Love in The Dark – One –

936072_693323500739513_846985923616278280_n

Seorang gadis tengah duduk melamun di sebuah ruangan sepi, beberapa jam yang lalu ia baru saja melakukan sebuah pertunangan dengan seorang pria. Pria yang menjadi pewaris tunggal sebuah keluarga kaya raya, pria tampan yang selalu di gilai setiap wanita yang meliriknya. Namun sayangnya, hal itu tidak dapat di rasakan oleh sosok yang tengah duduk termenung di sana. Ia bahkan berkali-kali merutuki nasibnya, memaki pria sempurna itu dan segala perbuatannya. Pria sempurna yang telah merusak kehidupannya, merusak segala-galanya, termasuk kisah cintanya.

              Berawal dari sebuah pertemuan yang tidak di sengaja, namun menimbulkan pertengkaran hebat di antara keduanya, yang mengharuskan gadis itu membawa permasalahan itu ke pihak berwajib. Ia tidak peduli seberapa banyak pengaruh keluarga pria itu di mata hukum, karena baginya kejahatan tetap kejahatan dan itu tetap harus di beri tindakan Hukum. Terlebih saat itu ia memiliki cukup bukti tentang kelakuan bejat pria itu saat tengah memukuli seorang gadis. Memang gadis itu bukanlah dirinya, tapi melihat kejadian itu ia sama sekali tidak bisa berdiam diri dan memilih membantu sang gadis lalu berakhir dengan pertengkaran hebat antara dia dan pria itu.

              Sampai pada akhirnya, keluarga pria sempurna itu terdesak oleh kekalahan dan mengharuskan pria sempurna itu mengalah, gadis itu memberikan pilihan ringan padanya. Hanya dengan permintaan maaf pria itu padanya, maka ia akan menghapus segala gugatannya. Namun sayangnya, pria sempurna itu bukanlah type pria yang mudah meminta maaf pada orang lain. Bahkan, hal itu sudah tidak pernah ia lakukan dalam jangka waktu yang lama. Enam tahun.

              Kekerasan hatinya di sambut dengan kekerasan hati gadis itu, tidak ada yang dapat di lakukan keluarga pria sempurna itu untuk membebaskannya dari gugatan hukum. Dan setelah melakukan pembujukan yang cukup lama padanya, akhirnya ia rela mengalah. Merendahkan dirinya di hadapan gadis itu, ia meminta maaf, namun tidak dengan hati yang tulus. Seiring keluarnya ucapan maaf itu, ia bersumpah dalam hatinya akan menghancurkan gadis yang telah merendahkan harga dirinya. Melakukan apa saja agar ia bisa menguasai kehidupan gadis keras kepala itu.

              Dan hal itu benar-benar di lakukannya. Kini gadis itu, telah menjadi tunangannya.

              “Kenapa melamun?”

              Lamunan seorang gadis yang sedari tadi hanya duduk diam seorang diri di sebuah ruangan privasi membuyar seiring terdengarnya suara seseorang yang sudah sangat ia kenali. Ia menolehkan kepalanya ke asal suara itu, tersenyum lirih saat menemukan sosok yang sangat ia cintai berdiri dengan senyuman yang patah di ambang pintu.

              “Oppa…” gumamnya lemah.

              Sosok yang di panggilnya dengan sebutan Oppa itu mendekati dirinya, bediri di hadapan sang gadis yang sudah hampir menangis, “Kau sangat cantik hari ini, Shin Je Wo.” Ucapnya serak. Suaranya seakan tercekat menahan perasaan sesaknya, ia sama sakitnya dengan gadis itu, sama menderitanya. Namun sayangnya ia tidak bisa mengatakannya, karena semua ini memanglah atas persetujuannya.

              “Aku tidak bisa, aku tidak bisa bersamanya, Oppa.”

              “Kau bisa, pasti bisa. Bukankah kita sudah membahasnya, hm?”

              “Tapi aku tidak mencintainya…”

              “Aku tahu itu, aku juga tidak akan memintamu untuk mencintainya, itu terlalu menyakitkan bagiku. Aku hanya ingin kau melakukan semua yang harus kau lakukan padanya. Buat dia merubah segala hal di hidupnya Je wo-ya, setelah itu… kita akan bersama lagi.”

              Gadis itu menggigit bibir bawahnya, menahan segala perasaan yang menyakitkan di hatinya. Semua ini terlalu cepat baginya, baru saja ia ingin merancang kehidupan bahagianya bersama pria yang ada di hadapannya itu, namun semuanya harus pupus karena keegoan pria sempurna yang saat ini berstatus sebagai tunangannya. Gadis itu memejamkan matanya saat tangan kekar pria itu menyapa permukaan wajahnya, membelainya lembut dan pelan seakan takut menyakiti wajah itu. Belaian itu terasa bergitu menyakitkan baginya, hingga tanpa sadar buliran-buliran kristal itu telah lolos dari pelupuk matanya.

              “Kau benar-benar tidak sopan, Choi Siwon sshi.”

              Suara berat seseorang yang berada di ambang pintu membuat kedua sosok yang tengah bergulat dengan perasaan mereka tersentak, mereka berdua menoleh pada pemilik suara berat itu. Pria sempurna itu telah berdiri angkuh disana, melemparkan tatapan penuh kemenangannya pada kedua orang itu.

              Pria itu memiliki mata kecoklatan dengan rambut berwarna yang sama dengan matanya. Rambutnya lebat dan tampak sedikit berantakan meski sebelumnya, rambut itu sangat tertata rapi. Kulitnya putih, begitu putih hingga entah bagaimana tampak memiliki sinar yang berbeda. Seluruh organ tubuhnya pas dan kontras satu sama lain. Hidung mancung lurusnya, garis ketegasan wajahnya, bibir merahnya, semuanya begitu memesona.

              “Kau lupa jika dia itu adalah tunanganku, ya?” tanya-nya sinis.

              Kedua mata Siwon menyipit tajam, “Tidak! Aku tidak lupa akan hal itu, Cho Kyuhyun sshi.” Balas Siwon tak kalah sengit.

              Kini ia saling bertatap tajam dengan pewaris pemilik perusahaan terbesar di Korea, Cho Corperation. Tatapannya begitu kental dengan kebencian, ia benci melihat pria yang telah merusak kehidupannya bersama Shin Je Wo. Sebenarnya ia bisa saja menolak permintaan Cho Kyuhyun untuk memberikan Shin Je Wo padanya, bahkan ia juga bisa saja memukul wajah pria angkuh itu saat ini juga. Namun ia masih cukup waras untuk tidak melakukan itu, bukan karena ia takut padanya. Hanya saja, Ayah dari pria angkuh itu sudah terlalu baik padanya.

              Cho Yeung Hwan adalah pria yang telah menjadi sosok malaikat dalam hidup seorang Choi Siwon. Pria paruh baya itu telah membawanya dari jalanan, memberikan kehidupan yang amat sangat layak bagi bocah kecil yang setelah kepergian kedua orang tuanya selalu hidup tak tentu arah di jalanan. Cho Yeong Hwan memberikannya segala pendidikan tinggi hingga ia bisa menjadi seorang Manager sukses di perusahaan pria itu. Maka di saat pria paruh baya itu bersimpuh di hadapannya, meminta kerelaannya melepas Shin Je Wo untuk anaknya. Choi Siwon hanya dapat mengangguk lirih. Siwon tahu, pria itu juga sangat merasa bersalah pada dirinya. Hanya saja, ia terlalu menginginkan ketepatan janji Cho Kyuhyun untuk tidak melakukan keonaran lagi seperti sebelumnya.

              Cho Kyuhyun adalah pria yang tidak mengenal kata takut, ia tidak pernah mau mendengarkan omongan siapapun termasuk Ayahnya sendiri. Pria itu bahkan seakan menjadi sosok yang mengerikan di Korea, tak jarang ia membuat beberapa orang yang membuatnya kesal menetap di rumah sakit, bahkan harus kehilangan beberapa organ tubuh kerena dirinya. Dan lagi-lagi semua itu harus di bersihkan oleh nama baik keluarganya.

              “Jika kau sudah tahu, lalu kenapa kau masih berada disini? Kau tidak berniat untuk merusak momen kemesraan kami, kan?”

              Rahang Choi Siwon mengeras saat itu juga, ia mengepal kuat kedua tagannya. Perasaan cemburu menyulutinya, ia begitu tidak rela melepas kekasihnya pada pria penghancur itu. Ia tahu dengan jelas apa maksud Kyuhyun saat meminta pada Ayahnya untuk menjadikan Shin Je Wo sebagai tunangannya, menjanjikan pada Ayahnya jika nanti ia akan berhenti dengan segala pekerjaan kriminalnya dan mulai memasuki perusahaan Ayahnya. Semua itu ia lakukan karena rasa dendamnya pada gadis itu, ia ingin menghancurkan gadis itu sehancur-hancurnya. Dan semua itu di mulai dari sini.

              “Cepat keluar dari sini, sebelum aku sendiri yang akan menyeretmu.” Perintah Kyuhyun tegas dengan raut wajah dinginnya.

              Choi Siwon mendengus sinis padanya, ia membalikkan tubuhnya kebelakang, menatap sejenak wajah gadis di belakangnya. Ia tersenyum tipis pada gadis itu, bermaksud memberikan ketenangan padanya, setelah itu melangkahkan kakinya keluar dari sana. Meninggalkan Shin Je Wo bersama pria sempurna itu, Cho Kyuhyun.

              Kedua orang itu saling bertatapan tajam, sorot mata Je Wo sarat dengan kebencian yang mendalam, “Sekarang, apa yang kau inginkan dariku? Mengulitiku hidup-hidup?” tantang Je Wo padanya.

              Cho Kyuhyun tersenyum simpul dengan bibir terkatup rapat, ia berjalan mendekati sofa merah di sudut ruangan, menghempaskan tubuhnya disana, setelah itu ia meraih sebotol wine dan menuangkannya kedalam gelas kaca, “Tidak usah terburu-buru, Nona Shin. Kita masih punya banyak waktu untuk bersenang-senang.” ucapnya dingin sebelum meneguk isi gelas itu.

              Mendengar itu Je Wo hanya tersenyum kecut. Ia meraih tas tangannya di atas meja dan segera meninggalkan Cho Kyuhyun disana. Dia sempat terkejut saat membuka pintu ruangan itu, ada tiga orang pria yang berdiri disana, memasang senyum canggungnya. Ketiganya merupakan pria-pria berpengaruh di negara itu. Pengusaha, Model dan seorang Produser handal. Namun Je Wo tidak terlalu mau memedulikan mereka, tanpa lama menunggu ia segera angkat kaki dari sana.

              “Eung? Dia mau kemana?” tanya seorang pria bermata sipit diantara mereka. Kedua pria lainnya hanya dapat mengedikkan bahu acuh, kemudian masuk keruangan itu. Cho Kyuhyun tersenyum simpul saat melihat ketiga temannya disana. Lee Donghae, Lee Hyukjae dan Kim Jongwoon atau lebih sering di panggil Yesung.

              “Wine?”  tawarnya pada ketiga namja itu sembari mengangkat gelas yang berada dalam genggamannya.

              Ketiga namja itu menggeleng ringan dan segera mengambil tempat, duduk mengelilingi Kyuhyun. “Kenapa dia keluar secepat itu?” tanya Donghae padanya. Pria berparas lembut dengan senyum menawan dan mematikan itu melipat kedua tangannya sembari menyandarkan diri pada sofa.

              “Entahlah, mungkin dia masih mau menangisi perpisahannya dengan pria pengemis itu.” Jawab Kyuhyun dengan kekehan culas.

