Cho Hyunje

Masukkan keterangan


Sudah pukul sebelas malam. Je Wo sulit memejamkan matanya. Mungkin karena akhir-akhir ini waktu santainya lebih banyak dari biasanya. Hyunje yang mulai betah berada di kamar entah bermain game, menyusun lego ataupun belajar. Dan Eunje yang mulai beranjak besar, tidak lagi banyak merengek pada Je Wo. Kabar baiknya… hm… mungkin ini bagi Kyuhyun. Eunje sudah tidak lagi tidur bersama mereka sejak beberapa minggu yang lalu.

    Sebagai hadiah ulang tahun suaminya, Je Wo membuatkan kamar untuk Eunje. Satu kamar yang tidak pernah di pakai di rumah mereka telah dia sulap sedemikian rupa agar Eunje nyaman tidur disana. Untung saja Eunje sudah tidak pernah lagi terbangun di malam hari dan merengek memanggilnya.

    Pintu kamar terbuka, Je Wo melirik kesana dan melihat Kyuhyun masuk ke dalam dengan sebuah handuk yang memilit di pinggangnya. Rambut Kyuhyun terlihat basah sedangkan wajahnya tampak segar. Kyuhyun bermain dengan ponselnya selama berjalan menuju lemari pakaian. Terkadang dia tertawa pelan entah karena apa, dan perhatiannya tidak terbagi sedikitpun pada hal lain. Ya, game adalah segalanya bagi Kyuhyun.

    Kyuhyun hanya menarik satu boxer kesayangannya, melepas handuknya dan memakainya tergesa-gesa setelah meletakkan ponselnya sebentar di susunan pakaian dalam lemari. Setelah itu dia kembali meraih ponselnya, menutup lemari dan beranjak naik keatas ranjang sambil bertelanjang dada.

    Je Wo hanya tersenyum-senyum saja melihat gerak-gerik suaminya sejak tadi. Apa lagi sekarang tubuh Kyuhyun mulai terlihat bagus sejak Kyuhyun mengikuti sarannya untuk mulai berolah raga agar tubuhnya bisa menutupi usianya yang mulai menua. Meski tidak terima dengan perkataan Je Wo tapi Kyuhyun mengikuti sarannya juga. Dan sekarang… taraaaa! Je Wo mulai bisa berimajinasi liar hanya karena melihat Kyuhyun bertelanjang dada seperti sekarang.

    Je Wo beringsut mendekati Kyuhyun, mengambil ponselnya dan membuangnya asal ke atas ranjang. Lalu dia memeluk dan membenamkan wajahnya di dada Kyuhyun yang beraroma sabun kesukaannya.

    “Yah!” omel Kyuhyun.

    Je Wo mengangkat wajahnya sebentar untuk memerlihatkan senyuman manisnya. “Kau harum, Tuan Cho.” Ucapnya dan kembali membenamkan wajahnya ketempat semula.

    Kyuhyun hanya tersenyum kecil menanggapinya, lalu merunduk sebentar untuk mencium dahi Je Wo sebelum memanjangkan tangannya dan mengambil ponselnya. Kyuhyun kembali berkutat dengan ponselnya meski kini Je Wo berada dalam pelukannya. Mula-mula dia masih fokus pada permainannya, namun saat dia merasakan gigitan-gigitan kecil di sekitar dada dan putingnya, Kyuhyun mulai meringis. Dia melirik kebawah sebentar dan berdecak. “Jangan memancingku, Nyonya Cho…”

    Tapi Je Wo malah terkikik geli dan mulai menggigiti bahu hingga cuping telinga Kyuhyun sampai suaminya terkekeh geli dan mulai melepaskan diri dari ponselnya. Kyuhyun menggulingkan tubuhnya hingga berada di atas tubuh Je Wo, kedua tangannya memegangi kepala Je Wo agar wanita itu berhenti menggigitinya.

    “Jadi… sebenarnya apa yang kau mau, hm?” tanya Kyuhyun, bibirnya menyeringai nakal.

    Je Wo melirik kesamping, “Kau sudah berhenti bermain dengan selingkuhanmu?”

    “Dia sudah tidak menarik lagi sejak istri pertamaku mulai menggodaku.” Balas Kyuhyun.

