[KyuJe] Sweet Moment

1779545_803648692995047_1698370187_n

 

Beberapa kelompok mahasiswa tampak memasuki Bandara Incheon dengan wajah berseri-seri. Salah satu diantara mereka adalah Shin Je Wo. Wajah gadis itu terlihat bebinar setiap kali bercanda bersama teman-temannya. Hari ini, dia dan beberapa temannya akan pergi ke Pulau Jeju untuk menghadiri sebuah Festival yang diadakan ditempat itu.

            Festival itu merupakan Festival penggalangan dana yang dilakukan oleh beberapa Kampus-Kampus diberbagai Kota. Dan Shin Je Wo turut andil mengisi acara di Festival itu.

            Setelah melewati bulan-bulan suram baginya untuk menyelesaikan laporan Kuliah, tugas dan setumpuk permasalahannya yang lain. Akhirnya, Je Wo mempunyai kegiatan yang cukup membuat moodnya sedikit membaik.

            “Sudah lama aku tidak pergi ke Jeju. Bagaimana kalau nanti kita meluangkan waktu untuk bersantai di Pantai.” Urai salah seorang teman wanita Je Wo.

            Mendengar kata pantai, sontak kedua mata Je Wo membulat, “Tentu saja!” pekiknya girang. Dia mulai membayangkan kegembiraan seperti apa yang akan dinikmatinya nanti setelah berada di Pantai. Apa lagi Pantai di pulau Jeju.

            Je Wo masih tersenyum-senyum membayangkan semua khayalannya sampai tiba-tiba saja ponselnya bergetar dan memperlihatkan sebuah nama di layar ponselnya.

            Evil Cho.

            “Eh?” gumamnya dengan dahi berkerut, lalu jemarinya menggeser pelan layar ponselnya. “Ya?”

            Kau dimana?!

            Bibir gadis itu sontak menipis kesal mendengar bentakan pria itu. Benar-benar merusak moodnya saja. “Memangnya kenapa? Aku dimana juga bukan urusanmu.” Balasnya tak kalah ketus.

            Je Wo sempat mendengar geraman pria itu, tapi apa pedulinya. Lagi pula, apa-apaan pria itu tiba-tiba menelepon dan marah-marah seperti itu.

            Aku sedang berada di Apartementmu. Bukankah hari ini kau tidak mempunyai jadwal kuliah? Kenapa kau tidak ada dirumah?

            “Hm? Kau berada di apartementku?”

            Aku tidak perlu mengatakannya dua kali, kan, bodoh? Cepat pulang!

            Kekesalan Je Wo benar-benar memuncak mendengar omelan pria itu. Dia melirik kelompoknya yang masih sibuk mengobrol membicarakan mengenai kegiatan mereka disana nanti. Hal itu digunakan Je Wo untuk berjalan sedikit menjauh dari sana agar dia dapat berbicara leluasa dengan pria perusak moodnya ini.

            “Yah!” pekik Je Wo setelah kakinya berhenti disebuah tembok dan bersembunyi dibelakangnya. “Kau pikir kau itu siapa, Cho Kyuhyun?! Berani sekali kau mengomeliku seperti itu.”

            Tentu saja aku mengomel. Aku sudah bersusah payah datang kemari karena ingin bertemu denganmu, tapi kau malah tidak ada. Dan kau juga tidak pernah datang di Konserku padahal aku sudah mengirimu tiket tiga hari berturut-turut. Sekarang aku akan memberi perhitungan denganmu.

            Nyali Je Wo sedikit menciut mendengar penjelasan Kyuhyun. Baiklah, dia memang sedikit keterlaluan karena telah menyia-nyiakan tiga tiket yang pasti bernilai sangat berharga bagi fans pria itu, dengan membiarkannya tergeletak diatas meja belajarnya begitu saja.

            Sebenarnya, Je Wo memang berencana akan menghadiri Konser pria itu di hari kedua karena di hari pertama, Je Wo memang sedang mempunyai kegiatan lain, berlatih menyanyi untuk pertunjukannya di Jeju. Tapi, saat dia sedang memeriksa SNS miliknya dan tidak sengaja menemukan sebuah foto dimana Kyuhyun sedang memangku seorang gadis disebuah lagu yang mereka bawakan. Niat Je Wo untuk melihat konser itu menguap seketika.

            Meskipun sekarang dia menyesal karena setelah melihat potongan Video itu secara jelas, Je Wo ingin sekali menonton langsung dan menertawakan pria itu disana. Demi Tuhan, sampai kapan dia akan menari seperti orang kaku meskipun dihadapannya ada seorang gadis seksi.

            Kenapa kau diam saja?!

            “Heish! Bisakah tidak berteriak seperti itu?! Aku sedang berada di bandara sekarang, bodoh! Dan tentang konsermu, aku memang tidak punya banyak waktu karena aku mempunyai kegiatan lain.”

            BANDARA?!

            Kedua mata Je Wo terpejam erat, sementara tangannya mengepal ponselnya dengan geram. Lagi-lagi pria itu berteriak seperti tarzan!

            Apa yang kau lakukan disana?!

            “Bukan urusanmu!”

            Shin Je Wo.

            Suara sialan! Sampai kapan Kyuhyun mau berhenti mengintimidasinya dengan suara seperti itu.

            Je Wo memutar bola matanya jengah. “Ada kegiatan Kampus yang sedang kuikuti. Dan sekarang, kami mempunyai pertunjukan di Jeju.”

            Kegiatan apa?

            “Sebuah Festival.”

            Festival?

            “Hm.”

            Kapan?

            “Besok malam.”

            Lalu, apa yang akan kau lakukan di Festival itu?

            “Bernyanyi.”

            BERNYANYI?!

            “Iya, aku akan_” Je Wo membulatkan kedua matanya lebar. Apa yang baru saja dikatakannya? Memberitahu Kyuhyun kalau nanti dia akan bernyanyi disana? “Ah… maksudku, i-itu… aku…”

            Je Wo melompat-lompat gusar seperti orang bodoh sambil merutuki kebodohannya. Bagaimana kalau Kyuhyun akan menertawakannya? Padahal dia tidak pernah ingin Kyuhyun tahu tentang kegemarannya bernyanyi. Atau, bagaimana bahagianya dia saat tahu diberi kepercayaan untuk bernyanyi di Festival itu.

            Kalau begitu aku akan kesana.

            “TIDAK BOLEH!”

            Pekikan Je Wo sempat membuat dirinya menjadi pusat perhatian banyak orang. Gadis itu segera tersenyum kaku dan menunduk kecil. Rasanya dia hampir menangis mendengar pernyataan Kyuhyun. Apa jadinya jika Kyuhyun melihatnya disana? Bisa-bisa suaranya tidak akan keluar karena menahan rasa malu.

            “Yah! Dengarkan aku. Kau tidak boleh menginjakkan kakimu disana selama aku berada disana. Kalau saja aku sampai melihat batang hidungmu dihadapanku, makau kau…” Je Wo mengernyitkan dahinya selagi berpikir keras. Mencari ancaman terbaik apa yang harus diberikannya pada Kyuhyun.