              “Eiy… kau itu sadis sekali. Yah! Dia itu wanita, Kyu, kau tidak boleh memperlakukan dia sekasar itu.” Ujar Yesung. Pria ini memiliki kedua mata sipit dan wajah mudanya. Tidak akan ada yang tahu jika hanya melihatnya sekali pandang bahwa diantara mereka berempat, dialah yang paling tua.

              Kyuhyun hanya tersenyum hambar dan kembali meneguk minumannya, “Memangnya apa peduliku? Justru itu yang ingin aku lakukan. Gadis itu… harus membayar semua sikapnya padaku.” Ucapnya tajam dengan seringaian.

              “Well, kau akan memulainya dari mana?” tanya Hyukjae dengan kerlingan nakalnya. Mata pria ini sangat menggoda, lebih tepatnya amat sangat menggoda bagi seluruh gadis yang pertama kali melihatnya.

***

Je Wo melemparkan tas tangannya dengan kuat setelah ia memasuki apartemantnya, dadanya naik turun menahan segala emosi yang seakan ingin segera meledak. Kedua gadis yang sedang memerhatikannya dari balik pintu kamar masing-masing hanya dapat menatapnya miris, “Kau sangat menjijikkan Cho Kyuhyun! Apa kau pikir aku akan masuk dalam permainanmu?” geramnya.

              “Eonnie…”

              Je Wo menoleh kebelakang dan menemukan kedua gadis yang sejak tadi menunggunya pulang. Je Wo memang sengaja melarang mereka untuk menghadiri resepsi pertunangannnya, “Ya?” tanyanya lesu.

              “Semua baik-baik saja?” tanya Eunjin pelan.

              “Apa Cho Kyuhyun itu menyakitimu?” sambung Cho Sang Ji

              Je Wo menggeleng lirih, ia menghempaskan tubuhnya ke atas sofa, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Rasanya ia benar-benar marah dan ingin menangis. Sayangnya, dia bukanlah gadis cengeng seperti kebanyakan orang, terlebih, ia tidak sudi mengeluarkan setetes air mata untuk pria bajingan seperti Kyuhyun.

              Kedua gadis itu mendekatinya, duduk di samping Je Wo, “Eonnie, kau harus bersabar.” Ucap Sang Ji lembut sembari mengusap pelan punggung Je Wo.

              “Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan. Bagaimana bisa Siwon Oppa menyuruhku untuk mengubah sikap berengsek pria itu dengan menjadi tunangannya?! Bagaimana dengan hubungan kami? Apa yang harus aku lakukan jika Cho Kyuhyun tidak akan pernah mau melepaskanku?” teriaknya frustasi.

              Sang Ji dan Eunjin saling tatap satu sama lain, mereka mengerti bagaimana perasaan Je Wo saat ini. Ketiga gadis ini tinggal serumah selama 2 tahun, selama itu juga ketiganya saling memahami sikap satu sama lainnya.

              “Eonnie, kau pasti bisa. Aku tahu bagaimana kau, kau pasti bisa mengubahnya dengan caramu.” Bujuk Eunjin.

              “Eunjin Eonnie benar. Kau itu adalah Shin Je Wo, dan Shin Je Wo bukanlah gadis yang cepat putus asa, apa lagi hanya menghadapi pria seberengsek dia.”

              Je Wo mengangkat kepalanya, menatap kedua yeoja itu secara bergantian. “Apa aku benar-benar bisa melakukannya?” tanya Je Wo memastikan. Kedua yeoja itu mengangguk bersamaan dengan senyuman lebarnya.

***

Shin Je Wo menatap tajam pria yang tengah bersenang-senang dengan kedua gadis berambut pirang yang berada di samping kanan dan kirinya. Tak jarang pria itu mengecup lembut bibir gadis yang berada di sampingnya, membuat Je Wo ingin segera melayangkan gelas yang ada di hadapannya pada pria mesum itu.

              Cho Kyuhyun dengan sengaja membawa Je Wo ke Club malam dan membiarkan gadis itu menyaksikan kemesraannya dengan para gadis mainannya, agar membuatnya kesal. Memang benar Je Wo kesal, namun ia tidaklah cemburu seperti yang di inginkan Cho Kyuhyun. Dia hanya terlalu jijik dengan pemandangan Free yang di suguhkan oleh Kyuhyun, “Dia memang seperti itu, tidak usah di ambil hati.” Bisik Yesung yang duduk bersebelahan dengan Je Wo. Pria itu memang sedikit berbeda dengan ketiga temannya, ia bahkan terlalu sering menolak ajakan setiap gadis yang merayunya. Hal itu ia lakukan karena ia ingin bersikap setia pada kekasihnya.

              “Kau pikir aku marah melihatnya berciuman dengan gadis-gadis itu? Kau salah Yesung sshi, aku hanya terlalu muak melihat wajahnya.” Ucap Je wo dengan tatapan tajam dan menusuk pada Kyuhyun. Pria itu seakan tidak menghiraukan keberadaannya disana. Ia terlalu sibuk bermesraan dengan para gadisnya.

              “Awalnya mungkin belum, tapi aku rasa lama kelamaan kau juga akan cemburu.”

              “Apa? Kau bilang apa tadi?” tanya Je wo tajam.

              Yesung tersenyum lebar padanya dan menggeleng polos.

              Je Wo kembali membuang nafas beratnya, kebosanan mulai melanda dirinya. Ia bahkan tampak sesekali menguap lebar disana. Bahkan candaan yang di lakukan Lee bersaudara itu tak lagi mampu mengusir kebosanannya.

              “Cho Kyuhyun,” panggil Je wo datar. “Apa kau masih lama disini?”

              Kyuhyun yang tengah mengeranyangi tubuh gadis itu dari balik baju yang di kenakannya, terpaksa menghentikan aktivitasnya. Ia menoleh datar pada Je Wo yang menatapnya malas, “Kenapa?” tanya Kyuhyun datar.

              “Aku mengantuk, jika kau masih ingin melanjutkan segala aktivitas menjijkkan ini, lebih baik aku pulang saja.”

              Mendengar itu Kyuhyun tersenyum sinis, ia membisikkan sesuatu pada kedua gadis yang berada di sampingnya. Kedua gadis itu mengangguk mengerti dan segera meninggalkan Kyuhyun, “Kau sangat mengganggu malam ini,” desis Kyuhyun tajam. Ia beranjak dari tempatnya, mendekati Je Wo dan segera menarik paksa pergelangan tangan gadis itu. Menyeretnya paksa kearena lantai dansa, tidak menghiraukan sebelah tangan Je Wo yang berusaha melepas cekalan tangannya. Ia mencampakkan tubuh Je Wo disana hingga gadis itu terhuyung ke tengah-tengah lantai dansa, membuat semua orang menghentikan semua aktivitas mereka, bahkan DJ club itu pun menghentikan permainannya. Kini suasana hening menyelimuti tempat itu. Shin Je Wo dan Cho Kyuhyun menjadi pusat perhatian seluruh orang. Terlebih Kyuhyun yang tidak melepaskan tatapan tajamnya dari gadis itu.

              “Kau bilang kau mengantuk, kan?” tanya Kyuhyun sinis, “Kalau begitu menarilah untukku, aku juga sangat mengantuk melihat tampangmu yang menjijikkan itu.” Kyuhyun menatap DJ dan memberikan kode untuk kembali melanjutkan pekerjaannya. Saat musik keras kembali terdengar Kyuhyun menyeringai ngeri pada Je Wo.

              Kedua tangan yang berada di sisi tubuhnya terkepal, ucapan Kyuhyun seakan menjadi tamparan kuat baginya. Pria itu memang benar-benar berniat mempermalukan dirinya di depan umum. Ia meneguk ludah beratnya, mencoba menenangkan dirinya meskipun dadanya bergemuruh kuat. Menahan segala emosi pada pria itu. Dengan langkah cepat ia berniat meninggalkan tempat itu, berusaha tidak menghiraukan bisikan-bisikan sinis yang berasal dari sekelilingnya. Namun langkah itu terhenti saat Kyuhyun kembali menarik lengannya kuat, membuatnya berhadapan dengan pria itu.

              “Kau mau kemana? Pestanya baru saja di mulai, kenapa kau cepat sekali ingin pergi?” tanya Kyuhyun dengan nada merendahkan.

              Padahal semua orang disana mengetahui mengenai pertunangan mereka, dengan status Kyuhyun yang tak lain adalah anak dari seorang pengusaha terkaya di Korea. Pastilah tidak sulit untuk mereka mengetahuinya, apa lagi para penjilat yang selalu mengelilingi pria itu.

              Sementara itu Shin Je Wo berusaha mati-matian menahan rasa malunya, pria yang berstatus sebagai tunangannya itu sudah berhasil mempermalukan dirinya, “Lepaskan tanganmu.” ucap Je Wo pelan.

              “Bagaimana jika aku tidak mau?” jawab Kyuhyun dengan tatapan binalnya. Ia menarik kedua bahu Je Wo mendekat kearahnya, membunuh jarak diantara keduanya hingga dapat merasakan deru nafas masing-masing. Semua orang yang mengelilingi mereka sontak menahan nafas, membayangkan hal apa yang akan segera terjadi disana.

              “Cium aku, sekarang.” Perintah Kyuhyun tajam.

              PLAKKK

              Kyuhyun mendesis tajam, menyeka ujung bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah segar. Tamparan Je Wo yang berhasil mendarat pada pipinya membuat semua orang terperanjat kaget, pasalnya baru gadis itulah yang berani melakukannya pada pria keji itu.

              “Kau pikir kau siapa, Cho Kyuhyun? Beraninya kau mempermalukanku seperti ini. Kau benar-benar pria rendah.”

              Je Wo memejamkan matanya kuat saat melihat sebelah tangan Kyuhyun bersiap-siap melayang di udara untuk menamparnya. Namun untungnya, Hyukjae dan Donghae berhasil mencegahnya, kedua pria itu segera menarik Kyuhyun sedikit menjauh dari Je Wo, “Jangan bodoh, Cho Kyuhyun. Dia adalah wanita.” Bisik Donghae.

              “Lagi pula semua orang disini sudah tahu kalau dia adalah tunanganmu, dan jika Ayahmu tau mengenai ini maka habislah kau.” sambung Hyukjae memperingati.

              Kyuhyun yang mendengar itu mulai berpikir, apa yang di katakan kedua pria itu ada benarnya. Jika Ayahnya tau maka bisa saja pertunangan mereka di putuskan dan itu berarti dia tidak bisa menghancurkan gadis itu lebih parah lagi.

              “Ayo kuantar kau pulang.” Ajak Yesung pada Je Wo yang masih berdiri kaku disana, kaki gadis itu bergetar menahan perasaan takut dan semacamnya. Melihat itu Yesung berinisiatif menarik lengan Je Wo, namun ternyata Cho Kyuhyun sudah lebih dulu melakukannya. Ia menarik paksa Je Wo dan membawa gadis itu leluar dari club, menyeret tubuh gadis itu dengan langkah besarnya sehingga membuat Je Wo berjalan terseok-seok mengikutinya.

              “Masuk!” perintah Kyuhyun saat mereka berdua telah berada di depan mobilnya.

              “Aku bisa pulang sendiri!” balas Je wo sengit.

              Kyuhyun terkekeh bengis dan mengangguk ringan. “Kalau begitu baguslah, setidaknya mobilku tidak perlu terkotori oleh gadis murahan sepertimu.” Ucapnya keji.

