The Dorm (1)

208989_1387183884522_full

 

Siapa yang tidak mengenal mereka berdua di asrama Karin High School? Dua orang murid laki-laki berbeda sifat tapi mempunyai kadar ketampanan yang serupa. Cho Hyunje dan Lee Dong Ha. Mereka sudah mengenal sejak kecil dan selalu berada di sekolah yang sama sampai sekarang. Sebuah kebetulan yang menyebalkan menurut mereka. Dong Ha adalah murid teladan, pintar, ketua osis, murid kesayangan semua guru di sekolah. Keramahan dan kebijaksanaan Dong Ha membuat dia di segani banyak kalangan di sekolah. Ibaratnya, Dong Ha itu pemimpin di Karin High School. Dong Ha selalu berhasil membuat kegiatan di sekolahnya di sukai semaua murid. Kreatifitasnya sudah tidak bisa di ragukan lagi.

Sedangkan Hyunje kebalikannya kecuali masalah kepintaran. Hyunje adalah berandalan asrama Karin High School. Membolos dan di hukum sudah makanannya sehari-hari. Berkelahi dan di skors juga bukan lagi hal asing baginya.

Semua guru di sekolah selalu mengeluh jika ada Hyunje di jam pelajaran mereka. Hanya saja, Hyunje itu berotak cerdas. Piagam dan medali hasil dari olimpiade matematika atau olimpiade lainnya telah berjejer rapi di sekolah itu karena dirinya. Semua orang juga tidak mengerti mengapa Hyunje bisa sepintar itu. Masalahnya, mereka semua tidak pernah melihat Hyunje belajar, lalu bagaimana bisa Hyunje menjadi sepintar itu.

Dan ini adalah kisah mereka….

***

“Hoi!”

Tanpa mengangkat wajahnya dari benda keramat di tangannya pun Hyunje sudah tahu suara milik siapa itu. “Apa?” ketusnya.

Pemilik suara itu telah berdiri di hadapannya. “Di larang membawa benda seperti itu di sekolah. Simpan atau aku akan menyitanya.”

Ujung bibir Hyunje sedikit terangkat, membentuk seringaian remeh. “Kau sita, kau sembunyikan atau kau bakarpun aku tetap bisa memilikinya lagi, Lee Dong Ha.” Hyunje menyelesaikan permainan game yang telah dia lakukan sejak setengah jam lalu. Dia mematikan PSP, lalu tersenyum malas pada Dong Ha sambil menyerahkan PSP itu. “Ini, ambil kalau kau mau.”

Dong Ha mendesis geram. “Kau ini bisa tidak sekali saja menuruti peraturan. Aku sampai lelah melihat namamu terus menerus di daftar buku hitam.”

Hyunje menggedikkan bahunya. “Katakan itu pada guru Kang, kenapa dia sangat mencintaiku sampai setiap hari harus menulis namaku disana.”

“Astaga, Cho Hyunje!” hanya Hyunje yang bisa membuat kesabaran Dong Ha habis. Dia selalu bisa bertindak tegas pada semua murid tapi tidak dengan Hyunje. Sejak kecil selalu bersama dan sudah seperti saudara membuatnya selalu ingin berusaha melindungi Hyunje dari hukuman. “Kemarin Imo sudah mengamuk habis-habisan seperti itu tapi kau tetap juga tidak mau berubah. Apa kau masih ingat ancaman Imo, huh? Kau akan di kirim ke Africa dan mengabdi disana kalau Imo sampai di panggil ke sekolah lagi!”

Hyunje mendesah, menatap Dong Ha malas. “Aku tahu, Ha-ya. Karena itulah aku sangat bergantung padamu.” Hyunje menyunggingkan senyuman palsunya.

Dong Ha mendengus keras. “Aku tidak sudi.”

Hyunje berdecih, “Sudi ataupun tidak kau tetap akan membantuku. Lagi pula sekolahpun akan keberatan jika Omma memindahkanku kesana. Kapan lagi ada murid yang bisa mengharumkan sekolah membosankan ini selain aku.” Hyunje berdiri dari bangku panjang yang ada di lorong asrama kamar, dia berbalik menghadap kesebuah jendela kaca, memerhatikan penampilannya yang sangat rapi. Seragam yang mulus tanpa kerutan, dan juga dasi yang terpasang sempurna. “Sudah, ya, aku ke kelas dulu. Sampai jumpa.” Dia melambai singkat pada Dong Ha yang masih menggerutu.

“Ke kelas kepalamu! Mana mungkin kau mau masuk di kelas sejarah. Sampai aku menemukan namamu di buku hitam lagi, akan kuadukan pada Imo!”

“Kau berisik sekali!”

“Diam kau!”

***

“Aku punya informasi penting, guys!” seruan Moo Yul, laki-laki berambut agak panjang dan bertubuh tinggi itu membuat teman-temannya yang lain berkumpul mengerubunginya kecuali Hyunje yang tetap sibuk bermain PSP.

“Apa itu?” desak Ko Jung Bin. Bola matanya yang berwarna sedikit kebiruan itu menelisik Moo Yul.

Lee Jong Il menatap Moo Yul berbinar. “Kau sudah tahu cara mengintip anak perempuan yang sedang mandi di asrama sebelah?”

Pletak.

Pletak.

