkin kau bisa mencarinya dan menemaninya selagi aku bekerja.”

    Je Wo menyipitkan kedua matanya, lalu kepalanya menggeser kesamping untuk melirik Alicia yang saat itu tertangkap basah sedang mencuri pandang kearah mereka. Je Wo menarik sebelah sudut bibirnya, “Hyunje sedang bersama Rae Na, sayang,” jawabnya dengan suara yang begitu manis hingga Kyuhyun berjengit curiga menatapnya. “Kau tidak keberatan, kan, kalau aku menunggu disini? Lagi pula, aku tidak suka berada diluar sana.”

    Ketika Kyuhyun ingin membuka mulutnya untuk mengeluarkan kalimat protesnya, Je Wo segera memelototi tajam pria itu hingga Kyuhyun mengurung niatnya dan lebih memilih mendesah gusar. Anak dan Ibu sama merepotkannya, batin Kyuhyun.

    “Ah, Nona, maaf, kau juga tidak keberatan dengan keberadaanku, kan? Tenang saja, selagi kau dan suamiku bekerja, aku akan duduk diam ditempatku.” Jelasnya.

    Alicia menoleh padanya dengan senyuman ringan yang terlihat terpaksa karena jelas sekali terlihat diwajah wanita itu kalau ia amat sangat tidak nyaman akan kehadiran Je Wo, “Tentu.” Jawabnya singkat.

    Kyuhyun memijat dahinya frustasi saat melihat seringaian lebar Je Wo. Ia menggedikkan dagunya kearah kursi kerjanya, menyuruh Je Wo untuk duduk disana. Dengan patuh, wanita itu menuruti perintah suaminya. Kyuhyun masih mengamati Je Wo yang tampak biasa-biasa saja, namun, hal itu semakin membuatnya merasa awas.

    Je Wo tidak mungkin datang dan bertingkah seperti ini jika saja ia tidak mempunyai tujuan tertentu. Kyuhyun sudah terlalu paham dengan segala tingkah laku istrinya yang terbilang mengerikan untuk ukuran seorang wanita.

    “Baiklah, kita lanjutkan lagi.”

    Mendengar itu, Je Wo mulai memerhatikan Kyuhyun dan Alicia. Kedua matanya tampak sibuk mencari gelagat aneh diantara mereka berdua. Sebelah alis Je Wo terangkat keatas saat ia melihat letak duduk Kyuhyun dan Alicia. Jemarinya mulai sibuk mengetikkan sebaris pesan melalu ponselnya untuk Rae Na.

    Apa sejak tadi wanita itu memang duduk bersebalahan dengan Kyuhyun?

    Beberapa detik setelah itu, Raena membalas pesannya.

    Hyunje bilang tidak, mereka duduk di sofa yang berbeda.

    Desisan tertahan Je Wo yang tidak bisa dikatakan pelan, terdengar oleh Kyuhyun dan Alicia hingga keduanya menoleh serentak pada Je Wo.

    “Ah, maaf. Silahkan lanjutkan pekerjaan kalian.”

    Kyuhyun dan Alicia mulai berbincang mengenai pekerjaan mereka. Selama hal itu terjadi, Je Wo tampak menguap bosan ditempatnya. Gelagat Alicia juga sudah tidak lagi mencurigakan dimatanya, meski Je Wo sesekali mendapati wanita itu tampak senang memandangi wajah suaminya.

    Je Wo sama sekali tidak cemburu, sungguh. Wanita itu memercayai suaminya. Lagi pula, cemburu bukanlah gaya seorang wanita sepertinya. Hanya saja, Je Wo terlalu sensitif terhadap kata pengganggu. Shin Je Wo amat sangat tidak menyukai apa yang telah menjadi miliknya, disentuh oleh orang lain.

    Dan melihat bentuk luar Alicia saat ini, Je Wo sudah dapat membaca apa yang sedang dipikirkan olehnya.

    Ingin menggoda suamiku, hm? Kau perlu mendatangi puluhan dokter untuk mengubah wajahmu sama persis sepertiku. Kau pikir Cho Kyuhyun akan tergoda begitu saja padamu, hah?

    Kemudian, ketika Je Wo mencermati bagian hidung Alicia dengan teliti, tawa kecilnya mulai terdengar disana, dan lagi-lagi membuat kedua orang itu menoleh padanya.

    “Ada apa?” tanya Alicia dengan raut wajah terganggu. Mungkin, wanita itu tahu kalau sejak tadi, Je Wo terus mengamatinya.

    “Tidak,” Je Wo menggeleng kecil sembari tersenyum. “Aku hanya… eum, kuharap kau tidak marah. Tapi, hidungmu sama persis seperti hidung salah satu temanku.”

