FF Contest – This is Love

image

Judul : This is love

Author : Chaa Syafaa Chachamow

Genre : Romance, Action.

Rating : PG-16

Gadis itu berjalan dengan wajah tanpa ekspresi. Ia menyipitkan matanya dan menipiskan bibirnya. Sibuk berkomat-kamit untuk meredakan kekesalannya yang memang sudah berada di ubun-ubun.

 

“Keluar sekarang juga atau aku yang akan memaksa kalian semua untuk keluar!” katanya dengan dingin seraya menghentikan langkahnya.

Ia berbalik. Melipat tangannya di depan dada dan melihat sekeliling. Menatap dengan bengis para pria bertuxedo hitam yang mulai keluar dari tempat persembunyian masing-masing. Shin Je Wo mengibaskan rambutnya ke belakang. Tidak peduli seberapa menyeramkannya ia menatap pria-pria itu, gadis itu  tetap terlihat memesona. Dan sayang sekali, dengan gaya penuh otoritas seperti itu malah membuatnya terlihat lebih cantik lagi.

“Yah! Dengar, Berhenti mengikutiku! Aku tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh, jadi kalian tidak perlu menaati perintah laki-laki itu untuk terus menempel padaku seperti hama. Sekarang, silakan enyah dari pandanganku. Sebelum aku benar-benar mematahkan kaki kalian!” Suara merdu itu mengalun dengan penuh ketegasan dan aura yang tidak bisa dibantah. Membuat pria-pria dihadapannya terdiam. Seolah sadar dengan kondisi emosi gadis itu yang benar-benar mengkhawatirkan, semua pria itu mengangguk patuh.

“Baiklah, tuan Putri. Tapi Tuan Besar berpesan supaya anda kembali kerumah sebelum makan malam.” jawab seorang laki-laki dengan nada patuh yang ketara.

“Aku tahu apa yang harus kulakukan. Termasuk pulang tepat waktu. Jadi silahkan pergi sekarang juga. Dasar orang tua menyebalkan!” Sungut gadis itu sambil menghentakkan kakinya. Berbalik dengan kesal kemudian melanjutkan perjalanannya.

Shin Je Wo melangkahkan kakinya menuju deretan toko di pinggir jalan itu. Memasuki salah satunya yang langsung disambut oleh dentingan bel saat pintu itu terbuka. Ia melihat sekeliling dan langsung menjatuhkan tubuhnya di sebuah kursi, dihadapan seorang gadis manis yang sedang sibuk dengan novelnya. Ia langsung menyeruput gelas di hadapannya dengan beberapa tegukan besar. Dan diakhiri dengan desahan lelah yang terdengar amat berlebihan.

“Kenapa? Apa lagi yang dilakukan ayahmu kali ini?” Tanya Hyemi tanpa mengalihkan tatapannya dari novelnya.

“Seperti biasa. Appa tetap mengirimkan para prajuritnya untuk mengawalku. Cih, yang benar saja. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Apakah menurutnya segala ilmu bela diri yang ia ajarkan padaku itu belum cukup? Sehingga harus ditambah pengawal tidak berguna yang bisanya hanya merusak pandanganku saja. Malangnya lagi, semuanya tidak ada yang tampan dan benar-benar kaku. Payah!” keluh Je Wo panjang lebar. Sepertinya benar yang orang-orang katakan. Gadis ini memang bermulut tajam.

“Kau pikir ayahmu ingin memberikanmu suami, sehingga harus menyediakan segudang pria tampan untukmu?”

“Tetap saja. Harusnya dia juga memikirkan bagaimana berada di posisiku. Bagaimana rasanya berdekatan dengan pria-pria berwajah datar yang bisanya hanya berkata, baiklah… tidak… terima kasih… Berani sekali mereka mengaturku untuk pulang tepat waktu. Cih, aku tidak sudi.”

“Tetapi kau tetap bisa kabur kan? Alasan apa lagi yang kau katakan? Oh ya, sepertinya masih ada satu pengawal setiamu yang tidak bisa meninggalkan Tuan Putrinya sendirian.” Hyemi berkata sambil mengedikkan dagunya kearah belakang Je Wo.

“Aku tahu. Sudahlah. Aku tidak akan bertingkah hari ini. Lama-lama aku bisa gila karena ayahku dan semua kekuasaannya yang mulai terasa menyebalkan itu.”

***

Setelah menghabiskan lima tahun di Amerika, akhirnya pria itu kembali menginjakkan kakinya di Seoul. Kota ini masih terasa sama. Jalanannya. Aromanya. Juga suasana rumah dihadapannya yang masih sama hangatnya saat ia meninggalkannya dulu.

Cho Kyuhyun melangkahkan kakinya menapaki halaman rumah itu. Membuka pintunya dan langsung disuguhi oleh pemandangan yang tiba-tiba ia rindukan. Kakinya mulai melangkah lebih dalam. Melewati perabotan-perabotan mewah yang tertata rapi. Hingga menuju ruang keluarga yang luas. Seketika terbayang segala aktivitas dan gelak tawa yang pernah mengisi rumah itu. Membuatnya terdiam ditempat hingga akhirnya tersentak saat sebuah suara mengalir ke telinganya.

“Kyuhyun-ah. Neo wasseo?”

Kyuhyun berbalik dan mendapati seorang wanita paruh baya berjalan menghampirinya. “Eomma…”

Wanita itu memeluknya dengan hangat. Membuat segala kepenatan yang ia rasakan menghilang begitu saja. Biasanya ia tidak akan mau melakukan hal itu dengan umurnya yang sekarang, tapi ia memberikan pengecualian untuk hari ini. Wanita itu masih memegang tangannya saat mereka duduk di sofa yang menghadap ke televisi dengan ukuran besar itu.

“Bagaimana kabarmu? Kenapa baru pulang sekarang?”

“Aku baik-baik saja, eomma. Kuliahku selesai dengan hasil gemilang. Jadi sekarang aku sudah siap untuk menjalankan Cho Corp sepenuhnya.”

“Baguslah. Eomma tidak mengirimmu kesana untuk hasil yang sia-sia. Selain kuliahmu, tidak ada yang ingin kau tunjukkan pada eomma?”

Crap! Kyuhyun menatap curiga wajah ibunya yang mulai terlihat menjengkelkan. Ia sadar dengan maksud pertanyaan itu. Dengan usianya yang sekarang, ia sudah tahu pasti apa yang akan ibunya tuntut darinya. Tapi tetap saja ia tidak menyangka kalau itu akan terjadi sekarang. Saat ia bahkan belum genap satu hari berada dirumahnya.

“Eomma. Apa-apaan itu? Apakah keberadaanku saja tidak cukup? Eomma mau apa lagi?” jawabnya pura-pura bodoh.

“Sudahlah eomma. Jangan banyak berharap bahwa anak ini akan mengenalkan seorang gadis padamu. Aku bahkan mulai khawatir, jangan-jangan selama berada di Amerika sana, ia sudah mulai menyukai laki-laki.” jawab seorang gadis yang baru saja keluar dari dapur.  Gadis itu melintas di belakang sofa yang mereka duduki. Membuat Kyuhyun memutar kepalanya untuk melihat kelakuan kakak perempuannya itu.

“Cho Ahra. . .” geram Kyuhyun dengan gigi terkatup rapat. Plak! Dengan tanpa rasa sungkan, tangan indah milik gadis itu melayang tepat di kepala Kyuhyun. Membuat pria  itu meringis geram sekaligus geli. “Yak! Noona, begini caramu menyambut adikmu yang sudah 5 tahun tidak pulang?”

“Jangan mulai bermelankolis padaku. Kau pikir kelakuanmu tadi pantas dilakukan oleh seorang adik yang sudah 5 tahun tidak pulang?” Balas Ahra dengan ringan sambil duduk disebelah Kyuhyun. Ia meletakkan potongan apel di meja dan mulai menyantapnya.

Kyuhyun merebahkan kepalanya di bahu kakaknya. Mengunyah apel yang disuapkan oleh Ahra dengan senang hati. Memejamkan matanya sambil meresapi suasana hangat keluarga yang selama ini tak dirasakannya. Meskipun mereka sering berdebat  dan amat jarang mengungkapkan rasa sayang masing-masing, tindakan mereka tetap saja tidak bisa dibohongi. Semua orang bisa melihat bagaimana Kyuhyun sangat menyayangi kakaknya. Dan dibalik sikap sadis Cho Ahra, semua orang juga bisa melihat betapa pedulinya ia pada Kyuhyun.

“Sudahlah, Noona. Kau tahu aku tidak akan menikah sebelum kau menikah. Aku tidak akan mendahuluimu. Jadi, sebelum kau mengejekku lebih baik perbaiki dulu hidupmu dan temukan laki-laki yang bersedia memiliki istri sepertimu.” Kyuhyun menjawab dengan nada mengejek. Lengkap dengan sindiran yang membuat Ahra menggeram kesal.

“Jangan membahasku. Dasar bocah sialan! Aku benar-benar akan menyerahkanmu pada keluarga rekan bisnis Appa nanti.”

***

Cho Kyuhyun POV

Aku memarkirkan mobilku. Menatap berkeliling dan berharap bahwa aku tidak salah tempat. Lee Hyukjae—sepupuku yang juga biasa disapa Eunhyuk—memintaku bertemu di café miliknya. Melihat keadaan cafenya saat itu, aku akhirnya tahu ternyata pria satu itu memang serius saat ia mengatakan ingin mengelola café. Dan kurasa ia juga tidak bercanda saat mengatakan kalau cafenya sudah memiliki cabang dimana-mana. Aku memasuki tempat itu. Sedikit merasa bingung namun akhirnya tersenyum saat mendapati orang yang kucari sudah berada di sebuah meja dengan seorang gadis. Oh, tentu saja. Seorang Lee Hyukjae tidak mungkin duduk di sini sendirian. Pria itu termasuk kedalam pecinta wanita kelas berat.

“Hai, Kyu. Akhirnya kau kembali juga. Lama tidak bertemu.”

“Ya. Cukup lama sampai bisa melihat perubahan besar dalam hidupmu. Termasuk gadis terakhir yang aku lihat bersamamu.”

“Aish, hentikan ocehanmu yang tidak bermutu itu. Dia adalah gadisku satu-satunya. Jangan membuatnya marah, karena dia akan sangat susah untuk di jinakkan.” Katanya dengan di akhiri bisikan.

Aku tersenyum geli dan mengalihkan pandangan ke gadis itu lagi. Aku lalu mengulurkan tanganku. “Cho Kyuhyun.”

“Kim Hyemi.”

“Jadi, seperti apa Amerika? Tidak seindah Seoul kan?”

“Yaah, begitulah. Aku—“

“Maaf aku terlambat. Entah kenapa, tidak peduli aku sudah menyiapkan alarm dengan volume sekeras apapun, tetap tidak bisa membuatku bangun tepat waktu. Aku belum ketinggalan obrolan apapun kan?”

Aku bahkan belum sempat menjawab pertanyaan Eunhyuk, tapi tiba-tiba seorang gadis datang dan duduk dikursi di sebelahku. Ia menatap Hyemi dan Eunhyuk dengan wajah penuh penyesalan yang dibuat-buat. Gadis itu menyeka bulir-bulir keringat didahinya. Ia lalu memanggil seorang pelayan yang melintas di dekatnya dan memesan sesuatu yang bahkan tidak bisa kudengar apa pesanannya. Untuk beberapa detik itu tidak ada yang bisa kulakukan selain memperhatikan wajahnya yang ternyata sanggup membuat detak jantungku lebih gila dari biasanya tapi sekaligus memberikan kenyamanan.

“Mungkin kau adalah satu-satunya Tuan Putri yang tidak bisa hidup teratur. Kebiasaan terlambat itu benar-benar sudah mendarah daging.”

Khayalanku buyar oleh suara Eunhyuk yang ditujukan ke objek pandangku sejak tadi.

“Jaga bicaramu Lee Hyukjae. Kau tidak tau sedang berurusan dengan siapa? Aku bisa menghabisimu saat ini juga kalau aku mau.”

“Maaf, Tuan Putri. Kekuasaanmu tidak berlaku disini. Ini adalah daerah teritorialku.”

“Kekuasaanku tidak punya batasan, kalau kau belum tahu. Hei, Kim Hyemi. Aku masih tidak habis pikir bagaimana bisa kau menerima pria ini sebagai pacarmu.”

“Percayalah, aku juga selalu bertanya hal yang sama pada diriku sendiri.”

“Yak. Chagi~ya. Baru kemarin kau bilang kalau kau mencintaiku.” Eunhyuk mengeluarkan protesnya dengan wajah memelas. Sementara gadis disampingku hanya mengeluarkan ekspresi seseorang yang sedang muntah.

“Kau siapa?”

Tiba-tiba suasana menjadi hening. Tunggu dulu. Siapa yang bertanya barusan? Siapa? Eh, itu seperti suaraku. Jangan katakan kalau aku mengeluarkan pertanyaan yang sejak tadi berkeliaran dibenakku.

Cho Kyuhyun bodoh!

Beberapa detik setelahnya kusadari kalau ketiga orang itu terdiam melihatku. “Hai. Maaf. Aku belum menyadari keberadaanmu tadi.” Gadis itu menjawab pertanyaanku dengan nada ringan. Matanya ikut menyipit saat bibirnya tersenyum. Dan masalahnya itu malah membuatnya lebih memesona daripada sebelumnya dan membuat kerja tubuhku jadi kacau. Lagi-lagi ia membuatku tersihir. Demi Tuhan, Cho Kyuhyun. Dia hanya tersenyum. Hanya tersenyum. Apa yang membuatmu menjadi segila ini.

Ia mengulurkan tangannya padaku.

“Cho Kyuhyun.” Aku bersyukur masih bisa berbicara dengan benar saat ini. Meski kuakui kalau suaraku terdengar aneh.

“Aku Shin Je Wo. Senang bertemu denganmu.” Katanya lagi. Ia memberi jeda pada kalimatnya. Alisku terangkat menunggu kata-katanya selanjutnya. Dan jantungku nyaris jatuh ketanah saat ia memajukan tubuhnya mendekatiku.

Tidak. Dia tidak menciumku. Ia hanya mendekatkan bibirnya ke telingaku lalu mengatakan…. “Jangan bilang pada siapapun ya. Aku adalah Tuan Putri keluarga Shin. Lebih tepatnya adalah Putri Tunggal keluarga Shin.” Katanya lalu menarik tubuhnya kembali. Duduk di posisinya seperti semula sambil terkikik.

