When It’s All Over

image

Gadis itu mengatupkan kedua bibirnya serapat mungkin, menahan geraman yang sudah berada diambang tenggorokannya. Bisikan dan desas-desus yang mengaung dikedua telinganya membuatnya merasa gerah dan kesal. Niatnya untuk mencari ketenangan dari gosip-gosip panas yang sedang beredar di lingkungan kantornya dengan mendatangi taman yang terletak di lantai empat kantornya, musnah sudah saat ada sekelompok gadis yang berkumpul tidak jauh darinya, dan mulai bergosip ria.

 “Benar, kan? Aku sudah curiga sejak dulu, apa lagi saat melihat presdir terlalu dekat dengan wanita itu.” kata gadis yang memakai blazer berwarna abu-abu.

 “Mereka juga sering menghabiskan waktu berdua, atau bersama teman-teman presdir yang lain. Wanita itu, ataupun presdir sering mengupload foto mereka di Twitter.” Sambung wanita yang lain yang berbicara dengan ekspresi berapi-api.

 “Aku memang sudah pernah mendengar dari salah satu temanku, kalau mereka memang berpacaran. Tapi, karena status presdir kita, dan juga setumpuk fans beratnya di kantor ataupun diluar kantor, mereka sengaja merahasiakannya.”

 Gadis itu yang sejak tadi duduk tegak, berusaha tidak mendengarkan apapun dari pembicaraan mereka, akhirnya mendesis kesal saat usahanya terasa sia-sia. Sebelah kakinya menghentak sekali keatas lantai, sebelum akhirnya dia beranjak dari sana untuk meninggalkan tempat itu.

 “Benar-benar sial!” umpatnya pelan.

 “Shin Je Wo.”

 Seseorang memanggil namanya dari belakang, yang Je Wo sangat yakini kalau orang itu pasti salah satu diantara gadis-gadis yang sibuk bergosip disana. Dengan gerakan malas, Je Wo berbalik kebelakang. “Ya?”

 “Kau sekretaris Presdir, pasti tahu rahasia-rahasia yang disembunyikan presdir. Apa kau mau membaginya pada kami?”

 “Maksudnya?” tanya Je Wo tidak mengerti. Alisnya saling bertaut memandang gadis-gadis yang tampak tersenyum penuh arti pada mereka.

 “Kau sudah mendengar gosip itu, bukan? Dugaan hubungan rahasia presdir dengan… sahabat sekaligus partner kerjanya. Wanita berdarah Itali itu. Kim Yura.”

 Cukup sudah! Teriak Je Wo dalam hati. Setelah menarik napasnya sekuat mungkin, Je Wo tersenyum manis pada gadis-gadis itu, “Ya Tuhan, bodoh sekali kalau kalian menyangka gosip itu benar-benar nyata.” Cibirnya.

 “Oh, kenapa?”

 “Semua orang juga tahu itu bukan hanya gosip.

 “Apa lagi Presdir memang sangat mesra dengan wanita itu.”

 Sebelah sudut bibir Shin Je Wo terangkat hingga membentuk seringaian mengerikan. “Tentu saja terlihat mesra, karena memang itu yang diinginkan Presdir. Dia ingin kalian semua percaya kalau diantara dia dan Kim Yura, memang memiliki hubungan khusus.”

 “Apa untungnya dia melakukan itu?”

 “Karena…” seringaian Je Wo semakin melebar. “Presidir memiliki rahasia yang lebih besar lagi.”

 “Oh, ya?”

 “Apa itu?”

 Gadis-gadis itu semakin membelalakkan matanya lebar, memasang ekspresi penasaran yang hampir membuat Je Wo melepaskan tawa lucunya.

 “Presdir kita yang tampan dan kaya raya itu… sebenarnya… seorang Gay.”

 “APA?!”

 

***

 

 

Pintu lift tertutup rapat dan membawa orang-orang yang berada didalamnya kelantai atas. Suasana yang tadinya sedikit berisik oleh suara beberapa orang yang mengobrol, mendadak hening setelah seorang pria tampan dengan setelan jas yang rapi masuk kesana. Aroma parfumnya yang terasa manly mengisi ruangan sempit itu. Beberapa gadis memekik girang tanpa suara, sedangkan beberapa pria yang berjejer rapi dibelakangnya melirik iri padanya.

 Pria itu adalah Presdir diperusahaan itu. Cho Kyuhyun. Pria berwajah angkuh dan dingin itu berdiri tegak dengan gagahnya. Menatap lurus kedepan, pada pintu lift yang memantulkan wajahnya. Sayup-sayup, Kyuhyun mendengar beberapa orang berbisik mengenai dirinya.

 “Aku tidak percaya presdir seperti itu.”

 “Tapi aku mendengarnya langsung dari sekretarisnya.”

 Dahi Kyuhyun sedikit berkerut mendengar salah seorang dari mereka menyebut-nyebut Sekretarisnya.

 “Tapi mana mungkin. Dia dan Kim Yura, kan, berpacaran.”

 Kali ini, bibirnya tersenyum tipis.

 “Katanya, gosip itu hanya untuk menutupi rahasia presdir saja.”

 “Tapi…”

 “Ternyata presdir seorang Gay.”