            Maka aku? Sambung Kyuhyun dengan suara datarnya.

            Je Wo menyipitkan kedua matanya. “Maka kau secepatnya akan segera menjadi mantan kekasihku.”

            Apa?!

            KLIK

Je Wo memutuskan panggilan, lalu mematikan ponselnya demi menghindari telepon Kyuhyun selanjutnya. Dia menarik napasnya panjang, mengeluarkannya perlahan. Berusaha menenangkan dirinya sendiri.

“Tenanglah, Shin Je Wo. Lupakan pria itu sejenak, dan kembali tersenyum.” Gumamnya sendiri, lalu Je Wo segera membentuk senyuman lebarnya dan menghampiri teman-temannya lagi.

***

“Jeju?”

            Kyuhyun dan Changmin mengangguk serentak. Jung Hoon menatap curiga pada kedua laki-laki itu. Pasalnya, sebelum ini Kyuhyun sempat mengatakan ingin melewati hari liburnya yang diberikan perusahaan selama beberapa hari padanya hanya dengan bersantai di Dorm atau menghabiskan waktu dengan keluarganya dirumah. Tapi saat ini, tiba-tiba saja Kyuhyun mengatakan ingin pergi berlibur bersama Changmin ke Pulau Jeju.

            “Tiba-tiba sekali.” gumam Jung Hoon.

            “Karena Kyuhyun juga tiba-tiba saja mendapat kabar kalau Je Wo pergi kesana.” Timpal Changmin dan sontak mendapatkan pelototan tajam dari Kyuhyun.

            Ya. Setelah Je Wo memutuskan panggilannya dan sengaja tidak mengaktifkan ponselnya. Kyuhyun segera menelpon Changmin dan menjelaskan rencananya. Untung saja, sahabatnya yang satu itu juga mempunyai waktu luang.

            “Ah, jadi karena kau mau menemui kekasihmu rupanya.” Cibir Jung Hoon.

            Kyuhyun tersenyum bocah. “Tidak apa-apa, kan? Aku juga membawa Changmin, tidak pergi sendirian.”

            “Kau tahu kalau akhir-akhir ini sudah terlalu banyak hubungan rahasia yang terbongkar, kan? Apa kau berniat menjadi yang selanjutnya, hm?”

            “Hyung… selama ini aku masih bisa mengatasinya, kan?”

            “Aku juga bisa membantu mereka disana, Hyung.” Changmin turut membantu Kyuhyun membujuk.

            Jung Hoon terawa hambar. “Mau memakai cara kuno itu lagi? Tidak lupakah kalian kalau cara kuno itu nyatanya gagal kalian lakukan? Bahkan sekarang merimbas buruk padamu, Shim Changmin.”

            Melihat raut wajah kedua laki-laki itu sedikit berubah, Jung Hoon mengulum senyumnya. Sejak kejadian beberapa waktu yang lalu itu, Changmin dan Kyuhyun memang sudah tidak lagi memerankan sebuah peran yang sengaja mereka mainkan demi menutupi sesuatu.

            “Dia saja bodoh.” Umpat Kyuhyun pada Changmin.

            “Kenapa kau malah menyalahkanku?” Changmin memelototi Kyuhyun.

            “Karena kau sudah menyia-nyiakan kerja kerasku selama ini. Percuma saja aku berperan sebaik itu kalau akhirnya kalian bertidak konyol.”

            “Arrrghhh! Sudahlah! Kenapa malah membicarakan masalahku.” Changmin mendengus gusar. “Kau tenang saja, Cho Kyuhyun. Kali ini, giliranku yang akan membantumu, oke?”

            Sudut bibir Kyuhyun sedikit mengedut. Lalu dia memberi perintah pada Changmin lewat lirikan matanya, agar dia bisa membujuk Jung Hoon, Managernya yang sedikit keras kepala dan galak.

            “Hyung…” rengek Changmin. Bahkan dia sudah memasang wajah memelasnya.

            Jung Hoon meraih sebuah koran, lalu memukulkan koran itu keatas kepala mereka berdua. “Dasar merepotkan. Baiklah, kalian boleh pergi.”

            “Benarkah?!” mereka memekik bersamaan.

            Jung Hoon mengangguk malas, lalu berdiri dari tempatnya dan mengucapkan kalimat terakhirnya sambil berlalu. “Tapi dengan syarat, aku ikut bersama kalian.”

            “Yang benar saja?!”

            Lagi-lagi pekikan kedua laki-laki itu menggema.

***

“Sudah, belum?” tanya Kyuhyun lagi.

            Changmin yang sibuk dengan Laptopnya demi mencaritahu dimana letak Festival yang Je Wo maksud, melirik kesal pada Kyuhyun yang malah tampak nyaman berbaring diatas ranjang sambil berkutat dengan PSP. “Sebentar lagi. Ck, gadis itu menyusahkan saja. Kalau saja dia tidak mematikan ponselnya, kita pasti lebih mudah mencarinya.”

            “Kalau dia tidak menyusahkan, berarti dia bukan pacarku.”

            “Ya, benar. Karena kalian berdua sama-sama menyusahkan.”

            Kyuhyun hanya tertawa ringan mendengar rutukan Changmin. Changmin bukan orang pertama yang menjadi korban tingkah menyebalkan Je Wo dan mungkin juga dirinya.

            Mereka sudah berada di Pulau Jeju, menyewa enam kamar hotel karena Jung Hoon juga menyuruh Leeteuk, Eunhyuk dan Donghae segera menyusul mereka demi menutupi rencana kedatangan Kyuhyun disana. Bagaimanapun, Jung Hoon tidak mau kecurian lagi setelah dua kali mengalaminya.

            “Memangnya kau tidak pernah melihat Je Wo bernyanyi sebelumnya, ya?” sambung Changmin, masih sambil berkutat dengan peralatannya.

            Kyuhyun menekan tombol pause, lalu tersenyum kecil sambil menatap langit-langit kamarnya. “Pernah. Tapi tidak diatas panggung.” Gumamnya kecil dan berhasil menyedot perhatian Changmin. “Aku ingin mengetahui bagaimana perasaannya saat melihatku secara langsung bernyanyi diatas panggung. Sebenarnya, aku bisa saja bertanya padanya, tapi sepertinya jawaban yang akan dia berikan sudah dapat kutebak.”

            Kyuhyun tertawa pelan lalu melirik kearah Changmin. “Untuk itu, aku harus mencaritahu dengan caraku sendiri.”

            Changmin tersenyum tulus, lalu mengacungkan kedua Ibu jarinya. “Dan saat kau mengetahuinya, aku yakin kau tidak akan pernah bisa berhenti jatuh cinta padanya. Percayalah, Cho Kyuhyun, temanmu ini sudah lebih dulu merasakannya.”