              Kedua mata Je Wo membulat mendengar perkataan tajam Kyuhyun, pria itu tidak memperdulikannya dan segera masuk ke mobil, meninggalkan Je Wo yang masih berdiri mematung disana.

***

“Oppa…”

              Choi Siwon berdiri terpaku saat menemukan Je Wo berdiri dengan tubuh gemetar di depan pintu rumahnya. Gadis itu menyeruak masuk ke dalam pelukannya, ia dapat merasakan tubuh gadis itu bergetar seperti sedang menangis. Dan dia semakin yakin akan hal itu saat merasa baju bagian dadanya basah.

              “Ada apa?” tanya Siwon pelan.

              Je Wo menggeleng pelan dan tetap membenamkan wajahnya di dada Siwon, isakannya kian menguat saat merasa Siwon membalas pelukannya. Malam ini begitu menyakitkan baginya, ia telah di permalukan oleh Cho Kyuhyuh di hadapan semua orang.

              Perlahan Choi Siwon membawanya masuk kedalam, mendudukkan tubuh yang gemetar itu perlahan keatas sofa. Ia mengusap lembut kedua pipi Je Wo, menghapus sisa-sisa air mata gadis itu disana, “Ada apa? Apa terjadi sesuatu?” tanya Siwon lembut.

              “Dia terlalu berengsek dari yang kubayangkan.” ujarnya yang kembali terisak. Bayangan saat Kyuhyun ingin menamparnya dan menghinanya kembali bersekelebat dalam ingatannya. Seumur hidupnya, baru pria itulah yang pernah melakukan hal sekeji itu padanya.

              Seakan mengerti dengan apa yang dimaksud oleh kekasihnya, Choi Siwon kembali menarik tubuh yang masih bergetar itu ke dalam pelukannya, rasa bersalah itu semakin menyeruak ke dalam hatinya saat melihat gadisnya tersakiti oleh pria lain. “Maafkan aku, semua ini salahku, tidak seharusnya aku menyetujui ide gila ini.” ucapnya lirih.

***

Cho Kyuhyun berkali-kali menguap lebar di hadapan Sekretaris Kim, pria paruh baya yang menjabat sebagai kaki tangan  Cho Yeung Hwan, Ayah dari Cho Kyuhyun, tengah menjelaskan mengenai pekerjaan apa saja yang harus di kerjakan oleh Manager baru di perusahaan itu. Ya, Cho Kyuhyun baru saja menjabat sebagai Manager baru di perusahaan Ayahnya, sebuah perusahaan yang memiliki seluruh Resort terkemuka di Korea, bahkan di beberapa negara ASIA lainnya. Sejujurnya ia sama sekali tidak menyukai pekerjaan barunya itu. Mengingat sifatnya yang sama sekali tidak suka di atur oleh orang lain, namun, janji adalah janji. Ia sudah berjanji pada  Cho Yeung Hwan, akan memulai pekerjaan barunya di sana, karena itu adalah konsekuensinya untuk mewujudkan segala ego dalam dirinya.

              “Jadi, saya harap Tuan muda mengerti dengan segala tanggung jawab yang di berikan oleh Presdir Cho pada anda.” ucap Kim Tae Sung mengakhiri penjelasannya. Pria berkaca mata tebal itu menatap cemas pada Kyuhyun, menunggu reaksinya.

              “Baiklah, aku mengerti. Lalu.. apa ada lagi yang akan kau jelaskan padaku? Sekretaris Kim?”

              “Sepertinya tidak, Tuan muda.”

              “Baguslah.”

              Cho Kyuhyun menyambar kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja kerjanya, ia berdiri dan merapikan pakaian yang ia kenakan. Hal itu membuat Sekretaris Kim sedikit berjengit aneh menatapnya.

              “Anda ingin pergi kemana? Tuan muda?” tanya Sekretaris Kim sopan.

              “Bersenang-senang, memangnya apa lagi?”

              “Tapi_”

              “Kau sudah mengerjakan tugasmu dengan baik, Sekretaris Kim”

              Cho Kyuhyun tersenyum miring, sebelum mulai melangkahkan kedua kakinya penuh semangat untuk segera keluar dari ruangan yang menurutnya sangat membosankan. Kini disana, hanya tinggal pria paruh baya itu saja, dengan gelengan kepalanya yang penuh dengan ketidak mengertian.

***

Shin Je Wo berkali-kali menggelengkan kepalanya gusar, entah sudah berapa kali ia menekan tombol Backspace pada Keyboard Laptonya. Pikirannya saat ini sedang tak tentu arah, sehingga pekerjaannya untuk meneruskan novel yang sedang ia kerjakan jadi berantakan. Ya, gadis itu memanglah seorang penulis novel pemula, ia baru saja menggeluti pekerjaan itu selama dua tahun terakhir. Dua novelnya sudah berhasil beredar di pasaran, dan kini, ia tengah mengerjakan novel ketiganya.

              Namun hari ini, konsentrasinya seakan pecah, ia sama sekali tidak tahu harus membuat cerita seperti apa disana. Bukan karena ia kehabisan inspirasi untuk melanjutkan kisah cerita itu, hanya saja saat ini pikirannya melayang-layang entah kemana. “Hahhh, sama sekali tidak bisa.” gumamnya frustasi.

              Ia melirik ponselnya, tidak ada sebuah panggilan ataupun pesan disana. Desahan gusar kembali terdengar darinya, ternyata merindukan sosok yang selama ini selalu menemani hari-harinya, membuat ia tidak dapat mengerjakan apapun dengan benar, “Ayolah Oppa, sekali… saja, telepon aku…” rengeknya sendiri.

              DRRTT DDRRTTT

              “Eo?!” pekiknya terkejut, senyumannya terkembang begitu saja melihat ada sebuah getaran yang di timbulkan dari ponsel hitam miliknya. Tanpa menunggu lama ia segera mengangkat panggilan itu, “Hallo?” jawabnya girang.

              “Kau dimana?”

              Suara berat seseorang yang sangat ia kenali, segera menghapus senyuman manis yang sedari tadi terkembang di bibirnya. Hanya dengan mendengar suara itu saja, kebencian pada dirinya kembali tersulut. Suara itu, milik Cho Kyuhyun.

              “Ada apa?”

              “Aku tanya kau dimana?”

              “Di rumah.”

              “Lima belas menit, Bar Novotel Ambassador Gangnam. Jangan sampai terlambat.”

              “Apa? Yah, apa maksudmu?”

              Shin Je Wo menatap layar ponselnya dengan tatapan tak percaya, bagaimana mungkin pria itu menyuruhnya pergi ke Novotel Ambassador Gangnam, dalam waktu lima belas menit, sementara jarak antara rumahnya dan Hotel mewah itu cukup jauh. Kalaupun ia kesana dengan sebuah Taxi yang memiliki kecepatan di atas rata-rata, ia akan tiba dalam waktu kurang lebih tiga puluh menit.

              “Kau benar-benar tidak waras, Cho Kyuhyun!”

              Tanpa mematikan Laptopnya, ia segera menuju lemari pakaiannya, mengambil pakaian yang menurutnya layak untuk di kenakan di tempat kalangan atas, atau bisa di sebut juga dengan kalangan Chaebol. Dalam waktu lima menit, gadis itu sudah bersiap-siap meninggalkan rumahnya, tanpa menjawab pertanyaan kedua gadis yang meneriakinya. Bukannya ia takut dengan pria yang bernama Cho Kyuhyun itu, hanya saja kali ini dia mulai bertekad akan memulai permainan yang di atur oleh pria itu. Kali ini tekadnya sudah bulat, menyadarkan pria keras kepala itu dan segera melepaskan diri dari kekangannya.

              Dalam waktu kurang dari tiga puluh menit, akhirnya Shin Je Wo berhasil sampai di tempat itu dengan selamat. Untungnya, ia menemukan seorang supir Taxi yang cukup bisa di andalkan. “Ini, kembaliannya ambil saja untukmu, Paman.” ucapnya sembari tersenyum kecil. Setelah itu, ia segera melangkahkan kakinya masuk kedalam gedung mewah itu, mencari dimana letak Bar yang Hotel itu miliki.

              “Eung? Apa ini tempatnya?” gumamnya saat memasuki sebuah Bar yang  bernuansa eropa. Shin Je Wo mengelilingi matanya kesegala arah tempat itu, tidak terlalu sepi namun cukup sulit untuk mencari sosok pria yang mengharuskannya datang kesana. Matanya sedikit menyipit saat mendapti sosok pria yang tengah menatap tajam pada dirinya, pria itu terlihat sedang duduk berhadapan dengan seorang pria berambut sedikit panjang, menggunakan jaket kulit. Pria yang terlihat sedikit urakan itu memutar kepalanya kebelakang, ia tersenyum kecil saat mendapati Shin Je Wo berdiri di tempat yang tidak terlalu jauh dari mereka.

              Je Wo ingin melangkah kesana, namun  telapak tangan Cho Kyuhyun yang terangkat, seakan melarangnya untuk mendekat. Kyuhyun menunjukkan sebuah meja yang berjarak antara tiga meja dari tempatnya, memerintahkan agar gadis itu duduk disana. Shin Je So membuang nafas kesal, menghentakkan kaki-kaki jenjangnya saat melangkahkan kakinya pada meja itu.

              “Seenaknya saja memerintahku. Kau pikir kau itu siapa?” sungutnya kesal. Seorang pelayan menghampri Je Wo, menanyakan pesanan apa yang di inginkannya. Namun gadis itu hanya menggeleng sopan, “Maaf, aku hanya menunggu temanku. Aku tidak ingin memesan apapun.” Ucapnya.

              Sepuluh menit berlalu, dan gadis itu mulai merasa bosan. Ia melirik kedua pria yang tampak tengah bebincang serius satu sama lain. “Apa yang sedang mereka bicarakan? Serius sekali.” gumamnya pelan. Mata tajamnya mulai memperhatikan gelagat kedua pria disana, berdasarkan dari pengelihatannya, keduanya tampak bukanlah teman baik. Melihat bagaimana Cho Kyuhyun berkali-kali melemparkan tatapan sinisnya pada pria urakan itu.

              Lima menit setelah itu, Cho Kyuhyun berdiri dari tempatnya, menghampiri Je Wo yang sibuk memainkan pinggiran meja sebagai pelepas rasa bosannya. “Ikut aku.” ucap pria itu dingin, tanpa menunggu jawaban Je Wo, Cho Kyuhyun kembali melanjutkan langkahnya, dan gadis itu terpaksa mengikuti kemana pria itu pergi. Dengan mulutnya yang tak henti-hentinya mengumpat pria dingin itu.

***

Shin Je Wo menelan ludah gugup saat Cho Kyuhyun membawanya kesebuah kamar di Hotel itu. Pria itu sedari tadi tidak berbicara sepatah katapun, bahkan setibanya di dalam sana, ia segera membaringkan tubuhnya di sofa panjang yang terletak di sudut kamar. Membiarkan Je Wo berdiri kikuk di depan ranjang.

              “Kau bisa duduk disitu, kalau kau mau.” ucapnya sembari menunjuk ranjang yang berseprai putih dan di lapisi Bed Cover berwarna biru tua.

              “Sebenarnya untuk apa kau membawaku kesini?”

              “Kau tidak perlu tahu untuk itu.”

              “Berhenti melakukan sesuatu dengan seenakmu, tidak selamanya semua keinginanmu dapat terpenuhi, Cho Kyuhyun sshi.” ucap Je wo tajam.