 “UHUK!” tanpa sadar, Kyuhyun terbatuk kuat setelah mendengar apa yang dikatan salah seorang dari mereka. Mereka baru saja menyebutnya apa? GAY? Ya Tuhan…

 Setelah pintu lift terbuka, Kyuhyun sontak melangkah lebar keluar dari sana. Bibirnya berdesis kuat disepanjang jalan. Lelucon sialan itu berhasil membuatnya naik darah. Terlebih lagi, pelaku sipenyebar gosip itu bernar-benar diluar dugaannya.

 “Kau,” tanpa menyapa lebih dulu, Kyuhyun yang sudah melayangkan tatapan dinginnya pada seorang gadis cantik bertubuh mungil yang duduk dengan wajah malas sambil menopang dagunya disebelah telepak tangan – dibalik meja kerjanya. Langsung memberikan perintah padanya. “Ikut aku.”

 Kyuhyun melangkah semakin cepat menuju ruang kerjanya diikuti oleh Sekretaris cantiknya. Dia berdiri didepan meja kerjanya dengan punggung yang tampak tersengal karena menahan sesuatu. Sampai ketika suara derik pintu tertutup terdengar olehnya, barulah dia berbalik dan mengeluarkan kemurkaannya.

 “APA MAKSUDMU MENYEBARKAN GOSIP YANG TIDAK-TIDAK TENTANGKU?!” teriaknya.

 Gadis yang masih berdiri didepan pintu yang sudah tertutup rapat itu hanya memasang wajah tak berdosa didepannya. “Maaf, Presdir? Aku tidak tahu apa yang sedang anda bicarakan.”

 “Shin Je Wo.” Kyuhyun menggeram dengan gigi-giginya yang bergemeratuk.

 Mendesah malas, Je Wo akhirnya melayangkan tatapan kesalnya pada pria itu. Punggungnya menyandar pada pitu lalu kedua tangannya bersedekap didepan dada. “Tidakkah menurutmu gosip itu terdengar lebih baik dari pada gosip tentangmu yang sebelumnya?”

 “Apa maksudmu?”

 “Aku lebih suka mendengar Cho Kyuhyun adalah seorang Gay dari pada harus mendengar Cho Kyuhyun berpacaran dengan sahabat tercintanya.”

 Dari nada suara gadis itu, Kyuhyun tahu kalau Je Wo sedang benar-benar dalam mood yang tidak baik. Apa lagi melihat bagaimana cara gadis itu memandangnya. Tapi dia juga tidak bisa memaafkan sikap sesuka gadis itu begitu saja kali ini. “Tapi kau tidak perlu sampai membuat lelucon seperti itu, kan? Bagaimana kalau kredibilitasku sebagai pemimpin perusahaan tercoreng hanya karena lelucon itu? Lagi pula sejak kapan kau berubah menjadi kekanakan seperti ini.”

 Terkesiap, Je Wo mengangkat punggungnya dari sisi pintu. “Aku? Kekanakan?” ulangnya tajam.

 “Apa lagi kalau bukan kekanakan? Bahkan kau tahu kalau aku dan Yura hanyalah_”

 “Sahabat baik. Oh, ya, tentu saja. Melihat kau yang selalu menempel padanya setiap saat siapapun pasti tahu kalau kau dan dia hanya bersahabat.” Potongnya berapi-api dan sengaja menekan kalimat akhirnya.

 “Bisakah kita_”

 “Aku minta maaf padamu karena sudah membuat lelucon sialan itu dan membuat nama baikmu tercoreng. Ya, mungkin setelah ini kau bisa mencari Sekretaris yang lebih baik setelah aku risign dari perusahaan ini. Permisi.”

 Kedua mata Kyuhyun melebar melihat tubuh itu mulai berbalik dan menyentuh knop pintu. Dia cepat-cepat melangkah mendekati Je Wo, meraih ujung siku gadis itu dan kembali berhadapan dengannya. “Apa maksudmu dengan risgn?”

 “Aku berhenti! Keluar dari perusahaan sialanmu!” Teriak Je Wo dengan napas memburu. Matanya menyala-nyala penuh amarah pada pria itu. Sungguh, dia sudah menahannya sejak beberapa hari yang lalu dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk memuntahkannya.

 Kyuhyun memejamkan kedua matanya sejenak selagi berusaha meredam kekesalannya. Jelas-jelas gadis itu yang memulainya lebih dulu dan seharusnya gadis itulah yang menerima amukannya. Tapi mengapa sekarang malah dia yang berada diposisi itu. “Kau tidak harus berhenti bekerja hanya karena masalah pribadi diantara kita.”

 Menghempaskan cekalan Kyuhyun dilengannya, Je Wo mencibir pelan. “Bahkan seharusnya aku memang tidak pernah bekerja disini, Cho Kyuhyun. Kau benar-benar membuatku muak dengan semua hal yang ada disekelilingmu. Sikap kepemimpinanmu, rekan-rekan kerjamu, seluruh karyawanmu dan semua omong kosong yang kudengar tentangmu. Dua tahun aku bekerja disini, bersamamu, apa kau tahu kalau semua itu tidak pernah membuatku nyaman?”

 Wajah Kyuhyun berubah pias ketika gadis itu berbicara tanpa henti.

