Fake Weeding Chapter 5 (Short Version)

wpid-received_m_mid_1393629352634_4c29401d0152dcc712_11.jpeg

PS: Choi Young Ra, Psikiater yang ngobatin Je Wo namanya saya ganti jadi Choi Ha Neul.

“Hari ini makan siang bersama?” tanya Je Wo selagi mereka menikmati sarapan pagi dimeja makan.

                Kyuhyun mengangguk disela-sela kegiatannya meneguk susu. Sebenarnya dia sangat malas meminum susu dipagi hari, tetapi Je Wo selalu memaksanya. Wanita itu bilang susu sangat bagus untuk kesehatan.

                “Bagaimana kalau kita juga mengajak Ha Neul? Sudah hampir dua bulan aku tidak melakukan terapi dengannya.”

                “Nanti akan kupikirkan.” Gumam Kyuhyun tampak tidak berminat.

                Je Wo mencebik pelan. “Serius lah, Tuan Cho… terapi itu penting bagitu.” Sungutnya.

                “Aku tahu, Nyonya Cho…” balas Kyuhyun dengan senyuman tipisnya yang menawan.

Mereka saling memandang dengan senyuman hangat dan penuh kasih sayang. Sampai ketika ponsel Kyuhyun berbunyi, barulah tatapan itu terputus. Kyuhyun menatap layar ponselnya. Sebuah panggilan masuk dari nomer yang tidak dikenal. Biasanya dia tidak pernah mau mengangkat panggilan seperti itu, tapi entah mengapa kali ini dia berniat mengangkatnya.

                “Cho Kyuhyun.” Gumamnya setelah menerima panggilan itu.

                Batas waktunya sudah berakhir, hari ini aku pulang. Jemput aku dibandara pukul dua belas siang.

                Sambungan terputus, menyisakan keterpakuan Kyuhyun. Ponsel masih menempel ditelinganya. Kyuhyun menatap kosong kedepan. Penelepon itu… tanpa bertanya pun Kyuhyun tahu siapa pemilik suara itu. Suara yang sudah sangat dia kenali sekaligus dia rindukan. Hanya dengan mendengar suara itu saja dadanya telah berdesir.

                Perlahan-lahan Kyuhyun menurunkan ponselnya. Semua ini masih diluar dugaannya. Dia telah kembali. Itu artinya waktu yang dia minta telah berakhir. Kyuhyun meremas ponselnya tanpa sadar.

                “Siapa?”

                Teguran Je Wo membuatnya tersadar. Dia mencoba menguasai dirinya agar tidak terlihat gugup. Kyuhyun tersenyum kecil. “Bukan siapa-siapa.” Jawabnya meski dari cara Je Wo menatapnya, dia tahu wanita itu tidak percaya. “Hm… sayang. Sepertinya hari ini kita tidak bisa makan siang bersama.”

                “Kenapa?”

                “Aku baru ingat kalau hari ini aku sangat sibuk. Bahkan mungkin akan pulang larut malam. Kau makan siang bersama asistenmu saja tidak apa-apa, kan?” Je Wo mengangguk mengerti dan membuat Kyuhyun mendesah lega meski sejujurnya dia merasa bersalah sudah membohongi wanita itu.

“Soal Ha Neul bagaimana? Aku… boleh menemuinya sendiri saja, tidak?” Je Wo bertanya hati-hati mengingat sesensitif apa Kyuhyun terhadap pengobatannya.

                Kyuhyun tidak menjawab, hanya memandanginya sayu. Rasanya tidak pernah puas untuk memandang wajah Je Wo. Terlebih saat ini, Kyuhyun ingin sekali menghabiskan seluruh waktunya untuk memandangi Je Wo sepuasnya. Takut kalau-kalau ternyata di kemudian hari dia tidak mempunyai kesempatan itu lagi.

                “Kyu…” tegur Je Wo. Kyuhyun tersentak dan berdehem sekali. “Tidak apa-apa kalau kau tidak mengijinkannya. Aku mengerti.”

                “Tidak. Pergilah temui dia.” Sela Kyuhyun cepat.

                Kedua mata Je Wo sempat melebar tak percaya. “Benarkah? Aku boleh menemuinya sendiri? Kau tidak marah? Benar-benar boleh?”