***

“Ponselmu kenapa tidak bisa dihubungi?” Choi Je Rim mencolek bahu Je Wo hingga gadis yang sedang menikmati makan siangnya menoleh kebelakang.

            “Oh. Aku sengaja mematikannya.”

            “Kenapa?”

            “Tidak ingin diganggu saja.”

            Je Rim menyipitkan kedua matanya. Lalu menarik kursi disamping Je Wo dan mendudukinya. Mereka memang sedang berada di Restoran Hotel dimana mereka menginap. Hotel yang letaknya tidak jauh dari tempat Festival diadakan.

            “Memangnya siapa yang akan mengganggumu?” seperti tidak puas dengan jawaban Je Wo. Je Rim semakin banyak bertanya.

            Je Wo berdecak pelan. Dia sempat melirik sebuah botol cola yang dibawa oleh Je Rim dan sontak tersenyum girang. “Itu boleh untukku, tidak?” tunjuknya pada minuman itu.

            Je Rim menggelengkan kepalanya. “Tidak boleh. Kau lupa apa yang harus kau lakukan besok malam? Ingin suaramu tiba-tiba hilang saat diatas panggung?”

            “Tapi kau boleh meminumnya.”

            “Aku, kan, tidak ikut bernyanyi.”

            “Ah.. Choi Je Rim kau pelit sekali.”

            Je Rim menggedikkan bahunya, lalu tanpa rasa bersalah, meneguk minuman itu dihadapan Je Wo. Dan demi mengalihkan hasrat besarnya pada minuman itu, Je Wo meraih segelas air putih dan meneguknya hingga habis. Terkadang, sifat dingin Je Rim bisa berubah menjadi keji dimata Je Wo. Kenapa gadis itu sering kali menyiksanya?

            “Kau sudah memberitahunya kalau besok kau akan bernyanyi?” Je Rim bertanya sambil menimati makan siangnya.

            Mendengar pertanyaan itu, Je Wo kembali teringat akan percakapannya dan Kyuhyun beberapa saat lalu. Ya, diantara semua teman-temannya, memang hanya Je Rim yang tahu tentang hubungannya dan Kyuhyun. Tanpa sadar, gadis itu menggigit bibir bawahnya gusar. “Sudah. Aku kelepasan bicara dan malah memberitahunya.”

            “Bagaimana reaksinya?”

            “Seperti biasa,” Je Wo mendesah malas dan kembali melanjutkan makan siangnya. “Berlebihan.”

            Senyuman geli Je Rim tercetak dibibirnya. “Biar kutebak, dia pasti memaksa ingin melihatmu. Iya, kan?”

            “Hm, begitulah.”

            “Dan karena itu juga kau sengaja mematikan ponselmu.”

            “Aku tidak mau diganggu dengan panggilan darinya ataupun puluhan pesannya. Merepotkanku saja.”

            “Memangnya kau tidak mau melihatnya saat kau bernyanyi diatas panggung?”

            “Choi Je Rim,” Je Wo menatap datar pada Je Rim yang mengulum senyumnya. “Jika kau menjadi aku, apa kau pikir kau bisa bernyanyi dengan benar sementara kekasihmu, yang dikenal sebagai penyanyi bersuara merdu sedang memerhatikanmu dari bawah panggung. Kau pikir sebagus apa suaraku.”

            Je Rim tertawa pelan. Lalu sengaja menepuk-nepuk pelan ujung kepala Je Wo. “Poor You.”

            “Sialan, kau!”

***

Changmin tertawa girang melihat raut wajah Kyuhyun selagi pria itu menerima telepon dari Leeteuk. Changmin yakin sekali kalau Leeteuk sedang menasehatinya agar tidak melakukan tindakan konyol setelah bertemu dengan Je Wo nanti.

            Seharian ini, setelah mereka berdua puas bermain, tanpa Jung Hoon, Leetuk, Eunhyuk dan juga Donghae. Mereka berdua meminta ijin untuk pergi menemui Je Wo malam ini. Dan disinilah mereka sekarang, duduk seperti orang bodoh memerhatikan orang-orang yang mulai memenuhi tempat itu, tempat yang akhirnya diketahui oleh Changmin setelah melewatkan waktunya berjam-jam didepan Laptop.

            “Telingaku sakit.” rutuk Kyuhyun setelah memutuskan panggilannya.

            “Leeteuk Hyung bilang apa saja padamu?” tanya Changmin.

            Kyuhyun mendengus pelan. “Kau tahu? Dia pikir aku ini bodoh sampai harus menasehatiku agar aku tidak terlihat oleh orang lain. Memangnya untuk apa kita sejak tadi berdiam diri seperti orang bodoh didalam mobil ini kalau bukan untuk menunggu semua orang-orang masuk kesana agar kita bisa masuk dalam keadaan aman.”

            Mereka memang sengaja menunggu tempat itu sedikit sepi agar keberadaan mereka tidak terlalu mencolok. Dan jangan lupakan persiapan kedua pria gila ini. Segala bentuk peralatan penyamaran telah mereka persiapkan.

            “Simpan saja tenagamu, Kyu. Karena setelah ini, kau akan mendapatkan yang lebih parah dari itu.” Changmin melirik kearena Festival. “Setan betina itu pasti tidak akan melepaskanmu dengan mudah.”

            Changmin mengaduh sakit setelah Kyuhyun memukul kepalanya.

            “Setan betina kepalamu.”

            “Heish! Sakit sekali, bodoh. Benar-benar tidak tahu berterima kasih. Seharusnya kau bersukur aku mau membantumu. Dan kalau saja aku tidak ada, apa kau pikir kau bisa mencari tahu tempat ini, hah?”

            Kyuhyun mencibir jengah, lalu kembali memerhatikan keadaan disekitarnya. “Sepertinya sudah cukup sepi. Yah, Shim Changmin, cepat pakai alat penyamaran. Sudah waktunya kita keluar.”

            Setelah memastikan penampilan mereka yang cukup aneh, Kyuhyun dan Changmin mulai memasuki tempat itu. Mereka berdua tampak santai saat bergabung dengan kerumunan disana.

            Kyuhyun mengajak Changmin mencari tempat yang aman. Mereka berjalan diarena paling belakang dan cukup gelap. Setidaknya, disana cukup aman, bukan?

            Festival itu sudah dimulai. Tidak seperti yang mereka bayangkan, ternyata, mereka turut larut menyaksikan beberapa pertunjukan yang diberikan. Sama-sama menyukai musik, Changmin dan Kyuhyun menjadi sering mengomentari orang-orang yang berlalu lalang diatas panggung. Tidak lupa juga menertawakan beberapa orang yang memberikan pertunjukan yang buruk.

            Terlebih lagi Kyuhyun. Menertawakan orang lain memanglah kegemaranya. Sampai akhirnya, ketika mereka sedang tertawa geli, tiba-tiba saja Changmin menangkap sosok Je Wo yang berdiri diatas panggung dengan wajah malu-malu.

