Perfect Princess – Between Kyuhyun and Je Wo

1395174_10200730070732978_393059512_n

WARNING!

Ada beberapa scene dewasa dan juga banyak bad word disepanjang cerita.

 

____000____

 

 

‘Sky, this place is ours, right?’

 

“Kau juga menyukai tempat ini?”

            Gadis yang sejak tadi berdiri diatas atap gedung sekolahnya sambil memandangi langit biru yang cerah, menoleh dengan gerakan lambat kesampingnya. Sebelah alisnya sedikit berjengit saat menemukan sosok laki-laki yang juga memakai seragam sekolah sepertinya, sedang berdiri disampingnya dan melakukan hal yang sama, memandangi langit.

            Gadis itu memandangi wajah pria yang berdiri disampingnya dengan kedua mata tanpa binaran apapun. Hanya ada kegelapan dan kekosongan didalamnya. Lalu, ketika laki-laki itu tiba-tiba saja menoleh padanya, dan memberikan senyuman tipisnya, kedua mata gadis itu sedikit melebar hingga ia segera memalingkan wajahnya, menunduk beberapa saat kemudian kembali memandangi langit.

            Dia tetap diam, tidak menjawab sepatah katapun atas pertanyaan laki-laki itu, bahkan seakan tidak menghiraukan keberadaannya. Dan seperti mengerti apa yang diinginkan sang gadis, laki-laki itu juga tidak berbicara lagi, mereka hanya memandangi langit bersama.

            “Aku suka memandangi langit,” sang gadis mulai berusara meskipun pelan. Diliriknya laki-laki itu, dan tidak ada tanda-tanda jika dia menoleh padanya hingga gadis itu kembali memandangi langitnya lagi. “Rasanya sangat menenangkan dan juga… kosong.”

            “Kosong…” laki-laki itu membeo dengan gumamannya.

            “Hm, kosong. Seperti hidup ini.”

            Mereka berdua kembali diam seribu bahasa. Hanya helaan napas mereka yang saling bergantian saja yang terdengar disana.

            “Kau benar, hidup ini terasa sangat kosong hingga nyaris membuatku merasa muak. Orang-orang selalu memburu waktu, mengumpulkan harta, lalu membuangnya lagi seperti sampah. Tapi bodohnya, mereka akan mencarinya lagi, terus menerus, tidak mengerti kata lelah. Bahkan mereka tidak akan melakukan hal yang serupa terhadap milik mereka yang lainnya.”

            Meski anak laki-laki itu berbicara dengan suara yang tenang, tapi gadis itu seperti merasakan sebuah emosi yang teredam dalam setiap kalimanya. Mereka masih tetap memandangi langit, bahkan objek itu bagaikan sebuah perantara bagi mereka untuk saling berbicara. Aneh, mereka merasakan sebuah perasaan nyaman dan damai saat berbicara satu-sama lain dengan cara seperti itu.

            “Hae!”

            Mereka berdua serentak menoleh kebelakang. Ada seorang anak laki-laki lain yang menatap mereka dengan sorot mata yang curiga.

            “Eum… bel sudah berbunyi sejak tadi.” Ujar laki-laki itu dengan senyuman kaku. Matanya melirik berkali-kali pada gadis itu, seperti sedang ingin memastikan sesuatu, tapi terlalu takut untuk melakukannya.

            Anak laki-laki yang masih berdiri disamping gadis itu hanya mengangguk sekedar, lalu berdehem pelan hingga gadis itu menoleh padanya, “Save this place for us.” Dia masih berbicara dengan ekspresi tenang, tapi gadis itu sudah menatapnya dengan dahi yang mengernyit sempurna.

            “Sky. This place is ours, right?”

            Entah mengapa, bibir gadis itu mulai terangkat perlahan hingga akhirnya ia tersenyum kecil. Sebuah senyuman yang mampu membuat anak laki-laki yang sejak tadi menatapnya dengan ekspresi tenangnya, mulai mengeluarkan ekspresi lain diwajahnya. Seperti sedikit terkejut dan juga takjub melihat senyuman itu.

            “Yes, I will keep this place for us. Don’t worry.”

            Kini mereka berdua saling melempar senyuman hangat satu sama lain, membuat anak laki-laki lain yang sedang memerhatikan mereka dengan wajah bingung sekaligus takjub hanya dapat mengangakan bibirnya.

            “Lee Donghae.” ujar anak laki-laki itu lagi, dengan sebuah uluran tangannya.

            Gadis itu menatap telapak tangan laki-laki itu dengan wajah sedikit cemas. Kemudian, dengan sebuah senyuman anggun, ia menyebutkan namanya, “Shin Je Wo.” tanpa menyambut uluran tangan laki-laki itu, lalu segera pergi meninggalkan tempat itu. Membiakan kedua laki-laki yang sedang memerhatikannya itu bergelut dengan perasaan mereka masing-masing.

 

____000____

 

 

 

“Nona, kita sudah sampai.”

            Jika saja sang supir tidak menegurnya yang sejak tadi hanya berdiam diri menatap kosong kedepan, Shin Je Wo pasti masih belum sadar dari lamunannya. Sejak tadi, yang dilakukan gadis ini hanyalah melamun, meninggalkan alam nyata untuk kembali memasuki kenangan-kenangan lamanya yang sudah jauh ia lupakan. Entah mengapa, akhir-akhir ini pikirannya kembali terusik oleh sebuah nama.

Lee Donghae.

            Sejak melihat bagaimana cara Donghae berbicara dengannya setelah insiden sialan yang hampir merenggut nyawanya itu, dia kembali merasakan sesuatu yang menyulitkannya. Cara Donghae mengancam Seo Kyung saat itu membuat sebagian hatinya menjerit senang, dan sebagian lagi menjerit takut. Donghae masih sangat memerhatikannya dan juga sangat ingin melindunginya. Setiap kali menyadari hal itu, Je Wo merasa takut kalau saja perasaannya terhadap Donghae yang sejak dulu telah ia buang jauh-jauh kembali muncul kepermukaan.

            Je Wo tidak mau mengacaukan segalanya. Dia dan Donghae sudah sama-sama berjanji untuk mengakhirinya dan melupakan semua yang pernah terjadi diantara mereka. Dan lagi, ada Yoon So, gadis yang telah menjadi sahabatnya, dan juga kekasih Lee Donghae.

            Je Wo melirik sekelilingnya, ternyata mobilnya sudah berada di parkiran khusus miliknya. Ia sempat menarik napas beratnya sebelum keluar dari sana dengan memasang wajah normalnya seperti biasa. Berjalan dengan dagu terangkat keatas yang angkuh, bibir terkatup rapat dan sorot mata tajam, khas seorang Shin Je Wo.

            Lagi-lagi memakai topengnya untuk menutupi segala perasaan kacau yang berkecamuk dihatinya.

            “Shin Je Wo.”

            Langkahnya menyurut, kemudian dengan wajah malas, Je Wo menoleh kesampingnya. Ada Kyuhyun disana. Dan laki-laki itu menghampirinya.

            “Apa?” sahut Je Wo ketus.

            Ketika Kyuhyun menarik napas panjang dihadapannya, Je Wo merasa ada yang berbeda dari cara Kyuhyun berhadapan dengannya saat ini. Je Wo kembali teringat dengan pertemuan mereka di pemakaman kemarin, mungkinkah Kyuhyun akan menjadi lebih baik padanya setelah kejadian itu?

            “Aku ingin menawarkan sesuatu padamu.” Ujar Kyuhyun. Saat mengatakannya, Kyuhyun terlihat menggaruk belakang lehernya dengan gerakan kaku.

            Hal itu membuat Je Wo menatapnya curiga. “Apa itu?”

            “Aku bisa mengajarimu berenang jika kau mau.”

            Dahi Je Wo mengernyit cepat. Apa dia tidak salah dengar? Kyuhyun mau mengajarinya berenang? “Kepalamu terbentur sesuatu?” tanya Je Wo datar.

            “Tidak.” Kyuhyun menggelengkan kepalanya.

            “Kalau begitu, kau pasti bermaksud untuk membunuhku, kan? Lupakan saja, aku tidak berniat mati ditanganmu.” tanpa memedulikan Kyuhyun lagi, Je Wo kembali melanjutkan langkahnya.

            “Tunggu,” Kyuhyun sudah menyelinap dihadapannya. Memegang kedua bahunya tanpa sadar. Tapi ketika Je Wo menatap tajam pada kedua tangannya, Kyuhyun cepat-cepat melepaskannya. “Maaf, aku tidak sengaja.”

            Je Wo semakin menatap Kyuhyun curiga. Kenapa laki-laki yang selama ini selalu saja bersitegang dengannya tiba-tiba bersikap seperti ini? Dan Je Wo tidak menampik jika jantungnya berdegup sedikit cepat ketika Kyuhyun menyentuhnya tadi. Entah kenapa, dia malah teringat kejadian kemarin, saat Kyuhyun memperlakukannya dengan begitu manis dipemakaman.

            “Cepat katakan apa maksudmu. Aku tidak punya banyak waktu!”

            “Oke.” Kyuhyun mendesah pelan. Matanya sesekali melirik sekeliling seperti takut terlihat oleh orang lain.

            “Lima menit.” Cetus Je Wo tajam.

            “Tapi itu tidak cukup, aku_”

            “4 menit 59 detik.”

            Bola mata Kyuhyun melebar. “Hei, kubilang_”

            “4 menit.” Sela Je Wo lagi sambil menaikkan salah satu alisnya.

            “Arrrggh, oke! Aku ingin mengajarimu berenang sebelum pelatihan berlangsung.” Ujar Kyuhyun cepat. Dan karena tidak mau Je Wo kembali menyelanya, Kyuhyun segera melanjutkan kalimatnya. “Disana pasti akan ada kolam renang, kan? Yeah… mengingat seperti apa kalian semua dan terlebih lagi kau yang memutuskan akan mengadakan Pelatihan dimana, kupikir Kolam renang sudah pasti ada.”

            Ekspresi Je Wo sungguh sulit diartikan. Terkejut, penasaran, curiga dan… entahlah, tapi ada sedikit perasaan senang saat Kyuhyun menjelaskan maksudnya. Diperhatikannya lagi Kyuhyun dengan seksama. Pria itu tidak terlihat sedang ingin melakukan suatu hal buruk padanya. Tapi tetap saja, hal ini sangat aneh.

            “Terima kasih,” ucap Je Wo pelan dan berusaha mengembalikan keadaannya seperti semula. “Tapi aku sedang tidak berniat melakukannya. Lagi pula, aku tidak akan menyentuh kolam renang disana.”

            Kyuhyun terlihat menggeram pelan. Bisakah gadis ini mempermudah segalanya, teriaknya dalam hati. “Tetap saja mungkin akan ada_”

            “Cho Kyuhyun,” Je Wo menyebut namanya dingin. Tetapi, lagi-lagi, setiap kali mereka saling menyebutkan nama masing-masing, pasti ada saja perasaan aneh yang menyelimuti mereka. “Aku tidak tahu ada apa denganmu. Mungkin kau menjadi aneh seperti ini karena kemarin kita… maksudku, kau dan aku, eum… di pemakaman itu_”

            “Kau menangis dibahuku?” sela Kyuhyun cepat.