    Je Wo memukul lengan Kyuhyun sambil tertawa, “Siapa yang menggodamu. Tadi aku sedang bosan saja dan kebetulan kau datang, jadi aku harus mengajakmu bermain untuk menghilangkan kebosananmu.”

    Alis Kyuhyun terangkat keatas seketika. “Bermain?” ulangnya. Senyuman misteriusnya membuat Je Wo menatapnya datar. “Sepertinya menarik. Kau ingin main apa sayang? Hm… kita pakai posisi apa malam ini?”

    “Setan mesum sialan!” maki Je Wo meski bibirnya tetap tertawa geli.

    Kyhuhyun kembali berbaring dan memeluk Je Wo, hidungnya menghirup dalam-dalam aroma rambut Je Wo yang menyenangkan. “Sekarang ranjang kita terasa sangat nyaman. Aku bisa bebas memelukmu tanpa harus berpindah tempat, kita juga bisa bercanda sevulgar ini setiap malam tanpa harus memikirkan Eunje yang mungkin saja mendengarnya.”

    Je Wo tertawa geli mendengar kalimat bercanda sevulgar ini yang Kyuhyun ucapkan tadi. Ya, memang mereka berdua sering bercanda menggunakan kata-kata vulgar dan kerap kali Eunje mengulangi kata itu hingga mereka harus berusaha menahan kalimat-kalimat seperti itu demi menjaga pikiran polos putra mereka.

    “Omong-omong, Cho Kyuhyun, sekarang ini tubuhmu sudah lumayan bagus dan aku menyukainya. Tapi… bisakah kau berhenti tersenyum cute seperti semua foto-fotomu akhir-akhir ini?”

    “Memangnya kenapa?”

    “Aku tidak menyukainya!”

    “Terpesona, huh?”

    Je Wo menengadahkan wajahnya dan memandang Kyuhyun datar. “Terpesona katamu? Huh, yang ada aku ingin muntah melihatnya. Ayolah… kau bukan bocah berumur tujuh tahun yang harus tersenyum idiot seperti itu.”

    “Tapi semua penggemarku menyukainya.” protes Kyuhyun.

    “Dan istrimu tidak!”

    “Apa peduliku.”

    Je Wo membulatkan kedua matanya. “Itu kata-kataku! Jangan mengikutinya.”

    Kyuhyun tertawa. Dia memainkan ibu jarinya di pipi Je Wo. “Menyenangkan penggemar itu sudah seperti keharusan untukku. Hanya sebuah senyuman seperti itu saja sudah membuat mereka senang, dan aku menyukai itu.” Je Wo mendesah malas dan mengangguk. Dia melingkarkan tangannya di pinggang Kyuhyun dan memeluknya lagi.

    “Lalu menyenangkan hatiku?” tanyanya Je Wo dengan suara teredam di dalam dada Kyuhyun.

    Kyuhyun mendekatkan bibirnya ketelinga Je Wo dan berbisik pelan. “Itu adalah kewajibanku, sayang.” Satu kecupan di sana dan mulai beralih ke bagian yang lain hingga Je Wo mengangkat wajahnya lagi dan disambut Kyuhyun dengan pagutan bibir mereka yang lembut. Hanya sebuah pagutan mesra, tidak ada gairah menggebu dan mereka menikmatinya.

    Deringan ponsel Je Wo terdengar, wanita itu mendorong tubuh Kyuhyun dan tersenyum kecil meminta pengertian. Kyuhyun menganggukkan kepalanya. Je Wo beranjak duduk kepinggir ranjang dan mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Tanpa melihat siapa yang meneleponnya Je Wo mengangkat panggilannya.

    “Halo?” tidak ada suara, hanya keheningan. “Halo? Halo?”

    “Halo…”

    Je Wo tersentak ketika telinganya yang lain menerima bisikan dan hembusan segar. Dia menoleh kesamping dan berdecak kesal melihat Kyuhyun. Bahkan kini Kyuhyun sudah memeluk tubuhnya dari belakang dengan kepala yang bergelanyut di bahunya.

    “Halo? Siapa ini?”

    “Suamimu.”

    “Ck, Cho Kyuhyun diamlah! Halo?”

    “Suaramu seksi.”

    Je Wo memutar bola matanya. Menjauhkan ponselnya sedikit dari telinganya untuk memalingkan wajahnya hingga bersitatap dengan wajah Kyuhyun. “Aku sedang menelepon.”

    “Jadi?”