              Kyuhyun mendengus malas dan tersenyum sinis, ia menegakkan tubuhnya, duduk menyandar pada sofa berwarna Orange itu. “Benarkah? Tapi selama ini aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan, apa kau masih belum bisa berkaca, hm?” jawabnya dingin. Tiba-tiba saja pria itu berdiri, mendekati Shin Je Wo yang masih berdiri di depan ranjang dengan kaku, ia melangkahkan kakinya dengan ritme perlahan. Tidak mengeluarkan bunyi apapun, sehingga suasana di kamar itu mendadak hening.

              “Kau tahu?” bisik Kyuhyun pelan saat tubuhnya hanya berjarak beberapa centi saja dari tubuh Je Wo, gadis itu memejamkan matanya kuat saat merasakan hembusan nafas segar yang beraroma mint, menyapa permukaan wajahnya, “Tidak ada yang dapat menolak keinginanku, termasuk kau, Nona Shin.” tangan kanan Cho Kyuhyun terangkat keatas, menyentuh wajah gadis itu yang mulai memucat.

              “Jangan sentuh aku,” ucap Je Wo tajam. Kedua matanya kembali terbuka, kini tatapannya mendadak tajam pada pria itu. Kedua tangannya terkepal di samping sisi-sisi tubuhnya. Ia takut, tentu saja. Berada di sebuah kamar Hotel dengan pria berengsek seperti Cho Kyuhyun, memang sangat membahayakan. Namun kali ini, ia berusaha untuk bersikap tenang dan melawan keegoan pria itu. “Mungkin kau bisa menyentuh semua wanita yang kau inginkan, tapi tidak denganku. Kau… terlalu menjijikkan.” desisnya sembari menepis dan mendorong tubuh Kyuhyun menjauh.

              Pria itu tertawa hambar, ia membasahi permukaan bibir dengan lidahnya, melakukannya sededuktif mungkin, “Menjijikkan? Tidakkah kau rasa kata itu lebih pantas untuk wanita sepertimu?” ucapnya. Kedua matanya mendadak tajam, tatapan yang sudah sangat siap untuk menerkam mangsanya. Namun kedua sudut bibirnya terangkat sempurna seiring terdengarnya ketukan pintu dari luar, seringaian licik dari bibir pria itu terkembang.

              Ia segera membuka pintu itu, melewati Shin Je Wo yang masih menatapnya dengan tatapan bingung. Entah kenapa perasaan gadis itu mendadak cemas, terlebih saat seorang pria urakan, yang tadi sempat ia lihat sedang mengobrol dengan Kyuhyun masuk ke kamar itu.

              “Baguslah, ternyata kau menepati janjimu, Cho Kyuhyun.”

              “Memangnya kapan aku pernah berbohong, Kim Heechul?”

              Kedua pria itu tertawa penuh arti saat mengalihkan tatapannya pada sosok gadis yang masih berdiri mematung.

              “Sebenarnya ada apa ini? Yah Cho Kyuhyun! Apa yang sedang kau rencanakan?!” teriaknya, keringat dingin mulai membasahi permukaan wajahnya. Pikiran-pikiran liar mulai menyinggahinya, hingga rasa takut itu tak terelakkan lagi. Ia terlalu takut jika pria itu benar-benar melakukan hal keji itu padanya.

              Cho Kyuhyun menyerahkan kunci kamar itu pada Heechul. “Nikmati harimu, Kim Heechul.” ucapnya datar. Setelah itu mengangkat kakinya begitu saja untuk keluar dari kamar itu. Shin Je Wo menggelengkan kepalanya lemah memandang punggung Kyuhyun yang mulai menjauh, hingga pria itu menutup pintu dan meninggalkan dirinya dengan pria yang sama sekali tidak di kenalinya.

              “Jangan takut, Nona. Aku tidak akan menyakitimu” ucap Heechul dengan senyuman binalnya.

              “Jangan macam-macam denganku, atau kau_”

              “Apa? Kau ingin melakukan apa padaku, hm?” Heechul mulai membuka jaket yang masih membalut tubuhnya, melemparkannya kesembarang tempat. Kedua kakinya mulai melangkah perlahan, mendekati Je wo. Satu langkah darinya di balas dua langkah kebelakang oleh gadis itu. “Hahaha, kau terlalu tegang Nona, santai saja. Tunanganmu itu memberikan banyak waktu pada kita. So.. enjoy!”

              “A-apa? M-maksudmu, Cho kyuhyun, Cho kyuhyun yang menyuruhmu melakukan ini padaku?” tanya Je wo tak percaya.

              “Mungkin ya, tapi.. lebih tepatnya, dia menjualmu padaku,” jawab Heechul, kini ia telah berhenti mendekati Je Wo, pria urakan itu sedikit tertarik menceritakan bagaimana bisa ia mendapatkan Shin Je Wo dengan mudah. “Kau tau? Dia menjualmu untuk menutupi keberengsekannya. Tunanganmu itu adalah seorang pria berdarah dingin, mungkin kau sudah terlalu sering mendengar ia berkali-kali menyeret puluhan orang untuk menetap di rumah sakit. Tapi…” Kim heechul tersenyum licik dan memiringkan kepalanya. “Apa kau sudah pernah mendengar, jika dia telah membunuh seseorang?”

***

Cho Kyuhyun melangkah ringan setelah keluar dari lift, kini ia sudah berada di lantai satu. Hari ini adalah hari yang cukup tegang baginya, namun sedikit melegakan karena dia telah berhasil membungkam mulut seorang pria mesum yang mengetahui sebuah rahasianya. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya, menekan beberapa deret angka, berniat menelepon seseorang.

              “Cho Kyuhyun!!”

              Panggilan dengan suara yang cukup keras dari arah belakang tubuhnya. Memaksa ia memutar kepalanya kebelakang, ia mengerutkan dahi bingung saat mendapati ketiga sosok temannya disana. “Aku baru saja ingin menghubungi kalian.” ucapnya setelah ketiganya berdiri tepat di hadapannya.

              “Dimana dia?” tanya Lee Hyukjae.

              “Dia? Dia siapa?” pria itu menatap satu persatu ketiga temannya. Ada yang aneh dengan raut wajah ketiganya, Kyuhyun tidak tau itu, namun yang jelas sepertinya ketiganya terlihat sangat mencemaskan sesuatu.

              “Shin Je Wo.” jawab Donghae.

              Mendengar itu, Kyuhyun hanya menghela nafas malas, ia merasa apa yang di tanyakan ketiga pria itu sama sekali tidak penting. “Di atas, bersama Kim Heechul.”

              “Apa?!” teriak ketiganya.

              “Yah kau sudah gila hah?! Bagaimana bisa kau meninggalkan dirinya dengan pria bajingan itu?!” pekik Yesung. Bahkan Donghae dan Hyukjae sudah menggeleng lemah disana. Sementara yang di teriaki hanya memasang tampang tidak mengerti.

              “Kalian itu kenapa? Aku hanya melakukan apa yang memang harus aku lakukan. Dan itu juga demi kebaikanku.”

              “Dengan cara menjual Je Wo? Begitu?”

              “Apa ada yang salah dengan itu, Lee Hyukjae?”

              “Cho Kyuhyun! Dia sama sekali tidak bersalah.”

              Kyuhyun mengerang tertahan pada ketiga pria itu, perasaannya mendadak kesal saat Lee Hyukjae, Lee Donghae dan Yesung seakan menyudutkan dirinya. “Ada apa dengan kalian? Kenapa jadi melebih-lebihkan hal sekecil ini? lagi pula kalian tahu bagaimana posisiku saat ini, kan?”

              “Tapi tidak dengan cara seperti ini Cho Kyuhyun, kau harus ingat dia adalah tunanganmu. Meskipun kau hanya ingin membalaskan dendammu padanya, kau juga tidak bisa memperlakukannya seperti itu. Dia adalah wanita!!” terang Yesung.

              “Dan bagaimana bisa kau memercayai ucapan Heechul begitu saja?! Apa kau bisa memegang janjinya hanya dengan menyerahkan Je Wo begitu saja padanya?! Apa kau yakin setelah ini dia tidak akan kembali mengancammu?! Kenapa kau sebodoh ini?!!” sambung Donghae.

              “Sudah berapa lama kau mengenal si berengsek Heechul, hah?! Pria itu tidak pernah mengenal kata puas dalam hidupnya! Dan sekarang? Kau telah membuat Shin Je Wo masuk kedalam permainannya.”

              Ucapan ketiga pria di hadapannya, seakan membuat kepalanya terasa kosong. Kalimat-kalimat yang terlontar dari ketiga pria itu melayang-layang dalam kepalanya. Ia baru saja menyadari kebodohannya dalam mengambil tindakan, biasanya ia tidak segegabah itu menyelesaikan permasalahannya, namun sekarang? Tanpa menunggu lama, ia segera memutar tubuhnya, berlari cepat ke arah lift. Sayangnya, lift itu masih tertutup dan memaksanya berkali-kali menekan tombol open di sana.

              “Cepatlah!” gumamnya tidak sabar.

              Pintu lift itu terbuka, namun langkah Cho Kyuhyun terhenti begitu saja. Kedua matanya melebar saat melihat sosok gadis yang terlihat berantakan berdiri dengan tubuh bergetar disana, seluruh kancing kemejanya sudah lepas dari tempatnya. Rambutnya berantakan dan wajahnya terkesan sembab. Kedua tangannya berusaha menutupi kancing-kancing yang telah menghilang itu.

              Shin Je Wo menatap tajam pria yang berdiri kaku di depan pintu lift. Emosinya tersulut begitu saja saat kembali menatap wajah pria itu, kakinya yang gemetar ia paksakan melangkah keluar dari sana.

              Tamparan kuat mendarat pada pipi Cho Kyuhyun, membuat ketiga teman pria itu melebarkan matanya masing-masing. “Berengsek! Kau benar-benar pria berengsek Cho Kyuhyun! Tega sekali kau melakukan hal ini padaku!” teriaknya, nafasnya tersengal-senggal menahan amarah. Air matanya tumpah saat itu juga, hatinya sangat sakit dan perasaannya begitu takut, bagaimana tidak? Beberapa saat yang lalu ia baru saja mengalami sesuatu yang mengerikan dalam hidupnya.

              “Apa salahku padamu, hah?! Apa?!” teriaknya di depan wajah Kyuhyun, pria itu tidak menjawab, hanya menatap wajah gadis yang ada di hadapannya itu dengan tatapan tidak berekspresi, “Bagaimana bisa kau menjualku pada pria itu?! Apa hakmu melakukan ini padaku?! Kau bajingan, keparat! Enyah kau dari hidupku! Kau pria berengsek yang melimpahkan segala kesalahanmu pada orang lain! Kau pengecut!”

              Lee Hyukjae yang melihat itu segera mengambil sikap, ia mendekati Je Wo dan menarik lengan gadis itu lembut. “Sebaiknya tenangkan dirimu Nona, disini ada banyak orang menonton kalian berdua.” bisiknya.

              “Tidak! Biar saja semua orang tahu, biar saja semua orang di dunia ini tahu siapa dia! Siapa Cho Kyuhyun yang terhormat ini, Cho Kyuhyun yang tak lain adalah seorang_”

              “LEE HYUKJAE!” teriak Donghae kuat.

              Kini kelima orang itu telah menjadi tontonan banyak orang, suara Je Wo yang sedari tadi menggema disana berhasil membuat keadaan semakin ramai. Terlebih lagi saat mereka melihat Cho Kyuhyun disana, pria itu masih diam, tidak bereaksi apapun. Sementara ketiga temannya sudah hampir mati berdiri saat Shin Je Wo sedikit lagi membocorkan sebuah rahasia besar Cho Kyuhyun yang selama ini berusaha mereka tutupi. Untung saja Donghae lebih dahulu meneriaki Hyukjae.