    Wajah Alicia sontak memucat seketika, dan hal itu semakin membuat Je Wo menyeringai puas.

    “A-apa maksudmu?”

    “Temanku pernah melakukan operasi pelastik disalah satu rumah sakit Seoul. Dan sungguh, hidungnya sangat mirip denganmu. Apa kau… juga melakukannya disana?”

    Meski saat mengatakannya, Je Wo memasang wajah yang begitu polos, tapi Alicia sudah merasa terlalu malu. Je Wo benar, satu bulan yang lalu, Alicia memang baru saja melakukan operasi dibagian hidungnya, setelah dia berhasil mengubah beberapa bentuk tubuhnya yang lain.

    Kyuhyun yang mengerti maksud Je Wo segera memelototi wanita itu. Tapi Je Wo sama sekali tidak peduli, dan bahkan semakin gencar memainkan perannya.

    “Aku hanya menebak saja. Jangan terlalu dipikirkan.” Sambungnya dengan senyuman manis.

    Alicia berdehem pelan seraya mencoba untuk tersenyum wajah meski gagal, “Kau benar, aku memang baru saja melakukannya disana. Nona Shin, apa kau_”

    “Ups, bukan Nona Shin, aku sudah menjadi Nyonya Cho sejak enam tahun yang lalu. Iya, kan, Tuan Cho?” kedua mata Je Wo melirik kearah Kyuhyun yang memberenggut masam. Tapi ketika Alicia menoleh padanya, Kyuhyun cepat-cepat tersenyum kecil hingga membuat Je Wo menahan tawa.

    “Oh, ya, Nyonya Cho. Apa menurutmu, melakukan Operasi pelastik terlalu memalukan?”

    “Tidak juga.”

    “Nah, karena itulah. Aku hanya ingin semakin mempercantik diriku, itu saja. Jadi, tidak ada salahnya, bukan, kalau aku melakukannya?” Alicia menyunggingkan senyuman angkuhnya.

    Je Wo mengangguk yakin, kemudian melirik Kyuhyun yang sejak tadi tampak acuh pada percakapan kedua wanita itu. “Sayang, apa aku boleh melakukannya?”

    “Melakukan apa?”

    “Operasi pelastik, mempercantik diriku.”

    “Tidak.” Jawab Kyuhyun tegas, seakan lupa pada sosok wanita disampingnya.

    “Kenapa?”

    Bibir Kyuhyun menipis jengah, “Untuk apa kau melakukannya kalau kau sudah secantik sekarang? Lagi pula, hanya orang yang terlihat tidak menarik saja yang akan melakukan hal itu. Dan kau, sudah terlalu dan sangat menarik dimataku. Lupakan niat bodohmu itu.” cecarnya.

    Senyuman penuh kemenangan Je Wo mengembang saat melihat Alicia ternganga menatap Kyuhyun yang masih belum menyadari perkataannya.

    “Kyuhyun sshi, maksudmu…”

    “Oh, tidak-tidak,” sela Kyuhyun kaku. “Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya…” Kyuhyun melirik Je Wo kesal sembari memijat dahinya. Wanita itu memang selalu berhasil mendapatkan seluruh keinginannya. “Hanya mengutarakan pendapatku saja.”

    Alicia bungkam. Wajahnya benar-benar terlihat kesal. Apa lagi saat melihat Je Wo yang terus menerus menahan tawa.

    “Maafkan suamiku, Nona Alicia. Dia memang selalu lost control pada semua hal yang berkaitan denganku.”

    “Apa karena hal itu juga, Kyuhyun selalu menyembunyikanmu dari public.” Alicia sengaja menyeringai culas pada Je Wo.

    “Menyembunyikanku?” Je Wo membeo.

    “Kau tidak tahu? Semua orang selalu bertanya-tanya tentang dirimu.”

    “Benarkah? Wah, aku tidak tahu kalau aku sepopuler itu.”

    Tawa tertahan Alicia menggema disana. “Bukan, Nyonya Cho. Bukan karena kepopuleranmu, tapi… lebih karena sikap angkuhmu.”

    Senyuman Je Wo sedikit menyurut kala itu.

    “Nona Alicia, sebaiknya kita melanjutkan pekerjaan kita.” Tegur Kyuhyun. Pria ini mulai kesal pada kedua wanita itu. Dia sudah seperti orang bodoh yang harus mendengarkan percakapan konyol diantara mereka.

    “Kita bisa melanjutkannya lain kali, Kyuhyun sshi. Lagi pula, aku tidak mau membuang kesempatan emas karena telah bertemu dengan istrimu.”