Merasa geli atas apa yang dilakukannya barusan. Aku mendengus. Lupakan kenyataan bahwa tadi aku mengagumi gadis ini habis-habisan. Karena ternyata dia benar-benar gadis yang arogan. Dan malangnya, di detik-detik selanjutnya, aku mendapati diriku jatuh pada pesonanya. Lagi dan lagi.

***

“Berhentilah merecokiku, Noona. Aku tahu apa yang harus kubeli. Sudahlah.  Aku akan pulang sebentar lagi.” Aku mematikan ponselku dengan kesal. Menenteng beberapa kantong plastik di tanganku dan berjalan kearah mobilku.

Aku membuka pintu belakang mobilku. Nyaris berteriak saat mendapati seorang gadis duduk disana. Matanya membulat saat aku memandangnya seperti maling yang tertangkap basah. Ia memamerkan cengiran kudanya lalu menarik tanganku masuk agar duduk di  sampingnya.

“Kyuhyun ssi. Maaf. Aku tidak tahu ini adalah mobilmu. Ini benar-benar darurat. Tolong jangan suruh aku keluar sekarang. Sebentar saja. Kalau perlu kau boleh bawa aku pergi dari sini.” Katanya dengan wajah memelas.

Aku berusaha mengorek-ngorek kewarasanku yang tersisa. Menjauhkan tubuhnya dariku lalu mendesah malas.

“Apapun yang membuatmu bisa ada dimobilku itu bukan urusanku. Sekarang, silakan keluar. Aku mau pulang.” Kataku sambil membuka pintu mobil. Belum sepenuhnya pintu itu terbuka, aku merasakan tubuhku terduduk kembali. Lengkap dengan tangan gadis itu yang menarik kemejaku.

“Biarkan aku berada disini sebentar lagi. Kenapa kau tidak bisa mengerti. Aku bisa mentraktirmu makan sebagai gantinya.”

“Aku tidak ingin makan bersamamu. Sekarang yang harus kau lakukan hanyalah keluar dan membiarkanku pulang. Aku harus—“

Untuk kesekian kalinya gadis ini membuatku nyaris gila. Aku belum menyelesaikan kalimatku saat dia  menarik tubuhku dengan paksa. Ia menenggelamkan tubuhnya dibangku mobil dan ikut menarikku bersamanya. Membuatku berada di posisi tepat diatas tubuhnya dengan tanganku berada disisi tubuhnya. Menahan tubuhku agar tidak sepenuhnya menindihnya. Sial, dengan jarak sedekat ini aroma tubuhnya benar-benar memenuhi indera penciumanku. Dan itu adalah hal yang berbahaya.

Astaga, Shin Je Wo! Apa yang kau lakukan?

***

Shin Je Wo POV

“Apapun yang membuatmu bisa ada dimobilku itu bukan urusanku. Sekarang, silakan keluar. Aku mau pulang.”

Kalimatnya itu benar-benar membuatku panik. Aku tidak akan merasa seheboh ini kalau saja di luar sana orang-orang suruhan ayahku tidak sedang mengejarku. Akhir-akhir ini sikap ayahku benar-benar menyebalkan. Sudah cukup selama hidupku ini aku diatur-atur olehnya, tapi tidak untuk sekarang. Tidak peduli apa yang akan dilakukannya nanti, aku tidak akan pulang sekarang.

Dan masalahnya, pria dihadapanku ini benar-benar tidak mengerti kondisiku.

“Biarkan aku berada disini sebentar lagi. Kenapa kau tidak bisa mengerti. Aku bisa mentraktirmu makan sebagai gantinya.” Bujukku lagi. Diamlah, Cho Kyuhyun dan biarkan aku disini. Sial! Orang-orang itu berjalan kearah sini. Jangan sampai mereka tahu kalau aku berada di dalam mobil ini. Tidak! jangan mendekat!

“Aku tidak ingin makan bersamamu. Sekarang yang harus kau lakukan hanyalah keluar dan membiarkanku pulang. Aku harus—“

Aku membenamkan tubuhku di bangku mobil. Tidak lupa untuk menarik Kyuhyun untuk ikut membungkuk bersamaku. Refleks yang baik karena kulihat pria berseragam hitam berjalan melintasi mobil kami. Kurasakan tubuh Kyuhyun ikut menegang. Aku menempelkan jari telunjukku di bibirku. Isyarat agar ia tidak buka suara saat pria berseragam hitam itu belum menjauh dari mobil kami.

Setelah beberapa detik yang terasa mematikan itu, akhirnya aku menghembuskan Napas lega saat orang-orang itu menjauh. Aku mendongak kearah Kyuhyun dan langsung membuat tubuhku membeku saat itu juga. Caranya menatapku benar-benar membuat tubuhku ingin meleleh. Tatapannya yang dalam membuatku tidak bisa mengalihkan pandangan. Wajahku memanas saat baru menyadari bagaimana posisi kami saat ini. Sial! Shin Je Wo, apa yang kau lakukan? Dimana otakmu? Dia pasti berpikir yang tidak-tidak tentangmu.

Aku ingin berontak dan meneriakinya dengan segala kata-kata kasar yang aku bisa. Tapi rasa nyaman yang tak biasa saat berada di dekatnya ini mengalahkan segala usahaku. Aku bahkan bisa merasakan Napasnya yang segar. Dan kenyataan itu malah memperburuk segalanya. Demi keselamatan jantungku, akhirnya aku mendorongnya menjauh. Tindakan yang berlebihan karena sekarang dia malah terhantuk atap mobil.

“Aish. Apa yang kau lakukan, huh? Ternyata kau lebih agresif dari kelihatannya?”

“Tutup mulutmu. Itu tadi karena orang-orang itu akan melihat kita kalau aku tidak melakukannya.”

“Aku tidak peduli apapun alasannya. Dasar gadis gila.”

***

Cho Kyuhyun POV

Aku turun lalu membuka pintu depan mobil. Duduk dibalik kemudi dan menjalankan mobilku pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan kuhabiskan dengan menghela Napas dan menggeleng-gelengkan kepala. Merasa gila dengan hidupku yang baru dua hari di Seoul. Tuhan baik sekali padaku.

Seperti de javu, aku nyaris terjengkang ke belakang saat membuka pintu belakang mobil. “Astaga. Kenapa kau masih ada disini? Kau mengikutiku?”

“Kau tidak memberiku kesempatan untuk keluar. Bagaimana aku bisa turun dari mobilmu.”

“Lalu kenapa kau diam saja selama di perjalanan? Bagaimana bisa aku tidak menyadari kalau di belakangku ada orang?” Baiklah, ini mulai terasa menyeramkan. Shin Je Wo sepertinya bukan gadis biasa.

“Wajahmu tegang sekali saat menyetir tadi. Aku tidak berniat mengganggu.” Jawabnya dengan wajah polos. Membuatku merasa tertohok dengan pernyataannya. Untunglah dia tidak sadar apa yang menyebabkanku tidak bisa tenang tadi.

“Ehm. Yasudah. Kalau begitu kau silakan pergi dari rumahku. Aku tidak berminat untuk mengantarmu pulang.”

“Tidak perlu. Aku juga tidak butuh tumpanganmu.”

“Kuharap kau juga mengatakan itu saat kau dikejar orang-orang tadi.”

“Kyuhyun-ah. Kenapa tidak masuk? Kau membawa temanmu?”

“Eoh? Eomma. Ne? aniya. Dia—“

“Wah. Kenapa tidak bilang kalau kau akan membawa seorang gadis kesini? Ah, apakah dia pacarmu? Kenapa diam disana? Ayo masuk.”

Aku bisa melihat wajah Shin Je Wo yang penuh protes. Dan nyaris tertawa terbahak-bahak saat melihat ekspresinya ketika ibuku menggiringnya masuk ke rumah. Gadis itu menurut dengan pasrah dan hanya tersenyum canggung pada ibuku.

Ah, sudahlah. Toh, dia sudah terlanjur berada disini. Lagipula kelihatannya asik juga mengusili gadis arogan satu itu.

“Siapa namamu?” ibuku bertanya padanya saat kami memasuki ruang keluarga. Ia mempersilakan gadis itu duduk dan menyuruhku untuk ikut duduk disamping gadis itu. Membuat Shin Je Wo terapit oleh dua orang yang baru ditemuinya dalam hitungan menit.

“Kamsahamnida, ahjumma. Shin Je Wo imnida.” Katanya sambil tersenyum.

Aku mendengus mendengarnya. Gadis itu tidak menambahkan embel-embel Tuan Putri-nya saat berkenalan dengan ibuku. Licik sekali.

“Kau cantik sekali. Sudah berapa lama kalian bersama? Kyuhyun bahkan baru kembali ke Korea kemarin. Oh iya, panggil aku eomma saja. Kau kan calon menantuku. Kyuhyun~a, kenapa kau tidak mengenalkannya pada eomma sejak awal?” ibuku masih terus menikmati keadaan yang tidak benar ini.

Sementara Shin Je Wo, gadis itu menoleh padaku sambil memberikan tatapan setannya. Memaksaku untuk menjelaskan yang sebenarnya pada ibuku. Aku hanya membalasnya dengan sengiran misterius. Diakhiri dengan kedipan mata yang aku yakini sudah amat sangat mampu membuatnya meleleh.

“Eomma. Berhenti bertanya hal-hal pribadi seperti itu. Kau membuatnya malu.”

Jawabku dengan nada serius yang di buat-buat. Membuatku dihadiahi cubitan pedas yang mungkin membuat pahaku memar. Sebagai balasannya, aku melingkarkan tanganku pada bahunya. Menariknya mendekat dan nyaris berteriak senang saat melakukannya. Menikmati sensasi menyenangkan yang menggelitik saat kulit kami bersentuhan. Sepertinya aku benar-benar sudah gila.

***

Shin Je Wo POV

Cho Kyuhyun ini benar-benar pria gila. Bagaimana bisa ia membenarkan pemikiran ibunya yang menganggap bahwa aku adalah gadisnya. Dan bahkan akan menjadi istri dari pria gila ini. Istri? Astaga. Aku benar-benar harus pergi dari sini. Aku mencubit pahanya—bagian tubuh paling dekat yang bisa kujangkau saat itu—dengan kekuatan yang tidak main-main. Merasa heran karena ia tidak meringis dan bahkan seperti tidak merasakan apapun.

Dan ia bahkan dengan beraninya merangkulku. Menarik tubuhku mendekat padanya. Itu adalah hal yang tidak baik untuk tubuhku. Jantungku tidak bisa bekerja dengan normal dan malah memompa lebih cepat dari biasanya. Hal yang paling ku khawatirkan saat ini adalah wajahku yang kemungkinan merona merah. Tidak, Cho Kyuhyun. Jangan membuatku terlihat seperti remaja yang baru merasakan cinta. Dan seperti sebelum-sebelumnya, rasa nyaman itu kembali menyelimutiku.

“Nah, karena kau sudah ada disini, bagaimana kalau kita makan siang bersama?” Wanita itu bangkit dan berjalan menuju ke bagian dalam rumah—yang kuketahui adalah ruang makan keluarga Cho. Membuat aku dan Kyuhyun mengikutinya.

Dan sialnya, tangan Kyuhyun masih berada di tempatnya. Bahkan sekarang sudah bertengger di pinggangku. Tidak membiarkanku menjauh sedikitpun. Demi Tuhan, ada ibunya disini. Kenapa dia berani melakukan hal ini.

“Aku adalah Tuan Putri keluarga Shin, Cho Kyuhyun. Singkirkan tanganmu dari tubuhku.”

“Disini kau adalah menantu keluarga Cho. Tuan Putri-mu itu tidak berlaku.”

“Sejak kapan aku menjadi istrimu?”

“Sejak kau memasuki rumahku.”

“Omong kosong. Lepaskan aku atau aku akan benar-benar menendangmu.”

“Jangan membanggakan kekuatanmu dihadapanku Shin Je Wo. Dirumah ini, akulah penguasanya. Aku pangeran keluarga Cho.”

Dasar Cho Kyuhyun menyebalkan. Aku sudah siap melakukan tindak kekerasan padanya saat tiba-tiba…

Plak!

“Jangan mengusik adik iparku, Cho Kyuhyun. Kau benar-benar tidak berubah.”

“Yak, Noona~ya!”

Aku tergelak saat menyaksikan seorang gadis yang ternyata adalah kakaknya itu memukul kepala Kyuhyun. Setidaknya itu mewakili kekesalanku. Dan tawaku semakin berderai saat melihat ekspresi Kyuhyun yang jelas-jelas tidak terima—membuat wajahnya benar-benar terlihat lucu.

“Benarkah? Tapi kenyataan barusan menunjukkan dengan jelas kalau penguasa disini bukan kau, Cho Kyuhyun.”

***

“Nah, berhenti disini.” Aku turun dari mobil Kyuhyun dengan was-was. Berhubung aku tidak pernah diantar pulang seseorang kecuali Hyemi dan Eunhyuk, hal ini membuatku khawatir. Berharap semoga tidak ada yang melihat kami.

“Baiklah, terima kasih atas tumpanganmu.”

“Aku tau. Aku juga tidak meminta untuk dipersilakan masuk.”

“Kau tidak punya urusan apapun untuk masuk kerumahku.”

“Cih, benar-benar istri yang sadis.”

Aku menundukkan tubuhku dan menyejajarkannya dengan jendela mobil. Memasang tampang datar yang ditujukan untuk pria itu. “Aku bukan istrimu. Sekarang pulanglah.”

“Baiklah, aku pulang ya, yeobo~.” Katanya kemudian sambil mengacak pelan rambutku. Terkekeh geli saat melihatku menggeram kesal.

Aku berbalik saat mobilnya sudah hilang di ujung jalan. Tersenyum saat merasakan sisa-sisa kehangatan dari sentuhannya. Kakiku terhenti saat aku berniat menaiki tangga menuju kamarku. Kulihat ayahku sedang memberi makan ikan yang berada didalam kolam buatan yang memang sengaja dibuat oleh ayahku. Lengkap dengan segala keribetan air mancur buatannya. Gemericik air yang biasa terdengar menenangkan itu saat ini entah kenapa terdengar bagaikan irama tanda perang.

“Siapa yang mengantarmu pulang?” ayahku bertanya dengan nada dinginnya.

“Seseorang. Bukan siapa-siapa.” Jawabku dengan datar.

“Tetaplah menjadi orang yang bukan siapa-siapa.”