              “Cepat bawa dia pergi.” perintah Yesung.

              Hyukjae mengangguk mengerti dan segera membawa paksa Je Wo yang terus meronta, gadis itu seperti kerasukan setan dan segera ingin menerkam Cho Kyuhyun. Sedangkan Yesung dan Donghae, lebih memilih menarik lengan Kyuhyun dan membawanya keluar dari sana, pria itu seakan tidak memiliki tenaga untuk menolak. Ia mengikuti begitu saja kemana kedua pria itu membawanya.

***

“Lepaskan aku, lepaskan aku!” teriak Je Wo di sepanjang jalan, Hyukjae bahkan harus mempertebal kulit wajahnya saat banyak orang yang memperhatikan mereka dengan tatapan aneh, apa lagi dengan keadaan Je Wo yang seperti ini, sudah tidak bisa di elakkan lagi jika semua orang menyangka Hyukjae telah melakukan hal yang tidak-tidak terhadap gadis itu. Dan itu sangat memalukan bagi seorang model terkenal seperti dirinya.

              Dengan langkah cepat, ia segera memasukkan Je Wo ke dalam mobilnya, mengunci pintu mobil itu sebelum Shin Je Wo kembali keluar dengan beringasnya dari sana. Ia membuang nafas lega saat keduanya telah masuk kesana, rasanya tenaga yang ia miliki terkuras habis hanya dengan membawa gadis itu masuk ke mobil.

              “Kau sudah bisa tenang sekarang?” tanya Hyukjae pelan, ia menatap Je Wo yang memang sudah tidak meronta-ronta seperti tadi. Namun kali ini, gadis itu menatap sinis pada dirinya, membuat dirinya merasa sedikit takut dengan tatapan gadis itu. “Aku tidak akan melakukan apa-apa padamu, Nona”

              “Cepat buka pintu mobilmu!” desis Je wo tertahan.

              Lee Hyukjae membuang nafas berat dan menggeleng pelan, hal itu semakin membuat Shin Je Wo meradang.

              “AKU BILANG CEPAT BUKA PINTU MOBILMU! AKU INGIN MENGHANCURKAN WAJAH TEMANMU YANG BERENGSEK ITU, LEE HYUKJAE SSI!!” nafasnya tersenal-sengal, air matanya bahkan sudah bersiap-siap kembali tumpah. Demi Tuhan, gadis itu sangat membenci pria yang telah membuat dirinya seperti itu.

              “Maaf, tapi.. aku tidak bisa menuruti keinginanmu, jika..” ucap Hyukjae ragu. “Jika kau akan memberitahu semua orang mengenai rahasia itu.” Hyukjae menatap Je wo lirih, mencoba memohon pada gadis itu untuk tidak mengatakan apapun pada orang lain. Namun sialnya, Shin Je Wo malah tersenyum sinis padanya dan membuat dirinya yakin jika gadis itu tidak akan pernah mau bekerja sama dengannya.

              “Kenapa? Sepertinya kau terlalu takut jika semua orang mengetahui sebuah kebenaran,” ucap Je Wo tajam, matanya menatap lekat wajah kaku di hadapannya. “Kebenaran yang mengatakan Cho Kyuhyun adalah seorang pembunuh.”

              Lee Hyukjae menggeleng lemah di hadapan Je Wo, ia meneguk ludahnya berat saat mendapat tatapan serius dari gadis itu. Sepertinya gadis ini memang bukanlah gadis yang bisa di ajak bekerja sama dengan mudah.

              “Dan kau memintaku untuk merahasiakannya? Setelah apa yang dia lakukan padaku, begitu? Ternyata kau sama piciknya dengan si berengsek itu, Lee Hyukjae.” Je Wo melemparkan tatapan hinanya pada Hyukjae.

              “Bukan, bukan seperti itu maksudku,” ucap Hyukjae tegas, ia kembali mengambil napas panjang sebelum kembali melanjutkan ucapannya. “Maaf jika Kyuhyun telah menyakitimu. Aku dan kedua temanku memang sedikit terlambat untuk mencegahnya hari ini, aku terlambat mengetahui mengenai pertemuannya dengan Kim Heechul.” jelas Hyukjae, Je Wo hanya tersenyum kecut mendengarnya. Ucapan pria itu sama sekali tidak berlaku untuk menghilangkan perasaan bencinya pada Cho Kyuhyun.

              “Kyuhyun hari ini bermain tunggal, biasanya dia akan mengatakan apapun pada kami mengenai segala rencananya. Maafkan aku.”

              “Percuma saja, Lee Hyukjae sshi. Aku tetap akan menghancurkan pria itu sekalipun ia memohon padaku untuk mengampuninya. Lagi pula… tidak ada satu pembenaranpun yang bisa menutupi kelakuan seorang pembunuh sepertinya.”

              “Dia bukan pembunuh!” ujar Hyukjae tajam, jika tadi ia menatap lirih gadis itu, kali ini tatapannya mendadak tajam dan berkilat. “Cho Kyuhyun bukan pembunuh.” ulangnya lagi.

              Shin Je Wo hanya tersenyum jengah pada Hyukjae. “Tentu saja, karena dia adalah temanmu.” cibir Je wo.

              “Kau salah Nona Shin,” Hyukjae membuang napas gusar, menyandarkan tubuhnya lelah pada jok mobilnya. Shin Je Wo sedikit mengerutkan dahinya melihat kegusaran wajah pria itu. “Kyuhyun, sekalipun ia terlihat sangat brutal, ia tetap tidak akan pernah mau membunuh satu nyawapun. Hal itu tidak mungkin ia lakukan.”

              “Lalu bagaimana mungkin orang yang bernama Kim Young Bum tewas ditangannya? Lee Hyukjae, apa kau ingin menyangkal lagi?” cibir Je Wo. Dia sudah tau, segalanya. Dan semua itu ia dengar dari bibir Kim Heechul.

              “Tidak, itu tidak benar. Kyuhyun tidak membunuhnya, atau lebih tepat.. dia tidak sengaja membunuhnya.”

              “Apa?”

              “Shin Je Wo, aku mohon dengan segala kerendahan hatimu. Rahasiakan semua ini dari siapapun, dan jika bisa, aku mohon kau bergabung bersamaku dan kedua temanku untuk membantu Kyuhyun.”

              Je Wo mendengus kasar, melayangkan tatapan remehnya pada Hyukjae, “Membantumu? Menyelamatkan perbuatan berengsek pria sialan itu? Demi nyawaku sendiri, aku tidak akan pernah mau melakukannya. Aku akan lebih memilih melihatnya membusuk dalam jeruji besi atas segala perbuatannya.”

              “Jika hal itu memang sengaja ia lakukan, maka aku akan sependapat denganmu,” Potong Hyukjae. Kedua matanya berkilat menahan emosi. “Kyuhyun tidak akan membenamkan peluru itu kedalam tubuh Young Bum jika saja pria itu tidak berhenti mengoceh dan membuat Kyuhyun yang saat itu dalam masa perawatan mental kehilangan kendalinya.”

***

“Kami akan membantumu menjelaskan masalah yang terjadi hari ini pada Paman Cho. Aku bisa mengatakan jika masalah ini terjadi karena kesalah pahaman.” Ujar Donghae sembari menepuk pundak Kyuhyun pelan.

              Kyuhyun tak bergeming, ia hanya menyandarkan dirinya pada dinding sofa yang berada di dalam kamarnya. Kepalanya menunduk dalam, pikirannya melayang tak tentu arah. Rasa takut dan penyesalan kembali menggerogoti hatinya. Perasaan yang pernah hadir enam tahun lalu kembali menyelimuti dirinya.

              Yesung melirik Donghae, wajahnya tanpak cemas. Iya mencemaskan bagaimana keadaan Kyuhyun saat ini. “Apa tidak sebaiknya malam ini ia menginap bersama salah satu dari kita?” tanya Yesung.

              Kyuhyun mengangkat kepalanya sejenak, menatap Yesung yang tengah bertatapan dengan Donghae, “Tidak perlu, aku baik-baik saja.” ucapnya pelan.

              Donghae dan Yesung menoleh padanya. Kedua alis pria itu terangkat bersamaan.

              “Kalian pulanglah,” desahnya, ia memainkan kuku-kuku jemarinya. Satu tindakan yang ia lakukan ketika sedang merasa takut, “Dan setelah itu, tolong katakan pada Hyukjae untuk segera mengabariku.”

              Donghae dan Yesung mengangguk bersamaan. Setelah mengucapkan kalimat selamat malam dan sebagainya, kedua pria itu beranjak meninggalkan Kyuhyun sendiri. Pria itu memang tidak tinggal bersama Ayahnya. Ia tidak akan pernah mau berlama-lama berada di bawah satu atap yang sama dengan Ayahnya sendiri.

              Pria itu berjalan gontai mendekati meja kecil yang terletak disudut kamarnya. Hembusan nafas gusar terdengar dari bibirnya. Tangannya bergerak menarik satu laci persegi empat. Jemarinya mulai gemetar ketika ingin meraih sesuatu dari sana.

              Kini, tangannya telah memegang selembar foto yang tampak usang. Lembaran foto itu tampak bergoyang akibat tangannya yang tampak gemetar. Kedua matanya tampak tak fokus menjelajahi isi foto itu. Keringat dingin mulai mengotori dahinya, bahkan suara gemeratuk dari giginya menimbulkan kesan menakutkan disana. Tubuhnya semakin menggigil dan tangannya semakin mencengkram kuat foto itu.

              Foto itu terlepas begitu saja ketika kedua tangannya meremas rambut hitamnya dengan kuat. Merasakan denyutan tak tertahan dari sana yang menyerangnya bertubi-tubi.

****

“Tidak apa-apa, Oppa. Aku baik-baik saja.” Je Wo berusaha sebiasa mungkin menjawab segala pertanyaan cemas Choi Siwon padanya melalui telepon genggam. Berita mengenai pertengkarannya bersama Kyuhyun telah beredar luas di media.

              “Ya, dia tidak menyakitiku,” jawabnya lagi, namun kali ini matanya menangkap tatapan menuntut dari kedua gadis yang duduk di hadapannya. Saat ini ia memang tengah berada di meja makan untuk menikmati sarapan paginya. “Oppa, pria itu tidak akan bisa menyakitiku. Percayalah…”

              Ia tersenyum kecil ketika mendapat desahan gusar kekasihnya, menandakan jika pria itu tak akan lagi mampu berdebat dengannya. “Eum, aku tahu. Aku juga mencintaimu.”

              Sambungan terputus, Je Wo menatap lama layar ponselnya. Ada perasaan tenang menyelimutinya setelah mendengar suara kekasihnya.

              “Aku rasa, kau tidak sedang baik-baik saja, Eonnie.” Seru Sang Ji membuka percakapan.

              Je Wo menoleh pada Sang Ji, gadis itu masih menatapnya dengan penuh tuntutan.

              “Kau pulang dengan seorang pria asing, pakaianmu tampak berantakan dan wajahmu sembab seperti habis menangis,” sambung Eunjin. “Pagi ini, berita panas mengenai pertengkaranmu dan Cho Kyuhyun di sebuah hotel beredar luas. Apa kau masih bisa mengatakan saat ini kau baik-baik saja?”

              Ya, aku memang sedang tidak baik-baik saja. Bahkan kalau bisa jujur, aku masih sangat merasa takut atas perlakukan Heechul sebelum aku berhasil menendang organ intimnya dan berlari keluar dari sana sebelum ia memperkosaku. Sial, aku bahkan sangat ingin membunuh pria itu detik ini juga.