    “Tolong jangan menggangguku.”

    Kyuhyun tertawa menjengkelkan. “Kau boleh menggangguku saat bermain game tapi aku tidak boleh mengganggumu saat kau menelepon? Itu tidak adil, sayang…” Kyuhyun merampas ponsel dari tangan Je Wo, mencampakkannya kembali keatas meja, lalu menarik tubuh Je Wo kembali keatas ranjang sampai wanita itu terpekik terkejut.

    Kyuhyun sudah berada di atas tubuh Je Wo dan menyeringai penuh arti. “Ayo lanjutkan pekerjaan kita yang tertunda.” Bisiknya mesra dan dijawab Je Wo dengan anggukan kecil serta kedua tangannya yang mengalung di leher Kyuhyun menariknya semakin mendekat.

***

Hari libur. Senyuman Kyuhyun merekah begitu saja setelah kedua matanya terbuka. Dia sangat mencintai hari liburnya, karena hanya di hari libur seperti sekarang saja dia bisa meluangkan seluruh waktunya bersama keluarga kecilnya. Biasanya dia hanya bisa bertemu mereka di pagi hari dan kalau beruntung di malam hari.

    Kyuhyun merenggangkan otot-otot tubuhnya sejenak sebelum beranjak keluar dari kamar untuk menghampiri kamar kedua putranya. Di mulai dari Hyunje, Kyuhyun tersenyum kecil melihat bagaimana cara bocah itu tidur. Selimutnya sudah jatuh ke lantai, piyamanya naik keatas hingga sebagian perutnya terlihat, sedangkan kedua tangannya terentang keseluruh ranjang.

    Kyuhyun mendekati ranjang Hyunje dengan kekehan gelinya. Di tekuknya lututnya di pinggir ranjang sedangkan tubuhnya membungkuk kedepan untuk mengecupi pipi Hyunje, “Cho Hyunje, bangun.” Bisiknya. Hyunje tidak bergeming sama sekali hingga Kyuhyun mulai menepuk-nepuk sebelah pipinya. “Hei… ayo, bangun… sudah pagi. Nanti Omma akan mengomelimu.”

    “Ugh… sekarang hari libur. Aku tidak ke sekolah. Tolong biarkan aku tidur lebih lama.” Racaunya menyerupai rengekan. Tubuhnya bahkan sudah memunggungi Kyuhyun.

    Kyuhyun berdecak, “Meskipun libur kau tetap tidak boleh bermalas-malasan.” Dia masih berusaha membangunkan Hyunje dengan guncangan pelan di tubuh putranya. “Lihat Appa, pagi-pagi seperti ini saja sudah bangun. Masa kau kalah daris Appa.”

    “Ck!”

    “Eunje juga pasti…”

    Tubuh Hyunje bergerak cepat. Kini dia sudah duduk dengan kedua mata yang memelotoi Kyuhyun sepenuhnya. “Kenapa Appa cerewet sekali pagi-pagi seperti ini?! Memangnya aku peduli Appa sudah bangun atau belum! Mengganggu tidurku saja!” bibir cerewetnya masih mengeluarkan gerutuan kesal meski dia sudah meloncat turun dari ranjang dan berjalan dengan kaki menghentak lantai menuju kamar mandi.

    “Bocah tengil itu…” Kyuhyun mengelus dadanya yang sempat terkejut oleh omelan putranya.

    Selanjutnya Kyuhyun melangkahkan kakinya ke kamar yang lainnya. Kamar milik Eunje. setelah membuka pintu kamar dan mengedarkan pandangannya ke ranjang kecil Eunje, dahi Kyuhyun berkerut. Eunje tidak ada di sana. Seingatnya sebelum turun ke bawah tadi, Je Wo berpesan padanya untuk membangunkan kedua putranya, tapi kenapa Eunje tidak ada di kamar.

    “Eunje-ya?” panggil Kyuhyun yang mulai panik.

    Tiba-tiba saja dia melihat tirai jendela yang masih menutupi jendela tersingkap sedikit, dari sana kepala Eunje menyembul sepenuhnya di iringi cengiran khasnya. “Appa…” sapanya lucu.

    Kyuhyun ternganga sebentar sebelum mendekatinya. “Apa yang kau lakukan di sana?” Kyuhyun membuka tirai itu lebar-lebar hingga pemandangan pantai yang terlihat memesona di pagi hari terlihat olehnya.

