Romantic Moment

1966848_452736828192687_896733599_n

 

 

 

 

“Tidak pulang, LAGI?!”

            Kali ini Je Wo tidak lagi menahan kekesalannya pada Kyuhyun yang sedang meneleponnya. Pasalnya, lagi-lagi suaminya itu mengatakan tidak bisa pulang malam ini karena jadwalnya yang memang lebih padat dari biasanya, dan hal ini sudah terjadi sejak satu minggu yang lalu.

            Ya, sejak satu minggu ini Kyuhyun memang tidak pernah pulang kerumah. Hanya memberi kabar lewat telepon ataupun Video Call. Mulanya Je Wo memberikan pengertiannya pada kesibukan Kyuhyun. Tapi, semakin hari, nampaknya wanita itu mulai merasa sepi tanpa keberadaan suaminya, atau lebih tepatnya sedang merindukan pria itu.

            Meski malu untuk mengakuinya. Tapi jauh didalam hati Je Wo, ia merasa sangat kehilangan sosok Kyuhyun. mendengar suaranya atau melihat wajah suaminya itu lewat ponsel saja tidaklah cukup baginya. Je Wo ingin melihat Kyuhyun secara langsung, ingin melihat Kyuhyun tersenyum seperti biasanya padanya, ingin memeluk Kyuhyun, ingin membicarakan apa saja pada suaminya itu sebelum tidur seperti biasanya.

            Besok masih ada jadwal drama musikal, sayang.

            “Lalu apa hubungannya dengan kau yang tidak bisa pulang, huh? Apa kau sedang ingin berlatih berciuman dengan salah satu Hyungmu agar adegan ciumanmu tidak seburuk itu?!”

            MWO?!

            “Kenapa kau tidak berlatih denganku saja?!”

            Nyonya Cho.

            “Kau tahu sudah berapa lama kau tidak pulang?”

            Aku tahu.

            “Satu minggu, Cho Kyuhyun, bodoh!”

            Sudah kubilang aku tahu.

            “Dan kalau kau tidak pulang malam ini, aku akan segera mencari laki-laki lain diluar sana untuk menemaniku tidur!”

            YAH! AKU AKAN MEMBUNUHMU KALAU KAU BERANI MELAKUKANNYA!

            “Aku juga akan membunuhmu kalau kau masih tidak pulang kerumah malam ini!”

            Hyunje menggantungkan sebelah tangannya yang sedang memegang pensil, menatap Je Wo dengan mulut menganga. Eunje yang duduk di sudut sofa mengerjap-erjapkan mata bulatnya, menatap Je Wo yang tampak tersengal-sengal setelah memutuskan panggilannya dan membuang ponselnya keatas sofa.

            Melihat bagaimana murkanya Je Wo saat berbicara pada Kyuhyun melalui ponsel, kedua bocah itu memang sangat terkejut. Apa lagi dengan kata-kata tak senonoh yang sempat Je Wo ucapkan, dan sedikit banyak dapat dimengerti oleh Hyunje yang sedang duduk dibalik meja kecil didepan televisi untuk mengerjakan tugas sekolahnya.

            “Omma,” panggil Hyunje dengan wajah yang masih terlihat tercengang. “Kenapa Omma marah-marah seperti itu pada Appa?”

            “Aku tidak marah-marah padanya.” ketus Je Wo melipat kedua tangannya. Kekesalan masih tampak terlihat diwajahnya, apa lagi bibirnya yang terkatup erat.

            “Appa Appa Appa Appa.” Eunje meracau tanpa henti setelah tangannya berhasil menyambar ponsel Je Wo, dan menempelkan benda itu ketelinganya meski dengan keadaan terbalik. Ia berlaku seakan-akan sedang menelepon Kyuhyun.

            Je Wo mencibir jengah, “Sekalipun dia mendengarmu, pria sialan itu tetap tidak akan pulang malam ini.”

            Eunje merengut masam mendengar cibiran Je Wo. Tingkah Je Wo beberapa saat yang lalu masih terekam dalam memori otaknya hingga tiba-tiba saja, ponsel yang sedang dipegang olehnya, Eunje campakkan diatas sofa, kemudian disusul oleh racauan khas seorang Cho Eunje.

            “Omma tatatatatata….”

            “Dia bilang Omma menyebalkan.”

            Je Wo melirik Hyunje sekilas, bocah itu sudah kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat terhenti. “Sejak kapan kau menjadi penerjemah bayi?”

            “Eunje bukan bayi lagi, Omma. Tapi balita. Masa itu saja tidak tahu.” Jawabnya santai tanpa memandang Je Wo.

            Je Wo memutar bola matanya malas, menatap Eunje yang masih terus meracau seperti sedang memarahinya dengan wajah sungguh-sungguh. Sebenarnya, melihat tingkah Eunje seperti ini, Je Wo sudah ingin tertawa. Euje terbilang sangat cerewet, bahkan Hyunje tidak secerewet itu saat masih kecil.

            Kalau saja keinginan Eunje tidak terpenuhi, bocah itu pasti akan menjadi sangat pembangkang, melebihi Hyungnya. Dia akan membuang apa saja yang berada didekatnya, mengomel seperti saat ini, menolak ajakan Je Wo meski hanya sekedar menggendongnya. Dan hal terakhir yang ia lakukan adalah menangis hingga suaranya serak, menunggu Kyuhyun pulang untuk menggendongnya, barulah tangisannya berhenti. Ya, bocah itu hanya akan takluk jika Kyuhyun yang menanganinya. Karena itu, Je Wo tidak mau mengambil resiko dengan membuat bocah itu merajuk.