            “Ya,” bibir Je Wo menipis tajam. Sial sekali, kenapa dia harus mengatakannya sejelas itu. Bagaimana kalau ada yang mendengarnya. “Tapi asal kau tahu, hal seperti itu tidak akan pernah terjadi disini.”

            Setelah mengatakannya, Je Wo segera pergi dari hadapan Kyuhyun. Berjalan lebih cepat karena takut Kyuhyun akan menahannya lagi. Sungguh, dia lebih suka melihat Cho Kyuhyun yang menyebalkan dari pada Cho Kyuhyun yang baru saja bicara dengannya.

 

***

 

 

“Aku sudah gila, aku sudah gila, aku sudah gila.” Gumam Kyuhyun sambil membentur-benturkan kepalanya pada sebuah tembok. Rasanya dia ingin sekali mengubur dirinya hidup-hidup setelah apa yang baru saja dia tawarkan pada Je Wo.

            Dan lagi, apa-apaan reaksi gadis itu? Seolah-olah dia memang sangat ingin mengajarinya berenang. Jika saja bukan karena permohonan Hyukjae, Kyuhyun tidak sudi terlalu jauh memasuki kehidupan gadis itu.

            Bagi Kyuhyun, Shin Je Wo adalah kerumitan. Seperti benang sukut yang sulit dibenarkan. Apapun yang berhubungan dengan gadis itu selalu saja membuatnya pusing. Dan sekarang, dia malah memutuskan untuk berada ditengah-tengah benang kusut itu.

            “Kau bisa membuat tembok itu hancur dengan benturan kepalamu, Kyu.”

            Kyuhyun menoleh kesampingnya, ada Eunjin yang menatapnya geli. “Han Eunjin?” gumam Kyuhyun pelan.

            Eunjin tertawa geli, menepuk pelan bahu Kyuhyun dengan telapak tangannya. “Ada apa denganmu?”

            Sambil mendesah panjang, Kyuhyun memutar tubuhnya hingga sekarang menyandar pada tembok itu. “Tidak apa-apa.”

            “Kudengar kau juga termasuk dalam daftar murid yang akan mengikuti pelatihan. Benar?”

            “Hm. Guru Han yang mengajakku. Bagaimana denganmu?”

            “Aku dan teman-temanku juga akan ikut.”

            Eunjin menjawab pertanyaan Kyuhyun sambil tersenyum ceria dan tampak sangat manis. Senyuman gadis itu seperti menular pada Kyuhyun sampai-sampai dia turut tersenyum dan melupakan hal yang sejak tadi mengusiknya.

            “Menurutmu apa saja yang akan kita lakukan disana?” Eunjin kembali bersuara. Membicarakan pelatihan sepertinya membuat dia menjadi sangat bersemangat.

            Kyuhyun mengangkat kedua bahunya ringan. “Tidak tahu. Bukankah kau adalah murid tetap di Sekolah ini? Kau pasti tahu apa saja yang biasanya dilakukan murid-murid selama mengikuti pelatihan.”

            Keceriaan Eunjin sedikit menyurut tetapi binar semangat itu masih dapat terlihat jelas dimatanya. “Ini kali pertamanya aku dan teman-temanku ikut. Aku juga terkejut saat Guru Han tiba-tiba saja menerima kami. Biasanya, jangankan disetujui, saat melihat formulir para Mix Blood, baik Guru maupun para Blue Blood, pasti akan segera membuangnya. Kau tahulah seperti apa sekolah ini.”

            Bukan. Tempat ini bukan sekolah tetapi penampungan para monster, batin Kyuhyun.

            “Tapi tak apa. Sekarang akhirnya kami bisa berhasil diterima. Itu berarti, keberuntungan sedang berpihak pada kami. Iya, kan?” Eunjin menatap Kyuhyun dengan sebuah senyuman penuh yang membuat laki-laki itu tertegun.

            Senyuman Eunjin mengingatkannya pada seorang wanita yang sangat dia cintai. Ibunya. Jika diperhatikan benar-benar, sifat dan sikap Eunjin padanya selama ini juga mirip sekali dengan Almarhum Ibunya. Cara mereka berbicara penuh kelembutan, tertawa, merajuk ataupun menahan kekesalan mereka. Benar-benar persis. Mungkin, bedanya hanya terletak disatu hal. Jika Ibunya tidak pernah mengeluarkan emosi sekecil apapun meski semua orang menyakitinya, Han Eunjin lebih memiliki kekuatan untuk melawan orang-orang itu.

            “Hei!”

            Kyuhyun terkesiap dan tersadar dari lamunannya ketika Eunjin mengibas-ngibaskan sebelah telapak tangannya didepan wajah pria itu.

            “Kau melamun, ya?”

            “Eh, tidak.” Kyuhyun tersenyum kaku. Tiba-tiba saja merasa menjadi salah tingkah dengan wajah yang sedikit merona.

            Mereka memutuskan untuk berjalan beriringan sambil mengobrol ringan. Membicarakan tentang pelatihan ataupun hal-hal kecil lainnya. Kyuhyun merasa tenang dan nyaman setiap kali mengobrol bersama Eunjin. Gadis itu terlihat pintar meski sederhana. Lucu dan menarik.

            Kyuhyun juga tidak tahu mengapa sekarang dia jadi senang memerhatikan wajah Eunjin. Mungkinkah karena Eunjin memiliki kemiripan dengan Almarhum Ibunya? Atau, karena dia mulai merasakan hal paling indah yang pasti dirasakan oleh semua remaja dimuka bumi ini.

            Jatuh cinta.

 

***

 

 

 Je Wo menatap lirih punggung laki-laki yang sedang menunggu pintu lift terbuka untuknya dari tempatnya berdiri. Hanya dengan memandanginya seperti itu, Je Wo merasakan beribu kehangatan yang menyelimuti dan bergelung didalam hatinya. Sebuah kehangatan yang hanya dapat dia rasakan jika berada didekat laki-laki itu.

            Tanpa dia sadari, kini kakinya telah melangkah lambat-lambat menuju pemilik punggung itu. Titik fokus kedua matanya hanyalah punggung bidang milik lelaki itu. Ingin sekali Je Wo memeluk dan menyandarkan wajahnya diatas punggung hangat itu. Oh, andai saja dia dapat kembali kemasa lalunya. Je Wo akan berusaha untuk tetap tinggal disana.

            “Hae…” suaranya teramat pelan dan bergetar ketika memanggil nama itu. Jantungnya selalu berdentum-dentum tidak normal meski hanya dengan memanggil nama itu. Ya, memangnya, sejak kapan ada kata normal ditengah-tengah mereka berdua.

            Je Wo dapat merasakan punggung dihadapannya menegang. Meski suaranya teramat pelan ketika memanggil namanya, tapi pria itu memang terlalu hapal dengan suara, desah napas, aroma tubuh Je Wo dan pastinya sudah dapat mengetahui siapa yang sedang berdiri dibelakangnya saat ini. Tanpa harus menoleh.

            Memangnya, gadis mana lagi yang memiliki suara semerdu itu. Memiliki aroma tubuh semanis itu. Dan memiliki desah napas selirih itu. Selain gadis bernama Shin Je Wo.

            Donghae bergerak lambat untuk memutar tubuhnya kebelakang sampai akhirnya dapat bertatap muka dengan Je Wo.

            Melihat kedua mata teduh itu telah menatapnya, Je Wo tergagap dan baru saja menyadari kebodohannya. Kenapa dia harus memanggil Donghae? Memangnya apa yang mau dia bicarakan pada lelaki itu. Dan lagi, lupakah dia tentang perasaan kacaunya yang selalu menyangkut nama lelaki itu.

            “Ya?” Donghae bergumam pelan.

Jangan ditanya sekuat apa pria ini sedang menahan dirinya untuk tidak merengkuh tubuh gadis yang akhir-akhir ini semakin membuatnya frustasi. Dia sangat ingin. Betapa pentingnya sosok Je Wo baginya saat ini. Donghae bahkan sudah sulit untuk menepis kenyataan jika dia masih dan semakin tergila-gila pada Je Wo. Tetapi untungnya, sisi warasnya masih bisa menahannya. Dia terus menghapalkan kembali kalimat-kalimat nasihat yang dikatakan oleh kembarannya tentang mengendalikan dirinya sendiri terhadap Je Wo. Cukup kemarin saja dia membiarkan kegilaan menguasainya seharian penuh dengan mengacaukan seisi rumahnya. Hari ini, dia sudah berjanji pada Hyukjae untuk kembali berusaha.

            Je Wo menggigit bibir bawahnya samar. Bingung ingin mengatakan apa karena sesungguhnya dia tidak berniat memanggil Donghae. Dia bahkan melakukannya tanpa sadar. Tapi, dia sudah terlanjur melakukannya.

            “I-itu…” Je Wo berusaha memikirkan sesuatu sebagai alasan. “Maukah kau mengajariku berenang?”

            Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir Je Wo. Dan hal pertama yang dia temukan dari ekspresi wajah Donghae sungguh membuatnya ingin segera pergi dan bersembunyi. Kedua mata pria itu menggelap sempurna dan kemarahan telah memenuhi wajahnya.

            “Harus berapa kali kukatakan padamu kalau aku tidak akan pernah lagi melakukannya.” Donghae menggeram dengan kedua tangan mengepal hingga buku-buku kukunya nyaris memucat.

            Je Wo menelan ludahnya susah payah. “Aku hanya sekedar bertanya.”

            “Sekedar bertanya kau bilang?!” sembur Donghae berapi-api. “Kalau kau masih ingin menghukumku dengan membuat aku semakin membenci diriku sendiri, kau memang telah melakukannya dengan tepat, Shin Je Wo.”

            Kedua mata Je Wo terpejam erat sejenak setelah mendapatkan lahar amarah yang Donghae layangkan padanya. Lagi-lagi Donghae berasumsi sesukanya. “Apa aku pernah mengatakan padamu kalau aku ingin menghukummu?”

            “Cih.”

            “Aku bahkan berkali-kali mengatakan padamu kalau semua yang terjadi padaku saat itu bukanlah_”

            “Diam kau, sialan! Kenapa kau harus melibatkanku? Bukankah sekarang kau sudah mempunyai laki-laki yang selalu mengekorimu kemanapun? Kenapa kau tidak meminta padanya saja, huh?” Donghae sangat berharap kalau Je Wo tidak menyadari kecemburuannya dari rentetan kalimat itu.

            Wajah Je Wo berubah pias. Bibirnya terkatup rapat. Dadanya terasa sesak menerima penolakan Donghae yang entah sudah keberapa kalinya dia dapatkan. “Baiklah kalau itu yang kau mau.” gumamnya tajam lalu segera beranjak pergi meninggalkan Donghae.

            Je Wo melangkah cepat tanpa tahu kemana tujuannya. Dia merasakan dadanya seperti terhimpit ribuan beton hingga ia nyaris mati kehilangan napasnya. Kenapa dia kembali lemah? Kenapa dia harus kembali terusik dengan keberadaan lelaki itu. Tidak adakah cara lain untuknya agar terlepas dari bayang-bayang semu yang menjanjikan itu? Atau Tuhan memang tidak akan melepaskannya dari siksaan mematikan itu.