***

Cho Kyuhyun POV

Sebut aku gila karena hari ini aku sedang berada di café milik Eunhyuk—lagi. Tujuanku hanya satu. Berharap agar gadis itu juga datang kesini hari ini. Dan ternyata, harapan hanya tinggal harapan. Shin Je Wo tidak datang.

“Kemana Shin Je Wo? Dia tidak kesini hari ini?”

“Dia memang sering kesini. Bukan berarti selalu kesini.”

Aku mengangguk mendengar jawaban Eunhyuk. Keheningan yang singkat itu tidak bisa mencegahku untuk tidak melamun. “Kau tidak benar-benar menyukai Shin Je Wo kan?”

“Kenapa? Ada yang salah dengan itu?”

“Dia bukan gadis biasa, Kyu. Kau tidak seharusnya memiliki perasaan apapun padanya.”

“Apa maksudmu?”

“Ada banyak gadis di Seoul. Kau boleh mencintai siapapun. Tapi tidak dengan Shin Je Wo.”

“Apa salahnya dengan Shin Je Wo?”

“Dia gadis yang rumit. Dan aku tidak yakin kau ingin berurusan dengan ayahnya.”

“Kenapa? Dia putri presiden?”

“Akan lebih baik kalau dia memang putri presiden.”

“Kau membuatku takut, Lee Hyukjae.”

“Hanya memberitahumu. Dia adalah putri seorang mafia. Aku tidak perlu menjelaskan padamu kan bagaimana kehidupan seorang mafia. Pengaruh ayahnya hampir menyetarai yakuza di Jepang. Dia bukan gadis yang bebas jatuh cinta dan memilih ingin menjadi suami siapa. Aku tidak ragu kalau nanti kau akan lebih dulu dihabisi oleh ayahnya karena sudah berani dekat-dekat dengan putrinya. Dan itu terjadi sebelum kau sempat mengungkapkan apapun padanya.” Penjelasan Eunhyuk membuatku terdiam, berpikir keras untuk dapat mengerti apa maksud perkataannya tadi. Aku sudah bisa memahami kalau ternyata ia memang bukan gadis sembarangan. Tapi putri mafia? Kenyataan macam apa ini?

Aku mengurut pelipisku dengan frustasi. Terdiam lama karena hanyut dengan pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi kepalaku. Sekeras apapun aku berusaha untuk menolak kenyataan itu, tetap tidak merubah apapun. Sama halnya dengan sekeras apapun usahaku untuk mengenyahkan Shin Je Wo dari benakku. Berusaha meyakinkan bahwa ini hanya ketertarikan sesaat yang akan hilang esok hari. Namun kenyataannya, sudut hatiku tetap berteriak bahwa aku sudah mencintai gadis itu entah sejak kapan. Dan seluruh sel tubuhku mengatakan kalau aku menginginkannya.

“Maaf, hyung. Tapi satu-satunya gadis yang kuinginkan untuk menjadi istriku itu hanya dia. Shin Je Wo. Dia atau tidak sama sekali.”

***

Seharian ini aku benar-benar kacau. Hanya karena satu fakta. Shin Je Wo adalah anak seorang mafia. Memangnya kenapa kalau ayahnya mafia? Apakah itu salahnya? Bukan dia yang memilih agar dilahirkan oleh keluarga dengan latar belakang seperti itu, kan? Jadi apa yang kau takutkan? Berhentilah jadi pecundang, Cho Kyuhyun!

Aku memaki diriku sendiri. Hari ini adalah hari pertamaku menjalankan Cho Corp. Dan sekarang aku sedang terduduk di pinggir taman sendirian. Menertawai diriku sendiri saat ku dapati bahwa aku melihat gadis itu sedang berlarian di taman ini. Bagus Cho Kyuhyun. Tidak cukup dengan otakmu dihantui oleh dirinya, sekarang gadis itu juga berkeliaran di matamu.

Tunggu dulu.

Kalau ini hanya ilusi, tidak mungkin terlihat sejelas ini. Itu memang Shin Je Wo. Dan dia bukan sedang berlarian. Tapi melarikan diri. Dengan beberapa pria berpakaian hitam yang mengejarnya. Ia berlari kearahku. Masih sempat untuk melemparkan senyumannya padaku. Dan syukurnya aku masih cukup waras untuk tidak pingsan di tempat. Ia menarikku agar ikut lari bersamanya.

“Hai. Kita bertemu lagi. Kau tidak mengikutiku kan?” sapanya. Masih dengan kepercayaan dirnyai yang tinggi.

“Apa yang kau lakukan? Siapa mereka? Kau berhutang pada mereka?”

“Aish. Sejak kapan tuan putri sepertiku memiliki hutang.” Katanya dengan mimik tidak terima. Ia lalu menarik tanganku untuk berhenti. Baru kusadari kalau sekarang kami sedang berada disebuah gang. Ia merapatkan tubuhnya di dinding sambil sesekali melirik ke belakang. Melihat keberadaan pria-pria tadi. Dan sebelum aku sempat mengatakan apapun, dia sudah merobak gaun pas badannya—yang berukuran sebatas lutut—hingga kini hanya sebatas setengah pahanya. Atau mungkin lebih. Dan itu sukses membuatku menganga.

“Apa yang kau lihat, huh?”

“Kau tidak perlu melakukan itu hanya untuk menggodaku, sayang.”

“Cih. Hanya didalam mimpimu.”

Dan sedetik kemudian, kulihat ia sudah menghajar seorang pria yang tadi mengejar kami. Menghadiahinya pukulan-pukulan mematikan hingga menyebabkan pria itu rubuh. Disusul dengan tendangan dan pukulan yang ia arahkan pada pria yang lainnya. Tubuhnya bergerak gesit menghindari serangan-serangan dari pria itu yang kuakui cukup berpengalaman. Ia lalu menampar kepala mereka. Berputar mengelilingi tubuh yang lain dengan kecepatan mengagumkan, lalu menendang kaki bagian belakang pria itu. Mematahkan tulang hidung pria yang lain dan meninju perut pria yang satunya lagi. Aku menyaksikannya dengan sorot kekaguman, dan terakhir kulihat pria-pria itu sudah ambruk di tanah.

Ia menghampiriku sambil mengatur Napasnya. Mengibaskan rambutnya kebelakang lalu merapikan pakaiannya. “Nah, sekarang kita bisa pergi.”

Kami meninggalkan tempat itu dengan berjalan beriringan. Aku memperhatikannya yang sedang menghapus keringatnya. Memutar kembali kejadian tadi dikepalaku dengan setengah percaya. Gadis ini, gadis yang kukira anggun meskipun bermulut tajam, bisa menghabisi 5 orang pria yang bukan pria biasa. Sementara aku, laki-laki sejati, hanya berdiri dibelakangnya sambil menontonnya, dan tidak melakukan apapun untuk merubah keadaan. Hari ini untuk pertama kalinya aku merasa terhina sebagai seorang laki-laki.

Dan dia menghabisi mereka saat ia menggunakan gaun dengan bawahan sempit. Sepertinya ia memang putri seorang mafia. Ngomong-ngomong soal gaun…. Aku melihat keadaannya sekarang. Sial! Kenapa aku baru menyadarinya.

“Hm? Apa?” ia melihatku dengan pandangan bertanya saat aku menahan tangannya untuk berhenti.

Aku melepaskan jasku. Melingkarkannya pada pinggang gadis itu lalu mengikatnya. Membiarkan tanganku mengelilingi tubuhnya untuk sejenak lalu membalas tatapannya. Mengabaikan detak jantungku yang lagi-lagi diluar batas normal. Hampir melonjak senang saat kulihat rona merah diwajah gadis itu.

“Tidak ada yang boleh melihat betapa mempesonanya istriku saat ini.”

 ***

Shin je Wo POV

“Tidak ada yang boleh melihat betapa mempesonanya istriku saat ini.” Wajah pria itu tepat di hadapanku. Aku heran kenapa tidak pingsan saat ini juga. Beruntung sekarang Kyuhyun memegangiku. Dan hal itu kembali menciptakan aliran listrik yang menghantarkan sensasi nyaman diseluruh tubuhku. Tidak tidak tidak. Sialan, kenapa kau harus melakukan hal keren seperti itu Cho Kyuhyun.

Aku mengalihkan pandangan. Melepaskan diri darinya lalu berdehem. “Sudah kubilang aku bukan istrimu.”

“Itu adalah fakta yang tertunda.”

“Sepertinya kau terbentur sesuatu tadi.”

“Tunggu saja. Fakta itu akan terwujud dalam waktu dekat nanti.”

“Aku yakin kau memang terbentur sesuatu.”

Kyuhyun terkekeh geli. Kami kembali melanjutkan langkah menuju mobilnya. “Ngomong-ngomong, eommaku ingin bertemu denganmu.”

***

Kami memasuki rumah keluarga Cho—setelah tadi mengganti pakaianku terlebih dahulu. Saat tiba di dalamnya, ibu Kyuhyun langsung memelukku. Untuk sejenak aku merasakan kehangatan yang selama ini ingin aku rasakan. Dan setelah itu aku mengakui bahwa pelukan seorang ibu memang tempat terhangat yang diciptakan oleh Tuhan.

“Hai Je Wo. Senang melihatmu datang. Ayo masuk. Eomma dan Ahra sedang menyiapkan makan malam.”

“Ne, eomma. Kalau begitu biar aku bantu.” Jawabku sambil tersenyum. Meskipun pada kenyataannya aku bukan menantunya—bahkan bukan pula calon menantunya—tapi sikap hangat Ny. Cho membuatku tidak bisa menolaknya. Akhirnya aku menawarkan diriku. Berharap agar ia melarangku karena sejujurnya kemampuanku di dapur benar-benar butuh pertolongan. Aku lebih memilih memukuli pengawalku daripada memasak.

Dan malangnya, Ny. Cho tidak menahanku. Malah menyambut tawaranku dengan senang hati.

Ini benar-benar diluar dugaan. Aku bahkan rela merepotkan diriku sendiri.

“Aku bukan istrimu kan? Aku tidak benar-benar berniat memasak.” Bisikku pada Cho Kyuhyun.

“Anggap saja latihan menjadi istriku.”

“Kau gila. Aku tidak bisa memasak, dasar sialan. Aku akan—“

“Adik ipar?”

“Ne?” dengan refleks aku menjawab saat kudengar Ahra eonni berteriak. Aku menggigit bibirku sendiri. Dan sekarang aku bahkan mengakui diriku sendiri sebagai adik iparnya. Ini benar-benar tidak beres.

Kyuhyun tersenyum geli padaku. Ia lalu mengacak pelan rambutku dan mendorong tubuhku hingga sampai di balik counter dapur. Berdiri disamping Ahra eonni. Dihadapkan dengan sekian macam bahan makanan yang tidak kuketahui apa namanya.

Akhirnya aku mengikuti instruksi Ahra eonni dengan canggung. Memotong wortel dengan amat sangat tidak simetris. Merasa menyerah, aku mendesah penuh penyesalan—yang kali ini kuajukan dengan tulus.

“Mianhe eonni, eomma. Aku tidak bisa memasak.” Kataku dengan pelan. Berharap mereka mengerti situasiku. Aku sudah menyiapkan diri menghadapi reaksi kedua orang itu. tapi merasa terkejut saat melihat respon Ny. Cho.

“Kau tidak bisa memasak? Oh, tidak apa-apa Je Wo. Eomma ataupun Ahra bisa mengajarimu. Toh, semua hal kan memang butuh proses.”

Ia menjawab sambil tersenyum. Mengusap lenganku dengan pelan seolah-olah ingin mengatakan kalau itu bukanlah masalah besar.

“Nafsu makanmu besar, tapi kau bahkan tidak bisa memotong wortel dengan benar.” Kyuhyun berkomentar. Aku mendelik padanya yang kini sudah berdiri disampingku.

“Tapi aku yakin aku bisa memotongmu dengan benar.”

“Apa kau dan ibumu tidak pernah masak bersama?” aku menoleh saat ibu Kyuhyun bertanya padaku.

“Ani. Aku tidak punya eomma. Eh, maksudku eommaku meninggal saat melahirkanku. Jadi, bisa dikatakan aku tidak pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki ibu. Dirumah, ayahku menyiapkan juru masak yang mengurus keperluan makan kami.” Aku menjawab sambil tersenyum. Berusaha menahan getaran dalam suaraku. Aku tidak tahu apakah wajahku benar-benar menunjukkan ekspresi tersenyum saat ini.

Ketiga orang disana terdiam melihatku. Aku memandang Kyuhyun. Ingin melihat reaksi pria itu. kulihat ia menatapku dalam. Tatapan yang bukan tatapan mengasihani yang biasa orang-orang tunjukkan padaku. Tatapan yang seolah-olah mengisyaratkan….kekaguman? Dan saking teduhnya, aku bahkan berpikiran kalau ia seolah merasakan bagaimana perasaanku saat ini. Bagaimana ia ingin melindungiku dan membiarkanku bersandar padanya. Lalu kurasakan tangan yang hangat menggenggam tanganku. Dan meskipun samar, aku yakin kalau Kyuhyun saat ini sedang tersenyum padaku. Senyum yang menenangkan segala hal yang tadinya berkecamuk di dadaku.

“Tidak apa-apa. Kau bisa memasak dengan eomma kapanpun kau mau. Eomma adalah ibumu juga.” Ny. Cho tersenyum hangat—khas senyum seorang ibu. Tangannya menggenggam tanganku yang lain. Aku bersyukur ia memelukku lebih dulu sehingga tidak membuatku terlihat lebih cengeng lagi. Ia mengusap kepalaku dan menepuk pundakku pelan. Membuat seluruh sel tubuhku menjadi lebih rileks. Seolah mengerti, Ny. Cho masih tetap memelukku lebih lama dan bukannya langsung melepaskannya. Sikap pengertiannya membuatku ingin menangis.

“Kau tidak sendirian lagi, Je Wo. Kau bisa menceritakan apapun pada eomma. Mengadukan hal apapun tanpa perlu merasa takut disalahkan.”

***

Shin Je Wo POV

seharian ini aku dipaksa oleh ayahku untuk mengikutinya kemanapun. Banyak orang yang kami temui hari ini—dan aku tidak berminat untuk menjelaskannya. Sebagian besar mereka tidak jauh berbeda dengan ayahku. Sebagian lagi adalah para politikus yang berpengaruh di Korea. Dan sebagian yang lain adalah para pebisnis yang membutuhkan kekuasaan ayahku, atau bahkan para produsen senjata api. Yang kami lakukan hanya satu. Menjalin simbiosis mutualisme.