Hyunje tersenyum geli mendengar dua pukulan dan suara aduhan Jong Il. Ketiga sahabatnya yang sama-sama suka berbuat onar itu memang selalu mempunyai beribu ide menyenangkan untuk mengusir kejenuhan di asrama itu. Moo Yul yang jenius dalam hal mencari ide gila, Jung Il yang mesum dan Jung Bin yang sangat jahil.

“Pantas saja sabun di kamar mandiku cepat sekali habis.” Hyunje menggumam pelan.

“Berengsek! Aku tidak pernah melakukannya di kamar mandimu. Kau saja pelit sekali kalau kamarmu di masuki oleh kami.” Jong Il memprotes tidak terima. Hyunje hanya terkekeh pelan.

Memang benar, dia jarang sekali membiarkan teman-temannya itu masuk ke dalam kamarnya. Bagi Hyunje kamar adalah privasi dan dia tidak sudi berbagi. Lihat saja, setiap kamar di huni oleh dua atau tiga murid, tapi Hyunje hanya menempati kamarnya seorang diri. Tentu saja dengan rajukan dan ancaman yang dia layangkan pada kedua orangtuanya.

“Jadi apa?!” Jung Bin mendesak lagi. Biasanya informasi yang di dapat oleh Moo Yul selalu menarik.

Moo Yul tersenyum misterius. Tangannya mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Empat tiket konser band indie dari Amerika. Band favorit mereka. “Noona-ku yang mengirimkannya padaku.”

Hyunje sudah tidak lagi berkutat dengan PSP, dia menyambar tiket itu dengan sneyuman lebar. “Ini hebat, Moo Yul.” Pekiknya. Dia melihat waktu konser yang tertera di lembaran tiket. “Nanti malam?”

“Iya.” Jawab Moo Yul.

“Ah…” Jong Il dan Jung Bin mendesah lesu. “Bagaimana mungkin kita bisa pergi! Semua tempat rahasia kita untuk kaburr dari asrama sudah di jaga ketat sejak kejadian kemarin.” Jung Bin melirik Hyunje ngeri. “Ibumu kejam sekali. Sangat mengintimidasi dan juga…”

“Seksi!” potong Jong Il tiba-tiba. Dia menatap Hyunje antusias. “Demi Tuhan, Hyunje-ya, Ibumu masih muda sekali. Selain cantik juga berkarisma. Apa lagi saat dia menatapmu dan mengatakan ini.” Jung Ill berdehem pelan dan menirukan gaya Je Wo berbicara kemarin. “Cho Hyunje, ini peringatan terakhir, sekali lagi kau berbuat onar dan menyeret-nyeretku kemari, aku akan mengirimmu ke Africa, bergabung bersama teman Ayahmu menjadi peneliti hewan dan mengabdi disana selama mungkin.” Jong Ill menunjuk Hyunje. “Setelah itu jangan coba-coba untuk kembali pulang.” Dia tersenyum lebar dengan mata berbinar kagum. “Aku ingin wanita yang seperti itu…”

Hyunje melempar tasnya dan mendelik murka. “Jangan menjadikan Ibuku sebagai fantasi mesummu, tolol.” enak saja! Moo yul dan Jung Bin terkikik geli melihat sebelah pipi Jong Ill yang memerah akibat lemparan Hyunje. “Jangan pusingkan itu. aku akan mengaturnya. Yang penting kita sudah berkumpul pukul enam sore disini. Mengerti?”

Ketiga orang itu menatap Hyunje sangsi meski akhirnya mengangguk juga.

***

Dari celah buku yang sedang menutupi wajah Dong Ha, lelaki itu berkali-kali mengintip kedepan. Memerhatikan seorang wanita berwajah cantik dan berkacamata sedang mendata tumpukan buku di atas mejanya. Petugas perpustakaan. Kim Yoon Mi. Usianya dua puluh tujuh tahun.

Wanita yang diam-diam di sukai oleh Dong Ha karena keramahannya dan juga sikap lembutnya pada Dong Ha. Dong Ha tahu ini terdengar aneh, menyukai wanita yang selisih umurnya saja sampai sepuluh tahun dengannya. Tapi ketika hatinya suda berlabuh pada seseorang, siapa yang bisa mencegahnya?

Karena itulah, dia selalu menghabiskan waktu luangnya di sana. Belajar dan juga mencari kesempatan untuk mendekati Yoon Mi. Biasanya dia selalu berhasil dengan cara berpura-pura meminjam satu atau dua buku dan berakhir mengobrol panjang lebar bersama Yoon Mi yang terlihat enjoy bersamanya.

Dong Ha tersenyum dengan dada yang berdesir saat melihat Yoon Mi mendesah lelah sambil menyelipkan anak rambutnya kebalik telinga. Wajahnya sedikit merona. Dia cantik sekali…

“Apa yang kau lihat dari wanita setua itu?”

Hampir saja Dong Ha membuang buku di tangannya karena terkejut. Kepalanya menoleh cepat kesamping, sudah ada Hyunje yang duduk si sampingnya sambil bertopang dagu, ikut memerhatikan Yoon Mi dengan wajah malas dan mulut menguap.

“Sedang apa kau disini?” tanya Dong Ha kesal. Dia melirik Yoon Mi lagi, wanita itu masih fokus pada pekerjaannya.

“Kalau kubilang belajar kau pasti tidak percaya. Jadi…” Hyunje menegakkan tubuhnya. Memperlihatkan selembar tiket konser di depan wajah Dong Ha. “Malam ini aku harus keluar dari asrama. Bantu aku.”