            Kedua tangan Je Wo yang saling terkepal menggambarkan perasaannya yang kacau saat ini. Kaki itu semakin cepat melangkah perdetiknya. Sampai ketika dia menemukan dua sosok yang tak asing lagi tengah berjalan beriringan, barulah langkahnya berhenti.

            Je Wo memandangi salah satu sosok diantara mereka. Kedua matanya kini telah berubah menjadi sedingin es. Lalu Je Wo melanjutkan langkahnya. Kali ini dengan perlahan, tidak secepat sebelumnya.

            Sampai ketika dia berhasil menghampiri mereka hingga ketiganya sama-sama menghentikan langkah. Han Eunjin dan Cho Kyuhyun, kedua orang itu menatap tidak mengerti pada Je Wo.

            “Apa?” tanya Eunjin sedikit menambahkan nada ketusnya. “Kalau kau masih mempermasalahkan tentang keikut sertaan kami dalam_”

            “Diam kau. Aku tidak sedang ingin bicara denganmu.” Sela Je Wo tajam, baik suara maupun pandangannya. Kemudian, dia beralih menatap Kyuhyun yang sedang menatapnya dengan ketidak sukaan. “Kuterima tawaranmu. Besok. Pukul sepuluh pagi. Dirumahku. Kalau kau terlambat satu detik saja, aku akan memenggal kepalamu dan memberikannya pada Anjing-anjing lapar peliharaan Kakekku.”

            Tanpa menunggu lebih lama lagi, Je Wo berbalik dan meninggalkan kedua orang itu. dia tidak peduli sekotor apa kalimat yang baru saja terlontar dari mulutnya. Tidak. Dia sedang tidak ingin memedulikan apapun. Satu-satunya yang dia inginkan hanyalah mencari pelampiasan kemarahan dan kesakitan yang sedang dia rasakan.

 

***

 

Yoon So tahu ada yang berubah dari diri Donghae sejak lelaki itu kembali bertemu dengannya hari ini. Meski Donghae masih tersenyum dengannya, mengobrol bahkan sesekali bermesraan dengannya, Yoon So merasa asing dengan cara lelaki itu memperlakukannya. Seperti bukan Lee Donghae kekasihnya. Apa lagi, Donghae sering kali terlihat melamun.

            Seperti saat ini. Donghae mengajaknya membolos dan mereka menjadikan taman yang berada di Atap sekolah sebagai tempat bersembunyi. Tetapi, yang dilakukan lelaki itu hanyalah berbaring dengan kepala yang menyecah diatas kedua paha Yoon So, lalu dia menutupi kedua matanya dengan sebelah lengannya. Dan tidak sepatah katapun yang terlontar dari bibirnya sejak kepalanya menyecah disana.

            Yoon So berdehem pelan. “Aku tahu kedua pahaku memang sangat nyaman. Tapi, Hae, mereka bisa tidak seksi lagi kalau kau terus menerus menjadikan mereka sebagai bantal.” Yoon So berusaha bergurau dan menatap cemas wajah Donghae. Takut kalau lelaki itu akan tersinggung dengan kata-katanya.

            Tetapi, saat melihat sudut bibir Donghae tertarik keatas. Yoon So menghembuskan napas leganya.

            Donghae menarik lengannya kebawah, membuka kelopak matanya hingga kini dapat menatap Yoon So secara langsung. “Maaf.” Ucapnya.

            “Untuk?”

            “Membuat kedua pahamu tidak seksi lagi?”

            Gadis itu terkikik pelan dan memukul dada Donghae. “Tidak lucu.” Saat Donghae mengangkat kepalanya dan bergeser duduk disampingnya. Yoon So memilih berdiri, mengibas roknya beberapa kali karena sejak tadi dia duduk diatas rumput taman, lalu berjalan kedepan. Kakinya berhenti setelah dia dapat berpegangan pada besi-besi pembatas yang mengelilingi taman itu.

            Mata Yoon So menatap pemandangan sekitarnya dengan sedikit menyipit karena bias sinar matahari. “Kupikir kau minta maaf karena seharian ini selalu mengacuhkanku.” Gumamnya.

            Donghae hanya diam. Lebih memilih memandangi punggung itu dari tempatnya.

            “Kita sudah sangat berpacaran. Tapi seingatku, tidak sekalipun kau pernah bertanya padaku mengapa aku bisa jatuh cinta padamu. Padahal, aku tidak pernah bosan menjelaskan alasanku tentang bagaimana aku bisa jatuh cinta padamu.” Yoon So tahu Donghae tidak akan menyusulnya saat ini. Donghae memahaminya seperti dia memahami lelaki itu. Saat ini, Yoon So ingin mengatakan apa yang membuatnya cemas. Dan setiap kali dia melakukannya, Yoon So akan menjauhi tatapan teduh lelaki itu.

            “Caramu menertawakan keagresifanku, caramu memohon padaku, senyumanmu, tawamu, kemarahanmu. Apapun itu. Semua yang berasal dari dirimu selalu membuatku jatuh cinta padamu.”

            “Aku sudah mendengarnya hampir ratusan kali, Baby.” Sahut Donghae ditempatnya.

            “Dan aku masih belum mendapatkan hal serupa meski ribuan kali berharap padamu.” Yoon So menurunkan pandangannya kebawah. Menatap tanah yang terlihat sangat jauh. Mata dan suaranya menyendu seketika. “Sering kali aku bertanya-tanya pada diriku. Apa mungkin, selama ini aku terlalu percaya diri? Aku terlalu berharap banyak pada Lee Donghae hingga nyaris tidak menyisakan apapun dari diriku yang belum kuserahkan padanya. Sedangkan dia tidak menganggap kebaradaanku seperti aku menganggap keberadaannya.” Yoon So tersenyum miris. “Tapi setiap kali pikiran itu mengantuiku, aku selalu berlari. Aku selalu menjauhinya. Aku selalu berkata pada diriku sendiri kalau Lee Donghae tidak seperti itu. Karena jika saja apa yang kupikirkan benar… maka tidak ada lagi yang tersisa dari seorang Soo Yoon So.”

            Yoon So tidak tahu mengapa tiba-tiba saja dia mengatakan semua itu. Mungkin karena rasa cemas yang asing mulai bergelut dalam dirinya. Kecemasan yang selama ini tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Kecemasan yang terasa sangat mengancam.

            Ditengah-tengah kekalutannya. Yoon So merasakan kehangatan merengkuh tubuhnya belakangnya. Kedua lengan yang melingkari perutnya, memeluknya erat.

            “Jangan pernah melakukannya, Hae. Tolong. Jangan pernah membuatku kecewa.” Lirihnya. Bahkan, kedua tangannya telah mencengkram kuat besi pembatas itu.

            Pelukan Donghae semakin terasa erat sampai-sampai dia mulai terasa sulit bernapas. Tapi Yoon So tidak peduli. Semakin Donghae memeluknya erat maka dia semakin merasa lelaki itu sangat mencintainya.

            “Tidak akan, Yoon So-ya. Aku tidak akan melakukannya. Aku berjanji.” Bisikan Donghae terdengar parau dan menyesakkan ditelinga Yoon So. “Aku mencintaimu. Tidak seperti  kau yang mempunyai banyak alasan untuk jatuh cinta padaku. Bagiku, satu-satunya hal yang membuatku jatuh cinta padamu adalah… karena kau memang diciptakan untukku dan akan menjadi milikku selamanya. Hanya kau, Soo Yoon So. Hanya kau.”

            Cengkraman Yoon So terlepas dan dia berbalik cepat untuk memeluk kekasihnya. Rasanya sangat luar biasa. Lee Donghae berhasil mengenyahkan segala kecemasan yang mengancam itu dengan sebuah kalimat romantisnya yang begitu manis.

            “Aku mencintaimu, Hae. Sangat mencintaimu.”

 

***

 

 

Jarum panjang diarlojinya masih berada diangka sepuluh . Kyuhyun yang telah berada didepan sebuah rumah besar, mewah-apapun kata yang bisa menggambarkan betapa kayanya seorang Shin Tae Wa sampai-sampai memiliki rumah semegah itu-menghembuskan napas beratnya ketika lagi-lagi menatap sekitarnya.

            Janji yang Je Wo lakukan secara sepihak dengannya adalah pukul sepuluh pagi. Maka itu dia datang lebih cepat beberapa menit demi menghindari keterlambatan. Bukan karena dia takut dengan ancaman yang Je Wo layangkan. Sumpah demi langit dan bumi, Kyuhyun tidak akan pernah takut menghadapi gadis itu. Dia melakukannya demi seorang Lee Hyukjae. Demi membantu sahabatnya itu dan demi dirinya sendiri. Semakin cepat masalah ini berakhir, maka semakin cepat pula dia melepaskan diri dari Shin Je Wo.

            Kyuhyun terlihat tampan dengan celana jeans biru tua dan kemeja putihnya yang terpasang rapi ditubuhnya. Saat dia melangkah masuk, seorang pelayan wanita langsung menghampirinya dan membungkuk hormat padanya. “Selamat datang, Tuan. Apakah anda Tuan Cho Kyuhyun?”

            Kyuhyun mengangguk sekali. Ah, pelayan ini pasti mengetahui namanya karena Je Wo yang memberi tahunya.

            “Mari, ikuti saya. Nona Je Wo meminta anda menunggunya di Kolam saja.” Kata pelayan itu lagi.

            Sekali lagi. Kyuhyun mengangguk lalu mengikuti kemana sang pelayan itu membawanya. Selama menuju tempat yang pelayan itu maksud, Kyuhyun tak henti-hentinya berdecak kagum melihat interior rumah itu. Dia mulai berpikir, apakah rumah ini tidak terlalu besar untuk dua orang penghuni?

            Dia tahu kalau Kakek Je Wo sangat kaya dan tentu saja tidak mungkin tinggal dirumah biasa. Bukankah itu sama sekali bukan gaya orang yang mempunyai segudang uang, emas dan segala investasi mereka? Kyuhyun tertawa dalam hati. Dasar orang-orang bodoh.

            Untungnya, Kyuhyun mempunyai Ayah yang tidak terlalu suka hidup bermewah-mewahan sekalipun dia bisa. Ayahnya lebih mengutamakan kesederhanaan dan kedisiplinan. Maka itu, rumah mereka masih bisa dikatakan normal jika dibandingkan rumah yang sedang dia datangi.

            Omong-omong, Kyuhyun mulai menghembuskan napas lelahnya karena sejak tadi mereka berjalan bahkan hampir menghabiskan waktu selama lima menit, dia masih belum menemukan tempat yang disebut sebagai Kolam renang itu.

            Kyuhyun hampir saja membuka mulutnya untuk bertanya bertepatan pelayan itu menghentikan langkahnya, lalu berbalik menatap Kyuhyun dengan senyuman ramah. “Silahkan masuk kedalam, Tuan. Para pelayan akan segera datang untuk menyiapkan makanan dan minuman untuk Tuan.”

            Kyuhyun mengernyit tidak mengerti pada pelayan itu. Pelayan itu mempersilahkan dirinya masuk kesebuah ruangan, mungkin. Kyuhyun tidak tahu apa tepatnya karena yang dia lihat hanyalah sebuah pintu kayu berwarna putih yang dihiasi dengan ukiran-ukiran cantik berlapis cat emas.

