Mine

Akhir bulan adalah waktu yang sangat menjengkelkan bagi Shin Je Wo. Ya, sejak dia bekerja di sebuah perusahaan property di Seoul dan menjadi karyawan pembukuan selama lima bulan terakhir, dia tidak pernah absen lembur setiap menjelang akhir bulan. Aneh memang, gadis yang sejak duduk di bangku perkuliahannya dulu sangat membenci semua mata kuliah yang berhubungan dengan hitung menghitung malah berakhir seperti sekarang.

    Belum lagi sikap ceroboh dan malasnya masih belum bisa hilang hingga detik ini sehingga ada saja yang salah dari pekerjaannya. Dua bulan masa kerjanya, atasannya yaitu Jung Ha Ri, yang tak lain adalah sepupu Ibunya, tidak berhenti mengomelinya karena pekerjaannya yang sangat kacau. Untung saja sekarang Je Wo sudah bisa memahami pekerjaannya sekarang meski rasa malasnya tetap tidak berkurang.

    “Masih belum selesai?”

    Je Wo hanya menggelengkan kepalanya sekali, wajahnya terlihat sangat serius menatap layar komputer di depannya sedangkan jari-jarinya bergerak kesana kemari di atas keyboard. Pertanyaan Kwon Ji Yeon, teman kantornya yang cukup dekat dengannya sama sekali tidak mampu membuatnya mengalihkan perhatian.

    “Bukankah lusa kau sudah harus menyerahkan laporanmu?” tanya Ji Yeon lagi. Je Wo berdecak kuat, seolah-olah ingin mengatakan kau-tidak-perlu-mengingatkanku-sialan. Ji Yeon terkikik sebentar dan menghela napas pendek. Sudah sangat biasa baginya menemukan Je Wo yang seperti ini. “Menasihatimu juga percuma, jadi aku hanya akan menyemangatimu. Good luck, Shin Je Wo!”

    Je Wo cepat-cepat membungkuk dan mengambil sebelah sepatu pantofel miliknya dan bersiap melemparkannya pada Ji Yeon. Tapi sialnya gadis itu sudah menghilang dari jarak pandangnya di iringi tawa yang menyebalkan. “Dasar sialan!” umpat Je Wo.

    Dia melirik arlojinya. Sudah pukul tujuh malam. Bibirnya menghembuskan napas panjang yang lelah. Je Wo beranjak dari kursinya menuju pantry yang ada di lantai tempatnya bekerja. Kantor sudah cukup sepi saat ini, hanya menyisakan orang-orang yang lembur sepertinya saja. Di lantai tiga tempatnya bekerja malah hanya menyisakan dua orang saja. Dia dan seorang office boy yang sedang membersihkan semua ruangan.

    Je Wo membuat segelas kopi. Ya, kopi, minuman yang sangat tidak dia sukai tapi harus menjadi minuman wajib baginya setiap akhir bulan. Segelas kopi lah yang selalu membantunya terjaga dari rasa kantuk setiap harus lembur demi menyelesaikan laporan keuangannya. Segelas kopi itu dia bawa ke mejanya. Persis di samping komputernya. Kalau-kalau matanya mulai meredup, dia akan mudah menggapai gelas itu dan menyegarkan matanya lagi.

    Waktu terus berjalan, bahkan office boy yang tadi sempat menyapanya sudah lebih dulu berpamitan pulang. Lampu-lampu mulai mati satu persatu. Hanya cahaya dari komputer Je Wo saja yang tersisa. Je Wo menarik napasnya kuat saat hampir menyelesaikan pekerjaannya. Tidak sengaja matanya melirik kebawah layar komputer. Sudah pukul setengah sepuluh malam.

    “Sebentar lagi…” bisiknya mencoba menghibur diri.

    Ponselnya tiba-tiba bergetar. Je Wo hanya melirik layarnya. Nama Si bodoh Kyuhyun muncul disana tapi dia tidak menghiraukannya dan kembali sibuk menyelesaikan pekerjaannya. Satu panggilan terabaikan. Dua panggilan juga terabaikan. Tiga panggilan, Je Wo menelungkupkan ponselnya agar lampu dari layar ponselnya yang hidup tidak memecah fokusnya.

