Have A Happy Morning

Happy Morning

Suara rengekan terdengar samar ditelinga Je Wo. Meski berat dan enggan, Je Wo terpaksa membuka kedua matanya untuk memastikan suara rengekan itu. Kedua matanya sontak membulat melihat Eunje menangis dengan kedua mata terpejam karena ditindih oleh Hyunje yang tampak terlelap diatasnya.

            “Ya Tuhan.” Pekik Je Wo serak hingga terduduk. Cepat-cepat ditariknya tubuh Hyunje dari atas tubuh Eunje yang masih mengeluarkan rengekannya. Pantas saja bocah itu menangis, ditimpa tubuh seberat Hyunje siapa yang tidak akan kesakitan.

            Kini tubuh Hyunje berguling kesamping, meninggalkan tubuh adiknya. Je Wo mendesis pelan melihat guling yang dia jadikan sebagai pembatas untuk kedua putranya, kini entah berada dimana. Seharusnya dia tahu, membiarkan Eunje tidur diranjang yang sama dengan Hyunje adalah bencana besar. Bocah itu tidak pernah bisa diam sekalipun tertidur. Diranjangnya sendiripun dia bisa melakukan hal diluar dugaan. Pernah suatu pagi, ketika Je Wo ingin membangunkannya, wanita itu terkejut melihat Hyunje sudah tidur dengan tubuh menelungkup diatas lantai yang beralaskan karpet. Kalau dipikir-pikir, bagaimana bisa Hyunje tidak tersadar ketika tubuhnya terjatuh dari atas ranjang.

            Rengekan Eunje masih terdengar. Je Wo melihat bocah itu masih saja memejamkan matanya. Berdecak pelan, Je Wo menepuk-nepuk pelan pipi Eunje yang tampak memerah, ciri khasnya setiap pagi. Eunje juga mempunyai kebiasaan lain baru-baru ini jika menangis dalam tidurnya. Entah itu karena dia bermimpi buruk atau karena haus. Dia akan menangis dengan kedua mata tertutup dan selama hal itu masih terjadi maka tangisannya tak kunjung berhenti. Je Wo harus mempunyai kesabaran ekstra jika hal itu terjadi ditengah malam. Apa lagi kalau Eunje sulit sekali untuk membuka mata.

            “Sayang, buka dulu matamu.” Bisik Je Wo berusaha membangunkannya.

            Eunje menggeliat-geliat dalam rengekannya hingga beberapa menit sebelum mata bulatnya yang sedikit membengkak terbuka. “Omma…” rengeknya.

            Bibir Je Wo tersenyum kecil. Diraihnya tubuh itu keatas pangkuannya lalu memeluknya hangat. “Tubuhmu sakit, hm?”

            Bibir Eunje mengeluarkan gumaman-gumaman kecil selagi kepalanya bergerak-gerak, seperti sedang berusaha menggosokkan ujung hidungnya diatas bahu Je Wo. “Susu.” Pintanya dengan suara manja.

            “Kau ingin susu?”

            “Hm…”

            “Oke.” Je Wo membawa Eunje beranjak dari ranjang menuju sudut kamar. Disana, ada sebuah karpet lembut persegi empat yang tepat menghadap kearah pantai. Tempat itu sudah menjadi tempat favorit Eunje akhir-akhir ini. Je Wo membuka tirai yang menutupi pemandangan itu, sempat melirik kewajah Eunje yang tersenyum girang melihat birunya laut. “Pantai sangat mengagumkan. Iya, kan?”

            Tidak tahu mengapa, Eunje menjadi sangat menggilai pantai seperti Je Wo. Kekehan kecilnya yang lucu terdengar sebagai jawaban.

            Je Wo meletakkannya diatas karpet itu hingga Eunje duduk bersila menghadap pantai. Disana juga dilengkapi dengan beberapa bantal mungil yang pas untuk ukuran kepala Eunje dan beberapa boneka yang sebenarnya sama sekali tidak terpakai karena sungguh, Eunje tidak terlalu suka dengan boneka.

            “Omma kekamar mandi sebentar, ya.” Pamitnya pada Eunje yang hanya mengangguk sekali.

            Semakin bertambahnya usia Eunje, maka bocah itu tampak semakin pintar. Selain sudah bisa berjalan bahkan senang berlari meski kerap kali tersandung oleh kakinya sendiri, Eunje juga mulai pintar berbicara dan untungnya, semua kata yang dia ucapkan hampir sempurna tanpa cela. Biasanya, anak-anak yang baru saja belajar bicara akan mengucapkan kata-kata yang tidak terlalu jelas. Tapi, Eunje berbeda. Dia senang mendangar Hyunje berbicara. Lalu terkadang seperti sedang berusaha mengingat-ingat apa yang Hyunje katakan dan tiba-tiba menyebutkannya begitu saja. Je Wo pikir nanti tidak akan sulit untuk mendidik Eunje dimasa depan.

            Tetapi, kabar buruknya. Eunje tidak lagi mau tidur terpisah darinya. Tempat tidur bayinya sudah menghilang dari kamar. Kyuhyun pernah mengusulkan pada Je Wo untuk menempatkan Eunje dikamar terpisah dan memasang cennecting door. Tapi Je Wo takut kalau Eunje tidak mau. Karena sekarang saja setiap kali dia ingin tidur siang, kalau Je Wo tidak berada disampingnya dia tidak mau tidur. Atau, saat dia bangun dan tidak menemukan Je Wo maka dia akan menangis. Je Wo pikir itu akan lebih merepotkannya. Dia tidak mau harus berjalan kesana kemari ditengah malam hanya karena Eunje menangis. Jadi, biarkanlah pria itu yang mengomel tanpa henti karena setiap malam mereka sedikit terganggu dengan keberadaan Eunje diatas ranjangnya.

            Saat ini, Kyuhyun memang tidak sedang ada dirumah. Dia sedang berada di Taiwan untuk konsernya. Dan karena itu, tadi malam Hyunje merengek ingin tidur bersama Je Wo selagi Kyuhyun tidak ada. Terkadang Je Wo tidak mengerti, mengapa ketiga pria itu senang sekali memonopolinya dan tidak ingin berbagi dengan siapapun. Tidak Kyuhyun, Hyunje apa lagi Eunje.

            Didalam kamar mandi. Je Wo hanya menyikat giginya dan membasuh wajah serta merapikan rambutnya sejenak. Dia terlalu malas untuk mandi dipagi buta dan dihari libur seperti ini. Apa lagi hanya karena ingin turun kebawah untuk membuat susu Eunje. Lagi pula dia berniat untuk kembali tidur setelah ini.

            Sebelum turun kebawah, Je Wo kembali kekamarnya untuk memeriksa apa yang Eunje lakukan. Meski jendela sudah dia kunci, terkadang dia juga khawatir kalau-kalau Eunje bisa membukanya dan malah bermain disekitar beranda. Bisa-bisa dia terkena serangan jantung ketika melihat Eunje terbang bebas diudara.

            Tapi senyumnya mengembang saat menemukan bocah itu tengah berbaring nyaman dengan kepala yang beralaskan bantalnya dan sebelah kaki yang bertumpu pada kaca jendela. Ya, itu adalah posisi ternyaman baginya.

