FF Contest – Mianhae

image

Judul : Mianhe

Author : Anty Budiman

Rating : PG-13

Genre : Comedy, Family, romance.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

 

Cho Eunje mengunyah cemilan didalam mulutnya tanpa ampun. Sudah sedari tadi anak ini duduk diam dengan tangan yang tak hentinya bergerak memberi asupan pada mulutnya. Matanya menyipit tajam, fokus  dan awas. Seolah mewaspadai sesuatu. Gerakan mulutnya mulai melambat didetik berikutnya. Tangannya bergerak meremas kemasan snack, membuangnya kesembarang tempat, lalu kembali memfokuskan pandangannya pada objek yang diawasinya sejak tadi.

“Baiklah. Sekarang kita lihat, apa kau tetap tidak akan mendengarkanku?”Eunje menyipingkan mata, melenturkan otot-otot jarinya, lalu sedetik kemudian bangkit dari posisinya.”YAH…CHO HYUNJE BANGUN KAU !”Eunje melompat keatas punggung Hyunje yang tengah tertidur pulas dengan posisi tengkurap,berteriak keras tepat ditelinganya, lalu melompat-lompat ringan setelahnya agar Hyung-nya itu segera terbangun. Eunje merasa kesal. Sudah sejak tadi ia berusaha membangunkan Hyunje, namun yang dibangunkan seolah tak peduli, ia malah menyembunyikan wajahnya dibawah bantal dan kembali hanyut dalam tidurnya..

“Ch, cho, Eu, eunn, Jjae…ap-paa, ya, yang, kka,kau, lak, kkuk, kaaaan ?”Hyunje membuka mata begitu merasakan beban berat menindih tubuhnya. Ia sulit untuk bernapas, bahkan mengucapkan sepatah katapun terasa sulit dilakukannya.

“Hm? Kau bilang apa, Hyung?”Eunje memasang wajah super polos, memajukan telinganya sedikit kedepan bertingkah seolah-olah tak mendengar perkataan Hyunje. Padahal sebenarnya ia mendengar dan sangat mengerti.

Cho Hyunje mengibas-ngibaskan tangannya diudara, memberi isyarat agar Eunje segera turun dari punggungnya.

“Apa? Aku tidak mengerti hyung…”Eunje membekap mulutnya menahan tawa,

“Tu, turun… bodoh!”

“Apa?”

“Tu, run.”

Eunje menghempaskan tubuhnya kesamping, berguling kekiri dan kekanan memegangi perutnya sambil tertawa.”Huahahahahaha, Hyung kau…” Tapi seketika tawanya terhenti begitu mendapat lirikan tajam dari Hyunje yang kini telah duduk bersila menghadapnya. Kakaknya itu seolah meminta penjelasan.

“Aku tadi sudah menggunakan cara yang halus Hyung, tapi kau tak mempedulikanku. Yah… terpaksa aku pakai cara kasar.” jelas Eunje dengan senyum bocah.

“Keluar!”

“Shiro.”

“Cho Eunje!” Hyunje menatap Eunje penuh ancaman.

“Tidak, Hyung. Kalau aku keluar, kau pasti akan tidur lagi.” Eunje menggeleng keras. Bangkit dari tidurnya dan ikut bersila menghadap Hyunje.”Aku tidak mau mati sia-sia ditangan wanita tua itu.” sambungnya dengan suara takut yang dibuat-buat.

“Berhenti membual dan cepat keluar!” Hyunje memasang wajah datarnya.

“Aku tidak membual, Hyung. Omma bilang kalau aku tidak berhasil membawamu kemeja makan dalam waktu lima belas menit, maka kartu kredit, motor dan ponselku benar-benar akan disita hyung.” kali ini Eunje benar-benar terlihat takut.

“Itu masalahmu!” Hyunje segera berbaring dan menyembunyikan tubuhnya didalam selimut, bersiap melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu oleh Eunje.

“Dan PSP serta semua koleksi kaset game milikmumu juga tidak akan selamat Hyung!” salah satu sudut bibir  Eunje terangkat keatas. Golden tiket sekarang telah ditangannya. Ia tahu kelemahan Hyunje. Sama seperti Ayahnya, jika sudah menyangkut dengan benda yang satu itu, apapun akan dilakukannya. Mereka sangat hapal dengan Ibu mereka, jika wanita yang satu itu sudah mengeluarkan ultimatum, maka bersiap-siaplah mencari benda kesayanganmu itu ditempat sampah.

Eunje tersenyum penuh bangga. Menepuk-nepuk dadanya, memberi apresiasi pada dirinya sendiri. Pandangannya lalu beralih pada tubuh yang terbungkuskan selimut dihadapannya. Sekarang ia hanya perlu berhitung dan menunggu tubuh yang berada didalam selimut itu berhambur keluar.

“Tiga, dua, satu…” Eunje menghitung mundur. Mulutnya bergerak tanpa suara.

Tepat dihitungan terakhir, selimut berhambur. Hyunje bangkit dari kasurnya dengan tergesa-gesa. Ia berdiri menyambar handuk diatas meja, lalu berlari cepat kedalam kamar mandi dan menutupnya dengan kasar. Sebenarnya Hyunje bisa saja langsung terjun kebawah, duduk manis didepan TV sekalian menyetor wajah pada Ibunya, memberi tahu kalau dia sudah bangun.

Namun sepertinya itu harus menjadi pilihan paling terakhir. Ia tidak mau dirinya beserta semua koleksi game dan PSP kesayangannya berakhir tragis ditangan wanita itu. Ia berpikir, cukup sekali saja. Tidak ingin kejadian itu terulang dua kali. Kejadian dimana saat Hyunje berumur empat tahun, Ibunya memergokinya keluar kamar tanpa mandi terlebih dahulu. Didetik itu juga, dihadapannya sendiri, didepan mata kepalanya , wanita itu tanpa perasaan mematah-matahkan koleksi game dan PSP kesayangannya tanpa ampun.

“Mandi yang bersih, Hyung. Waktumu tinggal delapan menit lagi.” Eunje terkikik geli.

“Diam kau, sialan!”emosi Hyunje tersulut. Dalam sepersekian detik ia sudah bersandar manis pada pintu kamar mandi, menunda keinginannya untuk mandi demi memberi pelajaran pada Eunje yang menurutnya sudah cukup banyak bicara hari itu.

“Hyung?” gumam Eunje sedikit terkejut. Kedua matanya menatap Hyunje tanpa berkedip. Bercampur antara rasa takut dan bingung harus bagaimana menyelamatkan diri.

Hyunje perlahan mendekati Eunje. Sorot matanya menggelap, gerahamnya mengeras dan tangannya menjulur kedepan bersiap meraih Eunje. Namun saat tinggal sedikit lagi, Eunje dengan cepat melompat kebelakang lalu berlari keluar kamar sambil berteriak mengaduh pada Appanya.

“APPAAAA!!”

“WAE?” terdengar teriakan Cho Kyuhyun dari lantai bawah.

“HYUNG INGIN MEMBUNUHKU.”

“BAGUSLAH, ITU BISA MENGURANGI BEBAN KELUARGA KITA!”

“CHO KYUHYUN!” sebuah teriakan lain terdengar. Teriakan Shin Je Wo.

“APPA!”

Kyuhyun yang awalnya memang hanya bercanda, hanya tertawa terbahak-bahak menanggapi reaksi Eunje dan juga Je Wo.

           ***

Je Wo sedang sibuk didapur. Ia sudah bangun sejak dini pagi menyiapkan sarapan untuk kedua anak dan suaminya. Hari itu ia menyuruh pembantu datang lebih siang karena ingin memasak sendiri. Je Wo berencana mencoba resep makanan yang dipelajarinya tadi malam demi untuk menyambut Hyunje yang baru saja datang. Je Wo berpikir Hyunje mungkin rindu dengan masakan rumah, jadi pagi itu ia ingin berusaha keras. Yah, walaupun tingkat keberhasilannya nole koma lima persen. Karena memang Je Wo lemah dalam hal yang satu itu, MEMASAK.

