The Hunters [1]

image

Di dunia ini, banyak sekali organisasi rahasia yang berada disetiap negara. Oraganisasi yang dibentuk beberapa orang dengan tujuan yang sama untuk mencari satu keberhasilan dalam mencapai tujuan yang sama. Ada Organisasi yang berbahaya, ada juga yang tidak.

 Hunters adalah sebuah Organisasi rahasia yang berada didaerah terpencil negara Korea Selatan. Sama halnya seperti Freemason, Cista Nostra, Illuminati, Skull and Bones dan juga The Sons of Liberty. Hunters juga memiliki reputasi yang cukup terkenal. Hanya saja, Hunters sengaja tidak ingin dikenal oleh sembarang orang, apa lagi masyarakat umum.

 Hunters merupakan Organisasi Ilegal. Negara asalnya sendiri, yaitu Korea Selatan, sama sekali tidak dapat melacaknya meski telah mendengar desas desus mengenai keberadaan mereka. Hunters terdiri dari 13 anggota, Leeteuk, Kim Heechul, Yesung, Hangeng, Kangin, Shindong, Lee Sungmin, Lee Hyukjae, Lee Donghae, Choi Siwon, Kim Ryeowook, Kim Kibum dan yang terakhir, Cho Kyuhyun. Mereka tinggal disebuah rumah yang besar dan mewah, yang berada didaerah terpencil. Pekerjaan utama mereka adalah melakukan pembunuhan bersih, lalu menerima bayaran dari seorang pasien, begitu cara mereka menyebutnya.

***

07.30 AM

At House Hunters

Leeteuk.

Leeteuk, pria berlesung pipi itu tersenyum ramah pada seorang Kakek tua yang duduk diujung meja bundar panjang disebuah ruangan besar dikediamannya. Sementara kakek tua itu hanya memasang wajah dinginnya, menatap lekat pada sosok ramah dihadapannya.

 “Jadi, kasus apa yang sedang menimpamu, Tuan? Saya bersedia mendengarkannya hingga tuntas.” Ujar Leeteuk setelah cukup lama berbasa-basi dengan terus bersikap ramah pada Kakek tua itu sejak lima belas menit terakhir.

 Kakek Tua itu bernama Shin Tae Wa, seorang pengusaha terkaya di Korea yang baru-baru ini turut mencalonkan diri sebagai calon Presiden. Dan tentu saja, bagi Leeteuk, Tae Wa adalah seorang pasien penting. Dengan latar belakangnya yang tidak perlu diragukan lagi, ketika Tae Wa menghubunginya untuk meminta bantuan jasa, tentu saja Leeteuk segera menyambutnya dengan senang hati.

 Shin Tae Wa tersenyum tipis. Wajah lelah khas seorang kakek yang tergambar diwajahnya, sama sekali tidak menutupi sedikitpun kesan gagah dari gestur tubuhnya. Dari caranya duduk dengan kedua kaki yang saling terlipat, Leeteuk saja harus mengakui kalau dirinya sedikit iri melihatnya. Tae Wa tampak sangat gagah dan berkarisma. Gaya busananya juga membantunya untuk menutupi umur yang sebenarnya.

 “Bukankah Hunters beranggotakan 13 orang?” tanya Tae Wa dengan gaya bicara santainya.

 “Ya, anda benar.” Sahut Leeteuk cepat.

 Kepala Tae Wa mengangguk lambat. “Kalau begitu, aku ingin semua anggota berkumpul disini sebelum aku menjelaskan kasus apa yang sedang menimpaku.”

 Dahi Leetetuk berkerut samar. Meski pria itu merasa sedikit bingung, tapi ia tetap berusaha menjaga mimik wajahnya setenang dan sebiasa mungkin. Dan hal itu memang selalu ia lakukan setiap hari. Karena tidak seorangpun yang boleh membaca ekspresi diwajahnya. Tidak satu orangpun.

 “Aku adalah ketua kelompok disini, Tuan. Jadi jika anda ingin…”

 “Tidak ada anggota lengkap, maka tidak akan ada perjanjian,” sela Tae Wa cepat. “Dan aku bisa mencari bantuan jasa dari tempat lain.”

 Dasar pria tua merepotkan. Rutuk Leetetuk dalam hati.

 Leeteuk mengangguk pelan sambil mendesah malas. Tangannya menggapai sebuah PC Tablet yang berada diatas meja. Leeteuk mulai tampak menggerak-gerakkan telunjuknya diatas layar, dan hanya dalam waktu 1 menit, ia sudah kembali meletakkan benda itu ketempat semula. Leeteuk memandang Tae Wa dengan senyuman khasnya lagi. “Dalam waktu lima menit, semua anggota akan segera berkumpul. Dan saya harap anda dapat menunggu mereka.”

***

Kim Heechul.

Sambil memandang hamparan lautan luas yang dapat ia lihat dari balkon kamarnya, Heechul dengan setianya mengusap-usap bulu lembut kucing kesayangannya, Heebum. Musik klasik yang terdengar dari Iphone miliknya membuat suasana menjadi sangat tenang dan nyaman. Bibir laki-laki itu tersenyum tipis, sementara kedua matanya terpejam rapat. Heebum yang berada diatas pangkuannya juga melakukan hal serupa. Berbaring meringkuk nyaman dengan kedua mata tertutup diatas pangkuan majikannya.

Bip.

 Bunyi yang berasal dari ponselnya yang lain, membuat kedua mata Heechul terbuka cepat, dan memudarkan senyumannya. Persis seperti apa yang dilakukan majikannya, Heebum turut membuka matanya, lalu meloncat turun dari atas pangkuan Heechul.

 Heechul mengambil ponselnya, mengusap layarnya sekali, kemudian matanya mulai bergerak liar membaca sesuatu yang tertera disana.

 Hembusan napas malasnya terdengar keras, sekeras deburan ombak yang menerjang tebing pantai. Dengan gerakan santai, laki-laki itu berdiri dan berjalan masuk kedalam kamarnya. Heechul meraih jas hitamnya yang terselempang diatas sofa, memakainya sambil berjalan menuju lemari kecil disisi ranjang. Heechul berjongkok disana, membuka laci lemari itu, lalu mengambil sebuah pistol dan menyelipkan benda itu disela saku jas hitam yang sudah ia pakai. Kemudian pergi meninggalkan kamarnya yang masih diselimuti dengan alunan musik klasik.

***

Hangeng.

Tetesan keringat yang mengalir disetiap lekuk lehernya, dan juga disekujur bagian tubuhnya yang lain, sama sekali tidak membuat Hangeng berhenti menggerakkan tubuhnya yang lincah untuk berlatih ilmu bela diri yang telah dikuasainya. Sebuah tongkat panjang yang berada disebelah tangannya mengayun-ayun bebas diudara, membelah udara dihadapannya.

 Kedua bola mata hitam Hangeng yang tajam selalu menatap lurus kedepan meski tubuhnya telah bergerak kesegala arah. Ruangan sepi dan kosong yang hanya diisi dengan sebuah lemari kecil itu selalu menjadi tempatnya berlatih.

 Hangeng adalah laki-laki berdarah Cina. Menguasai seluruh ilmu bela diri yang berasal dari negaranya. Satu-satunya pria berwarga kebangsaan lain yang menjadi anggota kelompok itu.

 Bip.

 Tepat ketika bunyi itu terdengar, tongkat Hangeng berhenti lurus searah dengan kedua matanya. Kepalanya menoleh cepat pada lemari kecil disudut ruangan. Hangeng menegakkan tubuhnya yang tadi sedikit condong kedepan. Melepaskan tongkat itu hingga terjatuh keatas lantai, lalu berjalan menghampiri lemari itu.

 Hangeng meletakkan telapak tangannya diatas lemari yang setinggi pinggangnya. Menggeser permukaan rata lemari itu kesisi kanan hingga potongan papan berbahan kayu itu tergeser dan menampakkan sebuah layar lebar didalamnya.

 Hangeng menekan sebuah tombol kecil disamping layar itu, kemudian menempelkan telepak tangannya diatas layar hingga nama dan wajahnya muncul disana. Setelah itu, jemari Hangeng mulai bekerja disana untuk mengetahui sesuatu.

 Bibir pria itu tersenyum tipis setelah mengetahui sebuah pesan untuknya. Hangeng kembali menutup sisi atas lemari setelah mengetahui apa yang memang harus ia ketahui. Laki-laki itu menyambar sebuah handuk kecil, mengelap wajah hingga lehernya dengan gerakan lambat. Sebelah tangannya menyambar sebuah botol mineral, kemudian meneguk minuman itu sambil berjalan keluar dari ruangan itu.

***

Yesung.

Sebuah benda kecil yang menyerupai biji merica telah berada didalam sebuah ruangan kaca berukuran kecil yang berada didalam Lab eksperimen Yesung. Pria bermata sipit itu tersenyum puas memandangi hasil ciptaannya yang baru. Sebuah Bom mungil tapi dapat meledakkan Hyundai Departement Store tanpa sisa. Ya, hanya dengan sebuah benda kecil itu.

 Yesung memang belum mencobanya karena masih sulit mencari lokasi untuk uji coba. Bayangkan saja, jika eksperimennya benar-benar berhasil tanpa ada kesalahan sedikitpun, dan dia melakukannya disembarang tempat, maka apa yang akan terjadi?

 Oleh karena itu, Yesung masih harus mencari  tempat yang benar-benar layak untuk dimusnahkan olehnya.

 Bip.

 Bunyi itu terdengar ditelinganya. Yesung segera melepas sarung tangan putihnya dan bergegas menghampiri meja kerjanya. Laki-laki itu duduk dikursi kerjanya, lalu mengambil remot kecil dan menekannya lurus kedepan. Setelah itu, ada sebuah monitor transparan yang muncul dipermukaan udara, dihadapannya.

 Jemari pria itu bergerak-gerak diudara untuk membuka pesan masuk yang ditujukan padanya. Jangan ditanya secanggih apa ruang eksperimen pria itu, karena apapun dapat kau temukan didalamnya. Termasuk sesuatu yang tidak dapat diterima oleh akal sehatmu.

***

Kangin.

Samsak tinju itu terus mengayun kesana kemari setiap kali menerima pukulan demi pukulan dari kepalan tangan Kangin. Pria itu memukulnya tanpa sarung tangan tinju, hanya dengan menggunakan kedua kepalan tangannya yang kokoh.

 Matanya memancarkan tatapan lapar, seperti ingin segera menghancurkan samsak itu seperti samsak-samsak lainnya yang telah berjejer rapi didalam gudang dengan keadaan mengenaskan.

 Kangin sering disebut-sebut sebagai mesin penghancur. Dia tidak perlu menggunakan pistol untuk membunuh lawannya. Hanya dengan kedua tangannya, Kangin dapat membunuh lawannya dalam waktu yang sama persis seperti seseorang yang membunuh menggunakan pistol.

 Bip.

 Kangin menggeram sambil menahan ayunan samsaknya. Menatap tajam pada benda kecil yang tergeletak diatas lantai. Sungguh pria itu tidak suka diganggu jika sedang berlatih. Tapi dia harus apa? Bunyi itu adalah tanda, jika ia memang harus segera menghentikan aktivitasnya saat itu juga.

***

Shindong and Kim Ryeowook.

Musik R&B bedentum-dentum keras didalam dapur. Sambil mencicipi semua masakan yang telah Ryeowook siapkan untuknya, tubuh Shindong tidak pernah diam memeragakan tarian dance yang dikuasainya.

 Ryeowook yang menyukai aksi Shindong selalu tersenyum geli disetiap pagi karena tingkah lucu Hyungnya itu. Bahkan dia juga kerap kali turut menggerakkan tubuhnya bersama Shindong sambil tertawa senang. Pagi mereka memang selalu dilalui dengan hal-hal seperti itu.

 Shindong yang bertubuh besar dan Ryeowook yang bertubuh kecil memang tampak saling melengkapi satu sama lain. Tak jarang mereka berdua selalu menghabiskan waktu bersama dalam banyak hal.

 Bip.

 Setelah suara itu terdengar, tawa Ryeowook menyurut dan gerakan Shindong terhenti. Bahkan, suapan Shindong yang hampir saja masuk kedalam mulutnya juga turut terhenti.

 Ryeowook dan Shindong saling bertatap penuh arti. Kemudian keduanya berjalan bersamaan menuju sebuah Open. Telunjuk Ryeowook menekan tombol On. Dan setelah itu, sebuah tulisan terlihat di kaca penutup Open. Mereka berdua kembali saling berpandangan, lalu mengangguk penuh arti satu sama lain, dan bergegas meninggalkan dapur.

***

Lee Sungmin.