            Je Wo melanjutkan langkahnya untuk turun kebawah. Meski gaun malam yang dia pakai terbilang cukup terbuka, tetapi wanita itu tampak tidak peduli. Lagi pula semua pelayan yang bekerja didalam rumah berjenis perempuan, hanya ada beberapa pekerja laki-laki dirumahnya dan mereka selalu bertugas diluar karena Kyuhyun yang mengatur semua itu. Dia tahu kebiasaan istrinya yang tidak terlalu memedulikan sekelilingnya termasuk dalam berbusana.

             Saat Je Wo sudah mencapai anak tangga terakhir, perhatiannya teralihkan pada sosok pria yang berjalan lunglai menuju kearahnya. Pria itu berjalan dengan kedua mata tertutup, masih memakai jaket bahkan hodie dikepalanya masih menempel. Belum lagi ransel yang melekat dipunggungnya. Je Wo menggelengkan kepalanya tidak percaya. Pria itu persis seperti seorang Zombi versi nyata.

            “Akh.” Ringisan pelan pria itu terdengar ketika kakinya menyandung salah satu perabotan rumah. “Ck, sialan!” makinya tanpa ragu dengan mata sayu yang sulit untuk ditutupi.

            Je Wo mengulum senyuman gelinya. Menunggu sampai pria itu menyadari keberadaannya. Ketika harapannya terpenuhi, dia bisa melihat pandangan terkejut yang sangat polos dari mata suaminya. Rasanya benar-benar menggemaskan melihat kedua mata sembabnya, lalu bibirnya yang sedikit terbuka dan tampang bocahnya.

            Je Wo tidak bisa menahan diri untuk berlari dan meloncat keatas tubuh Kyuhyun dengan kedua kaki yang melingkari pinggang pria itu. Meski sebelumnya Kyuhyun tampak masih belum sadar sepenuhnya, tapi pria itu dapat merespon dengan cepat. Kedua tangannya sudah menahan tubuh Je Wo dalam gendongannya.

            “Good morning, Sleepwalker.” Bisik Je Wo ditelinga Kyuhyun.

            Kyuhyun tersenyum tipis selagi mengeratkan pelukannya. Ya, dia lelah dan sangat mengantuk. Tapi, tetap saja pelukan Je Wo adalah hal yang paling tidak ingin dia lewatkan. “Sejak kapan kau senang menyambutku dengan cara seperti ini, Nyonya Cho?”

            Je Wo merenggangkan pelukannya agar bisa menatap wajah suaminya. Mulanya dia mau memulai perdebatan seperti biasa, tapi melihat lingkar mata pria itu, dia malah meringis ngeri. “Wajahmu jelek sekali, Tuan Cho. Cepat turunkan aku dan pergi tidur. Aku takut kau benar-benar berubah menjadi Vampir.”

            Kyuhyun mencebik pelan. “Bukankah kau sangat menyukai Vampir?”

            “Ya, tapi kalau Vampirnya seperti kau. Maka aku akan segera memusnahkan semua koleksi DVD Twilight yang kupunya.”

            Kyuhyun menatap datar wanita itu. “Sudah pernah digigit Vampir, belum?”

            Mulanya wanita itu ingin menggelengkan kepalanya, tapi tiba-tiba saja dia menyeringai kecil dan mengangguk. “Kemarin, ada Vampir yang tiba-tiba menyerangku saat aku tidur. Bekas gigitannya baru saja hilang.”

            Mau tidak mau Kyuhyun tertawa mendengarnya. Dia kembali teringat dengan kejadian beberapa hari yang lalu ketika menyuruh Je Wo untuk menunggunya pulang dan jangan tidur lebih dulu karena dia ingin bermesraan dengan wanita itu. Tapi Je Wo tidak memedulikan permintaannya dan Kyuhyun malah mendapati wanita itu sudah tertidur pulas bersama Eunje diatas ranjang.

            Tapi Kyuhyun tidak kehilangan akal. Dengan hati-hati agar tidak membuat Eunje bangun, dia menyelinap kesamping tubuh Je Wo. Tanpa membangunkan wanita itu, dia mulai bermain-main sendiri dengan isntingnya. Kyuhyun tahu Je Wo adalah wanita yang mudah terbangun ketika mendengarkan suara sekecil apapun. Jadi, tidak membutuhkan waktu yang lama untuk Je Wo terjaga. Meski ketika itu Je Wo menolaknya dengan alasan sudah mengantuk dan berhasil menendang Kyuhyun hingga terjatuh keatas lantai sebanyak tiga kali. Tapi akhirnya, Kyuhyun tetap berhasil membawa Je Wo kekamar yang lain untuk menuntaskan keinginannya sekaligus tetap memastikan Eunje tidak terbangun.

            “Ah… Vampir itu pasti sangat tampan.” Puji Kyuhyun percaya diri.

            Je Wo mencibir jengah. Tapi perhatiannya tidak lepas dari wajah kusut suaminya yang sangat memprihatinkan. Dia pasti kelelahan, batinnya.

            “Kenapa sudah bangun pagi-pagi seperti ini?” tanya Kyuhyun sambil berjalan mendekati sofa untuk menjatuhkan tubuh Je Wo diatas tepiannya.

            “Eunje menangis karena Hyunje menimpa tubuhnya lalu terbangun dan dia meminta susu.”

            “Hyunje tidur bersama kalian?”

            “Hm.”

            “Dan kau menempatkan Eunje disampingnya?”

            “Mau bagaimana lagi. Tadinya aku berniat tidur ditengah-tengah mereka tapi Hyunje tidak mau karena sebelum tidur, dia tidak mau lepas dari Eunje.”

            Kyuhyun terkekeh pelan. “Tidak biasanya mereka akur.”

            “Tidak ada kau, memangnya siapa lagi teman bermain Eunje.” cibir Je Wo dan Kyuhyun semakin tersenyum lebar. Kyuhyun memeluknya lagi. Je Wo tersenyum kecil saat hembusan napas panjang Kyuhyun terasa dilehernya. “Aku harus membuatkan susu untuk Eunje sebelum dia mengamuk, Tuan Cho. Jadi, bisakah kau melepaskanku sekarang?”

            “Salahmu sendiri yang tadi meloncat kepelukanku.” gumamnya. Suaranya teredam.

            Je Wo mendorong pelan dada Kyuhyun, lalu melompat turun dari tepian sofa. “Pergi kekamar dan tidur.” Perintahnya.

            Je Wo sudah melangkah sekali meninggalkan Kyuhyun tapi pria itu menarik lengannya lagi hingga tubuh mereka berbenturan. Dalam hitungan detik, bibir Kyuhyun berhasil membungkam bibir Je Wo yang terbuka karena terkejut.

            Ciuman itu hanya berupa kecupan lama dan dalam karena setelah itu Kyuhyun melepaskannya. “Aku mencintaimu, Nyonya Cho.” Bisiknya dengan senyuman manis sebelum berlalu pergi.

            Je Wo terkekeh pelan selagi memandangi punggung itu menjauh darinya.