“Sekarang masih terlalu pagi Cho Kyuhyun.” Je Wo menghentikan kegiatannya saat merasakan sebuah tangan melingkar sempurna dipinggangnya. Ia memutar wajah kesamping, menatap Kyuhyun yang kini tengah tersenyum bocah dengan dagu yang bertopang manja dibahunya.

“Kau yakin akan memasak ?” Kyuhyun menatap setengah ngeri pada masakan Je Wo yang masih belum jadi.

“Kenapa? Kau takut keracunan oleh masakanku?” wajah Je Wo berubah masam. Ia kembali melanjutkan kegiatannya, mengacuhkan Kyuhyun yang masih memeluk pinggangnya manja dari belakang.

“Sebenarnya aku tidak ingin berkata jujur, tapi harus kukatakan…” Kyuhyun menggantung kalimatnya. Sudut bibirnya terangkat keatas, bersiap melancarkan serangan pamungkas untuk membuat Je Wo marah.”Kau benar, Nyonya Cho, aku takut kalau nanti aku dan anak-anakku harus dilarikan kerumah sakit sepagi ini karena gangguan pencernaan.” sambungnya.

“Kalau begitu bersiap-siaplah dirawat dirumah sakit, Tuan Cho Kyuhyun.” Je Wo melirik Kyuhyun sekilas. Melemparkan tatapan membunuhnya, lalu dengan kasar melepaskan tangan Kyuhyun yang masih melingkardipinggangnya.

Kyuhyun tertawa, merasa puas karena berhasil membuat Je Wo marah.”Yah…Nyonya Cho, apa tidak ada morning kiss untukku pagi ini?”

“Tidak ada, aku takut kau bisa dilarikan kerumah sakit akibat gangguan fungsi lidah.” ucap Je Wo ketus.

Kyuhyun tertawa lagi. “Itu kalau kau terlalu agresif, sayang… maka itu lakukan perlahan saja.”

“Cho Kyuhyun!” kemarahan Je Wo sudah diubun-ubun. Ia menghentikan kegiatannya, membalik badan memandang Kyuhyun dengan geram.

“Aku hanya bercanda, kenapa kau semarah ini ?” Kyuhyun memasang wajah innocent.

“Itu karena kau sangat menyebalkan.” balas Je Wo membuang pandangan dari suaminya, ia tak ingin dengan melihat wajah itu hatinya bisa luluh dan memaafkan Kyuhyun begitu saja.

“Baiklah… maaf, oke?” Kyuhyun menelangkupkan kedua tangannya didepan dada. Menatap Je Wo penuh harap agar bisa dimaafkan.

“Duduklah, aku harus menyiapkan sarapan untuk kalian.” Je Wo kembali pada kegiatan semulanya. Mengacuhkan Kyuhyun yang masih dengan posisi yang sama. Sebenarnya tanpa Je Wo mengatakannyapun, Kyuhyun sudah tahu kalau istrinya itu sudah tidak marah lagi. Namun karena belum mendapatkan apa yang diinginkannya, Kyuhyun berusaha bertahan dengan posisi itu.

“Apa kau tidak mendengarku, Tuan ?”

“Apa benar-benar tidak ada morning kiss untukku, Nyonya?”

“Disini ada Eunje, aku tidak ingin dia melihat kita.” Telunjuk Je Wo mengarah pada sosok putranya.

“Aku bisa mengurusnya.” Kyuhyun membalik badan, memasukkan kedua tangannya disaku, lalu bersandar santai memandangi Eunje yang sejak tadi sedang sibuk membersihkan kameranya. Cho Eunje memang tidak akan memerhatikan hal apapun jika sudah terlibat dengan benda kesayangannya tersebut, bahkan Cho Kyuhyun yang sejak tadi tengah memeluk Je Wo dengan manja dihadapannya tak ia perhatikan sedikitpun.

“Eunje-ya.”

“Hm…” Eunje menjawab seadanya. Melihat wajah Kyuhyun pun tidak sama sekali.

“Tolong ambilkan bungkusan hitam didalam mobil Appa.”

“Suruh Hyung saja, Appa. Sekarang aku sedang sibuk.”

“Kau yakin Appa harus menyuruh Hyunje?”

“Hm…”

“Baiklah, kalau begitu biar Hyunje saja yang memiliki kamera digital dari jepang itu.”

“Kamera ?” Eunje mengangkat kepalanya. Menatap lurus kearah Ayahnya.

Kyuhyun menarik napas berat, memasang wajah seriusnya.”Sayang, apa teriakanku akan terdengar oleh Hyunje dari sini?” Kyuhyun melirik Je Wo, mengedipkan satu mata sebagai kode agar dia ikut berakting.

Je Wo terkekeh pelan. Dengan senang hati ia mengikuti permainan Kyuhyun. Mengerjai Eunje sesekali sepertinya tidak apa-apa, pikirnya.”Tentu saja dia mendengarnya. Coba saja kau berteriak.”

“Baiklah, akan kupanggil. Cho Hyun_”

“Jangan, Appa!”

Kalimat Kyuhyun terpotong saat Eunje berdiri dari tempatnya dan berteriak menahannya. Kini kembali sebuah senyum khas Cho Kyuhyun yang juga sering digunakan Cho Hyunje terlihat diwajahnya.

“Kenapa?” Kyuhyun memasang wajah pura-pura bingung.

“Biar aku saja. Dimana kunci mobilnya?”

Kyuhyun melipat kedua tangan didepan dada, menatap Eunje sedikit lama lalu memberikan isyarat dengan melirik sofa yang berada sepuluh langkah  dibelakang Eunje. Tanpa membuang waktu, Eunje segera melesat pergi dengan wajah berseri meninggalkan Kyuhyun dan Je Wo yang tengah menahan tawa setengah mati.

“Apa kau benar-benar membelikannya kamera?” Tanya Je Woo diselah-selah tawanya.

“Tentu saja tidak.” Kyuhyun menggeleng kepala menyaksikan kepolosan Eunje.”Apa anakmu sepolos itu?”

“Kadang-kadang. Tapi Cho Kyuhyun, kau tega sekali padanya.”

“Berbuat tega sesekali tidak apa-apa, Nyonya Cho.” jawabnya lalu berbalik menghadap Je Wo. Ia kemudian meraih pinggang Je Wo, memeluknya sedikit seduktif sampai-sampai tubuh mungil istrinya itu sedikit terangkat.”Sekarang berikan morning kiss padaku.”

“Dasar mesum.” Je Wo memukul pelan dada Kyuhyun.

“Kau mau aku menyerangmu lebih dulu, Nyonya Cho?” Kyuhyun memasang wajah menggoda pada Je Wo.

“Jadi kau menantangku?” Je Wo terkekeh pelan. Ia lalu melingkarkan kedua tangannya dileher Kyuhyun.”Baiklah, kita lihat siapa yang paling hebat.”

Je Wo memiringkan wajah sedikit kekanan. Menarik tengkuk Kyuhyun agar menunduk lebih rendah, lalu perlahan memajukan wajahnya kewajah Kyuhyun yang kini telah memejamkan mata. Namun saat jaraknya hanya tinggal hitungan senti, sebuah suara menghancurkan segalanya.

“Sekarang masih pagi, Appa, Omma!”

Kyuhyun dan Je Wo segera mengambil jarak. Keduanya spontan menoleh kearah suara yang sudah menghancurkan momen romantis mereka berdua.