“No!” Dong Ha menggeleng tegas dan beredekap. “Kau tidak boleh keluar.”

“Kau tahu tidak siapa mereka?” Hyunje berdecak.

Dong Ha menggeleng malas. “Aku tidak tahu dan tidak mau tahu.”

“Mereka itu band favoritku, bodoh!”

“Sudah kubilangkan aku tidak mau tahu?”

Hyunje tahu Dong Ha memang menyebalkan tapi sekarang dia lebih menyebalkan dari pada sebelumnya. Jadi untuk itu, Hyunje mengeluarkan rayuan mautnya. “Ayo lah, Ha-ya… kau kan saudaraku.”

“Oh, tidak biasanya kau mengakuinya.”

“Sebagai saudara kita harus saling membantu.”

“Tapi membantu berbuat onar itu tidak boleh!”

“Aku tidak akan berbuat onar. Hanya menonton konser lalu pulang.”

“TI-DAK!”

Hyunje mendengus kasar. Menatap tajam Dong Ha. “Benar kau tidak mau membantu?” Sebagai jawabannya, Dong Ha mengangguk angkuh dan kembali membaca bukunya. “Oke.”

Hyunje beranjak pergi, tapi Dong Ha memerhatikan kepergiannya. Dan saat tahu Hyunje mendekati Yoon Mi lalu melirik sambil tersenyum miring padanya, napas Dong Ha tercekat. Uh-ow… alaram tanda bahaya berbunyi.

Dong Ha meloncat secepat kilat menyusulnya. Hyunje memang tahu kalau Dong Ha menyukai Yoon Mi. Sekalipun di sekolah mereka tampak tidak dekat, tapi di luar sekolah, Dong Ha dan Hyunje sering bertemu lalu saling bercerita mengenai beberapa hal yang hanya bisa mereka ceritakan berdua.

“Sam, apa kau mau mendengar sebuah rahasia?” tanya Hyunje langsung begitu sampai di depan meja Yoon Mi.

Wanita itu sempat terkejut dengan keberadaan Hyunje, dahinya mengernyit sesaat sebelum mengangguk pelan. “Apa itu?”

Hyunje tersenyum kecil, “Temanku menyukai…”

“Sam!” dengan napas edikit tersengal Dong Ha menyodorkan sebuah buku. Kemudian tersenyum kaku. “Aku ingin meminjam buku ini.”

Yoon Mi melirik buku di depannya dengan wajah bingung. “Bukankah kemarin sudah kau pinjam? Mau membacanya lagi?”

Senyuman Dong Ha mengering. Dia melirik Hyunje yang mengulum senyum dan melayangkan tatapan dasar-kau-idiot-yang-malang. “Hm… y,ya. Aku ingin membacanya lagi.”

“Oke. tunggu sebentar.” Gumam Yoon Mi. Dia kembali menatap Hyunje. “Tadi kau mau bilang apa? Temanmu menyukai?”

Hyunje kembali tersenyum, kali ini lebih lebar. Apa lagi mendengar napas tercekat Dong Ha. “Oh itu, temanku menyukai…”

“Hyunje-ya, bukankah kau mau mencari buku? Tadi aku melihat buku yang kau cari ada disana.” Dong Ha lagi-lagi menyela. Ada keringat di dahinya.

Tapi Hyunje malah menggeleng polos. “Aku tidak membutuhkan buku itu lagi. Karena sekarang yang kubutuhkan ada di depanku.” Hyunje menatap Yoon Mi lagi. “Sampai dimana tadi, Sam?”

Yoon Mi mengerjap lucu. “Temanmu menyukai…”

“Oke!” dengan panik Dong Ha kembali memotong pembicaraan mereka. Tapi Hyunje berpura-pura menatapnya tidak mengerti dan mencoba membuka mulutnya untuk melanjutkan pembicaraan bersama Yoon Mi. Membuat Dong Ha geram setengah mati. “Kubilang oke, Cho Hyunje! Kau tidak dengar?”

Hyunje menyeringai. “Pukul enam. Bagaimana?”

“Terserah padamu!” ketus Dong Ha.

Hyunje terkekeh pelan, dia menepuk bahu Dong Ha beberapa kali dan berujar pada Yoon Mi. “Aku pergi dulu, Sam. Lain kali saja kita sambung pembicaraan tadi.” Hyunje tersenyum manis pada Yoon Mi yang menatapnya bingung, lalu mengerling kecil pada Dong Ha yang hampir mengeluarkan asap tebal di kedua telinganya.

***

“God, mereka keren sekali! Suara musiknya masih terngiang-ngiang di telingaku!” Jong Il meloncat-loncat kegirangan. Jung Bin mendorongnya hingga hampir terpental kesamping, lalu tawa mereka meledak seketika.

“Kubilang juga apa, sebaiknya kita membuat grup band seperti mereka.” Moo Yul masih betah mengusulkan idenya yang satu itu.

“Lalu siapa vocalisnya? Kau?” Hyunje mencibir malas. “Atau Jung Bin? Bisa-bisa semua yang mendengar suara kalian mati detik itu juga.”

“Diam kau, sialan!” maki kedua orang itu sampai membuat Hyunje tertawa keras.