            “Didalam sana?” tanya Kyuhyun memastikan. Pelayan itu mengangguk sekali padanya. “Oke.” Kyuhyun mendesah berat, sekali lagi. “Kau boleh meninggalkanku.”

            “Baik, Tuan. Terima kasih.” Setelah pelayan itu membungkuk hormat sekali lagi, dia mulai pergi meninggalkan Kyuhyun.

            Kyuhyun tidak membuang waktunya lebih lama lagi. Dibukanya pintu itu dengan sekali tarikan kuat. Lalu, kedua bola matanya hampir saja meloncat melihat apa yang ada dibalik pintu itu. “Woah…” gumamnya tanpa sadar. Kakinya melangkah masuk dan pegangannya pada gagang pintu itu terlepas hingga pintu itu tertutup secara otomatis. Kyuhyun mengelilingi pandangannya dengan sorot mata kagum. “Ini… benar-benar sebuah Kolam renang?” gumamnya lagi.

            Tempat itu sangat luas. Memiliki sebuah kolam renang yang luasnya sulit sekali untuk dijabarkan. Disisi-sisi kolam itu tampak semburan-semburan air yang membuatnya semakin indah. Tempat itu dikelilingi, atau diselimuti dengan dinding kaca. Hanya ada sebuah dinding biasa saja disana, itupun berukuran kecil dan tepat dibelakang Kyuhyun. Dan disudutnya, ada sebuah ruangan lagi.

            Disisi kolam renang ada dua buah bangku santai dan sebuah meja bulat yang diatasnya ada tenda berbentuk yang sama. Meja itu dikelilingi tiga buah kursi. Ada aroma menyegarkan yang menyelimuti tempat itu sampai-sampai Kyuhyun merasa nyaman berada disana.

            Kemudian, Kyuhyun berjalan mendekati salah satu dinding kaca. Ingin sekali melihat apa yang dia temukan diluar sana. Matanya menatap lekat banyak pria-pria berpakaian formal yang berada ditempat-tempat tertentu halaman rumah itu. Mungkin para Bodyguard?

            “Makanan dan minuman datang.”

            Suara seseorang yang tiba-tiba terdengar membuat Kyuhyun terperanjat dan menoleh kebelakang. Dia menemukan lagi pelayan yang membawanya kesini, kali ini dia bersama empat orang pelayan lainnya yang masing-masing membawa nampan kayu berwarna coklat dimana nampan-nampan itu berisikan segala bentuk makanan, cemilan ataupun minuman.

            “Itu semua untuk siapa? Apa ada tamu lainnya?” tanya Kyuhyun langsung.

            “Tidak, Tuan. Ini semua untuk anda dan Nona Je Wo.” jawab pelayan itu.

            Kyuhyun membelalakkan matanya. Apa mereka sudah gila? Makanan sebanyak itu mana mungkin bisa dihabiskan oleh dua orang. “Tapi itu_”

            “Nona berpesan agar Tuan segera bersiap-siap karena sebentar lagi Nona akan datang. Ruang ganti ada disebelah sana, Tuan.” Pelayan yang tadi menunjukkan sebuah ruangan disudut tempat itu. Ruangan itulah satu-satunya yang berdinding asli.

            Kyuhyun baru ingat kalau dia tidak membawa perlengkapan untuk berenang. “Hm… apa aku boleh meminjam pakaian renang pria milik salah satu orang dirumah ini? Sejujurnya aku lupa membawa perlengkapanku.”

            “Semua yang anda butuhkan ada disana, Tuan. Silahkan masuk. Dan jika Tuan membutuhkan sesuatu, Tuan bisa memanggil kami melalui telepon itu.”

            Kepala Kyuhyun berputar kesamping saat pelayan itu menunjuk sebuah telepon yang melekat dibagian dinding ruangan ganti. Ternyata, bukan hanya Shin Je Wo saja yang aneh. Bahkan rumahnya turut aneh seperti pemiliknya. Rutuk Kyuhyun dalam hati.

            Rutukan Kyuhyun tidak hanya berhenti disana. Karena saat masuk keruangan ganti, dia juga melakukan hal serupa. Ruangan ganti itu persis seperti sebuah toko yang menjual seluruh perlengkapan renang. Tanpa mau memikirkannya lebih lama lagi, Kyuhyun segera mengganti pakaiannya. Dia memilih setelah pakaian renang bercelana pendek yang menyerupai boxer karena tidak mau memilih celana renang lainnya karena terlalu ketat menurutnya. Oke, entah mengapa dia merasa malu jika harus tampil seperti itu didepan Je Wo. Untuk bagian atas tubuhnya, Kyuhyun juga memilih baju renang berlengan pendek.

            Setelah selesai, Kyuhyun terlihat melakukan beberapa gerakan pemanasan dipinggir kolam sekitar lima belas menit. Kemudian, dia melompat kedalam kolam karena mulai bosan berada didalam tempat sebesar itu seorang diri. Meski tidak terlalu tertarik dengan olah raga yang satu ini, tapi Kyuhyun sangat ahli dalam melakukannya. Berbagai gaya dia lakukan disana. Dari satu sisi kolam kesisi lainnya.

            Setelah dia berhasil mencapai salah satu sisi kolam yang lain, kemudian berniat naik keatasnya dengan kedua tangan yang mulai bertumpu dipinggiran Kolam, tanpa sengaja kedua matanya menemukan Je Wo yang baru saja menutup pintu dan berjalan lembat dengan wajah tegang.

            Gerakan Kyuhyun terhenti begitu saja. Posisinya sungguh membuatnya tidak nyaman sebenarnya. Kedua tangan yang bertumpu mati-matian dipinggiran kolam sedangkan tubuhnya sudah hampir setengahnya tertarik keatas. Tetapi, melihat Je Wo yang berjalan lambat dengan wajah setegang itu malah membuatnya sulit melakukan apapun selain memerhatikannya.

            Pandangan Je Wo memang berada disatu arah. Tapi Kyuhyun bisa melihat terlalu banyak kecemasan dalam mata itu.          Sampai ketika Je Wo membuang pandangannya tepat kearah Kyuhyun, barulah binar matanya mulai berubah menjadi normal dengan langkahnya yang terhenti.

            Butuh waktu sepuluh detik bagi Je Wo untuk memandangi lelaki itu dalam diam sebelum mengeluarkan suaranya. “Apa yang kau lakukan disitu?”

            Suara dingin itu hampir saja membuat tubuh Kyuhyun terpelentang kebelakang karena rasa terkejutnya. Untung saja dia cepat-cepat menguasai dirinya dan memilih mengembalikan tubuhnya kedalam air. Tubuhnya terapung-apung didalam sana.

            “Memangnya apa lagi yang dilakukan semua orang didalam sebuah kolam? Tidak mungkin sedang bermain golf, kan?”

            Je Wo tidak memedulikan cibiran itu. Dia melanjutkan langkahnya beberapa kali dan kembali berhenti. Terlihat sekali tidak mau terlalu dekat dengan kolam itu. Dengan kedua tangan bersedekap, Je Wo kembali bertanya pada Kyuhyun yang sejak tadi hanya memandanginya.

            “Apa pemula sepertiku harus memasuki tempat itu dihari pertamaku belajar?”

            Kekehan Kyuhyun lepas begitu saja. Bagaimana bisa gadis itu memasang wajah dan berdiri seangkuh itu tetapi melontarkan pertanyaan yang mengandung maksud kalau sesungguhnya dia tidak mau masuk kedalam sana.

            “Lalu kau mau bagaimana? Belajar dengan sebuah papan tulis dan aku menggambarkan apa saja yang harus kau lakukan didalam Kolam ini?”

            “Orang bodoh mana yang masih belajar dengan menggunakan papan tulis.”

            “Kau akan menjadi salah satunya jika terus mencoba mengajakku berkompromi. Jadi, cepat kemari.”

            Je Wo membuka sedikit bibirnya karena terkesiap dengan cara pria itu memerintahnya. Dan sialan, kenapa Kyuhyun mengetahui niatnya tentang berkompromi? Tidak mau terlihat bodoh dimata lelaki menyebalkan itu, Je Wo meraih tali bathrobenya yang berwarna putih sementara kedua matanya memandang tajam pada Kyuhyun yang tersenyum mengejek padanya. Jari-jarinya dengan cepat melepaskan Bathrobe itu hingga meluncur kebawah kakinya.

            Bertepatan dengan jatuhnya Bathrobe itu dan memperlihatkan apa yang ada didalamnya, senyuman Kyuhyun yang sejak tadi mengembang lenyap seketika, digantikan dengan wajah bekunya.

            Shin Je Wo, gadis berparas cantik dengan ketajaman yang selalu menjadi ciri khasnya dan membuatnya semakin terlihat berkarakter itu sedang berdiri tidak jauh darinya dengan hanya memakai bikini berwarna merah menyala. Kulit putihnya kontras sekali dengan warna bikini itu dan semakin memperlihatkan keseksiannya.

            Kyuhyun bersusah payah meneguk ludahnya.

            Betapa kencang jantungnya berdetak-detak didalam sana karena melihat pemandangan seluar biasa ini. Kyuhyun sama sekali tidak bisa memalingkan wajahnya sedetikpun dari apa yang sedang dilihatnya. Dimulai dari ujung kaki Je Wo, lalu merambat naik ke betis sampai pahanya yang mulus tanpa cacat sedikitpun. Lihatlah bagaimana sempurnanya sepasang kaki indah itu dan oh! Kyuhyun terpaksa menarik napasnya kuat atau dia akan mati kekurangan oksigen detik itu juga ketika matanya bertumpu pada pusat tubuh Je Wo yang hanya tertutupi oleh celana seminim itu. Hanya ada selembar kain yang menutupi bagian depan dan belakangnya, dan dua tali penghubung yang tipis dimasing-masing sisi.

            Dia menggeram pelan, sangat pelan hingga geraman serak itu tidak terdengar oleh siapapun selain dirinya sendiri.

            Kedua matanya masih belum puas untuk menjelajah. Dia kembali menelusuri bagian pusar sampai keatas dan lagi-lagi tercekat melihat begitu menawannya kedua dada gadis itu. Kyuhyun berusaha mengingat-ingat kebelakang. Selama ini dia tidak pernah sekalipun menyadari kalau Je Wo memiliki dada sebagus itu. Bikini itu membalut ketat dadanya yang tidak tertutup dengan sempurna. Kyuhyun sangat yakin, kalau saja dia menarik bikini itu kebawah dalam sekali hentakan, dia pasti bisa melihat apa yang ada didalamnya.

            Menyadari pikiran kotornya yang semakin menjadi-jadi, Kyuhyun sontak menggelangkan kepalanya kuat-kuat sebanyak yang dia perlukan. Bagi remaja sepertinya, pastilah akan sangat tertarik dengan segala hal yang berhubungan dengan wanita dan seksualitas. Kyuhyun juga tidak menampik kalau bahkan dia kerap kali berusaha mengatasi keingin tahuannya terhadap hal itu dengan cara melihat-lihat majalah yang berisikan foto wanita-wanita cantik yang menarik.