            “Arraseo Arraseo… Cho Eunje sedang mengomel, eo?” Je Wo sengaja tersenyum lebar pada Eunje, bermaksud menjelaskan pada bocah itu kalau dia tidak sedang memarahinya.

            Tapi, hal yang berbeda ditunjukkan pada Eunje. Bocah itu malah menjulurkan lidahnya keluar, mengeluarkan suara yang berisik beserta air liurnya yang menyemprot diatas sofa.

            “Yah, Cho Eunje!” teriak Je Wo dan disusul dengan tawa bahagia Hyunje.

            “Nona,” suara Kim Ahjumma tiba-tiba mengintrupsi kegiatan mereka. “Tuan menelepon dan ingin berbicara dengan anda.” Wanita itu tampak membawa telepon tanpa kabel ditangannya.

            Je Wo menyringai kecil, “Katakan padanya aku sedang bersiap-siap untuk keluar mencari pria lain.” Suaranya sengaja ia perdengarkan dengan kuat, agar Kyuhyun dapat mendengarnya.

            Kim Ahjumma mengerutkan dahinya, tidak mengerti kemana arah pembicaraan Je Wo. Tapi ketika Je Wo memberi isyarat padanya untuk mematikan panggilan Kyuhyun, barulah Kim Ahjumma mengerti dan memberi anggukan singkatnya sebelum berbalik untuk melakukan perintah Je Wo.

            “Ahjumma, tunggu!”

            Langkah Kim Ahjumma terhenti setelah teriakan kuat Hyunje terdengar olehnya.

            Bocah itu tampak berlari tergesa-gesa kearahnya, lalu menjulurkan sebelah tangannya dihadapan Kim Ahjumma. “Berikan telepon itu padaku.”

            Tiba-tiba saja Je Wo merasa was-was. Seringaian Hyunje bukanlah hal yang bisa diremehkan olehnya. Tapi meski begitu, Je Wo tetap membiarkan bocah itu berbicara dengan Ayahnya.

            “Appa!” seru Hyunje setelah telepon itu menempel ditelinganya. “Malam ini tidak pulang lagi? Ah… ya aku tahu.”

            Ah, pembicaraan yang normal, batin Je Wo didalam hati. Mungkin saja Hyunje juga merindukan Kyuhyun. Karena merasa tenggorokan kering, Je Wo berniat pergi kedapur untuk mengambil air minum. Tapi, siapa sangka jika tiba-tiba saja mulut besar Hyunje kembali berulah.

            “Appa bersabarlah menghadapi sikap Omma. Wanita itu sedang merindukanmu sampai tidak berselera makan setiap hari dan selalu memanggil-manggil nama Appa setiap Omma tidur. Berisik sekali, Eunje saja sampai terbangun berkali-kali.”

            Tubuh Je Wo yang semula membeku, seketika berbalik cepat kebelakang. Dan disana, Hyunje sudah menyeringai puas padanya.

            “Appa… Omma tidak akan pergi untuk mencari pria lain karena dia saaaaaaangat mencintaimu.”

            “CHO HYUNJE!!!”

 

***

 

 

Wanita itu masih saja meratapi kebodohannya dengan membiarkan Hyunje berbicara pada Kyuhyun. Yang benar saja! Merindukan Kyuhyun sampai nyaris tidak berselera makan dan selalu menyebut namanya setiap kali dia tertidur. Demi Tuhan, sekalipun dia memang sedang merindukan Kyuhyun, Je Wo sama sekali tidak sudi melakukan hal menjijikkan seperti itu. selera makannya baik-baik saja dan tidurnya… yeah… sedikit tidak nyenyak karena lengan yang biasanya selalu memeluk tubuhnya tidak ada dalam beberapa waktu terkahir. Tapi, tetap saja Je Wo tidak pernah memanggil-manggil Kyuhyun didalam tidurnya.

            Dan Hyunje memang sangat pintar membual.

            Je Wo masih saja berguling kesana kemari diatas ranjangnya. Melampiaskan kekesalannya pada Hyunje setelah baru saja dia berhasil menidurkan Eunje. Menurutnya, Kyuhyun pasti sedang menertawakannya sekarang. Tentu saja, pria itu, kan, memang selalu berharap Je Wo memperlihatkan perasaannya lebih dulu padanya.

            “Lagi pula semua ini memang salahnya! Kenapa dia harus tidak memiliki waktu untukku? Selalu saja berbicara lewat Video Call, memangnya suamiku itu sebuah ponsel!” omelnya tiada henti. “Aku sudah menoleransi adegan mesranya di Drama musikal itu dan drama musikal yang sebelumnya. Tidakkah dia seharusnya berterima kasih? Memangnya istri mana yang rela membiarkan bibir suaminya menyentuh bibir wanita lain sekalipun aku selalu menyuruhnya membayangkan sedang berciuman dengan sebuah dinding. Lihat saja, aku akan membalas semua perlakukanmu, Tuan Cho!”

            Drrtt Drrtt Drrtt

            Je Wo menoleh kesampingnya ketika getaran ponselnya yang berada diatas meja terdengar. Dengan gerakan malas, wanita itu menggapai benda itu dengan sebelah tangan.

            One Message

            Telunjuknya menekan tanda pesan itu sekali.

I miss You in the Morning

I miss You in the Afternoon

I miss You when I am Travelling,

and hear a love song

I miss You when I watch TV

 

I miss You in my Bed.

I mean, I miss You so bad, sweet heart.

            Bibir Je Wo melengkung sempurna. Ia kembali membaca pesan yang berasal dari suaminya itu berkali-kali. Memastikan jika semua kata-kata manis itu memang benar-benar berasal dari suaminya. Rasa kesalnya telah menguap entah kemana. Kyuhyun tidak menertawakannya, tetapi malah menenagkannya dengan kalimat-kalimat manis itu.