 

***

 

Kyuhyun memang merasa sangat lelah dan mengantuk. Tetapi saat menemukan Eunje berbaring disudut kamar dengan posisi menggemaskan, membuat dia ingin menunda keinginannya untuk terbang kedua mimpi. Kyuhyun berjalan pelan agar tidak mengeluarkan suara. Ketika hampir mencapai bocah itu, Kyuhyun sengaja berlutut dan berjalan menggunakan lututnya untuk memunculkan diri diatas wajah Eunje.

            “BOO!”

            Mulanya Eunje terpekik dengan kedua mata membulat. Tapi setelah melihat siapa pemilik wajah yang berada diatasnya, senyumnya merekah lebar. “Appaaaaaaa.” Pekiknya girang.

            Dengan penuh semangat Eunje berguling kesamping hingga berbaring telungkup. Tawanya berderai melihat Kyuhyun benar-benar ada disana. Kyuhyun mengangkat Eunje dan meletakkan bocah itu diatas pangkuannya.

            “Merindukan Appa, tidak?”

            “Hu-um.” Kepalanya mengangguk-angguk. Dan seperti biasa, dia meraba-raba wajah Kyuhyun dengan kedua telapak tangannya.

            Kyuhyun yang semakin merasa gemas mulai mengangkat Eunje hingga perut bocah itu sejajar dengan wajahnya dan dia mulai menghadiahi ciuman-ciuman yang mengeluarkan suara disana hingga tawa geli Eunje berderai.

            Seperti melupakan kelelahannya, Kyuhyun sudah bergelut senang diatas karpet itu dengan Eunje. Tertawa girang dan melakukan apapun yang bisa membuat putranya merasa senang dengan keberadaannya.

            “Jangan berisik, Hyunje masih tidur.”

            Eunje melirik kedepan dan Kyuhyun menoleh kebelakang untuk melihat Je Wo yang berjalan menuju kearah mereka.

            “Ini susumu.”

            Kedua tangan Eunje terulur kedepan penuh semangat menerima botol susunya. “Gomapta.” Celetuknya manis. Kyuhyun dan Je Wo terkekeh pelan bersamaan. Kyuhyun segera menyusun tiga buah bantal yang menghadap kearah pantai untuk Eunje agar dia bisa duduk menyandar disana menikmati susunya sambil melakukan kegiatan favoritnya.

            Kalau lidahnya sudah menyentuh ujung botol susunya, Eunje seperti lupa dengan dunianya. Dia tampak khusuk menikmati susu itu dengan kedua mata yang sendu memandang kearah laut.

            “Dia semakin besar saja.” Gumam Kyuhyun pelan selagi memandangi Eunje.

            Je Wo yang sudah berjongkok disamping Kyuhyun melirik pria itu. Lagi-lagi mendesah panjang menemukan wajah yang sudah tampak sangat letih. Dia bahkan memandangi Eunje dengan kedua mata yang hampir tertutup.

            Disentuhnya sebelah kelopak mata Kyuhyun dengan ibu jarinya hingga pria itu langsung memejamkan matanya. “Lihat, kau sudah sangat mengantuk. Tapi tetap saja bermain dengan Eunje.” ketika Je Wo menarik tangannya lagi, Kyuhyun kembali membuka matanya. “Pergi tidur disamping Hyunje. Hari ini tidak ada jadwal, kan?”

            Kepalanya mengangguk sekali. Seperti seorang bocah, Kyuhyun berdiri, melepas tas ranselnya dan menjatuhkan kebawah lalu disusul oleh jaket serta kausnya. Dia berjalan gontai menuju ranjang, mengeluarkan ponselnya lebih dulu dari jeans yang dia kenakan dan meletakkannya diatas meja. Setelah itu, jeans itu merosot begitu saja hingga hanya menyisakan sebuah boxer ditubuhnya.

            Kyuhyun menjatuhkan dirinya diatas ranjang dengan posisi menelungkup. Sejenak, dipandanginya Hyunje yang saat itu tidur dengan posisi miring kearahnya. Tubuhnya bergerak lambat kedepan, memberikan ciuman lama diatas dahi Hyunje sebelum kembali tenggelam diatas bantalnya. Dan sebelum matanya benar-benar tertutup, Kyuhyun meraih jemari Hyunje untuk digenggam.

            Pemandangan itu sungguh sangat manis sejujurnya. Tapi, melihat barang-barangnya yang berserakan diatas lantai membuat pemandangan manis itu sama sekali tidak menyentuh hati Je Wo. Dia bahkan ingin sekali meneriaki pria itu yang dengan seenaknya membuat kamarnya menjadi berantakan. Untung saja dia terlihat benar-benar lelah, kalau tidak, Je Wo tidak akan membiarkannya tidur dengan nyenyak.

 

 

***

 

Hey, mamacita! Naega ayayayaya

            Je Wo menggeram pelan dan menutup pintu kulkas dengan hempasan yang kuat. “Bocah itu benar-benar.” Rutuknya frustasi.

            Beberapa pelayan yang berada didapur sempat terkekeh melihat Je Wo merutuk kesal. “Eunje sangat pintar, ya, Nona.” Gumam mereka.

            “Pintar?” ulang Je Wo memastikan.

            Mereka mengangguk bersamaan. “Dia tahu kalau itu adalah lagu Tuan dan sangat menyukainya.”

            Je Wo menghembuskan napas lelah. “Tapi tidak harus sampai mendengarnya dengan volume sekeras itu, kan!” rutuknya lalu bergegas menuju ruang televisi untuk melakukan sesuatu.

            Didepan televisi, Eunje sudah berdiri diatas sofa dan menggoyang-goyangkan tubuhnya mengikuti irama lagu itu. Ditangannya ada sebuah remot televisi. Je Wo mencebik kuat melihat kedua mata bocah itu berbinar memandangi televisi yang menampilkan wajah Kyuhyun beserta saudara-saudaranya.

            Sejak Hyunje memperlihatkan MV terbaru Super Junior yang kebetulan ditayangkan oleh salah satu stasiun Televisi pada Eunje, bocah itu selalu saja tertarik setiap kali melihat tayangan itu ditelevisi. Dan sialnya, Eunje sangat tahu bagaimana menguatkan volume televisi atas kebaikan Hyungnya yang telah mengajari bocah itu. Setiap kali melihat lagu itu ditelevisi, Eunje selalu bergerak meraih remot untuk menguatkan Volume televisi sederas-derasnya dan meloncat senang sambil berteriak Appa! Entah itu ketika melihat Kyuhyun ataupun Eunhyuk.

            Yang lebih menjengkelkan lagi bagi Je Wo. Terkadang, kalau lagu itu telah habis, dia akan menangis dan meminta untuk mengulangi lagu itu. Bagaimaa mungkin lagu itu diulang terus menerus ditelevisi. Kalau sudah seperti itu, Je Wo terpaksa memutar lagu itu melalui DVD untuk Eunje.

            “Pelankan suaranya, Cho Eunje.” seru Je Wi setelah duduk disamping Eunje.

            Eunje tidak memedulikannya, tetap bergoyang-goyang dengan bibir tertawa lebar.

            Je Wo memutar bola matanya malas. Menyambar remot yang dipegang Eunje dan mengecilkan volumenya. “Telinga semua orang bisa sakit karena harus mendengar suara sekeras itu.” desisnya pada Eunje.