            “Heol, itu Shin Je Wo.” telunjuk Changmin mengarah kedepan.

            Tawa Kyuhyun mereda. Perlahan, diikutinya arah telunjuk Changmin hingga akhirnya dia dapat melihat gadisnya. Detik pertama, Kyuhyun merasa dadanya mengembang. Selain memang sudah hampir satu bulan tidak bertemu, Kyuhyun merasa sangat senang dapat melihat gadisnya dalam keadaan baik-baik saja. Detik berikutnya, dia tersenyum kecil mendengar teriakan penonton. Teriakan itu menjelaskan, bahwa gadisnya sudah dapat mengambil perhatian orang-orang meski belum bernyanyi. Tapi, didetik berikutnya, Kyuhyun malah merengut masam.

            “Kenapa celananya terlalu pendek!” umpatnya. Dan mulai melirik kesal pada pria-pria yang bersorak untuk gadisnya.

            Changmin melirik malas kearahnya. “Berhenti berkomentar. Lebih baik perhatikan saja seperti apa kekasihmu diatas panggung.”

            Je Wo mulai bernyanyi, membuat Kyuhyun mengulas senyum tipisnya. Kyuhyun tahu kalau gadis itu memang memiliki suara yang lumayan merdu dan dia sama sekali tidak mencemaskan hal itu.

            Kyuhyun melipat kedua tangannya lalu menyandarkan punggungnya pada sebuah tembok dibelakang tubuhnya. Dia benar-benar menikmati suara, senyuman, dan segala ekspresi yang terpancar dari wajah Je Wo.

            Ada sebuah perasaan bangga yang menyelimuti hatinya melihat gadis itu dapat bernyanyi tanpa canggung. Tetapi, Kyuhyun juga sedikit merasa cemas kalau-kalau ada orang yang tidak menyukai pertunjukan yang diberikannya. Belum lagi setiap kali memikirkan pria-pria yang menatap lapar pada Je Wo yang tampak sangat cantik meski hanya memakai kaos ketat dan Hotpans.

            Tetapi Kyuhyun mulai menyadari sesuatu. Beginikah yang dirasakan Je Wo setiap kali melihatnya bernyanyi? Itu sebabnya, Je Wo jarang sekali mau menerima ajakannya untuk menontonnya secara langsung dengan memberikan seribu alasan menyebalkan.

            “Kyu.” panggil Changmin.

            “Hm?”

            “Dia cantik sekali.”

            “Aku tahu.”

            “Sekarang aku tahu kenapa dulu kau sampai menangis tersedu-sedu dihadapanku saat dia ingin berpisah darimu.”

            Kyuhyun mengernyitkan dahinya, lalu menoleh pada Changmin yang masih menatap kedepan. “Kenapa?”

            “Karena gadis mana lagi yang sesempurna Je Wo dan mau denganmu.” Changmin menolehkan wajahnya pada Kyuhyun, lalu menyeringai lebar. “AKH!” pekiknya kuat setelah Kyuhyun berhasil memelintir kedua tangannya kebelakang tubuhnya.

            “Kau benar-benar cari mati, ya, Shim Changmin.”

***

“Jantungku…” rengek Je Wo setelah dia kembali dari atas panggung. Je Wo yang sedang dikerumuni oleh teman-temannya yang mengutarakan kalimat pujian untuknya, cepat-cepat meraih tangan Je Rim dan menempelkannya keatas dada. “Kau merasakannya? Jantungku hampir saja meledak, Choi Je Rim.”

            Je Rim berdecak dan menarik tangannya lagi. “Kau berlebihan.”

            Tapi Je Wo tidak peduli. Dia masih terlalu larut dengan uforia dimana semua orang bersorak untuknya dan menyukai suaranya. Je Wo memeluk satu persatu temannya sambil berteriak girang. Tidak peduli dengan banyak mata yang menatapnya aneh.

            Hal ini adalah pertama kali baginya. Dan ketika dia mendapat respon yang sungguh luar biasa seperti saat ini, Je Wo sulit sekali mengontrol kegembiaraannya.

            “Je!”

            “Ya?” Je Wo memutar tubuhnya kebelakang saat seseorang memanggilnya.

            “Ini, seorang petugas menyuruhku memberikan ini padamu. Katanya ada seseorang yang memintanya untuk memberikannya padamu. Wah, kau sudah punya penggemar dipanggung pertamamu.”

            Meski masih merasa bingung, Je Wo tidak dapat menahan senyuman malunya. Dia mengambil sebuah coklat yang diikat dengan pita berwarna merah dari tangan temannya. Menatap coklat itu dengan dahi mengernyit. Benarkah dia sudah mendapatkan penggemar?

            Je Wo menertawai dirinya sendiri setelah menyadari pemikirannya. Lalu, Je Wo mendapati sebuah memo kecil yang terselip disalah satu ikatan pita. Je Wo menariknya keluar dan membacanya.

            Selamat.

            Kau berhasil dipanggung pertamamu.

            Dan karena kau tampil dengan sangat memukau.

            Aku akan memberikanmu hadiah.

            Bukan, bukan coklat yang sedang kau pegang itu.

            Tapi, hadiahmu ada tempat parkir.

           

            Penggemarmu.

“Eh?” gumam Je Wo tidak mengerti.

“Kenapa?” suara Je Rim membuatnya tersadar dari lamunannya. Je Wo memberikan memo itu pada Je Rim untuk dibaca. “Penggemar?”

            “Hu-um.”

            Je Rim mengulum senyumnya. “Yasudah, kau temui saja.”

            Sambil mengusap tengkuknya, Je Wo tersenyum kaku. “Aku tidak yakin.”

            “Tidak ada salahnya mencari tahu, kan?” Je Wo mengembalikan memo itu lagi dan berlalu pergi.

            Setelah cukup lama bergulat dengan pemikirannya, akhir Je Wo menghela napas panjang dan memutuskan untuk menghampiri sipemberi coklat itu.

            Saat berjalan melewati kerumunan, Je Wo kerap kali disapa oleh beberaa orang dan membuatnya kembali tersipu malu. Sebenarnya dia ingin sekali tertawa saat itu. Tidak menyangka akan menjadi terkenal seperti ini.

            Setelah berada ditempat parkir. Je Wo mulai mengitari pandangannya. Disana cukup banyak orang dan dia baru saja menyadari kebodohannya. Untuk apa mengitari pandangan ketempat itu kalau dia saja tidak tahu ingin bertemu dengan siapa.

            Je Wo menatap coklat yang masih berada ditangannya. Rasanya dia sangat ingin tahu siapa orang yang memberikannya coklat itu.

            “Mencariku, Nona?”

            Deg.

            Hanya dengan mendengar suara itu, jantungnya mulai berdetak tidak normal. Masih dalam keadaan menunduk, Je Wo meyakinkan dirinya kalau apa yang ada dalam pikirannya itu tidak benar. Mana mungkin itu dia.