Dering ponsel Hyunje membuat pemuda itu merogoh saku jaket kulitnya yang berwarna hitam. “Kami sudah sampai di sekolah, Ha-ya. Sebentar lagi akan meloncati tembok.” Jelasnya sambil memutar bola mata malas. Entah sudah berapa kali Dong Ha meneleponnya dan menyuruhnya cepat pulang. Membuatnya bosan. Ya, meskipun kalau bukan karena Dong Ha yang membantu mereka mencari tempat untuk kabur dari sekolah, mereka tidak akan pernah bisa menonton konser itu, tapi tetap saja Hyunje kesal. “Apa? Bagaimana bisa?! Yaiks, kau ini bodoh sekali! Begitu saja tidak bisa mengaturnya. Ya sudah, aku tutup!”

“Kenapa?” ketiga temannya menyerbu Hyunje dengan pertanyaan itu.

Tapi Hyunje malah bergegas lari. “Petugas asrama tahu kita menghilang.”

“Oh, no!”

“Jangan di hukum lagi, Tuhan…”

“Pegal di tubuhku karena harus membersihkan seluruh kamar mandi saja masih belum hilang…”

“Hoi! Mau kembali atau mati, huh?” teriak Hyunje yang sudah berdiri di bawah anak tangga, benda yang menghubungkan mereka ke tembok dan membantu mereka untuk meloncat masuk.

Hyunje menyuruh temannya satu-persatu meloncati tembok itu. “Aman?” tanyanya setelah ketiganya berada di balik sana.

“Aman!” teriak mereka bertiga.

Hyunje tersenyum lebar. Berhasil meloloskan diri, pikirnya. Namun, baru saja dia menaiki satu anak tangga. Suara seseorang yang berteriak padanya membuatnya berpaling. Kedua mata Hyunje melotot lebar. Sialan, petugas keamanan itu menemukannya.

“Hei, kau! Kemari!” pria bertubuh pendek dan sedikit agak tua itu mengejarnya.

“Shit!” Hyunje memaki geram. Kalau sudah begini dia harus memutar otaknya. Cari tempat persembunyian. Hyunje berlari cepat menjauhi petugas itu. Aksi kejar mengejar pun tidak terelakkan lagi. Petugas itu juga lumayan hebat, mampu mengejar Hyunje meski pemuda itu sudah berlari kencang.

Mata Hyunje tidak mau diam meski dia sedang berlari. Dia harus secepatnya menyelamatkan diri. Lalu saat dia melirik ke asrama putri yang berada di samping asramanya, sebuah ide muncul di kepala Hyunje. Pemuda itu melirik kebelakang, petugas keamanan itu tidak terlihat tapi suara teriakannya masih terdengar. Kesempatan, batinnya.

Hyunje berbelok ke kiri, padahal seharusnya dia berbelok kekanan agar sampai di salah satu pintu kayu usang yang mudah dia terobos agar bisa masuk kedalam asrama. Hyunje menemukan sebuah tangga pendek di sekitar sana. Cepat-cepat dia mengambilnya, lalu menyandarkannya ke tembok. Setelah berada di ujung tangga, Hyunje sedikit melompat untuk menggapai puncak tembok, memanjatnya dan hup, melompat ke dalam asrama putri.

“Fuh,” dia mendesah lega sambil mengibas-ngibas kedua telapak tangannya untuk menghilangkan debu dari sana. “Beres.” Gumamnya pelan dengan senyuman miring.

Kemudian, tepat saat dia berbalik, Hyunje menemukan keberadaan seorang gadis yang berdiri menatapnya dengan bibir setengah terbuka. Gadis itu memakai piyama hello Kitty berwarna campuran antara putih dan merah muda, memakai sendal berbulu dan berkepala tikus berwarna abu-abu, dan juga bandana merah muda di atas rambutnya.

Gadis itu mengerjap, Hyunje mengikutinya. Gadis itu memiringkan kepalanya, Hyunje juga mengikutinya. Sampai ketika gadis itu menunjuknya dan berujar, “Kau… pencuri, ya?” gadis itu bertanya, bukan dengan nada panik, tetapi terdengar sangat ringan seolah tebakannya sangat tidak mempengaruhinya. “Tapi apa yang mau kau curi di asrama ini? Tidak ada barang berharga selain komputer di Lab yang ada di sebelah sana,” telunjuknya mengarah kesebuah arah. “Selebihnya hanya ada kasur, bantal dan guling di masing-masing kamar.”

Hyunje terkesiap untuk seperkian detik, namun setelahnya malah terkekeh pelan dan geli. Menarik, gadis yang menarik. Sambil tersenyum kecil, Hyunje mendekatinya. Sekalipun, gadis itu tidak tampak gentar atau ingin menjauhinya. Membuat Hyunje merasa semakin gemas. Bahkan setelah mereka saling berhadapan, gadis pemilik mata bulat dengan pipi sedikit berisi itu malah mengerjap polos. Hyunje mendorong tuuh gadis itu sampai membentur dinding di belakannya.

“Hei.”

“Sshhttt.” Telunjuknya Hyunje menyentuh bibirnya sendiri. Hyunje memandang wajah gadis itu dalam-dalam, mengamatinya dengan penuh kekaguman sekalipun kecantikan gadis itu biasa saja. Sial, mengapa dia tidak bisa melepaskan pandangannya. Lalu ada apa dengan debaran jantungnya?