            Tetapi, baru kali ini dia merasakan hal seperti ini dengan melihat tubuh setengah telanjang dari teman perempuannya. Ah, kalaupun bukan teman karena dia dan Je Wo tidak pantas disebut berteman, tetapi Shin Je Wo adalah gadis pertama yang berhasil membuat dia merasakan rasa panas yang mengandung gairah sialan itu.

            Je Wo sendiri, menyadari keanehan Kyuhyun, dia sempat melirik pada tubuhnya lalu kembali menatap kedepan dan lagi-lagi Kyuhyun masih menatapnya dengan tatapan aneh. Tiba-tiba saja gadis itu meraih Bathrobe yang tergeletak diatas lantai dan kembali memakainya.

            Wajahnya bersemu merah meski tatapan kesalnya sama sekali tidak hilang. Dengan gerakan terburu-buru, dia mengikat lagi tali Bathrobe itu. Digigitnya bibirnya pelan sambil mendesis kesal. Entah itu kesal pada Kyuhyun yang jelas sekali menyukai apa yang sedang dilihatnya atau kesal pada dirinya sendiri yang dengan bodohnya malah membiarkan Kyuhyun menonton tubuhnya secara geratis.

            “Apa yang kau lihat, huh?!” bentaknya.

            Kyuhyun tersentak. Gerak tubuhnya menandakan kalau dia sedang salah tingkah. “Tidak ada.” Kilahnya dengan wajah memerah.

            Je Wo mengeratkan Batrobenya dengan kedua tangan seakan-akan tidak mau membiarkan Kyuhyun melihat tubuhnya lagi. Kenapa dia bodoh sekali datang kesana dengan memakai bikini. Sudah tahu yang akan mengajarinya adalah laki-laki. Dan laki-laki itu adalah Cho Kyuhyun. Alien menyebalkan sekaligus manusia pertama yang sudah melihat hampir keseluruhan tubuh indahnya.

            “Kau melakukan itu seakan-akan aku berniat merobeknya saja.” Cetus Kyuhyun, merasa tersinggung dengan sikap Je Wo.

            “Melihat kau yang sangat menyukai apa yang baru saja kau lihat, tentu saja aku akan berpikir seperti itu.”

            “Salahkan saja dirimu sendiri. Kau sudah gila memakai pakaian seperti itu didepan seorang laki-laki, huh? Sekalipun tubuhmu bagus tapi lebih bagus lagi kalau kau tidak mempertontonkannya sembarangan.”

            Je Wo hampir saja kembali menyahut perkataan Kyuhyun kalau saja dia tidak teringat dengan sebuah kalimat pria itu yang membuatnya tersenyum samar. Sekalipun tubuhmu bagus… bukankah itu berarti Kyuhyun mengakui keindahan tubuhnya? Ya Tuhan… kenapa dia tiba-tiba menjadi merasa tersanjung. Baiklah, Kyuhyun bukan orang pertama yang pernah mengatakan hal itu padanya. Tapi, mengingat lelaki itu adalah orang yang selama ini selalu terlibat pertengkaran dengannya, orang yang juga terlihat membencinya meski terkadang mereka berdua terlihat sangat dekat dibeberapa situasi. Je Wo merasa bangga mendapatkan pujian itu.

            “Apa? Kenapa kau diam saja? Menyadari kesalahanmu?” lanjut Kyuhyun mencibirnya.

            “Tidak.” Je Wo kembali merubah mimik wajahnya. Kali ini dia terlihat lebih santai dengan senyuman samar-samarnya.

            Kyuhyun mendengus malas. Lalu tiba-tiba saja dia kembali menjelajahi seisi kolam renang itu dengan tubuhnya. Dia berniat meredakan rasa panas yang tadi sempat menjalari tubuhnya karena ulah gadis itu.

            Selagi Kyuhyun berenang didalam kolam itu, Je Wo memandanginya seksama. Mulanya dia hanya sekedar memerhatikan bagaimana cara Kyuhyun melakukannya sampai bisa mengelilingi lebar dan dalamnya kolam yang berisikan air itu, karena baginya hal itu sungguh sangat sulit. Tapi entah mengapa, pikirannya malah melayang pada saat beberapa tahun lalu dimana dia sedang berdiri seperti saat ini dan memandang anak laki-laki yang melakukan hal serupa seperti apa yang dilakukan Kyuhyun.

“Kau hebat.”

            Pujian gadis kecil itu terlontar begitu saja saat melihat kepala anak laki-kali itu menyembul dari dalam air setelah tubuhnya mendarat dipinggir kolam yang berada dibawah kaki gadis kecil itu.

            Anak laki-laki itu terkekeh pelan sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Ketika gadis kecil itu berjongkok didepannya dan mengulurkan tangannya untuk merapikan rambut basahnya, anak laki-laki itu semakin tersenyum lebar memandangi wajahnya.

            “Kau hebat sekali bisa berenang seperti itu. Menyentuh dasarnya dengan kedua telapak tangan seperti yang kau perlihatkan tadi, lalu berkeliling-keliling didalam air. Ah… aku juga ingin melakukannya. Tapi aku tidak bisa berenang.” Bibir gadis kecil itu mengerucut lucu meski tidak menghentikan kegiatannya untuk membelai-belai helaian rambut basah itu.

            Anak laki-laki itu menahan jemari yang yang sedang menyentuh rambutnya, lalu membawanya kedepan dan dengan kedua tangannya, dia menggenggam jemari halus itu. “Kau mau bisa berenang sepertiku?” tanyanya lembut.

            Gadis kecil itu mengangguk kuat dengan mata berbinar.

            “Oke. Nanti aku akan mengajarimu sampai kau juga bisa melakukan apa yang tadi kulakukan.”

            “Benarkah? Kau tidak berbohong, kan? Itu berarti kita bisa berenang bersama-sama, kan?”

            “Tentu saja.”

            “Ah… akhirnya!” gadis itu berdiri tegak dan meloncat-loncat senang. “Aku akan meminta Kakek membuatkan sebuah Kolam renang untuk kita dirumahku. Nanti, kita bisa berenang juga dirumahku, tidak hanya dirumahmu. Kolam renang itu haruslah besar. Lalu… hm…” dia menggumam dengan wajah bingung, menoleh pada anak laki-laki yang tetap memandanginya. “Menurutmu apa yang sebaiknya ada disana?”

            Anak laki -laki itu melompat keatas dan berdiri didepan gadis kecil itu. “Bagaimana kalau atapnya terbuat dari kaca agar saat kita berenang, kita bisa melihat awan-awan dari dalam air. Tidakkah menurutmu seperti kita sedang berada dilautan yang bebas?”

            “Ah…” kepala gadis itu mengangguk-angguk setuju. “Ide yang bagus. Oke, atap yang terbuat dari kaca. Mereka pasti sangat luar biasa.”

            Mereka saling berpandangan dengan senyuman manis. Setiap kali melakukan hal itu, mereka sama-sama merasakan kebahagian yang luar biasa. Hanya saling menatap satu sama lain. Itu saja sudah cukup.

            Anak laki-laki itu mendekat, lalu memberikan sebuah kecupan singkatnya diatas dahi gadis kecil itu hingga dia tersenyum. Kemudian, dia mengelus lembut bekas kecupannya dengan ibu jarinya sambil bergumam. “Sejujurnya, apapun yang kumiliki dan apapun yang terjadi disekitarku. Asalkan kau berada disampingku, maka semuanya terasa luar biasa.”

            “Shin Je Wo!”

            Je Wo tersentak. Dia sudah mendapati tatapan kesal Kyuhyun  yang kali ini sudah berada dipinggir kolam yang dekat dengannya.

            “Apa yang kau lamunkan sampai-sampai tidak mendengar saat kupanggil berulang-ulang.” Rutuk Kyuhyun. Je Wo hanya menggelang pelan sebagai jawaban. “Sekarang cepat kemari. Kita mulai saja latihannya.”

            Je Wo kembali terlihat resah setelah Kyuhyun menyuruhnya lagi untuk masuk kedalam kolam. Dipandanginya luas air didalam kolam itu. Seperti sedang mencekamnya. Tanpa sadar, dia kembali mengeratkan Bathrobenya dan tubuhnya sedikit gemetar. Kali ini ada beberapa kilasan buruk yang berpendar dalam ingatannya hingga napas gadis itu terlihat memburu.

            Kyuhyun yang sedang memerhatikannya sempat merasa bingung. Tetapi, saat dia kembali mengingat percakapan Je Wo dan Donghae didepan pintu lift beberapa saat yang lalu ketika mereka baru saja keluar dari kelas pelajaran olah raga, lalu ketika dia menemukan tubuh Je Wo yang mengapung didalam Kolam, Kyuhyun akhirnya mengerti.

            “Tidak apa-apa.” Gumamnya pelan dan berhasil membuat Je Wo menatapnya. “Kemarilah.”

            Je Wo hanya menatapnya tanpa bergerak sedikitpun. Kyuhyun berusaha keras meyakinkan gadis itu dengan tatapannya tapi akhirnya ia mendesah putus asa hingga memutuskan untuk menghampiri Je Wo.

            “Tidak ada yang perlu kau takutkan. Lagi pula kedalaman airnya tidak terlalu tinggi.” Bujuknya. Untuk seseorang yang pernah mengalami kecelakaan didalam kolam renang sebanyak dua kali, Kyuhyun mengerti Je Wo pasti merasa trauma.

            Je Wo menunduk ragu. Sebenarnya dia tidak berniat melakukan hal ini. Belajar berenang bersama Kyuhyun hanyalah salah satu akibat dari pelampiasan amarahnya kemarin karena Lee Donghae. “Kupikir sebaiknya lupakan saja semua ini. Tiba-tiba saja aku tidak menginginkannya.” Lirihnya dan sudah siap melarikan diri.

            Kyuhyun segera menahan lengannya dan mengembalikan Je Wo ketempat semula. Matanya menatap serius kedalam kedua mata Je Wo. “Ketakutan itu sama halnya seperti kekalahan. Selama kau masih membiarkannya bersarang dibenakmu, maka selamanya pula kau akan kalah.” Kyuhyun menoleh kebelakangnya. “Lihatlah. Disana itu hanyalah air yang berada didalam sebuah wadah. Menurutmu, apa yang berbahaya dari mereka?” Kyuhyun kembali memandang Je Wo. “Tidak ada yang menakutkan di Dunia ini asalkan kau melaluinya dengan keberanian. Dan yang kutahu, kau adalah salah satu gadis pemberani yang pernah kutemui.”

            Je Wo meringis pelan dan kembali menunduk. Menatap buku-buku jari kakinya. Dia bahkan tidak sadar kalau saat ini Kyuhyun telah melihat sisi lain darinya yang selama ini tidak pernah diketahui banyak orang selain Lee Donghae dan juga Kakeknya.

            Kyuhyun sungguh dibuat tidak mengerti dengan segala tingkah laku gadis ini. Gadis Kejam yang tidak pernah terlihat sungkan untuk mengumpat, memperolok-olok orang lain dan juga berlaku kasar, malah terlihat sangat rapuh ketika dia menangis. Terlihat manis ketika dia gugup. Dan sekarang, Kyuhyun sangat ingin membuatnya melupakan ketakutannya. Entah karena alasan apa.