    “Haruskah aku tersanjung?” cetus Je Wo.

    “Silahkan.”

    Kedua wanita itu saling bertatap sengit.

    “Apa kau terkejut dengan pernyataanku, Nyonya Cho?”

    Je Wo melipat kedua tangannya didepan dada, memasang pose angkuh diatas kursi kerja Kyuhyun. “Tentang?”

    “Keangkuhanmu.”

    “Oh, sama sekali tidak.”

    Alicia mendengus pelan, sulit sekali baginya untuk mengintimidasi wanita itu.

    “Kalau kau ingin tahu, kau bisa mebuka beberapa artikel mengenai dirimu. Aku yakin, kau bisa mengetahui semuanya disana.”

    Je Wo memainkan ujung rambutnya dengan jari telunjuk, “Sayang sekali, aku tidak memiliki banyak waktu untuk memeriksanya. Tapi, sepertinya, anda sering memeriksa artikel tentangku, ya? Wah, lagi-lagi aku tersanjung.” Imbuhnya.

    “Apa kau juga selalu tersanjung, pada sikap suamimu yang selalu menyembunyikanmu bagaikan seorang… wanita simpanan?”

    Untuk pertanyaan ini, Je Wo membisu sesaat. Dia memandangi Alicia dengan wajah tanpa ekspresi yang tentu saja, dibalik itu tersimpan sebuah kemarahan.

    “Maksudmu apa?” suara rendah Kyuhyun membuat Alicia memutar wajahnya kesamping, dan cukup tersentak dengan raut wajah berbahaya yang Kyuhyun berikan. “Wanita simpanan?”

    “Ya,” jawab Alicia dengan suara bergetar. “Itu menurut beberapa orang yang selalu membicarakan istrimu.”

    “Termasuk kau?” sambung Je Wo.

    Alicia tampak pucat pasi menemukan wajah Je Wo dan Kyuhyun yang seakan siap menerkamnya.

    Kyuhyun beranjak dari tempatnya dan menghampiri Je Wo, sedikit memunggungi Alicia yang memerhatikan mereka. Pria itu tersenyum kecil pada Je Wo, kemudian mengelus wajah wanita itu dengan jemarinya.

    “Dia milikku. Secara pribadi, dan tidak akan kuperlihatkan pada siapapun diluar sana,” Je Wo membalas perkataan Kyuhyun dengan senyuman kecil. Kemudian Kyuhyun berbalik untuk menatap Alicia. “Kau pernah memiliki sesuatu yang mahal, indah, dan tidak akan mau kau bagi, bahkan kau perlihatkan pada orang lain karena tidak ingin ada yang merebutnya darimu, Nona Alicia?”

    Alicia membeku ditempatnya.

    “Seperti itulah Shin Je Wo bagiku. Bukan seperti apa yang kau dan beberapa orang itu tuduhkan padanya.”

    “Nah, kau bisa mengatakan itu pada yang lain atau membuat artikel tentang apa yang baru saja suamiku katakan padamu.” sambung Je Wo yang berada diatas angin.

    Rasanya, wajah Alicia sudah tidak berbentuk lagi saat ini. Hingga setelah ia memaksakan senyuman kakunya, Alicia segera berdiri dan beranjak pergi.

    “Kurasa, pertemuan kita untuk hari ini sudah cukup, Kyuhyun sshi. Permisi.”

    Langkah Alicia terlihat sangat terburu-buru ketika keluar dari ruangan Kyuhyun. Dan setelah wanita itu benar-benar tidak terlihat, tawa lepas Je Wo menggema disana.

    “Sudah puas, Nyonya Cho?” desis Kyuhyun yang sudah memandang Je Wo dengan tatapan kesalnya. Je Wo mengangguk kuat padanya dan semakin membuat Kyuhyun mengerang. “Kalau saja wanita itu membawa masalah ini kedalam pekerjaannya, aku akan membuat perhitungan padamu.”

    Je Wo mencibir pelan, menegakkan tubuhnya untuk menghampiri Kyuhyun, “Memangnya apa salahku? Yang baru mempermalukannya adalah kau. Kau menganggapnya tidak menarik karena melakukan operasi pelastik. Kau juga yang membuatnya hampir mati ketakutan dengan wajah penuh intimidasi itu.” telunjuk Je Wo melayang tepat didepan wajah Kyuhyun yang segera menepisnya kasar.

    “Kau pikir, karena siapa aku mengatakan semua itu?”

    Je Wo mengangkat bahunya acuh. Lalu menduduki meja kerja Kyuhyun dengan santai. Kedua matanya menatap Kyuhyun dengan binaran menggoda. “Tapi… apa yang tadi kau katakan itu benar? Kau menganggap aku begitu berharga, ya?”