 “Dalam dua puluh empat jam yang kuhabiskan selama dua tahun belakangan ini, selalu membuatku tercekik. Tuntutanmu terhadap tanggung jawabku sebagai Sekretaris, sikapmu yang selalu memperlakukanku seperti kau memperlakukan semua karyawan penjilat sialanmu. Semua larangan-laranganmu. Seluruh waktuku habis hanya karena keinginanmu. Lalu, apa kau pernah berpikir untuk bertanya padaku apa yang kuinginkan? Apa yang diinginkan oleh seorang gadis yang hanya bisa duduk diam memerhatikan ego kekasihnya yang bahkan lebih memilih meluangkan seluruh waktunya dengan gadis lain dibandingkan dirinya sendiri.”

 “Kenapa kau_”

 “Kalau kau memang sudah bosan dengan keberadaanku katakan saja! Kita hanya perlu mengakhirinya dan aku,” telunjuk Je Wo menekan kuat dadanya sendiri. “Bisa segera terbebas dari pria sepertimu.” Dengan napas yang terengah-engah dan kedua matanya yang berkaca-kaca. Je Wo menahan air mata penghianatnya sekuat tenaga. “Aku berhenti.”

 Kalimat itu adalah sebuah keputusan akhirnya yang bahkan tidak bisa satu orangpun didunia ini yang bisa mengubah keputusan itu. Bahkan tidak juga dengan Kyuhyun.

 Ketika gadis itu keluar dengan menghempaskan pintu sekuat-kuatnya, Kyuhyun hanya bisa memejamkan matanya erat dengan tubuh membatu. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi diantara mereka. Bukankah selama ini semuanya baik-baik saja?

 Mereka memang sepasang kekasih. Bahkan sudah hampir empat tahun belakangan ini keduanya merajut hubungan. Bertemu disebuah makan malam yang dilakukan kedua orangtuanya, Kyuhyun dan Je Wo ternyata saling menyukai satu sama lain dan memutuskan untuk berpacaran.

 Ketika itu mereka masih sama-sama menyelesaikan pendidikan di Universitas berbeda. Hari-hari yang mereka lalui terbilang sangat bahagia. Kyuhyun bahkan menjadi pihak yang begitu memuja gadisnya. Dan oleh karena itu, ketika mereka selesai dibangku perkuliahan, Kyuhyun yang harus bekerja di Perusahaan keluarganya, memaksa Je Wo untuk bekerja disana juga sebagai sekretarisnya dengan alasan demi  hubungan mereka.

 Je Wo menyetujuinya. Tapi ketika Ayah Kyuhyun mengusulkan kalau sebaiknya hubungan diantara mereka dirahasiakan dari semua karyawan perusahaan, Kyuhyun adalah orang pertama yang menolaknya. Meski Ayahnya memeberi penjelasan kalau sampai semua orang tahu mengenai hubungan pribadi yang terjalin diantara mereka akan membuat sikap kepemimpinan Kyuhyun hanya akan dipandang sebelah mata, Kyuhyun tetap bersikeras tidak peduli.

 Je Wo bahkan harus berkali-kali mengajaknya berbicara dan memberi sedikit ancaman hingga akhirnya Kyuhyun mengalah. Saat itu, Je Wo juga memiliki pemikiran yang sama seperti Ayah Kyuhyun. Apa yang akan orang-orang katakan tentang mereka. Bos dan Sekretaris yang berpacaran. Dan mungkin saja setiap kali Je Wo masuk kedalam ruangan Kyuhyun, orang-orang akan berpikir yang tidak-tidak.

 Mulanya semua berjalan baik. Meski dikantor sikap Kyuhyun dan Je Wo tampak normal, tetapi diluar kantor Kyuhyun selalu kembali menjadi pria yang mencintainya. Bahkan Je Wo kerap kali dibuat kesal oleh Kyuhyun yang senang sekali memanggilnya kedalam ruangannya hanya karena dia ingin bermesraan dengan gadis itu.

 Ya, semuanya masih baik-baik saja sampai seorang gadis bernama Kim Yura muncul. Kim Yura adalah sahabat Kyuhyun sejak kecil. Menurut orang-orang yang tahu tentang kedua sahabat itu, Kyuhyun memang sangat menyayangi sahabatnya hingga kemanapun Yura pergi pasti Kyuhyun mengikutinya.

 Yura sempat pergi ke Kanada selama dua tahun karena urusan pekerjaan orangtuanya. Dan setelah Je Wo selidiki, selama dua tahun itulah Kyuhyun dan dirinya berpacaran. Ketika Yura kembali, Je Wo memang mulai merasa ada yang berubah dari sosok kekasihnya. Perhatian Kyuhyun yang selama ini hanya tertuju padanya mulai berangsur hilang dan teralihkan pada sosok Kim Yura. Je Wo juga mulai berpikir, apakah selama ini dirinya hanya sebagai pelarian bagi Kyuhyun. Tapi dia selalu berusaha menepisnya. Dia memercayai Kyuhyun.

 Hanya saja, semakin lama semua tingkah laku Kyuhyun mulai membuatnya tidak tahan. Kyuhyun yang dulu menolak keras permintaan Ayahnya untuk tidak memberitahu siapapun di perusahaan tentang hubungan mereka, kini malah menjadikan alasan itu setiap kali Je Wo menyuarakan protesnya. Dia bahkan kerap kali mengatakan kalau keberadaan Yura cukup membantu mereka mengalihkan perhatian.