“Harusnya aku tahu kalau anak itu sedang ada dirumah.” umpat Kyuhyun setengah berbisik. Pandangannya menajam kearah Hyunje yang tengah berjalan santai menurungi tangga dengan kedua tangan yang diselipkan didalam saku. Kyuhyun semakin kesal karena Hyunje saat itu sama sekali tak menunjukkan rasa bersalah karena telah mengganggu momen romantisnya dengan sang istri.

“Tidak kusangka tingkat kemesuman kalian semakin parah!” Hyunje menggeleng pelan, menarik sebuah kursi dari meja makan dan duduk, lalu setelahnya melemparkan tatapan nanar disertai decitan pelan kearah Kyuhyun dan Je Wo.

Kyuhyun berdesis kesal lalu berkata pelan pada Je Wo yang disampingnya.”Apa kita harus mengirimnya lebih jauh? Kurasa Paris masih terlalu dekat. Ke Arab Saudi mungkin?”

“Tapi sebelum itu terjadi, kaulah yang akan kukirim terlebih dahulu kesana, Cho Kyuhyun!” Je Wo mengancam tak setuju dengan perkataan Kyuhyun.

“Astaga, aku baru sadar kalau kau lebih menyayangi anakmu.” gumam Kyuhyun dengan ekspresi marah yang dibuat-buat. Ia lalu melenggang pergi, ikut bergabung bersama Hyunje dimeja makan meninggalkan Je Wo yang tengah tersenyum sambil menggelengkan kepala.

Hyunje meraih gelas, mengisinya dengan air lalu meneguknya sampai habis. Ia lalu bersandar pada kursi, menatap Ayahnya sejenak yang duduk tepat dihadapannya lalu mengedarkan pandangan ke seisi ruangan mencari sosok Eunje yang tak dilihatnya sejak ia turun.

“Kau mencari apa?” Kyuhyun yang tak sengaja menangkap gerak-gerik Hyunje penasaran ingin tahu.

“Appa mengirim Eunje kemana?” Hyunje bertanya balik, mengabaikan pertanyaan Kyuhyun. Matanya masih bergerak liar mencari keberadaan Eunje.

“Apa maksudmu, Cho Hyunje?” geram Kyuhyun.

Hyunje menatap Kyuhyun datar, kepalanya dicondongkan sedikit kedepan hingga jarak wajahnya dengan Kyuhyun hanya tinggal satu jengkal. “Jangan pikir aku tidak tahu, Appa. Kau kirim kemana Eunje demi untuk mewujudkan keinginan mesummu tadi?” ucapnya pelan penuh penekanan.

“Yah… Cho Hyunje, kalau bukan karena itu kau tidak akan hidup didunia dan dianugerahi ketampananku seperti sekarang!” balas Kyuhyun tak mau kalah.

“Jangan percaya diri terlalu tinggi begitu Ahjussi, ketampananku ini murni karena diriku dan tidak ada hubungannya denganmu. Akuilah aku lebih tampan dan Appa berada jauh dibawahku.”

“YAH, SAKIT!” Hyunje berteriak geram setelahnya. Meringis kesakitan sambil mengelus keningnya yang baru saja mendapatkan jitakan keras dari Kyuhyun.

“Kenapa? Masih kurang? Mau kutambahkan lagi?”

“OMMA!” Hyunje berteriak mengaduh pada Je Wo.

“Kau pantas mendapatkannya Hyunje-ya. Sudahlah, diam! Jangan menggangguku.” sahut Je Wo ketus. Ia sendiri sudah dipusingkan dengan masakannya, jika dipusingkan lagi dengan hal lain sepertinya ia harus berpikir dua kali. Daripada meladeni Hyunje yang menurutnya memang sedikit menyebalkan pagi itu, ia lebih memilih fokus pada masakannya yang ia sendiri tidak yakin akan berhasil.

Hyunje menghempaskan punggungnya kasar pada kursi, melipat tangannya didepan dada, lalu membuang muka dari Kyuhyun yang kini tengah tertawa penuh kemenangan didepannya.

“APPA!”

Tawa Kyuhyun terhenti saat terdengar teriakan Eunje dari arah ruang televisi. Ia kemudian mengernyutkan dahi menyadari ada hal yang tidak beres dengan Eunje. Anak itu muncul dengan wajah masam, bibir yang dimanyunkan dan kaki yang dihentak-hentakkan kesal kelantai. Dapat ditebak kalau saat itu Eunje sedang kesal.

“Appa, kau bilang ada kamera. Tapi kenapa hanya ada kotak kecil yang dipenuhi lakban hitam begini ?” protes Eunje menjatuhkan tubuhnya kasar kekursi.

Kyuhyun tertawa pelan. “Maaf, Eunje-ya. Appa lupa kalau ternyata bingkisannya tertinggal dikantor dan yang didalam mobil tadi itu adalah bingkisan milik Eunhyuk yang dititipkan semalam untukmu.”

“Benarkah?” senyum Eunje kembali merekah. Seketika kekesalannya lenyap. Tanpa menunda waktu lagi dibukanya dengan tidak sabar lakban yang membungkus kotak kecil yang digenggamnya saat itu.

Hyunje memandang Kyuhyun penuh selidik. Sepertinya ada hal yang mengganggu pikirannya. “Appa, tidak biasanya Eunhyuk Ahjussi memberikan hadiah. Bukannya ulang tahun Eunje masih tiga bulan lagi?”

“Tidak tahu, ia hanya bilang ingin memberikan sesuatu pada Eunje.”

“Ige mwoya?”

Kyuhyun dan Hyunje menoleh bersamaan, keduanya seketika membelalak begitu melihat apa yang ada ditangan Eunje sekarang.

“Kenapa Eunhyuk Appa memberiku balon? Bukankah ulang tahunku masih tiga bulan lagi?” Eunje menatap Kyuhyun tak mengerti, ia kemudian kembali memandangi benda elastis bening ditangannya.

“Eunje-ya, buang benda itu! Sepertinya Eunhyuk salah memberikanmu hadiah.” pintah Kyuhyun tegas, didepannya Hyunje menatap jijik ke benda elastis yang ada ditangan Eunje.

“Tidak mau! Ini pemberian Eunhyuk Appa, aku tidak akan membuangnya.” Eunje menyipitkan mata kearah Kyuhyun, menyembunyikan kedua tangannya kebelakang, lalu menggeser kursinya menjauh dari Ayah dan kakaknya.

“Benda itu bukan untuk anak tujuh belas tahun Eunje-ya!” geram Kyuhyun kembali mencoba membujuk.

“Appa, ini hanya sebuah balon, kalau hanya meniupnya aku juga bisa.”

Kyuhyun dan Hyunje lagi-lagi harus membelalakkan mata, menahan napas dan berteriak histeris saat Eunje akan meniup benda elastis yang menyerupai balon pemberian Eunhyuk itu.

“JANGAN!” teriak Hyunje dan Kyuhyun bersamaan. Keduanya lalu berdiri menghampiri Eunje, mengunci tubuh anak itu, lalu dengan paksa merebut benda ditangan Eunje.

“Ya, ya ya, lepaskan aku!” berontak Eunje. Kedua tangannya dipiting kebelakang oleh Hyunje.

“Appa, palli!” Hyunje mengintrupsi pada Kyuhyun untuk segera mengambil benda itu, tenaganya terkuras karena Eunje memberontak dengan sangat kuat.

Kyuhyun meraih tangan Eunje, membukanya dengan sekuat tenaga. Namun bukannya berhasil, tubuhnya malah terpental jatuh karena mendapat tendangan kuat dibibirnya.

Hyunje tertawa terbahak-bahak.

“YAH, CHO EUNJE, KENAPA KAU MALAH MENENDANGKU!” Kyuhyun berteriak emosi.

“Itu salahmu Appa, balonnya ada dibelakangku bukan didepan kakiku.” Eunje memutar bola matanya malas, Hyunje yang masih memegangi tangan Eunje merapatkan mulut menahan tawa. Seketika ia mendapatkan delikan tajam dari Kyuhyun yang ada didepannya.