              “Eonnie…” panggil kedua gadis itu bersamaan.

              Je Wo kembali tersentak, ia tau kedua gadis itu mencemaskannya. Tapi ini bukan waktu yang tepat untuk menjelaskan apa yang terjadi. Terlebih dengan segala penjelasan Hyukjae yang masih amat sangat membingungkannya.

              “Aku tidak apa-apa, sungguh,” ujarnya dengan senyuman kecil, “Kami memang sempat bertengkar disana. Seperti yang kalian ketahui, aku sama sekali tidak menyukainya dan bahkan sangat membencinya. Tapi terlepas itu, tidak ada yang terjadi.” Je Wo meneguk minumannya dengan susah payah.

              “Benarkah? Lalu siapa pria yang mengantarmu pulang itu?” tanya Sang Ji, masih dengan nada yang mencurigai.

              “Lee Hyukjae, dia teman Kyuhyun. Saat kami bertengkar, dia menjadi penengah diantara kami. Dia membawaku menjauh dari Kyuhyun sedangkan dua temannya yang lain bersama Kyuhyun.”

              “Oh, sudah seperti sepasang kekasih yang bertengkar saja.” Cibir Eunjin tak suka.

              Je Wo ingin menyela, namun deringan ponselnya memaksa ia melirik ponsel yang tadi sudah ia letakkan diatas meja makan, disamping piringnya. “Hallo?” jawabnya.

              Raut wajahnya berubah muram, sorot matanya mendingin seketika. Kedua gadis yang memperhatikannya saling bertatap tak mengerti.

              “Ya, aku tahu. Aku akan menemuinya.” Tanpa menunggu jawaban dari sang penelepon, Je Wo segera menekan tombol merah untuk mengakhiri panggilannya.

              “Siapa?” tanya kedua gadis itu serempak.

              “Aku harus pergi, ada beberapa hal yang harus aku kerjakan hari ini. Lanjutkan sarapan pagi kalian. Cho Sang Ji, aku tidak mau mendengar kau bolos dari satu mata kuliahpun. Jika aku mendengarnya lagi, maka aku akan segera menendangmu keluar dari sini. Mengerti?”

              Eunjin menahan tawanya ketika melihat wajah Sang Ji memucat. Gadis itu memang sama sekali tidak memiliki kemauan untuk belajar. Jika saja ia punya tujuan hidup lainnya, mungkin saja Je Wo akan membiarkannya. Tapi sialnya, ia sama sekali tidak tahu ingin melakukan apa. Baginya, bermain dan bersenang-senang bersama Eunjin yang memiliki pekerjaan sebagai guru taman kanak-kanak adalah hal yang paling ia inginkan.

***

Je Wo menghembuskan napas beratnya sebelum meginjakkan kaki kedalam rumah Kyuhyun. Rumah mewah itu tampak sepi tak berpenghuni, namun aura tenang dan nyaman dapat dirasakan gadis itu disana. Semua dinding berwarnakan putih, segala perabotan rumah itu juga memiliki warna yang sama. Namun sama sekali tidak mengurangi keindahan interior rumah itu.

              Je Wo memerhatikan sekeliling rumah itu, dinding-dinding polos tanpa satu hiasan apapun. Jikapun ada, hanya sebatas foto pria itu saja.

              Kedua kakinya melangkah memasuki sebuah lorong yang membawanya pada sebuah tangga pendek yang menurun. Kakinya berhenti melangkah diatas anak tangga pertama ketika kedua matanya menemukan sosok pria yang duduk nyaman diatas sebuah sofa dengan sebuah PC Tablet yang berada dalam genggamannya.

              Entah sejak kapan pria itu menoleh padanya. Mereka membiarkan beberapa menit berjalan dengan saling tatap satu sama lain.

              Kyuhyun mengamati tubuh Je Wo dari ujung kaki hingga kepala, meyakinkan dirinya sendiri jika keadaan gadis itu baik-baik saja setelah apa yang ia lakukan kemarin. Rasa bersalah dan ketakutan yang sejak tadi malam ia rasakan mulai menguap, melebur menjadi desahan lega meski tidak sepenuhnya.

              Sedangkan Je Wo, entah apa yang membuatnya berdiri terpaku disana. Meski tatapannya masih setajam sebelumnya, namun ia tidak dapat menyangkal jika pesona pria itu pagi ini cukup membuat dadanya berdesir.

              “Oh, kau sudah datang?”

              Je Wo mengalihkan tatapannya pada Hyukjae yang tampak baru saja keluar dari sebuah kamar. Pria itu menyunggingkan seulas senyum padanya.

              “Kemarilah, jangan hanya berdiri disana.” Panggil Hyukjae.

              Je Wo menarik napas panjang sebelum menuruni anak tangga itu, tatapannya masih tidak lepas dari Kyuhyun yang sudah kembali sibuk pada PC Tabletnya. Gadis itu duduk disebrang sofa yang berada dihadapan Kyuhyun.

              Sesaat Hyukjae memperhatikan kedua orang yang berada dihadapannya, “Oke, Shin Je Wo, terima kasih atas kedatangamu. Aku sangat_”

              “Tidak perlu berbasa-basi, langsung saja katakan apa yang kau inginkan.” Sela Je Wo datar menatap Hyukjae yang sedikit ternganga.

              Hyukjae menahan senyuman gelinya, melirik Kyuhyun sekilas dan semakin ingin tertawa saat Kyuhyun menunjukkan ekspresi terkejutnya. Hyukjae tahu Kyuhyun merasa sedikit cemas dengan keadaan Je Wo karena apa yang telah dilakukannya. Pria itu juga berkali-kali menanyakan pada Hyukjae apa Heechul berhasil melakukan niat busuknya pada Je Wo. Dan Hyukjae yang memang sudah memastikan jawaban dari pertanyaan itu juga sudah berkali-kali meyakinkan Kyuhyun kalau Je Wo masih terselamatkan. Tetapi, pria itu tetap terlihar resah.

              Hyukjae mulai merasa tertarik pada Je Wo setelah melewati beberapa waktu bersama gadis itu kemarin. Dalam benaknya, Hyukjae sangat yakin kalau Shin Je Wo bukanlah gadis biasa yang mudah tertindas oleh kelakukan Kyuhyun. Terbukti dari keberuntungannya yang dapat terselamatkan dari sosok Heechul, lalu jangan lupakan tamparan-tamparan yang telah dilayangkannya pada wajah Kyuhyun.

              Percayalah, Shin Je Wo adalah orang pertama yang berani menampar wajah Kyuhyun.

              “Seperti yang kukatakan kemarin. Aku ingin kau bergabung bersama kami untuk membantu Kyuhyun.” ujar Hyukjae langsung.

              Je Wo mengernyitkan alisnya menatap Hyukjae. “Bergabung bersama kalian untuk menutupi kelakukan seorang pembunuh sepertinya?” Je Wo tertawa sinis sambil melirik kearah Kyuhyun. “Jangan bermimpi.”

              “Aku bukan pembunuh.” Desis Kyuhyun berat. Matanya menajam seperti elang.

              “Siapa yang bisa memercayainya? Kalau memukuli orang, membuat keonaran dan menyerahkan seorang gadis yang tidak bersalah pada seorang pemerkosa saja kau tega melakukannya, mengapa kau tidak bisa disebut sebagai seorang pembunuh, Cho Kyuhyun?” sahut Je Wo dingin.

              Kyuhyun hampir saja bergerak dari tempatnya untuk menghambur kearah Je Wo dan melakukan apa yang telah terlintas di otaknya kalau saja Hyukjae tidak menegurnya. Hyukjae melayangkan tatapan tegas padanya untuk kembali duduk hingga akhirnya dia menurut. Tetapi, kedua matanya tetap siaga untuk menerkam Je Wo yang masih menatapnya tenang dan dingin.

              “Shin Je Wo, bukankah aku sudah menjelaskannya padamu? Kyuhyun tidak sengaja melakukannya.” Bujuk Hyukjae.

              Tentu saja Je Wo tidak akan memercayai ucapan pria itu begitu saja. Dia memutar bola matanya malas, memperlihatkan ekspresi jengah setelah mendengar pembelaan Hyukjae. Bukan tidak ada alasan mengapa Je Wo melakukan hal itu. Karena setiap kali dia memperlihatkan ekspresi seperti itu, Kyuhyun selalu tampak marah dan dia sangat menyukainya. Membalas perlakukan Kyuhyun dengan cara seperti ini memang cukup menyenangkan.

              “Kau lihat, kan?” gumam Kyuhyun. “Gadis sialan ini sama sekali tidak bisa diajak bekerja sama.”

              “Tentu saja,” sahut Je Wo cepat. “Bekerja sama dengan pembunuh sepertimu akan melukai harga diriku.”

              “Jaga ucapanmu!”

              “Ouh…” Hyukjae mengeluh tertahan. Mempertemukan mereka berdua utuk membahas masalah serius memang tidak akan berjalan lancar. “Cho Kyuhyun, sebaiknya kau tinggalkan saja kami berdua. Biar aku yang bicara dengannya.”

              “Apa yang ingin kau bicarakan pada gadis murahan sepertinya?! Dia tidak akan pernah mengerti semua penjelasanmu, Lee Hyukjae. Dan sebaiknya lupakan rencanamu untuk meminta bantuan darinya. Aku tidak sudi kalau harus dibantu oleh gadis sialan ini!”

              “Tapi, Kyu_”

              “Bagus sekali, kalau begitu aku tidak perlu lagi menghabiskan waktu berhargaku untukmu. Lagi pula aku lebih tertarik mencari tahu siapa pria yang kau bunuh itu.” Je Wo beranjak dari tempatnya, tersenyum sinis pada Kyuhyun sebelum berbalik dan meninggalkan mereka.

              “JANGAN PERNAH MENGINJAKKAN KEDUA KAKIMU DIRUMAHKU LAGI, BERENGSEK!” teriak Kyuhyun selagi memandangi punggung Je Wo dengan emosinya yang menggebu.

              Hyukjae mendesah putus asa. Kyuhyun tidak akan pernah bisa mengontrol emosinya, sedangkan Je Wo tidak akan sudi melukai egonya demi pria yang sangat dibencinya. Tapi Lee Hyukjae tetap tidak ingin menyerah. Tanpa memedulikan makian yang Kyuhyun ucapkan sambil membanting bebeapa perabotan dirumahnya, Hyukjae melesat pergi untuk mengejar Je Wo.

***

Je Wo menatap kesal pada ketiga pria yang mengelilinginya sambil memasang wajah penuh harap. Dia baru saja ingin masuk kedalam apartementnya saat Hyukjae, Donghae dan Yesung tiba-tiba saja berada dibelakang tubuhnya dan mengajaknya berbicara.

              “Tadi aku sudah berbaik hati dengan mendatangi rumah teman sialan kalian itu. Tapi apa yang kudapat? Dia malah memakiku dengan mulut kotornya.” Ucap Je Wo tenang.

              “Itu karena kau yang memancingnya.” Bela Hyukjae.

              “Apa?” geram Je Wo menatap tajam pada Hyukjae.

              Yesung menyikut perut Hyukjae dan cepat-cepat memasang senyuman polosnya. “Mulut Kyuhyun memang sangat kotor dan terkadang aku tidak tahu dari mana dia belajar memaki-maki orang lain seperti itu. Tapi percayalah, kalau kau mau mendengar cerita kami, kau pasti akan memakluminya.”