            Bibir Eunje mengerucut marah. “Appa!!!!” teriaknya dengan lengkingan kuat sampai dahi Je Wo berkerut menahan suara lengkingan itu. Eunje menghempaskan bokongnya keatas sofa, lalu dengan mengeluarkan rengekannya, dia menendang-nendangkan kedua kakinya kedepan.

            “Haish! Sampai kapan kau terus seperti ini kalau sedang merajuk.” Rutuk Je Wo kesal.

            “Appa! Appa! Appa! Mau Appa!” teriak Eunje sekeras-kerasnya.

            Je Wo tetap pada pendiriannya menahan remot itu dan menatap Eunje dengan kedua mata menyipit. “Itu, Eunje-ya. Lihat, disitu masih ada Appa.” telunjuknya mengarah pada televisi yang memang masih menampilkan sosok pria-pria yang berlakon aneh baginya.

            “Tidak dengal, Ommaaaaaa.”

             “Cih, Omma saja bisa mendengar suaranya.”

            “HUWAAAAAAAA.”

            Dengan kedua mata menutup dan wajah memerah, lalu kedua kaki yang berhenti menendang-nendang. Eunje memekik kuat dengan tangisannya. Sudut-sudut matanya mengeluarkan air mata yang sangat banyak.

            Je Wo sudah terlalu kebal dengan tingkah Eunje yang satu ini. Setiap ada keinginannya yang tidak terpenuhi maka dia akan mengeluarkan cara terakhirnya untuk menang. Meski terkadang dia kasihan melihat air mata Eunje yang selalu saja keluar dengan derasnya setiap kali menangis, tapi Je Wo berusaha untuk tetap tenang demi mendidik bocah itu agar tidak terbiasa selalu mendapatkan apa yang dia mau.

            “Baiklah… Omma minta maaf, oke? Masih terlalu pagi, sayang. Orang-orang yang masih tidur bisa terganggu kalau mendengar suara sekeras itu.” Ujarnya mencoba membujuk. Dia berusaha menyentuh Eunje untuk menggendongnya tetapi bocah itu menepisnya dan lebih memilih berguling-guling diatas sofa sambil menangis.

            Je Wo memijat pelipisnya pelan. Dia memang tidak suka mendengar tangisan Eunje. Dibandingkan Hyunje ketika kecil, tangisan Eunje memang sangat parah. Eunje juga sangat sensitif dan mudah menangis. Maka itu, kalau Hyunje sudah mulai berulah mengganggu Eunje sampai menangis, maka Hyunje harus siap dengan omelan darinya.

            “Es krim saja bagaimana?” tanya Je Wo dengan suara cukup keras agar dia mendengarnya.

            Tangisannya sedikit mereda dan dia mulai menghentikan aksi gilanya berguling kesana kemari. Ditatapnya Je Wo melalui genangan air matanya dipelupuk mata. “Es klim?”

            “Yup. Kau mau?”

            Eunje mengangguk berkali-kali hingga Je Wo tersenyum puas. Akhirnya dia berhenti menangis. Je Wo menekan tombol power hingga televisi beserta lagu itu mati seketika. Diaraihnya Eunje keatas pangkuannya, lalu dengan lembut Je Wo menyeka air mata Eunje.

            “Aigo… bagaimana bisa kau menangis dan mengeluarkan air mata sebanyak ini.” rutuknya. “Lihat, matamu menjadi bengkak seperti beruang yang menyeramkan.”

            “Es klim, Omma.” pintanya.

            “Oke.”

            Je Wo menggendongnya dan membawanya pergi menuju dapur. Tapi ketika baru berjalan beberapa langkah, Je Wo menangkap dua sosok laki-laki yang berjalan beriringan diatas tangga dengan wajah sayu khas bangun tidur. Hyunje dengan piyam tidurnya dan Kyuhyun dengan boxer beserta kaus polos yang mungkin dia pakai sebelum turun kebawah.

            Melihat mereka berdua, Je Wo benar-benar menyadari kemiripan yang ada pada mereka. Cara mereka menguap, menggosok mata dan wajah Innocent mereka. Benar-benar persis.

            “Appa!!!!”

            Eunje sepertinya menyadari apa yang sejak tadi dipandangi oleh Je Wo. Dia meronta-ronta dalam gendongan Je Wo dengan kedua tangan yang terulur kedepan seperti meminta pada Kyuhyun untuk cepat mengambilnya.

            “Heish, kalau sudah melihat dia kau pasti melupakan segalanya.” omel Je Wo.

            Kyuhyun mendekati mereka, lalu mengambil Eunje yang bersorak girang. Kemudian pria itu menyadari sesuatu dari kedua mata Eunje yang bengkak dan memerah. “Dia baru saja menangis?” tanya Kyuhyun pada Je Wo.

            Wanita itu hanya mengangguk malas.

            “Kenapa?”

            “Memangnya kau tidak dengar seluruh rumah ini hampir saja hancur karena dia menonton lagu barumu dengan volume yang mencapai titik maksimal?”

            “Lagu baruku?” ulang Kyuhyun.

            “Mamacita yayayaya.” Celetuk Eunje.

            “Eh?” Kyuhyun berjengit terkejut. Memandang takjub pada Eunje yang baru saja menyanyikan lagunya. “Woahhh kau menyukainya?”

            Je Wo tidak perlu menunggu lebih lama lagi untuk melihat sifat akut percaya diri Kyuhyun yang sebentar lagi akan terlihat dengan membanggakan diri dihadapan Eunje. Dia berniat meninggalkan mereka berdua, tapi melihat Hyunje yang berdiri dengan wajah yang masih tampak mengantuk, apa lagi tidak menyadari hal disekelilingnya, membuat Je Wo memilih menghampiri bocah itu.

            Je Wo mensejajarkan dirinya dihadapan Eunje yang hampir saja kembali tidur dalam posisi berdiri. “Tuan Muda Cho Hyunje?” panggil Je Wo.

            Hyunje membuka matanya terkejut dan hampir membuat Je Wo tertawa. “Eum, ya?” jawabnya dengan suara serak.

            “Kau sudah mandi?”

            “Belum.”

            “Lalu kenapa sudah turun kebawah? Masih memakai piyama lagi. Kau mau Omma melakukan hal yang sama seperti bulan lalu?”

            Kini wajah mengantuk Hyunje sirna seketika. Dia menatap Je Wo penuh antisipasi. “ANDWE!” teriaknya berlebihan dan mampu menyedot perhatian Kyuhyun.

            Je Wo tersenyum manis padanya. Sebuah senyuman yang begitu dibenci Hyunje karena senyuman itu benar-benar penuh peringatan. “Kalau begitu cepat kembali kekamarmu dan mandi. Bukankah Omma sudah pernah bilang kalau kau harus mandi sebelum keluar dari kamarmu.”

            Hyunje mendengus malas lalu tidak sengaja melirik Eunje. “Lihat, Eunje saja belum mandi. Dan dia sudah boleh keluar dari kamar walaupun belum mandi. Tapi kenapa aku tidak boleh? Omma tidak adil. Ini namanya deskrimi, mi, mi…” kedua ujung alis Hyunje menyatu ketika dia berpikir keras. “Apa itu namanya, Omma? Bahasa lain tidak adil yang dikatakan Harabe waktu itu.”