Tidak seperti kegemaran kebanyakan pria, Lee Sungmin memiliki kegemaran tersendiri. Balet. Sungmin memiliki kegemaran dan keahlian dalam hal itu. Tubuhnya yang sangat lentur untuk ukuran seorang pria juga sangat membantu. Setiap pagi, Sungmin selalu melatih kelenturan tubuhnya. Baik dalam tarian Balet atau sebuah gerakan ringan seperti bertelungkup diatas matras, lalu menaikkan kedua kakinya keudara dalam beberapa menit.

 Selain itu, Sungmin juga memiliki sebuah keahlian lainnya. Sungmin pintar bermain sulap dan membuat banyak trik yang mencengangkan.

 Seperti pagi ini, Sungmin tampak nyaman membaca bukunya sambil bertelungkup diatas matras dengan kedua kaki yang melayang diudara.

 Bip.

 Sungmin melepaskan pandangannya dari buku, lalu mengulurkan sebelah tangannya untuk meraih ponsel. Setelah membaca sesuatu yang terkirim disana, Sungmin sontak menghentikan kegiatannya.

 Pria berparas imut itu berjalan cepat menuju kamar mandinya. Dan tak sampai 1 menit, Sungmin telah keluar dengan pakaian lengkapnya yang tanpa cacat sedikitpun. Dia memandangi tampilannya melalui cermin. Tersenyum manis ketika merasa tampilannya sangat sempurna.

***

Lee Hyukjae, Lee Donghae and Choi Siwon.

Dor Dor Dor

 Bunyi tembakan berdengung-dengung dihalaman belakang. Bunyi tembakan yang berasal dari masing-masing mulut pistol ketiga pria itu. Lee Hyukjae, Lee Donghae dan Choi Siwon sengaja menyusun puluhan buah Apel disepanjang tembok pembatas rumah dan bertaruh siapa yang paling banyak dapat menembak Apel-Apel itu.

 Telinga mereka sama sekali tidak tertutupi apapun. Bahkan, suara berisik itu bagaikan lagu penyemangat bagi mereka. Terlihat dari sudut-sudut bibir mereka yang saling menyeringai puas mana kala jumlah satu persatu buah Apel itu kian menipis.

 “Wohooooo.” Siwon berteriak girang ketika buah terakhir berhasil musnah oleh tembakannya.

 Hyukjae berdecak kesal sedangkan Donghae membuang senapannya begitu saja. Keduanya menatap Siwon dengan wajah kesal.

 “Sudah kukatakan, tidak ada satu orangpun yang dapat mengalahkanku dalam hal menembak.” Ujar Siwon sombong sambil meletakkan senapannya diatas tempat peralatan senjata yang mereka bawa.

 Hyukjae mendengus keras. Pria itu mengambil gelas Jus strobery miliknya. “Sombong sekali kau. Ingat, masih ada satu orang lagi yang tidak pernah bisa kau kalahkan.”

 “Dan kau selalu terlihat menyedihkan setiap kali kalah darinya.” Timpal Donghae tak mau kalah.

 Siwon tersenyum jengah. Setiap kali ada orang lain yang mengungkit hal itu, Siwon kerap kali merasa jengkel karena malu untuk mengakuinya.

 Saat ketiganya saling melempar tatapan mencemooh satu sama lain, tiba-tiba saja benda yang berada dalam saku celana mereka, mengeluarkan bunyi bersamaan.

 Bip.

 Ketiganya segera memeriksa ponsel mereka masing-masing. Kemudian, Hyukjae dan Siwon saling berpandangan satu sama lain, menyeringai ngeri diiringi tawa serak yang berbahaya.

 “Aku bisa melakukannya hanya dengan empat kali melangkah.” Gumam Siwon sombong.

 Hyukjae tertawa hambar. “Dan letakku berdiri sangat menguntungkanku, Choi Siwon.”

 Donghae menggeram kesal. “Tidak bisakah kita bertiga menggunakannya bersama?”

 Siwon dan Hyukjae menggeleng serentak dan semakin membuat Donghae meringis menyedihkan.

 “Tiga,” hitung Siwon memulai. “Dua,” pria itu semakin menyeringai pada Hyukjae yang juga melakukan hal serupa. “Satu!”

 “Good Bye, Choi Siwon.” gumam Hyukjae ringan. Lalu segera berlari secepat kilat menuju sebuah Jeep merah yang tadi mereka gunakan bersama untuk mendatangi tempat itu. Jarak antara rumah dan halaman belakang memang terbilang cukup jauh. Karena selain dipergunakan untuk bermain golf, halaman belakang yang luasnya melebihi lapangan sepak bola itu juga digunakan untuk latihan menembak. Jadi, untuk mendatangi tempat itu, mereka harus mengendarai sesuatu.

 Dan ketiga pria yang selalu saling bersaing itu, terlebih Siwon dan Hyukjae, memutuskan untuk kembali bersaing saat ini. Siapa yang lebih dulu mencapai Jeep, maka dia yang akan mengendarai benda itu seorang diri. Sementara yang lain harus bersabar menunggu jemputan mereka masing-masing.

 Siwon hampir saja menyentuh pintu mobil, tetapi tubuh kecil Hyukjae lebih dulu melompat kedalam Jeep terbuka itu. saat kedua mata Siwon terbelalak, Hyukjae sengaja mengedipkan sebelah matanya dan bergegas mengendarai mobil itu, meninggalkan Siwon yang masih tercengang dan juga Donghae yang sama sekali tidak berniat melakukan aksi lari-larian seperti kedua pria itu.

 Ya, Lee Donghae yang pendek memang tidak akan pernah bisa berlari mendahului mereka berdua.

***

Kim Kibum.

Seperti jemarinya yang lincah bergerak diatas keyboard komputer, seperti itu juga otaknya bekerja mencerna semua kalimat yang dilihatnya dimonitor. Otak, mata, dan jemari. Ketiga hal itu adalah bagian terpenting yang Kibum miliki. Otak pintarnya sungguh melebihi kata jenius. Meski wajah tampannya terbilang biasa saja, dan terkesan lugu, tetapi Kim Kibum memiliki otak cerdas yang mengaggumkan.

 Seluruh teknologi didunia ini telah ia kuasai. Terlebih pada bagian jaringan. Kibum ahli dibidang Hacker dan Peretas. Seluruh data penting didunia ini nyaris ia miliki. Jika saja suatu hari Kibum membutuhkan banyak uang dalam waktu yang cepat, mungkin Kibum dapat memeras Barack Obama dengan mengirim teror mengenai scandal terbesarnya dibidang politik, yang bahkan tidak seorangpun didunia ini mengetahuinya.

 Dan yang pasti, Kim Kibum jauh lebih pintar dibandingkan FBI dan kelompok penting didunia ini.

 Bip.

 Ketika bunyi itu terdengar. Kibum yang sedang sibuk melakukan permainan kecilnya dengan merusak jaringan sistem di kantor pemerintah Korea. Terpaksa menghentikan kegiatannya itu.

 Kibum mengarahkan kursornya pada sebuah tanda surat di bagian bawah dekstopnya. Mengklik tanda itu sekali, hingga sebuah pesan untuknya terlihat.

 Kepala pria itu memiring sesaat selagi mencerna isi kalimat itu.

 “Shin Tae Wa?” gumamnya pelan.

 Lalu dengan wajah Innocentnya, Kibum membuka search angine pribadi miliknya. Sama halnya seperti Google ataupun search angine lainnya, Kibum membuat mesin pencarian web itu dengan kegunaan yang sama. Bedanya, mesin pencarian web miliknya tidak hanya menampilkan informasi umum seseorang. Tetapi dapat menampilkan informasi yang bahkan tidak diketahui satu orangpun didunia ini selain sipemilik nama dan dirinya.

 Kibum mengetikkan nama Shin Tae Wa disana. Setelah menekan tombol enter, maka seluruh data pribadi Tae Wa, baik itu umum maupun Privacy telah tertera di monitornya.

***

Cho Kyuhyun.

Bip.

 Pria yang sedang tertidur pulas diatas ranjangnya itu membuka sedikit kedua matanya. Mata itu tampak sangat berat untuk terbuka dan Kyuhyun sama sekali tidak ingin berusaha untuk membukanya. Dengan gerakan malas dan lambat, tangannya menggapai kesisi ranjang, meraih ponselnya dari atas meja.

 Kyuhyun menggeser layar ponselnya lalu kembali berusaha membuka sedikit matanya. Samar-samar, Kyuhyun dapat melihat isi pesan yang ditujukan padanya. Bibirnya mencebik kecil. Lalu melempar ponselnya lagi keatas meja, berguling kesisi ranjangnya yang kosong hingga tubuhnya menelungkup. Dan Kyuhyun segera menutup wajahnya dengan sebuah bantal untuk melanjutkan tidur nyenyaknya.

 Tidak membutuhkan waktu lama, dengkuran halusnya mulai terdengar kembali. Menandakan jika Kyuhyun sudah memasuki alam mimpinya lagi. Tidak peduli dengan isi pesan itu, bagi Kyuhyun waktu tidurnya tidak boleh terganggu oleh hal apapun. Kyuhyun memang memiliki jam bangun tidur tersendiri. Jika semua orang sudah tampak rapi atau sudah memiliki kegiatan masing-masing pada pukul 7 pagi. Maka Kyuhyun baru akan membuka matanya pukul 8 pagi, minus melakukan kegiatan apapun. Tepatnya, Kyuhyun baru akan benar-benar melakukan sesuatu selain berguling kesana kemari diatas ranjangnya, ketika pukul sembilan pagi.

Sepuluh menit sudah berlalu, dan Kyuhyun masih tetap tertidur nyenyak. Hingga akhirnya, ponselnya kembali bunyi berkali-kali.

Bip.

Bip.

Bip.

Bip.

Kyuhyun yang merasa terganggu dengan suara itu, lantas membuka bantal yang menutupi wajahnya. Tubuhnya terduduk tegak begitu saja, sedangkan matanya menatap kesal ponselnya yang terus mengeluarkan bunyi berisik.

“Leeteuk sialan!” makinya kesal.

Tapi hal itu tak urung membuatnya beranjak dari atas ranjang. Kyuhyun malah mematikan ponselnya dan kembali merebahkan dirinya diatas ranjang untuk melanjutkan kegiatan tidurnya.

Tapi sayang, ketika hampir saja matanya ingin terpejam, suara berisik yang lain kembali menyentaknya.

Tit Tit Tit Tit Tit Tit Tit.

Kyuhyun kembali terduduk tegak diatas ranjang. Menatap sekelilingnya dengan penuh geraman dan akhirnya, tatapannya berhenti pada sebuah benda yang menyala-nyala mengeluarkan sinar berwarna merah. Benda yang mengeluarkan bunyi berisik itu berada diatas lemari pakaiannya.

Kali ini, umpatannya tidak lagi tertuju pada Leeteuk, melainkan pada pria yang memang selalu berhasil membuat benda-benda terkutuk baginya itu.

“Aku benar-benar harus meledakkan markas eksperimennya itu!” rutuknya. Kyuhyun menyibak selimutnya dengan kasar, mengambil sesuatu dari bawah bantalnya, sebuah pistol. Kemudian, dari tempatnya duduk, Kyuhyun membidik benda terkutuk itu. Dengan satu kali tembakan, bunyi itu tidak lagi terdengar dan benda itu telah berserakan disekitar lantai.

Pria itu bergegas mandi dengan segala sumpah serapahnya. Pagi tenangnya telah hancur begitu saja karena perintah Leeteuk. Sialan, haruskah memberi perintah dijam tidurku seperti ini. Apa aku harus memberitahunya lagi kalau aku hanya akan bekerja mulai pukul sembilan pagi.

Lebih dari lima menit, Kyuhyun telah selesai bersiap-siap. Pakaian yang dikenakannya tampak rapi meski wajahnya terlihat sangat kusut. Sebelum Kyuhyun keluar dari kamarnya, pria itu tidak lupa mengisi peluru pistolnya agar kembali terisi penuh.

Dengan langkah cepat dan dengan bantuan lift yang berada didalam kediamannya, Kyuhyun berhasil sampai dilantai teratas. Dimana hanya ada sebuah ruangan dilantai itu. Sebuah ruangan yang selalu mereka jadikan sebagai tempat pertemuan.

Setelah sebelah tangan Kyuhyun berhasil membuka pintu ruangan itu, Kyuhyun yang sudah berada didalam sana segera mengedarkan pandangannya kesemua orang yang telah hadir. Dan kali ini, matanya terpaku pada sosok pria bertubuh kecil yang telah duduk nyaman dikursinya.