            Tapi setelah melihat ada sepasang kaki dihadapannnya, Je Wo mulai memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya. Dan hal pertama yang dia lihat adalah, seorang laki-laki yang berpakaian aneh.

            Laki-laki yang memakai jaket tebal yang dalam, lalu menutupi kepalanya dengan hodie jaketnya. Kedua tangannya terpasang sarung tangan hitam berbahan Wol. Belum lagi wajahnya tertutupi oleh sebuah masker.

            Je Wo menatap ujung kaki hingga ujung kepala laki-laki itu dengan wajah bingung. Tetapi, saat kedua matanya bertemu pandangan dengan kedua mata laki-laki itu, hatinya sedikit bergetar.

            “Cho Kyuhyun.” tanpa sadar, nama itu terucap begitu saja olehnya.

            “Mengenaliku juga ternyata.”

            Tentu saja. Memangnya, siapa lagi yang mempunyai tatapan seperti itu selain dia. Tatapan yang memancarkan kelembutan sekalipun dia sedang marah ataupun tertawa. Tatapan yang selalu berhasil melelehkan sebagian keegoisan gadis itu padanya.

            Dan yang sangat mengejutkannya adalah. Pria itu, Cho Kyuhyun, sedang berada disini. Baru saja mengiriminya sebuah coklat sebagai ucapan selamat atas penampilannya. Itu artinya…

            “Hei, Nona. Kau baik-baik saja?” Kyuhyun mengibas-ngibaskan telapak tangannya didepan wajah Je Wo yang masih mematung menatapnya.

            “Apa yang kau lakukan disini?” tanya Je Wo meski ekspresi wajahnya masih sama seperti sebelumnya.

            “Oh, aku_”

            “Kau melihatnya?”

            “Hm?” Kyuhyun melengkungkan kedua alisnya.

            “Ahhhh,” tiba-tiba saja gadis itu merengek seperti ingin menangis ditempatnya. “Kenapa kau datang?”

            Rengekan Je Wo berhasil membuat mereka menjadi pusat perhatian beberapa orang. “Y-yah, kenapa kau bertingkah seperti ini.” tegur Kyuhyun. tangannya bergerak cepat membenarkan letak maskernya demi memastikan penyamarannya tidak ketahuan.

            “Kau pasti sudah melihatnya. Lalu akan menertawakanku. Ah… aku benci kau, bodoh.”

            “Hei, Shin Je Wo, pelankan suaramu. Nanti akan ada yang mencurigaiku.”

            “Aku tidak peduli! Huwaaaa.”

            Kyuhyun semakin gelisah ketika Je Wo malah semakin merengek kuat. Dia melirik kebelakang. Di mobil, Changmin memberikan perintah lewat gerakan tangannya untuk segera masuk kesana. Kyuhyun mengangguk mengerti, lalu cepat-cepat menutup mulut Je Wo yang masih terbuka dengan telapak tangannya, menyeret gadis itu secepat mungkin menuju Mobil.

            Sebenarnya dia malu sekali. Orang-orang pasti akan mengira dia adalah orang aneh. Tapi kalau tidak membawa gadis itu pergi secepatnya, bisa-bisa Leeteuk dan Managernya yang sejak tadi selalu mewanti-wantinya akan membunuh Kyuhyun kalau sampai penyamarannya terbongkar.

            “Kenapa lama sekali?” rutuk Changmin setelah kedua manusia itu masuk kedalam mobilnya dan menempati bangku belakang. Changmin melirik Je Wo yang tampak membelalakkan matanya lebar menatap Changmin. “Hai.” Sapa Changmin ringan.

            Je Wo menepis telapak tangan Kyuhyun dari mulutnya dan menatap horor pada Changmin. “Oppa, kau juga ada disini?”

            Kepala Changmin mengangguk khitmat. “Tentu saja. Aku yang membawa Kyuhyun kemari.”

            Je Wo menatap Kyuhyun, lalu kembali menatap Changmin. Hal itu terus dilakukannya berulang-ulang kali sampai akhirnya Kyuhyun dan Changmin bosan melihatnya.

            Kedua telapak tangan Kyuhyun meraih kepala gadis itu hingga akhirnya Je Wo menghentikan kegiatan anehnya memandangi kedua pria itu secara bergantian. “Yup, aku disini, oke? Jadi berhenti bertingkah aneh.”

            “Kau yang aneh!” umpat Je Wo. Dia mulai melipat kedua tangannya didepan dada. “Apa kau tidak mendengar apa yang kukatakan? Sudah kubilang jangan datang untuk melihatku. Tapi kenapa kau malah ada disini? Dan apa-apaan ini,” Je Wo melepas masker yang masih Kyuhyun pakai, lalu beralih melepas hodie dari atas kepala Kyuhyun. “Kau terlihat seperti orang gila.”

            “Aku sedang menyamar, bodoh.” Dengus Kyuhyun malas.

            Je Wo memijat dahinya frustasi. Pria ini benar-benar! Selalu saja bertingkah sesukanya.

            “Shin Je Wo, tadi kau sangat hebat.” puji Changmin.

            “Jangan menggodaku, Oppa.”

            “Hei, sungguh, aku tidak berbohong. Tanyakan saja pada Kyuhyun. Kami berdua tidak berhenti memujimu saat kau bernyanyi.”

            Sebenarnya Je Wo ingin sekali menatap Kyuhyun untuk memastikan. Tapi, membayangkan Kyuhyun yang melihat dia bernyanyi diatas paggung tadi, membuat Je Wo merasa malu dan canggung.

            “Ah… tidak tahu!” rutuknya sambil membenturkan punggungnya pada sandaran jok mobil. Wajah Je Wo tertekuk, menggambarkan bagaimana perasaanya saat ini.

            “Baiklah,” Changmin mendesah malas dan melirik Kyuhyun yang masih tidak bereaksi dan hanya memandangi Je Wo ditempatnya. “Kuberi waktu lima menit. Aku akan keluar dari Mobil selama lima menit, jadi cepat selesaikan masalah kalian. Aneh sekali, sudah lama tidak bertemu masih saja bertengkar.”  Gumamnya sebelum keluar dari sana.

            Tapi, ada atau tidaknya Changmin disana, tetap saja tidak membantu keberanian Je Wo untuk menatap Kyuhyun. Yang dilakukannya hanyalah menatap keluar jendela tanpa minat.

            Dan karena itulah, Kyuhyun memilih lebih dulu membuka suara. “Jadi, apa sekarang aku sudah menjadi mantan kekasihmu, hm?”

            “Tidak lucu, Cho Kyuhyun.” rutuk Je Wo dan melemparkan tatapan marahnya.

            Kyuhyun tersenyum tipis karena akhirnya Je Wo mau menatapnya. “Oke, maafkan aku.” Ujarnya. Kyuhyun menggeser letak duduknya hingga benar-benar duduk bersebelahan dengan Je Wo. “Dua puluh delapan hari, delapan belas jam, dua puluh menit dan…” Kyuhyun menunduk untuk melirik jam tangannya “Tiga puluh lima detik. Selama itu aku sudah tidak melihatmu.”