“Kau ini pencuri atau bukan?” gadis itu bertanya lagi.

Alis Hyunje berjengit, “Memangnya kenapa?”

“Tampangmu tidak pantas kalau menjadi seorang pencuri.”

“Lalu menurutmu aku lebih pantas menjadi apa?”

“Mana aku tahu.”

Hyunje hampir saja tertawa, tapi melihat gadis itu memalingkan wajahnya dan memberenggut membuatnya semakin gemas. “Namamu?” bisik Hyunje. Kedua tangannya masih menyentuh dinding, mengurung gadis itu.

Gadis itu menatapnya lagi. “Shin Hye Sun.”

Hyunje mengangguk, kemudian wajahnya mendekat sampai gadis itu menyipitkan kedua matanya meski tak sedikipun memundurkan wajahnya menjauh. Hyunje mendekati telinga gadis itu dan berbisik. “Namaku Cho Hyunje.”

“Dan?” lanjut Shin Hye Sun tidak mengerti.

Hyunje menarik wajahnya lagi, tersenyum miring lalu berbalik. Dia menaiki tembok itu lagi. Lalu setelah berada di atas tembok itu, Hyunje kembali menoleh pada Hye Sun yang masih menatapnya bingung. “Sampai jumpa lagi, Shin!” Hyunje melompat keluar, di iringi senyuman simpulnya yang berbeda dari biasanya.

Dia jatuh cinta.

 

***

Tiga pemuda yang sejak tadi menempelkan telinga mereka masing-masing ke celah-celah pintu ruang kepala sekolah untuk mencuri dengar seketika meloncat mundur kebelakang ketika pintu itu terbuka dan menampakkan sosok wanita berparas tajam sedang berjalan keluar dari sana di ikuti oleh satu pemuda lainnya.

Wanita itu menyipitkan kedua matanya secara berbahaya ketika melirik ketiga pemuda yang memerlihatkan cengiran kaku mereka ketika melewati ketiga pemuda itu.

Moo Yul, Jung Bin dan Jong Il bertanya menggunakan bahasa isyarat mereka pada Hyunje yang masih setia berjalan di belakang tubuh Je Wo. Namun Hyunje hanya menggelengkan kepalanya pelan dan melanjutkan langkahnya.

Ketika Je Wo berhenti melangkah, Hyunje juga menghentikan langkahnya. Matanya memandang punggung Ibunya waspada. Otaknya mulai memikirkan hukuman apa yang akan diberikan Je Wo padanya nanti.

“Kemasi barang-barangmu.”

“Omma…” sambil merengek pelan, Hyunje menyusul Ibunya, berdiri di depan Je Wo. “Aku hanya nonton konser sebentar, tidak bolos, berkelahi atau merusak fasilitas sekolah.”

Mata Je Wo menyipit tajam. “Jadi menurutmu, kau tidak salah, begitu?”

Hyunje menggaruk belakang kepalanya kaku, “Aku bersalah, tapi kesalahannya tidak terlalu besar kan.”

Hyunje melihat Ibunya menarik napas dan menghelanya berat. Hyunje tahu kalau sebentar lagi Ibunya pasti bakalan meledak. Jadi otak pintar segera bekerja sebelum terlambat. “Aku terima hukuman apapun dari Omma selain pergi ke Afrika. Atau… diskors satu minggu juga tidak apa-apa. Sekalian liburan bersama Omma, kemarin Omma bilang ingin berlibur bersamaku, kan.” Dia menghadiahi senyuman anak manis andalannya.

Ibunya mendengus, “Jangan mencoba merayu Omma, Omma sudah kebal dengan senyuman palsu dan otak licikmu itu. Lagi pula lusa nanti Omma dan Appa akan pergi honeymoon, untuk apa Omma berlibur bersamamu.”

“Honeymoon lagi?” Hyunje menggelengkan kepalanya putus asa. “Bulan lalu kan sudah.”

“Memangnya kenapa? Yang honeymoon itu Omma dan Appa, kenapa kau yang protes?” kedua mata Ibunya menatap sinis padanya.

Hyunje benar-benar tidak mengerti dengan pola pikir orangtuanya. Terlalu ajaib. Ya, mereka memang masih muda. Umur mereka saja belum mencapai empat puluh tahunan. Hyunje memang tahu kalau orangtuanya menikah muda. Mungkin karena itulah sampai detik ini kedua orangtuanya masih saja terlihat seperti remaja labil di mabuk cinta. Ibunya saja masih terlihat sangat cantik untuk ukuran wanita dewasa. Sedangkan Ayahnya… Hyunje sampai harus merengek ke Ibunya agar Ayahnya jangan pernah lagi menginjakkan kaki di sekolahnya. Hyunje benci harus melihat semua guru perempuan di sekolah hampir meneteskan air liur hanya karena melihat Ayahnya melintas. Cho Kyuhyun yang menawan selalu membuat Cho Hyunje mengumpat.

Tapi tunggu, kalau lusa orangtuanya pergi honeymon yang entah untuk keberapa kalinya di belahan bumi manapun, itu artinya Hyunje bisa selamat dari hukuman Ibunya. Senyuman kecilpun terbit di bibir Hyunje.

“Tunda dulu senyumanmu itu sebelum selesai menjalani masa hukumanmu.”

Senyuman Hyunje sirna, digantikan wajah waspadanya. “Hukumannya apa?”