Kyuhyun mengeluarkan pistolnya yang tadi ia selipkan disela saku jasnya, membidik tepat kesatu arah dengan wajah marah, lalu melepaskan tembakannya begitu saja.

Dor.

Semua mata orang-orang yang berada disana membelalak lebar melihat sandaran kursi bagian atas yang Yesung tempati hancur begitu saja. Kyuhyun memang tidak membidik bagian tubuh Yesung, karena tidak mungkin baginya membunuh Hyungnya sendiri. Tapi, demi melampiaskan kekesalannya, Yesung harus mendapatkan pelajaran darinya.

“Jika kau memasang benda-benda keparat seperti itu lagi didalam kamarku, aku benar-benar akan membunuhmu, Hyung.” desis Kyuhyun tajam.

Yesung masih melebarkan matanya terkejut. Tentu saja, setelah ia hampir saja berpikir mati ditangan adiknya sendiri. Perlahan, wajahnya menoleh kebelakang untuk melihat hasil karya Kyuhyun disana. Melihat kursinya tidak sebagus sebelumnya, Yesung sontak meneguk ludah berat.

Kibum yang melihat itu menunduk pelan, menyembunyikan senyuman gelinya.

“Jangan kau pikir aku tidak tahu kau juga turut andil dalam masalah ini, Kim Kibum.” Sambung Kyuhyun lagi.

Kibum tersentak, dan segera menatap Kyuhyun dengan wajah Innocentnya. Bahunya terangkat keatas, menandakan ia ingin berkata aku tidak tahu apa-apa dan semakin membuat Kyuhyun menggeram kesal.

“Cho Kyuhyun,” tegur Leeteuk dengan suara beratnya. Pria itu hampir saja menyemburkan kata-kata murkanya pada Kyuhyun, adik terkecilnya yang selalu melakukan hal sesuka hatinya tanpa memikirkan orang lain. “Kita memiliki seorang tamu disini.”

***

Satu persatu anggota kelompoknya mulai berdatangan setelah beberapa menit yang lalu pesan itu ia kirimkan pada mereka. Semua orang datang dengan memakai setelan jas hitam dan masing-masing menempati kursi kebesaran mereka. Leeteuk tersenyum senang melihat kedisiplinan anggotanya. Terlebih lagi, ketika dia melirik tamunya yang tampak tersenyum puas melihat anggota kelompoknya, Leeteuk semakin berbangga diri.

 “Semua anggotaku telah datang, Tuan. Apa kau sudah bisa bercerita pada kami?” Leeteuk kembali bertanya pada Tae Wa.

 Shin Tae Wa mengarahkan kedua matanya untuk memandangi satu persatu anggota kelompok itu. Mencermati setiap wajah yang sedang memandang kearahnya. Ada yang tersenyum ramah, ada yang memasang wajah dingin dan ada juga yang tampak tak peduli padanya.

 “Tiga belas. Aku hanya akan bercerita jika ketiga belas orang sudah berkumpul.” Jawabnya ringan dan juga tegas.

 Leeteuk sontak mulai menghitung satu persatu anggotanya didalam hati. Kakek tua itu benar, hanya ada dua belas anggota yang hadir. Dan Leeteuk sudah dapat menebak siapa seorang lagi yang masih belum terlihat.

 “Kau menyuruhku untuk menunggu selama lima menit, tetapi aku sudah menunggu selama,” Tae Wa mengangkat pergelangan tangannya demi melihat kemana jarum jam tangannya mengarah. “Sepuluh menit.”

 Leeteuk menggerutu dalam hatinya. Kenapa dia harus memiliki anggota yang selalu bersikap seenaknya saja. Tidak tahukah dia kalau saat ini mereka sedang berhadapan dengan tamu penting yang tidak akan ia biarkan pergi begitu saja?

 “Beri aku sedikit waktu lagi.” Ucap Leeteuk sopan.

 “Aku sudah melakukannya sejak tadi.” Timpal Tae Wa dengan mimik wajah yang menyebalkan.

 Dan Kakek tua ini semakin merepotkanku! Omel Leeteuk didalam hatinya.

 Leeteuk mengambil PC tabletnya lagi dan mengirimkan pesan berkali-kali pada sosok yang sedang ditunggu. Harapan Leeteuk yang akan segera melihat orang tersebut segera muncul sama sekali tidak terkabul bahkan setelah lima menit yang lalu pesan itu ia kirimkan lagi.

 Para anggota yang lain mulai tampak saling memandang satu sama lain. Hanya Kibum yang terlihat tenang ditempatnya sambil memerhatikan wajah Tae Wa dengan seksama.

 “Yesung,” panggil Leeteuk. “Tolong lakukan sesuatu.”

 “Oh, Hyung. Itu… aku tidak membawa remotnya.”

 Leeteuk menatap tajam Yesung yang seketika tersenyum kaku padanya.

 “Aku bisa melakukannya, Hyung.” sela Kibum tiba-tiba. Setelah mendapat anggukan dari Leeteuk, Kibum mengeluarkan ponsel dari saku jas hitamnya. Wajahnya tampak bersemangat saat melakukan sesuatu dengan benda itu.

 Lima menit setelahnya, pintu ruangan itu terbuka dan menampakkan sosok pria berwajah kusut memasuki tempat itu. Pria itu berjalan lambat dengan kedua mata tajamnya yang tampak mengarah pada satu orang. Kemudian, tiba-tiba saja pria itu mengeluarkan sebuah pistol dan mengarkannya Yesung.

 Dor.

 “Jika kau memasang benda-benda keparat seperti itu lagi didalam kamarku, aku benar-benar akan membunuhmu, Hyung.” desis pria itu murka.

 Semua orang masih tampak shock menatap pada sandaran kursi Yesung tidak berbentuk lagi. Terlebih lagi Yesung. Hanya Kibum yang memasang wajah berbeda ditempatnya.

 “Jangan kau pikir aku tidak tahu kau juga turut andil dalam masalah ini, Kim Kibum.” Sambung pria itu lagi dengan nada mengancamnya.

 Leeteuk diam-diam memijat pelipisnya. Hilang sudah kesan elegan yang dia ciptakan dalam kelompoknya hanya karena seorang pria pembuat onar itu.

 “Cho Kyuhyun,” panggil Leeteuk. “Kita memiliki seorang tamu.

 Cho Kyuhyun, pria yang masih berdiri tak jauh dari ambang pintu. Menatap lekat pada Leeteuk untuk beberapa saat. Sampai ketika ia menemukan sosok asing yang duduk diujung meja, menatapnya tanpa berkedip, barulah Kyuhyun berdehem pelan dan membungkuk hormat.

 “Maaf atas sikapku.” Ucapnya sopan. Ya, setidaknya dia tidak melupakan ajaran Leeteuk untuk meminta maaf atas kesalahannya.

 “Jangan lupa meminta maaf karena sudah membuat kami semua menunggumu.” Sahut Hyukjae yang kini tersenyum mengejek pada Kyuhyun.

 Tapi Kyuhyun sama sekali tidak menghiraukannya dan lebih memilih menduduki kursinya yang memang bersebelahan dengan kursi milik Kibum. Kyuhyun menyandarkan punggungnya nyaman pada sandaran kursi.

 Kini Leeteuk tidak lagi menawarkan pada Tae Wa apakah dia sudah mau bercerita atau belum. Terlalu malas rasanya jika harus menanyakan hal itu berulang-ulang.

 Tae Wa masih saja menatap lekat pada sosok Kyuhyun. Dari caranya memandang, Kakek tua itu tampak memiliki ketertarikan berbeda pada Kyuhyun.

 “Baiklah. Terima kasih atas kehadiran kalian semua disini.” Gumam Tae Wa

 Leeteuk mengangguk pelan padanya.

 “Aku datang kemari karena mendapatkan rekomendasi dari salah seorang temanku. Dia bilang reputasi Hunters tidak perlu diragukan lagi. Oleh karena itu, aku datang untuk meminta bantuan jasa dari kalian.” Tae Wa sengaja berhenti berbicara sejenak untuk menerima respon dari mereka semua. Tetapi, tidak satu orangpun yang terlihat mau menimpali perkataannya. Tae Wa memutuskan untuk melanjutkan kalimatnya.

 “Akhir-akhir ini, aku selalu menerima teror dari orang yang tidak kukenali dan bahkan terlalu sulit untuk kulacak. Teror itu berisikan ancaman-ancaman yang ditujukan pada cucuku. Mulanya aku tidak terlalu menanggapinya. Sampai ketika dua hari yang lalu, aku mendengar kabar kalau cucuku hampir saja mati.”

 Kecemasan mulai tergambar diwajah tua Tae Wa. Apa lagi ketika ia menarik napas beratnya. Kibum yang melihat itu tiba-tiba saja berdiri dari tempatnya dan tersenyum sopan pada Tae Wa.

 “Biarkan aku membantumu, Tuan.”

 Kibum sama sekali tidak menunggu jawaban Tae Wa. Meski pria tua itu sedang menatapnya tidak mengerti, tapi Kibum tidak menghentikan langkahnya. Kibum berjalan kebelakang kursi Leeteuk, menyentuhkan telapak tangannya diatas dinding putih, hingga kemudian dinding itu tiba-tiba saja berubah menjadi monitor transparan.

 Tae Wa tidak bisa menutupi kekagumannya melihat teknologi hebat itu. Berbeda sekali dengan ekspresi anggota kelompok yang terlihat bisa saja. Leeteuk bahkan sudah memutar kursinya untuk melihat apa yang akan Kibum lakukan.

 Kibum menuliskan beberapa digit angka yang tidak bisa dilihat oleh satu orangpun. Digit angka itu adalah passwordnya untuk terhubung ke jaringan pribadinya. Dalam waktu satu menit, monitor itu sudah menampakkan sebuah Video.

 “Video ini adalah kejadian dua hari yang lalu.” ujar Kibum yang kemudian menekan tanda play pada monitor.

 Video mulai berjalan. Menampakkan sosok gadis yang berjalan sendirian untuk menyeberangi jalan yang sepi. Sampai tiba-tiba sebuah mobil berwarna hitam muncul dari arah kirinya. Mobil hitam itu melaju dengan kecepatan penuh. Sosok gadis itu berhenti berjalan dan menatap kearah mobil hitam yang sedang melaju kearahnya.

Tepat ketika mobil itu sudah semakin mendekati sosok gadis yang kini telah menutupi wajahnya dengan kedua lengannya yang saling bersilang, tiba-tiba saja mobil itu berhenti mendadak dan menimbukan bunyi decitan yang keras.

Gadis itu mulai menurunkan kedua lengannya, menatap terkejut mobil hitam yang hanya berjarak beberapa inci dari tubuhnya. Dan kemudian, mobil hitam itu bergerak mundur, memutar arah, lalu pergi begitu saja.

 “Mobil itu adalah mobil Audi A6, dibeli tahun 2012 oleh Jung Ah Rin, nama pemilik mobil itu.” jelas Kibum sambil menggerakkan telapak tangannya dimonitor hingga kini memperlihatkan wajah seorang wanita yang bernama Jung Ah Rin.

 Tae Wa masih sulit untuk menutup bibirnya yang sedikit terbuka. Bagaimana mungkin Kibum dapat memiliki Video itu? Dia bahkan sudah mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari CCTV yang berada di area kejadian, tetapi tidak ada satupun CCTV disana.

 “Jadi, apakah wanita itu pelakunya?” tanya Shindong.

 Kibum menggeleng pelan. “Di akhir tahun 2012 wanita ini telah membuat laporan di kepolisian tentang hilangnya mobil ini. Dan sampai sekarng, mobil ini masih belum kembali padanya.”

 “Mobil curian.” Gumam Heechul.

 “Ada lagi informasi yang kau ketahui, Kim Kibum?” tanya Leeteuk.

 Kibum mengangkat bahunya ringan. “Jika kita masih membahas mengenai percobaan pembunuhan ini, maka jawabanku adalah tidak.”

 “Tunggu, dari mana kau tahu semua ini? Dan Video ini…” Tae Wa menatap aneh pada Kibum. Sungguh, ia masih tidak percaya jika semua informasi yang Kibum jelaskan sangat detail.

 “Tuan, kuharap anda tidak lupa sedang meminta bantuan pada siapa.” Sela Donghae yang tersenyum tipis pada Tae Wa.

 Tae Wa menghela napas berat sambil tertawa parau. Merasa tertantang dengan kinerja ketiga belas pria itu, Tae Wa kembali memandang Kibum dengan tatapan serius. “Kalau begitu, kuharap kau juga bisa menjelaskan maksud kedatanganku.”