                Rentetan pertanyaan penuh semangat itu membuat Kyuhyun tersenyum kecil. Dia segera bangkit dari tempatnya untuk menghampiri Je Wo. Dibingkainya wajah polos itu dengan kedua tangannya. “Tentu saja. Mulai saat ini aku akan memperbolehkan apa pun yang ingin kau lakukan asal bukan hal-hal yang dapat mencelakai dirimu sendiri.”

                Je Wo tersenyum lebar. Kemudian memeluk pinggang Kyuhyun dengan erat. “Terima kasih, Cho Kyuhyun… kau suami terbaik.” Gumamnya.

                Kini Kyuhyun kembali termangu. Suami terbaik… pantaskah dia disebut seperti itu? Atau apakah Je Wo masih mau menyebutnya seperti itu kalau dia tahu apa yang sudah Kyuhyun lakukan selama ini padanya.

                Kyuhyun melepaskan pelukan Je Wo dari pinggangnya. Jemarinya bermain disekitar pipi Je Wo, mengelusnya lembut dan sesekali dia tersenyum simpul, menyukai apa yang dia lakukan. “Kalau begitu aku pergi. Jangan lupakan makan siangmu hanya karena kau terlalu asik bercerita bersama Ha Neul.” Je Wo mengangguk patuh dan semakin membuat Kyuhyun memandangnya teduh. “Boleh aku meminta sesuatu?” bisik Kyuhyun.

                “Tentu. Apa yang kau minta?”

                “Tunggu aku pulang. Aku… ingin kau memelukku setelah aku pulang bekerja nanti.”

                Mereka berdua sama-sama terdiam kaku. Hanya kedua mata mereka yang saling menelisik satu sama lain. Je Wo merasakan dadanya menghangat, sebuah kehangatan yang sangat disukainya.

                Je Wo mengangguk pelan. Kemudian disusul dengan tubuh Kyuhyun yang membungkuk kearahnya hingga bibir mereka bertemu. Kyuhyun sengaja berlama-lama menyentuh bibir Je Wo demi menenangkan dirinya dari rasa takut. Takut jika wanita dihadapannya ini akan segera pergi sebelum dia mempersiapkan hatinya untuk itu.

***

Berdebar-debar. Kyuhyun menunggu seseorang di Bandara dengan hatinya yang resah. Sejak tadi dia melirik arlojinya. Lalu meneliti orang yang berlalu-lalang di hadapannya. Sesekali dia mengacak rambutnya, menjilati bibirnya yang kering. Belum pernah dia seresah ini sebelumnya.

                Lalu matanya menangkap sosok wanita yang berjalan kearahnya. Wanita pemilik senyuman malaikat yang sangat dia kagumi. Wanita itu melambaikan tangannya, kacamata hitam menutupi matanya. Bibirnya tersenyum lebar, mengutarakan kebahagiaan yang dia rasakan.

                Hanya sebentar dia berjalan santai karena setelahnya dia telah berlarian dan berhambur kedalam pelukan Kyuhyun. memeluk leher Kyuhyun seerat yang dia bisa. “Aku merindukanmu, Kyu…” bisiknya parau tapi tidak menutupi kebahagiaan yang dia rasakan.

                Kyuhyun memejamkan matanya erat ketika perlahan dia membalas pelukan gadis itu. Harum rambutnya Kyuhyun hirup sekuat yang dia bisa. Ya Tuhan, dia juga sangat merindukan gadis ini. Gadis yang telah dia sakiti hatinya, gadis yang bukan hanya memiliki senyuman malaikat namun dia juga memiliki hati seperti malaikat.

                “Chan Ra-ya…” gumam Kyuhyun serak dengan mata terpejam.

                Chan Ra melepas pelukannya, menatap Kyuhyun dengan senyuman manisnya meski kedua matanya berkaca-kaca. “Masih tampan,” gumamnya dengan candaan. Dia mengusap wajah Kyuhyun dengan tangannya, menatap Kyuhyun dengan cara yang sama, seperti dulu.

                Kyuhyun menilisik wajah dan penampilan gadis itu sejenak. Rambutnya lebih panjang dari terakhir kali ketika Kyuhyun melihatnya namun telah berubah warna menjadi kecoklatan. Wajah kekanakannya masih terlihat memesona, hanya penampilannya saja yang semakin terlihat dewasa. “Dan kau semakin cantik dengan rambut coklatmu meski aku lebih menyukai rambut hitammu, sayang.”

                Park Chan Ra tertawa geli dan kembali memeluk Kyuhyun erat. “Rasanya aku tidak puas hanya memelukmu sebentar. Aku sangat merindukanmu… kuharap setelah ini kita tidak akan berpisah lagi.” gumamnya pelan.