“Hyunje-ya, cepat ambil benda itu!” perintah Kyuhyun.

Hyunje mengangguk mantap. Kyuhyun berpikir Hyunje mungkin akan mengunci leher Eunje dengan kakinya atau paling tidak mematahkan tangan kanan Eunje karena anak itu memberontak dengan sangat kuat. Namun yang terjadi malah diluar dugaan, Hyunje malah memperenggang pitingannya, mendekatkan bibirnya ketelinga Eunje lalu membisikkan sesuatu yang hanya kedua bersaudara itu yang tahu.

“Benarkah?” senyum Eunje merekah, matanya berbinar menatap Hyunje.

“Hm.” Hyunje mengangguk mantap, tangannya diulurkan meminta benda yang digenggaman adiknya. Tanpa ragu Eunje menyerahkan benda yang disebutnya balon itu ke Hyunje, lalu dengan senyum yang merekah melenggang pergi kearah Ibunya yang masih berusaha memasak dengan wajah serius tanpa memedulikan apa yang baru saja terjadi disana.

“Appa,” Hyunje menghampiri Kyuhyun, bergidik ngeri memandangi benda elastis ditangannya lalu menyerahkannya pada Appanya.”Harusnya kau bisa menebak apa yang ada di otak monyet Ahjussi itu.”

“Akan kubunuh dia jika bertemu denganku.” geram Kyuhyun, tangannya meremas kuat benda elastis yang digenggamnya. Tiba-tiba rasa penasaran menghinggapinya. Kejadian dimana Eunje yang dengan rela memberikan benda yang dipertahankannya mati-matian kepada Hyunje begitu saja menjadi sesuatu yang menurutnya patut dicurigai. “Hyunje-ya…”

“Hm?”

“Kau…” Kyuhyun memandang Hyunje penuh selidik. “Apa yang kau bisikkan pada Eunje hingga ia mau begitu saja menyerahkan ini padamu?”

Raut wajah Hyunje berubah 180 derajat. Ia yang tadinya memasang wajah datar seperti biasa, menjadi salah tingkah dan tidak mau bertemu mata dengan Kyuhyun. “Ah… Appa, sebaiknya simpan baik-baik benda itu. Jangan sampai Eunje menemukannya. Ia masih kecil, belum pantas memiliki benda seperti itu.” Hyunje tertawa hambar. Mengalihkan pembicaraan, lalu segera melesat pergi meninggalkan Kyuhyun yang menatapnya seperti seorang Kriminal. “Kenapa perutku rasanya lapar sekali?” sambungnya setengah berbisik.

***

“Huweek…”

Eunje berdecak pelan disertai gelengan kepala memandangi Hyunje yang tiba-tiba saja muntah begitu mereka meninggalkan rumah. Hari itu Hyunje yang ditugaskan mengantar Eunje kesekolah karena Kyuhyun ada pertemuan pagi-pagi sekali dengan rekan bisnisnya, jadi tugas mengantarkan Eunje diserahkan padanya. Awalnya Hyunje menolak, namun karena ancaman dari Je Wo, dengan terpaksa ia pun melaksanakannya.

Hyunje memang sedikit pembangkang, tapi ia tidak berdaya jika sudah berhadapan dengan Je Wo. Begitupun dengan masalah sarapan tadi pagi. Ia bersikeras tidak ingin memakan masakan Je Wo karena tidak yakin dengan kemampuan memasak Ibunya. Tapi karena Je Wo memasang wajah memelas dan mengeluh jarinya teriris saat menyiapkan sarapan pagi untuknya, dengan berat hati Hyunje menyantap habis masakan yang disiapkan Je Wo. Sebenarnya tidak ada masalah dengan masakan Je Wo, rasanya lumayan, Eunje yang makan masakan yang samapun terlihat baik-baik saja. Namun entah mengapa, saat ditengah perjalanan menuju kesekolah Eunje, tiba-tiba saja perutnya terasa mual.

“Huweek…” lagi-lagi Hyunje memuntahkan makanannya.

“Kau mau air, Hyung ?” Tanya Eunje yang kini sudah berdiri dibelakang Hyunje, ia menatap kakaknya dengan perasaan kasihan bercampur khawatir.

Hyunje mengangguk. Disambutnya tangan Eunje yang menyodorkan sebotol air mineral kearahnya. Lalu dalam sekali tegukan, meminumnya habis tanpa sisa.

“Apa masih terasa mual?”

Hyunje menggeleng.

“Kenapa kau tiba-tiba mual begini? Padaha; tadi baik-baik saja.”

“Tentu saja karena masakan Omma.” Jawab Hyunje, tubuhnya sekarang telah bersandar pada pohon.

“Aneh. Aku juga makan masakan Omma, tapi kenapa aku tidak merasa mual, Hyung?”

Hyunje membuang napas berat, memutar bola matanya malas, lalu menatap Eunje dengan kesal. “Itu karena kau tidak alergi merica, bodoh.” Hyunje memijit keningnya.”Harusnya aku tahu kalau Omma pasti akan melupakannya, dia benar-benar sudah tua sekarang.”

Eunje memasang wajah Innocent, mengangguk-angguk polos dengan mulut sedikit terbuka.

“Astaga!” sambung Eunje tiba-tiba.

“Kenapa?”

“Hyung! Kalau kau muntah karena merica, berarti Appa…” Eunje menatap Hyunje sedikit mendramatisir. Pikirannya melayang, membayangkan kondisi Kyuhyun yang diketahuinya juga alergi dengan merica.

“Kau tenang saja, Appa tidak akan mati secepat itu.”

“Yak, Hyung! Kau menyumpahi Appa mati ?” Eunje geram, tak terima Kyuhyun disumpahi.

Hyunje memutar bola matanya malas. Bangkit dari tempatnya, lalu berjalan santai menuju mobil yang ia parkir didepan sebuah toko.”Eunje-ya!” panggil Hyunje. Ia memanggil Eunje tanpa menghentikan langkahnya.

“Kenapa?” sahut Eunje malas. Ia berjalan tepat dibelakang Hyunje, mengekor dibelakang kakaknya dengan kaki yang sesekali dihentak-hentakkan.

“Kau bisa menyetir, kan?” tanyanya kemudian sambil mengayungkan kunci mobil diudara.

“Apa?” Eunje melongoh tak percaya. “Bisa! Aku bisa menyetir, Hyung.” Angguknya semangat sedetik kemudian. Dalam sekejap ia melupakan kekesalannya pada Hyunje. Sambil bersiul-siul riang, ia melangkah besar kearah Hyunje lalu membuka pintu mobil menyusul kakaknya yang sudah lebih dulu masuk mendahuluinya. Eunje memang sudah sejak lama menantikan mengendarai kendaraan beroda empat itu, tapi karena Kyuhyun dan Je Wo selalu melarangnya maka keinginannya tersebut tidak pernah terwujud.

Eunje menatap setir dihadapannya dengan pandangan berbinar-binar. Ia masih belum percaya kalau dirinya benar-benar akan mengemudi sendiri. Selama ini hal itu hanya ada diangan-angannya saja atau hanya dalam dipermainan racing game yang sering dimainkannya.

Eunje memutar kunci mobil setelah sebelumnya mengambil napas banyak lalu membuangnya perlahan, bersamaan dengan itu mesin menyala dan perlahan bergerak.

“Eunje-ya, sejak kapan kau pintar mengendarai mobil ?” tanya Hyunje yang tengah bersandar santai memandangi jalan raya didepannya.

“Sejak kelas dua SMP, Hyung.” jawabnya spontan. Ia tak menatap wajah Hyunje karena saat itu ia tengah serius memperhatikan jalan dihadapannya, Eunje takut jika melakukan kesalahan dan akan menabrak sesuatu.