    Kyuhyun tersenyum miring, menghampiri Je Wo dengan meletakkan kedua tangannya hingga bertumpu diatas meja, dikedua sisi tubuh wanita itu. “Menurutmu?”

    “Manisnya…” gumamnya Je Wo sembari mencubit gemas kedua pipi Kyuhyun hingga pria itu menatap datar padanya.

    “Kau tidak perlu terpengaruh dengan tuduhan Alicia.”

    Suara Kyuhyun tiba-tiba berubah rendah saat mengatakan kalimat itu. Je Wo menarik kedua tangannya. “Tuduhan apa?”

    “Wanita simpananku.” Jawab Kyuhyun pelan dan sedikit ragu, seperti takut membuat Je Wo tersinggung.

    Je Wo membisu sejenak sebelum mendesah pelan. “Kau memiliki istri lain diluar sana?”

    “Tidak! Kenapa kau berpikiran begitu?” saking terkesiapnya, tubuh Kyuhyun terlempar kebelakang dan matanya melebar memandangi Je Wo.

    “Kalau begitu, kenapa kau pikir aku akan terganggu dengan tuduhan wanita sialan itu? Wanita simpanan? Yang benar saja! Sejak kapan aku menjadi wanita simpananmu? Hanya karena aku tidak pernah kau perlihatkan sesukamu didepan semua orang, maka mereka menuduhku seperti itu. Cih, picik sekali. Lagi pula, aku memang tidak suka jika harus terlalu sering menamanimu menghadiri semua acara yang kau sebut penting untuk_”

    Chup

    “Kau bicara terlalu banyak.”

    Je Wo mengerjapkan matanya berkali-kali.

    “Kau_”

    Chup

    “Jangan bicara lagi.” Desis Kyuhyun. Pria itu menyipitkan kedua matanya penuh ancaman.

    Je Wo memutar bola matanya malas. “Bilang saja kau ingin menciumku.”

    “Nah, itu kau tahu.”

    Dan sedetik setelahnya, bibir Kyuhyun telah menyapu permukaan bibir Je Wo. tubuhnya condong kedepan, lengannya mendekap pinggang wanita itu, dan Kyuhyun memegangi rahang Je Wo. Bibir mereka berpagutan, lidah mereka saling menyapa penuh sensual.

    Kedua kaki Je Wo telah melingkar sempurna pada tubuh Kyuhyun, sedangkan kedua lengannya mendekap kepala pria itu seerat mungkin.

    “Kau cemburu padanya?” bisik Kyuhyun, selagi bibirnya bekerja dibalik telinga Je Wo.

    “Alicia?” sahut Je Wo dengan desahan tertahan kaena setelah itu, Je Wo menarik kepala Kyuhyun menjauhi wajahnya, dan beralih mengecupi setiap jengal leher jenjang pria itu.

    “Hm…” kedua mata Kyuhyun mulai terpejam, menikmati setiap sentuhan liar Je Wo yang mulai mendominasi dirinya.

    “Haruskah?” kali ini, Je Wo telah berhasil melonggarkan ikatan dasi Kyuhyun. Pertanyaan yang baru saja dilontarkannya membuat Kyuhyun sedikit berjengit.

    “Haruskah… membuka pakaianku? Disini?” timpalnya terengah-engah.

    Dengan perasaan geli, Je Wo menggigit permukaan leher Kyuhyun yang nyaris memekik nikmat, “Dasar mesum.” Umpat Je Wo dan segera menyudahi permainanya. Dia menarik wajahnya kebelakang, menyeringai penuh kepuasan pada Kyuhyun yang tampak sangat menginginkannya, lalu menyapukan kecupan ringannya diatas bibir pria itu.

    “Kenapa berhenti?” rajuk Kyuhyun tak terima.

    “Karena kita masih berada di kantormu.”

    “Dan kalau kita berada dirumah?”

    “Aku pasti sudah melucuti seluruh pakaianmu tanpa sisa.”

    “Kalau begitu kita akan segera pulang.”

    Je Wo terbahak kuat mendengar geraman Kyuhyun. Terlalu mudah baginya untuk membangkitkan gairah pria itu hanya dengan sebuah ciuman.

    “Kau terlihat berantakan.” gumamnya. Lalu menyisiri rambut Kyuhyun dengan jemarinya yang memang sudah berantakan akibat kedua tangannya.

    “Kuharap kau tidak lupa siapa yang menyebabkannya.” Rutuk pria itu.