                Senyuman Kyuhyun menyurut. Dia bahkan tidak memiliki keberanian untuk membalas pelukan kekasihnya. Kedua tangannya saling terkepal, menahan perasaan bersalahnya.

                Chan Ra menyadari keterdiaman Kyuhyun dan melepas pelukannya. Dia menatap wajah kekasih yang sangat dia rindui itu dengan tatapan curiga. “Ada apa?”

                Kyuhyun ingin mengatakannya sekarang juga, di sini, tapi tidak mungkin. Chan Ra baru saja pulang dan dia tidak mau menyakiti gadisnya saat ini. “Tidak apa-apa. Ayo, kuantar ke apartement.” Kyuhyun mengamit lengannya tapi Chan Ra menepisnya.

                “Kenapa bukan di rumahmu?” tanya Chan Ra dengan nada yang semakin curiga. “Jangan katakan kalau…”

                “Chan Ra-ya, aku tidak ingin membicarakannya di sini.” Tegas Kyuhyun dan segera menggenggam jemari Chan Ra, membawanya pergi. Kyuhyun sudah menyiapkan dirinya untuk menerima hal yang terburuk dari Chan Ra sekalipun.

***

“Lama tidak bertemu.” Sapa Ha Neul setelah Je Wo memasuki ruangannya. Hari ini Je Wo memutuskan membuat janji temu dengan Ha Neul. Mereka memutuskan untuk bertemu di rumah sakit dimana Ha Neul bekerja.

                “Ya, aku dan Kyuhyun cukup sibuk akhir-akhir ini.” ujarnya memberi alasan.

                “Jadi, sudah ada perkembangan?” Ha Neul mulai bertanya.

                Je Wo mengangguk semangat. “Aku bertemu dengan teman lamaku, Lee Hyukjae dan ajaibnya, aku mengingatnya meski tidak mengingat secera keseluruhan.” Ha Neul mendengarkan dengan serius. “Lalu aku juga pernah bermimpi. Sebuah mimpi yang bagiku sangat… familiar.”

                “Apa itu?”

                “Aku bermimpi berjalan memasuki Gereja dimana aku dan Kyuhyun menikah. Aku memakai sebuah gaun pengantin yang setiap detail bentuk gaunnya sangat aku ingat. Tapi… gaun pengantin itu berbeda dengan gaun pengantin yang ada di foto pernikahan kami.”

                “Berbeda?”

                “Ya.”

                Ha Neul mengangguk samar. Dia sempat menghela napasnya sejenak ketika memikirkan sesuatu. “Obat yang kuberikan masih terus kau minum?”

                “Tentu. Aku tidak pernah lupa meminumnya.”

                “Bagus, sepertinya efek dari obat itu mulai bereaksi padamu. Je Wo sshi, bisakah kau mengenalkan teman lamamu itu denganku? Sepertinya aku membutuhkan bantuannya.”

                “Oke, aku akan bertanya padanya lebih dulu kapan dia bisa bertemu denganmu.” Jawab Je Wo. Hari ini dia sangat bersemangat sekali, membuat Ha Neul tesenyum geli menatapnya.

                “Aku menyarankanmu untuk sering mengunjungi tempat-tempat atau orang-orang yang berhubungan dengan masa lalumu. Kau bisa menanyakannya pada suamimu atau teman lamamu itu mengenai tempat-tempat yang dulu sering kau atau kalian kunjungi.” Papar Ha Neul. “Boleh aku tahu, apa kau masih memiliki orangtua?”

                “Ya, aku masih memiliki mereka.” Jawab Je Wo sedikit sendu. Tiba-tiba saja dia merindukan orangtuanya yang jarang sekali dia temui sejak dia tinggal di rumah Kyuhyun. Dia memang merasa asing dengan mereka berdua, tetapi tetap saja dia merasakan kehangatan yang luar biasa ketika berada di dekat mereka, meski perasaan hangat itu selalu menimbulkan perasaan takut di dalam dirinya.

                “Ada apa?” tanya Ha Neul yang membaca raut wajah Je Wo. Dia terlihat gelisah.

                Je Wo memandang Ha Neul, mulanya ragu tetapi semakin lama dia meyakinkan dirinya. “Aku sering merasakan perasaan nyaman dan hangat ketika berada di antara orangtuaku. Tapi ketika aku ingin menerima perasaan itu, tiba-tiba saja aku merasa… takut. Perasaan takut yang sama seperti perasaan takutku setiap kali merasakan kasih sayang Kyuhyun padaku.” Je Wo menatap Ha Neul murung. “Menurutmu apa yang terjadi padaku?”