Hyunje mengerutkan dahi. Kelas dua SMP? Bukankah seingatnya saat itu Kyuhyun tidak pernah mengajari Eunje? Malah setahunya Kyuhyun melarang keras adiknya itu untuk mengendarai mobil sendiri. Menurut Kyuhyun, Eunje masih kecil, jiwanya masih labil. Akan sangat berbahaya  jika diberi kebebasan untuk membawa mobil sendiri. “Kau belajar dari mana?” tanyanya dengan tatapan penuh awas pada Eunje.

“Dari racing game yang sering kumainkan, Hyung.”

“APA?” Hyunje terperanjak. Matanya membulat sempurna plus shock mendengarkan jawaban polos dari adiknya. “YAH, CHO EUNJE! HENTIKAN MOBILNYA!” teriak Hyunje geram penuh emosi. Yang benar saja, hanya karena bisa memainkan permainan racing game ia mengklime dirinya bisa mengendarai mobil? Oh no, pikir Hyunje. Dari pada mati konyol, lebih baik ia menghentikan Eunje sebelum mereka berdua dilarikan kerumah sakit.

         ***

Je Wo membolak-balik halaman novel terjemahan yang ada ditangannya dengan kasar. Hari ini ia berencana akan menamatkan novel karangan Stephenie Meyer itu. Sebenarnya, harusnya kemarin ia menamatkannya. Tapi karena harus mempersiapkan pesta penyambutan sekaligus pesta ulang tahun untuk Hyunje, dengan terpaksa ia harus menunda keinginannya tersebut.

Sudah hampir lima halaman Je Wo babat dengan habis. Namun sampai detik itu ia masih belum bisa mengumpulkan konsentrasinya. Emosi yang tersulut terhadap Kyuhyun benar-benar membuat otaknya buntu.

Tadi pagi setelah acara sarapan bersama, dirinya dan Kyuhyun kembali bertengkar. Masalahnya sepele, karena masakan yang dibuat oleh Je Wo. Kyuhyun menyalakan Je Wo karena memasukkan merica kedalam masakannya. Padahal ia tahu kalau suaminya itu alergi dengan merica. Karena itu Kyuhyun harus mengalami mual-mual selama setengah jam. Akibatnya pertemuan dengan klien dari Cina terpaksa harus dibatalkan karena Kyuhyun tidak bisa datang tepat waktu.

“Akukan sudah memberitahumu untuk tidak memasak. Tapi kau tetap saja keras kepala. Sekarang lihat jadinya apa!” teriak Kyuhyun emosi. Matanya menatap geram kearah Je Wo yang duduk menunduk dihadapannya.

“Maaf, aku benar-benar lupa kalau kau alergi dengan merica.” Je Wo memasang wajah benar-benar menyesal.

“Maaf?” Kyuhyun tertawa hambar. “Andai saja semua masalah bisa terselesaikan hanya dengan satu kata itu, maka tidak akan ada lagi orang yang hidupnya susah didunia ini, Shin Je Wo.” Kyuhyun mengacak rambutnya frustasi. “Kau tahu berapa kerugian yang kita alami karena masakan sialanmu itu? SEPULUH JUTA WON! SEPULUH JUTA!” sambungnya memberi penekanan pada kata terakhir.

“KAU TIDAK PERLU BERTERIAK SEKERAS ITU CHO KYUHYUN ! AKU BISA MENDENGARMU WALAU KAU TIDAK BERTERIAK!” emosi Je Wo ikut terpancing. Posisinya sekarang tengah berhadapan dengan Kyuhyun. “Kau bilang masakan sialan?” Je Wo diam sejenak, mencoba mengontrol diri. “Baik, aku akui aku bersalah. Aku benar-benar minta maaf untuk satu hal itu. Dan masalah kerugian yang kau sebut tadi, kau tenang saja! Aku akan mengganti semua kerugianmu”

Kyuhyun tersenyum pahit. “Kau pikir semudah itu? Dengan kau mengganti semua kerugiannya apa kau kira masalah selesai begitu saja? Tidak,” Kyuhyun menarik napas dalam, menggantung kedua tangan dipinggang, lalu menatap Je Wo dalam. “Tidak semudah yang kau pikirkan, Shin Je Wo. Sudahlah, aku lelah berdebat denganmu.” Kyuhyun kemudian meraih tasnya, melangkah besar kearah pintu lalu membantingnya keras begitu ia keluar dari rumah.

Je Wo meremas ujung baju yang dikenakannya penuh amarah. Hatinya terasa sakit dan matanya terasa panas setiap kali ia mengingat pertengkarannya dengan Kyuhyun pagi tadi. Apalagi dengan kata-kata Kyuhyun yang mengatakan masakan buatannya sebagai masakan sialan, ia seolah-olah ingin menghampiri Kyuhyun saat itu juga dan langsung menghajar pria itu sampai mati.

Kyuhyun tidak tahu betapa keras perjuangannya hanya untuk menyiapkan masakan sialan yang dimaksudnya itu. Je Wo harus tidur jam setengah tiga hanya demi mempelajari resepnya dan besoknya bangun jam lima pagi untuk mempersiapkan semuanya. Namun apa yang didapatnya? Teriakan dan makian. Hanya karena Je Wo tak sengaja memasukkan merica kedalamnya, Kyuhyun dengan seenaknya memaki dan meneriakinya tanpa memikirkan perasaan dan kerja keras Je Wo.

***

Hyunje membuka pintu rumahnya tanpa semangat. Mengganti sepatunya dengan sendal rumah lalu berjalan malas kearah sofa dengan Eunje yang mengekor dibelakangnya sejak tadi. Anak itu tampak takut dan tak berani memulai pembicaraan dengan Hyunje.

“Hyung, maaf, ya?” ucap Eunje ragu. Ia tak berani menatap Hyunje .

Tak ada respon apapun dari Hyunje. Anak itu hanya sibuk mengganti channel-channel Televisi dengan wajah tertekuk.

“Hyung…” Eunje menarik lengan baju Hyunje, menatap kakaknya dengan wajah penuh penyesalan.

Hyunje menatap wajah memelas Eunje, mendengus kesal sedetik kemudian, mengutuk diri sendiri kenapa harus terpengaruh dengan wajah polos anak itu. Hyunje masih sangat geram karena ulah Eunje tadi pagi. Karenanya ia mendapatkan luka memar dikening. Hyunje menyerahkan mobil begitu saja pada Eunje, ia pikir anak itu bisa membawa mobil sesuai perkataannya. Namun saat Hyunje tahu membawa mobil yang dimaksud oleh Eunje adalah membawa mobil dalam permainan Racing game, tanpa pikir panjang ia segera menghentikan Eunje . Akibatnya ia harus mengalami benturan dikepalanya karena Eunje yang terkejut dan  menabrak batas jalan raya.

“Kalau kau ulangi lagi, aku tidak akan melepaskanmu untuk kedua kalinya. Kau mengerti?”

Eunje mengangguk semangat. Tersenyum bocah kearah Hyunje memperlihatkan eye smile miliknya.”Aku mengerti, Hyung. Terima kasih…” ucapnya lalu berhambur memeluk Hyunje.

“Yah, lepasskan, bodoh!” bentak Hyunje. Tangannya menarik keras lengan Eunje, berusaha melepas pelukan adiknya itu.

Eunje menormalkan posisinya. Meraih remote Televisi, lalu mengangkat kedua kakinya keatas meja. Hyunje yang disampingnya berdecak kesal, melemparkan tatapan malas kearah Eunje yang sudah mengganti channel Televisi keacara music bank kesukaan bocah itu.

“Oo…Appa?” ucap Eunje tiba-tiba.

Hyunje yang tak paham, menggerakkan mata mengikuti arah pandang Eunje kelayar televisi.

Seketika ia pun ikut melongo. Tak percaya dengan sosok yang dilihatnya dibalik layar tersebut.