 Dan gadis mana yang mampu bersabar melewati semua itu selama dua tahun terakhir ini.

 

***

 

 

 

Bergelung dalam selimut tebalnya, Je Wo semakin meringkuk seperti ulat bulu ketika Ibunya datang dan menggoncang-goncang tubuhnya. “Hei, sudah pukul tujuh pagi. Kau bisa terlambat ke Kantor, sayang.”

 Je Wo mencebik dibawah selimutnya dan semakin bersembunyi didalam gulungan selimut itu.

 “Shin Je Wo! Ck, Kyuhyun bisa mengomelimu kalau kau terlambat datang Ke Kantor.”

 “Omma!” mendengar Ibunya menyebut nama Kyuhyun, entah mengapa rasa kantuk yang sejak tadi begitu dinikmatinya berubah menjadi rasa kesal hingga dia menyibak selimutnya dan duduk dengan wajah kusut memandang Ibunya. “Hari ini aku tidak pergi ke Kantor.”

 “Kenapa?” tanya Ibunya tidak mengerti.

 Je Wo menggaruk belakang kepalanya dengan bibir mengerucut. “Aku sudah berhenti bekerja.”

 “APA?!” kedua mata Ibunya terbelalak. “Kenapa kau berhenti bekerja? Apa Kyuhyun memecatmu? Heish, kau pasti melakukan kesalahan, kan? Apa yang_”

 “Aku tidak harus dipecat olehnya hanya karena ingin keluar dari tempat itu!” bentak Je Wo kesal. Kenapa pagi-pagi seperti ini Ibunya sudah berhasil membuat kekesalannya yang sempat mereda kemarin sejak dia tidur kembali bangkit. “Aku yang mengundurkan diriku. Kenapa Omma berpikir dia memecatku karena aku berbuat salah? Apa dimata semua orang dia selalu sempurna sedangkan aku selalu saja salah?”

 “Je, Je Wo-ya, kenapa…”

 “Aku hanya lelah Omma,” kini suaranya terdengar pelan dan Ibunya benar-benar bisa merasakannya. “Benar-benar lelah. Karena itu aku tidak mau bekerja disana lagi.”

 Sejak Je Wo pulang tadi malam, Lily memang sudah melihat gerak-gerik aneh putrinya. Je Wo yang selama ini jarang sekali mau menyentuh alkohol, tadi malam Lily malah mencium bau alkohol dipakaian putrinya. Je Wo juga tidak lagi keluar dari kamarnya sejak pulang.

 Lily menyentuh rambut Je Wo dengan kedua tangannya, merapikan rambut yang tampak berantakan itu. “Apa yang terjadi? Kau bisa bercerita dengan Omma.” tanya Lily dengan suara lembutnya. Dia yakin sekali kalau putrinya sedang membutuhkan teman untuk bicara.

 Je Wo memandang Ibunya ragu. Apakah sebaiknya dia bercerita saja pada Ibunya karena saat ini dia memang membutuhkan seorang teman bicara. Tapi, bagaimana kalau Ibunya menjadi cemas kalau mengetahui hubungannya dan Kyuhyun tidak baik-baik saja. Apa lagi, akhir-akhir ini keluarganya mulai menggodanya dengan kata pernikahan. Mereka berharap dia dan Kyuhyun segera menikah.

 Tapi sayang sekali, entah mengapa Je Wo sangat yakin kalau cepat atau lambat, dia dan Kyuhyun akan segera berakhir.

 “Tidak apa-apa, Omma. Aku hanya bosan saja bekerja disana. Aku butuh suasana baru.” Kilahnya.

 “Lalu, Kyuhyun sudah tahu kau berhenti bekerja?”

 Je Wo mengangguk sekali.

 “Bagaimana reaksinya?”

 Wah, Ibunya sangat pintar memancing orang lain untuk berkata jujur. Sayang sekali Je Wo sedang tidak ingin membicarakannya. “Ya, begitulah. Ck, Omma, aku benar-benar mengantuk. Bisakah biarkan aku tidur lebih lama? Rasanya sudah lama sekali aku tidak bangun disiang hari.”

 Lily mendesah pasrah. Dan akhirnya memilih untuk menyetujui permintaan putrinya.

 Setelah Ibunya keluar dari kamarnya. Je Wo kembali merebahkan dirinya diatas ranjang. Rasa kantuknya sudah menguap entah kemana dan kini digantikan dengan memikirkan satu nama.

 Cho Kyuhyun.

 Menatap langit-langit kamarnya tanpa gairah, Je Wo kembali mengingat pertengkarannya dan Kyuhyun kemarin. Kyuhyun bahkan tidak berusaha membujuk ataupun menyusulnya setelah dia keluar dari ruangan pria itu. Hal itu yang membuat Je Wo semakin merasa putus asa dengan hubungan mereka.

 Je Wo memang bukan gadis romantis yang bisa menunjukkan perasaannya secara gamblang. Tetapi, dia tetap mempunyai perasaan. Dia mencintai Kyuhyun, sangat mencintai Kyuhyun. Hanya saja, jika memang pria itu tidak memiliki perasaan itu lagi padanya, untuk apa dia mempertahankan pria yang jelas-jelas terganggu dengan keberadaannya. Bukankah lebih baik mengakhirinya?