            “Aku takut tenggelam.” Je Wo menggumam lirih. “Takut tidak bisa bernapas. Takut tidak bisa berteriak meminta tolong karena suaraku teredam didalam air. Dan aku takut tidak ada yang menolongku.” Dia semakin memeluk tubuhnya lebih erat saat tubuhnya seperti menggigil ketakutan. “Rasanya seperti…” kalimat itu perlahan terputus dan Je Wo melirik sebuah telapak tangan yang kini menyentuh lengannya dengan cara yang sangat lembut.

            “Kau tidak akan tenggelam karena aku akan menangkapmu kalau-kalau hal itu hampir terjadi. Jangan takut tidak bisa bernapas, tidak bisa berteriak meminta tolong ataupun takut tidak akan ada yang menolongmu. Karena itu semua tidak akan pernah terjadi selagi ada aku bersamamu.”

            Kepala itu terangkat begitu saja, lalu mata itu bertemu pandang dengan kedua mata penuh keyakinan yang memandangnya. Remasan lembut dilengannya seperti sebuah pelengkap sihir yang dilakukan Kyuhyun padanya. Semua kalimat-kalimat itu membuatnya merasa aman dan tenang.

            Je Wo tidak melepas tatapannya dari kedua mata itu sekalipun saat ini Kyuhyun sudah menyentuh kedua lengannya yang masih memeluk tubuhnya sendiri, menariknya kebawah dengan cara yang sangat lembut seolah-olah lengan itu terlalu rapuh dan Kyuhyun takut menghancurkannya. Je Wo juga membiarkan jemari Kyuhyun yang mulai melepas tali Bathrobe dalam sekali tarikan. Mereka tidak pernah mau melepas tatapan mereka satu sama lain. Kyuhyun bahkan melakukan semua itu dengan kedua mata yang semakin intens memandangi binaran sayu dimata Je Wo.

            Sebelum Kyuhyun melepas Bathrobe itu, dia sengaja hanya menyentuh ujung-ujung bathrobe Je Wo tanpa melakukan apapun. Dari kedua matanya, Kyuhyun berusaha bertanya apakah Je Wo memperbolehkannya. Dan ketika gadis itu mengangguk lambat sekali, kedua tangannya mulai bergerak, melepas Bathrobe itu hingga terjatuh kembali keatas lantai untuk kedua kalinya.

            Tidak seperti sebelumnya, yang terpana dengan kemolekan tubuh Je Wo, kali ini Kyuhyun tidak memedulikan seruan-seruan iblis yang mengaung-ngaung dikedua telinganya agar dia tidak melewatkan kesempatan memandangi kemolekan itu. Baginya, memberikan rasa aman bagi gadis ini lebih penting agar ketakutan yang selama ini menghantuinya tidak lagi ada.

            Kedua telapak tangan Kyuhyun merambat turun melalui bahu, lengan, hingga jemari Je Wo. Sejujurnya sentuhan-sentuhan itu terasa begitu intim bagi mereka, menghadirkan desiran asing yang menyusup begitu saja, sengatan dengan getaran-getaran penuh kenikmatan yang menjalari tubuh mereka masing-masing. Untungnya, mereka lebih terhanyut dengan sebuah uforia berbeda yang terasa asing tetapi mereka rindukan.

            Kini tidak ada lagi kontak fisik yang terjadi diantara mereka. Hal itu membuat sebagian ketakutan Je Wo mulai meronta-ronta sampai gadis itu berhasil melepaskan pandangannya dari kedua mata Kyuhyun dan beralih menatap kepermukaan Kolam.

            Dia kembali merasa tegang. Tetapi hanya sesaat karena setelah itu Kyuhyun menawarkan telepak tangannya pada Je Wo.

            “Trust me.” Bujuknya.

            Je Wo memandang lama telapak tangan yang terulur didepannya. Kemudian, perlahan-lahan menerima uluran tangan itu. Tepat setelah telapak tangannya menyecah diatas telapak tangan Kyuhyun, lelaki itu menggenggamnya erat dan tersenyum.

            “Do you trust me?”

            “I trust you. Because if you hold my hand, I know for sure that no matter what happens, you will never let my hand go.” Jawab Je Wo tenang dan Kyuhyun semakin melebarkan senyumnya. “But, if you let go off my hand. I’ll kill you.”

            Kyuhyun memutar bola matanya jengah. Gadis itu sudah kembali seperti semula. Kemudian, dengan masih menggenggam jemari Je Wo, dibawanya gadis itu mendekati kolam. Kyuhyun lebih dulu menapakkan kakinya diatas anak tangga paling atas yang menurun kebawah menuju kolam.

            Tapi langkahnya lagi-lagi terhenti saat Je Wo berusaha menahan dirinya sendiri untuk berhenti melangkah. Kyuhyun mendesah panjang. Tubuhnya yang tadi membelakangi Je Wo kini berputar menghadap gadis itu.

            “Kita sudah selesai berkompromi, Shin Je Wo.”

            “Aku tahu.”

            “Lalu?”

            “Itu… aku…”

            Dengan tidak sabar, Kyuhyun meraih jemari Je Wo yang lain. Menggenggamnya sama erat seperti sebelumnya. Tidak peduli Je Wo menggeleng-gelengkan kepalanya kua, Kyuhyun sudah menarik gadis itu untuk mulai memasuki kolam renang.

            Saat kakinya menyentuh kedalam air, Je Wo mulai menarik napas sekuat-kuatnya seolah dia akan segera kehilangan oksigen sebentar lagi.

            “Hanya kakimu yang tenggelam didalam air, bukan seluruh tubuhmu. Berhenti ketakutan seperti itu.” cetus Kyuhyun yang semakin membawa Je Wo kedalamnya air kolam.

            “Tapi sekarang lututku juga sudah menyentuh air, Cho Kyuhyun!” sela Je Wo dengan wajah tegang. Dahinya bahkan sudah berkeringat.

            “Tentu saja. Kita, kan sedang berada didalam kolam.”

            “Aku serius!”

            “Aku juga tidak sedang bercanda.”

            “Jangan memancing pertengkaran denganku.”

            “Oh, kau pikir aku takut?”

            “Kau!” dengan penuh geraman, Je Wo melepaskan genggaman Kyuhyun dikedua tangannya. “Jangan karena aku memintamu mengajariku berenang kau jadi bebas bersikap menyebalkan padaku. Kau tahu, aku tetap tidak suka dengan keberadaanmu!”

            Kyuhyun mengangguk-angguk ringan sambil bersedekap mendengarkan segala umpatan dan makian yang Je Wo layangkan padanya. Telinganya bahkan sudah sangat kebal dengan semua itu hingga dia tidak lagi merasa tersinggung.

            “Asal kau tahu. Sebenarnya aku tidak berniat menerima tawaran konyolmu ini. Tapi karena_” Je Wo mengerjap beberapa kali tiba-tiba dengan mulut setengah terbuka. Dia menunduk perlahan untuk memastikan sesuatu dan terkesiap karena menyadari kalau saat ini, dia sedang berdiri dikedalaman air sebatas perutnya. “Ya Tuhan…” gumamnya tanpa sadar. Dia mengangkat wajahnya cepat, menatap Kyuhyun penuh tuntutan. “Aku sudah berada didalamnya?” tanya gadis itu dengan wajah polos sekaligus takjub.

            Kyuhyun sedikit merona melihat wajah polos Je Wo untuk pertama kalinya. “Hm.” Jawabnya sekedar.

            “Di dalam kolam?”

            “Kau pikir dimana lagi?”

            “Sungguh, Cho Kyuhyun?”

            “Terserah kau saja!”

            Je Wo menatap kebawah sekali lagi. Perlahan-lahan menggerakkan jari-jari kakinya, lalu telepak kakinya dan kini malah melangkah mundur sekali, maju sekali, lalu tersenyum. Dia juga tidak lupa menyentuh permukaan air dengan telapak tangannya.

            Kyuhyun menggigit bibir bawahnya kuat agar tidak tersenyum melihat tingkah kekanakan gadis itu. Benarkah dia Shin Je Wo? Tidak, Kyuhyun mungkin saja salah mendatangi rumah ini. Rumah ini pasti bukan rumah milik Shin Je Wo dan gadis ini juga bukan Shin Je Wo.

            Je Wo yang dikenalnya tidak mungkin bisa bersikap semanis ini dan membuat Kyuhyun merona. Je Wo yang dikenalnya tidak mungkin bisa membuat dirinya menjadi aneh dan mengucapkan kalimat-kalimat yang sama anehnya hanya untuk membuat gadis itu merasa aman didekatnya. Tentu saja! Je Wo yang dikenalnya tidak mungkin bisa membuatnya seperti ini.

            Argh… tapi bukankah saat di pemakaman itu, dirinya juga mau-mau saja meminjamkan bahunya untuk gadis itu mengeluarkan seluruh tangisannya?!

            Ada apa denganku sebenarnya?! Teriak Kyuhyun dalam hatinya.

            “Tapi, kenapa aku tidak tenggelam?” lagi-lagi gadis itu bertanya dengan memasang wajah yang polos.

            “Kau bisa mencoba berjalan kesana kalau memang sangat ingin tenggelam.” Kyuhyun mengarahkan telunjuknya malas kesisi kolam yang lain.

            Je Wo cepat-cepat menggelengkan kepalanya dengan bibir mengerucut. Dan karena dia kembali memperlihatkan mimik wajahnya yang lucu, Kyuhyun kembali tertegun menatapnya. Sesaat Je Wo kembali terlarut dengan cara Kyuhyun menatapnya. Tetapi, tiba-tiba saja dia menyadari sesuatu.

            Sialan! Sejak tadi aku pasti sudah bertingkah konyol didepannya.

            Gadis itu sengaja terbatuk sekali untuk menyadarkan Kyuhyun dan kembali memasang wajah angkuhnya. “Baiklah. Aku sudah berhasil masuk kedalam kolam. Jadi, kupikir aku tidak lagi membutuhkan bantuanmu. Ah, terima kasih hari untuk hari ini. Kau boleh pulang.” Dia memutar tubuhnya untuk beranjak pergi.

            “Tidak semudah itu, Nona.” Gumam Kyuhyun datar dan sudah menahan lengan Je Wo . saat gadis itu berbalik dengan kedua mata menyipit. Kyuhyun malah menyeringai. “Pelajaran pertama.”

 

***

 

 

Yoon So melenguh panjang. Bibirnya terasa kebas karena sejak tadi Donghae tak henti-henti melumat dan mempermainkannya. Tapi dia juga tidak mau menghentikannya. Apapun yang dia lakukan bersama lelaki ini sungguh membuatnya tergila-gila.

            Seperti saat ini. mereka berdua berada di rumahnya. Lebih tepatnya, berada didalam kamar Soo Yoon So, diatas ranjangnya. Mereka berdua duduk dipinggir ranjang. Kedua jemari Yoon So telah bersarang disela-sela rambut Donghae yang hari ini terlihat sangat bersemangat mencumbunya.