“Eunhyuk Ahjussi?”

“Huwa…ternyata tamu istimewa yang dimaksud olek Kim Soo Hyun kemarin itu Eunhyuk Appa? Ckckck.” gumam Eunje menggeleng kagum.

“Apanya yang istimewa? Otak mesumnya?” celetuk Hyunje kesal.

“Ssstt…jangan berisik, Hyung! Aku tidak dengar apa yang dikatakan Kim Soo Hyun!” tegur Eunje tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi.

“Kau tidak perlu berlebihan seperti itu, Cho Eunje. Seperti kau tidak pernah melihatnya di layar televisi saja.”

“Ini berbeda, Hyung. Penampilan Eunhyuk Appa ini adalah penampilan pertama kalinya semenjak Super Junior dibubarkan dua tahun yang lalu.”

Hyunje memutuskan diam. Percuma berdebat dengan anak labil disampinya ini. Sambil menyandarkan punggung pada ujung sofa, ia memerhatikan layar televisi, menunggu aksi apa yang akan dilakukan oleh pamannya tersebut.

“Huwa…” gumam Eunje.

Hyunje membelalakkan mata, melirik Eunje dengan awas saat menyaksikan Eunhyuk melakukan sexy dance dengan seorang wanita. Tangan Pamannya itu tengah menjelajah pada bagian perut dan paha sang gadis.

KLIK.

Senyum Eunje lenyap. Pandangannya kini mengarah pada sang kakak yang memasang wajah innocent.

“Hyung, kenapa kau matikan televisinya?” teriak Eunje geram. Matanya memerah bersiap menerkam Hyunje kapan saja.

“Kenapa? Kau mau marah ?” tantang Hyunje. “Kau masih belum bisa melihat tontonan yang seperti itu Eunje-ya…” sambungnya.

“Dasar pengganggu.” gumam Eunje pelan.

“Apa?”

“Tidak, Hyung…” Hyunje menggeleng, memamerkan senyum bocahnya.

***

Je Wo sedang sibuk dengan laptopnya ketika tiba-tiba ia mendengar suara ribut dari ruang televisi. Setelah menekan tombol power dari laptopnya, ia beranjak dari tempatnya berjalan menuju ruang tengah.

“Cho Hyunje? Cho Eunje?” panggil Je Wo begitu mendapati sosok kedua putranya.

“Omma?” sebuah senyum muncul diwajah Eunje saat melihat Je Wo.

“Aku pikir Omma tidak ada dirumah.” ucap Hyunje.

“Kenapa kalau Omma tidak ada dirumah? Apa kau menyukainya, Cho Hyunje?” celetuk Je Wo ketus.

Hyunje dan Eunje saling melempar tatapan. Keduanya mengerutkan dahi, bingung dengan sikap Ibunya yang tiba-tiba berubah sinis.

“Omma, kau bicara apa?” Tanya Hyunje tak mengerti.

“Kau sama saja dengan Ayahmu.” Je Wo membalik badan, berjalan kearah dapur meninggalkan kedua putranya yang diam melongoh memandangi kepergiannya.

Mata Hyunje dan Eunje fokus memperhatikan gerak-gerik Je Wo. Mulai dari Ibunya memasuki dapur, hingga Je Wo membuang semua makanan yang dibuatnya tadi pagi kedalam westafle.

“Eunje-ya, kau memberi tahu Omma kalau aku memuntahkan makanan tadi pagi?”

Eunje menggeleng. “Tidak, Hyung.”

“Berbalik!” perintah Hyunje tiba-tiba. Keduanya cepat-cepat kembali keposisinya, duduk bersandar sambil memasang wajah pura-pura sibuk. Sanking buru-burunya kepala Eunje sempat terbentur sudut sofa. “Pelan-pelan, bodoh!” umpat Hyunje. “Jangan melihat kesana.” sambungnya cepat saat matanya menangkap Eunje akan menoleh kearah Je Wo yang tengah berjalan kearah mereka.

“Mulai sekarang urusan sarapan dan makan malam, kalian urus sendiri. Omma tidak mau dan tidak akan ikut campur lagi untuk masalah itu. Dan mulai hari ini sampai seterusnya, Omma tidak akan menginjak dapur lagi.” suara Je Wo bergetar di akhir kalimatnya. Ia lalu melenggang pergi, melangkah dengan buru-buru kedalam kamarnya.

“Hyung, aku kira Omma dan Appa bertengkar lagi.” tebak Eunje memandang lekat pintu kamar Je Wo. Hyunje yang disampingnya ternyata memikirkan hal yang sama. Keduanya lalu membuang napas berat, kembali duduk menghadap televisi dan memukul jidat frustasi dalam waktu yang bersamaan.

***

Je Wo cepat-cepat menyalakan laptopnya lagi, memasang earphone dan memutar musik dengan volume full saat mendengar Eunje dari luar memanggil Kyuhyun. Ia tak ingin berpura-pura tidur, akan tidak alami kelihatannya jika hanya untuk menghindari Kyuhyun ia harus berpura-pura tidur. Ia ingin melakukan hal yang biasa, yang terlihat tidak dibuat-buat. Setidaknya jika ia memakai earphone dan memutar music sekeras-kerasnya ia tidak perlu merasa canggung saat Kyuhyun memasuki kamar.

Sementara itu, Kyuhyun melangkah besar kearah pintu rumahnya. Sesekali ia terlihat memijit kening, lalu merenggangkan ikatan dasi setelah kemudian membuka pintu rumah dan mendapat teriakan keras dari Eunje yang saat itu tengah duduk diruang televisi menemani Hyunje yang tampak serius memainkan PSP-nya. Berbanding terbalik dengan Eunje, Hyunje hanya melirik sekilas pada Kyuhyun lalu kembali fokus pada PSP ditangannya.

“Appa!” teriak Eunje senang. Ia lalu bangkit dan berlari kearah Kyuhyun.

Sudut bibir Kyuhyun tertarik membentuk senyum. Setidaknya diharinya yang begitu melelahkan dan menjenuhkan, ada Eunje yang sedikit mengobatinya.

“Appa, kau tahu hari ini aku melakukan apa?” Eunje menatap Kyuhyun dengan mata berbinar, penuh semangat ingin menceritakan pengalamannya hari itu kepada Kyuhyun.

“Memangnya kau melakukan apa?” Tanya Kyuhyun lembut.

“Aku mengendarai mobil sendiri, Hyung yang mengizinkanku.”

“Mengendarai mobil?” Kyuhyun mengerutkan kening, memandang Hyunje meminta penjelasan.

“Itu bukan salahku Appa, dia yang membodohiku. Karena aku mual dan tidak memungkinkan membawa mobil, aku bertanya padanya apa dia bisa membawa mobil? Ia menjawab bisa. Mana aku tahu kalau yang dimaksudnya bisa itu adalah permainan mobil dalam racing game. Kalau saja aku tahu, aku tidak mungkin sebodoh itu mengorbankan keningku ini hanya demi hasrat tak sampai bocah tengil dihadapanmu itu.” jelas Eunje panjang lebar, memperlihatkan keningnya yang memar akibat ulah Cho Eunje.

Kyuhyun membuang napas berat. Pandangannya kini berfokus pada Eunje yang ada dihadapannya.”Eunje-ya, Appa sudah bilang kau boleh mengendarai mobil hanya jika umurmu sudah sembilan belas tahun. Kau sekarang masih tujuh belas tahun, jiwamu masih labil. Akan bahaya jika kau memaksakan diri. Kau lihat kening Hyungmu, kan? Itu memar karena sikap tidak sabaranmu. Jadi tunggulah dua tahun lagi. Kau mengerti?”

Eunje mengangguk mengiyakan nasihat Kyuhyun.