Shin Je Wo tersenyum manis, sangat manis sampai Hyunje meneguk ludah berat. “Kau harus menjadi petugas kebersihan di sekolah selama satu bulan.”

“Satu bulan? Tapi Omma…”

“Dua bulan kalau kau protes.”

“Apa? Kan aku…”

“Tiga bulan kalau begitu.”

“Tidak mau!”

“Ya sudah, empat bulan.”

“Omma…”

“Satu semester kalau kau merengek lagi.”

Bibir Hyunje mengerucut kesal. “Omma sangat kejam.”

***

Dong Ha tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya saat Hyunje menemuinya di ruang osis dan meminta jadwal hukumannya. Tadinya Hyunje menemui Guru Kim untuk menanyakan jadwalnya menjadi petugas kebersihan, tapi Guru Kim malah menyuruhnya menemui Dong Ha si ketua osis sekaligus siswa kesayangan Karin High School.

“Puas sekali kau tertawa.” Sindir Hyunje. Dia menarik kursi di depan meja Dong Ha dengan kakinya sebelum mendudukinya.

“Aku masih terpesona dengan hukuman yang diberikan Imo padamu.” Ujar Dong Ha di sela-sela tawanya.

Terpesona katanya? Hyunje mengambil pulpen yang tergeletak di atas meja dan melemparkannya kewajah Dong Ha sampai sahabatnya itu mengaduh. “Cepat berikan jadwalnya padaku!”

“Sialan! Wajahku sakit.” Rutuk Dong Ha. Dia menarik laci mejanya dan mengeluarkan selembar kertas. “Ini, sudah aku siapkan tadi malam. Lihat kan, aku sangat baik padamu.”

“Berisik!” maki Hyunje. Matanya mulai terpaku pada tabel yang tertera di kertasnya. Dia mendapatkan jadwal setiap hari membersihkan beberapa wilayah sekolah setelah jam pulang sekolah. Yeah… Ibunya memang luar biasa.

Lama Hyunje memandangi tabel itu sampai dahinya mulai berkerut jelas saat menemukan sesuatu yang tidak biasa. “Gedung barunya sudah jadi, ya?”

Dong Ha mengangguk. “Kudengar dua hari lagi sudah bisa ditempati.”

Hyunje menatap Dong Ha bingung. “Ditempati murid kelas yang mana? Bukankah gedung baru untuk tahun ajaran baru nanti? Sekolah akan menambah kuota penerimaan murid baru, kan? Kenapa sudah akan ditempati?”

“Dari yang kudengar untuk anak sekolah disebelah kita. Kau tahulah, mereka juga masih Karin Haigh School. Sekolah kita dibagi berdasarkan gender. Jadi bukan hanya sekolah kita saja yang akan menambah kuota, sekolah mereka juga. Karena sekolah mereka juga akan direnovasi, beberapa kelas dari siswi mereka akan dipindahkan sementara ke sekolah kita.”

Kepala Hyunje mengangguk pelan sampai akhirnya dia teringat sesuatu. Shin Hye Sun. “Kau serius?!” tanya Hyunje tiba-tiba yang berubah menjadi exited. Dong Ha sampai terkejut dibuatnya.

“Tentu saja! Aku tahu informasi ini dari semua guru-guru disini. Memangnya kenapa? Kau sampai terkejut begitu.” Dong Ha menyipitkan kedua matanya. Saat menemui kilatan yang berbeda di kedua mata sahabatnya, Dong Ha mulai berdecak kuat. “Jangan merencanakan hal yang aneh, Hyunje-ya. Hukumanmu masih belum juga di mulai, sekarang kau sudah mau menambah hukuman baru.”

“Siapa yang mau menambah hukuman, huh?”

“Lalu?”

            Hyunje tersenyum misterius sejenak sebelum berdehem. “Ha-ya, boleh tidak aku pinjam Laptopmu sebentar?”

            Dong Ha menatapnya curiga. “Untuk apa?”

            “Jadwal yang kau buat ini terlalu rumit, aku takut bisa salah tempat saat harus mengerjakan hukumanku. Lagi pula kau ini tidak mengerti seni ya? Jadwal yang kau buat ini sama persis seperti hidupmu. Monoton!”

            “Yak!”

            “Ck, cepat berikan laptopmu. Aku tidak bisa lama-lama disini.”

            Hyunje sudah berharap-harap cemas melihat gelagat Dong Ha. Tapi pada akhirnya di bersorak girang dalam hati saat Dong Ha memberikannya sebelum pergi sebentar ke kamar mandi.

            Hyunje menyeringai. Dasar Dong Ha bodoh, batinnya. Kemudian tangannya bergerak aktif di keyboard Laptop, mengetikkan user ID dan juga password yang Dong Ha miliki untuk mengakses data penting dan rahasia milik sekolah. Ya, siswa kesayangan sekolah ini memang sangat di spesialkan. Hanya saja mereka tidak tahu kalau siswa kesayangan itu memiliki sahabat yang super jenius dalam tingkat kejahilannya.

            Tidak sulit bagi Hyunje mengetahui rahasia apapun dari Dong Ha. Apa lagi hanya  mengetahui password yang ternyata adalah Kim Yoon Mi saranghae. Otak Dong Ha ternyata lebih dangkal dari sumur terdangkal di dunia.

            “Oh?” bibir Hyunje menyeringai lebar. “I got it!”