            Seperti orang bodoh, Je Wo tersenyum –senyum seorang diri diatas ranjangnya. Terkadang menutupi wajahnya sendiri dengan kedua telapak tangan, atau berguling kesana kemari dengan pekikan yang teredam didalam bantak tidurnya. Seperti remaja yang dimabuk cinta.

            Kemudian, Je Wo mulai memikirkan kalimat balasan apa yang sebaiknya ia kirimkan pada Kyuhyun. Berkali-kali ia mengetikkan sederet kalimat romantis, tetapi pada akhirnya ia menghapus semuanya. Oh yeah, dia pernah menjadi seorang penulis, tapi mengapa menulis kata-kata romantis saja terasa sengat sulit?

            “Ck, tentu saja. Itu bukan gayaku.” Cibirnya pada diri sendiri.

            Dengan seringaian lebarnya, Je Wo tampak mulai menghubungi seseorang.

            Ya?

            Suara halus dan lembut itu sudah terdengar olehnya. Je Wo tidak dapat menahan bibirnya yang tertarik sempurna menahan senyuman.

            “Siapa yang membantumu menulis kata-kata seperti itu? Setahuku bahasa inggrismu sangat memprihatinkan, Cho Kyuhyun.”

            Ringisan pelan Kyuhyun terdengar disana.

            Ketahuan, ya? Aku meminta Donghae Hyung membantuku.

            Je Wi tertawa pelan, “Pantas saja kalimat sederhana sekali. Dia pasti bekerja keras hanya untuk membuat kalimat seperti itu.” cibirnya.

            Ck, setidaknya hargailah usahanya untuk membantuku. Lagi pula dia hanya menerjemahkannya saja, aku yang menemukan kata-katanya.

            “Oh, begitu, ya?”

            Sejenak, tidak ada lagi yang berbicara diantara mereka. hanya helaan napas dan terkadang Kyuhyun berdehem samar. Je Wo masih terlalu sibuk beruforia bersama kalimat-kalimat manis yang Kyuhyun berikan padanya.

            Sayang, kau masih marah padaku?

            “Menurutmu?”

            Baiklah, aku minta maaf. Tapi kau tahu bagaimana keadaanku, kan? Mana mungkin sengaja meninggalkanmu sendirian dirumah kalau bukan karena pekerjaan. Ayolah, maafkan aku, ya?

            “Lalu, tentang adegan ciuman itu… kenapa kau tidak memberitahuku?” Kyuhyun memicingkan kedua matanya selagi menunggu jawaban suaminya.

            Bukankah aku sudah mengatakannya padamu, ya?

            Bola mata Je Wo berputar malas mendengar jawaban penuh keraguan Kyuhyun. “Itu ketika kau berciuman bersama Seohyun. Untuk Drama musikalmu yang sekarang, kau tidak memberitahuku.”

            Ah… sepertinya aku lupa.

            “Bukan karena sepertinya kau sangat menikmatinya?” desis Je Wo.

            Kau cemburu, hm?

            Je Wo menatap kesal layar ponselnya ketika Kyuhyun menggodanya. “Untuk apa aku cemburu pada ciuman beberapa detikmu itu. Mungkin kalau akting berciumanmu dapat mengalahkan akting Robert Pattinson, aku akan memikirkannya, apakah aku dapat cemburu atau tidak.”

            Cih, ciumanku lebih hebat dibandingkan ciumannya.

            “Siapa yang mengatakannya padamu?” cibir Je Wo.

            Tidak ada, tapi kau selalu ketagihan dengan ciuman yang kuberikan. Jadi, aku bisa menyimpulkan kalau ciumanku lebih hebat darinya dan kau bahkan belum pernah mencoba berciuman dengannya.

            Kedua bibir Je Wo mengatup rapat. Sialan. Kenapa Kyuhyun harus mengungkit hal seperti itu. Dan apa yang sedang kau pikirkan Shin Je Wo? Kissing with your husband? Semakin hari dia semakin tidak waras saja sepertinya.

            Kenapa aku jadi ingin menciummu, ya?

            Wajah Je Wo sudah memerah. Meski Kyuhyun tidak berada dihadapannya, tetap saja Je Wo tampak salah tingkah dengan menggaruk leher belakangnya. Jika perbincangan mereka kali ini diteruskan, Je Wo pikir ia pasti akan segera berlari menuju dorm untuk melepas rindu pada Kyuhyun. Dan itu amat sangat tidak boleh terjadi.

            “Errr Cho Kyuhyun. Sepertinya sudah terlalu larut. Aku harus tidur dan kau juga, kan?”

            Je Wo sengaja berdiam diri untuk menunggu jawaban dari suaminya. Tetapi hingga detik ke sepuluh, Kyuhyun masih saja tidak menyahut. Lalu wanita itu memutuskan untuk lebih dulu menyudahinya.

            “Baiklah, selamat_”

            I love you without knowing how, or when, or from where.

            I love you simply, without problem or pride.

            I love you in this way. Because I don’t know any other way of loving but this,

            In wich there is I and you.

            I love you so much, Sweet heart.

            Benarkah suara yang baru saja terdengar mengalun lembut ditelinga Je Wo itu adalah duara milik Kyuhyun? mengagungkan kalimat cinta yang sederhana namun berhasil membuat Je Wo menggigit bibirnya pelan setelah mencerna apa maksud perkataan suaminya. seandainya saja, seandainya saja pria itu berada dihadapannya saat ini. Mungkin saja dia akan berlari kencang untuk memeluk Kyuhyun.