    Empat panggilan, Je Wo berdecak kuat dan mengangkat panggilan itu, menyelipkannya diantara bahu dan telinga karena tangannya masih setia menempel di atas keyboard.

    “Apa?!” jawabnya sedikit membentak.

    Dimana?

    “Di kantor.”

    Lembur lagi…

    Itu sebuah pernyataan. Je Wo hanya menjawabnya dengan decakan.

    Tunggu aku, jangan pulang lebih dulu.

    Sambungan terputus. Je Wo hanya mendesah pasrah dan meletakkan ponselnya di atas meja. Mau menolak juga percuma, yang ada mereka akan bertengkar setelahnya karena akhir-akhir ini hubungan mereka sangat rawan dengan perdebatan. Dan lagi… sekarang sudah lumayan larut, Je Wo juga ragu mendapatkan taksi dengan mudah.

***

Lima menit Je Wo menunggu di depan kantornya, mobil Kyuhyun sudah berhenti di depannya. Je Wo masuk ke dalam mobil, duduk di samping Kyuhyun yang mengemudi dan memasang safety belt, lalu mobil itu membawanya menembus jalanan Seoul yang masih lumayan ramai. Keduanya sama-sama saling berdiam diri, tidak ada yang mau memulai pembicaraan lebih dulu.

    Kyuhyun tahu Je Wo sedang kelelahan dengan pekerjaannya sedangkan Je Wo tahu Kyuhyun siap meledak kalau-kalau dia mengeluh tentang pekerjaannya. Jadi, dari pada mengacau keadaan, keduanya lebih memilih bungkam selama beberapa saat.

    Je Wo lebih dulu berinisiatif memutar musik demi melenyapkan kesunyian di mobil itu. Lalu melirik Kyuhyun sekilas yang masih betah memerhatikan jalanan. “Jadwalmu sudah habis untuk hari ini?” tanyanya.

    Kyuhyun meliriknya dan bergumam. “Kau sudah makan malam?”

    Rasanya Je Wo ingin sekali mendobrak pintu mobil dan berlari keluar demi melarikan diri dari pertanyaan itu. Lebih baik dia diam saja tadi dari pada berbasa-basi dan sekarang malah menggali kuburannya sendiri. Terkutuklah sifat protektif dan sensitif Kyuhyun yang menyangkut dirinya. Kalau dia bilang sudah maka pria itu akan mencari tahu dia sedang berbohong atau tidak dari gerak geriknya. Kalau dia bilang belum maka pria itu pasti akan marah-marah tidak jelas padanya seperti yang sudah-sudah.

    Je Wo memberikan cengiran polosnya. Mudah-mudahan saja berefek baik kali ini. “Belum. Aku sengaja menunda makan malam karena tadinya aku ingin mengajakmu malam malam bersama.”

    “Semalam ini?” Kyuhyun mengangkat sebelah alisnya tinggi, mencibirnya. “dan bukankah tadi kau terdengar kesal di telepon?”

    Nah, benar, kan! Dia selalu tahu…

    “Cari Cafe terdekat saja.” Putus Je Wo dan membuang wajahnya. Moodnya semakin memburuk. Bisa tidak mereka tidak berdebat sekaliiiiii saja kalau sudah bertemu. Apa lagi di saat-saat seperti ini.

    Je Wo tidak mendapatkan jawaban apapun, tapi beberapa detik setelahnya dia mendengar Kyuhyun berbicara melalui ponselnya. “Halo, Hyung, kau sedang di dorm? Aku butuh bantuanmu, bisa siapkan makan malam untukku? Apa saja yang bisa dimakan dengan nasi. Hm, oke.” Kyuhyun menyimpan ponselnya lagi. “Makan malam di Dorm saja.”

    Je Wo menatapnya tidak mengerti. “Kenapa harus di sana? Dan lagi siapa yang baru saja kau telepon?”

    “Ryeowook Hyung.”

    “Ck, kita cari Cafe atau restourant saja. Tidak perlu ke dorm.”

    “Kau jelas tahu aku tidak bisa berkeliaran dengan bebas di jam seperti ini.”