            Kyuhyun memutar bola matanya malas. “Deskriminasi, bodoh.”

            “Nah! Itu, dia. Des-kri-mi-na-si.” Pekiknya dengan wajah angkuh.

            Je Wo mengumpat pelan dalam hati. Mengumpat kepintaran Hyunje yang mudah sekali memutar balik keadaan dan juga mengumpat omongan Kyuhyun didepan putranya. Dia masih sangat ingat dengan jelas ketika guru sekolah Hyunje memanggilnya kesekolah untuk membicarakan mengenai bahasa kasar yang kerap kali Hyunje lontarkan pada teman-temannya ketika dia sedang merasa kesal.

            Bodoh. Tidak berguna. Idiot. Diam kau. Aku akan membunuhmu. Tolol. Sialan. Dan beberapa bad word lainnya yang sungguh membuat Je Wo malu bukan main. Ya, dia sadar itu semua kesalahannya dan Kyuhyun yang terlalu sering mengumpat satu sama lain didepan Hyunje sampai-sampai bocah itu sudah terlalu hapal semua umpatan itu.

            “Cho Kyuhyun, language, please?” tegur Je Wo dengan cara yang manis tapi tidak dengan kedua matanya.

            Kyuhyun tersadar dan segera tersenyum lebar. “Maaf. Aku lupa.”

            “Omma baru saja bilang apa?” tanya Hyunje ingin tahu.

            Je Wo mendesis pelan menatapnya. Tidak bisakah dia mengurangi kadar keingintahuannya sedikit saja. Selalu saja menanyakan hal-hal baru yang dia lihat dan tidak dia mengerti. “Tidak ada. Cepat mandi.”

            “Ah… nanti saja, ya.” Rengeknya. Lalu memilin-milin lengan kaus yang Je Wo pakai.

            “Sekarang, Cho Hyunje.”

            “Tapi Eunje dan Appa juga masih belum mandi.”

            “Biarkan saja mereka.”

            “Tidak mau. Kalau Appa dan Eunje belum mandi, aku juga tidak mau mandi.” Demi keselamatan telinganya dari amukan Je Wo. Hyunje sudah melesat kebalik tubuh Kyuhyun untuk berlindung dan memerkan senyuman mengejeknya.

            Je Wo berkacak pinggang dihadapan mereka. “Yah, kau pikir Omma takut pada Appa? Apa kau lupa siapa yang paling berkuasa dirumah ini, huh?”

            Hyunje mengangkat bahunya tidak peduli, Eunje memeletkan lidahnya pada Je Wo seakan-akan masih menyimpan kekesalan pada Ibunya. Dan Cho Kyuhyun hanya melemparkan tatapan datarnya pada wanita itu.

            “Hei, kau tidak sadar, ya. Kami bertiga dan kau sendiri. Kami laki-laki dan kau wanita. Jika saja kami mau, kau akan sangat mudah untuk dikalahkan.”

            “Oh, ya? Lalu kemana saja kalian selama ini, hm?” tantang Je Wo berusaha mengingatkan kalau selama ini merekalah yang selalu ditindas olehnya.

            Kyuhyun berdehem pelan berusaha menjaga harga dirinya. “Kami hanya kasihan padamu saja, Nyonya Cho. Jangan terlalu percaya diri.”

            Kepala Je Wo mengangguk-angguk khitmat. “Baiklah,” dia menepuk tangannya sekali. “Hei!” panggilnya pada salah satu pelayan yang kebetulan melintasi mereka.

            “Ya, Nona?”

            “Bisakah kau membantuku sebentar.”

            “Tentu.”

            “Tolong pergi kekamarku. Ambil tiga buah PSP didalam laci.  Lalu pergi kekamar Hyunje dan lakukan hal yang serupa. Kau tahu dimana tempatnya, kan?”

            Pelayan itu melebarka kedua matanya sejenak lalu melirik Kyuhyun dan kedua putranya dengan wajah kaku. Sementara kedua laki-laki yang sejak tadi mendengarkan Je Wo mulai tampak pucat.

            “Dan setelah itu, bersihkan kaset-kaset yang tidak penting dirumah ini. Seperti kaset kartun,” Je Wo melirik Hyunje yang menahan napasnya. “Playstation. Dan beberapa koleksi album boyband yang sudah terlalu lama disimpan.”

            “Ta-tapi, Nona. Bukankah_”

            “Sekarang!” perintah Je Wo tegas.

            Pelayan itu mengangguk patuh dan bergegas pergi. Disusul teriakan histeris oleh Kyuhyun dan Hyunje yang mulai berlarian menyelamatkan benda-benda berharga mereka. Mereka tahu Je Wo tidak pernah main-main dengan kalimatnya. Seperti beberapa waktu yang lalu ketika Ayah dan anak itu berulah. Mereka sudah mempunyai janji dengan kedua orangtua Kyuhyun untuk mendatangi mereka dikediamannya. Tapi karena Kyuhyun dan Hyunje terlalu asik bermain Playstation, mereka serempak menolak dan menyuruh Je Wo pergi bersama Eunje saja.

            Je Wo yang merasa kesal segera menitipkan Eunje pada Kim Ahjumma, lalu mengambil sebuah kotak untuk mengumpulkan seluruh benda-benda keramat Kyuhyun dan Hyunje. Dan ketika dimalam hari, Ayah dan anak itu tampak cemas mencari benda-benda milik mereka yang lenyap entah kemana.

            Kalau saja salah satu pelayan tidak membuka mulutnya dan memberitahu pada mereka. Semua benda-benda itu pasti akan beralih ketempat pembuangan sampah karena Je Wo sudah memasukkan kotak itu kedalam tempat sampah yang keesokan harinya akan segera diangkut oleh petugas kebersihan.

            “Mandi yang bersih, Cho Hyunje! Kau bisa sekalian memandangikan Eunje, kan, Tuan Cho?” teriak Je Wo dengan senyuman puas dibibirnya.

 

***

 

 

“Sarapan pagi untuk Kyuhyun dan Hyunje sudah selesai?”

            Pelayan yang bertugas memasak didapur rumahnya mengangguk sopan. Je Wo berterimakasih padanya dan mempersilahkan pelayan itu untuk beristirahat. Sudah pukul sembilan pagi memang, tapi Kyuhyun dan Hyunje baru saja bangun dan mereka tetap harus mengisi perut mereka. Je Wo dan Eunje sudah lebih dulu sarapan karena mereka bangun lebih awal.

            Mengingat ketiga laki-laki itu masih belum turun meski sudah hampir tiga puluh menit diatas sana, Je Wo bergegas memeriksa keadaan mereka. Je Wo tahu Kyuhyun adalah pria dewasa dan seharusnya dia tidak perlu mencemaskan kedua putranya ditangan Kyuhyun. Tapi, mengingat kadar kekanakan Kyuhyun juga setara seperti Hyunje, Je Wo wajib mawas diri.

            Mula-mula Je Wo memeriksa kamar Hyunje, tapi tempat itu terlihat kosong. Kamar mandinya juga kosong. Kemudian Je Wo memeriksa kamarnya dan lagi-lagi menemukan hal serupa. Setelah itu, dia bergegas menuju kamar mandi miliknya dan Kyuhyun.