              Je Wo hampir saja menyahuti perkataan Yesung saat tiba-tiba saja pintu apartementnya terbuka dan memperlihatkan wajah bingung Sang Ji.

              “Eoh, Eonnie? Kau membawa teman-temanmu?”

              “Tidak, mereka ini_”

              “Ya, benar sekali, adik manis. Kami adalah teman-temannya. Apakah kami boleh masuk?” tanya Donghae. Pria ini sudah memasang senyuman mautnya hingga Sang Ji mengangguk begitu saja. Tanpa menunggu lama, ketiga pria itu sudah masuk begitu saja kedalam apartement Je Wo.

              “Yah! Aku belum mengijinkan kalian masuk!!” teriak Je Wo, tetapi ketiga pria itu sudah menghilang dari jarak pandangnya. Je Wo menggeram kuat sambil memejamkan mata. Tidak temannya, tidak mereka, semuanya sama-sama menyebalkan dan selalu berhasil membuatnya terkena serangan jantung mendadak.

              “Eo-Eonnie… mereka itu siapa?” tanya Sang Ji setengah berbisik.

              Je Wo menarik napas panjangnya, “Cho Sang Ji,” panggilnya pelan. “Selama mereka bertiga berada didalam, aku mohon kau jangan pernah masuk kedalam, mengerti?”

              Sang Ji mengernyitkan dahinya. “Kenapa?”

              “Bisa tidak jangan banyak bertanya untuk saat ini?”

              “Ck, aku akan saaaaangat penasaran kalau kau tidak menjelaskannya padaku.”

              Je Wo cepat-cepat melepas sebelah sepatunya untuk memukul kepala Sang Ji, tapi untungnya gadis itu segera melesat pergi karena tidak ingin mengalami kerusakan otak akibat kekejaman Je Wo.

              Setelah memastikan Sang Ji benar-benar sudah pergi, Je Wo mulai memasuki apartementnya. Bagaimanapun, dia tidak mau Sang Ji atau Eunjin mengetahui masalah apa yang akan mereka bicarakan didalam nanti. Je Wo tidak suka membawa masalahnya pada orang lain. Apa lagi ketiga pria yang sedang duduk manis diapartementnya ini sangat berpengaruh dalam hal memesona gadis.

              Je Wo bisa mati berdiri jika tiba-tiba Sang Ji terpesona dengan senyuman manis Donghae, atau rayuan Hyukjae. Dan yang lebih parah, bagaimana jika Sang Ji tiba-tiba menyukai Yesung yang aneh? Je Wo bergedik ngeri membayangkannya. Cukup dia saja yang mengalami nasib sial karena harus berhubungan dengan pria-pria itu, terlebih pria yang saat ini berstatus sebagai tunangannya.

              “Duduklah.” Donghae menawarkan.

              “Kuharap kau tidak lupa siapa tuan rumahnya, Lee Donghae.” desis Je Wo, tapi tetap menuruti Donghae karena saat ini dia telah duduk disamping pria itu. “Jadi, apa yang ingin kalian bicarakan? Jangan katakan kalian tetap ingin mengajakku bekerja sama untuk menutupi kebusukan pria itu.”

              Donghae menggelengkan kepalanya pelan, “Kami bukan memintamu untuk menutupinya, tetapi memintamu untuk membantu kami membongkar kasus ini.” jelas Donghae.

              Je Wo menatap Donghae sejenak. “Bukankah mudah saja melakukannya? Cukup laporkan saja Kyuhyun kepolisi.”

              “Cho Kyuhyun tidak bersalah, Shin Je Wo.” sela Yesung.

              “Tapi Young Bum mati ditangannya, kan?”

              Ketiga pria itu menghela napas panjang bersamaan. Sulit sekali berbicara dengan gadis ini.

              “Ingat tidak, aku pernah bilang padamu tentang Kyuhyun yang sedang dalam proses perawatan mental?” tanya Hyukjae. Pria itu menatap lama pada Je Wo hingga wanita itu mengangguk pelan.

              “Enam tahun yang lalu, Kyuhyun pernah dirawat dirumah sakit jiwa.” Kedua mata Je Wo melebar spontan mendengar penuturan Yesung. “Kyuhyun telah kehilangan Ibunya sejak usianya enam belas tahun. Ibunya bunuh diri dan Kyuhyun menyalahkan Ayahnya atas tindakan Ibunya. Kami semua saat itu tidak terlalu dekat dengannya, Hyukjae dan Donghae hanya sebatas teman sekelasnya, sedangkan aku hanya seorang kakak kelas. Kyuhyun hanya memiliki seorang teman laki-laki bernama Shim Changmin. Anak laki-laki lemah yang selalu berlindung dibalik tubuh Kyuhyun.”

              “Mulanya, semuanya terlihat normal. Kyuhyun memang selalu membela Changmin. Siapapun yang berani mengusik Changmin, maka orang itu akan berhadapan dengannya. Tapi, sejak Kyuhyun kehilangan Ibunya, sesuatu terjadi pada mereka berdua.”

              Je Wo bisa melihat Yesung menarik napas beratnya, seakan sangat sulit baginya untuk bercerita. Bahkan, saat ia melirik Hyukjae dan Donghae, Je Wo juga menemukan raut wajah yang sama. Cemas dan juga sedih.

              “Kyuhyun yang dulunya ceria, banyak berbicara dan sangat ramah pada siapapun, tiba-tiba menjadi sangat pendiam dan penyendiri. Dia tidak pernah lagi terlihat berbicara dengan siapapun. Tapi, yang sangat mengejutkan adalah perubahan sikap Changmin.” Rahang Yesung mengeras dan kedua matanya menajam tiba-tiba. “Changmin berubah menjadi sosok pelindung bagi Kyuhyun. Tidak lagi menjadi sosok anak laki-laki yang lemah karena sejak saat itu, dialah yang selalu melindungi Kyuhyun. Dia tidak membiarkan siapapun menyentuh Kyuhyun apa lagi mendekatinya. Changmin menjauhkan Kyuhyun dari semua orang, bahkan dari dunia Kyuhyun sendiri.”

              “Hal itu berlangsung semakin lama. kami tidak tahu apakah semua ini adalah rencana Tuhan, karena setelah Kyuhyun kehilangan Ibunya, kami selalu berada dilingkungan yang sama dengannya. Kami juga berada di Universitas yang sama. Dan lagi-lagi kami dibuat terkjut oleh mereka berdua. Di semester dua perkuliahan, Kyuhyun mulai tampak sedikit berubah. Tadinya, dia sama sekali tidak pernah berjalan dengan wajah terangkat, tetapi entah mengapa dia mulai berjalan dengan normal. Hanya saja, ada yang berbeda. Kyuhyun menjadi sangat penurut pada Changmin. Apapun yang dikatakan Changmin selalui diikutinya, apapun yang diperintahkan Changmin selalu dilakukannya. Mereka juga mulai melakukan tindakan-tindakan brutal di arena kampus dan menyebabkan Kyuhyun mempertanggung jawabkan semuanya.”

              Je Wo tidak tahu mengapa tiba-tiba saja dia menarik napas panjangnya. Je Wo seperti merasa masuk kedalam cerita yang Yesung uraikan, seperti benar-benar berada ditempat itu dan menyaksikan segalanya.

              “Changmin membawa pengaruh buruk pada Kyuhyun. Dia seperti ingin Kyuhyun memasuki dunianya yang gelap dan tidak membiarkan Kyuhyun lepas. Aku tidak tahu mengapa, tapi melihatnya seperti itu aku benar-benar tidak tega. Sampai akhirnya, aku meminta Hyukjae dan Donghae untuk membantuku mengadukan semua yang kami ketahui pada Ayah Kyuhyun. Paman sangat murka dan ingin menjauhkan Kyuhyun dari Changmin. Lalu, dengan bantuan anak buah Paman, akhirnya kami berhasil mengetahui sesuatu. Sejak kecil, Changmin memang memiliki kelainan pada jiwanya. Dan hal itu semakin memarah hingga detik itu. Paman mengajukan bantuan pada keluarga Changmin yang miskin, untuk merawatnya disebuah rumah sakit jiwa.”

              Yesung lagi-lagi menarik napas panjangnya.

              “Lalu?” desak Je Wo yang ini merasa sangat ingin tahu.

              “Kami pikir, semuanya akan membaik setelah menjauhkan Changmin dari Kyuhyun. Tapi kami salah. Kyuhyun… semakin menjadi brutal. Dia selalu mencari Changmin kemanapun, menanyai semua orang, dan jika mendapat jawaban tidak tahu, Kyuhyun tidak akan segan untuk memukuli orang itu. Saat itu kami sudah tidak tinggal diam, kami selalu mengawasinya, berjaga-jaga jika dia akan kembali menyakiti orang lain. Ketika dia mulai merasa putus asa, Kyuhyun melakukan suatu hal diluar dugaan kami. Dia… melukai dirinya sendiri demi mencari dimana keberadaan Changmin.”

              Je Wo meringis pelan tanpa sadar.

              “Paman tidak tega melihatnya dan akhirnya membawa Kyuhyun menemui Changmin dirumah sakit jiwa. Paman juga sempat memeriksa kejiwaan Kyuhyun dan malah mendapatkan kabar buruk. Kyuhyun menderita gangguan mental. Dia mengalami depresi hingga Paman memutuskan merawat Kyuhyun juga dirumah sakit yang sama dengan Changmin. Sejak saat itu, Kyuhyun rutin menemui Changmin disana, mereka kembali akrab seperti sebelumnya. Hanya saja, Changmin kembali menjadi sosok lemah seperti saat dia berumur enam belas tahun. Kyuhyun sangat setia menemaninya dan mengajaknya bicara. Sejauh itu, keadaan mereka baik-baik saja. Tapi, suatu hari, kami mengetahui kalau Changmin dan Kyuhyun sering keluar secara sembunyi-sembunyi dari rumah sakit. Saat mereka berada dilur, entah bagaimana bisa mereka memiliki beberapa orang musuh.”

              Hyukjae, Donghae dan Yesung berlari terengah-engah mencari keberadaan Kyuhyun dan Changmin. Pasalnya, ketika mereka sedang ingin menjenguk Kyuhyun, mereka mendengar kalau seorang polisi yang sedang berada dirumah sakit itu kehilangan pistolnya. Awalnya, mereka tidak terlalu memedulikan hal itu, tetapi saat menemukan kamar Changmin dan Kyuhyun yang kosong, pikiran mereka mendadak buruk.

              Mereka mencari-cari Kyuhyun dan Changmin kesemua sudut rumah sakit, tapi tidak menemukannya. Yesung memutuskan untuk mencari Kyuhyun diluar rumah sakit, dan Hyukjae maupun Donghae menyetujuinya.

              Ternyata benar, mereka menemukan Kyuhyun dan Changmin dibelakang rumah sakit. tetapi, yang mengejutkan adalah pemandangan yang tersaji dihadapan mereka. Kyuhyun sedang mengacungkan sebuah pistol tepat diatas dada seorang bocah remaja. Sedangkan Changmin yang berada dibelakang tubuhnya menangis terisak.

              “Ja-jangan bunuh aku.” Pinta bocah itu memelas dengan wajah pucat.

              “Bunuh saja, Kyu. Dia sudah menyakitiku, aku tidak mau melihatnya hidup.” Timpal Changmin yang semakin menangis terisak.

              “Maafkan aku, maafkan aku, Shim Changmin. Tolong jangan membunuhku.”

              Isakan Changmin semakin terdengar pilu hingga mengusik ketenangan Kyuhyun. “Bunuh dia, bunuh dia, Kyu. Bunuh saja, bunuh, bunuh!”