 Kibum melirik Leeteuk, seperti sedang meminta persetujuan. Leeteuk mengangguk samar padanya, tapi Kibum masih memikirkan sesuatu. Ya, kerja kerasanya bukan Cuma-Cuma.

 “Tentu saja aku bisa. Tapi sebelum itu, akan lebih baik jika kita membicarakan mengenai perjanjiannya.” Kibum membubuhi senyuman manisnya yang menawan diakhir kalimat.

 Tae Wa tertawa pelan. Tawanya terdengar geli ditelinga semua orang hingga mereka saling menatap aneh bergantian.

 “Apa yang kau maksud adalah uang?” tanya Tae Wa.

 “Tepat.” Kibum mengangguk sekali.

 Tae Wa tersenyum tipis. “Kalian memasang tarif?”

 “Tergantung berapa besar kau menentukan harga awal.” Sahut Hyukjae.

 Tae Wa berdehem pelan. Menatap mereka satu persatu dengan tatapan senang. Pebisnis sepertinya memang akan sangat menyukai orang-orang yang pintar mencari keuntungan dengan kecerdikan mereka.

 “Tiga miliyar untuk masing-masing orang. Apa itu cukup?” tawarnya. Dan ketika semua orang terlihat tercengang akan tawarannya, Tae Wa menyeringai puas.

 “Tiga… milyar?” Hyukjae, pria yang memang sangat tergila-gila dengan nominal uang mulai membayangkan hal-hal yang dapat ia lakukan dengan uang sebanyak itu.

 “Jika kalian setuju, silahkan lanjutkan penjelasannya.” Gumam Tae Wa.

 Leeteuk sontak memberi tanda persetujuan pada Kibum untuk mulai melanjutkan informasi yang telah ia dapatkan. Selama mereka bekerja, berlum pernah sekalipun ada orang yang yang memasang tarif semahal itu pada mereka. Ya, mereka memang sedang berhadapan dengan pria terkaya di negara itu. Tapi… tiga milyar memang sulit untuk dibayangkan.

 “Ini adalah beberapa pesan singkat yang dikirimkan kepada anda,” Kibum memperlihatkan beberapa isi pesan yang telah ia salin dari jaringan ponsel Tae Wa sebelumnya tanpa sepengetahuannya. “Dan sebenarnya, si peneror juga melakukan hal yang serupa pada cucu anda. Aku menemukan banyak panggilan masuk dari sebuah nomor telepon asing di ponsel cucu anda dan hanya berdurasi sepuluh detik. Nomer telepon yang sama dengan orang yang meneror anda.”

 Tae Wa kembali memasang wajah seriusnya, membaca segala isi pesan penuh ancaman yang ditujukan pada cucu satu-satunya itu membuat Tae Wa merasa geram.

 “Aku juga sudah melacak data sipemilik nomer itu.” Kibum menampilkan wajah seorang pria urakan. “Namanya Kim Sang Woo, tinggal di desa Guryong. Latar belakangnya tidak terlalu menarik. Dia hanyalah seorang pria tua miskin yang bekerja dengan cara mencuri. Dan sekarang, Kim Sang Woo sudah berada didalam tahanan.”

 “Aku juga sudah melacak pemilik nomer itu dan mendapatkan informasi yang serupa.” Timpal Tae Wa.

 Kibum mengagguk sekali. “Aku akan masuk kedalam poin intinya,” Kibum menatap satu persatu anggota kelompok dengan tatapan serius khas seorang Kim Kibum. “Pekerjaan kita kali ini adalah menjaga gadis ini dari semua teror yang diberikan sipelaku.” kini, sebuah foto seorang gadis terlihat di monitor.

image

“Gadis ini bernama Shin Je Wo, cucu Tuan Shin Tae Wa. Dia berumur dua puluh dua tahun, sedang berada dalam masa libur panjangnya dari Universitas Inha. Belum pulang kerumahnya sejak satu minggu yang lalu.”

Kibum melirik Tae Wa sekilas, wajah pria tua itu terlihat lebih sendu dari sebelumnya saat memandang foto cucunya.

“Ada yang ingin anda tambahkan, tuan?” tanya Kibum.

Tae Wa mengangguk tegas. “Aku ingin kalian semua bekerja keras untuk melindungi cucuku. Mungkin hal ini terdengar mudah, hanya menjaga seorang gadis sepertinya. Tapi, perlu kalian ketahui, Je Wo bukan gadis yang mudah dibujuk untuk bekerja sama, sedangkan yang kuinginkan adalah, dia harus selalu berada dibawah pengawasan kalian. Jika perlu, kalian boleh membawanya kesini dan mengurungnya sampai kalian sudah menemukan si pelaku.”

“Membawanya kemari?” ulang Ryeowook. Tae Wa mengangguk padanya. “Tidakkah itu terlalu berlebihan? Cucumu masih bisa tinggal bersamamu, Tuan. Dan kami tetap dapat mengawasinya.”

 “Selama satu bulan kedepan, aku tidak akan berada di Korea. Perusahaanku yang berada di Los Angeles sedang membutuhkanku. Oleh karena itu, aku harus benar-benar menyerahkannya pada kalian. Aku tidak bisa memercayai para pelayan dirumahku atau para anak buahku. Karena sejauh ini, mereka semua selalu tertipu oleh tingkah laku cucuku.”

Melihat dari ekspresi yang diperlihatkan semua anggota kelompok, Tae Wa mendesah panjang. Setidaknya dia sudah mengingatkan, jadi mereka tidak bisa menyalahkannya setelah ini.

“Baiklah. Dia akan tinggal bersama kami.” putus Leeteuk.

“Ah, aku melupakan satu hal.” tiba-tiba saja Tae Wa sudah memandang Kyuhyun dengan tatapan tajamnya. “Aku ingin kau yang menjaga cucuku selama dua puluh empat jam.”

“Apa?” sebelah alis Kyuhyun terangkat sempurna.

“Aku percaya dengan kinerja kalian, sungguh. Tapi, cucuku pasti akan membuat keonaran dengan tingkahnya yang sedikit kekanakan. Untuk itu, aku perlu seseorang yang tidak akan lengah selama menjaganya nanti. Dan aku memilihmu.” Belum lagi Kyuhyun sempat membalas, Tae Wa sudah kembali menatap Kibum. “Kau tahu harus pergi kemana untuk mencari cucuku, Kim Kibum?”

“Hotel Ritz Carlton, Eden Club.”

***

Eden Club terasa penuh sesak ketika malam semakin larut. Banyaknya orang yang memenuhi Dance Floor membuat seorang gadis yang sejak dua jam lalu tidak berhenti menari disana mulai merasa penat dan risih. Gadis itu menepis kedua lengan pria yang tadi menjadi temannya menari begitu saja dan tanpa aba-aba segera meninggalkannya.

 Dia berjalan gontai menuju sebuah meja dimana ada dua orang gadis lainnya yang tampak mengobrol. Tangannya meraih segelas Vodca dan meneguknya hingga habis, “Aku lelah.” Desahnya setelah menghabiskan minumannya.

 Kim Ha Neul, gadis yang sejak tadi memasang wajah kesalnya memutar bola matanya malas. “Akan menjadi aneh jika kau tidak merasa lelah setelah dua jam lamanya berada disana.”

 Gadis itu tertawa pelan, kemudian memeriksa ponselnya dan menemukan beberapa panggilan tidak dikenal. Dia memutar bola matanya malas, menghapus seluruh panggilan tak terjawab itu dari ponselnya.

 “Kenapa?” tanya Ha Neul yang sejak tadi masih terus memandangi wajah gadis itu.

 Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya sekali sebelum meneguk minumannya lagi.

 Choi Ha Neul dan Han Hye Kyo saling berpandangan penuh arti melihat raut wajah gadis itu setelah memeriksa ponselnya.

 “Peneror itu lagi?” tanya Ha Neul hati-hati dan dijawab oleh anggukan malas gadis itu. Ha Neul menarik napasnya dalam dan menatap serius padanya. “Shin Je Wo, tidakkah kau pikir semua ini mulai berlebihan?”

 “Ya, kupikir juga begitu. Peneror itu semakin hari semakin gencar mendekatimu.” Imbuh Hye Kyo.

 Je Wo menggelengkan kepalanya ringan. “Kalian boleh percaya atau tidak. Sejak kecil aku sudah terbiasa diteror seperti ini. Tapi seperti yang kalian lihat…” Je Wo mengangkat kedua tangannya seolah-olah ingin memperlihatkan keadaannya didepan kedua temannya. “Aku masih baik-baik saja hingga detik ini. Tenang saja, Kakekku tidak mungkin membiarkan satu orangpun menyentuh cucunya. Dia bahkan bisa menghilangan satu nyawa dengan sekali tebasan pedang.” Je Wo memeragakan gerakan yang diucapkannya dengan wajah lucu hingga Hye Kyo tertawa terbahak-bahak.

 “Tapi… bukankah akhir-akhir ini Kakekmu juga sering menyuruhmu pulang karena khawatir?” sela Ha Neul. “Kupikir situasi sekarang sedikit sulit baginya.”

 Je Wo mengangkat bahunya tidak peduli dan kembali meraih gelas Vodcanya. Tapi sial, minumannya sudah habis. Dia mendesah panjang dan melirik Ha Neul. “Aku ingin pulang.” Ujarnya.

 “Kerumahmu?”

 “Tentu saja tidak. Masa liburanku bisa menjenuhkan kalau aku pulang kerumah.” Gadis berparas menawan itu tersenyum polos menatap Ha Nuel, sahabatnya sejak remaja. “Aku masih beleh menumpang di Apartementmu, kan, Ha Neul?”

 Gadis bernama Ha Neul itu tertawa hambar dan mendengus. Dia menyentil pelan dahi Je Wo dan bergegas mengambil tas beserta jaket kulitnya. “Ayo.”

 Je Wo memikik girang dan turut menyambar tasnya. “Hye Kyo, kami pulang lebih dulu. Sampai jumpa besok…” dia mengedipkan sebelah matanya ringan pada temannya. Besok mereka masih mempunyai banyak jadwal kegiatan berlibur yang sangat dinanti-nantinya.

 Ha Neul dan Je Wo berjalan beriringan menuju mobil Ha Neul. Setelah Ha Neul membuka kunci alaram mobilnya, Je Wo segera melesat masuk kedalam, duduk disamping kursi pengemudi. Gadis itu tampak menguap lebar karena mulai kelelahan dan mengantuk. Terang saja, sudah pukul dua malam.

 Tapi hal yang berbeda terjadi pada Ha Neul. Gadis itu tampak terdiam saat jemarinya baru saja menyentuh pintu mobil. Ada sesuatu yang mengusik perasaannya. Diliriknya sekitar, mencari-cari hal yang dia pikirkan. Tapi parkiran itu terlihat sepi. Hanya diisi dengan puluhan mobil yang berjejer rapi.

 “Ha Neul, ada apa?” tanya Je Wo yang sudah membuka kaca jendela dibagian pintu mobil yang berhadapan dengan Ha Neul. Gadis itu tidak menjawab, dia bergegas masuk dan menghidupkan mobilnya. “Hei, kau kenapa? Wajahmu terlihat aneh.”

 “Entahlah, aku merasa… ada yang mengamati kita.” Gumam Ha Neul melirik sekelilingnya.

 Je Wo turut melakukan hal serupa. Diliriknya sekelilingnya dengan kedua mata menyipit. “Apa ada hantu?” gumamnya pelan.

 Ha Neul kontan melirik malas kearahnya. “Pantaskah gadis yang hobi berkeliaran dimalam hari sepertimu takut dengan hantu?” cibirnya. Kini mobilnya sudah melaju dijalanan yang sepi.

 Je Wo tertawa ringan dan mengatur letak duduknya senyaman mungkin. “Siapa tahu ajah ada hantu pria genit yang sedang memata-mataimu karena sudah jatuh cinta padamu.”

 Ha Neul mengambil kotak tisu didekatnya dan melemparkan tepat diwajah Je Wo. Mereka berdua tertawa geli bersama. Kedua gadis itu memang sudah sangat dekat satu sama lain. Bahkan tidak terpisahkan. Je Wo sipembuat onar selalu pas berada disamping Ha Neul yang bertanggung jawab.

 Ketika kedua gadis itu masih saling melemparkan candaan ringan mereka, tiba-tiba saja ada dua mobil yang berasal dari belakang mobil mereka melaju cepat mengiringi mobil mereka. Kini, mobil mereka telah diapit oleh dua mobil hitam yang berbentuk sama.

 Ha Neul membelalakkan matanya, Je Wo menatap dua mobil yang mengapit mereka dengan kedua mata menyipit. “Apa-apaan ini!” umpat mereka hampir bersamaan.