            Je Wo memejamkan matanya ketika sebuah senyuman tipis terukir dibibirnya. Deru napas Kyuhyun terdengar sedikit memburu diseberang sana. Pria itu gugup. Tentu saja. Karena mereka bukanlah pasangan yang sering mengumbar kata-kata mesra satu sama lain. Dan ketika mereka melakukannya, maka rasa canggung, gugup dan juga malu pasti lebih mendominasi.

            “Listen,” gumam Je Wo pelan. “It’s crazy, because I don’t know when you become so important to me. But, unconditional love really exists in each of us. It is part of our deep inner being. It is not so much an active emotion as a state of being. It’s not ‘I love you’ for this or that reason, not ‘I love you if you love me.’ It’s love for no reason, love without an object.

            Layaknya Kyuhyun, napas Je Wo juga terasa sedikit memburu ketika mengucapkan kalimat itu. Ia kembali menggigiti bibirnya selagi menunggu reaksi apa yang akan diberikan Kyuhyun padanya.

            Sayang.

            “Hm?”

            Bisakah kau mengulanginya lagi?

            Dahi Je Wo berkerut samar. “Memangnya kenapa?”

            Aku sulit menerjemahkannya.

            Hampir saja ledakan tawa Je Wo terdengar kalau saja dia tidak cepat-cepat menutupu mulutnya dengan telapak tangan. Oh God! Jadi, dia sudah berbicara panjang lebar seperti itu dengan keberanian penuh dan juga menekan rasa gengsinya, tetapi Kyuhyun malah tidak mengerti apa yang dikatakan olehnya.

            Oke, mungkin lain kali jika mereka ingin bermesraan dengan kalimat romantis seperti itu, lebih baik mereka menggunakan bahasa mereka saja. Atau mungkin, mereka tidak perlu kata-kata manis untuk bermesraan. Yup, just do it!

            “Kalau kau tidak mengerti, lalu kenapa tadi sombong sekali merayuku dengan bahasa yang tidak kau mengerti, hm?”

            Ck, mana kutahu. Tiba-tiba saja kalimat itu melayang-layang dikepalaku. Lagi pula… aku memang benar-benar merindukanmu. Haish! Kapan aku bisa pulang?

            Senyuman Je Wo semakin lebar setelah mendengar rutukan penuh kekesalan yang Kyuhyun perdengarkan, “Yah… mau bagaimana lagi. Terima saja nasibmu, Tuan Cho.” Kekehnya.

            Terus saja menertawakanku.

            “Omong-omong, sudah terlalu larut. Aku mengantuk.”

            Hm, baiklah.

            Gumaman Kyuhyun terdengar ragu.

            “Kau juga lekas tidur, jangan berkencan terus dengan PSP terkutuk itu.”

            Jangan membuat istri keduaku marah, sayang.

            “Apa peduliku,” cibir Je Wo. “Selamat malam, Tuan Cho… ah, iya. When I tell you I love you. It means you are mine forever. Sleep tight, husband.”

            Je Wo memutuskan sambungan panggilannya sambil tersenyum-senyum. Masa bodoh pria itu mengerti atau tidak apa yang baru saja dia katakannya. Dia mulai menyusun letak bantal dan gulingnya untuk bersiap-siap tidur. sejak Kyuhyun tidak pulang kerumah, Je Wo memang tidur disisi ranjang milik Kyuhyun. Setidaknya, bau tubuh pria itu masih tersisa disana.

            Hampir saja dia memejamkan matanya. Tiba-tiba saja ponselnya bergetar.

            One message.

            I promise to be yours forever

           If you promise to be mine forever

          Have a nice dreams, wife.

 

 

___000___

 

 

 

 

 

Dengan teramat pelan, Je Wo berhasil menutup pintu kamar Hyunje. Ia baru saja menidurkan bocah itu, dan tidak ingin melihatnya berkeliaran lagi dimalam hari seperti biasanya. Hyunje mulai sering tidur larut malam sejak peralatan Game seperti Play Station telah berada didalam kamarnya. Disaat semua orang sudah terlelap, maka bocah itu akan beraksi didalam kamarnya, bahkan tidak lupa menyelinap kedapur untuk mengambil beberapa cemilan. Untuk itu, malam ini Je Wo harus memastikan Hyunje benar-benar tertidur, agar dia dapat menyembunyikan beberapa peralatan gamenya.

            Je Wo menggeser pintu kamar miliknya, melirik kesekitar kamar dimana tadi ia menitipkan Eunje pada Kyuhyun selagi menidurkan Hyunje. Tapi ranjangnya terlihat kosong. Setelah menutup pintu kamarnya lagi, Je Wo berjalan menuju Box Eunje, memanjangkan lehernya kedalam sana, dan menemukan Eunje yang telah tertidur pulas dengan piyama tidurnya yang lucu.

            Seingatnya, Je Wo belum menggantikan pakaian Eunje sebelum ia meninggalkan bocah itu. Jadi, wanita ini dapat menarik kesimpulan kalau yang melakukannya adalah Kyuhyun. Sambil mengelus wajah Eunje, Je Wo tersenyum kecil.

            Alisnya mengernyit ketika melihat sosok Kyuhyun yang duduk diluar kamar mereka, diatas sofa, sambil memandang kearah pantai. Je Wo memutuskan untuk menghampirinya. Saat ia membuka pintu geser kaca yang akan menghubungkannya dengan pemandangan pantai, angin kencang yang berbau khas menerpa tubuhnya hingga senyuman bahagianya terlihat. Dia sangat mencintai pantai dan segala hal yang berhubungan dengan itu.

            Mendengar bunyi pintu yang tergeser, Kyuhyun menoleh padanya. Mengukir senyuman kecil untuk menyambut kehadiran istrinya. “Sudah menidurkan Hyunje?”