    “Kalau begitu biar aku saja yang pergi dan kau lebih baik pulang.”

    “Jangan mendebatku, Shin Je Wo.”

    “Kau yang lebih dulu memulainya.”

    Kyuhyun menatapnya tajam dengan rahang mengeras. “Memulai apa?! Aku hanya ingin kau makan malam di dorm, lalu apa masalahnya?”

    Je Wo membalas tatapannya tak kalah tajam, “Masalahnya kau sudah menentukan semuanya sesukamu, tanpa bertanya padaku lebih dulu!” dia memijat dahinya, tiba-tiba saja kepalanya pusing setelah mengeluarkan bentakannya.

    Melihat Je Wo memihat dahinya, Kyuhyun meredam amarahnya, memalingkan wajahnya kedepan lagi. “Aku akan bertanya, tapi nanti. Tolong, untuk kali ini saja, turuti permintaanku.”

    Permintaan yang mana? Kapan kau meminta, huh? Kau hanya terus menerus memaksaku!

    Tidak ada yang bersuara lagi setelah itu. bahkan ketika mereka sudah sampai di Dorm dan memasuki lift pun mereka tetap sama-sama diam. Kyuhyun membukakan pintu dorm untuk Je Wo yang melangkah masuk begitu saja. Je Wo melepas sepatunya, memakai sandal rumah yang dia pilih terlebih dulu setelah memerhatikan jejeran sandal yang tersusun tidak rapi di sana. Sandal berwarna abu-abu milik Lee Hyukjae. Dia tersenyum tipis ketika memandangi sandal itu tadi. Sedikit merindukan si pemilik sandal yang sedang tidak ada di sana karena harus mengikuti wajib militer.

    Je Wo membawa langkahnya menuju dapur, melihat punggung Ryeowook yang terlihat sibuk menyiapkan makan malam untuknya, karena perintah Kyuhyun.

    “Oppa!” Je Wo menepuk punggung Ryeowook dan mengejutkannya. Dia terkikik geli melihat keterkejutan Ryeowook atas keberadaannya.

    “Ya, kau disini?” tanya Ryeowook.

    “Hu-um.” Hidung Je Wo mengendus-ngendus bau masakan. “Harum sekali… aku jadi lapar.” Dia mengusap-usap perutnya yang kelaparan.

    Ryeowook masih bertanya-tanya dalam hati mengapa ada Je Wo disana malam-malam seperti ini. tapi begitu melihat Kyuhyun yang berjalan menyusulnya di belakang sana, dia mulai mengerti untuk siapa masakan yang telah dia siapkan itu. “Kau duduk saja di meja makan, aku akan menyiapkannya. Aku juga sudah lama tidak mendengar suara berisikmu itu.”

    “Oh… jadi kau merindukanku, huh?” goda Je Wo dengan kerlingan mata genitnya, membuat Ryeowook tertawa geli.

***

Selama makan malam tadi, Je Wo hanya ditemani Ryeowook dan berbincang dengan pria itu. sementara Kyuhyun berbaring di atas sofa tanpa mengeluarkan suara. Pria itu hanya berkutat dengan ponselnya dan juga ponsel Je Wo yang dia pinjam sebelumnya. Entah apa yang dia lakukan dengan ponsel Je Wo, tapi gadis itu tidak ingin mempertanyakannya. Ya, dari pada bertengkar lagi lebih baik diam.

    Selesai makan malam, Kyuhyun menyuruhnya masuk ke dalam kamarnya. Mulanya Je Wo menatapnya dengan tatapan protes, tapi Kyuhyun memaksanya dengan tatapan tajam yang tidak bisa di bantah. Jadi disinilah dia sekarang, di sebuah kamar yang sangat berantakan, lebih berantakan dari kamarnya yang selalu membuat Ibunya mengomel sepanjang hari setiap kali masuk ke dalam kamarnya.

    Je Wo duduk di atas ranjang berseprai putih itu, punggungnya menyandar di kepala ranjang. Kali ini dia yang sedang memainkan ponsel kekasihnya, melihat-lihat galery foto Kyuhyun untuk mengetahui aktifitas terbaru pria itu. Ada beberapa foto yang membuatnya tersenyum geli saat melihatnya. Lalu semakin lama tatapannya semakin menyendu ketika menyadari kerinduannya pada pemilik wajah itu.