            Dalam diamnya, Je Wo cukup merasa terpukau karena Kyuhyun bisa mengetahui seberapa lama waktu mereka tidak bertemu. Dia bahkan tidak mau repot-repot memikirkannya, apa lagi menghitungnya sedetil itu.

            “Aku sedang mendapatkan waktu untuk beristirahat beberapa hari ini. Karena kita sudah lama tidak bertemu, bahkan rencanaku agar kita bertemu dengan memberikan tiket konserku padamu juga gagal. Aku memutuskan untuk melewati waktu luangku beberapa hari kedepan bersamamu. Aku mendatangi Apartement, tapi ternyata kau tidak ada. Padahal aku sudah membawa perlengkapan menginapku.”

            Je Wo mengangkat sebelah alisnya keatas. “Memangnya kau pikir aku akan membiarkanmu menginap di Apartementku?”

            Kyuhyun mengangguk ringan. “Kau tidak pernah menolakku selama ini.”

            Sialan! Maki Je Wo dalam hati. Harusnya dia ingat kalau pria itu memang sudah terlalu sering menginap di Apartementnya dan bahkan mereka juga tidur diranjang yang sama sekalipun tidak melakukan hal-hal aneh.

            “Tetap saja kau sudah datang kesini tanpa persetujuan dariku.”

            “Dan seingatku aku sudah minta maaf padamu.” Gemas karena gadis itu tetap tidak merubah raut wajah kesalnya, akhirnya Kyuhyun mencubit kedua pipi Je Wo. “Aku tidak mungkin menertawakanmu karena penampilanmu benar-benar membuatku kagum kalau itu yang sejak tadi membuatmu marah.”

            “Akh, sakit bodoh!”

***

“Ini namanya penculikan.” Protes Je Wo, lagi.

            Kyuhyun dan Changmin sama-sama mendesah malas. Mereka memang membawa Je Wo kesebuah restoran secara paksa meski gadis itu tidak mau. Mereka sudah sangat lapar, terlebih lagi Changmin. Bahkan diperjalanan tadi, dia dan Kyuhyun sibuk mendiskusikan menu apa saja yang ingin mereka pesan nanti.

            “Memangnya kau tidak lapar?” tanya Changmin padanya.

            “Tidak.”

            Kriukk…

            Wajah galak yang tadinya Je Wo tunjukkan berubah drastis ketika suara terkutuk yang berasal dari perutnya terdengar begitu lantang.

            Changmin sontak tertawa kuat, sedangkan Kyuhyun berpura-pura memalingkan wajahnya kearah lain sambil menahan tawa. Bisa-bisa Je Wo akan kembali merajuk kalau dia sampai melepaskan tawanya.

            “Tidak lapar, huh? Bahkan perutmu saja sudah berkhianat.” Ledek Changmin.

            Je Wo tertawa hambar, lalu dengan sengaja dia menendang tulang kering kaki Changmin dari bawah meja hingga pria itu memekik tertahan. “Sekali lagi kau menggodaku, maka kedua kakimu benar-benar akan patah.”

            “Heish! Kau sadis sekali.” Changmin merutuk dengan kedua tangan yang mengusap kakinya.

            Je Wo menjulurkan lidahnya sebagai jawaban. “Lagi pula, untuk apa kau membawanya kemari.” Adunya pada Kyuhyun.

            “Aku kasihan padanya, dia tidak mempunyai jadwal apapun di Seoul tapi tidak juga punya teman selain aku. Jadi aku bawa saja.”

            Je Wo tertawa pelan dan menatap Changmin dengan tatapan iba yang sengaja dibuat-buat. “Oh, kasihan sekali. Memangnya kekasihmu itu pergi kemana, Oppa? Kalian putus lagi, ya?”

            “Apa?”

            “Atau jangan-jangan dia menyukai laki-laki lain yang lebih tampan darimu?”

            “Kau_”

            “Sepertinya memang begitu. Kalau kuperhatikan akhir-akhir ini, dia terlihat sedang ingin menjauhimu.”

            “Yang benar saja!”

            “Wah, kasihan sekali kau, Oppa. Selain gadis itu, mana ada wanita yang mau denganmu.”

            “Yah, yah, yah, apa-apaan kau!”

            Selagi menunggu pesanan mereka datang, Je Wo kerap kali menggoda Changmin hingga mereka terlibat pertengkaran kecil. Changmin akhirnya memilih berpura-pura tidak mendengarkan Je Wo karena percuma saja, gadis itu tidak pernah mau terkalahkan. Dia  mengeluarkan ponselnya dan mulai berkutat dengan benda itu.

            Je Wo juga mulai tenggelam dalam pesona keindahan pulau Jeju dimalam hari dari tempatnya. Berada dilantai paling atas dan duduk disamping jendela membuat Je Wo merasa beruntung. Bibirnya tersenyum-senyum kecil melihat pemandangan seindah itu.

            Sampai ketika sesuatu yang hangat menjalari telapak tangannya, senyuman Je Wo sedikit memudar. Dia merasakan jemarinya telah bertautan dengan jemari lain. Jemari yang menggenggam erat jemarinya. Meski sudah tahu siapa pemilik jemari itu, Je Wo tetap memalingkan wajahnya untuk mencari tahu.

            Ternyata, Kyuhyun dan Changmin sudah kembali mengobrol ringan dengan segala keakraban yang mereka punya. Je Wo menurunkan pandangannya, diatas pangkuannya, sebelah jemarinya sedang bertautan dengan jemari Kyuhyun.

            Dia mengamati bagaimana memesonanya jemari yang sedang bertautan dengan jemarinya. Buku-buku jari yang tercetak sempurna. Dan yang terpenting, mereka hangat. Semua jemarinya selalu terasa hangat ketika menggenggam jemari milik Je Wo.

            Ketika Ibu jari Kyuhyun bergerak pelan mengusap Ibu jari Je Wo, ada sebuah desiran hangat yang dirasakan oleh gadis itu hingga ekor matanya segera melirik pria itu. Dia sedang tersenyum pada Changmin, melontarkan candaan ringannya. Lalu tiba-tiba melirik kearah Je Wo, masih dengan senyumnya yang menawan.

            Entah bagaimana bisa, bibir Je Wo turut membalas senyumannya begitu saja, dan membalas genggaman jemari mereka.

            “Terus saja mengumbar kemesraan kalian didepanku.”

            Sepertinya mereka melupakan keberadaan Changmin disana.

            Je Wo menoleh pada Changmin dan tersenyum mengejek. “Salahmu sendiri kenapa tidak datang dengan kekasihmu. Lihat,” Je Wo menggedikkan dagunya kearah kursi kosong disamping Changmin. “Kau jadi terlihat aneh karena berpasangan dengan kursi kosong.”