            Kepala lelaki itu tidak bisa diam, bergerak kesana dan kemari untuk memiliki bibir Yoon So yang memang sejak tadi telah dimilikinya. Kedua tangan Donghae juga sudah berhasil menyentuh bagian-bagian tubuh Yoon So yang lainnya, bahkan kancing-kancing kemeja gadis itu telah lepas keseluruhan.

            Merasa kurang nyaman dengan letak duduk mereka, Donghae mulai mendorong lembut tubuh Yoon So agar berbaring diatas ranjang. Hal yang selama ini sudah terlalu sering mereka lakukan sepertinya akan terjadi lagi hari ini.

            Yoon So menggigit bibir bawahnya ketika Donghae yang baru saja membebaskan bibirnya dari cumbuan panas itu, menatapnya penuh arti. Napasnya terengah-engah, kedua matanya memperlihatkan sebesar apa keinginannya untuk bercinta bersama Yoon So.

            Jemari gadis itu menyentuh wajah Donghae. Ibu jarinya mengelus-elus kulit halus lelaki itu. Wajah Donghae menggelit kesamping demi meraih jemari itu untuk dikecup oleh bibirnya. Kecupannya merambat ketelapak tangan, lengan hingga leher dan telinga. Yoon So menahan napasnya saat Donghae melenguh pelan dalam kecupan yang dilayangkan lelaki itu ditelinganya.

            Donghae seperti kehausan mencumbu seluruh wajah hingga leher Yoon So. Rasa panas yang mengepak-ngepak ditubuhnya layaknya sayap iblis membuat dia semakin lepas kendali. Sampai ketika dia kembali mengulum bibir ranum itu dengan perlainan lidahnya yang sangat lihai, sebuah wajah murung seorang gadis tiba-tiba saja berpendar dalam pikirannya. membuat Donghae melepas cumbuannya dan memisahkan dirinya dari Yoon So secepat kilat.

            Yoon So terkejut mendapati reaksi Donghae. lelaki itu terduduk disvelahnya dengan wajah tegang dan tatapan kosong. “Hae, kau kenapa?” tanya Yoon So cemas.

            Donghae memandang Yoon So. Napasnya tercekat dan sulit sekali baginya untuk berbicara. Tapi disisi lain dia juga tidak mau membuat gadis itu curiga ataupun kecewa. “A-aku…” gumamnya bingung.

            “Kau kenapa?”

            Donghae memegang perutnya cepat dan meringis pelan. “Perutku sakit sekali.”

            “Perutmu?” ulang Yoon So dengan gumaman tidak mengerti. Tapi setelah itu dia mulai tampak cemas. “Sakit sekali? Memangnya apa yang kau makan sebelumnya?” Yoon So memasang kancing-kancing bajunya terburu-buru. “Tunggu sebentar. Aku akan mengambil obat untukmu. Mungkin saja bisa membantu. Atau, kau mau kita kerumah sakit saja?”

            Donghae menggeleng pelan dan Yoon So melesat cepat keluar dari kamarnya untuk mengambilkan obat.

            Kini Donghae menundukkan kepalanya dalam. Rsa bersalah sedang menggerogoti jiwanya. Seharusnya dia tidak membohongi Yoon So. Seharusnya dia tidak menghentikan apa yang baru saja dia mulai. Tapi wajah itu… wajah Shin Je Wo yang menatapnya terluka membuatnya terusik.

            Dengan geraman tertahan, Donghae meremas rambutnya kuat. “Kenapa? Kenapa seperti ini lagi.” Keluhnya putus asa.

            Disaat dia mulai memantapkan hatinya untuk menggenggam erat Soo Yoon So setelah apa yang terjadi pada mereka diatap sekolah kemarin. Mengapa lagi-lagi Shin Je Wo kembali mengusiknya. Meski hanya hadir sebagai bayangan.

 

***

 

 

“Hah!”

“Lagi.”

“Kau bercanda?”

“Sekali lagi saja.”

“Kau sudah mengatakannya sebanyak tiga puluh kali.”

“Dan meski begitu, recordmu hanya mencapai sepuluh detik.”

            Mereka berdua lagi-lagi terlibat dalam percekcokan seperti biasa. Saling berpandangan tidak suka satu sama lain.

            Sejak tadi, Kyuhyun menyuruh Je Wo melakukan pelajaran pertamanya. Bernapas didalam air. Kyuhyun ingat ketika dia kecil dan Ayahnya mengajarinya berenang, hal pertama kali yang diajarkan Ayahnya padanya adalah berlatih menahan napasnya didalam air. Karena itu, dia juga melakukan hal yang serupa pada Je Wo. Hanya saja, gadis itu lebih banyak mengeluhnya dibandingkan kerja kerasnya.

            “Aku lelah. Kalau kau mau, kau saja yang melanjutkan latihanmu.” Ujar Je Wo ketus dan gadis itu segera berjalan dengan susah payah menuju anak tangga.

            Kyuhyun hanya mendengus malas dan mau tidak mau harus menuruti keinginan Nona besar. Lagi pula, dia juga merasa haus. Dia mengikuti Je Wo dibelakang. Gadis itu meraih Bathrobe dari atas lantai lalu memakainya sambil berjalan menuju kursi santai.

            Ada sebuah handuk diatas masing-masing kursi pantai yang tadi sempat diletakkan oleh pelayan. Je Wo meraih salah satunya untuk mengeringkan rambutnya. Gadis itu berbaring nyaman diatas kursi santai setelah menyambar segelas jus. Mulanya dia ingin menjadikan langit sebagai objek pandangnya. Tetapi melihat Kyuhyun melintasinya dan duduk disebelahnya, perhatian Je Wo menjadi teralihkan.

            Diamatinya gerak gerik lelaki itu. Kyuhyun duduk tegak dibagian ujung kursi sambil mengeringkan rambutnya. Dia juga tampak mengibas-ngibaskan kepalanya kekiri dan kekanan untuk merapikan rambut basahnya. Bahkan jemarinya turut andil menyisiri rambutnya. Lalu fokus Je Wo jatuh pada punggung lelaki itu. Diperhatikannya lebih seksama dan dia menyadari satu hal. Kyuhyun mempunyai punggung yang bidang meski tidak sekokoh punggung Donghae.

            Saat Kyuhyun memundurkan tubuhnya kebelakang hingga menyentuh sandaran kursi dan tubuhnya bebaring nyaman, Je Wo cepat-cepat meneguk minumannya untuk mengalihkan perhatian.

            Kyuhyun membuka tutup botol air mineralnya yang tadi dia ambil dari atas meja. Meneguknya berkali-kali hingga menghabiskan setengah isinya. Merasakan keheningan diantara mereka, Kyuhyun mulai mencari topik perbincangan.

            “Kira-kira apa saja yang akan kita lakukan untuk pelatihan nanti?” dia bertanya dengan wajah yang menoleh kesampingnya.

            Je Wo mengangkat bahunya ringan sebagai jawaban. “Omma yang mengurus semua itu.”

            “Omma?” ulang Kyuhyun tidak mengerti.

            “Oh,” Je Wo menatap padanya. “Maksudku Guru Han.” Koreksinya.

            “Kau memanggil Guru Han dengan sebutan Omma?”

            “Hm.”

            “Kenapa?”

            “Karena dia sangat cerewet, suka menasihatiku. Seperti seorang Ibu, menurut orang-orang.”

            Kyuhyun meneliti wajah gadis itu ketika kata Ibu terucap dibibirnya. Mulanya dia mengira Je Wo akan memperlihatkan mimik wajah sedih mengingat kata itu sangat sensitif bagi gadis yang tidak lagi memiliki Ibu. Sama sepertinya. Tetapi, gadis itu malah tampak biasa-biasa saja.

            “Pelatihan itu dilakukan untuk apa?” tanya Kyuhyun lagi. Siapa tahu saja dia mendapatkan informasi yang berguna dari gadis ini. Dan dia juga bisa menyampaikannya pada Eunjin. Ah… Eunjin pasti senang mendengarnya.

            “Mencari tiga tokoh utama untuk pertunjukan Teater.”

            “Apa maksudmu dengan pertunjukan Teater?” Kyuhyun tampak terkejut mendengar Je Wo menyebut-nyebut Teater dalam kalimatnya.

            Gadis itu berdecak sekali. Sebelah alisnya berjengit keatas memandang Kyuhyun yang tampak bodoh dimatanya. “Kau tidak tahu?”

            “Tidak.”

            “Lalu kenapa kau mau ikut serta?”

            “Karena Guru Han yang meminta.”

            “Ah, benar. Si bodoh itu…” rutuk Je Wo pelan. “Dia bahkan menerima empat Mix Blood menjijikkan itu kedalam daftar peserta.”

            “Kembali ketopik. Apa maksudnya dengan pertunjukan Teater.” Sela Kyuhyun.

            “Dua bulan mendatang, sekolah akan mengadakan pertunjukan Teater seperti biasanya. Kali ini Omma berkesempatan menjadi pelatihnya. Dia sudah mempersipkan semuanya dengan sempurna. Semuanya telah rampung dan berjalan lancar. Tapi sialnya, kedua tokoh utama pertunjukan itu mengalami kecelakaan dan tidak bisa mengikuti latihan ataupun menjadi pemain dalam pertunjukan itu. Kemarin Omma baru saja meneleponku dan memberitahuku kalau pemeran utama ketiga juga tiba-tiba mengundurkan diri. Jadi, dia membutuhkan tiga pemain pengganti.”

            Kyuhyun mendesah frustasi. Pertunjukan Tearter? Dia benci dengan kegiatan itu. Mengingat saat kecil dia pernah mempermalukan dirinya sendiri dipertunjukan Teater sekolah dasarnya dulu. Dan sekarang, melihat bagaimana Guru Han yang memintanya langsung untuk ikut serta, dia yakin kalau dirinya adalah salah satu incaran wanita itu.

            Ditengah-tengah rasa frustasinya, Kyuhyun teringat tentang misinya. Bukankah Lee Hyukjae menyuruhnya untuk menjauhkan Je Wo dari Donghae dan Kris sementara waktu? Dan hari ini adalah waktu yang tepat baginya untuk mengetahui sedikit lebih detail mengenai hubungan Je Wo dan juga Donghae. Agar dia bisa mengendalikan keadaan ketika melakukan tugasnya.

            Belum lagi Kyuhyun sempat melakukan apapun, tiba-tiba saja Je Wo berdiri dan melepas Bathrobenya lalu mengajak Kyuhyun kembali berlatih. Kyuhyun memutar otaknya agar tidak kehilangan kesempatan emas itu. tentu saja bukan karena untuk melakukan tugas dari Hyukjae, melainkan untuk memenuhi rasa penasarannya terhadap rahasia gadis itu.

            Diturutinya keinginan Je Wo. Tetapi, didalam otaknya telah tersusun sebuah ide. Mereka sudah kembali kedalam air. Je Wo bertanya tentang pelajaran selanjutnya karena dia bosan melakukan pelajaran yang pertama.

            “Baiklah. Ikut aku.” Kyuhyun berenang ketengah-tengah kolam. Membuat Je Wo berdecak kuat karena dia harus berjalan susah payah mengikuti kemana Kyuhyun pergi. Tentu saja karena dia tidak bisa melakukan apa yang Kyuhyun lakukan tadi.