            Kepala Je Wo mengangguk sekedar padanya. Kemudian ikut duduk bersama Kyuhyun, memerhatikan deburan ombak yang bergulung-gulung seperti saling kejar mengejar untuk segera tiba ditepi pantai.

            “Cantik.” Gumam Je Wo tanpa sadar, masih menatap pantai dengan senyumannya.

            “Kau tidak pernah terlihat jelek, Nyonya Cho.” Sahut Kyuhyun.

            Je Wo menoleh dengan memasang wajah datar padanya, “Bukan aku, tapi pantainya.” Ujarnya dengan nada malas. Tapi, kedua alisnya seketika bertaut setelah melihat segelas wine yang berada ditangan Kyuhyun, lalu sebotol wine yang berada diatas meja disamping sofa yang mereka tempati.

            Meski sudah sangat sering melihat pria itu meminum Wine, tapi tetap saja Je Wo merasa tidak akrab dengan hal yang satu itu.

            “Jangan terlalu sering minum wine dirumah. Kalau anak-anak melihatmu, bagaimana?”

            “Tidak sesering yang kau pikirkan, sayang. Terakhir kali aku minum wine dirumah adalah dua bulan yang lalu, itu juga saat kau dan anak-anak menginap dirumah Omma. Dan wine ini,” Kyuhyun menggoyang-goyangkan gelasnya sejenak, sebelum meneguknya tanpa sisa. “Sungmin Hyung yang memberikannya padaku sebelum aku pulang. Asal kau tahu, aku sudah cukup jarang minum Wine.”

            Dahi Je Wo berkerut kecil, “Memangnya kenapa?”

            Kyuhyun menoleh padanya, menatap wanita itu dengan tatapan sendu beserta senyuman kecil yang memesona, “Karena istriku yang cerewet ini sangat membenci bau wine yang menempel di bibirku.” Jelasnya seraya mengulurkan sebelah tangannya untuk mengelus rambut Je Wo.

            Diperlakukan seperti itu, entah mengapa tiba-tiba saja wajah Je Wo terasa memanas dan wanita itu merasa tidak sanggup jika harus berlama-lama bertatap mata seperti itu dengan suaminya, hingga ia segera memalingkan wajah dengan dengusan pelan demi menutupi kegugupannya.

            “Dasar bodoh.” Umpatnya pelan.

            Kyuhyun terkekeh pelan, lalu mendekatkan dirinya hingga lengan mereka saling bersentuhan. Diletaknya gelas wine itu diatas meja, kemudian merangkul bahu istrinya sampai tubuh mereka saling merasakan kehangatan yang akrab satu sama lain.

            “Kalau seperti ini, kita seperti pasangan kekasih yang sangat romantis. Iya, kan?” Bisik Kyuhyun, sengaja menggoda Je Wo karena ia tahu benar kalau Je Wo sangat mudah digoda olehnya.

            “Sepertinya suamiku sudah mulai gila.” Rutuk Je Wo, ia segera melepaskan diri dari rangkulan Kyuhyun. Berniat kembali masuk kekamar dari pada harus mendengar ocehan Kyuhyun yang bisa saja membuatnya tiba-tiba meleleh seperti jely. Dan itu amat sangat menjijikkan baginya.

            Tapi ketika tubuhnya baru saja berdiri tegak, Kyuhyun mencekal pergelangan tangannya. Menunggu Je Wo menatapnya, lalu tersenyum lebar pada istrinya.

            “Mau berpacaran di pantai bersamaku, Nyonya Cho?”

***

 

“Sudah lama aku tidak bermain di pantai dimalam hari seperti ini.” gumam Je Wo diiringi kekehan kecilnya yang penuh kebahagiaan karena kulit telapak kakinya kembali bersentuhan dengan pasir pantai yang dikaguminya.

            Mereka berdua berjalan berdua ditepi pantai sambil bergenggaman tangan. Menikmati bau khas laut, hembusan angin dan deburan ombak dengan perasaan nyaman.

            Saat ombak hampir mencapai bibir pantai, Je Wo sontak menarik Kyuhyun untuk menghampiri deburan ombak itu. Sayang, Kyuhyun menahan lengannya dengan sebelah tangannya yang lain.

            “Sudah terlalu malam, kau bisa masuk angin kalau bermain air.” Larangnya ketika Je Wo menatapnya penuh protes.

            “Untuk apa kau mengajakku ke pantai kalau aku tidak boleh bermain air?”

            “Untuk berkencan, kau lupa?”

            “Tapi, kan_”

            “Lebih baik kita duduk disini.” Potong Kyuhyun yang kini sudah duduk diatas pasir sambil menghadap lurus kearah pantai.

            Bola mata Je Wo berputar malas, tapi tubuhnya turut melakukan hal serupa. Duduk disamping Kyuhyun, memandang lautan yang sudah terlihat hitam meski cahaya bulan yang utuh begitu cantik menghiasi tempat itu.

            Mereka hanya duduk diam membisu, memerhatikan sekeliling mereka yang memang teramat sepi. Hanya ada mereka berdua. Cho Kyuhyun dan Shin Je Wo.

            Menyadari hal itu, bibir Kyuhyun tersenyum tipis. Ternyata, ada untungnya juga dia membeli rumah yang sedikit jauh dari Seoul. Setidaknya, ditempat ini dia dapat melakukan apa saja secara bebas bersama istri dan keluarganya. Meski harus menempuh waktu yang cukup lama untuk pergi bekerja ataupun pulang kembali kerumah. Tapi hal itu setimpal dengan apa yang dia dapatkan.