    Je Wo menangkup wajah Kyuhyun dengan kedua tangannya, memiringkan wajah pria itu kesana kemari bagaikan sebuah maninan, “Kau sangat menginginkannya?” bisiknya menggoda. Kyuhyun memberenggut malas. “Satu ciuman lagi, bagaimana?”

    “Dua.”

    “Terlalu memakan waktu.”

    “Kalau begitu tiga.”

    “Kenapa menjadi semakin banyak.”

    “Baiklah, empat ciuman lagi.”

    Saat Kyuhyun mengecupi bibirnya berkali-kali, bibir Je Wo tersenyum lebar.

    “Omo?”

    Kyuhyun segera melepas bibirnya yang tadi masih menempel diatas bibir Je Wo, ketika sebuah suara terdengar dari belakang tubuhnya.

    Saat Kyuhyun dan Je Wo serentak menoleh keambang pintu, mereka mengernyit bersamaan melihat Rae Na dan Hyunje berdiri disana dengan tubuh kaku, dan dengan sebelah telapak tangan Rae Na yang menutupi kedua mata Hyunje.

    “Kau menutup mata putraku, sementara kau membiarkan kedua matamu menatap puas kearah kami.” cibir Je Wo datar.

    “Ups.” Sontak Rae Na menutupi kedua matanya juga dengan sebelah telapak tangannya yang lain.

    Je Wo memutar bola matanya malas, sedangkan Kyuhyun menahan senyuman gelinya. Pria itu membantu Je Wo turun dari mejanya, merapikan penampilan wanita itu sejenak, sebelum kembali menatap kedua manusia yang masih berdiri mematung ditempatnya.

    “Sudah, buka mata kalian berdua.”

    Rae Na menatap malu-malu kearah Je Wo dan Kyuhyun, sementara Hyunje terlihat merengut masam pada mereka.

    “Kenapa dengan wajahmu?” tanya Je Wo.

    “Kenapa kalian tidak bertengkar seperti biasanya?” balasnya dengan sungutan. Tentu saja, dia mengharapkan sebuah tontonan yang menghibur baginya, tapi yang didapat malah pertunjukan romantis yang membuatnya mual.

    “Heish!” desis Rae Na pada Hyunje. “Kau ini!”

    “Ommaaaaa,” Hyunje merajuk dan menghampiri Je Wo. “Aku bosan disini. Kupikir, dengan menyuruh Omma datang dan mendapati Nona Alicia yang sedang merayu Appa, Omma akan mengomeli Appa seperti biasanya. Ternyata dugaanku salah, kalian malah bermesaraan. Menyebalkan!”

    Kyuhyun sedikit merunduk untuk mencubit gemas kedua pipi Hyunje. “Dasar bocah tengil. Kau yang menyebalkan.”

    “Appa!!” pekiknya.

    “Dan kau, Jung Rae Na,” Rae Na yang mendengar namanya disebutkan oleh Kyuhyun sontak membeku. Kyuhyun menyipitkan kedua matanya. “Kau juga ikut andil membawa Je Wo kemari?”

    “Tidak-tidak, Hyunje yang melakukannya.” Belanya.

    “Tapi kau yang meminjamkan ponsemu padaku, Noona.”

    “Kau yang memaksaku.”

    “Seharusnya kau bisa menolak permintaan anak kecil yang polos seperti itu.”

    “Polos kepalamu?!”

    “Oh, Appa, lihat, dia berbicara tidak sopan padaku.”

    Kedua mata Rae Na melebar, dia menggigit lidahnya kuat saat melihat Kyuhyun semakin tajam menatap padanya.

    “Presdir, aku… itu, kan…”

    “Hahahaha,” Hyunje memegangi perutnya saat tertawa puas melihat wajah pucat Rae Na. “Pecat saja dia, Appa.”

    “Yah, Cho Hyunje!”

    “Lihat, dia membentakku lagi, Appa.” imbuh Hyunje, semakin membuat Rea Na memucat. Hyunje memang sangat senang menggoda dan menjahili Rae Na yang memang sangat mudah untuk dijahili.

    “Jung Rae Na.” panggil Kyuhyun dengan suara dinginnya.

    “Y-ya?”

    “Kau boleh pulang lebih cepat.”

    “Benarkah?!” pekiknya girang.

    Kyuhyun mengangguk sekedar, “Aku juga akan pulang sebentar lagi. Lagi pula, tidak ada pekerjaan yang terlalu penting yang harus kau selesaikan hari ini. Jadi, kau boleh pulang lebih cepat.” Suruh Kyuhyun.

    “Huwaaa terima kasih, Presdir.” Teriaknya senang, lalu menjulurkan lidahnya pada Hyunje yang memberenggut kesal padanya sebelum berbalik pergi meninggalkan keluarga kecil itu.