            Changmin menatap Kyuhyun, seperti berusaha meminta bantuan. Tapi pria itu malah menyeringai kecil dan bergumam. “Terima saja nasibmu, Shim Changmin.”

***

Mereka berdua berjalan dipinggir pantai dengan kedua tangan yang saling menggenggam. Changmin benar-benar pintar mencari tempat-tempat yang bisa mereka datangi tanpa harus memikirkan apakah akan ada orang lain yang melihat mereka disana. Sepertinya dia memang sudah ahli dibidang itu. Dan lagi, pria itu juga segera pulang setelah memesan taksi karena tidak mau mengganggu sepasang kekasih itu.

            “Changmin Oppa baik sekali.” gumam Je Wo. “Gadis itu beruntung mendapatkannya.”

            Kyuhyun tersenyum kecil. “Kau juga beruntung mendapatkanku.”

            “Oh, ya?” Je Wo yang tadinya menatap hamparan laut dihadapannya, memutar wajahnya kesamping. Menatap Kyuhyun dengan tatapan mencemooh. “Bukankah kau yang beruntung mendapatkanku?”

             “Yang benar saja.” Cibir Kyuhyun berpura-pura. Lalu dia menghentikan langkahnya. “Kita duduk disini saja.”

            Kini pasir putih pantai menjadi alas bagi sepasang kekasih itu untuk melewatkan waktu bersama. Mereka duduk berdampingan, hanya menyisakan beberapa centi meter jarak diantara mereka. Mereka duduk dengan kedua kaki yangt terulur kedepan. Sementara senyuman dibibir mereka masih saja mengembang.

            “Bagus sekali udara seperti ini.” gumam Je Wo. Sejak tadi, dialah yang terlihat sangat bahagia berada disana.

            Kyuhyun memerhatikan gadisnya lekat. Menghela napas panjang saat melihat pakaian Je Wo yang terlalu minim, sedangkan dia hanya memakai Kemeja dan tidak memiliki apapun untuk menutupi tubuh gadis itu.

            “Aku mengambil Jaket di Mobil dulu.” Kyuhyun sudah bersiap bangkit dari tempatnya, tapi Je Wo menahan lengannya.

            “Untuk apa?”

            “Untuk siapa lagi memangnya?” balasnya ketus. Dia melirik pada kedua paha Je Wo yang sangat terekspose. “Angin disini sangat kencang, sekarang juga sudah hampir larut. Dan kau hanya memakai pakaian seperti itu. Awas saja kalau kau memakai pakaian seperti ini lagi lain kali.”

            “Ck, aku tidak apa-apa. Tidak perlu mengambil jaket, aku juga tidak akan mau memakainya.” Protes Je Wo.

            “Terserah kau saja.”

            Kyuhyun kembali duduk seperti semula. Percuma saja mendebat gadis itu, kan? Dan Je Wo juga sudah kembali larut dengan kegiatannya yang mengaggumi tempat itu.

            Bila yang dilakukan Je Wo adalah memandangi pantai itu, maka yang dilakukan Kyuhyun adalah memandangi gadisnya. Rasanya benar-benar menenangkan. Setelah beberapa hari tidak dapat bertemu dan sekarang mereka dapat duduk berdua melewati kebersamaan mereka. Kyuhyun dapat memuaskan dirinya untuk memandangi wajah gadisnya, tidak lagi bergumul dengan perasaan rindunya.

            Intensitas pertemuan mereka memang semakin memprihatinkan. Selain memang dikarenakan jadwalnya sendiri, Je Wo juga saat ini semakin sibuk. Gadis itu sedang berada ditahun terakhirnya, maka itu sekarang seluruh waktu Je Wo hanya berputar pada pendidikannya.

            Mereka sudah jarang mengobrol seperti biasa untuk saling memberitahu apa saja yang mereka lakukan, atau membicarakan bagaimana hubungan mereka. Biasanya, meski Kyuhyun tidak bisa menelepon gadis itu disiang hari, Kyuhyun selalu dapat meneleponnya dimalam hari. Sekalipun sudah larut, Je Wo seperti mengerti kalau Kyuhyun ingin mendengar suaranya dan sengaja terjaga demi mengabulkan permintaan pria itu.

            Tapi sekarang, Kyuhyun sudah tidak mempunyai waktu spesial itu lagi. Je Wo sudah meminta pengertiannya untuk tidak terlalu sering menelepon ditengah malam seperti itu. Gadis itu sudah menjelaskan apa saja yang ada dalam rencana hidupnya dalam satu tahun kedepan untuk menyelesaikan pendidikannya. Meski merasa sedikit kecewa karena diantara semua rencana hidup gadis itu tidak sedikitpun ada dirinya, tapi Kyuhyun berusaha mengerti dan mendukungnya. Seperti ketika gadis itu selalu mengerti dan mendukungnya.

            “”Cho Kyuhyun.”

            “Hm?”

            “Menurutmu suaraku tadi bagaimana?”

            Gadis itu sudah menatapnya dengan ringisan kecil. Benar-benar menunggu jawaban apa yang akan diberikan Kyuhyun.

            “Biasa saja.” Jawab pria itu acuh.

            Bibir Je Wo menipis cepat. “Apa maksudmu dengan biasa saja? Tadi kau bilang kau sangat kagum dengan penampilanku. Changmin Oppa juga bilang begitu.”

            “Dan kau percaya begitu saja pada kami?” Kyuhyun sengaja menertawainya dengan tawa yang menjengkelkan. Dan dia berhasil. Karena saking jengkelnya, Je Wo meraih lengan pria itu dan menggigitnya kuat. “AKHHHH!”

            Pekikan Kyuhyun membuahkan seringaian puas dibibirnya.

            “Sudah kukatakan hentikan kegemaranmu menggigit orang lain. Kau tidak tahu kalau gigi-gigimu setajam ikan piranha?”

            “Aku tahu, maka itu aku berniat menggigit lenganmu sampai terlepas dari tempatnya.”

            Kyuhyun bergedik ngeri. Entah sudah sebanyak apa bekas gigitan ditubuhnya yang disebabkan Je Wo. Bukan hanya ketika sedang kesal saja dia melakukannya, ketika mereka sedang duduk berdua, atau menonton televisi dan dia merasa bosan. Bahu atau lengan Kyuhyun sering kali menjadi korban.

            “Ah, iya. Ada yang ingin kutunjukkan padamu.” Kyuhyun mengeluarkan ponselnya, lalu berkutat dengan benda itu sejenak sebelum memberikannya pada Je Wo.

            “Oh? Ini aku.” Gumam Je Wo. Bibirnya terbuka kecil ketika wajah terperangahnya terlihat. Kyuhyun saja yang memerhatikan wajahnya sampai tertawa pelan.

            “Aku sengaja mengambil fotomu tadi. Ya, siapa tahu saja dimasa mendatang kau akan menyusulku menjadi seorang Penyanyi. Dan kalau itu terjadi, aku akan memberitahu semua orang kalau aku adalah fans pertama yang mendapatkan foto di panggung pertamamu.”