    “Lihat pantai. Appa, Lihat, indah sekali…” telunjuknya mengarah ke laut biru.

    Kyuhyun mengikuti arah telunjuk Eunje, lalu perlahan muncul senyuman kecil di sudut bibirnya. Di bawanya tubuh Eunje yang mulai meninggi ke dalam gendongannya. “Appa pikir kau hilang, ternyata sedang melakukan aktivitas gila yang sering Omma lakukan.” Kekehnya. Dia mengecup pipi Eunje sekali. “Tadi malam tidur nyenyak?”

    Eunje mengangguk. “Tapi sekarang lapar…” adunya manja.

    “Oke. Kita mandi dulu sebelum turun kebawah.”

***

“Omma!!!” begitu melihat punggung Je Wo yang sedang sibuk menata meja makan, Eunje sudah berteriak memanggilnya seolah-olah dia sudah tidak bertemu Ibunya sejak bertahun-tahun lamanya.

    Je Wo berbalik untuk mengambilnya dari gendongan Kyuhyun. Tersenyum geli saat Eunje menciumi wajahnya berkali-kali. Ya, sejak Eunje sudah tidak tidur bersamanya lagi, bocah itu selalu merasa merindukan Je Wo setiap pagi. “Sudah mandi, siapa yang memandikanmu?”

    “Appa.” Jawab Eunje.

    Je Wo melirik Kyuhyun, pria itu sama sekali belum mandi. Dia menyipitkan matanya. “Dan kenapa kau masih belum mandi, hm?”

    “Karena aku tahu kau juga belum mandi, sayang… jadi nanti kita akan mandi bersama.” Kyuhyun mengedipkan matanya sekali setelah memberikan kecupan singkat di dahi istrinya.

    Je Wo melengos malas. Dia meletakkan Eunje di bangku makannya yang khusus dan kembali melanjutkan pekerjaannya. “Hyunje sudah bangun?”

    “Sudah.” Kyuhyun menduduki kursinya. “Setelah mengomeliku dia langsung mandi.”

    Je Wo tidak perlu bertanya kenapa karena dia sudah tahu jawabannya. Karena itu dia hanya tertawa pelan dan membuat wajah Kyuhyun tertekuk lucu.

    “Omma, lapar…” Eunje mulai merengek. Kakinya menendang-nendang di udara.

    “Sebentar.” Selagi Je Wo sibuk dengan kegiatannya, Kyuhyun juga menyibukkan diri dengan ponselnya. Bermain game, apa lagi memangnya.

    Lalu derit kursi yang terdengar berisik mengalihkan perhatian Kyuhyun. Hyunje sudah duduk di kursinya, wajahnya cemberut dan terlihat malas. Sapaan Eunje saja tidak dia hiraukan. Sepertinya dia masih kesal pada orang yang mengganggu tidur nyenyaknya.

    Kyuhyun menyeringai kecil, otaknya bekerja cepat menyusun rencana untuk menjahili putranya. “Ah… pagi ini cerah sekali.” Ujarnya ceria. Diliriknya Hyunje yang mendengus dan menopang wajahnya dengan telapak tangan. “Eunje-ya, bagaimana kalau kita jalan-jalan ke pantai?”

    “Yeayyyy.” Sorak Eunje dengan tangan yang mengacungkan sendoknya ke udara.

    “Hyunje Hyung, kau ikut?” tanya Kyuhyun.

    Hyunje meliriknya kesal, “Apa yang menarik dari pantai? Membosankan! Setiap hari aku juga melihatnya.”

    “Pantai kan indah, Hyung.” Celetuk Eunje.

    Tatapan kesal yang berapi-api itu kini teralihkan ke Eunje. “Kalau menurutmu indah, kenapa kau tidak tinggal disana saja? Mungkin kau bisa hidup dengan Hiu, Paus atau lumba-lumba? Yeah… mereka terlihat cocok denganmu.” Gerutunya.

    Kyuhyun menahan tawanya, senang sekali melihat wajah kesal Hyunje seperti ini. Apa lagi kalau semakin di pancing, dia pasti akan segera meledak.

    “Hiu, Paus dan lumba-lumba juga tidak buruk.” balas Kyuhyun.

    “Yasudah, tenggelamkan saja Eunje ke dasar laut agar bisa bertemu teman-temannya yang tidak buruk itu!”