            “Mereka mandi bersama?” gumamnya memandang pintu kamar mandi itu. Sebuah senyuman kecil terukir dibibirnya. Dia hampir pergi kalau saja tidak mendengar suara Hyunje yang membuatnya merasa janggal.

            “Woahhhh besar sekali, Appa. Bagaimana cara Appa melakukannya?”

            “Mudah saja. Seperti ini.”

            Dahi Je Wo berjengit. Dia merasa penasaran tentang apa yang dibicarakan Hyunje. Perlahan, dia mendekati pintu dan menempelkan telinganya disana.

            “Besallll.” Kali ini suara Eunje yang tertawa geli.

            “Appa, kenapa aku sulit sekali membuatnya semakin membesar?”

            “Eh,” gumam Je Wo yang mulai merasa ada yang tidak beres dari percakapan itu. “Apa yang mereka bicarakan?”

            “Ajari aku, Appa. Ya, ya, ya?”

            “Baiklah. Begini, kau harus konsentrasi, oke? Tarik napasmu kuat-kuat agar saat membuatnya semakin besar, kau tidak kehilangan napasmu.”

            “Begini?”

            “Ya, begitu.”

            “Ck, gagal lagi! Sulit sekali.”

            “Karena kau masih kecil. Hanya orang dewasa yang bisa melakukannya.”

            Kedua mata Je Wo membulat sempurna. “Bagaimana bisa dia mengajari Hyunje dengan hal-hal seperti itu. Pria ini benar-benar!” rutuknya. “CHO KYUHYUN!!!” teriaknya sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi dengan beringas. “Yah, buka pintunya! Apa yang kau lakukan didalam sana dengan mereka?! Kau sudah gila, huh?!” kedua tangan Je Wo semakin keras menggedor-gedor pintu kamar mandi itu sampai akhirnya muncullah sosok Kyuhyun yang hanya memakai sebuah handuk disekitar pinggangnya. Pria itu menatapnya kesal.

            “Ck, apa?”

            “Apa yang kau lakukan?!” bentak Je Wo galak.

            “Mandi.” Jawab Kyuhyun ringan.

            Mata Je Wo menyipit cepat, diliriknya kebelakang tubuh Kyuhyun. Hyunje berada didepan cermin dengan bantuan sebuah bangku yang entah dari mana dia dapatkan. Bocah itu terlihat berusaha keras membuat gelembung dari bus pasta gigi yang berserakan dibibirnya. Persis seperti Kyuhyun, tubuhnya telah dililit handuk putih.

            “Oh…” Gumam Je Wo pelan.

            “Memangnya kau pikir aku melakukan apa?” selidik Kyuhyun.

            Wanita itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat. “Tidak ada.” Kilahnya. Setelah itu, Je Wo cepat-cepat mengambil Eunje yang berdiri diatas lantai dan membawanya kekamar. Diam-diam dia tersenyum geli karena sudah mengira Kyuhyun mengajarkan hal yang aneh-aneh pada mereka berdua.

            Selagi Je Wo memakaikan pakaian pada Eunje, Kyuhyun masuk kedalam kamar untuk berpakaian.

            “Pakaianku, mana?” tanya Kyuhyun yang telah berdiri disamping Je Wo masih dengan memakai handuk.

            Sekilas, Je Wo meliriknya kesal. “Lemarimu ada dimana?”

            “Disana.” Telunjuk Kyuhyun mengarah pada lemarinya.

            “Kalau begitu kenapa masih tanya. Tentu saja pakaianmu ada didalam lemarimu.”

            “Kau tidak menyiapkan pakaianku?”

            “Kau pikir aku pembantumu.”

            “Yah, Nyonya Cho. Kau tidak adil. Pakaian Eunje saja kau siapkan, masa pakaianku tidak. Biasanya kau selalu menyiapkannya kalau aku bekerja.”

            Belum sempat Je Wo membalas ocehan tidak bermutu dari suaminya. Suara menyebalkan lainnya turut membuat telinganya sakit.

            “OMMAAAAAAAAAAA!” Hyunje berlari tergesa-gesa memasuki kamar itu dengan hanya memakai celana dalam. Dia membawa beberapa pakaian ditangannya. “Hari ini aku pakai yang ini atau yang ini?” kedua tangannya mengibas-ngibaskan kedua pasang baju yang dia bawa.

            Je Wo menarik napas beratnya. “Yang sebelah kiri saja.” Jawabnya mencoba bersabar.

            “Oke.” Hyunje mendekatinya, lalu meletakkan pakaian itu diatas pangkuannya. “Pakaikan, ya, Omma.”

            “Eh, tidak bisa. Omma harus menyiapkan pakaian untuk Appa. Lagi pula, kau kan sudah bisa memakainya sendiri. Sana, kembali kekamarmu.” Usir Kyuhyun pada Hyunje.

            Bocah itu menatap datar pada Ayahnya. “Tidak malu, sudah besar masa tidak bisa mencari pakaian sendiri.”

            “Bukannya tidak bisa, tapi itu memang pekerjaan Omma.”

            “Bilang saja Appa memang pemalas.”

            “Yah!”

            “Kata Halmeoni, sifat malas itu tidak baik. Bisa membuat otak menjadi bodoh. Nah, Appa pasti bodoh. Hahaha.”

            “Cho Hyunje, kau_ AKKHHH!” Kyuhyun menjerit kesakitan saat Je Wo tiba-tiba berdiri dan menjewer telinganya.

            Melihat wajah Kyuhyun yang menyedihkan, Hyunje tertawa terpingkal-pingkal. Tetapi hanya sesaat karena Je Wo segera menyambar telinga bocah itu juga.

            “AKKHHH!”

            “Kalian pikir kalian itu siapa, huh? Berani sekali memerintahku. Kau, Cho Kyuhyun! Lemari pakaian hanya berjarak beberapa langkah dari kakimu tapi kau tetap menyuruhku menyiapkan pakaianmu? Aku-bukan-pembantumu.” Je Wo menguatkan tekanan pada jewerannya ditelinga Kyuhyun.

            “Yah, Nyonya Cho, lepaskan telingaku!” jeritnya kesakitan.

            “Dan kau, Cho Hyunje! Apa Omma juga harus kembali mengajarimu memakai pakaianmu sendiri, huh? Kau itu sudah besar!”

            “Aku masih kecil, Omma. Yang sudah besar itu Appa. Marahi Appa saja.”

            “Benar-benar!”

            “Huwaaaaa Ommaaaaaa telingaku, telingakuuuuuuuuu.”

            Setelah Je Wo memberi pelajaran pada Ayah dan anak yang merepotkan itu, dia kembali melanjutkan kegiatannya memakaikan pakaian Eunje. Bocah itu tersenyum-senyum menatap Ayah dan kakaknya yang kompak memakai pakaian disudut kamar dengan bibir mengerucut dan sebelah kuping yang sama merahnya.

            Setiap kali kekehan Eunje terdengar, maka desisan kompak Kyuhyun dan Hyunje juga terdengar. Tapi, desisan itu kontan berhenti kalau Je Wo menoleh pada mereka.