    Je Wo mencoba memutar ingatannya kebelakang. Beberapa bulan terakhir ini hubungan mereka memang sedikit tidak baik. Ada saja hal yang membuat mereka berselisih paham. Apa lagi sekarang mereka berdua masing-masing di sibukkan dengan pekerjaan yang cukup melelahkan. Intensitas pertemuan yang semakin minim dan juga komunikasi yang terlampau jarang.

    Kyuhyun selalu meneleponnya setiap hari, menanyakan kabar dan mencoba menjadi pendengar yang baik untuk Je Wo berkeluh kesah. Tapi jika sedang lelah, Je Wo lebih memilih tidak terlalu lama mengobrol dengan Kyuhyun. Dia lebih memilih tidur selama yang dia bisa. Apa lagi di awal masa kerjanya yang menurutnya sangat menyusahkannya. Dia sangat baru memasuki bidang pekerjaan itu, membuatnya seperti orang buta. Berkali-kali dia ingin menyerah dan memilih mencari pekerjaan lain tetapi kedua orangtuanya terlalu sering menyemangatinya hingga dia tidak bisa memilih mundur.

    Jujur saja, sekarang ini adalah masa-masa dimana Je Wo merasa tidak bahagia. Melewati setiap detik waktu dengan alur yang telah ada sebelumnya. Dia merasa berada di tempat yang salah tetapi tidak bisa berlari keluar dari sana. Lelah, jenuh dan kesal adalah bayang-bayang kehidupannya setiap hari. Ingin mengadu tetapi dia bukan tipe gadis yang bisa memuntahkan isi hatinya pada siapapun. Ya, siapapun. Tidak itu Choi Jae Rim, sahabat karibnya yang selalu menemaninya melepas penat dengan berbelanja gila-gilaan, tidak kedua orangtuanya, apa lagi Kyuhyun. Dia lebih senang memendamnya sendiri. Memikirkannya hingga lelah dan tidur seharian.

    Lamunan Je Wo terhenti ketika pintu kamar terbuka. Kyuhyun masuk kedalam dengan hanya memakai celana pendek dan kaos rumahan yang terkesan santai di tubuhnya. Rambutnya sudah tidak serapi sebelumnya. Sedikit berantakan tetapi malah membuatnya terlihat lebih remaja.

    Kyuhyun memusatkan matanya pada satu objek yang duduk di atas ranjangnya. Bahkan saat menaiki ranjang, duduk di dekat telapak kaki Je Wo pun dia tidak melepas tatapannya. Membuat gadis yang dia pandangi sedikit risih.

    “Er… sudah sangat larut, kupikir kau bisa mengantarku pulang.” Gumam Je Wo.’

    Tapi bukannya menjawab, Kyuhyun malah meletakkan kedua kaki Je Wo di atas pangkuannya. Gadis itu ingin protes, tapi ketika Kyuhyun mulai memijat telapak kakinya secara bergantian, bibir gadis itu terkatup lagi. Kini kedua matanyalah yang bergantian memandangi wajah Kyuhyun yang menunduk, memerhatikan kakinya.

    “Aku bisa membayangkan bagaimana lelahnya kaki ini berjalan dengan sepatu tinggi setiap hari. Mengingat bertahun-tahun hidup kau berusaha keras menjauhkan kakimu dari benda seperti itu.” gumaman Kyuhyun membuat Je Wo tersenyum kecil tanpa sadar.

    Kyuhyun benar, Je Wo sangat frustasi ketika harus memakai sepatu bertumit seperti itu. Meski dia selalu memilih sepatu yang tidak terlalu tinggi, tetap saja kakinya selalu pegal-pegal setiap pulang kerja.

    “Aku sudah mulai terbiasa.” Bantah Je Wo.

    Kyuhyun hanya meliriknya sekilas dan kembali memijati kaki Je Wo yang terekspos karena gadis itu sekarang memakai rok hitam yang panjangnya diatas lutut. Sedangkan atasannya kemeja ketat berwarna putih dengan corak pink di bagian kerah, dada dan lipatan lengan panjangnya.