                “Bayang-bayang masa lalumu.” Cetus Ha Neul. Je Wo menatapnya tidak mengerti dan Ha Neul memberinya senyuman yang menenangkan. Ada sesuatu yang sangat ingin Ha Neul katakan padanya tetapi dia masih belum yakin dengan kebenaran itu. Oleh karena itu dia memilih bersabar dan menundanya. “Perasaan seperti itu wajar dirasakan oleh pasien sepertimu. Dan kuharap kau melakukan apa yang kusarankan tadi, karena itu sangat membantu.”

                Je Wo mengangguk mengerti.

                “Tentang teman lamamu itu, bisa kah kau mengatur pertemuanku dengannya secepat mungkin?”

                “Oke.”

***

“Jadi kau belum meninggalkannya?”

                Kyuhyun menggelengkan kepalanya menyesal sementara Chan Ra menatapnya tidak percaya. Dia baru saja memaparkan penjelasannya mengenai Je Wo dan dirinya. Sungguh tatapan sedih Chan Ra membuat perasaanya hancur.

                “Satu tahun, Kyu. Aku sudah memberimu waktu selama itu dan kau masih tidak bisa melakukannya?” suara Chan Ra bergetar, dia sedang menahan tangisan yang sudah bersiap-siap tumpah.

                “Kondisinya masih belum memungkin. Aku tidak tega melakukannya…”

                “Dan kau tega melakukannya padaku?”

                “Tidak, sayang. Tolong mengerti aku.”

                Chan Ra berdiri tegak, meninggalkan Kyuhyun yang masih duduk di atas sofa berwarna putih yang berada di Apartement yang telah dia siapkan untuk Chan Ra.

                “Kau mau kemana?” tanya Kyuhyun cemas.

                “Kembali ke London.” Jawab Chan Ra yang sudah bersiap menggeret kopernya.

                Kyuhyun melompat dari tempatnya dan menyambar lengan Chan Ra, “Kenapa kau harus pulang ke London?”

                “Karena tidak ada lagi urusanku di sini. Untuk apa aku tetap disini? Menyaksikan peranmu sebagai suami gadis yang sudah merenggut kebahagiaanku satu tahun lalu?! Sudah cukup semuanya, Cho Kyuhyun! Kalau kau memang tidak bisa meninggalkannya biar aku yang meninggalkanmu!!”

                “Chan Ra-ya…” desah Kyuhyun frustasi. Dia berada di keadaan yang sulit.

                “Lepaskan! Aku mau pulang!” Chan Ra berteriak histeris, tangannya mencoba melepas cekalan Kyuhyun dengan cara yang kasar namun Kyuhyun tidak mau melepaskannya. Bahkan kini Kyuhyun telah memeluk Chan Ra dengan erat untuk menenangkan gadisnya.

                “Sayang, kumohon… tetaplah di sini. Aku sedang berusaha. Berikan aku sedikit waktu lagi untuk melepasnya. Sedikit saja… kumohon.” Bisik Kyuhyun putus asa. Hanya ini yang bisa dia lakukan. Dia tidak tega melihat Chan Ra menangis seperti ini. Gadisnya sudah terlampau baik dengan membiarkannya berpura-pura menjadi suami Je Wo demi kesembuhan gadis itu. Dan sekarang, ketika dia ingin kembali kepelukan Kyuhyun, Kyuhyun malah belum bisa menerimanya.

                “Kau tahu betapa sakitnya aku setiap kali memikirkan kalian? Seharusnya aku yang menjadi istrimu, seharusnya aku yang berada di posisi itu. Tapi aku mencoba mengertimu, Kyu… aku bahkan sengaja menetap di London untuk memudahkanmu. Tetapi apa yang kudapat. Kau bahkan…” Chan Ra semakin terisak ketika melepaskan dekapan Kyuhyun. Dia menatap pria itu dalam. “Apa kau mulai mencintainya?” Kyuhyun mengatup mulutnya. “Kau mencintainya? Jawab aku, Kyu. Kau mencintai…”

                “Tidak. Tidak, sayang, tidak. Aku tidak mencintainya, aku hanya mencintaimu.” Diraihnya lagi Chan Ra kedalam dekapannya. Tangan Kyuhyun yang berada di atas punggung Chan Ra mengepal menahan sesuatu.