            “Selesai.” Gumam Je Wo riang memandang Eunje yang sudah tampak rapi dan harum. Dia menunduk untuk menghirup wangi bedak yang menempel diwajah putranya. “Eunje-ya, kau satu-satunya harapan Omma. Kalau kau besar nanti, tolonglah menjadi normal. Jangan seperti mereka yang selalu menyusahkan, oke?” bisiknya pelan.

            “Oke.” Sahutnya bersemangat sambil tersenyum manis.

            Je Wo mengalihkan pandangannya kepada dua laki-laki yang lainnya. Bibirnya kontan mengulum senyum saat dilihatnya Kyuhyun yang sudah memakai pakaiannya, berjongkok untuk memasangkan kancing-kancing kemeja Hyunje. Wajah Kyuhyun terlihat sangat serius dan Hyunje sendiri tampak menikmati momen itu. Kalau dipikir-pikir, jarang sekali Kyuhyun memakaikan pakaian untuk Hyunje.

            “Akur sekali.” Sindirnya.

            Kyuhyun dan Hyunje serentak menoleh padanya. Tapi, mereka cepat-cepat memalingkan wajah bersamaan. Kekesalan mereka pada Je Wo masih belum hilang seperti rasa panas ditelinga mereka.

            “Memangnya cuma Omma saja yang bisa memakaikan pakaian pada Eunje. Appaku juga bisa melakukannya untukku.” ketus Hyunje membanggakan Kyuhyun. Bahkan, Kyuhyun turut menimpalinya dengan senyuman miring yang diperuntukkan pada Je Wo.

            Tapi Je Wo hanya terkekeh pelan dan membiarkan mereka berdua. Lebih memilih membawa Eunje keluar dari sana. Lagi pula, sebentar lagi pujian Hyunje pada Kyuhyun juga akan lenyap. Seperti tidak tahu mereka berdua saja. Mana mungkin bisa akur terlalu lama.

 

***

 

 

Rain rain go away.

Come again another day.

Little Hyunje wants to play.

Rain rain go away.

            “Eunje!”

            “Hyunje.”

            “Eunje, Hyung!”

            “Enak saja. Yang menyanyi, kan, aku. Tentu saja aku menyebut namaku. Kalau kau mau, menyanyi saja sendiri.” Hyunje memeletkan lidahnya pada Eunje lalu tersenyum puas. “Kenapa? Kau tidak bisa bernyanyi, kan? Hahaha. Maka itu, cepat besar agar bisa sekolah sepertiku. Cih, menyanyi saja tidak bisa. Dasar payah.”

            Lalu suara berisik akibat percekcokan kecil Kakak dan Adik itu kembali terdengar. Je Wo yang berkutat dengan ponselnya memutar bola matanya malas. Suara televisi, nyanyian Hyunje dan pekikan Eunje adalah sebuah kolaborasi yang sangat sempurna.

            Diambilnya remot yang sejak tadi berada dalam kuasa Hyunje lalu menekan tombol power dan matilah televisi itu. Hyunje sontak menoleh terkesiap menatap televisi, lalu sibuk mencari-cari remotnya yang berada pada Ibunya.

            “Omma, kenapa dimatikan?!” protesnya.

            “Memangnya kenapa? Masih mau menontoh, hm?” balas Je Wo. “Omma pikir kau lebih tertarik mengganggu Eunje dari pada menonton.”

            “Ck, tadi kan masih iklan. Jadi, lebih baik mengganggu Eunje dari pada aku bosan.”  Urainya tanpa rasa bersalah.

            “Kau ini! Sudah berapa kali Omma bilang jangan sering merecokinya. Kau bisa melakukannya, kan?” kepala bocah itu menggeleng ringan. “Yah!”

            Hyunje tertawa geli dan sialnya lagi Eunje turut melakukannya. Membuat Je Wo semakin merasa kesal. Bocah itu juga sama saja ternyata. Apa dia tidak tahu kalau Je Wo berniat membelanya.

            “Ada yang mau es krim?” Kyuhyun tiba-tiba saja muncul dengan membawa sekotak es krim ditangannya.

            “Aku, aku, aku mau Appaaaaaa.”

            “ES KLIM!”

            “Tidak! Itu punyaku.”

            Hyunje sudah mulai mencoba mengambil langkah awal dengan menghampiri Kyuhyun dan mencoba menggapai kotak es krim itu. Tapi Kyuhyun segera mengangkat kotak es krimnya tinggi-tinggi.

            “Bocah tengil! Kau semakin serakah saja. Berbagi dengan Eunje.” ucapnya tajam.

            “Tidak mau.”

            “Kalau begitu Appa berikan saja es krim ini untuknya.”

            Hyunje merengut. Diliriknya Eunje yang juga sudah ikut berdiri dan meloncat-loncat melihat kotak es krim itu. Dengan berat hati dia akhirnya mengangguk. Barulah Kyuhyun menyuruh keduanya duduk berhadapan dan meletakkan sendok es krim itu ditengah-tengah mereka berdua.

            “Appa hanya membawa satu sendok. Jadi, makanlah secara bergantian dan kau, Hyunje Hyung,” Kyuhyun sengaja menyebut nama Hyunje seperti itu didepan Eunje agar bocah itu semakin terbiasa. “Suapi adikmu. Kau mengerti?”

            “Yes, sir!”

            Kyuhyun tersenyum puas. Setelah merasa aman meninggalkan mereka berdua, barulah dia duduk diseblah istrinya yang semakin larut berkutat dengan ponselnya entah melakukan apa. Kyuhyun memanjangkan lehernya demi mengintip kedalam layar ponsel itu. Tapi Je Wo cepat-cepat mendorongnya menjauh, tanpa sekalipun melirik pada Kyuhyun.

            “Pelit sekali.” rutuk Kyuhyun.

            “Kalau aku pelit, lalu bagaimana dengan putramu?”

            Kyuhyun tidak mengerti maksud perkataan Je Wo. Tapi, ketika dia menatap kembali pada kedua putranya dan memerhatikan mereka lekat-lekat. Sontak pria itu memekik kuat. “Ya, Cho Hyunje! Kenapa kau hanya menyuapinya sedikit sekali?!”

            Je Wo terkekeh kecil disampingnya. Seperti sudah terlalu terbiasa dan hapal dengan segala tingkah laku mereka berdua. Tanpa melihatpun Je Wo sudah tahu kalau Hyunje pasti akan menyuapkan satu sendok penuh es krim kedalam mulutnya, sedangkan untuk Eunje, dia hanya akan mencolek ujung sendok itu kedalam kotak es krim dan menyuapi adiknya.

            Jadi, hari ini Kyuhyun sudah mempelajari satu hal. Jangan pernah menyuruh Hyunje berbagi karena sampai langit runtuhpun, bocah keras kepala itu tidak akan pernah mau melakukannya. Karena itu, kalau mau memberikan mereka makanan, mainan atau apapun. Berikan masing-masing satu pada keduanya.

            “Sayang, kenapa Hyunje menjadi pelit seperti itu? Seperti Eunhyuk Hyung saja.” Rutuk Kyuhyun pada istrinya. Masih memandang Hyunje dan Eunje dengan pandangan frutasi.