 “Kau kenal dengan mobil itu, Je?” tanya Ha Neul, tangannya mencengkram kuat kemudi mobilnya.

 Je Wo menggelengkan kepalanya. Matanya meneliti kedua mobil itu bergantian. “Bahkan anak buah Kakek tidak pernah memakai mobil seperti itu.” Gumamnya. Dia menggeram tertahan, mencoba mengeluarkan ponsel dari tasnya. “Tambah kecepatan.” Perintah Je Wo pada Ha Neul.

 Ha Neul meliriknya sekilas, tapi kemudian mengangguk dan melajukan mobilnya lebih cepat dari sebelumnya. Meninggalkan kedua mobil hitam itu dibelakang.

 Je Wo melirik kebalakang, menyeringai puas dan bertepatan dengan itu tangannya berhasil mendapatkan ponselnya. “Aku menghubungi Kakek dulu untuk memastikan dia tidak terlibat dengan kejadian ini. Awas saja kalau dia benar-benar terlibat, akan kubuang kedua mobil itu kedalam jurang.” Ancamnya menggebu-gebu.

 Tapi ketika Je Wo mendengar suara seorang gadis yang menyuruhnya untuk menyampaikan pesan setelah terdengar sebuah bunyi, gadis itu membuang ponselnya keatas dashboard. “Dasar Kakek tua menyebalkan! Kenapa dia tidak bisa dihubungi.” Rutuknya.

 Dan sedetik setelah rutukannya terdengar. Tiba-tiba saja sebuah mobil menyalip mobil mereka hingga kini mobil itu menghalangi mobil mereka.

 “Sialan!” maki Ha Neul.

 “Jangan mau kalah dengannya, Choi Ha Neul!” teriak Je Wo menggebu-gebu.

 Dan terjadilah adegan salip menyalip diantara kedua mobil itu disepanjang jalan. Untung saja Ha Neul cukup lihai dalam berkendara hingga mobil asing itu terlihat kewalahan. Kedua gadis itu tertawa puas dalam aksi mereka dan memberikan high five mereka.

 Tapi tawa mereka tidak bertahan lama, karena tiba-tiba saja setelah mobil asing itu menyalip mobil mereka sekali lagi, kini dua mobil yang berjenis sama sudah berada dikedua sisi mobil mereka. Membuat gerak mobil mereka terbatas.

 “Argh… dasar berengsek!” Je Wo mengepalkan kedua tangannya berapi-api. “Kurangi kecepatan dan putar arah. Kita tinggalkan mereka.” Perintah Je Wo lagi.

 Ha Neul mengangguk mengerti dan melakukan apa yang dikatakan Je Wo. Mobil mereka perlahan-lahan tertinggal oleh ketiga mobil didepan. Dan Ha Neul memutar cepat kemudinya hingga kini mereka berbalik arah. Mereka sangat bersukur jalanan sudah sangat sepi hingga hal-hal seperti kecelakaan dapat dihindari.

 Tetapi, baru saja mobil mereka melaju, kini ada tiga mobil berjenis sama seperti mobil tadi sudah menghadang laju mobil mereka.

 “TIGA MOBIL LAGI?!” pekik Je Wo kesal. Kepalanya menoleh kebelakang dan bola matanya kontan melebar. Tiga mobil yang mereka tinggalkan sebelumnya sedang mengejar mobil mereka.

 “Bagaimana ini? Mobil mereka berhenti didepan kita. Kita harus berhenti, Je!” teriak Ha Neul gusar.

 Je Wo mencebik kuat dan frustasi. Dia tidak mau kalah secepat ini. Keenam mobil sialan itu yang memulai lebih dulu. Dan kalau mereka menuruti apa yang orang-orang itu inginkan begitu saja, Je Wo sangat tidak rela.

 Je Wo menyipitkan kedua matanya ketika melihat satu persatu sipemilik mobil keluar dari mobil mereka. Semuanya memakai jas hitam. Je Wo mengamatinya sejenak, kemudian merasa semakin tertantang. “Ganti posisi. Aku saja yang menyetir.”

 “Kau sudah gila?! Bagaimana caranya?”

 “Ikuti saja apa yang kukatan.” Je Wo mencengkram kemudi mobil dengan kedua tangannya. “Sekarang kau pindah kebelakang dan pasang sabuk pengamanmu seerat mungkin.”

 “Apa yang kau rencana, kan, huh?!” omel Ha Neul, dia yakin sekali, apapun yang Je Wo rencanakan pasti adalah sesuatu yang tidak waras.

 “Cepatlah, Ha Neul. Kita tidak punya banyak waktu lagi.” Decak Je Wo.

 Pasrah, Ha Neul menuruti keinginan Je Wo. Dengan hati-hati dia melepas kemudi mobil hingga kini laju mobil dibawah kendali Je Wo. Gadis itu berpindah kebelakang, memasang sabuk pengamannya dan menatap Je Wo yang kini sudah menggantikan posisinya.

 “Ya, apa yang mau kau lakukan.” Tanya Ha Neul cemas.

 Je Wo menyeringai kecil. “Serangga-serangga hitam itu harus dimusnahkah. Mereka harus tahu sedang menghadapi siapa.” Gumamnya kejam dan kemudian sebelah kakinya menekan pedal gas sekuat-kuatnya hingga mobil mereka melaju kencang lurus kedepan. Ha Neul memejamkan matanya dan mencengkram sabuk pengamannya sekuat-kuatnya. Berbeda sekali dengan senyuman Je Wo yang semakin mengembang kala matanya mendapati ketiga pria yang semakin didekati mobilnya berhamburan kesisi jalanan.

 BRAK.

 Mobil Je Wo menabrak sebuah mobil yang berada ditengah-tengah mobil lainnya. Mobil Je Wo menyapu mobil hitam itu tanpa belas kasihan. Dan gadis itu membanting kemudinya kekiri lalu meninggalkan mobil hitam yang mengenaskan itu.

 “Mati kalian!” desisnya puas.

 “Ya Tuhan, ya Tuhan, ya Tuhan! Kau sudah gila! Kita hampir saja mati, bodoh!!” teriak Ha Neul berkeringat dingin.

 “Tenanglah… sekarang kau lihat, kan? Tidak ada mobil-mobil berengsek itu lagi yang mengejar kita.” Gumam Je Wo penuh kemenangan.

 Ha Neul memutar kepalanya kebelakang, memeriksa keadaan dibelakang mobil mereka. Gadis itu mulai menghembuskan napas lega. “Ini benar-benar gila.” Gumamnya letih dan mengendurkan cengkramannya.

 Je Wo hanya tersenyum manis menanggapi gumaman sahabatnya. Wajahnya memang tidak terlihat setegang Ha Neul, dia bahkan terlihat sangat menikmatinya. Ya, Shin Je Wo memang tidak terprediksi.

 Tapi baru saja Je Wo merasakan kemenangannya selama beberapa menit. Tiba-tiba saja sebuah mobil kembali menyalip mobilnya. Je Wo membulatkan matanya. “Oh, ada lagi ternyata.” Desisnya tajam.

 Dia sudah ingin menjalankan rencananya. Tetapi, ada yang berbeda kali ini. Mobil hitam itu melaju kencang meninggalkan mobilnya. Membuat dahi gadis itu mengernyit kecil memerhatikannya. Mobil hitam itu terus melaju, sampai tiba-tiba memutar arah hingga kini menuju kearahnya.

 “God.” Gumam Ha Neul pelan saat tahu rencana si pengemudi mobil itu.

 Je Wo meneguk ludahnya berat. “Dia mencuri rencanaku.” Desisnya geram. “Dasar tidak kreatif!” umpatnya.

 “Je, berhentilah mengumpat dan cepat lakukan sesuatu!!” teriak Ha Neul.

 “Kita putar arah saja.” Cetus Je Wo.

 “Tidak bisa! Ada beberapa mobil lagi dibelakang kita.”

 “Apa?! Ck, berapa banyak mobil yang mereka punya!!”

 Kedua gadis itu tampak gelisah. Je Wo menatap lurus kedepan, mobil hitam itu semakin melaju kencang mendekatinya. Je Wo membanting kemudinya kekiri untuk menghindar, tetapi mobil itu mengikutinya dan lagi-lagi mobil mereka tetap saling berhadapan. Je Wo mulai menggigit bibirnya tanpa sadar.

 “Berengsek!” makinya lagi dan kini tidak ada satu rencana apapun yang dapat dia pikirkan. Dia bisa saja melakukan cara yang sama seperti tadi, menabrak mobil itu. Tetapi, mobil itu tidak berhenti seperti mobil tadi. Mobil itu melaju, sangat kencang. Dan jika dia menabraknya, maka bisa dipastikan mereka berdua bisa saja mati, begitu juga dengan si pengemudi mobil sialan itu.

 Je Wo mencengkram kuat kemudi mobilnya dengan kedua mata merah menyala. Dia benci jika harus terkalahkan. Tapi… kalau dia tetap menantang, maka nyawa Ha Neul bisa melayang.

 Untuk itu, saat mobilnya sedikit lagi menghantam mobil hitam didepannya, Je Wo cepat-cepat membanting kemudinya kekiri dan menghantikan mobilnya. Bertepatan dengan itu, mobil dihadapannya turut berhenti. Begitu juga dengan kelima mobil yang sejak tadi mengikuti mobilnya.

 Napas Je Wo terengah-engah. Matanya tak lepas menatap tajam kepada mobil hitam disamping kanan mobilnya. “Sialan sekali mobil ini.” Rutuknya kesal.

 Ha Neul dan Je Wo mulai menarik napas mereka kuat saat satu persatu lelaki berjas hitam keluar dari lima mobil hitam itu.  Mereka berjumlah enam. Masing-masing dari mereka sudah berjalan mendekati mobilnya. Tapi hal itu teralihkan ketika suara debuman kuat yang berasal dari satu mobil lainnya terdengar.

 Je Wo dan Ha Neul mengalihkan perhatian mereka pada sosok pria yang berjalan dengan langkah lebar menuju mobil mereka. “Siapa mereka.” Gumam Ha Neul dengan suara gemetar. Je Wo hanya  bisa diam. Mencengkram kedua tangannya diatas kemudia dengan wajah kaku.

 Pria itu berusaha membuka pintu mobil yang terkunci. Je Wo menahan napasnya, apa lagi kini pria itu memukul-mukul kuat jendela kaca mobilnya.

 “Oh Tuhan, apa yang mereka inginkan!!” pekik Ha Neul histeris.

 Je Wo menggeleng pelan, keringat dingin bercucuran diwajahnya. Merasa tidak ada gunanya untuk bersembunyi, akhirnya dia menekan tombol kunci mobilnya hingga kini pria itu bisa membuka pintu mobilnya. Dan sejurus kemudian, pria itu menarik tubuh Je Wo keluar secara paksa diiringi pekikan histeris Ha Neul.

 “Lepaskan!” bentak Je Wo menyentak cengkraman pria itu diujung sikunya. Dia berhasil. Dengan napas memburu, Je Wo menatap tajam pria yang berdiri dihadapannya.

 Sorot mata hitam yang tajam penuh keangkuhan itu menatap lekat kedua matanya. Menelisik masuk kedalam matanya, mencoba merobohkan tatapan tajam yang Je Wo layangkan. Bibir pria itu menipis rapat hingga hanya menimbulkan garis tipis. Rahang kokohnya terlihat mengeras. Tapi Je Wo sama sekali tidak terusik akan hal itu. Bahkan wajah tampan pria yang begitu mengagumkan itu juga tidak bisa mengusiknya. Dia malah semakin menantang tatapan berbahaya dihadapannya.

 “Siapa kau? Ah, bukan, siapa kalian?” tanya Je Wo setenang mungkin.

 Pria itu hanya diam saja, begitu pula dengan keenam pria dibelakang tubuh Je Wo. Perhatian Je Wo sedikit teralihkan ketika melihat Ha Neul keluar dari dalam mobil dengan wajah pucat.

 “Kami adalah utusan Kakekmu. Dia meminta kami membawamu pulang.” Salah seorang pria berambut coklat pirang menjawab pertanyaan Je Wo.

 Je Wo memutar tubuhnya kebelakang untuk menatap pria itu. Matanya kemudian meneliti keenam pria yang berjejer rapi dihadapannya. Ada si rambut coklat pirang, si tampan yang menatapnya dengan senyuman ramah, si pria pendek yang menatapnya dengan waja kesal, si pria bertubuh kekar, si pria berwajah oriental dan yang terakhir, si pria berwajah Innocent. Mereka semua terbilang sangat tampan. Je Wo sampai harus mengernyitkan dahinya selama meneliti wajah pria-pria itu satu persatu.