 Tanpa sadar, sudut matanya mengeluarkan cairan bening yang membuatnya tersentak. Je Wo cepat-cepat menyentuhkan telepak tangannya kesana untuk menyeka air mata itu. Dipejamkannya kedua matanya erat-erat agar dia tidak benar-benar menangis. Sungguh, dia benci harus menangis hanya karena seorang pria.

 Tetapi, bukannya berhenti menangis. Kilasan kenangan bahagianya dan Kyuhyun malah berpendar teramat jelas dikedua matanya yang tertutup rapat. Bagaiaman Kyuhyun memandangnya, mengucapkan kalimat cinta, menghabiskan sepanjang waktu dengannya. Ketika mereka tertawa bersama adalah hal yang paling membahagiakan bagi Je Wo. Dan ketika tersadar kalau hal itu sudah hampir tidak pernah terjadi lagi dalam beberapa waktu terakhir, Je Wo malah mengeluarkan isakan kecil.

 Empat tahun bukanlah waktu yang sebentar baginya berada disisi pria itu. Jika harus melepasnya begitu saja, Je Wo benar-benar sungguh tidak rela. Tapi mengingat kalau dirinya hanyalah sebuah pelarian bagi Kyuhyun, hal berhasil mengusik egonya. Dia tidak sudi menjadi pelarian pria itu. Sampai kapanpun hal itu tidak akan termaafkan olehnya.

***

 

 

“Kau tidak bekerja?”

 Je Wo hampir saja menyuapkan sesendok es krim kedalam mulutnya kalau saja Lee Hyukjae, pemilik café es krim yang sedang dia datangi, sekaligus salah satu sahabatnya, tidak bertanya seperti itu. Je Wo memutar bola matanya malas. Pertanyaan yang entah sudah berapa orang tanyakan padanya seharian ini. “Tidak.” Jawabnya singkat dan segera melahap es krimnya. Rasa vanila bercampur coklat yang menggelitik lidahnya hingga dia memejamkan matanya sambil mengulum senyum kepuasan.

 “Maaf, aku terlambat.”

 Je Wo melirik seorang gadis yang sedang menatap Hyukjae penuh sesal. Kang Hyemi, kekasih pria itu.

 “Appa sangat rewel dan selalu mencoba menahanku dirumah.” Lanjutnya dengan bibir mengerucut.

 “Tidak apa-apa, sayang. bagaimana kabar Ayahmu?”

 “Sudah lebih baik.”

 Dalam diam sembari menikmati semangkuk es krim dihadapannya, Je Wo mengamati sepasang kekasih yang duduk dihadapannya itu. Ayah Hyemi memang sempat dilarikan kerumah sakit karena penyakit jantungnya kambuh beberapa waktu yang lalu. Selama ini, Hyemi memang bekerja sama dengan kekasihnya untuk membangun bisnis mereka ditempat itu.

 “Oh, Je Wo ada disini?”

 “Hai.” Sapa Je Wo ringan.

 “Kau tidak bekerja?”

 Je Wo menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.

 “Kenapa? Setahuku sekarang bukanlah hari libur.”

 “Nah, itu juga yang membuatku tidak mengerti.” sambung kekasihnya.

 Je Wo mendesah pendek. “Aku sudah berhenti bekerja.”

 “APA?” pekik sepasang kekasih itu.

 Lagi-lagi reaksi yang sama, rutuknya dalam hati. Kenapa semua orang harus terkejut seperti itu mendengarnya berhenti bekerja. Memangnya, hanya dia saja salah satu manusia dimuka bumi ini yang menyatakan berhenti dari tempatnya bekerja. Sepertinya tidak.

 “Kenapa kau berhenti bekerja?” tanya mereka serempak. Je Wo hanya mengangkat bahunya ringan, terlalu malas menjawab pertanyaan itu karena es krim dihadapannya lebih menggiurkan dari apapun saat ini.

 “Aku merasa ada yang tidak beres disini.” Dari celah bulu matanya Je Wo melirik Hyukjae dan Hyemi yang saling memandang penuh arti satu salam lain. “Kau dan Kyuhyun bertengkar, ya?”

 “Sepertinya begitu.” Jawab Je Wo ringan sambil mendorong mangkuk es krimnya yang telah kosong. “Boleh tambah lagi, tidak? Tapi berikan aku potongan harga, ya. Karena sekarang aku ini sudah menjadi pengangguran.”

 “Shin Je Wo.” geram kedua orang itu padanya dengan memasang wajah datar. Bisa-bisanya disaat mereka sedang merasa penasaran, gadis itu malah mengeluarkan leluconnya.

 Tapi sebenarnya, Je Wo hanya sedang ingin mengalihkan pikirannya dari pria itu. Sebentar saja, biarkan dia merasakan ketenangan yang sudah tidak pernah dia rasakan belakangan ini.

 “Ayolah, kau tahu kami selalu ada untuk membantumu.” Bujuk Hyukjae.

 Bibir Je Wo tersenyum kecil. “Anggap saja aku dan Kyuhyun sudah berakhir.”

 Gadis itu bisa melihat keterkejutan dari wajah kedua sahabatnya. Bisa dibilang, mereka ini adalah saksi hidup hubungannya dan Kyuhyun. Merekalah yang selalu menjadi tempat Je Wo dan Kyuhyun berkeluh kesah mengenai hubungan mereka selama ini. Bahkan, Je Wo dan Kyuhyun terlampau sering menghabiskan waktu disana.