Kyuhyun mengacak pelan rambut Eunje. Melangkah kearah kulkas setelahnya, lalu mengambil sebotol air dan meneguknya sampai habis. Didetik berikutnya, matanya terkunci pada pintu bercat putih yang sepuluh meter dari posisinya. Lama ia diam memandangi pintu itu. Hingga tiba-tiba terdengar suara Hyunje yang memecah perhatiannya.

“Omma mengurung diri dikamarnya sudah sejak siang tadi Appa. Dia menghampiri kami dan mengatakan tidak akan menginjak dapur mulai dari sekarang.”

Kyuhyun kembali terdiam. Tangannya bergerak mengusap wajahnya yang tampak berantakan dengan sekali gerakan.

“Cho Hyunje.” Hyunje mendongak, menatap Kyuhyun yang posisinya saat itu tengah berdiri dengan dua tangan bertumpuh pada meja makan. “Bisa kau ambilkan map merah dimobil Appa? Saat masuk, Appa lupa membawanya.”

Hyunje mengangguk mengiyakan. Untuk kali ini ia tidak bisa menolak permintaan Kyuhyun. Ia tahu kalau saat ini Kyuhyun sedang banyak masalah. Memandang wajah Ayahnya yang sekarang terlihat sangat kacau, membuat nalurinya sebagai seorang anak keluar seketika.

“Akan kuambilkan.” sahutnya mantap tanpa ragu. Tanpa menunggu lagi, Hyunje segera beranjak dari tempatnya, melaksanakan seperti apa yang diperintahkan oleh Kyuhyun. Sang adik yang disampingnya dibuatnya terheran-heran. Eunje berpikir, tidak biasanya Cho Hyunje seperti itu. Biasanya jika diperintah oleh Kyuhyun ia akan mencari 1001 alasan untuk bisa menolaknya.

Kyuhyun berjalan kearah kamarnya kemudian membuka pintu dengan pelan. Begitu pintu terbuka. matanya langsung terkunci pada sang istri yang tengah berhadapan dengan laptop dan dengan earphone yang terpasang ditelinganya.Kyuhyun kemudian berjalan kearah lemari, mengambil piyamanya lalu masuk kedalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.

         ***

Je Wo membuang napas lega saat Kyuhyun masuk kedalam kamar mandi. Ia mengusap dadanya pelan, menetralkan degupan jantungnya yang sedari tadi berpacuh dengan cepat saat suaminya itu memasuki kamar mereka. Je Wo memandang pintu kamar mandi sejenak, berdiri dari tempatnya sedetik kemudian, lalu merentangkan kedua tangannya untuk meregangkan otot-otot yang kaku akibat duduk seharian.

Raut wajah Je Wo berubah masam seketika, pertengkarannya tadi pagi dengan Kyuhyun terbayang kembali diingatannya.

Je Wo membuang napas kasar. “Mungkin sebaiknya aku tidak tidur dikamar ini.” gumamnya pelan. Je Wo mengambil jepit rambut, menggulung rambutnya keatas dan berjalan kearah pintu bersiap membukanya. Namun saat akan menarik pagangan pintu, tangannya tertahan. Sebuah tangan yang lebih besar ikut memegang pegangan pintu. Tangan itu bertumpu diatas tangan mungilnya dan meremas tangannya dengan kuat.

“Lepaskan tanganku,Cho Kyuhyun.” Je Wo menatap Kyuhyun tidak suka.

“Hanya dalam mimpimu.” Kyuhyun lalu menarik pergelangan tangan Je Wo dan menghempaskan tubuhnya kasar keatas ranjang. “Kenapa? Kau marah? Atau kau ingin menghindar dengan keluar dari kamar ini?” Kyuhyun menggantung tangannya dipinggang, mengatur napas mengendalikan emosinya. “Shin Je Wo, dengar ! Kita sudah menikah selama 20 tahun. Kau bukan remaja 19 tahun lagi yang jika setiap ada masalah pergi menjauh tanpa mau membicarakannya baik-baik.”

Je Wo tersenyum pahit. “Kau jangan lupa, Cho Kyuhyun, kaulah yang memulai semua ini. Kaulah yang kekanak-kanakan! meneriakiku, mencelaku. Apakah itu yang kau sebut membicarakan dengan baik-baik?”

“Kaulah yang memancing kemarahanku, Shin Je Wo!” balas Kyuhyun tak mau kalah.

“Apa? Aku?” Je Wo tertawa hambar. “Apa karena masakanku yang kau sebut sialan itu?” Je Wo diam sejenak, mengatur emosinya agar tidak ikut meledak. “Dengar, Cho Kyuhyun. Aku sama sekali tidak sengaja memasukkan merica kedalamnya. Aku juga tidak bermaksud menghancurkan pertemuan pentingmu yang bernilai hingga 10 juta won itu. Dan aku minta maaf, karena kekeras kepalaanku untuk memberikan masakan terbaikku pada suami dan anakku ternyata membuatmu sangat marah. Kau tenang saja, mulai sekarang aku tidak akan ikut campur lagi dengan masalah dapur.” Je Wo meluapkan segala kekesalannya, mengedipkan mata beberapa kali menahan air matanya yang hampir tumpah.

Kyuhyun terpaku. Rasa bersalah tiba-tiba mencuak dihatinya. Ia tersadar kalau perbuatannya benar-benar salah dan sangat menyakitkan hati Je Wo.

“Sudahlah, jangan diperpanjang lagi, anggap saja masalah ini sudah selesai. Aku ingin istirahat.  Hari ini benar-benar melelahkan untukku. Kau tidak perlu berpindah kamar, aku tidak ingin anak-anak semakin berpikir kalau hubungan kita sedang tidak baik. Kau tenang saja, aku akan tidur disofa dan kau bisa tidur dikasur.” Kyuhyun lalu berjalan kearah sofa. Didalam kamarnya memang tersedia sofa yang diletakkan dekat jendela. Disana ia biasa menghabiskan waktu dengan Je Wo jika sedang tidak sibuk. Mereka bisa duduk berjam-jam, membicarakan banyak hal sambil menikmati secangkir kopi dan pemandangan pantai dimalam hari. Kyuhyun menarik bantal, berbaring perlahan, lalu memiringkan tubuhnya sehingga posisinya sekarang membelakangi Je Wo.

Je Wo meremas kuat ujung selimutnya. Ia benar-benar merasa sakit hati dengan sikap Kyuhyun. Setelah apa yang dilakukannya, tanpa merasa bersalah suaminya itu malah memilih tidur. Kali ini Kyuhyun benar-benar keterlaluan, pikirnya. Je Wo lalu menarik selimut, membungkus tubuhnya dengan kain panjang itu, lalu menyembunyikan wajahnya yang kini sudah basah oleh air mata.

***

Hyunje menarik tangannya dari pegangan pintu kamar Kyuhyun. Tadinya ia ingin masuk menyerahkan map yang diminta oleh Ayahnya. Namun saat ia mendengar perdebatan kecil antara Kyuhyun dan Je Wo, ia mengurungkan niatnya. Dengan langkah gontai ia berjalan kearah Eunje, menatap adiknya itu sesaat lalu memukul kepala Eunje dengan gerakan pelan.

“Kenapa?” Tanya Eunje heran. Kedua alisnya bertaut mendapati wajah Hyunje yang tidak bersemangat.

Hyunje menarik napas, lalu membuangnya pelan.”Kau bisa membantuku?”

“Hm?” sahut Eunje tak mengerti.

***

Kyuhyun membuka mata saat samar-samar telinganya mendengar suara isakan tangis. Seketika kemilau cahaya lampu menerobos masuk kedalam retinanya, membuatnya harus menyipitkan mata menetralisir silaunya cahaya. Perlahan ia bangun dan mengedarkan pandangan mencari asal suara tangisan.