 Dalam hatinya dia berkata, tidak bisanya Kakeknya yang perfeksionis itu mempekerjakan pria-pria berperawakan seperti mereka. Je Wo bahkan merasa mereka semua ini lebih pantas menjadi anggota Boyband yang sering digandrungi banyak gadis dari pada bekerja sebagai seorang pesuruh.

 “Jadi, kuharap kau bisa ikut dengan kami tanpa bantahan. Mengingat sudah berapa banyak kekacauan yang kau lakukan sejak tadi.” Ujar si pria bertubuh kekar tersebut.

 Je Wo mendengus. “Jangan kalian pikir aku bisa percaya begitu saja dengan kalian. Sejak kapan aku tidak mengenal pesuruh Kakekku? Lain kali gunakan otak idiot kalian lebih baik kalau ingin membodohiku.”

 Pria-pria itu membulatkan mata mereka serentak mendengar ocehan Je Wo. Hal itu membuat Je Wo menyeringai puas. Mereka harus tahu sedang berhadapan dengan siapa, pikirnya.

 “Bukan kami yang idiot disini, tapi Kakekmu, Nona.”

 Je Wo memutar tubuhnya kebelakang dengan terkesiap. Dia menatap tajam pria yang berdiri dengan kedua tangan terbelenggu didalam saku celananya. Apa yang baru saja diucapkan pria itu membuat amarahnya tersentuh. “Apa kau bilang?”

 Pria itu tersenyum dingin, lalu berjalan dua langkah mendekatinya. “Kalau aku menjadi Kakekmu, sudah kubiarkan saja gadis tidak tahu diri sepertimu mati ditangan peneror itu dari pada harus berjuang mati-matian untuk menyelamatkannya.”

 Je Wo mengerang. “Kau…”

 “Tutup mulutmu!” desis pria itu, ujung matanya berkilat menatap lawan bicaranya. “Kau tahu apa yang sudah kau lakukan sejak tadi? Mengacaukan lalu lintas, menghancurkan salah satu mobil kami, hampir melenyapkan nyawa temanku dan juga temanmu. Ah, tapi kau ternyata memang pengecut. Kupikir tadi kau menerima tantanganku untuk mengadu kedua mobil kita agar kita bisa mengetahui siapa pemenangnya. Ya… dengan melihat siapa yang mati dan siapa yang hidup.” Pria itu menyeringai keji. “Tapi ternyata kau terlalu takut untuk mati, nona.” Dia mendengus. “Kucing rumahan memang tidak akan pernah bisa menjadi kucing liar sekalipun sudah terlalu sering bermain dijalanan. Sekalinya pengecut akan selamanya menjadi pengecut.”

 “Diam kau bersengsek!!!” bentak Je Wo. Napasnya tersengal-sengal. Dia juga merasakan lengannya ditahan oleh seseorang ketika dia ingin melangkah mendekati pria itu.

 “Je…” bisik Ha Neul pelan. Seperti ingin melarangnya.

 Je Wo menggeretakkan giginya geram. Pria itu… berani sekali dia menilai Je Wo dengan sebelah mata. Dan apa katanya tadi? Kucing rumahan? Pria itu harus tahu kalau Je Wo bahkan sudah menjadi macan betina liar sejak dulu.

 “Jadi menurutmu sejak tadi aku sengaja membuat kekacauan, huh? Coba kau pikirkan baik-baik diotak kecilmu itu, tuan sialan! Siapa yang membuatku harus melakukan semua kekacauan ini, huh?! KAU! KAU DAN SEMUA TEMAN-TEMAN SIALANMU!” telunjuk Je Wo bergerak kedepan, menuding-nuding wajah pria yang tetap berekspresi dingin. “Dan apa katamu tadi? Aku pengecut?” Je Wo menarik napasnya kuat dan menghembuskannya keras. Lalu dengan langkah lebar dia berjalan menuju mobilnya, mengambil sesuatu dari dalam tasnya sambil menunduk condong kedalam mobil.

 Dan semua orang menahan napas mereka bersamaan ketika Je Wo berbalik sambil mengacungkan sebuah pistol kearah pria berwajah dingin yang sudah mengacak-acak harga dirinya. Je Wo tersenyum tipis dan mengerikan. Menarik pelatuk pistolnya dan memiringkan sedikit wajahnya hingga dia terlihat semakin menyebalkan. “Kita buktikan sekarang, siapa yang takut dengan kematian. Kau… atau aku, berengsek!”

***

Obrolan ringan yang terjadi diantara Leeteuk, Heechul, Yesung, Shindong, Ryeowook dan Sung Min terhenti ketika mereka melihat sisa anggota kelompok yang lain mulai menghampiri mereka. Leeteuk mengamati Kyuhyun yang berjalan dengan wajah tertekuk sambil menggendong seorang gadis. Di lihatnya Kyuhyun menuju sebuah sofa panjang dan setelah itu menghempaskan tubuh gadis bertubuh mungil itu keatasnya tanpa kelembutan.

 Leeteuk menautkan kedua alisnya. “Apa yang terjadi? Gadis ini pingsan?” Leeteuk menatap satu persatu anggota kelompoknya yang baru saja menjalankan tugas darinya. Tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Semua orang hanya saling berpandangan satu sama lain. Leeteuk menyipitkan kedua matanya, ada yang aneh, batinnya. Didekatinya gadis itu, lalu diamatinya dalam diam hingga setelah beberapa detik, dia segera melayangkan tatapan tajamnya pada ketujuh anggota kelompoknya yang baru saja menyelesaikan tugas mereka.

 “Siapa yang melakukan itu?” Leeteuk bertanya dengan suara beratnya.

 Yesung yang tidak mengerti, mulai mengamati sosok yang sedang terbaring diatas sofa. Tatapannya jatuh di atas leher gadis itu yang kini berwarna keunguan. “Kalian memukulnya sampai pingsan?” tanya pria itu dengan wajah terkejut.

 “Kupikir kita masih memegang peraturan untuk tidak menyentuh pasien?” gumam Heechul ringan. Pria itu sama sekali tidak beranjak dari duduk manisnya sambil mengelus bulu-bulu halus kucing kesayangannya yang berada diatas pangkuannya.

 Leeteuk menatap satu persatu tersangka dihadapannya. Tatapannya menyiratkan kemarahan. Dia selalu menanamkan satu hal pada semua anggota kelompoknya. Bebas membunuh siapa saja dengan cara sekeji apapun, tapi jangan sampai menorehkan segores luka sedikitpun ditubuh pasien mereka. Dan malam ini, untuk pertama kalinya anggota kelompoknya melakukan kesalahan.

 “Aku yang melakukannya.” Gumaman Kyuhyun membuat perhatian Leetuk teralih padanya.

 Leeteuk menghela napas samar. “Apa alasanmu melakukan itu?” Kyuhyun tidak menjawab dan tetap bungkam, hanya rahangnya saja yang terlihat mengeras selagi dia menatap wajah gadis mungil itu. “Cho Kyuhyun.” Tegur Leeteuk.

 “Hyung, dia sangat brutal.” Sela Donghae tiba-tiba. Pria ini memperlihatkan raut wajah frustasinya. “Kalian tahu apa yang dia lakukan? Dia hampir menabrakku!” Donghae menatap Hyukjae yang mengangguk setuju. “Tidak hanya itu, Siwon terpaksa mengurus kerusakan lalu lintas yang diakibatkan olehnya. Salah satu mobil kita rusak karena dia menabraknya tanpa belas kasih. Dan satu lagi yang harus kalian tahu.” Donghae menarik napasnya kuat. “Dia melepaskan tembakannya berkali-kali kearah kami, Hyung!”

 “Dia mempunyai senjata? Gadis ini?” tanya Ryeowook tak percaya.

 “Hyung,” kini Kangin yang turut berbicara. “Kami tahu kalau kami tidak boleh menyakitinya. Karena itu yang kami lakukan hanyalah menghindar. Tadinya kami pikir jika peluru dipistolnya telah habis, kami bisa menangkapnya. Tapi… selain pintar menembak, dia juga pintar sekali bermain dengan pisau.”

 “Pisau?” ulang Shindong.

 Kyuhyun bergerak dari tempatnya lalu tiba-tiba saja menyibak jaket kulit yang melekat ditubuh gadis itu hingga memperlihatkan beberapa pisau yang tersimpan didalamnya. “Dia berhasil melukai Hangeng Hyung.”

 Leeteuk mencari keberadaan Hangeng disekitarnya. Dilihatnya pria itu tengah duduk menyandar di salah satu sofa tunggal sambil meringis memegangi sebelah pahanya.

 “Tidak apa-apa, lukanya tidak terlalu dalam.” Ujar Hangeng yang mengerti maksud tatapan Leeteuk.

 “Aku terpaksa melakukannya untuk menghentikannya. Lagi pula pukulanku tidak terlalu kuat. Dia hanya pingsan, tidak sampai mati.” Kyuhyun kembali menggumam.

 Masih dalam ketidak mengertiannya dengan situasi yang di alami anggotanya, Leeteuk perlahan-lahan meneliti wajah damai gadis itu. Dia kembali mengingat-ingat pesan Tae Wa pada mereka mengenai cucunya. Dan kini, dia mengerti apa maksud dibalik nasihatnya.

 Leeteuk tersenyum tipis. “Menarik.” Gumamnya pelan yang hampir tidak terdengar oleh siapapun selain Kyuhyun yang paling dekat dengannya. Leeteuk kembali melirik Kyuhyun dan kali ini dia tersenyum misterius. “Pilihan Kakeknya sangat tepat.”

 “Maksudmu?” tanya Kyuhyun dengan kedua mata menyipit.

 Leeteuk hanya tersenyum tipis. “Lee Sungmin?”

 “Ya, Hyung.” Jawab Sungmin sigap.

 “Bantu Hangeng menyembuhkan lukanya. Ryeowook, siapkan kamar untuknya. Ah, pastikan kamarnya berdekatan dengan kamar Kyuhyun.” Leeteuk langsung dihadiahi tatapan tidak mengerti Kyuhyun. Kemudian pria ini tersenyum tipis. “Ingat apa tugas yang diberikan Kakeknya padamu? Kau harus menjaganya dua puluh empat jam.”

 “Tapi, Hyung…”

 “Atau sebaiknya dia juga tinggal sekamar denganmu?”

 “Aku akan membunuhmu kalau kau berani melakukannya.”

 Leeteuk tertkekeh pelan. Kemudian dia menatap satu persatu anggotanya. “Entah ini hanya perasaanku saja atau tidak, tapi sepertinya… gadis ini bukan gadis biasa.”

***

Je Wo menggeliat pelan. Matanya terbuka lalu tertutup lagi. Dia berbaring telungkup dengan wajah yang terbenam separuhnya di atas bantal. Ketika dia membuka matanya dan mengerjap, Je Wo sama sekali tidak menyadari sekitarnya. Dia malah bangkit dan duduk di atas ranjang, menatap kosong kedepan selama beberapa detik sebelum akhirnya dia terkesiap.

 “Di mana ini?” gumamnya setengah histeris.

 Je Wo mengamati sekelilingnya. Dia berada di sebuah kamar yang sangat nyaman. Dinding-dinding kamarnya dan seluruh isi perabotannya yang berdesain eropa bergaya renaisance. Alis Je Wo berjengit, jelas sekali dia tidak sedang berada di sembarang rumah.

 Gadis itu mencoba membuka memori ingatannya kemarin malam. Dia sedang berada di klub malam bersama Ha Neul, kemudian memutuskan pulang. Dan mereka bertemu dengan tujuh pria yang mengaku sebagai pesuruh Kakeknya.

 “Oh,” Je Wo memegangi lehernya cepat, memijatnya pelan sampai ringisan kecilnya terdengar. “Pria sialan!” makinya kesal. Dia ingat sekali bagaimana lihainya pria sombong yang menemuinya tadi malam.

 Ketika itu Je Wo sedang menghujami ke tujuh pria itu dengan pisau-pisau miliknya. Kemampuan membidiknya memang tidak di ragukan lagi meski dia jarang berlatih. Tetapi entah bagaimana bisa salah satu dari mereka-yang Je Wo sebut dengan pria sombong- menyelinap kebelakang tubuhnya dan mengurung tubuh Je Wo dengan kedua lengannya.

 Saat itu Je Wo berhasil melepaskan diri, tapi belum lagi dia sempat melakukan apa-apa, pria sombong itu sudah membuatnya tidak sadarkan diri dengan sebuah pukulan yang meyakinkan di sekitar lehernya.