                “Lalu kenapa? Kenapa kau meminta lebih banyak waktu.”

                “Karena dia belum bisa mengingat apa pun. Aku takut terjadi sesuatu padanya jika aku memberitahunya begitu saja dan meninggalkannya. Bukan kah akan menjadi semakin rumit nantinya?” meski sejujurnya yang ingin dikatakan Kyuhyun adalah karena dia belum sanggup meninggalkan Je Wo dan tidak akan pernah sanggup memberitahu semua keberanannya pada wanita itu.

                “Lalu bagaimana denganku…”

                “Kau tetap di sini, mendampingiku diam-diam. Karena aku sangat membutuhkanmu.” Kyuhyun memejamkan matanya lagi. Ya, dia membutuhkan Chan Ra untuk mengingatkannya setiap kali dia melangkah terlalu jauh bersama Chan Ra.

                Sejenak, mereka berdua tidak saling berbicara. Hanya saling berpelukan dalam diam. Chan Ra sudah berhenti menangis namun masih memeluk erat Kyuhyun seolah-olah tidak ingin membiarkan Kyuhyun pergi lagi darinya.

                “Berapa lama?”

                “Hm?”

                “Berapa lama aku harus menunggumu?”

                Kyuhyun merenggangkan pelukannya, menatap wajah Chan Ra dengan perasaan tidak menentu. Lihat lah, betapa baik hatinya gadisnya ini. Dia akan menjadi sangat berengsek jika mengkhianatinya lebih parah lagi.

                “Tidak akan lama, aku bersumpah.”

***

Kyuhyun menghembuskan napas beratnya sebelum memutuskan keluar dari mobilnya. Dia melangkah gontai, namun ketika dia menyadari keberadaan Je Wo yang berjalan mondar-mandir di depan pintu rumah mereka, Kyuhyun tertegun.

                Je Wo hanya memakai sweeter biru tua berbulu untuk melapisi piyamanya, kedua tangannya saling mengusap lengan menahan udara malam.

Kyuhyun menghampirinya. “Sedang apa di sini?” tanya Kyuhyun dengan suara pelannya yang lelah.

Je Wo tersadar dan senyumannya mengembang ketika menyadari keberadaan suaminya. “Menunggumu.” Jawabnya manis.

“Menungguku?” ulang Kyuhyun, Je Wo mengangguk. “Tapi sekarang sudah pukul dua belas malam.”

“Aku tahu,” Je Wo mendekatinya. “Tapi karena kau yang memintaku untuk menunggumu pulang dan juga…” Je Wo memeluk Kyuhyun dan melingkarkan lengannya di pinggang suaminya. “memelukmu. Aku tidak peduli sudah selarut apa, asalkan bisa membuatmu bahagia, aku akan melakukannya.”

Kedua tangan Kyuhyun sudah terangkat untuk membalas pelukan Je Wo, tetapi pada akhirnya dia mengurungkan niatnya. Bayang wajah Chan Ra membuatnya sadar. Sebesar apa pun keinginannya untuk membalas pelukan Je Wo dan mengucapkan terima kasih, dia harus menahannya.

Kyuhyun melepaskan pelukan Je Wo dengan cara yang lembut karena tidak ingin menyakiti perasaan Je Wo. Dia mengulas senyuman yang di paksakan. “Sudah malam, sebaiknya kita masuk.” Ujarnya dan segera meninggalkan Je Wo yang hanya mematung di tempatnya.

Kyuhyun menahan dirinya untuk tidak berbalik dan melihat keadaan Je Wo. Maaf kan aku… gumamnya dalam hati.

Dia mengganti pakaiannya di kamar mandi, setelah selesai dan keluar dari sana, Kyuhyun mendapati keberadaan Je Wo yang masih terjaga. Je Wo duduk di pinggir ranjang, memerhatikannya. Tapi Kyuhyun bersikap seolah-olah Je Wo tidak ada. Dia menaiki ranjang dan berbaring memunggungi Je Wo. Memejamkan matanya, berusaha untuk tidur.

Kyuhyun mati-matian menahan keinginannya untuk memeluk Je Wo. Memastikan dia tidak menangis karena sikapnya malam ini. Tapi tidak bisa… karena nanti dia akan semakin menyakiti Chan Ra. Jadi yang bisa dia lakukan hanyalah berulang-ulang menggumamkan kata maaf di dalam hatinya.