Sesaat kemudian pandangannya terkunci, matanya tertuju pada bungkusan selimut diatas ranjang. Ia lalu bangkit, berjalan kesisi kanan ranjang kemudian dengan gerakan lambat mengibaskan selimut yang membungkus tubuh Je Wo.

“Sayang?” Kyuhyun terpaku, memandang wajah sang istri yang basah karena air mata. Kyuhyun menekuk kakinya, duduk berlutut mensejajarkan  tubuh dengan tinggi ranjang. Tangannya lalu bergerak menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah sang istri. “Sayang, kau baik-baik saja?” tak ada respon dari Je Wo. Yang terdengar hanyalah isak tangis yang semakin keras. “Shin Je Wo!” panggilnya lagi.

Karena cemas, Kyuhyun segera naik keatas ranjang, berbaring dibelakang Je Wo, lalu kemudian mendekap tubuh mungil itu dengan hangat. “Maaf, maafkan aku…” ucap Kyuhyun penuh penyesalan. “Maaf karena memarahimu, maaf karena meneriakimu, maaf karena menyalahkanmu dan mianhe karena tidak menghargai usahamu.” Kyuhyun diam sejenak, mengambil udara untuk melanjutkan perkataannya. “Aku terlalu takut dan terlalu malu untuk  meminta maaf. Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana terhadapmu. Oleh karena itu aku berusaha bersikap sebiasa mungkin agar tidak terlihat bodoh dihadapanmu. Maka itu aku lebih memilih tidur dari pada harus berhadapan langsung denganmu.” sambungnya semakin memperkuat dekapannya.

Kyuhyun meraih lengan Je Wo, membalik tubuh istrinya dengan hati-hati kemudian menelusuri setiap inci wajah Je Wo dengan haru.

“Bisakah kau memaafkanku?”

Je Wo mengangguk, berhambur kepelukan Kyuhyun dan menumpahkan semua air matanya disana.

“Dasar bodoh. Kenapa tidak dari tadi kau mengatakan ini?” umpat Je Wo masih dengan suara bergetar. Harusnya Kyuhyun meminta maaf dari tadi agar ia tidak perlu menangis seperti sekarang, pikirnya.

Kyuhyun tertawa. “Maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi.” Kyuhyun lalu membelai kepala Je Wo, memberikan kecupan singkat namun dalam, “Aku mencintaimu.” Tambahnya, lalu mendekap tubuh Je Wo semakin kuat.

***

“SELESAI!” ucap Hyunje dan Eunje setengah berteriak. Keduanya tak bisa menyembunyikan kesenangan setiap kali melihat cake yang membutuhkan waktu 4 jam bagi mereka  untuk membuatnya. Sebenarnya untuk waktu normal, hanya membutuhkan 2 jam. Tapi karena ulah Eunje yang selalu salah mencampurkan bahan, mereka harus memakan waktu selama itu.

“Hoam…” Eunje menguap. Matanya memerah menahan kantuk. “Hyung, apa sekarang kita bisa tidur?”

“Tunggu dulu, masih ada yang kurang.” Hyunje mengambil Cream, menggerakkan tangan dengan hati-hati menuliskan sesuatu diatas kue.

“Om-ma, ma-af.” Eunje mengeja mengikuti gerakan tangan Hyunje.

“Ok. Sekarang baru sempurna.” Hyunje tersenyum bangga.

“Hyung, apa kau yakin Omma akan tersentuh dengan ini?” Eunje memasang wajah kurang yakin.

“Tentu saja. Anak kesayangannya yang paling tampan yang membuatnya, mana mungkin dia tidak tersentuh.”

Eunje mengerucutkan bibir mendengar penuturan sepihak dari Hyunje. “Hanya dalam mimpimu, hyung.” celetuk Eunje melenggang pergi meninggalkan Hyunje.

Hyunje berdecak kesal, mengumpat kecil sepeninggal Eunje. “Omma, maaf…” ucap Hyunje sedetik kemudain. Matanya memandang hangat pada Cake buatannya  untuk Shin Je Wo.

END

88 thoughts on “FF Contest – Mianhae

  1. heummm masalah masakan bisa sampai kayak gitu
    ya ampun jadi inget seperti novel wedding romance yang aku baca darimu kan ada kata” *emang udah jadi kutukan bagi keluarga cho kalo menantu wanita gk bisa memasak*
    kasian je wo syukurlah semua sudah terselesaikan dengan baik

  2. oh my ini mah keluarga idaman, kalau bertengkar gitu sih wajar. sifat kedua anaknya itu loh beda banget, tapi ini cerita familly abiss, suka🙂

  3. Cho family and nice FF admin ^^
    knapa jewo mudah bnget maafin Kyu ya? pdhal cara ngebentak Jewo terlalu sadia nyakitin hati. tp apa daya klo cinta bsa ngerubah rasa kesel, kecewa dan bnci.
    ngakak it pas bagian Eunjae di srh ngendarain mobil . Kakak beradik beratem mulu Hahhah

  4. oh my god………
    nih cerita bener bener buat nangis. kesel. sedih bgt ama pertengkaran mereka.
    kyuhyun keterlaluan. tapi seneng bgt sama interaksi hyunje eunje mereka kakak beradik hang cute abiss..
    KEREN…. DAEBAK…!!!

  5. Keren thor… Lucu… Kalau keluarga kyupa bener kek gini. Aku nggak tahu maw ngomong apa.. Tpi, mereka keluarga yang harmonis.😉

  6. kyuhyun nih gengsinya ngk ketulungan, sm istrinya aja gt. untung punya anak laki laki yg tau mslh yg terjadi. setidaknya ngk buat mslh baru. ini ceritanya bgs, ada pelajaran yg bisa di ambil.

  7. bagus baguss. segala macam rasa ada di ff ini, wkwk. ada geli nya karena kelakuan kyuhyun-je wo yg makin parah mesumnya (kata hyunje), balon bening dari eunhyuk, sm racing game nya di eunje, hahaha itu semua bikin ngakak😀
    dan klimaks nya masakan je wo, emosiii. aaa terharu sm permintaan maaf kyuhyun, tapi kyuhyun-je wo selalu romantisss kok :’)
    daebakk!!🙂

  8. Emang ya sma keluarga ini, gg bsa apa gg berantem, cma masalah masakan bsa smpe kya gtu….
    Bca ff ini campur aduk perasaan.a…
    Ada ketawa sma kelakuan.a, sedih sma masalah.a , romantis cara menyelesaikan.a …

  9. Suka banget liat hyunje sm eunje…
    boleh ga salah satunya bwt aku aja(?)
    Aiguuu pertengkaran mereka ga jauh2 dr makanan, kasian juga je wo kyu kata2nya terlalu nyakitin…u,u
    Itu lee hyuk jae ngasi eunje balon(?) aduhh balon apaan, eunje masih kecil dan pas bawa mobil itu ngakak masa bisa cm gara2 main game…wkwkkwwwk

  10. awalnya dibikin ngakak karena tingkah super gila keluarga ini tapi akhirnya sedih juga karna tega sekali ngebentak istrinya sampe mengataii masakan sialan. kalo aku jadi je wo udh aqu cincang mulutnya! aiii. aqu ada ketipu loh disini. aku kira eunje dan hyunje itu masih bocah ingusan, 10 tahunan gitu eh taunya udh remaja…

  11. Aku terbawa suasaba banget baca ff ini, berasa jatuh cinta sama karakter hyunje,, dan walaupun disitu karakter kyu kaya bapa bapa berumur:3 tapi aku tetep aja ngebayanginnya wajah kyu yg masih imut imut gitu:3,

  12. Wahhhhhjj
    Suka ma hyunje eunje
    Duh ini kakak adik
    Bikin gemes ajja

    Kyuhyun keterlaluan bgt
    Bikin sakit hati

    Wah…aku baca nama authornya
    Kok sama an kyk si fb???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s