Jika kalian bertanya, apakah aku menyesal dilahirkan di keluarga ini, aku tidak mempunyai jawabannya. Di satu sisi aku merasa bangga dan masih bersyukur karena Tuhan memberikanku hidup yang dapat dikatakan baik meskipun juga buruk. Dan disisi lain aku membenci kehidupanku sendiri. Terlalu banyak aturan yang mengikatku.

Dan penjara terbesarku adalah ayahku. Dia selalu mengaturku dari A sampai Z. Tidak memperbolehkanku melakukan ini. Harus melakukan itu. Ia membekaliku pelatihan yang kelak akan menemaniku untuk menggantikan posisinya, mengabaikan adanya perbedaan gender. Ia mengatur kehidupan sosialku. Dengan siapa aku harus berteman, dan dengan siapa aku harus menjauhkan diri. Selama ia menyukai temanku si A, maka ia akan membiarkannya. Dan jika menurutnya aku tidak seharusnya berteman dengan si B, ia akan menyingkirkannya.

Sejauh ini aku tidak terlalu bermasalah dengan pertemanan, karena pada kenyataannya aku memiliki banyak teman wanita. Namun, tidak sama halnya dengan pria. Ayahku juga mengatur dengan siapa aku harus jatuh cinta. Kalau perlu, ia tidak akan mengizinkanku mencintai siapapun. Saat aku bertanya kenapa, ia menjawab karena perasaan cinta hanya akan membuatmu lemah dan pada akhirnya menyakiti dirimu sendiri. Orang seperti kita tidak seharusnya lemah.

Apakah aku pernah berontak?

Tentu saja. Selama ini aku habiskan hidupmu dengan berusaha menentang aturannya. Menjelaskan padanya bagaimana perasaanku dan hidup seperti apa yang aku inginkan—meskipun nyatanya dia tidak pernah mendengarku dan yang kulakukan hanya terus berusaha kabur darinya. Tapi tidak ada yang berubah. Tidak peduli aku pergi ke Negara manapun, ia tetap berhasil menarik diriku kembali. Ku pikir, jika seandainya, hanya seandainya, seandainya eomma masih hidup, aku tidak akan merasa serapuh ini.

Tidak apa-apa jika ayahku membantingku berkali-kali. Aku akan baik-baik saja karena akan ada tangan eomma yang membantuku berdiri. Tidak apa-apa jika aku tidak pernah bertemu ayah di siang hari karena eomma akan menemaniku. Kenyataan bahwa aku hanya berdiri sendirian membuatku menyerah.

Sekarang aku tidak berniat memberontak lagi. Menerima takdirku sebagai putri seorang mafia. Menatap dengan tatapan tajam dan mengangkat dagu, layaknya putri tunggal keluarga Shin. Tapi di sudut hatiku, aku masih merasa terusik, khawatir, dan takut. Bagaimana dengan Cho Kyuhyun? Apa yang akan terjadi jika ayah tahu tentangnya. Dan apa yang harus aku lakukan untuk bisa menghilangkannya dari hati dan kehidupanku. Apa yang harus kulakukan jika pada akhirnya tidak bisa melupakannya sama sekali.

***

Aku menatap ayahku. Tidak ada aura kehangatan sama sekali saat makan malam kali ini. Aku tetap melanjutkan makanku, mengabaikan keheningan yang mulai terasa mencekik.

“Ku lihat akhir-akhir ini kau dekat dengan Cho Kyuhyun.” Ayahku berkata dengan dingin. Tanganku berhenti diudara saat hendak menyuapkan makananku. Aku menatap ayahku lagi. Merasakan hal aneh saat ia mengatakannya.

“Tidak. Dia bukan siapa-siapa.” Jawabku berbohong.

Tidak ingin ia tahu bahwa aku memang memiliki hubungan yang tidak biasa dengannya. Tapi, tunggu dulu. Bukankah aku memang tidak memiliki hubungan apapun dengan Kyuhyun.

“Benarkah? Kalau begitu baguslah. Tidak akan ada masalah jika aku menghabisinya sekalipun.”

Jantungku seperti berhenti berdetak. Lalu kurasakan kepalaku mulai berputar. Aku tidak bisa berNapas. Tidak. Ini tidak mungkin. Susah payah aku berusaha menenangkan diriku sendiri saat ini. Menghirup udara sebanyak-banyaknya, tapi berNapas terasa lebih menyakitkan. Tanganku bergetar. Aku menatap ayahku dengan pandangan tajam. Menahan air mata yang sudah ingin tumpah. Tidak. Aku tidak akan sudi menangis dihadapan orang yang bahkan tidak memiliki hati.

“Apa yang sudah Appa lakukan?” tanyaku sambil meremas pakaianku. Meluapkan segala perasaanku yang kini campur aduk.

“Hanya memberinya sedikit peringatan.” Ayahku menjawab tanpa ekspresi.

Detik berikutnya aku langsung menggeser kursi dudukku kebelakang dengan sekuat tenaga hingga menimbulkan bunyi yang menggema diruangan itu.  Berlari keluar rumah tanpa menoleh ke ayahku satu kali pun. Tidak peduli bagaimana penampilanku saat ini. Tidak peduli rasa dingin yang menusuk karena musim dingin akan tiba. Aku tidak bisa memikirkan apapun lagi selain pria itu. Dan hari itu aku sadar, bahwa entah sejak kapan, keselamatan pria itu benar-benar menjadi hal terpenting dalam hidupku.

***

Cho Kyuhyun POV

Aku melajukan mobilku dengan tenang menuju apartemenku. Setelah resmi bekerja di Cho Corp, aku memutuskan untuk tinggal di apartemenku sendiri. Dan untungnya, ayah dan ibuku tidak melarangnya. Hari sudah mulai gelap. Aku melirik ke kaca spion—untuk kesekian kalinya—dan merasa aneh saat mendapati mobil hitam itu lagi. Mobil itu sudah mengikutiku sejak aku keluar dari Cho Corp. Baru saja aku berpikiran untuk mengabaikannya, tiba-tiba mobil itu mendahuluiku hingga berhenti dihadapanku dengan satu injakan rem. Membuatku ikut menginjak rem sedalam-dalamnya. Aku mengernyitkan alisku saat kulihat mobil-mobil yang lain berdatangan. Membuatku terjebak dalam lingkaran tiga buah mobil. Dari masing-masing mobil turun beberapa orang berpakaian hitam.

Aku keluar dari mobilku. Menatap mereka dengan pandangan dingin dan tajam. Tidak merasa terintimidasi meskipun jelas merasakan bahaya sedang mendekat.

“Maaf. Siapapun kalian, Aku tidak merasa memiliki urusan apapun dengan kalian.”

“Jangan terlalu percaya diri tuan Cho Kyuhyun. Kau memiliki urusan yang jelas dengan kami.” Jawab seorang pria bertubuh tegap yang mungkin adalah pemimpin komplotan ini.

Merasa tidak membutuhkan penjelasanku, salah satu diantara mereka mendekatiku dengan langkah lebar dan langsung mengarahkan pukulannya padaku. Aku menangkisnya dengan gerakan cemerlang. Tidak peduli apakah aku memang memiliki urusan dengan mereka atau tidak, yang jelas kali ini aku akan melawan orang-orang tidak tau aturan ini.

Setelah satu orang itu tumbang, orang-orang itu mulai melawanku satu persatu. Mereka benar-benar berniat menghabisiku. Kurasakan seseorang memukul wajahku, lalu aku membalasnya dengan pukulan keras di perutnya dan sebagai penutup, aku membuat tulang hidungnya patah hingga ia tumbang. Pria-pria yang lain maju kembali. Dua orang pria lain memegangi tanganku hingga ruang gerakku menjadi terbatas. Dan pria yang lain kembali memukul perutku dengan wajah yang membuatku jijik. Aku terbatuk. Tak butuh waktu lama bagiku untuk menendang pria itu dan memutar tubuhku kebelakang mereka. Menendang kaki mereka dan memukul punggung mereka dengan siku ku. Melancarkan segala perlawanan yang kuarahkan untuk mereka. Sebelum akhirnya kurasakan seseorang memukul belakang tubuhku dengan tongkat kayu. Membuatku refleks terbungkuk.

Aku terdiam sambil berusaha mengatur Napas. Beberapa orang itu mulai menyerbuku, membuatku bangkit dan membalas serangan mereka, menghadiahkan tinjuan-tinjuan keras pada dada dan wajah pria-pria itu, dan mengakhirinya dengan tendangan yang langsung membuatnya roboh. Membelitkan tangan mereka, menendang tulang kering hingga perutnya, dan memukul tengkuk mereka hingga membuat orang-orang itu terduduk di tanah.

Meskipun aku menangkis dan melumpuhkan mereka dengan baik, tapi nyatanya aku tidak terhindar sepenuhnya. Seorang dari mereka berhasil meninju ulu hatiku dengan telak. Membuatku merasakan ngilu yang teramat sangat. Detik berikutnya kurasakan kepalan tangan menumbuk wajahku hingga bisa kurasakan asin darah dibibirku. Saat kulihat sebuah tongkat mengayun ke arahku, aku menghindar dan langsung menendang tangan pria itu. merebut tongkatnya dan menghadiahkannya pukulan yang menghasilkan bunyi debuman keras. Baku hantam itu terus terjadi hingga akhirnya aku berhasil menghabisi pria terakhir yang kini terburu-buru masuk ke mobil yang kemudian pergi meninggalkan tempat itu.

Aku melemparkan tongkat yang ku pegang ke sembarang tempat. Meludahkan darah yang membuatku mengernyit ngeri. Dan satu-satunya jawaban jelas yang kudapatkan selama kejadian ini adalah, “Jauhkan dirimu dari tuan putri Shin Je Wo!”

***

Aku keluar dari kamar mandi sambil mengernyit. Sial! Kejadian tadi benar-benar meninggalkan bekas yang tidak sedikit. Memar kebiruan diwajahku masih terlihat. Dan aku juga yakin kalau punggungku kini juga memar. Berusaha mengabaikannya, aku memakai baju kaos putihku. Berjalan keluar kamar. Aku membuka lemari diruang tengah lalu menarik keluar kotak obat. Berniat membukanya tapi kegiatanku terhenti saat kudengar seseorang memanggilku dari luar. Ku langkahkan kakiku kearah pintu bermaksud membukanya. Tapi sebelum mencapainya, pintu itu sudah lebih dulu terbuka. Pemandangan dibaliknya membuat mataku melebar.

Kulihat Shin Je Wo berdiri disana. Ia menatapku lama dengan tatapan yang sarat akan kekhawatiran. Terlalu lama dan terlaku intens hingga membuatku merasa tidak nyaman. Saat ini aku tersadar betapa aku merindukan gadis itu. Membutuhkan kehadirannya untuk tetap di sampingku. Merasa nyaris seperti mayat hidup jika tidak melihatnya. Dan semua kerinduan itu terbayar saat aku melihatnya berdiri di depan mataku. Dengan hanya melihatnya, aku merasa Napasku kembali ringan dan kehidupanku kembali. Hanya dengan melihatnya.

Ia melangkah mendekatiku dengan langkah yang pelan. Terlalu pelan sehingga membuatku berinisiatif untuk mendekatinya. Setelah jarak kami cukup dekat, ia berhenti. Menyisir tubuhku dengan tatapannya.

“Apa……apa kau baik-baik saja?” ia bertanya dengan suara yang pelan.

Pertanyaan itu menyapuku seperti angin musim semi. Menghilangkan semua kerisauan dan rasa sakit yang tadinya menghuni tubuhku. Apakah Shin Je Wo menanyakan keadaanku? Gadis ini mengkhawatirkanku? Kenyataan bahwa gadis ini peduli padaku membuatku nyaris bersorak senang. Aku tersenyum padanya.

“Cukup baik hingga mampu menyadari kalau kau masuk ke apartemenku tanpa izin.”

“Aku serius, Cho Kyuhyun.”

“Baiklah, baik, tuan putri Shin Je Wo. Aku baik-baik saja. Apa yang kau lakukan disini? Lihat dirimu. Kau berlari dari rumahmu sampai kesini?” tanyaku sambil menariknya untuk duduk di sofa ruang tengah. Aku menarik tissue yang ada di atas meja. Mengelap keringat yang membasahi wajah dan lehernya.

“Aku tidak menemukan taksi ataupun bus. Dan aku tidak sempat memikirkan untuk menggunakan mobil.” Jawabnya setengah menggerutu.

Kami berada dalam keheningan yang damai. Aku masih sibuk mengelap keringat diwajahnya dan karena jarak ini aku bisa merasakan tarikan Napasnya. Tanpa melihatnya, aku tahu kalau gadis ini sedang mengamatiku. Ia lalu menarik tanganku dan melepaskannya. “Sekarang giliranku.”

Mataku menyipit saat melihatnya bangkit dan berjalan menuju kotak obat yang tadi aku keluarkan. Mengambilnya lalu kembali pada posisinya semula, duduk dihadapanku. Ia kemudian mengeluarkan sebuah salap. Menempatkan gel bening itu di ujung jarinya lalu mengoleskannya ke daerah sekitar tulang pipiku yang memar. Melakukannya dengan amat pelan dan hati-hati seolah-olah sentuhan sedikit saja akan membuatku mati. Padahal seandainya ia melakukannya dengan tidak pelan pun, aku yakin aku akan baik-baik saja. Karena melihat wajahnya dengan jarak sedekat ini sudah bisa memastikan bahwa aku akan baik-baik saja—kecuali tentang jantungku yang berontak hebat. Ia meniup-niup hasil kerjanya dengan pelan.

Gadis itu lalu melanjutkannya dengan mengoleskan ke bagian sudut bibirku. Membuatku meringis. Bukan karena sakit tapi karena sentuhannya yang membuatku nyaris gila. Jantungku berdetak sampai nyaris meledak.

Shin Je Wo, aku benar-benar ingin menciummu sekarang juga.

Detik selanjutnya aku memajukan wajahku. Mencium bibirnya dengan pelan. Kulihat ia memejamkan matanya membuatku melakukan hal yang sama. Membiarkan bibir kami saling menempel tanpa melakukan apapun.

“Gomawo. Karena sudah peduli padaku.” Kataku pelan tanpa menarik bibirku.

Bisa kurasakan ia tersenyum. Membuatku lagi-lagi ikut tersenyum. Aku lalu menjauhkan wajahku dan menariknya kedalam pelukanku. Merebahkan daguku di bahunya. Gadis itu juga melakukan hal yang sama. Dan saat ia membalas pelukanku, aku tidak sempat menahan ringisanku. Membuat ia melepaskan pelukanku saat itu juga. Aku hanya memasang sengiran tanpa dosa.