***

Sejak pagi tadi, Je Wo hanya termenung di ruangannya. Dia tidak melakukan pekerjaan apapun dan berkali-kali menolak permintaan Hae Ra untuk menemui pelanggan mereka yang ingin bertemu dengannya. Je Wo bingung dengan perubahan sikap Kyuhyun sejak tadi malam. Kyuhyun berubah dingin padanya. Tidak mau menatapnya dan berusaha menjaga jarak.

                Je Wo juga merasakan penolakan-penolakan Kyuhyun di setiap permintaannya. Dia tidak tahu kenapa, tapi rasanya menyakitkan ketika lagi-lagi Kyuhyun bersikap seperti itu padanya.

                Je Wo menyandarkan punggungnya lelah dan memejamkan mata. Masalah seperti ini selalu berputar-putar seperti badai di dalam rumah tangganya. Terkadang Kyuhyun begitu manis dan menyayanginya tapi tidak jarang Kyuhyun bersikap seolah-olah Je Wo adalah yang paling ingin dia hindari.

                “Hari yang berat?”

                Je Wo tersentak dan seketika membuka matanya. Di depannya sudah ada Hyukjae yang tersenyum padanya. “Hyukjae-ya?” gumamnya senang. Je Wo beranjak dari tempatnya untuk menghampiri Hyukjae. Keberadaan Hyukjae sedikit menenangkannya. “Kau datang?”

                “Hm. Aku merasa terpanggil dan saat melihat kerutan di wajahmu tadi, aku yakin kau sangat membutuhkanku.” Hyukjae mengerling padanya, membuat Je Wo terkekeh lucu dan memukul lengannya. “Ada masalah?” tanya Hyukjae setelahnya. Je Wo menggeleng pelan, menutupi kegusarannya. “Jangan bohong, aku adalah satu-satunya spesies yang tidak bisa kau bohongi.”

                Dahi Je Wo mengerut samar. Dia merasa pernah mendengar kalimat itu.

                “Dulu kau sering bilang begitu padaku setiap kali aku mengetahui masalahmu tanpa kau beritahu.” Cetus Hyukjae bangga.

                “Dasar cenayang!” umpat Je Wo. Apa wajahnya mudahnya sekali terbaca oleh Hyukjae? “Aku lapar…” rengeknya tiba-tiba. “Temani aku makan siang, ya?”

                “Dengan senang hati, Nona Shin Je Wo.” Hyukjae membungkuk hormat padanya dan lagi-lagi membuat Je Wo tertawa.

                Mereka mendatangi cafe milik Donghae. Meski Hyukjae berkali-kali mengajak Je Wo mendatangi tempat lain, tapi Je Wo bersikeras mendatangi tempat itu. Karena selain merasa nyaman berada disana, Je Wo juga berharap dapat bertemu dengan Kyuhyun. Dia merindukan suaminya… Tapi harapannya tidak terkabul. Kyuhyun tidak ada di sana.

                Je Wo mengaduk makanannya tidak semangat. Hal itu tidak luput dari perhatian Hyukjae. Sejak tadi dia selalu memerhatikan gelagat aneh Je Wo yang lebih sering tampak murung.

                “Ada apa?” tanya Hyukjae tak sabar. “Kyuhyun?” tebaknya.

                Je Wo mengangguk pelan tanpa mengalihkan perhatiannya dari Pasta yang sedang dia aduk-aduk tanpa minat. “Dia tiba-tiba menjadi aneh. Padahal pagi kemarin dia masih baik-baik saja.” Gumamnya lirih.

                “Apa yang dia lakukan padamu? Katakan padaku, akan kuhajar wajah sialannya itu.” umpat Hyukjae. Mengetahui gadis itu bersedih karena Kyuhyun telah menyulut emosinya.

                Je Wo menatapnya, mencebik pelan. “Kenapa kalian berdua sama saja? Selalu saja emosi jika aku membicarakan salah satu dari kalian.”

                Hyukjae mendengus. “Setidaknya aku tidak pernah membuatmu sedih seperti ini.”

                “Lee Hyukjae,” desah Je Wo malas. “Suami dan istri itu wajar jika mengalami hal-hal seperti ini. Kau belum pernah menikah, jadi tidak tahu bagaimana hubungan setelah menikah.”

                Tatapan Hyukjae menyendu. Entah sudah sejauh apa Kyuhyun memainkan perannya hingga Je Wo teramat yakin dengan apa yang dia ucapkan. “Bukankah akan lebih baik jika kau tidak pernah mengenalnya?” gumam Hyukjae tanpa sadar.