    Pijatan di kakinya membuat Je Wo merasa nyaman, dia bahkan sudah menyandarkan kepalanya meski tetap memanjakan matanya dengan memandangi wajah kekasihnya. Namun perasaan nyaman itu sirna begitu saja ketika Kyuhyun kembali berbicara. Mengatakan kalimat panjang tanpa jeda yang membatnya tertegun.

    “Entah gadis seperti apa kau sebenarnya. Bahkan aku ragu kedua orangtuamu sendiri pun mengerti seperti apa putri mereka. Kau terlihat terbuka padahal begitu tertutup tanpa celah sedikitpun bagi semua orang yang ingin mengetahui perasaanmu. Kau tertawa seolah-olah tidak memiliki beban padahal kedua bahumu sudah hampir remuk menahannya. Apa memendamnya sendirian bisa membantumu? Apa mungkin bebanmu akan hilang hanya dengan membiarkannya terus menerus bertumpu di kedua bahumu? “

    Je Wo meneguk ludahnya berat. Bagaimana bisa… Kyuhyun membacanya dengan begitu jelas?

    “Tadi kau bilang aku selalu memutuskan semuanya tanpa bertanya padamu lebih dulu. Jadi kali ini aku akan bertanya lebih dulu padamu sebelum memutuskannya.” Kepala Kyuhyun perlahan terangkat, matanya menatap lurus kedalam manik mata Je Wo yang masih menyimpan kebingungannya. Kyuhyun menyimpan kemarahan sekaligus ketegasan di kedua matanya. “Kau masih sanggup menahannya sendirian? Karena kalau tidak, aku selalu bersedia membantumu menahan semuanya. Aku mengerti bagaimana kau, berkali-kali memohonpun, kau tidak akan pernah membagi beban itu padaku. Jadi… yang bisa kulakukan hanyalah menahan beban itu bersama-sama denganmu.”

    Je Wo tidak bisa menahan air matanya yang mulai berjatuhan satu persatu sebelum berubah seperti arus sungai yang mengalir deras. Isakannya lolos begitu saja hanya karena mendengar penuturan Kyuhyun. Je Wo membiarkan Kyuhyun melihatnya menangis kali ini. sebuah tangisan pilu yang lemah, tangisan yang belum pernah dia perlihatkan pada siapapun sebelumnya. Dan kini Kyuhyun lah yang menjadi satu-satunya.

    Tangisan itu seolah mewakilinya bercerita pada Kyuhyun mengenai sebesar apa beban yang sedang bertumpu di bahunya. Bahkan kedua bahunya kini berguncang karena isak tangisnya yang tidak terlihat akan mereda saat itu.

    Kyuhyun menahan napasnya yang tercekat. Dia hanya memandangi tangisan gadis itu dalam diam dengan tangan terkepal. Bukan, dia bukan menikmatinya. Tetapi dia sedang menahan amarahnya mati-matian. Karena sekarang dia sudah tahu jawaban atas pertanyaannya.

    Shin Je Wo tetap tidak menerima bantuan Kyuhyun.

    Keras kepala! Geramnya di dalam hati. Namun tubuhnya sudah bergerak kedepan, mengambil tempat di sebelah Je Wo, lalu menarik kepala gadis itu ke dadanya. Kyuhyun memeluknya, menyapu punggung Je Wo yang bergetar dan mengecup kepalanya berkali-kali. Saat Je Wo membalas pelukannya, dia kembali bicara.

    “Sedikit saja, sayang… biarkan aku tahu masalahnya agar aku bisa membantumu.” Bisiknya pelan.

    Je Wo semakin membenamkan wajahnya kedalam dada Kyuhyun. “Aku benci melakukan sesuatu yang tidak kusukai. Rasanya seperti di cekik dengan kedua tanganku sendiri. Dan sialnya tidak satu orangpun yang kuperbolehkan melepas cekikan itu.”

    “Termasuk aku?”

    “Hm, termasuk kau.”

    “Kenapa?”