    “Omma,” bocah itu menarik-narik jemari Je Wo. “Aku juga mau pulang. Disini membosankan.”

    “Yasudah, ambil tasmu.”

    “Appa,” panggil Hyunje. “Bawa tasku.”

    Kyuhyun yang sedang membereskan meja kerjanya, mendelik murka pada Hyunje. “Enak saja kau. Bawa tasmu sendiri.”

    “Tanganku sakit sekali.” keluhnya dan berpura-pura melemaskan kedua tangannya hingga punggungnya membungkuk melankolis.

    “Lima menit yang lalu tanganmu masih baik-baik saja.” Cibir Kyuhyun.

    Bocah itu memberenggut, “Appa, kau tidak sayang padaku lagi, ya?” rajuknya.

    Je Wo dan Kyuhyun sama-sama menjulurkan lidah mereka jengah. Setiap kali bocah itu berusaha bersikap manis untuk menarik simpati orang lain, kedua orang itu pasti akan merasa mual.

    “Sudahlah, Cho Kyuhyun, bawa saja. Telingaku sakit mendengar suaranya.” Cetus Je Wo dan membuat Kyuhyun mendesis kesal.

    Bocah itu tersenyum senang, lalu merentangkan kedua tangannya. “Omma, gendong aku.”

    “Tidak mau.”

    “Ommaaaaa.” Rengeknya.

    “Sudahlah, Shin Je Wo, gendong saja. Telingaku sakit mendengar suaranya.” Balas Kyuhyun, meniru kalimat yang baru saja Je Wo katakan padanya. Dia tersenyum puas ketika Je Wo memelototinya.

    Saat Je Wo menuruti keinginan Hyunje, bocah itu tersenyum manis padanya, dan mengecup singkat dahi Je Wo.

    “Menjijikkan.” Gumam Kyuhyun.

    Je Wo dan Hyunje melirik kesal padanya.

    “Ayo, kita keluar lebih dulu, tinggalkan saja pria ini.”

    Hyunje mengangguk setuju dengan wajah polos. Gemas melihat ekspresi wajah putranya, Je Wo menghadiahi kecupan-kecupan ringannya diatas bibir Hyunje.

    “Ah… Omma, jangan menciumku disana.” Tolak Hyunje.

    “Kenapa?” tanya Je Wo tidak mengerti.

    Hyunje menyapu bibirnya dengan punggung tangan, “Omma baru saja berciuman dengan Appa. Itu berarti, ada bekas bibir Appa yang menempel diatas bibir Omma,” kemudian, dengan wajah menjengkelkan, Cho Hyunje melirik kearah Kyuhyun dan menarik sedikit bibirnya keatas. “Menjijikkan.” Gumamnya, persis seperti apa yang Kyuhyun katakan sebelumnya.

    Fin.

    Kemana Eunje?

    Anggap ajah Eunje lagi bobok dirumah😀

    Cerita ini bukan bagian Cho’s family seperti biasanya.

    Dan sebenarnya, FF ini udah ada sejak berbulan-bulan lamanya, Cuma karena aku males nyelesain endingnya, jadilah dia Cuma menetap didalam laptop.

    Oke, sampai jumpa di FF selanjutnya…

    Ami
    Share this:

    Tekan IniTwitterFacebook

    Terkait

    Cho Hyunje Brithdaydalam "comedy"

    [Freelance] You are Mine Chapter 3/NC-17dalam "chapter"

    (squel SNC) honeymoondalam "family"
    cho's family
    Navigasi pos
    « Basketball and Sweet Kissing
    Between Love and Lust »
    226 thoughts on “Another Story”
    Comment navigation
    ← Older Comments

    rae kyuna
    Desember 19, 2014 pukul 6:13 pm

    Wkwkwk bener2 keluarga evil.
    Balas
    mimil
    Desember 21, 2014 pukul 12:29 am

    Kata-kata kyuhyun oppa romantis banget tentang operasi plastik sampe gg bsa berkutik si alicia park nya….
    Balas
    YooYooe
    Desember 28, 2014 pukul 12:51 pm

    Ya ampun hyunje, bocah kecil kek gitu kalo ngomong bikin orang laen emosiii mulu. Ckckck! Mulut keluarga cho emang ga ada yg bener.
    Merinding eiy waktu kyuhyun belain je wo didepan nona alicia park. Aaahh! Senengnya kalo punya suami kek kyuhyun, meskipun nyebelin tp sayangnya kebangetan
    Balas
    Maya Sherlita
    Januari 15, 2015 pukul 11:01 pm