            Je Wo meletakkan ponsel kesamping tubuhnya. “Salahkan saja Ayah dan Ibumu.” Gumamnya pelan. Kyuhyun menatap tidak mengerti padanya. “Abeonim tidak pernah bisa mengatakan tidak padanya. Seluruh keinginannya pasti dipenuhi oleh Abeonim. Lihat saja seluruh tumpukan mainannya. Hanya satu persen yang berasal darimu, selebihnya berasal dari Ayahmu. Lalu Ommeonim. Meski tidak seperti Abeonim yang memanjakannya dengan semua benda-benda favoritnya, tapi Ommeonim selalu membelanya dan setiap kali Hyunje berbuat salah, Ibumu selalu melarangku memarahinya dengan alasan, Hyunje masih kecil, wajar saja dia berbuat nakal.”

            Kyuhyun mendesah pelan. Kalau hal itu dia memang sudah tahu. Dia juga tidak mengerti mengapa Ayah dan Ibunya menjadi seperti itu. Baiklah, kalau Ibunya masih wajar karena saat Kyuhyun kecilpun, Ibunya memang selalu memanjakannya. Tetapi, Ayahnya? Demi Tuhan! Pria itu sangat tegas dan selalu saja mengomelinya setiap kali dia berbuat nakal. Tapi, kenapa pada Hyunje dia tidak melakukannya. Malah memperlakukan Hyunje seolah-olah Hyunje tidak boleh disentuh oleh siapapun.

            “Aku juga tidak mengerti kenapa Appa lebih menyayangi Hyunje dibandingkan aku.” Keluhnya dengan nada kesal.

            “Karena kau tidak semanis putraku.” Celetuk Je Wo.

            Kyuhyun menatapnya dengan kedua mata menyipit. “Apa tadi katamu?”

            “Tidak ada.” Kilah Je Wo. tadinya dia bermaksud untuk mengambil ponselnya lagi. Tapi tiba-tiba saja Kyuhyun menarik lengannya hingga dia terpekik tertahan dan mendarat diatas pangkuan suaminya. “Ya_”

            “Sst! Kau mau anak-anak melihat kita seperti ini.” bisik Kyuhyun disertai senyuman miringnya.

            Je Wo melirik sekilas pada Hyunje dan Eunje yang masih tampak sibuk melahap es krim mereka. Lalu Je Wo memelototi Kyuhyun penuh ancaman. “Tentu saja tidak. Dan cepat turunkan aku.”

            Pria itu hanya terkekeh pelan. Lalu diam-diam, dibawanya pergi tubuh Je Wo dalam gendongannya. Meski wanita itu mengumpat-umpat pelan karena tidak mau anak-anak mereka mendengarnya, lalu menggigit bahu serta menjambak rambut Kyuhyun. Pria itu tetap tidak menghentikan langkahnya.

            Kyuhyun membawa Je Wo memasuki dapur yang saat itu sedang dalam keadaan ramai karena pelayan-pelayan baru saja membersihkan tempat itu. “Aku minta kalian semua meninggalkan tempat ini.” serunya tegas.

            Wajah Je Wo memerah melihat tatapan terkejut, canggung dan terpesona pelayan-pelayan mereka melihat Kyuhyun yang datang dengan menggendong dirinya. Apa lagi sekarang Je Wo sudah melingkarkan lengannya dileher Kyuhyun karena tadi Kyuhyun sempat berpura-pura ingin menjatuhkannya.

            Dalam hitungan detik, tempat itu sudah kosong. Je Wo melihat seringaian kepuasaan dibibir suaminya. Dan setelah Kyuhyun menurunkan tubuhnya, Je Wo segera menghadiahi kepala Kyuhyun dengan pukulan kuat.

            “AW!”

            Wanita itu tersenyum bengis. “Sakit, ya, Tuan Cho? Atau kau mau aku melakukannya sekali lagi, huh?”

            Telapak tangan Kyuhyun mengusap-usap kuat kepalanya yang terasa pusing. “Kau sadis sekali, Shin Je Wo. sudah berapa kali kau melakukan kekerasan padaku sejak tadi. Telingaku, kepalaku. Setelah ini apa lagi?!”

            “Bagaimana dengan Little Cho?” tantang Je Wo

Kyuhyun menghentikan usapannya, melirik Je Wo sejenak, lalu mendengus jengah. “Lakukan saja kalau kau berani. Tapi jangan menangis padaku kalau tidak ada yang bisa memuaskanmu selain little Cho.”

“Diluar sana masih banyak yang lebih baik dari pada milikmu. Lagi pula, aku sudah bosan dengan little Cho. Begitu-begitu saja. Apa hebatnya?”

Ucapan Je Wo membuat Kyuhyun tiba-tiba saja menatap serius padanya. Ditatapnya wanita itu dengan sedikit geraman.

“Apa?” ketus Je Wo.

“Begitu-begitu saja?” ulang Kyuhyun.

“Haruskah kukatakan dua kali?” balas Je Wo.

“Apa hebatnya?” sekali lagi, Kyuhyun mendesis tajam. Saat pria itu tersenyum mengerikan, senyuman yang menyerupai senyuman iblis. Je Wo menegak ludahnya berat. Alaram berbahaya menyala-nyala didalam kepalanya.

“Er… Cho Kyuhyun. Aku harus melihat Hyunje dan Eunje dulu. Mungkin mereka bertengkar lagi sekarang. Oke?” Je Wo mulanya sudah berbalik, tetapi Kyuhyun kembali menarik lengannya kuat hingga tubuhnya bertabrakan diatas tubuh suaminya.

“Mau kemana, hm?” bisik Kyuhyun berbahaya.

“Ma-mau apa kau?”

“Apa lagi memangnya? Aku akan membuktikan kehebatanku padamu, yang kau bilang begitu-begitu saja itu.”

“Ta-tapi, kan… sekarang masih terlalu pagi.”

“Apa bedanya?” Kyuhyun menyambar bibir Je Wo. Menciumnya keras-keras sampai Je Wo memukul-mukul dadanya karena tidak suka. Tapi yang dilakukan pria itu adalah tersenyum puas disela-sela ciumannya. Mungkin dapur tidak begitu buruk untuk menjadi tempat bercinta baginya dan Je Wo.

 

FIN.

 

 

 

274 thoughts on “Have A Happy Morning

  1. Huaaaa,,,bner” kluarga yg harmoniss mskipunn sllu ad prtengkaran” kcilll,,,tpii hebat feel nya dpet bgtt,,,yg bcaa jdi ikutann ktawa” sendrii,,,suka bgtt ma karakter kyu ma je wo nya,,,daebakk thor

  2. aaaah udah lama ga mampir kesini dan sekalinya mampir ffnya joss banget daaah😀
    makin lama aku makin suka sama eunjae momeeennnnt ya ampunn eunjae imut banget sukaa😀

  3. Anak-anak Kyuhyun dan Je Won ngegemesinnya minta ampun…Thumbs up Eonni….
    Gini nih kehidupan rumah tangga impian…Meskipun ada pertengkaran gak dibesar2kan jadi tetap akur…Omo!!Likelah eon….🙂

  4. Iseng nyari ff kyu digoogle n nemu blog ini, udh lama gak pernah berkunjung keblog ini. Dan ijin baca, mulai suka sm genre yg family2 gitu, disini je wo peranny galak dikit2 romantis, dikit2 galak.

  5. Ping-balik: SAY NO TO PLAGIAT |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s