            Kyuhyun meluruskan sebelah kakinya, sementara kakinya yang lain ia tekuk agar tangannya dapat bertumpu disana. Lalu, sebelah tangannya yang bebas meraih pinggang Je Wo, memeluknya hangat. Kyuhyun menoleh pada Je Wo untuk melihat wajah wanita itu. Dan kekehan kecilnya sontak terlepas ketika menemukan wajah penuh harap Je Wo yang menatap deburan ombak. Kedua matanya menyendu dan sudut-sudut bibirnya tertarik kebawah. Kyuhyun tahu sebesar apa keinginan istrinya untuk bersenda gurau bersama deburan ombak.

            “Kau sudah seperti anak kecil yang tidak dibelikan permen saja.” Cibir Kyuhyun.

            Je Wo menatapnya, lalu kedua tangannya menarik-narik kemeja Kyuhyun disertai rengekan kecil. “Aku boleh bermain air, ya? Cho Kyuhyun… ayolah… aku sudah lama sekali tidak bermain kesini. Setiap kali ingin pergi ketempat ini, Hyunje dan Eunje pasti selalu merecokiku. Kau juga tahu, kan, sekarang Eunje sudah sulit dititipkan pada siapapun. Aku sudah tidak bisa pergi kemanapun sesuka hatiku…”

            “Omo… Shin Je Wo sedang merengek dan merayuku ternyata.” Goda Kyuhyun yang juga tidak memberikan ijinnya.

            Desisan penuh geraman akhirnya terdengar dari bibir Je Wo. Kencan seperti apa ini, kalau ternyata Kyuhyun hanyalah menyiksanya seperti ini. Lagi pula, untuk apa dia harus meminta ijin pada Kyuhyun hanya untuk bermain air. Persetan dengan ijin pria itu.

            Dengan gerakan santai, Je Wo beranjak dari tempatnya. Gaun sederhana sebatas lutut yang dikenakannya bergoyang mengikuti kemana arah angin, begitu juga dengan rambutnya yang tergerai. Langkahnya bergerak pasti menuju tepi pantai. Dan ketika kakinya semakin mendekati air laut, bibir Je Wo merekah sempurna.

            Sebentar lagi…

            Je Wo bersanandung bahagia didalam hati. Akhirnyaaaaaa, teriaknya senang.

            Tetapi, tiba-tiba saja suara Kyuhyun yang terdengar dari belakang tubuhnya, membuat langkahnya berhenti cepat.

            “Kalau sedikit saja air itu menyentuh kulitmu, aku akan menghukummu. Disini. Seperti dulu.”

            Seperti dulu…

            Kalimat itu terngiang-giang ditelinganya. Argghhh kenapa Kyuhyun harus mengancamnya dengan hal seperti itu? Oke! Sebenarnya hukuman yang dikatakan Kyuhyun tidak terlalu mengerikan. Bahkan, sama sekali tidak mengerikan dan Je Wo… yeah, dia menyukainya. Tapi, tetap saja, membayangkan hal itu terulang lagi, hal yang mereka lakukan dua tahun yang lalu ketika mereka merayakan ulang tahun Kyuhyun, Je Wo tetap bergidik ngeri.

            Tubuh Je Wo bergerak lambat untuk berbalik kebelakang. Jarak antara dirinya dan Kyuhyun sedikit jauh hingga Kyuhyun hanya dapat melihat samar wajahnya. Tetapi, tubuh Je Wo yang berdiri menghadapnya tepat berada dibawah sinar bulan. Membuat Kyuhyun yang memandangnya terpaku untuk beberapa saat.

            Wajah cemberut Je Wo mulai dapat terlihat olehnya sampai-sampai tanpa dia sadari, tubuhnya kini telah beranjak untuk menghampiri istrinya. Langkahnya perlahan tetapi pasti. Kedua matanya tetap beradu dikedua mata Je Wo yang masih terlihat samar. Kyuhyun mencebik pelan saat dirinya semakin mendekati Je Wo tetapi wanita itu malah melangkah mundur.

            Tidak sabar, Kyuhyun semakin mempercepat langkahnya hingga tepat saat kedua kakinya menyentuh air laut, tangannya dapat menggapai pergelangan tangan Je Wo.

            Kyuhyun menunduk untuk melihat kedua kaki mereka yang telah terendam didalam air sebatas mata kaki. Saat ia mengangkat wajahnya, seriangain penuh kemanangan milik Je Wo telah mengembang.

            “Kau tidak akan masuk angin hanya karena bersentuhan dengan air laut, Tuan Cho.” Godanya sambil sesekali tertawa pelan.

            Kyuhyun tidak menyahuti perkataannya karena saat ini, tatapannya terpaku pada wajah bahagia yang terpancar dari wajah istrinya. Senyumannya, mata indahnya yang tertarik kesamping hingga terlihat menyipit ketika dia sedang tertawa, suara tawa renyahnya, semua itu tak luput dari pandangannya.

            Semakin lama dia mengamati wajah itu, maka Kyuhyun semakin mencintainya. Tidak, Kyuhyun memang akan selalu mencintainya.

            “Sayang,” panggilnya pelan dengan mimik wajah yang tidak berubah. Je Wo mengangkat sebelah alisnya sebagai jawaban. “Kenapa aku tidak bisa berhenti mencintaimu?”

            Mendengar pertanyaan itu, bibir Je Wo tampak sedikit terbuka dan kedua matanya sedikit membesar. Kenapa tiba-tiba pria itu bertanya seperti ini? Je Wo melirik sekelilingnya sebagai cara untuk mencari jawaban yang tepat.

            “Memangnya kau sudah pernah mencoba?”

            “Belum.”