 “Kupikir kalian akan segera menikah.” Gumam Hyemi, masih belum tersadar sepenuhnya dari rasa terkejutnya. Je Wo tersenyum miris.

 “Apa yang terjadi?” tanya Hyukjae.

 Tapi Je Wo membuang pandangannya kearah mangkuk kosong dihadapannya. Kalau sudah seperti itu, Hyukjae tahu kalau Je Wo masih belum siap bercerita.

 “Itu sebabnya akhir-akhir ini, eh, bukan. Sudah hampir empat bulan belakangan ini kalian tidak pernah datang kemari. Bahkan terakhir kali, kalian datang dengan wajah muram seperti baru saja bertengkar.” Ujar Hyemi.

 Je Wo bungkam. Kembali mengingat ketika terakhir kali datang ketempat itu bersama Kyuhyun. Ya, mereka baru saja bertengkar saat itu karena Kyuhyun datang terlambat ditempat dimana mereka berjanji untuk bertemu dan akhirnya mereka memilih tempat itu untuk didatangi.

 Dering ponsel terdengar. Hyukjae memandang layar ponselnya dan berjengit kearah Je Wo. “Ibumu.”

 Kedua alis Je Wo melengkung menatap Hyukjae.

 “Ya, Imo?” jawab Hyukjae atas panggilannya. “Je Wo? Ah… ya, dia ada ditempatku.”

 Je Wo hanya mendesah malas ketika Hyukjae berbicara dengan Ibunya tetapi kedua mata pria itu menatap penuh arti padanya.

 “Baiklah, Imo. Akan kusampaikan padanya.” setelah memutuskan panggilannya. Hyukjae kembali menatap Je Wo. “Kemana ponselmu?”

 “Aku meninggalkannya dirumah.”

 “Sengaja atau?” sela Hyemi, sebelah alisnya terangkat menatap Je Wo

Gadis itu terkikik pelan. “Aku sedang tidak ingin diganggu saja.”

Sepasang kekasih itu menggelengkan kepalanya putus asa.

“Imo menyuruhmu cepat pulang karena_” ucapan Hyukjae terhenti karena ponselnya kembali berdering. Kali ini dia tersenyum geli melihat sebuah nama dilayar ponselnya. “Cho Kyuhyun.” ucapnya memberitahu gadis dihadapannya.

Je Wo tampak tidak terkejut. Malah mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya. “Aku akan datang lagi besok.” Ujarnya dan bersiap-siap akan pergi.

“Hei, kau tidak mau mendengar apa yang Kyuhyun katakan pada Hyukjae?” sela Hyemi.

Je Wo menggelengkan kepalanya malas. “Dia pasti menyuruh Hyukjae untuk menahanku disini dan akan segera datang.”

Hyukjae dan Hyemi tersenyum mengerti. Lalu menganggukkan kepalanya pada Je Wo yang melambaikan tangannya sebelum benar-benar pergi.

Gadis itu sempat terkejut ketika berbalik dan hampir bertabrakan dengan seorang pria. “Maaf.” Ujar Je Wo sambil sedikit membungkukkan tubuhnya.

Pria itu mengamatinya sebentar, lalu tersenyum kecil dan mengangguk. “Tidak apa-apa.”

Setelah membalas senyuman pria itu sebagai basa-basi, Je Wo benar-benar melangkahkan kakinya keluar dari tempat itu.

“Tapi dia baru saja pergi.” Hyukjae menahan tawa gelinya ketika mendengar bentakan frustasi Kyuhyun melalui ponselnya. Ketika menangkap sosok pria yang telah duduk dihadapannya, Hyukjae mengucapkan kata tunggu sebentar tanpa suara pada pria itu karena dia masih berbicara diponselnya. “Ya, aku akan menyuruh Hyemi mengejarnya. Hm, baiklah.”

“Apa yang dikatakannya?” tanya Hyemi pada Hyukjae.

“Seperti biasa. Dia seperti orang gila kalau sudah kehilangan pacarnya.” Jawab Hyukjae dengan tawa geli yang turut membuat Hyemi melakukannya. Lalu Hyukjae mengalihkan perhatiannya pada pria yang masih menatap mereka dengan tatapan tidak mengerti. “Maaf, tadi aku baru saja mendapatkan telepon dari temanku. Omong-omong, tidak biasanya kau datang kemari, Lee Donghae.”

“Biar kutebak,” sela Hyemi dengan wajah mencemo’oh. “Dia pasti sedang membutuhkan bantuan. Iya, ya, tuan muda Lee?”

Lee Donghae, pria itu tersenyum lebar pada sepupu dan kekasih sepupunya. “Lee Hyukjae sepupuku yang tidak tampan. Bisakah kau mencarikanku seorang sekretaris yang tidak membosankan seperti sekretarisku yang selama ini dicarikan oleh Omma? Please…”

 

***

 

 

“Mari kita bicara.”

 Je Wo menatap datar pada Kyuhyun yang tengah menahan ujung sikunya ketika dia hampir saja berhasil membuka pintu pagar rumahnya. Bukannya dia tidak tahu kalau pria itu sejak tadi berdiri disana, menyandar diatas pintu mobilnya. Tapi, Je Wo sama sekali tidak menanggapi keberadaan Kyuhyun dan memilih melanjutkan langkahnya. Hanya saja, pria itu berhasil menghambat niatnya.