    Je Wo hanya memberi gelengan lemahnya. Lagi-lagi menutupi segalanya. Tapi Kyuhyun mencoba mengerti, setidaknya Je Wo mau menjelaskan masalahnya meski hanya sedikit. Dia melerai pelukan mereka, melihat wajah Je Wo yang basah oleh air mata dan mata yang mulai membengkak.

    Di kecupnya dahi Je Wo, lalu kedua kelopak mata, hidung, pipi dan yang terakhir bibir Je Wo yang masih mengeluarkan isakan kecil. Kecupan itu mulai berubah menjadi lumatan ketika Je Wo membalasnya dan mengalungkan lengannya di leher Kyuhyun. Menarik kepala Kyuhyun semakin mendekatinya tanpa jarak.

    Kyuhyun menyambutnya, kedua tangannya memeluk pinggang Je Wo dan menariknya mendekat seolah-olah tidak akan membiarkannya pergi. Kyuhyun melumati bibir Je Wo dengan rakus. Mula-mula bibir atasnya, kemudian bibir bawahnya dan kini beralih menelusupkan lidahnya ke dalam bibir ranum Je Wo yang memabukkan.

    “Aku… hmp…” ucapan Je Wo tertahan oleh lumatan Kyuhyun yang semakin intens mendesak bibirnya. “Rindu… padamu…”

    Kedua tangan Kyuhyun di pinggang Je Wo berubah menjadi sebuah cengkraman sebelum tiba-tiba saja tubuh gadis itu sudah berada di atas pangkuannya. Kyuhyun menekan tengkuk Je Wo semakin kuat kearahnya. Ucapan Je Wo yang di selangi decakan bibir mereka membuatnya terbakar detik itu juga. Rindu? Bahkan kata itu tidak cukup menamai perasaanya saat ini. Mereka sering bertemu tapi seolah-olah selalu berjauhan. Perdebatan dan kemarahan selalu menjadi jarak diantara mereka.

    Dan sekaranglah puncaknya. Ketika mereka berdua berhasil mengikis masalah itu meski sedikit, rindu itu telah melebur menjadi satu bersama rasa sakit, bahagia dan juga cinta.

    Bibir Kyuhyun beralih dari mulut Je Wo ke lehernya yang mulai berkeringat. Je Wo mengeluh saat satu lumatan yang menghasilkan rasa geli namun penuh kenikmatan mendarat di pangkal lehernya. Tangannya turut bereaksi dengan meremas rambut Kyuhyun yang berada dalam jangkauannya.

    Centi demi centi leher yang memabukkan itu berhasil Kyuhyun cecap. Rasanya dia ingin membenamkan hidungnya di sana sepanjang hari demi menghirup bau tubuh Je Wo yang membuatnya tergila-gila.

    Je Wo menggigiti bibir bawahnya saat bibir dan lidah Kyuhyun terus menerus menyapu lehernya. Ada sesuatu yang menyengat tubuhnya saat ini. Sesuatu yang membuatnya tidak sadar ketika tangan Kyuhyun mulai menjelajah ke dalam kemejanya, bahkan membuka satu persatu kancing kemejanya. Ketika bibir Kyuhyun mulai mengecupi bahu telanjangnya, barulah Je Wo membuka matanya yang sejak tadi terpejam. Tubuhnya tersentak saat tahu kemejanya sudah terlempar ke samping tubuh mereka sedangkan tubuh bagian atasnya hanya tertutupi oleh bra.

    Tangannya berusaha melepaskan diri dari pelukan Kyuhyun. “Cho Kyuhyun…” panggilnya lirih dan sedikit takut. Oh, apa yang sudah dia lakukan!

    “Hm?”

    “Itu…”

    “Ya?”

    Je Wo bingung harus mengatakan apa, apa lagi saat wajah Kyuhyun semakin turun kebawah dan bibirnya berhasil menyentuh belahan dada Je Wo, sekujur tubuhnya terasa merinding dan kepalanya tiba-tiba saja menjadi blank. Tidak bisa memikirkan apapun selain pergerakan bibir Kyuhyun di belahan dadanya.