            “Nah, bagaimana bisa kau tahu kalau kau tidak pernah mencobanya.”

            “Karena aku tidak mau berhasil ketika mencobanya.”

            Tiba-tiba saja Je Wo mencubit gemas kedua pipi Kyuhyun. “Dan sebelum kau berhasil melakukannya, maka aku akan membunuhmu lebih dulu.” Je Wo menyeringai penuh padanya, “Kau,” jari telunjuknya mengarah tepat didepan wajah Kyuhyun. “Sudah dimantrai oleh sihirku, Tuan Cho. Dan sihirku tidak dapat dihentikan oleh ramuan apapun. Jadi jangan berharap dapat terlepas dari sihirku. Mengerti?”

            Kyuhyun mengangguk sekali dan Je Wo tersenyum puas. Tapi ketika Je Wo berniat untuk berbalik dan meninggalkan Kyuhyun, tiba-tiba saja Kyuhyun menahan tengkuknya dan tanpa mengatakan sepatah katapun, pria itu sudah menarik kepalanya mendekat, menyentuh bibirnya yang terasa dingin selama beberapa detik sebelum akhirnya melumatnya lembut.

            Je Wo yang mendapatkan perlakukan tiba-tiba seperti itu hanya bisa terkejut dan membelalakkan kedua matanya. Otaknya mulai bereaksi. Disini tempat umum. Ya, meski selama ini mereka selalu aman melakukan apa saja disini, tapi tetap saja.

            Dengan gerakan pelan, Je Wo mendorong dada Kyuhyun dengan kedua telapak tangannya hingga bibir mereka saling terlepas. “Cho Kyuhyun, kau sudah gila? Disini_ hmphh_”

            Kyuhyun memegang kedua pergelangan tangan Je Wo dan menjauhkannya dari tubuh mereka agar wanita itu tidak bisa menolaknya. Setiap kali bibir Je Wo berusaha menjauh, maka bibir Kyuhyun selalu berhasil mengejarnya. Dan selangkah demi selangkah, mereka mulai memasuki kedalaman air hingga tanpa mereka sadari, kini kaki hingga lutut mereka sudah terandam oleh air.

            Je Wo masih terus bergerak mundur dan tidak membalas semua perlakuan Kyuhyun padanya. Hingga akhirnya tiba-tiba saja Kyuhyun melepaskan ciumannya, menatapnya lembut sambil berkata, “Happy annyversary, sayang. Aku mencintaimu.” Je Wo sontak tertegun.

            “A-apa?”

            “Tujuh belas Juli. Ingat?”

            Tujuh belas Juli. Je Wo baru saja menyadarinya. Tanggal pernikahan mereka dan Kyuhyun adalah satu-satunya orang yang mengingatnya. Karena alasan itukah Kyuhyun mengajaknya ketempat ini?

            Je Wo tersenyum haru. Lalu lengannya memeluk cepat leher Kyuhyun hingga wajahnya terbenam sempurna ditempatnya. “Happy annyversary, Tuan Cho.” Bisiknya pelan.

            Kyuhyun membalas pelukannya erat, kedua matanya terpejam. Rasanya hangat meski meraka berada diatas air. Sebenarnya, sudah lama Kyuhyun memikirkan hal apa yang dapat dilakukannya untuk merayakan hari pernikahan mereka. Tetapi, mengingat Je Wo yang tidak terlalu menyukai hal-hal romantis seperti kebanyakan wanita lain, Kyuhyun sedikit kesulitan membuat rencana. Jadilah dia hanya membawa wanita itu kepantai karena Je Wo memang sangat menggilai tempat itu.

            “Aku tidak menyangka kau mengingatnya.” Gumam Je Wo setelah menarik wajahnya dan menatap Kyuhyun. “Aku saja tidak ingat.”

            Kyuhyun membingkai wajah Je Wo dengan sebelah tangannya, mengusapkan ibu jarinya disana sambil tersenyum tipis pada Je Wo. “Aku akan mengingat hal apapun selama itu berhubungan denganmu.”

            Je Wo mengangguk berkali-kali sambil memicingkan mata. “Kalau begitu… kau tidak lupa tentang hadiahnya, kan?”

            Kyuhyun menatap datar pada Je Wo. Selalu saja mencari kesempatan dalam kesempitan. “Tolong diingat, Nyonya Cho. Hari ini bukan hari ulang tahunmu, tapi hari pernikahan kita. Jadi, kenapa kau malah meminta hadiah padaku.”

            “Ck, aku hanya bercanda. Lagi pula… ciuman manismu tadi saja sudah cukup menjadi hadiah.” Sebelah mata Je Wo berkedip genit pada Kyuhyun sampai pria itu tertawa kuat.

            “Yaiks, jangan melakukannya. Kau terlihat mengerikan kalau seperti itu.”

            Mereka sama-sama tertawa dan masih saling berpelukan. Sampai pada akhirnya Kyuhyun membawa Je Wo kembali menginjak pasir pantai.

            “Pukul berapa sekarang?” tanya Je Wo.

            Kyuhyun melirik arlojinya. “Satu malam.”

            “Oh. Sudah terlalu lama kita disini. Ayo cepat pulang, aku takut Eunje terbangun dan mencariku.” Je Wo menarik lengan Kyuhyun untuk segera pergi dari sana. Tetapi Kyuhyun menahannya.

            Saat Je Wo menatapnya bingung, pria itu tampak meringis pelan seperti ragu untuk mengatakan sesuatu.

            “Kenapa?” tanya Je Wo pelan.

            “Itu… aku, sebenarnya aku sudah memiliki sebuah hadiah untuk kita.” Jawabnya ragu dan sedikit salah tingkah.