    “Cho Hyunje!” teguran Je Wo yang berasal dari dapur membuat Hyunje mengatupkan mulutnya.

    “Omma, Hyung mau menenggelamkan Eunje!” teriak Eunje mengadu.

    “Dan putramu bilang pantai sangat membosankan, Nyonya Cho!” timpal Kyuhyun.

    “Dasar bermulut besar.” Desis Hyunje.

    Je Wo kembali dari dapur, duduk di kursinya dan menatap ketiga laki-laki di depannya dengan wajah datarnya yang khas. “Sekarang masih pagi dan tolong jangan membuat keributan di meja makan. Kalian mengerti?”

    Kyuhyun dan Eunje mengangguk serempak. Berbeda dengan Hyunje yang malah meraih gelas susunya dan juga sepiring roti panggang. “Aku makan di ruang televisi.” Ujarnya.

    Si pemberontak Hyunje kembali.

    Je Wo memelotoi Kyuhyun yang menjadi tersangka utama pagi ini. “Kau lihat, mood putraku menjadi berantakan sepagi ini karenamu!”

    “Appa di marahi Omma…” Eunje berceletuk girang.

    “Kau juga sama saja!” sela Je Wo dengan sedikit bentakan. “Kenapa membuat Hyung kesal seperti tadi?” Bibir Eunje sedikit bergetar, siap untuk menangis. Je Wo menghela napas malas. “Oke, maafkan Omma. Sekarang habiskan sarapanmu.”

    Eunje mengangguk patuh dengan senyuman kecilnya.

    Kyuhyun mengambil jatah sarapan paginya, lalu beranjak dari tempatnya dan menyusul Hyunje. Je Wo yang melihat itu hanya mengulum senyuman tipisnya.

***

“Tom masih belum bisa mendapatkan jerry?” tanya Kyuhyun setelah duduk di sebelah Hyunje. Mereka duduk di atas sofa yang menghadap langsung ke televisi yang memerlihatkan seekor kucing mengejar seekor tikus.

    Hyunje melirik Kyuhyun kesal, dia berdecak sekali dan beringsut menjauh. Dimulutnya ada roti dengan selai coklat yang menggantung. Kyuhyun juga turut menggeser letak duduknya agar semakin mendekati Hyunje. Sampai ahirnya Hyunje berada di sudut sofa, barulah bocah itu melepas roti dari mulutnya.

    “Kenapa Appa mengikutiku? Sofa ini sangat panjang, memangnya Appa tidak bisa duduk di bagian yang lainnya?” omelnya.

    Kyuhyun menggelengkan kepalanya tanpa menoleh. Membuat Hyunje akhirnya mendengus pasrah dan memilih diam. Dia menikmati sarapan paginya dengan kedua mata yang di manjakan oleh kartun favoritnya. Diam-diam Kyuhyun memerhatikan wajah putranya.

    Hyunje sudah tumbuh besar. Wajahnya semakin tampan dan dewasa meski sifatnya masih tetap kekanakan dan manja. Kyuhyun selalu ingat semua keluhan Je Wo tentang kenakalan Hyunje dan juga sifat keras kepalanya yang mulai sulit Je Wo kendalikan. Sekarang dia mulai bisa berargumen dengan Ibunya, mempertahankan pendapatnya yang menurutnya benar sekalipun itu salah. Sulit di bujuk jika mulai marah.

    Kyuhyun tahu itu tidak baik, tapi melihat Hyunje sekarang dia seperti sedang bercermin. Sifat Hyunje sama persis sepertinya. Terlihat cute diluar tapi seperti bongkahan batu raksasa di dalamnya. Memberontak adalah hobinya sejak kecil. Dulu, Ayahnya selalu mengomeli kelakuan nakalnya, tapi Kyuhyun tidak pernah peduli.

    Karena hal itulah Kyuhyun tidak bisa marah pada Hyunje.

    Perlahan Kyuhyun menglurkan tangannya untuk membelai kepala Hyunje. Bocah itu menoleh padanya dengan tatapan bingung yang di balas Kyuhyun dengan senyuman kecil yang menenangkan. “Kau mirip sekali dengan Appa.” Gumam Kyuhyun.

    “Semua orang juga bilang begitu.” Balas Hyunje tak acuh. Dia kembali menatap televisi.