            Meski Je Wo berusaha menatap Kyuhyun dengan tatapan ingin mual, tapi rona merah dan wajah malu-malunya sungguh tidak bisa ditutupi olehnya. “Kau membuatku merinding. Memangnya siapa yang mau menjadi Penyanyi sepertimu.” Dia kembali melihat-lihat beberapa fotonya disana. Sepertinya Kyuhyun cukup pintar mengambil angle yang bagus. Karena seluruh foto-fotonya terlihat bagus dan menampakkan beragam ekspresi lucunya.

            Je Wo menekuk kedua lututnya, sebelah lengannya terlipat diatas kedua lutunya yang menyatu, dijadikannya sebagai alas untuk kepalanya yang sudah menyecah disana. Je Wo memiringkan wajahnya menghadap kearah Kyuhyun yang masih setia memandanginya.

            “Diantara foto itu ada sebuah foto yang paling kusukai.” Gumam Kyuhyun, membuat  Je Wo meliriknya. Kyuhyun mengambil ponselnya lagi, mencari-cari foto yang dimaksud olehnya, kemudian menyerahkannya lagi pada Je Wo.

kang min kyung

Je Wo memandangi fotonya sendiri. Dahinya mulai berkerut, tidak mengerti mengapa Kyuhyun sangat menyukai fotonya yang satu ini. Bahkan menurutnya dia tampak biasa-biasa saja. “Kenapa kau sangat menyukai foto ini?” tanya Je Wo masih dengan memandangi fotonya sendiri.

“Karena kau terlihat sangat polos dan… cantik.”

Ekor matanya melirik Kyuhyun. Tidak ada nada bercanda yang terdengar ketika Kyuhyun mengatakannya. Je Wo justru melihat ketulusan dari kedua mata pria itu yang menatapnya teramat lembut dan hangat.

Perlahan, Kyuhyun mendorong tubuhnya kedepan. Bibirnya mendarat pelan diatas bibir Je Wo yang terasa dingin. Lalu dia mengecupnya pelan dengan kelembutan, menatap lekat kedua mata Je Wo yang juga menatapnya, lalu segera menarik wajahnya lagi.

Setelah itu mereka hanya saling berpandangan, membiarkan suara deburan ombak bernyanyi-nyanyi untuk mereka, deru angin yang menyelimuti mereka, dan kerlap-kerlip bintang yang turut bahagia melihat keberrsamaan mereka. Tidak ada hal yang paling membahagiakan bagi mereka berdua selama satu bulan terakhir selain saat-saat seperti ini.

Je Wo tersenyum kecil. Menegakkan tubuhnya lagi meski kedua lengannya sedang memeluk kedua kakinya. “Aku senang kau datang untukku.” ucapnya tulus.

Kyuhyun membalas senyumannya. Membelai pipi Je Wo yang merona hangat dengan jemari, lalu kembali mendorong tubuhnya mendekati wajah gadis itu, untuk mencicipi rasa dingin yang berasal dari bibir gadisnya.

Dikecupnya bibir itu beberapa kali, lalu dia menyatukan kedua dahi mereka dengan kedua mata terpejam. Tapi setelah itu dia merasakan bibir Je Wo yang bergerak mengecup bibirnya, Je Wo melakukannya dengan ritme yang begitu pelan dan lembut hingga Kyuhyun hampir saja merasa melebur saat itu juga.

Kyuhyun menyelipkan sebelah tangannya kebelakang kepala Je Wo, lalu menariknya mendekat untuk membalas kecupan-kecupan itu. Mata mereka terpejam, seperti ingin melupakan sekitar mereka dan hanya terfokus pada diri mereka berdua.

FIN

Hai hai….

Udah lama gak ngetik, jadi ngerasa tulisan makin aneh -_-

Udah gitu sok-sokan mau bikin yang sweet* tapi jatuhnya malah makin aneh.

Jadi maaf yak kalo isinya rada kosong mwehehehe.

Ini juga hasil request si Ria -_-

Kebetulan juga kemaren, Kyuhyun liburan di Pulau Jeju bertepatan Kang Min Kyung juga lagi ada disana, jadilah ide absurd inih wahahahaha.

 

 

148 thoughts on “[KyuJe] Sweet Moment

  1. sweet bngt astaga,,,
    tapi ancaman je wo bikin ngakak wkw tapi nggak ngaruh sama sekali sama kyuhyun,,
    kyu udah kebal kyknya *LOL
    kyu cium* je wo terus nih hahaha
    next ff + naxt chap ff*nya ditunggu ^^

  2. Weleh2 anceman je wo kok wow banget sih
    Ngancem bkln jdiin kyuhyun mantan kekasih kalo kyuhyun smpe dtg ke festival dmna jewo tmpl menyanyi
    Pokoknya co cuit banget thor kyuje nya
    Makin suka sma kyuje
    Keep writing thor

  3. wowwww. aku meleleh bacanya :’D speechless. ini ff ternormal dari semua ff mu yg pernah aku baca kak xD good job!!!!
    btw itu adegan kiss nya kok manis banget v.v dapet ide drmna kak? aku ikut meleleh :’D

  4. Eonni crita swee mu ga aneh. Malah q kadang gregetan ma sad ending mu. Critanya bgus yg bkin jelek sad ending ;-( ;-(
    jangan marah c0z bis baca itu q pe kpikran pe 2 hari lbh nd ngrasain sakit yg je wo rasain pas d sakitin kyuhyun.😦

  5. Siapa bilang nie aneh?? Sweet bgtz mlahh thour..
    Sllu ska dgn nie couple, meski sllu berantem, tpi cra mreka mnyampaikn prsaan msing2 itu lah yg mmbuat mreka mnjdi romantis… karya u mmg sllu the best, pembca bner2 msug k dlam critaanyaaa..
    Huaaa iri bgtzzz dgn shin je woo~~~

  6. demi apa berharap buat je wo jadi perempuan yg halus itu impossible bget kekny -_- suka kasar n jengkelin XDD tpi meski kek gtu kyu ttep suka.
    sekali kali cba dy jadi perempuan yg romance lol

    keep wrting eon

  7. Bagian yang mereka bertiga lagi di restorant, yang Kyuhyun menggenggam jemarinya Je-Wo padahal dianya lagi ngobrol sama Changmin, beneran sweet kak. Aku sampe greget sendiri bacanya.
    Trus, bagian yang dijelasin kalau Je-Wo suka gigit Kyuhyun,bikin ketawa. Kasian banget dia jadi sasaran empuk gigitannya Je-Wo😀
    Overall, bagus dan keren kak. Terus berkaryanya^^

  8. keren… je wo ga mau kyuhyun liat dia nyanyi karena takut di ketawain… padahal kyuhyun suka banget sama aksi panggung je eo… ya ampun je wo kebiasaan yg mengerikan seperti nya kyuhyun harus jaga jarak nih…wkwk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s