            “Oh, ya?” kedua mata Je Wo berbinar cepat. “Apa itu? Kau membawanya? Perlihatkan padaku.”

            Kyuhyu tersenyum kaku. Menatap Je Wo sekilas, lalu menatap kearah laut, menunduk sambil menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. Dia terlihat gugup.

            “Yah! Kau mau memberikannya padaku atau tidak? Kalau tidak mau, sebaiknya kita pulang.” Rutuk Je Wo. Dia kembali menunggu jawaban Kyuhyun, tapi lagi-lagi Kyuhyun hanya tersenyum kaku. Lelah menunggu, akhirnya Je Wo berinisiatif pergi lebih dulu.

            “Kau bersedia pergi Honeymoon bersamaku, Nyonya Cho?”

            Sekali lagi. Langkah Je Wo terhenti mendadak.

            “Aku tidak meminta apapun dari bulan madu kita nanti. Aku hanya ingin berada disisimu selama kita berada disana. Berdua, tanpa anak-anak, hanya kau dan aku.”

            Refleks, Je Wo berbalik menghadap Kyuhyun. Pria itu berdiri kaku menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

            “Anggap saja aku egois karena berniat meninggalkan anak-anak. Tapi… selain mereka, aku juga membutuhkanmu. Aku ingin sekali saja memiliki waktu berdua bersamamu, melewati seluruh waktuku bersamamu tanpa orang lain. Kau tahu waktuku untuk berada disisimu tidak terlalu banyak, sedangkan aku terus menerus ingin berada disisimu. Aku merindukanmu disetiap jam, menit dan detik yang kupunya. Jadi, sekali saja, sayang, berikan aku waktu untuk memilikimu secarah utuh.”

            Dia takut aku menolaknya, batin Je Wo ketika melihat Kyuhyun yang memasang wajah seperti itu dihadapannya.

Dan dia sangat ingin bersamaku.

            Kedua kakinya melangkah perlahan mendekati Kyuhyun. Jika tadi Kyuhyun yang mengunci kedua bola matanya, maka kali ini dia yang melakukannya.

            “Kau tidak egois, Cho Kyuhyun,” ujarnya lembut ketika mereka sudah saling berhadapan. Kedua tangannya menangkup wajah Kyuhyun. “Aku juga sering merasakan hal seperti itu.”

            Saat Je Wo tersenyum manis padanya, Kyuhyun sontak menghela napas leganya.

            “Jadi… kau?”

            Je Wo mengangguk sekali. “Kemana kau ingin membawaku?”

            “Kau setuju?”

            “U-huh.”

            “Kau tidak berbohong, kan?”

            “Ck.”

            “Wohoooooo.”

            “Yah! Turunkan aku!”

            Sama sekali tidak memedulikan pekikan Je Wo, Kyuhyun terus berputar-putar diatas pasir pantai sambil memeluk tubuh Je Wo dan mengangkatnya sedikit keatas. Meluapkan kegembiraanya tanpa memedulikan sumpah serapah yang dilontarkan Je Wo padanya. Tidak peduli setelah ini Je Wo akan memukulinya karena telah membuat kepalanya pusing, bagi Kyuhyun, Je Wo menyetujui ajakannya untuk berbulan madu saja sudah lebih dari cukup.

            “Nyonya Cho, aku mencintaimu!!!”

            “Turunkan aku atau aku akan membunuhmu! Kepalaku pusing sekali, CHO KYUHYUN!!!”

 

FIN

 

 

 

 

Yuhuuuuuu

Saya bawa FF superrrrrr. SUPER PENDEK😀

Happy Annyversary to my BLOG. Yeyyyyy *tiup terompet*

Maap yak, lama gak update.

Aku beneran sibuk soalnya u.u

 

Okeh, see u… J

Ami

236 thoughts on “Romantic Moment

  1. Owhh so sweet… kyakk kyuhyun udh punya 2 anak ??? Hahahahha lucu banget sihh mereka, je wo udh ngomong panjang lebar pke bhsa inggris tpi kyuhyun malah ngga ngerti.

  2. Eyaaaa… di tunggu scene bulan madu nya, tpi jgn di protect ya author, aku bngung mau mnta PW nya gmna, atau di protect tpi di kasih klue nya sma author, kya pas cho’s family spesial ultah nya Kyu hehe
    Poko nya aku suka bgt sma cerita cho’s family🙂

  3. Terhuraaaa… yakkk abng cho,, qu mkin mncintaimuuuu…
    Yaa ampunn kyu cintaa bgtzz yee sma je woo, qu tersentuh bgtzz tiap kta2 yg d ucapkn kyu d part nie,, yaa ampun bang jgn trlalu mmpesonaa bsa gaa sihh?? aigooo~~~

  4. Huahahaha ….. segitu parah nya yah .. bahasa inggris kyu oppa …. sampai 2x hrs donghae oppa yg bkn puisi cinta buat je wo ….

    Ckckck kyu oppa … memang knp kalo air laut itu menyentuh kulit je wo ???? Over protectif …….

    Ehem … bisa ya saat anak mereka lg bobo .. eh pacaran di tepi pantai … co cweet ….

  5. Ping-balik: Library | Shin Je Wo

  6. bahasa inggrismu sangat parah cho kyuhyun haha.Tapi kau itu juga sangat romantis,sweet dan aah banyak deh.,hehe nggak heran kalau je wo sangat sangat mencintaimu

  7. diabetes dahhhhh diabetessssssssss pengen bawa pulang kyuhyun trus kunciin dalam kamar

    sweet bgt haaaaa… iri bgt

    je wo ama suami sendiri masih malu”
    mereka sama sama punya ego yg tinggi dan keras kepala!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s