    Bener-bener ya cho hyunje ini… sepertinya jiwa evilnya kyuhyun benar-benar mengalir di jiwa hyunje….. bikin orang lain emosi aja nih bocah sekaligus ngegemesin hahaha
    Balas

    Ping-balik: Library | Shin Je Wo
    jejewoon3424
    Januari 29, 2015 pukul 4:09 pm

    bisnis itu pekerjaan yang bisa membuat kita kaya wkw
    Balas
    hyun hyerin
    Februari 10, 2015 pukul 4:11 pm

    woah ini cerita lain??? tp keren perlu nih dibuat sperti cho’s family
    Balas
    Diah Ayha
    Februari 16, 2015 pukul 12:36 pm

    hahahah

    shin jewo emang gak dch tandingan na..
    Balas
    sabela swan
    Maret 15, 2015 pukul 3:48 am

    Wa..haha…ha..ha..baca ff ni bkin ktawa mulu pa lagi ma tingkah tengil hyunje..gokil bgt tu bocah, gomawo thor…
    Balas
    EmlyDavynKyu
    Maret 31, 2015 pukul 7:51 am

    hyunje jangan nakal dong nak masak malah pengen kedua orangtuanya berantem😀
    Balas
    via
    April 25, 2015 pukul 7:51 am

    hahaaha keluarga kyuje mengagumkan, gak ana,ayah sama ibu sama2 gokil dan konyoll, fun banget ceritanya
    Balas
    Rin eun
    Mei 11, 2015 pukul 4:52 am

    Hahaha,hyunje cerdas bgt ya??
    Sampe nganga aq bacanya..
    Good thor ceritanya..
    Pengen juga punya suami kyk kyu oppa,syng bgt ma istrinya..:D
    Balas
    FriendsLee
    Mei 12, 2015 pukul 12:52 am

    Anak2nya Kyupa aneh semua. Persis kek bapaknya😀
    #ditabokKyupa.😉
    Balas
    selvy
    Juni 23, 2015 pukul 9:39 pm

    ahahaha shin je wo aksinya keren..
    selalu hyunje datang untung menghancurkan keromantisan ortunya..
    haha bnr2 anak durhaka malah pgn liat ortunya ribut buat kesenangan pribadi..
    Balas
    choijihyun203
    Juli 15, 2015 pukul 5:07 am

    Yaampun. Kyuhyun so sweet banget waktu belain je wo di depan alicia. Keluarga gila bener bener deh. Kesian sekretarisnya kyuhyun itumah. Masa diakalin terus sama anak kecil macem hyunje.
    Balas
    Liezaa
    Agustus 10, 2015 pukul 6:36 am

    hahaha… ayah ibu sama anak sama² somplak😀
    Balas
    dian miranda
    Agustus 17, 2015 pukul 3:47 pm

    Cerita yang menarik !!
    Tadinya aku pikir kyuhyun itu gak cinta sama istrinya,tapi gak nyangka kalo sikap Je wo itu sama sekali bukan masalah buat kyuhyun.
    Hyunjae beneran keterlaluan !!
    Jail banget jadi bocah.
    Balas
    HanKyu
    Agustus 27, 2015 pukul 10:12 am

    Aigo biasa’a aq paling males bca ff yg oneshot aq lbh suka ff yg chapter, tp x ini wah bngt, gla cho hyunje kau benar2 mewarisi sifat appa mu, Daebak2 Daebak di lanjut terus berkarya’a, Semangat ,,,,,
    Balas
    Tatik
    September 17, 2015 pukul 2:55 pm

    Kupikir ini ada kaitanya dengn cho’s family.trnyta beda,, kyu krja kantoran .
    Tpi ttep daebak crtnya
    Balas
    della ariyani
    Oktober 20, 2015 pukul 1:53 pm

    Sweet bnget
    Ff nya bagus😀 hyunje nya bkin rae na kesel aja haha
    Balas
    GyuHae
    Februari 22, 2016 pukul 3:50 am

    Aduhhh hyunje ampun, tamu ayahny dipanggil ahjumma, alamakkkkk. Ada typo, ”Ponsemu,” L nya kurang kak.
    Balas
    s`oyou
    Maret 11, 2016 pukul 9:56 am

    mereka itu kelauarga yg harmonis, bahagia aneh ada aja tingkahnya
    Balas
    fazat_arifa
    April 30, 2016 pukul 6:02 pm

    Hyunje musuh banget ama kyu lah wkwk
    Balas
    Galuh putry
    Juni 8, 2016 pukul 10:37 pm

    Haha.. Ya ampun, ngakak eoh baca part ini. Hihi
    Balas
    sindy sin
    Juni 25, 2016 pukul 12:58 pm

    hhhmm bener2 kluarga aneh-_-
    astga tuh umur hyunje brpa sih omongannya itu lho slalu gk mau kalah mlah bikin ktawa tawa
    favoritku deh cho family ini
    Balas
    jihannatashamei
    Juli 11, 2016 pukul 1:05 am