 “Besok saja. “ jawabnya ketus bercampur malas. Dia bahkan menepis cekalan Kyuhyun di lengannya.

 “Aku sangat yakin kalau besok kau akan melakukan hal yang sama seperti saat ini. Dan kita tidak akan pernah bicara.”

 Je Wo tersenyum kecut. “Baguslah kalau kau tahu. Jadi, jangan merepotkan dirimu sendiri.”

 Desah frustasi pria itu terdengar ditelinga Je Wo. Tapi sama sekali tidak bisa membuatnya luluh. “Kita perlu meluruskan kesalah pahaman ini. Aku tidak mau masalah ini berlarut-larut.”

 Tubuh Je Wo sedikit bergerak hanya untuk menoleh pada Kyuhyun. Hatinya terasa sesak melihat tidak ada segores guratan rasa bersalah dari wajah itu. Membuatnya semakin yakin dengan keputusan yang telah dia pikirkan seharian ini.

 “Kesalah pahaman? Coba katakan padaku. Dimana letak kesalah pahaman itu.”

 Kyuhyun memandangnya lekat. Berusaha membuat gadis itu memercayainya melalui tatapan matanya. “Aku tidak pernah bermaksud melakukan semua tuduhan-tuduhanmu itu. Kalau aku telah melakukannya, aku sungguh tidak menyadarinya. Dan apapun yang terjadi pada kita di Kantor, itu semua murni karena pekerjaan. Kau tahu, bukan, seperti apa posisiku sekarang? Banyak beban tanggung jawab yang harus kupikul.”

 Je Wo masih diam mendengarkan meski tidak sekalipun dia tampak berminat mendengar penjelasan Kyuhyun. “Itu saja yang mau kau sampaikan?” Kyuhyun hanya memandangnya lekat. “Baiklah. Aku mengerti.” kemudian, dia kembali berbalik dan membuka pintu pagarnya. Tidak mau bersusah payah menutupnya lagi karena yang dilakukannya hanyalah berjalan lurus kedepan.

 “Aku dan Yura hanya bersahabat. Bisakah kau mengerti?”

 Langkah itu terhenti. Dan tubuhnya mendadak membatu. Dipejamkannya matanya erat-erat sambil berusaha meredam kemarahannya. Lalu, saat kedua matanya kembali terbuka, Je Wo mulai berbicara tanpa henti.

 “Apa lagi yang selama ini tidak pernah berusaha kumengerti darimu, Cho Kyuhyun? Kau menjadikanku robot pekerjamu, aku mengerti. Kau melupakan janji makan siang bersamaku hampir setiap hari, aku mengerti. Kau tidak sekalipun menganggap keberadaanku sedikit lebih penting saat berada di Kantor, aku mengerti. Bahkan, saat kau lebih memilih menemani sahabatmu menonton dari pada menemaniku yang harus bekerja lembur di Kantor aku juga mengerti. Lalu, apa lagi yang kau inginkan dariku?”

 Je Wo menahan mati-matian agar suaranya tidak terdengar bergetar saat memaparkan kalimat-kalimat itu. Untungnya dia sedang memunggungi pria ini. Jadi, Kyuhyun tidak akan bisa melihat matanya yang memerah dan bibirnya bergetar.

 “Pernah tidak, sekali saja dalam waktu empat bulan terakhir ini, kau pernah lebih dulu meneleponku? Atau, kau pernah menanyakan apa aku sudah makan? Pukul berapa aku tidur? Bagaimana aku melewati hariku? Atau, kau menyadari kalau minggu lalu aku  harus bermalam dirumah sakit karena kelelahan.” Setetes air mata berhasil jatuh membasahi sebelah pipi Je Wo. “Tidak, kan? Kau tidak pernah melakukannya.”

 “Kau… sakit?” suara Kyuhyun terdengar parau dibelakang tubuhnya.

 “Kau masih peduli? Kupikir kau tidak lagi.” Je Wo menarik sebelah tangannya keatas, menyeka air matanya. “Kau tahu aku bukan gadis penyabar. Bahkan, sejujurnya aku sangat heran mengapa aku masih bisa bersabar dalam waktu yang tidak bisa dikatakan singkat. Jadi, Cho Kyuhyun… aku sudah lelah. Aku tidak peduli dengan segala pemikiranku tentang kau yang hanya menganggpku sebagai pelarian selama ini. Atau aku yang sangat mencintaimu. Dan juga kau yang mungkin tanpa sadar sudah tidak lagi mencintaiku karena sudah ada sosok lain yang menempati hatimu. Aku memutuskan untuk berhenti. Bukan hanya sebagai Sekretarismu, tapi juga sebagai kekasihmu.”

 Dengan kedua tangan terkepal. Je Wo melangkah cepat memasuki rumahnya. Membuka pintu dengan tangan bergetar, lalu setelah berhasil menutupnya, tubuhnya merosot dibalik pintu itu.

 Habis sudah semuanya. Tidak ada lagi pria yang mencintainya atau yang dicintainya. Tidak ada lagi angan-angann tentang pernikahan yang bahagia. Tidak ada apapun lagi yang tersisa dari mereka.