    Kyuhyun hanya tersenyum simpul. Tidak apa-apa, pikirnya. Asalkan Je Wo dan dia selalu mengingatkan setiap kali Hyunje mulai di luar batas, semua pasti akan baik-baik saja. Suatu hari nanti Hyunje juga akan seperti dirinya. Menjadi dewasa bertemankan waktu. Mengetahui apa itu benar dan salah dengan sendirinya. Kuncinya hanya satu, sebagai orangtua, Kyuhyun dan Je Wo tidak akan pernah melepaskan perhatian mereka padanya.

    “Tapi Qian kemarin bilang tidak.” Kyuhyun berpura-pura bergumam pelan.

    Namun Hyunje bisa mendengarnya dan kini dia sudah menatap Kyuhyun dengan kedua mata berbinar. “Qian Ahjumma? Dia bilang apa tentangku? Ah… aku sudah lama tidak bertemu dengan Qian Ahjumma…”

    Kyuhyun senang pancingannya berhasil, tapi dia juga tidak bisa menutupi kekesalannya melihat wajah merona Hyunje setelah mendengar nama Qian di sebut. Kyuhyun bukan cemburu atau masih menyukai mantan kekasihnya itu. Tapi… ayolah! Hyunje masih terlalu kecil untuk menyukai seorang wanita yang bahkan pernah di pacari Ayahnya dan berumur puluhan tahun darinya.

    “Appa!” Hyunje mengguncang lengan Kyuhyun hingga Kyuhyun tersadar dari lamunannya. “Qian Ahjumma bilang apa tentangku?” tanyanya penasaran.

    Kyuhyun tersenyum kaku. “Dia bilang…” Kyuhyun merutuki mulutnya yang sudah menyebut nama Qian di depan Hyunje. Tapi… benarkah bocah ini menyukai Qian? “Hyunje-ya…”

    “Hm?”

    “Kau benar-benar suka padanya?”

    “Uh-hum.”

    “Kenapa?”

    “Qian Ahjumma cantik.”

    Kedua mata Kyuhyun melotot lebar. Ya Tuhan… lihatlah wajah merona putranya itu.

    “Qian Ahjumma juga sangat baik, kalau bicara padaku pasti suaranya sangat lembut. Dia suka mengusap kepalaku, mencium pipiku. Ugh…” Hyunje tertawa malu sedangkan Kyuhyun ternganga di tempatnya. Tunggu… bukankah salah satu alasan Hyunje juga pernah menjadi alasannya menyukai Qian dulu?

    “Ini tidak bisa dibiarkan…” geram Kyuhyun. Lalu dia tergesa-gesa kembali ke dapur. “Ya, Shin Je Wo!” teriaknya. “Kau… mulai sekarang jangan lagi bersikap bar-bar di depan anak-anak terutama di depan Hyunje. Cobalah bersikap seperti Ibu pada umumnya, jangan selalu mengomelinya setiap hari.”

    Je Wo menatap Kyuhyun tidak mengerti. “Apa maksudmu?”

    “Bersikap lembut, kau mengerti bersikap lembut?” tanya Kyuhyun frustasi. “Atau cobalah mengusap kepalanya setiap kali kau bicara padanya, mencium pipinya dan… apapun! Lakukan apapun yang terlihat manis didepannya. Kau mengerti?”

    “Kau sudah gila?!” omel Je Wo.

    “Mungkin saja. Bahkan kau juga akan gila sepertiku jika suatu hari nanti kau akan melihat putramu menanti seorang wanita berumur limapuluh tahunan di depan altar.”

    Kemudian sebuah sendok plastik mendarat di kepala Kyuhyun di iringi sumpah serapah Je Wo, tawa Eunje dan juga Hyunje.

    Lihatlah, betapa bahagianya pagi hari mereka.

FIN

119 thoughts on “Cho Hyunje

  1. Kenapa harus ahjumma itu??
    Aaaaa udah lama engga mampir ke sini kkk ternyata hyunjae udah gede aja.. Udah sama kaya papa kyuhyun kkkkkk

  2. Buahahahahha
    Itu komedinya kena pisan euy!!
    Ngeliat Kyuhyun panik kocak juga wkwk
    Rindu, Kak. Aku rindu padaaamuuu.
    Lama tak ada kabar berita. Tetap menulis ya.
    Tulisanmu berkilauan😍😍

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s