    Wahahah cute bangett xD
    Ga bosen bosennya aku ngubek library di blog ini .. ada hyunje yang keras kepala , kyuhyun sama jewo yang ga mau ngalah :’v eunje yang gatau apa apa tapi ikut terkontaminasi xD
    Balas

    Comment navigation
    ← Older Comments
    Tinggalkan Balasan
    You need something?
    Cari
    Scroll Text – http://www.marqueetextlive.com

    doctor ratings
    date
    April 2014 S S R K J S M
    « Mar Mei »
    1 2 3 4 5 6
    7 8 9 10 11 12 13
    14 15 16 17 18 19 20
    21 22 23 24 25 26 27
    28 29 30
    1924657_622993767772487_941377913_n
    The Wedding-17072012
    969609_536097769760132_1680904326_n
    LPO
    Cho Kyuhyun-880203
    Super Junior Kyuhyun SPAO SS 2013
    Shin Je Wo-920302
    450px-Kang_Min_Kyung
    Cho Hyunje-080907
    BEH8fs1CQAA6Ok-
    Cho Eunje-111204
    tumblr_m0nz0nXaQF1qctfhvo1_500
    Cho’s Family
    BRrQVV5CYAAuzGw
    IMG_40213781891251
    1069420_242701169251362_1182685196_n
    1234873_240018856186260_126121531_n
    Pos-pos Terbaru

    Relationship
    Open PO Affair
    [Coming Soon] Affair Love
    Cho Hyunje
    Mine

    Top Posts & Halaman

    Library
    Relationship
    [17/+] Love Story of Olivia
    Cho Hyunje
    [Full Version] Saranghae Nyonya Cho!

    Cast
    Abbigail cho's family Cho hyunje choi eunjin choi siwon cho kyuhyun Eunhyuk Han Cheonsa Jung ha won kim eunmi kim hyeri kim ryeowook kris Lee Dong Ha lee donghae lee family's lee hyukjae shim changmin shin hye kyung shin je wo Soo Yoon So super junior Yesung
    Readers
    Shin Je Wo di Open PO Affair
    jihannatashamei di Relationship
    lisa di Relationship
    Cyghyun di Open PO Affair
    mingxia di Mine
    Shin Je Wo Blog

    Click to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Bergabunglah dengan 1.917 pengikut lainnya

    Kicauan Author

    Kamu DM ajah langsung ya twitter.com/alanisakaseh44… 1 day ago
    Di bajak gimana? Aku gak bisa buka fb lagi udah hampir setahun. Memangnya kenapa? twitter.com/ranakwang94/st… 1 day ago
    Penampakan My Love For You https://t.co/uy8Fl5gADH 1 day ago
    Itu semacam penghinaan yang sangat lawak wahahahaha 2 weeks ago
    Siang bolong. Tiba-tiba sang mantan ngetag foto istrinya yang lagi hamil ke saya😄 2 weeks ago

    Collection Fanfiction of Shin Je Wo
    My Visitor
    Flag Counter
    Blog di WordPress.com.

    Mengikuti

    Lewat ke baris perkakas

    Situs Saya
    âme sœurketukkanpalu.wordpress.com
    + Tambahkan Situs Baru
    Statistik Statistik
    Paket
    Gratis
    Terbitkan
    Pos Blog
    Tambah
    Laman
    Tambah
    Personalisasi
    Tema
    Penyesuaian
    Menu
    Konfigurasikan
    Berbagi
    Orang-orang
    Tambahkan
    Domain
    Tambah
    Pengaturan
    Pembaca
    Stream
    Situs yang Diikuti
    Kelola
    Temukan
    Cari
    Saran
    Kesukaan Saya

    Aru@youarubeautiful

    Profil
    Profilku
    Pengaturan Akun
    Riwayat Tagihan
    Keamanan
    Notifikasi
    Spesial
    Dapatkan Aplikasi
    Langkah Berikutnya
    Bantuan

    Log Keluar
    :

  12. Yaampun eonn sorii komen sebelumnya eror gitu >.<
    Sikapnya Hyunjae persis sama dengan Eomma appa nya ya hahahaha.
    Suka dengan keluarga ini.
    Fighting eonn!!<3

  13. aku boleh gk nertawain *tamu pentingnya* kyuhyun hahaha…..
    sumpah aku puas banget jewo ngomong gt ke dia, aku merasa hyunje terlalu jahat/nakal kkkkk….#Abaikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s