    Mereka sering bercumbu tapi tidak pernah sampai seperti ini. Ini pertama kalinya Kyuhyun berani membuka pakaian Je Wo, pertama kalinya menyentuh dada Je Wo yang hanya terhalang bra. Biasanya kalau tangannya baru saja menyentuh dada Je Wo, gadis itu selalu menepisnya. Kyuhyun hanya boleh menyentuh wajah hingga lehernya. Selebihnya masih menjadi Zona merah yang terlarang.

    Tapi sekarang…

    “Seperti yang kau inginkan, bertanya padamu lebih dulu sebelum memutuskan. Tadi aku sudah bertanya.” Kyuhyun sudah kembali menatapnya dengan mata yang berkabut sesuatu yang membuat Je Wo meringis tanpa sadar. “Dan sekarang aku akan memutuskan.”

    Kening Je Wo berkerut bingung. Lalu saat Kyuhyun mendekatinya, membisikkan sesuatu yang membuatnya menegang dan mengerjapkan mata, Je Wo hanya bisa terdiam kaku. Dan selanjutnya, Kyuhyun membaringkan tubuhnya perlahan-lahan ke atas ranjang, membelai wajahnya penuh sayang dengan tatapan cinta dan semakin membawa jiwa Shin Je Wo melayang ketempat yang Kyuhyun inginkan.

    Kyuhyun tersenyum kecil, “Tunggu sebentar.” Bisiknya.

    Je Wo memerhatikan Kyuhyun yang beranjak pergi mendekati pintu. Kyuhyun mengunci pintu kamarnya, kemudian melepas kaos yang di pakainya sebelum kembali ke atas ranjang. Wajah Je Wo semakin merona saat merasakan kulit mereka bergesekan karena Kyuhyun yang menindihnya. Dan selanjutnya, yang terjadi adalah dia yang melenguh dan mengerang berkali-kali.

Menjadikanmu milikku selamanya.

FIN

Ini apa????!!!!

Gak tau lah, saya pusing cari ide dan feelnya T.T

124 thoughts on “Mine

  1. Owh….kangen Sama couple ini……..
    Sdah berapa lama ya nda baca ff disini*wkkk
    Wawww mereka ngapain tuh??ati ati ketahuan sama member lain… .
    Peace…

  2. Owh….kangen Sama couple ini..
    Sdah berapa lama ya nda baca ff disini*wkkk
    Wawww mereka ngapain tuh??ati ati ketahuan sama member lain… .
    Peace…

  3. aq gk tau hrus mulai dr mna pkonya kreenn bgtt, apa lg pas kyu ngomng sma je wo smbil mjet kakinya.,aq bnar2 trharu ps bca bgian itu, bahkn diriku smpe mngeluarkn te’san air mata brhargaku

  4. Kangen bgt sama couple ini. Apalagi sama authornya. Udh lama bgt gk baca. *hiks*
    Msh sama eonn, fellnya dpt. Dan karakternya je wo itu yg ngangenin.

  5. Je wo termasuk org yg suka memendam semuanys sendiri pdhl Kyu oppa sbg pacar ingin jg agar Je Wo membagi beban itu bersamanya, ia tdk ingin kekasihnya sll erasa tertekan dgn keadaan, apalagi ditambah pekerjaan yg menumpuk dan wlpn mrk cukup sering bertemu tp rasanya sangat jauh u digapai, puncak kerinduan je wo adl saat ini dan kyu oppa memutuskan u menanggapinya begitu serius dan romantis

  6. Je wo orang’y penutup banget ya bahkan sama kekasih’y sendiri. Well emang sih semua masalah gak harus diceritan ke semua orang tapi kalo dipendem sendiri mah bisa bikin cape hati. Aigoo kangen juga sama couple ini🙂

  7. aku baru mulai-mulai lagi baca FF setelah sekian lama vakum entah kayanya udah sampai 2 tahun aku ga baca FF. tp entah kenapa tib-tiba jadi kangen ya udah deh mulai cari-cari wordpress favoriteku dan ternyata aku ketinggalan banyaaaaaaaaaaaaak banget cerita dari couple satu ini heheheh butuh berhari-hari deh kayanya untuk bisa nuntasin yg belum aku baca soalnya waktu aku ga se free zaman dulu ;'(

    keep fighting yaaaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s