 Je Wo memeluk lututnya sambil terisak tertahan. Meski sudah hampir larut dan orang-orang pasti telah tidur nyenyak, tapi Je Wo takut kalau tangisannya membuat Ayah atau Ibunya menyadari itu. Jadi, dia lebih memilih meredam isakanny dengan membenamkan wajahnya diatas kedua lututnya.

 Tubuhnya bergetar kuat seperti air matanya yang tak kunjung berhenti. Semua ini terasa sangat menyakitkan. Terlebih lagi, semua kepahitan dan kesedihan yang berusaha di redam seorang diri selama ini demi kebaikan hubungan mereka akhirnya tercetus juga dari bibirnya sendiri.

 Semua yang dia katakan tadi memang merupakan hal-hal yang begitu menyakitkan baginya. Terlebih lagi tentang Kyuhyun yang sama sekali tidak tahu tentang dirinya yang harus dirawat dirumah sakit ketika itu. Dia memang tidak memberitahunya pada Kyuhyun, tetapi saat dia meminta ijin pada pria itu untuk tidak datang ke Kantor dengan alasan tidak enak badan, Kyuhyun sama sekali tidak terlihat peduli sedikitpun. Dia tidak mau bersusah payah menanyakan bagaimana keadaan kekasihnya. Yang dia katakan hanyalah istirahat yang cukup, lalu memutuskan panggilan.

 Jadi, bagi Shin Je Wo, hubungan mereka memang sudah harus berakhir. Tidak perlu harus menundanya lagi karena cepat atau lambat, hari menyakitkan ini memang akan datang juga.

 FIN

 

 

FF absurd ini akhirnya di publish juga. Setelah sekian lama cuma disimpen karena sepertinya FF ini sangat tidak layak untuk di publish. Awalnya gimana endingnya gimana. Paling cuma paham di bagian konfliknya huahahaha. Tapi entah kenapa pengen ajah bikin cerita yang gantung-gantung kerenyes gini /Ngomong apa sih saya -_-/

Kalau FF yang ini menceritakan keseluruhan perasaan Shin Je Wo. Nah, masih ada dua FF lagi setelah ini. Satu tentang Cho Kyuhyun dan satu lagi tentang Lee Donghae. Masih bagian dari FF yang ini juga sih. Cuma… tolong jangan berharap banyak dengan isinya soalnya saya yakin seratus persen isi dua FF itu sama absurdnya dengan yang ini hahaha.

Untuk jadwal publish, sepertinya akan dilakukan setiap jam 1 malam keatas. Kenapa? Karena sisa paketan saya memang cuma berlaku di jam-jam kelilawar T.T

277 thoughts on “When It’s All Over

  1. Kak Ami, aku suka banget ini! Seneng kalo ff yg di bagian akhir ada penyesalan2 gini😀 feel nya dapet banget😮 apalagi kata2 Je Wo di akhir😮
    Cepetan publish ya kak Ami😀
    Sumpah deh keren! (y)

    sebenernya udah baca dari dulu(?) dan berkali2 tapi baru bisa komentar😀 *mohon dimaklumi*

  2. kak, nyesek bgt cerita nya.. Aku kasian sama je wo, ga bisa bayangin aku ada di posisi je wo.. Kyuhyun jahat bgt ya, belom aja dia ngerasain sakit nya je wo dideketin sama cowo laen.. Aku setuju deh donghae sama je wo biar kyuhyun tau rasa! Hehe ff ini bakal di lanjut kan ka? Lanjut ya, hehe di tunggul loh.. Semangat ya kak🙂

  3. haduhhh… bagus ini… bikin sequel donk eonni ada lanjutannya gt… sumpah penasaran akhir yg sebenarnya… bener” pengen baca banget..*lebay mode on*

    eonni yaa.. yaaa.. ya,,, mau ya… bagus lo

  4. Ternyata ga semua ff harus happy ending, kadang kita yg baca’a emang nyesek tp mau gmana lg cho kyuhyun emang pantes ditinggalin ,,,, tp pertnyaan gue apa bisa je wo ninggaln kyuhyun tanpa nyasek. kalo buat ane pribdi sbner’a ga rena kalo ending tanpa harus memiliki cho kyuhyun ,,,,

  5. Kapa ini ff ini lanjut penasarannnnnnnn pke bgt,sangat,sungguh,amat sangat,bener-bener,jeongmal nunggu bgt sekuel ini FF,,,lanjut yah eon? Jebbbalyoooo :*

  6. Kakak..
    Lanjut dong. Aku suka ama ceritanya. Je wo yg ngerasa kek gitu trus kyuhyun yg ‘sok’ ga tau apa salahnya. Okedeh pokoknya. Sukaaaaaaaaa bgt. Next ya.

  7. Ahh bagus ceritany tp gantung… kyuhyun keterlaluan bnget mentang2 ada cewek lain je wo dilupain. Wach je wo pasti jd sekertaris donghae yg baru. Siap2 loe kyu 😡
    Tp aq ttp pngen kyu-je wo kembali

  8. Author yg syantiik~ where are you at?? rindu banget dg karya² barumu, lanjutan yg ini (tentang donghae, kyuhyun)- lanjutan the hunters- lanjutan fake wedding- de el el
    wuaaah i miss you so bad!!! Pokok’nya semangaat aja deh! Ak tetep setia menunggu’mu kok ^^ FIGHTIIIING ♥

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s