            Ditengah-tengah kekesalannya, Je Wo merasa air disekitarnya semakin dalam setiap kali dia melangkah. Bahkan kini, air itu sudah merendam setengah dadanya hingga napasnya terasa berat. Je Wo berniat memanggil Kyuhyun, tapi dia malah tidak menemukan keberadaan lelaki itu dimanapun.

            “Cho Kyuhyun?” panggilnya. “Cho Kyuhyun!” lelaki itu masih tidak muncul. “Aku tidak suka leluconmu. Keluarlah! Airnya kenapa tiba-tiba menjadi hmp!”

            Tubuh Je Wo tertarik kebawah tiba-tiba. Kekalutan kontan menggerayanginya. Kedua matanya tertutup rapat ketika dia berusaha menendang-nendang didalam air. Tidak ada udara, gelap dan Je Wo tidak bisa memikirkan apapun.

            Untung saja, hal itu hanya terjadi sekitar belasan detik karena kini dia dapat menghirup udara sebanyak-banyaknya setelah kepalanya muncul kepermukaan. Tangan Je Wo menggapai-gapai mencari pegangan. Dia mendapatkannya. Tapi kekalutannya masih belum sirna sampai dia menyadari kalau pegangannya adalah kedua bahu Kyuhyun dan kini tubuhnya terkurung diantara dinding kolam dan tubuh Kyuhyun.

            “Aku menepati janjiku, kan? Kau akan baik-baik saja sekalipun tenggelam.” Ujar Kyuhyun yang menyunggingkan senyuman penuhnya.

            “Kau… kau yang melakukannya?” tanya Je Wo menggumam.

            “Ya. Pelajaran kedua. Sebenarnya harus dilakukan dengan cara melompat dari tepi kolam, tetapi kupikir cara ini lebih efektif. Benar, kan?”

            Wajah Je Wo menggelap. “Apa kau tahu aku hampir saja mati kalau_”

            “Kau masih hidup.” Sela Kyuhyun cepat.

            “Berengsek!” umpat Je Wo. Lelucon Kyuhyun sudah keterlaluan. Untuk itu sebelah tangannya sudah melayang diudara, berniat memberikan tamparan sebagai pelajaran untuk Kyuhyun.

            Sayangnya, Kyuhyun lebih dulu menahan pergelangan tangan Je Wo. Lalu menarik sebelah tangan gadis itu yang masih bertumpu diatas bahunya. Kedua tangan itu digenggamnya agar Je Wo tidak kembali tenggelam selagi dia menatap serius gadis itu.

            “Aku mau kau menjawab pertanyaanku dengan jujur.” Ujarnya dengan suara yang tenang dan mengintimidasi. Tapi sayang sekali, Je Wo tidak sekalipun tampak terusik.

            “Apa?”

            “Kau dan Donghae… apa hubungan kalian sebenarnya?”

            Wajah Je Wo berubah pias seketika. Terlihat sekali ketidak sukaan dimatanya ketika Kyuhyun menyinggung masalah itu. “Apa maksudmu?”

            “Tidak perlu berpura-pura didepanku. Sedikit banyak aku mengetahui ada sesuatu yang lain dari pertemanan kalian.”

            Berusaha tidak terpancing dengan permainan Kyuhyun, Je Wo melepaskan tawa hambarnya. “Kau sudah gila? Aku tidak tahu apa yang sedang kau bicarakan.”

            Kyuhyun menggeram kesal. Dan dengan terpaksa, dia melepas genggamannya sejenak sampai tubuh Je Wo kembali meluncur kedalam air. Tapi Kyuhyun tidak melepas perhatiannya karena dia harus segera menarik Je Wo kembali keatas atau gadis itu akan pingsan karena ulahnya. Kyuhyun sengaja melakukan itu agar Je Wo mau berkata jujur.

            “Apa yang kau lakukan!” sembur Je Wo setelah napasnya kembali dipermukaan.

            “Jawab saja pertanyaanku. Apa kau memang mempunyai hubungan gelap bersamanya dibelakang Yoon So?”

            “Kalaupun benar itu bukan urusanmu, sialan!”

            BYUR.

            Tubuh Je Wo kembali meluncur kebawah. Dan Kyuhyun kembali meraihnya.

            “Tidak bisa belajar dari pengalamanmu, Nona? Apa kau tipe gadis yang lebih memilih mati dari pada berkata jujur?”

            “Persetan denganmu!” pekik Je Wo kuat sekalipun, tepat didepan wajah Kyuhyun

            Untuk ketiga kalinya, Je Wo mengalami hal yang serupa. Tenggelam dan kembali muncul kepermukaan.

            “Kau bisa membunuhku kalau terus melakukannya.” Ujarnya, kali ini dengan suara yang terdengar sedikit lirih.

            “Kalau begitu jawab pertanyaanku. Apa hubunganmu dan Lee Donghae?”

            “Dia adalah temanku.”

            “Dasar keras kepala!” Kyuhyun sudah bersiap-siap melepaskan genggamannya dikedua pergelangan tangan Je Wo agar gadis itu kembali mendapat pelajaran. Tetapi, lelaki itu sontak membeku ketika Je Wo malah mengalungkan kedua kakinya disekitar pinggang Kyuhyun dan diikuti kedua lengannya yang kini telah memeluk lehernya erat. “A-apa yang kau lakukan?” tanyanya dengan suara parau. Bagaimana tidak, dia bisa merasakan tubuh Je Wo yang menempel sempurna ditubuhnya. Belum lagi dada mereka yang bersentuhan membuat Kyuhyun mulai membayangkan lagi bentuk milik Je Wo yang satu itu.

            Je Wo menarik kepalanya kebelakang. Menatap Kyuhyun penuh kemarahan sekalipun tidak ada tanda-tanda darinya untuk melepaskan pelukannya. “Belajar dari pengalaman.” Jawabnya sinis. “Kau kan yang mengajarkannya padaku.”

            Mereka saling bertatapan tajam satu sama lain dalam jarak sedekat ini. Kyuhyun sulit sekali mengontrol dirinya. Dia takut akan melakukan hal yang gila pada Je Wo jika mereka tetap berada dalam posisi seperti ini lebih lama lagi.

            “Lepaskan.” Desisnya.

            “Hanya jika kau membawaku ketempat yang aman.”

            “Kubilang lepaskan, Shin Je Wo.”

            “Tidak ada orang yang bisa memerintahku.”

            “Oh, ya? Kuharap kau tidak menyesal dengan ucapanmu.”

            Sejurus kemudian, punggung Je Wo cukup kuat membentur dinding kolam. Tetapi hal itu tidak membuat Je Wo melepas pelukannya.

            Kyuhyun melihat gadis it meringis tertahan. Dengan rambutnya yang basah, lalu tetesan-tetesan air disekitar lehernya, bibirnya merahnya yang penuh dan juga… tubuhnya yang benar-benar hangat dalam pelukan itu, membuat Kyuhyun kehilangan kesadarannya.

            Shin Je Wo sangat terlihat seksi dan memesona.

            Dibawah sana, sebelah tangannya memeluk pinggang Je Wo, menekan kearah tubuhnya sampai tubuh mereka sudah tidak lagi memiliki jarak. Hanya menyisakan satu senti untuk jarak wajah mereka.

            Je Wo menyadari perlakukan Kyuhyun padanya. Seharusnya dia berteriak ataupun memaki lelaki itu yang sudah lancang menyentuhnya seperti ini. Tetapi, yang dilakukannya malah berbeda. Je Wo sangat menikmati kehangatan yang mulai menjalari tubuhnya. Tangan Kyuhyun yang memeluk pinggangnya terasa begitu lembut sampai Je Wo berencana akan mengembalikan tangan itu kepinggangnya lagi kalau-kalau Kyuhyun melepasnya.

            Napas mereka sama terengahnya. Mereka juga dapat merasakan debaran jantung masing-masing. Lalu, sampai ketika Kyuhyun mulai memupus jarak wajah diantara mereka, Je Wo sontak memejamkan matanya perlahan. Menunggu-nunggu dengan debaran jantungnya yang semakin tidak normal.

            Kyuhyun sempat menyibak helaian rambut yang menutupi sebagian wajah Je Wo dengan jemarinya. Matanya memandang kagum rupa ciptaan Tuhan yang seakan sengaja dipahat seindah ini. Kyuhyun akan bersukur kepada penciptanya setelah ini, sungguh.

            Bibir lelaki itu sudah terbuka ketika sedikit lagi hampir mencapai bibir Shin Je Wo.

            “Apa yang kalian lakukan didalam sana?”

            Mata Je Wo terbuka cepat dan dia bertatapan langsung dengan kedua mata Kyuhyun. Kemudian, keduanya serempak menoleh keasal suara. Dan menemukan sosok pria tua berdiri ditepi kolam dengan kedua mata menyipit memandang kearah mereka berdua.

            “Kakek?” gumam Je Wo cemas.

 

 

TBC

 

 

 

Satu pertanyaan saya untuk FF ini.

Kok rasanya panjang amat yak sampai saya yang ngetiknya ajah capek -_- apa lagi kalian yang nungguin FF ini publish T.T demi apa? Part ini bahkan masih ngebangun chemistery KyuJe. Belom lagi masalah percintaannya, terus konflik persahabatannya, belom lagi masalah rahasia-rahasia yang terbongkar. Atau masalah keluarga yang harus diselesaikan.

 

GOD, KENAPA KAU HARUS MEMPERKENALKAN IDE CERITA INI KEPADA OTAK SAYA YANG SONGONG?!

 

Saya bingung seberapa lama nyelesaiannya. Padahal ini udah part ke 4 kan yah? Dan udah mencapai 155 halaman word. Somebody help mehhhhhhh T.T gak dilanjut sayang, soalnya kan idenya cukup menantang.

 

Jadi, readers unyu-unyu… /pasang jurus rayuan maut/ harap bersabar yak dengan next chapternya mwehehehehehe.

 

Tapi kalian tenang ajah! Janji saya buat tamatin MLFY sebelom hiatus bakalan segera terpenuhi kok. Kali ini gak PHP lagi. Serius😀

 

Okeh, see u babay muuuuuuach!

259 thoughts on “Perfect Princess – Between Kyuhyun and Je Wo

  1. Wah wah wahhhh kyuhyun mulaaiii.. tuhhhh kolam renang tjakep bener yaaa😀 makin penasaran sama lanjutannya.. di tunggu eonnn🙂

  2. Eonni~……
    Mana lanjutannya,…. udah lama banget loohh gak di lanjut, aku nungguin lanjutannya….
    Lg sibuk kah ???
    Semoga eonni sempet buat nerusin ff ini yaaa, please…..

  3. Wow kerennn ni ffnya.. Penyampaiannya daebak.. Alurnnya juga bikin geregetan dan bener2 wow dekh… Trus perasaannya yg di bangun pda tokoh2nya keren kebawa cuy… Terus lanjut ya semangat… Di tunggu kelanjutannya … FIGHTING … 😍😍😍😍👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼

  4. Kak kapan dilanjutin lagi ffnya
    Aku masih nunggu ni kak 😊
    Aku dah bolak balik baca tetep nggak bosen2, masih penasaran ma next partnya hehehe
    Semangat kakakk!!💪

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s