***

Senin pagi yang tidak biasa. Bukan karena langit mendung di musim panas ini, bukan juga karena sekolah tiba-tiba meliburkan seluruh muridnya. Tapi karena gerombolan murid perempuan yang meramaikan sekolah khusus pria itu. Sorakan berlebihan dari banyak siswa karena tidak pernah melihat ada gadis-gadis cantik menghiasi sekolah mereka dan terdengar riuh. Beberapa orang bahkan sudah terlihat akrab dengan siswi baru.

            “Aigo… akhirnya aku bisa merasakan surga di neraka sialan ini.” gumam Jong Il dengan binaran yang tidak lepas dari kedua matanya.  Sejak tadi entah sudah sebanyak apa matanya mengerling ke gadis-gadis cantik yang melintas di depannya.

            “Sekolah jadi terasa menyenangkan ya…” Moo Yul turut menimpali.

            “Aku harus berburu.” Bahkan Jung Bin sudah pergi menghampiri gerombolan siswi-siswi itu.

            Hanya Hyunje yang sejak tadi menelisik keberbagai tempat mencari-cari satu sosok yang sudah dia tunggu kehadirannya sejak kemarin. Hyunje melinggalkan kedua temannya yang masih mengagumi keberadaan gadis-gadis di sekitar mereka.

            Berbeda dengan semua teman-temannya, Hyunje malah mendapatkan banyak sapaan dari gadis-gadis. Ada yang terang-terangan mengajaknya berkenalan tetapi tidak dia hiraukan. Diantara teman-temannya yang lain, Hyunje ini memang bibit unggul. Selain anak orang kaya dan orangtuanya memiliki andil besar di sekolahnya, Hyunje adalah murid yang tampan. Penampilannya selalu rapi. Dan wajahnya… ayolah! Ayahnya saja sudah di gandrungi guru-guru perempuan di sekolahnya. Sedangkan temannya saja sangat tergila-gila dengan Ibunya. Lalu jawaban kenapa gadis-gadis itu tertarik padanya pasti mudah sekali di ketahui.

            Mata tajam Hyunje masih terus menelisik ke sekumpulan para hawa disana. Sampai akhirnya dia mendengar suara rutukan yang berisik, suara yang entah kenapa terdengar sangat familiar ditelinganya. Hyunje menghentikan langkahnya dan berbalik kebelakang. Matanya terfokus pada sosok gadis yang sedang mengoceh tiada henti di depan teman-temannya. Gadis itu berdiri angkuh dengan sebuah ransel di punggungnya. Kedua tangannya bersedekap di depan dada. Hyunje memerhatikan keseluruhan penampilannya. Seragamnya terlihat sangat pas di tubuhnya. Belum lagi rok pendeknya yang errr lebih pendek dari teman-temannya.

            “Aku benar-benar sial! Kenapa harus terpilih pindah ke sekolah ini? disini sangat panas.” Tangannya mengipas-ngibas di depan wajah.

            Hyunje melirik sekelilingnya. Ya, memang benar sekolah mereka tidak cukup rindang. Berbeda dengan sekolah khusus perempuan itu. Hyunje kembali memerhatikan gadis itu, kini dia membuat sebuah balno kecil di mulutnya dengan sebuah permen karet, lalu membuat balon kecil itu meletup dan meraupnya kembali kedalam mulut. Hyunje tersenyum kecil. Dia tidak tahu kenapa hal seperti itu sangat menggemaskan dimatanya.

            Saat teman-temannya mengajaknya memasuki arena sekolah, gadis itu berdecak dan menghentakkan kakinya kesal meski tetap mengikuti teman-temannya. Gadis itu berjalan dibarisan paling belakang. Membuat Hyunje cepat-cepat menyusulnya.

            Saat mereka semakin dekat, Hyunje mengulurkan tangannya, menggapai salah satu lengan gadis itu hingga tubuh gadis itu berhadapan dengannya. Jarak mereka sangat tipis sampai-sampai gadis itu mehahan keterkejutannya dengan kedua mata yang terbelalak.

            “Kau…”

            “Ssshht.” Hyunje memajukan wajahnya dan gadis itu refleks memundurkan wajahnya kebelakang, membuat Hyunje tersenyum miring sebelum menarik lengan gadis itu mengikutinya kesebuah tempat.

            Seharusnya gadis itu meronta, tetapi selama Hyunje membawanya memasuki sebuah koridor sepi dan mendorongnya masuk kedalam sebuah ruangan yang rapi, dia tetap saja tenang.

            “Hai, Shin!” sapa Hyunje setelah mereka berdua berada di ruang osis yang sepi.

            Shin Hye Sun mengernyitkan dahinya, memandang wajah Hyunje dengan penuh seksama sambil mengunyah permen karetnya. “Dari mana kau tahu namaku?” dengan cara yang angkuh Shin Hye Sun bertanya.

            Dan senyuman di bibir Hyunje sirna detik itu juga. Gadis di hadapannya ini tidak mengenalnya setelah pertemuan mereka yang sampai detik ini tidak bisa menghilangan debaran aneh di jantung Hyunje.

Tbc

47 thoughts on “The Dorm (1)

  1. Hahahaaa… kasian bgd hyun je g d kenalin sm hye sun. Pdahal dy dr bibit unggul yg psti g bkal d lupa sm cw2. Hye sun’a mnarik, semnarik cerita’a. d tunggu kelanjutan’a

    Aq jg msh mnanti klanjutan wedding fake.