                “Apa?” tanya Je Wo bingung.

                Hyukjae menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum lembut. “Tidak apa-apa jika dia menorehkan ribuan luka di hatimu, karena saat ini ada aku yang akan mengobatinya tanpa meninggalkan bekas luka yang dia lakukan.”

                Je Wo mengerjap beberapa kali. “Maksudnya… apa?” tanyanya tidak mengerti.

                Hyukjae tertawa melihat wajah bingung Je Wo. Dia mengulurkan tangannya lalu mengacak rambut Je Wo gemas. “Bukan apa-apa, cepat habiskan makananmu.”

                Je Wo merengut sambil membenahi rambutnya. “Aku tidak ingin makan pasta.” Rutuknya.

                “Lalu?” tanya Hyukjae.

                Senyuman Je Wo mengembang. “Es krim?”

                “Ya sudah, pesan saja.”

                “Ck, bukan di sini. Kita beli di pinggir jalan saja, lalu mencari halte terdekat untuk menikmati Es Krimnya.” Je Wo membayangkannya dengan wajah berbinar. “Sepertinya menyenangkan.”

                Hyukjae sudah tidak bisa menahan senyumannya. Rasanya dia bahagia sekali karena Je Wo masih mengingat kebiasaan mereka berdua dulu. Dia mengangguk setuju. Kemudian mereka berdua beranjak pergi.

                Tapi, baru saja melangkah beberapa kali, Je Wo kembali menghantikan langkahnya. Matanya memandang satu objek yang membuatnya tertegun. Hyukjae mengikuti arah pandangnya. Kemudian terkejut ketika melihat Cho Kyuhyun dan seorang gadis yang dia kenali juga, sedang memasuki cafe itu. Bisa mereka lihat tiba-tiba Donghae berhambur memeluk gadis di sebelah Kyuhyun dengan tawa bahagianya. Lalu senyuman Kyuhyun yang mengembang dengan sangat natural.

                Je Wo masih memandangi mereka bingung, sampai ketika gadis di samping suaminya itu mengamit lengan Kyuhyun dan menyandarkan kepalanya di bahu Kyuhyun, tubuh Je Wo menegang dan tiba-tiba saja kepalanya berdenyut sakit. Erangan pelan terdengar dari bibirnya dan menyentak Hyukjae dari lamunannya.

                “Kau tidak apa-apa?” tanya Hyukjae cemas.

                Je Wo berusaha menahan rasa sakit di kepalanya dan mengangguk. Kemudian saat dia melirik Kyuhyun lagi, dia sudah mendapati Kyuhyun yang sedang menatapnya. Begitu juga dengan Donghae dan gadis yang tadi memeluk lengan suaminya.

                “Kau ingin kita pulang atau menemui mereka?” tanya Hyukjae lirih.

                Je Wo menarik napas panjang. “Kita temui mereka sebentar.” Putusnya.

                Hyukjae dan Je Wo menghampiri mereka bertiga. Je Wo mencoba mengulas senyuman ramahnya meski rasanya sangat sulit. Dia menatap Kyuhyun, “Ingin makan siang?”

                Kyuhyun mengangguk sekali. Je Wo menyadari ketegangan di wajah suaminya. Kemudian dia melirik Donghae yang juga terlihat begitu, tapi tidak dengan gadis yang berada di tengah-tengah mereka berdua. Gadis itu menatapnya dengan seksama, tatapannya tak terbaca namun tidak asing, membuat Je Wo lagi-lagi mengerang pelan ketika kepalanya berdenyut lebih perih dari sebelumnya.

                Dia melihat Kyuhyun ingin mendekatinya tetapi lengan Hyukjae yang lebih dulu memeluk bahunya. “Kepalamu sakit? Sebaiknya kita kerumah sakit, kau sudah seperti ini sejak tadi.” Racau Hyukjae.

                Ya, Hyukjae benar. Tapi ada yang aneh, rasa sakit di kepalanya selalu datang ketika dia bersitatap dengan gadis itu.

                “Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing.” Kilahnya, lalu dia kembali menatap Kyuhyun yang masih berdiam diri. Dalam hati Je Wo meringis sesak, tidak pedulikah Kyuhyun padanya? “Dia… siapa?” tanya Je Wo memberanikan diri.