 Je Wo mendesis lagi. Tapi yang sedang memenuhi kepalanya adalah siapa pria-pria itu. Mungkinkan mereka benar-benar suruhan Kakeknya? Tapi kenapa dia tidak mengenali mereka? Atau mungkin Kakeknya sudah mengganti orang-orang pesuruhnya karena mereka semua sangat payah bagi Je Wo.

 Gadis ini mendesah panjang. Sesekali bibirnya mencebik kuat. Namun, kewaspadaannya tetap berjaga di dalam dirinya. “Aku tidak mengenal mereka. Bisa saja mereka berniat jahat padaku.” Gumamnya. Je Wo mengangguk yakin. Ya, dia tidak boleh memercayai siapapun.

 Dengan gerakan cepat, Je Wo meloncat turun dari ranjang empuknya. Dia memerhatikan pakaian yang dia kenakan-celana Jeans dan tank top berwarna putih-pakaian yang sama seperti tadi malam, hanya saja jaketnya sudah tidak terpasang dan bahkan tidak ada di manapun di sekitar kamar itu.

 “Ah, kenapa tidak ada.” Rutuknya. Sambil mengacak rambutnya yang sudah berantakan, Je Wo mencari diseluruh sudut kamar. Jaket itu satu-satunya pelindung yang dia punya. Selain jaket itu merupakan jaket anti peluru, di sela-sela jaket itu terdapat banyak pisau sebagai alat pelindung Je Wo.

“Oke. Lupakan saja jaket sialanku itu. Lebih baik sekarang aku menemukan jalan untuk kabur dari sini.” Gumamnya. Je Wo melirik meja rias yang di depannya terdapat cermin besar. Dia mendekatinya, lalu membuka seluruh lacinya dan menemukan satu buah sisir di salah satu laci. Di pandanginya sisir itu sejenak sebelum mengangguk yakin.

Perlahan-lahan, Je Wo membuka pintu kamarnya. Menyembulkan kepalanya keluar untuk memeriksa keadaan di sekitarnya. Kamarnya berada di sebuah lorong yang panjang, dan keadaan lorong itu sangat sepi. Je Wo menghembuskan napas panjang, melangkah keluar dari kamar dan menutupnya penuh kehati-hatian.

Gadis itu melangkah penuh kewaspadaan. Dia yakin sekali akan sangat sulit untuk keluar dari sana. Instingnya yang mengatakan itu. Sementara dia melangkah, Je Wo selalu memegang sisirnya dengan erat. Mata gadis itu tidak mau diam, melirik seketiap sudut langit-langit untuk menemukan sebuah CCTV. Tapi tidak menemukan satu pun.

Semakin aneh, batinnya. Mana mungkin rumah yang mulai dia sadari mewah dan luas ini tidak memiliki keamanan. Apa lagi kalau mereka benar-benar pesuruh kakeknya, itu artinya mereka sudah pasti bukan orang sembarangan. Je Wo menggelengkan kepalanya. Matanya masih setia meneliti setiap dinding bercat krem. Menebak-nebak mungkin saja mereka memasang CCTV yang sangat canggih hingga sulit di sadari dengan mata.

 “Ah…” desahnya dengan seringaian. Matanya menatap salah satu bola lampu yang berada tidak jauh dari kepalanya. Je Wo melangkah sebanyak lima kali, matanya menatap tepat ke bola lampus sementara bibirnya tersenyum menyebalkan. Dia  melayangkan jari tengahnya ke arah bola lampu itu. “Kau pikir aku bodoh, huh?”

 Dengan bidikan yang tepat, sisir di tangannya telah melayang di udara dan mengenai bola lampu itu hingga pecah. Je Wo medekati serpihan bola lampu itu, mengutip sebuah kabel dan benda kecil yang dia yakini sebuah kamera. Kepalanya menggeleng miris. “Kalau yang seperti ini di rumahku juga banyak. Ck, dasar payah!”

 Je Wo memungut sisir itu kembali dan melanjutkan langkahnya yang hati-hati. Tapi tepat di belokan pertama, gadis itu terperanjat dan melangkah mundur terburu-buru sambil memegangi sisirnya dengan erat. “Kau…” erangnya tajam.

 Pria yang memukulnya sampai pingsan tadi malam sedang menatapnya dingin. Je Wo mengamati penampilannya yang berbeda dari tadi malam. Pria itu memakai celana dan baju berlengan panjang, sandal rumah serta rambutnya yang basah dan tertata. Tidak seperti tadi malam, terlalu formal dan juga terkesan angkuh. Ya… walaupun saat ini keangkuhannya masih tidak berkurang.

 “Masih terlalu pagi dan kau sudah berbuat onar.” Cetus pria itu datar.

 Je Wo mendengus, “CCTV itu maksudmu? Kau juga ingin mencobanya? Dengan senang hati.” Je Wo menyipitkan kedua matanya sebelum melempar sisir itu ke satu titik yang sudah dia rencanakan sejak tadi.

 Tapi Je Wo segera menahan napasnya saat pria itu tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya, hanya sebelah tangannya saja yang menangkap sisir itu dengan gesit. Dia tersenyum malas lalu melempar sisir itu kembali kepada Je Wo dan di tangkap Je Wo dengan gesit.

 “Mau mencobanya lagi?” tantang Kyuhyun.

 Dia sedang meremehkan Je Wo. Dan Je Wo benci di remehkan. Harga dirinya tidak boleh di injak-injak seperti itu. Je Wo tersenyum bengis, membuang sisir itu kebelakangnya. Lalu melipat kedua tangannya di depan dada, menirukan gaya pria di depannya. “Siapa yang butuh sisir kalau aku bisa menghadapimu dengan tangan kosong.”

 Ada goresan kekesalan di wajah pria itu saat senyuman malasnya menyurut. Dia menarik napas samar sebelum mendekati Je Wo. Diamatinya wajah Je Wo yang tidak gentar sedikitpun, membuatnya merasa penasaran.

 Pria itu mengulurkan tangannya untuk meraih salah satu tangan Je Wo, tapi baru saja ujung jarinya menyentuh kulit Je Wo, gadis itu tiba-tiba saja bergerak mundur dan sebelah kakinya hampir saja menyapa wajah pria itu dengan tidak bersahabat jika saja dia tidak memundurkan wajahnya kebelakang.

 Keterkejutan jelas terlihat di wajah pria itu, apa lagi kini Je Wo sudah memasang kuda-kudanya dan menyeringai padanya. “Kemari.” Salah satu telunjuk Je Wo bergerak menantangnya.

 Cukup sudah! Pria itu menggeram tertahan dan mulai melepaskan pukulannya, namun Je Wo menghindar, menangkap satu tangan pria itu yang melayang diudara, dan mencoba mengambil kesempatan untuk memukul wajah pria itu. Tapi sayangnya pria itu menghalau pukulannya dengan salah satu lengannya yang lain. Pria itu hampir saja menendang perutnya kalau saja Je Wo tidak cepat-cepat mundur.

 “Sebenarnya menyentuh pasien adalah larangan besar bagiku, tapi khusus untukmu aku tidak peduli. Jangan salahkan aku kalau nanti rahangmu harus berpindah tempat.” Pria itu menggumam dengan nada kesal yang dihadiahi Je Wo dengan tawa menyebalkan.

 “Pasien? Kau pikir aku sedang sakit, huh? Sebaiknya kau saja yang menjadi pasien, tapi jadilah pasien di rumah sakit jiwa agar otak kecilmu kembali ketempatnya dengan benar, bodoh!”

 Wajah pria itu memerah. Belum pernah ada yang berani meremehkannya seperti ini, apa lagi seorang gadis. Dan disaat niatnya sudah bulat untuk memberi pelajaran pada Je Wo, tiba-tiba saja kedua lengannya di tahan oleh seseorang. Dia berbalik lalu menyemburkan amukannya. “Jangan menggangguku!” tapi orang yang menahan lengannya hanya menatapnya dengan sebelah alis terangkat tinggi, lalu melirik Je Wo yang sedang mengamati mereka dengan tatapan awas.

***

Kibum mengamati Je Wo dari komputernya. Dimulai dari gadis itu bangun, mengoceh tidak jelas, menacari sesuatu di meja rias sampai menggenggam sisir terlalu erat dengan wajah tegang, semua itu tidak lepas dari pengamatannya. Dan itu membuat pagi Kibum kali ini terasa berbeda karena sejak tadi dia selalu tertawa geli melihat tingkah Je Wo.

 Apa lagi saat gadis itu mengamati langit-langit di lorong, Kibum menautkan alisnya dan menunggu-nunggu apa yang akan Je Wo lakukan. Dan tawanya meledak begitu saja saat Je Wo melayangkan jari tengahnya ke arah kamera sebelum melemparnya dengan sisir.

 “Gadis pintar.” puji Kibum dengan wajah senang. Dia meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang. “Gadismu ada di lorong dan baru saja menghancurkan CCTV. Have fun, Kyu.”

 Kibum memindahkan pantauan ke CCTV yang lain. Dia melihat Kyuhyun sedang berhadapan dengan Je Wo, lalu gadis itu melemparnya dengan sisir. Kibum terkikik geli. Apa lagi ketika Kyuhyun mengembalikan sisir itu dan Je Wo malah membuangnya dengan wajah angkuh serta meniru gaya Kyuhyun berdiri, lagi-lagi Kibum tidak bisa menahan tawanya.

 “Menarik, menarik…” gumamnya senang.

 Saat Je Wo dan Kyuhyun mulai bersitegang dan berkelahi, Kibum tersenyum puas dan kembali menelepon seseorang. “Cepat susul Kyuhyun sebelum kita semua kehilangan tiga miliyar yang kita impikan.” Setelah mengatakan itu, Kibum segera meninggalkan ruangannya, dia tahu pertunjukan itu masih belum berakhir. Dan menontonnya secara live akan lebih menyenangkan.

 Benar saja, ketika Kibum turun kebawah, semua orang sudah berkumpul dan mengelilingi Je Wo yang menatap mereka semua dengan wajah waspadanya yang angkuh. Kibum memilih duduk di salah satu sofa panjang, melipat kedua kakinya dan bersandar nyaman di punggung sofa.

 “Kakek! Apa benar Kakek menyuruh orang-orang aneh ini menangkapku?!” Je Wo mengernyitkan dahinya saat Tae Wa membenarkan lewat sambungan telepon. “Ya Tuhan! Apa Kakek sudah gila? Mereka ini psikopat, tadi malam saja mereka hampir menabrakku dan juga memukulku sampai pingsan, lalu tadi,” Je Wo melirik Kyuhyun dengan sinis. “Aku hampir di pukul lagi oleh orang yang sama!”

 Kyuhyun membuang napasnya kasar. Kalau saja tadi Leeteuk tidak datang dan mencegahnya, Kyuhyun yakin rahang Shin Je Wo akan dia buat retak seumur hidupnya.

 “TINGGAL BERSAMA MEREKA?! Tidak! Aku tidak setuju. Kenapa aku harus tinggal bersama orang-orang aneh ini?!”

 Semua pria yang mengelilinganya mencebik dan mendengus penuh protes mendengar racauan Je Wo. Sudah dua kali Je Wo menyebut mereka aneh. Hanya Kibum yang masih tersenyum memandangnya.

 “Omong kosong! Aku tidak percaya ada orang yang berani membunuhku. Ayolah… sejak kecil memang sudah seperti ini, kan? Aku sudah sering di teror dan karena itu aku sudah membekali diriku sendiri, Kakek, jadi tolong jangan terlalu berlebihan.” Je Wo menghentakkan kakinya, wajahnya terlihat frustasi. “Aku tidak mau tahu! Aku mau pulang sekarang juga. Halo? Halo? Kakek?” Je Wo menatap ponsel di tangannya sebentar sebelum berteriak kesal. “Ya Shin Tae Wa! Aish… dasar Kakek tua menyebalkan!!!”

 Semua orang terbelak lebar melihat Je Wo membuang ponsel Leeteuk hingga tercerai berai di atas lantai. Gadis itu dengan santainya bertanya pada Ryeowook dimana letak dapur karena dia sangat haus setelah marah-marah pada Kakeknya. Dengan gerakan kaku, Kim Ryeowook menunjuk kearah dapur dengan telunjuknya.

 Je Wo meneguk segelas air putih dengan terburu-buru. Lalu menyentak gelas itu keatas pantry, wajahnya terlihat sangat kesal dan lagi-lagi dia mengacak rambut panjangnya. “Kenapa semua orang menyebalkan sekali!!”

 Je Wo mencoba menenangkan dirinya dan berpikir waras. Oke, dia sedang terkurung disini, ditempat yang sama sekali tidak dia ketahui. Ponselnya tidak ada dan dia tidak bisa menghubungi siapapun kecuali Kakeknya yang menyebalkan dan sedang melakukan perjalanan bisnis di LA sampai tega sekali menitipkannya dengan ketiga belas pria di rumah ini.