“Berbalik.”

“Aku tidak apa-apa. Sungguh.”

“Sekarang, Cho Kyuhyun.”

Dengan mendesah putus asa aku berbalik. Ia mengangkat kaosku dengan pelan. Lalu tanpa suara ia kembali mengoleskan salap itu di punggungku.

“Mianhae.”

“Bukan kau yang memukuliku. Kau tidak perlu minta maaf.”

“Tetap saja kau seperti ini karena aku.”

“Lupakan saja. ini bukan apa-apa.”

“Ini memang belum apa-apa. Untuk selanjutnya, appa bisa saja benar-benar menghabisimu.”

“Kalau begitu aku akan lebih berhati-hati lain kali.”

“Aku bukan gadis biasa yang  bisa kau cintai sesukamu.”

Aku sudah berniat berbalik untuk menatap wajah gadis itu, tapi ia menahan tubuhku. Dia sepertinya benar-benar anti situasi romantis. Akhirnya aku tetap duduk membelakanginya. “Aku tidak pernah menganggapmu sebagai gadis biasa. Kau terlalu luar biasa, Shin Je Wo.”

Aku bisa merasakan kegugupannya. Terbukti dengan gerakan tangannya yang kini terasa tidak beraturan. Dan itu membuatku senang tanpa alasan. “Kau bisa mencari istri yang lain sekarang.”

“Aku tidak tahu kalau sekarang kau juga peduli soal pilihan untuk menjadi istriku.”

“Itu bukan inti dari kalimatku.”

“Itu berarti kau bersedia menjadi istriku.”

“Lupakan saja. Aku tidak mengatakan apapun.” Katanya dengan ketus sambil membenarkan kembali kaosku. Aku berbalik dan tersenyum geli saat melihatnya mengerucutkan bibirnya.

“Aku hanya akan menikahimu.”

“Hentikan, Cho Kyuhyun! Aku putri dari seorang mafia. Kau tahu mafia? Penjahat. Dan bahkan mungkin seorang pembunuh! Apa yang kau harapkan dari gadis sepertiku?” Gadis itu bersuara dengan nyaris berteriak. Membuatku membeku di tempatku. Ia bangkit dari duduknya. Berdiri di hadapanku dengan Napas yang memburu. Matanya menatapku dengan tatapan yang tidak bisa kuartikan. Bibirnya bergetar, begitu pula tangan dan seluruh tubuhnya. Pemandangan itu membuat dadaku sesak.

“Hari ini kau bisa bertahan. Besok kau juga mungkin bisa bertahan. Tapi bagaimana dengan hari-hari selanjutnya. Ayahku bisa menghabisimu didepan mataku sendiri. Bagaimana bisa aku membiarkan hal itu terjadi? Bagaimana bisa aku menganggap itu bukan masalah besar sementara nyawamu digantung disana.” Ia berkata dengan suara yang bergetar. Buliran air mata mengalir di pipinya.

Aku bangkit dan menariknya kedalam dekapanku. Mengusap punggungnya pelan dan mencium puncak kepalanya. Menghilangkan segala perasaan kalut yang menghantuinya. Kurasakan tangannya melingkari pinggangku. Membuatku tahu kalau memang ini yang ia butuhkan. “Tenanglah. Kau hanya perlu bertahan dan tetap berada disampingku. Semuanya akan baik-baik saja.”

***

Aku sedang tiduran di ranjang saat gadis itu keluar dari kamar mandi dengan mengenakan celana pendek—milik Ahra eonni yang memang terdapat beberapa helai di lemariku—dan kemejaku. Meliriknya sekilas lalu kembali memfokuskan perhatian pada PSP di tanganku.

“Kau benar-benar tidak ingin pulang?”

“Tidak. Aku sedang dalam proses merajuk dan benar-benar marah pada Appa.”

“Cih. Berlebihan sekali. Jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu. Hanya ada satu kamar disini, dan aku tidak berniat mengalah untuk tidur di sofa.”

“Aku akan menambah memarmu kalau kau berani melakukan sesuatu.”

“Aku penasaran, lebih dulu kau menambah memarku atau aku yang menciptakan tanda indah di tubuhmu.” Jawabku sambil menatapnya dengan senyum miring. Tergelak saat melihat ekspresi kesal gadis itu yang benar-benar menggemaskan.

“Bagaimana punggungmu? Kalau kau berbaring sakit, tidak? Atau kau tidur sambil telungkup saja?”

“Aku baik-baik saja. Kau tidurlah.”

“Kupikir lebih baik telungkup saja. Eh, tapi nanti dadamu sakit bagaimana ya.”

“Tidur, Shin Je Wo.”

“Aku serius. Sakit atau tidak?”

Merasa geram, akhirnya aku menarik tubuh gadis itu untuk tidur disampingku. Memeluk pinggangnya dengan tangan kiriku sementara tangan kananku menjadi bantalnya. Membuat wajahnya terbenam di dadaku. “Seperti ini tidak sakit. Jadi tidurlah.”

Gadis itu tersenyum. Membuatku ikut tersenyum. Satu lagi kegiatan favoritku, yaitu tidur sambil memeluknya. Dan aku ingin terus seperti ini hingga tua nanti, dengan gadis ini didalam pelukanku. Malam ini aku yakin tidak akan ada mimpi buruk.

“Selamat malam, Je Wo~ya.”

***

Sudah nyaris satu jam penuh kuhabiskan dengan hanya memandangi gadis itu yang sedang tertidur pulas. Tidak ada hal istimewa yang dilakukannya. Ia hanya terpejam dengan tarikan Napas yang teratur. Tetapi hal sederhana itu mampu membuatku menatapnya berlama-lama tanpa merasa bosan. Apakah seorang gadis yang tidur memang terlihat seindah ini? Apakah rasanya memang sebahagia ini saat mendapatinya di sampingku saat aku membuka mata dipagi hari?

Akhirnya kelopak mata itu bergerak. Dan kemudian terbuka seperti adegan slow motion di serial film. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya. Menyesuaikannya dengan cahaya di kamar itu yang sudah mulai terang.

“Hai. Selamat pagi. kau seharusnya bangun lebih dulu daripada aku. Istri macam apa kau.”

Ia menatapku malas dan akhirnya mendesis kesal.

“Kau berisik sekali.” Balasnya dengan suara serak.

Aku mengangkat bahu. Kemudian bangkit dan bergegas ke kamar mandi. “Aku akan ke kantor. Kau mau pulang? Aku bisa mengantarmu.”

“Jangan gila. Sudahlah. Aku akan membuat sarapan.”

Aku keluar kamar—sudah siap dengan setelan kantorku—dan mendapati gadis itu sedang sibuk di balik counter dapur. Terlihat sibuk dengan bahan-bahan makanan yang nyaris membuat dapurku semrawut. Dan melihat keseriusan gadis itu membuatku mengulum senyum. Seperti itu kah cara seorang Shin Je Wo membuat sarapan? “Kemarin kau bilang tidak bisa memasak.”

“Ah. Itu, kalau hanya sarapan tidak masalah.” Jawabnya singkat. Kembali sibuk dengan kegiatannya menyiapkan…..sandwich. Dia benar-benar mengerahkan seluruh kemampuannya hanya untuk membuat makanan itu.

“Kau tidak perlu membantuku. Aku tidak butuh bantuan. Aku adalah tuan putri Shin Je Wo.” Katanya sambil mengisyaratkanku untuk jangan mendekat. Membuatku mengernyitkan alis. Tapi akhirnya aku menurut dan mendudukkan tubuhku di kursi  didekatnya—karena dapur  ini berbentuk bar mini. Dan mataku membulat saat melihatnya mengiris sayuran—lebih tepatnya mencincangnya.

“Aku tidak akan memasukkan sayur untuk punyamu. Aku tau kau tidak suka sayur. Kau meninggalkan sayuranmu saat kita makan di café Eunhyuk waktu itu. Dan kau tenang saja. Sebentar lagi selesai. Tidak perlu membantuku.” Tahannya lagi saat aku berniat untuk bangkit. Pernyataannya membuatku terhenyak. Tidak menyangka bahwa gadis itu juga memperhatikanku.

Tapi aku tidak bisa merasa takjub saat melihat apa yang dilakukannya sekarang. Ia menata roti isi itu dengan ragu dan hasilnya pun……mengenaskan. Baiklah, cukup Shin Je Wo.

“Sudah ku bilang aku—“

“Kau hanya perlu menyesuaikan ukuran sayurnya. Bukan mencincangnya. Dan susun dengan urutan yang tepat. Jangan tumpang tindih tidak beraturan seperti itu.”

Jelasku sambil mengambil alih pekerjaannya. Membenarkan posisinya yang sebelumnya amburadul. Dan meletakkannya di piring.

“Seperti itu saja tidak bisa. Dan kau bahkan bisa menyebut dirimu tuan putri.” Cibirku.

“Tadi juga aku akan melakukannya seperti itu. Tapi kau malah mengambilnya lebih dulu.” Balasnya dengan bibir mengerucut.

Membuatku lagi-lagi merasa gemas. Dan karena tidak tahannya, aku mengecup ibu jariku lalu menempelkannya pada dahi gadis itu dengan satu tekanan kuat. Mendesis kecil saat memberikannya thumb-kiss.

“Euugh. Kau benar-benar membuatku geram.”

***

Author POV

Bagaimanapun usaha Shin Je Wo untuk kabur, ayahnya tetap berhasil menariknya kembali. Dan disinilah ia sekarang. Berdiri di ruang tengah rumah keluarga Shin setelah sebelumnya para pria-pria suruhan lelaki itu membawanya paksa. Walaupun begitu, bukan berarti gadis itu menyerahkan diri dengan suka rela ataupun berhasil diringkus dengan mudah. Oh, Shin Je Wo tidak akan melakukan itu. Dia cukup merasa puas sudah menghabisi sekitar sepuluh orang pegawai suruhan ayahnya. Cukup yakin kalau lebih dari setengahnya pasti bermalam dirumah sakit.

Ia menaiki tangga menuju kekamarnya. Baru saja kakinya menginjak anak tangga terakhir, ia sudah disuguhi pemandangan mengerikan.

Shin Yong Joon sedang duduk tenang di kursi kebesarannya. Di lantai dua ini memang terdapat sebuah ruangan terbuka yang dikelilingi oleh rak-rak penuh buku—terletak berhadapan dengan kamar Je Wo—yang merupakan koleksi pribadi laki-laki itu. Berisi berbagai buku tentang banyak hal. Petunjuk berbisnis, tokoh-tokoh dunia, sejarah dunia, organisasi-organisasi hitam—begitulah Je Wo menyebutnya—layaknya kekuasaan ayahku, senjata api, daftar pemberontak-pemberontak dan kasus-kasus besar, rantai silsilah keluarga Shin, bahkan tentang obat-obatan layaknya pelajaran kimia pun ada, dan masih banyak buku lainnya yang tidak pernah gadis itu sentuh. Terkadang Je Wo bingung, sebenarnya ayahnya orang yang seperti apa. Menilik dari buku-buku itu, orang bisa salah sangka dan mengira kalau pria itu adalah seorang polisi besar. Tapi nyatanya, dia jauh dari kata polisi.

“Sepertinya laki-laki itu sudah menjadi hal yang berharga bagimu.”

“Kenapa ayah melakukan itu?”

“Sudah kubilang jangan menjalin hubungan dengan sembarang orang.”

“Cho Kyuhyun bukan orang yang sembarangan.”

“Sudah berapa lama kau mengenalnya hingga bisa menyimpulkan kalau dia pria yang baik? Jangan terlalu naïf.”

“Setidaknya aku mengenalnya lebih baik daripada mengenal ayahku sendiri. Dan dia lebih menghargai dan menyayangiku, hal yang tidak pernah dilakukan ayahku sendiri.”

Shin Yong Joon terdiam cukup lama. Menatap anak gadisnya dengan pandangan yang tidak terbaca. “Kalau kau tidak ingin menjauhinya, maka laki-laki itu yang akan aku singkirkan dari hidupmu.”

***

Shin Je Wo duduk di sofa dekat jendela besar kamarnya. Menatap pemandangan diluar melewati sebuah kaca yang terlapisi oleh titik-titik embun. Diluar sedang gerimis. Rerumputan hijau di halaman itu basah karena tetesan air dari langit.

Sudah kubilang jangan menjalin hubungan dengan sembarang orang.

Sudah berapa lama kau mengenalnya hingga bisa menyimpulkan kalau dia pria yang baik? Jangan terlalu naïf.

Kata-kata ayahnya menggema di setiap sudut kepalanya. Kalimat itu terus menggaung di telinganya. Membuatnya memejamkan matanya rapat dan menutup telinganya dengan kedua tangannya. Ia menggeleng kuat. Berusaha menghilangkan suara-suara yang terasa menyayat-nyayat jiwanya. ia memeluk kedua lututnya. Tubuhnya gemetar.

“Eomma….” Bisik gadis itu lirih. Ia menggigit jarinya berusaha menelan segala isakannya. “Eomma. Nan eottokkae? Apa yang harus aku lakukan?” Akhirnya buliran air mata itu jatuh. Dengan cepat ia langsung menghapusnya. Namun seolah mengingkarinya, air mata itu menetes lagi dan lagi.

Kalau kau tidak ingin menjauhinya, maka laki-laki itu yang akan aku singkirkan dari hidupmu.

Keputusan apa yang harus ia pilih? Ia tidak bisa membiarkan pria itu tersakiti—lagi. Tidak jika itu karena keegoisannya. Tapi jika ia harus memilih menjauhi pria itu, menghilang dari kehidupannya, melanjutkan hidupnya sendiri tanpa pria itu, bagaimana bisa ia melakukannya. Bagaimana caranya berNapas nanti sementara pria itu adalah oksigen terbaiknya.

Pikiran itu membuat isakannya meledak. Segala kenangan pertemuan mereka selama ini terputar di benaknya. Membuatnya berpikir seolah-olah ia akan mati. Ia menepuk-nepuk dadanya. Berusaha memaksa dirinya untuk berhenti menangis dan segera kembali ke keadaan ‘baik-baik saja’nya. Tapi sakit itu tidak juga menghilang. Membuatnya menyerah hingga membiarkan dirinya terduduk dengan bahu terguncang dan air mata yang tidak bisa berhenti mengalir.