              DOR DOR DOR.

              “Cho Kyuhyun!!!”

              Yesung dan Hyukjae dan Donghae berlari secapat kilat menghampiri mereka setelah suara tiga kali tembakan terdengar. Tubuh mereka membeku bersamaan setelah melihat tubuh bocah remaja itu tergeletak dan bersimbah darah. Hyukjae merasa ingin muntah, melihat darah segar itu keluar bertubi-tubi dari tubuh bocah itu. Yesung mematung dalam diam. Hanya Donghae yang segera menyentuh lengan Kyuhyun yang masih melayang diudara seperti sebelumnya saat melepaskan tembakannya, Donghae menurunkan lengan itu perlahan.

              Kesepian yang tadinya menyelimuti mereka lenyap begitu saja saat tawa pelan Changmin terdengar.

              Bahu Changmin tampak bergetar menahan tawanya, kepalanya yang tadinya menunduk mulai terangkat, memperlihatkan seringaian kejinya yang mengerikan. Tawanya semakin terdengar kuat, bahkan sepertinya dia sedang sangat bahagia. Changmin memegangi perutnya yang teras kram.

              “Akhirnya, akhirnya…” gumamnya disela-sela tawanya.

              Kyuhyun memandanginya bingung.

              Tawa Changmin menyurut, wajahnya berubah dingin dengan tatapan yang menusuk memandangi Kyuhyun. “Kau dan aku, akhirnya… akhirnya kita sama, Cho Kyuhyun. Kita sama-sama telah menjadi seorang pembunuh. Kita adalah pembunuh, pembunuh!”

              Kyuhyun tersentak, lalu menggelengkan kepalanya pelan dengan wajah pucat.

              “Apa? Kau ingin menyangkalnya, temanku? Hahaha, lihat, lihat dihadapanmu itu. Apa itu masih belum jelas? Bocah itu mati ditanganmu, Kyuhyun. Kau sudah membunuhnya! Hahaha.”

              Kyuhyun menolehkan kepalanya dengan berat, menatap tubuh tak bernyawa yang bersimbah darah itu dengan kedua mata melebar. Punggung tangannya melayang cepat untuk menutupi mulutnya. Perutnya terasa mual dan kepalanya mendadak pusing. Kyuhyun merasa bingung dan ketakutan.

              “A-aku tidak membunuhnya.” Racaunya samar.

              “KAU MEMBUNUHNYA!” Bentak Changmin yang tiba-tiba menatap emosi pada Kyuhyun. “Lihat apa yang berada ditanganmu! Lihat!”

              Kyuhyun menunduk pelan, lagi-lagi terkejut melihat sebuah pistol yang berada didalam genggamannya. Kyuhyun cepat-cepat membuang pistol itu keatas tanah, kepalanya menggeleng berkali-kali saat keringat dingin mulai bercucuran diwajahnya.

              “Aku tidak membunuhnya, aku tidak membunuhnya,” racaunya gemetar. Kyuhyun menatap Yesung dengan wajah ketakutan. “Aku tidak membunuhnya, kan? Aku tidak mungkin membunuhnya.”

              Yesung merapatkan mulutnya, menunduk dalam sebagai jawaban.

              “Kyuhyun, kau sudah membunuhnya. Seperti aku yang sudah membunuh Ibuku, hahahaha. Rasanya menyenangkan, sangat menyenangkan. Akhirnya aku dan Kyuhyun sama, aku dan dia sama. Kami adalah satu!” Changmin berteriak kuat dengan wajah bahagia dan tidak memedulikan tubuh Kyuhyun yang semakin gemetar.

              “Aku tidak membunuhnya, aku bukan pembunuh. Aku tidak seperti itu. TIDAK, TIDAK, TIDAK!”

              Saat itu, Yesung dan Donghae segera memeluk Kyuhyun. berusaha menenangkannya meski gagal. Sedangkan Hyukjae, pria itu sempat melihat seseorang yang berdiri dari kejauhan, menyaksikan apa yang terjadi disana. Mungkin, Hyukjae tidak akan berlari mengejar orang itu jika saja orang itu tidak sedang mengarahkan sebuah handycame kearah mereka.

              “Kyuhyun mengalami depresi dan harus mendapatkan perawatan intensif dirumah sakit jiwa. Paman membawanya ke Singapur untuk menjalani perawatan medis setelah menyelesaikan masalah yang telah dilakukan Kyuhyun disini.” Yesung memandag Je Wo lirih. “Dia sudah melewati hari terberatnya disana, dan menjadi sosok yang lebih baik dari sebelumnya.

              Sosok yang lebih baik dari sebelumnya. Ya, jika dilihat seperti apa sosok Kyuhyun yang dulu, maka saat ini dia memang menjadi lebih baik dalam penjabaran yang terlalu panjang untuk dijelaskan.

              “Shin Je Wo,” panggil Hyukjae. “Kyuhyun bukan seorang pembunuh. Dia tidak akan melakukannya jika saja Changmin tidak mempengaruhinya.”

              Je Wo kembali teringat saat dimana Kyuhyun tampak begitu marah ketika dia menyebut pria itu sebagai seorang pembunuh. Mengingat hal apa yang telah dilaluinya bersama Changmin dulu, tentu saja Kyuhyun terluka saat itu. entah mengapa, Je Wo malah merasa bersalah. Tidak seharusnya dia mengatakan hal itu pada Kyuhyun, setelah apa yang dilewati oleh pria itu. Bahkan Kyuhyun harus dirawat dirumah sakit jiwa.

              “Kami sudah tahu rencana Paman dan Siwon mengenai pertunangan kalian.” Sela Donghae. “Untuk itu, kami juga ingin kau bergabung membantu kami.”

              “Membantu dalam hal apa?” tanya Je Wo ragu.

              “Kim Heechul. Bukti itu ada ditangannya. Aku yakin kalau saja dia tidak mempunyai otak yang licik, maka bukti itu tidak akan menjadi masalah. Tetapi, Heechul kerap kali mengancam Kyuhyun dengan barang bukti itu. Dia berniat mengedit isinya dan membuat seolah-olah Kyuhyun memang benar-benar berniat membunuh Young Bum. Dan jika itu terjadi, maka habislah Kyuhyun.” Donghae menatap Je Wo lirih.

              “Lalu apa yang bisa kulakukan? Rencana untuk merubah sikapnya saja aku sangat ragu akan berhasil, apa lagi untuk membantu kalian mengatasi Heechul.” Je Wo mendesah panjang.

              Yesung tersenyum kecil padanya. “Asal kau mau bergabung saja bersama kami, jangankan hanya merubah sikapnya, membuatnya jatuh cinta padamu saja akan sangat mudah dilakukan.”

              “Apa?” Je Wo menjulurkan lidahnya mual. “Hanya gadis yang bernasib sial saja yang dicintai pria sepertinya.”

              Hyukjae dan Donghae terkekeh pelan. Je Wo memang berbeda. Semua gadis sangat tergila-gila pada Kyuhyun. Bahkan mungkin, gadis yang mulanya membenci Kyuhyun pasti akan sangat merasa iba setelah mendengar cerita mereka. Tetapi Shin Je Wo tidak sekalipun terusik.

              “Jadi, kau akan bergabung atau tidak?” tanya Donghae memastikan.

              Jujur saja, Je Wo memang merasa sedikit prihatin dengan cerita yang dipaparkan mereka. Tetapi, sekali lagi, yang akan dihadapinya jika ia menyetujui rencana ini bukan hanya Cho Kyuhyun. Melainkan seluruh masa lalunya yang gelap. Lalu apakah dia sanggup?

              “Kau pasti bisa.” Gumam Yesung tiba-tiba hingga Je Wo tersentak.

              “Kau bisa membaca pikiran orang lain, ya?” cibir Je Wo, Yesung menanggapinya dengan cengiran lebar.

              “Ck, bagaimana?” desah Hyukjae.

              Setelah menarik napas panjangnya yang berat, akhirnya Je Wo mengangguk singkat. “Asalkan keselamatanku terjamin, aku akan bergabung bersama kalian.”

TBC

Kasih backsound dulu /JENG JENG JENG JEEEEENGGGGG/Lama tidak menyapa dengan FF saya My lovely Readers *kecup jauh*

Dan sekalinya publish, malah FF baru.

*Readers: Inih authornya gak inget yah utang FFnya udah ngalahin utang negara?!

*Me: /Nod/

*Readers: TERUS KENAPA PUBLISH FF BARU?!

*Me: salahin ajah otak akuh. Dianya gak mau konek kalo nyelesain yang lain -_- jadi yah… dari pada kalian juga sibuk nanyai FF, aku publish ajah.

*Readers: /Ngelemparin paku, beling, sendal, bakiak/

Bodo akh, namanya juga aku gak suka ngetik dibawah keterpaksaan /EAAAAAAAA/ ngetik sih selama hati senang ayok-ayok ajah, kalo enggak ya bye bye ajah. Dari pada otak saya rusak, kan kasian /Disorakin rame-rame/

Ah iya, Mohon maaf lahir batin, ya semuanyaaaaaaaaa😉

Makasih banyak buat Cintya dan Eva J semua pict yang kalian buat bener-bener moodboster buat akuh hehehehe. See you next time :*

Istrinya Cho Kyuhyun

271 thoughts on “Love in The Dark – One –

  1. Aku udan komen belum sii? Tau ahh

    Masa lalu Kyuhyun suram sekali ya ampun. Terus sekarang Changmin dimana?
    Yah berharap Kyuhyun bisa sembuh dari depresi tentang masa lalunya dengan bantuan Je Wo tentunya😀
    Mati saja kau Heechul!!!

  2. Annyeong aku reader baru salam kenal.

    Ffnya bener2 keren dan amazing.

    Aku suka banget sama ff ini apalagi kyuhyun ..
    Pokoknya ff ini bagus, keren amazing
    ..
    Tetap semangat eonni .. ^¡^

  3. Sukaaaaaaaa bangettt ff ini gilaaaa ide cerita nyaa kerennn, jangan patah semangat yaaa semoga ide nya lancarrr jayaa,gpp deh utang ff nya ngalahin utanang negara ff ini harus lanjut

  4. Eonni izin baca FF-nya , Daebakk FF-nya bikin deg-degan sama takut apalagi liat kelakuan Kyuhyun balas dendam-nya serem banget , liat Yesung yaampun bener bener gila , hks~ Siwon Oppa kasian cintanya sama Je Wo terhalang dendam Kyu T.T

  5. Eonni izin baca FF-nya , Daebakk FF-nya bikin deg-degan sama takut apalagi liat kelakuan Kyuhyun balas dendam-nya serem banget , liat Yesung yaampun bener bener gila ,hks~ Siwon Oppa kasian cintanya sama Je Wo terhalang dendam Kyu T.T

  6. yaollloooohhh…
    ini ff kerenn bner?? serius bacanya jafi ikutan tegang,penasaran, ngeri…ahh pkoknya campur aduk.
    kaget banget tahu tentang masa lalu kyuhyun, gak nyangka aja ternyta segelap itu masalalu dia. punya temen deket aja orng gila(changmin)…wkwk

    tinggal tunggu gimna cara jewo menakhlukkan keganasan kyuhyun…hege

  7. Wah kyu drpresi gawat
    Awalnya g tau knapa kyu tega bngt ma je wo
    Ternyata begitu.
    Yaaaampun heechul jd jht bngt gtu ys

    Eh iya salam kenal authornim saya reader bru disini😊😊😊😊🌹🌹🌹🌹🌼🌼🌷🌷

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s