 “Apa dia tidak takut kalau cucunya di perkosa oleh salah satu dari mereka?!” bibir ranumnya merutuk kesal. “Ah, tapi kalau mereka berani memperkosaku, akan kukebiri milik mereka satu persatu.”

 Setelah berhasil menenangkan dirinya dan juga mengambil keputusan, Je Wo kembali ketempat semula. Dia ingin bicara dengan ketiga belas pria itu namun dia malah melihat mereka semua sedang berdebat.

 “Batalkan saja kontrak kerja ini, Hyung, aku tidak peduli dengan bayaran itu!” Kyuhyun bersungut keras.

 Hyukjae mendorong bahunya dan melotot. “Enak saja! Tiga milyar itu tidak sedikit, bodoh!”

 “Memangnya kau semiskin itu, monyet sialan?”

 “Berengsek!”

 “Kyuhyun benar, Hyung, gadis itu berbahaya!”

 “Dia sulit di jinakkan dan jika pun bisa hanya dengan kekerasan, tapi kita semua tahu kalau dia tidak boleh di lukai.”

 “Dia hanya seorang gadis, Hae.”

 “Iya, gadis yang berbahaya.”

 Je Wo menggelengkan kepalanya tidak percaya. Sambil bersedekap dihampirinya pria-pria itu hingga perdebatan mereka berhenti begitu saja. Je Wo menatap Donghae dengan kedua mata menyipit angkuh, “Aku memang gadis berbahaya, jadi jangan coba-coba menggangguku. Dasar pendek!”

 Kedua mata Donghae melotot tak percaya. Dia mendengar tawa tertahan Sungmin dan menatap pria itu kesal. Bukannya membantu Sungmin malah menertawakannya.

 Kemudian Je Wo duduk disamping Kibum, meniru gaya duduk Kibum dan melirik pria itu dengan tatapan terganggu. “Kenapa masih duduk sini? Tidak lihat aku sedang duduk disini. Shuh… shuh…” Je Wo mengibas sebelah tangannya.

 Sambil mengulum senyumnya, Kibum menuruti permintaan Je Wo.

 Lalu tatapan Je Wo jatuh pada Leeteuk yang masih berjongkok, menatap ponselnya dengan tatapan lirih yang tak berkesudahan. Je Wo memutar bola matanya malas. “Berlebihan. Ya, pak tua! Aku akan mengganti ponselmu setelah Kakek menjemputku. Sudahlah, kau ini cengeng sekali.”

 Kini tawa tertahan yang terdengar bukan hanya dari Sungmin, hampir semua orang melakukannya. Kecuali Kyuhyun dan Donghae, tentu saja.

 Leeteuk memejamkan matanya erat sebelum menghela napas dan kembali memasang mimik wajah tenangnya. Dia berdiri dan menatap Je Wo. “Jadi kau sudah mendengarkan penjelasan Kakekmu?” Je Wo mengangguk. “Kalau begitu mulai sekarang tinggallah dengan damai di sini.”

 Je Wo mengangguk, “Oke. Tapi aku punya syarat. Aku akan menganggap rumah ini adalah rumahku, seperti yang Kakek bilang tadi.” Kali ini dia berbohong demi menjaga dirinya sendiri. “Jadi aku bebas melakukan apa saja dan tidak ada yang boleh melarangku.”

 Leeteuk menatapnya curiga. “Kalau kau sedang berencana kabur dari sini, itu percuma. Karena kita ada di tengah-tengah hutan dan aku yakin kau tidak tahu jalan menuju Seoul.”

Rahang Je Wo hampir jatuh kelantai. Dia memandang semua pria yang berdiri dihadapannya, mulai menilai mereka satu persatu, siapa tahu saja ada yang bisa membantunya.

“Anggotaku tidak akan bisa kau ajak untuk berkhianat.” Ujar Leeteuk lagi seolah bisa membaca pikiran Je Wo.

Gadis itu mendesis. “Aku tidak berencana kabur.” Kilahnya. “Yang kuinginkan hanyalah kehidupan yang tenang selama aku disini.”

“Tenang yang kau maksud pastinya kekacauan untuk kami.” Sahut Donghae.

“Diam kau, pendek! Kau mau aku menelepon Kakek dan mengadukanmu padanya, huh?”

“Kau pikir aku takut?”

“Bagaimana kalau tiga milyarmu dipotong karena mulut berisikmu?” Je Wo mengerjap-erjapkan matanya untuk membuat Donghae kesal. Dia sudah mendengar percakapan mereka tadi dan cukup terperangah dengan bayaran yang Kakeknya berikan untuk mereka.

“Oke, aku setuju.” Sela Leeteuk.

Je Wo mengangguk antusias. Matanya bergerak liar memandangi satu persatu pria di depannya. Selama satu bulan kedepan dia akan menghabiskan seluruh waktunya dengan mereka semua. Je Wo meresa cemas dan juga tertantang. Namun… saat matanya bertemu dengan kedua mata Kyuhyun yang tajam, dia menemukan kebencian di dalamnya. Dan tentu saja Je Wo juga melayangkan tatapan yang sama.

“Satu syarat lagi,” celetuk Je Wo tiba-tiba. Dia masih menatap Kyuhyun. “Aku tidak mau orang itu terlalu dekat denganku.”

Semua orang saling bertatapan penuh arti. Leetuk menganggukkan kepalanya pada Yesung yang meminta persetujuan. Pria itu berdehem sedikit kuat dengan sengaja. “Maaf, Nona, untuk syaratmu yang terakhir kami tidak bisa menyetujuinya.”

“Kenapa?!”

“Karena Kakekmu sendiri yang meminta Cho Kyuhyun untuk menjagamu selama dua puluh empat jam. Kami juga sudah mengatur kamar kalian berada di lantai yang sama agar Kyuhyun lebih mudah memeriksa keadaanmu kalau-kalau terjadi sesuatu di malam hari.”

Je Wo menahan napasnya tiba-tiba. Lalu saat dia kembali menatap Kyuhyun dan menemukan seringaian bengis pria itu, kepalanya menggeleng lemah. Ini akan menjadi satu bulan yang mengjengkelkan!

TBC

Rindu Oppadeul… T.T

Jadinya melampiaskan ke FF ini, dimana semua member lengkap disini.

Oh, iya, tadinya ini aku posting di wattpad. Cuma aku pindahin ajah kemari. Soalnya suka males posting di sana hehehe. Saya juga mau bilang TERIMA KASIH SEMUANYAAAAAAA. Kalian sudah mengamini doa saya kemarin dan akhirnya saya sudah lulus di bangku perkuliahan #poseduajari

Kemungkinan dalam minggu ini saya open PO My Love For You (Orifict Version) castnya bukan Kyuje lagi, tapi Alana Lively-Colin Sanders, cerita tetap sama, Cuma cast dan setting ajah sih yang beda. Kalau ditanya kenapa gak pakai Kyuje? Soalnya saya udah siapin satu FF perpisahan untuk Novel FF saya dengan cast KyuJe *selfpublishing*. Nah, itu artinya itu novel selfpublishing terakhir. Selebihnya FF Cuma akan di posting di BLOG. Untuk Novel saya mau keluar dari zona aman, mau nyoba rasa baru #tingting saya mau kaya penulis lain yang gencar kirim naskah ke penerbit, gak males-malesan lagi dan gak harus di teror Himma setiap hari dengan link segala macam penerbit lagi hehehe. Saya mau ngerasain jatuh bangun di tolak dan diterima naskah saya. Oke, anggap aja saya sarap tapi saya memang rindu dengan kesarapan saya #plak.

Mohon maaf kalau ada yang keberatan, saya Cuma mau memperbaiki karya saya. Kalian jangan takut, saya gak akan berhenti nulis FF. Hutang saya kan masih banyak, entar kalau kalian nagih FF di akhirat kan gak lucu -_- saya juga belum bisa move on dari oppadeul walaupun di paksa-paksain udah hampir satu bulan. Apa lagi Oom si muka tua, kalau saya buka IG mukanya ada di mana-mana wahahaha. Kan jadi susah move on. Eh, tapi si Oom udah ada album barunya kan yah? Saya belum ada denger apa lagi download T.T #istridurhaka

Baru nyadar, tumben saya bikin note panjang-panjang😀 anggap aja saya lagi bahagia ya teman-temin. Okeeeeeee saya mau bobok cantik dulu. See u soon.

With Love

Nyonya Cho😉

121 thoughts on “The Hunters [1]

  1. Hai eon aku balik lagi buat komen di blog ini .tiap hari buka ini blop tp msh belm ada kbr tntng the hunter part 2 nya .tpi aku tetep setia nungguin kok eon,bkal jadi readers setia ;-)#plak.
    Oh iya eon aku ijin share ini ff di twiter ama fb ya ,biar bnyak yg bca kryamu yg amazing ini eon. .soalnya sayang kalo terlewatkan :-*. Oke eon mksh udah di ijinin komen + bca. Dan yg pasti di tnggu ya eon kelnjtan ini ff. Gomawo .:-*

  2. Seru banget baca FF ini, keren. Action yg mendebarkan, tingkah Je Wo yg ‘mengagumkan’, dan Hunters yg keren dgn peralatan canggih seperti nonton drama korea dengan yg keren2 deh. Ceritanya juga sangat menarik, siapa yang berusaha membunuh Je Wo masih misteri tp kebersaam Je Wo dgn mereka pasti juga akan sangat menarik.

  3. Daebak…q mkin pnsaran part slnjut’y.
    Cocok bnget,pasangan devil.
    Akan ada kisah cinta diantara mereka,ada kelucuan’y jg.
    Q ska klo kyu lg brntem sm je wo lucu.nex thor…

  4. Ngakak ada kata KEBIRI :v
    Astojim eonni, geli weh :v. Tp keyen ffnya :v. Wakty baca adegan tabrak menabrak woy euihhh adrenaline ikut naik ampe deg deg an. Seru kok :v. Saking serunya jadi baper :”v. Hwaiting buat ff nya eonni ‘3’)9. Istri kyuhyun selalu mendukungmu dari sinj :v

  5. Baru lihat ada ff baru.. sukaaaaaaaaa ma ceritanya seru malah klau baca suka tak ulang2 heheheheheh
    Suka ma karakternya mereka berdua sama… aq dah nebak sich knp kakek je wo milih kyuhyun jd pengawal je wo 24 soalny mereka punya karakter yg sama. Kyuhyun yg seenak sendiri n je wo yg selalu buat onar. Oce hunter part 2 ditunggu n gak sabar juga. (Semua pada gk sabar)😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😏

  6. Aishh Perang kyaknya di mulai nih wkwkw,.. Kyu-Jae kerenn ffnya,.. Kirain jaewo kgak bisa bela diri/semacamnya ternyata gak di sangka Jaewoo ganas juga yah ,..

    Di tunggu next partnya ,..Fighting

  7. ckckck jaewoo sangat brutal disini
    awal pertemuan aja udah buat onar kyak gitu 😲
    pandangan kyu sinis banget sama jaewoo jadi penasaran gimana kyuhyun jaewoo saling menginginkan 😁
    so,fighting nulis ff nya ya thor…
    will waiting part 2 😊

  8. eonni the hunters 2 sangat di tunggu .miss kyuje dan member lainnya
    Cerita yang lain dari yang di lain,dikemas secra rinci detail keren kece bikin kangen bikin nagih nagih lagi pengen baca.
    I miss your fancic miss cerita keren mu eoni.
    Semangat,semga sukses selalu dan selalu memberi cerita terbaik di blogmu eoni .mumumu :-*:-*jangan hiatus lama lama eon hehehehe.:-D.:-D

  9. Nggak nyangka kalo je woo bakal sebrutal itu ,
    Kkkkkkk
    Sampe sampe ikan marah marah kayak gitu ,
    Wuahhhhhh hangeng juga kena luka tadi di pahnya ,
    Je wo emang keren dehhhhhh ,
    Hohohoho

  10. Donghae disebut pendek?sabar ya oppa..bner kta donghae je wo cewe berbahaya mungkin lebih berbahaya dri singa..haha
    Daebakk eon
    Next chapter

  11. INI KEREEEENNNN!!! JANGAN BILANG KIBUM SUKA SAMA JEWO DEH PLIS JANGAN PLISSSSSSSSS………..
    THOR INI UDAH 6 BULAN THOR JANGAN LAMA LAMA KENAPA DIPUBLOSHNYA😭 PENASARAN INI😭😭😭😭😭😭😭

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s