***

Gadis itu duduk di bangku itu sendirian. Terlihat sedang mengamati bangunan apartemen di hadapannya dengan pandangan kosong. Disaat semua orang mulai mengenakan mantelnya, ia hanya mengenakan gaun putih santai sebatas lutut tanpa memakai cardigan ataupun pakaian yang bisa membuatnya lebih hangat. Tidak merasa terusik sama sekali dengan cuaca dingin Seoul. Ia bahkan tidak merasakannya sama sekali. Ia melipat lututnyaa, melipat tangannya di atasnya lalu meletakkan kepalanya disana. Memejamkan matanya sambil menghirup Napas dalam. Berusaha menenangkan dirinya sendiri dan berharap bahwa dengan begitu ia bisa merasa lebih baik.

Tanpa di perintahkannya air mata itu mengalir kembali. Ia mengatupkan matanya rapat-rapat. Berusaha menghentikannya. Dia benci pada dirinya sendiri. Beberapa hari ini ia benar-benar merasa menjadi gadis lemah yang mudah menangis dan tidak bisa berbuat apa-apa. Dan ia merasa lebih membenci dirinya sendiri karena nyatanya memang tidak ada yang bisa ia lakukan.

Napasnya tertahan saat dirasakannya sebuah tangan menangkup pipinya. Jari itu menghapus air mata itu dengan amat pelan.

Sentuhan ini…..

Tangan ini…..

Ia mengenal sentuhan ini. Mengenal tangan ini. Mengenalinya dengan sangat baik. Ia merindukannya nyaris setiap saat. Dan mengetahui kalau sosok itu kini berada di hadapannya benar-benar membuat air matanya semakin mengalir. Merasakan tangan itu kini melingkari tubuhnya dan mengusap pipinya pelan. Ia mengangkat kepalanya. Mendapati bahwa kini Cho Kyuhyun sedang berjongkok dihadapannya, menyamakan tinggi badan mereka. Tatapan pria itu penuh dengan kasih sayang dan terlihat berusaha membuatnya tenang. Tapi nyatanya itu malah membuat isakan Je Wo lolos. Pria ini masih menatapnya dengan cara yang sama. Masih mencintainya dengan cara yang sama sementara Je Wo membenci dirinya setengah mati.

Kalau saja dia bukan putri ayahnya.

Kalau saja ayahnya bukanlah Shin Yong Joon.

Kalau saja dia hanya gadis biasa.

Semua tidak akan serumit ini. Meskipun pria itu tidak mengatakannya, ia ingin tahu melalui tatapan mata pria itu, pernahkah Kyuhyun menyalahkannya atas semua ini. Tapi nyatanya ia tidak menemukannya.   Dan itu semakin membuat rasa bersalah menggerogotinya.

“Kenapa duduk disini? Kenapa tidak langsung masuk ke apartemenku? Kau bisa membeku disini.” Kyuhyun bertanya dengan nada rendah dan senyuman samarnya. Merapikan rambut gadis itu dengan lembut.

“Bagaimana ini,” kalimat Je Wo terputus karena isakannya. Mata indah gadis itu menatap Kyuhyun dengan pandangan memohon. Air mata itu jatuh kembali, dan tangan pria itu kembali menghapusnya dengan pelan. “Kita harus bagaimana, Kyu? Apa yang harus kita lakukan? Apa yang harus ku lakukan? Tolong jawab aku.” Tangan gadis itu mengguncang bahu Kyuhyun dengan lemah. Ia lalu membenamkan wajahnya di bahu pria itu. masih dengan tubuh terguncang dan isakan yang tidak kunjung berhenti. Membuat pakaian pria itu basah oleh air matanya.

“Apa yang harus kulakukan? Aku tidak ingin kau pergi. Tapi aku juga tidak bisa membiarkanmu tetap tinggal.” Katanya lagi dengan suara teredam.

Kyuhyun memeluk gadis itu dengan hangat. Tangannya bergetar saat mengusap rambut Je Wo dengan lambat. Tangisan gadis itu membuat dadanya sakit. Ia menarik Napas dalam. Berusaha memberikan paru-parunya oksigen. Tapi oksigen itu seperti tersangkut di tenggorokannya. Membuatnya lagi-lagi merasa sesak.

***

Kyuhyun melingkupi tubuh Je Wo dengan selimut. Memberikan cokelat panas pada gadis yang sedang meringkuk dengan nyaman di sofa. “Bagaimana kalau kita pergi ke luar negeri? Kemanapun dimana kekuasaan ayahku tidak berlaku. Aku yakin kau bisa mendapatkan pekerjaan lagi dengan mudah. Ah, sekalian saja kita lihat cabang Cho Corp berada di negara mana saja.”

“Aku tidak terlalu mahir berbahasa inggris.”

“Aku bisa mengajarimu. Aku cukup mahir. Sebelum pergi aku akan menyiapkan uang yang banyak agar tidak akan membuat kita sulit nanti.”

Gadis itu tidak berhenti bicara sejak mereka memasuki apartemen itu. Ia memang sudah berhenti menangis, tetapi melihat tingkahnya kini malah membuat pria itu semakin khawatir. Mata gadis itu terlihat bersinar tapi juga kosong. Ia tahu bahwa Je Wo sedang menghibur dirinya sendiri. Gadis itu tahu dengan jelas bahwa tidak akan ada tempat yang bisa menyembunyikan mereka dari Shin yong Joon, ayah Je Wo.

“Aku tidak tahu apakah ibumu setuju atau tidak. Tapi tidak ada salahnya kalau kita berusaha, kan? Lagipula—“

“Sssh. Tenanglah. Kau terlalu cerewet. Lupakan masalah itu, oke? Kita tidak akan kemana-mana. Aku akan menemui ayahmu nanti. Melamarmu dengan cara yang tepat. Jadi, berhentilah merasa khawatir.”

Shin Je Wo terdiam di tempatnya. Cara pria itu menatapnya membuatnya tidak bisa mengalihkan pandangan. Detik berikutnya ia mendapati kepalanya mengangguk dengan sendirinya. Tidak peduli apakah ucapan pria itu benar atau tidak.

“Aku tidak tahu kalau kau ternyata sangat mencintaiku.”

“Aku menganggapnya sebagai kutukan terbesar yang pernah kuterima.”

“Kau terlihat bahagia untuk  menganggapnya sebagai kutukan.”

“Lupakan saja. Aku pulang.” Gadis itu bangkit dan bergegas melangkah pergi. Dan secepat itu pula Kyuhyun menggapai tangannya dan menariknya hingga ia terduduk kembali.

“Jangan merajuk, sayang. Ayahmu pasti langsung membunuhku jika putrinya pulang dari apartemenku dengan wajah sembab seperti itu.”

“Aku akan sangat senang jika bisa melakukannya dengan tanganku sendiri.”

“Pembohong.”

“Dasar menyebalkan.”

“Terima kasih. Dan nyatanya kau sangat mencintai pria menyebalkan ini.”

“Berhenti mengulang kalimat menjijikkan itu, Cho Kyuhyun!”

***

Shin Je Wo baru saja menyecahkan kakinya di kamar. Ia merebahan tubuhnya di ranjang. Mengamati langit-langit kamarnya dan menghela Napas dengan kasar. Alisnya mengernyit saat merasakan getaran di kasur yang ia tiduri. Tangannya bergerak mencari-cari asal getaran. Ia menarik ponselnya. Layar handphone itu menampakkan sebuah nama.

Lee Hyukjae.

“Yeoboseyo?”

Je Wo~ya. Syukurlah kau mengangkat telephoneku. Kemana saja kau?

“Aku baru pulang. Tadi aku keluar dan tidak membawa ponselku. Ada apa?”

Orang-orang ayahmu sedang mengeroyok Kyuhyun. Cepat ke cafeku sekarang.

“Apa? Tidak! Tidak mungkin! aku baru saja dari apartemennya.”

Tanpa menunggu jawaban Eunhyuk, Je Wo langsung berlari keluar kamarnya. Tidak mempercayai apa yang sedang terjadi sekarang. Ia baru saja meninggalkan apartemen Kyuhyun beberapa menit yang lalu. Merasa menyesal tidak melarang Kyuhyun untuk pergi ke café Eunhyuk karena pria itu memang memberitahunya—bahkan mengajaknya untuk ikut—tadi. Ia menyetop taksi yang melintas dan masuk ke dalamnya dengan terburu-buru.

Napasnya tersengal dan rasanya ia ingin berteriak sekencang-kencangnya. Memukul apapun yang ada di dekatnya. Membayangkan kenyataan bahwa orang-orang suruhan ayahnya mengeroyok pria itu membuatnya ngeri. Tidak! Ya Tuhan, jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk pada pria itu. Je Wo tidak yakin bisa memaafkan dirinya sendiri jika itu terjadi. Ia menggigit bibirnya. Tidak peduli dengan rasa asin yang berasal dari darahnya sendiri. Mengepalkan tangannya dengan kuat sebagai wujud dari rasa frustasi yang membuatnya nyaris gila.

***

Café itu sudah berada di depan matanya. Tidak menunggu waktu lagi bagi Je Wo untuk langsung berlari ke sana. Tetap memaksa masuk saat pria-pria berpakaian hitam itu berdiri di pintu dan menghalanginya masuk. Membuat emosinya meledak dan melancarkan pukulannya ke wajah pria itu. Melakukannya dengan bertubi-tubi karena sejak tadi ia memang sudah menahan rasa marahnya. Membuat pria itu ambruk sambil memegangi perutnya. Ia lalu menumbuk wajah pria yang lain dengan sikutnya hingga darah mengucur deras dari hidung orang itu. Dan terakhir menampar kepala pria terakhir kiri dan kanan, kemudian menendang daerah intim pria itu yang langsung membuatnya roboh. Ia menghambur masuk. Dan pemandangan di hadapannya membuatnya bagaikan terlempar ke jurang.

Je Wo merasa jiwa dari tubuhnya di tarik paksa. Kyuhyun sedang berusaha mempertahankan dirinya di tengah serangan-serangan para pria itu yang menyerangnya dengan brutal. Disisi lain Eunhyuk juga sedang melawan orang-orang suruhan ayahnya. Nampaknya pria itu ikut membela Kyuhyun. Keadaan café itu rusak parah. Meja dan kursi berhamburan. Pecahan-pecahan gelas dan piring berserakan di lantai. Beberapa kaca jendela pecah. Dan bersyukur tidak ada satu pelangganpun di sini.

Keadaan Kyuhyun jauh dari kata baik-baik saja. Wajahnya berdarah dan bibirnya robek. Ia bahkan tidak bisa berdiri dengan benar. Sebelah tangannya memegangi dadanya selagi ia sibuk menahan serangan orang-orang itu. ia tahu pria itu sebenarnya bisa berkelahi dengan baik, tapi jumlah mereka benar-benar tidak seimbang. Ditambah lagi, bagaimana ia bisa melawan dengan baik jika tangannya di pegangi oleh orang-orang itu selagi temannya yang lain memukulinya dengan bengis.

Je Wo berjalan kearah mereka dengan langkah lebar. Menarik seorang pria yang akan memukul Kyuhyun lalu meninju wajahnya dengan kekuatan penuh. Ia lalu berdiri di hadapan Kyuhyun. Memegangi pria itu agar berlindung di balik tubuhnya. Merasa ingin menangis saat tahu bahwa tubuh pria itu sudah oyong. Ia heran bagaimana Kyuhyun bisa bertahan sejak tadi melihat kondisinya yang benar-benar parah.

“Hentikan! SEMUANYA HENTIKAAAAN!!!” Gadis itu menjerit sekeras yang ia bisa. “Jangan memukulinya! Pergi kalian semua! AKU BILANG PERGI!!!”

Je Wo tidak bisa menahan dirinya lagi. Ia menghapus air matanya dengan kasar. Menatap semua orang disana dengan tatapan membunuh. Mempertahankan sikap kerasnya meskipun nyatanya ia merasa tidak berdaya sama sekali. Semua ini membuat jiwa dan raganya lelah hingga ia merasa ingin mati saat itu juga. Tapi tidak. Ia tidak boleh kalah sekarang. Kyuhyun membutuhkannya. Jika ia tumbang sekarang maka pria itu akan benar-benar habis kali ini.

Ia merasakan sebuah tangan menggenggam tangannya. Lagi-lagi membuatnya merasakan sengatan listrik yang menyenangkan. Ia balas menggenggam tangan itu. Mengaitkan tangan mereka dengan erat. Ia merasakan kepala Kyuhyun bersandar di bahunya. Merasakan hembusan Napas pria itu di lehernya. Membuatnya menahan Napas tapi juga perih. Pria ini sudah terlalu banyak tersakiti. Dan itu karena dirinya.

“Jika kalian ingin membunuhnya, maka kalian harus membunuhku juga.” Gadis itu mengatakan dengan mantap. Menatap kearah ayahnya yang kini tengah berdiri di sisi lain ruangan itu kemudian menatap semua pria-pria berpakaian hitam itu.

“Mati bersamamu tidak termasuk dalam rencana hidupku, Shin Je Wo.” Pria itu berbisik di telinganya dengan suara rendah khas miliknya. Membuat gadis itu tidak kuasa menahan senyumnya. Bersyukur karena kini ia membelakangi pria itu sehingga Kyuhyun tidak akan tau kalau mendengar suara lirihnya membuat air matanya mengalir lagi. Astaga, berapa banyak air mata yang sudah ia keluarkan seharian ini.

“Kau pikir aku mau mati bersamamu disini?”

“Tidak sebelum aku bisa menggendong Hyunje di rumah kita nanti.”

“Hyunje? Cih, pemilihan namamu buruk sekali.”

“Berhentilah memperdebatkan nama disaat seperti ini.”

“Aku tidak pernah mengatakan ingin melahirkan anak darimu.”

“Bukan berarti kau tidak menginginkannya.”

Je Wo mendengus kecil. Cho Hyunje? Tidak buruk. Pasti nanti wajahnya akan semenawan Kyuhyun dan dirinya. Melihat dari cara Kyuhyun memandangnya selama ini ia bisa percaya diri bahwa dirinya memang terlihat cantik—setidaknya bagi Kyuhyun. Nanti. Esok. Kelak. Kalau saja akan ada kata nanti untuk ia dan Kyuhyun.

“Kalau begitu jangan sampai kita mati disini sehingga membuat Hyunje tidak sempat melihat dunia.” Je Wo menjawab sambil menempelkan kepalanya di kepala Kyuhyun yang kini sedang bersandar di bahunya. Meresapi perasaan nyaman itu dengan baik. Takut jika nanti tidak bisa merasakannya lagi.