                Kyuhyun melirik gadis di sampingnya dan gadis itu turut menatapnya. “Park Chan Ra,” jawab Kyuhyun setelah menatap Je Wo lagi. “Rekan bisnisku.”

                Je Wo mengangguk. Namun tidak berani menatap gadis itu lagi meski bertanya-tanya siapa Chan Ra sebenarnya dan mengapa dia tampak sangat dekat dengan Kyuhyun. Mungkinkah Kyuhyun berubah karena gadis itu? Bahkan kini Kyuhyun tampak tidak peduli padanya.

                “Aku akan pulang bersama Hyukjae.” Je Wo sengaja mengatakannya agar Kyuhyun bereaksi karena dia tahu Kyuhyun selalu merasa cemburu jika Hyukjae bersamanya.

                Mulanya Kyuhyun menyipitkan matanya menatap Je Wo, seolah-olah dia ingin melarang. Namun Je Wo merasa harapannya sia-sia ketika melihat suaminya mengangguk begitu saja. “Pulang lah bersamanya. Aku akan makan siang bersama Chan Ra.”

                Ada satu bagian dari hati Je Wo yang retak, membuatnya tersenyum miris dan ingin menangis. Tapi Je Wo tidak mau memperlihatkannya di sana. Je Wo mengangguk mengerti dan melirik Hyukjae. “Ayo, kita pulang.” Tanpa memandang Kyuhyun, Je Wo melangkahkan kakinya pergi diikuti oleh Hyukjae.

                “Shin Je Wo,”

                Je Wo menghentikan langkahnya mendengar panggilan Kyuhyun. Hatinya sedikit menghangat ketika harapannya tentang Kyuhyun yang akan menawarkan diri untuk mengantarnya pulang kembali hadir.

                “Jika kau sakit, pergi temui Dokter pribadiku bersama Hyukjae. Mungkin saja dia bisa membantu.”

                Je Wo mengepalkan tangannya. “Aku tidak apa-apa. Lagi pula bukan Dokter yang kubutuhkan.” Tapi kau…

                Je Wo melangkah cepat meninggalkan cafe. Dia mengambil helm yang diberikan Hyukjae dan memasangnya. Namun kedua tangannya yang gemetar terlihat kesulitan mengaitkan tali helm di bawah dagunya.

                Hyukjae menatapnya lirih, wajah pucat Je Wo sudah memberitahukan segalanya. Di tepisnya jemari Je Wo dan digantikan dengan tangannya. “Menangislah setelah helm ini terpasang dengan benar,” gumam Hyukjae sebelum menurunkan kaca helmnya yang berwana hitam hingga dia tidak bisa melihat wajah Je Wo lagi. “Karena aku tidak suka melihatmu menangis karena pria berengsek itu.” gumamnya lagi, kali ini terdengar lebih tegas dari sebelumnya.

TBC

Pendek?

Heum. Saya masih membiasakan diri merangkai kalimat indah setelah sekian lama lebih sering merangkai kalimat memusingkan untuk skripsi hehehe. Aneh gak sih chapter ini? Terus terang, saya sedikit rancu ngetik FF lagi. Yang ini short version dulu yah… kalau nanti saya udah terbiasa lagi dengan kalimat aduhai seperti biasa, Chapter aslinya akan saya posting.

Kritikan, please… lagi di butuhkan sekali😉

211 thoughts on “Fake Weeding Chapter 5 (Short Version)

  1. 01:37
    Kak saya barusan dimarahin sama nenek belum tidur sampe semalem ini.
    Ayodong dilanjut.
    Saya suka semua cerita di library kakak
    Pleasr lanjut yg ini ya, war for lovr juga, affair juga. Ya pokoknya yg gantung gantung itu diselesain sih kak mumpung libur nih hehe
    Ditunggu yaaa dan maaf jarang komen, abis kadang sering ketiduran saking maksanya baca sampe abis.
    Oke byee
    Penggemar setiamu

  2. Jadi ikuti sakit hati bacanya, oh kenapa jadi begini? Udh ada hyuk dan sekarang ditambah yeoja itu? Ckckck

    Bagaimana ini? Aku jadi deg degan bacanya… Eonni jangan terlalu sakit hati dong bikinnya, terasa banget…
    Kan malu sama kakak aku yg tidur di sebelah kalo ketahuan nangis cma gara2 baca cerita fiksi…

    Tapi, walau bagaimanapun, ff ini bener2 daebak! Keep writing eonni! Jangan pernah capek ya walau postnya lama…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s