  2. Wohooo…

    Judul baruu, cerita baru.

    Dri awal suka sama persahabatan dong ha sama hyunje. Selalu seru .. cieee.. udah pada gede mulai jatuh cinta.

    Kasian amat hyunje ga dikenalin hye sun. Jadi ketawa bacanya.. pasti dia gondok bgd, secara sifatnya kan evil😀

  3. Hahaha hyunje suka sma org bermarga sma kaya ibunya .well gue cukup excited sih liat new ff ini but ini foucusnya ke hyunje ? Or kyuhyun sma jewo apa campur?

  4. ini cerita hyunje waktu sekolah
    ternyata hyunje lebih parah nakalnya dari eunje
    dan apa hye sun punya penyakit lupa. … knp dia tidak mengenali hyunje
    d.tunggu kelanjutannya kak
    semangat

  5. Kali ini kisah anaknya kyuhyun-jewo…
    Suka…suka banget.
    Hyynje emng bner” pembust onar. Hebatnya otak dia kelewat encer. Imbanglahh sama kenakalannya yg akut..wkwk

    Itu bneran hye sun gak inget sama hyun je??? Ada yg aneh deh…kkk
    Ditunggu kak kelanjutannya..fighting!!!

  6. akhirnya update jg. rasanya udah lma bgt gak update….

    wkwkwkwk kasian deh hyun jae gak di inget hyesun. mungkin karena pakaiannya beda kali jd lupa #poorhyunjae
    ku rasa kyuhyun sm je wo setiap nulan bulan madu terus. mungkin kalo bisa tiap hari kali.hehehe

    semoga part selanjutnya updatenya gak lma2…….

  7. Wkwkwk… gubrak.. hyunjae yg udah excited ketemu sama shin hye sun.. ehhh. Malah di lupakan begitu saja… haha… shin hye sun…. sahroji banget.. 😁

  8. hahahaha,bagian akhr bkin ngakak…abs hyunje udh PD abs,hye sun malah bkin down..jlep bgt pasti…hehehe seru nh,bs ngebygin hyunje dah gd,keren bgt pst!tp,ttp aja,gk bs berkutik kalo ma je wo..hohoho

  9. 😍😍 ini awal jumpa hyunje sama hye sun ya?? ughh ink kaya pernah baca di happines apa ya??? ughh kasian hyunje haha bibit unggulnya sakit pasti dilupain orang yang bisa buat dia berdebar hihihi…next next kak fighting …

  10. hyunje ma dongha bener2sohib banget…
    cieeee yang lagi foling in love …hyunje kamu tampan tapi ko ga dikenali shin….haduhhh:
    ceritanya keren next ….

  11. hahaha kasian sekali hyunje,walopun hyunje melanggar peratura terus mendapat hukuman pasti otak brilian hyunje selalu mempunyai ide yg luar biasa,wah dongha murid kesayangan semua guru

  12. pernah baca, tapi engga full.
    owh hyun je kasian, asli ceritanya keren, ringan tapi engga garing, selalu ada yang lucu tiap kali baca karya ka ami..keren!!!

  13. Ceritanya keren banget (y) Dongha dan Hyunje sudah pada gede ya^^ mereka berdua emang surga sekolah deh buat mata :v

    sakit vantat tuh sih Hyunje gak dikenali ama Hye Sun :v lg pula Hye Sun parah banget, masa lupa ama anak tuhan paket komplit gitu

  14. Asli ceritanya keren banget (y) Hyunje dan Dongha paket komplit banget.

    Hyunje sih evil berotak cerdas pasti sakit vantat tuh gak diingat ama Hye Sun :v lg pula Hye Sun parah banget dah, masa lupa ama makhluk tuhan warbyazah itu sih

  15. Hai kak ijin baca yah.. Ceritanya menarik.. hyunje si trouble maker tampan di sekolah tu.. Andai di indonesia ada yang kayak gitu.. Ck bakalan gak konsen belajar

  16. lucu banget sih mereka (hyunje-dongha) yg satu sk sm noona2 yg satunya lg sk sama gadis tapi miris banget di lupain #Abaikan (jangan sampai hyun je – dong ha baca ini)
    next chapter di tunggu

  17. Ini aku udh pernah baca di page nya Shin Je Wo ^^
    Selalu syuka deh sma karya tulisannya Ami
    Apalg Novel nya Hyunjae sma Hye sun, temen aja smpe jatuh hati sma Hyun jae wkwk

  18. Hyunjae bandel banget, tapi untung aja dia pintar.
    Ternyata hyunjae sedang jatuh cinta pada pandangan pertama nih, semoga aja sukses mengejar cintanya hye sun.

  19. Yeeeeeeyyyy akhirnya dpost jg ni crta ttg ank kyu sm donghae y eon ??? Seruuuuu …. Kyaaaaaaa dong ha ska ma penjaga perpus ?wooowww .. N hyunjae sp kira” siswi perempuan tu y ?? Penasaran eon neeeeeeext fighting eon😀

  20. Hyunje & dong ha kaya tom and jerry kkkk^^
    .
    Suka banget karakter hyunjae kaya bapa y evilllll
    Penasaran sama siswi Shin tu .. gimana hyunjae ngdktin shin
    D tunggu next y eon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s