“Aku akan meminta bayaran yang besar pada kalian saat ini sudah berakhir nanti.” Eunhyuk berkata sambil menghampiri Je Wo dan Kyuhyun.

Keadaannya sama kacaunya dengan Kyuhyun. Pria itu memar di sana-sini. Wajahnya penuh luka tapi tetap saja tidak menghilangkan kesan tampannya. Pelipis matanya mengucurkan darah dan pria itu juga tidak bisa berdiri dengan benar. Tangannya memegang lengannya yang lain.

“Everything you want, beasty.”

“Cih, jangan menghinaku. Aku yakin sekarang aku masih terlihat tampan.”

“Tidak ada Hyemi disini. Aku tidak sedang ingin berbaik hati dengan memujimu.”

Kyuhyun tersenyum. Entah bagaimana bisa, mendengarkan celotehan gadis itu mampu membuatnya merasa jauh lebih baik. Ia menghirup aroma gadis itu dengan dalam. Merekamnya dengan baik di dalam kepalanya agar tidak lupa. ia begitu mencintai wanita ini. Ia tidak ingin kehilangannya. Tidak peduli sekarang ia merasa tubuhnya remuk, namun saat ia memeluk gadis ini, ia merasa ia bisa bertahan. Seperti apapun sakitnya nanti ia pasti bisa bertahan jika ada gadis ini. Ia menginginkan masa depan dengan gadis ini di dalamnya. Menua bersama dengannya.

“Tuan?” kenyamanan itu terusik saat seorang pria di hadapannya menatap kearah Shin Yong Joon—ayah Je Wo—dengan pandangan bertanya. Meminta kepastian pada pria itu tentang apa yang harus mereka lakukan sekarang.

Shin Yong Joon memandang Je Wo dan Kyuhyun dengan tatapan dingin yang tidak bisa di artikan. Ia lalu menghela napas dengan pelan. “Lanjutkan pekerjaan kalian. Dan jauhkan anakku dari laki-laki itu.” perintahnya kemudian.

Kalimat itu membuat Je Wo tersentak. Ia memegang tangan Kyuhyun dengan kuat.  Menghajar siapapun yang berusaha memisahkannya dengan Kyuhyun. Menjerit histeris saat dua orang pria berhasil meringkusnya dan menjauhkannya dari Kyuhyun. Menyeretnya ke dekat ayahnya.

“Lepaskan aku! Lepaskaaan! Hentikaaaan! Jangan memukulinya lagi. Kalian bisa membunuhnya! Hentikaan!” gadis itu menjerit dengan suara yang nyaris habis.

Tapi tidak membuat pria-pria disana berhenti melakukan kegiatan mereka. Orang-orang itu terus memukuli Kyuhyun. Pria itu masih mampu menangkis serangan-serangan mereka. Tapi  saat seorang pria kembali memukul belakang tubuhnya, membuat pria itu kehilangan fokus dan merasa tidak berdaya hingga hanya mampu menutupi kepalanya dengan tangannya.

Je Wo bergerak berusaha melepaskan dirinya dari dua pria itu. ia menginjak kaki pria itu tapi tidak berhasil. Menendang dan bahkan memukul tapi tidak mengenai siapapun. Ia terduduk di lantai. Tidak mampu menopang tubuhnya lagi. Tangannya serasa nyeri karena dua pria itu memeganginya dengan sangat kuat. Tapi ia tidak peduli. Lukanya terlalu sedikit jika dibandingkan dengan Kyuhyun.

“Geumanhae. Jebal. Kumohon berhenti.” Ucapnya dengan lirih sambil terisak.

Ia melihat kearah mereka. Mendapati Eunhyuk yang kini sudah terbaring tak sadarkan diri. Sementara Kyuhyun, pria itu terduduk dengan Napas tersengal sambil memegangi dadanya. “HENTIKAAAN! KALIAN BENAR-BENAR BISA MEMBUNUHNYA.” Ia berteriak seperti orang gila. Berusaha berlari kearah Kyuhyun tapi dengan cepat ditarik oleh dua pria yang sejak tadi memeganginya.

Akhirnya ia menoleh kearah ayahnya, menghampirinya dengan cepat. “Baiklah, baik! Aku akan mengikuti semua kemauanmu. Aku akan menjadi bonekamu selama yang kau inginkan. Jadi sekarang kuminta singkirkan semua orang suruhan sialanmu itu.”

Ia menatap ayahnya dengan nyalang. Tidak mempedulikan tata karma yang seharusnya ia lakukan. Shin  Yong Joon mengangguk pada orang suruhannya hingga mereka berhenti dan kini berdiri diam disana. Membuat suasana menjadi hening. Kedua orang yang kini memegangi gadis itu juga sudah menjauh dari anak dan ayah itu.

“Apa kau puas sekarang? Aku bertanya apakah sekarang kau sudah puas?” Je Wo bertanya dengan tatapan dingin dan Napas memburu. Ia mengepalkan tangannya. Menguatkan dirinya untuk tidak terduduk saat itu juga. Bibirnya gemetar dan begitu pula seluruh tubuhnya

.

“Aku mulai bertanya-tanya, apakah aku memang putrimu? Karena sikapmu benar-benar tidak terlihat seperti seorang ayah. Selama ini aku membohongi diriku sendiri, meyakinkan bahwa sikapmu padaku itu karena kau ingin melindungiku dan memberikan yang terbaik untukku. Tapi sekarang aku tahu, kau melakukannya bukan karena ingin melindungiku. Tapi karena kau memang tidak memiliki hati.

“Apa dosaku padamu? Aku tahu kau menginginkan seorang putra, tapi aku tidak pernah meminta pada Tuhan untuk dilahirkan sebagai anakmu. Dan kau menganggap kehadiranku sebagai sebuah kesalahan. Selama ini aku selalu mematuhimu. Tidak pernah sekalipun aku protes di hadapanmu. Aku bahkan selalu menunggumu pulang setiap malam. Memberikan ucapan disetiap hari ulang tahunmu yang bahkan tidak pernah kau dengarkan. Dan kau, apakah kau tahu tanggal lahirku? Tidak. Makanan kesukaanku? Tidak. Pernahkah kau satu kalipun menghadiri acara sekolahku? Tidak. Mengucapkan selamat saat aku mendapatkan penghargaan? Tidak. Menemaniku disaat upacara hari kematian eomma? Tidak. Kau bahkan tidak pernah peduli padaku. Apakah aku pernah protes? Tidak. Dan setelah semua yang kulakukan, kau masih merasa kurang hingga harus menyingkirkan orang terpenting dalam hidupku? Kau benar-benar bukan manusia.”

Kata demi kata itu menyerang Shin Yong Joon bertubi-tubi. Membuat hatinya yang selama ini mati rasa merasakan sakit yang membuat hatinya bergetar. Shin Je Wo, putrinya, berdiri dihadapannya dengan tatapan tajam dan mata yang basah.

“Kau benar-benar membuatku menyesal di lahirkan sebagai putrimu.” Dan setelah mengatakan kalimat itu, Shin Je Wo berbalik dan menghampiri Kyuhyun yang kini tengah duduk bersandar di dinding. Ia bersimpuh di samping pria itu. Ikut tersenyum saat laki-laki itu tersenyum. Pria itu bergerak bangun, membuatnya refleks mendekat. Ia terdiam saat pria itu memeluknya.

“Mau kuberitahu sesuatu?”

“A—apa?”

“Aku mencintaimu, Shin Je Wo.”

***

Dua orang itu duduk berhadapan. Shin Je Wo memandang pria di hadapannya dengan tatapan kosong. Siapapun tahu kalau ia sedang melamun. “Apakah dia baik-baik saja?” gadis itu bertanya.

“Ya. Keadaan Kyuhyun sudah jauh lebih baik sekarang. Dia juga sudah bekerja seperti sebelumnya.” Penjelasan Eunhyuk membuatnya menghembuskan Napas lega.

Sudah dua bulan sejak insiden di café Eunhyuk waktu itu. Dan Je Wo benar-benar menepati janjinya. Ia meninggalkan Kyuhyun bahkan sebelum pria itu bangun dari komanya akibat kejadian itu. Jangan Tanya bagaimana harinya tanpa pria itu. Benar-benar terasa seperti neraka. Dan malangnya, nerakanya sepertinya tidak akan berakhir jika ayahnya—Je Wo bahkan merasa tidak ingin mengakui laki-laki itu sebagai ayahnya—tidak merubah keputusannya. Hidupnya benar-benar hampa dan kosong. Setiap tarikan Napasnya terasa menyakitkan.

“Kau benar-benar tidak ingin bertemu dengannya? Aku yakin aku bisa membantumu menemuinya tanpa diketahui ayahmu.”

Gadis itu hanya tersenyum samar. Ia lalu memandang beberapa lembar foto yang disodorkan pria itu padanya. Mengambilnya dengan tangan bergetar. Tersenyum melihat setiap lembar foto itu. Foto yang menampilkan pria itu. Betapa tampannya ia disana meski wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi.

“Dia terlihat lebih kurus.”

“Memang.”

“Tapi setidaknya dia baik-baik saja.”

“Dia tidak pernah bertanya tentangmu padaku. Bersikap seolah baik-baik saja seperti saat kau belum hadir dalam hidupnya. Kau juga bersikap seolah kehadirannya tidak penting. Tapi kalian berdua sama-sama terlihat seperti makhluk tidak bernyawa karena saling merindukan.”

“Tidak semua hal terjadi sesuai harapanmu, Lee Hyukjae.” Je Wo menjawab sambil terus memandang foto di tangannya. Merasa terpuaskan dengan hanya menatap pria itu saja. ia lalu mengernyitkan alisnya saat sebuah undangan melambai-lambai di depan matanya.

“Undangan siapa?”

“Lusa aku dan Hyemi akan menikah. Ku harap kau bisa datang.”

***

Kyuhyun membantingkan tubuhnya di ranjang apartemennya. Menarik Napas dengan berat. Sudah dua bulan. Dua bulan ia hidup tanpa pernah bertemu gadis itu. Menyentuhnya atau bahkan melihatnya. Sejak ia terbangun di rumah sakit waktu itu, neraka hidupnya telah dimulai. Ia hanya menemukan ibunya disana. Gadis itu tidak ada. Gadis itu benar-benar pergi dari hidupnya. Demi keselamatannya.

Selama ini Ia sudah menahan dirinya dengan baik. Tapi sekarang ia sudah mencapai batasnya. Tidak peduli apa yang akan terjadi nanti, ia akan menjemput gadis itu.

***

Kyuhyun menginjakkan kakinya di kediaman keluarga Shin untuk pertama kalinya. Ia berhasil melumpuhkan beberapa penjaga yang berjaga di pintu depan—merasa kesal karena mereka tidak bisa diajak bekerja sama. Ia lalu melihat malas kearah para pria di hadapannya. “Aku kesini ingin bertemu dengan Tuan Shin Yong Joon. Kalian hanya perlu membiarkanku masuk karena urusanku dengannya amat sangat penting.”

Cho Kyuhyun berkata dengan nada dingin dan wajah datar. Namun pria-pria di hadapannya tetap tidak memberinya jalan. Membuatnya lagi-lagi merasa kesal hingga langsung menghabisi pria dihadapannya dalam hitungan detik. Ia menyerbu masuk seperti orang kesetanan. Menghabisi semua orang yang menghalanginya. Ia tersenyum miring saat berhasil menumbangkan orang terakhir.

Kyuhyun lalu melangkahkan kakinya lagi. Lengan kemeja kerjanya sudah menggulung hingga siku. Jasnya ia sampirkan di tangannya. Ia lalu mengacak rambutnya.

Shin Yong Joon duduk di kursi ruang tengah sambil membaca Koran. Ia mendongak lalu melipat korannya. Tidak terlihat terkejut saat melihat Cho Kyuhyun berdiri dihadapannya.

“Senang bertemu denganmu, Tuan Shin. Maaf mengenai para petugasmu. Mereka sangat tidak sopan karena tidak mengizinkanku untuk bertemu denganmu.” Kyuhyun membuka percakapan dengan sopan.

“Lama tidak bertemu. Ada kepentingan apa hingga seorang Cho Kyuhyun datang ke rumahku?”

Pria paruh baya itu menatap Kyuhyun dengan pandangan meneliti. Berusaha menemukan sesuatu hanya dengan memandanginya saja. Hubungan antara Kyuhyun dan putrinya memang sudah berakhir. Ia tau itu. ia juga tau kalau mereka tidak pernah bertemu sejak kejadian di café waktu itu. Hingga saat pria itu menampakkan wajahnya dirumahnya, membuatnya menautkan alis.

“Aku datang untuk melamar putri anda, Tuan Shin. Aku ingin kita berdiskusi terlebih dahuku sebelum nanti aku benar-benar membawa orang tuaku.” Jawab Kyuhyun dengan sopan. Ia menatap pria di hadapannya dengan mantap tanpa ada keraguan sedikitpun.

Shin Yong Joon melebarkan matanya. Menatap Kyuhyun dengan pandangan tidak percaya. Diam-diam ia mengagumi keberanian pemuda di hadapannya ini. “Apa yang membuatmu yakin bahwa aku akan menerima lamaranmu?”

“Karena aku yakin tidak akan ada yang bisa membahagiakan Je Wo lebih daripada aku bisa membahagiakannya.” Jawaban Kyuhyun membuat Shin Yong Joon terdiam sejenak, berusaha memikirkannya. Sementara Kyuhyun menatap laki-laki itu dengan sorot mata yang menyiratkan keyakinan dan janji yang tulus.

“Aku mengatakan ini bukan supaya kau mengizinkanku menikahi Je Wo. Tapi kuharap kau memikirkan bagaimana rasanya berada di posisi Je Wo. Aku yakin kau sudah tahu bahwa sebenarnya dia amat sangat menyayangimu sebagai ayahnya. Kata-katanya di café waktu itu menunjukkan dengan sangat jelas. Dan belum terlambat bagimu untuk memperbaiki hubungan kalian selama ini.

“Dia sudah berjuang sendirian selama ini. Menghadapi anda dan juga kehidupannya. Dan aku tidak bisa membiarkannya berdiri sendirian lagi.”

Shin Yong Joon terdiam lama. Kata-kata itu berhasil menyentuh sisi paling tersembunyi dalam hatinya. Membuat perasaannya sebagai seorang ayah terusik.

“Cho Kyuhyun?”

Mereka semua menoleh kearah suara tersebut. Mendapati seorang gadis berdiri tak jauh dari mereka dengan pandangan terkejut. Shin Je Wo terdiam di tempatnya. Ia tadinya berniat ke dapur tapi entah mengapa kakinya malah membawanya ke tempat ini. Dan dadanya benar-benar seperti akan meledak saat mendapati bahwa pria itu berada di sana. Perasaan senang yang membuncah mengaliri tubuhnya. Pria itu benar-benar berdiri di hadapannya. Cho Kyuhyun berdiri di hadapannya. Ia menggigit bibirnya menahan diri untuk tidak berlari memeluk pria itu. Dan akhirnya, ia hanya memandangi Kyuhyun dengan tatapan dalam.

Sikap Kyuhyun tak jauh berbeda dengan gadis itu. Ia akhirnya menarik Napas dengan perlahan. Merasa menemukan oksigennya kembali. Dan perasaannya yang sejak dua bulan lalu mati kini mulai terasa dipenuhi musim semi yang mendamaikan hatinya. Ia memandang Je Wo lekat-lekat. Berusaha memastikan bahwa ia tidak sedang berhalusinasi. Wajah itu…. ia bahkan tidak bisa mengingat bagaimana rupa Je Wo saat mereka terakhir kali bertemu. Ia memandangi gadis itu dari kaki hingga wajahnya. Menatapnya berlama-lama dan mendapati dirinya tidak bisa mengalihkan pandangan.

Ia merindukan gadis ini. Sangat.

Je Wo mengalihkan tatapannya pada ayahnya. Kembali memasang wajah datarnya. Ia berdeham. Berusaha menemukan pita suaranya. “Appa tidak perlu khawatir. Aku tidak akan melanggar janjiku. Jadi aku tidak akan—“

“Aku terima lamaranmu, Kyuhyun~ssi.” Ucapan pria paruh baya itu membuat Kyuhyun dan Je Wo menoleh kaget.

“A—apa?” ujar mereka nyaris bersamaan.

“Kau boleh menikahi putriku. Tapi kau harus berjanji untuk benar-benar menepati kata-katamu tadi. Aku tidak akan segan-segan untuk menghabisimu jika kulihat kau menyakitinya.”

Shin Yong Joon meneruskan kata-katanya dengan tegas. Sorot matanya memperlihatkan tatapan seorang ayah yang meneduhkan. Membuat Je Wo terdiam di tempatnya dengan pandangan tidak percaya.

Benarkah? Benarkah ayahnya merestui mereka?

“Appa..”

Shin Je Wo menatap ayahnya dengan pandangan yang tak terbaca. Sementara tuan Shin hanya tersenyum padanya. Senyum pertama yang pria itu tujukan untuknya. Dan itu membuatnya ingin menangis.

“Mungkin aku tidak berhak meminta ini darimu. Tapi kuharap kau masih menyayangiku. Meskipun hanya sedikit. Dan kuharap kau tidak membenciku lagi.” Pria paruh baya itu mengatakannya dengan tatapan lelah dan nyaris memohon. Membuat air mata Je Wo jatuh saat itu juga. Detik berikutnya Je Wo langsung menghamburkan dirinya dan memeluk ayahnya dengan erat. Untuk pertama kalinya ia memeluk ayahnya. Dan ini benar-benar nyaman dan membuat semua bebannya meluap entah kemana. Mulai sekarang tidak akan ada lagi tatapan permusuhan. Tidak ada lagi aura dingin yang memenuhi rumah itu.

Kyuhyun melihat pemandangan di depannya dengan penuh haru. Tidak bisa menahan senyum saat melihat gadis itu kini berbalik padanya dan berjalan pelan ke arahnya.

“Kenapa baru datang sekarang?” Je Wo bertanya dengan nada nyaris merengek. Membuat Kyuhyun melebarkan matanya tak percaya. Ia lalu tersenyum simpul. Menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Membenamkan hidungnya di kepala Je Wo. Menghirup aromanya dalam-dalam. Membuatnya merasa bahwa kini nerakanya sudah berubah menjadi surga yang benar-benar indah. Tentu saja indah. Karena gadis ini sudah kembali padanya. Sudah kembali ke pelukannya.

***

Aula hotel itu dipenuhi para tamu undangan. Terlihat begitu indah dengan penataan ruangan yang luar biasa. Orang-orang sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang menikmati hidangan, mengobrol dengan teman-temannya, atau bahkan sibuk membicarakan sang pengantin yang terlihat begitu serasi.

Hari ini adalah hari pernikahan Eunhyuk dan Hyemi. Pasangan itu kini sedang mengobrol ringan setelah sebelumnya mengucapkan ikrar di hadapan pendeta.

“Eunhyuk kelihatan tampan sekali dengan setelan tuxedo pengantinnya.” Je Wo menyatakan pendapatnya sambil memandang Eunhyuk dan Hyemi. Ia dan Kyuhyun sedang duduk berdampingan di kursi di tengah ruangan. Hyemi terlihat benar-benar cantik dengan gaun putihnya. Ia ikut tersenyum saat mendapati tangan gadis itu melingkar di lengan Eunhyuk. Melihat benda mengkilat di jari mereka. Membuatnya tiba-tiba berimajinasi tentang pernikahannya dan Kyuhyun nanti.

“Biasa saja.” Pria itu menjawab dengan nada datar.

Gadis itu menoleh dengan raut kesal. Mendesis geram melihat kelakuan Kyuhyun. “Astaga. Kau masih marah padaku?”

“Tidak. Siapa yang marah.”

“Kau. Demi Tuhan, Cho Kyuhyun. Sudah kubilang kan, aku sering menemui Eunhyuk untuk bertanya tentang kabarmu, keadaanmu. Bukan untuk hal-hal lain yang sedang kau bayangkan di otakmu yang sempit itu.”

“Lalu kenapa kau tidak mau menemuiku? Kau bahkan tidak menjengukku sama sekali. Sebegitu susahnya meluangkan waktumu untuk menemuiku?”

“Bukan begitu. Lalu bagaimana denganmu? Kenapa kau tidak pernah menemuiku?”

“Jangan membalikkan pertanyaanku. Lupakan saja.” Pria itu lalu membuang wajahnya. Lebih memilih memandangi ponselnya daripada melihat wajah Je Wo. Membuat gadis itu menghela napas kesal.

Baiklah, baik. Ini mungkin memang kesalahannya. Tapi bukan berarti pria itu bisa bebas merajuk seperti itu, kan? Kondisi terdahululah yang memaksa Je Wo melakukan itu. Ia lalu melirik Kyuhyun. Sepertinya pria itu benar-benar marah padanya.

Je Wo menarik napas dalam lalu dengan secepat kilat mengecup bibir pria itu. Mengakhirinya dengan meninju lengannya pelan. “Berhentilah merasa cemburu. Kau sama sekali tidak terlihat tampan.”

Tindakan kecil itu membuat Kyuhyun menahan senyum gelinya. Memahami makna kalimat gadis itu yang sebenarnya. “Merasa tergoda, huh?”

“Cih. Bermimpi saja.”

Mereka lalu berada dalam keheningan yang menenangkan. Kyuhyun menggenggam tangan Je Wo dengan hangat. Ia lalu menarik tangan itu bersamanya. Menciumnya kemudian menempelkannya di wajahnya—dengan tangannya yang masih bertautan dengan tangan gadis itu. Ia memejamkan matanya sejenak. Merasakan kelembutannya di kulitnya.

“Aku penasaran, kira-kira bagaimana penampilanku saat mengenakan gaun pengantin nanti.”

“Aku lebih penasaran saat kau tidak mengenakan apa-apa.”

“Akhirnya, watak aslimu sudah kembali.”

Kyuhyun terkekeh mendengar penuturan Je Wo. Ia lalu menoleh. Menatap gadis itu dengan pandangan yang dalam dan lembut. Menyadari betapa mempesonanya gadis itu dengan gaun biru sapphire nya. Rambutnya yang ikal tergerai dengan indah di punggungnya. Merasa malang saat menyadari dirinya merasa semakin tergila-gila pada gadis ini. Mencintainya dengan kadar yang semakin besar setiap harinya.

Dan ia tersenyum senang saat mendapati bahwa gadis itu juga merasakan hal yang sama. Terlihat jelas di tatapan matanya yang sejak tadi menatapnya dengan pandangan memuja. Membuatnya tahu bahwa Shin Je Wo juga memiliki cinta yang sama gilanya dengannya.

“Aku mencintaimu.” Ujar Kyuhyun pelan namun jelas. Kalimat yang membuat Je Wo melebarkan matanya. Tetap tidak terbiasa dengan dampak yang dirasakan tubuhnya karena kalimat itu. Ia lalu tersenyum. Senyum yang mampu membuat jantung Kyuhyun jungkir balik di rongga dadanya.

“Aku mencintaimu, Cho Kyuhyun.”

END

90 thoughts on “FF Contest – This is Love

  1. Ahhh suka bgt bagian si kyuhyun mulai ngeluarin kata2 cheeseenya wkwk.

    Keren si je wonya, untung dia bukan anak mafia yg manja, kayak tuan2 putri biasa, untung dia bisa bela diri juga jadi bisa nolongin kyuhyun juga.

    Btw pas kyuhyun di pukulin kalau lebih di ceritain lagi secara spesifik si kyuhyunnya pasti lebih sedih.

    Nice ff^^

  2. Ff ya bagus bnget sumpah ..
    Author ya daebakk 👏👏👏👏
    Akhir ya ayah je wo sadar juga .
    Ahh nggak bsa berkata” lagi terlalu wow FF ya bkn aq klepek” wkwkwk
    Jjangg ☝👍👍👍👍

  3. Sumpah ni ff kerenn banget, aku suka alur nya, rapi dan gak terlalu terburu-buru. Gak nyangkaaa bakal happy ending. Haha.
    THIS IS MY STYLE WKWK

  4. Sumveh keren bnget Feel nya dpet
    ak kira Jewo bneran anak nya Presiden korea, eh tau nya anak nya Mafia buset dah…
    kebernian nya Kyu, perlu di acungin jempol hihhi, ember Jewo eonni Kyu itu emg byuntae bnget Hahhha

  5. Aaaaa, aku suka bgt sama ff ini, alurnya the best bgt, waktu baca seolah-olah ada di dalam cerita. Menyaksikan mereka berjuang. Astaga ak sampe nangis bacanya.

  6. oh my god. ini ff keren bgt….
    daebak. emosinya terasa banget…
    bikin deg deg-an. tapi suka bgt moment nya je wo ama kyuhyin. romabtis banget…..
    DAEBAK….!!!!

  7. selalu suka dgn cerita yg bertema seperti ini,,, apalgi kyuhyun so sweet…
    ceritanya keren,, detail bgd aplg pas adegan lamaran itu,, terharu bgd…

  8. Kok ga dri dlu aza si kyu datang langsung,, senengnya happy ending senengnya,,
    Akhirnya bisa luluh juga ayahnya je wo,,
    Salut liat karakter je wo di sini keren (y)

  9. hoaahh, aku nangis baca ini. kalimat2 yg keluar dari Je wo bikin nangisss
    romantiss sekali kyuhyun-je wo🙂 ow ow ow akhirnyaa mendapat restu dari ayah je wo. salut dah sm kyuhyun! benar2 laki2 sejatiii
    baguss bgt ini ff. aku suka sukaa

  10. ahhhh kenapa so sweet gini? udah ada 2 ff contest yg aku baca.. dan semuanya bagus..🙂 menyentuh bgt. mulai dari kisah masa lalu dan ini kisah mafia. endingnya bagus cuma agak gmn gitu knp ayah je won langaung lulus.. padahal aku msh pengen liat Kyuhyun meraung kesakitan. hhhaa :v
    tapi waktu di cafe.. waktu je won protest tentang hidupnya selama ini. huft rasanya sakit bacanya hhaa🙂 berasa kayak .. ” klo aku hidup kayak bgtu mungkin aku lbh milih bunuh diri’ hhhaa🙂.
    sama sempet bayangin misal Kyuhyun gk perjuangin Je Won.. huft mungkin bakalan jdi sad ending dan bakalan need squale hhhaaa semngat ya thor buat contest nya🙂 ini bgs ffnya🙂

  11. Annyeong^
    aku reader baru. Aku dapat recommend baca ff ini.
    Aku suka sama jalan ceritanya. Ketawa sendiri saat baca gilanya kyuhyun terhadap je wo😀
    gaya pecicilannya je wo.
    Eomma nya kyu mah gitu😀 ahra onni orangnya mah gitu.
    Perjuangan kyuhyun-je wo ngga sia-sia😀
    aku suka. Author, aku blm ubek-ubek wp nya. Sepertinya nanti sering mampir kesini deh. Mohon izin.
    Gomawo.
    Fighting

  12. pertama aku dibuat ngakak dengan tingkah konyol kyuhyun dan Je wo waktu pertama kenal.apalagi banyak sekali kalimat yang kyuhyun lontarkan yang mengarah ke hal hal mesum bikin gemes apalagi saat percakapan ini, yg paling sukses membuat otakku ngeres.

    “Aku penasaran, kira-kira bagaimana
    penampilanku saat mengenakan gaun
    pengantin nanti.”
    “Aku lebih penasaran saat kau tidak
    mengenakan apa-apa.”
    “Akhirnya, watak aslimu sudah kembali.”

  13. Ku kira bakalan sad ending min , ternyata happy ending
    Sedih banget ceritanya , kasihan kyuhyun dan je wo yg ga bisa merasakan indahnya berpacaran krna ayahnya je wo
    Tp senang banget bagian endingnya , akhirnya ayahnya je wo ngerestuin juga je wo sama kyu

    Ffnya keren banget min , smpai bingung mau komen apa hihihi

  14. Huwaaa, FF-nya keren banget! Akhirnya ayahnya Je-Wo merestui juga hubungan anaknya sama Kyuhyun😀
    Asli, kebelet ngakak pas si Kyuhyun bilang, “Aku lebih penasaran saat kau tidak mengenakan apa-apa.” Demi apa pun, otaknya mesum banget, minta dicuci banget itu, wakakak =))
    Good job author! Nggak tau deh harus bilang apa lagi. tetep semangat aja deh dalam berkaryanya🙂

  15. Astaga ternyata je wo anak seorang mafia toh.
    Bpkx kejam bgt dah.
    Sampe nyuruh anak buahx mukulin kyu trus.
    Tp salut dah ma keberanianx c kyu yg msk kandang mafia.
    Ahaha
    So sweet bgt dah crtx..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s